Anda di halaman 1dari 14

Minanda Fachladelcada Primara

240210130056
V.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Titrasi pengompleksan merupakan metode volumetri berdasarkan reaksi

pembentukan senyawa kompleks disebut logam pusat sedangkan gugus yang


terikat denganatom pusat diseut ligan. Ikatan yang terjadi antara atom pusat dan
ligan merupakan ikatan koordiasi. Persyaratan mendasar terbentunya kompleks
adalah tingkat kelarutan tinggi. (Khopkar, 2000)
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks antara kation dengan zat
pembentuk kompleks. Senyawa kompleks yang terbentuk mempunyai sifat stabil
dalam bentuk larutan dan hanya sedikit terdisosiasi. Kestabilan senyawa kompleks
ditentukan oleh konstanta kestabilan senyawa kompleks masing-masing. Contoh
ligan yang multidental dan sering digunakan adalah EDTA (etilendiamina
tetraasetat). Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah
tingkat kelarutan tinggi. (Khopkar,2000)
Titrasi kompleksometri meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks
ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan
mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan yang tinggi
seperti EDTA. EDTA (etilen diamin tetra asetat) sendiri merupakan zat
pengompleks yang penggunaannya sangat luas dalam pembentukan kompleks.
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan
EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya
adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam
lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan
multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul,
misalnya

asam 1,2- diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat,

EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom
oksigen penyumbang dalam molekul. (Rival, 1995)
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan
sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak
selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA
tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti
CuHY-, ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang
ada dalam larutan tersebut (Harjadi, 1993).
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg,
Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi
kompleksometri mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai
pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda
dengan pengompleksnya sendiri.

Indikator

demikian

disebut

indikator

metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T;


pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN,
zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue. (Khopkar, 2000)
Titrasi kompleksometri tersebut biasa digunakan untuk penentuan kadar
logam polivalen, seperti Mg, atau senyawa dengan Na-EDTA sebagai titran yang
membentuk kompleks. Rumus EDTA adalah sebagai berikut :
COOH-CH2

CH2-COOH
N CH2-CH2-N

COOH-CH2

CH2-COOH

Gambar 1. Rumus EDTA


Sumber: Khopkar S.M, Analisis Kimia Kuantitatif
Titrasi kompleksometri ini, dapat juga digunakan untuk menenentukan
kesadahan sebuah air. Kesadahan terjadi karena air mengandung salah satu dari
garam-garam Mg dan Ca dari bikarbonat, sulfat, dan halogenida. Kesadahan
sementara dapat dihilangkan dengan pemanasan, sedangkan kesadahan tetap dapat
dihilangkan melalui proses kimia tertentu. Praktikum kali ini melakukan
percobaan mengenai penetapan kadar magnesium, kesadahan total dalam air, dan
penentuan kesadahan tetap. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan prinsip
titrasi kompleksometri. (Harjadi, 1986)
5.1 Penetapan Kadar Magnesium
Penetapan kadar magnesium ini dilakukan dengan titrasi kompleksometri.
Titrasi ini juga termasuk titrasi langsung. Titrasi langsung yaitu ion logam yang

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
berada dalam larutan dititrasi langsung oleh EDTA dengan menggunakan
indikator yang sesuai. Titrasi kompleksometri yang diaplikasikan pada penetapan
kadar magnesium yaitu dengan pengkelat (kelatometri). Zat pengkelat ialah
molekul yang bermuatan negatif atau berisi oksigen yang bereaksi dengan ion
logam bermuatan positif membentuk kompleks yang stabil. Penetapan kadar
magnesium ini menggunakan EDTA. EDTA digunakan sebagai zat pengkelat
karena untuk mengikat logam-logam yang mungkin ada dari bahan-bahan.
(Harjadi, 1986)
Molekul EDTA mengandung enam situ basa-empat karboksilat oksigen
dan dua nitrogen-maka enam spesies asam dapat hadir: H6Y2+, H5Y+, H4Y, H3Y-,
H2Y2-, dan HY3-. Dua asam pertama adalah asam-asam yang relative kuat dan
biasanya tidak penting dalam perhitungan kesetimbangan. Empat tetapan
penguraian dari H4Y adalah sebagai berikut:
H4Y + H2O H3O+ + H3Y-

Ka1 = 1,02 10-2

H3Y- + H2O H3O+ + H2Y2-

Ka2 = 2,14 10-3

H2Y2- + H2O H3O+ + HY3-

Ka3 = 6,92 10-7

HY3- + H2O H3O+ + Y4-

Ka4 = 5,50 10-11

Langkah ionisasi ketiga dan keempat jauh lebih lemah dibandingkan


dengan dua yang pertama. Hal ini disebabkan karena kedua proton dalam H 2Y2tergabung pada kedua atom nitrogen dan tidak begitu cepat hilang dibandingkan
dengan proton yang tergabung pada oksigen.
Distribusi dari kelima spesies EDTA sebagai fungsi pH ditunjukkan dalam
Gambar 2. Akan terlihat bahwa hanya pada pH yang lebih besar dari 12-lah
kebanyakan EDTA hadir sebagai tetraanion Y4-. Pada pH yang lebih rendah,
spesies HY3- yang terprotonisasi, dan seterusnya menjadi dominan. H30+ bersaing
dengan ion logam untuk EDTA, dan jelas bahwa tendensi nyata untuk membentuk
kelat logam pada nilai pH berapapun tidak dapat dilihat langsung dari K abs.
Contohnya, pada pH 4 spesies EDTA yang dominan adalah H2Y2-, dan reaksinya
dengan sebuah logam seperti tembaga dapat ditulis.
Cu2+ + H2

Y2- CuY2- + 2H+

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

Gambar 2. Distribusi spesies EDTA sebagai fungsi pH


Sumber : Day, dkk, 2001
Kabs adalah tetapan kestabilan absolut atau tetapan pembentukan absolut.
Untuk berbagai ion logam dan bahan pengkelat seperti EDTA, nilai dari tetapan
kesetimbangan untuk reaksi-reaksi dirumuskan sebagai berikut.

Mn+ + Y4- MY-(4-n)

Kabs

n+
M

4
Y

[ MY (4 n ) ]

Setelah ditambahkan larutan buffer pH 10, ditambahkan pula EBT. EBT


(Eriochrome Black T) adalah indikator metallochromic yang merupakan agen
pengkelat yang memiliki warna yang berbeda dengan reagennya.

Gambar 3. Eriochrome black T (pH 8.0-10.5)


Sumber : Khopkar, 1998
Kelat logam terbentuk dengan molekul Eriochrome Black T dengan
hilangnya ion-ion hydrogen dari fenolat-gugus OH dan pembentukan ikatan
antara ion logam dan atom-atom oksigen dan juga gugus azo. Molekul
Eriochrome Black T biasanya dihadirkan dalam bentung singkatan sebagai asam
triprotik, H3In. Spesies asam sulfonat yang terlihat pada gambar sebagai

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
terionisasi; ini adalah sebuah gugus asam kuat yang terurai dalam sebuat larutan
berair yang tidak tergantung pH, sehingga struktur yang ditunjukkan adalah
struktur ion H2In-. Bentuk indikator ini berwarna merah. Nilai pKa untuk
peruraian dari H2In- menjadi HIn2- adalah 6,3. Spesies terakhir ini berwarna biru.
Nilai pKa untuk ionisasi dari HIn2- menjadi bentuk In3- adalah 11,6; ion ini akan
berwarna oranye kekuning-kuningan. Indikator ini membentuk komplekskompleks 1:1 yang stabil berwarna anggur merah, dengan sejumlah kation, seperti
Mg2+, Ca2+, Zn2+, dan Ni2+. Banyak titrasi EDTA terjadi dalam penyanggaan pH 8
sampai 10, suatu rentang di mana bentuk dominan dari Eriochrome Black T
adalah bentuk HIn2- biru.
Pertama-tama, 10 ml larutan ion Mg2+ dimasukan ke dalam labu
erlemenmeyer. Larutan ion Mg2+ merupakan objek utama percobaan ini, karena
percobaan ini menentukan kadar magnesium, selanjutnya ditambahkan 15 ml
akuades, 2 ml larutan buffer pH=10, dan 5 tetes EBT (Eriochrome Black T).
Akuades yang ditambahkan kedalam ion Mg2+ berfungsi untuk memudahkan
dalam mengamati titik akhir titrasi karena larutan yang digunakan sangat sedikit.
Selain itu aquades juga sebagai pelarut EDTA. Reaksi pembentukan kompleks
sering ditambahkan larutan buffer pH 9-10 untuk pencegahan endapan hidroksida
logam. Penambahan larutan buffer ini bertujuan agar tidak terbentuk Mg(OH) 2
hingga mudah menentukan Mg pada larutan. Larutan buffer pada pH 10,
fungsinya juga untuk menjaga terjadinya perubahan pH besar dalam titrasi karena
harga pH dapat mempengaruhi panjang daerah kesetaraan dan selang peralihan
warna indikator pada saat titrasi. Penambahan larutan buffer menghasilkan larutan
bening, kemudian ditambahkan sedikit indikator EBT hingga larutan berubah
warna menjadi merah muda.
Eriochrom Black T (EBT) merupakan asam lemah, tidak stabil dalam air
karena senyawa organik ini merupakan gugus sulfonat yang mudah terdisosiasi
sempurna dalam air dan mempunyai 2 gugus fenol yang terdisosiasi lambat dalam
air. Fungsi dari penambahan indikator EBT ini adalah sebagai pengompleks yang
menghasilkan warna tertentu, selanjutnya larutan dititrasi dengan menggunakan
larutan EDTA yang berfungsi untuk mengikat Mg pada larutan. (Harjadi, 1986)

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

Gambar 4. Struktur EDTA


Sumber: Khopkar S.M, Analisis Kimia Kuantitatif.
EDTA dapat bertindak sebagai ligan kuinkedentar atau kuadridentat
dengan satu atau dua gugus karboksilnya bebas dari interaksi kuat dengan logam
pada kasus lain. Bentuk asam bebas dari EDTA sering disingkat H 4Y. Keunggulan
EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan murni
sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri.
(Underwood, 1998)
Kadar Mg dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.
Berat Mg = 0,5118 g = 511,8 mg
Contoh perhitungan (Kelompok 10):
vol . labu
x 100
vol . pipet
Berat Mg Sampel

V titrasi x EDTA x
Kadar Mg

250
x 100
10
511,8

10,3 x 0,2432 x
=
= 21,236 %

Tabel 1. Hasil Pengamatan Penetapan Kadar Magnesium


Kel
Volume Titrasi
Kadar Mg2+
1
10,4 ml
12,59 %
4
10,4 ml
12,59 %
5
10,1 ml
11,998 %
6
10,3 ml
12,236 %
9
10,6 ml
12,59 %
10
10,3 ml
12,236 %
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2014

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Hasil pengamatan menunjukkan kadar Mg yang berbeda-beda pada setiap
kelompok, hal ini dapat disebabkan oleh ketepatan pengamatan setiap praktikan
yang berbeda-beda. Kadar Mg dari setiap larutan dapat ditentukan dengan titrasi
kompleksometri, semakin banyak jumlah EDTA yang digunakan menandakan Mg
yang terkandung di dalam Mg(OH)2. Tingginya kadar Mg dalam air menandakan
kesadahan air yang tinggi sehingga air yang mengandung Mg tinggi merupakan
air sadah.Reaksi titrasinya sebagai berikut.
Mg(OH)2 + 2H+ + H In2( biru )

MgIn- + 2H2O

( merah )

MgIn - + H4Y2( EDTA)

MgY2- + H+ + H In2( tidak berwarna )

( biru )

5.2 Penetapan Kadar Kalsium


Magnesium memiliki simbol Mg yang merupakan unsur terlarut ketiga
terbanyak pada air laut dan juga merupakan logam alkali tanah yang digunakan
sebagai zat campuran. Magnesium merupakan ion logam yang mudah bereaksi
dengan senyawa pengompleks seperti EDTA.
Praktikum percobaan kali ini dilakukan dengan menambahkan 10 ml
larutan yang mengandung ion Ca2+. Penambahan ini sama dengan titrasi
sebelumnya yaitu tidak mempengaruhi reaksi, melainkan untuk mempermudah
praktikan dalam mengamati titik akhir titrasi, kemudian ditambahkan 2 ml larutan
buffer dengan pH 10 dan 5 tetes indikator EBT (Eriochrom Black T) yang juga
berfungsi sebagai indicator asam basa, namun karena kasium EDTA kurang stabil,
maka sebelum titrasi ditambahkan 0,5 kompleks Mg EDTA, dengan demikian zat
penitrasi terdiri dari campuran MgY2- dan H2Y2- dan titik akhir titrasi terjadi
sesuai yang diharapkan.

Gambar 5. Perbedaan Struktur Mg-EDTA

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Sumber: Khopkar S.M, Analisis Kimia Kuantitatif
Penambahan buffer pH 10 bertujuan untuk pengkondisian suasana larutan
karena EDTA bekerja optimum pada pH 7-11 serta untuk mengatur dan mencegah
terjadinya perubahan pH dalam titrasi (Harjadi, 1992), kemudian dititrasi dengan
EDTA 0,01 M hingga menghasilkan warna biru. Reaksi yang terjadi sebagai
berikut :
Ca2+ + H2Y2-

CaY2- + 2H+

Kadar Ca dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.


Berat CA = 0,3975 g =397,5 mg
Contoh perhitungan (Kelompok 7):
vol . labu
x 100
vol . pipet
Berat Mg Sampel

V titrasi x EDTA x
Kadar Mg

250
x 100
10
397,5

11,6 x 0,2432 x
=
= 29,24 %

Tabel 2. Hasil Pengamatan Penetapan Kadar Kalsium


Kel
Volume Titrasi
Kadar Ca2+
2
11,4 ml
29,24 %
3
11,6 ml
30,249 %
7
11,6 ml
28,73 %
8
12 ml
29,24 %
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2014
Hasil pengamatan menunjukkan kadar kalsium dari setiap sampel berbedabeda. Perbedaan kadar kalsium dari setiap sampel berbeda karena setelah dititrasi
beberapa waktu sampel tidak juga menunjukkan perubahan warna sehingga titrasi
yang dilakukan memakan waktu yang lama pula. Warna sampel yang tidak juga
berubah diakibatkan karena kesalahan dalam pembuatan indikator Mg-EDTA.
5.3 Penentuan Kesadahan Air
Air merupakan komponen utama baik dalam tanaman maupun hewan
termasuk manusia. Tubuh manusia terdiri dari 60-70% air. Transportasi zat-zat
makanan dalam tubuh semuanya dalam bentuk larutan dengan pelarut air. Juga
hara-hara dalam tanah hanya dapat diserap oleh akar dalam bentuk larutannya.

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Sebagian besar keperluan air sehari-hari berasal dari sumber air tanah dan sungai,
air yang berasal dari PAM (air ledeng) juga bahan bakunya berasal dari sungai,
oleh karena itu kuantitas dan kualitas sungai sebagai sumber harus dipelihara.
(Spurlock, 2012)
Air secara alamiah tidak pernah dijumpai dalam keadaan betul-betul
murni. Ketika air mengembun diudara dan jatuh dipermukaan bumi, air tersebut
telah menyerap debu atau melarutkan oksigen, karbon dioksida dan berbagai jenis
gas lainnya. Air tersebut, baik yang di atas maupun di bawah permukaan tanah
waktu mengalir menuju ke berbagai tempat yang lebih rendah letaknya,
melarutkan berbagai jenis batuan yang dilaluinya atau zat-zat organik lainnya,
selain itu sejumlah kecil hasil uraian zat organik seperti nitrit, nitrat, amoniak dan
karbon dioksida akan larut ke dalamnya. Salah satu syarat air dikatakan
berkualitas ketika mengandung garam-garam meneral dalam jumlah yang tidak
berlebihan. Kesadahan yang dimaksud disini adalah efek yang terjadi ketika air
banyak mengandung mineral dari kation logam bervalensi dua dalam jumlah yang
berlebihan. Biasanya yang sering menimbulkan kesadahan adalah logam Ca 2+ dan
Mg2+. Kesadahan total terjadi ketika ion Ca 2+ dan Mg2+ secara bersama-sama
dalam air. (Spurlock, 2012)
Kesadahan total dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.
Contoh perhitungan (Kelompok 10):
Kesadahan total

V titrasi x M EDTA x Mr CaCO 3


V Sampel

6,2 x 0,01 x 100


0,05

= 124 ppm
Tabel 3. Penentuan Kesadahan Total Air
Kelompo

Sampel

V EDTA

k
6
Air keran
6,2 ml
7
Air keran
6,1 ml
8
Air minum
2,6 ml
9
Air keran
6,8 ml
10
Air minum
2,2 ml
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014

Mg CaCO3
124 ppm
122 ppm
52 ppm
136 ppm
44 ppm

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar CaCO3 pada setiap sampel
berbeda. Sampel yang digunakan adalah air keran dan air minum. Tingkat
kesadahan air dilihat dari kadar CaCO3 dalam air, semakin tinggi kadar CaCO 3
maka air semakin sadah dan sulit untuk dibusakan. Kesadahan paling tinggi ada
pada sampel air keran yaitu sebesar 136 ppm, sedangkan kesadahan paling rendah
ada pada sampel air minum yaitu sebesar 44 ppm.
5.4 Penentuan Kesadahan Tetap
Menurut Rivai (1995) air sadah tetap mengandung garam sulfat (CaSO4
atau MgSO4) terkadang juga mengandung garam klorida (CaCl 2 atau MgCl2). Air
sadah tetap dapat dihilangkan kesadahannya menggunakan cara:
Mereaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2, supaya terbentuk endapan
garam karbonat dan atau hidroksida:
CaSO4 (aq) + Na2CO3 (aq) CaCO3 (s) +Na2SO4 (aq)
Proses Zeolit dengan natrium zeolit (suatu silikat)
Penentuan kadar kesadahan tetap dilakukan terhadap 5 sampel air yaitu air
isi ulang, air keran, air minum dalam kemasan, air sumur, dan air hujan. Semua
sampel diuji kadar kesadahan tetapnya dengan cara sampel dimasukkan sebanyak
250 ml ke dalam beaker glass untuk dididihkan di atas hotplate. Pemanasan
digunakan untuk menghilangkan kesadahan sementara, karena persamaannya
sebagai berikut.
Kesadahan total =Kesadahan sementara +Kesadahan tetap
Kesadahan tetap = Kesadahan total -Kesadahan sementara
Kesadahan tetap dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.
Contoh perhitungan (Kelompok 10):
V titrasi x M EDTA x Mr CaCO 3 x
Kesadahan total

V Sampel
6,0 x 0,01 x 100 x

250
50

0,25

= 120 ppm
Tabel 4. Hasil Pengamatan Penentuan Kesadahan Tetap

V labu
V pipet

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompo
Sampel
V EDTA
k
6
Air keran
6,0 ml
7
Air keran
6,0 ml
8
Air minum
2,4 ml
9
Air keran
6,0 ml
10
Air minum
2,0 ml
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014

Mg CaCO3
120 ppm
120 ppm
48 ppm
120 ppm
40 ppm

Hasil menunjukkan bahwa tingkat kesadahan dari setiap sampel berbedabeda, tingkat kesadahan tetap dari suatu sampel bergantung pada kadar CaCO 3
yang terkandung di dalam sampel. Kadar CaCO 3 yang tinggi menandakan
tingginya tingkat kesadahan dari air sedangkan kadar CaCO3 yang rendah
menandakan air semakin tidak sadah. Kesadahan tetap tertinggi adalah sampel air
keran sebesar 120 ppm, dan kesadahan terendah adalah air isi ulang yaitu sebesar
40 ppm.
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh ion Ca2+ dan
Mg2+ yang berikatan dengan ion Cl-, SO42-, NO3-, contohnya CaCl2, MgSO4.
Kesadahan ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan pendidihan atau dengan
penambahan kapur mati, tetapi dapat dihilangkan dengan penambahan soda basuh
atau menggunakan proses permutit (yang juga dapat dipakai untuk air sadah
sementara). (Spurlock, 2012)
Kesadahan sementara adalah kesadahan yang disebabkan oleh ion Ca 2+
dan Mg2+ yang berikatan dengan ion karbonat dan bikarbonat. Air sadah
sementara dapat terjadi secara alami ketika air hujan melarutkan sedikit karbon
dioksida udara, sehingga air hujan itu mengandung asam karbonat, ketika air
hujan ini melewati daerah berkapur air tersebut akan menyerap dan
menghanyutkan kapur sehingga terbentuk hidrogen-karbonat larut. (Spurlock,
2012)
Tabel 5. Hasil Pengamatan Penentuan Kesadahan Sementara
Kelompo

Sampel

Kesadahan Sementara

k
6
7
8
9
10

Air keran
Air keran
Air minum
Air keran
Air minum

4
2
4
16
4

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2014
Hasil pengamatan menunjukkan tingkat kesadahan sementara dari setiap
sampel berbeda-beda, tingkat kesadahan sementara paling rendah adalah air
minum yaitu 4, sedangkan pada air keran tingkat kesadahan sementaranya paling
tinggi yaitu 16.
Perhitungan kesadahan tetap dan sementara (Kelompok 10):
Kesadahan sementara = Kesadahan total kesadahan tetap
= 124 120 = 4 ppm

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

Titrasi kompleksomteri dalam praktikum ini digunakan untuk menentukan

kadar Mg, kadar Ca dan kesadahan air.


Kadar Mg dari kelompok 5 ,mendapatkan hasil yang mendekati literatur

yaitu 11,998 %.
Kadar Ca dari kelompok 2 ,mendapatkan hasil yang mendekati literatur

yaitu 28,73 %.
Keberadaan Ca2+ dan Mg2+ dalam air dapat menentukan kesadahan air.
Kesadahan total air yang paling tinggi adalah sampel air keran dengan

kadar CaCO3 sebesar 136 ppm.


Kesadahan total air yang paling rendah adalah sampel air minum dengan

kadar CaCO3 sebesar 44 ppm.


Kesadahan tetap air yang paling tinggi adalah sampel air keran dengan

kadar CaCO3 sebesar 120 ppm.


Kesadahan tetap air yang paling rendah adalah sampel air isi ulang dengan

kadar CaCO3 sebesar 40 ppm.


Kesadahan sementara air yang paling tinggi adalah kesadahan air keran
sebesar 16 ppm.

6.2

Saran

Lebih hati hati dalam pengamatan dan pengukuran

Hati hati dalam pemakaian larutan.

Alat alat laboratorium yang digunakan lebih bagus, supaya tidak terjadi
kesalahan, seperti kebocoran.

DAFTAR PUSTAKA

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

Day, JR, R.A dan Underwood, A.L. 1998. Analisis Kimia Kualitatif. Penerjemah
Aloysius Hadyana Pudjaatmaka,Ph.D. Erlangga, Jakarta.
Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia Pustaka Utama ,
Jakarta.
Khopkar, S. M. 2000. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press, Jakarta
Rivai, H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. UI Press, Jakarta.
Spurlock .2012. Determination of Water Hardness By Complexometric Titration
Class
Notes.
Available
online
at
http://homepages.ius.edu/DSPURLOC/c121/week13.htm (diakses pada
tanggal 4 November 2014)