Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH INDIVIDUAL LEARNING

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI

OLEH:
KOMANG NOVIANTARI
(1302105006)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2016

PERTANYAAN:
1. Jelaskan organ reproduksi pada pria dan wanita (dijelaskan dengan gambar akan lebih
baik)!

2. Jelaskan tentang perkembangan organ sistem reproduksi sejak embrio!


3. Jelaskan masing-masing fungsi organ reproduksi tersebut!
4. Jelaskan tentang hormon-hormon yang terkait dengan fungsi reproduksi. Jelaskan
pula fungsi dari hormon-hormon tersebut!
5. Jelaskan tentang mimpi basah pada pria dan hormon yang terlibat!
6. Jelaskan tentang siklus menstruasi. Bagaimana pengaruh hormon seksual terhadap
siklus menstruasi!
7. Jelaskan tentang hormon-hormon yang terlibat selama periode kehamilan, kelahiran
dan menyusui!

PEMBAHASAN
1. Jelaskan organ reproduksi pada pria dan wanita!
a. Organ Reproduksi Pria

1) Genetalia Eksterna
a) Penis
Penis terletak menggantung di depan skrotum, terdiri dari 3 bagian yaitu
glans penis (bagian ujung), bagian tengah korpus penis dan pangkalnya
radiks penis. Penis dibungkus oleh kulit yang amat tipis tidak
berhubungan dengan bagian permukaan dalam dari organ dan tidak
mempunyai jaringan
adiposa. di belakang
orifisium uretra
eksrterna kulit ini
membentuk pelipatan
kecil yang disebut
frenilum prepusium
yang menutupi glans
penis (Syaifuddin,
2011).
Fasia superfisialis secara langsung berhubungan dengan fasia skrotum
dengan lapisan sel otot polos. Penis terdiri dari dua masa silinder yang
erektil disebut korpus karvenosum. Korpus karvenosum penis ditutupi
oleh kapsul yang kuat terdiri dari benang-benang superfisialis dan
profunda, mempunyai arah longitudinal dan membentuk satu saluran
masing-masing mengelilingi korpora dan membentuk septum penis. Pada
2

permukaan atasnya terdapat celah kecil tempat vena dorsalis penis


profunda dan bagian bawah (ventral) terdapat celah yang dalam dan luas
berisi korpus spongeosum yang didalamnya terdapat saluran uretra.
Korpus spongeosum pada bagian akhir anterior akan membentuk glans
penis (Syaifuddin, 2011).
Penis disokong/digantung oleh dua ligamentum yaitu ligamentum
fundiformis penis merupakan lapisan tebal yang berasal dari fascia
superfisialis dari dinding abdominalis anterior di atas pubis serta
ligamentum suspensorium penis berupa benang berbentuk segitiga bagian
eksterna dari fascia profunda, menggantung pada dorsum dan akar penis
ke bagian inferior linea alba, simfisis pubis dan ligamentum arkuata pubis.
Kruris iskhisio pubis dan bulbus diafragma urogenitalis sebagai alat
penggantung penis (Syaifuddin, 2011).
Penis diperdarahi oleh arteri pudenda interna cabang arteri hipogastrika
yang menyuplai darah untuk ruangan karvenosus dan arteri profunda penis
cabang dari arteri dorsalis penis bercabang terbuka langsung ke ruangan
karvenosa. Cabang kapiler menyuplai darah ke trabekula ruangan
karvenosa, dikembalikan ke vena pada dorsum. Vena dorsalis penis
melewati permukaan superior korpus karvenosa dan bergabung dengan
vena yang lain. Sedangkan persarafan penis berasal dari cabang nervus
pudendus dan pleksus pelvikus pada glans penis dan bulbus, beberapa dari
filamen N. kutaneus (Syaifuddin, 2011).
b) Skrotum

Skrotum merupakan sepasang kantong yang menggantung di dasar pelvis,


terletak diantara penis (bagian depan) dan anus (bagian belakang), terdiri
dari kulit tampa lemak yang terdiri dari sedikit jaringan otot, dibungkus
oleh tunika vaginalis yang dibentuk dari peritonium skrotum yang
mengandung pigmen dan di dalamnya terdapat kantong-kantong, setiap
kantong berisi epididimis fenikulus spermatikus (Syaifuddin, 2011).
Skrotum kiri menggantung lebih rendah dari skrotum kanan. Pada
skrotum terdapat m. kremaster yang muncul dari m. obligue internus
abdominalis yang menggantung testis dan mengangkat testis menurut
kemauan dan refleksi ejakulasi (Syaifuddin, 2011).
Skrotum terdiri dari dua lapisan yaitu: (1) kulit yang berwarna kecoklatan,
tipis dan mempunyai flika/rugae, terdapat folikel sebasea dikelilingi oleh
rambut keriting. (2) Tunika dartos berisi lapisan otot polos yang tipis
sepanjang basis skrotum. Tunika dartos ini membentuk septum yang
membegi skrotum menjadi dua ruangan untuk testis yang terdapat di
bawah permukaan penis (Syaifuddin, 2011).
2) Genetalia Interna
a) Testis
Testis merupakan 2 buah organ glandula yang memprodusi semen,
terdapat di dalam skrotum dan digantung oleh fenikulus spermatikus
(Syaifuddin, 2011). Testis dibungkus oleh tunika vaginalis testis lamina
visceralis, yang langsung berbatasan dengan tunika albuginea testis. Pada
lapisan dalam tunica vaginalis lamina visceralis, melanjut menjadi septum
testis untuk membagi lobulus testis, pada tiap testis dapat mencapai 250
lobulus. Mediastinum testis merupakan tempat masuk pembuluh darah,
pembuluh limfatik, saraf dan rete testis. Rete testis merupakan muara
produksi tiap lobulus sebelum keluar dari testis melalui duktus efferen
untuk
menuju
epididimis
(Naughton
et al.,
1998).
Testis
mendapat perdarahan dari arteri pudenda eksterna pars superfisialis yang
4

merupakan cabang dari arteri femoralis, arteri perinealis superfisialis yang


merupakan cabang dari arteri pudenda interna serta arteri kremasterika
cabang dari arteri epigastrika inferior. Aliran balik darahnya ke dalam vena
yang mengikuti arteri. Testis dipersarafi oleh n. ilionguinalis, n.
lumboinguinalis cabang pleksus lumbalis dan n. perinealis pars
superfisialis (Syaifuddin, 2011).
b) Epididimis

Epididimis adalah organ kecil yang terletak di bagian posterior testis


(Andriyani et al., 2015). Epididimis berebentuk saluran halus yang
panjangnya kira-kira 6 cm, terdiri dari: (1) Kaput epididimis berhubungan
erat dengan bagian atas testis sebagai duktus eferens dari testis. (2)
Korpus epididimis merupakan badan yang ditutupi oleh membran serosa
servikalis sepanjang tepi posterior. (3) Kauda epididimis, bagian ekor
disebut juga globulus minor ditutupi oleh membran serosa yang
berhubungan dengan duktus deferens. (4) Ekstremitas superior yaitu
bagian
yang
besar.
(5)

Ekstremitas inferior yang berbentuk seperti titik (Syaifuddin, 2011).


Di antara korpus dan testis terdapat satu ruangan yang disebut sinus
epididimis. Epididimis sebagian ditutupi oleh lapisan viseral. Lapisan ini
bagian medistinum menjadi lapisan parietal yang dikelilingi jaringan ikat
spermatozoa melalui duktus eferen, merupakan bagian dari kaput
epididimis tempat bermuaranya spermatozoa lalu disimpan masuk ke
dalam vas deferens (Syaifuddin, 2011).
c) Vas deferens
Vas deferens adalah sebuah duktus ekskretorius dari testis yang
merupakan lanjutan dari kanalis epididimis, memiliki panjang 50-60 cm.
Mulai dari bagian bawah kauda, epididimis berbelit-belit, secara
berangsur-angsur naik sepanjang tepi posterior testis dan sisi medialis
bagian fenikulus spermatikus. Melalui cincin kanalis inguinalis masuk ke
6

fenikulus spermatika, membelok sepanjang sisi lateral arteri epigastrika


kemudian menjurus ke belakang agak turun ke fosa iliaka ekterna dan
mencapai kavum pelvis. Di antara peritonial dan dinding lateralis pelvis,
selanjutnya saluran ini turun dari sisi medialis arteri umbilikalis dan
nervus obturatorius, menyilang di depan ureter, berbelok-belok
membentuk sudut turun ke medial agak ke depan diantara fundus vesika
urinaria bagian atas vesika seminalis. Berlanjut menjurus ke bawah antara
fundus vesika urinaria dan rektum menuju basis glandula prostatika
bergabung dengan duktus vesika seminalis membentuk duktus
ejakulatorius, bermuara pada pars prostatika uretra melalui orifisium
utrikulus prostatikus. Vas deferens keras seperti tali dan berpentuk silinder
dengan dinding salurannya sangat tipis dan pada fundus vesika urunaria
membesar dan berbelok-belik disebut ampula (Syaifuddin, 2011).
d) Vesika Seminalis

Vesika seminalis terdiri dari dua ruangan yang masing-masing berbentuk


piramid, terletak diantara fundus vesika urinaria dan rektum dengan
panjang kira-kira 5-10 cm. Vesika seminalis bergabung dengan vas
deferens menjasi duktus ejakulatorius (Syaifuddin, 2011).
Arteri yang menyuplai dara pada vesika seminalis adalah cabang dari
arteri vesikalis medialis, arteri vesikalis inferior dan arteri haemoroidalis
medialis. Vena-vena pada sistem limfe menyertai arteri, Persarafan
merupakan cabang dari pleksus pelvikus (Syaifuddin, 2011).
e) Duktus ejakulatorius
Duktus ini berjumlah 2 buah dan masing-masing duktus akan membentuk
gabungan dari vesika seminalis dengan vas deferens. Panjangnya 2 cm
mulai dari lobus medialis basis glandula prostatika, berjalan ke depan
7

bawah diantara lateralis dari utrikulus prostatikus dan berakhir di tepi


urtikulus (Syaifuddin, 2011).
f) Kelenjar Prostat
Terletak di bawah orifisium uretra interna dan sekeliling permukaan
uretra, melekan pada inferior vesika urinaria dalah rongga pelvis di bawah
simfisis pubis posterior mempunya empat lobus yaitu posterior, anterior,
lateral dan medial. Prostat dipertahankan dalam posisinya oleh
ligamentum puboprostatika, lapisan dalam diafragma urogenitalis, m.
levator ani pars anterior dan m. levator prostat bagian dari m. levator ani.
Diperdarahi oleh arteri pudenda interna, arteri sesikalis inferior, arteri
haemoroidalis medialis. Vena akan membentuk fleksus di sekitar sisi dan
basis glandula prostat dan berakhir di vena hipogastrika. Dipersarafi oleh
nervus cabang dari pleksus pelvis (Syaifuddin, 2011).
g) Kelenjar Bulbouretralis
Kelenjar ini terletak
di belakang lateral
pars membranasea
uretra, diantara
kedua lapisan
diafragma
urogenitalis dan di
inferior kelenjar
prostat. Berbentuk
bulat kecil berwarna kuning dan memiliki panjang kira-kira 2,5 cm
(Syaifuddin, 2011).
h) Uretra
Uretra merupakan saluran kemih dan saluran ejakulasi pada pria dimana
pengeluaran urine tidak bersamaan denfan ejakulasi karena diatur oleh
kegiatan kontraksi prostat (Syaifuddin, 2011).
i) Fenikus Spermatikus
Fenikulus spermatikus memanjang dari abdominalis inguinalis dan
tersusun konvergen ke bagian belakang testis, melewati cincin subkutan
dan turun hampir vertikal ke skrotum (Syaifuddin, 2011).
b. Organ Reproduksi Wanita

Organ reproduksi wanita terdiri dari genetalia eksterna, genetelia interna dan
organ reproduksi tambahan payudara.
1) Genetelia eksterna

Vulva merupakan organ genetalia eksterna tempat bermuaranya sistem


urogenital yang organnya terdiri dari:
a) Mons veneris (pubis)
Mons pubis merupakan bantalan jaringan lemak mulai dari simfisis pubis
sampai ke vulva. Bagian ini tertutup oleh rambut berbentuk segitiga
dengan dasar segitiga di simfisis. Distribusi rambut makin ke bawah
makin tipis dan sebagian rambut menutupi labia mayora (Manuaba, 2007).
b) Labia mayora
Labia mayora adalah lipatan kulit yang menonjol secara longitudinal yang
memanjang ke bawah dan ke belakang dari mons pubis dan membentuk
9

batas lateral yang banyak mengandung saraf. Masing-masing labium


mempunyai dua permukaan, bagian luar mempunyai pigmen yang ditutupi
oleh rambut keriting dn bagian dalamnya licin dikelilingi oleh volikel
sebasea. Di sampingnya terdapat pembuluh darah dan glandula
membentuk kommisura labialis posterior (Syaifuddin, 2011). Labia
mayora memiliki panjang kira-kira 7,5 cm (Andriyani, 2015).
c) Labia minora
Labia minora adalah lipatan kecil yang terdapat diantara labia mayora,
memanjang dari klitoris secara oblik ke bawah dan samping belakang
sepanjang 4 cm di sisi orifisium vagina. Ujung postrior labia minora
bergabung pada garis median oleh lipatan kulit, disebut frenulum. Masingmasing labia minora terbagi menjadi: (1) Bagian atas melalui klitoris
bertemu dengan yang lain membentuk lipatan yang mengganyung pada
glans klitoris. (2) Bagian bawah lewat di bawah klitoris dan membentuk
permukaan bawah saling berhubungan dinamakan frenulum klitoris
(Syaiffudin, 2011).
d) Klitoris
Secara embrional, klitoris sama dengan penis pada pria. Organ ini terletak
diujung dari vulva diantara dua pelipatan dari labia minora. Klitoris
terbentuk dari korpus klitoris, glans klitoris dan krura klitoris. Korpus
berisikan korpus karvenosum klitoris yang merupakan jaringan erektil dan
dindingnya mengandung otot polos. Dua krura klitoris berorigo di
permukaan inferior ramus ishiopubis dan menyatu dibagian tengah
simfisis pubis membentuk korpus klitoris. Panjang korpus klitoris sekitar
2 cm. Organ ini ditarik kuat oleh labia minora sehingga ujungnya
mengarah ke bawah dan sedikit ke arah liang vagina. Glans klitoris
besarnya sekitar 0,5 cm dan kaya akan ujung saraf sehingga sangat
sensitif. Pembuluh darah klitoris sama dengan pembuluh darah yang
memperdarahi vestibulum vulva (Manuaba et al., 2007).
e) Vestibulum
Vestibulum berbentuk oval merupakan daerah yang dibatasi oleh kedua
labia minora, klitoris dibagian atas dan fourchette di bagian bawah. Pada
vestibulum terdapat enam muara/lubang yaitu orifisium uretrae, orifisium
vagina, sepasang muara kelenjar vestibulum mayor, dan sepasang muara
kelenjar Skene. Diantara vagina dan fourchette terdapat fossa navikulare.

10

Kelenjar vestibulum mayor merupakan kelenjar yang berpasangan di


kanan dan kiri yang besarnya 0,5 sampa 1 cm. Kelenjar ini terletak
dibawah mukosa dan muskulus konstriktor vagina ata di bawah bulbus
vestibulum. Salurannya kira-kira sepanjang 1,5 sampai 2 cm dan bermuara
di bagian bawah lumen vagina Kelenjar ini mengeluarkan lendir pada saat
berhubungan seksual (Manuaba et al., 2007).
Bulbus vestibuli terletak di bawah membrana vestibularis dan merupakan
kumpulan pembuluh darah dengan ukuran panjang 3-4 cm, tebal 0,5-1 cm
dan lebar 10-2 cm. Bulbus vertibuli terletak di dekat ramus ishiopubis,
sebagian ditutupi oleh m. ishiokavernosus dan m. konstriktor vaginae.
Bagian anteriornya berhubungan dengan klitoris sedangkan bagian
bawahnya bertemu di bagian bawah vagina. Secara embriologis, bulbus
vestibuli sama dengan korpus karvenosum penis pria. Bagian ini rentan
terhadap luka dan hematoma (Manuaba et al., 2007).
Orifisium Vagina adalah celah yang terdapat di bawah dan di belakang
muara uretra, ukurannya bergantung pada himen, lipatan tepi dalamnya
berkontak satu sama lainnya (Syaifuddin, 2011).
Himen (selaput dara) adalah lapisan tipis yang menutupi sebagian vagina.
Di bagian tengahnya terdapat lubang yang merupakan tempat keluarnya
menstruasi (Syaifuddin, 2011)
2) Genetalia interna

a) Vagina
11

Vagina merupakan penghubung antara uterus dengan organ genetalia


eksterna. Vagina memiliki panjang di depan 6,5 cm dan di belakang 9,5
cm. Sumbunya berjalan kira-kira sejajar dengan arah tepi bawah simfisis
ke promontorium. Pada puncak vagina terdapat bagian yang menonjol dari
leher uterus yang disebut porsio (Syaifuddin, 2011)
Epitel vagina merupakan epitel skuamosa dalam beberapa lapisan dimana
lapisannya tidak mengandung kelenjar akan tetapi mengadakan transudasi.
Pada anak kecil epitel ini sangat tipis sehingga mudah terkena infeksi.
Mukosa vagina berlipat-lipat secara horizontal yang dinamakan rugae. Di
bawah epitel vagina terdapat jaringan ikat dan otot yang susunannya
seperti usus. Dinding belakang vagina lebih panjang dan membentuk
forniks posterior, fornik lateralis sinistra dan forniks lateralis dextra.
Sedangkan dinding depan vagina membentuk forniks anterior (Syaifuddin,
2011).
b) Uterus
Uterus berbentuk
terletak di dalam
rongga pevis
diantara rektum
(bagian posterior)
dan vesika urinaria
(bagian anterior),
memiliki panjang 77,5 cm, lebar 5 cm
dan teval 2,5 cm.
Uterus wanita
dewasa
umumnyaterletak
disumbu tulang panggul dalam posisi anteversiofleksi, membentuk sudut
dengan vagina. Korpus uteri ke arah depan membentuk sudut 120-130
derajat dengan serviks. Uterus terdiri dari (Syaifuddin, 2011):
i.
Fundus uteri
Fundus uteri (dasar rahim) ditutupi oleh peritonium berhubungan
dengan fascies vesikalis da permukaan internalis. Pada bagian atas
bermuara tuba uterina yang menembus dinding uterus. Di bawah dan
12

didepan titik pertemuan ini terdapat ligamentum dan di belakang


ii.

ligamentum terdapat ovarium.


Korpus uteri
Di dalam korpus uteri terdapat rongga (kavum) uteri yang membuka
keluar melalui saluran kanalis servikalis yang terletak pada serviks,
bagian ini merupakan tempat implantasi ovum yang sudah dibuahi

iii.

dan berkembangnya janin.


Serviks uteri
Servik uteri merupakan bagian uterus yang menyempit berbentuk
kerucut dengan apeks yang menjurus ke bawah dan ke belakang dan
sedikit lebar di pertengahan. Sumbu panjang serviks sama dengan
sumbu panjang korpus, berbentuk garis bengkok ke depan. Servika
terdiri atas dua bagian yaitu: (1) Porsio supravaginalis dipisahkan
dengan vesika urinaris oleh parametrium yang memanjang pada sisi
lateral uterus diantara ligamentum latum utera dan uterus, berjalan ke
bawah dan ke depan di dalam parametrium sepanjang 2 cm dari
serviks. Bagian posterior supravaginalis ditutupi oleh peritonium. (2)
Porsio vaginalis, terdapat diantara vorniks anterior dan forniks
posterior. Pada ujung porsio vaginalis terdapat orifisium eksterna
uterus, dibatasi oleh suatu bibir, bibir atas dan bibir bawah yang
berkontak dengan dinding posterior vagina.
Kavum uteri merupakan bangunan berupa segitiga yang basisnya dipentuk
oleh permukaan dalam dari fundus uteri diantara tuba uterina dan bagian
apeks dibentuk oleh orifisium interna uteri. Uterus terdiri dari 3 lapis
antara lain sebagai berikut (Syaifuddin, 2011):

i.

Endometrium
Terdiri dari jaringan epitel dan kelenjar yang banyak mengandung
pembuluh darah. Bagian korpus uteri endometrium licin dan bagian
serviks berkelok-kelok. Kelenjarnya bermuara pada kanalis servikalis.
Pertumbuhan dan fungsi endometrium dipengaruhi oleh

ii.

hormonsteroid ovarium.
Miometrium
Lapisan otot yang tersusun sedemikian rupa hingga dapat mendorong
isinya pada waktu persalinan dan dapat mengecil kembali setelah

iii.

plasenta keluar.
Perimetrium
13

Dilapisi oleh peritonium viseral, ditemukan pada dinding korpus uteri


atau peritonium uterus, mendapat darah dari arteri iterina cabang dari
arteri iliaka interna yang menjadi arteri ovarika.
Kanalis servisis uteri berhubungan dengan kavum uteri melalui orifisium
uterina interna, di bawah berhubungan dengan vagina melalui orifisium
uteri eksternus. Panjang dari kavum uteri ke orivisium eksterus adala 6,25
cm (Syaifuddin, 2011)
Penyokong utama uterus adalah diafragma pelvis, m. levator ani, dan
fascia levator ani. Uterus ditahan dalam posisi yang kuat dalam pelvis oleh
vagina, ligamentum kardinale, ligamentum latum, dan uterus sakralis.
Jaringan lemak diekitar ligamentum merupakan elemen penting dalam
menyokong uterus (Syaifuddin, 2011).
Uterus diperdarahi oleh arteri uterina cabang arteri hipogastrika interna
yang masuk melalui ligamentum latum menuju terus dengan bercabang
menjadi arteriuterina descenden untuk servika dan vagina bagian atas,
arteri uterina ascenden yang berjalan sepanjang tepi uterus sambil
memberikan cabangbya menuju otot rahim dimana bagian atasnya akan
memberikan darahnya pada fundus uteri, tuba uterina dan ovarium.
Kemudian cabang tuba uterina akan memberikan darahnya ke ovarium.
Arteri uterina akan menyilang ureter sekitar 2 cm di lateral serviks. Arteri
ovarika merupakan cabang dari aorta melalui ligamentum
infundibulopelvikum akan membentuk beberapa cabang menuju hilum
ovari dan sepanjang ovarium di tepi bagian atasnya dan mengadakan
anantomosis dengan cabang arteri ovarika dan arteri uterina. kemudian
aliran balik darah: di sekitar uterus pada ligamentum latum terbentuk
pleksus pampiniformis yang akan menuangkan daraknya ke dalam vena
ovarika. Vena ovarika kanan langsung ke vena cava inferior sedangkan
vena ovarika kiri menuju vena renalis kiri. Disamping itu, aliran balik
darah vena menuju ke venanya sendiri (sesuai dengan arteri yang
memperdarahi). Aliran getah limfa uterus menuju beberapa arah yaitu
serviks menuju kelenjar iliaka atau percabangan arteri iiaka interna dan
lainnya menuju kelenjar getah bening periaorta (Manuaba et al., 2007).

14

Uterus dipersarafi oleh cabang dari pleksus hipogastrikus dan pleksus


ovarikus dari nervus servikal 3-4, serabut aferens uterus masuk ke medula
spinalis melalui nervus 11-12 (Syaifuddin, 2011).
c) Tuba uterina

Tuba uterina adalah saluran telur yang mengangkut ovum dari ovarium ke
kavum uteri. Panjangnya rata-rata 11-14 cm. Tuba uterina memiliki dua
bagian, mulai dari sisi pelvis ke sudut superior lateral uterus yang masingmasing menggantung pada plika peritonial mesentrium yang meliputi
margo superior dan berdekatan dengan ligamentum latum. Tuba uterina
i.

terdiri dari 4 bagian yaitu (Syaifuddin, 2011):


Pars interstisialis merupakan bagian tuba yang terdapat di dalam

ii.

uterus
Pars ismika/istmus merupakan bagian yang sempit pada sudut antara

iii.

uterus dan tuba.


Pars ampularis/ampula merupakan bagian yang meliputi bagian
saluran yang lebar dan meliputi ovarium dan merupakan tempat

iv.

terjadinya fertilisasi.
Infundibium merupakan bagian ujung tiba yang terbuka mempunyai
umbul yang disebut fimbriae, melekat pada ovarium untuk
menangkap ovum yang dilepas oleh ovarium.
Bagian luar tuba diliputi oleh peritonium viseral, merupakan bagian dari
ligamentum latum. Otot dinding tuba terdiri dari m. longitudinal dan m.
sirkuler. Bagian dalam terdapat mukosa berlipat-lipat ke arah longitudinal
terutama pada bagian ampula (Syaifuddin, 2011).

d) Ovarium
Ovarium terletak di fossa ovari Waldeyer berbetuk oval atau bervariasi
dan memiliki ukuran panjang kira-kira 2,5-5 cm, lebar 1,5-3 cm dan tebal
0,5-1,5 cm. Ovarium difiksasi oleh mesovarium menuju ligamentum
15

latum, ligamentum utero ovarium dari insersi sedikit bawah tuba menuju
ovarium yang panjangnya kira-kira 3-4 cm, ligamentum
infundibulopelvikulum dari tuba menuju tulang pervis. Ovarium memiliki
permukaan yang licin mengkilat pada gadis dan semakin tua berbenjolbenjol karena terjadinya ovulasi. Pada usia lanjut ovarium mengecil dan
padat karena ovulasi sudah berhenti. Ovarium terdiri dari dua lapisan
yaitu: (1) Korteks yang merupakan jaringan ikat dan terdapat berbagai
tingkat maturasi folikel de Graaf. Lapisan luarnya tertutup tunika
albugenia. (2) Medulla ovarii merupakan jaringan ikat longgar berlanjut
dengan mesovarium, mengandung pembuluh darah dan serat saraf dan
terdapat otot yang dapat menggerakan ovarium (Manuaba et al., 2007).
3) Payudara

Pada wanita kelenjar mamae mulai berkembang pada permulaan masa


pubertas (umur 11-12
tahun). Kelenjar
mamae tumbuh
menjadi besar
sebelah lateral linea
aksilaris
anterior/medial ruang
interkostalis III dan
sebelah kaudal ruang
interkostalis VII-VIII. Kelenjar mamae menyebar disekitar areola mamae,
16

mempunyai lobus antara 15-20. Tiap lobus berbentuk piramid dengan punvak
mengarah ke areola. Masing-masing lobus dibatasi oleh septum yang terdiri
dari jaringan fibrosa yang padat. Tiap lobus kelenjar mamae mempunyai
saluran yang keluar diebut duktus laktiferus yang melebar pada daerah areola
disebut sinus laktiferus. Di daerah terminalis lumen sinus ini mengecil dan
bercapang-cabang ke alveoli (Syaifuddin, 2011).
Pembuluh darah mamae berasal dari arteri mamaria interna dan arteri
torakalis serta vena superfisialis. Mamae mempunyai banyak anastomosis
yang bermuara pada vena mamaria interna dan vena torakalis
interna/epigastrika, sebagian besar bermuara ke vena torakalus lateralis
(Syaifuddin, 2011).
4) Pelvis

17

Pelvis terdiri
atas 3 bagian
yaitu, (1)
tulang koksa,
yaitu terdiri
atas tiga tulang
yang masingmasing
berjumlah dua
buah, yaitu
tulang ilium,
ischium, dan
pubis. (2) tulang sacrum, yaitu berjumlah satu buah. (3) tulang koksigis, yaitu
berjumlah satu buah. Tulang-tulang ini saling berhubungan satu sama lain
melalui artikulasio. Pada bagian depan artikulasio yang terletak di antara
kedua os. Pubis, yang disebut simfisis. Pada bagian belakang terdapat
hubungan atau artikulasio sakrokoksigea. Di luar kehamilan, artikulasio
hanya memungkinkan mengalami sedikit pergeseran, tetapi pada kehamilan
dan persalinan mengalami pergeseran yang cukup longgar, bahkan pada ujung
koksigis dapat bergerak ke belakang sampai sejauh 2,5 cm pada proses
persalinan (Sulistyawati, 2011).
2. Jelaskan tentang perkembangan organ sistem reproduksi sejak embrio!
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sel germinal primordial bakal sel kelamin pada
manusia berasal dari dinding endoderm kantung kuning telur (yolk sac) (ekstra
gonad).
a) Perkembangan Organ Genitalia
Perkembangan embrional alat reprdoduksi berasal dari keadaan yang indiferen
dengan kedua jenis kelamin yang sama sampai awal minggu ke-7 dan barulah
organ polar yang spesifik berdiferensiasi. Pada dinding dorsal perut sebelah
medial dari mesonefros tampak suatu tonjolan yang cembung mirip rigi (gonadal
ridge) pada minggu ke-5, yang terbentang dari diafragma sampai ke panggul dan
di tengahnya terdapat bakal gonad yang agak menonjol ke depan (Langman,
2009).
b) Tahap Indiferen Gonad

18

Sex secara genetik terbentuk pada saat embrio pada saat fertilisasi,
sedangkan secara morfologi gonad belum menunjukkan antara pria dan wanita
sampai minggu ke-7. Gonad pada awalnya merupakan sepasang rigi longitudinal
yang disebut gonadal ridge yang terbentuk dari proliferasi epitel dan kondensasi
dari lapisan mesenchyme. Epitel dari genital ridge mengalami proliferasi dan sel
epitel masuk ke lapisan mesenchyme sehingga membentuk beberapa bentuk korda
yang tidak beraturan yang dinamakan primitive sex cords. Pada pria dan wanita,
korda tersebut berhubungan dengan permukaan epitel dan tidak mungkin dapat
dibedakan antara gonad pria dan wanita sehingga keaadaan ini dinamakan
indifferent gonad (Langman, 2009).
c) Tahap Diferen Gonad dan Pembentukan Duktus
Pada akhir minggu ke-7 diferensiasi seksual bakal gonad baru dikenali. Gonad
yang terbetuk dibedakan menjadi 2, yaitu testis dan ovarium

19

gambar: skema pengaruh sel germinal primordial pada gonad indiferen

gambar: skema pengaruh kelenjar seks pada diferensiasi seks

Testis
Embrio dikatakan secara genetik adalah pria apabila sel germinal primordial
membawa kromosom seks komplek XY. Di bawah pengaruh dari gen SRY pada
kromosom Y yang mengkode testis determining factor, korda seks primitif
berkembang secara proliferatif dan masuk lebih dalam ke medula untuk
membentuk testis atau ke dalam korda medula. Untuk menuju bagian hilus dari
kelenjar, korda berpisah ke bagian untaian sel kecil yang nantinya akan menjadi
tubulus dari rete testis. Selama perkembangan yang lebih lanjut, lapisan padat dari
jaringan konektif fibrosa yaitu tunica albugenia memisahkan korda testis dari
permukaan epitel (Langman, 2009).

Gambar: A.Testis 8 minggu, B. Testis dan duktus genital 4 bulan

20

Pada minggu ke-10, anyaman korda seksual mulai memudar. Struktur


tersebut membentuk tubulus seminiferus yang independen dan sangat berliku-liku
yang memisahkan korteks dari epitel benih melalui lapisan jaringan ikat kasar
(tunika albugenia). Kini sel-sel germinal tidak dapat lagi mencapai testis. Sisa selsel yang tersebar di korteks mulai berdegenerasi. Oleh karena saluran kecil
sperma (tubulus seminiferus) berakhir buntu dan simpai testis menebal melalui
tunica albugenia, pengeluaran sel germinal hanya dapat terjadi ke arah dalam.
Agar penyaluran sperma dapat terjadi, terjadi diferensiasi duktus mesonefros
yang berbatasan dengan testis menjadi duktus eferens dan bersatu di atas rete
testisdengan tubulus seminiferus. Di bawah pengaruh testosteron, duktus Wolff di
daerah gonad menjadi saluran epididimis dan ke arah distal menjadi saluran
sperma (duktus deferens). Dari minggu ke-20 pada dasarnya testis sudah
mencapai tahap diferensiasi tersebut, yang setelah lahir tetap berlangsung sampai
pematangan seksual (pubertas) terjadi (Rohen & Drecoll, 2003).

Gambar : A. Duktus genital pada janin laki-laki 4 bulan, B. Duktus genital


setelah desensus testis

Ovarium
Pada embrio wanita dengan seks kromosom XX dan tidak ada kromosom Y,
korda seks primitif memisahkan diri ke dalam gugus-gugus sel yang tidak teratur.
Gugus sel ini terdiri atas sekelompok sel germinal primordial yang menempati
bagian medula dari ovarium. Selanjutnya menghilang dan digantikan oleh stroma
vaskular yang membentuk ovarium medula.

21

Gambar : A. Potongan melintang ovarium pada 7 minggu, B. Ovarium dan duktus


genital pada 5 bulan

Diferensiasi spesifik mulai terjadi belakangan secara keseluruhan, epitel


coelompada orang dewasa membentuk korda epitel ke dalam blastema gonad, namun
tidak ada yang menembus sampai ke medula, namun tetap tinggal di daerah korteks.
Di korteks, sel tersebut berubah menjadi gumpalan sel dengan oogoni yang
berproliferasi di dalamnya melalui pembelahan mitosis yang cepat dan berurutan.
Secara keseluruhan, terbentuk sekitar 7 juta sel benih, namun dari jumlah tersebut
menjelang kelahiran menjadi 5-6 juta sel akan mati (Rohen & Drecoll, 2003).
Dari minggu ke-12 sampai ke-16, penggolongan lapisan lambat laun dapat
dikenali di bakal gonad. Di luar daerah korteks jaringan tebal dari sel penunjang
yang gelap berkembang dengan oogoni yang aktif berproliferasi. Kemudian,
terbentuk zona yang bertambah lebar, tempat oosit muncul pertama kalinya, yang
dimulai di dalam bola telur berepitel dengan pembelahan pematangan pertama
(meiosis), namun bertahan pada stadium profase.
Pada daerah korteks, anyaman longar mesenkim zona medula menutup dan
akhirnya menutup ke dalam rete blastema, di mana tidak ada sel telur yang tersisa.
Karena di dalam ovarium tidak terjadi perkembangan ductus genitales, transportasi
sel telur harus terjadi ke arah luar di tempat ini yang berkebalikan dengan testis.
Oleh sebab itu, perlu adanya sistem duktus besar kedua dari bakal indiferen, yaitu
duktus Muller yang berdiferensiasi menjadi tuba fallopii dan uterus setelah
terjadinya induksi hormonal (Rohen & Drecoll, 2003).

22

Gambar : A. Duktus genital pada akhir bulan ke-2, B. Duktus genital setelah
penurunan dari ovarium

d) Tahap Perkembangan Genetalia Eksterna

Gambar : Ringkasan diferensiasi perkembangan genetalia eksterna pada pria


dan wanita

Diferensiasi organ genetalia eksterna juga didahului oleh keadaan indiferen.


Setelah terjadinya pemisahan rektum oleh septum urorectale, hanya pars phallica
dan pars pelvina yang tersisa di bagian bawah sinus urogenitalis. Pada janin lakilaki, kedua bagian sinus urogenitalis berdeferensiasi menjadi uretra, pada
perempuan hanya menjadi pars pelvina. Hal tersebut berkaitan dengan kenyataan
bahwa pada janin perempuan, lipatan genetalia yang terbentuk di sekitar ostium

23

urogenitalis tetap mempertahankan bentuk asalnya, sedangkan pada pria tumbuh


menjadi penis.
Secara detail, mula-mula dua lipatan genetalia (di dalam), dua genital
swelling (tonjolan labioskrotal) (lebih ke arah luar) dan di bagian tengah atas
suatu tuberkulum yang tidak berpasangan (genital tubercle) berkembang, yang
masih berada dalam tahap indiferen. Pada janin perempuan, hormon estrogen
menstimulasi perkembangan genetalia eksterna. Selanjutnya lipatan genetalia
berdiferensiasi menjadi labia minora sedangkan genital swelling menjadi labia
mayora dan genital tubercle menjadi klitoris dan corpus cavernosum clitoridis
(Rohen & Drecoll, 2003). Setelah bagian yang padat dari duktus Muller mencapai
sinus urogenital, dua bagian padat tumbuh ke luar pelvik tepat di sinus. Bagaian
yang keluar merupakan bulbus sinovaginal yang berproliferasi dan membentuk
vaginal plate yang padat. Proliferasi berlanjut pada bagian kranial akhir dari
plate, tumbuh menjauh antara uterus dan sinus urogenital. Pada bulan ke-4,
vagina tumbuh keluar dari kanal. Bagian vagina yang tumbuh keluar mengelilingi
bagian akhir uterus adalah forniks vagina merupakan asal paramesonefros.
Sehingga vagina memiliki 2 asal mula, bagian atas terbentuk dari kanal uterus dan
bagian bawah terbentuk dari sinus urogenital. Sisa lumen vagina yang terpisah
dari sinus urogenital sebagai lapisan jaringan yang tipis dinamakan hymen yang
terdiri atas lapisan epitel dari sinus dan lapisan tipis dari sel vagina (Langman,
2009).
Pada janin laki-laki, genital tubercle tumbuh menjadi penis (glans penis,
corpus spongiosum dan uretra) dalam pengaruh testosteron yang terjadi pada
minggu ke-10, pada saat yang sama kedua lipatan genetalia memanjang dan
menyatu di tengah. Kedua lipatan tersebut membentuk corpus penis dengan kedua
corpus cavernosum. Namun, celah di tengah yang mula-mula tampak cepat
menutup, dapat tetap terbuka (hipospadia) pada malformasi. Kedua genital
swelling tumbuh bersama di medial dan membentuk skrotum, dengan raphe
medialnya yang menandakan sepasang bakal genital. Skrotum pada akhir masa
janin menerima testis beserta pelapisnya, juga penonjolan peritonium (tunica
vaginalis) (Langman, 2009).
3. Jelaskan masing-masing fungsi organ reproduksi tersebut!
a. Organ reproduksi pria
1) Genetalia ekterna
a) Penis
24

Penis berfungsi sebagai tempat saluran ureta dan organ erektil pada pria
(Syaifuddin, 2011). Penis akan mengalami ereksi saat terjadi rangsangan
seksual pada pria. Ereksi disebabkan oleh impulas saraf parasimpatif yang
menjalar dari bagian sakral medula spinalis melalui saraf-saraf pelvis ke
penis. Serabut parasimpatis ini diyakini meleaskan nitric oxide yang
terutama melebarkan arteri arteri penis dan juga merelaksasi jalan
trabekula serabut otot polos dijaringan erektil dari korpus karvenosum dan
korpus spongeosum. Jarigan erektil ini terdiri atas sinoid-sinoid karvenosa
yang lebar yang normalnya tidak terisi penuh dengan darah namun
menjadi sangat berdilatasi saat darah arteri mengalir dengan cepat
kedalamnya sementara sebagian aliran vena dibendung. Selain itu, badan
erektil terutama kedua korpus karvenosum dikelilingi oleh lapisan fibrosa
yang kuat, oleh karena itu tekanan yang tinggi di dalam sinusoid
menyebabkan pengembungan jaringan erektil sehingga penis menjadi
keras dan memanjang (Guyton and Hall, 2007).
b) Skrotum
Pada beberapa keadaan misalnya pengaruh suhu panas, skrotum akan
memanjang dan lemah sedangkan pada suhu dingin, skrotum akan
mengkerut dan memendek, hal ini bertujuan untuk mempertahankan suhu
optimal saat spermatogenesis di dalam testis (Syaifuddin, 2011).
2) Genetalia interna
a) Testis
Testis merupakan tempat dibentuknya spermatozoa dan hormon laki-laki
(Syaifuddin, 2011). Pada testis secara mikroskopik dibagi menjadi 2
bangunan utama yaitu, tubulus seminiferus dan sel intersisial Leydig
(Leydig cell). Tubulus seminiferus memiliki fungsi untuk pembentukan sel
spermatozoa (spermatogenesis). Sel Leydig berada diantara tubulus
seminiferus dan memiliki fungsi utama untuk memproduksi hormon
androgen pada pria. Sekresi sel Leydig distimulasi adanya Luteinizing
Hormone (LH) yang di sekresi dari hipofisis anterior (Akingbemi et al.,
2004).
b) Epididimis
Epididimis berfungsi sebagai saluran penghantar testis, mengatur sperma
sebelum diejakulasi dan memproduksi sperma (Syaifuddin, 2011).
c) Vas Deferens
Vas Deferens berfungsi sebagai saluran sperma dari epididimis menuju
uretra saan terjadi ejakulasi (Andriyani et al., 2015).
25

d) Vesika Seminalis
Vesika seminalis merupakan kelenjar yang menghasilkan zat mukoid yang
banyak mengandung fruktosa dan zat gizi (prostaglandin dan fibrinogen)
yang merupakan sumber energi bagi spermatozoa. Sekresi vesika
seminalis merupakan komponen pokok dari air mani yang menghasilkan
cairan (semen) sebagai pelindung spermatozoa. Selama ejakulasi vesika
seminalis mengosongkan isinya ke dalam duktus ejakulatorius sehingga
menambah semen ejakulasi serta mukosa (Syaifuddin, 2011).
e) Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat berfungsi mengeluarkan cairan alkali yang encer seperti
susu yang berfungsi untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan dari
uretra (Syaifuddin, 2011).
f) Kelenjar bulbouretralis
Kelenjar bulbouretralis memiliki fungsi yang hampir sama dengan
kelenjar prostat (Syaifuddin, 2011).
g) Uretra
Uretra merupakan saluran kemih dan saluran ejakulasi pada pria dimana
pengeluaran urine tidak bersamaan denfan ejakulasi karena diatur oleh
kegiatan kontraksi prostat (Syaifuddin, 2011).
h) Fenikulus spermatikus
Berfungsi sebagai bangunan penyambung yang berisi duktus seminalis,
pembuluh limfe dan serabut saraf (Syaifudin, 2011)
b. Organ reprouksi wanita
1) Genetalia eksterna
a) Labia mayora
Berfungsi untuk menutupi dan melindungi organ genetalia eksterna
lainnya (Andriyani et al., 2015).
b) Klitoris
Klitoris merupakan organ erektil pada genetalia wanita yang memiliki
fungsi analog dengan penis pada laki-laki (Manuaba et al., 2007),
c) Kelenjar Vestibulum Mayor
Kelenjar ini berfungsi untuk menghasilkan lendir untuk lubrikasi pada saat
terjadi aksi seksual (Andriyani et al., 2015).
d) Himen
Pada bagian tengah himen terdapat lubang yang berfungsi sebagai tempat
keluarnya menstruasi (Manuaba et al., 2007).
2) Genetalia interna
a) Vagina
Vagina berfungsi sebagai penghubung antara uterus dengan lingkungan
luar, tempat masuknya sperma saat terjadi hubungan seksual serta jalan
lahir fetus pada saat persalinan (Andriyani et al., 2015).
26

b) Uterus
Fungsi uterus adalah untuk tempat implantasi ovum yang telah dibuahi di
endometrium, tempat berkembangnya janin dan pada saat persalinan
uterus akan berkontraksi untuk mendorong janin keluar (Syaifuddin, 2011)
c) Tuba Uterina
Tuba uterina berfungsi untuk menghantarkan ovum dari ovariun ke uterus,
menyediakan tempat untuk fertilisasi (pembuahan ovum oleh sperma)
(Andriyani et al., 2015).
d) Ovarium
Ovarium merupakan tempat produksi ovum (pematangan ovum dan
ovulasi) serta sebagai tempat penghasil hormon seksual wanita (esterogen
dan progesteron) (Andriyani et al., 2015).
3) Payudara
Kelenjar mamae berfungsi meghasilkan air susu pada masa laktasi dengan
bantuan hormon-hormon wanita (Heffner and Schust, 2006).
4) Pelvis
Pelvis berfungsi untuk menyangga isi abdomen dan uterus terutama pada saat
kehamilan (Manuaba et al., 2007). Pelvis merupakan salah satu jalan lahir
yang memiliki fungsi yang lebih dominan daripada jalan lahir (Ummi dkk,
2011).
4. Jelaskan tentang hormon-hormon yang terkait dengan fungsi reproduksi.
Jelaskan pula fungsi dari hormon-hormon tersebut!
a. Hormon pada reproduksi laki-laki

1) Androgen
i.
Androgen yang disekresi testis
Testis menyekresi beberapa hormon kelamin pria yang secara keseluruhan
disebut androgen, yang diantaranya yaitu testosteron, dehidrotestosteron
27

dan androstenedion. Diantara ketiga hormon tersebut, testosteron


merupakan hormon yang paling banyak dibentuk oleh sel-sel intertisial
Leydig sehingga dianggap sebagai hormon yang penting meskipun
nantinya banyak hormon testosteron yang diubah menjadi
dehidrotestosteron yang lebih aktif di dalam jaringan (Guton and Hall,
2007).
Testosteron bertanggung jawab terhadap bebagai sifar maskulinisasi
tubuh. Testosteron mulai dibentuk oleh testis janin laki-laki sekitar
minggu ke-7 masa embrional yang disekresikan pertama kali oleh tonjolan
genetalia. Testosteron berfungsi dalam perkembangan karakteristik tubuh
pria meliputi pembentukan penis, skrotum, kelenjar prostat, vesikula
seminalis dan duktus genetalia pria. Selain itu, pada masa kehamilan 2
sampai 3 bulan terakhir, testosteron bertanggung jawab terhadap
menurunnya testis ke dalam skrotum ketika testis menyekresi sejumlah
testosteron yang cukup (Guyton and Hall, 2007)
Setelah pubertas, sekresi testosteron mengalami peningkatan yang
menyebabkan penis, skrotum dan testis membesar kira-kira delapan kali
lipat sebelum mencapai usia 20 tahun. Selain itu, testosteron juga
menyebabkan sifat kelamin sekunder pria berkembang diantaranya yaitu
(Guyton and Hall, 2007):
- Pengaruh distribusi rambut tubuh
Testosteron dapat menimbulkan pertumbuhan rambut di atas pubis, ke
atas sepanjang line alba kadang-kadang sampai ke umbilikus dan
diatasnya, wajah, dada dan juga sebagian kecil pada daerah tubuh lain
-

seperti punggung.
Pengaruh pada suara
Testosteron dapat meyebabkan hipertropi mukosa laring dan
pembesaran laring sehingga berpengaruh pada suara yang menjadi
tidak sinkron suara serak, namun secara bertahap berubah menjadi
suara orang dewasa maskulin yang khas.

Beberapa fungsi testosteron yang lainnya yaitu:

ii.

a. Meningkatkan ketebalan kulit dan dapat memicu jerawat.


b. Meningkatkan pembentukan protein dan perkembangan otot
c. Meningkatkan matriks tulang dan menimbulkan retensi kalsium
d. Testosteron meningkatkan metabolisme basal
e. Meningkatkan produksi sel darah merah
f. Meningkatkan reabsorbsi natrium di tubulus ginjal
Androgen yang disekresi di luar testis
28

Androgen berarti semua hormon steroid yang memiliki efek maskulinasi


termasuk testosteron. Androgen juga mencakup hormon kelamin pria yang
dibentuk ditempat lain selain testis.Contohnya, kelenjar
adrenalmenyekresi paling tidak lima hormon androgen berbeda, walaupun
aktivitas maskulinisasi total dari semua hormon ini normalnya sangat kecil
(<5% dari seluruh aktivitas pada pria dewasa) sehingga pada wanita
sekalipun, hormon-hormon tersebut tidak menyebabkan sifat
maskulinisasi, kecuali menyebabkan pertumbuhan rambut pubis dan
aksila (Guyton and Hall, 2007).
2) Esterogen
Selain testosteron, sejumlah kecil esterogen juga dibentuk pada pria (kira-kira
seperlima dari jumlah esterogen wanita yang tidak hamil). esterogen ini
diyakini dibentuk oleh sel sertoli dengan mengubah testosteron menjadi
estradiol. Esterogen berfungsi dalam spermiogenesis (Guyton and Hall, 2007).
3) GnRH
GnRH disekresikan oelh neuron yang badan selnya terletak di nukleus arkuata
hipotalamus. GnRH diangkut ke kelanjar hipofisis anterior dan merangsang
pelepasan dua jenis hormon yaitu LH dan FSH. GnRH diekresikan secara
intermiten selama beberapa menit setiap 1-3 jam. Intensitas perangsangan
hormon ini ditentukan dalam dua cara yaitu oleh frekuaensi siklus frekuensi
tersebut dan oleh jumlah GnRH yang dilepaskan pada setiap silkus (Guyton
and Hall, 2007)
4) Hormon gonadotropin: LH dan FSH
LH dan FSH merupakan glikoprotein yang mengeluarkan pengaruhnya pada
jaringan target pada testis. LH berfungsi untuk merangsang pembentukan
hormon testosteron oleh sel-sel Leydig di testis. Jumlah testosteron yang
disekresikan sebansing dengan jumlah LH yang tersedia. FSH besama dengan
testosteron bertanggung jawab dalam proses spermatogenesis. FSH
merangsang sel-sel Sertoli untuk mengubah spermatid menjadi sperma
(Guyton and Hall, 2007)
b. Hormon pada reproduksi wanita

29

1) Hormon esterogen
Hormon esterogen disekresikan oleh sel-sel-trache intrafolikel overium,
korpus latum dan dan plesenta. Sebagian kecil dihasilkan oleh korteks
adrenal. Hormon esterogen berfungsi dalam mempermudah pertumbuhan
folikel ovarium dan meningkatkan tuba uterin, jumlah otot uterus dan kadar
protein kontraktil uterus. Esterogen juga menghambat sekresi FSH dan dalam
beberapa keadaan menghambat sekresi LH serta pada keadaan lain
meningkatkan sekresi LH. Esterogen juga meningkatkan pertumbuhan
duktus-duktus yang terdapat pada kelenjae mamae dan merupakan hormon
feminisme wanita, terutamadisebabkan oleh hormon androgen. Hormon
esterogen mempengaruhi organ reproduksi yaitu pembesaran ukuran tuba
uterina, uterus dan vagina, pengendapan lemak dan mons pubis dan labia,
serta mengawali pertumbuhan kelenjar mamae (Syaifuddin, 2011).
2) Hormon progesteron
Hormon progesteron dihasilkan oleh korpus luteum dan plasenta. Hormon ini
berfungsi dalam perubahan endometrium dan perubahan siklik dalam servik
dan vagina. Progesteron juga berpengarhuh sebagai anti-esterogenik pada selsel miometrium. Selain itu, menurunkan kepekaan otot endometrium,
sensitivitas miometrium terhadap oksitosin, dan aktivitas listrik spontan
miometrium sambil meningkatkan potensial membran, serta bertanggung
jawab meningkatkan suhu basal tubuh pada saat ovulasi. Efek progestreon
terhadap tuba uterina meningkatkan sekresi dan mukosa. Pada kelenjar
30

mamae, hormon progesteron meningkatkan perkembangan lobulus dan


alveolus kelenjar mamae (Syaifuddin, 2011).
3) FSH
FSH dibentuk di lobus anterior kelenjar hipofisis dan mulai ditemukan pada
remaja usia 11 tahun dan jumlahnya terus-menerus meningkat sampai dewasa
(Syaifuddin, 2011). FSH berfungsi untuk merangsang pertumbuhan awal
folikel primer menjadi folikel antral (Guyton and Hall, 2007).
4) LH
LH dibentuk di kelenjar hipofisis anterior dan bersama dengan FSH
menyebabkan terjadinya sekresi esterogen dari folikel de Graaf. LH juga
menyebabkan penimbunan penimbunan substansi progesteron dalam sel
granulosa. Bila esterogen dientuk dalam jumlah yang cukup besar akan
menyebabkan pengurangan produksi FSH sedangkan produksi LH bertambah
sehingga tercapa suatu rasio produksi FSH dan LH yang dapat merangsang
pelebasan ovum (ovulasi) (Syaifuddin, 2011).
5) Hormon Prolaktin
Hormon prolaktin (luteotropin/LTH) ditemukan pada wanita yang mengalami
menstruasi, terbanyak pada urine wanita hamil, masa laktasi dan menopause.
Hoemon ini dibentuk oelh sel alfa (asidofil) dari lobus anterior kelenjar
hipofisis. Fungsi hormon ini adalah untuk mempertahankan produksi
progesteron dari korpus luteum (Syaifuddin, 2011).
5. Jelaskan tentang mimpi basah pada pria dan hormon yang terlibat!
Rangsangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menjalar melalui saraf
pudendus. Pleksus sakralis dari medula spinalis membantu rangsangan aksi seksual
mengirim sinyal ke medula yang meningkatkan sensasi seksual yang berasal dari
struktur interna. Akibat dari dorongan seksual akan mengisi organ seksual dengan
sekret yang menyebabkan keinginan seksual, dengan merangsang kandung kemih dan
mukosa uretra (Syaifuddin, 2011).
Rangsangan psikis yang sesuai dapat meningkatkan kemampuan seseorang
untuk melakukan kegiatan seksual. Hanya dengan memikirkan pikiran-pikiran
seksual atau bahkan hanya dengan menghayal bahwa hubungan seksual sedang
dilakukan, dapat memicu terjadinya aksi seksual pria dan menyebabkan ejakulasi.
Bahkan emisi nokturnal selama mimpi terjadi pada banyak pria selama beberapa
tahap kehidupan seksual, terutama pada usia remaja yang disebut dengan istilah
mimpi basah (Guyton and Hall, 2007).
Mimpi Basah yang dikenal juga sebagai nocturnal emission, merujuk pada
ejakulasi hingga sperma keluar dari penis selama seorang laki-laki sedang tidur.
31

Mimpi basah terjadi setelah tubuh dapat memproduksi sperma. Karena sperma
didalam tubuh hanya dapat disimpan dalam jumlah terbatas, maka salah satu cara
tubuh untuk mengeluarkannya adalah melalui mimpi basah (Dewi, 2008).
Penjelasan modern tentang mimpi basah, yang dipelopori oleh William Masters,
M.D. dan Virginia Johnson dari Masters and Johnson Institute di St. Louis, dan rekanrekannya menyimpulkan bahwa mimpi basah adalah semata-mata berfungsi sebagai
katup pengaman fisiologis ketegangan seksual. Pendapat tersebut didukung oleh
temuan bahwa mimpi basah tejadi pada sebagian besar laki-laki lajang. Setelah
seorang laki-laki menikah (dan mungkin menemukan saluran yang tetap dan
memuaskan bagi hasrat badaninya) mimpi basah tersebut biasanya berhenti
(Medicalera, 2010).
6. Jelaskan tentang siklus menstruasi. Bagaimana pengaruh hormon seksual
terhadap siklus menstruasi!

Wanita yang sehat dan tidak hamil setiap bulan secara teratur mengeluarkan darah
dari alat kandungannya yang disebut menstruasi (haid) (Syaifuddin, 2011). Produksi
berulang dari esterogen dan progesteron oleh ovarium mempunyai kaitan dengan
siklus endometrium pada lapisan uterus yang bekerja melalui tahapan berikut ini
(Guyton and Hall, 2007):
a. Fase Proliferasi
Pada permulaan siklus seksual bulanan, sebagian besar endometrium telah
berdeskuamasi akibat menstruasi. setelah fase menstruasi, hanya selapis tipis
stroma endometrium yang tertinggal dan sel-sel epitel yang tertinggal adalah yang
terletak di bagian yang lebih dalam dari kelenjar yang tersisa serta pada kripta
endometrium. Dibawah pengeruh esterogen yang disekresikan lebih banyak oleh
32

ovarium selama bagian pertama siklus ovarium, sel-sel stroma dan sel epitelium
berprolifesasi dengan cepat. Permukaan endometrium akan mengalami epitelisasi
kembali dalam waktu 4 sampai 7 hari sesudah terjadinya menstruasi. Selama satu
setengah minggu selanjutnya, sebelum terjadi ovulasi ketebalan endometrium
sangat meningkat karena jumlah sel stroma nertambah banyak dan karena
pertumbuhan kelenjar endometrium serta pembluh darah baru yang progresif ke
dalam endometrium. Pada saat ovulasi, endometrium mempunyai ketebalan 3
sampai 5 mm. Kelenjar endometrium, khususnya dari daerah serviks akan
menyekresikan mukus yang encermirip benang. Benang mukus akan tersusun
disepanjang kanalis servikalis, membentuk saluran yang membantu mengarahkan
sperma ke arah yang tepat dari vagina menuju ke dalam uterus (Guyton and Hall,
2007).
b. Fase Sekresi
Setelah terjadi ovulasi, progesteron dan esterogen bersama-sama diproduksi
dalam jumlah yang besar oleh korpus luteum. Esterogen menyebabkan sedikit
proliferasi sel tambahan pada endometrium selama fase siklus ini, sedangkan
progesteron menyebabkan endometrium mengalami pembengkakan. Dalam
keadaan ini, kelenjar makin berkelok-kelok, kelebihan substansi sekresinya
bertumpuk di dalam sel epitel kelenjar. Selain itu, sitoplasma dari sel stroma
bertambah banyak, simpanan lipid dan glikogen sangat meningkat dalam sel
stroma dan suplai darah kedalam endometrium jugan akan mengalami
peningkatan. pda punjak fase sekretorik, sekitar satu minggu setelah ovulasi
ketebalan endometrium sudah mencapai 5-6 mm. Keseluruhan dari perubahan
endometrium yang terjadi bertujuan untuk mempersiapkan implantasi ovum yang
sudah dibuahi serta memberikan nutrisi pada embrio yang sudah berimplantasi
(Guyton and Hall, 2007).
c. Fase Menstruasi
Jika ovum tidak dibuahi, kira-kira 2 hari sebelum akhir siklus bulanan, korpus
luteum di ovarium tiba-tiba berinvolusi dan hormon-hormon ovarium (esterogen
dan progesteron) menurun dengan tajam sampai kadar sekresi yang rendah.
Menstruasi disebabkan oleh berkurangnya esterogen dan progesteron pada akhir
suklus ovarium bulanan. Efek pertama adalah penurunan rangsangan terhadap
sel-sel endometrium oleh kedua hoemon ini dan diikuti dengan cepat oleh
involusi endometrium yang menjadi kira-kira 65% dari ketebalan semula.
Kemudian selama 24 jam sebelum terjadinya menstruasi, pembuluh darah yang
33

berkelok-kelok yang mengarah ke lapisan mukosa endometrium akan menjadi


vasospastik. Vasospasme, penurunan jumlah nutrisi endometrium dan hilangnya
rangsangan hormonal menyebabkan dimulainya proses nekrosis pada
endometrium khususnya dari pempuluh darah. Akibatnya, darah akan merembes
ke lapisan luar endometrium dan daerah perdarahan akan bertambah cepat dalam
waktu 24 sampai 36 jam. Perlahan-lahan lapisan nekrotik bagian luar dari
endometrium terlepas dari uterus pada daerah perdarahan tersebut sampai kirakira 48 jam setelah terjadinya menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium
sudah berdeskuamasi. Massa jaringan deskuamasi dan darah dalam kavum uteri,
ditambah efek kontraksi dari prostaglandin atau zat-zat lain dalam lapisn jaringan
yang terdeskuamasi seluruhnya secara bersama-sama akan merangsang kontraksi
uterus yang menyebabkan dikeluarkannya isi uterus. Selama menstruasi normal,
kira-kira 40 ml darah dan tambahan 35 ml cairan serosa dikleuarkan. Dalam
waktu 4-7 hari sesudah dimulainya menstruasi, pengeluaran darah aka berhenti
karena pada saat ini endometrium sudah mengalami epitelisasi kembali (Guyton
and Hall, 2007).
7. Jelaskan tentang hormon-hormon yang terlibat selama periode kehamilan,
kelahiran dan menyusui!
a. Hormon-hormon pada masa kehamilan

1) Human Chorionic Gonadotropin


34

Hormon human chorionic gonadotropin merupakan glikoprotein yang


fungsinya sama dengan LH dan disekresikan oleh kelenjar hipofisis. Hormon
ini disekresikan bersamaan dengan perkembangan sel-sel trofoblas dari
sebuah ovum yang baru dibuahi oleh sel-sel sinsitial trofoblas ke dalam cairan
ibu. Sekresi hormon human chorionic gonadotropin dapat diukur pertama kali
dalam darah 8-9 hari setelah ovulasi, segera setelah blastokita berimplantasi
didalam endometrium. Sekresi maksimum pada hari ke-10 sampai 12
kehamilan dan menurun sampai kadar yang lebih rendah menjelang minggu
ke-16 sampai 20 dan sekresi terus berlanjut pada kadar ini sampai minggu
terakhir kehamilan. Fungsi hormon ini adalah untuk mencegah involusi
korpus luteum pada akhir siklus bulanan seksual wanita. Hormon ini juga
menyebabkan korpus luteum menyekresi lebih banyak lagi hormon
progesteron dan esterogen untuk mencegah menstruasi dan menyebabkan
endometrium terus berkembang dan menyimpan nutrisi dalam jumlah besar
(Guyton and Hall, 2007).
Human chorionic gonadotropin juga menimbulkan efek perangsangan sel-sel
interstisial testis fetus pria, sehingga mengakobatkan pembentukan testosteron
pada fetus pria sampai waktu kelahiran (Guyton and Hall, 2007).
2) Esterogen
Pada masa kehamilan, selain diproduksi oleh korpus luteum, hormon
esterogen juga diproduksi oleh sel-sel sinsisial trofoblas plasenta. Selama
masa kehamilan, hormon ini terutama berfungsi proliferatif pada sebagian
besar organ reproduksi dan organ penyertanya. Selama kehamilan, jumlah
esterogen yang sangat berlebihan akan menyebabkan perbesaran uterus,
perbesaran payudara dan pertumbuhan struktur duktus payudara ibu, serta
perbesaran genetalia eksterna wanita. Esterogen juga merelaksasi ligamentum
pelvis sehingga persendian sakroiliaka menjadi relatif lentur dan simfisis
pubis menjadi elastis. Perubahan ini akan mempermudah pasase fetus melalui
jalan lahir (Guyton and Hall, 2007).
3) Progesteron
Progesteron disekresikan dalam jumlah banyak oleh korpus luteum pada awal
kehamilan dan juga nantinya disekresikan dalam jumlah nbanyak oleh
plasenta, kira-kira peningkatannya 10 kali lipat selama kehamilan. Pengaruh
yang ditimbulkan hormon ini pada masa kehamilan antara lain adalah sebagai
berikut (Guyton and Hall, 2007):
35

i.

Progesteron menyebabkan sel-sel desidua tumbuh di endometrium uterus

ii.

dan sel-sel ini berfungsi dalam memberikan nutrisi embrio awal.


Progesteron menurunkan kontraktilitas uterus gravid untuk mencegah

iii.

terjadinya abortus spontan.


Progesteron secara khusus meningkatkan sekresi tuba uterina dan uterus
ibu untuk menyediakan bahan nutrisi yang sesuai untuk perkembangan
morula dan blastokista. Selain itu, ada beberapa alasan untuk menpercayai
bahwa progesteron bahkan mempengaruhi pembelahan sel pada awal

iv.

perkembangan embrio.
Progesteron yang disekresikan pada masa kehamilan juga membantu

esterogen mempersiapkan payudara ibu untuk laktasi.


4) Human Chorionic Somatomammotropin
Hormon ini merupakan hormon protein yang disekresikan plasenta kira-kira
minngu ke-5 kehamilan dan meningkat sepanjang sisa masa kehamilan.
Walaupun fungsi hormon ini belum diketahui secara pasti, namun hormon ini
disekresikan dalam jumlah beberapa kali lebih besar dari gabungan hormon
lainnya. Hormon ini memiliki beberapa fungsi penting salah satunya adalah
sebagai hormon metabolik umum yang mempunyai implikasi nutrisi khusus
pada ibu dan fetus (Guyton and Hall, 2007).
5) Faktor Hormonal lain
i.
Sekresi Hipofisis
Kelenjar hipofisis anterior membesar paling sedikit 50% selama
kehamilan dan meningkatkan produksi kortikotropin , tirotropin, dan
prolaktin. Sebaliknya sekresi hormon LH dan FSH hampir secara total
ditekan akibat efek penghambat esterogen dan progesteron dari plasenta
ii.

(Guyton and Hall, 2007).


Sekresi Kortikosteroid
Kecepatan sekresi glukokortikoid kelenjar adrenal mengalamo
peningkatan sedang selama kehamilan. Sekresi aldosteron pada wanita
hamil biasanya meningkat dua kali lipat dan mencapai puncaknya pada
akhir kehamilan. Keadaan ini bersama dengan kerja esterogen
meningkatkan retensi natrium dan cairan di tubulus ginjal ibu yang akan
mengarahkan ke hipertensi yang dipicu oleh kehamilan (Guyton and Hall,

iii.

2007).
Sekresi Kelenjar Tiroid
Sekresi hormon tiroksin meningkat selama kehamilan yang disebabkan
efek tirotropik dari human chorionic gonadotropin yang disekresi oleh
plasenta dan juga sejumlah kecil hormon perangsang tiroid khusus, human
36

chorionic tyrotropin yang juga disekresi oleh plasenta (Guyton and Hall,
iv.

2007).
Sekresi Kelenjar Paratiroid
Kelenjar paratiroid juga membesar pada kehamilan terutama apabila ibu
mengalami defisiensi kalsium. Hal ini menyebabkan absorbsi kalsium dari
tulang ibu sehingga mempertahankan konsentrasi ion kalsium normal

dalan cairan ekstrasel ibu (Guyton and Hall, 2007).


b. Hormon-hormon selama periode kelahiran
1) Esterogen dan progesteron
Progesteron berfungsi untuk menghambat kontraksi uterus selama kahamilan.
Sebaliknya esterogen mempunya kecenderungan untuk meningkatkan derajat
kontraktilitas uterus yang terjadi karena esterogen meningkatkan gap junction
antara sel-sel otot polos polos uterus yang berdekatan. Progesteron maupun
esterogen disekresi dalam jumlah yang secara progresif makin bertambah
selama kehamilan, tetapi mulai kehamilan bulan ketujuh dan seterusnya,
sekresi esterogen semakin meningkat sedangkan sekresi progesteron tetap
konstan atau sedikit menurun. Oleh karena itu, diduga bahwa rasio esterogen
terhadap progesteron yang cukup meningkat menjelang akhir kehamilan
berperan sebagian dalam peningkatan kontraktilitas uterus (Guyton and Hall,
2007).
2) Oksitosin
Oksitosin merupakan suatu hormon yang disekresikan oleh neurohipofisis
yang secara khusus menyababkan kontraksi uterus. Beberapa alasan yang
membuktikan fungsi tersebut antara lain, otot uterus meningkatkan reseptorreseptor oksitosin selama beberapa bulan kelahiran, kecepatan ekskresi
oksitosin sangat meningkat saat persalinan, penelitian pada hewan yang
dihipofisektomi mengalami persalinan yang lebih lama, pemelitian pada
hewan menunjukan bahwa iritasi atau peregangan pada servik uteri seperti
yang terjadi selama persalinan dapat menyebabkan sebuah refleks neurogenik
melalui nukleus paraventikular dan supraoptik hipotalamus menyebabkan
kelenjar hipofisis posterior meningkatkan produksi oksitosin (Guyton and
Hall, 2007).
3) Hormon Fetus
Kelenjar hipofisis fetus menyekresikan oksitosin yang mungkin perperan
dalam merangsang uterus. Kelenjar adrenal fetus juga menyekresikan
sejumlah besar kortisol yang mungkin merupakan suatu stimulan uterus lain.
Selain itu, membran fetus menghasikan prostaglandin dalam konsentrasi
37

tinggi pada proses persalinan. Prostaglandin ini juga dapat meningkatkan


intensitas kontraksi uterus (Guyton and Hall, 2007).
4) Sekresi Relaksin oleh Ovarium dan Plasenta
Relaksin disekresikan oleh korpus luteum ovarium dan juga oleh jaringan
plasenta. Sekresi relaksin ini juga dipengaruhi oleh human chorionic
gonadotropin pada saat yang sama dengan disekresikannya sejumlah besar
esterogen dan progesteron. Relaksin merupakan suatu hormon polipeptida
yang dapat menyebabkan relaksasi ligamentum-ligamentum simfisis pubis,
namun memiliki efek yang sangat sedikit pada wanita hamil. Selain itu, telah
ditemukan bahwa relaksin dapat melunakan serviks wanita hamil pada saat
persalianan (Guyton and Hall, 2007).
c. Hormon-hormon selama menyusui

1) Esterogen
Esterogen berperan dalam pertumbuhan sistem duktus payudara ibu. Selama
kehamilan, sejumlah besar esterogen disekresikan oleh plasenta sehingga
sistem duktus payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan, stroma
payudara juga bertambah besar dan sejumlah besar lemak terdapat dalam
stroma. Selain esterogen, terdapa 4 hormon lain yang juga berperan penting
dalam pertumbuhan sistem duktus yaitu hormon pertumbuhan, prolaktin,
glukokortikois adrenal, dan insulin (Guyton and Hall, 2007).
2) Progesteron
Progesteron bekerja secara sinergis dengan esterogen dan hormon lain
menyebabkan pembentukan lobulus payudara, pertunasan alveolus dan
perkembangan sifat-sifat sekresi dari sel-sel alveoli (Guyton and Hall, 2007).
3) Prolaktin
38

Hormon prolaktin disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior ibu dan


konsentrasinya meningkat secara tetap dari minggu kelima kehamilan sampai
kelahiran bayi dimana saat ini meningkat 10-20 kali dari kadar normal saat
tidak hamil. Prolaktin bersinergis dengan human chorionic
somatomammotropin yang juga memiliki sifat laktogenik mempunyai efek
meningkatkan sekresi air susu. Akan tetapi selama masa kehmilan sekresi air
susu ibu dihambat oleh sekresi hormon progesteron dan esterogen sehingga
hanya beberapa mililiter cairan yang disekresikan selama masa kehamilan
sampai bayi dilahirkan. Cairan yang diproduksi selama beberapa hari terakhir
sebelum kelahiran dan beberapa hari pertama setelah kelahiran disebut
kolostrum. Setelah bayi dilahirkan, hilangnya sekresi progestron dan
esterogen dari plasenta memungkinkan fungsi laktogenik dari prolaktin untuk
memproduksi sejumlah besar air susu dalam 1 sampai 7 hari kemudian untuk
mengganti kolostrum. Sekresi air susu ini memerlukan sekresi pendahuluan
yang adekuat dari sebagian besar hormon-hormon ibu lainnya, yang penting
dari semuanya adalah hormon pertumbuhan, kortisol, hormon paratiroid dan
insulin. Hormon-hormon ini diperlukan untuk menyediakan asam amino,
asam lemak, glukosa dan kalsium yang diperlukan untuk pembentukan air
susu.
Setelah kelahiran bayi, kadar basal sekresi prolaktin kembali ke kadar
sewaktu tidak hamil. Akan tetapi setiap kali ibu menyusui, sinyal saraf dari
puting susu ke hipotalamus akan menyebabkan lonjakan sekresi prolaktin
sebesar 10 sampai 20 kali lipat yang berlangsung sekitar 1 jam. Prolaktin ini
bekerja pada payudara ibu untuk mempertahankan kelenjar mamaria agar
menyekresikan air susu ke dalam alveoli untuk periode laktasi berikutnya
(Guyton and Hall, 2007).
4) Oksitosin
Oksitosin disekresi oleh kelenjar hipofisis posterior dan berperan dalam
proses ejeksi air susu dari alveoli ke dalam duktus sebelum bayi dapat
memperolehnya. Proses ini disebabkan oleh rangsangan neurogenik dan
hormonal. Ketika bayi menghisap, bayi sebenarnya tidak menerima air susu
untuk setengah menit pertama. impuls sensorik pertama harus ditransmisikan
melalui saraf somatik dari puting susu ke medula spinalis ibu dan kemudian
ke hipotalamus ibu, menyebakan sinyal saraf yang membantu sekresi
oksitosin pada saat yang bersamaan ketika hipotalamus menyekresikan
39

prolaktin. Oksitosin dibawa dalam darah ke kelenjar payudara, tempat


oksitosin sel-sel mioepitel berkintraksi, dengan mengalirkan air susu dari
alveoli ke dalam duktus pada tekanan +10 sampai 20 mmHg. Kemudian
isapan bayi menjadi efektif dalam mengalirkan air susu (Guyton and Hall,
2007).

DAFTAR PUSTAKA
Akingbemi, Benson T., Chantal, M., Sottas, A. I., Koulova, Gary R., Klinefelter and
Matthew, P. H. 2004. Inhibition of testicular steroidogenesis by the xenoestrogen
bisphenol A is associated with reduced pituitary luteinizing hormone secretion
and decreased steroidogenic enzyme gene expression in rat leydig cells.
ENDOCRINOLOGY. 2004.145(2) : 592-603
Andriyani, R., Triana, A., Juliarti, W. 2015. Buku Ajar Biologi Reproduksi dan
Perkembangan. Yogyakarta: Deepublish
Dewi, Sri Esti Wuryani. 2008. Pendidikan Seks Keluarga. Jakarta : Indeks
Guyton, Arthur C., Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC
Heffner, Linda J. and Schust, Danny J. 2006. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi 2.
Jakarta : Airlangga
Langman, Sadler T. W. 2009. Embriologi Kedokteran. Edisi 10. Jakarta: EGC
Manuaba, I.B.G., Manuaba, I.A. Chandranita., Manuaba, I.B.G. Fajar. 2007. Pengantar
Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC

40

Naughton, C.K , Nadler, R.B., Basler, J.W. and Humphrey, P.A. 1998. Leydig cell
hyperplasia. BR J UROL. 1998; 81: 282-9.
Rohen, Johanes W, Drecoll, Elke Lutjen. 2003. Embriologi Fungsional, Perkembangan
Sistem Fungsi Organ Manusia. Edisi 2. Jakarta: EGC
Sulistyawati. 2011. Asuhan Kebidanan pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba
Medika
Syaifuddin, H. 2011. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4.
Jakarta: EGC

41