Anda di halaman 1dari 11

STANDAR PELAYANAN KESEHATAN INDERA PENDENGARAN DI PUSKESMAS

Diposkan oleh KOMDA PGP KETULIAN ACEH di 10.22


PENDAHULUAN
Telah diketahui bahwa gangguan pendengaran ( hearing impairment) atau
ketulian (deafness) mempunyai dampak yang merugikan bagi penderita,
keluarga, masyarakat maupun Negara.
Penderita akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan
lingkungannya, terisolasi. Kehilangan kesempatan dalam aktualisasi diri,
mengikuti pendidikan formal di sekolah umum, kehilangan kesempatan
memperoleh pekerjaan; yang pada akhirnya berakibat pada rendahnya
kualitas hidup yang bersangkutan.
Kesulitan kesulitan tersebut diatas akan bertambah besar di negara
berkembang mengingat masih terbatasnya infrastruktur kesehatan telinga
dan pendengaran dalam melakukan pencegahan, deteksi dini,
penatalaksanaan dan habilitas/ rehabilitasi.
Menurut perkiraan WHO pada tahun 1995 terdapat 120 juta penderita
gangguan pendengaran di seluruh dunia. Jumlah tsb mengalami peningkatan
yang sangat bermakna pada tahun 2001 menjadi 250 juta orang; 222 juta
diantaranya adalah penderita dewasa sedangkan sisanya ( 28 juta ) adalah
anak berusia di bawah 15 tahun. Dari jumlah tersebut kira kira 2/3
diantaranya berada di negara berkembang. Peningkatan jumlah penderita
gangguan pendengaran ini kemungkinan disebabkan oleh peningkatan
insidens, identifikasi yang lebih baik atau akibat meningkatnya usia harapan
hidup.
Menurut beberapa penelitian 50% populasi usia diatas 65 tahun akan
mengalami gangguan pendengaran. Pada pertemuan WHO (Geneva, 2000)
dilaporkan bahwa pada tahun 2005 penduduk dunia berusia diatas 60 tahun
akan mencapai 1,2 milyar orang dan 60 % dari jumlah tersebut merupakan
penduduk negara berkembang. Selanjutnya pada tahun 2020 populasi dunia
berusia diatas 80 tahun juga akan meningkat sampai 200 %.
Pertemuan WHO (Geneve, 2000) menyatakan bahwa 50 % gangguan
pendengaran dapat dicegah (Preventable deafness) melalui kegiatan Primary
Health Centre (PUSKESMAS).
Adapun faktor faktor penyebab gangguan pendengaran yang dapat dicegah
adalah :
1. OMSK ( Otitis Media Supuratif Kronis)

2. Pemaparan bising
3. Pemakaian obat ototoksik
4. Infeksi selaput otak ( meningitis)
5. Pernikahan antar keluarga
Pada pertemuan konsultasi WHO-SEARO (South East Asia Regional Office)
Intercountry Meeting (Colombo,2002) disimpulkan bahwa pada 9 Negara
dibawah koordinasi WHO SEARO penyebab gangguan pendengaran adalah
OMSK, tuli sejak lahir, presbikusis, pemakaian obat ototoksik, pemaparan
bising (noise induced hearing loss / NIHL) dan serumen prop, dengan urutan
prevalensi seperti pada table dibawah ini ;

NEGARA

OMSK

T.
Presbikus Ototoksi NIHL Serume
kongenital
is
k
n
2
3
4

Banglades
h
Bhutan

1
1

India

Indonesi
a
Maldives

Myanmar

Nepal

Srilanka

Thailand

4
3
3
3

3
3
3
3

Tabel 1: Perbandingan prioritas penanganan penyakit telinga di beberapa


negara SEARO
Dari tabel terlihat bahwa di semua Negara SEARO prioritas pertama dan
kedua adalah sama yaitu OMSK dan tuli kongenital. Sedangkan secara
khusus Indonesia ditugaskan untuk lebih banyak memusatkan perhatian
pada penanggulangan OMSK, tuli kongenital, pemaparan bising (NIHL)

dan presbikusis.
Pertemuan WHO (Geneva, 2000) merekomendasikan agar tiap negara
menurunkan preventable deafness sampai 50% pd 2015 (Better Hearing
2015).
Sampai dengan tahun 1996 Indonesia belum memiliki angka gangguan
pendengaran dan ketulian. Setelah dilakukan Survei Kesehatan Indera
Penglihatan dan Pendengaran (19941996) dengan sampel sebesar 19.375
di 7 Propinsi ( Sumbar, Sumsel, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel dan Sulut) baru
diperoleh gambaran dari besaran masalah kesehatan telinga dan
pendengaran di Indonesia. Berdasarkan survei tsb. diketahui angka
morbiditas telinga ( ICD X) 18.5%. Sedangkan prevalensi gangguan
pendengaran dan ketulian masing masing 16.8 % dan 0.4 %. Bila saat ini
jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 214,1 juta berarti diperkirakan
terdapat 36 juta orang yang mengalami gangguan pendengaran dan
850.000 orang penderita ketulian.
Ternyata angka gangguan pendengaran maupun ketulian lebih besar di
daerah pedesaan dibandingkan dengan perkotaan
Perkotaan Pedesaan
Gangguan Pendengaran
16.3 %
16.9 %
Ketulian
0.3 %
0.5 %
Tabel 2 : Prevalensi gangguan pendengaran dan ketulian di perkotaan dan
pedesaan
Berdasarkan kelompok usia, angka gangguan pendengaran paling besar
terdapat pada kelompok usia produktif dewasa (40 - 54 tahun) yaitu 20.8 %.
Sedangkan angka ketulian terbanyak pada usia diatas 65 tahun (2.8 %). Data
lainnya yang diperoleh dari survai tsb adalah ;
Morbiditas - Prevalensi (%)
Penyakit Telinga luar = 6.8
Serumen prop = 3.6
OMSK = 3.1
Presbikusis = 2.6
Ototoksisitas = 0.3
Tuli sejak lahir (kongenital) = 0.1
Tabel 3 : Prevalensi penyakit telinga pada Survei Kesehatan Indera 19941996
Data data tsb saat ini dianggap masih relevan karena setelah tahun 1996
belum ada lagi survei epidemiologik yang berskala Nasional.

PERMASALAHAN
Permasalahan kesehatan telinga dan pencegahan gangguan pendengaran
maupun ketulian di Indonesia antara lain; masih rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap kesehatan telinga dan pendengaran, sikap dan perilaku
masyarakat yang masih menganggap penyakit telinga dan gangguan
pendengaran sebagai suatu stigma yang harus disembunyikan.
Selain itu masih tingginya angka penyakit telinga dan faktor-faktor lain yang
mempunyai dampak negatif terhadap pendengaran, ditambah lagi dengan
kondisi infrastruktur pelayanan kesehatan telinga dan pendengaran yang
masih memprihatinkan, jumlah dokter spesialis THT juga masih terbatas
disamping penyebarannya juga belum menjangkau seluruh wilayah
Indonesia.
Suwento dkk pada tahun 2002 meneliti kondisi infrastruktur Kesehatan
Telinga dan Pendengaran di Indonesia (WHO-SEARO Intercountries Study)
diperoleh gambaran kondisi SDM, sarana pelayanan kesehatan telinga yang
masih terkonsentrasi pada 5 sentra pelayanan saja yaitu DKI Jaya, Bandung,
DIY Jogyakarta, Surabaya dan Makasar.
Kondisi dimaksud secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut;
1. Jumlah Dokter THT ( 2001) sebanyak 606 atau 1 dokter THT melayani
339.675 penduduk. Dari jumlah tsb 61.70 % berada di Pulau Jawa
( 23,76% berada di DKI Jaya); dari seluruh Kabupaten, hanya sekitar
180 Kabupaten yang mempunyai dokter THT.
NEGARA - Dr THT - Dr THT / Populasi
Bangadesh - 244 - 1 : 500.512
India - 7000 - 1 : 144.000
Indonesia - 606 - 1 : 339.675
Nepal - 40 - 1 : 568.000
Srilanka - 18 - 1 : 1.077.000
Thailand - 589 - 1 : 104.584
Tabel 4 : Rasio dokter THT terhadap penduduk di beberapa Negara
Asia Tenggara
2. Belum ada tenaga audiologist atau Ahli Madya Audiologi. Tenaga
dimaksud sangat dibutuhkan dalam melakukan pemeriksaan
pendengaran mulai dari deteksi dini sampai proses habilitasi/
rehabilitasi. Pada tahun yang sama di Jakarta mulai berdiri Program
Diploma III Audiologi dalam RENSTRANAS PGPKT direncanakan 1
propinsi memiliki 1 tenaga Ahli Madya Audiologi pada tahun 2010.
Country

Audiologi Audiometrici Audiometrician/


st
an
population
Banglades
1
47
1 : 2.598. 404

h
India

2000
2000
1 : 500.000
(kombinasi
)
Indonesia
0
109
1 : 1.888.469
Nepal
14
14
1 : 1.624.000
(kombinasi
)
Srilanka
2
(-)
(-)
Thailand
50
300
1 : 205.000
Tabel 5: Rasio Audiologist terhadap penduduk di beberapa negara Asia
Tenggara
Besaran masalah gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia saat ini
diperkirakan mengalami peningkatan dengan berbagai pertimbangan, antara
lain;
1. Masih tingginya prevalensi ISPA, faktor ini sangat penting peranannya
pada bayi dan anak sebagai penyebab gangguan pendengaran.
2. Kesadaran masyarakat terhadap masalah kesehatan telinga dan
gangguan pendengaran
3. Bertambah banyak industri / pabrik
4. Gaya hidup masyarakat yang dengan risiko terpapar bising (teknologi
audio, telepon genggam, diskotik, perangkat rumah tangga, termasuk
tempat hiburan anak dll).
5. Kemudahan memperoleh obat obatan yang seharusnya memakai resep
dokter.
6. Meningkatnya usia harapan hidup
PENANGGULANGAN
Sejak tahun 1985 Departement of Disability Prevention and
Rehabilitation dari WHO yang bertugas menangani masalah gangguan
pendengaran telah memiliki program pencegahan gangguan pendengaran
dan ketulian atau PDH ( Prevention of Deafness and Hearing Impairment ).
Program PDH bertujuan melaksanakan pencegahan gangguan pendengaran
dan ketulian melalui langkah-langkah kegiatan :

1. Menentukan besaran masalah (magnitude) dan penyebab utama


gangguan pendengaran dan ketulian pada populasi tertentu.
2. Mencegah penggunaan obat-obat ototoksik secara bebas.
3. Menurunkan prevalensi gangguan pendengaran akibat pemaparan
bising pada kelompok risiko tinggi.
4. Mengembangkan kesehatan telinga dasar (basic ear care) sebagai
bagian Program Pelayanan Kesehatan Dasar ( PUSKESMAS)
5. Meningkatam kegiatan deteksi dini dan penatalaksanaan gangguan
pendengaran.
6. Mengembangkan teknologi tepat guna (appropriate technology) untuk
pemeriksaan dan penanganan gangguan pendengaran.
7. Mengadakan kerjasama teknis dengan pihak Pemerintah (DEPKES)
untuk mengembangkan Program Nasional di bidang kesehatan telinga
dan pendengaran.
8. Memiliki sistim manajemen dan administratif untuk suatu program
Nasional, Regional maupun Global
Agar upaya pencegahan gangguan pendengaran dan ketulian dapat
mencapai sasarannya diperlukan suatu keterpaduan program baik di tingkat
Pusat maupun tingkat daerah. Koordinasi ini harus mengacu pada:
1. Delapan kegiatan Program Prevention of Deafness and Hearing
Impairment dari WHO
2. Rekomendasi WHO-SEARO ( South East Asia Regional Office)
Intercountry Meeting (Colombo,2002).
3. Visi. Misi dan Tujuan Sound Hearing 2030.
Untuk menanggulangi masalah kesehatan indera pendengaran di Indonesia,
sejak tahun 1995 pihak DEPKES telah mulai mengembangkan program
UPAYA KESEHATAN TELINGA / PENCEGAHAN GANGGUAN PENDENGARAN
( UKT/ PGP) yaitu upaya kesehatan di bidang kesehatan telinga dan
pencegahan gangguan pendengaran yang dilaksanakan pada tingkat
PUSKESMAS, diselenggarakan secara khusus dan terpadu dengan kegiatan
pokok PUSKESMAS lainnya. Upaya tsb. dilaksanakan oleh tenaga PUSKESMAS
didukung oleh peran serta aktif masyarakat, baik di dalam maupun di luar
PUSKESMAS yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat di
wilayah kerja PUSKESMAS.

Untuk implementasi program telah dilatih tenaga dokter (selama 2 minggu)


dan perawat (3 minggu) dari 34 PUSKESMAS yang berasal dari DKI Jaya,
Jabar, Jateng, DIY Jogyakarta, Jatim dan Lampung.
Dalam perkembangan selanjutnya konsep UKT/ PGP mengalami transisi
menjadi Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT)
Program PGPKT mencakup pelayanan kesehatan indera pendengaran yang
bersifat UKM dan UKP mulai dari tingkat PUSKESMAS sampai pelayan di
tingkat Propinsi.
Untuk mengatasi kesenjangan pelayanan kesehatan indera pendengaran di
Strata I (PUSKESMAS) dengan Strata III (Propinsi) - sebagai akibat
terbatasnya infastruktur kesehatan telinga dan pendengaran peranan
PUSKESMAS sangat diharapkan untuk melaksanakan program PGPKT yang
ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan telinga / pendengaran
setempat, sesuai dengan kemampuan PUSKESMAS.
Untuk maksud tersebut pihak DEPKES RI telah menyusun Rencana Strategi
Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian untuk
mencapai tujuan Sound Hearing 2030, yang akan menjadi pedoman kegiatan
pencegahan gangguan pendengaran dan ketulian baik ditingkat Pusat
maupun Daerah.
STRATEGI PGPKT di PUSKESMAS
Walaupun dalam pelaksanaan Program PGPKT disesuaikan dengan
permasalahan, kebutuhan dan kemampuan setempat, tetap diperlukan suatu
konsep yang sama sehingga dibutuhkanStandar Pelayanan Kesehatan
Indera Pendengaran di PUSKESMAS.
Untuk pelaksanaan di tingkat primer (Primary Health Centre / PUSKESMAS)
WHO mengajurkan konsep berupa implementasi Primary Ear and Hearing
Care (PEHC) in Primary Health Centre( PHC).
I . Konsep PEHC
1. Transfer informasi dari tenaga spesialistik kepada masyarakat secara
efisien dan bermakna
2. Mengembangkan / sintesis sistim kesehatan telinga modern dan
tradisional
3. Merubah teknologi tinggi ( high tech) menjadi teknologi tepat guna
( appropriate technology)

4. Melaksanakan pelatihan / kursus untuk dapat melakukan deteksi dini,


diagnosis dan penatalaksanaan masalah kesehatan telinga dan
pendengaran
5. Mengembangkan strategi belajar yang efektif dan pengalaman praktis
dengan memadukan pengobatan modern dengan pengobatan
masyarakat
6. Mengembangkan suatu kerjasama yang bermutu diantara semua
personil kesehatan
II. Pengembangan SDM dan meningkatkan teknologi
1. Menerapkan strategi untuk deteksi dini dan penatalaksanaan segera
bersifat community based dengan teknologi tepat guna
2. Implementasi kegiatan kegiatan PEHC ke dalam program pokok
PUSKESMAS (Primary Health Centre)
3. Melaksanakan pelatihan / kursus tambahan yang lebih spesialistik
untuk tenaga PUSKESMAS
4. Mengembangkan penelitian terpadu dan strategi pelatihan untuk
memperoleh data prevalensi gangguan kesehatan telinga /
pendengaran
5. Membentuk suatu wadah/ forum /komite bersama untuk menentukan
strategi dan kebijakan setempat.
III. Sasaran
Mencegah kecacatan yang ditimbulkan akibat penyakit telinga dan
gangguan pendengaran yang sering ditemukan pada masyarakat setempat
dengan melaksanakan pencegahan terhadap penyakit telinga dibawah ini :
1. OMSK
2. Tuli sejak lahir ( kongenital ).
3. Pemaparan bising (NIHL).
4. Presbikusis.
Keempat penyakit telinga tsb diatas telah ditetapkan oleh WHO SEARO
sebagai prioritas penanggulangan di Indonesia. Namun dengan
mempertimbangkan kemungkinan perbedaan pola penyakit telinga setempat

yang berbeda, perlu diperhatikan sejumlah penyakit telinga lainnya yang


juga sering ditemukan sehari-hari :
A. Penyakit / Gangguan telinga luar :
1. Atresia (liang telinga tidak terbentuk) atau stenosis (penyempitan)
liang telinga.
2. Serumen / serumen prop
3. Benda asing liang telinga
4. Otitis eksterna
B. Penyakit telinga tengah :
1. Sumbatan tuba Eustachius
2. Otitis media serosa akut
3. Otitis media serosa kronik (glue ear)
4. Otitis Media Akut
5. OMSK dengan tanda-tanda komplikasi
C. Penyakit telinga dalam : Otosklerosis
D. Gangguan pendengaran pada bayi dan anak
E. Tuli mendadak ( Sudden deafness)
F. Tuli akibat pemakaian obat ( Ototoksik)
G. Penyakit Meniere
IV. Permasalahan yang akan dihadapi PEHC
1. Diperlukan pendekatan yang berbeda untuk berbagai strata (petugas
kesehatan, masyarakat)
2. Pola penyakit berbeda disetiap wilayah
3. Kurangnya tenaga terlatih
4. Kurangnya sumber daya dan pengetahuan

5. Penolakan masyarakat
6. Kurangnya perhatian (petugas kesehatan, masyarakat)
V. Implementasi PEHC
1. Pendekatan multidisiplin/ Lintas sektor/ Lintas Program
2. Implementasi yang berbeda untuk berbagai strata
3. Mempergunakan teknologi tepat guna
4. Pemahaman dan partisipasi masyarakat
5. Dapat diterima sesuai adat dan kebiasaan setempat
6. Dapat dijangkau masyarakat
7. Biaya ringan
VI. Elemen elemen untuk PEHC
Elemen dasar
Mampu memahami:
1. Struktur anatomi dan fungsi/ mekanisme kerja pendengaran
2. Mengenali gejala-gejala dan penyebab penyakit telinga dan gangguan
pendengaran
3. Patogenesis penyakit
4. Diagnosis sederhana
5. Penatalaksanaan sederhana dan (re) habilitasi awal
Element lanjut
1. Mengenali tanda tanda komplikasi
2. Kapan, bagaimana dan kemana harus merujuk
3. Promosi kesehatan telinga dan pendengaran
4. Pencegahan gangguan pendengaran

5. Evaluasi pelaksanaan

DAFTAR PUSTAKA
1. Sirlan F, Suwento R. Hasil Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan
Pendengaran.DEPKES RI, 1998
2. Depkes RI . Pedoman Upaya Kesehatan Telinga dan Pencegahan
Gangguan Pendengaran untuk Puskesmas. Jakarta,1998.
3. Suwento R. et all. Study on Infrastructure and health services for the
prevention and control of Deafness. WHO SEARO Meeting, Colombo,
2002
4. Prasansuk S. Primary Ear and Hearing Care the foreseeable solution for
Prevention of Hearing Impairment and Deafness in Developing
Countries.
5. State of Hearing & Ear Care in South East Asia Region.WHO Regional
Office SEARO, 2004