Anda di halaman 1dari 68

-22.

Undang-Undang

Nomor

Tahun

2009

tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
3.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi


Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5214);

4.

Undang-Undang
Pemerintahan

Nomor
Daerah

23

Tahun

(Lembaran

2014

Negara

tentang
Republik

Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
5.

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

6.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang


Wilayah

Pertambangan

(Lembaran

Negara

Republik

Indonesia Tahun 2010 Nomor 4, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5110);
7.

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang


Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5111) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 77
Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 263, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5597);

8.

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang


Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran
Negara

Republik

Indonesia

Tahun

2010

Nomor

85,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor


5142);

-39.

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang


Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 8, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5393);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2014 tentang


Pelaksanaan

Undang-Undang

Nomor

Tahun

2011

Tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 2014 Nomor 31, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5502);
11. Keputusan Presiden Nomor 121/P Tahun 2014 tanggal
27 Oktober 2014;
12. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
18

Tahun

2010

tentang

Organisasi

dan

Tata

Kerja

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Berita


Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 552)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
30 Tahun 2014 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 1725);
13. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
12 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penetapan Wilayah
Usaha

Pertambangan

Pertambangan

dan

Mineral

Sistem

dan

Informasi

Batubara

(Berita

Wilayah
Negara

Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 487);


14. Keputusan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15
Tahun 2013 tentang Sistem Referensi Geospasial Indonesia
2013;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN

MENTERI

ENERGI

DAN

SUMBER

DAYA

MINERAL TENTANG TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS


WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN
USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA

-4BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.

Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya disingkat IUP,


adalah izin untuk melaksanakan pertambangan.

2.

IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan


setelah

selesai

pelaksanaan

IUP

Eksplorasi

untuk

melakukan tahapan kegiatan operasi produksi.


3.

Izin

Usaha

Pertambangan

Khusus

yang

selanjutnya

disingkat IUPK, adalah izin untuk melaksanakan usaha


pertambangan

di

wilayah

izin

usaha

pertambangan

khusus.
4.

IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan


setelah

selesai

pelaksanaan

IUPK

Eksplorasi

untuk

melakukan tahapan kegiatan operasi produksi di wilayah


izin usaha pertambangan khusus.
5.

Wilayah

Izin

Usaha

Pertambangan

yang

selanjutnya

disingkat WIUP, adalah bagian dari wilayah pertambangan


yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau
informasi geologi.
6.

Wilayah

Izin

Usaha

Pertambangan

Khusus

yang

selanjutnya disingkat WIUPK, adalah bagian dari wilayah


pencadangan negara yang dapat diusahakan.
7.

Titik Batas adalah koordinat WIUP Operasi Produksi atau


WIUPK

Operasi

Produksi

sesuai

dengan

lampiran

keputusan pemberian IUP Operasi Produksi atau IUPK


Operasi Produksi yang diterbitkan oleh Menteri atau
Gubernur sesuai dengan kewenangannya.
8.

Tanda Batas WIUP dan WIUPK yang selanjutnya disebut


Tanda Batas adalah patok yang dipasang pada Titik Batas
WIUP dan WIUPK di lapangan dan mempunyai ukuran,
konstruksi, warna serta penamaan tertentu.

-59.

Sistem Referensi Geospasial Indonesia yang selanjutnya


disingkat dengan SRGI, adalah suatu sistem koordinat
nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem
koordinat global, yang secara spesifik menentukan lintang,
bujur, tinggi, skala, gaya berat, dan orientasinya mencakup
seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
termasuk bagaimana nilai-nilai koordinat tersebut berubah
terhadap waktu.

10. Jaring

Kontrol

Horizontal

Nasional

yang

selanjutnya

disingkat JKHN, adalah sebaran titik kontrol geodesi


horizontal yang terhubung satu sama lain dalam satu
kerangka referensi.
11. Global Positioning System yang selanjutnya disingkat GPS
adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang
dimiliki

dan

dikelola

oleh

Amerika

Serikat,

untuk

memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi serta


informasi mengenai waktu, secara terus menerus di
seluruh dunia tanpa tergantung waktu dan cuaca, kepada
banyak orang secara simultan.
12. Receiver Global Positioning System tipe Navigasi, yang
selanjutnya disebut GPS Navigasi, adalah alat yang hanya
menerima data jenis pseudo range (code) dari sinyal satelit
GPS.
13. Receiver Global Positioning System tipe Geodetik, yang
selanjutnya disebut GPS Geodetik, adalah alat yang dapat
menerima data jenis pseudo range (code) dan fase paling
sedikit pada gelombang L1 (satu frekuensi) atau pada
gelombang L1 dan L2 (dua frekuensi) dari sinyal satelit
GPS.
14. Global

Navigation

Satellite

System

yang

selanjutnya

disingkat GNSS adalah sistem satelit yang berfungsi


sebagai navigasi dan penentuan posisi secara global, yang
terdiri dari GPS (Amerika Serikat), GLONASS (Rusia), Galileo
(Uni-Eropa), BDS (Tiongkok), dan QZSS (Jepang).

-615. Receiver Global Navigation Satellite System tipe Geodetik,


yang selanjutnya disebut GNSS Geodetik, adalah alat yang
dapat menerima data jenis pseudo range (code) dan fase
paling sedikit pada gelombang L1 (satu frekuensi) atau
pada gelombang L1 dan L2 (dua frekuensi) dari sinyal
satelit navigasi.
16. Benchmark, yang selanjutnya disebut BM adalah tanda
permanen terbuat dari beton dengan ukuran tertentu di
dalam dan/atau di luar area WIUP dan WIUPK dan
diketahui koordinatnya dalam SRGI, yang berfungsi sebagai
titik ikat/referensi dalam penentuan posisi Tanda Batas
atau Titik Bantu.
17. Titik Bantu adalah titik yang diketahui koordinatnya dalam
SRGI yang digunakan sebagai referensi untuk Stake Out
Titik Batas.
18. Stake Out adalah pengukuran yang dilakukan untuk
merealisasikan posisi Titik Batas di lapangan.
19. Tanda Batas Sudut adalah Tanda Batas yang dipasang
pada Titik Batas WIUP dan WIUPK sesuai dengan lampiran
keputusan pemberian IUP Operasi Produksi atau IUPK
Operasi Produksi yang diterbitkan oleh Menteri atau
Gubernur sesuai dengan kewenangannya.
20. Tanda Batas Referensi adalah Tanda Batas yang diketahui
koordinatnya dalam SRGI, dan tidak terletak pada lokasi
Titik Batas, serta mempunyai deskripsi terhadap posisi
Tanda Batas sebenarnya yang ditunjukkan dengan arah
(azimut) dan jarak.
21. Tanda Batas Perapatan adalah Tanda Batas yang dipasang
diantara Titik Batas WIUP dan WIUPK di lapangan dan
mempunyai ukuran, konstruksi, warna serta penamaan
tertentu.
22. Theodolite adalah alat ukur sudut mendatar dan sudut
tegak, yang dapat digunakan untuk menentukan posisi
horizontal dan tinggi.

-723. Electronic Total Station yang selanjutnya disingkat ETS


adalah alat ukur sudut horizontal dan sudut vertikal serta
jarak secara elektronik, yang terintegrasi dalam satu unit
alat

dan

dilengkapi

dengan

prosesor

sehingga

bisa

menghitung jarak datar, koordinat, dan tinggi secara


langsung.
24. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan

di

bidang

pertambangan

mineral

dan

batubara.
25. Direktur

Jenderal

adalah

Direktur

Jenderal

yang

mempunyai tugas dan bertanggung jawab merumuskan


serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di
bidang mineral dan batubara.
26. Kepala Inspektur Tambang adalah pejabat yang secara ex
officio menduduki jabatan Direktur yang mempunyai tugas
pokok dan fungsi di bidang keteknikan pertambangan
mineral dan batubara.
27. Inspektur Tambang adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi
tugas,

tanggung

jawab,

wewenang,

dan

hak

untuk

melakukan pelaksanaan inspeksi tambang.


28. Direktorat
mempunyai

Jenderal
tugas

adalah

Direktorat

merumuskan

serta

Jenderal

yang

melaksanakan

kebijakan dan standardisasi teknis di bidang mineral dan


batubara.
29. Dinas Teknis Provinsi adalah dinas teknis di tingkat
Provinsi yang membidangi pertambangan mineral dan
batubara.

BAB II
PRINSIP DAN TUJUAN
Pasal 2
(1)

Tata cara pemasangan Tanda Batas WIUP Operasi Produksi


dan WIUPK Operasi Produksi dilaksanakan berdasarkan
prinsip:

-8-

(2)

a.

kaidah teknis pengukuran yang baik dan benar;

b.

partisipatif, transparan, dan akuntabilitas; serta

c.

manfaat dan keadilan.

Kaidah

teknis

pengukuran

yang

baik

dan

benar

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:


a.

peralatan yang tepat;

b.

tenaga pelaksana yang kompeten;

c.

tata cara pengukuran yang benar; dan

d.

pengolahan data yang memadai.


Pasal 3

Pemasangan Tanda Batas WIUP Operasi Produksi dan WIUPK


Operasi Produksi bertujuan untuk:
a.

merealisasikan Titik Batas WIUP Operasi Produksi atau


WIUPK Operasi Produksi di lapangan;

b.

mensosialisasikan batas WIUP Operasi Produksi atau


WIUPK Operasi Produksi;

c.

memberikan

kepastian

kegiatan

pertambangan

yang

dilakukan dan berada dalam WIUP Operasi Produksi atau


WIUPK Operasi Produksi;
d.

memberikan ketegasan batas WIUP Operasi Produksi atau


WIUPK Operasi Produksi pada wilayah yang dimanfaatkan
secara bersama dengan pemegang IUP Operasi Produksi
dan IUPK Operasi Produksi yang berbeda komoditas
tambang

serta

sektor

lain

di

luar

kegiatan

usaha

pertambangan; dan
e.

menetapkan kembali Titik Batas WIUP Operasi Produksi


atau

WIUPK

Operasi

Produksi

berdasarkan

pengukuran Titik Batas di lapangan.


BAB III
PELAKSANAAN PEMASANGAN TANDA BATAS
Bagian Kesatu
Umum

hasil

-9Pasal 4
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib melakukan pemasangan Tanda Batas WIUP Operasi
Produksi atau WIUPK Operasi Produksi dalam jangka
waktu paling lambat 6 (enam) bulan sejak diperolehnya IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi.

(2)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


dilarang melakukan kegiatan penambangan sebelum Tanda
Batas

WIUP

Operasi

Produksi

atau

WIUPK

Operasi

Produksi selesai dipasang.


Pasal 5
Tahapan Kegiatan pemasangan Tanda Batas WIUP Operasi
Produksi dan WIUPK Operasi Produksi meliputi:
a.

pengumuman dan sosialisasi;

b.

koordinasi;

c.

kompilasi data wilayah dan persiapan teknis;

d.

pengukuran Titik Batas;

e.

pemasangan Tanda Batas;

f.

pembuatan berita acara;

g.

pelaporan pelaksanaan pemasangan Tanda Batas; dan

h.

penetapan Tanda Batas.


Bagian Kedua
Pengumuman dan Sosialisasi
Pasal 6

(1)

Direktorat Jenderal dan/atau Dinas Teknis Provinsi dalam


jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender
setelah terbitnya IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi
Produksi wajib mengumumkan secara terbuka kepada
masyarakat tentang rencana pemasangan Tanda Batas
WIUP Operasi Produksi atau WIUPK Operasi Produksi.

(2)

Pengumuman secara terbuka sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dilakukan secara serentak selama 7 (tujuh) hari
kalender di:

- 10 -

(3)

a.

kantor Bupati/Walikota setempat;

b.

kantor Kecamatan setempat; dan

c.

kantor Desa/Kelurahan/Nagari/Distrik setempat.

Format lembar pengumuman sebagaimana dimaksud pada


ayat (3) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 7

(1)

Pemegang

IUP

Operasi

Produksi

atau

IUPK

Operasi

Produksi dalam jangka waktu paling lambat 21 (dua puluh


satu) hari kalender setelah terbitnya IUP Operasi Produksi
atau IUPK Operasi Produksi wajib melakukan sosialisasi
rencana

kerja

kegiatan

pemasangan

Tanda

Batas

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a kepada


masyarakat dan pemegang hak atas tanah dalam WIUP
Operasi Produksi dan WIUPK Operasi Produksi.
(2)

Pemegang

IUP

Operasi

Produksi

dalam

Produksi

melakukan

atau

sosialisasi

IUPK

Operasi

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) wajib mengikutsertakan petugas


Dinas

Teknis

Provinsi

Kabupaten/Kota,

aparat

dan

perwakilan

Kecamatan,

dari

aparat

dan/atau

aparat

Desa/Kelurahan/Nagari/Distrik setempat.
(3)

Biaya pelaksanaan sosialisasi sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) menjadi tanggung jawab pemegang IUP Operasi
Produksi atau IUPK Operasi Produksi.
Pasal 8

(1)

Pemegang

IUP

Operasi

Produksi

atau

IUPK

Operasi

Produksi dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat


belas) hari kalender setelah melakukan sosialisasi wajib
menyampaikan hasil sosialisasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 kepada Menteri melalui Direktur Jenderal
dan Kepala Dinas Teknis Provinsi.

- 11 (2)

Pemegang

IUP

Operasi

Produksi

atau

IUPK

Operasi

Produksi yang akan melakukan kegiatan pemasangan


Tanda Batas harus menyelesaikan hak atas tanah pada
lokasi yang akan dilakukan pemasangan Tanda Batas.
Pasal 9
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari
kalender setelah terbitnya IUP Operasi Produksi atau IUPK
Operasi Produksi wajib menyampaikan rencana kerja
kegiatan pemasangan Tanda Batas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (1) kepada:
a.

Menteri melalui Direktur Jenderal dengan tembusan


kepada Kepala Dinas Teknis Provinsi untuk IUP
Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi yang
diterbitkan oleh Menteri;

b.

Kepala

Dinas

Teknis

Provinsi

dengan

tembusan

kepada Menteri untuk IUP Operasi Produksi dan IUPK


Operasi Produksi yang diterbitkan oleh Gubernur.
(2)

Rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus


memuat:
a.

letak dan jumlah Tanda Batas yang akan dipasang;

b.

kesampaian lokasi Tanda Batas;

c.

pihak

lain

yang

memanfaatkan

wilayah

secara

bersama serta yang berbatasan langsung dengan WIUP


Operasi Produksi dan WIUPK Operasi Produksi;
d.

peta

tematik

yang

memuat

pengusahaan lahan;
e.

peralatan yang akan digunakan;

f.

pelaksana kegiatan;

g.

rencana biaya; dan

h.

jadwal pelaksanaan.

informasi

hak

- 12 Bagian Ketiga
Koordinasi
Pasal 10
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib melakukan koordinasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf b antara lain:
a.

pemegang IUP atau IUPK yang WIUP atau WIUPK-nya


berbatasan langsung dengan WIUP Operasi Produksi
atau WIUPK Operasi Produksi yang akan dipasang
Tanda Batas;

b.

pemegang

IUP

atau

IUPK

beda

komoditas

yang

memanfaatkan WIUP atau WIUPK secara bersama;


c.

pemegang izin sektor lain di luar kegiatan usaha


pertambangan

yang

berbatasan

langsung

dengan

WIUP atau WIUPK atau memanfaatkan lahan secara


bersama dalam WIUP atau WIUPK;
d.

pemegang hak atas tanah dalam WIUP atau WIUPK;

e.

petugas Direktorat Jenderal dan/atau Dinas Teknis


Provinsi;

f.

petugas instansi sektor lain di luar kegiatan usaha


pertambangan

yang

berbatasan

langsung

dengan

WIUP atau WIUPK atau memanfaatkan lahan secara


bersama

dalam

WIUP

atau

WIUPK

sesuai

kewenangannya;
g.

petugas

kantor

Kecamatan

dan/atau

Desa/Kelurahan/ Nagari/Distrik setempat.


(2)

Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terkait


dengan:
a.

pengukuran Titik Batas;

b.

penyaksian pemasangan Tanda Batas; dan

c.

pembuatan

dan

penandatanganan

pemasangan Tanda Batas.

berita

acara

- 13 Bagian Keempat
Kompilasi Data Wilayah dan Persiapan Teknis
Paragraf 1
Kompilasi Data Wilayah
Pasal 11
Kompilasi data wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
huruf c berupa inventarisasi:
a.

salinan IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi


termasuk peta batas wilayah dan titik koordinat;

b.

salinan IUP atau IUPK yang WIUP atau WIUPK-nya


berbatasan langsung dengan WIUP Operasi Produksi atau
WIUPK Operasi Produksi yang akan dipasang Tanda Batas
termasuk peta batas wilayah dan titik koordinat;

c.

salinan IUP atau IUPK beda komoditas yang memanfaatkan


WIUP atau WIUPK secara bersama termasuk peta batas
wilayah dan titik koordinat;

d.

peta dasar yang diterbitkan oleh instansi pemerintah yang


menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang survei
dan pemetaan;

e.

peta informasi wilayah pertambangan yang dikeluarkan


oleh Direktorat Jenderal yang memuat semua WIUP atau
WIUPK yang berbatasan langsung; dan

f.

titik JKHN yang dibangun oleh instansi pemerintah yang


menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang survei
dan pemetaan.
Paragraf 2
Persiapan Teknis
Pasal 12

Persiapan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c


meliputi:

- 14 a.

evaluasi hasil kompilasi data sebagaimana dimaksud pada


Pasal 11;

b.

penyiapan

peralatan

pengukuran

Titik

Batas

dan

pemasangan Tanda Batas dan sarana pendukung; dan


c.

penyiapan tenaga pelaksana.


Bagian Kelima
Pengukuran Titik Batas
Pasal 13

(1)

Pelaksanaan

pengukuran

Titik

Batas

sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 5 huruf d meliputi:

(2)

a.

pengukuran pengikatan BM ke JKHN;

b.

pengukuran pengikatan Titik Bantu ke BM;

c.

pengolahan data hasil pengukuran; dan

d.

Stake Out Titik Batas.

Tata cara pengukuran Titik Batas sebagaimana dimaksud


pada

ayat

merupakan

(1)

tercantum

bagian

tidak

dalam

Lampiran

terpisahkan

dari

II

yang

Peraturan

Menteri ini.
Pasal 14
Peralatan pengukuran Titik Batas paling sedikit meliputi:
a.

3 (tiga) unit GPS atau GNSS Geodetik;

b.

GPS Navigasi;

c.

Theodolite dan alat ukur jarak atau ETS; dan

d.

perangkat lunak pengolah data.


Pasal 15

Pengukuran Titik Batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13


wajib dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pengukuran dengan
klasifikasi keahlian bidang survei dan pemetaan.

- 15 Bagian Keenam
Pemasangan Tanda Batas
Paragraf 1
Umum
Pasal 16
(1)

Pemasangan Tanda Batas sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 5 huruf e meliputi:

(2)

a.

pembuatan dan pemberian nama;

b.

penyaksian pemasangan; dan

c.

dokumentasi dan deskripsi pemasangan.

Tata cara pembuatan dan pemberian nama Tanda Batas


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum
dalam

Lampiran

III

yang

merupakan

bagian

tidak

terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.


Pasal 17
Pemasangan Tanda Batas oleh pemegang IUP Operasi Produksi
atau IUPK Operasi Produksi dilakukan paling sedikit pada lokasi
yang sesuai Titik Batas.
Pasal 18
(1)

Dalam hal lokasi Titik Batas tidak memungkinkan untuk


dipasang Tanda Batas, pemegang IUP Operasi Produksi dan
IUPK Operasi Produksi wajib membuat Tanda Batas
Referensi yang dilengkapi dengan deskripsi posisi Tanda
Batas sebenarnya yang ditunjukkan dengan arah (azimut)
dan jarak.

(2)

Lokasi Titik Batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


antara lain danau, sungai, rawa, jurang, situs budaya,
makam, bangunan militer, dan tempat ibadah.

(3)

Tanda Batas Referensi sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) harus dipasang pada garis batas atau di dalam WIUP
Operasi Produksi atau WIUPK Operasi Produksi.

- 16 (4)

Apabila IUP atau IUPK berada di wilayah perairan maka


pemasangan

Tanda

Batas

dilakukan

sesuai

dengan

teknologi yang memungkinkan.


Pasal 19
(1)

Dalam hal antar Wilayah IUP atau Wilayah IUPK Operasi


Produksi saling berbatasan langsung, maka pada garis
batas paling jauh setiap 500 meter pemegang IUP Operasi
Produksi atau IUPK Operasi Produksi dapat melakukan
pengukuran dan pemasangan Tanda Batas Perapatan.

(2)

Tanda Batas Perapatan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) merupakan Tanda Batas yang dipasang diantara Titik
Batas WIUP dan WIUPK di lapangan dan mempunyai
ukuran, konstruksi, warna serta penamaan tertentu.

Pasal 20
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


dapat menggunakan jasa pelaksana pengukuran Titik
Batas

dan

pemasangan

Tanda

Batas

sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 5 huruf d dan e.


(2)

Jasa pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib


memiliki Izin Usaha Jasa Pertambangan sub bidang jasa
survei dan pemetaan dari Direktur Jenderal atas nama
Menteri atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya.
Paragraf 2
Penyaksian Pemasangan Tanda Batas
Pasal 21

(1)

Penyaksian

pemasangan

Tanda

Batas

sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b dilakukan oleh


petugas

kantor

Kecamatan

dan/atau

desa/Kelurahan/Distrik/Nagari setempat dan perwakilan


dari masing-masing:

- 17 a.

pemegang IUP atau IUPK yang WIUP atau WIUPK-nya


berbatasan langsung dengan WIUP atau WIUPK yang
akan dipasang Tanda Batas;

b.

pemegang

IUP

atau

IUPK

beda

komoditas

yang

memanfaatkan WIUP atau WIUPK secara bersama;


c.

pemegang izin sektor lain di luar kegiatan usaha


pertambangan

yang

berbatasan

langsung

dengan

WIUP atau WIUPK atau memanfaatkan lahan secara


bersama dalam WIUP atau WIUPK yang akan dipasang
tanda batas; dan/atau
d.

pemegang hak atas tanah yang akan dipasang Tanda


Batas.

(2)

Penyaksian

pemasangan

Tanda

Batas

sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sejak dimulai


hingga berakhirnya pemasangan Tanda Batas.
(3)

Dalam hal wilayah yang akan dipasang Tanda Batas berada


di kawasan hutan maka harus disaksikan petugas instansi
yang membidangi kehutanan.
Paragraf 3
Dokumentasi dan Deskripsi Pemasangan Tanda Batas
Pasal 22

(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib melakukan dokumentasi dan deskripsi pemasangan
Tanda Batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat
(1) huruf c terhadap setiap Tanda Batas yang telah
dipasang.

(2)

Tata cara dokumentasi dan deskripsi pemasangan Tanda


Batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum
dalam

Lampiran

IV

yang

merupakan

terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

bagian

tidak

- 18 Bagian Ketujuh
Pembuatan Berita Acara
Pasal 23
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib membuat berita acara pengukuran Titik Batas dan
pemasangan Tanda Batas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf f setelah seluruh Tanda Batas selesai
dipasang.

(2)

Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus


ditandantangani oleh pelaksana pengukuran Titik Batas
dan pemasangan Tanda Batas, pemegang IUP Operasi
Produksi atau IUPK Operasi Produksi serta saksi-saksi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.

(3)

Format berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Bagian Kedelapan
Pelaporan Pelaksanaan
Pemasangan Tanda Batas
Pasal 24

(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib menyusun laporan pelaksanaan pemasangan Tanda
Batas setelah seluruh kegiatan selesai dilaksanakan.

(2)

Format laporan pelaksanaan pemasangan Tanda Batas


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.

- 19 Bagian Kesembilan
Penetapan Tanda Batas
Pasal 25
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib mengajukan permohonan penetapan Tanda Batas
kepada Menteri melalui Direktur Jenderal atau Gubernur
sesuai dengan kewenangannya paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kalender sejak ditandatanganinya berita acara
untuk mendapatkan penetapan Tanda Batas.

(2)

Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib


melampirkan laporan pelaksanaan pemasangan Tanda
Batas.
Pasal 26

(1)

Direktur Jenderal atau Kepala Dinas Teknis Provinsi,


melakukan evaluasi atas permohonan penetapan Tanda
Batas

termasuk

lampirannya

sebagaimana

dimaksud

dalam Pasal 25.


(2)

Format evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 27

(1)

Direktur Jenderal atas nama Menteri atau Gubernur sesuai


dengan

kewenangannya

sebagaimana dimaksud
sebagaimana

berdasarkan

pada Pasal

dimaksud

pada

permohonan

25

Pasal

dan

26

evaluasi

memberikan

penetapan Tanda Batas dalam jangka waktu paling lambat


30

(tiga

puluh)

hari

kalender

sejak

diterimanya

permohonan.
(2)

format penetapan Tanda Batas sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran VIII yang
merupakan
Menteri ini.

bagian

tidak

terpisahkan

dari

Peraturan

- 20 Pasal 28
(1)

Dalam hal terjadi perubahan Titik Batas WIUP atau WIUPK


yang telah ditetapkan Tanda Batasnya, pemegang IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi wajib
melakukan pemasangan Tanda Batas yang baru sesuai
dengan Titik Batas.

(2)

Pemasangan Tanda Batas sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) wajib dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan
sejak perubahan Titik Batas WIUP Operasi Produksi atau
WIUPK Operasi Produksi.
Pasal 29

(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib:
a.

menjaga dan memelihara setiap Tanda Batas yang


telah dipasang termasuk akses menuju lokasi Tanda
Batas sampai jangka waktu berlakunya IUP Operasi
Produksi atau IUPK Operasi Produksi berakhir;

b.

menyimpan dan memelihara data hasil pengukuran,


berita acara, laporan hasil pelaksanaan pemasangan
Tanda Batas, serta peta pengukuran dan pemasangan
Tanda Batas;

(2)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


wajib memastikan Tanda Batas yang telah dipasang bebas
dari tumbuh-tumbuhan yang dapat menutupi dalam radius
1 (satu) meter.

(3)

Data

hasil

pelaksanaan

pengukuran,
pemasangan

berita
Tanda

acara,

laporan

Batas,

serta

hasil
peta

pengukuran dan pemasangan Tanda Batas sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf b disimpan di tempat yang
aman dan mudah diperoleh oleh petugas dari Direktorat
Jenderal dan/atau Dinas Teknis Provinsi.

- 21 (4)

Dalam

hal

Tanda

Batas

rusak/tercabut/hilang,

yang

maka

telah

Pemegang

dipasang

IUP

Operasi

Produksi dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan


pemasangan

kembali

Tanda

Batas

yang

rusak/tercabut/hilang tersebut.
BAB IV
PENYELESAIAN PERSELISIHAN
PEMASANGAN TANDA BATAS
Pasal 30
(1)

Dalam hal terjadi perselisihan dalam kegiatan pemasangan


Tanda Batas, Direktur Jenderal atas nama Menteri atau
Kepala Dinas Teknis Provinsi atas nama Gubernur sesuai
dengan kewenangannya dapat membentuk Tim sebagai
fasilitator

dalam

rangka

penyelesaian

perselisihan

pemasangan Tanda Batas.


(2)

Tim

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1)

dapat

beranggotakan wakil-wakil dari:


a.

Direktorat Jenderal;

b.

Dinas Teknis Provinsi setempat;

c.

instansi pemerintah yang membidangi survei dan


pemetaan nasional;

d.

pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi


Produksi; dan/atau

e.

pemegang IUP, IUPK, atau izin lain yang berselisih


dalam pelaksanaan pemasangan Tanda Batas.
BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 31

(1)

Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan atas


pelaksanaan kegiatan pemasangan Tanda Batas WIUP dan
WIUPK yang dilaksanakan oleh pemegang IUP Operasi
Produksi atau IUPK Operasi Produksi.

- 22 (2)

Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan


antara lain terhadap:
a.

pengadministrasian pemasangan Tanda Batas;

b.

teknis operasional pemasangan Tanda Batas; dan

c.

penerapan

standar

kompetensi

tenaga

pelaksana

pengukuran dengan klasifikasi keahlian bidang survei


dan pemetaan.
(3)

Pengawasan

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1)

dilakukan antara lain terhadap:

(4)

a.

kompilasi data wilayah dan persiapan teknis;

b.

pengukuran Titik Batas;

c.

pemasangan Tanda Batas;

d.

pemeliharaan Tanda Batas; dan

e.

kompetensi tenaga pelaksana pengukuran.

Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh Inspektur Tambang.
Pasal 32

Inspektur

Tambang

harus

menyampaikan

laporan

hasil

pembinaan dan pengawasan kepada Menteri melalui Direktur


Jenderal dengan tembusan kepada Gubernur setempat.
Pasal 33
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


melalui Kepala Teknik Tambang wajib menyampaikan
laporan hasil pemeliharaan dan perawatan Tanda Batas
yang telah dipasang kepada Kepala Inspektur Tambang
secara berkala setiap 6 (enam) bulan.

(2)

Format laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


tercantum dalam lampiran IX yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB VI
SANKSI ADMINISTRATIF

- 23 Pasal 34
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi


yang

melakukan

pelanggaran

terhadap

ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 7, Pasal 8,


Pasal 9, Pasal 10, Pasal 15, Pasal 18, Pasal 20, Pasal 22,
Pasal 23, Pasal 24 , Pasal 25, Pasal 28, Pasal 29, dan Pasal
33 dikenai sanksi administratif.
(2)

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


berupa:
a.

peringatan tertulis;

b.

penghentian

sementara

sebagian

atau

seluruh

kegiatan pertambangan; dan/atau


c.

pencabutan IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi


Produksi.

(3)

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri atau
Gubernur sesuai dengan kewenangannya.

(4)

Gubernur

dalam

memberikan

sanksi

administratif

sebagaimana dimaksud ayat (3) berdasarkan laporan hasil


pengawasan yang dilakukan Inspektur Tambang.
Pasal 35
Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat
(2) huruf a diberikan paling banyak 3 (tiga) kali, dengan jangka
waktu peringatan masing-masing 20 (dua puluh) hari kalender.
Pasal 36
(1)

Dalam hal Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK


Operasi

Produksi

sampai

berakhirnya

jangka

waktu

peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35


belum melaksanakan kewajibannya, Direktur Jenderal atas
nama

Menteri

atau

Gubernur

sesuai

dengan

kewenangannya mengenakan sanksi administratif berupa


penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan
pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat
(2) huruf b dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
hari kalender.

- 24 (2)

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dapat dicabut apabila pemegang IUP Operasi Produksi atau
IUPK Operasi Produksi dalam masa pengenaan sanksi telah
memenuhi kewajiban yang telah ditentukan.
Pasal 37

Sanksi administratif berupa pencabutan IUP Operasi Produksi


atau IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 34 ayat (2) huruf c, dikenakan kepada pemegang IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang tidak
melaksanakan kewajiban sampai dengan berakhirnya jangka
waktu pengenaan sanksi administratif berupa penghentian
sementara

sebagian

atau

seluruh

kegiatan

pertambangan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1).


BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 38
(1)

Pemegang IUP Operasi Produksi, Kontrak Karya, dan


Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara
yang telah melakukan pemasangan Tanda Batas dan belum
mendapatkan penetapan Tanda Batas sebelum Peraturan
Menteri

ini

berlaku,

wajib

mengajukan

permohonan

penetapan Tanda Batas kepada Menteri melalui Direktur


Jenderal atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya
paling lambat 6 (enam) bulan sejak berlakunya Peraturan
Menteri ini.
(2)

Pemegang

IUP

Operasi

Produksi

atau

IUPK

Operasi

Produksi yang terbit sebelum Peraturan Menteri ini berlaku


dan belum melakukan pemasangan Tanda Batas, wajib
melakukan

pemasangan

Tanda

Batas

sesuai

dengan

ketentuan Peraturan Menteri ini paling lambat 6 (enam)


bulan sejak berlakunya Peraturan Menteri ini.

- 25 (3)

Pemegang

Kontrak

Pengusahaan

Karya

dan

Pertambangan

Perjanjian

Batubara

yang

Karya
telah

memasuki tahap operasi produksi dan belum melakukan


pemasangan Tanda Batas, wajib melakukan pemasangan
Tanda Batas sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri
ini

paling

lambat

(enam)

bulan

sejak

berlakunya

Peraturan Menteri ini.


(4)

Pemegang Kontrak Karya, Perjanjian Karya Pengusahaan


Pertambangan Batubara, IUP Operasi Produksi yang telah
melakukan pemasangan Tanda Batas sesuai Keputusan
Direktur

Jenderal

Pertambangan

Umum

Nomor

697.K/29/DDJP/1996 tanggal 31 Desember 1996 tentang


Penataan

Batas

Wilayah

Pertambangan

Antara

KP/KK/PKP2B Bidang Pertambangan Umum, diberikan


pengecualian terhadap ketentuan Pasal 16 Peraturan
Menteri ini.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 39
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan
Menteri

Pertambangan

134.K/201/M.PE/1996

tanggal

dan
20

Energi
Maret

1996

Nomor
tentang

Penggunaan Peta, Penjelasan Batas dan Luas Wilayah Kuasa


Pertambangan, Kontrak Karya, dan Kontrak Karya Batubara di
Bidang Pertambangan Umum dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

- 27 LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR

33 TAHUN 2015

TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN
USAHA PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
FORMAT PENGUMUMAN RENCANA PEMASANGAN TANDA BATAS
KOP KEMENTERIAN ESDM/PROVINSI
PENGUMUMAN RENCANA PEMASANGAN TANDA BATAS
No.
Sehubungan

dengan

diterbitkannya

Izin

Usaha

Pertambangan

Operasi

Produksi/Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi*) kepada PT**)


....... melalui SK Menteri/Gubernur*)........ Nomor .... tanggal ...., berikut
diumumkan bahwa:
Pemegang Izin : ................
Komoditas

: ................

Luas

: ................

Lokasi

Desa/Kelurahan/Nagari/Distrik....................................,
Kecamatan.............,Kabupaten........, Provinsi................

akan melakukan pemasangan Tanda Batas pada Wilayah Izin Usaha


Pertambangan Operasi Produksi/Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus
Operasi Produksi*) tersebut pada ................... sampai .....................................

Diumumkan di ........
Tanggal .........
a.n Menteri Dirjen/
Gubernur*)

Nama Lengkap

- 29 LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 33 TAHUN 2015
TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
TATA CARA PENGUKURAN TITIK BATAS
A.

Pengukuran pengikatan BM ke JKHN


1.

2.

Prinsip:
a.

pengukuran GPS/GNSS metode relatif statik;

b.

menggunakan metode jaring; dan

c.

post processing dengan perataan jaring.

Persyaratan:
a.

memiliki 1 (satu) buah titik ikat JKHN;

b.

lokasi BM berada di dalam WIUP atau WIUPK;

c.

lokasi BM berada pada tanah yang struktur dan kondisinya


stabil;

d.

lokasi BM untuk pengamatan satelit GPS/GNSS memiliki ruang


pandang ke atas langit/elevation mask diatas 15;

e.

lama pengamatan minimal, paling sedikit 1 (satu) jam dengan


interval pengamatan (sampling rate) 15 detik; dan

f.

dalam hal panjang baseline > 20 km, lama pengamatan minimal,


paling sedikit 4 (empat) jam dengan menggunakan receiver
GPS/GNSS frekuensi ganda (L1, L2).

B.

Pengikatan Titik Bantu ke BM


1.

2.

Prinsip:
a.

pengukuran GPS/GNSS metode relatif statik;

b.

menggunakan metode radial; dan

c.

post processing dengan perataan baseline.

Persyaratan:
a.

lokasi Titik Bantu berada di dalam WIUP atau WIUPK;

- 30 b.

lokasi Titik Bantu berada pada tanah yang struktur dan


kondisinya stabil;

c.

jarak maksimal Titik Bantu

ke

Titik Batas berada dalam

radius 100 m;
d.

lokasi Titik Bantu untuk pengamatan satelit GPS/GNSS memiliki


ruang pandang ke atas langit/elevation mask diatas 15; dan

e.

lama pengamatan minimal, paling sedikit 1 (satu) jam dengan


interval pengamatan (sampling rate) 15 detik.

C.

Pengolahan Data Hasil Pengukuran


1.

Prinsip:
a.

pengolahan data hasil pengukuran GPS/GNSS pengikatan BM ke


JKHN dilakukan secara post processing menggunakan perataan
jaring;

b.

pengolahan data hasil pengukuran GPS/GNSS pengikatan Titik


Bantu ke BM dilakukan secara post processing menggunakan
perataan baseline; dan

c.

perangkat

lunak

pengolah

data

perangkat

lunak

pengolahan

yang

data

digunakan

GPS/GNSS

adalah

komersial

(commercial software).
2. Persyaratan:
a.

solusi ambiguitas untuk baseline pada post processing harus


fixed;

b.

hasil reduksi/hitungan baseline harus memiliki standar deviasi


( ) yang memenuhi hubungan berikut:
-

<

<

<

dimana:

= [[10 + (10d)2]1/2]/1.96mm, dengan

adalah komponen standar deviasi baseline

N,

E,

dan d adalah

panjang baseline dalam kilometer; dan


c.

hasil perataan jaring pengolahan data pengukuran GPS/GNSS


pengikatan

BM

ke

JKHN

harus

lolos

uji

statistik

yang

dipersyaratkan secara default oleh perangkat lunak pengolahan


data GPS/GNSS.

- 31 D.

Stake out Titik Batas


1.

Prinsip:
a.

koordinat Titik Bantu dan Titik Batas terlebih dahulu dikonversi


ke sistem koordinat Universal Transverse Mercator (UTM) untuk
dihitung nilai azimut () dan jarak (d) antara Titik Bantu dengan
Titik Batasnya;

b.

pengukuran Stake Out dilakukan menggunakan Theodolite/ETS


metode orientasi arah (azimut) dan jarak;

c.

dalam hal pengukuran Stake Out Titik Batas dari Titik Bantu
tidak dapat dilakukan dalam satu kali berdiri alat, maka harus
dilakukan pengukuran Titik Bantu tambahan dengan metode
poligon terbuka terikat sempurna atau metode poligon tertutup;
dan

d.

dalam hal pengukuran Stake Out Titik Batas berada di area


terbuka,

maka

pengukuran

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan GPS/GNSS Real Time Kinematic (RTK).


2.

Persyaratan:
deviasi antara Titik Batas hasil Stake Out dengan Titik Batas tidak
lebih dari 12,5 cm.

- 33 LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 33 TAHUN 2015
TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
TATA CARA PEMBUATAN DAN PEMBERIAN NAMA TANDA BATAS
A.

Pembuatan
1.

TANDA BATAS SUDUT/TANDA BATAS REFERENSI


Spesifikasi (Gambar 3.1):
a.

Tanda Batas harus dirancang dan dibuat agar dapat bertahan


selama mungkin, dan harus stabil ke arah horizontal dan
vertikal;

b.

material penyusun Tanda Batas merupakan beton dengan


perbandingan campuran semen, pasir, koral 1:2:3;

c.

rangka besi menggunakan tulangan utama 4 x 12 mm dan bekel


8 mm dengan jarak 150 mm;

d.

penanda (marker) dari setiap Tanda Batas harus dibuat dari


logam yang tahan karat; dan

e.

bagian Tanda Batas yang muncul di permukaan, dicat dengan


cat beton berwarna merah.

Gambar 3.1
Dimensi Tanda Batas Sudut/Tanda Batas Referensi

- 34 2.

TANDA BATAS PERAPATAN


Spesifikasi (Gambar 3.2):
a.

Tanda Batas Perapatan harus dirancang dan dibuat agar dapat


bertahan selama mungkin, dan harus stabil ke arah horizontal
dan vertikal;

b.

Tanda Batas Perapatan dibuat dari pipa PVC dengan diameter


6 inci;

c.

rangka besi menggunakan besi tunggal berdiameter 20 mm atau


rangka besi dengan tulangan utama 4 x 10 mm dan bekel 8 mm
dengan jarak 150 mm;

d.

penanda (marker) dari setiap Tanda Batas Perapatan harus


dibuat dari logam yang tahan karat; dan

e.

bagian Tanda Batas Perapatan yang muncul di permukaan,


harus diamplas terlebih dahulu sebelum dicat dengan cat beton
berwarna merah.

Gambar 3.2
Dimensi Tanda Batas Perapatan

- 35 B.

Pemberian Nama
1.

TANDA BATAS SUDUT:


a.

diberikan nomor sesuai dengan nomor Titik Batas pada SK IUP


Operasi Produksi atau SK IUPK Operasi Produksi;

b.

mencantumkan secara jelas:


1)

nama pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi


Produksi dalam singkatan;

c.

2)

logo Kementerian ESDM; dan

3)

kode wilayah sesuai peraturan perundang-undangan.

ketiga informasi tersebut di atas digrafir pada lempeng perunggu


(brass cap) berukuran 20 x 20 cm menggunakan huruf kapital
jenis Arial; dan

d.

lempeng perunggu tersebut di atas harus dipasang membujur


pada sisi dinding Tanda Batas yang menghadap ke sebelah
dalam WIUP Operasi Produksi atau WIUPK Operasi Produksi.

2.

TANDA BATAS REFERENSI:


a.

diberikan nomor sesuai dengan nomor Titik Batas pada SK IUP


Operasi Produksi atau SK IUPK Operasi Produksi;

b.

mencantumkan secara jelas:


1)

nama pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi


Produksi dalam singkatan;

2)

logo Kementerian ESDM;

3)

kode wilayah sesuai peraturan perundang-undangan; dan

4)

deskripsi terhadap posisi Tanda Batas sebenarnya yang


ditunjukkan dengan arah (azimut) dan jarak

c.

keempat informasi tersebut di atas digrafir pada lempeng


perunggu (brass cap) berukuran 20 cm x 20 cm menggunakan
huruf kapital jenis Arial; dan

d.

lempeng perunggu tersebut di atas harus dipasang membujur


pada sisi dinding Tanda Batas yang menghadap ke dalam WIUP
Operasi Produksi atau WIUPK Operasi Produksi.

3.

TANDA BATAS PERAPATAN:


a.

diberikan nomor sesuai dengan nomor SK IUP Operasi Produksi


atau IUPK Operasi Produksi ditambah huruf dengan mengikuti
abjad (misal: 1A, 1B, );

- 37 LAMPIRAN IV
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 33 TAHUN 2015
TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
TATA CARA DOKUMENTASI DAN DESKRIPSI PEMASANGAN TANDA BATAS
A.

Dokumentasi
1.

Setiap Tanda Batas yang telah terpasang dengan benar, wajib

didokumentasikan;
2.

Tujuan pendokumentasian adalah:


a.

sebagai bukti autentik bahwa Tanda Batas telah terpasang di


lapangan;

b.

sebagai bahan untuk pendeskripsian kondisi Tanda Batas


dan lapangan/situasi sekitar; dan

c.

sebagai bahan untuk memudahkan pencarian Tanda Batas di


lapangan atau rekonstruksi lokasi Tanda Batas apabila Tanda
Batas rusak/hilang.

3.

Peralatan/kamera yang dipergunakan untuk pendokumentasian


harus representatif (baik digital maupun analog); dan

4.

Sisi Tanda Batas yang harus didokumentasikan adalah sisi Tanda


Batas yang memuat informasi identitas Tanda Batas.

- 38 B.

Deskripsi
Pemegang IUP/IUPK Operasi Produksi*)

Identitas
Tanda Batas

DESKRIPSI TANDA BATAS


Nomor Tanda Batas

Lokasi

Desa/Kelurahan/Nagari/Distrik

Kecamatan

Kabupaten/Kota

Provinsi

Keterangan Tanda Batas

: Tanda Batas Sudut/Perapatan/Referensi*)

Koordinat Geografis
Lintang

Bujur

Foto Tanda Batas

Koordinat UTM
Northing

Easting

Zona

Jalan ke Lokasi :
Uraian Lokasi

Kenampakan
Menonjol

Sketsa Umum**

Sketsa Khusus***)

- 40 LAMPIRAN V
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 33 TAHUN 2015
TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
FORMAT BERITA ACARA
PENGUKURAN TITIK BATAS DAN PEMASANGAN TANDA BATAS
A.N. Pemegang IUP/IUPK/
KK/PKP2B*)

....................................

Kode Wilayah (KW)

.................................

Luas

..

Komoditas

.......................................

Kecamatan

..............................

Kabupaten

..............................

Provinsi

..............................

Pada hari ini ., tanggal , tahun

......, telah selesai

dilaksanakan pengukuran Titik Batas dan pemasangan Tanda Batas oleh


................. beralamat di

.................................

Pelaksanaan pengukuran Titik Batas dan pemasangan Tanda Batas yang


meliputi: peralatan, kompetensi tenaga pelaksana, tata cara pengukuran,
pengolahan data, dan spesifikasi Tanda Batas terpasang telah sesuai dengan
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor . Tahun
tentang Tata Cara Pemasangan Tanda Batas Wilayah Izin Usaha Pertambangan
dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus Mineral dan Batubara.
Tanda Batas yang sudah dipasang terdiri dari buah Tanda Batas Sudut,
buah Tanda Batas Referensi, dan buah Tanda Batas Perapatan dengan
koordinat sebagaimana terlampir yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari
Berita Acara ini.**)
Demikian berita acara pelaksanaan pengukuran Titik Batas dan pemasangan
Tanda Batas WIUP Operasi Produksi/WIUPK Operasi Produksi*) atas nama
., dibuat dengan sebenarnya, dibubuhi meterai untuk dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
.,

- 41 Pemegang IUP/IUPK/KK/PKP2B*)

Pelaksana Pengukuran Titik Batas


dan

Pemasangan

Tanda

Batas

Wilayah IUP/IUPK/KK/PKP2B*)

(.)

( ....)

Saksi :
1

1.

(petugas Desa/Kelurahan/Nagari/Distrik
setempat*)
2

2.

(petugas kantor Kecamatan setempat*)


3
(pemegang

3.

IUP/IUPK

yang

berbatasan

langsung*)
4

4.

(pemegang IUP/IUPK beda komoditas yang


memanfaatkan

WIUP/

WIUPK

secara

bersama*)
5

5.

(pemegang izin sektor lain di luar kegiatan


usaha
langsung

pertambangan
dengan

yang

WIUP/

berbatasan
WIUPK

atau

memanfaatkan lahan secara bersama*)


6

6.

(pemegang hak atas tanah*)


7
(petugas instansi kehutanan apabila berada di
kawasan hutan*)
Keterangan:
*)

: Pilih yang sesuai

**) : Diisi yang sesuai

7.

- 43 LAMPIRAN VI
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 33 TAHUN 2015
TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
FORMAT LAPORAN PELAKSANAAN PEMASANGAN TANDA BATAS
WIUP OPERASI PRODUKSI/WIUPK OPERASI PRODUKSI*)
Laporan pelaksanaan pemasangan Tanda Batas WIUP Operasi Produksi/
WIUPK Operasi Produksi*) yang disajikan dalam tulisan yang bersifat: singkat,
padat, informatif, transparan, dan terukur yang dituangkan dalam suatu buku
laporan.
Buku laporan harus menggambarkan:
1.

Judul laporan, memuat:


1.

nama pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi;

2.

lokasi IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi;

3.

pelaksana pengukuran dan pemasangan; dan

4.

waktu pelaksanaan.

2.

Kata Pengantar

3.

Daftar Isi

4.

Daftar Lampiran

5.

Isi laporan
Bab I

Pendahuluan

I.1

Latar belakang;

I.2

Maksud dan tujuan.

Bab II Pelaksanaan Pemasangan Tanda Batas


II.1 Pengumuman dan sosialisasi
Dijelaskan mengenai:
a.

waktu

dan

tempat

sosialisasi;
b.

peserta sosialisasi.

pelaksanaan

pengumuman

dan

- 44 II.2 Koordinasi
Dijelaskan mengenai:
a.

pihak-pihak yang dilibatkan dalam koordinasi;

b.

hal-hal/substansi yang dikoordinasikan.

II.3 Pengukuran Titik Batas;


Dijelaskan mengenai:
a.

kegiatan pengukuran yang dilakukan:


-

pengukuran pengikatan BM ke JKHN (keterangan titik


JKHN yang digunakan, peta desain jaring, Tabel I);

pengukuran pengikatan Titik Bantu ke BM (peta


desain pengukuran baseline radial, Tabel II);

pengolahan data hasil pengukuran (perangkat lunak


yang digunakan, dan tahapan pengolahan data); dan

Stake Out Titik Batas (metode pengukuran).

b.

peralatan pengukuran yang digunakan;

c.

tenaga

pelaksana

pengukuran

(jumlah,

klasifikasi,

keterampilan, dan lain lain).


Bab III Hasil Pengukuran dan Pemasangan Tanda Batas
III.1 Hasil Pengukuran
Dijelaskan mengenai:
a.

hasil pengukuran

GPS/GNSS

(Tabel III, uji statistik

perataan jaring, koordinat BM dan koordinat Titik Bantu


beserta ketelitiannya);
b.

hasil pengukuran Stake Out (deviasi antara Titik Batas


hasil Stake Out dengan Titik Batas).

III.2 Hasil Pemasangan Tanda Batas


Dijelaskan mengenai:
a.

jumlah Tanda Batas Sudut dipasang;

b.

Tanda Batas Perapatan (jika ada) meliputi jumlah dan


interval;

c.

Tanda Batas Referensi (jika ada) meliputi jumlah, lokasi


dan alasan pergeseran.

- 45 Bab IV Penutup
Dijelaskan mengenai:
a.

pemenuhan kriteria teknis tentang pengukuran Titik Batas


sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Lampiran II
Peraturan Menteri ini, dijelaskan dalam satu paragraf;

b.

pemenuhan kriteria teknis tentang pemasangan Tanda


Batas sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Lampiran
III Peraturan Menteri ini, dijelaskan dalam satu paragraf;

c.

kendala meliputi teknis dan non teknis.

Kendala teknis

antara lain lokasi pemasangan, peralatan, pengolahan


data, dan tenaga pelaksana.

Sedangkan kendala non

teknis antara lain keberatan dari pemegang hak atas tanah


dan pemegang izin sektor lain serta penyelesaian kendala
tersebut, dijelaskan dalam satu paragraf.
Lampiran, berisi copy:
1.

salinan IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi;

2.

salinan IUP atau IUPK yang WIUP atau WIUPK-nya berbatasan


langsung dengan WIUP Operasi Produksi atau WIUPK Operasi
Produksi yang akan dipasang Tanda Batas;

3.

salinan IUP atau IUPK beda komoditas yang memanfaatkan WIUP


atau WIUPK secara bersama;

4.

peta

dasar

yang

diterbitkan

oleh

instansi

pemerintah

yang

menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang survei dan


pemetaan;
5.

peta

informasi

wilayah

pertambangan

yang

dikeluarkan

oleh

Direktorat Jenderal yang memuat semua WIUP atau WIUPK yang


berbatasan langsung;
6.

titik

JKHN

yang

dibangun

oleh

instansi

pemerintah

yang

menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang survei dan


pemetaan;
7.

data pengukuran GPS/GNSS*) dalam format RINEX, dan soft file


summary hasil pengolahan GPS/GNSS*) (dalam bentuk Compact
Disc);

8.

hasil transformasi koordinat Titik Batas WIUP/WIUPK*) dari sistem


koordinat geografis ke sistem koordinat UTM;

- 46 9.

hasil hitungan jarak dan azimut dari Titik Bantu ke Titik Batas
wilayah IUP Operasi Produksi atau wilayah IUPK Operasi Produksi
(apabila pengukuran menggunakan ETS)

10. peta plotting hasil pengukuran, termasuk wilayah IUP/IUPK yang


berbatasan,
koordinat

dilengkapi
Tanda

dengan

Batas

legenda

Sudut,

yang

Tanda

menggambarkan

Batas

Perapatan,

dan/atau Tanda Batas Referensi dengan skala 1:10.000 dalam


bentuk cetak dan digital;
11. sampel foto-foto kegiatan:
-

pengukuran GPS/GNSS;

pengukuran Stake Out; dan

pemasangan Tanda Batas.

12. dokumentasi dan deskripsi Tanda Batas (lampiran IV); dan


13. Berita acara pelaksanaan pengukuran Titik Batas dan pemasangan
Tanda Batas WIUP Operasi Produksi atau WIUPK Operasi Produksi*)
(format tercantum dalam Lampiran V).
Keterangan Tabel
Tabel I. Rangkuman Pengukuran pengikatan BM ke JKHN
No.

Baseline

Jarak /

Lama

Interval

Jumlah

d (km)

Pengamatan

pengamatan/

Satelit

()

Sampling rate ()

teramati

Tabel II. Rangkuman Pengukuran pengikatan Titik Bantu ke BM


No.

Baseline

Jarak /

Lama

Interval

Jumlah

d (km)

Pengamatan

pengamatan/

Satelit

()

Sampling rate ()

teramati

- 48 LAMPIRAN VII
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR

TAHUN

TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN
USAHA PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
FORMAT EVALUASI
PERMOHONAN PENETAPAN TANDA BATAS
Nama Perusahaan :
No. SK IUP/IUPK :
Komoditas

Masa berlaku

Luas

Lokasi

Kode Wilayah

Tujuan Evaluasi

Bahan Evaluasi

No.

Aspek-aspek

Uraian/

yang dievaluasi

penjelasan

Standar minimal

Hasil

kegiatan, peralatan,

Evaluasi

metode pengukuran,

(M/TM*)

Keterangan

dan Tanda Batas

1
I

PENGUKURAN
uraian

A. Tahapan
Pelaksanaan

1) pengukuran

singkat

pengikatan BM ke

kegiatan

JKHN;

pengukuran

2) pengukuran

yang

pengikatan Titik

dilakukan

Bantu ke BM;

oleh
pemegang
IUP

3) pengolahan data
hasil pengukuran;

- 49 4) Stake Out Titik


Batas.
B. Peralatan
Pengukuran

rincian

1) 3 buah

peralatan

GPS/GNSS*)

yang

Geodetik;

digunakan
untuk
kegiatan
pengukuran

2) 1 buah GPS
Navigasi;
3) 1 buah Theodolite
atau ETS dengan
ketelitian 5
second;
4) 1 set perangkat
lunak pengolahan
data.

C. Metode
Pengukuran

uraian

relatif statik

metode
pengukuran
yang
digunakan

D. Tanda Batas
Sudut

spesifikasi

spesifikasi sesuai

Tanda Batas

dengan Lampiran III

Sudut yang
telah
dipasang
E. Tanda Batas
Perapatan

- ada/tidak;

interval maksimum

- jika ada,

500 meter

(bila

sebutkan

diperlukan)

jumlah dan
interval
jarak antar
Tanda
Batas
Perapatan
yang
dipasang.

- 50 II

PENGOLAHAN
DATA
1) Data

ada/tidak*)

GPS/GNSS*)

melampirkan printout pengolahan data


GPS/GNSS*)

2) Data Stake

ada/tidak*)

Out

melampirkan
perhitungan data
Stake Out

III

PETA PLOTTING

ada/tidak*)

hasil

- skala peta
1:10.000;

pengukuran,

- peta memuat

termasuk

seluruh titik hasil

wilayah

pengukuran.

IUP/IUPK yang
berbatasan
IV

PELAKSANA

diuraikan

pemegang IUP/IUPK*)

(Pemegang

pelaksana

atau Jasa Pelaksana

IUP/IUPK

kegiatan

yang memiliki Izin

dan/atau Jasa

pengukuran

Usaha Jasa

Pelaksana*)

dan

Pertambangan Sub-

pemasangan

Bidang Jasa Survei

Tanda Batas.

dan Pemetaan

1) Jumlah

diuraikan

tenaga pelaksana

2) Kompetensi

jumlah dan

pengukuran dengan

kompetensi

klasifikasi keahlian

tenaga kerja

bidang survei dan

pelaksana

pemetaan

TENAGA KERJA

kegiatan
pengukuran
dan
pemasangan
Tanda Batas.

- 51 VI

VII

BIAYA

disebutkan biaya yang digunakan untuk kegiatan pengukuran

PELAKSANAAN

dan pemasangan tanda batas

HASIL
PENGUKURAN
1) Pengukuran

uraian

sesuai dengan

singkat BM

persyaratan

dan Titik

pengolahan data hasil

Bantu hasil

pengukuran pada

pengukuran

Lampiran II

2) Pengukuran

uraian

sesuai dengan

Stake Out

singkat

persyaratan

koordinat

pengolahan data hasil

Titik Batas

pengukuran pada

hasil

Lampiran II

GPS/GNSS

pengukuran
Stake Out
VIII

HASIL
PEMASANGAN
TANDA BATAS
1) Jumlah

- sebutkan

- jumlah Tanda Batas

Tanda Batas

jumlah

Sudut yang

Sudut

Tanda

dipasang sesuai

dipasang

Batas

dengan Titik Batas

Sudut yang

definitif;

dipasang

- spesifikasi Tanda
Batas Sudut sesuai
dengan Lampiran

1)

III.
2) Jumlah

2)

- sebutkan

- interval jarak antar

Tanda Batas

jumlah

Tanda Batas

Perapatan

Tanda

Perapatan

(jika ada)

Batas

maksimum 500

Perapatan

meter;

yang

- spesifikasi Tanda

dipasang

Batas Sudut sesuai

(jika ada)

dengan Lampiran
III.

- 52 3) Jumlah

- sebutkan

spesifikasi Tanda

Tanda Batas

jumlah

Batas Referensi

Referensi

Tanda

sesuai dengan

(jika ada)

Batas

Lampiran III

Referensi
yang
dipasang
(jika ada)
4) Berita Acara

ada/Tidak*)

sesuai dengan format


berita acara pada
lampiran V

IX

KESIMPULAN
1) Pengukuran
2) Pengolahan
data
3) Lampiran
peta
4) Pelaksana
5) Tenaga kerja
6) Biaya
pelaksanaan
7) Hasil
pengukuran
8) Hasil
pemasangan
Tanda Batas
X HASIL
EVALUASI
Catatan

(MEMADAI/TIDAK MEMADAI*)

- 54 LAMPIRAN VIII
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 33 TAHUN 2015
TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN
USAHA PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA

LAMPIRAN VIII A
FORMAT PENETAPAN TANDA BATAS YANG DITERBITKAN MENTERI
I. Format Surat Keputusan Menteri
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
NOMOR:
TENTANG
PENETAPAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
OPERASI PRODUKSI/WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
OPERASI PRODUKSI*)
PT ... **)
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
Menimbang

a. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber


Daya Mineral Nomor ................. tentang Tata Cara
Pemasangan

Tanda

Batas

Wilayah

Izin

Usaha

Wilayah

Izin

Usaha

Pertambangan

(WIUP)

dan

Pertambangan

Khusus

(WIUPK),

setiap

pemegang

IUP/IUPK Operasi Produksi wajib memasang Tanda Batas


WIUP/WIUPK*);

- 55 b. bahwa berdasarkan hasil evaluasi terhadap pemasangan


Tanda

Batas

WIUP/WIUPK*)

PT**)........,

pelaksanaan

pemasangan Tanda Batas telah sesuai dengan Peraturan


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
tentang Tata Cara Pemasangan Tanda Batas Wilayah Izin
Usaha

Pertambangan

dan

Wilayah

Izin

Usaha

Pertambangan Khusus;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan b, perlu untuk menetapkan Keputusan
Menteri

Energi

Penetapan

dan

Tanda

Sumber

Daya

Mineral

tentang

Batas

WIUP/WIUPK*)

PT**).

................

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor

68,

Tambahan

Lembaran

Negara

Republik

Indonesia Nomor 4725);


2. Undang-Undang

Nomor

Tahun

2009

tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi
Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5214);
4. Undang-Undang
Pemerintahan

Nomor
Daerah

23

Tahun

(Lembaran

2014

Negara

tentang
Republik

Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang
Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 8, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5393);

- 56 6. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2014 tentang
Pelaksanaan

Undang-Undang

Nomor

Tahun

2011

Tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 2014 Nomor 31, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5502);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang
Wilayah

Pertambangan

(Lembaran

Negara

Republik

Indonesia Tahun 2010 Nomor 4, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5110);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5111) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 77
Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 263, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5597);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 85,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5142);
11. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor 12 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penetapan
Wilayah Usaha Pertambangan dan Sistem Informasi
Wilayah Pertambangan Mineral dan Batubara (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 487);
12. Keputusan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15
Tahun

2013

Indonesia 2013;

tentang

Sistem

Referensi

Geospasial

- 57 MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN : KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA
MINERAL TENTANG PENETAPAN TANDA BATAS WIUP
OPERASI

PRODUKSI/WIUPK

OPERASI

PRODUKSI*)

PT**) ....
KESATU

: Menetapkan

Tanda

Batas

WIUP/WIUPK*)

Operasi

Produksi PT**) .... sesuai dengan peta dan daftar


koordinat pada lampiran Keputusan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor ..... tentang Pemberian
IUP/IUPK*) Operasi Produksi kepada PT**)..... dengan
Kode

Wilayah

....

sebagaimana

tercantum

dalam

Lampiran Keputusan Menteri ini.


KEDUA

: Dengan Penetapan Tanda Batas WIUP/WIUPK* Operasi


Produksi PT**) .... sebagaimana dimaksud pada diktum
KESATU, maka batas WIUP/WIUPK*) Operasi Produksi
telah sesuai dengan koordinat dalam Keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor ..... tentang
Pemberian

IUP/IUPK*)

Operasi

Produksi

kepada

PT**)..........
KETIGA

: Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal


ditetapkan.
Ditetapkan di .....
pada tanggal .....
a.n.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral


Direktur Jenderal Mineral dan Batubara

..
Tembusan:
1. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
2. Menteri Dalam Negeri
3. Gubernur
4. Bupati

Keterangan:
*)

: Pilih yang sesuai

**)

: Diisi dengan nama pemegang IUP/IUPK

- 58 II.

Lampiran Surat Keputusan Menteri


Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor :
Tanggal :
Lampiran I

: Daftar Koordinat WIUP/WIUPK* dan Tanda Batas


DAFTAR KOORDINAT TANDA BATAS

Nama Perusahaan**)
Lokasi
- Provinsi
- Kabupaten/Kota*)
Komoditas
Kode Wilayah
Luas

:
:
:
:
:
:
:

DAFTAR KOORDINAT TANDA BATAS PENETAPAN

Koordinat WIUP/WIUPK*)

Koordinat Tanda Batas

Deviasi

No.

No.
Titik

Garis

Garis

LU/

Tanda

Garis

Garis

LU/

Bujur

Lintang

LS

Batas

Bujur

Lintang

LS

(cm)

(cm)

(BT)

(BT)

1.

1.
1A.

...

...

a.n. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral


Direktur Jenderal Mineral dan Batubara

.
Keterangan:
*)

: Pilih yang sesuai

**)

: Diisi dengan nama pemegang IUP/IUPK

Ket.

- 59 Lampiran II : Peta Situasi Tanda Batas WIUP/WIUPK*


PETA SITUASI TANDA BATAS

Peta Indeks

Peta Tanda Batas WIUP


Diperuntukan bagi :
Tanggal Proses
:
Operator/ Editor
:
Kode Wilayah :
Luas Wilayah :
Komoditas
:
Lokasi Kegiatan
- Provinsi
:
- Kabupaten ;

Legenda:

Skala :
1:10.000
Datum: SRGI 2013
Sistem Koordinat:
Geodetik
Sumber Peta Dasar:

Keterangan:
*)

: Pilih yang sesuai

**)

: Diisi dengan nama pemegang IUP/IUPK

Instansi penerbit

- 60 LAMPIRAN VIII B
FORMAT PENETAPAN TANDA BATAS YANG DITERBITKAN GUBERNUR
I. Format Surat Keputusan Gubernur
PEMERINTAH PROVINSI ..................
KEPUTUSAN GUBERNUR ....................
NOMOR:
TENTANG
PENETAPAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
OPERASI PRODUKSI/WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
OPERASI PRODUKSI*)
PT ... **)
GUBERNUR ....................
Menimbang

a. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber


Daya Mineral Nomor

.................

Pemasangan

Batas

Wilayah

Izin

Usaha

Wilayah

Izin

Usaha

Tanda

Pertambangan

(WIUP)

dan

Pertambangan

Khusus

(WIUPK),

tentang Tata Cara

setiap

pemegang

IUP/IUPK Operasi Produksi wajib memasang Tanda Batas


WIUP/WIUPK*);
b. bahwa berdasarkan hasil evaluasi terhadap pemasangan
Tanda Batas WIUP PT**)........, pelaksanaan pemasangan
Tanda Batas telah sesuai dengan Peraturan Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral Nomor tentang Tata Cara
Pemasangan

Tanda

Batas

Wilayah

Izin

Usaha

Pertambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan


Khusus;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan b, perlu untuk menetapkan Keputusan
Gubernur........... tentang Penetapan Tanda Batas WIUP
PT**). ...................

- 61 Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor

68,

Tambahan

Lembaran

Negara

Republik

Indonesia Nomor 4725);


2. Undang-Undang

Nomor

Tahun

2009

tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi
Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5214);
4. Undang-Undang
Pemerintahan

Nomor
Daerah

23

Tahun

(Lembaran

2014

Negara

tentang
Republik

Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang
Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 8, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5393);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2014 tentang
Pelaksanaan

Undang-Undang

Nomor

Tahun

2011

Tentang Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 2014 Nomor 31, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5502);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang
Wilayah

Pertambangan

(Lembaran

Negara

Republik

Indonesia Tahun 2010 Nomor 4, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5110);

- 62 9. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang


Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5111) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 77
Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 263, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5597);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran
Negara

Republik

Indonesia

Tahun

2010

Nomor

85,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor


5142);
11. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor 12 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penetapan
Wilayah

Usaha

Pertambangan

dan

Sistem

Informasi

Wilayah Pertambangan Mineral dan Batubara (Berita


Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 487);
12. Keputusan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15
Tahun

2013

tentang

Sistem

Referensi

Geospasial

Indonesia 2013;
13. Peraturan Daerah............
MEMUTUSKAN :
MENETAPKAN : KEPUTUSAN GUBERNUR PROVINSI..............TENTANG
PENETAPAN TANDA BATAS WIUP OPERASI PRODUKSI
PT**) ....
KESATU

: Menetapkan Tanda Batas WIUP Operasi Produksi PT**)


.... sesuai dengan peta dan daftar koordinat pada
lampiran

Keputusan

Gubernur

Nomor

.....

tentang

Pemberian IUP Operasi Produksi kepada PT**)..... dengan


Kode

Wilayah

....

sebagaimana

Lampiran Keputusan Menteri ini.

tercantum

dalam

- 63 KEDUA

: Dengan Penetapan Tanda Batas WIUP Operasi Produksi


PT**) .... sebagaimana dimaksud pada diktum KESATU,
maka batas WIUP Operasi Produksi telah sesuai dengan
koordinat dalam Keputusan Gubernur Nomor ..... tentang
Pemberian IUP Operasi Produksi kepada PT**)..........

KETIGA

: Keputusan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal


ditetapkan.
Ditetapkan di .....
pada tanggal ......
Gubernur Provinsi....

..
.
Tembusan:
1.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral

2.

Menteri Dalam Negeri

3.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan


Sumber Daya Mineral

4.

Bupati

Keterangan:
*)

: Pilih yang sesuai

**)

: Diisi dengan nama pemegang IUP

- 64 II. Lampiran Surat Keputusan Gubernur


Keputusan Gubernur Provinsi...
Nomor :
Tanggal :
Lampiran I : Daftar Koordinat WIUP dan Tanda Batas
DAFTAR KOORDINAT TANDA BATAS
Nama Perusahaan**)
Lokasi
- Provinsi
- Kabupaten/Kota*)
Komoditas
Kode Wilayah
Luas

:
:
:
:
:
:
:

DAFTAR KOORDINAT TANDA BATAS PENETAPAN

Koordinat WIUP
No.
Titik

Koordinat Tanda Batas

Deviasi

No.
Garis

Garis

LU/

Tanda

Garis

Garis

LU/

Bujur

Lintang

LS

Batas

Bujur

Lintang

LS

(cm)

(cm)

(BT)

1.

(BT)

1.
1A.

...

...

Gubernur Provinsi...

..

Ket.

- 66 LAMPIRAN IX
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 33 TAHUN 2015
TENTANG
TATA CARA PEMASANGAN TANDA BATAS WILAYAH IZIN USAHA
PERTAMBANGAN DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
KHUSUS MINERAL DAN BATUBARA
FORMAT LAPORAN
HASIL PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN TANDA BATAS
Nama Pemegang IUP/IUPK*) .........................
Bentuk I.t.

No.

JENIS
TANDA
BATAS

1.

Tanda
Batas
Sudut

2.

Tanda
Batas
Referensi

3.

Tanda
Batas
Perapatan

JUMLAH

BAIK
Terawat

Tidak
Terawat

KONDISI
RUSAK
Terawat

Tidak
Terawat

HILANG

KETERANGAN

Keterangan:
RUSAK

: Tanda Batas tidak sesuai dengan ketentuan dalam


Lampiran III Peraturan Menteri ini.
BAIK
: Tanda Batas sesuai dengan ketentuan dalam Lampiran III
Peraturan Menteri ini.
TERAWAT
: Tidak terdapat tumbuh-tumbuhan yang menutupi
Tanda Batas dalam radius 1 (satu) meter.
TIDAK TERAWAT : Terdapat tumbuh-tumbuhan yang menutupi Tanda
Batas dalam radius 1 (satu) meter.
*)
: Diisi dengan nama pemegang IUP/IUPK.
Kepala Teknik Tambang

.....................................

- 67 FORMAT DOKUMENTASI
PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN TANDA BATAS
Nama Pemegang IUP/IUPK*) .............................
Bentuk II.t
No.
1.1

Jenis
Sudut**)

Nomor

Koordinat
Geografis

Dokumentasi

Tanggal Foto

XY-1
FOTO***
*)

1.2

XY-5
FOTO***
*)

...

.
.
2.1

Perapatan***)

XY-1a
FOTO***
*)

2.2

XY-1b
FOTO***
*)

...

.
.
Keterangan:
*)

: Diisi dengan nama pemegang IUP/IUPK.

**)

: Tanda Batas Sudut dan Tanda Batas Referensi yang wajib


didokumentasikan minimal 25% dari jumlah Tanda Batas.

***) : Tanda Batas Perapatan yang wajib didokumentasikan minimal 1 (satu)


buah dalam setiap sisi yang dipasang Tanda Batas Perapatan.
****) : Foto landscape yang menunjukkan dengan jelas identitas Tanda Batas,
ukuran minimal panjang 6 cm x lebar 4 cm, dengan resolusi minimal
8 (delapan) megapiksel.