Anda di halaman 1dari 100

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

halaman
i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

HALAMAN PERSEMBAHAN

iii

MOTTO

iv

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xii

ABSTRAKSI xii

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

1.2

Rumusan Masalah

1.3

Tujuan

1.4

Batasan Masalah

1.5

Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1

Umum

2.2

Penelitian Sebelumnya

BAB III LANDASAN TEORI

3.1

Pengertian dan Maksud Irigasi

3.1.1

Klasifikasi Jaringan Irigasi

3.1.2

Jaringan Irigasi Sederhana

3.1.3

Jaringan Irigasi Semi Teknis

3.1.4

Jaringan Irigasi Teknis

3.2

Bangunan

12

3.2.1

Bangunan Utama

12

3.2.2

Jaringan Irigasi

14

3.3

Kebutuhan Air Irigasi

16

3.3.1

Kebutuhan Air selama Penyiapan Lahan

16

3.3.2

Kebutuhan Air Pada Saat Masa Tanam

18

3.4

Ketersediaan Air Di Lahan

22

3.5

Evaporasi

23

3.6

Transpirasi

24

3.7

Evapotranspirasi

25

3.8

Evapotranspirasi Potensial

28

3.9

Kebutuhan Air Bersih

33

3.9.1

Tingkat Pemakaian Air

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

33
35

4.1

Metode Penelitian

35

4.2

Lokasi Penelitian

35

4.3

Metode Pengambilan Data

35

4.4

Data Diperlukan

36

4.4.1

Data Primer

36

4.4.2

Data Sekunder

37

4.5

Analisis Kebutuhan Air Di Sawah Untuk Padi

41

4.5.1

Analisis NFR Waktu Pengolahan Lahan

41

4.5.2

Analisis NFR Waktu Masa Tanam

42

4.5.3

Analisis Ketersediaan Air di Lahan ( R5 )

43

4.5.4

Analisis Debit Kebutuhan Air Irigasi ( Q )

43

4.6

Perhitungan Alokasi Air Irigasi

43

4.6.1

Kebutuhan Air Bersih Untuk Domestik ( Rumah Tangga )

44

4.6.2

Kebutuhan Air Bersih Untuk Non Domestik

45

4.6.3

Kebutuhan Air Untuk Perikanan

46

4.7

Flow Chart

BAB V ANALISIS DATA

47
48

5.1 Umum

48

5.2 Analisis Hujan Efektif ( Re )

48

5.2.1

Analisis Ketersediaan Air di Lahan (R5)

48

5.2.2

Hujan Efektif ( Re )

55

5.3 Evapotranspirasi

56

5.4 Analisis Kebutuhan Air di Sawah untuk Padi ( NFR )

63

5.4.1

Analisis NFR Pada Saat Pengolahan Lahan Masa Tanam 1 (Padi) 63

5.4.2

Analisis NFR Pada Masa Tanam 1 (Padi)

5.4.3

Analisis NFR Pada Saat Pengolahan Lahan Masa Tanam 2 (Padi) 66

5.4.4

Analisis NFR Pada Masa Tanam 2 (Padi)

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN


6.1

Hasil Penelitian

65

67
70
70

6.1.1

Keadaan Eksisting Pada Daerah Irigasi Bendung Pengasih

70

6.1.2

Hitungan

70

6.2

Pembahasan

72

6.2.1

Alokasi Air Untuk Kebutuhan Air Tingkat Domestik

73

6.2.2

Alokasi Air Untuk Kebutuhan Tingkat Non Domestik

74

6.2.3

Kebutuhan Air Perikanan

77

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

79

7.1

Kesimpulan

79

7.2

Saran

80

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
halama

Tabel 3.1 Klasifikasi Jaringan Irigasi

Tabel 3.2 Kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan

18

Tabel 3.3 Harga Koefisien Tanaman (Kc )

20

Tabel 3.4 Angka koreksi ( c ) bulanan untuk rumus Penman

31

Tabel 3.5 Hubungan T dengan ea, w, f(t)

31

Tabel 3.1 Harga Ra untuk 5o LU 10o LS

32

Tabel 5.1 Data Curah Hujan Setengah Bulanan untuk Bulan Januari - Maret

49

Tabel 5.3 Data Curah Hujan Setengah Bulanan untuk Bulan Juli - September

49

Tabel 5.4 Data Curah Hujan Setengah Bulanan untuk Bulan Oktober - Desember
50
Tabel 5.5 Probabilitas Hujan untuk Bulan Januari - Maret

51

Tabel 5.6 Probabilitas Hujan untuk Bulan April - Juni

51

Tabel 5.7 Probabilitas Hujan untuk Bulan Juli - September

52

Tabel 5.8 Probabilitas Hujan untuk Bulan Oktober - Desember

52

Tabel 5.9 Nilai R5 perbandingan dengan metode grafik dan Interpolasi linier

54

Tabel 5.10 Nilai hujan efektif ( Re ) untuk bulan Januari - Juni

55

Tabel 5.11 Nilai hujan efektif ( Re ) untuk bulan Juli - Desember

56

Tabel 5.12 Perhitungan Evapotranspirasi Potensial ( ETo ) dengan metode


Penman Modifikasi

61

Tabel 5.13 Hasil perhitungan NFR

69

Tabel 6.1 Luas areal irigasi pada bendung pengasih

71

Tabel 6.2 Hasil perhitungan debit air irigasi pada Bendung Pengasih

72

Tabel 6.3 Data Tempat Pelayanan Umum Daerah Kulonprogo

75

Tabel 6.4 Kebutuhan air non domestik untuk daerah Kulonprogo

77

DAFTAR GAMBAR
halaman
Gambar 3.1 Jaringan Irigasi Sederhana

Gambar 3.2 Jaringan Irigasi Semi Teknis

Gambar 3.3 Jaringan Irigasi Teknis

10

Gambar 3.3 Jaringan Irigasi Teknis

15

Gambar 3.4 Piramida Kebutuhan Air Bersih

34

Gambar 4.1 Peta Lokasi Bendung Pengasih Wates Kulon Progo

35

Gambar 4.2 Peta Topografi Sungai Serang

39

Gambar 4.3 Peta Letak Sungai daerah Kabupaten Kulonprogo

40

Gambar 4.4 Flow Chart Penelitian

47

Gambar 5.1 Grafik Evapotrasnpirasi pada DAS Serang

62

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kartu Bimbingan dan Peserta Tugas Akhir


Lampiran 2 Data Curah Hujan Tahunan Daerah Pengasih Kulonprogo ( Stasiun
Perekaman Gembongan No. 40D )
Lampiran 3 Grafik Untuk Menentukan Nilai R5
Lampiran 4 Data Klimatologi Daerah Kulonprogo
Lampiran 5 Surat Keputusan Bupati Tahun 2012 2013 Tentang Tata Tanam
Kabupaten Kulonprog

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai Negara agraris, hampir sebagian besar penduduk Indonesia
mencukupi kebutuhan hidupnya pada sektor pertanian. Demikian juga provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta sebagian besar wilayah berupa perkebunan dan
persawahan, sehingga banyak penduduk di pedesaan yang menggantungkan
kehidupannya pada sektor pertanian.
Air adalah salah satu kebutuhan yang sangat pokok bagi tanaman, apalagi
untuk Daerah Istimewa Yogyakarta yang usaha pada sektor pertanian didominasi
tanaman padi, maka kebutuhan air irigasi untuk mengairi sawah merupakan hal
yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman padi. Pemberian air irigasi harus
disesuaikan dengan luas sawah yang akan diairi. Pemberian air irigasi yang tidak
sesuai, baik itu berlebih maupun kekurangan akan berdampak buruk bagi
pertumbuhan tanaman padi, maka debit kebutuhan air irigasi harus benar benar
diperhitungkan dan disesuaikan dengan luas areal irigasi yang tersedia.
Bendung Pengasih merupakan salah satu bendung yang terdapat di
kecamatan Pengasih Wates Kabupaten Kulonprogo. Air dari bendung pengasih
bersumber dari aliran sungai Serang yang suplesi air didapat dari Waduk Sermo
dan Kali Bawang dan direncanakan untuk mengairi sebagian lahan produktif di
Kabupaten Kulon Progo yang luas areal irigasinya seluas 2.757 ha.
Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, kebutuhan tempat tinggal
juga akan semakin meningkat. Meningkatnya kebutuhan tempat tinggal selalu
akan diiringi dengan pembangunan fasilitas fasilitas umum lainnya seperti
pertokoan, bahkan di Kulonprogo sendiri direncanakan akan dibangun sebuah
bandara Internasional untuk kota Yogyakarta, yang nantinya akan mengorbankan
beberapa lahan produktif yang berada di Kabupaten Kulon Progo.
Berkurangnya lahan untuk area irigasi akan menyebabkan terjadi
kelebihan debit kebutuhan air untuk irigasi. Dengan situasi yang seperti diuraikan
di atas, maka perlu adanya analisis evaluasi ulang untuk kebutuhan air irigasi yang

disesuaikan dengan keadaan atau luas areal irigasi yang berfungsi sebagai lahan
pertanian, sehingga kelebihan debit kebutuhan air irigasi ini dapat di kelola atau di
manfaatkan dengan baik.
1.2 Rumusan Masalah
Pada awal perencanaan Bnedung Pengasih, akan digunakan untuk
mengairi areal irigasi seluas 2.757 ha, namun pada kenyataanya pada tahun 2012
2013 pada Surat Keputusan Bupati Kulon Progo nomor 28 Tahun 2012 tentang
Tata Tanam Tahunan Periode 2012 2013 luas areal irigasi yang ditanggung oleh
Bendung Pengasih hanya tersisa 2.111 ha yang efektif untuk lahan pertanian
tanaman padi, maka kebutuhan air irigasi perlu direalokasikan sesuai dengan luas
lahan yang tersedia saat ini.
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui debit kebutuhan air irigasi dengan menghitung debit
kebutuhan air sesuai luas yang tersedia pada tahun 2012 2013 pada
Bendung Pengasih yang mengacu pada Surat

Keputusan Bupati

Kulonprogo Tahun 2012 2013 tentang Sistem Tata Tanam Tahunan


Kabupaten Kulonprogo.
1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah yang digunakan untuk penelitian ini adalah :
1. Penelitian dilakukan di bendung Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Dengan

mengetahui

debit

kebutuhan

air

irigasi

pada

awal

direncanakan dan debit kebutuhan air irigasi pada tahun 2013, maka
akan diketahui selisih debit kebutuhan air irigasi yang dapat
dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan air selain untuk air irigasi.

2. BAB II
3.
4. KAJIAN PUSTAKA
5.
6.
7.
2.1 Umum
8.

Irigasi merupakan kegiatan yang berkaitan dengan usaha


mendapatkan air untuk pengairan sawah, ladang , perkebunan dan
usaha pertanian yang lainnya. Maksud dan tujuan irigasi adalah untuk

9.

mencukupi kebutuhan air guna pertanaian ( R. Gandrakusumah, 1975 )


Keperluan air untuk beberapa jenis tanaman berbeda beda, padi
memerlukan lebih banyak air dibandingkan dengan palawija.
Pemberian air pada tanaman padi harus terus menerus, walaupun
sehari harinya tidak harus sama banyaknya dan untuk tanaman
palawija pemberian airnya kira kira 0,25 atau 0,20 kebutuhan air

untuk padi ( R. Gandakusumah, 1975 )


10.
2.2 Penelitian Sebelumnya
11.

Kajian Pustaka pada penelitian ini digunakan beberapa penelitian


penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, antara lain :

12.
1. Idhris Sahdi Ishak & Eko Prasetyawan Nugroho, 2006
13.
Di dalam laporan penelitian yang ditulis oleh Idhris Sahdi
Ishak & Eko Prasetyawan Nugroho ( 2006 ), yang berjudul Optimalisasi
Pemanfaatan Sumber Air Umbul Wadon Untuk Irigasi Dan Penyediaan Air
Bersih , disebutkan bahwa dengan menggunakan perhitungan curah hujan
efektif dua mingguan , masa tanam pertama bulan oktober1 dengan pola
tanam padi padi palawija, tanpa rotasi, debit kebutuhan irigasi adalah
793.0lt/dt dan debit yang tersedia adalah 467.36lt/dt sehingga tidak
mencukupi untuk mengairi lahan pertanian seluas 431 ha pada waktu
penyiapan lahan pada masa tanam pertama. Untuk mengatasinya, system
pemberian air dilakukan dengan cara rotasi dan penelitian di coba dengan
analisis tiap tiap bulan, dan hasilnya jika dengan pola tanam padi
palawija dengan system pemberian air secara rotasi maka air yang tersedia
untuk irigasi mencukupi, dengan masa tanam pertama bulan November.

Dan apabila pola tanam padi padi palawija diganti dengan pola tanam
padi - palawija palawija dan pembagian airnya dilakukan dengan cara
rotasi , dengan masa tanam pertama bulan januari, debit mata air Umbul
Wadon untuk irigasi mencukupi bahkan berlebih untuk mengairi lahan
pertanian seluas 431 ha, dan memiliki debit sisa sebesar 98,6 lt/dt.
Sehingga debit yang tersisa untuk irigasi tersebut mampu menutupi
kekurangan debit yang dialami PDAM Tirta Dharma yaitu sebesar 25,6
lt/dt dan bahkan berlebih karena debit minimum tersisa sebesar 98,6 lt/dt
yang dapat digunakan untuk menambah kapasitas pelanggan PDAM.
Kapasitas pelanggan PDAM Tirta Dharma Sleman sebesar 18.135.792
lt/hr dari kapasitas debit 209,9 lt/dt mampu melayani pelanggan yang ada
sejumlah 18.887 unit sambungan, dan setelah mendapatkan penambahan
debit dari irigasi sebesar 98,6 lt/dt maka kapasitas debit PDAM Tirta
Dharma menjadi 255,355 lt/dt dan mampu untuk meningkatkan pelayanan
maksimal sampai 28.608 unit sambungan.
14.
2. Novin Erianto, 2009
15.
Di dalam laporan penelitian yang ditulis oleh Novin Erianto
( 2009 ) , yang berjudul Analisis Ketersediaan Air Untuk Irigasi Di
Daerah Kecamatan Karangmojo Gunung Kidul disebutkan bahwa dari
hasil penelitian pada Kecamatan Karangmojo, Wonosari, Gunung Kidul
melalui bab analisis dan pembahasan dapat diperoleh beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Hasil analisis didapat nilai evapotranspirasi ( mm/hari ) untuk daerah
Kecamatan Karangmojo berurutan mulai dari bulan Januari Desember
sebesar : 3,81 ; 3,91 ; 4,08 ; 4,12 ; 4,05 ; 4,25 ; 4,42 ; 5,04 ; 5,54 ; 5,77 ;
4,06 ; 4,20. Dan untuk curah hujan efektif bulan Januari Desember
( mm/hari ) adalah : 1,90 ; 5,36 ; 4,22 ; 0,65 ; 0,49 ; 0 ; 0,07 ; 0 ; 0 ; 0,07 ;
1,41 ; 4,99.
2. Kebutuhan air dengan menggunakan system rotasi 2 golongan dapat
dilakukan dengan pola tanam padi padi palawija dengan mengandalkan
curah hujan dan sumur pompa, dimana awal tanam yang tepat pada
pertengahan bulan November.

3. Luas areal efektif untuk ditanami ditiap lokasi sumur pompa dapat dicakup
dengan membagi luas petak yang dapat menjadi 4 bagian dari luas
keseluruhan. Untuk tiap 2 bagian merupakan blok awal untuk memuali
masa rotasi tanam pertama.

16.BAB III
17.
18.LANDASAN TEORI
19.
20.
21.
22. 3.1
23.

Pengertian dan Maksud Irigasi


Irigasi berasal dari istilah irrigatie dalam bahasa Belanda ataau

irrigation dalam bahasa Inggris. Irigasi dapat diartikan sebagai suatu


usaha yang dilakukan untuk mendatangkan air dari sumbernya guna
keperluan pertanian, mengalirkan dan membagikan air secara teratur
dan setelah digunakan dapat dibuang kembali. Istilah pengairan yang
sering didengar dapat diartikan sebagai usaha pemanfaatan air pada
umumya, berarti irigasi termasuk di dalamnya.
24.
Maksud irigasi yaitu untuk mencukupi kebutuhan air irigasi
di musim hujan bagi keperluan pertanian seperti membasahi tanah,
merabuk, mengatur suhu tanah, menghindarkan gangguan hama dan tanah
dan sebagainya. Tanaman yang diberi air irigasi umumnya dapat membagi
dalam tiga golongan besar yaitu padi, tebu, palawija seperti jagung,
kacang kacangan, bawang, cabe dan sebagainya.
25.
3.1.1

Klasifikasi Jaringan Irigasi


26.

Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran aliran beserta

kelengkapan dalam fasilitas, jaringan irigasi dapat dikelompokkan menjadi


3 ( tiga ) jenis, yaitu :
1. Jaringan Irigasi sederhana
2. Jaringan Irigasi Semi Teknis , dan
3. Jaringan Irigasi Teknis
27. Perbedaan ketiga jenis jaringan irigasi tersebut dapat diperlihatkan
pada Tabel 3.1.

28. Tabel 3.1 Klasifikasi Jaringan Irigasi


29.
30.
Irigasi
32. Teknis
35.

40.

45.

36. B
an
gu
na
n
Ut
a
m
a
41. K
e
m
a
m
pu
an
B
an
gu
na
n
da
la
m
m
en
gu
ku
r
da
n
m
en
ga
tu
r
de
bi
t
46. Ja
ri
ng

37. Bangunan
Permanen

Klasifikasi Jaringan
33. Semi
Teknis
38. Bangu
nan
Perma
nen
atau
semi
Perma
nen

34. Sed
erh
ana
39. Ban
gun
an
Sed
erh
ana

42. Baik

43. Sedan
g

44. Jele
k

47. Saluran
Irigasi dan
pembuang

48. Salura
n
Irigasi

49. Sal
ura
n

an
Sa
lu
ra
n

50.

55.

60.

65.

terpisah

51. Pe
ta
k
Te
rsi
er

56. Ef
isi
en
si
se
ca
ra
ke
se
lu
ru
ha
n
61. U
ku
ra
n
66. Ja
la
n
U
sa

dan
Pemb
uang
tidak
sepen
uhnya
terpisa
h

52. Dikembang
kan
sepenuhnya

53. Belum
dikem
bangk
an
atau
identit
as
bangu
nan
tersier
jarang

57. Tinggi 50
60 %
( ancar
ancar )

58. Sedan
g 40
-50 %
( Anca
r
ancar
)

62. Tak ada


batasan

63. Samp
ai
2.000
ha

67. Ada ke
seluruh
areal

68. Hanya
sebagi
an
areal

Irig
asi
dan
pe
mb
uan
g
jadi
satu
54. Bel
um
ada
jari
nga
n
terp
isah
yan
g
dik
em
ban
gka
n
59. Kur
ang
, 40
%
(An
car

anc
ar)
64. Tak
lebi
h
dari
500
ha
69. Cen
der
ung
tida
k

ha
Ta
ni
71. K
on
di
si
O
&
P

70.

ada

- Ada instansi yang


menangani
- Dilaksanakan teratur

72. Belum
Teratu
r

73. Tid
ak
ada
O
&P

74. Sumber : Standar Perencanaan Irigasi KP 01

75.
3.1.2
76.

Jaringan Irigasi Sederhana


Jaringan irigasi sederhana biasanya diusahakan secara mandiri oleh

suatu
77. kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun
kemampuan dalam
78. mengukur dan mengatur masih sangat terbatas. Ketersediaan air
biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai
curam, sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan
irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai
air dari latar belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih
memiliki beberapa kelemahan antara lain :
1. terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang,
2. air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah bawah yang
lebih subur, dan
3. bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga tidak mampu
bertahan lama.
79. Contoh jaringan irigasi sederhana dapat dilihat pada gambar 3.1.

10

80.

3.1.3
84.

81. Gambar 3.1 Jaringan Irigasi Sederhana


82. (Sumber : Kriteria Perencanaan Irigasi KP 01 )
83.
Jaringan Irigasi Semi Teknis
Jaringan semi teknis ini merupakan wujud suatu pengembangan
dari jaringan irigasi sederhana. Yang membedakan antara jaringan
irigasi semi teknis dan jaringan irigasi sederhana adalah saluaran di
jaringan irigasi semi teknis ini sudah terdapat bebrapa bangunan
permanen, namun dalam system pembagiannya belum begitu optimal
untuk mengatur dan mengukur dalam melayani irigasi. Oleh sebab itu
sistem pengorganisasiannya biasanya akab lebih rumit. Maka
dibutuhkan keterlibatan dari pemerintah, dalam hal ini Departement

Pekerjaan Umum.
85. Contoh jaringan irigasi sederhana dapat dilihat pada gambar 3.2.

11

86.

3.1.4

87.
88. Gambar 3.2 Jaringan Irigasi Semi Teknis
89. (Sumber : Kriteria Perencanaan Irigasi KP 01 )
90.
Jaringan Irigasi Teknis
91.

Dalam jaringan irigasi teknis bangunan sadap dan

bangunan bagi sudah di buat secara permanen. Selain itu bangunan bagi
dan sadap sudah mampu mengatur dan mengukur debit yang diperlukan
untuk melayani daerah irigasi. Dalam pengaturan dan pengukurannya
dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier. Untuk
memudahkan system pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun
suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak
tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil. Gambar 3.3
memberikan ilustrasi jaringan irigasi teknis sebagai pengembangan dari
jaringan irigasi semi teknis.
92. Contoh jaringan irigasi sederhana dapat dilihat pada gambar 3.3.

12

93.
94. Gambar 3.3 Jaringan Irigasi Teknis
95. (Sumber : Kriteria Perencanaan Irigasi KP 01 )
96.
1. Petak Ikhtisar
97.
Petak ikhtisar adalah penggambaran berbagai macam bagian dari
suatu jaringan irigasi yang saling berhubungan. Peta ikhtisar dapat pada peta tata
letak.
98. Peta ikhtisar irigasi memperlihatkan :
a. Bangunan bangunan utama
b. Jaringan dan trase saluran irigasi
c. Jaringan dan trase saluran pembuang
d. Petak petak primer, sekunder dan tersier
e. Lokasi bangunan

13

f. Batas batas daerah irigasi


g. Jaringan dan trase jalan
h. Daerah daerah yang tidak diairi ( misal wilayah desa , tanah jelek,
terlalu tinggi dsb ).
99. Petak ikhtisar umum dibuat berdasarkan peta topografi yang
dilengkapi dengan garis garis kontur dengan skala 1 : 25.0000. Peta
ikhtisar detail yang biasa disebut petak petak, dipakai untuk
perencanaan dibuat dengan skala 1 : 5.000, dan untuk petak tersier
1:5.000 atau 1:2.0000.
2.

Petak Tersier
100. Perencanaan dasar yang berkenan dengan unit tanah adalah petak

tersier. Petak tersier menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan
sadap (off take) tersier yang menjadi tanggung jawab Dinas Pengairan. Bangunan
sadap tersier mengalirkan airnya ke saluran tersier. Di petak tersier pembagian air,
eksploitasi dan pemeliharaan menjadi tanggung jawab para petani yang
bersangkutan, di bawah bimbingan pemerintah. Ini juga menentukan ukuran petak
tersier. Petak yang terlalu besar akan mengakibatkan pembagian air menjadi tidak
efisien. Faktor faktor yang penting lainnya adalah jumlah petani dalam satu
petak, jenis tanaman dan topografi. Di daerah daerah yang ditanami padi luas
petak tersier idealnya maksimum 50 ha, tapi dalam keadaan tertentu dapat ditolelir
sampai seluas 75 ha, disesuaikan dengan kondisi topografi dan kemudahan
eksploitasi dengan tujuan agar pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan lebih
mudah. Petak tersier harus mempunyai batas batas yang jells seperti misalnya
parit, jalan, bats desa dan batas perubahan bentuk medan ( terrain fault ).
101. Petak tersier dibagi menjadi petak petak kuarter, masing
masing seluas kurang lebih 8 15 ha. Apabila keadaan topografi memungkinkan,
bentuk petak tersier sebaiknya bujur sangkar atau segi empat untuk
mempermudah pengaturan tata letak dan memungkinkan pembagian air secara
efisien. Petak tersier harus terletak langsung berbatasan dengan saluran sekunder
atau saluran primer. Perkecualian apabila petak petak tersier tidak secara
langsung terletak di sepanjang jaringan saluran irigasi utama dengan demikian,
memerlukan saluran tersier yang membatasi petak petak tersier lainnya, hal ini
harus dihindari. Panjang saluran tersier sebaiknya kurang dari 1.500 m, tetapi

14

dalam kenyataannya kadang kadang mencapai 2.500 m. Panjang saluran kuarter


lebih baik di bawah 500 m, tetapi prakteknya mencapai 800 m.
3. Petak Sekunder
102.

Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang

kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder


menerima air bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder.
Batas batas petak sekunder pada umumnya berupa topografi yang jelas
misalnya saluran drainase. Luas petak sekunder dapat berbeda beda
tergantung pada kondisi topografi yang bersangkutan.
103. Saluran sekunder pada umumnya terletak pada punggung
mengairi daerah di sisi kanan dan kiri saluran tersebut sampai saluran
drainase yang membatasinya. Saluran sekunder juga dapat direncanakan
sebagai saluran garis tinggi yang mengairi lereng lereng medan yang lebih
rendah.
4.

Petak Primer
104.

Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang

mengambil langsung air dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh
satu saluran primer yang mengambil air langsung dari sumber air, biasanya
sungai. Daerah di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani
dengan mudah dengan cara menyadap air dari saluran sekunder. Apabila
saluran primer melewati sepanjang garis tinggi daerah saluran primer yang
berdekatan , harus dilayani langsung dari saluran primer. ( Kriteria
Perencanaan Irigasi 01 )
105.
106.
3.2.1

3.2

Bangunan

Bangunan Utama
107.

Bangunan utama (head works) dapat didefinisikan sebagai

kompleks bangunan yang direncanakan di sepanjang sungai atau aliran air


untuk membelokkan air ke dalam jaringan saluran agar dapat dipakai
untuk keperluan irigasi. Bangunan utama dapat mengurangi kandungan
sedimen yang berlebihan, serta mengukur debit air yang masuk. Bangunan
utama terdiri dari bendung dengan peredam energi, satu atau dua
pengambilan utama pintu bilas kolam olak dan kantong lumpur, tanggul

15

banjir pekerjaan sungai dan bangunan bangunan pelengkap. Bangunan


utama dapat diklasifikasikan ke dalam sejumlah kategori, bergantung pada
perencanaannya. Berikut akan dijelaskan beberapa kategori bangunan
utama menurut buku Kriteria Perencanaan Irigasi 01 :
1. Bendung Gerak
108. Bendung ( weir ) atau bendung gerak ( barrage ) dipakai untuk
meninggikan muka air di sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air
dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier. Ketinggian itu akan
menentukan luas daerah yang diairi ( command area ) bendung gerak adalah
bangunan yang dilengkapi dengan pintu yang dapat dibuka untuk mengalirkan air
pada waktu terjadi banjir besar dan ditutup apabila aliran kecil. Di Indonesia,
bendung adalah bangunan yang paling umum dipakai untuk membelokkan air
sungai untuk keperluan irigasi.
2. Bendung karet
109. Bendung karet memiliki dua bagian pokok yaitu tubuh bendung
yang terbuat dari karet dan pondasi beton berbentuk plat beton sebagai dudukan
tabung karet serta dilengkapi satu ruang kontrol dengan beberapa perlengkapan
( mesin ) untuk mengontrol mengembang dan mengempisnya tabung karet.
Bendung berfungsi meninggikan muka air dengan cara mengembangkan tubuh
bendung dan menurunkan muka air dengan cara mengempiskan tubuh bendung
yang terbuat dari tabung karet dapat diisi dengan udara atau air. Proses pengisian
udara atau air dari pompa udara atau air dilengkapi dengan instrument pengontrol
udara atau air ( manometer ).
3. Pengambilan Bebas
110. Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat di tepi sungai
yang mengalirkan air sungai ke dalam jaringan irigasi, tanpa mengatur tinggi
muka air di sungai. Dalam keadaan demikian, jelas bahwa muka air di sungai
harus lebih tinggi dari daerah yang diairi dan jumlah air yang dibelokkan harus
dapat dijamin cukup.
4. Pengambilan dari Waduk
111. Waduk ( reservoir ) digunakan untuk menampung air irigasi pada
waktu terjadi surplus air di sungai agar dapat dipakai sewaktu waktu terjadi
kekurangan air. Jadi , fungsi utama waduk adalah untuk mengatur aliran sungai.
Waduk yang berukuran besar sering mempunyai banyak fungsi seperti untuk

16

keperluan irigasi, tenaga air pembangkit listrik , pengendali banjir, perikanan dsb.
Waduk yang berukuran lebih kecil dipakai untuk keperluan irigasi saja.
5. Stasiun pompa
112. Irigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan apabila pengambilan
secara grafitasi ternyata tidak layak dilihat dari segi teknis maupun ekonomis.
Pada mulanya irigasi pompa hanya memerlukan modal kecil, tetapi biaya
eksploitasinya mahal.
113.
3.2.2

Jaringan Irigasi
114.

1. Jaringan irigasi utama

115. a. Saluran primer membawa air dari bendung ke saluran sekunder


dan ke petak petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer
adalah bangunan bagi yabg terakhir, lihat juga Gambar 3.4.
116. b. Saluran sekunder membawa air dari saluran primer ke petak
petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Batas ujung
saluran ini adalah pada bangunan sadap terakhir.
117. c. Saluran pembawa membawa air irigsi dari sumber air lain
(bukan sumber yang memberi air pada bangunan utama proyek ) ke
jaringan irigasi primer.
118. d. Saluran muka tersier membawa air di bangunan sadap tersier ke
petak tersier yang terletak di seberang petak tersier lainnya. Saluran
ini termasuk dalam wewenang dinas irigasi dan oleh sebab itu
pemeliharaannya menjadi tanggung jawabnya.
119.
120.
2. Jaringan irigasi tersier
121. a. Saluran tersier membawa air dari bangunan sadap tersier di
jaringan utama ke dalam petak tersier lalu ke saluran kuarter. Batas
ujung saluran ini adalah boks bagi kuarter yang terakhir.
122. b. Saluran kuarter membawa air dari boks bagi kuarter melalui
bangunan sadap tersier atau parit sawah ke sawah sawah.
123. c. Perlu dilengkapi jalan petani di tingkat jaringan tersier dan
kuarter sepanjang itu memang diperlukan oleh petani setempat dan
dengan persetujuan petani setempat juga, karena banyak ditemukan di
lapangan jalan petani yang rusak sehingga akses petani dari dan ke
swah menjadi terhambat, terutama untuk petak sawah yang paling
ujung.

17

124. d. Pembangunan sanggar tani sebagai sarana untuk diskusi antar


petani

sehingga

partisipasi

petani

lebih

meningkat,

dan

pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi petani


setempat serta diharapkan letaknya dapat mewakili wilayah P3A atau
GP3A setempat.
125.3. Garis Sempadan Saluran
126. dalam rangka pengamanan saluran dan bangunan maka perlu
ditetapkan garis sempadan saluran dan bangunan irigasi yang jauhnya
ditentukan dalam peraturan perundangan sempadan saluran.
127.
128.
129.
1. SALURAN PRIMER
10.000 ha

2.

5000 ha

4000 ha

BENDUNG

SALURAN TURUN

Bangunan Bagi Terakhir

2
4000 ha

2
2000 ha

1000 ha
3000 ha

130. Gambar 3.3 Jaringan Irigasi Teknis


131. (Sumber : Kriteria Perencanaan Irigasi KP 01 )
132.
133.
134.

18

135.

3.3

Kebutuhan Air Irigasi

136.

Kebutuhan air irigasi adalah jumlah air yang harus diambil dari

jaringan irigasi guna memenuhi kebutuhan air pada daerah layanan irigasi, dalam
hal ini termasuk air yang hilang selama dalam perjalanan menuju daerah yang
akan diairi. Perhitungan kebutuhan air irigasi mengacu pada buku Standar
Perencanaan Irigasi. Dalam buku Standar Perencanaan Irigasi dibagi dalam
beberapa bagian, dalam penelitian saya gunakan bagian Perencanaan Jaringan
Irigasi ( KP 01 ) , Kriteria Perencanaan Irigasi bagian Perencanaan Bendung ( KP
02 ) dan Kriteria Perencanaan Irigasi bagian Perencanaan Saluran ( KP 03 ). Buku
standar perencanaan irigasi dirancang oleh Departement Pekerjaan Umum
Direktorat Jendral Pengairan. Di dalam buku standar perencanaan irigasi ,
kebutuhan air irigasi dibedakan menjadi 2 ,yaitu :
1. Kebutuhan air selama Penyiapan Lahan.
2. Kebutuhan Air untuk Tanaman Padi selama Masa Pertumbuhan.
137.
3.3.1 Kebutuhan Air selama Penyiapan Lahan
138. Kebutuhan air selama masa penyiapan lahan adalah pekerjaan
sebelum tanah sawah digunakan untuk menanam padi, maka tanah harus
disiapakan terlebih dahulu. Pekerjaan penyiapan lahan dilakukan agar supaya
diperoleh tanah yang baik digunakan untuk penanaman padi, maka kebutuhan air
selama penyiapan lahan harus diperhitungkan dengan baik. Dalam penelitian
digunakan Standar Perencanaan Irigasi , yaitu buku Kriteria Perencanaan Bagian
Irigasi ( KP 01 ).
139. Di dalam buku Kriteria Perencanaan Bagian Irigasi ( KP 01
Lampiran 2 ) kebutuhan air selama penyiapan lahan dihitung menggunakan rumus
yang dikembangkan oleh Van De Goor dan Ziljstra ( 1968 ). Metode tersebut
didasarkan pada laju air konstan dalam lt/dt selama periode penyiapan lahan
didapat rumus sebagai berikut :
140.
141.
IR=

M ek
(e k 1)

142.
143.
144.

Sedangkan

( 3.1 )

19

145.

147.
148.

M =E0 + P
146.
Dan

( 3.2 )

149.
k=

M xT
S

( 3.3 )

150.
Dengan :
152. IR = kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan, mm/hari
153.M = kebutuhan air untuk mengganti/mengkompensasi kehilangan air
151.

akibat evaporasi dan perkolasi sawah yang sudah dijenuhkan,


mm/hari.
154.E = Evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 ET0 selama penyiapan
lahan.
155.P = Perkolasi , mm/hari
156.T = jangka waktu penyiapan lahan, hari
157.S = kebutuhan air, mm. Untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan
air 50 mm, yakni 200 + 50 = 250 mm, atau jika tanah dibiarkan bera
selama jangka waktu yang lama ( 2,5 bulan atau lebih ) maka nilai S
diambil 300 mm.
158. Untuk memudahkan perhitungan nilai kebutuhan air selama
penyiapan lahan, maka disediakan Tabel 3.2 yang memperlihatkan
kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan yang dihitung menurut
rumus 3.1 di atas :
159.
160.

20

161. Tabel 3.2 Kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan


162. M Eo +
164. T = 30 hari
165. T = 45 hari
P
167. S = 250 168. S = 300 169. S = 250 170. S = 300
163. 171.
Mm/ har5 mm 173.
1 mm 175.
1 mm 177.
8 mm 179.
9
,0
1,1
2,7
,4
,5
172.
174.
176.
178.
180.
181.
65
183.
11
185.
11
187.
98
189.
19
,0
1,7
3,3
,1
0,1
182.
6
184.
1
186.
1
188.
9
190.
11
191.
7
193.
1
195.
1
197.
9
199.
,0
2,3
3,9
,8
0,8
192.
78
194.
11
196.
11
198.
11
200.
11
201.
203.
205.
207.
209.
,0
3,0
4,5
0,5
1,4
202.
8
204.
1
206.
1
208.
1
210.
11
211.
9
213.
1
215.
1
217.
1
219.
,0
3,6
5,2
1,2
2,1
212.
9
214.
1
216.
1
218.
1
220.
11
221.
1
223.
1
225.
1
227.
1
229.
0,0
4,3
5,8
2,0
2,9
222.
1
224.
1
226.
1
228.
1
230.
11
231.
1
232.
1
233.
1
234.
1
235.
1,0
6,5 Pengairan, Bina
2,8 Program PSA
3,6010,
236. 5,0
Sumber : Dirjen
1985

237.

3.3.2 Kebutuhan Air Pada Saat Masa Tanam


238. Dalam KP 03 pasal 2.2.1, selama masa pemeliharaan
kebutuhan air dihitung dengan rumus :
239.
240.
Q=

C x NFR
xA
e

( 3.4 )

241.
242.

Dengan :
243. Q
244. C

= debit kebutuhan air irigasi ( lt/dt )


= koefisien pengurangan karena adanya sitem

golongan ( = 1 )
245. NFR = Net Field Water Requirement ( kebutuhan dasar air sawah
246.
247.

)
( lt/dt/ha )
A = Luas area yang dialiri ( ha )
e = efisiensi saluran
248. Debit kebutuhan air irigasi adalah banyaknya air yang

diambil untuk memenuhi kebutuhan tanaman air. Termasuk di dalam debit


tersebut air yang hilang dalam perjalanan.
249. Nilai NFR didapatkan rumus di bawah ini :
250.

21

251.
252.
253.

NFR=ET C + P+WLR
( 3.5 )
Dengan :
NFR = Net Field Water Requirement ( kebutuhan dasar air sawah

254.
255.
256.
257.

)
( lt/dt/ha )
ETC = Kebutuhan air bagi tanaman, mm/hari.
P = Perkolasi , mm/hari
Re
= Hujan Efektif, mm/hari
WLR = penggantian lapisan air, mm/hari

a. Kebutuhan Air Bagi Tanaman ( Etc )


258. Kebutuhan air bagi tanaman, Etc / Etcorp didefinisikan
sebagai tebal air yang dibutuhkan untuk memenuhi jumlah air yang hilang
melalui evapotranspirasi suatu tanaman sehat, tumbuh pada areal luas,
pada tanah yang menjamin cukup lengas tanah, kesuburan tanah, dan
lingkungan hidup tanaman cukup baik, sehingga secara potensial tanaman
akan berproduksi secara baik. Untuk menghitung besarnya kebutuhan air
bagi tanaman ( Etc ) didapatkan dari perhitungan sebagai berikut :
259.
260.

ET C =ET 0 . K c
( 3.6 )
Dengan :
261.
ETc
= kebutuhan air bagi tanaman, mm/hari
262.
ET0 = Evapotranspirasi tetapan, mm/hari
263.
Kc
= koefisien tanaman, mm/hari
264.
Koefisien tanaman ( Kc ), adalah pengaruh dari watak

tanaman terhadap kebutuhan air bagi tanaman. Pemilihan harga K c


didasarkan pada watak tanaman, waktu tanam, usia tanaman dan kondisi
iklim pada umumnya. Nilai Kc untuk tanaman padi di Indonesia dapat
menggunakan nilai di bawah ini :
265.
266.
267.
Bulan

Tabel 3.3 Harga Koefisien Tanaman (Kc )


268.
Nedeco/ Prosi
269.
FAO
271. Varieta 273. Varieta
275.
V 277. Variae
arietas
tas
s2
s3

22

279.
280.
281.
282.
283.
284.
285.
286.

0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
4

315.

287. 1,20
295. 1,20
301. 1,10
309. 1,10
288. 1,20
296. 1,27
302. 1,10
310. 1,10
289. 1,32
297. 1,33
303. 1,10
311. 1,05
290. 1,40
298. 1,30
304. 1,10
312. 1,05
291. 1,35
299. 1,30
305. 1,10
313. 0,95
292. 1,24
300. 0
306. 1,05
314. 0
293. 1,12
307. 0,95
308. 0
294.
04
Sumber : Dirjen Pengairan, Bina Program PSA 010, 1985

316.
317.

Varietas padi biasa adalah varietas padi yang masa

tumbuhnya lama, varietas unggul adalah varietas padi yang jangka waktu
tumbuhnya pendek.
318. Sedangkan evaptranspirasi tetapan ( Et0 ) didefinisikan
sebagai laju evapotranspirasi dari suatu permukaan luas tanaman rumput
hijau setinggi 8 sampai 15 cm yang menutup tanah dengan ketinggian
seragam, dan seluruh permukaan tanah teduh tanpa suatu bagian yang
menerima sinar secara langsung dan rumput masih tumbuh aktif tanpa
kekurangan air. Evapotranspirasi tetapan sering disebut evapotranspirasi
referensi..
b. Hujan Efektif
319.
Dalam perhitungan debit kebutuhan air irigasi faktor hujan efektif,
dimasukkan sebagai faktor negatif, ini berarti bahwa jika nilai hujan efektif
semakin besar, maka kebutuhan dasar air irigasi di sawah juga akan berkurang,
demikian juga sebaliknya jika nilai hujan efektif, semakin kecil maka kebutuhan
dasar air di sawah akan mengingat.
320. Curah hujan efektif, adalah air hujan yang bisa masuk dan bertahan
di zona perakaran, sehingga bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman. Curah hujan
sebagian hilang sebagai aliran permukaan, evaporasi maupun perkolasi. Hujan
ringan biasanya terhadang oleh daun daunan, lalu menguap sehingga tidak
sampai ke tanah serta memasuki zona perakaran. Besarnya hujan efektif dihitung
dengan rumus sebagai berikut :
321.

322.
Re = 0,7 x

323.
324.

Dengan :

1
x R( Setengah Bulanan ) 5
15

( 3.7 )

23

325.
326.

Re = hujan efektif ( mm )
R5 = curah hujan setengah bulanan minimum untuk kala ulang
5 tahunan

327.
c. Perkolasi
328. Air irigasi yang mengalir ke sawah sebagian hilang karena
menguap dan sebagian lagi hilang karena meresap kedalam tanah. Masuknya air
kedalam tanah disebut sebagai laju infiltrasi. Jumlah air yang masuk ke dalam
tanah tiap satuan waktu disebut sebagai laju infiltrasi. Laju infiltrasi ditentukan
oleh jenis permukaan tanah.
329. Dari permukaan tanah air masuk kedalam tanah, mengisi rongga
romgga antara butir tanah tidak mampu lagi menampung air ( tanah mencapai
kapasitas lapang ( field capacity ) , maka air akan mengalir menuju zona jenuh air.
Peristiwa inilah yang disebut dengan perkolasi. Jumlah air yang menglair dari
zona tidak jenuh air tiap satuan waktu disebut sebagai laju perkolasi.
330. Daya infiltrasi adalah laju infiltrasi maksimum

yang

dimungkinkan, yang ditentukan oleh kondisi permukaan, termasuk lapisan atas


tanah. Daya perkolasi adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan, yang
besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam zona tidak jenuh air, yang terletak
antara permukaan tanah dengan permukaan air tanah. Daya perkolasi kecil akan
terjadi dipermukaan air tanah yang terbentuk karena mengumpulnya air tanah
diatas lapisan semi kedap air, yang dinamakan perched groundwater table.
Perkolasi mempunyai arti penting dalam teknik pengisian buatan ( artificial
recharge ), yang memerlukan proses infiltrasi yang menerus.
331. Sedangkan Menurut ( Soepardi, 1979 ), perkolasi didefinisikan
sebagai pergerakan air bebas ke bawah, yang membebaskan lapisan atas dan
bagian atas dari lapisan bawah tanah ke tempeat yang lebih dalam, dan air yang
berlebihan.
332.

Laju perkolasi sangat bergantung padas sifat sifat tanah. Guna

menentukan laju perkolasi, tinggi muka air tanah juga harus diperhitungkan.
Perembesan terjadi akibat meresapnya air melalui tanggul sawah. Berdasarkan
Direktorat Jendral Pengairan ( 1986 ) nilai Perkolasi dan Rembesan di sawah
sebesar 2 mm/hari.
333.
d. Penggantian Lapisan Air ( WLR )

24

334.

Di dalam Kriteria Perencanaan Bagian Irigasi ( KP 01 ) sub bab

A.2.1.5 disebutkan tentang penggantian lapisan air sebagai berikut :


1. Setelah pemupukan, perlu diusahakan untuk menjadualkan dan
mengganti lapisan air menurut kebutuhan.
2. Jika tidak ada penjadualan semacam itu, dilakukan penggantian lapisan
sebanyak dua kali, masing masing 50 mm ( 3,3 mm/hari , selama
bulan ) selama sebulan dan dua bulan setelah transplantasi.
335.
336.
337.

3.4

Ketersediaan Air Di Lahan

Ketersediaan air di lahan adalah air yang tersedia di suatu lahan

pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di lahan
itu sendiri. Ketersediaan air di lahan yang dapat digunakan untuk pertanian terdiri
dari dua sumber, yaitu kontribusi air tanah dan hujan efektif ( Direktorat Jendral
Pengairan, 1986).
338.
Menurut Direktorat Jendral Pengairan ( 1986 ) kontribusi air tanah
sangat dipengaruhi oleh karakteristik tanah. Kedalaman akuifer dan jenis tanaman
( kedalaman zona perakaran ). Untuk daerah irigasi yang berada pada daerah
aquifer dangkal, kontribusi air tanah diperoleh melalui daya kapiler tanah. Untuk
daerah yang berada pada daerah aquifer dalam kontribusi air tanah sangat kecil
dan dapat dianggap bernilai nol. Dalam praktek analisis ketersediaan air irigasi,
kontribusi air tanah belum diperhitungkan secara teliti.
339.
Curah hujan efektif adalah curah hujan yang secara efektif dan
secara langsung dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman pada masa
pertumbuhan. Curah hujan efektif menurut Direktorat Jendral Pengairan (1986)
diberikan sebagai berikut
340.
341.
P=

m
(3.8)
n+1

342.
343. dengan :
344. P = Probabilitas ( % ),
345. m = nomor urut data,
346. n = jumlah data.
347.
348.

3.5

Evaporasi

25

349. Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul didalam


keadaan cair ( contohnya air ) dengan spontan menjadi gas ( contohnya uap air ).
Proses ini adalah kebalikan dari kondensasi. Umumnya penguapan dapat dilihat
dari lenyapnya cairan secara berangsur angsur ketika terpapar pada gas dengan
volume signifikan.
350. Rata rata molekul tidak memeiliki energy yang cukup untuk lepas
dari cairan. Apabila tidak, cairan akan berubah menjadi uap dengan cepat. Ketika
molekul molekul tersebut saling bertumbukan, molekul akan saling bertukar
energi dalam berbagai derajat, tergantung bagaimana antar molekul ini saling
bertumbukan. Terkadang transfer energi ini berat sebelah, sehingga salah satu
molekul mendapatkan energi yang cukup untuk menembus titik didih cairan.
Apabila peristiwa ini terjadi di dekat permukaan cairan molekul tersebut dapat
terbang ke dalam gas dan menguap.
351. Ada cairan yang kelihatannya tidak menguap pada suhu tertentu di
dalam gas tertentu ( contohnya minyak makan pada suhu kamar ). Cairan seperti
ini memiliki molekul molekul yang cenderung tidak menghantar energi satu
sama lain dalam pola yang cukup untuk memberi satu molekul kecepatan lepas
energi panas yang diperlukan untuk berubah menjadi uap. Namun cairan
seperti ini sebenarnya menguap, hanya saja prosesnya jauh lebih lambat dank
arena itu lebih tak terlihat.
352. Penguapan adalah bagian esensial dari siklus air. Energi surya
menggerakkan penguapan air dari samudera, danau, embun, dan sumber air
lainnya. Dalam hidrologi penguapan dan transpirasi ( yang melibatkan penguapan
di dalam stomata tumbuhan) secara kolektif diistilahkan sebagai evapotranspirasi.
353.
354.

3.6

Transpirasi

355. Adalah hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan. Transpirasi


berbeda dengan penguapan/evaporasi sederhan karena berlangsung pada jaringan
hidup dan dipengaruhi oleh fisiologi tumbuhan. Mekanisme terjadinya transpirasi,
air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar
bergerak menurut gradient potensial air melalui xylem. Air dalam pembuluh
xylem mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom
berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas. Sebagian besar

26

ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xylem, dan kemudian ke atas
melalui arus transportasi.
356. Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2 ,
cahaya, suhu, aliran udara , kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor factor
ini mempengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupya dikontrol oleh
perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium
(K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun
dengan atmosfer dan air akan hilang kedalam atmosfer. Untuk mengukur laju
transpirasi tersebut dapat digunakan photometer. Transpirasi pada tumbuhan yang
sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat
merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati.
357. Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang
melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi saat
tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil karbondioksida dari udara
untuk berfotosintesis.
358. Lebih dari 20% air yang diambil oleh akar dikeluarkan ke udara
sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang ditranspirasi oleh tumbuhan tingkat
tinggi berasal dari daun selain dari batang, bunga dan buah. Transpirasi
menimbulkan arus transpirasi yaitu trasnkolasi air dan ion organic terlarut dalam
dari akar ke daun melalui xylem.
359. Transpirasi dari tubuh tanaman pada siang hari dapat melampaui
evaporasi dari permukaan air atau dari permukaan tanah basah, tetapi sebaliknya
pada malam hari lebih kecil bahkan tidak ada transpirasi.
360.
361.

3.7

Evapotranspirasi

362. Evapotranspirasi merupakan proses penguapan yang terjadi dari


permukaan bumi yang berasal dari air dan tanaman, karena konsentrasi uap pada
udara tipis dekat permukaan air atau tanah melebihi konsentrasi uap pada udara di
atasnya. Perubahan besarnya ketersediaan air pada lahan ditentukan oleh adanya
curah hujan serta laju evapotranspirasi. Hal tersebut terjadi karean adanya
sirkulasi air di bumi yang berlangsung secara terus-menerus.
363. Evapotranspirasi merupakan gabungan dari dua proses , yaitu
evaporasi dan transpirasi. Evaporasi adalah proses pertukaran molekul air di
permukaan menjadi molekul uap air di atmosfer, yang prosesnya meliputi dua

27

tahap yaitu transformasi dari air menjadi uap air dan perpindaahn lapisan udara
kenyang uap air dari interface (Wierang,1978 dalam Sri Harto, 1993:21).
Transpirasi adalah proses fisiologis alamiah, dimana air yang dihisap oleh akar
diteruskan lewat tubuh tanaman, dan diupakan kembali lewat sel sel stomata
(schulz,1979 dalam Sri Harto, 1993:21). Proses evaporasi dan transpirasi pada
kondisi lapangan tidak dapat dipisahkan jika tanhanya tertutup oleh tumbuh
tumbuhan, karena kedua proses tersebut saling berkaitan.
364. Pada dasarnya proses evaotranspirasi ditentukan oleh gradient tekanan
uap yaitu perbedaan tekanan uap di atas permukaan air atau tanah dengan tekanan
uap atmosfer. Besarnya evapotrasnpirasi dipengaruhi oleh pembentuk iklim,
yaitu :
-

Radiasi matahari
Kecepatan Angin
Kelembaban relative
Suhu udara
Pengaruh usia tanaman
Pengaruh jenis tanaman
Dan pengaruh ketersediaan air tanah dan salinitas.
365.
1. Radiasi Matahari
366. Proses penguapan berlangsung pada

siang

maupun

malamhari. Proses ini berlangsung memerlukan energi yang berupa


paas laten untuk penguapan dan akan aktif jika ada penyinaran
langung dari matahari.
367. Radiasi matahari yang dipancarkan merupakan radiasi
gelombang pendek. Radiasi yang sampai pada atmosfer bagian atas
( Ra ) disebut Extra Terrestrial Radiation. Ra yang masuk atmosfer
asebagian diteruskan, sebagian disebarkan ( ke angkasa dan ke bumi),
sebagian lagi diserap, ada pula yang dipantulkan oleh awan. Radiasi
yang sampai ke bumi ( Rs ) disebut Insiden Solar Radiation , yang
sebagian akan dipantulkan ke angkasa oleh benda benda di
permukaan bumi. Selisih antara Rs dengan yang dipantulkan
dinamakan radiasi netto gelombang pendek (Rns).
368. Radiasi yang diterima oleh permukaan bumi tersebut
dipancarkan ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang
yang dipancarkan oleh bumi dengan radiasi gelombang panjang yang
diterima dari atmosfir dinamakan radiasi gelombang bersih. Selisih

28

radiasi gelombang pendek dengan radiasi gelombang panjang disebut


radiasi matahari bersih ( Rn ).
369. Rn yang diterima permukaan bumi sebagian digunakan
untuk evapotranspirasi, sebagian untuk memanaskan udara di atas
permukaan

tanah

dan

tanaman.

Besarnya

energi

untuk

evapotranspirai dan pemanasan udara tergantung pada air yang


tersedia

untuk

penguapan

di

permukaan

tanaman.

Apabila

keseimbangan antara penambahan dan pengurangan air terganggu,


maka stomata akan tertutup, sehingga energi lebih banyak digunakan
untuk pemanasan udara. Apabilaair cukup, tanaman baik dan telah
menutup permukaan tanah maka radiasi bersih akan lebih banyak
digunakan untuk evapotranspirasi.
370.
371.
2. Kecepatan Angin
372. Tiupan angin akan memindahkan massa uap air di atas
permukaan air, tanah ataupun daun, sehingga tekanan uap air menjadi
lebih besar dan evapotranspirasi naik. Jadi kecepatan angin
mempunyai peranan sangat penting dalam proses evapotranspirasi.
Kecepatan angin yang naik akan menyebabkan semakin besarnya
evapotranspirasi potensial.
3. Kelembaban Relatif / Udara
373. Kelembaban udara yang semakin rendah menyebabkan
perbedaan tekanan uap antara permukaan air terhadap lapisan udara
di atasnya semakin besar, sehingga evapotranspirasi semakin besar.
Apabila kelembaban relative / udara naik maka kemampuannya untuk
menyerap air berkurang.
4. Suhu Udara
374. Kenaikan suhu

udara

akan

menyebabkan

proses

evapotranspirasi berjalan lebih cepat karean tersedianya energi panas.


5. Pengaruh Usia Tanaman
375. Nilai evapotrandpirasi akan meningkat pada saat tanaman
mulai tumbuh sesua. Meningkatnya nilai evapotranspirasi akan sesuai
dengan pertumbuhan dan akan mencapai batas maksimum pada saat
penutupan vegetasi maksimum. Setelah mencapai maksimum dan
berlangsung

beberapa

saat

menurut

jenis

tanaman,

nilai

29

evapotranspirasi menurun sejalan dengan pematangan bii menuju saat


panen.
6. Pengaruh Jenis Tanaman
376. Pengaruh jenis tanaman mempengaruhi transpirasi selama
kondisi musim kering. Jenis tanaman dipadang pasir, yang
mempunyai stomata lebih sedikit relatip menguapkan sedikit air.
Sebaliknya jenis tanaman yang mempunyai akar yang bisa bidang
muka air jenuh, menguapkan tidak tergantung pada kadar lengas zona
aerasi.
377.
7. Pengaruh Ketersediaan Air Tanah dan Salinitas
378. Tingkat penguapan dari satu permukaan yang jenuh kira
kira sama dengan penguapan dari suatu permukaan air pada
temperature yang sama. Pada saat tanah mulai mongering penguapan
berkurang dan temperaturnya naik untuk mencapai keseimbangan
energi. Pengaruh salinitas atau benda benda padat yang terurai
menimbulkan

pengurangan

tekanan

uap

dari

cairan

yang

bersangkutan.
379.
380.

3.8

Evapotranspirasi Potensial

381. Evapotrasnpirasi potensial (ETo) adalah evapotranspirasi untuk suatu


tanaman yang dapat tumbuh subur dan tidak pernah kekurangan air. Thornthwaite
(1948) mendefinisikan evapotranspirasi potensial sebagai evapotranspirasi dari
areal tumbuhan yang menutupi permukaan tanah dengan lengas tanah cukup pada
setiap waktu. Sedangkan menurut Penman (1947) evapotranspirasi potensial
didefinisikan sebagai evapotranspirasi dari tanaman pendek berdaun hijau yang
tumbuh baik dan menutup permukaan tanah yang tidak pernah kekurangan air.
Kedua definisi tersebut pada dasarnya sama, yaitu memberikan definisi atas
evapotranspirasi untuk tanaman yang dapat tumbuh subur dan tidak pernah
kekurangan air.
382. Rumus

untuk

memperkirakan

evapotranspirasi

sudah

banyak

dikembangkan di berbagai tempat dengan berbagai macam pendekatan. Pada


dasarnya ada 3 (tiga) cara pendekatan yaitu pendekatan teoritis , pendekatan
analitis dan empiris. Pendekatan teoritis didasarkan pada proses fisika, evaporasi
dan transpirasi, meliputi cara transfer masa dan lain lain. Pendekatan analitis

30

dan empiris didasarkan pada keseimbangan air dan energi. Dari pendekatan ini
berbagai rumus evapotranspirasi banyak diturunkan, salah satunya adalah Metode
Penman yang dimodifikasi.
383. Metode Penman yang dimodifikasi tergantung pada pengukuran
meteorologis dan kemungkinan merupakan metode yang memberikan perkiraan
yang lebih mendekati tentang kebutuhan air bagi tanaman. Persamaan asli dari
Penman menghasilkan evaporasi dari suatu permukaan air yang terbuka, E0,
dengan mempertimbangkan dua unsur H dan Ea, yakni energi yang
mengelilinginya (radiasi) dan aerodinamika (angina dan kelembaban).
384. E0 dimodifikasi guna menghasilkan evapotranspirasi dari sebuah
permukaan tanah berumput dengan cara mengalikan dengan suatu koefisien
tanaman sebesar kira kira 0,8. Cara ini terbukti merupakan suatu pendekatan
yang paling wajar, tidak hanya di Inggris di mana cara ini pertama kali
diturunkan, tetapi juga di daerah daerah tropis dan setengah kering. Namun, di
daerah yang lebih banyak anginnya, koefisien tanaman sangat bervariasi dari 0,8,
maka ditetapkanlah suatu evapotranspirasi tanman standar atau acuan, ET0,
didefinisikan sebagai kecepatan evaptranspirasi dari sebuah permukaan yang
ditutupi rumput hijau setinggi 8 hingga 15 cm dengan ketinggian yang merata,
aktif bertumbuh, sepenuhnya menutupi tanah dan tidak sedikit mengandung air.
Nilai ET0* untuk suatu iklim dan lokasi tertentu dihitung dengan :
385.

386. ET 0=c x ETo (3.9)


387.

ETo =W x Rn+ ( 1W ) x f ( u ) x ( eaed ) (3.10)


388.
389.
390.
Dengan :
391.
c = Faktor koreksi penman dapat dilihat pada Tabel 3.4
392.
ETo*
= Evapotranspirasi tanaman acuan yang belum disesuaikan
(mm/hari)
W
393.
Rn
394.
395.
f(u)
396.
ea - ed
397.
398.

= faktor bobot yang berkaitan dengan temperatur


= Radiasi neto pada evaporasi ekivalen (mm/hari)
= fungsi angin
= selisih antara tekanan uap jenuh pada temperature udara

rata rata dan tekanan uap actual rata rata dari air (mb)
Rs = Jumlah radiasi gelombang pendek
399.

Rs= 0,25+0,54

n
x Ra(3.11)
M

31

400.
401.
402.
403.
404.
405.

Ra

= Radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar

atmosfer (mm/hr)
n = Rata rata cahaya matahari sebenarnya dalam satu hari ( jam )
N = Lama cahaya matahari maksimum yang mungkin dalam satu hari
Rn
= Radiasi bersih gelombang pendek panjang (mm/hr)
406.

Rn=f ( t ) x f ( ed ) x f (

n
)(3.12)
N

407.
408.
409.
410.

f(t)

= fungsi suhu berdasarkan nilai temperature udara,

dapat dilihat pada Tabel 3.8


f(ed)
= fungsi tekanan uap
0,5

f ( ed ) =0,340,044( ed) ( 3.13)


411.
412.
413.

ed = Vapor Pressure (mb)


414.

ed=ea x

RH
(3.14 )
100

415.
416.
417.
418.

RH
= kelembaban udara (%)
f (n/N) = fungsi penyinaran matahari
419.

420.
421. f(u)
422.
423.
424.
425.
426.

( Nn )=0,1+0,9 Nn (3.15)

= fungsi kecepatan angin


f ( u ) =0,27(1+u x 0,864)(3.16)

427. Tabel 3.4 Angka koreksi ( c ) bulanan untuk rumus Penman


428. Bul
429.
an
430. Jan

c
431.

uari
432. Peb

1.10
433.

ruari
434. Mar

1.10
435.

et

1.00

32

436.

Apr

il

454.
455.
456.

437.
0.90
439.

438.

Mei

0.90
441.

440.

Juni

0.90
443.

442.
444.

Juli
Agu

0.90
445.

stus
446. Sept

1.00
447.

ember
448. Okt

1.10
449.

ober
450. Nop

1.10
451.

ember
452. Des

1.10
453.

ember
1.10
Sumber : Penman 1948

457.
458.
Su

462.
24.
466.
24.
470.
24.
474.
24.
478.

Tabel 3.5 Hubungan T dengan ea, w, f(t) ( 1 dari 2 )


459.
ea
(
460.
461. f
m
w
(t)
ba
r)
464.
465. 1
463.
0.73
5.4
29.85
5
0
468.
469. 1
467.
0.73
5.4
30.21
7
5
472.
473. 1
471.
0.73
5.5
30.57
9
0
476.
477. 1
475.
0.74
5.5
30.94
1
5
479.
480.
481. 1

33

24.
31.31
482.
25.
486.
25.
490.
25.
494.
25.
498.
25.
502.
26.
506.
26.
510.
26.
514.
515.

483.
31.69
487.
32.06
491.
32.45
495.
32.83
499.
33.22
503.
33.62
507.
34.02

0.74
3
484.
0.74
5
488.
0.74
7
492.
0.74
9
496.
0.75
1
500.
0.75
3
504.
0.75
5
508.
0.75
7
512.
0.75
9

5.6
0
485. 1
5.6
5
489. 1
5.7
0
493. 1
5.7
5
497. 1
5.8
0
501. 1
5.8
5
505. 1
5.9
0
509. 1
5.9
4
513. 1
5.9
8

511.
34.42
Sumber : Penman 1948
Tabel 3.6 Lanjutan Hubungan T dengan ea, w, f(t) ( 2 dari 2 )
517.
ea
516.
(
518.
519. f
Su
m
w
(t)
ba
r)
520.
522.
523. 1
26.
521.
0.76
6.0
34.83
1
2
524.
526.
527. 1
26.
525.
0.76
6.0
35.25
3
6
528.
530.
531. 1
27.
529.
0.76
6.1
35.66
5
0
532.
534.
535. 1
27.
533.
0.76
6.1
36.09
7
4
536.
537.
538.
539. 1

34

27.
36.50
540.
27.
544.
27.
548.
28.
552.
28.
556.
28.
560.
28.
564.
28.

541.
36.94
545.
37.37
549.
37.81
553.
38.25
557.
38.70
561.
39.14
565.
39.61

568.
29.
572.
573.
574.

569.
40.06
Sumber : Penman 1948

575.
576.
B

0.76
9
542.
0.77
1
546.
0.77
3
550.
0.77
5
554.
0.77
7
558.
0.77
9
562.
0.78
1
566.
0.78
3
570.
0.78
5

6.1
8
543. 1
6.2
2
547. 1
6.2
6
551. 1
6.3
0
555. 1
6.3
4
559. 1
6.3
8
563. 1
6.4
2
567. 1
6.4
6
571. 1
6.5
0

Tabel 3.1 Harga Ra untuk 5o LU 10o LS


578.
577. L U

579.

LS
589.
1

590.
Ja

581.
5
591.
1

582.
4
592.
1

583.
2
593.
1

584.
0
594.
1

585.
2
595.
1

586.
4
596.
1

587.
6
597.
1

588.
8
598.
1

600.
Pe

601.
1

602.
1

603.
1

604.
1

605.
1

606.
1

607.
1

608.
1

609.
1

610.
M

611.
1

612.
1

613.
1

614.
1

615.
1

616.
1

617.
1

618.
1

619.
1

620.
A

621.
1

622.
1

623.
1

624.
1

625.
1

626.
1

627.
1

628.
1

629.
1

599.
1

35

710.
711.

630.
M

631.
1

632.
1

633.
1

634.
1

635.
1

636.
1

637.
1

638.
1

639.
1

640.
Ju

641.
1

642.
1

643.
1

644.
1

645.
1

646.
1

647.
1

648.
1

649.
1

650.
Ju

651.
1

652.
1

653.
1

654.
1

655.
1

656.
1

657.
1

658.
1

659.
1

660.
A

661.
1

662.
1

663.
1

664.
1

665.
1

666.
1

667.
1

668.
1

669.
1

670.
Se

671.
1

672.
1

673.
1

674.
1

675.
1

676.
1

677.
1

678.
1

679.
1

680.
O

681.
1

682.
1

683.
1

684.
1

685.
1

686.
1

687.
1

688.
1

689.
1

690.
N

691.
1

692.
1

693.
1

694.
1

695.
1

696.
1

697.
1

698.
1

699.
1

700.
D

701.
1

702.
1

703.
1

704.
1

705.
1

706.
1

707.
1

708.
1

709.
1

Sumber : Penman 1948


712.

36

713.

3.9

Kebutuhan Air Bersih

714.

Pada

tahun

2003,

Kementrian

Pekerjaan

Umum

pernah

memperhitungkan kebutuhan air bersih untuk Pulau Jawa yang diperkirakan


mencapai 38 miliar m3/th. Namun ketersediaan air bersih hanya sekitar 25 miliar
m3. Dari angka tersebut, dapat kita lihat adanya kesenjangan antara jumlah air
bersih yang dibutuhkan dengan yang tersedia kurang lebih 30 %. Angka
kesenjangan ini dari tahun ke tahun tentu akan makin tinggi karena kebutuhan air
bersih sudah dapat dipastikan akan meningkat, sementara sumber sumber yang
dapat diandalkan ada kecenderungan menurun.
715. Kekurangan air bersih, tentu akan berpengaruh pada kualitas hidup,
terutama dalam hal sanitasi dan kesehatan. Pada tingkat yang ekstrim, tidak
adanya akses terhadap air bersih akan menyebabkan kematian. Satu dari delapan
kematian di dunia, disebabkan karena tiadanya akses terhadap air bersih, dan
jumlah itu menurut National Geographic mencapai 3,3 juta jiwa per-tahun.
716. Oleh karena itu, penyediaan air bersih untuk masyarakat menjadi
kewajiban Negara yang sangat penting untuk diperhatikan bila mengharapkan
kualitas penduduk yang meningkat. Dengan jumlah mencapai 402 Perusahaan
Daerah Air Minm (PDAM) di berbagai wilayah di tanah air, upaya yang
menghadirkan air bersih untuk masyarakat dilakukan. Namun, persoalan yang
dihadapi PDAM juga sangat banyak.
717. Salah satu acuan dalam penyediaan air bersih di Indonesia adalah
tuntutan dalam Mellenium Development Goals (MDGs) yang mematok angka
68% masyarakat harus mendapatkan akses terhadap air bersih.
718.
3.9.1

Tingkat Pemakaian Air

719.

Tingkat pemakaian air bersih secara umum ditentukan berdasarkan

kebutuhan manusia untuk kehidupan sehari hari. Menurut Bank Dunia,


kebutuhan manusia akan air dimulai dengan kebutuhan untuk air minum sampai
pada kebutuhan untuk sanitasi. Kebutuhan air minum untuk setiap tingkatan
kebutuhan diilustrasikan pada Gambar 3.4.
720. Untuk lingkup program ini, kriteria desain perencanaan prasarana
air minum ditujukan untuk memenuhi kebutuhan minimum untuk minum dan
masak serta untuk mandi jika kapasitas sumber air baku mencukupi, yaitu sebesar
20 30 liter/orang/hari.

37

721.
722.

723. Gambar 3.4 Piramida Kebutuhan Air Bersih


724. (Sumber : Abraham Maslows (1908 1970)
725.
726.

38

727. BAB IV
728.
729. METODOLOGI PENELITIAN
730.
731.
732.
4.1

Metode Penelitian
733.

Metode penelitian adalah urutan atau tata cara pelaksanaan

penelitian dalam rangka mencari jawaban atas permasalahan penelitian yang


diajukan dalam penulisan tugas akhir. Metode penelitian ini meliputi lokasi
penelitian, metode pengambilan data, data yang diperlukan, analisis data dan
flow chart.
4.2

734.
Lokasi Penelitian
735.

Lokasi penelitian berada di daerah Kecamatan Pengasih ,

Kulonprogo , Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti terlihat pada Gambar 4.1.


736.

BENDUNG PENGASIH

SUNGAI SERANG

737.

4.3

Gambar 4.1 Peta Lokasi Bendung Pengasih Wates Kulon


Progo
Sumber : Google Map 2013

738.
739.
Metode Pengambilan Data
740.

Dalam penelitian sistem pengambilan data yang digunakan adalah

mencari data primer, yaitu dengan melakukan wawancara langsung dengan

39

petugas pengawas / pemeliharaan bendung pengasih yaitu petugas dari Dinas


Pekerjaan Umum kabupaten Kulon Progo bagian pengawasan dan pemeliharaan
sungai, sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Kulon Progo bagian Sumber Daya Air.
4.4

741.
Data Diperlukan
742.

Dalam proses pengumpulan data, ada beberapa sumber data yang

digunakan yaitu data primer yang berupa wawancara dengan petugas Dinas
Pekerjaan Umum bagian Pengairan Kabupaten Kulonprogo, data sekunder yang
berupa data klimatologi yang didapatkan dari Dinas Pekerjaan Umum bagian
Pengairan Kabupaten Kulonprogo dan data yang diperoleh dari studi literature
atau pustaka.
743.
4.4.1
744.

Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil

pengamatan langsung di lapangan. Data ini bisa diperoleh dengan langsung


berwawancara dengan masyarakat setempat maupun observasi peneliti.
1. Kondisi & Lokasi Bendung Pengasih
745.

Bendung Pengasih terletak di Kali Serang Kecamatan Pengasih

Kulonprogo. Bendung pengasih didesain pertama kali untuk melayani areal


irigasi seluas 2.757 ha untuk areal irigasi di Kecamatan Pengasih Wates
Kulonprogo.. Air yang dari bendung pengasih digunakan untuk mengairi areal
irigasi dibagian Kecamatan Pengasih yang sistem irigasinya dibagi menjadi 2
bagian yaitu Kejuron/GAB.P3A untuk Daerah Irigasi Pengasih Barat dengan
luas sawah 1.323 ha dan Kejuron/GAB.P3A untuk Daerah Irigasi Pengasih
Timur dengan Luas sawah 1.029 ha.
2. Kronologis Masalah Penyusutan Lahan Areal Irigasi di Kecamatan
Pengasih
746.

Pada awal pembangunan Bendung Pengasih, bendung didesain

untuk melayani areal irigasi seluas 2.757 ha, namun seiring dengan laju
pertumbuhan penduduk dan bertambah tahun, alih fungsi lahan produktif
semakin bertambah besar. Alih fungsi lahan produktif sendiri adalah peralihan
lahan yang awalnya merupakan lahan yang digunakan sebagai lahan pertanian,

40

sekarang berubah menjadi lahan untuk bangunan bangunan perumahan


maupun

pertokoan.

Bendung Pengasih

terletak

di

tengah

Kabupaten

Kulonprogo, maka alih fungsi / penyusutan lahan dimungkinkan akan terus


bertambah seiring dengan bertambah tahun.
747.

Dari hasil wawancara dengan petugas Dinas Pekerjaan Umum

bagian Sumberdaya Air daerah Kulonprogo, penyusutan lahan yang terjadi di


kecamatan pengasih sendiri sangatlah banyak. Ada beberapa pembangunan
pembangunan yang akan berpengaruh untuk mengurangi luas areal irigasi di
kecamatan Pengasih yang di antaranya adalah pembangunan kantor Polsek yang
diperkirakan seluas 3 ha, pembangunan lapangan Olahraga untuk Universitas
Negeri Yogyakarta yang diperkirakan 4 ha ( belum termasuk gedung kampus ),
Pembangunan Kios kios pertokoan. Untuk pembangunan pembangunan
tersebut masih berupa dugaan, karena pembangunan pembangunan tersebut
baru akan dilaksanakan pada tahun 2013. Sementara data tentang penyusutan
lahan / data pembangunan pembangunan daerah di Update selama 5 tahun
sekali, dan untuk tahun 2012 2013 ini masih di inventarisasi.
748.
4.4.2
749.

Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari instansi

instansi pemerintah yang terkait dengan penelitian. Adapun data sekunder


tersebut yaitu :
1. data klimatologi untuk mencari nilai Et0,
2. sistem pola tanam ,
3. luas areal irigasi,
4. peta jaringan irigasi yang diairi oleh bendung Pengasih,
5. peta topografi Kali Serang,
750.

Data data tersebut di atas diperoleh dari instansi instansi

pemerintah yang terkait dengan penelitian yaitu Dinas Pekerjaan Umum bagian
Sumber Daya Air Kabupaten Kulon Progo dan Badan Klimatologi dan Geofisika
Daerah Istimewa Yogyakarta.
1.

Data Klimatologi

41

751.

Data klimatologi adalah data yang menjelaskan tentang kondisi

klimatologi pada suatu daerah. sedangkan klimatologi itu sendiri adalah kondisi
kondisi tentang cuaca , temperatur udara , kelembapan udara , suhu , kecepatan
angin dan curah hujan pada suatu daerah. Untuk data klimatologi itu sendiri
diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Daerah Istimewa
Yogyakarta.
2.

Sistem Pola Tanam


752. Berdasarkan buku peraturan Bupati Kulon Progo nomor 28 Tahun

2012 tentang Tata Tanam Tahunan Periode 2012 2013 , disebutkan bahwa pola
tanam di daerah Pengasih Wates Kulonprogo adalah Padi Padi Palawija
dengan mulai tanam bulan November untuk Golongan II. Dan yang terjadi di
lapangan sudah sesuai dengan yang telah diatur dalam buku peraturan Bupati
Kulon Progo tersebut. Adapun copyan untuk buku peraturan tersebut terlampir
dalam daftar lampiran.
3.

Luas Areal Irigasi


753.

Bendung Pengasih merupakan salah satu bendung yang terdapat

di kota Wates Kabupaten Kulon Progo tepatnya di kecamatan Pengasih. Air dari
bendung ini bersumber dari aliran sungai Serang yang dimana suplesi air di
sungai ini didapat dari Waduk Sermo dan Kali Bawang. Bendung direncanakan
untuk mengairi sebagian lahan produktif di Kabupaten Kulon Progo yang luas
areal irigasinya seluas 2.757 ha, namun pada kenyataannya menurut Surat
Keputusan Bupati Kulonprogo tentang Sistem Tata Tanam pada tahun 2013, luas
lahan sawah yang efektif untuk pertanian hanyalah 2111 ha.
4.

Peta jaringan irigasi yang diairi oleh bendung Pengasih


754.

Peta Jaringan Irigasi adalah skema jaringan aliran irigasi yang

dilayani oleh bendung Pengasih tersebut. Data peta jaringan irigasi diperoleh
dari Dinas Pekerjaan Umum bagian Sumber Daya Air Kabupaten Kulon Progo
Yogyakarta. Dalam gambar peta jaringan irigasi terdapat pembagian
pembagian luas daerah irigasi yang harus dilayani oleh bendung pengasih. Untuk
lebih jelasnya bisa dilihat dalam peta jaringan irigasi bendung pengasih dalam
halaman daftar lampiran.
755.

42

756.

43

5. Peta Topografi Kali Serang


757.

Peta topografi di bawah ini menjelaskan tentang kondisi topografi

dan letak Sungai yang ada di daerah Kulonprogo. Letak Kali Serang sesuai pada
gambar yang diarsir.
758.
759.

760. Gambar 4.2 Peta Topografi Sungai Serang


761. Sumber Dinas Pekerjaan Umum Bidang Sumberdaya Air Kulon
Progo

44

762.

763. Gambar 4.3 Peta Letak Sungai daerah Kabupaten Kulonprogo


764. Sumber Dinas Pekerjaan Umum Bidang Sumberdaya Air Kulon
Progo
765.
766.
767.
768.

45

4.5

Analisis Kebutuhan Air Di Sawah Untuk Padi


769.

Analisis data sangat bergantung pada jenis data yang diperoleh,

karena setiap data yang diperoleh tidak semuanya bisa langsung siap pakai.
Dalam analisis data penelitian meliputi :
770.
4.5.1

Analisis NFR Waktu Pengolahan Lahan

771.

NFR waktu pengolahan lahan adalah perhitungan kebutuhan air

pada saat pengolahan lahan. Kebutuhan air masa penyiapan lahan dipengaruhi
oleh beberapa faktor :
1. Lama Penyiapan Lahan (T) ditentukan 2 x 2 minggu ( 30 hari, 1
bulan ), atau 3 x 2 minggu (45 hari, 1,5 bulan ), tergantung luas petak
garapan dan kemampuan pengerjaan,
2. Kondisi tanah sawah sewaktu penyiapana lahan, untuk penentuan
penjuenuhan ( S ), untuk tanah kering biasa/basah dibutuhkan tebal
penjenuhan 250 mm genangan, sedangkan untuk tanah bero/bero
dibutuhkan tebal penjenuhan 300 mm.
772.

Kebutuhan air masa penyiapan lahan diperhitungkan dengan

rumus :
773.
774.

NFR = IR

Re

(4.1)
775.
776.

Dengan :

777.

IR

= kebutuhan air irigasi di sawah ( mm/hari )

778.

Re

= Hujan Efektif ( mm/hari )

779.

Kebutuhan air irigasi di sawah (IR) diperhitungkan dengan

rumus :
780.
k

781.

Me
IR= k
(e 1)

782.
783.

Dengan :

(4.2)

46

784.

= kebutuhan air irigasi pengganti evaporasi dan perkolasi

785.
786.
787.

Nilai M dan k diperhitungkan dengan rumus :

788.
789.

M = 1,1 x Et0

(4.3)

790.
k=

791.

M xT
S

(4.4)

792.
793.

Dengan :

794.

= masa penyiapan lahan ( 30 atau 45 hari )

795.

= tebal penjenuhan ( 250 atau 300 mm )

796.
4.5.2
797.

Analisis NFR Waktu Masa Tanam


NFR masa tanam adalah kebutuhan air pada saat masa tanam.

Kebbutuhan air pada masa tanam diperhitungkan dengan rumus (3.5).


Kebutuhan air pada saat masa tanam dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu :
1.

Menentukan Nilai Evapotranspirasi Tetapan ( Et0 )


798.

Untuk menentukan nilai Evaporasi Tetapan , maka dibutuhkan

data data klimatologi untuk mengetahui besarnya nilai ET 0. Data klimatologi


yang dimaksud adalah data kelembapan udara , kecepatan angin, temperature
udara , suhu udara. Selain data klimatologi juga dibutuhkan data letak geografis
tempat yang dipakai untuk penelitian yaitu posisi letak Garis Bujur Lintang
Selatan ( LS ) tempat dimana penelitian dilakukan. Metode yang dipakai untuk
menentukan besarnya nilai ET0 adalah dengan menggunakan metode Penman
modifikasi sesuai yang dijelaskan pada Bab 3 rumus (3.9) (3.10).
2. Analisis Evapotranspirasi Pada Tanaman ( ETc )
799.

Dari hasil analisis Evapotranspirasi Tetapan ( ET 0 ), maka dapat

kemudian menghitung nilai ETc. Nilai Etc sangat bergantung pada kondisi
Klimatologi dan Koefisien Tanaman. Nilai koefisien tanaman bergantung pada
jenis varietas tanaman yang ditanam. Dalam penelitian untuk masa tanam 1 padi
dipakai nilai koefisien tanam Nedeco varietas biasa, dan untuk masa tanam 2

47

padi dipakai koefisien tanam Nedeco varietas unggul. Nilai Koefisien tanaman
( Kc ) dapat dilihat pada Tabel 3.3. Untuk menghitung besar nilai ETc, dapat
dihitung dengan menggunakan rumus seperti yang dijelaskan pada rumus (3.6).
800.
3. Analisis Hujan Efektif ( Re )
801.

Analisis hujan efektif adalah menghitung besarnya hujan efektif

dalam kurun waktu tertentu. Untuk mendapatkan nilai hujan efektif maka harus
ada data curah hujan yang direkam melalui stasiun stasiun pengamatan dan
perekaman hujan. Data hujan yang diperoleh adalah curah hujan harian selama
kurun waktu 10 tahun an. Untuk analisis menentukan hujan efektif , dari data
hujan yang telah diperoleh dapat dihitung berdasarkan rumus (3.7).
802.
4.5.3
803.

Analisis Ketersediaan Air di Lahan ( R5 )


Analisis ketersediaan air di lahan adalah memperhitungkan

ketersediaan air pada lahan untuk mencukupi air irigasi pada lahan pertanian.
Menurut Direktorat Jendral Pengairan ketersediaan air di lahan terdiri dari dua
sumber yaitu dari kontribusi air tanah dan hujan efektif (Re). Dalam penelitian
memperhitungkan ketersediaan air di lahan berdasarkan kontribusi dari curah
hujan. Besarnya nilai ketersediaan air di lahan dianggap terpenuhi dengan
probabilitas hujan 80 % dan diperhitungkan dengan rumus (3.8).
804.
4.5.4
805.

Analisis Debit Kebutuhan Air Irigasi ( Q )


Analisis debit kebutuhan air irigasi digunakan untuk menentukan

besarnya kebutuhan air irigasi pada lahan pertanian. Kebutuhan debit air irigasi
untuk seluruh sawah dapat dihitung dengan menggunakan rumus (3.4) setelah
nilai NFR dapat diketahui melalui analisis sebelumnya. Untuk menghitung nilai
Debit kebutuhan air irigasi

harus memperhatikan nilai koefisien, efisiensi

saluran ( e ). Nilai efisiensi saluran adalah tingkat kehilangan air pada saluran
saat dalam perjalanan/pendistribusian. Nilai efisiensi saluran dibedakan
berdasarkan jenis saluran,untuk saluran Primer e = 0,65, saluran Sekunder e =
0,72, saluran Tersier e = 0,80.
806.

48

4.6

Perhitungan Alokasi Air Irigasi


807.

Dari hasil analisis data akan didapatkan nilai sisa debit irigasi

yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air baku domestik. Perhitungan


alokasi air irigasi dimaksudkan untuk memperhitungkan besarnya kebutuhan air
baku domestic maupun untuk perikanan yang dapat dialokasikan dari sisa debit
air irigasi pada bendun Pengasih untuk wilayah Pengasih.
808.
809.
810.

Kebutuhan Air Bersih Untuk Domestik ( Rumah Tangga )


Menurut Anomius, (1990) menyatakan bahwa kebutuhan

domestik dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi keperluan


rumah tangga yang dilakukan melalui Sambungan Rumah (SR) dan kebutuhan
umum yang disediakan melalui fasilitas Hidran Umum (HU). Pada Tabel 4.1 di
bawah ini menunjukan besar debit domestik yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan domestic diperhitungkan terhadap beberapa faktor:
a) Jumlah penduduk yang akan dilayani menurut target tahapan
perencanaan sesuai dengan cakupan pelayanan
b) Tingkat pemakaian air bersih diasumsikan tergantung pada kategori
daerah dan jumlah penduduknya.

811. Tabel 4.1 Kebutuhan Air Bersih Berdasarkan Jenis Kota dan
Jumlah Penduduk.
816. Pe
812.
N

813.

Kateg

ori

818.

819.

1
822.
2
826.

814.

n Air

Penduduk
815.

Metro

makaia

Jumlah

817.

( Jiwa )

( ltr

/hari/ji
wa )
821. 150

820.

>1.000.0000

politan
823. Kota

824.

500.000

825.

120

Besar
827. Kota

1.000.000
828. 100.000

829.

100

49

3
830.

Sedang
831. Kota

500.000
832. 25.000

833.

90

4
834.

Kecil
835. Ibuko

100.000
836. 10.000

837.

60

841.

50

ta

25.000

Kecamata
n
839.

838.
6
842.
843.
844.

Pedes

840.

<10.000

aan
Sumber: Anomius, 1990.
Untuk memperhitungkan kebutuhan air untuk tingkat domestik

dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus :


845.
846.

Qdom =

qu x Pu

(4.5)

847.
848.

Dengan :

849.

Qdom

Kebutuhan air domestic ( lt/hari/jiwa )


850.

qu

Kebutuhan air domestic untuk penduduk ( lt/hari/jiwa)


851.

Pu

= Jumlah

penduduk yang harus dilayani


852.
853.

Kebutuhan Air Bersih Untuk Non Domestik

854.

Standar

kebutuhan air non domestic adalah kebutuhan air bersih di luar keperluan rumah
tangga, kebutuhan air non domestic antara lain:
1. Penggunanan komersil dan Industri
855.
penggunaan air oleh badan badan komersil dan industry.
2. Penggunaan umum

Yaitu

50

856.

Yaitu

penggunaan air untuk bangunan bangunan pemerintah, rumah sakit,


sekolah sekolah dan tempat tempat ibadah.
857.

Menurut

Ditje Cipta Karya kebutuhan air non domestik untuk kota dapat dibagi dalam
beberapa kategori antara lain :
a. Kota Kategori I (Metro) dengan jumlah penduduk >1.000.000 dengan
tingkat kehilangan air sebesar 20 30 %
b. Kota kategori II (Kota Besar) dengan jumlah penduduk 500.000 s/d
1.000.000 dengan tingkat kehilangan air sebesar 20 30 %
c. Kota kategori III (Kota Sedang) dengan jumlah penduduk 100.000 s/d
500.000 dengan tingkat kehilangan air sebesar 20 30 %
d. Kota kategori IV (Kota Kecil) dengan jumlah penduduk 20.000 s/d
100.000 dengan tingkat kehilangan air sebesar 20 30 %
e. Kota Kategori V (Desa) < 20.000 dengan tingkat kehilangan air sebesar
20 30 %
858.

Untuk

daerah Kabupaten Kulonprogo sendiri termasuk dalam kategori Kota Sedang,


dikarenakan jumlah penduduk untuk wilayah Kulonprogo sebesar 370.944 jiwa
menurut data Badan Pusat Statistik untuk wilayah Kabupaten Kulonprogo.
Kebutuhan air bersih non domestic untuk kategori Kota sedang dapat dilihat
pada Tabel 4.2.
859.
860.

51

862.
NO
866.

861.
863.
867.

Tabel 4.2 Kebutuhan air non domestic untuk kategori kota sedang
SEKTOR
864.
865.
Sekolah

NILAI
868.

SATUAN
869.
Liter/murid/hari
873.

1
870.

871.

Rumah Sakit

10
872.

2
874.

875.

Puskesmas

200
876.

Liter/bed/hari
877.

3
878.

879.

Masjid

2.000
880.

Liter/hari
881.

Kantor

3.000
884.

Liter/hari
885.
Liter/pegawai/hari
889.

4
882.

883.

5
886.

887.

Pasar

10
888.

6
890.

891.

Hotel

12.000
892.

Liter/hari
893.

7
894.

895.

Rumah

150
896.

Liter/bed/hari
897.

8
898.

makan
899. Kompleks

100
900.

Liter/tempat duduk/hari
901.

9
902.

Militer
903. Kawasan

60
904.

Liter/orang/hari
905.

10
906.

Industri
907. Kawasan

0,2 0,8
908.

Liter/dt
909.

11
910.

Pariwisata

0,1 0,3

Liter/detik
Sumber :

Ditjen Cipta Karya Dep PU


911.
912.
913.

Kebutuhan Air Untuk Perikanan


Budidaya ikan air

tawar yang terdapat di Kabupaten

Kulonprogo dengan sistem kolam, mempunyai pengertian teknis


yaitu suatu perairan buatan yang luasnya terbatas, sengaja dibuat
manusia dan mudah dikuasai. Mudah dikuasai dapat diartikan mudah
diisi, dikeringkan, dan mudah diatur menerut kehendak si pemilik
kolam. Secara kuantitati air yang diberikan harus mampu mengairi
seluruh areal perkolaman, sehingga budidaya ikan tidak tersendat

52

sendat dan kolam bisa dipergunakan sebagaimana mestinya. Debit air


yang baik untuk kolam ikan tidak kurang dari 7 mm/dt/ha.
914.
915.

53

4.7

Flow Chart
916.

Setelah data terkumpul, maka dapat dilakukan pengolahan dan

analisis data dengan langkah langkah yang sesuai dengan Gambar 4.4.
917.

919.

918.
Gambar 4.4 Flow Chart Penelitian

54

920. BAB V
921.

922. ANALISIS DATA


923.
924.
925.
926.

5.1 Umum
927.

Pada bab ini berisi tentang perhitungan analisis data

dan perhitungan kebutuhan air di sawah untuk padi. Kebutuhan air di


sawah untuk padi ditentukan oleh faktor faktor penyiapan lahan ,
pengguanaan konsumtif, perkolasi dan rembesan, pergantian lapisan
air, dan curah hujan efektif.
928.
929.

5.2 Analisis Hujan Efektif ( Re )


930.

Perhitungan hujan efektif (Re) dihitung dengan

menggunakan rumus yang ditetapkan standar perencanaan irigasi


rumus (3.7), dengan R5 merupakan curah hujan minimum dalam
setengah bulanan yang diperhitungkan dengan menghitung tingkat
ketersediaan air di lahan sebesar 80%.
931.
5.2.1
Analisis Ketersediaan Air di Lahan (R5)
932.

Ketersediaan air di lahan diperhitungkan berdasarkan

curah hujan dalam setengah bulanan. Data curah hujan setengah


bulanan dapat di lihat pada Tabel 5.1 5.4.
933.

55

934.

Tabel 5.1 Data Curah Hujan Setengah Bulanan untuk Bulan


Januari - Maret
936.
Jan
u
935.
a
937. F
938.
T
r
ebru
Mar
i
ari
et
940. 941.
942.
943. 944. 945.
1
2
1
2
1
2
946. 947. 948.
949.
950. 951. 952.
2
2
19
2
9
7
1
953.
2

954. 955.
2
60.

956.
3

957.
2

958.
1

959.
7

960.
2

961. 962.
8
26

963.
8

964.
1

965.
1

966.
1

967.
2

968. 969.
4
35

970.
1

971.
7

972.
8

973.
5

974.
2

975. 976.
11
26

977.
1

978.
1

979.
9

980.
2

981.
2

982. 983.
2
97.

984.
5

985.
2

986.
7

987.
3

988.
2

989. 990.
1
82.

991.
2

992.
7

993.
1

994.
1

995.
2

996. 997.
1
12

998.
2

999.
1

1000. 1001.
1
5

1002. 1003. 1004.


2
9
13

1005.
9

1006. 1007. 1008.


6
1
8

1009. 1010. 1011.


2
1
22

1012.
1

1013. 1014. 1015.


2
1
1

1016. 1017. 1018.


2
2
11

1019.
8

1020. 1021. 1022.


1
1
9

1023.
1024.

56

1025.

Tabel 5.3 Data Curah Hujan Setengah Bulanan untuk Bulan


Juli - September
1029. Se
1027. J
1028. Agustu
ptemb
1026.
uli
s
er
Ta
1031. 1032.
1033.
1034.
1035.
1036.
1
2
1
2
1
2
1037.
1038. 1039.
1041.
1042.
1043.
20
1
0
1040.
0
0
0
0.0
1044.
1045. 1046.
1048.
1049.
1050.
20
0
0
1047.
0
2
7
0.0
1051.
1052. 1053.
1055.
1056.
1057.
20
0
0
1054.
2
1
0
0.0
1058.
1059. 1060.
1062.
1063.
1064.
20
2
9
1061.
0
2
5
0.0
1065.
1066. 1067.
1069.
1070.
1071.
20
8
0
1068.
0
0
0
0.0
1072.
1073. 1074.
1076.
1077.
1078.
20
0
3
1075.
0
0
0
0.0
1079.
1080. 1081.
1083.
1084.
1085.
20
0
0
1082.
0
0
0
0.0
1086.
1087. 1088.
1090.
1091.
1092.
20
0
1
1089.
0
4
5
0.0
1093.
1094. 1095.
1096.
1097.
1098.
1099.
20
4
0
27.
1
1
1
0
1100.
1101. 1102.
1104.
1105.
1106.
20
0
0
1103.
0
0
0
0.0
1107.
1108. 1109.
1111.
1112.
1113.
20
0
0
1110.
0
0
0
0.0

57

1114.

Tabel 5.4 Data Curah Hujan Setengah Bulanan untuk Bulan


Oktober - Desember
1118. De
1116. Ok
1117. Nove
sembe
1115.
tober
mber
r
Ta
1120.
1121.
1122.
1123.
1124.
1125.
1
2
1
2
1
2
1126.
1127.
1128.
1129.
1130.
1131.
1132.
20
0
0
7
1
1
5
1133.
20

1134.
0

1135.
2

1136.
1

1137.
2

1138.
1

1139.
3

1140.
20

1141.
0

1142.
0

1143.
4

1144.
9

1145.
1

1146.
1

1147.
20

1148.
2

1149.
1

1150.
3

1151.
2

1152.
2

1153.
3

1154.
20

1155.
0

1156.
0

1157.
3.

1158.
2

1159.
1

1160.
2

1161.
20

1162.
1

1163.
3

1164.
2

1165.
4

1166.
2

1167.
3

1168.
20

1169.
1

1170.
1

1171.
2

1172.
2

1173.
9

1174.
1

1175.
20

1176.
8

1177.
6

1178.
3.

1179.
2

1180.
1

1181.
1

1182.
20

1183.
5

1184.
1

1185.
8

1186.
1

1187.
2

1188.
2

1189.
20

1190.
0

1191.
3

1192.
1

1193.
1

1194.
8

1195.
2

1196.
20

1197.
1

1198.
6

1199.
3

1200.
1

1201.
1

1202.
2

1203.
1204.

Setelah dihitung nilai

hujan setengah bulanan, kemudian dapat dihitung nilai


probabilitas hujan sesuai dengan rumus (3.8). Dalam perhitungan

58

ini, yang dimaksud dengan peristiwa adalah peristiwa terjadinya


hujan , dan peluang adalah probabilitas terjadinya hujan dalam
%.
1205.
1206.
Peluang 1=

peristiwa sebenarnya
1
x 100=
x 100=8,33
11+1
( jumlah peristiwa ) +1

1207.
Peluang 2=

peristiwa sebenarnya
2
x 100=
x 100=16,67
11+1
( jumlah peristiwa ) +1

1208.
Peluang 3=

peristiwa sebenarnya
3
x 100=
x 100=25.00
11+1
( jumlah peristiwa ) +1

1209.
Peluang 4=

peristiwa sebenarnya
4
x 100=
x 100=33,33
11+1
( jumlah peristiwa ) +1

1210. Hasil perhitungan probabilitas hujan dapat dilihat pada Tabel


5.5
1211.

59

1212.
1213. Tabel 5.5 Probabilitas Hujan untuk Bulan Januari - Maret
1217. F
1216. J
ebr
1214.
1215.
anua
uar
1218.
P
Pr
ri
i
Maret
1221. 1222.
1223. 1224. 1225. 1226.
1
2
1
2
1
2
1228.
1229. 1230.
1231. 1232. 1233. 1234.
1227.
8.3
2
6
5
6
1
5
1
1236.
1237. 1238.
1239. 1240. 1241. 1242.
1235.
16.
4
8
8
7
7
5
2
1244.
1245. 1246.
1247. 1248. 1249. 1250.
1243.
25.
8
9
8
7
7
7
3
1252.
1253. 1254.
1255. 1256. 1257. 1258.
1251.
33.
9
1
9
9
8
8
4
1260.
1261. 1262.
1263. 1264. 1265. 1266.
1259.
41.
1
1
1
1
9
9
5
1268.
1269. 1270.
1271. 1272. 1273. 1274.
1267.
50.
1
1
1
1
1
1
6
1276.
1277. 1278.
1279. 1280. 1281. 1282.
1275.
58.
1
1
1
1
1
1
7
1284.
1285. 1286.
1287. 1288. 1289. 1290.
1283.
66.
1
2
2
1
1
1
8
1292.
1293. 1294.
1295. 1296. 1297. 1298.
1291.
75.
2
2
2
2
1
1
9
1299.
1300.
1301. 1302.
1303. 1304. 1305. 1306.
1
83.
2
2
2
2
1
2
1307.
1

1308.
91.

1309.
2

1310.
3

1311. 1312.
3
2

1313. 1314.
1
3

1315.
1316.
1317. Tabel 5.6 Probabilitas Hujan untuk Bulan April - Juni

60

1318.
P

1331.
1
1339.
2
1347.
3
1355.
4
1363.
5
1371.
6
1379.
7
1387.
8
1395.
9
1403.
1
1411.
1
1419.
1420.
1421.
1422.
1423.
1424.
1425.
1426.
1427.
1428.

1348.
25.

1320. A
pril
1325. 1326.
1
2
1333.
2
1334.
0
1341.
3
1342.
1
1349. 1350.
4
1

1356.
33.

1357.
7

1358.
3

1364.
41.

1365.
1

1366.
5

1372.
50.

1373.
1

1374.
5

1380.
58.

1381.
1

1382.
6

1343. 1344.
6
0
1351.
1
1352.
0
1359.
1
1360.
0
1367.
2
1368.
3
1375.
5
1376.
6
1383. 1384.
6
2

1388.
66.

1389.
1

1390.
7

1391. 1392.
6
6

1396.
75.

1397.
1

1398.
7

1399. 1400.
9
6

1404.
83.

1405.
1

1406.
1

1407. 1408.
9
8

1393. 1394.
2
7
1402.
1401. 2
3
1409. 1410.
3
5

1412.
91.

1413.
2

1414.
1

1415. 1416.
2
2

1417. 1418.
4
1

1319.
Pr
1332.
8.3
1340.
16.

1321. M
ei
1327. 1328.
1
2

1322.
Juni
1329. 1330.
1
2

1335. 1336.
0
0

1337. 1338.
0
0
1345. 1346.
0
0
1353. 1354.
0
0
1361. 1362.
0
0
1369. 1370.
0
0
1377. 1378.
1
3
1385. 1386.
2
5

61

1429. Tabel 5.7 Probabilitas Hujan untuk Bulan Juli - September


1434.
1433. A
Septe
1430.
1431.
1432. J
gus
mb
P
Pr
uli
tus
er
1437. 1438.
1439. 1440. 1441. 1442.
1
2
1
1
2
1
1444.
1443.
8.3
1445. 1446.
1447. 1448. 1449. 1450.
1
0
0
0
0
0
0
1452.
1451.
16.
1453. 1454.
1455. 1456. 1457. 1458.
2
0
0
0
0
0
0
1460.
1459.
25.
1461. 1462.
1463. 1464. 1465. 1466.
3
0
0
0
0
0
0
1468.
1467.
33.
1469. 1470.
1471. 1472. 1473. 1474.
4
0
0
0
0
0
0
1476.
1475.
41.
1477. 1478.
1479. 1480. 1481. 1482.
5
0
0
0
0
0
0
1484.
1483.
50.
1485. 1486.
1487. 1488. 1489. 1490.
6
0
0
0
0
0
0
1492.
1491.
58.
1493. 1494.
1495. 1496. 1497. 1498.
7
0
0
0
0
2
0
1500.
1499.
66.
1501. 1502.
1503. 1504. 1505. 1506.
8
1
0
0
0
4
5
1508.
1513.
1507.
75.
1509. 1510.
1511. 1512. 1
1514.
9
8
3
0
0
5
1515.
1516.
1517.
1521. 1522.
1
83.
2
1518.
1519. 1520. 2
3
9
0
2
1523.
1524.
1525. 1526.
1527. 1528. 1529. 1530.
1
91.
4
1
2
1
1
1
1531.
1532.

62

1533. Tabel 5.8 Probabilitas Hujan untuk Bulan Oktober Desember


1537. N
1536. O
ove
1538.
1534.
1535.
ktob
mb
Desem
P
Pr
er
er
ber
1541. 1542.
1543. 1544. 1545. 1546.
1
2
1
1
2
1
1548.
1553. 1554.
1547.
8.3
1549. 1550.
1551. 1552. 1
5
1
0
0
3
2
1556.
1561. 1562.
1555.
16.
1557. 1558.
1559. 1560. 1
1
2
0
0
3
4
1564.
1567. 1568. 1569. 1570.
1563.
25.
1565. 1566.
3
9
8
1
3
0
0
1572.
1574.
1575. 1576. 1577. 1578.
1571.
33.
1573. 2
3
1
9
1
4
0
1580.
1582.
1583. 1584. 1585. 1586.
1579.
41.
1581. 3
4
1
1
2
5
0
1588.
1590.
1591. 1592. 1593. 1594.
1587.
50.
1589. 3
7
1
1
2
6
1
1596.
1598.
1599. 1600. 1601. 1602.
1595.
58.
1597. 6
8
1
1
2
7
8
1604.
1605. 1606.
1607. 1608. 1609. 1610.
1603.
66.
1
6
1
2
1
2
8
1612.
1613. 1614.
1615. 1616. 1617. 1618.
1611.
75.
1
1
1
2
2
3
9
1619.
1620.
1621. 1622.
1623. 1624. 1625. 1626.
1
83.
2
1
2
2
2
3
1627.
1

1628.
91.

1629.
5

1630.
1

1631. 1632.
2
2

1633. 1634.
2
3

1635.
1636. Setelah didapatkan nilai probabilitas hujan dari setiap
tahunan, maka selanjutnya dapat dicari nilai R5. Untuk menentukan nilai R5

63

dapat digunakan dengan 2 metode yaitu dengan metode grafik atau dengan
metode analitik interpolasi linier.
1637. Menentukan nilai R5 dengan metode grafik adalah dengan
membuat grafik yang menghubungkan antara nilai probabilitas hujan
sebagai sumbu x dan nilai curah hujan setengah bulanan pada sumbu y.
Nilai R5 dicari dalam setiap setengah bulan pertama dan setengah bulan
kedua. Grafik untuk menentukan nilai R5 dapat dilihat pada lampiran 2, dan
hasil dari nilai R5 berdasar pembacaan grafik dapat dilihat pada Tabel 5.9.
1638. Selain dengan menggunakan metode grafik, dapat juga
menentukan nilai R5 dengan menggunakan metode analitik interpolasi
linier. Untuk menentukan nilai R5 dengan menggunakan interpolasi, yaitu
dengan menghitung interpolasi antara nilai peluang/probabilitas dengan nilai
curah hujan pada peristiwa 2 dengan peristiwa 3 pada Tabel 5.5 5.8. Tabel
5.10 hasil hitungan R5 dengan menggunakan metode interpolasi linier.
Berikut merupakan contoh perhitungan R5 dengan cara analitik interpolasi
linier :
1639. Nilai R5 untuk bulan Januari :
1640. Januari 1
1641. Nilai R5 untuk Januari 1 dengan probabilitas 80% terpenuhi
1642. Interpolasi porbabilitas 16,67 dengan Curah hujan = 49
mm/hari
Probabilitas 25,00 dengan Curah hujan = 83 mm/hari
1643.
R5

(20 16,35) x(83 49)


49 62,6
25 16,62

mm/hari
1644. Januari 2
1645. Nilai R5 untuk Januari 1 dengan probabilitas 80% terpenuhi

64

1646. Interpolasi porbabilitas 16,67 dengan Curah hujan = 82


mm/hari
Probabilitas 25,00 dengan Curah hujan = 97 mm/hari
1647.
R5

(20 16,35) x(97 82)


82 88
25 16,62

mm/hari
1648.
1649. hasil dari nilai R5 berdasar perhitungan interpolasi dari bulan
Januari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 5.9.

1650.

Tabel 5.9 Nilai R5 perbandingan dengan metode grafik dan


Interpolasi linier
1652. R5
1653.
(
mm/hari)
1651. BUL
1656.
1657.
1654.
AN
M
Met
Keter
o
a
1659.
1660.
1661.
1662.
1663.
Janua
1
61666.
62.6
mend
1665.
1667.
1668.
ri
2
9
88
mend
1669.
1670.
1671.
1672.
1673.
Febru
1
81676.
85
Mend
1675.
1677.
1678.
ar
2
7
71.8
Mend
1680.
1681.
1682.
1683.
1679.
1
81686.
76.6
Mend
Maret
1685.
1687.
1688.
2
6
64
Mend
1690.
1691.
1692.
1693.
1689.
1
41696.
37.8
Mend
April
1695.
1697.
1698.
2
1
5
Mend
1700.
1701.
1702.
1703.
1699.
1
11706.
8
Mend
Mei
1705.
1707.
1708.
2
0
0
1710.
1711.
1712.
1713.
1709.
1
01716.
0
Juni
1715.
1717.
1718.
2
0
0
1720.
1721.
1722.
1723.
1719.
1
01726.
0
Juli
1725.
1727.
1728.
2
0
0
1729.
1730.
1731.
1732.
1733.
Agust
1
01736.
0
1735.
1737.
1738.
us
2
0
0
1739.
1740.
1741.
1742.
1743.
Septe
1
01746.
0
1745.
1747.
1748.
m
2
0
0
1749.
1750.
1751.
1752.
1753.
Okto
1
01756.
0
1755.
1757.
1758.
b
2
0
0
1759.
1760.
1761.
1762.
1763.
Nove
1
21766.
15.4
Mend
1765.
1767.
1768.
m
2
3
39.2
Mend
1769.
1770.
1771.
1772.
1773.
Dese
1
41776.
44.8
Mend
1775.
1777.
1778.
m
2
1
141.
Mend
1779.
1780.
1781.

5.2.2

Hujan Efektif ( Re )

1782.

Setelah nilai R5 diketahui kemudian dapat diperhitungkan

nilai hujan efektif. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab 3, untuk
perhitungan hujan efektif dihitung sesuai dengan rumus (3.7). Dibawah ini
merupakan hasil dan perhitungan hujan efektif :
1783.

Januari 1=

1
x 0.7 x 62.6=2.92 mm/hari
15

1784.

Januari 2=

1
x 0.7 x 88.0=4.11 mm /hari
15

1785.

Februari1=

1
x 0.7 x 85.0=3.97 mm /hari
15

1786.

Februari2=

1
x 0.7 x 71.8=3.35 mm/hari
15

1787. Hujan efektif dihitung dalam setengah bulanan dari bulan


Januari sampai Desember, hasil perhitungan hujan efektif ( Re ) di atas
dapat dilihat melalui Tabel 5.12.
1788.
1789. Tabel 5.10 Nilai hujan efektif ( Re ) untuk bulan Januari Juni
1790. B
1793.
1791.
ULA
1795. N 1796.
1800.
Janu
1803.
1804.
1808.
Febr
1811.
1812.
1816.
Mar
1819.
1820.
1824.
Apri
1827.
1828.
1832.
Mei
1837.
1836.
1841.
Juni

R5
1797.
1801.
62.
1805.
88
1809.
85
1813.
71.
1817.
76.
1821.
64
1825.
37.
1829.
5
1833.
8
1838.
0
1842.
0
0

Re
1798.
1802.
2.92
1806.
4.11
1810.
3.97
1814.
3.35
1818.
3.57
1822.
2.99
1826.
1.76
1830.
0.23
1834.
0.37
1839.
0
1843.
0
0

1844. Tabel 5.11 Nilai hujan efektif ( Re ) untuk bulan Juli Desember
1846.
1848.
1845. BUL
R5
Re
AN
1847.
1849.
1851.
1852.
1853.
1850.
1
0
0
Juli
1855.
1856.
1857.
2
0
0
1858.
1859.
1860.
1861.
Agust
1
0
0
1863.
1864.
1865.
us
2
0
0
1866.
1867.
1868.
1869.
Septe
1
0
0
1871.
1872.
1873.
m
2
0
0
1874.
1875.
1876.
1877.
Oktob
1
0
0
1879.
1880.
1881.
er
2
0
0
1882.
1883.
1884.
1885.
Nove
1
15.
0.72
1887.
1888.
1889.
m
2
39.
1.83
1890.
1891.
1892.
1893.
Dese
1
44.
2.09
1895.
1896.
1897.
m
2
14
6.61
1898.
1899. 5.3 Evapotranspirasi
1900. 1. Evapotranspirasi Potensial ( ETo )
1901.

Data terukur yang dipergunakan untuk menentukan nilai

Evapotranspirasi Potensial yaitu :


1. Kecepatan angin ( U ) dalam m/detik
2. Temperatur Udara ( t ) dalam oC
3. Kelembaban Udara rata rata ( RH ) dalam %
4. Lama Penyinaran sinar matahari dalam %
1902. Data data meteorologi dapat dilihat pada lampiran 4, nilai
ET0 di hitung dengan menggunakan metode Penman Modifikasi
dengan persamaan pada rumus (3.9).
1903. Contoh perhitungan ET0, untuk bulan Januari pada stasiun
Waduk Sermo, adalah sebagai berikut :

1904. Diketahui : Data rerata Klimatologi seperti pada Tabel 5.15


1. Temperatur rata rata, t = 29,71 oC
2. Kelembababan udara , RH = 68,23 %
3. Kecepatan angin, u = 15,04 km/jam = 4,18 m/detik
4. Penyinaran matahari, n/N = 49,87 %
1905. Langkah 1
1906. Dengan data t = 29,71oC (Tabel 5.15), didapat :
5. Tekanan uap jenuh (ea), melalui Tabel 3.5 didapat :
1907. t = 29,71 oC ea = 40,06 m bar
6. Faktor penimbang suhu dan elevasi daerah ( w ), melalui Tabel 3.5
didapat :
1908. t = 29,71 oC 0,79
7. ( 1 w ) = 1 0,79 = 0,22
8. Fungsi suhu, f(t), melalui Tabel 3.5
1909. t = 29,71 oC 16,50 m bar
1910. Langkah 2
1911. Dengan data : RH = 68,23 % ( Tabel 5.15)
1912. ea = 40,06 m bar
1913.
1914.
1915.
9. Tekanan uap actual

1916. ed = ea x RH/100
1917.

= 40,06 X 6823%
1918.

= 27,33 m bar

10. Perbedaan tekanan uap jenuh dengan tekanan uap sebenarnya :


1919. ( ea ed ) = 40,06 27,33
1920.

= 12,73 m bar

11. Fungsi tekanan uap, f(ed)


1921. f(ed)= 0,34 0,44(ed)0,5
1922.

= 0,11

1923. Langkah 3 :
1924. Dengan data :
-

Koordinat 7o 39 42 LS

Rasio keawanan, n/N = Penyinaran matahari = 48,97 %


1925. Didapat besaran :

12. Radiasi ekstra matahari, Ra didapat melalui Tabel 3.6 berdasarkan


nilai koordinat 7o 39 42 LS
1926.

7o 39 42 LS = 7 + (39/60) + (42/3600)
1927. = 7,6617 oLS dibulatkan menjadi 8o LS

1928.

Januari 8o LS Ra = 16,10 mm/hari

1929.
13. Radiasi yang diterima matahari, Rs diperoleh dari
1930. Rs = ( 0,25 + 0,5 n/N ) Ra

1931.

= ( 0,25 + 0,5 x 0,49 ) x 16,10

1932.

= 4,51 mm/hari

14. Fungsi rasio keawanan f(n/N) didapat melalui persamaan :


1933. f(n/N) = 0,1 + 0,9 (n/N)
1934. = 0,1 + 0,9 ( 0,49 )
1935. = 0,54
1936. Langkah 4 :
1937. Dengan data : Kecepatan angin, u = 15,04 km/jam = 4,18
m/detik
1938. Didapat besaran :
15. Fungsi kecepatan angin pada ketinggian 2.00 m diatas permukaan
tanah (km/jam) = f(u) didapat melalui persamaan :
1939. f(u) = 0,27 ( 1+ u x 0,864 )
1940.

= 0,27 ( 1 + 4,18 x 0,864 )

1941.

= 1,24 m/detik

1942. Langkah 5 :
16. Menghitung besaran radiasi bersih gelombang panjang ( Rn1 )
mm/hari dengan persamaan :
1943. Rn1 = f(t) x f(ed) x f(n/N)
1944.

= 16,50 x 0,11 x 0,54

1945.

= 0,98 mm/hari

1946. Langkah 6

17. Menghitung faktor koreksi c berdasarkan perkiraan perbandingan


kecepatan angina siang / malam di Indonesia.
1947.

Data :

RH

= 68,23 %

1948.

= 15,04 km/jam = 4,18 m/detik

1949.

Rs = 4,51 mm/hari

1950.

Asumsi u siang / u malam = 1

1951.

Melalui Tabel 3.4 diperoleh c = 1,10


Rns = ( 1 a)Rs a = 0,25

1952.
1953.

= ( 1-0,25 ) x 4,51
1954.

1955.

= 0,75 x 4,51 = 3,38 mm/hari

Rn = Rns Rn1

1956. Rn = 3,38 0,98


1957.

= 2,4 mm/hari

1958. Langkah 7 :
18. Menghitung ETo dengan persamaan :
1959. ETo = c [ w . Rn + ( 1-w ) x f(u) x (ea ed) ]
1960.

= 1,1 [ 0,79 x 2,4 + ( 0,22 ) x (1,24) x (12,73)

1961.

= 5,82 mm/hari

1962.

ETo bulanan = 5,82 x 31 hari = 180,36 mm/bulan

1963.

Perhitungan evapotranspirasi potensial langkah 1 sampai

dengan langkah 7 bulan januari dan bulan selanjutnya disajikan


pada Tabel 5.16

1964. Tabel 5.12 Perhitungan Evapotranspirasi Potensial ( ETo ) dengan metode Penman Modifikasi

1965.
1966.
1967.
1968.

Evapotranspirasi DAS Serang


3.5
3
2.5
2
Eto (m m /hari)

1.5
1
0.5
0
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun
Bulan

1969.
1970.
1971.

Gambar 5.1 Grafik Evapotrasnpirasi pada DAS Serang

Jul

Agt

Sep

Okt

Nov

Des

1972. 5.4 Analisis Kebutuhan Air di Sawah untuk Padi ( NFR )


1973.

Kebutuhan air di sawah untuk padi diperhitungkan secara bertahap

dalam setiap masa tanam. Tahapan yang dimaksud adalah yang pertama
kebutuhan air pada saat pengolahan lahan, sedangkan tahapan ke dua adalah
kebutuhan air di sawah pada saat masa tanam. Sistem pola tanam yang dipakai
adalah padi padi polowijo, jadi masa tanam 1 merupakan tanaman padi begitu
juga dengan masa tanam ke dua maka perlu diperhitungkan kebutuhan airnya,
sedangkan pada masa tanam ke tiga merupakan tanaman polowijo, tidak
diperhitungkan kebutuhan airnya karena tanaman polowijo tidak terlalu
membutuhkan air yang terlalu banyak, sehingga air sudah dianggap cukup.
1974.
5.4.1

Analisis NFR Pada Saat Pengolahan Lahan Masa Tanam 1

(Padi)
1975.

Kebutuhan air pada saat masa penyiapan lahan dapat dihitung

dengan menggunakan rumus (4.1). dibawah ini merupakan perhitungan NFR pada
saat pengolahan lahan :
1. Pengolahan lahan (LP) untuk masa tanam 1 dimulai pada bulan
Desember ke 1 dengan data :
a. Nilai ET0 pada bulan November = 4,24 mm/hari
b. Tebal penjenuhan (S) = 300 mm
c. Lama penyiapan lahan (T) = 30 hari
2. Perhitungan nilai kebutuhan air irigasi pengganti evaporasi dan
perkolasi (M), dihitung dengan menggunakan rumus (4.3)
1976.

Des 1 : M = ( 1,1 x ETo ) + P

1977.

= ( 1,1 x 4,24 ) + 2
1978.

1979.
1980.

= 2,667 mm/hari

1981.
3. Perhitungan Nilai k dihitung dengan menggunakan rumus (4.4)
k=

1982.

1983.
1984.

M xT
s

2,667 x30
350

= 0,467

4. Perhitungan nilai kebutuhan air di sawah (IR), dihitung dengan


menggunakan rumus (4.2)

1985.
1986.

0,467 xe0, 6
IR
(e 0, 6 1)
= 7,152 mm/hari

5. Perhitungan NFR untuk bulan Desember 1


1987.

NFR = IR Eto

1988.

= 7,152 4,24

1989.

= 2,909 mm/hari

6. Untuk NFR masa pengolahan lahan ke 2 pada bulan Desember 2 sama


dengan NFR masa pengolahan lahan Desember 1.
1990.

NFR Des 1 = NFR Des 2


1991. = 2,909 mm/hari

1992. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 5.15.


1993.
1994.

5.4.2

Analisis NFR Pada Masa Tanam 1 (Padi)

1995.

Kebutuhan air pada masa tanam 1 (NFR) dihitung dengan

menggunakan rumus (3.5). di bawah ini merupakan contoh perhitungan


kebutuhan air pada saat masa tanam 1 pada bulan Januari :
1. Masa tanam 1 (Padi) masuk pada bulan Januari 1 dengan data :
a. ET0 = 5,82 mm/hari, dapat dilihat pada perhitungan Evapotranspirasi
Tabel 5.15
b. Hujan Efektif (Re) bulan Januari 1 = 2,92 mm/hari, dapat dilihat
pada perhitungan hujan efektif Tabel 5.14
c. WLR untuk masa tanam dipakai nilai 1.7 mm/hari dengan menganut
pada buku Kriteria Perencanaan Irigasi (KP 01)
d. Laju perkolasi (P) ditentukan sebesar 2 mm/hari
e. Nilai Koefisien tanaman (Kc) pada bulan Des 2 = 1.2 dipakai sistem
Nedeco varietas unggul dapat dilihat pada Tabel 3.3
2. Perhitungan nilai Evapotranspirasi pada tanaman (ETc) dihitung dengan
menggunakan rumus (3.6)
1996.

ETc = 5,82 x 1.2 = 7,185 mm/hari

3. Perhitungan kebutuhan air pada saat masa tanam (NFR) dihitung dengan
menggunakan rumus (3.5)
1997.

NFR = ( 2 + 1.7 + 7,185 ) 5,82 = 7,964 mm/hari

1998. Perhitungan kebutuhan air pada masa tanam 1 bulan Januari 2


dihitung sama dengan langkah perhitungan kebutuhan air pada masa tanam bulan
Januari 1 dengan disesuaikan nilai nilai ET 0, Re, WLR, dan Koefisien Tanaman
(kc) menurut bulan, sampai dengan masa panen yang jatuh pada bulan Maret 2.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 5.15

5.4.3

Analisis NFR Pada Saat Pengolahan Lahan Masa Tanam 2

(Padi)
1999.

Di bawah ini merupakan perhitungan NFR saat pengolahan lahan

pada masa tanam kedua tanaman padi :


1. Pengolahan lahan (LP) untuk masa tanam 2 dimulai pada bulan April ke
1 dengan :
d. Nilai ET0 pada bulan Mei = 3,17 mm/hari
e. Tebal penjenuhan (S) = 250 mm
f. Lama penyiapan lahan (T) = 30 hari
2. Perhitungan nilai kebutuhan air irigasi pengganti evaporasi dan
perkolasi (M), dihitung dengan menggunakan rumus (4.3)
April 2 : M =( 1.1 x ETo )+ P

2000.

Nov 2: M =( 1.1 x ETo ) + P April 1 : M = ( 1,1 x ETo ) + P


= ( 1,1 x 3,17 ) + P
2001.

= 5,464 mm/hari

2002.
3. Perhitungan Nilai k dihitung dengan menggunakan rumus (4.4) ,
k=

2003.

2004.
2005.

M xT
s

5,464 x30
250

= 0,656

4. Perhitungan nilai kebutuhan air di sawah (IR), dihitung dengan


menggunakan rumus (4.2)
IR
2006.

0,656 xe0,656
(e 0,656 1)

2007.

= 11,357 mm/hari

5. Perhitungan NFR untuk bulan April 1


2008. NFR = IR Eto
2009.

= 11,357 3,15

2010.

= 8,208 mm/hari

6. Untuk NFR masa pengolahan lahan ke 2 pada bulan April 2 sama


dengan NFR masa pengolahan lahan April 2.
2011.

NFR April 1 = NFR April 2


2012. = 8.208 mm/hari

5.4.4

Analisis NFR Pada Masa Tanam 2 (Padi)

2013.

Perhitungan kebutuhan air (NFR) pada saat masa tanam 2 dihitung

dengan menggunakan rumus (3.5) sama dengan perhitungan NFR pada masa
tanam 1 dengan disesuaikan nilai ET0, Re sesuai dengan bulannya namun, untuk
nilai Koefisien Tanaman (kc) pada masa tanam 2 dipakai sistem Nedeco varietas
unggul.
1. Masa tanam 2 (padi) masuk pada bulan April 1 dengan :
a. ET0

3,15

mm/hari,

dapat

dilihat

pada

perhitungan

Evapotranspirasi Tabel 5.15


b. Hujan Efektif (Re) bulan April 1 = 1,76 mm/hari, dapat dilihat pada
perhitungan hujan efektif Tabel 5.14
c. WLR untuk masa tanam dipakai nilai 1.7 mm/hari dengan
menganut pada buku Kriteria Perencanaan Irigasi (KP 01)
d. Laju perkolasi (P) ditentukan sebesar 2 mm/hari

e. Nilai Koefisien tanaman (Kc) pada bulan April = 1.3 dipakai sistem
Nedeco varietas unggul dapat dilihat pada Tabel 3.3
2. Perhitungan nilai Evapotranspirasi pada tanaman (ETc) dihitung dengan
menggunakan rumus (3.6)
2014.

ETc = 3,15 x 1.3 = 3,914 mm/hari

2015.
3. Perhitungan kebutuhan air pada saat masa tanam (NFR) dihitung dengan
menggunakan rumus (3.5)
2016.

NFR = ( 2 + 1.7 + 3,914 ) 1,76 = 8,208 mm/hari

2017. Perhitungan kebutuhan air pada masa tanam 2 bulan Juni 1


dihitung sama dengan langkah perhitungan kebutuhan air pada masa
tanam bulan Mei 2 dengan disesuaikan nilai nilai ET 0, Re, WLR, dan
Koefisien Tanaman (kc) menurut bulan, sampai dengan masa panen
yang jatuh pada bulan Agustus 1. Hasil perhitungan dapat dilihat pada
Tabel 5.15

2018. Tabel 5.13 Hasil perhitungan NFR


2019. 2020.
2022.
2021.
B
ETo
Re
2031. 2032.
2033.
N
2040. 1.90
2
2046. 2047.
2048.
D
2057. 2.07
2
2068. 2069.
2070.
J
2079. 3.01
2
2090. 2091.
2092.
F
2101. 2.41
2
2112. 2113.
2114.
M
2123. 2.08
2
2134. 2135.
2136.
A
2145. 2.12
2
2159. 2160.
2161.
M
2170. 2.13
2
2181. 2182.
2183.
J
2192. 2.08
2
2203. 2204.
2205.
J
2214. 2.22
2
2225. 2226.
2227.
A
2236. 2.26
2
2254. 2255.
2256.
S
2265. 2.46
2
2276. 2277.
2278.
O
2287. 2.82
2
2298. 2299.2300.

2034.
0.72
2043.
1.83
2049.
2.09
2060.
6.61
2071.
2.92
2082.
4.11
2093.
3.97
2104.
3.57
2115.
3.57
2126.
2.99
2137.
1.76
2148.
0.23
2162.
0.37
2173.

2026.
C

2027.
E

2035.

PEMBASAHAN

2044.

PEMBASAHAN

2050. 2051.
LP
2061. 2062.
1.2
2072. 2073.
1.7
1.27
2083. 2084.
1.7
1.33
2094. 2095.
1.7
1.3
2105. 2106.
1.7
1.3
2116. 2117.
2127. 2128.

2052.
LP
2063.
LP
2074.
1.2
2085.
1.27
2096.
1.33
2107.
1.3
2118.
1.3
2129.

2217.

2138. 2139.
LP
2149. 2150.
1.2
2163. 2164.
1.7
1.27
2174. 2175.
1.7
1.33
2185. 2186.
1.7
1.3
2196. 2197.
1.7
1.3
2207. 2208.
2218. 2219.

2140.
LP
2151.
LP
2165.
1.2
2176.
1.27
2187.
1.33
2198.
1.3
2209.
1.3
2220.

2228.

2028.
N

2054.
7.
2065.
7.
2076.
4.
2087.
3.
2098.
3.
2109.
2.
2120.
1.
2131.
0
2142.
1
2153.
1
2167.
2.
2178.
2.
2189.
2.
2200.
2.
2211.
1.
2222.
0
2233.

2055.
2.
2066.

2229. 2230. 2231.

2053.
LP
2064.
LP
2075.
1.2
2086.
1.3
2097.
1.3
2108.
.13
2119.
0.6
2130.
0
2141.
LP
2152.
LP
2166.
1.2
2177.
1.3
2188.
1.3
2199.
1.3
2210.
0.6
2221.
0
2232.

2239.

2240. 2241. 2242.

2243.

2244.

2245.

2257.

2258. 2259. 2260.

2261.

2262.

2263.

2268.

2269. 2270. 2271.

2272.

2273.

2274.

2279.

2280. 2281. 2282.

2283.

2284.

2285.

2290.

2291. 2292. 2293. 2294.


2295.
2304. Mak
2302. 2303.
s
2311. 2312.
2313. Min
2322. Rata
2320. 2321.
rata

2296.
2305.
8.
2314.

2184.
2195.
2206.

2301.

2307. 2308.2309. 2310.


2316. 2317.2318. 2319.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

2023. 2024. 2025.


W
C1
C2

2325. Ketentuan :
Mulai pengerjaan bulan Desember
Lama Penyiapan Lahan (LP) 30 hari atau 1 bulan
Kondisi sawah awal Bero
Jenis padi varietas unggul
Koefisien tanaman dipakai cara Nedeco
Pola tanam Padi Padi Polowijo
2326.

2030.
Pol
a
2036.
P
2037.
2056.
2067.

2.
2077.
7.
2088.

2078.

6.
2099.
6.
2110.

2100.

4.
2121.
0.
2132.

2122.

2143.
8.
2154.

2144.

8.
2168.
7.
2179.
7.
2190.
8.
2201.
8.
2212.
4.
2223.

2089.
2111.
2133.

2155.
P
2156.
A
2157.
D
2158.
I

2.
2234.

2323.
5.

2246.
P
2247.
o
2248.
L
2249.
o
2250.
2306.

2327. BAB VI
2328.
2329. HASIL DAN PEMBAHASAN
2330.
2331.
2332.
6.1 Hasil Penelitian
6.1.1

Keadaan

Eksisting Pada Daerah

Irigasi Bendung

Pengasih
2333.

Bendung Pengasih Kabupaten Kulonprogo pada awal

rencananya dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas 2.757 ha.


Kenyataannya yang tercantum dalam Surat Keputusan Bupati Kulonprogo
pada tahun 2012-2013 tentang Tata Tanam Tahunan adalah 924 Ha luas
sawah yang digunakan untuk lahan pertanian Padi untuk daerah irigasi
Kejuron/GAB.P3A Pengasih Timur dan 1.187 Ha utnuk daerah irigasi
Kejuron/GAB.P3A Pengasih Barat, jadi total luas areal irigasi yang harus di
layani Bendung Pengasih pada tahun 2012 2013 adalah 2.111 ha.
2334.

Luas areal irigasi yang berkurang menjadi 2.111 ha

diakibatkan adanya penyusutan lahan persawahan, maka debit air irigasi


yang ada pada saluran induk Bendung Pengasih juga akan mengalami
perubahan jumlah debit yang dibutuhkan. Untuk mengetahui besarnya debit
air irigasi yang dibutuhkan pada masa tanam tahun 2012 2013 di saluran
induk Pengasih, maka perlu diperhitungkan kembali debit kebutuhan air
irigasi pada Bendung Pengasih.
2335.
6.1.2
Hitungan
2336.

Dari hasil perhitungan kebutuhan air di sawah pada Tabel

5.15, bahwa kebutuhan air irigasi di sawah (NFR) adalah sebesar 8.968
mm/hari, maka selanjutnya dapat dihitung kebutuhan air pengambilan pada
saluran primer. Perhitungan debit pengambilan pada saluran primer dapat
dihitung dengan rumus (3.4). Data yang dibutuhkan untuk perhitungan debit
kebutuhan air irigasi pada Bendung Pengasih adalah data luas areal irigasi
keseluruhan yang harus dilayani oleh Bendung Pengasih. Untuk data luas
total areal irigasi didapatkan melalui buku Surat Keputusan Bupati

Kabupaten Kulonprogo 2012/2013 tentang Sistem Tata Tanam Tahunan


yang terlampir pada bagian halaman lampiran V. Nilai efisiensi saluran pada
saluran primer memakai nilai koefisien pada buku Standar Perencanaan
Irigasi KP 01 yang menyebutkan bahwa nilai efisiensi saluran pada saluran
primer adalah 0.65. Berikut ini merupakan perhitungan kebutuhan debit air
irigasi pada saluran primer Bendung Pengasih:
2337. Perhitungan kebutuhan debit air irigasi
2338. Dengan data :
1. Luas daerah irigasi Bendung Pengasih pada Tabel 6.1 pada tahun
2012 - 2013
2339. Tabel 6.1 Luas areal irigasi pada bendung pengasih
2340. Luas Areal Irigasi
2341. Luas
2342. Sal. Irigasi Kejuron/GAB.P3A
Pengasih
Barat Kejuron/GAB.P3A
2344.
Sal. Irigasi
Pengasih
Timur
2346.
Jumlah
Total Luas Tanam

Tanam
( A )ha
2343.
1.187
2345. 924 ha
2347. 2.111 ha

2348.
2. Luas daerah irigasi Bendung Pengasih pada awal perencanaan adalah
2.757 ha
3. Efisiensi pada saluran primer ( e ) = 0,65
4. Sistem irigasi tidak menggunakan golongan, sehingga nilai c = 1
2349. Menghitung kebutuhan debit air irigasi Bendung Pengasih
pada awal rencana :
2350.

Perhitungan

kebutuhan

debit

menggunakan rumus (3.4)

2351.

NFR
xA
ex8,64

diperhitungkan

dengan

2352.
2353.

1x8,968
x 2.757
0,65 x8,64

= 4.270,314 lt/dt

2354.
2355. Menghitung kebutuhan debit air irigasi Bendung Pengasih
pada tahun 2012 - 2013 :

2356.

2357.
2358.
2359.

NFR
xA
ex8,64

1x8,968
x 2.111
0,65 x8,64

= 3.369,725 lt/dt

Hasil perhitungan debit kebutuhan air pada saluran primer

dapat dilihat pada Tabel 6.2.


2360. Tabel 6.2 Hasil perhitungan debit air irigasi pada Bendung
Pengasih
2361. Luas Areal
2362. Lu
2363. Q
2364. Q Irigasi
Primer

Awal

2365. as2.7

Primer
2366.
4.27

(Rencana)
2367.
Q Primer untuk

ha
2368.572.1

2369. 0,314
3.36

Tahun
2013Selisih Debit Air Irigasi
2370.

11 ha

2371. 9,725
1.00
0,589

2372.
6.2 Pembahasan
2373.

Pada penelitian tugas akhir yang dilaksanakan di bendung

Pengasih Kulonprogo, Yogyakarta adalah untuk mendapatkan nilai


kebutuhan air irigasi di daerah Pengasih, Kulonprogo sesuai dengan lahan
irigasi yang tersedia pada periode tanam tahun 2012 - 2013. Akibat dari
adanya alih fungsi lahan pertanian , maka luas areal lahan irigasi yang harus
dilayani oleh bendung Pengasih berkurang dari luas areal irigasi yang harus

ditanggung oleh Bendung Pengasih saat awal bendung Pengasih dibangun


yaitu 2.757 ha.
2374.

Akibatnya

akan

berpengaruh

pada

kebutuhan

debit

pengambilan pada saluran primer Bendung Pengasih juga akan berkurang


karena adanya penyusutan luas areal irigasi. Dari hasil perhitungan pada
Tabel 6.2 terdapat selisih debit yang cukup besar pada saluran Induk
Bendung Pengasih, sehingga air irigasi mengalami kelebihan.
2375.

Apabila kelebihan debit air irigasi ini tidak dikelola dan

dimanfaatkan dengan baik , maka akan terjadi penggunaan air irigasi yang
tidak sesuai dan terbuang sia sia. Oleh sebab itu perlu di adakan
pengelolaan atau pemanfaatan air yang nantinya dapat berfungsi sebagai
pencukupan kebutuhan masyarakat sekitar. Hal ini dapat dilakukan dengan
memanfaatkan air yang tidak baku ini menjadi air baku yang dapat
dikonsumsi oleh masyarakat sekitar baik itu dimanfaatkan oleh PDAM
ataupun lain sebagainya. Berikut di bawah ini merupakan perhitungan
realokasi debit air irigasi yang dapat dicakupi dari sisa debit air irigasi pada
bendung Pengasih :
2376.
2377. Alokasi Air Untuk Kebutuhan Air Tingkat Domestik
2378. Kebutuhan air untuk tingkat domestik adalah kebutuhan air
yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air untuk kehidupan sehari
hari. Kebutuhan air domestic dalam suatu wilayah sangat berpengaruh
dengan jumlah penduduk yang ada dalam wilayah tersebut. Berikut
merupakan perhitungan kebutuhan air domestik untuk wilayah Kabupaten
Kulonprogo :
-

Dari data Badan Pusat Statistik jumlah penduduk yang ada di daerah
Kabupaten Kulonprogo adalah sebesar 370944 jiwa.

Jumlah kebutuhan air untuk tingkat kota sedang sebesar 100


lt/hari/jiwa pada Tabel 4.1.

Jumlah kebutuhan air yang harus dipenuhi untuk daerah Kabupaten


Kulonprogo :
2379.

Qdom = qu x Pu

2382.

2380.

= 100 lt/hari/jiwa x 370.944 jiwa

2381.

= 37.094.400 lt/hari
Jumlah debit air irigasi yang berlebih pada

Bendung Pengasih sebesar 1000,589 lt/dt = 86.450.849,76


lt/hari, jika dialokasikan untuk kebutuhan air bersih tingkat
domestik sebesar 20.000.000 lt/hari maka masih memiliki sisa
debit sebesar 66.450.849,76 lt/hari. Alokasi debit air irigasi
untuk kebutuhan air bersih tingkat domestik tersebut dapat
dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan air bersih tingkat
domestic untuk penduduk Kulonprogo sebesar:
2383.
2384.

20.000 .000< hari


=200000 jiwa
100 /hari/ jiwa

2385.
2386.

Atau, dapat untuk mencukupi kebutuhan air

bersih tingkat domestik untuk wilayah Kabupaten Kulonprogo


sebesar 53,9 % dari total jumlah penduduk yang ada di
Kabupaten Kulonprogo.
2387.
2388. Alokasi Air Untuk Kebutuhan Tingkat Non Domestik
2389.

Kebutuhan air untuk non domestik adalah

kebutuhan air yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan air selain untuk
kebutuhan air sehari hari untuk manusia. Kebutuhan air non domestik di
gunakan untuk memenuhi kebutuhan air pada tempat tempat pelayanan
umum, perindustrian dan lain sebagainya. Berikut ini adalah perhitungan
kebutuhan air non domestic untuk wilayah kabupaten Kulonprogo.
-

Dari data Badan Pusat Statistik, data tempat tempat pelayanan


umum untuk wilayah Kabupaten Kulonprogo sebagai berikut :
2390.
2391.
2392.
2393.

2394.
2395.
2396. Tabel 6.3
Kulonprogo
2397.

Data

Tempat

Jumlah

2400.

2401.

Sekolahan
2403.

Kawasan Industri
2409.

2410.

Kawasan Pariwisata
2412.

2413.

Jumlah Pekerja /
Murid
81414 murid
2405.

2404.
2407.

Daerah

2402.
846

Masjid
2406.

Umum

2399.

2398.

Nama Tempat

Pelayanan

1539
2408.
15

Pasar
2415.

3528 Pekerja
2411.

6
2414.
32
2416.

Rumah Sakit
2418.

2417.
6

432 Pasien
2420.

2419.

Puskesmas
2421.

80
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten

Kulonprogo
2422.
-

Perhitungan kebutuhan air non domestik untuk sekolahan, dari data


statistik pada Tabel 6.3 daerah Kulonprogo terdapat 846 jumlah
sekolahan dan 81414 jumlah murid, kebutuhan air untuk sekolahan
adalah 10 lt/murid/hari pada Tabel 4.2, kebutuhan air yang harus
dipenuhi :
2423.

= 81.414 murid x 10 lt/murid/hari

2424.= 814.140 lt/hari


-

Perhitungan kebutuhan air untuk masjid, dari data pada Tabel 6.3
terdapat 1539 jumlah masjid pada Kabupaten Kulonprogo,
sedangkan kebutuhan air untuk masjid sebesar 3000 lt/hari pada
Tabel 4.2 maka kebutuhan air yang harus dipenuhi untuk masjid :

2425.

2426.
-

= 1539 x 3000 lt/hari


= 4.617.000 lt/hari

Perhitungan kebutuhan air untuk kawasan industri, dari data Badan


Pusat Statistik pada Tabel 6.3 pada daerah Kulonprogo terdapat 15
kawasan industri yang memiliki 3528 pekerja, untuk kawasan
industri tingkat kebutuhan airnya sebesar 0,8 lt/dt/pekerja, maka
jumlah kebutuhan airnya :
2427.

= 3528 pekerja x 0,8 lt/dt/pekerja x

86400 dt
2428.
-

= 243.855.360 lt/hari

Perhitungan kebutuhan air untuk kawasan pariwisata, pada daerah


Kabupaten Kulonprogo menurut data Badan Pusat Statistik memilik
6 daerah kawasan wisata, kebutuhan air untuk kawasan pariwisata
sebesar 0,3 lt/dt, maka kebutuhan air yang harus dipenuhi :
2429.

2430.
-

= 6 x 0,3 lt/dt x 86400 dt


= 414.720 lt/hari

Perhitungan kebutuhan air untuk Pasar, dari data Badan Pusat


Statistik Tabel 6.3, jumlah Pasar yang ada pada daerah Kulonprogo
adalah 32 Pasar, tngkat kebutuhan air untuk Pasar pada Tabel 4.2
sebesar 12.000 lt/hari, maka kebutuhan air yang harus dipenuhi
adalah :
2431.

2432.
-

= 32 x 12.000 lt/hari
= 384.000 lt/hari

Perhitungan kebutuhan air untuk Rumah Sakit, menurut data Badan


Pusat Statisti daerah Kulonprogo terdapat 6 rumah sakit dengan
jumlah tempat tidur untuk pasien sebanyak 432 bed. Tingkat
kebutuhan air untuk rumah sakit sebesar 200 lt/bed/hari, maka
jumlah kebutuhan airnya sebesar :
2433.
2434.

= 432 bed x 200 lt/bed/hari


= 86.400 lt/hari

Perhitungan kebutuhan air untuk Puskesmas, dari data Badan Pusat


Statistik tercatat ada 80 puskesmas di daerah Kulonprogo, tingkat

kebutuhan air untuk Puskesmas sebesar 2000 lt/hari, maka jumlah


kebutuhan air yang harus dipenuhi sebesar :
2435.

= 80 x 2000 lt/hari

2436.
2437.

= 160.000 lt/hari

Jumlah total kebutuhan air untuk tingkat non

domestik dapat dilihat pada Tabel 6.4.


2438.
2439.
2440. Tabel 6.4 Kebutuhan air non domestik untuk daerah
Kulonprogo
2443.
2441.
2442.
Kebutuhan Air
Nama Tempat
Jumlah
(lt/hari)
2444.
2445.
2446.
Sekolahan
2447.

846
2448.

Masjid
2450.

2451.

Kawasan Industri
2453.

2454.

Kawasan Pariwisata
2456.

2457.

Pasar
2459.
Rumah Sakit
2462.

814.140
2449.

1539

4.617.000
2452.

15

243.855.360
2455.

414.720
2458.

32
2460.

384.000
2461.

6
2463.

86.400
2464.

Puskesmas
2465.

80
Jumlah

2466.

160.000

2467.

Faktor

2468.

250.417.520
Kehilangan air 30 %
2469.

751.252.56
Jumlah Total

Kebutuhan Air Non Domestik


2471.
2472.

2470.
325.542.776

Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih

untuk tingkat domestik, kelebihan debit pada bendung pengasih juga dapat

dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih untuk tingkat non domestic.


Perhitungan kebutuhan air bersih non domestic di atas dapat kita ketahui
jumlah debit air bersih yang harus dipenuhi untuk tingkat non domestik.
Debit yang cukup besar tersebut dapat dibantu dengan mengalokasikan
lebihnya debit air irigasi pada Bendung Pengasih sebesar 50.000.000 lt/hari,
sehingga dengan dialokasikannya debit air irigasi tersebut dapat membantu
sebesar 24,61 % dari jumlah total kebutuhan debit air bersih tingkat non
domestic pada Tabel 6.4 untuk wilayah Kabupaten Kulonprogo.
2473.
2474. Kebutuhan Air Perikanan
2475. Dari debit yang berlebih pada Bendung Pengasih sebesar
86.450.849,76 lt/hari, setelah dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih
domestic sebesar 20.000.000 lt/hari dan air bersih non domestic sebesar
50.000.000 lt/hari, masih memiliki sisa debit sebesar 16.450.849,76 lt/hari.
Debit ini masih dapat untuk dialokasikan untuk kebutuhan air pada sector
perikanan air tawar.
2476. Kebutuhan air untuk perikanan diperhitungkan dengan
menggunakan satandar kebutuhan debit untuk perikanan sebesar 7 mm/dt/ha
atau 0,81 lt/dt/ha

untuk penggantian air dalam 1 hari, di bawah ini

merupakan luas kolam yang dapat dipenuhi oleh sisa debit alokasi pada
Bendung Pengasih tersebut.

2477.

0,81</ dt / hari x 86400 dt

16.450.849,76< hari

2478.
2479. Jadi dari hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa
untuk sisa debit air irigasi yang berlebih pada Bendung Pengasih setelah
dialokasikan untuk kebutuhan air bersih domestic dan non domestic dapat
juga dialokasikan untuk kebutuhan air untuk perikanan air tawar seluas
235,01 ha.

2480. BAB VII


2481.

2482. SIMPULAN DAN SARAN


2483.
2484.
2485.
7.1 Kesimpulan
2486.

Dari hasil penelitian pada Bendung Pengasih

Kulonprogo melalui bab Analisis data didapatkan beberapa


kesimpulan sebagai berikut :
2487. Hasil analisis didapatkan debit pengambilan pada
saluran primer bendung Pengasih sebesar 4.270,314 lt/dt untuk luas
areal irigasi pada masa awal rencana bendung Pengasih adalah 2.757
ha. Seiring dengan pertumbuhan penduduk semakin bertambah
tahun pada areal irigasi bendung Pengasih mengalami alih fungsi
lahan, yang semula luas areal irigasi 2.757 ha, pada tahun 2013
tercatat hanya 2.111 ha yang masih digunakan sebagai lahan
pertanian, maka akan terjadi selisih debit antara kebutuhan debit
awal dengan kebutuhan debit untuk luas areal irigasi yang tersedia
pada tahun 2012 - 2013. Selisih debit tersebut sebesar 1000,589 lt/dt
atau 86.450.849,76 lt/hari seperti yang tercantum pada Tabel 6.2.
Artinya bahwa pada bendung Pengasih terjadi kelebihan debit air
untuk irigasi untuk masa tanam 2012 2013. Kelebihan debit ini
dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan air baku bersih baik untuk
domestik, non domestic dan juga untuk kebutuhan air untuk
perikanan. Dari hasil peritungan pada bab VI Hasil Dan
Pembahasan, sisa apabila debit air irigasi yang berlebih di
alokasikan untuk kebutuhan air baku bersih domestic sebesar
20.0000.000 lt/hari dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan air
baku bersih tingkat domestik sebesar 200.000 jiwa dari 377.994 jiwa
penduduk yang ada di wilayah Kabupaten Kulonprogo atau sebesar
53,92 % dari jumlah keseluruhan penduduk Kabupaten Kulonprogo.
Sebagian debit selain dimanfaatkan untuk kebutuhan air baku bersih
tingkat domestic juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air baku

bersih non domestic, dan dari hasil perhitungan apabila sebagian


debit air irigasi yang berlebih pada bendung Pengasih dimanfaatkan
untuk kebutuhan air baku bersih non domestic sebesar 50.000.000
lt/hari, akan dapat membantu sebesar 24,61 % kebutuhan air baku
bersih tingkat non domestic untuk wilayah Kabupaten Kulonprogo
yang sebesar 325.542.776 lt/hari. Selain dimanfaatkan untuk
kebutuhan air baku bersih, dari sisa debit air irigasi yang berlebih
setelah dimanfaatkan untuk air baku, masih terdapat sisa debit
sebesar 16.450.849,76 lt/hari. Debit tersebut dapat dimanfaatkan
untuk kebutuhan air bagi perikanan air tawar. Apabila debit tersebut
dimanfaatkan untuk kebutuhan air perikanan air tawar, maka dapat
untuk mencukupi seluas 235,01 ha kolam perikanan. Jadi apabila
debit air irigasi pada bendung Pengasih dikelola dengan baik, maka
akan bermanfaat bagi kebutuhan untuk penduduk sekitar baik itu
untuk kebutuhan sehari hari maupun di luar kebutuhan sehari
hari sebagai contoh untuk kawasan perindustrian, dan juga untuk
pembudidayaan ikan air tawar, karena untuk daerah Kulonprogo
sendiri banyak penduduk pedesaan yang membudidayakan ikan air
tawar tercatat menurut Badan Pusat Statisk wilayah Kabupaten
Kulonprogo memiliki luas lahan perikanan air tawar sebesar 40,858
ha, dan itu bisa dikembangkan lagi dengan memanfaatkan alokasi air
irigasi pada bendung Pengasih.
2488.
7.2 Saran
2489.

Lebihnya debit kebutuhan air irigasi pada Bendung

Pengasih perlu dilakukan pengelolaan air agar debit air yang


berlebih ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk
mencukupi kebutuhan kebutuhan hidup masyarakat sekitar.
Pemanfaatan

debit

air

irigasi

dapat

dilakukan

dengan

memanfaatkan sebagai kebutuhan perikanan dan kebutuhan air


baku bersih untuk masyarakat sekitar, tentu saja perlu peran dari
pemerintah untuk mengelola air agar pemanfaatan air dapat

dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan dan tepat


guna, tidak ada pihak pihak petani yang dirugikan.