Anda di halaman 1dari 2

Sebuah Jalan Menuju Hubungan Internasional

Sukses terbesar merupakan hal yang relatif. Setiap orang akan melihat keberhasilan dari sudut
pandang yang berbeda. Saya pun memiliki sudut pandang yang unik. Bagi saya sukses terbesar
dalam hidup saya adalah berhasil lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru School of Integrated
Climate System Science (SICSS), Universitaat Hamburg.
Saya merupakan lulusan pertama Program Studi Diploma IV Klimatologi di STMKG. Sebagai
lulusan pertama saya harus menghadapi konsekuensi bahwa STMKG masih dalam proses
pengurusan akreditasi dan hanya memenuhi persyaratan akreditasi minimum (bisa dianggap
setara dengan C). Terkadang akreditasi dapat menjadi salah satu persyaratan yang penting ketika
ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pada saat yang sama, ada sebuah program studi magister yang sangat menarik minat saya, yaitu
program studi Integrated Climate System Science (ICSS) yang diselenggarakan oleh School of
Integrated Climate System Science (SICSS). Program studi ini berada di Jerman, negara yang
diakui dunia atas kualitas pendidikannya dan bagian dari Universitaat Hamburg, salah satu
kampus ternama di sana. Selain memiliki banyak profesor dan doktor, SICSS juga memiliki
laboratorium alam klimatologi dan didukung oleh institusi penelitian terkenal di dunia, salah
satunya Max Planck Institut fur meteorologie. Yang lebih menantang adalah jumlah orang yang
diterima dalam program magister SICSS. SICSS hanya 3 pelamar berkebangsaan Jerman, 7
pelamar kebangsaan Eropa kecuali Jerman dan 10 Orang dari benua lainnya. Dengan kualitas
seperti itu saya yakin SICSS mematok persyaratan tinggi untuk dapat lolos. Saya sempat merasa
kemungkinan lolos kampus ini sangat kecil bagi lulusan angkatan pertama seperti saya.
Meskipun demikian, saya tetap nekat mendaftar di SICSS. Saya berkomunikasi lewat email
dengan koordinator program Master di sana sejak beberapa bulan sebelum pendaftaran dimulai.
Saya sempat mencoba mendaftar sebelum pendaftaran dibuka karena saya ingin segera
mendapatkan LOA. Sayangnya itu sama sekali tidak memungkinkan sehingga saya akhirnya
hanya berkomunikasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses pendaftaran di SICSS. Saya
membuat isi aplikasi saya sebaik mungkin. Saya juga mendiskusikan isi motivation letter, CV,
dan dokumen dengan dosen-dosen dan beberapa peneliti BMKG.
Ketika pendaftaran dibuka, saya segera mengirimkan aplikasi ke Hamburg. Sesampainya aplikasi
tersebut di Jerman, saya langsung diemail mengenai akreditasi STMKG mengingat Program
studi Klimatologi STMKG belum terdaftar di BAN-PT. Akhirnya Ketua STMKG membantu
dengan memberi copy ijin operasional STMKG dan berhasil meyakinkan bahwa STMKG sudah
memenuhi persyaratan akreditasi. Saya bersyukur pihak Hamburg mau mengkonfirmasi hal
tersebut terlebih dahulu. Meskipun ini sempat menimbulkan kekhawatiran, pada akhirnya semua
berjalan dengan baik.
Dua minggu setelah deadline pendaftaran, saya memperoleh email dari pihak SICSS. Mereka
menyatakan bahwa saya diterima dan LoA dapat didownload setelah 12 Mei 2015. Hal ini
membuat saya benar-benar bersyukur. Selain berdampak positif bagi saya sendiri, hal ini ternyata
memberi dampak positif pula bagi orang-orang di sekitar saya. Para calon dosen dan mahasiswa
yang mengetahui hal ini menjadi sangat bersemangat meraih pendidikan di luar negeri. Ini

bukanlah karena pendidikan di Indonesia kurang baik melainkan karena ilmu meteorologi dan
klimatologi merupakan ilmu yang langka di Indonesia. Pendidikan di luar negeri menawarkan
ilmu pengetahuan, skill, jaringan pergaulan dan pengalaman yang lebih banyak dibandingkan
hanya berada di Indonesia.
Di dalam ilmu meteorologi dan klimatologi, riset adalah hal yang sangat penting. Saya sangat
bersyukur memperoleh tiket belajar di dalah satu institute riset di Jerman. Selain itu saya sangat
ingin melihat bagaimana laboratorium alam klimatologi di SICSS. Saya harap pengalaman ini
menjadi hal yang berguna ketika saya kembali ke Indonesia nantinya.