Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

TETANUS

A. Latar Belakang
Tetanus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di seluruh
dunia. Diperkirakan angka kejadian pertahunnya sekitar satu juta kasus dengan
tingkat mortalitas yang berkisar dari 6% hingga 60%.
Tetanus yang juga dikenal sebagai lockjaw (kejang mulut), merupakan infeksi
termediasi-eksotoksin akut yang disebabkan oleh basilus anaerobik pembentuk
spora, Clostridium tetani. Tetanus bersifat fatal pada hampir 60% orang yang
tidak terimunisasi, biasanya dalam 10 hari setelah serangan.
Berdasar dari arsip yang dimiliki di wilayah Jawa Tengah, angka kejadian
tetanus di Jawa Tengah di tahun 2011 sebanyak 530 orang. Yaitu kisaran umur 3588 tahun.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa penyakit tetanus masih rentan terjadi
dimasyarakat. Terlebih pada masyarakat dari golongan menengah kebawah. Dan
juga karena bakteri penyebab tetanus tidak dapat di lenyapkan dari lingkungan.
Imunisasi sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah
penyakit tetanus. Namun ketika tetanus itu telah berkembang didalam tubuh,
perlu penanganan yang intensif agar klien dapat sembuh secara total.
B. Pengertian
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa
disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan kuman secara
langsung, tetapi sebagai dampak eksotoksin (tetanoplasmin) yang dihasilkan oleh
kuman pada sinaps ganglion sambungan sumsum tulang belakang, sambungan
neuro muscular (neuro muscular jungtion) dan saraf autonom. (Sumarmo, 2010).
Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh tetonospamin yang di produksi
oleh clostridium tetani yang menginfeksi system urat saraf dan otot sehingga otot
menjadi kaku. (Gardjito, 2011 ).

Tetanus

adalah

gangguan

neurologis

yang

ditandai

dengan

meningkatnya tonus otot dan spasme , yang disebabkan oleh tetanuspasmin,


suatu toksin protein yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. ( Sudoyo,
2011 )
Jadi dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penyakit
tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani
bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh
badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot massater dan otot-otot
rangka.
C. Klasifikasi
Klasifikasi tetanus berdasarkan bentuk klinis yaitu: (Sudoyo Aru, 2011)
1. Tetanus local: Biasanya ditandai dengan otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas
dan spasme pada bagian proksimal luar. Gejala itu dapat menetap dalam
beberapa minggu dan menghilang.
2. Tetanus sefalik: Varian tetanus local yang jarang terjadi. Masa inkubasi 1-2
hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol
adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX, dan XI tersering saraf otak VII diikuti
tetanus umum.
3. Tetanus general: yang merupakan bentuk paling sering. Spasme otot, kaku
kuduk, nyeri tenggorokan, kesulitan membuka mulut, rahang terkunci
(trismus), disfagia. Timbul kejang menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi
ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya, spasme berlangsung beberapa detik
sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.

4. Tetanus neonatorum: biasa terjadi dalam bentuk general dan fatal apabila
tidak ditanggani, terjadi pada anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang tidak
imunisasi secara adekuat, rigiditas, sulit menelan ASI, iritabilitas, spasme.
Klasifikasi beratnya tetanus (Sudoyo Aru, 2011):
1. Derajat I (ringan): trismus (kekakuan otot mengunyah) ringan sampai sedang,
spasitas general, tanpa gangguan pernafasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa
disfagia
2. Derajat II (sedang): trismus sedang, rigiditas yang nampak jelas, spasme
singkat ringan sampai sedang, gangguan pernapasan sedang RR 30x/ menit,
disfagia ringan.
3. Derajat III (berat): trismus berat, spastisitas generaisata, spasme reflek
berkepanjangan, RR 40x/ menit, serangan apnea, disfagia berat, takikardia
120.
4. Derajat IV (sangat berat): derajat tiga dengan otomik berat melibatkan sistem
kardiovaskuler. Hipotensi berat dan takikardia terjadi perselingan dengan
hipotensi dan bradikardia, salah satunya dapat menetap.

D. Penyebab
Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif
anaerob, Clostridium tetani, dengan mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah
inokulasi bentuk spora ke dalam darah tubuh yang mengalami cedera (periode
inkubasi) (Brennen U. 2012).
Penyakit ini merupakan 1 dari 4 penyakit penting yang manifestasi klinis
utamanya adalah hasil dari pengaruh kekuatan eksotoksin (tetanus, gas ganggren,
dipteri, botulisme) (Perlstein D. 2010)

Tempat masuknya kuman penyakit ini bisa berupa luka yang dalam yang
berhubungan dengan kerusakan jaringan lokal, tertanamnya benda asing atau
sepsis dengan kontaminasi tanah, lecet yang dangkal dan kecil atau luka geser
yang terkontaminasi tanah, trauma pada jari tangan atau jari kaki yang
berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan (Parry CM,
dkk. 2010).
Pada keadaan anaerobik, spora bakteri ini akan bergerminasi menjadi sel
vegetatif. Selanjutnya, toksin akan diproduksi dan menyebar ke seluruh bagian
tubuh melalui peredaran darah dan sistem limpa. Toksin tersebut akan beraktivitas
pada tempat-tempat tertentu seperti pusat sistem saraf termasuk otak. Gejala
klonis yang ditimbulakan dari toksin tersebut adalah dengan memblok pelepasan
dari neurotransmiter sehingga terjadi kontraksi otot yang tidak terkontrol. Akibat
dari tetanus adalah rigid paralysis (kehilangan kemampuan untuk bergerak) pada
voluntary muscles (otot yang geraknya dapat dikontrol), sering disebut lockjaw
karena biasanya pertama kali muncul pada otot rahang dan wajah. Kematian
biasanya disebabkan oleh kegagalan pernafasan dan rasio kematian sangatlah
tinggi (Martinko JM, dkk. 2012).
E. Patofisiologi
Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh manusia biasanya melalui luka
dalam bentuk spora. Penyakit akan muncul bila spora tumbuh menjadi bentuk
vegetatif yang menghasilkan tetanospasmin pada keadaan tekanan oksigen
rendah, nekrosis jaringan atau berkurangnya potensi oksigen.
Masa inkubasi dan beratnya penyakit terutama ditentukan oleh kondisi luka.
Beratnya penyakit terutama berhubungan dengan jumlah dan kecepatan produksi
toksin serta jumlah toksin yang mencapai susunan saraf pusat. Faktor-faktor
tersebut selain ditentukan oleh kondisi luka, mungkin juga ditentukan oleh strain
Clostridium tetani. Pengetahuan tentang patofisiologi penyakit tetanus telah
menarik perhatian para ahli dalam 20 tahun terakhir ini, namun kebanyakan
penelitian berdasarkan atas percobaan pada hewan.

Toksin yang dikeluarkan oleh Clostridium tetani menyebar dengan berbagai


cara, sebagai berikut :
1. Masuk ke dalam otot
Toksin masuk ke dalam otot yang terletak dibawah atau sekitar luka,
kemudian ke otot-otot sekitarnya dan seterusnya secara ascenden
melalui sinap ke dalam susunan saraf pusat.
2. Penyebaran melalui sistem limfatik
Toksin yang berada dalam jaringan akan secara cepat masuk ke dalam
nodus limfatikus, selanjutnya melalui sistem limfatik masuk ke
peredaran darah sistemik.
3. Penyebaran ke dalam pembuluh darah.
Toksin masuk ke dalam pembuluh darah terutama melalui sistem
limfatik, namun dapat pula melalui sistem kapiler di sekitar luka.
Penyebaran melalui pembuluh darah merupakan cara yang penting
sekalipun tidak menentukan beratnya penyakit. Pada manusia sebagian
besar toksin diabsorbsi ke dalam pembuluh darah, sehingga
memungkinkan untuk dinetralisasi atau ditahan dengan pemberian
antitoksin dengan dosis optimal yang diberikan secara intravena.
Toksin tidak masuk ke dalam susunan saraf pusat melalui peredaran
darah karena sulit untuk menembus sawar otak. Sesuatu hal yang
sangat penting adalah toksin bisa menyebar ke otot-otot lain bahkan ke
organ lain melalui peredaran darah, sehingga secara tidak langsung
meningkatkan transport toksin ke dalam susunan saraf pusat.
4. Toksin masuk ke susunan saraf pusat (SSP)
Toksin masuk kedalam SSP dengan penyebaran melalui serabut saraf,
secara retrograd toksin mencapai SSP melalui sistem saraf motorik,
sensorik dan autonom. Toksin yang mencapai kornu anterior medula
spinalis atau nukleus motorik batang otak kemudian bergabung dengan
reseptor presinaptik dan saraf inhibitor. (Parry CM, dkk. 2013).
F. Tanda dan gejala
Periode inkubasi (rentang waktu antara trauma dengan gejala pertama) rata-rata
7-10 hari dengan rentang 1-60 hari. Onset (rentang waktu antara gejala pertama

dengan spasme pertama) bervariasi antara 1-7 hari. Minggu pertama: regiditas,
spasme otot. Gangguan ototnomik biasanya dimulai beberapa hari setelah spasme
dan bertahan sampai 1-2 minggu tetapi kekakuan tetap bertahan lebih lama.
Pemulihan bisa memerlukan waktu 4 minggu. (Sudoyo, Aru 2010).
Pemeriksaan fisis (Sumarmo, 2013)
1. Trismus adalah kekakuan otot mengunyah sehingga sukar membuka mulut.
2. Risus sardonicus, terjadi sebagai kekakuan otot mimic, sehingga tampak dahi
mengkerut, mata agak tertutup, dan sudut mulut tertarik keluar kebawah.
3. Opistotonus adalah kekakuan otot yang menunjang tubuh seperti: otot
punggung, otot leher, otot badan, dan trunk muscle. Kekakuan yang sangat
berat dapat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur.
4. Otot dinding perut kaku sehingga dinding perut seperti papan
5. Bila kekakuan semakin berat, akan timbul kejang umum yang awalnya hanya
terjadi setelah dirangsang misalnya dicubit, digerakkan secara kasar, atau
terkena sinar yang kuat.
6. Pada tetanus yang berat akan terjadi gangguan pernapasan akibat kejang yang
terus-menerus atau oleh kekakuan otot laring yang dapat menimbulkan
anoksia dan kematian.
Secara umum tanda dan gejala yang akan muncul:
1. Spasme dan kaku otot rahang (massester) menyebabkan kesukaran membuka
mulut (trismus)

2. Pembengkakan, rasa sakit dan kaku dari berbagai otot: Otot leher, otot dada,
merambat ke otot perut, otot lengan dan paha, otot punggung, seringnya
epistotonus
3. Tetanik seizures (nyeri, kontraksi otot yang kuat)
4. Iritabilitas
5. Demam
Gejala penyerta lainnya:
1. Keringat berlebihan
2. Sakit menelan
3. Spasme tangan dan kaki
4. Produksi air liur
5. BAB dan BAK tidak terkontrol
6. Terganggunya pernapasan karena otot laring terserang.

G. Pemeriksaan penunjang
1. EKG: interval CT memanjang karena segment ST.

Bentuk takikardi

ventrikuler (Torsaderde pointters)


2. Pada tetanus kadar serum 5-6 mg/al atau 1,2-1,5 mmol/L atau lebih rendah
kadar fosfat dalam serum meningkat.
3. Sinar X tulang tampak peningkatan denitas foto Rontgen pada jaringan
subkutan atau basas ganglia otak menunjukkan klasifikasi.
4. Pemeriksaan laboratorium : Kultur luka (mungkin negative), Test tetanus anti
bodi

H. Penatalaksanaan
1. Netralisasi toksin dengan tetanus antitoksin (TAT)
a. hiperimun globulin (paling baik)
Dosis: 3.000-6.000 unit IM
Waktu paruh: 24 hari, jadi dosis ulang tidak diperlukan
Tidak berefek pada toksin yang terikat di jaringan saraf; tidak dapat
menembus barier darah-otak
b. Pemberian ATS (anti tetanus)
ATS profilaksis diberikan untuk (luka yang kemungkinan terdapat
clostridium: luka paku berkarat), luka yang besar, luka yang terlambat
dirawat, luka tembak, luka yang terdapat diregio leher dan muka, dan
luka-luka tusuk atau gigitan yang dalam) yaitu sebanyak 1500 IU
4500 IU
2. Perawatan luka
a. Bersihkan, kalau perlu didebridemen, buang benda asing, biarkan
terbuka (jaringan nekrosis atau pus membuat kondisis baik C. Tetani
untuk berkembang biak)
b. Penicillin G 100.000 U/kg BB/6 jam (atau 2.000.000 U/kg BB/24
jam IV) selama 10 hari
c. Alternatif
d. Tetrasiklin 25-50 mg/kg BB/hari (max 2 gr) terbagi dalam 3 atau 4
dosis
Metronidazol yang merupakan agent anti mikribial.
Kuman penyebab tetanus terus memproduksi eksotoksin yang hanya
dapat dihentikan dengan membasmi kuman tersebut.

3. Berantas kejang
a. Hindari rangsang, kamar terang/silau, suasana tenang
b. Preparat anti kejang

c. Barbiturat dan Phenotiazim


Sekobarbital/Pentobarbital 6-10 mg/kg BB IM jika perlu tiap 2 jam
untuk optimum level, yaitu pasien tenag setengah tidur tetapi berespon
segera bila dirangsang
Chlorpromazim efektif terhadap kejang pada tetanus
Diazepam 0,1-0,2 mg/kg BB/3-6 jam IV kalau perlu 10-15 mg/kg
BB/24 jam: mungkin 2-6 minggu
4. Terapi suportif
a. Hindari rangsang suara, cahaya, manipulasi yang merangsang
b. Bebas jalan napas dari lendir, bila perlu trakeostomi
c. Diet TKTP yang tidak merangsang, bila perlu nutrisi parenteral, hindari
dehidrasi. Selama pasase usus baik, nutrisi interal merupakan pilihan
selain berfungsi untuk mencegah atropi saluran cerna.
d. Kebersihan mulut, kulit, hindari obstipasi, retensi urin.

I. Komplikasi
1. Hipertensi
2. Kelelahan
3. Asfiksia
4. Aspirasi pneumonia
5. Fraktur dan robekan otot

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN TETANUS
A.
1.

2.

Pengkajian Keperawatan
Identitas pasien
Meliputi nama, umur , jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,
suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.
Pengkajian Khusus ( Review Of Sistem )
a. B 1 (Breathing)
Inspeksi : apakah klien batuk, produksi sputum, sesak nafas, penggunaan
otot bantu nafas dan peningkatan frekuensi pernafasan.
Palpasi : taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
Auskultasi : bunyi nafas tambahan seperti ronkhi karena peningkatan
produksi secret.
b. B 2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan syok hipolemik.
Tekanan darah normal, peningkatan heart rate, adanya anemis karena
hancurnya eritrosit.
c. B 3 (Brain)
1) Tingkat kesadaran
Compos mentis, pada keadaan lanjut mengalami penurunan menjadi
letargi, stupor dan semikomatosa.
2) Fungsi serebri
Mengalami perubahan pada gaya bicara, ekspresi wajah dan aktivitas
motorik.
3) Pemeriksaan saraf cranial
(1) Saraf I ; tidak ada kelainan, fungsi penciuman normal.
(2) Saraf II ; ketajaman penglihatan normal.
(3) Saraf III, IV dan VI ; dengan alasan yang tidak diketahui, klien
mengalami fotofobia atau sensitive berlebih pada cahaya.
(4) Saraf V ; reflek masester meningkat. Mulut mecucu seperti mulut
ikan (gejala khas tetanus)
(5) Saraf VII ; pengecapan normal, wajah simetris
(6) Saraf VIII ; tidak ditemukan tuli konduktif dan persepsi.
(7) Saraf IX dan X ; kemampuan menelan kurang baik, trismus
(8) Saraf XI ; didapatkan kaku kuduk. Ketegangan otot rahang dan leher
(9) Saraf XII ; lidah simetris, indra pengecap normal

4) Sistem motorik
Kekuatan otot menurun, kontrol keseimbangan dan koordinasi
mengalami perubahan.
5) Pemeriksaan refleks
Refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, atau periosteum
derajat refleks pada respon normal.
6) Gerakan involunter
Tidak ditemukan tremor dan distonia. Namun dalam keadaan tertentu
terjadi kejang umum, yang berhubungan sekunder akibat area fokal
kortikal yang peka.
d. B 4 (Bladder)
Penurunan volume haluaran urine berhubungan dengan penurunan perfusi
dan penurunan curah jantung ke ginjal.
e. B 5 (Bowel)
Mual muntah karena peningkatan asam lambung, nutrisi kurang karena
anoreksia dan adanya kejang (kaku dinding perut / perut papan. Sulit BAB
karena spasme otot.
f. B 6 (Bone)
Gangguan mobilitas dan aktivitas sehari-hari karena adanya kejang umum.
3.

Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Biasanya pasien mengeluh adanya kaku kuduk dan rahang
b. Riwayat penyakit sekarang
Adanya luka parah atau luka bakar dan imunisasi yang tidak adekuat.
c. Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan kepada pasien apakah sebelumnya pernah dirawat di Rumah
Sakit

4.

Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan umum, keterbatasan dalam
beraktivitas/bekerja yang yang ditimbulkan oleh diri sendiri
Tanda : Perubahan tonus/kekuatan otot , gerakan involunter/kontraksi
otot ataupun sekelompok otot
b. Eliminasi
Gejala : inkontensia episodik.
Tanda : peningkatan tekananan kandung kemih dan tonus spinkter

c. Makanan dan cairan


Gejala : sensitive terhadap makanan, mual, muntah yang berhubungan
dengan aktivitas kejang.
d. Integritas Ego
Gejala : stressor internal dan eksternalyang berhubungan dengan keadaan
dan atau penanganan, peka rangsangan, perasaan tidak ada harapan, atau
tidak berdaya, perubahan dalam hubungan.
e. Neurosensori
Gejala
: Riwayat sakit kepala, kejang berulang, Kelemahan, nyeri otot
Tanda
: karekteristik kejang
f. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala
: sakit kepala, nyeri otot.
Tanda
: sikap/tingkah laku yang berhati- hati, perubahan pada tonus
otot, tingkah laku gelisah
g. Keamanan
Gejala : Riwayat terjatuh/trauma, fraktur
h. Interaksi Sosial
Gejala : Masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga atau
lingkungan sosialnya. Pembatasan/penghindaran terhadap kontak sosial.
B.

Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan
sputum pada trakea
2. Resiko infeksi berhubungan dengan indikasi trakeostomi
3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efek toksin
(bakterimia )
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekakuan otot pengunyah
5. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan hilangnya keseimbangan
tonus otot

C.

Intervensi
Dx 1:
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sputum
pada trakea
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan jalan nafas nafas kembali normal
NOC
: Respiratory status : Airway patency
Kriteria Hasil :
2) Tanda Tanda Vital dalam rentang normal
3) Tidak ada sianosis
4) Jalan Nafas paten
NIC
: Airway Management
Intervensi :
1) Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
4) Pasang mayo bila perlu
5) Lakukan fisioterapi dada jika perlu
6) Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
7) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
8) Lakukan suction pada mayo
9) Berikan bronkodilator bila perlu
10) Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
11) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
12) Monitor respirasi dan status O2

Dx 2 :
Resiko infeksi berhubungan dengan indikasi trakeostomi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan tidak terjadi infeksi
NOC
: Status Infeksi
Kriteria Hasil
:
1) Pasien tidak mengeluh manifestasi klinis
infeksi( pireksia, eksudasi,eritema )
2) Jumlah leukosit dalam rentang normal.
3) Suhu tubuh dalam rentang normal

NIC
: Kontrol Infeksi
Intervensi :
1) Melaksanakan tindakan dengan prinsip universal precaution dan steril
2) Jelaskan pada pasien tanda-tanda infeksi.
3) Berikan diet tinggi kalori tinggi protein.
4) Observasi tanda-tanda infeksi.
5) Observasi Tanda Tanda Vital
6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic.
Dx 3 :
Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efek toksin
(bakterimia )
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan peningkatan suhu tubuh dapat teratasi
NOC
: Thermoregulasi
Kriteria Hasil
:
1) Suhu tubuh dalam rentang normal
2) Jumlah leukosit dalam rentang normal
3) Turgor kulit normal
NIC
: Fever management
Intervensi :
1) Atur suhu lingkungan yang nyaman
2) Pantau suhu tubuh tiap 2 jam
3) Berikan hidrasi atau minum ysng cukup adequat
4) Lakukan tindakan teknik aseptik dan antiseptik pada perawatan luka.
5) Berikan kompres dingin bila tidak terjadi ekternal rangsangan kejang.
6) Laksanakan program pengobatan antibiotik dan antipieretik.
7) Kolaboratif dalam pemeriksaan lab leukosit.
Dx 4 :
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekakuan otot pengunyah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan kebutuhan nutrisi dapat seimbang
NOC
: Nutritional Status : food and Fluid Intake
Kriteria Hasil
:
1) Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
2) Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
3) Tidak ada tanda tanda malnutrisi

NIC
: Nutrition Management
Intervensi :
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
3) Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
4) Berikan substansi gula
5) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
6) Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
7) Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
8) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
9) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
10) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Dx 5 :
Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan hilangnya keseimbangan
tonus otot
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan hambatan komunikasi verbal dapat teratasi
NOC
: Sensori Fungsi
Kriteria Hasil
:
1) Penggunaan isyarat nonverbal
2) Penggunaan bahasa tulisan, gambar
3) Peningkatan bahasa lisan

D.

NIC
: Peningkatan Komunikasi : Defisit Bicara
Intervensi :
1) Libatkan keluarga utk memahami pesan klien
2) Sediakan petunjuk sederhana
3) Perhatikan bicara klien dg cermat
4) Gunakan kata sederhana dan pendek
5) Berdiri di depan klien saat bicara, gunakan isyarat tangan.
6) Beri reinforcement positif
7) Dorong keluarga untuk selalu komunikasi dengan klien
Evaluasi
Dx 1 :
1) Tanda Tanda Vital dalam rentang normal
2) Tidak ada sianosis
3) Jalan Nafas paten

Dx 2 :
1) Pasien tidak mengeluh manifestasi klinis infeksi( pireksia, eksudasi,eritema )
2) Jumlah leukosit dalam rentang normal.
3) Suhu tubuh dalam rentang normal
Dx 3 :
1) Suhu tubuh dalam rentang normal
2) Jumlah leukosit dalam rentang normal
3) Turgor kulit normal
Dx 4 :
1) Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
2) Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
3) Tidak ada tanda tanda malnutrisi
Dx 5 :
1) Penggunaan isyarat nonverbal
2) Penggunaan bahasa tulisan, gambar
3) Peningkatan bahasa lisan

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda Nic Noc Jilid 1. Yogyakarta : Media Action
Carpenito, L.J. 2006. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:
Prima Medika
Sudoyo Aru, dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, 2, 3, Edisi
Keempat. Jakarta : Internal Publising
Sumarmo, Herry. 2011. Buku Ajar Infeksi Tropis Edisi Kedua. Jakarta : IDAI

LAPORAN PENDAHULUAN
TETANUS

Oleh :
Nama

: Patricia Candra Dewi

NIM

: P17420213021

Tingkat

: III A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO
2016