Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KULIAH LAPANGAN EKSPLORASI GEOTHERMAL

DAERAH TINGGI RAJA


PENDAHULUAN
1) Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan zaman kebutuhan masyarakat akan energi akan semakin
meningkat. Taraf hidup yang meningkat diiringi dengan pertumbuhan penduduk
mengakibatkan setiap tahunnya pemerintah menggelontorkan triliyunan APBN guna
subsidi energi. Hal ini tidak diimbangi dengan pemasukan negara baik dari sektor migas
dan pertambangan, terutama pada sektor migas sebagai komponen energi dominan
Indonesia. Posisi geologi Indonesia inilah membuat Indonesia mendapat sebutan Ring of
Fire akibat letak gunung apinya yang membentang sepanjang jalur pegunungan Sirkum
Pasifik. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri untuk Indonesia. Aktivitas magmatik
yang tinggi juga menghasilkan zona mineralisasi di beberapa wilayah. Selain itu potensi
sumber daya panas bumi yang besar dan didukung oleh kondisi iklim tropis yang memiliki
curah hujan tinggi, menjadikan potensi panas bumi Indonesia cukup tinggi untuk
dilakukan pengembangan.
Pembahasan
Tinggi raja adalah salah satu lapangan panas bumi yang belum di eksplorasi,
walaupun keterdapatannya sudah lama tapi baru beberapa tahun belakangan ini tinggi raja
mulai terkeal di media dan tersebar luas, dilapangan tinggi raja itu sendiri terdapat dua
kawah yang sering orang kunjungi yaitu kawah putih dan kawah biru, karena belum ada
pengembangan pada lapangan itu, kami pun mengunjungi untuk sebuah penelitian tentang
keadaan geologi yang menyangkut aspek geothermalnya, dan dari penelitian ini berharap
pada suatu hari nanti lapangan geothermal tinggi raja dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan
manusia salah satunya sebagai pembangkit tenaga listrik.
Potensi panas bumi Indonesia yang besar harus didukung oleh upaya eksplorasi
yang berkelanjutan. Dari upaya eksplorasi tersebut nantinya dapat tercita lapanganlapangan panasbumi baru yang potensial dan ekonomis untuk dikembangkan. Salah satu
metode paling sederhana adalah dengan analisis geokimia dan pemetaan manifestasi
panasbumi. Analisis geokimia yang digunakan dapat berupa geokimia air, geokimia gas,
maupun geokimia soil. Analisis dan pemetaan manifestasi juga penting untuk mengetahui
sebaran manifestasi panas bumi dan informasi yang terkandung dalam manifestasi tersebut

2) Lokasi Penelitian
Pada kegiatan kuliah lapangan eksplorasi geologi dilakukan di daerah dolok tinggi
raja simalungun propinsi sumatera utara, yang dilaksanakan pada hari sabtu Sabtu 16 mei
2015. Untuk mencapai dolok tinggi raja simalungun propinsi sumatera utara, dari kota
Medan dapat ditempuh selama 5 jam menggunakan kendaraan roda empat (pick up). Jalan
yang ditempuh pada dasarnya bagus menggunakan aspal tetapi pada daerah mendekati
dolok tinggi raja simalungun propinsi sumatera utara, masih terdapat jalan yang rusak dan
tidak diaspal. Lokasi penelitian yang ber koordinat 980 45 00 BT 980 48 00 BT & 030
07 00 LU 030 10 00 LU.

Gambar 1. Lokasi daerah penelitian pada peta topografi lembar medan skala 1 : 250.000

Gambar 2. Lokasi daerah penelitian pada peta geologi lembar medan skala 1 : 250.000

PEMBAHASAN
1) Post 1. Kawah putih
Pada post 1 tepatnya pada kawah puith yang ber koordinat N 030910.3 & E
984716.3 dan memiliki Elevasi 434 m, kami meneliti dan mengamati manifestasi
geothermal yang terdapat pada post tersebut, adapun manifestasi yang kami amati berupa :
a. Terdapatnya sumber air panas, yang dicirikan dengan warna air yang jernih sehingga
dapat diinterpretasikan bahwa jenis fluida nya yaitu clorida (Cl) dengan Ph netral
yaitu bernilai 7 (menggunakan kertas lakmus universal) dan juga temperature 60 0C 640C (menggunakan thermometer skala 1100C dan 1500C).
b. Terdapatnya batuan terubah, yang dimana pada daerah tersebut litologinya berupa
batuan piroklastik yang jenis nya tufa dan telah terubah karena dipengaruhi oleh
larutan hidrotermal sehingga menghasilkan mineral lempung, dimana mineral
lempung tersebut merupakan produk kedua (secondary).

Gambar 3. Sumber Mata Air Panas Pada Post 1

Gambar 4. Endapan Silika (Mineral Lempung Ubahan)

2) Post 2. Kawah biru


Pada post 2 yaitu kawah biru kami membagi menjadi beberapa lokasi penelitian karena
pada post ini sangat luas dan juga tersebar luas manifestasi di beberapa titik, sehingga
kami membuat menjadi 4 lokasi pengamatan yaitu :
a. Lokasi 1. Pada lokasi tersebut, merupakan lokasi yang sudah tidak aktif lagi yang
memiliki koordinat N 030 08 57.6 & E 980 47 19,5 dan nilai elevasi 440 m.
Namun pada daerah ini sebelumnya atau pada masa lampau pernah menghasilkan
sumber mata air panas yang ditandai dengan adanya struktur yang berarah N 315 W
N 135 E (Barat Laut - Tenggara) dan manifestasi (Silika sinter). Dimana struktur ini
menjelaskan bahwa dahulu nya larutan hidrotermal tersebut telah keluar kepermukaan
melalui rekahan yang terdapat pada lokasi tersebut dimana menghasilkan manifestasi
yang berupa endapan silika sinter. Dengan adanya endapan silica sinter ini kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa lokasi ini tidak aktif lagi dikarenakan endapan silica
sinter yang menempel pada rekahan dan seiring berjalannya waktu endapan ini
menebal dan menutup rekahan tersebut sehingga air panas tidak bisa keluar lagi dari
rekahan tersebut karena sudah tertutup oleh endapan silica sinter tersebut. Sehingga
air panas tersebut akan mencari rekahan lain untuk keluar kepermukaan.

Gambar 5. Rekahan tempat keluarnya mata air panas yang sudah tidak aktif lagi

b. Lokasi 2 : Pada lokasi ini merupakan tempat keluarnya mata air panas yang kini sudah
tidak aktif lagi dan memiliki koordinat N 03 0 08 57.6 & E 980 47 14.0 dan nilai
elevasi 444 m, lokasi ini sama dengan lokasi pertama karena lokasi ini juga adalah
lokasi yang sudah tidak aktif lagi, yang membedahkan lokasi ini dengan lokasi
pertama adalah arah strukturnya yaitu yang berarah N 322 W - N 142 E (Barat laut
Tenggara) dan manifestasi yang sama yaitu endapan silica sinter hanya saja pada
lokasi ini endapan silica sinter lebih tebal dari pada lokasi yang pertama, sehingga
dapat kita simpulkan bahwa dimasa lampau lokasi ini mengeluarkan air panas yang
lebih besar dari lokasi pertama, itu disebabkan rekahan tempat keluarnya air panas
tersebut berukuran besar sehingga endapan silica sinter yang menutup rekahan akan
lebih banya dan tebal dibandingkan lokasi yang pertama.

Gambar 6. Endapan Silika sinter (Secondary Quartz)

c. Lokasi 3 : Lokasi ini terdapat fumarol yang merupakan manifestasi geothermal berupa
gas yang keluar kepermukaan melalui rekahan yang terdapat pada lokasi ini. Lokasi
yang berkoordiat N 03 5 8.4 & E 98 47 13.5 dan nilai Elevasi 439 m. Penduduk
setempat menginformasikan bahwa gas tersebut beracun dan tidak berbau sulfur.

Gambar 7. Lubang yang Mengeluarkan gas (Fumarole)

d. Lokasi 4 : Lokasi yang berkoordinat N 03 08 58.4 & E 98 47 10.7 dan nilai


Elevasi 437 m, adapum manifestasi geothermal pada lokasi ini adalah struktur yang
berarah N 274 W N 94 E (Barat Timur) dan endapan silica sinter dan mineral
lempung ubahan dari batuan piroklastik yang bereaksi dengan larutan hydrothermal.
istilah the present is the key to the past mungkin yang paling tepat untuk lokasi ini,
karena pada lokasi ini menjelaskan kejadian sekarang atau kondisi sekarang dari
lokasi sebelumnya, pada lokasi ini adalah lokasi yang masih aktif, yaitu mata air panas
yang masih aktif dan manifestasi dari lokasi ini sama dengan lokasi sebelumnya yaitu
air panas yang jenisnya fluida klorida, endapan silica dan mineral lempung yang
ubahan dari batuan piroklastik jenis tufa. Pada lokasi ini kami mengamati seperi ph
fluida dan phnya adalah nertal yaitu ph 7 dan juga temperature yang diukur
menggunakan thermometer dan temperature air panas adalah 64 derjat C.

Gambar 8. Sumber Mata Air Panas Pada Post 2

Gambar 9. Morfologi Kawah Biru dari dalam kawah dolok tinggi raja

Gambar 10. Endapan Mineral Lempung Yang Sudah Terubah

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari kuliah lapangan eksplorasi geothermal pada tanggal 16 Mei
2015 yang berlokasi di daerah Dolok Tinggi Raja, Simalungun, maka dapat kami
simpulkan bahwasannya lokasi ini masih terlalu dini jika akan dijadikan Wilayah Kerja
Panasbumi, mengingat akan data data yang diambil masih kurang lengkap dan masih
perlu dilakukan kegiatan eksplorasi 3 Geoscience (Geologi, Geokimia dan geofisika) yang
lebih teliti dari kegiatan yang kami lakukan sebelumnya.
Melihat dari sudut pandang ekonomi, wilayah ini memiliki potensi dijadikan
tempat geowisata. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah jalan menuju ke lokasi
ini rusak parah, serta adanya preman sekitar yang meminta pungutan liar dengan
beralasankan untuk memperbaiki jalan. Hal tersebutlah yang membuat para pengunjung
merasa resah dan tidak mau mendatangi tempat ini lagi.
Dari hasil kuliah lapangan ini, kami telah membuat peta sebaran manifestasi yang
kami jumpai di lapangan (Lihat Gambar 11).

Mata Air Panas


Fumarole

Rekahan Jejak Purba

Gambar 11. Peta Sebaran Manifestasi dan jejak purba