Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN DISKUSI

Clinical Preparation
OBSTETRI & GINEKOLOGI
RSIJ CEMPAKA PUTIH
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI

Pembimbing :

dr. Eddy Purwanta, Sp.OG

Disusun Oleh,
Kelompok 2
1
2
3
4
5

2009730018
2009730036
2009730045
2009730059
2009730064

Faris Azhar
Nina
Sari Mustika
Yeni Roito Harahap
Zyad Kemal

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN & KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Jl. KH Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat Jakarta Selatan Telp/Fax. (021) 749 2168

2012

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya, akhirnya dengan ini kami dapat
menyelesaikan laporan diskusi kasus OBSTETRI & GINEKOLOGI RSIJ
CEMPAKA PUTIH PEMERIKSAAN GINEKOLOGI sesuai pada waktu yang
telah ditentukan. Sebagaimana laporan yang telah kami susun ini adalah
dikerjakan dengan penuh usaha keras dan kerja tim yang kompak, serta tambahan
masukan dan bantuan dari para rekan-rekan di tempat PKL, sehingga kami
mendapat banyak inspirasi dan tambahan wawasan tentang Obgyn
Tujuan disusunya laporan ini adalah sebagai dasar kewajiban dari suatu
proses kegiatan yang kami lakukan selama PKL sehingga kami dapat melihat,
mengetahui, menerima dan menyerap perkembangan ilmu-ilmu dibidang
kedokteran dan mengetahui gejala khas dan mampu mendiagnosis penyakitpenyakit didalam Obgyn
Melalui laporan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Eddy Purwanta, Sp.OG sebagai pembimbing blok CP Obgyn
2. Serta para dokter dan kaka koas yang telah memberikan kami pengetahuan
dan wawasan tentang penyakit-penyakit pada stase obgyn
Akhir kata, kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesarnya dan
permohonan maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan
laporan ini. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun kami di masa yang akan
datang sangat membantu dalam membentuk seorang dokter yang bermutu.
Semoga laporan yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, Desember 2012


Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................
BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................
B. Tujuan Pelaksanaan ..............................................................
C. Tujuan Penulisan Laporan dan kegiatan PBL .......................
D. Sasaran Pembelajaran ...........................................................

BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA
A. Anamnesis dan pemeriksaan fisik ginekologi .......................
B. Pemeriksaan genitalia eksterna..............................................
C. Pemeriksaan laboratorium ....................................................

BAB III

: KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan.............................................................................

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1) LATAR BELAKANG
Ginekologi berasal dari kata Gynaecology . Secara umum
ginekologi adalah ilmu yang mempelajari kewanitaan(science of women). Namun
secara khusus adalah ilmu yang mempelajari dan menangani kesehatan alat
reproduksi wanita (organ kandungan yang terdiri atas rahim, vagina dan indung
telur).

2) TUJUAN PELAKSANAAN
Adapun
tujuan pelasanaan kegiatan diskusi ini adalah untuk
memperdalam kemampuan dalam mendiagnosis penyakit atau kelainan pada
pasien dengan kasus ginekologi dan obstetri

C. TUJUAN PENULISAN LAPORAN DAN KEGIATAN PBL


Menambah wawasan ilmiah mengenai pemeriksaan ginekologi

SASARAN PEMBELAJARAN :
Berikut adalah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai :
1. Menjelaskan tentang pemeriksaan ginekologi
ANAMNESIS MEDIK
PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN PANGGUL
PAP SMEAR
BIAKAN
PEMERIKSAAN RECTAL
PEMERIKSAAN URINE
PEMERIKSAAN SEDIAAN BASAH

MAMMOGRAM
BREAST SELF EXAMINATION
KONSULTASI
PERENCANAAN PERAWATAN PENDERITA
PEMBUATAN REKAM MEDIS,

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK GENIKOLOGI


ANAMNESIS
Anamnesis medik meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Keluhan utama
2. Riwayat penyakit
3. Medikasi
4. Riwayat obstetri-ginekologi
5. Riwayat haid
6. Riwayat kehamilan
7. Kontrasepsi
8. Riwayat seksual (bila perlu)
9. Nutrisi /gizi
10. Gaya hidup (kebiasaan olahraga,minuman keras,merokok dan sebagainya)
11. Perasaan (mood)
1. Keluhan utama
Alasan kunjungan dapat berupa kunjungan ginekologi rutin
2. Riwayat penyakit
Apa yang dirasakan mengganggu ?
Sejak kapan ?
Menetap,menjadi semakin berat atau ringan ?
Hal apa yang meringankan dan memberatkan keluhan?
Kapan pemeriksaan fisik medik terakhir?
Pada kunjungan pertama perlu diperoleh keterangan atau riwayat
mengenai masalah medis,pembedahan atau alergi
3. Riwayat medis
Obat yang selalu diminum
Terapi apa saja yang didapatkan sebelumnya?
4. Riwayat obstetri-ginekologi
Jumlah kehamilan dan persalinan?
Riwayat haid
Riwayat seksual
Masalah ginekologi yang ada :
Kelainan hasil Pap smear
Perdarahan pervaginam

Penyakit menular seksual


5. Riwayat haid
Catatan tentang periode haid
Banyaknya jumlah perdarahan haid
6. Riwayat kehamilan
Keterangan mengenai jumlah dan riwayat kehamilan serta
persalinan
Jumlah kehamilan yang pernah dialami
Jumlah anak yang dilahirkan
Jumlah abortus
7. Kontrasepsi
Menanyakan mengenai metode kontrasepsi
8. Riwayat seksual
Perlu atau tidaknya riwayat seksual tergantung keluhan utama
pasien
9. Nutrisi
Perhatikan status gizi dengan mengukur tinggi badan dan berat
badan
Tanyakan selera makan,dan apa saja yang dikonsumsi
10. Olahraga
Olahraga teratur perlu bagi kesehatan fisik dan psikis
11. Mood perasaan
Depresi merupakan masalah yang paling sering dialami oleh
wanita
Berbicara dengan pasien dapat menilai mood pasien yang
sebenarnya.

PEMERIKSAAN FISIK GINEKOLOGI


1) Pemeriksaan fisik umum :
a. Kesan umum : Tampak sakit,kompos mentis,anemia,ikterus
b. Kesadaran ,komunikasi personal,tekanan darah,nadi,frekuensi
nafas,suhu
c. Pemeriksaan jantung dan paru
Pemeriksaan paru :
Wheezing :asthma bronchial ?
Penurunan suara napas atau rhonci halus
:pneumonia atau gagal jantung?

Beberapa kelainan suara nafas akan hilang bila


pasien diminta untuk batuk atau menarik napas
panjang
Dengarkan suara napas paru kanan dan kiri.asimetri
dari suara nafas mengarah pada dugaan adanya
kelainan.
Pemeriksaan jantung :
Perhatikan regularitas irama jantung
Dengarkan suara jantung apakah terdapat suara
yang abnormal
Bila terdapat kecurigaan,konsultasikan lebih lanjut
pada dokter ahli penyakit jantung
d. Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu (kelenjar
tiroid,kelenjar getah bening,leher dan sebagainya)
Penyakit tiroid sering pada wanita dan meningkat dengan
bertambahnya usia
Beberapa gangguan haid berkaitan dengan disfungsi tiroid
2) Pemeriksaan khusus ginekologi
a) Abdomen :
Inspeksi abdomen :
Pembesaran perut kedepan :kehamilan atau tumor
Pembesaran perut kearah samping umumnya terjadi
pada asites
Jaringan parut,peristaltik
Palpasi abdomen
Melalui pemeriksaan ini ditentukan apakah terdapat
defance muscular akibat peritonitis

PEMERIKSAAN GENITALIA EKSTERNA


Dengan inspeksi perlu diperhatikan:

bentuk, warna, pembengkakan, dsb dari genitalia eksterna perineum, anus dan
sekitarnya;

apakah ada darah atau fluor albus, jika ada maka perlu diperhatikan

banyaknya, warnanya, kentalatau encernya serta baunya.


apakah hymen masih utuh dan klitoris normal.pertumbuhan rambut pubis

perlu pula diperhatikan;


apakah ada peradangan, iritasi kulit, eksema, dan tumor;
apakah orifisium uretra eksternum merah dan ada nanah;
apa ada kurunkula, atau polip;
apakah ada benda menonjol dari introitus vagina, apakah introitus vagina

sempit atau lebar;


apakah ada parut diperineum;
apakah ada sistokel dan rektokel;
apakah ada kondiloma;
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)

Inpeksi

Buka labia : amati adanya lesi, kemerahan, pembengkakan, cauliflower


(veneral wart)

Amati antara lipatan kulit lesi herpes

Amati himen : kemerahan vulvar vestibulitis

Himen Himen imperforata

Kelenjar periurethral (Skene's glands).


Uretra : amati apakah ada cairan yang keluar GO atau klamidia
Palpasi labia majora atas : hernia labialis (melalui kanalis Nuck)
Palpasi labia majora bagian bawah dan tengah : bila ada massa
kista bartolini

PERABAAN VULVA DAN PERINEUM


Pemeriksaan dapat dimulai dengan perabaan glan.bartholini dengan jarijari dari luar, yamg kemudian diteruskan dengan perabaan antara dua jari
didalam vagina dan ibu jari diluar.dicari apakah ada Bartholinitis, abses,
atau kista. Dalam keadaan normal glan.bartholini tidak dapat diraba.
Apabila ada urethtritis gonoreika, maka nanah akan tampak sangat jelas
keluar dari orifisium uretra eksternum.glandula paraurethralis perlu pula
diperhatikan. Selanjutnya, periksa keadaan perineum, bagaimana tebalnya,
tegangnya dan elastisitasnya.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
PERABAAN VAGINA DAN DASAR PANGGUL
Hymen yang masih utuh atau kaku (rugae rigidus) merupakan
kontraiindikasi bagi pemeriksaan dalam pervaginam. Apabila tidak
demikian halnya, sebaiknya dua jari dimasukkan kedalam vagina.
Diperiksa apakah introitus vagina dan vagina sempit atau luas; apakah
dinding vagina licin atau kasar bergaris-garis melintang (rugae vaginales);
apakah teraba polip, tumor, atau benda asing; apakah ada kelainan bawaan,
seperti septum vagina; apakah puncak vagina teraba kaku oleh jaringan
parut atau karsinoma servisis uteri tingkat II dan III.
Pada pemeriksaan vagina tidak boleh dilupakan perabaan Cavum Douglasi
dengan menempatkan ujung jari di forniks posterior. Penonjolan forniks
posterior dapat disebabkan oleh:
Terkumpulnya feses di dalam rektosigmoid;
Korpus uterus dalam retrofleksio;
Abses di Cavum Douglasi;
Hematokel retrouterina pada kehamilan ektopik terganggu;

Katup bawah tumor ovarian atau mioma uteri; dan


Tumor rektosigmoid.
Pada diverticulitis periurehtralis teraba benjolan nyeri di belekang atau
sekitar uretra. Selanjutnya diperiksa pula keadaan dasar panggul, terutama
muskulus levator ani, bagaimana tebalnya, tonusnya, dan tegangnya.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)

PERABAAN SERVIKS
Perabaan serviks harus dilakukan secara sistematis. Berturut-turut diperhatikan:
a)

Kemana menghadapnya; apabila uterus dalam anteversiofleksi, maka portio

bagian depanlah yang teraba terlebih dahulu oleh jari karena portio menghadap
agak ke belakang. Sebaliknya, pada uterus dalam letak retroversiofleksio, portio
bagian belakang atau OUE teraba lebih dahulu karena portio menghadap ke
depan. Ada kalanya portio mengahadap jauh ke belakang, ke arah sacrum,
sehingga agak sulit untuk dikenal oleh pemeriksa yang kurang pengalaman. Pada
kelainan bawaan dapat teraba dua portio.
b)
Bentuknya, apakah bulat atau terbelah melintang; pada nullipara portio
bentuknya kronis atau silindris dan OUE kecil dan bulat. Setelah terjadi robekanrobekan pada waktu persalinan, portio biasanya lebih besar dan mempunyai
bentuk lain, yang lazim disebut terbelah melintang dan terdiri atas bibir depan dan
bibir belakang. Juga OUE lebih lebar, bahkan kadang-kadang dapat dilalui oleh
jari.
c)
Besarnya dan konsistensinya; gadis muda belia memiliki portio yang masih
kecil kira-kira sebesar ujung jari kelingking, atau lebih kecil lagi dan berbentuk
konis. Dengan meningkatnya umur wanita, portio menjadi agak lebih besar, kirakira sebesar ujung jari telunjuk. Pada multipara portio dapat mencapai sebesar ibu
jari, ataupun lebih besar. Konsistensi portio yang normal itu elastis dan kenyal.
Mioma teraba kenyal keras, sedang karsinoma teraba keras apabila masih kecil
dan rapuh apabila sudah besar pada karsinoma eksofitik.
d)
Apakah agak turun ke bawah; portio normal letaknya kira-kira 6-7 cm dari
introitus vagina. Apabila ujung portio teraba lebih rendah dari biasa, harus

dipikirkan pula kemungkinan perpanjangan serviks (elongasio kolli) yang bisa


mencapai 5-6 cm.
e)
Apakah kanalis servikalis dapat dilalui oleh jari, terutama ostium uteri
internum; dalam menghadapi kehamilan muda dengan perdarahan selalu harus
diperiksa apakah kanalis servikalis tertutup atau terbuka, yang terpenting adalah
ostium uteri internum (o.u.i). apabila o.u.i terbuka dan teraba jaringan di dalam
cavum uteri atau kanalis servikalis, ini berarti abortus inkompletus. Kelahiran
mioma, inversion uteri, dan incompetent cervix disertai pula terbukanya kanalis
servikalis.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
PERABAAN KORPUS UTERI
Perabaan bimanual korpus uteri harus dilakukan secara sistematis. Berturut-turut
harus diperhatikan:
a)
Letaknya; uterus normal letaknya di tengah-tengah pelvis minor. Kadangkadang uterus tidak terdapat di tengah, melainkan berpindah tempat ke kanan atau
ke kiri akibat desakan oleh tumor/proses dalam panggul, atau akibat tarikan oleh
mengkerutnya jaringan parut.
b)
Bentuknya; bentuk uterus ialah bulat agak lonjong dengan fundus uteri lebih
besar daripada bagian bawah (seperti buah pir). Kelainan bawaan dapat
menyebabkan perubahan bentuk, seperti pada uterus bikornis dan utrus arkuatus.
c)
Besarnya dan konsistensinya; uterus wanita dawasa sebesar telur ayam dan
kenyal. Untuk penentuan besarnya uterus diperlukan latihan dan pengalaman,
lebih-lebih apabila wanitanya gemuk dengan dinding perut yang tebal.
d)
Permukaannya; permukaan uterus biasanya rata, termasuk uterus gravidus
dan uterus dengan karsinoma korporis uteri. Pemukaan yang tidak rata dan
berbenjol-benjol menunjuk ke arah mioma uteri.
e)
Gerakannya; uterus normal dapat degerakkan dengan mudahke semua arah.
Gerakan ini terbatas, atau uterus tidak dapat digerakkan sama sekali dalam
keadaan tertentu, misalnya pada karsinoma servisis uteri dalam stadium lanjut.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
PERABAAN PARAMETRIUM DAN ADNEKSUM
Parametrium dan adneksum normal tidak teraba. Ovarium normal hanya
dapat diraba pada wanita kurus dengan dinding perut yang lunak; besarnya

seperti ujung jari atau ujung ibu jari dan kenyal. Setiap kali parametriun
dan/atau tuba dapat diraba, itu berarti suatu kelainan.
Parametrium
Penebalan parametrium sampai ke tulang panggul yang disertai rasa nyeri
merupakan gejala parametritis. Pada karsinoma servisis uteri penebalan
parametrium tidak disertai rasa nyeri; pada stadium II penebalan tidak
sampai di tulang panggul, pada stadium III sampai di tulang panggul.
Letaknya kista ovarian diantara kedua lapisan ligamentum
(intraligamenter), sukar ditentukan sebelum perut dibuka.
Tuba dan Ovarium
Karena tuba dan ovarium letaknya sangat berdekatan, dan dengan
perabaan tidak dapat dibedakan apakah suatu proses berasal dari tuba atau
ovarium, maka lazim digunakan istilah kelainan adneksum.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
PEMERIKSAAN REKTAL
Dengan sarung tangan dan pelumas (Vaseline), jari telunjuk dimasukkan
kedalam rectum. Pemeriksaan rektoabdominaldilakukan pada virgo atau
wanita yang mengaku belum pernah bersetubuh, pada kelainan bawaan,
seperti atresia himenalis atau atresia vaginalis, pada hymen rigidus, dan
pada vaginismus.
Dalam keadaan tertentu, misalnya untuk menilai keadaan septum
rektovaginal, dilakukan pemeriksaan rektovaginal: jari telunjuk berada
didalam rectum dan ibu jari di dalam vagina. Kadang-kadang pemeriksaan
bimanual biasa (vaginoabdominal) perlu di lengkapi dengan pemeriksaan
rektovaginoabdominal: jari tengah di dalam rectum, jari telunjuk dalam
vagina, dan dibantu oleh tangan luar.
Pada pemeriksaan rektl satu jari mula-mula dinilai tonus muskulus sfingter
ani eksternus atau apakah otot masih utuh, penderita tidak pernah
mengalami rupture perinea tingkat III waktu persalinan yang lampau.
Diperhatikan pula adanya wasir, selaput lendir, atau striktura rekti.
Rektokel dapat dinyatakan lebih jelas dengan ujung jari menekan dinding
depan rectum ke arah vagina dan ditonjolkan ke bawah.
Walaupun perabaan dengan satu jari tidak seberapa peka dibandingkan
dengan dua jari, namun ovarium, penebalan parametrium (parametritis,

metastasis karsinoma serviks uteri), dan penebalan ligamentum


sakrouterinum (endometriosis) lebih mudah diraba. Juga pada
abses douglas, hematokel retrouterina, atau apakah tumor genital ganas
sudah meluas ke rectum, pemeriksaan perlu dilengkapi dengan perabaan
rektoabdominal, yang sering member hasil yang lebih jelas.
Penebalan dinding vagina dan septum rektovaginal, kista dinding vagina,
dan infiltrasi karsinoma rekti lebih mudah ditentukan dengan pemeriksaan
rektovaginal.tumor pelvis, yang sulit dikenal dengan pemeriksaan
bimanual biasa, lebih mudah diraba dengan cara rektovaginoabdominal,
terutama untuk membedakan apakah tumor berasal dari ovarium atau dari
rektosigmoid.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
PEMERIKSAAN DENGAN SPEKULUM
Ada kebisaan, setelah inspeksi vuva dan sekitarnya, untuk memulai
pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan in spekulo, terutama apabila
akan dilakukan pemeriksaan sitologi atau pemeriksaan terhadap gonorea,
trikomoniasis, dan kandidiasis, atau ada proses yang mudah
berdarah.adapula yang memulai dengan pemeriksaan bimanual, yang
disusul dengan peneriksaan dalam speculum.
Untuk wanita yang belum pernah melahirkan, dan apabila memang mutlak
perlu untuk virgo, dipilih speculum yang kecil; untuk anak kecil, dipilih
speculum yang paling kecil sesuai dengan kecilnya introitus vagina.
Speculum Sims dipasang lebih dahulu kedalam vagina bagian
belakang.mula-mula ujung speculum dimasukkan agak miring kedalam
introitus vagina, didorong kedalam sedikit, dan diletakkan melintang
dalam vagina, lalu speculum ditekan kebelakang dan didorong lebih dalam
lagi, sehingga ujung speculum menyentuh puncak vagina di forniks
posterior.pada proses yang berdarah di portio pemasangan speculum ini
harus dilakukan sangat hati-hati, sehingga ujung speculum tidak
menyentuh atau menekan portio yang mudah berdarah itu. Ujung
speculum harus diarahkan lebih kebelakang lagi dan langsung ditempatkan
di forniks posterior pada dinding belakang vagina. Setelah speculum

pertama dipasang dan ditekan kebelakang, maka pemasangan speculum


Sims kedua (depan), yang harus lebih kecil daripada yang pertama,
menjadi sangat mudah, ujungnya ditempatkan di forniks anterior dan
ditekan sedikit kedepan. Biasanya portio langsung tampak dengan jelas.
Apabila portio menghadap terlampau kebelakang atau terlampau kedepan
maka posisi kedua speculum perlu disesuaikan yaitu ujung speculum
belakang digerakkan lebih kebelakang dan atau yang depan digerakkan
lebih kedepan, sehingga portio letaknya ditengah antara kedua speculum.
Pemasangan speculum cocor bebek dilakukun sebagai berikut. Dalam
keadaan tertutup speculum dimasukkan ujungnya kebelakang introitus
vagina sedikit miring, kemudian diputar kembali menjadi melintang dalam
vagina dan didorong masuk lebih dalam ke arah forniks posterior sampai
di puncak vagina. Lalu speculum dibuka melalui mekanik pada
tangkainya. Dengan demikian, dinding vagina depan dipisah dari yang
belakang dan portio tampak jelas dan dibersihkan dari lender atau getah
vagina. Waktu speculum dibuka daun depan tidak menyentuh portio
karena agak lebih pendek dari daun belakang.
Juga speculum cocor bebek perlu disesuaikan posisinya apabila
portio tampak belum jelas, dan pemasangan harus dilakukan dengan hatihati apabila ada proses mudah berdarah di portio. Spekulum silindris
sekarang jarang digunakan.
Dengan menggunakan speculum diperiksa dinding vagina (rugae
vaginalis, karsinoma, fluor albus) dan portio vaginalis servisis uteri (bulat,
terbelah melintang, mudah berdarah, erosion, peradangan, polip, tumor
atau ulkus, terutama pada karsinoma).
Untuk pemeriksaan dengan speculum, mutlak diperlukan lampu penerang
yang cukup, sebaiknya lampu sorot yang ditempatkan dibelakang
pemeriksa agak kesamping, diarahkan di portio.
Selain itu, dengan speculum dapat pula dilakukan pemeriksaan pelengkap,
seperti usap vagina dan usap serviks untuk memperiksakan sitologi, getah
kanalis servikalis untuk pemeriksaan gonorea, dan getah dari forniks
posterior untuk pemeriksaan gonorea, dan getah dari forniks posterior
untuk pemeriksaan trikomoniasis dan kandidiasis.

Eksisi percobaan dilakukan juga dalam speculum. Apabila ada polip kecil
bertangkai, ini sekaligus dapat diangkat dengan memutar tangkainya, alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang sudah tidak dikehendaki lagi oleh
penderita dapat pula dikeluarkan.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
Memasang spekulum ke dalam vagina untuk melihat kondisi vagina dan
portio

Pasang speculum, pemeriksaan vagina dan serviks diamati, jika ada lendir
yang
mencurigakan diperiksa pap smear

PEMERIKSAAN BIMANUAL
Pemeriksaan genitalia interna dilakukan dengan kedua tangan (bimanual),
dua jari atau satu jari dimasukkan kedalam vagina, atau satu jari kedalam

rectum, sedang tangan yang lain (biasanya empat jari) diletakkan di


dinding perut.
Untuk memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, penderita berbaring dalam
posisi litotomi; diberitahu juga bahwa akan dilakukan pemeriksaan dalam
dan harus santai, tidak boleh menegangkan perutnya. Kesulitan
pemeriksaan bimanual dapat dialami pada penderita yang gemuk, tidak
tenang, yang menegangkan perutnya. Kandung kemih yang penuh dapat
mempersulit pemeriksaan ginekologik, bahkan dapt disangka suatu kista
ovarium.
Sebelum tangan kanan dimasukkan, vulva dibersihkan dengan kapas
sublimat atau kapas detol. Waktu tangan kanan akan dimasukkan kedalam
vagina, jari telunjuk dan jari tengah diluruskan kedepan, ibu jari lurus
keatas, dandua jari lainnya dalam fleksi vulva dibuka dengan dengan kiri.
Mula-mula jari tengah dimasukkan ke dalam introitus vagina, lalu
kommisura posterior ditekan kebelakang supaya introitus menjadi lebih
lebar. Baru kemudian jari telunjuk dimasukkan juga. Cara ini dimaksudkan
untuk menghindari rasa nyeri, apabila dinding belakang uretra tertekan
terlampaui keras oleh kedua jari yang dimasukkan sekaligus. ini tentu
tidak berlaku bagi multipara dengan introitus dan vagina yang sudah lebar.
Pada nulipara dan pada virgo, apabila memang mutlak diperlukan
pemeriksaan dalam dilakukan hanya dengan satu jari (jari telunjuk), pada
virgo jikalau perlu dalam narcosis.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)

PEMERIKSAAN DALAM NARKOSIS

Pemeriksaan vaginoabdominal dan pemeriksaan in speculum perlu/harus

dilakukan dalam narcosis:


Pada anak kecil;
Pada biarawati;
Pada virgo dengan introitus vagina yang sempit atau pada hymen rigidus
Vaginismus
Apabila pegangan perut oleh penderita tidak bisa dihilangkan, dan
Apabila pada pemeriksaan biasa tanpa narcosis tidak diperoleh keterangan
yang cukup jelas (adipositas, tumor besar, cairan bebas, dan sebagainya).
Pemeriksaan dalam narcosis tidak tanpa bahaya, dan sebaliknya baru
dilakukan apabila memang benar-benar diperlukan. Karena perasaan nyeri
hilang, maka pecahnya kista, kehamilan ekstrauterin yang belum
terganggu, hidro-, hematoma-, dan piosalping, atau terlepasnya perlekatan
peritoneal (omentum, usus) sebagai perlindungan, tidak di rasa oleh
penderita dan tidak segera diketahui oleh pemeriksa.
Indikasi pemeriksaan dalam narcosis bagi anak kecil, virgo, dan biarawati
ialah perdarahan yang tidak normal, fluor albus, kelainan endokrin, dan
persangkaan intersesualitas.
Pada anak kecil, pemeriksaan vaginal tidak dapat dilakukan tanpa narcosis,
disebabkan oleh ketakutan, ketidaktenangan, dan rasa nyeri. Digunakan
speculum cocor bebek yang sangat kecil, khusus untuk anak-anak.
Kadang-kadang pemasukan jari dan speculum tidak mungkin sama sekali.
Dalam hal demikian, hanya dilakukan pemeriksaan dengan memasukkan
kateter gelas atau logam untuk mengenal benda asing di dalam vagina dan
untuk pengambilan getah vagina untuk pemeriksaan. benda asing yang
menyebabkan fluor albus sekaligus dikeluarkan.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
PEMERIKSAAN KHUSUS
Merupakan pemeriksaan ginekologik. Agar diperoleh hasil yang baik
maka posisi pasien dan alat-alat yang digunakan juga menentukan.Adapun
posisi yang digunakan adalah posisi litotomi, pada letak ini diperlukan
meja ginekologik dengan penyangga bagi kedua tungkai; posisi miring,

penderita diletakkan dipinggir tempat tidur miring ke sebelah kiri, sambil


paha & lutut ditekuk & kedua tungkai sejajar.posisi ini hanya baik
digunakan untuk pemeriksaan in spekulo; dan posisi sims, posisi ini
hampir sama dengan posisi miring, hanya tungkai kiri hampir lurus,
tungkai kanan ditekuk kearah perut,dan lututnya diletakkan pada alas
tempat tidur.dengan demikian penderita berbaring setengah tengkurap.
Pemeriksaan laboratorium biasa
Tidak selalu, akan tetapi apabila dianggap perlu, dilakukan pemeriksaan
darah dan air kencing. Kadar Hb diperiksa pada wanita yang tampak pucat
mengalami perdarahan, pada wanita hamil, dan pada persangkaan
kehamilan ekstrauterin terganggu. Batas terendah normal untuk wanita
tidak hamil ialah 11,5 g%. pada perdarahan abnormal yang berlangsung
cukup lama (mioma uteri, karsinoma servisis uteri, metropatia
haemorrhagik dan sebagainya daripada kehamilan ekstrauterin terganggu).
Kadar Hb dapat menjadi sangat rendah, bahkan dapat mencapai nilai 3-4 g
%.
Air kencing diperiksa pada setiap wanita hamil (proteinuria) dan pada
persangkaan kelainan saluran kencing (sedimen). Periksaan tes kehamilan
dengan HCG dilakukan pada persangkaan kehamilan muda, yang belum
dapat dipastikan dengan pemeriksaan ginekologik, dan pada persangkaan
mola hidatidosa atau koriokarsinoma (titrasi). Pemeriksaan gula darah,
fungsi ginjal, fungsi hati dan sebagainya hanya dilakukan apabila ada
indikasi.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
Pemeriksaan getah vulva dan vagina
Pemeriksaan yang sering diperlukan poliklinik atau tempat praktek ialah
pemeriksaan getah urethra atau serviks getah vagina, terutama pada
keluhan leukorea. Getah uretra diambil dari orifisium uretra eksternum,
dan getah serviks dari ostium uteri eksternum dengan kapas lidi atau ose
untuk pemeriksaan gonokokkus. Dibuat sediaan usap pada kaca benda,
yang dikirim ke laboratorium.

Getah vagina diambil dengan ;apas lidi dari forniks posterior, lalu
dimasukkan kedalam botol kecil yang telah diisi dengan larutan garam
fisiologi. Sediaan segar diperiksa di laboratorium untuk mencari
trikomonas vaginalis dan benang-benang (miselia) kandida albikans.
Apabila hasil pemerikaan gonokokus, trikomonas dan kandida beberapa
kali tetap negative, sedang kecurigaan akan penyakit bersangkutan masih
ada, maka dapat dilakukan pemeriksaan biakan.
Pemerikaksaan baktreriologik lainnya, termasuk pemeriksaan pembiakan,
dapat dilakukan pula apabila dianggap perlu.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
Pemeriksaan sitologi vagina
Untuk pemeriksaan sitologi, bahan diambil dari dinding vagina atau dari
servik (endo dan ektoservik) dengan spate arye (dari kayu atau plastik).
Pemeriksaan sitologi vaginal sekarang banyak teratur berkala (misalnya
- 1 tahun sekali) dilakukan untuk kepentingan diagnosis dini karsinoma
servisis dan karsinoma korporis uteri. Karena papanicolaou dalam tahun
1982 yang menganjurkan cara pemeriksaan ini, maka sekarang sudah
lazim pengguna istilahPaps smear.
Untuk deteksi tumor ganas bahan diambil dengan Spatel Ayre atau dengan
kapas lidi dari dinding vagina dan dari serviks. Untuk pemeriksaan
pengaruh hormonal, bahan cukup diambil dari dinding vagina saja. Dalam
diagnostic tumor ganas dari laboratorium diperoleh hasil menurut

klasifikasi Papaniculaou:
Kelas I berarti negative (tidak ditemukan sel-sel ganas);
Kelas II berarti ada sel-sek atipik, akan tetapi tidak mencurigakan;
Kelas III berarti ada sel-sel atipik, dicurigai keganasan;
Kelas VI ada kemungkinan tumor ganas;
Kelas V berarti jelas tumor ganas.
Semua penderita dengan hasil pemeriksaan kelas III, IV, V perlu diperiksa
ulang. Biasanya juga dibuat biopsi atau konisasi guna pemeriksaan
histologik. Dalam diagnostic hormonal oleh laboratorium dilaporkan
pengaruh estrogen dan/atau progesteron.untuk mengetahui apakah ada
ovulasi atau tidak dan pada amenorea, dilakukan pemeriksaan berkala
(serial smear) setiap minggu sampai 3-4 kali. Peradangan dapat

menganggu penilaian diagnostik. Dalam hal ini, peradangan harus diobati


lebih dahulu dan pemeriksaan sitologik diulang.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
Percobaan Schiller
Percobaan Sciller merupakan cara pemeriksaan yang sederhana
berdasarkan kenyataan bahwa sel-sel epitel berlapis gepeng dari portio
yang normal mengandung glikogen, sedang sel-sel abnormal tidak.
Apabila permukaan portio dicat/dipulas dengan larutan lugol (grams
iodine solution), maka epitel portio yang normal menjadi berwarna coklat
tua, sedang daerah-daerah yang tidak normal berwarna kurang coklat dan
tampak pucat. Portio dioles dengan kapas yang dicelup dalam larutan
lugol; atau lebih baik lagi larutan Lugol disemprotkan pada portio dengan
semprit 10 ml dan jarum panjang, sehingga portio tidak perlu diusap.
Percobaan Schiller hanya dapat dipakai apabila sebagian besar portio
masih normal; jadi jadi pada lesi yang tidak terlampau besar, dan pula
hasil positif tidak memberi kepastian akan adanya tumor ganas karena
daerah-daerah yang pucat dapat pula disebabkan oleh kelainan lain,
misalnya erosion, servisitis, jaringan parut, leukoplakia, dan lain-lain.
Namun demikian, dalam keadaan tertentu percobaan Schiller masih
mempunyai tempat dalam diagnostic karsinoma servisis uteri. Terutama
pada kolposkopi dan biopsi, pencarian tumor lebih dapat di arahkan.
Lagipula karena caranya sederhana, pemeriksaan ini dapat dipakai untuk
pencarian tumor ganas (screening).
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
Kolposkopi
Keuntungan alat ini adalah pemeriksa dapat melihat binocular lebih jelas,
dapat mempelajari portio dan epitelnya lebih baik dan serta lebih terinci,
sehingga dysplasia dan karsinoma, baik yang insitu maupun yang invasif,
dapat dikenal. Sekarang alat ini banyak dipakai dan kegunaannya telah
diakui. Namun untuk pemeriksaan ini, diperlukan pengalaman dan
keahlian.
Penderita dalam posisi litotomi, lalu dipasang speculum. Portio
dibersihkan dari lendir dengan larutan cuka 2% atau dengan larutan nitras

argenti 5% , atau dilakukan percobaan Schiller lebih dahulu. Dalam hal


terakhir tampak jelas batas antara epitel berlapis gepeng dari ektoserviks
dan mukosa dari endoserviks. Apabila ada lesi, tampak jelas pula batas
antara daerah yang normal dan daerah yang tidak normal.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)

Eksisi Percobaan dan Konisasi


Eksisi percobaan atau biopsi (puncj biopsy) merupakan cara pemeriksaan
yang dilakukan pada setiap portio yang tidak utuh, didahului atau tidak
oleh pemeriksaan sitologi vagina atau kolposkopi.
Dahulu biopsy dilakukan dengan pisau biasa (dengan atau tanpa narcosis),
sekarang dengan cunam khusus. Daerah yang dipotong ialah perbatasan
antara epitel yang tampak normal dan lesi. Tempat biopsy lazim
dinyatakan sesuai dengan letaknya jarum lonceng, misalnya jam 9 atau
jam 2. Telah diuraikan diatas bahwa dengan pertolongan percobaan
Schiller dan kolposkopi biopsy dapat dilakukan lebih terarah, sehingga
kemungkinan salah diagnosis lebih kecil.
Apabila portio tidak sangat mencurigakan akan keganasan biasanya biopsy
segara dilanjutkan dengan elektro-kauterisasi atau krioterapi. Biopsy dan
kauterisasi/krioterapi dapat dilaksanakan di poliklinik atau kamar praktek,
asal tidak dilupakan bahwa sebagai akibat tindakan ini dapat timbul
perdarahan. Karena itu, leih aman apabila penderita dirawat beberapa hari,
biasanya cukup 3-4 hari. Untuk pemeriksaan karsinoma servisis uteri yang
lebih dalam letaknya, dilakukan kuretase dari kanalis servikalis.
Konisasi merupakan tindakan yang paling dapat dipercaya pada
persangkaan karsinoma karena dapat dibuat banyak sediaan dari seluruh
portio untuk pemeriksaan mikroskopik. Jadi, kemungkinan luput diagnosis
tidak ada.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
Biopsy Endometrium
Biopsy endometrium dengan mikrokuret, biasanya di poliklinik atau
kamar praktek, dilakukan untuk menentukan ada atau tidak adanya
ovulasi. Endometrium dikerok di beberapa tempat, lalu dimasukkan ke

dalam botol berisi larutan formalin dan dikirim ke laboratorium. Apakah


diperlukan dilatasi serviks atau tidak, tergantung dari keadaan kanalis
servikalis. Biasanya memang diperlukan. Dilatasi dilakukan dengan busi
Hegar (dilatator) nomor yang kecil. Untuk kuretase pada missed abortion,
digunakan batang laminaria.
Diperiksa apaka endometrium dalam masa proliferasi (pengaruh estrogen)
ataukah dalam masa sekresi (pengaruh progesterone, didahului oleh
ovulasi). Endometritis tuberkulosa dapat pula ditemukan pada amenorea
sekunder.
Waktu yang paling baik untuk melakukan mikrokuretase ialah hari
pertama menstruasi. Ini untuk menghindari kemungkinan adanya
kehamilan muda yang tidak disangka. Proses peradangan serviks
merupakan kontraindikasi.
Untuk keperluan diagnostik tumor ganas endometrium, mikrokuretase
tidak diperlukan. Lebih baik dilakukan dilatsi dan kuretase dengan kuret
biasa dalam narcosis. Karena semua endometrium dikerok, maka
kemungkinan luput diagnosis tidak ada. Cara lain untuk memperoleh
bahan pemeriksaan dari cavun uteri ialah dengan cytobrush, aspirasi kuret.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)

PEMERIKSAAN KHUSUS LAIN


Untuk keperluan diagnostik sterilitas/infertilitas, pemeriksaan
ginekologik biasanya masih perlu dilengkapi dengan pemeriksaanpemeriksaan khusus lain, seperti analisis sperma, pertubasi, percobaan
pakis (varentest, fern test, arborization test), percobaan pemelaran/tarikan
lendirserviks (rekbaarheid, spinnbarkeit), percobaan pasca-koitus SimsHuhner, percobaan Miller-Kurzrok, pengukuran suhu basal, histero
salpingografi, laparoskopi, dan lain sebagainya.
Sonografi Transvaginal
Sonografi transvaginal semula dipakai untuk memantau pertumbuhan
folikel serta pengambilan ovum pada pasien infertilitas dan merupakan
pelengkap bagi sonografi abdominal. Kemudian baru berkembang sebagai
alat diagnostic patologi pelvik. Perlu ditekankan bahwa sonografi

transvaginal berfungsi sebagai pelengkap pemeriksaan bimanual dan tidak


untuk menggantikannya.Seperti pemeriksaan bimanual, sonografi
transvaginal dapat menilai bentuk, ukuran, dan letak organ/massa, akan
tetapi tidak dapat menilai mobilitas organ/massa tersebut. Hanya saja,
sonografi transvaginal tidak dapat dipakai pada pasien yang masih virgo.
Persiapan pemeriksaan
Berlainan dengan pemeriksaan sonografi abdominal, maka pada
pemeriksaan sonografi transvaginal pasien tidak harus mengosongkan
kandung kemihlebih dahulu. Pasien dibaringkan dalam posisi anti
tredelenburg.sebaiknya pemeriksaan dilakukan di atas meja ginekologi
agar dapat dilakukan pemeriksaan bimanual terlebih dahuludan agar
gerakan gagang transduser tidak akan terganggu pada saat melakukan
pemeriksaan. Sebelum transduser dimasukkan ke dalam vagina, perlu di
pasang kondom pada transduser yang sebelumnya telah di lumuri dengan
gel.
Resolusi gambar lebih baik dibandingkan dengan sonografi abdominal,
karena frekuensi yang digunakan lebih tinggi dan hal ini dimungkinkan
karena letak organ tidak terlalu jauh.
Indikasi sonografi transvaginal
Seperti telah di uraikan diatas, sonografi transvaginal telah lama
digunakan untuk memantau perkembangan folikel dan pengambilan ovum
pada pasien infertilitas. Sonografi transvaginal sangat membantu dalam
pemeriksaan pasien yang gemuk, karena pemeriksaan bimanual lebih sulit,
nisalnya untuk menentukan besarnya massa di rongga pelvis. Dengan
sonografi vaginal besarnya massa dapat di ukur dengan tepat.
Indikasi lainnya adalah untuk mengetahui apakah AKDR ada di dalam
uterus atau tidak, misalnya bila ada pemeriksaan benang AKDR tidak
tampak dan pada pemeriksaan dengan sonde duragukan adanya AKDR.
Sebelum dilakukan pemeriksaan foto abdomen polos atau histerogram,
maka tepat bila diperiksa dengan sonografi transvaginal. AKDR yang
terletak di dalam cavum uteri akan tampak jelas. Baru bila dengan
sonografi transvaginal AKDR tidak tampak, dilakukan pemeriksaan secara
radiologis. Pasien dengan haid yang terlambat dan takut akan adanya

kehamilan akan merasa lega bila dengan sonografi transvaginal dapat


segera di lihat bahwa ia tidak hamil. Kematian mudigah juga mudah
diperiksa, tampak bahwa mudigah tidak menunjukkan tanda-tanda
kehidupan. Dengan ultrasonografi transvaginal patologi pada kehamilan
muda maupun kelainan ginekologi tertentu lebih mudah diketahui.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
Histeroskopi
Histeroskopi adalah endoskopi untuk memeriksa rongga uterus, seperti
kanalis servikalis, cavum uteri serta ostium tuba uteri kiri dan kanan.
Histeroskopi yang banyak dilakukan saat ini adalah histeroskopi
panoramic, yaitu histereskopi yang mempergunakan media tertentu untuk
mendistensikan rongga uterus, khususnya cavum uteri.
Histeroskopi yang dipakai saat ini adalah prototipe histeroskopi yamg di
kembangkan oleh Lindemann yang terdiri dari tiga instrument utama yaitu
generator sumber cahaya, insuflator gas, dan lumina histeroskop itu
sendiri.
Media distensi cavum uteri
a.Dekstran dengan berat molekul tinggi
32% dekstran 70 dalam dekstrosa, adalah cairan yang jernih secara optic
dengan indeks refraksi tinggi dan berat molekulnya rata-rata 70.000,bebas
elektrolit dan tidak konduktif. Sifat penting substansi ini adalah bahwa ia
dapat bercampur dengan darah dan karenanya dapat di lihat secara jelas,
sekalipun ada perdarahan-perdarahan kecil. Lagipula tidak toksik dan
dapat diukur secara biologis. Walaupun demikian, karena zat ini adalah
polisakarida bersifat antigenic kadang-kadang dapat terjadi reaksi
anafilaktik.
b.Dekstrosa 5% dalam air
media ini mungkin merupakan media yang paling sederhana, mudah dan
murah, untuk mencapai uterus. Suatu kantong plastik yang berisikan 500
ml dektrosa 5% di beri takanan luar antara 80-120 mmHg. Dengan cara
ini, cairan dapat mengalir bebas melalui histeroskop dan bebas dari kontrol
operator. Karena sifatnya mudah dan cepat diabsorbsi, maka pada dasarnya
medium ini aman dan dapat dipakai pada prosedur poliklinis. Keberatan
pemakaian dekstrosa 5% dalam air ini ialah bahwa cairan ini tidak

memungkinkan distensi uterus yang luas dan adanya perdarahanperdarahan kecil yang dapat mengganggu penglihatan. Walaupun demikian
dengan cara yang talah dimodifikasikan visualisasi masih dimungkinkan.
c.Insuflasi gas CO
Distensi kavum uteri dengan gas CO2 (pneumometra) memang
memerlukan alat-alat yang lebih rumit, meskipun demikian visualisasi
yang dicapai baik sekali dan memungkinkan pemotretan-pemotretan
dengan kualitas tinggi. Disamping itu, karena mudahnya, intravasasi
diperlukn pemakain gas CO2 yang ketat. Kalibrasi elektronik dari aliran,
tekanan dan kuantitas gas CO2 telah ditentukan oleh alat seperti
histeroflator atau insulflator histeroskopi.
Aliran 40-60 ml gas CO2 permenit dengan tekanan maksimum 100
mmHg. mmHg dalam cavum uteri ternyata aman dan efektif untuk
pemeriksaan histeroskopi. Oleh karena kemungkinan dapat terjadi
ekstravasasi gas dengan akibat terjadinya hiperkarbia sekunder,
kemungkinan asidosis dan aritmia jantung, maka dianjurkan agar pada saat
pemeriksaan yang terus menerus dilakukan pengawasan dengan monitor

a)
b)
c)
d)
e)
f)

EKG.
Indikasi pemeriksaan
Indikasi pemeriksaan histeroskopi adalah:
Perdarahan abnormal dari uterus;
Pemeriksaan infertilitas;
Konfimasi mioma atau polip endometrium;
Menentukan lokasi AKDR yang tertanam di kavun uteri;
Perlekatan dan kelainan kavum uteri;
Pemeriksaan parut uterus setelah tindakan pembedahan, seksio sesarea,

histerotomi dan miomektomi;


g)
Melakukan biopsy intrauterin dan lesi endoserviks.
Kontraindikasi pemeriksaan
a)
Kontraindikasinya adalah:
b)
Perforasi uterus yang baru terjadi;
c)
Kehamilan intrauterine;
d)
Peradangan pelvis aktif;
e)
Perdarahan uterus yang masih aktif;
f)
Stenosis serviks yang berat dan luas;
g)
Hiperetrofleksi uteri fiksata.
(Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)

BAB III
KESIMPULAN

Pemeriksaan ginekologi secara rutin bermanfaat untuk :


1. Mencegah berbagai penyakit dan keluhan yang berhubungan
dengan reproduksi.
2. Memberikan deteksi dini pada penyakit kanker payudara dan
leher rahim.
3. Mendeteksi secara dini penyakit menular seksual dan kondisi
lain sebelum menimbulkan dampakyang lebih berbahaya.
4. Dapat mencegah kemandulan. Memperlancar kehamilan dan
kelahiran bayi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Berek & Novak's Gynecology, 14th Edition, Copyright 2007


Lippincott Williams & Wilkins
2. (Sarwono.2008.Ilmu Kandungan.Yayasan Bina Pustaka.Jakarta)
3. Panduan persiapan Klinik Obstetri dan Ginekologi (Bambang
Widjanarko,Sp.OG)
4. Barbara Bates, pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan.