Anda di halaman 1dari 13

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

BAB I
Pendahuluan
Pengemasan merupakan suatu bagian penting dari proses pengolahan
produk pangan, biasanya pada bagian post-processing operation. Robertson
(2005) mengidentifikasi bahwa pengemasan memiliki empat fungsi, antara lain
containment, protection, convenience dan communication. Pada kenyataannya,
setiap fungsi tersebut mempunyai berbagai macam teknologi yang bebeda, mesinmesin dan tujuan komersial.
1. Containment: Salah satu fungsi yang terpenting dari pengemas adalah
sebagai wadah dari produk pangan. Fungsi ini penting antara lain untuk
transportasi yang efisien, penyimpanan dan distribusi produk. Sebaga
tambahan, fungsi wadah ini berpengaruh terhadap distribusi, yaitu
membagi-bagi produk sehingga mempengaruhi berat dan volume dan
stock-keeping. Bentuk dan dimensi pengemas menentukan besarnya ruang
untuk penyimpanan dan juga transportasi. Pengemas yang menciut dapat
menyediakan ruang yang cukup banyak pada produk di dalam palet.
2. Protection dan preservation: Pada produk pangan, fungsi ini merupakan
yang paling penting. Dengan meletakkan banyak atau sedikit bahan
pengemas di antara produk dengan lingkungan, pengemas akan melindung
produk dari pengaruh fisik, kimia, substansi mikrobial maupun makrobial
dari luar, dan mempengaruhi umur simpan dari produk. Pada saat yang
sama, pengemas akan melindungi lingkungan dari produk pangan, seperti
aroma yang menguap dan remahan produk.
3. Convenience: Kenyamanan merupakan salah satu atribut yang diandalkan
oleh produsen untuk menjual produknya kepada konsumen. Penyesuaian
ukuran pengemas yang disesuaikan dengan konsumen yang dituju
merupakan salah satu cara yang dilakukan industri untuk meningkatkan
kenyamanan melalui kemasan. Kemasan bertekanan, kemasan aerosol
(untuk coating, flavoring, oiling dll), kemasan yang mudah dibuka
dan/atau dapat ditutup kembali, merupakan beberapa pengembangan dari
teknologi pengemasan untuk meningkatkan kemyamanan.

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

4. Communication: Adanya informasi produk yang dicetak dalam kemasan


merupakan tujuan komunikasi dari pengemas, yang dapat berupa tulisan
atau gambar. Tulisan-tuisan yang ada biasanya berisi informasi penting
mengenai komposisi bahan, kandungan nutrisi, tanggal produksi dan/atau
tanggal kadaluarsa, harga dan informasi penting lainnya. Pada masa yang
akan datang, pengemas pada produk yang didinginkan dapat dipasang
temperature-time indicator/integrator, yang ditunjukkan dengan indikator
warna, yang dapat memberikan informasi mengenai tingkat kualitas
produk, yang disebut dengan intelligent packages.
Logam merupakan salah satu bahan pengemas yang banyak digunakan
industri-industri pengalengan. Kaleng logam mempunyai keuntungan antara lain
kekuatan mekanis yang besar, tahan terhadap proses pada suhu tinggi dan suhu
rendah, tidak dapat ditembus oleh cahaya, uap dan mikroorganisme, dan
mempunyai konduktivitas termal yang baik. Meskipun demikian, harga metal dan
biaya produksi yang tinggi menyebabkan harga kaleng logam mahal. Bahan
pengemas logam lebih berat daripada bahan pengemas lain, kecuali kaca,
sehingga menyebabkan biaya transportasi yang lebih besar.

BAB II
Pembahasan
2.1

Definisi Kemasan Kaleng


Kemasan Kaleng merupakan jenis kemasan yang terbuat dari kaleng
berbahan baja

dengan lapisan timah (tinplate). Baja dengan plat timah

diproses dari lembaran atau gulungan baja berkarbon rendah dengan

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

ketebalan 0.15-0.5 mm dan kandungan timah putih berkisar antara 1.01.25% dari berat kaleng.
Kemasan Kaleng digunakan sebagai bahan pengemas untuk produk
pangan karena memiliki keunggulan:
- mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi
- barrier yang baik terhadap gas, uap air, jasad renik, debu dan kotoran
sehingga cocok untuk kemasan hermetis.
- toksisitasnya relatif rendah meskipun ada kemungkinan migrasi unsur
logam ke bahan yang dikemas.
- tahan terhadap perubahan-perubahan atau keadaan suhu yang ekstrim
- mempunyai permukaan yang ideal untuk dekorasi dan pelabelan.
2.2

Jenis-jenis Kaleng
2.2.1 Kaleng bebas timah (tin-free-steel=TFS)
Kaleng bebas timah (tin-free-steel=TFS) adalah lembaran baja
yang tidak dilapisi timah putih. Jenis TFS yang paling banyak digunakan
untuk pengalengan makanan adalah jenis Tin Free Steel Chrome Type (TFSCT), yaitu lembaran baja yang dilapisi kromium secara elektris, sehingga
terbentuk khromium oksida di seluruh permukaannya. Jenis ini memiliki
beberapa keunggulan, yaitu harganya murah karena tidak menggunakan
timah putih, dan daya adhesinya terhadap bahan organik baik. Tetapi
kelemahannya peluang untuk berkarat lebih tinggi, sehingga harus
diberilapisan pada kedua belah permukaannya (permukaan dalam dan luar).
Berdasarkan komposisi lapisan kaleng, cara melapisi dan
komposisi baja penyusun kaleng, maka kaleng dibedakan atas beberapa tipe
seperti terlihat pada Tabel 1.1 dan Tabel 1.2. Kaleng Tipe L = Low
Metalloids adalah kaleng yang mempunyai daya korosif rendah, sehingga
dapat digunakan untuk makanan yang berasam tingi. Kaleng tipe MR
(Medium Residual) dan tipe MC (Medium Metalloids Cold Reduces) adalah
kaleng yang mempunyai daya korosif rendah sehingga digunakan untuk
makanan berasam rendah. Kaleng dengan lapisan timah yang tebal
digunakan untuk makanan dengan daya korosif yang tinggi.

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

Tabel 1.1 Komposisi kimia (kisaran dan presentase maksimum) beberapa


jenis kaleng

Tabel 1.2 Jenis Kaleng Berdasarkan Jumlah Timah dan cara Melapisi

Tabel 1.3 Pemilihan tipe kaleng untuk pengemasan makanan dan minuman

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

2.2.2 Three Pieces can


Three pieces cans merupakan jenis kaleng yang terdiri dari 3
potong lembaran logam. Lembaran ini terbagi menjadi 1 potong tubuh
kaleng dan 2 potong berupa penutup dan bagian dasar Kaleng jenis ini biasa
digunakan sebagai wadah untuk bahan pangan yang dikemas dengan
sterilisasi panas kedap udara. Selain itu juga bisa digunakan sebagai
pengemas sirup, minyak goring dan bubuk.
Bahan ini terbuat dari baja ringan yang dilipat searah menjadi setebal 1,8
mm, kemudian dicelupkan ke dalam larutan asam sulfat panas, didinginkan
dan kembali dilipat menjadi setebal 0,15 0,50 mm lalu dilipat hingga
sesuai tingkat kekerasan tertentu dan permukaan akhir.
Untuk mencegah korosi pada kaleng, dilakukan pelapisan timah.
Timah ini dilapiskan pada setiap sisi kaleng setebal 0.1-0.3 mm. Agar tidak
memberikan kesan tebal pada kaleng, dilakukan proses pemanasan cepat
dengan media minyak panas atau induksi listrik. Hasil dari proses ini juga
akan meningkatkan ketahanan terhadap korosi dan tingkat kecerahan
permukaannya. TImah juga perlu dilapisi pernis tertentu untuk menghindari
kontak dengan produk. Jenis pernis yang biasa digunakan berbahan Epoxy
phenol, bahan ini tahan terhadap suasana asam, ketahanan terhadap
panasnya cukup baik dan fleksibel. Epoxy-phenol

dapat pula dilapisi

dengan bubuk aluminium atau seng oksida untuk mencegah pembentukan


noda sulfide pada daging, ikan dan sayur. Epoxy-phenol biasa digunakan
pada pengalengan daging , ikan, buah dan sayur.
Proses perakitan kemasan kaleng tiga lembar dapat diuraikan sebagai
berikut:

- Pemberian lapisan enamel pada lembar plat timah


- Pencetakan disain grafis
- Pemotongan lembaran plat timah menjadi body blank yang disebut proses
slitting
- Pembentukan badan kaleng (body making)
- Pembentukan leher kaleng (necking) untuk beberapa jenis kaleng
- Pembentukan body hood (flanging) untuk semua bentuk kaleng.

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

- Pembersihan permukaan dalam kaleng dengan menggunakan sikat dan


hembusan udara.
- Pelapisan enamel kedua (enamel ganda), yaitu untuk kaleng kemasan
minuman berkarbonasi. Proses pelapisan enamel kedua ini dilakukan dengan
cara pengabutan bahan pelapis (sprayed coating).
- Pemasangan tutup kaleng dengan mesin seamer.

Proses perakitan three pieces cans dengan system panas elektrik: a) bahan
badan kaleng di bentuk menjadi silinder; b) kedua tepi badan kaleng di
pertemukan; c) tepi badan kaleng direkatkan dan dilas luar dalam; d) tutup
dicetak; e) pemasan
2.2.3 Two pieces can
Kaleng dengan dua lembar aluminium dibuat dengan proses drawand-wall-iron (DWI) atau proses draw and-redraw (DRD). Proses DWI
digunakan untuk membuat dinding kaleng yang lebih tipis daripada dengan
proses DRD, dan digunakan untuk membuat kaleng aluminium untuk
minuman berkarbonasi dimana tekanan gas ikut mendukung bentuk wadah.
Dinding kaleng DRD lebih tebal dan mampu menahan head-space pada
kondisi vakum yang dibuat selama proses pendinginan setelah proses
sterilisasi panas. Keuntungan dari two-pece cans adalah integritas lebih

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

besar, bentuk silinder yang lebh seragam, lebih sedikit dalam penggunaan
logam dan lebih banyak menarik konsumen.
Pada proses DWI, potongan aluminium dipotong dan dibentuk ke
dalam sebuah mangkuk. Proses ini membuat beberapa bentuk gelang
(dinding logam), untuk mengurangi ketebalan dinding logam dan untuk
menambah tinggi kaleng sesuai dengan kebutuhan. Secara umum, proses
pembuatan kaleng DWI dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Bahan pembuat kaleng adalah plat timah dan aluminium dengan ketebalan
masing-masing 0.3 dan 0.42 mm.
- Sekeliling lembaran ditekan ke dalam berbentuk mangkuk atau lekukan
untuk memperoleh lekukan yang dangkal.
- Lekukan dilewatkan berturut-turut pada lingkaran logam (annular rings)
untuk mengurangi ketebalan dinding lekukan sampai kira-kira 1/3 dari
ketebalan awal dan tingginya tiga kali tinggi semula. Proses ini disebut
dengan Wall Ironed.
- Setelah bentuk dasar terbentuk, maka kaleng dipotong sesuai dengan
ukuran yang diinginkan.
- Penutupan dengan cara double seaming setelah pengisian.

Modifikasi dari proses DWI dapat dilakukan dengan cara:


Pengurangan diameter bagian leher kaleng yang dapat memperbaiki
penampakan dan kemampuan untuk menumpuk kaleng dan mengurangi
penggunaan logam
Penggunaan cincin tarik yang mudah dibuka untuk mempermudah
konsumen
Desain cetakan komputer dan tinta anti gores yang dicetak sebelum logam
dibentuk.
Proses pembuatan kaleng DRD hampir sama dengan proses
pembuatan kaleng DWI. Namun pada proses pembuatan kaleng DRD tidak
terdapat proses ironing, sehingga menghasilkan kaleng yang lebih tebal jika
dibbandingkan dengan kaleng DWI. Kaleng DRD terbuat dari bahan plat
timah setebal 0,2 mm.

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

2.4 Mesin Mesin pada Proses Pengisian Kaleng


Mesin-mesin yang digunakan selama proses pengalengan biasanya
tergantung pada jenis bahan yang dikalengkan. Secara umum proses yang
berlangsung selama pengalengan meliputi:
a.Pembersihan dan persiapan bahan bahan baku.
b. Blansing, dengan cara mencelup di dalam air mendidih atau menggunakan
uap panas, yang bertujuan untuk menginaktifkan enzim, menghilangkan
gelembung-gelembung udara yangterperangkap di dalam bahan sehingga
memudahkan dalam proses pengisian dan memudahkan dalam proses
sterilisasi.
c. Pengisian dan exhausting. Kaleng terbuka yang bersih diisi dengan bahan
pangan secaraotomatis. Untuk sayuran maka ditambahkan cairan pengisi
berupa larutan garam, sedang untuk buah-buahan ditambahkan cairan
pengisi berupa sirup gula. Cairan ditambahkan sampai 1 cm dari bagian atas
kaleng. Setelah pengisian, kaleng dipindahkan ke kotak pengeluaran gas
(exhaust box), sehingga di dalam kaleng akan terbentuk keadaan yang
vakum.
d. Penutupan.
e. Sterilisasi..
Berikut ini, kami ambil contoh mesin-mesin yang digunakan selama proses
pengalengan jamur:

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

Mesin Pencuci
Mesin pencuci (washing machine) digunakan untuk pencucian awal
bahan mentah. Mesin pencuci dijalankan oleh tenaga listrik dan proses
pencucian berlangsung secara basah dengan menggunakan air yang
mengandung kadar klorin 15-25 ppm. Mula-mula bak diisi air, kemudian
saat jamur dimasukkan ke dalam bak mesin dihi-dupkan. Pencucian
berlangsung secara berulang-ulang dengan adanya pengadukan dan
berlangsung kira-kira selama satu menit. Saat melewati konveyor, mesin
mempunyai kemampuan untuk memisahkan kotoran yang terdapat pada
jamur (jerami dan kompos).
Meja Pemotongan
Meja pemotongan digunakan untuk membersihkan jamur yang sudah
dicuci. Meja terbuat dari stainless steel dengan ukuran sekitar 1 x 2 m2.
Bak Perendaman Jamur
Bak perendaman disediakan untuk menyimpan sementara jamur
yang akan dima-sak. Bak yang digunakan bervariasi ukurannya dan terbuat
dari stainless steel. Bak perendaman yang lain disediakan untuk menyimpan
sementara jamur yang akan diins-peksi setelah mamasuki proses pemisahan
oleh mesin pemisah.
Mesin Blansir dan Pendingin (Blancher and Cooling Machine)
Mesin blansir dan pendingin merupakan satu rangkaian alat yang
digunakan dalam proses pemasakan pendahuluan jamur dan pendinginan
kembali. Sebagai pemasak digunakan air yang mengandung asam sitrat yang
dipanaskan dengan steam. Jamur dipanaskan dengan memasukkannya ke
dalam keranjang-keranjang konveyor yang akan membawanya ke dalam
ruang pemasak. Untuk mengatur suhu air pemasak, alat dilengkapi dengan
termometer yang digunakan sebagai pengontrol. Setelah keluar, maka jamur
akan dibawa oleh konveyor ke bagian mesin pen-dingin. Efisiensi
pendinginan ditingkatkan dengan sistem gelombang yang sekaligus akan
memindahkan jamur dari satu bagian ke bagian lainnya.
Mesin Pemisah (grader machine)

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

Mesin pemisah (grader machine) digunakan untuk memisahkan


jamur berda-sarkan ukurannya. Mesin ini digunakan untuk memisahkan
jamur baik yang terkupas (peeled) maupun yang tidak terkupas (unpeeled).
Mesin pemisah berbentuk silinder dengan ukuran lubang di sepanjang
dinding silinder yang bervariasi (diameter antara 10 - 32 cm). Pemisahan
berlangsung dengan adanya putaran silinder yang akan membawa jamur dari
satu bagian ke bagian lainnya. Bila ukuran jamur kurang dari ukuran
diameter lubang grader, maka jamur akan terpisah dan tertampung pada
wadah yang terpisah. Jamur yang dipisahkan berasal dari jamur yang telah
dimasak pada mesin blansir.

Meja Inspeksi
Meja

inspeksi

(inspection

belt

conveyor)

digunakan

untuk

memeriksa kembali jamur sebelum diisikan ke dalam kaleng. Meja inspeksi


ini menggunakan sistem kon-veyor dengan ukuran panjang sekitar 5 meter.
Washing Shaker dan Vibrator Dewater
Washing shaker digunakan untuk proses pencucian akhir jamur
sebelum diisikan ke dalam jamur. Prinsip kerja yang digunakan pada alat ini
mirip dengan mesin pendingin setelah proses blansir, hanya alat ini
dirangkaikan dengan mesin penirisan air (vibrator dewater).
Mesin Pencuci Kaleng (Empty Can Washer)
Mesin pencuci kaleng digunakan untuk membersihkan kaleng
sebelum digunakan untuk pengemas jamur. Jumlah mesin yang digunakan
ada dua buah, yaitu untuk kaleng berukuran 8oz dan 68oz. Prinsip kerja alat
adalah pencucian dengan air hangat dimana kaleng akan dibawa ke ruang
pencuci dengan adanya konveyor bermagnet.
Mesin Kode (Coding Machine)

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

Mesin kode digunakan untuk memberikan kode pada tutup kaleng


berdasarkan jenis jamur dan tanggal produksinya. Jenis alat yang digunakan
ada 2 buah, yaitu untuk tutup kaleng 8oz dan 68oz.
Meja Pengisian (Filling Table)
Meja pengisian digunakan untuk memasukkan jamur ke dalam
kaleng. Meja terbuat dari stainless steel, dan pada bagian meja terdapat
lubang-lubang pengisian.
Exhausting Box
Exhausting box digunakan untuk proses exhausting sebelum proses
penutupan kaleng. Prinsip alat ini adalah pemasakan dengan uap panas yang
dialirkan ke dalam kaleng yang disalurkan dengan konveyor, dimana akan
terjadi pengeluaran udara dari dalam kaleng akibat desakan dari larutan
garam yang menguap.
Panci Pemasak (Cook Pan/Brine Maker)
Panci pemasak digunakan untuk memasak air garam yang akan
digunakan untuk larutan media jamur. Panci ini terbuat dari stainless steel
dilengkapi dengan klep peng-atur uap. Prinsip pemanasan pada panci
pemasak ini dilakukan secara steam jacket, dimana panci pemasak ini
memiliki dinding berlapis dua dan di antaranya terdapat rongga berisi uap.
Mesin Penutup Kaleng
Bagian penting dari mesin penutup kaleng ini adalah rol pelipat, rol
perapat, lifter, seaming chuck, dan seaming head. Pada seaming head
terletak rol pelipat dan rol perapat serta gerigi yang mengatur perputaran
kedua rol tersebut. Rol pelipat ber-bentuk lingkaran dibuat dari baja yang
dilengkapi dengan pelat melengkung yang berguna untuk membentuk
lekukan tepi tutup dan badan kaleng sehingga bisa saling melipat. Rol perapat
bertugas melanjutkan tugas rol pelipat dengan menekan lipatan hingga menjadi
rapat. Seaming chuck berupa sebuah piringan baja yang berbingkai, terletak di
tengah-tengah seaming head di antara rol-rol. Seaming chuck merupakan landasan
bagi rol pelipat dan rol perapat pada saat operasi penutupan kaleng. Lifter

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

dilengkapi dengan pegas (per) yang menunjang gerakan turun naik dari lifter yang
akan mengangkat, kaleng yang terletak di atasnya sehingga tutup kaleng melekat
pada chuck dan dilanjutkan oleh kerja rol-rol untuk merapatkan penutupan.

Retort
Retort merupakan suatu bejana yang tertutup dan tahan tekanan tinggi yang
ditimbulkan oleh uap yang berasal dari boiler yang berfungsi untuk
sterilisasi produk.. Retort dilengkapi dengan peralatan pengukur tekanan,
klep uap, kran air pendingin, kran pembuangan air, vent, pengukur suhu,
rekorder, pemancar uap (steam spreader), bleeder dan klep pengaman.
Mesin Etiket
Mesin etiket digunakan untuk menempelkan label pada produk kaleng. Alat
ini memiliki dua rol. Rol pertama berfungsi untuk memberikan lem pada
kaleng dan rol kedua berfungsi untuk melekatkan label pada kaleng.
Mesin Penguji Kesempurnan Penutupan Kaleng
Pada pengawasan mutu kaleng baru, yang dilakukan adalah pengujian
kesem-purnaan penutupan kaleng. Salah satu alat yang digunakan untuk
pengujian tersebut adalah alat penguji kesempurnaan penutupan kaleng.
Cara kerja dari alat ini adalah pengukuran bagian penutupan kaleng pada
layar monitor yang menampilkan gambar bagian yang mengalami proses
penutupan.

14

Pengemas Kaleng dan Mesinnya

Daftar Pustaka
Fellow,P.J. 2000. Food Processing Technology. Chambridge: Woodhead
Publishing Limited.
Julianti, Elissa dan Mimi Nurminah. 2006. Buku Ajar Teknologi Pengemasan.
Medan: Fakultas Pertanian USU.

14