Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cairan tubuh merupakan faktor penting dalam berbagai proses
fisiologis didalam tubuh. Dapat dikatakan, kemampuan kita untuk bertahan
hidup sangat tergantung dari cairan yang terdapat dalam tubuh kita. Oleh
karena itu, terdapat berbagai mekanisme yang berfungsi untuk mengatur
volume dan komposisi cairan tubuh agar tetap dalam keadaan seimbang
atau disebut juga dalam keadaan homeostasis.
Sistem kardiovaskuler berfungsi untuk mensuplai berbagai bahan
yang penting melalui darah keseluruh jaringan. Sistem-sistem lainya
seperti ginjal, paru-paru dan hati berfungsi untuk menjaga jumlah dan
komposisi caiaran tubuh agar selalu dalam keadaan seimbang. Apabila
terjadi ketidakseimbangan antara cairan yang ada dalam tubuh dan cairan
yang dibutuhkan oleh tubuh, maka akan terjadi ketidak seimbangan atau
terjadi gangguan pada berbagai system yang berhubungan dengan
kebutuhan cairan tersebut. Kelainan tersebut dapat berupa kelebihan
caiaran maupun kekurangan cairan. Cairan yang kita bahas adalah cairan
tubuh yang salah satu komposisinya adalah elektrolit, dimana cairan
tersebut menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel.
Jumlah cairan tubuh total pada seorang pria tidak sama dengan
jumlah cairan tubuh total pada seorang wanita, ini disebabkan karena
pada seorang wanita jumlah jaringan lemaknya lebih besar daripada

seorang pria. Pada bayi baru lahir jumlah cairan tubuhnya dapat mencapai
75% dari berat badan,namun semua ini akan berubah dan menurun
dengan bertambahnya usia. Jadi persentase cairan tubuh (45-80%; 45%
pada wanita 60tahun dan 80% pada bayi laki-laki)disebabkan oleh variasi
dari jumlah jaringan lemak tubuh yang hanya mengandung kurang dari
10% air, sedangkan otot skelet yang banyak terdapat pda tubuh seorang
pria mengandung lebih dari 75% air dan ginjal mengandung lebih dari
80% air. Sehingga dalam makalah ini dibahas mengenai pengertian, jenis,
fungsi cairan tubuh, komposisi dalam cairan intrasel dan ekstrasel,
pengertian tekanan hidrostatik dan osmotik, serta faktor-faktor yang
mempengaruhi tekanan hidrostatik dan osmotik.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Apakah pengertian, jenis dan fungsi dari cairan tubuh?
2. Apa saja komposisi yang terdapat dalam cairan intrasel dan
ekstrasel?
3. Apakah pengertian dan peranan dari tekanan hidrostatik dan
osmotik?
4. Faktor apa saja yang mempengaruhi tekanan hidrostatik dan
osmotik?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan yang dapat diperoleh dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian, jenis dan fungsi dari cairan tubuh.
2. Mengetahui komposisi yang terdapat dalam cairan intrasel dan
ekstrasel.
3. Mengetahui pengertian pengertian dan peranan dari tekanan
hidrostatik dan osmotik.
4. Mengetahui

faktor yang mempengaruhi tekana hidrostatik dan

osmotik.

1.4 Manfaat Penelitian


Pembuatan makalah ini, diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:
a. Bagi Mahasiswa
1. Dapat membantu dalam menyelesaikan kesulitan-kesulitan
dalam pembelajaran mata kuliah Anatomi Fisiologi, khususnya
dalam

materi

Cairan

Tubuh.

Sehingga

dapat

djadikan

pembendaharaan pengetahuan mengenai Cairan Tubuh.


2. Sebagai wahana membelajarkan diri untuk berbagi antara
siswa

yang satu dengan yang lain dan menyadarkan

mahasiswa bahwa belajar merupakan pendekatan hati ke hati


bukan berorientasi pada nilai.
b. Bagi Dosen

Dapat dijadikan tambahan literatur dalam pembelajaran Anatomi


Fisiologi Dasar, khususnya pada pembahasan mengenai Cairan
Tubuh.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Jenis, Fungsi Cairan Tubuh, Macam-macam Larutan,
Klasifikasi cairan tubuh, Keseimbangan air harian, Total Body
Water
2.1.1 Pengertian Cairan Tubuh
Cairan tubuh adalah air beserta unsur-unsur didalamnya diperlukan
untuk kesehatan sel. Cairan ini sebagian berada di luar sel (ekstraselular)
dan yang sebagian lagi berada di dalam sel (intraselular). Sel membangun
tubuh secara sederhana yang hidup dalam laut interna yang merupakan
cairan ekstra sel (CES) yang dibungkus oleh kulit tubuh. Dari cairan ini sel
menerima oksigen dan bahan makanan, ke dalam cairan ini juga sel
mengeluarkan sampah metabolisme. Cairan ekstrasel bergerak secara
tidak tetap di seluruh tubuh dan cepat bercampur dengan sirkulasi darah,
difusi darah dan cairan jaringan. Dalam cairan ekstrasel terdapat ion dan
zat gizi yang diperlukan oleh sel untuk pemeliharaan fungsi sel. Sel tubuh
hidup,

tumbuh

dan

melakukan

fungsi

khusus

selama

terjadinya

konsentrasi oksigen, glukosa, berbagai ion asam amino, dan asam lemak
yang sesuai dengan lingkungan interna.
2.1.2 Jenis Cairan Tubuh
Berdasarkan letaknya, cairan tubuh dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Cairan intraseluler (CIS): cairan dlm sel (60% air tubuh)
2. Cairan ekstraseluler (CES): cairan luar sel (40% air tubuh)
Ces dibagi menjadi:

a. Cairan interstisial (CIT): cairan disekitar sel (20% cairan ekstra


seluler)
b. Cairan intravaskuler (CIV) : cairan dlm pembuluh darah (80%
cairan ektraseluler)
c. Cairan transeluler (CTS) : cairan yg terkandung di dlm rongga
khusus dari tubuh (jumlah kecil, sering diabaikan)
Di dalam tubuh manusia terdapat empat macam cairan, yaitu:
1. Cairan Empedu
Sifatnya panas kering yang berasal dari unsur api alami. Letaknya
dalam empedu manusia.
2. Cairan Darah
Sifatnya panas lembab yang berasal dari unsur udara alami.
Letaknya dalam hati manusia.
3. Cairan Lendir
Sifatnya dingin lembab yang berasal dari unsur air alami. Letaknya
dalam paru-paru.
4. Cairan Empedu Hitam
Sifatnya kering yang berasal dari unsur tanah alami. Letaknya
dalam limpa kecil (spleen)
2.1.3 Fungsi Cairan Tubuh
Cairan tubuh memiliki fungsi:
1. Mengatur suhu tubuh
Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik.
2. Melancarkan peredaran darah

Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini
disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam
tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan
jantung.
3. Membuang racun dan sisa makanan
Tersedianya

cairan

tubuh

yang

cukup

dapat

membantu

mengeluarkan racun dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam


tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan.
4. Kulit
Air sangat penting untuk mengatur struktur dan fungsi kulit.
Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk menjaga kelembaban,
kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari
luar tubuh.
5. Pencernaan
Peran air dalam proses pencernaan untuk mengangkut nutrisi dan
oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke sel-sel tubuh.
Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan
di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar,
sehingga feses pun keluar dengan lancar.
6. Pernafasan
Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru
harus basah dalam bekerja memasukkan oksigen ke sel tubuh dan
memompa karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat dilihat apabila

kita menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan


berupa embun dari nafas yang dihembuskan pada kaca.
7. Sendi dan otot
Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan
otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan.
Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas
untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan.
8. Pemulihan penyakit
Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air
yang memadai berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang
terbuang.
9. Sarana untuk mengangkut zat-zat makanan ke sel-sel
10. Mengeluarkan buangan-buangan sel
11. Membentuk dalam metabolisme sel
12. Sebagai pelarut untuk elektrolit dan non elektrolit
13. Mempemudah eliminasi
14. Mengangkut zat-zat seperti (hormon, enzim, SDP, SDM)

2.1.4 Macam-Macam Sifat Larutan


1. Isotonik adalah suatu larutan yang osmolalitasnya sama dengan
plasma darah. Pemberian larutan isotonik melalui intravena akan
mencegah perpindahan cairan dan elektrolit dari kompartemen
intrasel. tdk menimbulkan pengerutan / pembeng-kakan sel

2. Hipotonik adalah suatu larutan yang memiliki konsentrasi solut lebih


rendah dari plasma, sehingga akan membuat air berpindah ke dalam
sel. Menyebabkan sel membengkak.
3. Hipertonik adalah suatu larutan yang memiliki konsentrasi solut lebih
lebih besar dari plasma, sehingga akan membuat air keluar dari dalam
sel. Menyebabkan sel mengkerut o.k air mengalir dr sel kedalam CES.
2.1.5 Klasifikasi cairan tubuh

kompartemen

Volume

Cairan

cairan

tubuh

% Berat tubuh

(Liter)

Cairan tubuh total

42

100%

60%

CIS

28

67%

40%

CES

14

33%

20

Plasma

2,8

6,6

C.interstisium

11,2

26,4

16

Limfe

Diabaikan

Diabaikan

Diabaikan

C. lintas sel

Diabaikan

Diabaikan

Diabaikan

2.1.6 Keseimbangan air harian

Pemasukan air
Jalan

Pengeluaran air
Jumlah

Jalan

(ml/hr)

Jumlah
(ml/hr)

Asupan cairan

1.250

Insesible loss

900

H2O (makanan)

1.000

Keringat

100

H2O (metabolis)

350

Feses

100

Urin
Input total

2.600

Output total

1.500
2.600

2.1.7 Total Body Water


TBW pada seorang pria persentasenya lebih besar dari pada TBW
wanita. Sedangkan pada bayi baru lahir, TBW dapat mencapai 75 % dari
BB, selanjutnya akan berkurang sesuai dengan pertambahan usia.

Umur (tahun)

Pria (%BB)

Wanita (%BB)

<1

80

75

10

1 10

70

65

10 16

65

60

17 39

60

50

40 59

55

47

> 60

50

45

2.1.8 Volume Cairan Tubuh


Total jumlah volume cairan tubuh (total body water-TBW) kira-kira
60 % dari berat badan pria dan 50 % dari berat badan wanita. Jumlah
volume ini tergantung pada kandungan lemak badan dan usia.

Sumber

Jumlah

Air minum

1.500 2.000 ml/hari

Air dalam makanan

700 ml/hari

Air dari hasil metabolisme tubuh

200 ml/hari

Jumlah

2.400 2.900 ml/hari

11

2.2 Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase
1. Fase I : Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem
sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus
gastrointestinal.
2. Fase II : Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah
kapiler dan sel.
3. Fase III : Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah
dari cairan interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler
dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel
mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam
cairan tubuh ikut berpindah.

2.3 Komposisi Cairan Intrasel dan Ekstrasel


2.3.1 Komposisi Cairan Intrasel
40% dari BB total adalah Cairan Intraseluler (CIS). Cairan
Intraselular adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang
dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah cairan intraselular, sama
kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya
dari cairan tubuh bayi yang merupakan cairan intraselular. Adapun
komposisi dari cairan intraseluler yaitu akibat pompa Natrium-kalium
dependen

ATP,

konsentrasi

ion

natrium

dan

kalium

Intraselular

berlawanan dengan yang ada dalam CES. Dalam CIS Ion kalium
berkonsentrasi tinggi dan ion natrium berkonsentrasi rendah. Konsentrasi

12

protein dalam sel tinggi, yaitu sekitar empat kali konsentrasi dalam
plasma.
2.3.2 Komposisi Cairan Ekstrasel
20% dari BB total adalah CES. Cairan Ekstraselular adalah cairan
diluar sel. Ukuran relatif dari (CES) dapat menurun seiring dengan
bertambahnya usia. Pada bayi baru lahir, kira-kir cairan tubuh
terkandung didalam cairan ekstraselular (CES). Setelah ber usia 1 tahun,
volume relatif dari (CES) menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total.
Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg).
CES dibagi menjadi:
a. Cairan interstisial (CIT) adalah cairan disekitar sel, pada orang dewasa
volume cairan interstisial kira-kira 8L Cairan limfe termasuk dalam volume
interstisial. Volume Relatif (CIT) bergantung dengan ukuran tubuh, pada
bayi baru lahir volume cairan interstisial kira-kira 2 kali lebih besar
dibanding orang dewasa.
b. Cairan intravaskular (CIV) adalah cairan yang terkandung di dalam
pembuluh darah. Volume relatif dari (CIV) sama pada orang dewasa dan
anak-anak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari
BB).3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA. Sisanya 2-3 L (40%)
terdiri dari sel darah merah (SDM, atau eritrosit) yang mentranspor
oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting; sel darah putih
(SDP, atau leukosit); dan trombosit. Tapi nilai tersebut diatas dapat
bervariasi pada orang yang berbeda-beda, bergantung pada jenis

13

kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah
adalah mencakup :
1. pengiriman nutrien (mis ; glokusa dan oksigen) ke jaringan.
2. transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru.
3. pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi.
4. transpor hormon ke tempat aksinya.
5. sirkulasi panas tubuh.
c. Cairan Transelular (CTS) adalah cairan yang terkandung didalam
rongga khusus dari tubuh. Contoh (CTS) meliputi cairan serebrospinal,
perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi lambung.
Pada waktu tertentu volume (CTS) dapat mendekati jumlah 1 L. Namun,
sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang
transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal (GI)
secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari.
Adapun komposisi dari cairan ekstraseluler yaitu, Plasma darah
dan cairan interstisial memiliki isi yang sama yaitu ion Natrium dan klorida
serta ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi sedikit ion kalium, kalsium,
magnesium, fosfat, sulfat dan asam organik. Perbedaanya adalah dalam
hal protein; plasma mengandung lebih banyak protein dan cairan
interstisial mengandung sangat sedikit protein.

2.4 Pengertian dan Peranan Tekanan Hidrostatik dan Tekanan


Osmotik
2.4.1 Pengertian dan Peranan Tekanan Hidrostatik.

14

Tekanan hidrostatik, merupakan daya yang dikeluarkan oleh cairan


yang ditekan terhadap dinding. Di kapiler, tekanan hidrostatik sama
dengan tekanan darah kapiler. Tekanan hidrostatik kapiler (HPc)
cenderung mendorong cairan keluar dinding kapiler. Tekanan hidrostatik
lebih tinggi di ujung kapiler arteri dibandingkan diujung vena kapiler.
Tekanan hidrostatik insterstitial tidak ditemukan karena cairan interstitial
secara terus menerus dikeringkan oleh pembuluh limfe. Sehingga tekanan
hidrostatik yang ditemukan adalah sama dengan tekanan darah kapiler.
Tekanan hidrostatik dalam sel disebut tekanan turgor. Tekanan turgor
yang berkembang melawan dinding sebagai hasil masuknya air ke dalam
vakuola sel disebut potensial tekanan. Tekanan turgor penting bagi sel
karena dapat menyebabkan sel dan jaringan yang disusunnya menjadi
kaku. Potensial air suatu sel tumbuhan secara esensial merupakan
kombinasi potensial osmotik dengan potensial tekanannya. Jika dua sel
yang bersebelahan mempunyai potensial air yang berbeda, maka air akan
bergerak dari sel yang mempunyai potensial air tinggi menuju ke sel yang
mempunyai potensial air rendah.
Adapun peranan dari tekanan hidrostatik, antara lain : Perpindahan
cairan diantara kapiler dan cairan interstisial. Pada ujung arteri kapiler
tekanan hidrostatik darah (mendorong cairan keluar) melebihi tekanan
osmotik koloid (menahan cairan tetap di dalam) sehingga mengakibatkan
perpindahan dari bagian intravaskuler ke interstisial. Pada ujung vena
kapiler, cairan berpindah dari ruang interstisial ke ruang intravaskuler

15

karena tekanan osmotik koloid melebihi tekan hidrostatik. Proses ini


melepaskan O2 dan nutrisi ke sel, mengangkut CO2 dan produk sisa.
2.4.2 Pengertian dan Peranan Tekanan Osmotik
Tekanan Osmotik merupakan tekanan yang hanya ditimbulkan oleh
zat-zat yang tidak dapat melalui pori-pori suatu membran semi permiabel
atau besarnya tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan osmosis.
Jika

dua

buah

larutan

yang

dipisahkan

oleh

membran

semipermeabel memiliki tekanan osmotik sama, kedua larutan tersebut


isotonik satu dengan yang lainnya. Jika salah satu larutan memiliki
tekanan osmotik lebih besar dari larutan yang lain, larutan tersebut
dinamakan hipertonik. Jika larutan memiliki tekanan osmotik lebih kecil
daripada larutan yang lain, larutan tersebut dinamakan hipotonik. Tekanan
osmosik memainkan peranan penting dalam sistem hidup. Misalnya,
dinding sel darah merah berfungsi sebagai membran semipermeabel
terhadap pelarut sel darah merah. Penempatan sel darah merah dalam
larutan yang hipertonik relatif terhadap cairan dalam sel menyebabkan
cairan sel keluar sehingga mengakibatkan sel mengerut. Proses
pengerutan sel seperti ini disebut krenasi. Penempatan sel darah dalam
larutan yang hipotonik relatif terhadap cairan dalam sel menyebabkan
cairan masuk ke dalam sel sehingga sel darah merah akan pecah. Proses
ini dinamakan hemolisis. Seseorang yang membutuhkan pengganti cairan
tubuh, baik melalui infus maupun meminum cairan pengganti ion tubuh
harus memperhatikan konsentrasi cairan infus atau minuman. Konsentrasi

16

cairan infus atau minuman harus isotonik dengan cairan dalam tubuh
untuk mencegah terjadi krenasi atau hemolisis.
Adapun peranan dari tekanan osmotik, yaitu : Perpindahan air
antara CES dan CIS ditentukan oleh kekuatan osmotik. NaCl pada CES
dan Kalium pada CIS adalah zat terlarut nonpenetratif, yang berperan
dalam menentukan konsentrasi air pada kedua sisi membran (Beberapa
ion Na+ bocor masuk ke dalam sel dan ion K+ bocor ke luar sel, tapi
pompa Na-K mengembalikan ke bagian yang seharusnya shg disebut
memiliki efek nonpenetratif.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemukan peranan dari
tekanan osmotik, yaitu:
1. Mesin Cuci Darah Pasien penderita gagal ginjal harus menjalani terapi
cuci

darah.

perpindahan

Terapi

menggunakan

molekul

kecil-kecil

metode

seperti

dialisis,

urea

yaitu

melalui

proses

membran

semipermeabel dan masuk ke cairan lain, kemudian dibuang. Membran


tak dapat ditembus oleh molekul besar seperti protein sehingga akan tetap
berada di dalam darah.
2. Pengawetan Makanan
Sebelum teknik pendinginan untuk mengawetkan makanan ditemukan,
garam dapur digunakan untuk mengawetkan makanan. Garam dapat
membunuh mikroba penyebab makanan busuk yang berada di permukaan
makanan.
3. Membasmi Lintah

17

Garam dapur dapat membasmi hewan lunak, seperti lintah. Hal ini karena
garam yang ditaburkan pada permukaan tubuh lintah mampu menyerap
air yang ada dalam tubuh sehingga lintah akan kekurangan air dalam
tubuhnya.
4. Penyerapan Air oleh Akar Tanaman
Tanaman membutuhkan air dari dalam tanah. Air tersebut diserap oleh
tanaman melalui akar. Tanaman mengandung zat-zat terlarut sehingga
konsentrasinya lebih tinggi daripada air di sekitar tanaman sehingga air
dalam tanah dapat diserap oleh tanaman.
5. Desalinasi Air Laut Melalui Osmosis Balik
Osmosis balik adalah perembesan pelarut dari larutan ke pelarut, atau
dari larutan yang lebih pekat ke larutan yang lebih encer. Osmosis balik
terjadi jika kepada larutan diberikan tekanan yang lebih besar dari tekanan
osmotiknya. Osmosis balik digunakan untuk membuat air murni dari air
laut. Dengan memberi tekanan pada permukaan air laut yang lebih besar
daripada tekanan osmotiknya, air dipaksa untuk merembes dari air asin ke
dalam air murni melalui selaput yang permeabel untuk air tetapi tidak
untuk ion-ion dalam air laut. Tanpa tekanan yang cukup besar, air secara
spontan akan merembes dari air murni ke dalam air asin. Penggunaan lain
dari osmosis balik yaitu untuk memisahkan zat-zat beracun dalam air
limbah sebelum dilepas ke lingkungan bebas.
2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tekanan Hidrostatik dan
Tekanan Osmotik
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan hidrostatik dan osmotik :

18

2.5.1.1

Membran

Setiap kompartemen cairan dipisahkan oleh membran semi permeabel:


a. Membran sel: memisahkan CIS dari CIT dan terdiri atas lipid dan
protein
b. Membran kapiler: memisahkan CIV dari CIT.
2.5.1.2

Proses transpor :

a) Difusi adalah perpindahan partikel dlm segala arah melalui larutan


atau gas. Partikel bergerak dari area dg konsentrasi tinggi ke area
konsentrasi rendah.
b) Transpor aktif adalah perpindahan zat terlarut melewati membran
sel yg melawan perbedaan konsentrasi dan/atau muatan listrik
(memerlukan energi), contoh pompa Na-K.
c) Filtrasi : Gerakan air dan zat terlarut dari area dg tekanan hidrostaik
tinggi ke area dg tekanan hidrostaik rendah
d) Osmosis : Gerakan air melewati membran semipermeabel dari area
dg konsentrasi rendah ke konsentrasi lebih tinggi.
2.5.1.3

Konsentrasi cairan tubuh

Perubahan pada konsentrasi cairan tubuh mempengaruhi gerakan air


diantara kompartemen cairan melalui osmosis.
Osmolalitas menunjukan konsentrasi osmotik larutan. Besarannya
dinyatakan

dalam

mOsm/kg.

Osmolalitas

mOsm/kg (isoosmotik atau isotonik).

19

plasma

normalnya

287

2.6

Pertukaran cairan dalam jaringan


Cairan dalam plasma berada di bawah tekanan hidrostatik yang
lebih besar dari tekanan interstisial, oleh karena itu cairan dalam
plasma cenderung untuk keluar dari pembuluh kapiler.
Akan tetapi didalam plasma terdapat protein, sedangkan cairan
intertisial tidak mengandung protein sehingga protein plasma ini
mengeluarkan tekanan osmotik yang berusaha menghisap cairan
masuk pembuluh kapiler.
Di ujung kapiler arteri, tekanan hidrostatik lebih besar dari pada
tekanan onkotik. Maka imbangan kekuatan mendorong cairan
masuk jaringan, sedangkan pada ujung vena tekanan hidrostatik
kosong, tekanan osmotik mengatasinya dan menarik kembali
cairan itu masuk kapiler.
Pertukaran antara CES dan CIS juga bergantung pada tekanan
osmotik, karena membran sel mempunyai permeabilitas selektif
dan mengijinkan dilalui oleh beberapa bahan seperti oksigen, CO2
dan urea secara bebas, sehingga memompa bahan lain masuk
atau keluar untuk mempertahankan perbedaan konsentrasi
perbedaan konsentrasi dalam cairan intra & ekstraseluler.
Mis : kalium dikonsentrasikan dalam CIS, sedangkan natrium
dipompa keluar

2.7 Keseimbangan cairan & elektrolit


Dalam keadaan normal jumlah cairan yang masuk kedalam tubuh
adalah sama banyaknya dengan yang dibuang.
20

Air & elektrolit masuk ke tubuh adalah dalam bentuk air minum,
cairan & makanan lainnya.
Air dibuang oleh tubuh melalui beberapa organ-organ penting

2.8 Pembuangan cairan & elektrolit dari dalam tubuh

Cairan/air dibuang oleh tubuh melalui :


1. Ginjal : dalam bentuk air kencing
2. Kulit : dalam bentuk keringat
3. Saluran pencernaan : bersama kotoran
4. Paru-paru : dalam bentuk uap air yang keluar bersama-sama
dengan udara pernafasan
Elektrolit ikut terbuang melalui air kencing, keringat & kotoran
Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan &
elektrolit dikendalikan oleh ginjal

2.9 Pengaturan keseimbangan cairan tubuh


Organ yang berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan
meliputi:
Ginjal
Fungsi-fungsi utama ginjal dalam mempertahankan keseimbangan
cairan:
- Pengaturan volume dan osmolalitas CES melalui retensi dan eksresi
selektif cairan tubuh.

21

- Pengaturan kadar elektrolit dalam CES dengan retensi selektif substansi


yang dibutuhkan .
- Pengaturan pH CES melalui retensi ion-ion hidrogen.
- Ekskresi sampah metabolik dan substansi toksik.
Oleh karena itu gagal ginjal jelas mempengaruhi keseimbangan cairan,
karena ginjal tidak dapat berfungsi.
Jantung dan pembuluh darah
Kerja pompa jantung mensirkulasi darah melalui ginjal di bawah
tekanan yang sesuai untuk menghasilkan urine. Kegagalan pompa
jantung ini mengganggu perfusi ginjal dan karena itu mengganggu
pengaturan air dan elektrolit.
Paru-paru
Melalui ekhalasi paru-paru mengeluarkan air sebanyak +300L
setiap hari pada orang dewasa. Pada kondisi yang abnormal
seperti hiperpnea atau batuk yang terus-menerus akan
memperbanyak kehilangan air; ventilasi mekanik dengan air yang
berlebihan menurunkan kehilangan air ini.
Kelenjar pituitary
Hipotalamus menghasilkan suatu substansi yaitu ADH yang disebut
juga hormon penyimpan air, karena fungsinya mempertahankan
tekanan osmotik sel dengan mengendalikan retensi atau ekskresi
air oleh ginjal dan dengan mengatur volume darah.

Kelenjar adrenal

22

Aldosteron yang dihasilkan/disekresi oleh korteks adrenal (zona


glomerolus). Peningkatan aldosteron ini mengakibatkan retensi
natrium sehingga air juga ditahan, kehilangan kalor. Sedangkan
apabila aldosteron kurang maka air akan banyak keluar karena
natrium hilang. Kortisol juga menyebabkan retensi natrium.
Kelenjar paratiroid
Mengatur keseimbangan kalsium dan fosfat melalui hormon
paratiroid (PTH). Sehingga dengan PTH dapat mereabsorbsi
tulang, absorbsi kalsium dari usus dan reabsorbsi kalsium dari
ginjal.

2.10 Kekurangan cairan tubuh


KEBUTUHAN CAIRAN TUBUH
Cairan tubuh hilang melalui:
1. Urin 50% dari kehilangan cairan
Normal: 50 ml/ kgBB/ 24 jam
2. Insensible Water Loss (50%)
- Respirasi (15%)
- Kulit (30%)
- Feses (5%)
2.11 Kelebihan cairan tubuh
Kelebihan cairan tubuh akan disimpan didalam ginjal. Kelebihan
cairan tubuh dikeluarkan melalui air seni(urine). Kelebihan cairan
tubuh dapat kita alami saat udara sedang dingin atau saat kita tidak
banyak melakukan aktivitas.
23

2.12 Masalah Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit


1.

Dehidrasi
Dehidrasi disebut juga ketidakseimbangan hiper osmolar, terjadi

akibat kehilangan cairan yang tidak diimbangi dengan kehilangan elektrolit


dalam

jumlah

proporsional,

terutama

natrium.

Kehilangan

cairan

menyebabkan peningkatan kadarnatrium, peningkatan osmolalitas, serta


dehidrasi intraseluler. Air berpindah dari sel dan kompartemen interstitial
menuju ruang vascular. Kondisi ini menybabkan gangguan fungsi sel da
kolaps sirkulasi. Orang yang beresiko mengalami dehidrasi salah satunya
adalah individu lansia. Mereka mengalami penurunan respons haus atau
pemekatan urine. Di samping itu lansia memiliki

proporsi lemak yang

lebih besar sehingga beresiko tunggi mengalami dehidrasi akibat


cadangan air yang sedikit dalam tubuh. Klien dengan diabetes insipidus
akibat penurunan hormon diuretik sering mengalami kehilangan cairan
tupe hiperosmolar. Pemberian cairan hipertonik

juga

meningkatkan

jumlah solute dalam aliran darah.


2.

Kelebihan Volume Cairan (Hipervolemia)


Kelebihan volume cairan

cairan

dan

terjadi

apabila

tubuh

menyimpan

elektrolit dalam kompartemen ekstraseluler dalam proporsi

yang seimbang. Karena adanya retensi cairan isotonik, konsentrasi


natrium dalam serum masih normal. Kelebihan cairan tubuh hampir
selalu

disebabkan oleh penungkatan

Kelebihan cairan terjadi

akibat

jumlah

natrium dalam serum.

overload cairan/adanya gangguan

24

mekanisme homeostatispada proses regulasi keseimbangan cairan.


Penyebab spesifik kelebihan cairan, antara lain :
a. Asupan natrium yang berlebihan.
b. Pemberian infus berisi natrium terlalu cepat dan banyak, terutama
pada klien dengan gangguan mekanisme regulasi cairan.
c. penyakit yang mengubah mekanisme regulasi, seperti gangguan
jantung (gagal ginjal kongestif), gagal ginjal, sirosis hati, sindrom
Cushing.
3.

Edema
Pada kasus kelebihan cairan, jumlah cairan dan natrium yang

berlebihan dalam kompartemen

ekstraselulermeningkatkan tekanan

osmotik. Akibatnya, cairan keluar dari sel sehingga menimbulkan


penumpukan cairan dalam ruang interstitial (Edema). Edema yang sering
terlihat disekitar mata, kaki dan tangan. Edema dapat bersifat local atau
menyeluruh, tergantung pada kelebihan cairan yang terjadi. Edema dapat
terjadi ketika adapeningkatan produksi cairan interstisial/gangguan
perpindahan cairan interstisial. Hal ini dapat terjadi ketika:
a. Permeabilitas kapiler meningkat (mis. karena luka bakar, alergi yang
menyebabkan

perpindahan

cairan

dari

kapiler

menuju

ruang

interstisial).
b. Peningkatan hidrostatik kapiler meningkat (mis.,
obstruksisirkulasi

hipervolemia,

vena) yang menyebabkan cairann dalam pembuluh

darahterdorong ke ruang interstisial.

25

c. Perpindahan cairan dari ruangan interstisial terhambat (mis., pada


blokade limfatik).
Edema pitting adalah edema yang meninggalkan sedikit depresi atau
cekungan setelah dilakukan penekanan pada area yang bengkak.
Cekungan terjadi akibat pergerakan cairan dari daerah yang ditekan
menuju jaringan sekitar (menjauhi lokasi tekanan). Umumnya, edema
jenis ini adalah edema yang disebabkan oleh gangguan natrium.

26

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasar pembahasan dalam Bab II, dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Cairan

tubuh

merupakan

air

beserta

unsur-unsur

didalamnya

diperlukan untuk kesehatan sel. Di dalam tubuh manusia terdapat


empat macam cairan tubuh, yaitu: cairan empedu, cairan darah, cairan
lender, cairan empedu hitam. Fungsi dari cairan tubuh ini adalah
mengatur suhu tubuh, melancarkan peredaran darah, membuang
racun

dan

sisa

makanan,

pemulihan

penyakit,

sarana

untuk

mengangkut zat-zat makanan ke sel-sel, mengeluarkan buanganbuangan sel, membentuk dalam metabolisme sel, sebagai pelarut
untuk elektrolit dan non elektrolit, mempemudah eliminasi, mengangkut
zat-zat seperti (hormon, enzim, SDP, SDM).
2. Komposisi dari cairan intraseluler yaitu akibat pompa Natrium-kalium
dependen ATP, konsentrasi ion natrium dan kalium Intraselular
berlawanan dengan yang ada dalam CES. Sedangkan komposisi dari
cairan ekstraseluler adalah plasma darah dan cairan interstisial memiliki
isi yang sama yaitu ion Natrium dan klorida serta ion bikarbonat dalam
jumlah besar, tetapi sedikit ion kalium, kalsium, magnesium, fosfat,
sulfat dan asam organik.
3. Tekanan hidrostatik merupakan daya yang dikeluarkan oleh cairan yang
ditekan terhadap dinding. Tekanan hidrostatik dalam sel disebut

27

tekanan turgor yang berperan sangat penting bagi tubuh manusia.


Sedangkan Tekanan Osmotik merupakan tekanan yang hanya
ditimbulkan oleh zat-zat yang tidak dapat melalui pori-pori suatu
membran semi permiabel atau besarnya tekanan yang dibutuhkan
untuk menghentikan osmosis yang banyak mempunyai peranan dalam
bidang kedokteran.
3.2 Saran
Berdasarkan pembuatan makalah, dapat diajukan saran sebagai
berikut:
1. Bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Anatomi Fisiologi,

agar lebih memahami mengenai pemahaman tentang anatomi


fisiologi dasar khususnya materi Cairan Tubuh yang memiliki
manfaat sangat signifikan untuk dijadikan mata kuliah penunjang
ilmu gizi.

28

DAFTAR PUSTAKA
htttp://anatomi-fisiologi-cairan-tubuh.html
htttp://blog-page.html
htttp://cairan-tubuh-air-h20-merupakan-komponen.html
htttp://fisiologi-cairan-tubuh.html
htttp://anatomi-dan-fisiologi-cairan.html

29