Anda di halaman 1dari 31

Nama : Johannes Lie, S.

Ked
NIM : 04054821517034

TUGAS KKS GIGI DAN MULUT


Karies
Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses yang progresif pada
jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari makanan yang
mengandung gula. Mekanisme terjadinya karies gigi diawali dengan adanya timbunan plak
yang terakumulasi sehingga dapat melarutkan lapisan email pada gigi. Dalam keadaan
bersih, gigi dilapisi oelh lapisan yang lengket seperti gelatin yang disebut pelikel. Terdapat
beberapa bakteri flora normal yang berada pada pelikel. Pada perkembangannya, jika tidak
segera dibersihkan pelikel akan menjadi plak yang berisi bakteri beserta produkproduknya. Bakter mula-mula menghuni pelikel terutama yang berbentuk coccus, paling
banyak adalah Streptococcus. Organisme tersebut tumbuh berkembang biak dan
mengeluarkan gel-gel ekstra dan menjerat berbagai bakteri yang lain. Akumulasi plak yang
ditambah dengan peran karbohidrat, bakteri serta oral hygiene yang buruk akan
menyebabkan demineralisasi dari email dan menyebabkan terjadinya karies. Gejala paling
dini dari suatu karies pada email adalah terlihat bercak putih atau white spot. White spot
merupakan warna keputihan seperi kapur, yang lebih putih daipada gigi sekitarnya namun
belum terbentuk lubang gigi atau kavitas. Biasanya white spot terlihat di bagian gigi yang
dekat dengan gusi dam merupakan tanda awal terbentuknya karies. Lesi email didapat saat
level pH pada permukaan gigi lebih rendah sehingga tidak dapat diimbangi dengan
remineralisasi pada permukaan email. Ion asam berpenetrasi dalam menuju porus lapisan
prisma yang dapat menyebabkan demineralisasi di sub permukaan. Pada tahapan white
spot, gigi masih mengalami proses demineralisasi-remineralisasi secara terus menerus
tergantung pada tingkat oral hyegiene personal dan daerah gigi yang masih dapat
terjangkau oleh saliva. Terjadinya kavitas disebabkan oleh proses demineralisasi yang
tidak di imbangi oleh proses remineralisasi, sedangkan bila proses remineralisasi yang
disebabkan oleh peningkatan level ion fluoride, ion kalsium dan HPO4, dan saliva baik
maka lesipun akan terhenti.

Klasifikasi

Karies

dapat

dibedakan

berdasarkan

kedalamannya,

kecepatan

penjalarannya, waktu terjadinya, lokasi dan menurut ICDAS (International Caries


Detection and Assessment System).
1. Karies berdasarkan kedalamannya
a.
Karies superfisialis
: Karies yang hanya mengenai email gigi
b.
Karies Media
: Karies yang mengenai email dan dentin, belum
c.

melewati setengah ketebalan dentin


Karies profunda
: Karies yang sudah mengenai lebih dari setengah
ketebalan dentin, terdapat 2 jenis karies profunda yaitu karies profunda
tertutup (belum menembus ruang pulpa) dan karies profunda terbuka ( sudah

menembus ruang pulpa).


2. Karies berdasarkan kecepatan penjalarannya
a. Karies akut
: penjalarannya cepat sehingga tak ada kesempatan
pembentukan sekunder dentin dan menimbulkan rasa sakit
b. Karies kronis : penjalarannya lambat sehingga ada

kesempatan

pembentukan sekunder dentin dan tidak menimbulkan rasa sakit


c. Rampant dentis : karies yang penjalarannya sangat cepat dan meluas bahkan
sampai ke semua gigi. Biasanya terjadi pada anak-anak yang minum susu
dalam botol sampai tertidur
d. Arrested caries : karies yang penjalarannya sangat lambat atau terhenti
penjalarannya, diikuti pembentukan sekunder dentin. Secara klinis terlihat
dentin berwarna coklat dan mengalami pengerasan.
3. Berdasarkan waktu terjadinya
a. Karies primer : karies yang pertama kali menyerang permukaan gigi
b. Karies sekunder: karies yang menyerang permukaan gigi yang sama untuk
kedua kalinya pada tempat yang sama
4. Menurut lokasi
a. Pit dan fissure caries
b. Smooth surface caries
5. Karies menurut ICDAS, terbagi atas 6, yaitu:
a. D1
: Dalam keadaan gigi kering, terlihat lesi putih pada permukaan gigi
b. D2
: Dalam keadaan gigi basah, sudah terlihat adanya lesi putih pada
permukaan gigi
c. D3
: Terdapat lesi minimal pada permukaan email gigi
d. D4
: Lesi email lebih dala, tampak baying gelap dentin atau lesi sudah
mencapai bagian dentinoenamel junction (DEJ)
e. D5
: Lesi mencapai dentin
f. D6
: Lesi mencapai pulpa

Karies Dentin
Karies dentin merupakan proses patologis berupa kerusakan yang terbatas di
jaringan gigi mulai dari email kemudian berlanjut ke dentin. Karies dentin merupakan
masalah mulut pada anak dan remaja, periode karies paling tinggi adalah pada usia 4-8
tahun pada gigi sulung dan usia 12-13 tahun pada gigi tetap, sebab pada usia itu email
masih mengalami maturasi setelah erupsi, sehingga kemungkinan terjadi karies besar. Jika
tidak mendapatkan perhatian karies dapat menyebar ke seluruh gigi lainnya.
Pulpitis Reversibel
Merupakan inflamasi pulpa yang tidak parah . Jika penyebabnya dihilangkan,
inflamasi akan menghilang dan pulpa akan kembali normal Stimulus ringan seperti karies
insipient, erosi servikal, dan atrisi oklusal, sebagian besar proseur

operatif, kuretase

periodontal yang dalam, dan fraktur email yang menyebabkan tubulus dentin terbuka
adalah faktor yang dapat mengakibatkan pulpitis reversible. Pulpitis reversible biasanya
asimptomatik. Aplikasi cairan dingin dan panas, dapat menyebabkan nyeri sementara yang
tajam. Jika stimulus ini dihilangkan nyeri akan segera hilang. Terapi pulpitis ini dengan
melakukan perawatan saluran akar atau root canal treatment bila sudah terjadi pulpitis atau
karies sudah mencapai pulpa. Setelah dilakukan PSA, dilakukan restorasi.
Pulpitis Irreversibel

Pulpitis irreversible merupakan perkemangan dari pulpitis reversible. Kerusakan


pulpa yang parah akibat pengambilan dentin yang luas selama prosedur operatif,
terganggunya aliran darah pada pulpa akibat trauma, dan pergerakan gigi dalam perawatan
ortodansi dapat menyebabkan pulpitis irreversible. Pulpitis irreversible merupakan
inflamasi parah yang tidak akan pulih walaupun penyebabnya dihilangkan. Nyerinya
bersifat tajam, tumpul, lokal maupun difus dan berlangsung hanya beberapa menit atau
berjam-jam. Aplikasi stimulus eksternal seperti termal dapat mengakibatkan nyeri
berkepannjangan. Jika inflamasi hanya terbatas paa jaringan pulpa dan tidak menjalar ke
periapikal, respon gigi terhadap tes palpasi dan perkusi berada dalam batas normal. Terapi
pulpitis ini dengan melakukan ekstraksi gigi, gigi yang telah diekstraksi perlu diganti
dengan pemasangan gigi palsu atau jembatan (bridge).
Nekrosis Pulpa
Nekrosis pulpa adalah matinya pulpa, dapat sebagian atau seluruhnya, tergantung
pada seluruh atau sebagian yang terlibat. Nekrosis, meskipun suatu inflamasi dapat juga
terjadi setelah jejas traumatic yang pulpanya rusak sebelum terjadi reaksi inflamasi.
Nekrosis ada dua jenis yaitu koagulasi dan likuifaksi (pengentalan dan pencairan). Pada
jenis koagulasi, bagian jaringan yang dapat larut mengendap atau diubah menjadi bahan
solid. Pengejuan adalah suatu bentuk nekrosis koagulasi yang jaringannya berubah
menjadi masa seperti keju, yang terdiri atas protein yang mengental, lemak dan air.
Nekrosis likuefaksi terjadi bila enzim proteolitik mengubah jaringan menjadi massa yang
melunak, suatu cairan atau debris amorfus. Pulpa terkurung oleh dinding yang kaku, tidak
mempunyai sirkulasi daerah kolateral, dan venul serta limfatiknya kolaps akibat
meningkatnya tekanan jaringan sehingga pulpitis irreversible akan menjadi nekrosis
likuifaksi. Jika eksudat yang dihasilkan selama pulpitis irreversible diserap atau didrainase
melalui kavitas karies atau daerah pulpa yang tebuka ke dalam rongga mulut, proses
nekrosis akan tertunda; pulpa di daerah akar akan tetap vital dalam jangka waktu yang
cukup lama. Sebaliknya, tertutup atau ditutupnya pulpa yang terinflamasi mengakibatkan
proses nekrosis pulpa yang cepat dan total serta timbulnya patosis periapikal.
Simptomnya sering kali hampir sama dengan pulpitis irreversible yaitu nyeri
spontan atau tidak ada keluhan nyeri tapi pernah nyeri spontan, gigi berlubang, kadangkadang sakit bila kena rangsangan panas, bau mulut (halitosis), gigi berubah warna.
Terapi pada nekrosis pulpa, bila gigi hanya memiliki satu akar gigi dilakukan
perawatan akar, namun bila gigi memiliki akar gigi lebih dari satu dilakukan pencabutan
4

gigi.
Periodontitis
Periodontitis adalah inflamasi jaringan periodontal yang ditandai dengan migrasi
epitel jungsional ke arah apikal, kehilangan perlekatan tulang dan resorpsi tulang alveolar.
Pada pemeriksaan klinis terdapat peningkatan kedalaman probing, perdarahan saat probing
(ditempat aktifnya penyakit) yang dilakukan dengan perlahan dan perubahan kontur
fisiologis. Dapat juga ditemukan kemerahan, pembengkakan gingival, bau mulut, lubang
yang dalam di antara gigi dan gusi dan biasanya tidak ada rasa sakit.
Inervasi Saraf Gigi
Saraf mandibula bergerak dalam arah menurun, mencapai ruang pterigomandibular
dimana saraf ini terletak di antara ligamen spenomandibular dan permukaan medial ramus.
Pada titik ini, saraf memasuki foramen mandibula ke kanalis mandibula, dan saraf ini
menjadi nervus alveolaris inferior. Sebelum memasuki saluran ini, saraf melepaskan
cabang motorik yang menginervasi otot milohioid.
Saraf mandibula merupakan cabang terbesar dari N. trigeminal, saraf ini berjalan dari
kepala keluar melalui foramen ovale dan menginervasi regio mandibula, faring, 2/3
anterior lidah dan regio posterior aurikula. Nervus mandibularis terbagi atas cabang yang
kecil anterior dan cabang yang besar posterior. Cabang anterior adalah saraf motoris
utama. Kedalamnya hampir seluruh bagian yang asli yaitu N. maseterikus, N. temporalis
profundi, dan N. pterigoideus eksternus, yang mengandung hanya beberapa serabut yang
tidak motoris, yaitu saraf sensori sejati N.bukinatorius.

Gambar 2. Persarafan gigi dan mulut

Cabang-cabang dari bagian anterior N. mandibularis ini adalah:


a.

N. Maseterikus dan N. pterigoideus lateralis biasanya keluar bersama-sama N.


temporalis profundus posterior, melalui bagian horizontal lateral fasial infra
temporalis dari tulang spenoid dan kemudian terus kebagian lateral dan bawah
melalui insisura mandibula ke permukaan medial m. masseter dan memberikan
1-2 hubungan untuk persendian rahang.

b.

N. Temporalis profundi, biasanya 3 buah yaitu posterior, intermedius dan


anterior yang kadang-kadang timbul bersama dengan N. maseterikus. Nervus ini
mula-mula berjalan horizontal lateral seperti N. masentrikus dan kemudian
membelok vertikal keatas dan akhirnya terpencar beranastomose dengan yang
lain dalam m. temporalis.

c.

N. Bukinatorius berjalan kebawah, ke depan dan ke lateral. Nervus ini berada


diantara kedua kepala M. pterigoideus atau diantara kedua mm. pterigoideus tiba
diatas permukaan lateral m. bukinator dan disana ia beranastomose dengan
cabang bukalis N. fasialis. nervus ini memberikan cabang-cabangnya melalui m.
bukinator kepada membrana mukosa daripada pipi, kekulit sudut mulut dan kulit
yang menutupi m. bukinator. ini adalah saraf sensoris yang asli.

Cabang dari bagian posterior N. mandibularis adalah:


1. N. Aurikulotemporalis, muncul agak di bawah foramnen ovale dari pinggir
posterior N. mandibularis. Nervus ini mula-mula berjalan ke belakang dan agak
ke bawah pada permukaan medial N. pterigoideus eksternus dan prosesus
kondiloideus mandibula di atas arteri maksilaris interna, membengkok
(melengkung) di sekeliling kolum prosesus kondiloideus, mula-mula ke bagia
lateral kemudian ke atas melalui kelenjar parotis atau tertutup oleh kelenjar
parotis di depan kartilago akustikus eksternus dan akhirnya menuju bersamasama dengan arteri temporalis superfisialis, ke atas ke kulit pelipis, bergabung
dengan ganglion optikum dalam beberapa hubungan dengan membawa ke
jaringan sekret dari kelenjar parotis.
2. N. Lingualis, berjalan pada sisi medial dari M. pterigoideus eksternus dan arteri
maksilaris interna, kemudian diantara M. pterigoideus internus dan ramus
mandibularis, sedikit membelok, ke bawah dan ke depan melalui bagian bawah
M. miloparingeus dan di bawah membrana mukosa dasar mulut, berjalan ke
depan diatas M. milohioideus dan kelenjar submaksilaris, mengelilingi duktus
6

submaksilaris (Wartoni) sebelah lateral dan kebawah, kemudian berpencar


menjadi cabang-cabang terminalnya. Diatas M. Pterigoideus bergabung dengan
khorda timpani yang menghampiri nervus ini dengan membuat sudut yang tajam
dari belakang dan atas. Nervus lingualis merupakan serabut-serabut sensoris
yang asli dan serabut-serabut perasa dari 2/3 anterior lidah dan juga
menginervasi bagian lingual mandibula.
3. N. alveolaris inferior, merupakan cabang terbesar, mula-mula melalui
permukaan medial dari M. pterigoideus eksternus dan dari arteri maksilaris
interna, kemudian diantara ramus mandibula dan M. pterigoideus internus
sedikit membelok kebawah menuju foramen mandibula kemudian kebagian
depan di dalam kanalis mandibula bersama artei dan vena.
Nervus ini mengadakan cabang-cabang:
a.

N. milohioideus, berasal dari N. alveolaris inferior tepat sebelum masuk ke


foramen mandibularis dan turun kebawah dan kedepan didalam sulkus
milohioideus mandibula, mula-mula lateral dari m. pterigoideus internus,
kemudian dibawah M. milohioideus dan akhirnya mensuplai venter anterior m.
digastrikus.

b.

Rami dentalis inferior dan rami ginggivalis inferior, yang berjalan didalam
kanalis mandibula dan masuk ke tiap-tiap akar gigi yang akhirnya ke alveolus
dan masuk ke gingiva, mereka membentuk pleksus diatas N. mandibularis.

c.

N. mentalis, adalah cabang yang terbesar meninggalkan kanalis mandibula


melalui foramen mentalis, ditutupi M. triangularis. Nervus ini membelah
menjadi rami mentalis, yang menerobos otot-otot tersebut pergi kekulit dagu dan
rami labialis inferior yang berjalan kebagian atas untuk kulit dan membrana
mukosa bibir bawah.

ANTIBIOTIK PADA IBU HAMIL


Klasifikasi FDA tentang obat yang mempunyai efek terhadap janin. Pada tahun
1979, FDA merekomendasikan 5 kategori obat yang memerlukan perhatian khusus
terhadap kemungkinan efek terhadap janin, yaitu:

A. Obat yang sudah pernah diuikan pada manusia hamil dan terbukti tidak ada risiko
terhadap janin dalam rahim. Obat golongan ini aman untuk dikonsumsi oleh ibu
hamil (vitamin)
B. Obat yang sudah diujikan pada binatang dan terbukti ada atau tidak ada efek
terhadap janin dalam rahim akan tetapi belum pernah terbukti pada manusia. Obat
golongan ini bila diperlukan dapat diberikakn pada ibu hamil (Penicillin).
C. Obat yang pernah diujikan pada binatang atau manusia akan tetapi terbukti ada
efek terhadap janin akan tetapi pada manusia belum ada bukti yang kuat. Obat
golongan ini boleh diberikan pada ibu hamil apabila keuntungannya lebih besar
dibandingkan efeknya terhadap janin (Kloramfenikol, Rifampisin, PAS, INH)
D. Obat yang sudah dibuktikan memiliki risiko terrhadap janin manusia. Obat
golongan ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi ibu hamil. Terpaksa diberikan
apabila dipertimbangkan untuk menyelamatkan jiwa ibu (Streptomysin, tetrasiklin,
kanamisin)
E. Obat yang sudah jelas terbukti ada risiko pada janin manusia dan kerugian dari obat
ini jauh lebih besar daripada manfaatnya bila diberikan pada ibu hamil sehingga
tidak dibenarkan untuk diberikan.
Tabel 1. Efek toksik antibiotika terhadap ibu dan janin dalam rahim
Efek toksik
Jenis Antibiotika
Kloramfenikol
Tetrasiklin

Pada Ibu
Depresi bone marrow
Hepatotoksik, Pankreatitis,

Pada Janin
Sindrom Grey
Pewarnaan abnormal,

Erithromycin
Quinolon
Aminoglikosida
Clindamisin

Haemorraghie, Gagal ginjal


Hepatotoksik
Ototoksik, nefrotoksik
Alergi, colitis,

dysplasia gigi
Artropati janin hewan
Toksis N VII
-

Metronidazole
Trimetroprim-sulfamthoxazole
Sulfonamida
Isoniazid
Azternon

psudomembran
Blood dyscrasia
Vaskulitis
Alergi
Hepatotoksik
Alergi

Antagonis as. folat


Kern. ikterus
-

Tabel 2. Daftar antibiotik berdasarkan FDA


Nama Obat

Kategori FDA

Penisilin

Amoksisilin

Sefalosporin

Klindamisin

Metronidazol

Klorheksidin

Gentamisin

Tetrasiklin

Kloramfenikol

Doksisiklin

ANALGESIK PADA IBU HAMIL


Tabel 3. Daftar analgesik berdasarkan FDA
Nama Obat

Kategori FDA

Asetaminofen

Asetaminofen dengan kodein

Kodein

C/3D

Hidrokodon

C/3D

Meperidin

Morfin

Oksikodon

B/3D

Propoksifen

Ibuprofen*

B/3D

Naprosin*

B/3D

Aspirin*
* = Setelah trimester pertama

B/3D

3D= Kontraindikasi pada trimester ketiga

Tabel 4. Kategori obat analgesic per trimester berdasarkan FDA

KODE ICD 10 PENYAKIT GIGI MULUT


K00-K14 Diseases of oral cavity and salivary glands
K20-K31 Diseases of esophagus, stomach and duodenum
K35-K38 Diseases of appendix
K40-K46 Hernia
K50-K52 Noninfective enteritis and colitis
K55-K64 Other diseases of intestines
K65-K68 Diseases of peritoneum and retroperitoneum
K70-K77 Diseases of liver
K80-K87 Disorders of gallbladder, biliary tract and pancreas
K90-K95 Other diseases of the digestive system
K00.0 Anodontia

Hypodontia
Oligodontia

10

Excludes1: acquired absence of teeth (K08.1-)

K00.1 Supernumerary teeth

Distomolar Fourth molar Mesiodens Paramolar Supplementary teeth


Excludes2: supernumerary roots (K00.2)

K00.2 Abnormalities of size and form of teeth

Concrescence of teeth Fusion of teeth Gemination of teeth Dens evaginatus


Dens in dente Dens invaginatus Enamel pearls Macrodontia Microdontia
Peg-shaped [conical] teeth Supernumerary roots Taurodontism
Tuberculum paramolare

Excludes1:

abnormalities of teeth due to congenital syphilis (A50.5)


tuberculum Carabelli, which is regarded as a normal variation and should not be
coded

K00.3 Mottled teeth

Dental fluorosis
Mottling of enamel
Nonfluoride enamel opacities

Excludes2: deposits [accretions] on teeth (K03.6)

K00.4 Disturbances in tooth formation

Aplasia and hypoplasia of cementum


Dilaceration of tooth
Enamel hypoplasia (neonatal) (postnatal) (prenatal) Regional odontodysplasia
Turner's tooth
Excludes1: Hutchinson's teeth and mulberry molars in congenital syphilis (A50.5)
Excludes2: mottled teeth (K00.3)

K00.5 Hereditary disturbances in tooth structure, not elsewhere classified

Amelogenesis imperfecta Dentinogenesis imperfecta Odontogenesis imperfecta

Dentinal dysplasia
Shell teeth

K00.6 Disturbances in tooth eruption

Dentia praecox Natal tooth Neonatal tooth


Premature eruption of tooth
Premature shedding of primary [deciduous] tooth
Prenatal teeth
Retained [persistent] primary tooth
Excludes2: embedded and impacted teeth (K01.-)

11

K00.7 Teething syndrome


K00.8 Other disorders of tooth development

Color changes during tooth formation


Intrinsic staining of teeth NOS
Excludes2: posteruptive color changes (K03.7)

K00.9 Disorder of tooth development, unspecified

Disorder of odontogenesis NOS

K01 Embedded and impacted teeth

Excludes1: abnormal position of fully erupted teeth (M26.3-)

K01.0 Embedded teeth


K01.1 Impacted teeth
K02 Dental caries

Includes: dental cavities tooth decay

K02.3 Arrested dental caries

Arrested coronal and root caries

K02.5 Dental caries on pit and fissure surface

Dental caries on chewing surface of tooth

K02.51 Dental caries on pit and fissure surface limited to enamel


White spot lesions [initial caries] on pit and fissure surface of tooth
K02.52 Dental caries on pit and fissure surface penetrating into dentin
K02.53 Dental caries on pit and fissure surface penetrating into pulp
K02.6 Dental caries on smooth surface
K02.61 Dental caries on smooth surface limited to enamel

White spot lesions [initial caries] on smooth surface of tooth

K02.62 Dental caries on smooth surface penetrating into dentin


K02.63 Dental caries on smooth surface penetrating into pulp
K02.7 Dental root caries
K02.9 Dental caries, unspecified
K03 Other diseases of hard tissues of teeth

Excludes2: bruxism (F45.8)

12

dental caries (K02.-)


teeth-grinding NOS (F45.8)

K03.0 Excessive attrition of teeth

Approximal wear of teeth


Occlusal wear of teeth

K03.1 Abrasion of teeth

Dentifrice abrasion of teeth


Habitual abrasion of teeth
Occupational abrasion of teeth Ritual abrasion of teeth
Traditional abrasion of teeth
Wedge defect NOS

K03.2 Erosion of teeth

Erosion of teeth due to diet


Erosion of teeth due to drugs and medicaments
Erosion of teeth due to persistent vomiting
Erosion of teeth NOS
Idiopathic erosion of teeth
Occupational erosion of teeth

K03.3 Pathological resorption of teeth

Internal granuloma of pulp


Resorption of teeth (external)

K03.4 Hypercementosis

Cementation hyperplasia

K03.5 Ankylosis of teeth


K03.6 Deposits [accretions] on teeth

Betel deposits [accretions] on teeth


Black deposits [accretions] on teeth
Extrinsic staining of teeth
NOS Green deposits [accretions] on teeth
Materia alba deposits [accretions] on teeth
Orange deposits [accretions] on teeth
Staining of teeth NOS
Subgingival dental calculus
Supragingival dental calculus
Tobacco deposits [accretions] on teeth

K03.7 Posteruptive color changes of dental hard tissues

Excludes2: deposits [accretions] on teeth (K03.6)

K03.8 Other specified diseases of hard tissues of teeth


13

K03.81 Cracked tooth

Excludes1: asymptomatic craze lines in enamel - omit code broken or fractured


tooth due to trauma (S02.5)

K03.89 Other specified diseases of hard tissues of teeth


K03.9 Disease of hard tissues of teeth, unspecified
K04 Diseases of pulp and periapical tissues
K04.0 Pulpitis

Acute pulpitis
Chronic (hyperplastic) (ulcerative) pulpitis
Irreversible pulpitis
Reversible pulpitis

K04.1 Necrosis of pulp

Pulpal gangrene

K04.2 Pulp degeneration

Denticles
Pulpal calcifications
Pulpal stones

K04.3 Abnormal hard tissue formation in pulp

Secondary or irregular dentine

K04.4 Acute apical periodontitis of pulpal origin

Acute apical periodontitis NOS


Excludes1: acute periodontitis (K05.2-)

K04.5 Chronic apical periodontitis

Apical or periapical granuloma


Apical periodontitis NOS
Excludes1: chronic periodontitis (K05.3-)

K04.6 Periapical abscess with sinus

Dental abscess with sinus


Dentoalveolar abscess with sinus

K04.7 Periapical abscess without sinus

Dental abscess without sinus


Dentoalveolar abscess without sinus
Periapical abscess without sinus

K04.8 Radicular cyst

14

Apical (periodontal) cyst


Periapical cyst
Residual radicular cyst
Excludes2: lateral periodontal cyst (K09.0)

K04.9 Other and unspecified diseases of pulp and periapical tissues


K04.90 Unspecified diseases of pulp and periapical tissues
K04.99 Other diseases of pulp and periapical tissues
K05 Gingivitis and periodontal diseases
Use additional code to identify:

alcohol abuse and dependence (F10.-)


exposure to environmental tobacco smoke (Z77.22)
exposure to tobacco smoke in the perinatal period (P96.81)
history of tobacco use (Z87.891)
occupational exposure to environmental tobacco smoke (Z57.31)
tobacco dependence (F17.-)
tobacco use (Z72.0)

K05.0 Acute gingivitis


Excludes1:

acute necrotizing ulcerative gingivitis (A69.1)


herpesviral [herpes simplex] gingivostomatitis (B00.2)

K05.00 Acute gingivitis, plaque induced

Acute gingivitis NOS

K05.01 Acute gingivitis, non-plaque induced


K05.1 Chronic gingivitis

Desquamative gingivitis (chronic)


Gingivitis (chronic)
NOS Hyperplastic gingivitis (chronic)
Simple marginal gingivitis (chronic) Ulcerative gingivitis (chronic)

K05.10 Chronic gingivitis, plaque induced

Chronic gingivitis NOS Gingivitis NOS

K05.11 Chronic gingivitis, non-plaque induced


K05.2 Aggressive periodontitis

Acute pericoronitis
Excludes1: acute apical periodontitis (K04.4)

15

periapical abscess (K04.7)


periapical abscess with sinus (K04.6)

K05.20 Aggressive periodontitis, unspecified


K05.21 Aggressive periodontitis, localized

Periodontal abscess

K05.22 Aggressive periodontitis, generalized


K05.3 Chronic periodontitis

Chronic pericoronitis
Complex periodontitis
Periodontitis NOS
Simplex periodontitis
Excludes1: chronic apical periodontitis (K04.5)

K05.30 Chronic periodontitis, unspecified


K05.31 Chronic periodontitis, localized
K05.32 Chronic periodontitis, generalized
K05.4 Periodontosis

Juvenile periodontosis

K05.5 Other periodontal diseases

Excludes2: leukoplakia of gingiva (K13.21)

K05.6 Periodontal disease, unspecified


K06 Other disorders of gingiva and edentulous alveolar ridge

Excludes2: acute gingivitis (K05.0)


atrophy of edentulous alveolar ridge (K08.2)
chronic gingivitis (K05.1)
gingivitis NOS (K05.1)

K06.0 Gingival recession

Gingival recession (generalized) (localized) (postinfective) (postprocedural)

K06.1 Gingival enlargement

Gingival fibromatosis

K06.2 Gingival and edentulous alveolar ridge lesions associated with trauma

Irritative hyperplasia of edentulous ridge [denture hyperplasia]


Use additional code (Chapter 20) to identify external cause or denture status
(Z97.2)

K06.8 Other specified disorders of gingiva and edentulous alveolar ridge

Fibrous epulis
16

Flabby alveolar ridge

Giant cell epulis


Peripheral giant cell granuloma of gingiva
Pyogenic granuloma of gingiva
Excludes2: gingival cyst (K09.0)

K06.9 Disorder of gingiva and edentulous alveolar ridge, unspecified


K08 Other disorders of teeth and supporting structures

Excludes2: dentofacial anomalies [including malocclusion] (M26.-)


disorders of jaw (M27.-)

K08.0 Exfoliation of teeth due to systemic causes

Code also underlying systemic condition

K08.1 Complete loss of teeth

Acquired loss of teeth, complete


Excludes1: congenital absence of teeth (K00.0)
exfoliation of teeth due to systemic causes (K08.0)
partial loss of teeth (K08.4-)

K08.10 Complete loss of teeth, unspecified cause


K08.101 Complete loss of teeth, unspecified cause, class I
K08.102 Complete loss of teeth, unspecified cause, class II
K08.103 Complete loss of teeth, unspecified cause, class III
K08.104 Complete loss of teeth, unspecified cause, class IV
K08.109 Complete loss of teeth, unspecified cause, unspecified class

Edentulism NOS

K08.11 Complete loss of teeth due to trauma


K08.111 Complete loss of teeth due to trauma, class I
K08.112 Complete loss of teeth due to trauma, class II
K08.113 Complete loss of teeth due to trauma, class III
K08.114 Complete loss of teeth due to trauma, class IV

K08.119 Complete loss of teeth due to trauma, unspecified class


K08.12 Complete loss of teeth due to periodontal diseases
K08.121 Complete loss of teeth due to periodontal diseases, class I
K08.122 Complete loss of teeth due to periodontal diseases, class II
K08.123 Complete loss of teeth due to periodontal diseases, class III
K08.124 Complete loss of teeth due to periodontal diseases, class IV
K08.129 Complete loss of teeth due to periodontal diseases, unspecified class
K08S.13 Complete loss of teeth due to caries
K08.131 Complete loss of teeth due to caries, class I
K08.132 Complete loss of teeth due to caries, class II
K08.133 Complete loss of teeth due to caries, class III
K08.134 Complete loss of teeth due to caries, class IV
K08.139 Complete loss of teeth due to caries, unspecified class
K08.19 Complete loss of teeth due to other specified cause
K08.191 Complete loss of teeth due to other specified cause, class I
K08.192 Complete loss of teeth due to other specified cause, class II
K08.193 Complete loss of teeth due to other specified cause, class III
K08.194 Complete loss of teeth due to other specified cause, class IV
K08.199 Complete loss of teeth due to other specified cause, unspecified class
K08.2 Atrophy of edentulous alveolar ridge
K08.2O Unspecified atrophy of edentulous alveolar ridge

Atrophy of the mandible NOS Atrophy of the maxilla NOS

K08.21 Minimal atrophy of the mandible

Minimal atrophy of the edentulous mandible

K08.22 Moderate atrophy of the mandible

Moderate atrophy of the edentulous mandible

K08.23 Severe atrophy of the mandible

Severe atrophy of the edentulous mandible

K08.24 Minimal atrophy of maxilla

Minimal atrophy of the edentulous maxilla

K08.25 Moderate atrophy of the maxilla

Moderate atrophy of the edentulous maxilla

K08.26 Severe atrophy of the maxilla

Severe atrophy of the edentulous maxilla

K08.3 Retained dental root


K08.4 Partial loss of teeth

Acquired loss of teeth, partial


Excludes1: complete loss of teeth (K08.1-)
congenital absence of teeth (K00.0)
Excludes2: exfoliation of teeth due to systemic causes (K08.0)

K08.40 Partial loss of teeth, unspecified cause


K08.401 Partial loss of teeth, unspecified cause, class I
K08.402 Partial loss of teeth, unspecified cause, class II
K08.403 Partial loss of teeth, unspecified cause, class III
K08.404 Partial loss of teeth, unspecified cause, class IV
K08.409 Partial loss of teeth, unspecified cause, unspecified class

Tooth extraction status NOS

K08.41 Partial loss of teeth due to trauma


K08.411 Partial loss of teeth due to trauma, class I
K08.412 Partial loss of teeth due to trauma, class II
K08.413 Partial loss of teeth due to trauma, class III
K08.414 Partial loss of teeth due to trauma, class IV
K08.419 Partial loss of teeth due to trauma, unspecified class
K08.42 Partial loss of teeth due to periodontal diseases
K08.421 Partial loss of teeth due to periodontal diseases, class I
K08.422 Partial loss of teeth due to periodontal diseases, class II
K08.423 Partial loss of teeth due to periodontal diseases, class III

K08.424 Partial loss of teeth due to periodontal diseases, class IV


K08.429 Partial loss of teeth due to periodontal diseases, unspecified class
K08.43 Partial loss of teeth due to caries
K08.431 Partial loss of teeth due to caries, class I
K08.432 Partial loss of teeth due to caries, class II
K08.433 Partial loss of teeth due to caries, class III
K08.434 Partial loss of teeth due to caries, class IV
K08.439 Partial loss of teeth due to caries, unspecified class
K0849 Partial loss of teeth due to other specified cause
K08.491 Partial loss of teeth due to other specified cause, class I
K08.492 Partial loss of teeth due to other specified cause, class II
K08.493 Partial loss of teeth due to other specified cause, class III
K08.494 Partial loss of teeth due to other specified cause, class IV
K08.499 Partial loss of teeth due to other specified cause, unspecified class
K08.5 Unsatisfactory restoration of tooth

Defective bridge, crown, filling


Defective dental restoration
Excludes1: dental restoration status (Z98.811)
Excludes2: endosseous dental implant failure (M27.6-)
unsatisfactory endodontic treatment (M27.5-)

K08.50 Unsatisfactory restoration of tooth, unspecified

Defective dental restoration NOS

K08.51 Open restoration margins of tooth

Dental restoration failure of marginal integrity


Open margin on tooth restoration
Poor gingival margin to tooth restoration

K08.52 Unrepairable overhanging of dental restorative materials

Overhanging of tooth restoration

K08.53 Fractured dental restorative material

Excludes1: cracked tooth (K03.81)


traumatic fracture of tooth (S02.5)

K08.530 Fractured dental restorative material without loss of material


K08.531 Fractured dental restorative material with loss of material
K08.539 Fractured dental restorative material, unspecified
K08.54 Contour of existing restoration of tooth biologically incompatible with
oral health

Dental restoration failure of periodontal anatomical integrity


Unacceptable contours of existing restoration of tooth
Unacceptable morphology of existing restoration of tooth

K08.55 Allergy to existing dental restorative material

Use additional code to identify the specific type of allergy

K08.56 Poor aesthetic of existing restoration of tooth

Dental restoration aesthetically inadequate or displeasing

K08.59 Other unsatisfactory restoration of tooth

Other defective dental restoration

K08.8 Other specified disorders of teeth and supporting structures

Enlargement of alveolar ridge NOS


Irregular alveolar process
Toothache NOS

K08.9 Disorder of teeth and supporting structures, unspecified


K09 Cysts of oral region, not elsewhere classified

Includes: lesions showing histological features both of aneurysmal cyst and of


another fibro-osseous lesion

Excludes2:

cysts of jaw (M27.0-, M27.4-)


radicular cyst (K04.8)

K09.0 Developmental odontogenic cysts

Dentigerous cyst Eruption cyst Follicular cyst Gingival cyst


Lateral periodontal cyst
Primordial cyst
Excludes2: keratocysts (D16.4, D16.5)
odontogenic keratocystic tumors (D16.4, D16.5)

K09.1 Developmental (nonodontogenic) cysts of oral region

Cyst (of) incisive canal


Cyst (of) palatine of papilla
Globulomaxillary cyst
Median palatal cyst
Nasoalveolar cyst
Nasolabial cyst
Nasopalatine duct cyst

K09.8 Other cysts of oral region, not elsewhere classified

Dermoid cyst
Epidermoid cyst
Lymphoepithelial cyst
Epstein's pearl

K09.9 Cyst of oral region, unspecified


K11 Diseases of salivary glands
Use additional code to identify:

alcohol abuse and dependence (F10.-)


exposure to environmental tobacco smoke (Z77.22)
exposure to tobacco smoke in the perinatal period (P96.81)
history of tobacco use (Z87.891)
occupational exposure to environmental tobacco smoke (Z57.31)
tobacco dependence (F17.-)
tobacco use (Z72.0)

K11.0 Atrophy of salivary gland


K11.1 Hypertrophy of salivary gland
K11.2 Sialoadenitis

Parotitis

Excludes1: epidemic parotitis (826.-), mumps (826.-), uveoparotid fever


[Heerfordt] (D86.89)

K11.20 Sialoadenitis, unspecified


K11.21 Acute sialoadenitis

Excludes1: acute recurrent sialoadenitis (K11.22)

K11.22 Acute recurrent sialoadenitis


K11.23 Chronic sialoadenitis
K11.3 Abscess of salivary gland
K11.4 Fistula of salivary gland

Excludes1: congenital fistula of salivary gland (Q38.4)

K11.5 Sialolithiasis

Calculus of salivary gland or duct


Stone of salivary gland or duct

K11.6 Mucocele of salivary gland

Mucous extravasation cyst of salivary gland


Mucous retention cyst of salivary gland Ranula

K11.7 Disturbances of salivary secretion

Hypoptyalism Ptyalism Xerostomia


Excludes2: dry mouth NOS (R68.2)

K11.8 Other diseases of salivary glands

Benign lymphoepithelial lesion of salivary gland


Mikulicz' disease Necrotizing sialometaplasia Sialectasia
Stenosis of salivary duct
Stricture of salivary duct
Excludes1: sicca syndrome [Sjogren] (M35.0-)

K11.9 Disease of salivary gland, unspecified

Sialoadenopathy NOS

K12 Stomatitis and related lesions

Use additional code to identify:

alcohol abuse and dependence (F10.-)


exposure to environmental tobacco smoke (Z77.22) exposure to tobacco

smoke in the perinatal period (P96.81) history of tobacco use (Z87.891)


occupational exposure to environmental tobacco smoke (Z57.31)
tobacco dependence (F17.-)
tobacco use (Z72.0)

Excludes1:

cancrum oris (A69.0)


cheilitis (K13.0)
gangrenous stomatitis (A69.0)
herpesviral [herpes simplex] gingivostomatitis (B00.2)
noma (A69.0)

K12.0 Recurrent oral aphthae

Aphthous stomatitis (major) (minor) Bednar's aphthae


Periadenitis mucosa necrotica recurrens
Recurrent aphthous ulcer
Stomatitis herpetiformis

K12.1 Other forms of stomatitis

Stomatitis NOS Denture stomatitis Ulcerative stomatitis Vesicular stomatitis

Excludes1:

acute necrotizing ulcerative stomatitis (A69.1)


Vincent's stomatitis (A69.1)

K12.2 Cellulitis and abscess of mouth

Cellulitis of mouth (floor)


Submandibular abscess

Excludes2:

abscess of salivary gland (K11.3)


abscess of tongue (K14.0)
periapical abscess (K04.6-K04.7)
periodontal abscess (K05.21)
peritonsillar abscess (J36)

K12.3 Oral mucositis (ulcerative)

Mucositis (oral) (oropharyneal)

Excludes2:

gastrointestinal mucositis (ulcerative) (K92.81)


mucositis (ulcerative) of vagina and vulva (N76.81)
nasal mucositis (ulcerative) (J34.81)

K12.30 Oral mucositis (ulcerative), unspecified


K12.31 Oral mucositis (ulcerative) due to antineoplastic therapy

Use additional code for adverse effect, if applicable, to identify antineoplastic

and immunosuppressive drugs (T45.1X5)


Use additional code for other antineoplastic therapy, such as:radiological
procedure and radiotherapy (Y84.2)

K12.32 Oral mucositis (ulcerative) due to other drugs

Use additional code for adverse effect, if applicable, to identify drug (T36T50 with fifth or sixth character 5)

K12.33 Oral mucositis (ulcerative) due to radiation

Use additional external cause code (W88-W90, X39.0-) to identify cause

K12.39 Other oral mucositis (ulcerative)

Viral oral mucositis (ulcerative)

K13 Other diseases of lip and oral mucosa


Includes:

epithelial disturbances of tongue Use additional code to identify:


alcohol abuse and dependence (F10.-)
exposure to environmental tobacco smoke (Z77.22)
exposure to tobacco smoke in the perinatal period (P96.81)
history of tobacco use (Z87.891)
occupational exposure to environmental tobacco smoke (Z57.31)
tobacco dependence (F17.-)
tobacco use (Z72.0)

Excludes2:

certain disorders of gingiva and edentulous alveolar ridge (K05-K06)


cysts of oral region (K09.-)
diseases of tongue (K14.-)
stomatitis and related lesions (K12.-)

K13.0 Diseases of lips

Abscess of lips
Angular cheilitis
Cellulitis of lips
Cheilitis NOS
Cheilodynia
Cheilosis
Exfoliative cheilitis
Fistula of lips
Glandular cheilitis
Hypertrophy of lips
Perleche NEC

Excludes1:

ariboflavinosis (E53.0)
cheilitis due to radiation-related disorders (L55-L59)
congenital fistula of lips (Q38.0)
congenital hypertrophy of lips (Q18.6)
Perleche due to candidiasis (837.83)
Perleche due to riboflavin deficiency (E53.0)

K13.1 Cheek and lip biting


K13.2 Leukoplakia and other disturbances of oral epithelium, including tongue
Excludes1:

carcinoma in situ of oral epithelium (D00.0-)


hairy leukoplakia (K13.3)

K13.21 Leukoplakia of oral mucosa, including tongue

Leukokeratosis of oral mucosa


Leukoplakia of gingiva, lips, tongue
Excludes1: hairy leukoplakia (K13.3)

leukokeratosis nicotina palati (K13.24)

K13.22 Minimal keratinized residual ridge mucosa

Minimal keratinization of alveolar ridge mucosa

K13.23 Excessive keratinized residual ridge mucosa

Excessive keratinization of alveolar ridge mucosa

K13.24 Leukokeratosis nicotina palati

Smoker's palate

K13.29 Other disturbances of oral epithelium, including tongue

Erythroplakia of mouth or tongue


Focal epithelial hyperplasia of mouth or tongue
Leukoedema of mouth or tongue
Other oral epithelium disturbances

K13.3 Hairy leukoplakia


K13.4 Granuloma and granuloma-like lesions of oral mucosa

Eosinophilic granuloma
Granuloma pyogenicum
Verrucous xanthoma

K13.5 Oral submucous fibrosis

Submucous fibrosis of tongue

K13.6 Irritative hyperplasia of oral mucosa

Excludes2: irritative hyperplasia of edentulous ridge [denture hyperplasia]


(K06.2)

K13.7 Other and unspecified lesions of oral mucosa


K13.70 Unspecified lesions of oral mucosa
K13.79 Other lesions of oral mucosa

Focal oral mucinosis

K14 Diseases of tongue

Use additional code to identify:


alcohol abuse and dependence (F10.-)
exposure to environmental tobacco smoke (Z77.22)
history of tobacco use (Z87.891)
occupational exposure to environmental tobacco smoke (Z57.31)
tobacco dependence (F17.-)
tobacco use (Z72.0)

Excludes2:

erythroplakia (K13.29)
focal epithelial hyperplasia (K13.29)
leukedema of tongue (K13.29)
leukoplakia of tongue (K13.21)
hairy leukoplakia (K13.3)
macroglossia (congenital) (Q38.2)
submucous fibrosis of tongue (K13.5)

K14.0 Glossitis

Abscess of tongue
Ulceration (traumatic) of tongue
Excludes1: atrophic glossitis (K14.4)

K14.1 Geographic tongue Benign migratory glossitis Glossitis areata exfoliativa


K14.2 Median rhomboid glossitis
K14.3 Hypertrophy of tongue papillae

Black hairy tongue


Coated tongue
Hypertrophy of foliate papillae
Lingua villosa nigra

K14.4 Atrophy of tongue papillae

Atrophic glossitis

K14.5 Plicated tongue Fissured tongue Furrowed tongue Scrotal tongue

Excludes1: fissured tongue, congenital (Q38.3)

K14.6 Glossodynia Glossopyrosis Painful tongue


K14.8 Other diseases of tongue

Atrophy of tongue
Crenated tongue
Enlargement of tongue
Glossocele
Glossoptosis
Hypertrophy of tongue

K14.9 Disease of tongue, unspecified

Glossopathy NOS
Diseases of esophagus, stomach and duodenum (K20-K31)
Excludes2: hiatus hernia (K44.-)

TREPANASI
Trepanasi diartikan sebagai tindakan penembusan tulang alveolar untuk
melepaskan eksudat jaringan yang bermasalah. Tujuan trepanasi adalah menciptakan
drainase melalui saluran akar atau melalui tulang untuk mengalirkan sekret luka serta
untuk mengurangi rasa sakit. Nanah dikelilingi oleh tulang pada apeks gigi dan tidak
dapat mengalir ke luar. Pada stadium ini belum tampak suatu pembengkakan.
Perasaan sangat nyeri terutama bila ditekan sehingga unluk menghilangkannya perlu
segera dilakukan drainage. Untuk itu dapat dipakai dua cara:
Trepanasi melalui saluran akar.
Trepanasi di daerah apeks akar.

LUDWIGS ANGINA
Phlegmon atau Ludwig's angina adalah suatu penyakit kegawatdaruratan yaitu
infeksi

odontogenik yang menyebar ke jaringan sekitarnya menimbulkan abses

submandibula, abses submental dan abses sublingual dapat berlanjut menyebabkan


gangguan jalan nafas. Ludwig's angina sendiri berasal dari nama seorang ahli bedah
Jerman yaitu Wilhem Von Ludwig yang pertama melaporkan kasus tersebut.

Infeksi odontogenik pada umumnya merupakan infeksi campuran dari berbagai


macam bakteri, baik bakteri aerob maupun anaerob. Penyebab lain adalah
sialadenitis, abses peritonsilar, infeksi kista ductus thyroglossus, epiglotitis, trauma
oleh karena bronkoskopi,

intubasi endotrakeal, luka tembus di lidah dan infeksi

saluran pernafasan atas.


Berawal dari etiologi di atas seperti infeksi gigi. Nekrosis pulpa karena karies
dalam yang tidak terawat dan periodontal pocket dalam yang merupakan jalan
bakteri untuk mencapai jaringan periapikal. Karena jumlah bakteri yang banyak maka
infeksi yang terjadi akan menyebar ke tulang spongiosa sampai tulang kortikal. Jika
tulang ini tipis, maka infeksi akan menembus dan masuk ke jaringan lunak.
Penyebaran infeksi ini tergantung dari daya tahan jaringan tubuh. Odontogen dapat
menyebar melalui jaringan ikat (percontinuitatum), pembuluh darah (hematogenous),
dan pembuluh limfe (lymphogenous). Yang paling sering terjadi adalah penjalaran
secara perkontinuitatum karena

adanya celah/ruang di antara jaringan yang

berpotensi sebagai tempat berkumpulnya pus. Penjalaran infeksi pada rahang atas
dapat membentuk abses submukosa, abses gingiva, cavernous sinus thrombosis, abses
labial dan abses fasial. Penjalaran infeksi pada rahang bawah dapat membentuk abses
subingual, abses submental,

abses submandibular,

abses submaseter dan abses

manubrium. Ujung akar molar kedua (M2) dan ketiga (M3) terletak di belakang
bawah linea mylohyoidea (tempat
aspek dalam mandibula sehingga

melekatnya m. mylohyoideus) yang terletak di


jika

molar

kedua dan ketiga terinfeksi dapat

membentuk abses dan menyebar ke ruang submandibula dan dapat meluas keruang
parafaringeal.
Gejala lokal antara lain pembengkakan mengenai jaringan lunak/ikat
longgar, nyeri, demam dan kemerahan pada daerah pembengkakan kadangkadang
disertai trismus, disfagia dan stridor. Gejala sistemik seperti temperatur tinggi, nadi
cepat dan

tidak

teratur, malaise,

lymphadenitis, septikemia, pernafasan cepat,

delirium terutama malam hari.


Terapi berupa supportive care seperti istirahat dan nutrisi yang cukup,
pemberian analgesik dan antiinflamasi (analgesik-antiinflamasi nonsteroid seperti

natrium diklofenak (50 mg/8 jam) atau ibuprofen (400-600 mg/8 jam) dan jika
kortikosteroid diberikan, perlu ditambahkan analgesik murni, seperti paracetamol,
antiinflamasi diberikan dalam (650

mg/4-6 jam) dan/atau opioid rendah seperti

kodein (30 mg/6 jam)). Apabila terdapat tanda-tanda seperti kondisi sistemik seperti
malaise dan demam tinggi, adanya disfagia atau dispnoe, dehidrasi atau pasien kurang
minum, diduga adanya penurunan resistensi terhadap infeksi, toksis septikemia
dan infiltrasi ke daerah anatomi yang berbahaya serta memerlukan anestesi umum
untuk drainase, diperlukan penanganan serius dan perawatan di rumah sakit sesegera
mungkin. Jalan nafas harus selalu dikontrol, intubasi endotracheal atau tracheostomi
jika diperlukan. Prinsip dasar perawatan infeksi yaitu: menghilangkan causa (jika
keadaan umum pasien mungkinkan segera dilakukan prosedur ini, dengan cara
pencabutan gigi penyebab), drainase (insisi drainase bisa dilakukan intra maupun
extra oral, ataupun bisa dilakukan bersamaan seperti kasus-kasus yang

parah.

Penentuan lokasi insisi berdasarkan spasium yang terlibat). Dalam pemberian


antibiotik perlu diperhatikan apakah pasien mempunyai riwayat alergi terhadap
antibiotik tertentu, terutama bila diberikan secara intravena untuk itu perlu dilakukan
skin test terlebih dahulu. Antibiotik diberikan selama 5-10 hari. Komplikasi yang
seringkali menyertai phlegmon antara lain: obstruksi pernafasan, syok septik, dan
septikemia.