Anda di halaman 1dari 16

1.

Diagnosa keperawatan pre operatif


a.
Nyeri akut berhubungan berhubungan dengan proses penyakit(kompresi/destruksi jaringan
saraf,infiltrasi saraf atau suplai vaskularnya,obstruksi jaringan saraf,inflamasi.)
Tujuan: nyeri berkurang/hilang atau teratasi
Criteria hasil:
1) Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi dengan skala nyeri 0-4
2) Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
3) Pasien tidak gelisah
Intervensi:
1) kaji nyeri dengan pendekatan PQRST
Rasional: Menjadi parameter dasar untuk melihat sejauh mana renca intervensi yang diperlukan dan
sebagai evaluasi keberhasilan dari intervensi menajemen nyeri keperawatan
2) Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam
Rasional : Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurukan nyeri
3) Menajemen lingkungan: lingkungan tenang dan batasi pengunjung

Rasional: Istirahat diperlukan selama fase akut. Disini akan meningkatkan suplai darah pada
jaringan yang mengalami peradangan.
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan
membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung
yang berada diruangan.
4)
b.

Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik


Rasional: Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengankerusakan jaringan kulit sekunder karena
kanker
Tujuan:
Kriteria Hasil:
Intervensi

1) Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping terapi kanker; perhatikan kerusakan/ pelambatan
penyembuhan luka. Tekan kan pentingnya melaporkan area terbuka pada pemberi perawatan.
Rasional : Efek kemerahan dan kulit samak ( reaksi radiasi) dapat terjadi dalam area radiasi.
Deskuaminasi kering ( kekeringan dan pruritus), deskuamasi lembab ( lepuh) ulserasi,
kehilangan rambut, kehilangan dermis, dan kelenjar keringat juga dapat terlihat. Selain itu reaksi
kulit dapat terjadi pada bebebrapa agen kemoterapi.
2) Madikan dengan air hangat dan sabun ringan.
Rasional: Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit.
3) Dorong pasien untuk menghinddari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada
menggaruk.
Rasional : Membantu mencegah friksi/ trauma kulit.
4) Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun, salep, dan bedak kecuali di izinkan
dokter.
Rasional : Dapat meningkatkan iritasi/ reaksi secara nyata.
5) Tinjau protokol perawatan kulit untuk pasien yang mendapat terapi radiasi.
Rasional ; Dilakukan untuk meinimalkan trauma pada area terapi radiasi.

6) Hindari menggaruk atau menggunakan sabun, losion, atau deodoran pada area; hindari
memberikan panas atau mengusahakan mencuci tanda/ tato yang ada di kulit sebagai identifikasi
area iradiasi.
Rasional : Dapat menimbulkan atau bahkan mempengaruhi pemberian radiasi.
c.

1)

2)
3)
d.

1)

2)

3)
4)
e.

1)
2)
3)
4)

5)

Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status kesehatan, kematian, nyeri


Tujuan : klien dan keluarga tidak cemas lagi.
Kriteria evaluasi :rasa takut dan cemas berkurang sampai hilang.
Intervensi :
Kaji
status
mental
termasuk
ketakutan
pada
kejadian
isi
pikir.
Rasional :pada awal pasien dapat menyangkal dan represi untuk menurunkan dan menyaring informasi
keseluruhan.(Doenges, 2000).
Jelaskan
informasi
tentang
prosedur
perawatan.
Rasional : pengetahuan apa yang diharapkan menurunkan
Bantu
kelurga
untuk
mengekspresikan
rasa
cemas
dan
takut.
Rasional :keluarga mungkin bermasalah dengan kondisi pasien atau merasa bersalah.(Doenges, 2000).
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau penanganan kanker kulit
seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topical, dan atau terapi radiasi.
Tujuan: klien bisa menerima keadaannya.
Criteria evaluasi: mendiskusikan strategi untuk mengatasi perubahan pada citra tubuh.
Intervensi :
Kaji pengetahuan pasien trehadap adanya potensi kecacatan yang berhubungan dengan pembedahan
dan
atau
perubahan
kulit.
R: memberikan informasi untuk menformulasikan perencanaan.
Pantau
kemampuan
pasien
untuk
melihat
perubahan
bentuk
dirinya.
R: ketidakmampuan untuk melihat bagian tubunhya yang terkena mungkin mengindikasikan kesulitan
dalam kopping.
Dorong pasien untuk mendiskusikan perasaan mengenai perubahan penampilan dari pembedahan.R:
memberikan jalan untuk mengekspesikan emosinya.
Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat.
R: meningkatkan perasaan dan memungkinkan respons yang lebih membantu pasien.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti pembedahan dan
kemoterapi topical.
Tujuan : klien bisa mengetahui penanganannya.
Kriteria hasil : menyatakan tindakan perawatan diri untuk menurunkan insiden dan bertambah beratnya
gejala
yang
berhubungan
dengan
pengobatan.
Intervensi :
Beritahu kapan pembedahan/terapi radiasi akan dilakukan.
R: memberikan informasi yang diperlukan.
Jelaskan tujuan dari penanganan
R: meningkatkan pemahaman terhadap pengobatan.
Ajarkan untuk menggunakan kemoterapi topical.
R: meningkatkan perawatan diri sendiri
Beritahu kemungkinan efek samping dari pemberian obat topical seperti iritasi kulit dan pemakaian yang
tidak tepat mungkin dapat menyebabkan kulit terkelupas atau melepuh.
R: Meningkatkan keamanan dari pemberian obat topical tanpa adnya komplikasi.
Beritahu adanya efek samping dari terapi radiasi dan tindakan keperawatan diri untuk mengatasinya.

2.
a.

1)
2)
3)

b.

1)

2)

3)

c.

1)

2)
3)

R : meningkatkan perawatan diri.


Diagnosa keperawatan post-operatif.
Nyeri akut berhubungan dengan eksisi pembedahan.
Tujuan : nyeri berkurang sampai hilang.
Kriteria evaluasi :Klien akan melaporkan penurunan rasa nyeri dan peningkatan aktivitas setiap hari. Luka
eksisi bedah sembuh setelah post operasi tanpa komplikasi.
Intervensi :
Observasi
skala
nyeri,
lama
intensitas
nyeri.
Rasional :Membantu dalam mengidentifikasi derajat nyeri kebutuhan untuk analgesik (Doenges, 1999).
Berikan posisi yang nyaman tidak memperberat nyeri.
Rasional:Mengurangi tekanan pada insisi, meningkatkan relaksasi dalam istirahat (Doenges, 1999).
Beri obat analgesik (diazepam, paracetamol) sesuai terapi medik.
Rasional:Membantu mengurangi nyeri untuk meningkatkan kerjasama dengan aturan terapeutik (Brunner
and Suddarth, 2001).
Kerusakan
integritas
kulit/jaringan
berhubungan
dengan
eksisi
pembedahan.
Tujuan : meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi.
Kriteria evaluasi : luka bersih tidak tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
Observasi luka, catat karakteristik drainase.
Rasional:Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat
terjadi kapan saja. Tergantung pada tipe penutupan luka (misal penyembuhan pertama atau kedua),
penyembuhan sempurna memerlukan waktu 6-8 bulan (Doenges, 1999).
Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan tehnik steril.
Rasional:Sejumlah besar cairan pada balutan luka operasi , menuntut pergantian dengan sering
menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi (Doenges, 1999).
Bersihkan luka sesuai indikasi, gunakan cairan isotonic Normal Saline 0,9 % atau larutan antibiotik.
Rasional:Diberikan untuk mengobati inflamasi atau infeksi post operasi atau kontaminasi interpersonal
(Doenges, 1999).
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi.
Tujuan : meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari infeksi serta tidak ada tanda
demam.
Kriteria evaluasi : pertahankan lingkungan aseptic
Intervensi :
Perhatikan kemerahan disekitar luka operasi.
Rasional:Kemerahan paling umum disebabkan masuknya infeksi ke dalam tubuh di area insisi (Doenges,
1999).
Ganti balutan sesuai indikasi.
Rasional:Balutan basah bertindak sebagai sumbu untuk media untuk pertumbuhan bakterial.
Awasi tanda-tanda vital.
Rasional:Peningkatan suhu menunjukkan komplikasi insisi (Doenges, 1999).

Doenges ( 2000, hal 273 289 ) mengatakan bahwa perencanaan yang dilakukan pada
pasien dengan cedera kepala adalah sebagai berikut :
a. Diagnosa keperawatan pertama : potensial atau aktual tidak efektifnya jalan napas
berhubungan dengan gangguan/kerusakan pusat pernapasan di medula oblongata.
1) Tujuan; jalan efektif.
2) Kriteria hasil pola napas dalam batas normal frekuensi 14 20 x/menit dan iramanya
teratur, tidak ada stridor, ronchi dan wheezing, gerakan dada simetris tidak ada
retraksi, nilai AGD normal, Ph 7,35 - 7,45, PaO 2 80 - 100 mmHg, PaCO2 35 - 45 mmHg.
3) Intervensi;
a) Kaji kecepatan, kedalaman, frekuensi, irama dan bunyi napas.
Rasional : perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal atau
menandakan luasnya keterlibatan otak.
b) Atur posisi klien dengan posisi semi fowler (15o 45o).
Rasional : untuk memudahkan ekspansi paru dan menurunkan adanya kemungkinan
lidah jatuh yang menyumbat jalan napas.
Lakukan penghisapan lendir dengan hati-hati selama 10-15 detik. Catat sifat,
warna dan bau sekret. Lakukan bila tidak ada retak pada tulang basal dan robekan
dural.
Rasional : Penghisapan biasanya dibutuhkan jika klien koma atau dalam keadaan
imobilisasi dan tidak dapat memberikan jalan napasnya sendiri.
c) Anjurkan klien latihan napas dalam apabila sudah sadar.
Rasional : Mencegah / menurunkan atelektasis
d) Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therafy.
Rasional : untuk mencegah terjadinya komplikasi
b. Diagnosa Keperawatan Kedua : Potensial terjadinya peningkatan tekanan intrakranial
berhubungan dengan adanya proses desak ruang akibat penumpukan cairan darah di dalam
otak.

1) Tujuan; Peningkatan tekanan intrakranial tidak terjadi.


2) Kriteria hasil; Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti tekanan
darah meningkat, pupil melebar, kesadaran tambah buruk, nilai GCS<15.
3) Intervensi;
a) Kaji status status neurologis yang berhubungan dengan tanda-tanda TIK; terutama
GCS.
Rasional : mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial
peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi, perluasan dan
perkembangan kerusakan SSP.
b) Monitor tanda-tanda vital setiap jam sampai keadaan klien stabil.
Rasional : normalnya autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan
pada sat ada fluktuasi tekanan darah sistemik.
c)Naikkan kepala dengan sudut 15o-45o tanpa bantal dan posisi netral.
Rasional : meningkatkan aliran balik vena dari kepala, sehingga akan mengurangi
kongesti dan edema.
d) Monitor asupan setiap delapan jam sekali.
Rasional : pembatasan cairan mungkin diperlukan untuk menurunkan edema
serebral.
e)Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan anti edema seperti
manitol, gliserol dan lasix.
Rasional : dapat digunakan pada fase akut untuk menurunkan air dari sel otak,
menurunkan edema otak dan TIK.
f) Berikan oksigen sesuai program terapy.
Rasional : menurunkan hipoksemia yang dapat meningkatkan vasodilatasi dan
volume darah serebral yang meningkatkan TIK.
c. Diagnosa Keperawatan Ketiga : Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan
dengan penurunan produksi anti diuretik hormon (ADH) akibat terinfeksinya hipotalamus.

2) Tujuan; cairan elektrolit tubuh seimbang.


3) Kriteria hasil; asupan dan pengeluaran seimbang yaitu asupan cairan selama 24 jam satu
sampai dua liter dan pengeluaran urine satu sampai dua cc/kgBB/jam, turgor kulit lain,
nilai elektrolit tubuh dalam batas normal.
4) Intervensi;
a) Monitor asupan tiap delapan jam sekali dan timbang berat badan setiap hari bila
dapat dilakukan.
Rasional : indikator langsung dari hidresi/perfusi organ dan fungsi, memberikan
pedoman untuk penggantian cairan.
b) Berikan cairan setiap hari tidak boleh lebih dari 2000 cc.
Rasional : mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit.
c) Pasang dawer cateter dan monitor warna, bau dan aliran urine.
Rasional : untuk memudahkan pengukuran pengeluaran.
d) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lasix.
Rasional : dapat digunakan pada fase akut untuk menurunkan air dari sel otak,
menurunkan udema otak dan TIK.
e) Kolaborasi dengan analis untuk pemeriksaan lab.
Rasional : menentukan kecukupan pernapasan, keseimbangan asam basa dan
kebutuhan akan terapi.
d. Diagnosa Keperawatan Keempat : aktual atau potensial terjadinya gangguan pemenuhan
nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan berkurangnya kemampuan menerima
nutrisi akibat menurunnya kesadaran
1) Tujuan; kekurangan nutrisi tidak terjadi.
2) Kreteria hasil BB klien normal, tanda-tanda malnutrisi tidak ada, Hb tidak kurang dari 10
gr%.
3) Intervensi;

a) Kaji kemampuan mengunyah, menelan, reflek batuk dan pengeluaran sekret.


Rasional : kelemahan otot dan refleks yang hipoaktif / hiperaktif dapat
mengidentifikasikan kebutuhan akan metode makan alternatif.
b) Auskultasi bising usus dan catat bila terjadi penurunan bising usus.
Rasional : kelemahan otot dan hilangnya peristaltik usus merupakan tanda bahwa
fungsi defekasi hilang yang kemudian berhubungan dengan kehilangan persyarafan
parasimpatik usus besar dengan tiba-tiba.
c) Timbang berat badan.
Rasional : mengkaji keefektifan aturan diet.
d) Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering baik melalui NGT maupun oral.
Rasional : dapat diberikan jika klien tidak mampu untuk menelan.
e) Tinggikan kepala klien ketika makan dan buat posisi miring dan netral setelah
makan.
Rasional : latihan sedang membantu dalam mempertahankan tonus otot / berat
badan dan melawan depresi.
f) Lakukan kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pemeriksaan HB, Albumin, protein
total dan globulin.
Rasional : pengobatan masalah dasar tidak terjadi tanpa perbaikan status nutrisi.
e. Diagnosa Keperawatan Kelima : perubahan mobilitas fisik berhubungan dengan
immobilisasi, aturan therafy untuk tirah baring
1) Tujuan; mampu melakukan aktivitas fisik, tidak terjadi komplikasi dekubitus dan
kontraksi sendi.
2) Kriteria; klien mampu dan pulih kembali setelah pasca akut dan gerak, mampu
melakukan aktivitas ringan pada tahap rehabilitasi sesuai dengan kemampuan.
3) Intervensi;
a) Kaji kemampuan mobilisasi.

Rasional : dapat mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien.


b) Atur posisi klien dan ubahlah secara teratur tiap dua jam sekali bila tidak ada
kejang.
Rasional : perubahan posisi secara teratur dapat meningkatkan dan mencegah
adanya penekanan pada organ yang menonjol.
c) Bantu klien dalam gerakan-gerakan kecil secara pasif apabila kesadaran menurun
dan secara aktif bila klien kooperatif.
Rasional : mempertahankan fungsi sendi dan mencegah penurunan tonus otak.
d) Observasi/kaji kemampuan gerakan motorik, keseimbangan, koordinasi gerakan dan
tonus otot.
Rasional : mengidentifikasi kekuatan / kelemahan dan dapat memberikan informasi
mengenai pemulihan.
e) Lakukan massage, perawatan kulit dan jaga kebersihan alat tenun.
Rasional : meningkatkan sirkulasi intensitas kulit dan integritas kulit.
f) Berikan motivasi dan latihan pada klien dalam memenuhi kebutuhan sesuai
kebutuhan.
Rasional : meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu mencegah
kontraktur.
g) Lakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain (fisioterafy).
Rasional : program yang khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan
yang berarti / menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, koordinasi dan
kekuatan.
f. Diagnosa Keperawatan Keenam : gangguan persepsi sensori berhubungan dengan
menurunnya tingkat kesadaran (defisit neurologis).
1) Tujuan; mengembalikan persepsi sensoris/normal dan komplikasi dapat dicegah atau
seminimal mungkin tidak terjadi.

2) Kriteria hasil; tingkat kesadaran normal, fungsi alat-alat indra baik, klien kooperatif
kembali dan dapat berorientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
3) Intervensi;
a) Kaji respon sensoris terhadap raba/sentuhan, panas atau dingin, tajam dan tumpul
dan catat perubahan-perubahan yang terjadi.
Rasional : informasi penting untuk keamanan klien
b) Kaji persepsi klien, beri umpan balik dan koreksi kemampuan klien berorientasi
terhadap orang, tempat dan waktu.
Rasional : membantu klien untuk memisahkan pada realitas dari perubahan
persepsi.
c) Berikan stimulus yang berarti saat penurunan kesadaran sampai kembalinya fungsi
persepsi yang maksimal.
Rasional : pilihan masukan sensorik secara cermat bermanfaat untuk menstimulasi
klien koma dengan baik selama melatih kembali fungsi kognitifnya.
d) Berbicaralah dengan klien tenang, lembut dan menggunakan kalimat yang
sederhana.
Rasional : menurunkan frustasi yang berhubungan dengan perubahan kemampuan /
pola respons yang memanjang.
e) Berikan pengamanan klien dengan pengamanan sisi tempat tidur, bantu latihan jalan
dan lindungi dari cedera.
Rasional : agitasi, gangguan pengambilan keputusan, gangguan keseimbangan dan
penurunan sensorik meningkatkan resiko terjadinya trauma pada klien.
g. Diagnosa Keperawatan Ketujuh : potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan
masuknya kuman melalui jaringan atau kontinuitas yang rusak.
1) Tujuan; tidak terjadi infeksi baru.
2) Kriteria hasil; tidak terdapatnya tanda-tanda infeksi, pus di daerah kulit yang rusak.
3) Intervensi;

a) Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan secara
septik dan aseptik.
Rasional : cara pertama untuk menghindari terjadinya infeksi nasokomial.
b) Monitor suhu tubuh dan penurunan kesadaran.
Rasional : dapat mengidentifikasikan perkembangan sepsis yang selanjutnya
memerlukan evaluasi atau tindakan dengan segera.
c) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik.
Rasional : terapi profitaktik dapat digunakan pada klien yang mengalami trauma
untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi nasokomial.
h. Diagnosa Keperawatan Kedelapan : gangguan rasa nyaman, nyeri kepala berhubungan
dengan kerusakan jaringan otak dan perdarahan otak / peningkatan TIK.
1) Tujuan; rasa nyaman terpenuhi
2) Kriteria hasil; klien tenang, tidak gelisah, nyeri kepala, pusing dan vertigo hilang.
3) Intervensi;
a) Kaji mengenai lokasi, intensitas, penyebaran nyeri.
Rasional : nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh klien.
b) Ajarkan latihan tehnik relaksasi.
Rasional : pemikiran negatif dapat meningkatkan ketegangan yang meningkatkan
nyeri dan sakit kepala yang menimbulkan keadaan yang lebih tidak dapat
ditoleransi lagi.
c) Buat posisi kepala lebih tinggi.
Rasional : meningkatkan aliran balik vena dari kepala, sehingga akan mengurangi
kongesti dan edema atau resiko terjadinya peningkatan TIK.
d) Kurangi stimulus yang tidak menyenangkan dari luar dan lakukan massage daerah
punggung, kaki, dll.

Rasional : dapat diidikasikan untuk menghilangkan nyeri dan dapat berakibat


negatif pada TIK tetapi harus digunakan dengan hati-hati untuk mencegah
gangguan pernapasan.
e) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgetik.
Rasional : untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri.
i. Diagnosa Keperawatan Kesembilan : perubahan persepsi sensori berhubungan dengan
trauma atau defisit neurologis.
1) Tujuan; Kemampuan berfikir klien dapat kembali normal.
2) Kreteria; klien dapat menerima/berorientasi terhadap kenyataan, klien mau berperan
serta dalam latihan dan perawatan.
3) Intervensi;
a) Kaji kemampuan berfikir dengan menanyakan nama dan orientasi terhadap
lingkungan sekitar.
Rasional : fungsi serebral bagian atas biasanya terpengaruh lebih dulu oleh adanya
gangguan sirkulasi, oksigenasi.
b) Kaji perhatian dan cara klien mengalihkan perhatiannya dan catat tingkat cemas.
Rasional : respons individu mungkin berubah-ubah namun umumnya seperti emosi
yang labil, frustasi, apatis dan muncul tingkah laku impulsif selama proses
penyembuhan dari trauma kepala.
c) Berikan penjelasan pada keluarga/klien tentang perubahan berfikir klien dan
rencana keperawatan.
Rasional : membantu klien untuk memisahkan pada realitas dari perubahan persepsi.
d) Ajarkan tehnik relaksasi, jangan berikan tantangan berfikir keras dan beri aktivitas
sesuai kemampuan.
Rasional : menurunkan frustasi yang berhubungan dengan perubahan kemampuan
pola respon yang menunjang

j. Diagnosa Keperawatan Kesepuluh : gangguan rasa aman, cemas dari keluarga berhubungan
dengan ketidakpastian terhadap pengobatan dan perawatan serta adanya perubahan situasi
krisis.
1) Tujuan; rasa aman keluarga terpenuhi.
2) Kriteria hasil; keluarga menyadari dan menerima musibah, mampu mengekspresikan
perasaan, mempunyai rasa optimis terhadap kesembuhan klien.
3) Intervensi;
a) Kaji perasaan keluarga dan beri rasa empati serta dengarkan seluruh keluhan.
Rasional : membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi / salah
interpretasi terhadap informasi.
b) Berikan penjelasan pada keluarga mengenai kondisi, luasnya trauma, rencana
perawatan dan prognosa secara akurat dan memperhatikan kondisi dan situasi.
Rasional : dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol / kemandirian
pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima diagnosa dan pengobatan.

Adapun diagnosis keperawatan Menurut Doenges E. Marilynn (2000) yang dapat ditegakkan
pada gangguan sistem pencernaan; typoid adalah:
a. Gangguan rasa nyaman panas berhubungan dengan infeksi kuman salmonella yang
menyebabkan suhu tubuh meningkat ditandai dengan :
Tujuan

: Klien merasa nyaman

Kriteria hasil :
1) Klien tidak panas
2) Kulit teraba hangat
3) Suhu badan normal 36,5 370 C
Intervensi :
1) Ukur tanda-tanda vital

Rasional :
Dengan mengukur suhu tubuh maka diketahui perkembangan penyakit dan penentuan intervensi
selanjutnya.

2) Beri kompres air hangat


Rasional :
Dengan kompres hangat maka akan memberi/stimulus pada hipotalmus makan akan terjadi
penguapan.
3) Beri minum air hangat
Rasional :
Untuk mempercepat terjadinya evaporasi.
4) HE pada klien untuk memakai pakaian yang dapat menyerap keringat.
Rasional :
Supaya penguapan suhu tubuh lancar sehingga suhu tubuh akan lebih cepat turun
5) penatalaksanaan pemberian antibiotik.
Rasional :
Antibiotik mampu membunuh kuman gram (-) salmonella.
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat ditandai dengan :
Tujuan

: Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan.

Kriteria hasil :
1. Nafsu makan baik
2. KU baik
3. Porsi makan tidak dihabiskan
4. Lidah tidak kotor

Intervensi :
1) Kaji pola makan klien
Rasional :
Dengan mengkaji pola makan klien maka seorang perawat dapat mengetahui kebiasaan makan
klien sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya.
2) Beri bubur saring
Rasional :
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi hidup tubuh dan untuk menghindari komplikasi
perdarahan usus.
3) Anjurkan klien makan sedikit tapi sering.
Rasional :
Pemberian makanan sedikit tapi sering dapat mengurangi kejenuhan klien dan memberi
kesempatan pada usus untuk mengabsorbsi makanan yang lebih banyak.
4) Jelaskan tentang pentingnya makanan untuk proses penyembuhan.
Rasional :
Makanan penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi serta membantu proses penyembuhan.

c. Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan peristaltik usus menurun ditandai dengan :
Tujuan : Klien dapat buang air besar secara teratur.
Intervensi :
1) Kaji pola eliminasi klien.
2) Anjurkan banyak minum air putih.
3) H.E klien untuk untuk tidak menunda buang air besar.

d. Resiko terjadinya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan :


-

Peningkatan suhu tubuh.

Intake cairan yang kurang ditandai dengan :


Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan.
Intervensi :

1) Catat intake dan out put.


2) Observasio tanda kekurangan cairan.
3) Anjurkan klien untuk banyak minum 2-3 liter.
4) Koloborasi dengan tim medis tentang pemberian infus.
e. Gangguan pemenuhan personal higiene berhubungan dengan bedrest.
Tujuan

: Kebutuhan personal hygiene terpenuhi

Kriteria hasil :
1) Klien nampak bersih
2) Klien merasa segar

Intervensi :
1) Memandikan pasien
Rasional :
Dengan memandikan maka klien akan merasa segar dan perasaan panas akan berkurang.
2) HE tentang pentingnya personal hygiene
Rasional :
Kebersihan diri sangat perlu bagi kesehatan karena dapat mencegah terjadinya penyakit kulit
(gatal).
f. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan

: Kecamasan akan teratasi atau berkuran

Kriteria hasil :

1) Ekspresi wajah tenang


2) Klien memahami dan mengerti tentang penyakitnya.
Intervensi :
1) Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional :
Agar dapat mengetahui tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien.
2) Beri kesempatan kepada klien mengungkapkan perasaannya.
Rasional :
Klien akan merasa diperhatikan dan klien akan terbuka untuk mengungkapkan perasaannya.
3) Dengarkan keluhan klien
Rasional :
Agar klien tidak merasa bahwa dirinya diabaikan oleh keluarganya maupun oleh petugas
kesehatan.
4) Beri informasi tentang penyakitnya.
Rasional :
Klien dan keluarga mengerti dan memahami tentang kondisi penyakitnya.
5) Beri dorongan spiritual.
Rasional :
Klien akan merasa tenang karena selain perawatan dan pengobatan masih ada lagi yang sangat
berhak menentukan kesembuhannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.