Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ANATOMI HEWAN

SISTEM SARAF DAN SISTEM INDERA PADA KATAK (ANURA)

Anggota Kelompok:
1. Bil Bila Ade Laila

(15030204051)

2. Yulinar Fawanys

(15030204062)

3. Aghniyah Mawaddah M. A. S.

(15030204068)

4. Ramadhani Nur Aisyah

(15030204096)

PENDIDIKAN BIOLOGI UNGGULAN 2015


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
MARET
2016

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, Kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyusun dan menyelesaikan makalah anatomi hewan ini yang berjudul Sistem
Saraf dan Sistem Indera Pada Katak (Anura).
Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami untuk menyusun dan berkontribusi degan makalah ini. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah anatomi hewan ini dengan maksimal.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah anatomi hewan ini
yang berjudul Sistem Saraf dan Sistem Indera Pada Katak (Anura) ini dapat
diambil manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
Selain itu, kritik dan saran dari pembaca kami harapkan untuk perbaikan makalah
ini nantinya.

Surabaya, 12 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang .......................................................................................


Rumusan Masalah ..................................................................................
Tujuan Penulisan ....................................................................................
Manfaat Penulisan ..................................................................................

1
2
2
2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3


A. Sistem Saraf Pada Katak ........................................................................ 3
B. Sistem Indera Pada Katak ..................................................................... 10
C. Hubungan Antara Sistem Saraf dengan Sistem Indera Pada Katak ...... 16
BAB III PENUTUP .......................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 18

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Amphibi merupakan hewan dengan kelembapan kulit yang tinggi, tidak
tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibia
berasal dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti
hidup. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua
bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air.
Amphibi adalah kelompok terkecil di antara vertebrata, dengan jumlah
hanya 3.000 spesies. Seperti ikan dan reptilia, amphibi adalah hewan berdarah
dingin. Ini berarti amphibi tidak dapat mengatur suhu badannya sendiri. Untuk
itu, amphibi memerlukan matahari untuk menghangatkan badan. Awalnya
amphibi mengawali hidup di perairan dan melakukan pernapasan
menggunakan insang. Seiring dengan pertumbuhannya paru-paru dan kakinya
berkembang dan amphibi pun dapat berjalan di atas daratan.
Amphibia memiliki kelopak mata dan kelenjar air mata yang berkembang
baik. Pada mata terdapat membrana nictitans yang berfungsi untuk melindungi
mata dari debu, kekeringan dan kondisi lain yang menyebabkan kerusakan
pada mata. Sistem saraf mengalami modifikasi seiring dengan perubahan fase
hidup. Otak depan menjadi lebih besar dan hemisphaerium cerebri terbagi
sempurna. Pada cerebellum konvulasi hampir tidak berkembang. Pada fase
dewasa mulai terbentuk kelenjar ludah yang menghasilkan bahan pelembab
atau perekat. Walaupun demikian, tidak semua amphibi melalui siklus hidup
dari kehidupan perairan ke daratan.
Katak (Anura) adalah salah satu hewan yang masuk dalam kelas amphibi.
Katak adalah amfibi pemakan serangga yang hidup di air tawar dan di daratan.
Katak juga merupakan binatang amphibi yang mengalami metamorfosis. Katak
memiliki ciri-ciri yakni berkulit licin, berwarna hijau atau merah kecoklatcoklatan, kaki belakang lebih panjang, pandai melompat dan berenang.
Katak mempunyai sistem koordinasi yang bagus sehingga katak dapat
melakukan segala kegiatan seperti meloncat dan berenang. Tak hanya sistem
koordinasi, katak juga mempunyai sistem indra yang dapat membantunya
dalam memburu mangsa dan beraktifitas.
Katak memiliki sistem saraf yang sangat maju, yang terdiri dari otak,
sumsum tulang belakang, dan saraf. Sedangkan sistem indera yang paling
menonjol pada katak adalah indera penglihatan (mata), indera pendengar

(telinga). Hubungan yang baik antara sistem saraf dan sistem indera pada katak
yang membuat katak mampu melakukan berbagai aktifitas tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka penulis dapat
merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sistem saraf dari katak?
2. Bagaimana sistem indera dari katak?
3. Bagaimana hubungan antara sistem saraf dengan sistem indera pada
katak?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sistem saraf dari katak.
2. Untuk mengetahui sistem indera dari katak.
3. Untuk mengetahui hubungan antara sistem saraf dengan sistem indera
dari katak.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagi penulis dapat menambah wawasan mengenai sistem saraf, sistem
indera, dan hubungan antara sistem saraf dengan sistem indera dari katak.
2. Bagi pembaca dapat memberikan infromasi sistem saraf, sistem indera,
dan hubungan antara sistem saraf dengan sistem indera dari katak.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Saraf Pada Katak
Sistem saraf pada katak mirip dengan sistem saraf pada pisces. Saraf spinal,
saraf perifer, dan saraf otonom katak sama dengan pisces. Namun, pada saraf
spinal jumlah yang dimiliki amphibi berbeda dengan vertebrata lainnya, katak
hanya mempunyai 10 pasang saraf spinal, berbeda dengan saraf spinal yang
dimiliki manusia berjumlah 30 pasang, hal ini dikarenakan katak mempunyai
tubuh yang lebih kecil.
Sistem saraf pada katak terdiri atas sistem saraf pusat (nervorum centrale)
dan sistem saraf tepi (nervorum periforium).
Pada sistem saraf pusat terdiri atas otak (encephalon) dan nevercord
(medula spinalis).

Gambar 1.1. Otak katak tampak dorsal dan tampak ventral (sumber: R. Nieuwenhuys, P.
Opdam, 1976)

Otak. Otak terdapat dalam kotak otak (Cranium). Otak katak dibungkus
oleh dua membran yakni membran yang tebal disebut durameter yang
berbatasan dengan tulang, dan membran yang halus disebut piameter yang
berbatasan dengan saraf.

Di dalam otak terdapat rongga-rongga yang disebut ventriculus. Ventriculus


pertama terdapat pada procenchepalon, ventriculus kedua terdapat pada
haemispharium cerebri yang berhubungan dengan ventriculus ketiga di dalam
ke encephalon. Dari yang terakhir ini terdapat saluran penghubung sylvius ke
ventriculus keempat yang terletak dalam medulla oblongata.
Pada otak terdapat cairan yang mengisi ventriculus-ventriculus dan sekitar
otak, cairan itu disebut cairan cerebrospinalis.
Pertukaran zat atau metabolisme pada otak dilayani oleh pembuluh darah
arteri dan venulae yang melputi jaringan permukaan otak. Anyaman pembuluh
darah itu pada daerah anterior sampai diencephalon disebut choroidalis
anterior, sedangkan yang meliputi medula oblongata disebut pelexus
choroidalis posterior.

Gambar 1.2. Otak katak. tampak dorsal; tampak ventral; bagian longitudinal otak (sumber:
S N Prasad, Vasantika Kashyap, 1991)

Otak depan. Otak depan pada katak terdiri dari dua lobus olfactorius dan
dua cerebrum (hemispherium cerebri). Lobus olfactori menuju saccus nasalis.
Cerebrum kanan kiri yang berbentuk ovoid yang dihubungkan oleh comissura
anterior, sedang pada bagian anteriornya bergabung dengan dienchepalon
medialis. Dienchepalon mempunyai badan sebelah dorsal yang disebut
epiphyse atau glandulae pinealis. Di bawah dienchepalon terdapat chiasma
opticus, yang selanjutnya diikuti oleh infundibulum yang tumbuh ke luar

sebagai segitiga tumpul dengan hypophyse atau glandulae pituitaria pada


posteriornya.
Otak tengah. Otak tengah pada katak terdiri dari lobus optikus dan crura
cerebri. Lobus optikus berupa dua tonjolan pada bagian dorsal dan menjorok ke
samping, maka dari itu lobus optikus dapat terlihat dari bawah. Crura cerebri
tertutup oleh bagian posterior dari pituitari body.
Otak belakang. Otak belakang pada katak terdiri dari otak kecil
(cerebellum) dan medula oblongata. Medula oblongata adalah pelebaran dari
medula spinalis yang berakhir di sebelah caudal dengan felium terminale. Pada
permukaan bagian dorsal terdapat aerah segitiga yangbewarna coklat
kemerahan.
Medulla Spinalis. Medula spinalis pada katak mempunyai struktur yang
khas. Medula spinalis katak memiliki struktur yang pendek dan agak gepeng,
dan berakhir pada sebuah benang yang meruncing dan sempit (filum terminale)
yang meluas sampai pada urostyle. Anterior sumsum tulang belakang melebar
ke medula tersebut. Anterior tersebut mengalami dua pembesaran, satu di
wilayah brakialis yang mana merupakan saraf untuk lengan timbul, dan yang
lainnya jauh di belakang, dimana saraf untuk kaki belakang muncul. Celah
median berada pada punggung dan bagian perut (celah dorsal dan ventral).
Saraf tulang belakang muncul dengan dua akar, sebuah dorsal dan ventral, pada
sisi tali (saraf). Struktur internal tali menunjukkan bahwa tali tersebut terdiri
terutama sel ganglion dan sel serabut. Bagian tengah pada tali (saraf) terdiri
dari materi abu-abu terutama sel ganglion dan saraf non-medulla yang
mengililingi pusat kanal. Pada sisi saraf diproduksi untuk membentuk sel
tanduk dan kornu pada baian dorsal dan ventral. Materi yang berwarna abu-abu
dikelilingi oleh materi putih terutama terdiri dari serat medulla yang
menjalankan sebagian besar gerak longitudinal dengan sel ganglion yang
terisolasi. Sumsum tulang belakang bagian eksternal dikelilingi oleh duramater
yang terdiri dari dua lapisan yang dipisahkan oleh ruang getah bening (ruang
interdular). Pada luar lapisan ini berpigmen dan terletak pada permukaan
bagian dalam dari kanal saraf dan lapisan dalamnya tak berpigmen dan terletak
dekat dengan sumsum tulang belakang.
Sama seperti otak, medula spinalis pada katak juga dibungkus oleh dua
membran yakni membran yang tebal disebut durameter yang berbatasan
dengan tulang, dan membran yang halus disebut piameter yang berbatasan
dengan saraf. Dalam durameter terdapat lapisan pembuluh darah yang tipis
sesuai dengan piameter dan arakhnoid pada vertebrata tinggi.

Gambar 1.3. sistem saraf pada katak dari bagian ventral, 1-10 saraf spinal, I-X, saraf
kranial (sumber: S N Prasad, Vasantika Kashyap, 1991)

Pada sistem saraf tepi katak terdiri dari saraf cranial atau cerebralis, dan
saraf spinalis.

Gambar 1.4. Saraf kranial pada katak (sumber: S N Prasad, Vasantika Kashyap, 1991)

Saraf Kranial. Katak memiliki sepuluh pasang saraf cranial. Saraf pertama
adalah saraf penciuman muncul dari lobus olfaktori (lobus penciuman) yang
memiliki dua akar, anterior satu muncul dari ujung depan, posterior berjalan di
sepanjang sisi ventral dari sisi lobus hampir ke ujung posteriornya. Setiap saraf
melewati foramen kecil di tulang ethmoid dan disalurkan ke dinding ruang
hidung. Pasangan optik atau keduanya muncul dari thalamencephalon, dan
setelah melintasi di chiasma tersebut, muncul dari sisi chondrocranium yang
menstimulasi aksi di mata. Kedua saraf tersebut merupakan saraf sensorik.
Saraf ketiga atau okulomotor adalah saraf motor kecil yang timbul dari
cerebri krura dan menstimulasi aksi empat otot bola mata (rektus superior,
rektus inferior, rektus medialis, dan obliqus inferior). Dan juga memberikan
cabang ke ganglion bersilia (ciliary ganglion).
Saraf keempat yaitu trochlearis juga saraf motor kecil yang timbul dari sisi
dorsal otak antara lobus optikus dan cerebellum dan pengadaan otot superior
oblique pada mata.
Saraf kelima yaitu trigeminal merupakan yang terbesar dari saraf kranial.
Saraf tersebut muncul dari sisi ujung anterior medulla oleh sepasang akar yang
bersatu dalam sebuah ganglion-prootic yang sebelum meninggalkan tengkorak.
Dari ganglion ini muncul dua cabang, yaitu cabang ophtalmic (mata) dan
maksilomandibular, dan meninggalkan tengkorak dengan foramen di bagian

anterior dari tulang prootik. Pada saraf mata berjalan oepanjang sisi dorsal dan
disalurkan ke kulit bagian anterior dari kepala. Pada saraf maksilomandibular
(maksilaris inferior) berjalan maju di belakang mata dan dibagi menjadi rahang
atas (maxillary superior) dan rahang bawah (mandibular/maxillary inferior).
Saraf-saraf tersebut merupakan saraf campuran.
Saraf keenam yaitu abducen muncul dari sisi ventral medulla dan muncul
bersama dengan kelima saraf yang menginervasi rektus dan retractor bulbi otot
eksternal dari bola mata. Saraf tersebut merupakan saraf motorik.
Saraf ketujuh yaitu wajah muncul dari medulla yang dekat di belakang saraf
yang ketiga dan menimbulkan palatine untuk langit-langit yang kursus di
sepanjang sisi ventral dari orbit. Cabang kedua adalah hyomandibular yang
dibagi menjadi hyoidean dan mandibular yang merupakan bagian daerah dari
hyoid dan mulut. Keduanya merupakan saraf gabungan. Celah (ventilator)
hyonmandibular yang dimiliki kecebong dan katak dewasa mirip hasil dari
bagian celah tersebut telah membentuk ruang timpani dan saluran eustachius di
bagian tengah telinga. Ini merupakan sedikit perubahan pada persarafan.
Komponen sensor lateral yang sudah ada di dogfish menghilang dan hanya
visceral sensor dan bagian motor telah diwakili.
Saraf kedelapan adalah saraf auditori atau pendengaran yang didistribusikan
sepunuhnya pada bagian dalam telinga.
Penyebaran saraf kesembilan dan kesepuluh sudah sepunuhnya berubah
pada katak dewasa karena penekanan yang sudah kompliy pada celah organ
dalam.
Saraf kesembilan atau glossopharyngeal, pada dogfish yang merupakan
kumpulan dari beberapa akar atau urat yang biasanya disebut vagus. Urat ini
tampak mulai dari tengkorak melewati foramen pada exocipital, bagian luar
kondilus, dan masuk ganglion pembuluh darah pada leher. Setelah kemunculan
dari ganglion pada glossopharyngeal terdapat cabang kecil yang menuju ke
hyomandibular saraf ketujuh lalu belokan atau lipatan sepanjang dinding pada
mulut bagian dalam di membran mukosa pada lidah dan faring.
Saraf kesepuluh atau vagus. Vagus pada katak sangat berbeda dengan vagus
pada dogfish. Percabangan dan garis lateralnya hilang, bagian yang tersisa
hanya mewakili komponen visceral dan cabang yang mengarah pada jantung,
paru-paru, perut, dan lain sebagainya.

Gambar 1.5. Otak. Saraf kranial. Saraf spinal. Sistem saraf simpatik dari katak (sumber:
Gilchrist, Bonde, 1919)

Saraf tulang belakang (saraf spinalis). Pada katak dewasa memiliki 10


pasang saraf tulang belakang, pada kecebong saraf tersebut lebih besar. Pada
bagian posterior melebur sesuai dengan hilangnya ekor.
Saraf spinalis yang bejumlah 10 pasang juga yang dikeluarkan dari celah
antara dua vertebrae yang berurutan (terdapat 9 vertebrae).
Saraf pertama muncul di antara vertebrae pertama dan kedua dan
percabangan utamanya (saraf hypoglossal) yang menstimulasi aksi lidah dan
beberapa otot yang terikat dengan hyoid.
Saraf kedua sedikit lebih besar dan menerima cabang dari saraf anterior
yang pertama dan saraf ketiga bagian posterior membentuk pleksus
branchialis.
Saraf keempat, kelima, dan keenam ukurannya kecil dan tersebar terutama
pada kulit dan otot pada permukaan daerah perut.
Saraf ketujuh, delapan, dan sembilan hampir semuanya berada di bagian
belakang, dan membentuk plexus siatik. Sebelum bergabung menjadi plexus

siatik (lumbosacral) saraf ketujuh membentuk ilio-hypogastric sebagai cabang


dari otot pada bagian perut. Dar penampakan atau kemunculan saraf plexus
siatik menuju setiap bagian kaki. Secara proksimal dengan lutut plexus siatik
dibagi menjadi tibilais dan peroneus. Pada tibialis terdapat cabang yang
menuju gastrocnemius, posticus tibialis, dan beberapa otot yang terletak pada
permukaan kaki. Pada peroneus menstimulasi otot peroneus, tibialis anticus,
dan otot extensor pada permukaan kaki.
Saraf kesepuluh yang kecil menerima cabang dari saraf kesembilan dan
membetuk plexus isschococcygeal yang terdapat cabang yang menfarah pada
alat-alat pelvis seperti kandung kemih, kloaka, oviduk, hati, dan jantung bagian
depan.
Sistem saraf simpatik pada katak terdiri dari dua benang/serat yang
morfologinya seperti saraf, helaian serabut tersebut terletak di atas dinding
selom bagian dorsal. Masing-masing mempunyai 10 ganglion dan banyak
serabut yang menghubungkan dengan otak, serabut tulang belakang (spinal),
dan organ dalam lainnya. Tiap-tiap batang menerima sebuah cabang dari
masing-masing saraf spinal dimana dua batang tersebut merupakan pembesaran
ganglionic. Sistem ini bekerja di bawah kesadaran seperti kecepatan detak
jantung, sekresi saluran pencernaan, pergerakan otot dalam perut dan usus,
serta pergerakan otot pada pembuluh darah.
B. Sistem Indra Pada Katak

Gambar 2.1. Bagian sagital dari orbit dan mata pada katak (sumber: S N Prasad, Vasantika
Kashyap, 1991)

Indera Penglihatan. Secara bentuk dasar mata katak, hampir sama dengan
mata ikan. Kelopak mata bagian atas memiliki lipatan yang tebal, sempit, dan
memanjang dari tepi orbit. Tidak memiliki kekuatan gerakan secara indepeden,
tetapi dapat dinaikkan atau diturunkan oleh gerakan bola mata. Penutup bola
mata terdiri dari dua unsur yang lebih rendah yakni penutup tetap dan membran
pengedip. Penutup lebih rendah tersebut terdiri dari bagian tebak yang lebih
rendah dan bagian tipis atas, yang dilipat ke belakang ketika mata terbuka.
Membran pengedip tipis semilunar agak lebih transparan dari pada bagian
kelopak mata bawah, yang mana dipisahkan oleh sebuah saluran yang kecil.
Mata amfibi juga seperti pada vertebrata lain. lensa mata tetap dan tidak
berubah kecembungannya untuk jarak pandang yang relative jauh, mungkin
berpindah maju kedepan saat melihat objek yang dekat, dengan akomodasi
otot-otot lensa yang kecil. Pupil aperture mungkin vertical, horizontal,tiga
sudut atau empat sudut. Kelopak mata kurang bagus bagi yang di air tetapi
berkembang bagus pada spesies yang hidup di darat.Kelopak bagian bawah
biasanya lebih mudah bergerak daripada kelopak yang berada di atas.Karena
kornea mata mfibi darat menjadi kering akibat evaporasi, maka perlu dibasahi
dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar Harderian. Lecrimal atau kelenjar
air mata pada amfibi kurang bagus perkembangannya.

Gambar 2.2. Mata katak, in situ, III, IV, VI, saraf kranial (sumber: S N Prasad, Vasantika
Kashyap, 1991)

Struktur bola mata pada katak mirip dengan struktur bola mata pada
vertebrata lainnya. Kornea merupakan mantel luar dari jaringan ikat yang
membentuk cembung dan transparan. Koroid adalah lapisan berikutnya yang

terdiri dari pembuluh darah dan banyak pigment warna hitam untuk mencegah
cahaya masuk kecuali dari depan. Retina adalah lapisan paling dalam yang
terdiri dari reseptor optik batang dan kerucut yang menghubungkan pada saraf
optik. Bagian dari lapisan koroid yang khusus adalah Iris, lapisan yang
memberi warna pada kornea. Iris mempunyai lubang di tengah yang
merupakan pusat pembuka atau pupil yang memasukkan cahaya melewati
lensa bulat dari ligamen suspensori berasal dari Siliary. Ruang di depan lensa
terisi oleh air acqueous humour dan dibagian belakang terdapat seperti gel
bernama vitreous humour.
Jumlah cahaya yang masuk kedalam retina diatur oleh iris yang berperan
sebagai tirai, mengatur besarnya cahaya yang masuk adalah tugas pupil.
Didekat garis pupil terdapat cincin sel otot polos yang berasal dari spinchter
papilae, yang menyebabkan kontraksi pada pupil. Cahaya yang kuat
menyebabkan kontraksi pada pupil dan mengakibatan berkurangnya jumlah
cahaya yang jatuh pada retina, hal itu menandai bahwa adanya stimulasi yang
berlebihan pada bagian sensitif mata. Hal itu adalah efek langsung dari cahaya
yang berlebihan pada otot spinchter papilae bagian iris karena juga telah
diamati pada mata yang telah dikeluarkan dari tubuh.
Pengaturan optik mata pada katak seperti itu untuk meletakkan gambaran
objek diretina. Lapisan sensitif itu dirangsang dan dibawa oleh impuls saraf
melewati saraf optik menuju otak, yang memberikan rangsangan akan sensasi
cahaya. Mata pada katak tidak memiliki kekuatan untuk mengakomodasikan
untuk melihat objek jarak dekat dan jauh seperti mata yang kita miliki. Lensa
pada katak tidak dapat diubah atau dibawa lebih dekat atau lebih jauh dari
retina, sehingga lensa pada katak hanya dapat melihat benda tersebut dengan
fokus pada jarak tertentu dari mata. Gambaran benda-benda pada jarak lainnya
tidak jelas diuraikan dan itu adalah efek dari pengelihatan yang tidak
sempurna.
Didaratan katak mengalami miopi atau rabun dekat (Pateu, Hirschberg,
Beer). Dapat melihat objek dengan jelas yang dekat dari tangan katak. Miopi
pada katak rupanya sebuah keuntungan untuk memperoleh makanan, karena
penting untuk melihat objek dengan jelas dan cukup dekat untuk dimakan. Juga
diketahui bahwa katak dapat lebih merasakan gerakan lebih banyak daripada
hewan lainnya dan hanya untuk gambaran yang cukup kabur serta terbatas.
Benda besar yang bergerak dianggap sebagai ancaman dan tidak ada gambaran
pasti yang diterima katak dan memilih untuk pergi. Katak tidak memiliki efek
Stereoskopis, mungkin akan ada pada hewan yang tingkat kelas nya lebih
tinggi.

Gambar 2.3. Organ nasal pada amphibi. A-salamander Triturus alpetris tampak dorsal, Banuran Ascaphus truel tampak dorsal, C-salamander Ambystoma maculatum tampak lateral, DAscaphus truel tampak lateral, E-caecilian Ichthyophis glutinosus tampak lateral, FAmbystoma maculatum tampak ventral, G-Ascaphus truel tampak ventral, H-Ichthyophis
glutinosus tampak ventral. Keterangan: c med = cavum medium, c inf (lat rec) = cavum
inferius (lateral recess), c prin = cavum principale, Chb = Choanenschleimbeutel, ext naris =
external naris, Jo = Jacobsons organ, naslac d = nasolacrimal duct, olf n = olfactory nerve, S
maxpal = sulcus maxillopalatinus, tr = tentacular refractor muscle, ts = tentracular sheath.
(sumber: William E. Duellman, Linda Trueb, 1986)

Indera Penciuman. Nasal berfungsi sebagai indera penciuman dan juga


digunakan untuk saluran udara. Biasanya epitelium olfaktori lembut dan
terbatas pada bagian dorsal nasal. Struktur oilfaktori lain pada amfibi adalah
organ Jacobson (organ vomeronasal). Organ tersebut dipercaya menjadi alat
bantu dalam merasakan makanan. Organ ini juga penting dalam tingkah laku
reproduksi, karena aksi pertama adalah hewan jantan menyentuh hidung,
kepala dan leher betinanya.
Pada katak jarak antara internal dan eksternal lubang hidung tidak terlalu
jauh, seperti Nasal yang belum berkembang. Tetapi ada kantung kecil olfaktori

yang berkembang dengan baik dengan model yang dilipat untuk melengkapi
katak dengan sensor yang membawa informasi penting yang terhubung pada
saraf olfaktori. Sel olfaktori dari lendir Epitelium bentuknya tidak tetap,
terkadang sempit dan panjang. Bagian yang diperankan indera olfaktori pada
katak belum jelas untuk dipahami.

Gambar 2.4. Bagian kepala katak melalui daerah telinga (sumber: S N Prasad, Vasantika
Kashyap, 1991)

Indera Pendengaran. Katak tidak mempunyai telinga luar. Gendang


telinga atau membran timpani berada pada permukaan. Di dalam membran
timpai terdapat telinga bagian dalam atau lubang timpani yang
menghubungkan dengan faring melalui saluran eustachius. Lubang timpani
melintasi sebuah tulang yang tipis. Columella auris mengirimkan getaran dari
gendang telinga ke telinga bagian dalam. Telinga bagian dalam terletak pada
kapsul pendengaran yang di bentuk oleh tulang prootic dan exoccipital pada
tengkorak. Telinga bagian dalam atau labirin membranosa berbentuk seperti
kantung menjadi utriculus atas, sacculus lebih rendah, dan menimbulkan tiga
kanalis semisirkularis (saluran setengah lingkaran) tertanam dalam tulang
rawan dari kapsul pendengaran. Terdapat saluran anterior vertikal, saluran
posterior, dan kanal horisontal, ketiganya berada sudut yang tepat satu sama
lain. Di salah satu ujung lengan masing-masing terdapat pembesaran atau
disebut ampula. Di dasar sacculus terdapat empat kantong tidak teratur dan dari

sisi median mucul duktus endolimpatik. Utriculus, sacculus, dan saluran


setengah lingkaran berisi gumpalan seperti kristal yang disebut otolith.

Gambar 2.5. Labirin membranosa katak tampak luar (sumber: S N Prasad, Vasantika
Kashyap, 1991)

Telinga bagian dalam dikelilingi oleh cairam perilymphatic dan dalam


telinga terdapat cairan endolymphatic. Katak tidak memiliki mekanisme
pendengaran yang berkembang dengan baik, bukannya koklea berkembang
dengan baik namun hanya ada patch kecil dari suara yang diterima jaringan.
Katak biasanya menanggapi croak (bunyi katak. ini membuktikan bahwa
mereka dapat mendengar namun mereka tidak dapat membedakan suara
berbagai nada. Sistem kanal dan kantung di telinga bagian dalam yang
bertanggung jawab untuk mengatur keseimbangan tubuh seperti pada
vertebrata lainnya.
Indera Perasa. Organ perasa pada katak, tidak seperti pada ikan, terbatas
pada dinding mulut dan lidah. Pada lidah atau lingua terdapat papil-papil yang
berupa tonjolan yang berisi reseptor perasa yang peka terhadap zat-zat kimia
yang larut dalam air.
Indera Peraba. Parietal dan pineal body berfungsi sebagai fotorespetor,
sensitif terhadap gelombang panjang dan intensitas cahaya, berepran dalam
termoregulasi dan orientasi arah. Fotoreseptor terhadap gelombang panjang
juga terdapat pada kulit katak. Sedangkan reseptor kulit menerima ransangan
berupa sentuhan
Sistem gurat sisi. Gurat sisi adalah stuktur sensorik penting yang
memungkinkan hewan menunjukan pergerakan dan tekanan di dalam air di
sekitar mereka. Gurat sisi ini memberikan bantuan sensorik berharga untuk
hewan berenang, namun sistem indra ini tidak ada pada katak dewasa, sistem
indra ini hanya ada pada larva kecebong. Dalam tahap perkembangan saraf

kranial kesepuluh mengirimkan pertumbuhan posterior di bawah epidermis


tubuh bagian lateral, di kedua sisi berjalan secata posterior ke ujung ekor. Sel
bersilia mengakibatkan indra ni sensitif terhadap getaran dalam media air dan
sekitarnya. Sistem ini adalah sisa-sisa keturunan acquatic, dan menghilang
pada saat metamorfosis.
C. Hubungan Antara Sistem Saraf dan Sistem Indera Pada Katak
Katak memiliki sistem saraf dan sistem indera yang berkerja sama dengan
baik dalam segala aktifitas yang mereka lakukan. Sistem saraf yang berkerja
sama dengan sistem indera pada katak adalah kedua sistem saraf yakni sistem
saraf pusat dan sistem saraf tepi. Pada sistem saraf pusat terdapat lobus-lobus
yang merupakan pusat ransangan pada katak. Sistem saraf tepi katak dibagi
menjadi dua yakni saraf spinal dan saraf kranial dimana keduanya memiliki 10
pasang saraf yang sangat berperan penting terhadap aktifitas katak.
Pada umumnya alur ransangan katak sama dengan vertebrata lainnya.
Perubahan yang terjadi pada lingkungan katak merupakan ransangan bagi
organon sensoris atau receptor tubuh, dimana organon sensoris mempunyai
hubungan dengan saraf sensorik yang membawa ransangan ke pusat (lobus
pada otak). Tiap-tiap macam ransangan akan merangsang organon sensoris
tertentu utnuk dicerna oleh otak.
Organon visus akan menerima ransangan yang berupa gelombang sinar,
sedang reseptor kulit menerima ransangan yang berupa sentuhan. Pada lingua
terdapat papil yang berisi reseptor perasa. Pada saccus nasalis mengandung 2
reseptor yang peka terhadap ransangan yang berupa gas. Pada telinga berisi
organon auditorius dan alat kesetimbangan tubuh. Reseptor-reseptor tersebut
yang menerima stimulus dan ransangan dari lingkungam yang akan diterima
dan diterjemahkan oleh sistem saraf pada katak. Maka sistem saraf dan sistem
indera pada katak memiliki hubungan dan peran yang saling melengkapi untuk
bekerja sama dalam segala aktifitas.

BAB III
PENUTUP
Katak memiliki sistem saraf dan sistem indera yang kurang lebih sama dengan
vertebrata lainnya. Sistem saraf pada katak terdiri atas sistem saraf pusat
(nervorum centrale) dan sistem saraf tepi (nervorum periforium). Pada sistem
saraf pusat terdiri atas otak (encephalon) dan nevercord (medula spinalis). Pada
sistem saraf tepi katak terdiri dari saraf cranial atau cerebralis, dan saraf spinalis.
Dimana pada setiap saraf saraf tersebut memiliki 10 pasang saraf yang
berhubungan dengan lobus-lobus dan juga alat atau organ indera. Sedangkan pada
sistem indera katak memiliki berbagai organ atau alat indera diantaranya indera
penglihatan, indera penciuman, indera pendengaran, indera peraba, dan sistem
gurat sisi. Dimana pada organ-organ tersebut terdapat reseptor yang menerima
ransangan atau stimulus dari lingkungan yang akan selanjutnya akan diterima
sistem saraf dan akan diolah. Sistem saraf dan sistem indera pada katak memiliki
hubungan dan peran yang saling melengkapi untuk bekerja sama dalam segala
aktifitas.

DAFTAR PUSTAKA
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata untuk Perguruan Tinggi. Surabaya:
Sinar Wijaya
Sukiya. 2001. Biologi Vertebrata. Yogyakarta: JICA dan Biologi FMIPA UNY
Prasad, S.N. and Vasantika Kahsyap. 1991. A Textbook of Vertebrata Zoologi
13th edition. New Delhi: Wiley Eastern Limited
Duellman, William E. and Linda Trueb. 1994. Biology of Amphibians. United
States of Amerika: The Johns Hopkins University Press
R, Nieuwenhuys and P. Opdam. 1976. Frog Neurobiology. Berlin: Springer
Berlin Heidelberg
Gilchrist, J. D. F. and C. Von Bonde. 2015. Dissection of The Platana and The
Frog. David Edwards , Christopher Wright dan secara online Terdistribusi Tim
Proofreading di http://www.pgdp.net (diakses pada: 4 Maret 2016, 09:54)