Anda di halaman 1dari 68

DAFTAR ISI

BAB I Pendahuluan 1
BAB II Tinjauan Teori. 3
BAB III Tinjauan Kasus.. 17
BAB IV Pembahasan... 57
BAB V Penutup 69
DAFTAR PUSTAKA

71

Page 0 of 68

BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Fungsi limfosit pada manusia adalah sebagai salah satu pemebentuk system
imun

dalam tubuh. Sedangkan sistem imun pada manusia

adalah untuk

mempertahankan tubuh dari serangan mikroorganisme. Darah, cairan transportasi


tubuh yang utama, melakukan fungsi vital dengan mempertahankan homeostasis
(keseimbangan fisiologis dan alami lingkungan internal tubuh). Melalui saluran
limfatik sistem imun juga melakukan fungsi transportasi.
Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi pergeseran mengenai penyakit
yang muncul dalam masyarakat. Semula penyakit yang dialami oleh manusia ialah
berupa penyakit infeksi baik di saluran gastrointestinal atau di saluran napas, penyakit
jantung, gagal ginjal dan lain sebagianya. Sedangkan sekarang penyakit yang
menyerang manusia adalah berupa penyakit yang menyerang system imunitas manusia
diantaranya SLE (Sistemics Lupus Eritemathosus), Limfoma Non-Hodgkin dan
Limfoma Hodgkin.
Penyakit limfoma non hodgkin adalah salah satu penyakit yang tergolong dalam
kasus interna/kasus penyakit dalam. Pada penyakit ini terjadi proliferasi abnormal
sistem limfoid dan struktur yang membentuknya terutama menyerang kelenjar getah
bening. LNH belum diketahui secara pasti penyebabnya. Oleh karena itu penelitian
terus dilakukan untuk mengembangkan kasus ini. (Lynn Cecily, 2009)
Berbagai permasalahan dapat timbul karena kasus ini yang mana permasalahan
tersebut dapat menyangkut seluruh aspek kehidupan dari manusia baik secara fisik,
psikis, sosial maupun spiritual. Secara fisik dapat menimbulkan terganggunya pola
nafas karena ada penekanan dari benjolan yang muncul didaerah leher sihingga
mengganggu system pernapasan atau kesulitan dalam menelan makanan sehingga
mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi. Secara psikis penyakit ini dapat
menimbulkan gangguan konsep diri terutama mengenai body image, ataupun bahkan
bisa mengakibatkan perilaku menarik diri. Secara sosial bisa mengakibatkan kerusakan
interaksi sosial karena perilaku menarik diri atau kurang percaya diri dan secara

Page 1 of 68

spiritual bisa menyalahkan Tuhan atas penyakit yang diberikan atau mungkin
sebaliknya justru lebih tekun beribadah karena ingin cepat sembuh.
Melihat hal dan permasalahan di atas penulis mencoba mengangkat
permasalahan tersebut dalam bentuk asuhan keperawatan dengan harapan paling tidak
penulis bisa meringankan beban yang dialami penderita.
Pada kasus yang dialami oleh Ny. T didapatkan adanya benjolan yang ada di
pelipis kanan serta di dekat leher sebelah kanan. Kondisi klien pada saat dioperasi telah
mengalami post-operasi benjolan di pelipis kanannya, padahal biasanya untuk kasus
limfoma non-hodgkin ini munculnya benjolan di daerah sekitar leher, namun pada
kasus ini adanya benjolan juga di pelipis. Untuk itu kami mengangkat kasus ini sebagai
kasus untuk diseminarkan karena melihat tanda dan gejala dari klien yang unik dan
sedikit berbeda dengan teori yang biasa diketahui dalam dunia kesehatan mengenai
NHL tersebut.

b. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah pelaksanaan praktek dan penyusunan asuhan keperawatan diharapkan bisa
membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan Lymfoma Non Hodgkin.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mampu :
a. Melakukan pengkajian terhadap klien dengan NHL
b. Melakukan analisa data
c. Membuat diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah
d. Merencanakan tindakan keperawatan
e. Melakukan tindakan keperawatan
f. Melakukan evaluasi
g. Mendokumentasikan dalam bentuk laporan tertulis

Page 2 of 68

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. PENGERTIAN
Limfoma Non-Hodgkin adalah suatu keganasan primer jaringan limfoid yang
besifat padat. Biasanya ditemukan pada klien dengan keadaan defisiensi imun dan yang
mendapat obat-obat imunosupresif, seperti pada klien dengan transplantasi ginjal dan
jantung (Santoso dam Krisifu, 2004).
Limfoma Non-Hodgkin adalah sekelompok keganasan (kanker) yang berasal dari
sistem kelenjar getah bening dan biasanya menyebar keseluruh tubuh. Beberapa dari
limfoma ini berkembang sangat lambat (dalam beberapa tahun), sedangkan yang lain
menyebar dengan cepat (Anies, 2006). Selain itu,
Limfoma Non-Hodgkin adalah kanker jaringan limfe yang disebabkan oleh
keganasan limfosit-B dan sistem sel limfosit-T, menyebar luas melalui organ limfoid,
termasuk kelenjar limfe, hati, limpa dan sumsum tulang serta dapat ditemukan pada
sinus-sinus (Elizabeth, 2009).
B. ETIOLOGI
Penyebab LNH belum jelas diketahui. Para pakar cenderung berpendapat bahwa
terjadinya LNH disebabkan oleh pengaruh rangsangan imunologik persisten yang
menimbulkan proliferasi jaringan limfoid tidak terkendali. Diduga ada hubungan dengan
virus Epstein Barr terutama pada limfoma Burkitt. LNH kemungkinan ada kaitannya
dengan faktor keturunan karena ditemukan fakta bila salah satu anggota keluarga
menderita LNH maka risiko anggota keluarga lainnya terjangkit tumor ini lebih besar
dibanding dengan orang lain yang tidak termasuk keluarga itu.
C. PATOFISIOLOGI
Menurut Ronald A. Sacher (2004), proliferasi abnormal tumor dapat memberikan
kerusakan, penekanan atau penyumbatan organ tubuh yang diserang dengan gejala yang
bervariasi luas. Sering ada panas yang tidak jelas sebabnya, keringat malam, penurunan
berat badan. Abnormalitas sitogenetik dapat terjadi. Terjadi translokasi antara kromosom
Page 3 of 68

8 dan 14 atau translokasi yang lainnya. Berdasarkan sistem tingkatan menurut Ann Arbor
(Ann Arbor Staging Sysem) tahap dari LNH adalah sebagai berikut :
Tahap I
: melibatkan satu regio kelenjar getah bening atau lokasi ekstranodal
tunggal.
Tahap II

: melibatkan dua atau lebih regio kelenjar getah bening pada sisi yang sama
dari diafragma atau terlokalisir pada satu lokasi ekstranodal dan dua atau

Tahap III

lebih regio kelenjar getah bening pada sisi yang sama dari diafragma.
: melibatkan regio kelenjar getah bening pada kedua sisi diafragma. Bisa
melibatkan satu lokasi ekstranodal, limpa ata keduanya. Disni melibatkan

Tahap IV

abdomen atas dan abodmen bawah.


: difus atau diseminasi satu atau lebih organ ekstralimfatik atau jaringan
dengan atau tanpa ada hubungannya dengan kelenjar getah bening.

D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang sering muncul menurut Cecily Lynn (2009)
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Keterlibatan intraabdominal:
a. Kemungkinan gejala yang menyerupai apendisitis (nyeri, myeri tekan di kuadran
kanan bawah)
b. Intususepsi
c. Massa ovarium, pelvis, retroperitoneal
d. Asites
e. Muntah
f. Diare
g. Penurunan berat badan
2. Keterlibatan mediastinum:
a. Efusi pleura
b. Kompresi trakea
c. Sindrom vena kava superior
d. Batuk, mengi, dispnea, gawat pernapasan
e. Edema ekstremitas atas
f. Perubahan status mental
3. Keterlibatan primer nasal, paranasal, oral dan faringeal
a. Kongesti nasal
b. Rinorea
c. Epistaksis
d. Sakit kepala
e. Proptosis
f. Iritabilitas
g. Penurunan berat badan
Menurut Santoso dan Krisifu (2004), gejala utama NHL adalah pembesaran
kelenjar yang paling sering dan mudah dideteksi adalah pembesaran kelenjar di daerah
leher. Pada jenis-jenis tipe ganas (prognosis jelek) dan pada penyakit yang sudah dalam
Page 4 of 68

stadium lanjut sering disertai gejala-gejala sistemik yaitu: panas yang tidak jelas
sebabnya, berkeringat malam dan penurunan berat badan sebesar 10% selama 6 bulan.
Kadang-kadang kelenjar terasa nyeri kalau penderita minum alkohol. Hampir semua
sistem dapat diserang penyakit ini, seperti traktus gastrointestinal, traktus respiratorius,
sistem saraf, sistem darah, dan lain-lain.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Cecily Lynn (2009), pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada nonhodgkin limfoma meliputi:
1. Biopsi sumsum tulang untuk mengidentifikasikan sel-sel ganas dengan keterlibatan
sumsum tulang
2. Pungsi lumbal untuk menetapkan adanya sel ganas dalam sistem saraf pusat (SSP)
3. Hitung darah lengkap diagnostic untuk disfungsi sumsum tulang, dapat
memperlihatkan peningkatan kadar hemoglobin, hematrokit, dan hitung trombosit.
4. Uji fungsi hati dan ginjal untuk nilai uji fungsi hati dapat meningkat jika hepar
terkena, nilai uji fungsi ginjal dapat meningkat jika ginjal terkena.
5. Kadar dehidrogenase laktat meningkat akibat lisis tumor
6. Kadar asam urat serum meningkat akibat beban sel tumor
7. Virus Epstein Barr hasil positif telah dikaitkan dengan NHL
8. Pemindaian tulang
9. Radiografi dada
10. CT dan MRI

F. PENATALAKSANAAN
Menurut Elizabeth (2009), penatalaksanaan pada limfoma non-Hodgkin yaitu:
1. Kemoterapi yang agresif digunakan untuk penyakit tahap lanjut. Penyakit yang difus
biasanya memerlukan terapi yang lebih agresif.
2. Kombinasi obat yang diketahui sebagai CHOP (siklofosmid, doksorubisin,
vonkristin, dan prednisone) ditambah terapi radioterapi adjunvant te;ah digunakan.
Untuk klien berusia kurang dari 61 tahun yang menderita limfoma sel B luas yang
terlokalisasi, regimen intensif dengan kombinasi obat lainnya. ACVBP (doksorubisin,
siklofosmid, vindesin, bleomisin, prednisone), tampak kuat dari CHOP.
3. Kemoterapi konservasif mungkin digunakan untuk pertumbuhan limfoma yang
lambat dan untuk terapi paliatif.
4. Radioterapi juga digunakan dan pembedahan untuk mengangkat tumor yang
berukuran besar.
5. Transplantasi sumsum tulang mungkin dilakukan.
Sedangkan menurut Santoso dan Krisifu (2004), penatalaksanaan Hodgkin
menurut klasifikasi keganasan yaitu:
1. Derajat Keganasan Rendah (DRK)/indolen
Page 5 of 68

a. Kemoterapi: obat tunggal atau ganda (per oral), jika dianggap perlu: COP
(Cyclophosphamide, Oncovin, dan Prednisone)
b. Radioterapi : LNH sangat radiosensitive. Radioterapi ini dapat dilakukan untuk
local dan paliatif. Radioterapi: Low Dose TOI + Involved Field Radiotherapy
saja.
2. Derajat Keganasan Menengah (DKM)/agresif limfoma
a. Stadium I: kemoterapi (CHOP/CHVMP/BU)

radioterapi.

CHOP

(Cyclophosphamide, Hydroxydouhomycin, Oncovin, Prednisone)


b. Stadium II-IV: kemoterapi parenteral kombinasi, radioterapi berperan untuk tujun
paliasi.
3. Derajat Keganasan Tinggi (DKT)
DKT limfoblastik (LNH-Limfoblastik)
a. Selalu diberikan pengobatan seperti Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
b. Re-evaluasi hasil pengobatan dilakukan pada:
1). Setelah siklus kemoterapi ke-empat
2). Setelah siklus pengobatan lengkap
G. KOMPLIKASI
Menurut Cecily Lynn (2009), komplikasi utama dari non-hodgkin limfoma adalah
sindrom lisis tumor (sebagai akibat pengobatan)
1. Hiperurisemia
2. Hiperkalemia
3. Hiperfosfatemia
4. Hipokalsemia
H. PENGKAJIAN
1.

Aktifitas/istirahat
Kelelahan, kelemahan atau malaise umum
Kehilangan produktifitas dan penurunan toleransi latihan.
Kebutuhan tidur dan istirahat lebih banyak.
Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban dan tanda lain yang menunjukkan kelelahan.

2.

Sirkulasi

Palpitasi, angina (nyeri dada).

Takikardia, disritmia.

Sianosis wajah dan leher.

Ikterus sklera dan ikterik umum.

Pucat (anemia), diaforesis (keringat malam).


Page 6 of 68

3.

Pernafasan

Dispnea saat kerja atau istirahat: nyeri dada.

Takikardia.

Batuk kering non produktif.

Tanda distress pernafasan seperti peningkatan frekuensi


pernafasan dan kedala-man, penggunaan otot bantu, stridor dan sianosis.

4.

Neuro Sensori

Nyeri saraf (neuralgia).

Kelemahan otot, parestesia.

Status mental: letargi, menarik diri, kurang minat umum


terhadap sekitar.

Paraplegia.

5.

Integritas Ego

Faktor stress.

Takut/ansietas.

Masalah finansial.

Status hubungan.

Perilaku, seperti: marah, menarik diri dan pasif.

6.

Eliminasi

Perubahan karakteristik urine dan faeces.

Obstruksi usus.

Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan pembesaran


pada palpasi (hepatomegali).

Anuria, urine gelap/pekat.

Disfungsi usus dan kandung kemih.

7.

Makanan dan Cairan

Anoreksia.

Disfagia.

Penurunan BB.

Pembengkakkan wajah, leher, rahang atau tangan


kanan.
Page 7 of 68

Edema ekstremitas bawah.

Asites.

8.

Nyeri/Kenyamanan.

Nyeri tekan pada nodus limfa yang terkena.

Nyeri punggung dan tulang.

Nyeri pada area yang terkena setelah minum alkohol.

9.

Keamanan

10.

Resiko infeksi.
Seksualitas.

Fertilitas dan kehamilan akibat pengaruh pengobatan.

Penurunan libido.

11.

Penyuluhan/Pembelajaran

Faktor resiko keluarga.

Pekerjaan.

Perawatan dan pengobatan, pemulangan

Page 8 of 68

I.

PATHWAY (Crowlin, 2009)

Page 9 of 68

DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Hipertermi berhubungan dengan tak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap
inflamasi.
2. Nyeri berhubungan dengan interupsi sel saraf.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
kurang, meningkatnya kebutuhan metabolik, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
4. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi,
kelelahan.
5. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis,
pengobatan dan perawatan.
Page 10 of 68

J.

INTERVENSI

No

Diagnosa Keperawatan

1.

Hipertermi berhubungan

INTERVESI
Tujuan dan Kriteria Hasil
NOC :

dengan tak efektifnya

Thermoregulasi

termoregulasi sekunder

Tindakan
Treatment demam
1. Monitor suhu

Suhu tubuh dalam

rentang normal
Nadi dan RR dalam

mungkin
2. Monitor warna

rentang normal
Tidak ada perubahan

dan duhu kulit


3. Monitor intake

warna kulit dan tidak ada


pusing

sesering

dan output
cairan
4. Kompres klien
pada lipatan
paha dan
aksila
5. Berikan
pengobatan
untuk
mencegah
menggigil
Regulasi suhu
6. Monitor TD,
nada, RR
7. Monitor tandatanda
hipertermi
8. Ajarkan
indikasi dari
hipertermi dan
penanganan
yang
diperlukan
Monitor vital sign
9. Monitor TD,
Page 11 of 68

nadi, RR
sebelum dan
sesudah
aktivitas
10. Monitor suhu,
warna dan
kelembaban
kulit
11. Monitor
sianosis perifer
2.

Nyeri berhubungan

NOC :

NIC :

dengan interupsi sel saraf

Tingkat nyeri

Manajemen nyeri

Kontrol nyeri
Tingkat kenyamanan

1. Lakukan
pengkajian
nyeri secara

Kriteria hasil :

Mampu mengontrol nyeri

termasuk

(tahu penyebab nyeri,

lokasi,

mampu menggunakan

karakteristik,

teknik farmakologi untuk

durasi,

mengurangi nyeri,

frekuensi,

mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri

kualitas dan

bekrurang dengan
menggunakan

manajememn nyeri
Mampu mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda

komprehensif

factor
presipitasi
2. Evaluasi
pengalaman
nyeri masa
lampau
3. Bantu klien

nyeri)
Menyatakan rasa nyaman

dan keluarga

setelah nyeri berkurang

menemukan

untuk
dukungan
4. Control
lingkungan
Page 12 of 68

yang dapat
mempengaruhi
nyeri seperti
suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan
5. Ajarkan
tentang teknik
nofarmakologi
untuk
mengurangi
nyeri
6. Berikan
analgetik
untuk
mengurangi
nyeri
7. Monitor
penerimaan
klien tentang
manajemen
nyeri
8. Tingkatkan
istirahat klien
9. Kolaborasi
dengan dokter
saat ada
keluhan dan
tindakan nyeri
tidak berhasil
3.

Ketidakseimbangan

NOC :

NIC :

nutrisi kurang dari

Status nutrisi

Manajemen nutrisi

kebutuhan tubuh

Status nutrisi : intak manakan

berhubungan dengan

dan minuman

1. Kolaborasi
dengan ahli
Page 13 of 68

intake yang kurang,

Control berat badan

meningkatnya kebutuhan
metabolic, dan
menurunnya absorbsi zat

gizi untuk
menentukan

Kriteria hasil :

gizi

Adanya peningkatan

dan nutrisi

berat badan sesuai

yang

dengan tujuan

dibutuhkan

Berat badan ideal sesuai

klien

dengan tinggi badan

jumlah kalori

2. Monitor

Mampu mengidentifikasi

jumlah nutrisi

kebutuhan nutrisi

dan kandungan

Tidak ada tanda-tanda

kalori yang

malnutrisi

klien konsumsi

Menunjukkan

3. Berikan

peningkatan fungsi

informasi

pengecapan dari menelan

tentang

Tidak terjadi penurunan

kebutuhan

berat badan yang berarti

nutrisi
Monitor nutrisi
4. Berat badan
klien dalam
batas normal
5. Monitor
adanya
penurunan
berat badan
6. Monitor
aktivitas klien
7. Monitor mual
dan muntah
8. Monitor turgor
kulit
9. Monitor kalori
dan intake
Page 14 of 68

nutrisi
4.

Intoleransi aktivitas

NOC :

NIC :

berhubungan dengan

Konservasi energy

kelemahan, pertukaran

Intoleransi aktivitas

1. Kaji adanya
sesak nafas

oksigen, malnutrisi,
kelelahan

dan nyeri
Kriteria hasil :

Tidak ada keluhan saat


melakukan aktivitas

setelah
aktivitas
2. Tingkatkan

Tidak ada sianosis dan

level aktivitas

akral dingin saat

klien sesuai

mobilitas

kondisi

Tidak ada perubahan

3. Ciptakan

tanda-tanda vital saat

lingkungan

mobilitas

yang tenang da

Mampu aktivitas secara

aman selama

bertahap

aktivitas
4. Edukasi
tentang level
aktivitas yang
boleh
dilakukan
klien
5. Monitor
adanya
kecemasan
6. Monitor intake
nutrisi sebagai
sumber energy
7. Kaji
pengetahuan
keluarga
tentang
kelelahan

5.

Ansietas berhubungan

NOC :

NIC :
Page 15 of 68

dengan kurang

Kontrol kecemasan

pengetahuan tentang

Tingkat kecemasan

penyakit, prognosis,

Koping

1. Gunakan
pendekatan

pengobatan dan
perawatan

Penurunan kecemasan

yang
Kriteria hasil :

Klien mampu

2. Nyatakan

mengidentifikasi dan

dengan jelas

mengungkapkan gejala

harapan

cemas

terhadap

Mengidentifikasi,

perilaku klien

mengungkapkan dan

menenangkan

3. Jelaskan

menunjukkan tehnik

semua

untuk mengontrol cemas

prosedur dan

Vital sign dalam batas

apa yang

normal

dirasakan

Postur tubuh, ekspresi

selam prosedur

wajah, dan tingkat

4. Temani klien

aktivitas menunjukkan

untuk

berkurangnya kecemasan

memberikan
keamanan dan
mengurangi
ketakutan
5. Dorong
keluarga untuk
selalu
menemani
klien
6. Bantu klien
mengenal
situasi yang
menimbulkan
kecemasan
7. Berikan obat
Page 16 of 68

untuk
mengurangi
kecemasan
anti-depresan

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN
I.

PENGKAJIAN
Identitas Klien/Pasien
a.
Tanggal pengkajian : 21 April 2014 Jam : 08.00 WIB
b.
Tanggal masuk
: 16 April 2014 Jam : 16.30 WIB
c.
Ruangan
: Melati I/2H
d.
Identitas

Nama
: Ny. T

No. Rekam medik


: 01-25-05-41

Umur
: 84 Tahun

Jenis kelamin
: Perempuan

Agama
: Islam

Pendidikan
: SD

Pekerjaan
: Petani

Suku
: Jawa

Bahasa
: Jawa

Alamat
: Madiun

Pembiayaan kesehatan: BPJS


1.
a.
b.
c.
d.
e.

Identitas Penanggung Jawab


Nama
: Tn. S
Umur
: 33 Tahun
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Wiraswasta
Suku
: Jawa
Page 17 of 68

f. Bahasa
g. Alamat
h. No. telepon
2.

: Jawa
: Madiun, Jawa Timur
: ----

Keluhan utama
:
Klien mengeluh Nyeri
P : Luka post operasi
Q : Nyeri seperti tertusuk jarum
R : Nyeri kepala bagian kanan menjalar ke leher hingga dada kanan
S : skala nyeri 6 dari 10
T : terus menerus

3.

Riwayat penyakit sekarang :


Klien mengatakan 3 minggu yang lalu, klien menyadari ada benjolan di pelilpis kanan dekat mata.
Klien hanya mengira benjolan dari bekas gigitan semut. Akan tetapi 2 minggu benjolan tidak
kempes dan bahkan semakin membesar. Akhirnya klien memeriksakan ke RSUD Madiun. Di
RSUD Madiun klien menjalani operasi dan hanya menginap sehari semalam. Setelah 5 hari klien
merasakan nyeri dan panas, dan terlihat bengkak di dekat luka operasi. Klien membawanya kembali
ke RSUD Madiun, dari pihak rumah sakit klien dirujuk ke RSUD Dr. Moewadi pada tanggal 16
April 2014. Klien dirawat di ruang Melati I. Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 21 April 2014,
keadaan umum klien baik, kesadaran komposmentis dengan TD : 10/80 mmHg, Nadi : 84 x/ menit,
RR : 20 x/menit, terlihat luka bekas operasi di pelipis kanan, klien mendapat terapi cairan infus
RL : 20tpm di tangan kiri klien.

4.

Riwayat penyakit dahulu :


Klien sebelumnya tidak pernah dirawat dirumah sakit, klien mengatakan tidak pernah mempunyai
riwayat penyakit seperti hipertensi atau darah tinggi, kencing manis, atau penyakit lainnya. Klien
tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.

5. Riwayat penyakit dalam keluarga :


Klien mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang memiliki atau menderita penyakit yang sama
dengan klien. Menurut klien dan keluarga mereka tidak memiliki riwayat penyakit keturunan seperti
jantung, hipertensi, DM atau penyait menular lainnya seperti TBC, hepatitis yang menyebabkan
masuk rumah sakit untuk dilakukan perawatan yang lebih intensif. Penyakit yang pernah diderita
hanya batuk, pilek, panas dan hanya berobat ke dokter atau membeli obat kemudian klien dan
keluarga sembuh.
Genogram

Page 18 of 68

Keterangan gambar :
: Laki-laki
: Klien
: Perempuan

6.

: Tinggal dalam satu rumah


: Meninggal

Pemeriksaan Fisik (Head to toe) :


a) Keadaan Umum
Kesadaran
: Composmentis E4M6V5
Antropometri
: TB : 149 cm BB : 44 kg
Tanda-tanda vital
:
No

Tanggal

1.

Pengkajian
21 april 2014
Pagi : 11.30 WIB

Tekanan

Nadi

Darah
110/90

Respiration

Suhu

Rate
84 x/menit

20 x/menit

36,3 C

78 x/menit

20 x/menit

36,5 C

88 x/menit

20 x/menit

36,6 C

80 x/menit

20 x/menit

36,4 C

mmHg
Siang : 16.00 WIB

110/80
mmHg

2.

Hari ke-2
22 April 2014
Pagi : 10.30 WIB

120/80
mmHg

Malam : 04.45 WIB

110/80

Page 19 of 68

mmHg
3.

Hari ke-3
23 April 2014
Pagi : 11.30 WIB

110/70

80 x/menit

20 x/menit

36,4 C

80 x/menit

20 x/menit

36,2 C

88 x/menit

20 x/menit

36,4 C

80 x/menit

20 x/menit

36,5 C

80 x/menit

20 x/menit

36,6 C

80 x/menit

20 x/menit

36,2 C

84 x/menit

20 x/menit

36,4 C

mmHg
4.

Hari ke-4
24 April 2014
Pagi : 10.30 WIB

110/70
mmHg

Siang : 16.00 WIB

120/80
mmHg

5.

Hari ke-5
25 April 2014
Pagi : 10.30 WIB

110/80
mmHg

Siang : 14.30 WIB

110/80
mmHg

Malam : 05.00 WIB


110/70
mmHg
6.

Hari ke-6
26 April 2014
Pagi : 12.00 WIB

110/80
mmHg

Grafik Vital Sign

Page 20 of 68

b) Kepala
Inspeksi

Bentuk kepala mesochepal, rambut panjang, bersih, putih beruban.

Palpasi

Penyebaran merata dan tidak terdapat lesi


Tidak terdapat massa atau benjolan, ada nyeri tekan di luka post operasi
dengan skala 6 dari 10

c) Mata
Inspeksi

Kedua mata simetris, konjungtiva tidak anemis, sclera non-ikterik, reaksi


pupil terhadap cahaya positive atau isokor, mata kanan dan kiri isokor,
diameter pupil 3 mm, kelopak mata tampak bengkak dan kemerahan,

Palpasi

penglihatan kabur, penyebaran bulu mata merata


Terdapat nyeri tekan pada daerah kelopak mata kanan

d) Hidung
Inspeksi

Simetris antara lubang kanan dan kiri, tidak nampak adanya lesi, jejas,
secret, warna kulit coklat merata, dapat membedakan bau, tidak

Palpasi

menggunakan alat bantu pernapasan


Tidak terdapat benjolan, tidak ada nyeri tekan

e) Mulut
Inspeksi

Mukosa bibir lembab, tidak ada lesi, tidak terdapat stomatitis, tidak ada

Palpasi

radang, gusi tidak berdarah, tidak ada pembengkakan tonsil


Tidak nampak adanya benjolan, tidak ada nyeri tekan

f) Telinga
Inspeksi

Simetris antara kanan dan kiri, tidak ada serumen, tidak ada lesi,

Palpasi

pendengaran baik
Daun telinga elastis, tidak ada massa dan nyeri

g) Leher
Page 21 of 68

Inspeksi

Terlihat adanya pembesaran kelenjar limpa, tidak ada lesi, jaringan parut,
proses menelan baik, tidak ada peningkatan vena jugularis, denyut nadi

Palpasi

karotis teraba
Tidak ada benjolan dan nyeri tekan

h) Paru-paru
Inspeksi

Pengembangan dada kanan dan kiri sama dan simetris, penggunaan otot

Palpasi

pernapasan intercostae, bentuk dada simetris


Taktil fremitus antara kanan dan kiri sama, tidak ada fraktur intercostal

Perkusi
Auskultasi

dan flail chest


Sonor seluruh lapang paru
Suara napas vesikuler, tidak ada suara ronchi ,maupun wheezing pada
paru kanan dan kiri

i) Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Tidak terlihat adanya ictus cordis, pulsasi jantung tidak tampak


Ictus cordis teraba pada IC V mid clavikula sinistra
Pekak
Bunyi lup dup dan tidak ada bunyi tambahan seperti galoop atau murmur

j) Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

Datar, tidak ada lesi, warna kulit sawo matang merata


Bising usus 5x/menit
Timpani
Tidak ada nyeri tekan, terdapat distensi abdomen

k) Genetalia
Jenis kelamin perempuan, tidak ada kelainan, tidak terpasang DC, tidak Nampak
adanya hemoroid dan keputihan.

l) Ekstremitas
No.
1.

2.

Ektremitas
Pergerakan/movement

Akral

Atas

Kanan
Aktif

Kiri
Aktif

Bawah

Aktif

Aktif

Atas
Bawah

Dingin
Dingin

Dingin
Dingin
Page 22 of 68

3.

Oedem

4.

Nyeri

5.

Kekuatan otot

6.

Terpasang infus

7.

Capillary refill

Atas
Bawah
Atas
Bawah
Atas
Bawah
Atas

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada nyeri
Tidak ada nyeri
5
5
Infuse RL 20

Bawah

tpm
infuse
Tidak terpasang Tidak terpasang

Atas

Infuse
infuse
Kurang dari 3 Kurang dari 3

Bawah

detik
detik
Kurang dari 3 Kurang dari 3
detik

7.

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada nyeri
Tidak ada nyeri
5
5
Tidak terpasang

detik

Pengkajian Fungsional
A. Oksigenasi
a. Sebelum sakit :
Klien tidak merasa sesak napas, klien bernapas tanpa menggunakan alat bantu apapun.
b. Selama sakit :
Klien bernapas tanpa alat bantu, RR : 20 x/menit, tidak sesak napas, tidak ada
pernapasan cuping hidung, tidak nampak adanya sianosis.
B. Nutrisi dan Cairan
a. Sebelum sakit :
Klien makan sehari 3 kali, 1 porsi, komposisi makanan adalah nasi, sayur. Tidak
ada pantangan terhadap jenis makanan dan alergi makanan. Minum 6-7 gelas
dalam sehari berupa air putih dan terkadang teh.
BB tubuh : 44 kg
b. Selama sakit :
Klien makan sehari 3 kali, 1 porsi dengan komposisi makanan lunak/bubur, lauk,
dan sayur. Tidak ada keluhan muntah, mual, klien minum 5-6 gelas/hari berupa
air putih dan teh.
BB tubuh : 42 kg
C. Eliminasi
a.
Sebelum sakit :
Klien BAB 1x/hari, tidak ada hambatan dalam mengeluarkan feses, feses
lunak. BAK 3-4 x/hari, jumlah tidak terobservasi, tidak ada hambatan proses
BAK.
b.

Selama sakit :
Klien belum BAB sejak masuk rumah sakit, BAK 4-5 x/hari, warna kuning
jernih dan tidak ada hambatan pada proses BAK.
Page 23 of 68

D. Termoregulasi
a.
Sebelum sakit :
Klien tidak mengalami demam
b.
Selama sakit :
Suhu klien dalam rentang normal, 36,3 C. Teraba akral dingin
E. Aktifitas Latihan/Mobilisasi
a.
Sebelum sakit :
Tidak terdapat gangguan sistem pergerakan tubuh, klien aktif dan dapat
beraktifitas secara mandiri.
b.

Selama sakit :
Klien lebih banyak melakukan aktivitasnya di atas bed rumah sakit dan
sesekali turun dari bed untuk buang air kecil , tidak ada gangguan dan masalah
pada sistem pergerakan, tidak ada parase, paralise dan oedem.

F. Seksualitas
a.
Sebelum sakit :
Klien sudah menikah dengan suaminya sekarang selama 68 tahun dan telah
dikaruniai 4 orang anak. Klien tinggal satu rumah dengan suaminya.
b.
Selama sakit :
Klien dan suaminya sekarang telah menikah selama 68 tahun dan telah
dikaruniai 4 orang anak. Selama sakit suami klien tidak menemani dirinya.
G. Psikososial (Stress, Koping, dan Konsep Diri)
- Stress
:
Klien mengeluh cemas dengan penyakitnya. Klien takut kondisinya semakin parah.
- Koping
:
Klien memasrahkan sakitnya dan selalu berdoa pada Tuhan YME. Klien juga
banyak cerita keluhan kepada keluarganya.
- Harga diri :
Klien mengatakan tetap percaya diri dan tidak terganggu dengan perubahan yang
dialami.
- Peran diri
:
Klien menyadari perannya sebagai seorang ibu dan nenek.
- Citra diri
:
Klien mengatakan tidak terganggu adanya luka bekas operasi.
- Ideal diri
:
Klien ingin cepat sembuh dari penyakitnya dan dapat beraktivitas seperti semula.
H. Rasa Aman dan Nyaman
Klien mengeluh nyeri
P : Luka post operasi
Q : nyeri seperti tertusuk jarum
R : nyeri kepala bagian kanan menjalar ke leher hingga dada
S : skala nyeri 6 dari 10
Page 24 of 68

T : terus menerus merasakan nyeri


I. Spiritual
a. Sebelum sakit :
Klien mengatakan beragama Islam, rajin menjalankan ibadah.
b. Selama sakit :
Di rumah sakit klien rajin menjalankan ibadah sholat di kamarnya dan berdoa
mengharapkan kesembuhannya. Klein mengatakan menerima sakitnya sebagai
cobaan yang diberikan oleh Tuhan dan akan berusaha untuk sembuh.
J. Higiene
a. Sebelum sakit :
Klien mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, keramas 1 kali dalam seminggu
atau bila klien merasa rambutnya kotor, mengganti baju 1 kali dalam sehari,
potong kuku bila kuku panjang.
b. Selama sakit :
Klien mandi atau sibin 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, belum pernah
keramas dan memotong kuku selama di rumah sakit.
K. Istirahat Tidur
a. Sebelum sakit :
Klien sehari semalam tidur selama 6-8 jam. Malam : dari jam 21.00 dan bangun
jam 04.00. Klien tidak terbiasa tidur siang.
b. Selama sakit :
Klien tidur sehari semalam 6-8 jam. Malam : mulai pukul 23.00 sampai 04.00.
siang hari tidur 1-2 jam dari pukul 13.00 sampai 15.00.
L. Aktualisasi Diri
a. Sebelum sakit :
Di usia 84 tahun klien termasuk orang yang aktif dan sering bergaul dengan
orang-orang disekitarnya.
b. Selama sakit :
Klien jarang berinteraksi dengan orang disekitarnya sebab klien lama dirawat di
rumah sakit.
M.Rekreasi
a. Sebelum sakit :
Di waktu luang, klien sering menghabiskan waktunya untuk menonton televisi
bersama keluarga. Klien juga senang sekali berkebun.
b. Selama sakit :
Klien lebih suka dan banyak beraktivitas di tempat tidur ditemani oleh
keluarganya. Selama sakit klien ditemani keluarganya yaitu anak dan menantunya,
sehingga klien merasa senang dan tetap mendapat perhatian dari keluarga.
Page 25 of 68

N. Kebutuhan Belajar
Klien menanyakan tentang penyebab penyakitnya dan apakah bisa sembuh atau tidak.
Klien juga menanyakan tujuan setiap prosedur atau tindakan yang diberikan.

Pemeriksaan Penunjang
Jenis
Pemeriksaan

Kesan
Hasil

Nilai Normal

(meningkat/menurun

Interpretasi

/dll)

Page 26 of 68

Darah Rutin

19/04/2014

Hemoglobin

13,4 g/dl

13.7-17.5 g/dl

Menurun

Anemia

Hematrokit

37%

33-45%

Normal

Leukosit

7.7 ribu/ul

4.5-11.0 ribu/ul

Normal

Trombosit

309 ribu/ul

150-450 ribu/ul

Normal

Eritrosit

4.48 juta/ul

4.5-5.9 juta/ul

Normal

Anemia

MCV

81.8/fL

80-100 fL

Normal

MCH

30.0 pg/sel

28-34 pg/sel

Normal

MCHC

36.6 d/dl

32-36 g/dl

Meningkat

Indikasi sferositosis

RDW

13.8 %

11.6-14.6 %

Normal

HDW

2.9 g/dl

2.2-3.2 g/dl

Normal

MPV

7.0 fl

7.2 11.1 fl

Menurun

Anemia

PDW

38 %

25-65 %

Normal

Eosinofil

2.30 %

0.00-4.00 %

Normal

Basofil

0.30 %

0.00-2.00%

Normal

Netrofil

71.70 %

55.00-80.00 %

Normal

Limfosit

18.80 %

22.00-44.00 %

Menurun

Limfopeni

Monosit

5.20%

0.00-7.00 %

Normal

Laborat

21/04/2014

Normal

Normal

Hemotastis
PT
APTT
INR

13.1 detik
27.2 detik

10.0-15.0 detik
10.0-40.0 detik
-

Page 27 of 68

1.010
Kimia Klinik
Natrium darah
Kalium darah
Calcium ion

21/04/2014
132 mmol/L
3.7 mmol/L

132-146 mmol/L
3.7-5.4 mmol/L

Normal

1.17-1.29 mmol/L

Normal

Menurun

Hipokalsemia

0.95 mmol/L
Haematologi
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit

23/04/2014

10.9-15.5 g/dl

11.2 g/dl

33-45 %

Normal

35 %

4.5-11.0 ribu/ul

Normal

6.0 ribu/ul

150-450 ribu/ul

Normal

249 ribu/ul

4.10-5.10 juta/ul

Normal

Menurun

Anemia

Menurun

Normal

Eritrosit
4.03 juta/ul

Kimia Klinik
23/04/2014

0.6-1.4 mg/dl

0.4 mg/dl

< 50 mg/dl

Creatinin
Ureum
28 mg/dl
Elektrolit
23/04/2014

132-146 mmol/L

132 mmol/L

3.7-5.4 mmol/L

Normal

3.7 mmol/L

1.17-1.29 mmol/L

Normal

Natrium darah
Kalium darah
Calsium ion
0.95 mmol/L

Menurun

Kimia Klinik
24/04/2014
Protein total

Hipokalsemia

6.2-8.1 g/dl

Page 28 of 68

Albumin

6.5 g/dl

3.2-4.6 g/dl

Normal

Globumin

3.8 g/dl

Normal

2.7 g/dl

Pemeriksan tanggal 19 April 2014


Survai tulang tanpa kontras
Kesimpulan : Multiple lesi titik di sistema tulang yang tervisualisasi dan osteodestruksi pedide
VLS dan caput humerus kanan dapat merupakan bone. Metastasis-skoliosis troracalum bolis.
Pemeriksaan tanggal 22 April 2014
USG Abdomen
Kesimpulan : Multiple limfadenopaty para aorta
Hepar/ GB Pankreas/Lien/ Kedua ren/ bladder/uterus tak tampak kelainan.

Page 29 of 68

Terapi
Jenis
Terapi
RL (Ringer

Dosis
20 tpm

Rute
Parenteral

Laktat)

Indikasi dan Cara

Efek

Kerja

samping

Indikasi:
Mengembalikan
keseimbangan

Peran Perawat

Overload

1. Memonitor tetesan

(kelebihan

infuse
2. Memonitor

cairan)

terjadinya emboli

elektroit pada

udara/tromboflebitis,

keadaan dehidrasi

infeksi, inflamasi,

dan syok

maupun hematoma

hipovolemik
Cara kerja:
Larutan ringer
laktat adalah
komposisi elektrolit
dan konsentrasinya
sangat serupa
dengan kandungan
cairan ekstraseluler.
Elektrolit-elektrolit
ini dibutuhkan
untuk
menggantikan
kehilangan cairan
pada dehidrasi dan
syok hipovolemik
termasuk syok
perdarahan
Aminofusin 500ml/hari Parenteral

Indikasi : Nutrisi

Mual,

Evaluasi respon klien

parenteral untuk

muntah

dan monitor efek


Page 30 of 68

pasien dengan

samping penanganan

gangguan fungsi hati


kronik untuk
membantu
mempertahankan
kesadaran.
Cara kerja : BCAA
(valine, leucine,
isoleucine)

memiliki efek
hepatoprotektor dan
meningkatkan
regenerasi sel hati.
LOLA (Lornithine-Laspartate) bekerja

pada siklus urea


untuk
meningkatkan
produksi urea dari
amonia.
Vit B
complex

3x1 tablet

Per oral

Indikasi:
Mencegah dan
mengobati
kekurangan vitamin
B complex
Cara kerja:
Mensuplai

Tinja

Memasukkan obat

berwarna

dengan prinsip tujuh

hitam, sakit

benar, memantau efek

perut,

samping yang

sembelit,

ditimbulkan oleh obat

mual,

kebutuhan vitamin B muntah,


complex untuk

perubahan

metabolisme protein warna urine


dan karbohidrat
dalam tubuh
Page 31 of 68

PCT

500mg
3x1

Per oral

Indikasi:
Sebagai
antipiretik/analgesic,
termasuk bagi klien
yang tidak tahan

Kerusakan

Memasukkan obat

hati (dosis

dengan prinsip tujuh

besar dan

benar, memantau efek

dalam

samping yang

jangka lama) ditimbulkan oleh obat

asetosal. Sebagai
analgesic misalnya
untuk mengurangi
rasa nyeri pada sakit
kepala, sakit gigi,
sakit waktu haid dan
sakit pada otot,
menurunkan demam
pada influenza dan
setelah vaksinasi
Cara kerja:
Menghambat
prostaglandin
(mediator nyeri) di
otak tetapi sedikit
aktivitas sebagai
penghambat
prostaglandin perifer
Medikasi /

Dibilas dengan NaCl 0,9 % 500cc/30 menit


1. Cyclofosfamid 650mg/m2 (715 mg) dilarutkan dalam aquades secukupnya.
Kemoterapi
2. Doxorubicin 40 mg/m2 (44 mg = 40 mg) dalam D5% = 100 cc infus cepat 1 jam.
Dibilas dengan D5% atau RL 100cc/30 menit
3. Vincristin 14 mg/m2 (1,54 mg = 1,5 mg) dalam D5% 100cc infus cepat 1 jam.
4. Prednison 1x20 tab/hari untuk 5 hari berturut-turut

Page 32 of 68

2. Analisa Data
NO

Data

Masalah

Etiologi

Page 33 of 68

1.

DS :
-

DO :
-

Nyeri akut

Interupsi sel saraf

Klien mengatakan
merasa nyeri di bagian
kanan dan menjalar ke
leher hingga dada
kanan.
P : Luka post operasi
Q : Nyeri seperti
tertusuk jarum
R : Nyeri kepala bagian
kanan menjalar ke
leher hingga dada
S : Skala nyeri 6 dari
10
T : Terus menerus
merasakan nyeri
Klien tampak
memegangi daerah
yang terasa nyeri
Ekspresi wajah klien
terlihat meringis
menahan nyeri
Skala nyeri 6

2.

DS :
- Klien mengatakan
merasa nyeri dan panas
pada daerah luka post
operasi
DO :
- Tampak luka post
operasi di pelipis kanan
klien
- Klien tampak
mengeluhkan nyeri
- Tampak luka bentuknya
bengkak di daerah
kelopak mata kanan
dekat luka operasi,
kemerahan dan tampak
berair
- Limfosit klien 18.8 %

3.

DS :
-

Resiko infeksi

Ansietas
Klien mengatakan

Prosedur infasif

Defisit pengetahuan tentang


penyakit dan proses penyakit
Page 34 of 68

DO :
-

4.

DS :
-

DO :
-

khawatir dengan
munculnya tiba-tiba
benjolan di dekat mata/
pelipis bagian kanan.
Klien mengatakan
khawatir matanya
bengkak dan takut bisa
menyebabkan kebutaan
Klien menanyakan
apakah penyakitnya
bisa segera
disembuhkan dan
bagaimana prosedur
pengobatannya.
Wajah klien tampak
sedikit gelisah
Klien tampak
menanyakan tentang
penyakit yang
dideritanya.
PA = LNH Diffuse Lage
Cell
Konstipasi

Kurangnya asupan serat

Klien mengatakan
belum BAB sejak awal
masuk rumah sakit
Klien mengatakan bisa
BAB 1x/hari di rumah
Klien mengatakan
selama dirawat di
rumah sakit tidak
pernah mengkonsumsi
sayur.
Klien mengatakan tidak
makan buah-buahan
selama di rawat.
Klien mengatakan
selama sakit klien
makan bubur, laukpauk dan sayur dan
tidak dihabiskan
Perut klien teraba keras
di kuadran kiri bawah.
Bising usus <5 x/menit

Page 35 of 68

3.

Diagnosa Keperawatan
Jam/Tanggal
No.
Dx. Keperawatan
ditemukan
1.
08.00 WIB
Nyeri akut berhubungan
21 April 2014
interupsi sel saraf

2.

Jam/Tanggal
Teratasi
dengan 26 April 2014
07.00 WIB

08.00 wib
21 April 2014

Resiko infeksi berhubungan dengan 23 April 2014


prosedur invasif
14.00 WIB

08.00 wib
21 April 2014

Ansietas berhubungan dengan defisit 22 April


pengetahuan tentang penyakit dan 14.00 WIB
prosedur pengobatan

08.00 wib
21 April 2014

Konstipasi
berhubungan
kurangnya asupan serat

TTD
Andrian

Risqi

3.

4.

2014 Risqi

dengan 26 April 2014


14.00 WIB

Putri

Page 36 of 68

4.

Perencanaan
NO TGL DX KEP
/JAM
1. 08.00 Nyeri akut
WIB berhubung
21/4/ an dengan
2014 interupsi
sel saraf

INTERVENSI
TINDAKAN
RASIONALSASI TTD
1. Kaji nyeri
1. Mengetahui
Risqi
(PQRST)
tingkatan nyeri
dan intervensi
yang
akan
dilakukan
2. Monitor tanda
2. Mengetahui
vital dan skala
tingkat
nyeri secara
perkembangan
teratur
kondisi klien.
3. Ajarkan teknik
3. Untuk
relaksasi napas
mengurangi
dalam
sensasi
nyeri
pada klien.

TUJUAN
Setelah dilakukan
asuhan
keperawatan
selama 6x24 jam,
masalah nyeri
klien dapat teratasi
dengan kriteria
hasil :
1. Tidak ada
keluhan
nyeri
2. Ekspresi
wajah
rileks
3. TD pada
4. Tingkatkan
4. Istirahat dapat
rentang
istirahat
membantu
normal
proses
100/70
penyembuhan
120/80
dan
mmHg
mempertahanka
4. Skala nyeri
n kondisi klien.
klien pada 5. Minimalkan
5. Untuk
rentang 0-3
stimuli yang
mencegah nyeri
dari rentang
menyebabkan
klien semakin
0-10
peningkatan nyeri
bertambah.
5. HR dalam 6. Ciptakan
6. Lingkungan
rentang
lingkungan yang
yang nyaman
normal 60nyaman untuk
membuat klien
100 x/menit
klien
lebih rileks.
Page 37 of 68

2. 08.00
WIB
21/4/
2014

Resiko
infeksi
berhubung
an dengan
tindakan
invasive

Setelah dilakukan
asuhan
keperawatan
selama 3x24 jam
masalah infeksi
klien dapat teratasi
dengan kriteria
hasil :
1. Klien bebas
dari tanda
dan gejala
infeksi
2. Jumlah
leukosit
dalam batas
normal
(500010.000)
3. Suhu dalam
rentang
normal
36,5 C
37, 5 C
4. HR dalam
rentang
normal 60100 x/menit
5. Limfosit
dalam
rentang
normal 2244 %

3. 08.00
WIB
21/4/
2014

Ansietas
berhubung
an dengan
pengetahu
an tentang
penyakit
dan
prosedur
pengobata
n

Setelah dilakukan
asuhan
keperawatan
selama 2x24 jam,
masalah ansietas
klien dapat teratasi
dengan kriteria
hasil :
1. Klien
mempunyai
/
mengetahui

7. Kolaborasi
pemberian
analgesik
1. Dorong masukan 1. Nutrisi
yang Risqi
nutrisi yang cukup
cukup
dapat
meningkatkan
kondisi tubuh.
2. Dorong masukan 2. Cairan
dapat
cairan yang cukup
menjaga
kondisi tubuh
3. Dorong klien untuk dan mencegah
istirahat
dehidrasi.
3. Istirahat dapat
membantu
mempercepat
penyembuhan
penyakit
4. Kolaborasi dengan 4. Antibiotik
pemberian
mempercepat
antibiotik sesuai
penyembuhan
resep
penyakit
5. Monitor leukosit 5. Kadar leukosit
klien
tinggi
mengindikasika
n
adanya
infeksi
6. Monitor tanda dan 6. Untuk
gejala infeksi
mengetahui
perkembangan
pada luka klien
dan mencegah
infeksi semakin
bertambah
7. Ajarkan keluarga 7. Agar
infeksi
dan klien cara
klien
tidak
menghindari
semakin
infeksi
bertambah
parah
1. Identifikasi tingkat 1. Untuk
Risqi
kecemasan
mengetahui
tingkat
kecemasan
klien
dan
menentukan
intervensi yang
sesuai.
2. Dengarkan dengan 2. Mendengarkan
penuh perhatian
dengan penuh
kecemasan klien
perhatian dapat
menumbuhkan
Page 38 of 68

koping
untuk
cemasnya
2. Klien tidak
mengataka 3. Dorong klien untuk 3.
n cemas
mengungkapkan
3. Tanda vital
perasaan, ketakutan
dalam batas
dan persepsi
normal

hubungan
saling percaya
antara klien dan
perawat.
Agar
klien
merasa
lebih
dapat
mengekplorasi
perasaan yang
dialami.
4. Beri penjelasan
4. Agar
klien
tentang prosedur
mengetahui
tindakan dan
mengenai
penjelasan tentang
tindakan yang
penyakit kepada
akan dilakukan
klien
kepadanya dan
tidak
terlalu
kebingungan
terhadap
penyakitnya.
5. Temani klien untuk 5. Menemani
memberikan
klien
dapat
keamanan dan
memberikan
mengurangi
keamanan dan
ketakutan
mengurangi
kecemasan.
6. Dorong keluarga 6. Dengan adanya
untuk selalu
keluarga di sisi
menemani klien
klien
dapat
menumbuhkan
rasa tenang dan
nyaman pada
diri
klien
sehingga
kecemasan
klien
dapat
menurun.

4. 08.00
WIB
21/4/
2014

Konstipasi
berhubung
an dengan
kurangnya
asupan
serat

Setelah dilakukan 1. Monitor tanda dan 1. Untuk


Risqi
asuhan
gejala konstipasi
menentukan
keperawatan
derajat
selama 6x24 jam,
konstipasi.
masalah konstipasi 2. Monitor bising
2. Untuk
klien dapat teratasi
usus
memantau
dengan kriteria
perkembangan
hasil :
dan
1. BAB tiap
peningkatan
hari 1-3
keadaan klien.
kali
3. Monitor feses dari 3. Mengetahui
2. Feses lunak
frekuensi,
kondisi
dan
Page 39 of 68

3. Bising usus
konsistensi dan
keadaan
5-30
volume
pengeluaran
x/menit
feses klien
4. Bebas dari 4. Identifikasi faktor 4. Untuk
ketidaknya
penyebab dari
menentukan
manan
konstipasi
intervensi yang
konstipasi
sesuai
pada
klien
5. Dukung intake
5. Intake
cairan
cairan
yang adekuat
dapat
mengurangi
konstipasi
dengan
mengencerkan
feses
6. Edukasi klien dan 6. Serat
dapat
keluarga untuk
memperlancar
memperbanyak
BAB
makan serat
7. Kolaborasi
7. Laktasif dapat
pemberian laktasif
meningkatkan
bakteri
baik
dalam
usus
sehingga BAB
klien
lebih
lancar.

Page 40 of 68

5.

Implementasi
NO DX.KEP TGL /JAM
IMPLEMENTASI
1,2,3,4 21 April 2014 Mengkaji keadaan klien dan
1.
keluhan klien
08.00 WIB

RESPON
TTD
S : - Klien mengatakan Risqi
merasa nyeri dan
panas pada kepala
bagian kanan dan
menjalar keleher
hingga dada kanan
- Klien mengatakan
tidak tahu
penyebab
penyakitnya dan
matanya itu
bengkak
- Klien mengatakan
belum BAB selama
dirumah sakit
O : - Skala nyeri 6
- Kelopak mata
kanan klien
bengkak dan berair
- Bising usus
5x/menit

08.15 WIB

Menganjurkan klien untuk


minum banyak dan
mengonsumsi makanan
berserat

S : Klien menanyakan
Risqi
makanan apa yang
banyak mengandung
serat
O : Klien tampak tidak
pernah menghabiskan
sayur dan jarang
makan buah selama di
rumah sakit

08.20 WIB

Mengkaji tingkat kecemasan


dan perasan klien

S : Klien mengatakan
Risqi
tidak pernah sakit
seperti ini sebelumnya
dan merasa khawatir
jika mengakibatkan
kebutaan
O : Klien tampak gelisah
dan mengeluh

08.25 WIB

Memberikan penjelasan
tentang penyakit klien dan

S : Klien mengatakan
mulai mengerti
Page 41 of 68

Risqi

memberikan saran

tentang penyakitnya
O : Klien mulai tampak
tenang dan menerima
kondisinya

08.40 WIB

Memberikan paracetamol (500 S : Klien mengatakan


mg) dan memberikan B
akan segera minum
complex 1 tablet (5 mg)
obatnya
O : tidak ada alergi
terhadap obat. Tidak
ada efek samping
yang dirasakan klien.

Risqi

09.20 WIB

Melakukan ganti balutan untuk S : Klien mengatakan


luka post-operasi dan
meras nyeri
manganjurkan klien untuk
bertambah ketika
napas dalam
ditekan
O : Klien terlihat
meringis menahan
sakit

Risqi

11.30 WIB

Mengkaji tanda-tanda vital

S : Klien mengatakan
tidak sesak napas
O : TD = 110/90 mmHg
S = 36,3 C, RR = 20
x/menit, N = 84
x/menit

Risqi

13.00 WIB

Menganjurkan klien untuk


istirahat dan memberikan
lingkungan yang nyaman
untuk klien

S : Klien mengatakan
Risqi
akan segera istirahat
dan tidur
O : Klien tampak nyaman
jika dilingkungan
sunyi

14.20 WIB

Mengkaji keadaan klien dan


keluhan klien

S : Klien mengatakan
masih merasa nyeri
pada bagian kepala
sebela kanan
O : Klien terlihat
meringis

14.40 WIB

Mengkaji tingkat kecemasan


klien

S : Klien mengatakan
Andrian
kapan saya bisa
sembuh dan pulang ke
rumah
O : Klien tampak gelisah
dan khawatir

16.00 WIB

Mengukur tanda-tanda vital

S : Klien mengatakan
Page 42 of 68

Andrian

Andrian

2.

klien

tidak sesak
O : RR : 20 x/menit, TD
= 110/80 mmHg, Nadi
= 78 x/menit, Suhu =
36,5 C

16.15 WIB

Memberikan paracetamol 500


mg

S : Klien mengatakan
akan segera minum
obatnya
O : klien terlihat sedang
meminum obatnya

16.30 WIB

Memonitor asupan nutrisi klien S : Klien mengatakan


Andrian
masih merasa mual
saat mau makan
O : Klien makan habis
porsi dari rumah sakit

19.00 WIB

Edukasi kepada keluarga klien S : Keluarga klien


tentang makanan yang kaya
menanyakan buah apa
serat
yang boleh
dikonsumsi dan kaya Andrian
akan serat.
O : Klien terlihat
menyanggupi saran
yang diberikan oleh
perawat

20.00 WIB

Dorong adanya intake cairan


dan infuse

Andrian

S : Klien mengatakan
minum air putih dan
teh
O : infuse RL 20tpm
Memasok intake
cairan pada tubuh
klien.

Andrian

22 April 2014 Mengkaji keadaan klien dan


08.00 WIB
keluhan klien saat ini

S : Klien mengatkan
masih nyeri dan
belum bisa BAB
O : Mata klien masih
tampak bengkak,
kuadran nyeri kiri
bawah perut klien
teraba keras

Risqi

08.30 WIB

S : Klien mengatakan
akan segera
meminum obatnya
O : Tidak ada reaksi
Page 43 of 68

Risqi

Memberikan obat oral B


kompleks 1 tablet (5 mg) dan
cairan parenteral aminoflusion

alergi terhadap obat.


Klien tampak lebih
enakan dan tidak
begitu nyeri.
S : Klien mengatakan
mulai sudah tidak
merasakan khawatir
lagi dan akan segera
konsul kedokter mata
O : Klien sudah tampak
tenang

08.35 WIB

Mengkaji tingkat kecemasan


klien

Risqi

10.00 WIB

Menganjurkan klien untuk


S : Klien mengatakan
minum banyak dan memotivasi
hari menghabiskan
untuk menghabiskan makan
makanannya dan
1porsi
akan memperbanyak
minum
O : Klien menyediakan
buah-buahan untuk
camilan

Risqi

11.00 WIB

Mengkaji tanda-tanda vital

S : Klien mengatakan
tidak demam
O : TD = 120/80 mmHg,
N = 88 x.menit, RR
= 20 x/menit, S =
36,6 C

Risqi

12.00 WIB

Memotivasi klien untuk


banyak istirahat dulu

S : Klien mengatakan di
rumah sakit terbiasa
tidur siang
O : Klien tampak akan
istirahat

Risqi

12.10 WIB

Menganjurkan klien untuk


berganti-ganti posisi

S : Klien mengatakan
akan melakukannya
O : Klien tampak
merubah-rubah
posisinya

Risqi

14.00 WIB

Memonitor keadaan klien

S:Risqi
O : Klien tampak tertidur
nyenyak

21.30 WIB

Mengkaji keadaan klien dan


keluhan klien

S : Klien mengatakan
Putri
sudah tidak cemas
dengan penyakitnya
O : Klien tampak lebih
segar, klien meringis
menahan kesakitan
Page 44 of 68

21.45 WIB

Memonitor asupan nutrisi klien S : Klien mengatakan


tadi habis porsi
O : Klien mual

Putri

23.40 WIB

Kolaborasi pemberian obat


oral b-plex 1 tab

Putri

S : Klien mengatakan
mau minum obat
segera
O : Klien tampak
meminum obat

23 April 2014 Memonitor istirahat klien


00.00 WIB

S:Putri
O : Klien tampak tertidur
pulas

05.45 WIB

Mengukur tanda-tanda vital


klien

S : Klien mengatakan
Putri
saya tadi malam tidur
dari jam 12 malam
O : TD = 110/80 mmHg,
Nadi = 80 x/menit,
RR = 20 x/menit,
Suhu = 36,4 C

06.00 WIB

Edukasi kepada keluarga klien


tentang makanan yang kaya
serat

S : Klien mengatakan
saya suka makan
sayur
O : Klien habis porsi
dari rumah sakit

06.30 WIB

Dorong adanya intake cairan


dan infuse

S : Klien mengatakan
Putri
minum air putih habis
1 botol kecil
O : Terpasang cairan
infuse RL 20tpm

Putri

23 April 2014 Memonitor keadaan dan


08.00 WIB
keluhan klien saat ini

S : Klien mengatakan
Risqi
nyerinya sudah
berkurang dan mulai
jarang terasa
O : Skala nyeri 4, klien
nampak bugar

09.00 WIB

Memberikan obat oral B


kompleks dan aminoflumicin

S :Klien mengatakan
sudah merasa sehat
O : Tidak ada tanda-tanda
alegi obat

Risqi

10.00 WIB

Mengganti balutan luka postoperasi

S : Klien mengatakan
matanya sudah tidak
Page 45 of 68

Risqi

terlalu bengkak
O : Bengkak dimata klien
berkurang, tidak
terlihat kemerahan

4.

10.15 WIB

Mengkaji kemampuan BAB


klien

S : Klien mengatakan
belum merasa ingin
BAB
O : Perut kiri bawah
klien masih terasa
keras

Risqi

11.30 WIB

Mengkaji tanda-tanda vital


temen

S : Klien mengatakan
Risqi
sudah sehat
O : TD = 110/70 mmHg,
Nadi = 80 x/menit,
RR +20 x/menit, Suhu
36,4C

13.30 WIB

Memotivasi klien untuk


menambah asupan makanan

S : Klien mengatakan
tidak ada pantangan
makan
O : Klien tampak
kooperatif

08.00 WIB

Memonitor keadaan dan


keluhan klien saat ini

S : Klien mengatakan
merasa sedikit nyeri
dan pusing.
Klien mengatakan
masih belum ingin
BAB
O : bising usus klien <5
kali/menit, skala
nyeri 4

Putri

10.30 WIB

Mengukur tanda-tanda vital


klien

S: Klien mengatakan
sedikit pusing
O: TD: 110/70mmHg
Nadi: 80x/menir
RR: 20x/menit
Suhu: 36,2oC

Putri

13.30 WIB

Memantau tingkat
kenyamanan klien

S: Klien mengatakan
sudah merasa nyaman
O: Klien tampak nyaman
dan tidak terganggu

Putri

Risqi

24 April 2014

Page 46 of 68

5.

14.30 WIB

Menentukan masukan serat


yang dikonsumsi klien

S: Klien mengatakan
menyediakan buahbuahan untuk asupan
seratnya
O: Klien terlihat mau
mengikuti saran

Putri

16.00 WIB

Mengukur tanda-tanda vital


klien

S: Klien mengatakan
tekanan darahnya
tidak pernah tinggi
O: TD: 120/80mmHg
Nadi: 88x/menit
RR: 20x/menit
Suhu: 36,4oC

Putri

16.30 WIB

Memotivasi klien untuk


melakukan aktivitas

S: Klien mengatakan
Putri
sering menghabiskan
waktu hanya untuk
berbaring di tempat
tidur
O: Klien terlihat
mengubah-ubah
posisinya di atas
tempat tidur

19.30 WIB

Memonitor adanya rangsangan S : Klien mengatakan


untuk BAB, mengecek adanya
belum ada keinginan
keinginan BAB dan
untuk BAB
mempalpasi perut klien
O : Klien tampak tidak
ada ekspresi ingin
BAB

20.00 WIB

Memotifasi klien untuk


melakukan relaksasi

S: Klien mengatakan
rileks setelah napas
dalam
O: Klien terlihat
melakukan napas
dalam sebanyak lima
kali

Memonitor keadaan dan


keluhan klien saat ini

S: Klien mengatakan
mulai merasa ingin
BAB
O: Perut klien masih
teraba keras, klien
merasa kurang
nyaman
Page 47 of 68

Putri

Putri

25 April 2014
08.00 WIB

Putri

10.00 WIB

Mengkaji nyeri klien

S: Klien mengatakan
nyerinya sudah tidak
mengganggu
O: Skala nyeri 3

Putri

10.30 WIB

Mengukur tanda-tanda vital


klien

S: Klien mengatakan
tidak pernah ada
keluhan dengan
tekanan darah
O: TD: 110/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
Suhu: 36,5oC

Putri

13.30 WIB

Menentukan masukan serat


yang dikonsumsi klien

S: Klien mengatakan hari


ini mengonsumsi
buah semangka
O: Klien tampak
mengikuti saran

Putri

14.30 WIB

Mengukur tanda-tanda vital


klien

S: Klien mengatakan
tidak ada keluhan
O: TD: 110/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
Suhu: 36,6oC

Andrian

16.00 WIB

Memotivasi klien untuk


melakukan aktivitas

S: Klien mengatakan
sudah
memperbanyak
aktivitas dan
berganti-ganti posisi
O: Klien tampak
mengikuti saran

Andrian

19.30 WIB

Memonitor adanya rangsangan S: Klien mengatakan


Andrian
untuk BAB
sudah BAB tadi 1x
dengan feses yang
lunak
O: Klien terlihat lebih
nyaman, bising usus 8
kali/menit

26 April 2014
05.00 WIB

Mengukur tanda-tanda vital


klien

S: Klien mengatakan
tensinya selalu
normal
O: TD: 110/70 mmHg
Page 48 of 68

Risqi

Nadi: 80x/menit
RR:20x/menit
Suhu: 36,2oC
06.00 WIB

6.

Mengkaji tingkat nyeri klien

S: Klien mengatakan
sudah tidak terganggu
dengan nyerinya
O: Skala nyeri sudah
berkurang menjadi 3

Risqi

26 April 2014
08.00 WIB

Memantau kemampuan BAB


klien

S: Klien mengatakan
Andrian
sudah merasa lega
karena kemarin sudah
BAB
O: Klien terlihat merasa
nyaman dan tidak
ada keluhan

10.00 WIB

Memantau konsistensi feses


klien

S: Klien mengatakan
sudah BAB hari ini
sekitar jam 09.30
dengan feses lunak
O: Bising usus
12x/menit, perut
kuadran kiri bawah
tidak teraba keras

12.00 WIB

Mengukur tanda-tanda vital

S: Klien mengatakan
Andrian
tensinya selalu stabil
O: TD: 110/80mmHg
Nadi: 84x/menit
RR: 20x/menit
Suhu: 36,4oC

13.00 WIB

Mengedukasi klien untuk


mengkonsumsi makanan
berserat

S :Klien mengatakan
Andrian
sudah mulai rutin
untuk memakan
makanan yang berserat
O : Klien Nampak makan
buah dan sayur yang
sudah disediakan oleh
rumah sakit

Page 49 of 68

Andrian

14. Evaluasi
(perkembangan setiap hari dalam bentuk SOAP)
NO TGL/JAM
DX KEP
EVALUASI
TTD
1.
21 April 2014
1
S:
Putri
21.00 WIB
P : Luka post operasi
Q : Nyeri seperti tertusuk jarum
R :Nyeri kepala bagian kanan menjalar keleher
hingga dada kanan
S : skala nyeri 6 dari 10
T : terus menerus
O : - Skala nyeri 6
- Klien terlihat meringis kesakitan
A : Masalah nyeri klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor tanda-tanda vital dan skala
nyeri klien
2. Tingkatkan istirahat
3. Kolaborasi memberikan analgesik
4. Ciptakan lingkungan yang aman dan
nyaman
2

S : Klien mengatakan matanya bengkak setelah Putri


operasi, nyeri dan terasa panas
O : - Terlihat kemerahan disekitar luka klien
- Limfosit menurun 18,8 %
A : Masalah resiko infeksi klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor adanya tanda-tanda infeksi
2. Dorong untuk menambah asupan nutrisi
dan cairan
3. Dorong klien untuk istirahat

S : Klien mengatakan tidak tahu penyebab Putri


sakitnya dan khawatir akan terjadi
kebutaan
O : Klien tampak gelisah
A: Masalah ansietas klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Identifikasi tingkat kecemasan klien
2. Dengarkan dengan penuh perhatian
keluhan klien
3. Beri
klien
penjelasan
tentang
penyakitnya

S : Klien mengatakan belum BAB dari awal Putri


masuk rumah sakit hingga sekarang
Page 50 of 68

O : - Bising usus klien < 5 x/menit


- Perut kuadran bawah kiri klien teraba
panas
A : Masalah konstipasi klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Anjurkan banyak minum dan perbanyak
konsumsi serat
2. Kaji bising usus klien
3. Anjurkan klien untuk berpindah-pindah
posisi
2.

23 April 2014
07.00 WIB

S : Klien mengatakan masih merasa nyeri dan Putri


panas dibagian kepala kanan
P : Luka post operasi
Q : Nyeri seperti tertusuk jarum
R :Nyeri kepala bagian kanan menjalar keleher
hingga dada kanan
S : skala nyeri 6 dari 10
T : terus menerus
O : klien tampak masih terganggu dengan nyerinya
A : Masalah nyeri klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor tanda-tanda vital dan skala
nyeri klien
2. Tingkatkan istirahat
3. Kolaborasi memberikan analgesic
4. Ciptakan lingkungan yang aman dan
nyaman

S : Klien mengatakan matanya masih bengkak Putri


dan nyeri
O : Mata kanan klien masih Nampak bengkak
dan nyeri
A : Masalah resiko infeksi klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor adanya tanda-tanda infeksi
2. Dorong untuk menambah asupan nutrisi
dan cairan
3. Dorong klien untuk istirahat

S:

Klien
mengatakan
sudah
tidak Putri
mengkhawatirkan penyakitnya lagi dan
memasrahkan semua pada Tuhan YME
O : Klien tampak tenang dan menerima
A : Masalah ansietas klien teratasi
P : Pertahankan intervensi
- Anjurkan
keluarga
untuk
selalu
menemani klien.
Page 51 of 68

3.

4.

23 April 2014
14.00 WIB

24 April 2014
21.00 WIB

S : Klien mengatakan tidak ada keinginan untuk Putri


BAB
O : Perut klien masih teraba keras di kuadran
kiri bawah
A : Masalah konstipasi klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Motivasi klien untuk mengonsumsi
banyak serat
2. Kolaborasi dengan pemberian laksatif
jika diperlukan.

S : Klien mengatakan nyerinya berkurang dan sudah


Risqi
tidak terlalu terganggu
P : Luka post operasi
Q : Nyeri seperti tertusuk jarum
R :Nyeri kepala bagian kanan
S : skala nyeri 4 dari 10
T : terus menerus
O : klien tampak lebih nyaman
A: Masalah nyeri teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor tanda-tanda vital
2. Minimalkan
stimulasi
yang
menyebabkan peningkatan nyeri

S: Klien mengatakan bengkak di mata sudah


Andrian
berkurang, tidak ada rasa panas
O : - Bengkak klein sudah mengecil
- Leukosit klien 6,0 rb/Ul
A : Masalah resiko infeksi klien sudah teratasi
P : Pertahankan itervensi
- Dorong klien dan keluarga untuk
memberikan asupan nutrisi dan cairan
yang cukup untuk klien.

S : Klien mengatakan belum ada keinginan Risqi


untuk BAB
O : Masih taraba kerat diperut bagian kiri
bawah
A : Masalah konstipasi belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Kolaborasi pemberian laksatif

S : - Klien mengatakan masih merasa sedikit Putri


nyeri pada pelipis kanannya
- Klien mengatakan pusing
O:
P : luka post-op
Page 52 of 68

Q : seperti
R : dibagian pelipis kanan dekat mata
S : skala nyeri klien 4
T : hilang timbul
A : Masalah nyeri klien teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

5.

6.

26 April 2014
07.00 WIB

26 April 2014
14.00 WIB

S : Klien mengatakan belum ada keinginan untuk


Putri
melakukan BAB
O : Bising usus klien 4 kali/menit
A : Masalah konstipasi klien belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi

S : - Klien mengatakan sudah muncul keinginan untuk


Risqi
BAB
- Klien mengatakan sudah mampu BAB 1 kali
dengan konsistensi sedikit padat
O : Bising usus meningkat 8 kali/menit
A : Masalah keperawatan teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S : Klien mengatakan perutnya sudah tidak terasa


Andrian
penuh dan BAB lancar
O : - Bising usus normal 12 kali/menit
- Perut klien pada bagian kuadran kiri
bawah teraba tidak teraba keras
A : Masalah keperawatan konstipasi teratasi
P : Pertahankan kondisi klien

Klien mengatakan nyerinya


mengganggu aktivitasnya
O : P : luka post operasi
Q : seperti tertusuk jarum
R : pelipis kanan
S : skala nyeri 3
T : hilang timbul
A : Masalah nyeri klien teratasi
P : Pertahankan intervensi

sudah

tidak
Risqi

Page 53 of 68

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan mengemukakan kesenjangan yang ditemukan pada kasus
non-hodgkin limfoma (NHL) pada Ny. T di ruang melati 1 RSUD Dr. Moewardi dengan
teori mengenai penyakit NHL.
Non-Hodgkin Limfoma merupakan suatu jenis kelainan yang disebabkan oleh keganasan
imun dalam tubuh itu sendiri khususnya yang dihasilkan oleh kelenjar limfa yaitu sel limfosit
sel B dan sel T. Kelainan ini sering terjadi pada lambung, paru-paru dan tulang yang
mengakibatkan munculnya karakter gejala pada penyakit yang biasanya menyerang organorgan tersebut.
A. Pengkajian
Pada pengkajian secara teori pada klien dengan non-hodgkin limfoma biasanya
ditemukan tanda gejala seperti adanya benjolan di daerah leher yang disertai rasa
nyeri diikuti dengan adanya demam dan gangguan pola nafas serta sakit kepala.
Benjolan tersebut dapat terjadi pada tubuh bagian kanan, seperti yang kita ketahui
pembuluh limfa yang berukuran besar itu ada dua macam yaitu ductus limfatikus
dexter atau pembuluh limfa kanan dan ductus thoracisus atau pembuluh limfa dada.
Ductus limfaticus dexter ini mengangkut limfa yang berasal dari kepala, dada sebelah
kanan dan lengan kanan. Pembuluh limfa kanan bermuara pada pembuluh balik
dibawah vena subclavia dextra atau (vena yang melewati tulang selangka). Sedangkan
yang ductus thoracicus mengangkut limfa berasal dari bagian tubuh lain dan bermuara
pada pembulh balik dibawah vena subclavia sinestra (vena yang melewati tulang
selangka kiri).
Pada klien non-hodgkin limfoma biasanya dilakukan pembedahan pada bagian
yang mengalami benjolan, hal ini bertujuan untuk mengangkat kanker secara
keseluruhan sebelum menjalar ke organ tubuh yang lain.
Sedangkan pada kasus klien Ny.T, didapatkan keluhan nyeri dan panas pada
luka post-operasi yaitu didaerah pelipis kanan dekat dengan mata dan terkadang nyeri
Page 54 of 68

dirasakan merambat sampai leher, dada dan perut. Klien juga mengeluhkan pusing
pada daerah luka post-operasi hingga hari ke 10 pada saat pengkajian dilakukan.
Kemerahan dan bengkak juga ditemukan pada daerah disekitar mata.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka didapatkan kesenjangan antara kasus dan teori,
dimana pada saat pengkajian post-opersi didapatkan adanya dua benjolan pada tubuh
klien yaitu di sekitar pelipis kanan dan di leher bagian kanan. Munculnya benjolan
disebelah kanan menandakan adanya kelainan dikelenjar limfa ductus limfaticus
dexter hal sesuai teori. Sedangkan proses pembedahan hanya dilakukan pada benjolan
yang muncul di sebelah pelipis kanan. Munculnya benjolan yang ada di pelipis
sebelah kanan merupakan indikasi menjalarnya keganasan dari sel limfosit B dan
limfosit T yang biasanya hanya ditemukan benjolan di sekitar bagian leher.
Pembedahan pada klien Ny T hanya dilakukan pada daerah benjolan di pelipis
kanan, hal ini disebabkan karena efek dari adanya benjolan tersebut membuat
penurunan kemampuan penglihatan klien, serta bengkak pada kelopak mata kanan
atas dan bawah. Mata klien juga mengeluarkan cairan dari bengkak akibat dari
munculnya tanda-tanda infeksi pasca post-operasi. Rasa panas yang muncul pada
daerah luka dimungkinkan terjadi infeksi didaerah tersebut. Adanya infeksi ini tubuh
mengkompensasikan dengan memperbanyak aliran darah pada daerah tersebut untuk
mengirimkan lebih banyak antibodi dalam memerangi antigen atau penyebab infeksi.
Untuk nyeri yang dikeluhkan klien terjadi karena sel yang mengalami infeksi bereaksi
mengeluarkan zat seperti histamin atau zat kimia bioaktif sehingga menimbulkan
nyeri. Selain itu pembengkakan jaringan yang meradang mengakibatkan peningkatan
tekanan lokal dan menimbulkan rasa sakit. Rasa nyeri mengisyaratkan bahwa terjadi
gangguan atau sesuatu yang tidak normal. Adanya kemerahan pada daerah disekitar
mata menunjukkan adanya peradangan pada daerah tersebut. Kemerahan tersebut
akibat ateriol yang mensuplai daerah tersebut melebar. Dengan demikian lebih banyak
darah yang mengalir kedalam mikro sirkulasi lokal. Kapiler-kapiler yang sebelumnya
kosong atau sebagian saja meregang dengan cepat penuh terisi darah. Keadaan ini
dinamakan hiperemia.
B. Diagnosa keperawatan

Page 55 of 68

Berdasarkan hasil bahwa diagnosa yang sering muncul pada klien dengan diagnosa
NHL biasanya muncul sebagai berikut :

Untuk masalah yang didapatkan pada penerapan asuhan keperawatan post-operasi


pada klien dengan diagnosa non-hodgkin limfoma di ruang Melati I RSUD Dr.
Moewardi yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan interupsi saraf
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
3. Ansietas berhubungan dengan deficit pengetahuan tentang penyakit dan proses
penyakit
4. Konstipasi behubungan dengan kurangnya asupan serat

Munculnya diagnosa pertama sebagai prioritas itu nyeri akut brhubungan dengan
interupsi sel saraf hal ini disebabkan dari keluhan klien yang mengatakan bahwa dia
merasa nyeri dibagian pelipis kanan yaitu pada luka post-operasi dengan hasil
pengkajian :
P : Luka post operasi
Q : Nyeri seperti tertusuk jarum
R : Nyeri kepala bagian kanan menjalar ke leher hingga dada kanan
S : skala nyeri 6 dari 10
T : terus menerus
Klien juga tampak memegangi daerah yang nyeri yaitu pada pelipis kanan dan
ekspresi klien terlihat meringis menahan nyeri menandakan klien tidak merasa
nyaman.

Diagnosa kedua yaitu resiko infeksi berhungan dengan prosedur infasif munculnya
diagnosa ini berdasarkan dari hasil pengkajian yang menunjukkan klien mengeluh
merasa nyeri dan panas pada daerah luka post-operasi, selain itu tampak adanya
bengkak di daerah kelopak mata kanan, kemerahan dan terlihat ada cairan yang keluar
dari mata kanan.
Page 56 of 68

Diagnosa ketiga yaitu ansietas berhubungan dengan defisit pengetahuan tentang


penyakit dan proses penyakit hal ini ditunjukkan dari keluhan klien yang
mengkhawatirkan munculnya tiba-tiba benjolan di pelipis bagian kanan, serta
bengkaknya daerah disekitar kelopak mata kanan. Wajah klien tampak adanya
kegelisahan dan klien menanyakan tentang penyakitnya.

Diagnosa terakhir adalah konstipasi berhubungan dengan kurangnya asupan serat,


munculnya diagnosa ini disebabkan munculnya keluhan klien yang mengatakan belum
bisa BAB sejak masuk rumah sakit, dari data pemeriksaan fisik didapatkan hasil
penghitungan bising usus klien 5 x/menit, dan perut klien teraba keras dibagian kiri
bawah. Konstipasi yang dialami klien disebabkan oleh kurangnya supan serat selama
di rumah sakit karena klien menghabiskan 1 porsi makanan yang disediakan rumah
sakit namun asupan sayuran tidak klien makan.

Dari data tersebut diatas mengenai diagnosa yang muncul pada Ny. T adanya
konsep teori dan kasus. Adapun diagnosa yang ada pada teori namun tidak terdapat
pada kasus Ny. T adalah :
6. Hipertermi berhubungan dengan tak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap
inflamasi.
Karena pada klien Ny. T saat pengkajian dilakukan sudah pada hari ke-10 postoperasi, sehingga panas yang timbul terkait dengan hipertermi terjadi pada awal
post-operasi ditunjukkan dengan data pengkajian pada klien mengatakan setelah
post-operasi badan klien mengalami peningkatan temperatur. Sedangkan pada
post-operasi hari ke-10 ini klien hanya merasakan panas pada bagian luka postoperasi yang hilang timbul yang merupakan indikasi timbulnya resiko infeksi.
7. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
Diagnosa ini tidak muncul pada klien Ny. T karena dari data objektif dan
subjektif yang didapat saat pengkajian klien tidak menunjukkan adanya perubahan
pada status gizi dan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan klien. Selain itu juga
tidak ada perubahan atau penurunan berat badan klien.
8. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen,
malnutrisi, kelelahan.
Page 57 of 68

Pada data subjektif dan objektif yang didapatkan saat pengkajian tidak
menunjukkan adanya gangguan ditunjukkan dengan jumlah hemoglobin pada
kisaran normal yaitu 13,4 g/dl, tidak ada tanda kelemahan ataupun keletihan yang
ditunjukkan dengan pemeriksaan fisik kekuatan otot klien dari ekstremitas kanan
dan kiri semua pada nilai 4. Untuk status pernapasan klien tidak juga tidak
mengalami gangguan yaitu klien tidak menggunakan bantuan pernapasan berupa
oksigen.

C. Intervensi Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan interupsi sel saraf
1. Kaji nyeri (PQRST)
Rasionalisasi : untuk mengetahui nyeri yang dirasakan klien dari penyebab,
kualitas, lokasi, skala dan waktu terjadinya nyeri.
2. Monitor tanda vital dan skala nyeri secara teratur
Rasionalisasi : mengetahui tingkat perkembangan kondisi klien.
3. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam
Rasionalisasi : untuk mengurangi sensasi nyeri pada klien.
4. Tingkatkan istirahat
Rasionalisasi : istirahat dapat membantu proses penyembuhan dan
mempertahankan kondisi klien.
5. Minimalkan stimuli yang menyebabkan peningkatan nyeri
Rasionalisasi : untuk mencegah nyeri semakin bertambah.
6. Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk klien
Rasionalisasi : Lingkungan yang nyaman membuat klien lebih rileks.
Page 58 of 68

7. Kolaborasi pemberian analgesik


Rasionalisasi : untuk mengurangi nyeri klien.
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan infasiv
1. Dorong masukan nutrisi yang cukup
Rasionalisasi : Nutrisi yang cukup dapat meningkatkan kondisi tubuh.
2. Dorong masukan cairan yang cukup
Rasionalisasi : Cairan dapat menjaga kondisi tubuh dan mencegah dehidrasi.

3. Dorong klien untuk istirahat


Rasionalisasi : Istirahat dapat membantu mempercepat penyembuhan penyakit

4. Kolaborasi dengan pemeberian antibiotik sesuai resep


Rasionalisasi : Antibiotik mempercepat penyembuhan penyakit.

5. Monitor leukosit klien


Rasionalisasi : Kadar leukosit tinggi mengindikasikan adanya infeksi.

6. Monitor tanda dan gejala infeksi


Rasionalisasi : Untuk mengetahui perkembangan pada luka klien dan mencegah
infeksi semakin bertambah.
7. Ajarkan keluarga dan klien cara menghindari infeksi
Rasionalisasi : Agar infeksi klien tidak semakin bertambah parah.
Ansietas berhubungan dengan pengetahuan tentang penyakit dan prosedur
pengobatan
1. Identifikasi tingkat kecemasan
Page 59 of 68

Rasionalisasi : Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien dan menentukan


intervensi yang sesuai.
2. Dengarkan dengan penuh perhatian kecemasan klien
Rasionalisasi : Mendengarkan dengan penuh perhatian dapat menumbuhkan
hubungan saling percaya antara klien dan perawat.
3. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan ketakutan dan persepsi
Rasionalisasi : Agar klien merasa lebih dapat mengekplorasi perasaan yang
dialami.
4. Beri penjelasan tentang prosedur tindakan dan penjelasan tentang penyakit
kepada klien
Rasionalisasi : Agar klien mengetahui mengenai tindakan yang akan dilakukan
kepadanya dan tidak terlalu kebingungan terhadap penyakitnya.
5. Temani klien untuk memberikan keamanan dan mengurangi ketakutan
Rasionalisasi : Menemani klien dapat memberikan keamanan dan mengurangi
kecemasan.
6. Dorong keluarga untuk selalu menemani klien
Rasionalisasi : Dengan adanya keluarga di sisi klien dapat menumbuhkan rasa
tenang dan nyaman pada diri klien sehingga kecemasan klien
dapat menurun.
Konstipasi berhubungan dengan kurangnya asupan serat
1. Monitor tanda dan gejala konstipasi
Rasionalisasi : Untuk menentukan derajat konstipasi.
2.

Monitor bising usus


Rasionalisasi : Untuk memantau perkembangan dan peningkatan keadaan klien.

3.

Monitor feses dari frekuensi, konsistensi dan volume


Rasionalisasi : Mengetahui kondisi dan keadaan pengeluaran feses klien.

4.

Identifikasi faktor penyebab dari konstipasi


Page 60 of 68

Rasionalisasi : Untuk menentukan intervensi yang sesuai pada klien


5.

Dukung intake cairan


Rasionalisasi : Intake cairan yang adekuat dapat mengurangi konstipasi dengan
mengencerkan feses.

6.

Edukasi klien dan keluarga untuk memperbanyak makan serat


Rasionalisasi : Serat dapat memperlancar BAB.

7.

Kolaborasi pemberian laktasif


Rasionalisasi : Laktasif dapat meningkatkan bakteri baik dalam usus sehingga
BAB klien lebih lancar.

D. Implementasi
Dari beberapa intervensi yang telah direncanakan dalam asuhan keperawatan pada
Ny. T dengan non-hodgkin limfoma telah dilakukan beberapa implementasi dari
intervensi tersebut untuk mengatasi masalah yang muncul pada klien antara lain :
1. Mangkaji keadaan klien dan keluhan klien, tindakan ini dilakukan disetiap
pergantian shif untuk mengetahui keadaan klien saat itu apakah ada perubahan
dari setiap shifnya dan keluhan yang sedang klien rasakan yang merupakan
implementasi dari semua diagnosa.
2. Menganjurkan klien untuk minum banyak dan mengkonsumsi makanan
berserat,tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah konstipasi klien yang
sudah tidak bisa BAB sejak masuk rumah sakit hingga saat dilakukannya
pengkajian, seperti yang ada pada jurnal yang berjudul Management of
constipation salah satu penatalaksanaan dari konstipasi adalah dengan
penatalaksanaan non-farmakologi yaitu berupa pemeberian diet makanan yang
mengandung banyak serat, karena makanan yang berserat mudah dicerna oleh
saluran cerna seperti sayuran, buah-buahan.
3. Mengkaji tingkat kecemasan klien dan perasaan klien, merupakan tindakan untuk
mengatasi masalah ansietas klien.
4. Memberikan penjelasan tentang penyakit klien dan memberikan saran.
Penjelasan dan saran yang diberikan berupa pendidikan kesehatan yang berbentuk
leaflet, tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah ansietas pada klien karena
kurangnya pengetahuan klien mengenai penyakit yang dialaminya.
(Leaflet terlampir)
5. Memberikan paracetamol 500mg dan pemeberian B-complex 1 tablet @ 5mg
Page 61 of 68

6. Melakukan ganti balutan untuk luka post-operasi dan menganjurkan klien untuk
napas dalam, tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah resiko infeksi pada
luka post-operasi dan kecemasan agar klien lebih rileks dengan nafas dalam.
7. Mengkaji tanda-tanda vital klien, tindakan ini dilakukan untuk mengetahui nadi,
tekanan darah, suhu dan pernapasan klien apakah ada suatu keabnormalan yang
dapat memicu lamanya proses penyelesaian diagnosa.
8. Menganjurkan klien untuk istirahat dan memberikan lingkungan yang nyaman,
tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah ansietas klien.
9. Memonitor asupan nutrisi klien, tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah
konstipasi klien.
10. Edukasi kepada keluarga klien tentang makanan yang kaya serat, tindakan ini
dilakukan untuk mengatasi masalah konstipasi klien.
11. Dorong adanya intake cairan dan infuse, tindakan ini dilakukan untuk mengatasi
masalah konstipasi klien.
12. Mengkaji kemampuan BAB klien, tindakan ini dilakukan untuk memantau
kemampuan BAB klien sehingga dapat mengatasi masalah konstipasi klien.
13. Memberikan aminoflumicin.
14. Memotivasi klien untuk makan-makanan berserat dan menambah porsi makan,
tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah konstipasi klien.
15. Memantau tingkat kenyamanan klien, tindakan ini dilakukan untuk mengatasi
masalah nyeri dan ansietas klien.
16. Mengganti balutan post-operasi, tindakan ini dilakukan untuk mengatasi masalah
resiko infeksi klien.
17. Memotivasi klien untuk melakukan aktivitasnya, tindakan ini dilakukan untuk
megatasi masalah nyeri klien.
18. Memotivasi klien untuk melakukan relaksasi, tindakan ini dilakukan untuk
mengatasi masalah ansietas klien.
19. Mengkaji tingkat nyeri klien, tindakan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana
penyebab, skala, kualitas, waktu terjadinya nyeri tersebut sehingga dapat
dilakukan kolaborasi dengan pemeberian antibiotic dan obat nyeri berupa
ketorolac seperti yang ada pada jurnal Pengaruh Ketorolak Intravena dan
Deksketoprofen Intravena Sebagai Analgesia Pasca Bedah Terhadap Waktu
Perdarahan bahwa obat ini dapat mengurangi terjadinya nyeri pada klien.
20. Memberikan kemoterapi
Pemberian kemoterapi klien berupa :
- Cyclofosfamid 650mg/m2 (715 mg) dilarutkan dalam aquades secukupnya.
Page 62 of 68

Doxorubicin 40 mg/m2 (44 mg = 40 mg) dalam D5% = 100 cc infus cepat 1

jam. Dibilas dengan D5% atau RL 100cc/30 menit


- Vincristin 14 mg/m2 (1,54 mg = 1,5 mg) dalam D5% 100cc infus cepat 1 jam.
- Prednison 1x20 tab/hari untuk 5 hari berturut-turut
Pemberian kemoterapi pada klien dengan keganasan NHL ini biasa disebut dengan
CHOP (Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincrisitine, Prednisone) untuk hasil dari
terapi sesuai dengan jurnal yang berjudul Asosiasi CA 125 dengan Respon Terapi
Pada Penderita Limfoma Non-Hodgkin Agresif yang Mendapat Kemoterapi ini
sampai sekarang belum terlalu memuaskan Cyclophosphamide, Doxorubicin,
Vincrisitine, Prednisone (CHOP) untuk mengatasi klien dengan NHL agresif.
Namun hasil yang paling bisa dilihat adalah dengan adanya kombinasi pemberian
obat ini pada kemoterapi dapat merubah status penyakit ini, yang sebelumnya
merupakan penyakit yang fatal menjadi salah satu penyakit yang dapat diobati
dengan complete response rate antara 60%-80% serta predicted 5-years survival
rate lebih dari 55%.
Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincrisitine, Prednisone merupakan sebuah
regimen kemoterapi dengan intensitas tinggi yag merupakan pilihan pertama untuk
penanganan penderita NHL agresif.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Limfoma no-hodgkin (NHL) adalah neoplasma yang sangat ganas pada sistem
limfatik dan jaringan limfoid. Seperti halnya kebanyakan neoplasma, penyebab NHL
juga tidak diketahui, sejumlah faktor, seperti virus, imunodefisiensi, aberasi
kromosom, imunostimulasi kronis dan pemajanan terhadap lingkungan, telah memicu
terjadinya limfoma maligna.
Penyebab pasti dari NHL belum diketahui, ada empat kemungkinan penyebab
munculnya penyakit NHL pada manusia yaitu : faktor keturunan, kelainan sistem
Page 63 of 68

kekebalan, infeksi virus atau bakteria (HIV, virus human T-cell leukemia/lymphoma
(HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), Helicobacter Sp) dan toksin lingkungan
(herbisida, pengawet dan pewarna kimia).
Keluhan utama klien adalah nyeri. Keadaan klien saat dikaji adalah
- Klien mengatakan merasa nyeri di bagian kanan dan menjalar ke leher hingga dada
-

kanan
Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri
Ekspresi wajah klien terlihat meringis menahan nyeri
Skala nyeri 6
Klien mengatakan merasa nyeri dan panas pada daerah luka post operasi
Tampak luka post operasi di pelipis kanan klien
Klien tampak mengeluhkan nyeri
Tampak bengkok di daerah kelopak mata kanan dekat luka operasi dan tampak

berair
- Limfosit klien 18.8 %
- Klien mengatakan khawatir dengan munculnya tiba-tiba benjolan di dekat mata/
pelipis bagian kanan.
- Klien mengatakan khawatir matanya bengkak dan takut bisa menyebabkan kebutaan
- Klien menanyakan apakah penyakitnya bisa segera disembuhkan dan bagaimana
-

prosedur pengobatannya.
Wajah klien tampak sedikit gelisah
Klien tampak menanyakan tentang penyakit yang dideritanya.
Klien mengatakan belum BAB sejak awal masuk rumah sakit
Klien mengatakan bisa BAB 1x/hari dirumah
Klien mengatakan semama dirawat di rumah sakit tidak pernah mengkonsumsi

sayur.
- Klien mengatakan tidak makan buah-buahan semala di rawat.
- Perut klien teraba keras dikuadran kiri bawah.
- Bising usus <5 x/menit

Pada klien Ny. T diagnosa yang muncul adalah :


1. Nyeri akut berhubungan dengan interupsi sel saraf
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive
3. Ansietas berhubungan dengan deficit pengatahuan tentang penyakit dari prosedur
pengobatan
4. Konstipasi berhubungan dengan kurangnya asupan serat
Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama 5x 24 jam didapat hasil bahwa:
1. Masalah ansietas klien teratasi pada tanggal 22 April 2014 pukul 14.00 WIB
2. Masalah resiko infeksi teratasi pada tanggal 23 April 2014 pukul 14.00 WIB
Page 64 of 68

3. Masalah nyeri klien teratasi pada tanggal 25 April 2014 pukul 07.00 WIB
4. Masalah keperawatan konstipasi teratasi pada tanggal 26 april 2014 pukul 14.00
WIB
B. Saran
Saran bagi mahasiswa keperawatan adalah agar dapat melaksanakan
pengkajian perlu lebih cermatsehingga masalah kesehatan klien dapat diidentifikasi
dengan benar sehingga intervensi yang diberikan dapat sesuai dengan kondisi klien.
Saran bagi Perawat adalah agar dapat mendokumentasikan asuhan
keperawatan dengan lebih terstuktur dan sesuai dengan kaidah penulisan asuhan
keperawatan sehingga dapat dipetanggungjawabkan dikemudian hari.
Saran untuk penelitian adalah agar terus mengembangkan penelitaian
mengenai penyakit NHL ini sehingga pengobatan dan penatalaksaan lebih sesuai
dengan kondisi penderita. Berhubung penyebab penyakit ini belum dengan jelas
diketahui Dengan adanya penelitian yang memadai lebih dapat mengetahui penyebab
dan menambah referensi mengenai penyakit NHL ini sendiri.

Page 65 of 68

DAFTAR PUSTAKA
Anies. 2006. SUTET. Jakarta: Gramedia
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC
Lynn Betz, Cecily. 2009. Buku Saku Keperawatan Pedriatri Edisi 5. Jakarta: EGC
Sacher, Ronald A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC
Santoso M dan Krisifu C. 2004. Diagnostik dan Penatalaksanaan Limfoma Non Hodgkin.
Dexa Media No. 4, Vol 17, Oktober-Desember.
Kristika Catur Setyono, Widya Istanto. Pengaruh Ketorolac Intravena dan Deksketoprofen
Intravena Sebagai Analgesia Pascabedah Terhadap Waktu Perdarahan. Universitas
Diponegoro 2009;1 : 1-2.
Kamlesh Garg. C. D. Tripathi. Management of Constipation. Department of Pharmacology,
Vardhman Mahavir Medical Collage and Safdarjung Hospital, New Delhi, India. 3 :
173-175.
Merlyna,S., et.all. Asosiasi CA 125 dengan Respon Terapi Pada Penderita Limfoma NonHodgkin Agresif yang Mendapat Kemoterapi Cyclophosphamide, Doxorubicin,
Vincristine, Prednisone (CHOP). Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas
Airlangga. 12 : 200-209.

Page 66 of 68

Page 67 of 68