Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH FARMAKOTERAPI TERAPAN

FARMAKOTERAPI HIPERTENSI

Disusun oleh:
Kelompok 9
Dita Putri Widyantoro

260112150557

Hally Farhana

260112150537

Riza Wernawati

260112150567

Siti Karlina Dewanti P.

260112150547

Paska Tri Aprilia S.


Rika Fitri Maulinawati

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang...................................................................... 3
1.2. Tujuan.................................................................................... 4
1.3. Rumusan Masalah................................................................ 4
BAB II
ISI
2.1. Definisi................................................................................... 6
2.2. Patofisiologi........................................................................... 8
2.3. Manifestasi Klinis................................................................. 9
2.4. Diagnosis............................................................................... 9
2.5. Hasil Terapi yang Diinginkan............................................. 11
2.6. Penanganan...........................................................................
12
2.7. Evaluasi Hasil Terapi........................................................... 24
2.8. Studi Kasus Drug Related Problem dan Solusi.................. 25
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan........................................................................... 28
3.2. Saran..................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 29

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Hipertensi

dikenal

secara

luas

sebagai

penyakit

kardiovaskular.

Diperkirakan telah menyebabkan 4.5% dari beban penyakit secara global, dan
prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju.
(WHO, 2003) Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan
jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat berakibat
terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Penyakit ini
bertanggung jawab terhadap tingginya biaya pengobatan dikarenakan alasan
tingginya angka kunjungan ke dokter, perawatan di rumah sakit dan / atau
penggunaan obat jangka panjang.
Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena
alasan penyakit tertentu, sehingga sering disebut sebagai silent killer. Tanpa
disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti jantung,
otak ataupun ginjal.
Gejala-gejala akibat hipertensi, seperti pusing, gangguan penglihatan, dan
sakit kepala, seringkali terjadi pada saat hipertensi sudah lanjut disaat tekanan
darah sudah mencapai angka tertentu yang bermakna.
Di Amerika, menurut National Health and Nutrition Examination Survey
(NHNES III); paling sedikit 30% pasien hipertensi tidak menyadari kondisi
mereka, dan hanya 31% pasien yang diobati mencapai target tekanan darah yang
diinginkan dibawah 140/90 mmHg (Hajjar I, 2000). Di Indonesia, dengan tingkat
kesadaran akan kesehatan yang lebih rendah, jumlah pasien yang tidak menyadari
bahwa dirinya menderita hipertensi dan yang tidak mematuhi minum obat
kemungkinan lebih besar.
Healthy People 2010 for Hypertension menganjurkan perlunya pendekatan
yang lebih komprehensif dan intensif guna mencapai pengontrolan tekanan darah
secara optimal. Maka untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan partisipasi aktif
para sejawat Apoteker yang melaksanakan praktek profesinya pada setiap tempat
pelayanan kesehatan. Apoteker dapat bekerja sama dengan dokter dalam
memberikan edukasi ke pasien mengenai hipertensi, memonitor respons pasien
melalui farmasi komunitas, adherence terhadap terapi obat dan non-obat,

mendeteksi dan mengenali secara dini reaksi efek samping, dan mencegah
dan/atau memecahkan masalah yang berkaitan dengan pemberian obat.
1.2.

Tujuan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat
diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Hipertensi ?
2. Bagamaimana patofisiologi penyakit tersebut ?
3. Bagaimana manifestasi klinik dari penyakit tersebut ?
4. Bagaimana cara mendiagnosis penyakit tersebut ?
5. Apa hasil terapi yang diinginkan dari perawatan penyakit tersebut ?
6. Bagaimana penanganan atau pengobatan untuk penyakit tersebut ?
7. Bagaimana evaluasi hasil terapi penyakit tersebut ?
8. Bagaimana studi kasus dan solusi dari penyakit tersebut ?

1.3.

Rumusan Masalah
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1. Mampu mengetahui dan memahami definisi dari Hipertensi.
2. Mampu mengetahui dan memahami patofisiologi dari penyakit
tersebut.
3. Mampu mengetahui dan memahami manifestasi klinik dari penyakit
tersebut.
4. Mampu mengetahui dan memahami diagnosis dari penyakit tersebut.
5. Mampu mengetahui dan memahami hasil terapi yang diinginkan dari
perawatan penyakit tersebut.
6. Mampu mengetahui dan memahami cara penanganan atau pengobatan
penyakit tersebut.
7. Mampu mengetahui dan memahami evaluasi hasil terapi dari penyakit
tersebut.
8. Mampu mengetahui dan memahami studi kasus dari penyakit tersebut.

BAB II
ISI

2.1.

Definisi

Hipertensi didefinisikan dengan meningkatnya tekanan darah arteri yang


persisten. Peningkatan tekanan darah sistolik pada umumnya >140 mmHg atau
tekanan darah diastolik >90 mmHg (Depkes RI, 2006) kecuali bila tekanan darah
sistolik 210 mmHg atau tekanan darah diastolik 120 mmHg (Setiawati dan
Bustani, 1995).
Klasifikasi tekanan darah oleh Chobanian dkk. (2004) untuk pasien
dewasa (usia 18 tahun) berdasarkan rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau
lebih pada dua atau lebih kunjungan klinis dapat dilihat pada tabel I.
Tabel I. Klasifikasi Hipertensi (Chobanian dkk., 2004)

Klasifiasi tekanan darah

Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik

Normal
Prehipertensi
Hipertensi tingkat I

(mmHg)
<120
120-139
140-159

(mmHg)
<80
80-89
90-99

Hipertensi tingkat II

160

100

Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi


berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Faktor pemicu hipertensi
dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis
kelamin, dan umur. Faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya
aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung
natrium dan lemak jenuh.
Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke, kelemahan
jantung, penyakit jantung koroner (PJK), gangguan ginjal dan lain-lain yang
berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak, ginjal dan jantung
yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. Hipertensi atau yang disebut the
silent killer yang merupakan salah satu faktor resiko paling berpengaruh penyebab
penyakit jantung (cardiovascular).
2.2.

Klasifikasi
Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu hipertensi sistolik,

hipertensi diastolik, dan hipertensi campuran. Hipertensi sistolik (isolated systolic


hypertension) merupakan peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan
tekanan diastolik dan umumnya ditemukan pada usia lanjut. Tekanan sistolik
berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung berkontraksi
(denyut jantung). Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum dalam arteri
dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang
nilainya lebih besar.
Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan
diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada
anak-anak dan dewasa muda. Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah
kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap
aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan
darah diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam keadaan
relaksasi di antara dua denyutan. Hipertensi campuran merupakan peningkatan
pada tekanan sistolik dan diastolik
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya,


disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95 % kasus. Banyak faktor yang
mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf
simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan
Ca intraselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas,
alkohol, merokok, serta polisitemia.
2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab
spesifiknya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi
vaskular

renal,

hiperaldosteronisme

primer,

dan

sindrom

Cushing,

feokromositoma, koartasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan,


dan lain-lain.
2.3.

Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah

terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar
dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke
bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah (Sagala, 2010).
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi
respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan
hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan
jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Sagala, 2010).
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mengsekresi
epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh
darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,
menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I

yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus
keadaan hipertensi (Sagala, 2010).
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer
bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia.
Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan
penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya
menurunkan

kemampuan

distensi

dan

daya

regang

pembuluh

darah.

Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam


mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup),
mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Sagala,
2010).
2.4.

Manifestasi klinik

Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah
yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti
perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat dapat
ditemukan edema pupil (edema pada diskus optikus). Menurut Price, gejala
hipertensi antara lain sakit kepala bagian belakang, kaku kuduk, sulit tidur,
gelisah, kepala pusing, dada berdebar-debar, lemas, sesak nafas, berkeringat dan
pusing (Price, 2005). Sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami
hipertensi bertahun-tahun berupa nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai
mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranial, penglihatan
kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi, ayunan langkah yang tidak
mantap karena kerusakan susunan saraf pusat, nokturia karena peningkatan aliran
darah ginjal dan filtrasi glomerolus, edema dependen dan pembengkakan akibat
peningkatan tekanan kapiler. (Corwin, 2008:359)
Pasien dengan hipertensi primer non komplikasi biasanya tidak menunjukkan
gejala awal. Pasien dengan hipertensi sekunder mungkin memiliki gejala

gangguan yang mendasar. Pasien dengan pheochromocytoma mungkin memiliki


sakit kepala, berkeringat, takikardia, palpitasi, dan hipotensi ortostatik. (DiPiro et
al, 2012:87)
2.5.

Diagnosis

Penilaian

awal

dari

pasien

hipertensi

harus

termasuk

riwayat

lengkap dan pemeriksaan fisik untuk memastikan sebuah diagnosis dari


hipertensi, Kebanyakan pasien dengan hipertensi memiliki gejala yang tidak
spesifik terkait dengan kenaikan tekanan darah. Terdapat tiga tahap yang perlu
dilakukan dalam mendiagnosis hipertensi, antara lain:
1. Anamnesis
Amnesis meliputi:
a. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah
b. Indikasi adanya hipertensi sekunder

Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal

Adanya penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, hematuri, pemakaian


obat-obat analgesik dan obat/bahan lain.

Berkeringat, sakit kepala, kecemasan, palpitasi (feokromositoma)

Lemah otot dan tetani (aldosteronisme)

c. Faktor-faktor risiko
Riwayat hipertensi atau kardiovaskular pada pasien atau keluarga
pasien
Riwayat hiperlipidemia pada pasien atau keluarganya
Riwayat diabetes melitus pada pasien atau keluarganya
Kebiasaan merokok
Pola makan
Kegemukan, intensitas olahraga
d. Gejala kerusakan organ
Otak dan mata : sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan, transient

ischemic attack, defisit sensoris atau motoris.


Ginjal : haus, poliuria, nokturia, hematuria.
Jantung : palpitasi, nyeri dada, sesak, bengkak kaki.

Arteri perifer : ekstremitas dingin.


e. Pengobatan antihipertensi sebelumnya.
2. Pemeriksaan Fisik
Pengukuran Tekanan Darah
Peningkatan tekanan darah mungkin satu-satunya tanda hipertensi primer
pada pemeriksaan fisik. Diagnosis harus didasarkan pada dua atau lebih
pembacaan yang diambil dimasing-masing dua atau lebih pertemuan

klinis.
Pengukuran Denyut Jantung
Pemeriksaan Cardiopulmonary dapat memberikan informasi denyut atau
ritme jantung yang abnormal, hipertrofi, penyakit jantung koroner, atau

gagal jantung.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium, meliputi tes darah rutin, serum kreatinin,
kolesterol LDL dan HDL, glukosa darah puasa, elektrolit serum (natrium
dan kalium), laju filtrasi glomerulus.
(DiPiro et al., 2012:87-88)
2.6.

Hasil terapi yang di inginkan


Efek dari terapi antihipertensi diantaranya yaitu :
Menurunkan mortalitas (jumlah kematian) dan morbiditas (jumlah
individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu)
kardiovaskular.
Mengembalikan tekanan darah yang diinginkan yaitu <140/90 untuk
uncomplicated hypertension; <130/85 untuk pasien dengan diabetes
melitus, gangguan fungsi ginjal, atau gagal jantung; <125/75 untuk mereka
dengan penyakit renal parah dengan proteinuria >1 g/hari; dan <140
mmHg (sistolik) untuk isolated systolic hypertension.
Menurunkan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard, serta
menghambat sekresi renin, mempengaruhi aktivitas saraf simpatis,
perubahan pada sensitivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron
adrenergik perifer dan peningkatan biosintesis prostasiklin (vasodilator).

10

Menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler sehingga terjadi


penurunan curah jantung dan tekanan darah.
Mengurangi kekuatan dari aksi memompa jantung (kontraksi jantung)
Mengendurkan sel otot pada dinding dari arteri.
(Lubis, 2008).
2.7.
Terapi
a. Terapi Non-Farmakologis
Terapi hipertensi metode non-farmakologis merupakan pengobatan hipertensi
tanpa menggunakan obat-obatan. Pengobatan hipertensi secara non-farmakologis
adalah dengan menjalani pola hidup sehat. Pola hidup sehat yang harus dilakukan,
termasuk:
1. Mengatur pola makan melalui diet makanan berdasarkan DASH (Dietary
Approaches to Stop Hypertension). DASH adalah diet kaya buah-buahan,
sayuran dan produk susu rendah lemak dengan mengurangi lemak jenuh
dan lemak total. Hal ini dianjurkan oleh JNC7 sebagai diet yang wajar dan
layak yang terbukti menurunkan tekanan.
2. Menurunkan berat badan sampai batas ideal jika penderita hipertensi
kelebihan berat badan.
3. Mengurangi asupan natrium. Asupan natrium harus diminimalkan
sebanyak mungkin, idealnya 1,5 g / hari, meskipun tujuan interim kurang
dari 2,3 g/hari mungkin masuk akal mengingat kesulitan dalam mencapai
asupan rendah. Pasien harus mengetahui berbagai sumber natrium
makanan (misalnya, diolah makanan, sup, garam meja) sehingga mereka
dapat mengikuti rekomendasi ini.
4. Olahraga yang teratur selama tekanan darah penderita terkendali. Program
aktivitas fisik yang dirancang dengan hati-hati dapat menurunkan tekanan
darah. Aktivitas fisik secara teratur selama minimal 30 menit setiap hari
dalam seminggu direkomendasikan untuk semua orang dewasa, dan
setidaknya 60 menit dianjurkan untuk orang dewasa yang mencoba untuk
menurunkan berat badan atau mempertahankan berat badan.
5. Menghentikan kebiasaan merokok.
6. Mengurangi konsumsi minuman beralkohol. Terlalu banyak konsumsi
alkohol dapat menyebabkan atau memperburuk hipertensi.
11

Penderita hipertensi juga harus mengonsumsi makanan yang bergizi bagi


tubuh. Untuk menjaga kesehatan, sebaiknya asupan makanan nabati ditingkatkan,
khususnya makanan yang banyak mengandung kalium, karbohidrat kompleks,
serta, kalsium, magnesium, vitamin C, dan asam lemak esensial. Selain itu,
mengonsumsi sedikit asam lemak jenuh dan karbohidrat sederhana juga
bermanfaat agar tekanan darah tetap normal. Penderita yang didiagnosis hipertensi
tahap 1 atau 2 sebaiknya menerapkan gaya hidup sehat dan terapi obat secara
bersamaan (Dipiro et al, 2006).
b. Terapi Farmakologis
Terapi hipertensi secara farmakologis yang banyak digunakan adalah
menggunakan

golongan

obat

antihipertensi

diuretik

tiazid

(misalnya

hidroklorotiazid), beta-blocker, (misalnya propanolol, atenolol,) penghambat


angiotensinconverting

enzymes

(misalnya

captopril,

enalapril),

antagonis

angiotensin II (misalnya candesartan, losartan), Calcium Channel Blocker


(misalnya amlodipin, nifedipin) dan alpha-blocker (misalnya doksasozin).
Golongan obat yang lebih jarang digunakan sebagai terapi antihipertensi
adalah vasodilator dan antihipertensi kerja sentral. Serta guanetidin yang jarang
dipakai, yang diindikasikan untuk keadaan krisis hipertensi (Gormer B, 2007).
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang
dianjurkan oleh JNC 7:
1

Diuretika, terutama jenis thiazide (thias) atau aldosterone antagonis (aldoant)

Beta blocker (BB)

Calcium channel blocker atau Calcium antagonis (CCB)

Angiotensin converting enzym inhibitor (ACEI)


5

Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB)


(Gormer B, 2007).
Pertimbangan dalam pemilihan obat anti hipertensi antara lain (Bandiara,

2008):

12

Berdasarkan penelitian penurunan tekanan darah serta mempertimbangkan

efek samping obat


Efek obat terhadap faktor risiko kardiovaskuler dalam hubungannya

dengan profil individu dengan hipertensi


Adanya kerusakan organ subklinik, penyakit kardiovaskuler klinik,

penyakit ginjal atau


Diabetes menentukan pemilihan obat anti hipertensi
Interaksi obat bila diberikan bersamaan dengan obat lainnya
Biaya
Pemilihan obat pada penderita hipertensi sangat tergantung pada

peningkatan tekanan darah dan indikasi pada setiap obat yang dipilih. Pada
umumnya, pasien dengan hipertensi stage 1 akan diobati dengan menggunakan
diuretik thiazid, angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor, angiotensin II
receptor blocker (ARB) atau Calcium channel blocker (CCB). Terapi kombinasi
sangat dianjurkan untuk pasien dengan hipertensi stage/tahap 2 dengan
menggunakan duiretik thiazid sebagai salah satu kombinasinya, kecuali bila
terdapat kontraindikasi antar kedua jenis obat tersebut (Dipiro et.al, 2009).
Obat Terapi
Hipertensi
Pilihan
Pertama

Tanpa
Compelling
Indication

Hipertensi
Tahap I (TDS
140-159 atau
TDD 90-99
mmHg)

Dengan
Compelling
Indication

Hipertensi
Tahap II (TDS >
160 atau TDD
100 mmHg)

Algoritma Penanganan Hipertensi secara Farmakologi (Sukandar dkk, 2008).


Kelompok obat antihipertensi yang dapat digunakan dalam terapi penyakit
hipertensi. Diantaranya ialah:
- Agen Antihipertensi Primer (first line drug) yaitu:
1) Diuretik
13

Obat-obatan antihipertensi golongan diuretik memiliki mekanisme


kerja menurunkan tekanan darah dengan cara memicu pengeluaran urin
(dieresis) yang akan menimbulkan reduksi volume plasma darah dan
kemudian menyebabkan curah jantung dan tekanan darah menurun (Sukandar
dkk, 2008).
Menurut Dipiro, et.al terdapat beberapa jenis diuretik yang umum
digunakan dalam mengobati hipertensi, obat-obat tersebut adalah: Thiazid,
diuretik hemat kalium, dan antagonis aldosteron. Anti diuretik golongan
thiazid merupakan tipe diuretic yang digunakan untuk mengobati hipertensi
dan cukup efektif dalam mengurangi tekanan darah. Diuretik hemat kalium
merupakan antihipertensi yang lemah apabila digunakan secara tunggal, tetapi
dapat menambah efek hipoitensif ketika dikombinasikan bersama thiazid atau
loop diuretics. Antagonis aldosteron seperti spironolakton dan eplerenon
merupakan diuretic hemat kalium yang lebih potensial danb memiliki onset of
action yang cukup lama, yaitu sekitar 6 minggu.
Apabila diuretik dikombinasikan dengan obat antihipertensi lain, akan
timbul efek hipotensi yang disebabkan oleh mekanisme aksi. Banyak
antihipertensi lain yang menginduksi retensi garam dan air, yang akan
dilawan aksinya oleh penggunaan bersama diuretik (Sukandar dkk, 2008).
Berikut beberapa obat golongan diuretik beserta dosis dan frekuensi
penggunaannya:
Obat

Dosis (mg/hari)

Pemberian

Contoh nama
dagang

a. Diuretik Thiazide
Hidroklortiazid
12,5-25
Indapamid
1,25-2,5
Klortalidon
12,5-25
Metolazon
2,5-5
b. Diuretik kuat
Furosemid
20-80
Torsemid
2,5-10
c. Diuretik hemat kalium
Amilorid
5-10
Spironalakton
25-100

14

1 x sehari
1 x sehari
1 x sehari
1 x sehari

(generik)
Natrilix
Hygroton, Tenoret
Zaroxolyn

2-3 x sehari
1-2 x sehari

Arsiret, Farsix
Unat

1-2 x sehari
1 x sehari

(generik), Putritid
(generik),

2) -blocker
Menurut Dipiro et. al, mekanisme hipotensi beta blocker tidak
diketahui tetapi diperkirakan dapat melibatkan menurunnya curah jantung
melalui kronotropik negative dan efek inotropik jantung dan inhibisi
pelepasan renin dari ginjal. Atenolol, betaksolol, bisoprolol, dan metoprolol
merupakan kardioselektif pada dosis rendah dan meningkat baik pada
reseptor beta 1 daripada reseptor beta 2 yang menyebabkan obat tersebut
kurang merangsang bronkhospasmus dan vasokonstriksi serta lebih aman dari
non selektif beta blocker. Sedangkan asebutolol, karteolol, penbutolol, dan
pindolol memiliki aktivitas intrinsic simpatomimetik atau sebagian aktivitas
agonis reseptor beta.
Efek samping dari blokade beta pada miokardium adalah bradikardia
dan gagal jantung akut. Penghambat beta 2 pulmonar dapat menyebabkan
eksaserbasi dari bronbkhospasmus pada penderita asma atau COPD (Chronic
Obstruction Pulmonary Disease). Penghentian terapo dengan beta bloker yang
cepat dapat menyebabkan angina tidak stabil, infark miokardialm atau
mungkin kematian ada penderita predisposisi miokardial. Beta bloker
meningkatkan kadar serum trigliserida dan menurunkan kadar HDL,
penghambat beta yang memiliki sifat menghambat reseptor alfa tidak
mempengaruhi konsentrasi serum lipid (Sukandar dkk, 2008).
Berikut posologi dari berbagai obat beta blocker:
Obat
Kardioselektif
Asebutolol
Atenolol
Metoprolol
Non selektif
Nadolol
Pindolol
Propanolol

Rentang Dosis (mg/hari)

Frekuensi Penggunaan

200-800
25-100
50-200

1-2 kali sehari


1 kali sehari
1-2 kali sehari

20-160
5-40
40-160

1 kali sehari
2 kali sehari
2-3 kali sehari
(Nafrialdi dkk, 2009).

3) Inhibitor Angiotensin-Converting Enzyme (ACE)


15

Menurut Dipiro, et.al dalam Pharmacotherapy Handbook, ACE


membantu produksi angiotensin II yang berperan penting dalam regulasi
tekanan darah arteri. ACE didistribusikan pada beberapa jaringan dan pada
beberapa sel yang berbeda. Kemudian, tempat utama produksi angiotensin II
adalah di pembuluh darah bukan ginjal. ACE inhibitor bekerja dengan cara
mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II yang bersifat
vasokonstriktor dan stimulus sekresi aldostreron. ACE inhibitor dapat
menurunkan aldosteron dan dapat meningkatkan konsentrasi serum kalium
dan dapat menyebabkan hiperkalemia pada penderita penyakit ginjal kronik
atau diabetes.
Dosis awal ACE inhibitor sebaiknya dosis rendah kemudian
ditambahkan perlahan. Hipotensi akut dapat terjadi pada onset terapi inhibitor
ACE, terutama pada penderita yang kekurangan natrium atau volum, gagal
jantung, orang lanjut usia, penggunaan bersama dengan vasodilator atau
diuretik. Inhibitor ACE absolut kontraindikasi dengan ibu hamil karena
menimbulkan masalah neonatal, termasuk gagal ginjal dan kematian janin.
Hal ini dilaporkan untuk ibu hamil trimester kedua dan ketiga (Sukandar
dkk, 2008).
Berikut beberapa obat golongan ACE Inhibitor:
Obat
Kaptopril
Perindopril
Enalapril
Imidapril

Rentang Dosis
(mg/hari)
25-100
4-8
2,5-40
2,5-10

Frekuensi penggunaan
2-3 x sehari
1-2 x sehari
1-2 x sehari
1 x sehari
(Nafrialdi dkk, 2009).

4) Angiotensin II Receptor blocker (ARB)


Angiotensin II digenerasikan oleh jalur rennin-angiotensin (termasuk
ACE) dan jalur alternative yang digunakan untuk enzim lain seperti
chymases. Mekanisme kerja ARB adalah menagan langsung reseptor
angiotensin tipe I, reseptor yang memperantarai efek angiotensin II

16

(vasokonstriksi, pelepasan aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormone


antidiuretik). (Sukandar dkk, 2008).
Tidak seperti inhibitor ACE, ARB tidak mencegah pemecahan
bradikinin, hal ini tidak memberikan efek samping batuk. ARB memiliki efek
samping yang lebih rendah dari antihipertensi lainnya. Batuk sangat jarang
terjadi. Seperti inhibitor ACE mereka dapat mengakibatkan insufisiensi
ginjal, hiperkalemia dan hipotensi ortostatik. ARB tidak boleh digunakan
pada ibu hamil (Sukandar dkk, 2008).
Beberapa obat golongan ARB diantaranya:
Obat
Lasartan
Valsartan
Irbesartan
Telmisartan

Rentang Dosis (mg/hari) Frekuensi penggunaan


25-100
1-2 x sehari
80-320
1 x sehari
150-300
1 x sehari
20-80
1 x sehari
(Nafrialdi dkk, 2009).

5) Calcium Channel blocker (CCB)


CCB dapat menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan cara
menghambat saluran kalsium yang sensitive terhadap tegangan, sehingga
mengurangu masuknya kalsium ekstraseluler ke dalam sel. Relaksasi otot
polos vascular menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan reduksi
tekanan darah (Sukandar dkk, 2008)
Menurut Dipiro et.al CCB yang umum digunakan adalah verapramil,
diltiazem, dihidropiridin, dan nifedipin. Verapramil menurunkan denyut
jantung, memperlambat konduksi nodus AV dan menghasilkan efek inotropik
negative yang dapat memicu timbulnya gagal jantung pada beberapa
penderita. Diltiazem dan verapramil dapat menyebabkan ketidaknormalan
konduksi jantung seperti bradikardia, blok AV, dan gagal jantung. Keduanya
menimbullkan anoreksia, mual, muntah dan hipotensi. Dihidropiridin dapat
meningkatkan reflex mediasi baroreseptor pada denyut jantung. Sedangkan
Nifedipin jarang menyebabkan peningkatan frekuensi, intensitas, durasi pada
angina yang berhubungan dengan hipotensi.

17

Beberapa contoh obat golongan CCB antara lain:


Obat

Rentang Dosis
(mg/hari)

Nifedipin (long acting)


Amlodipin
Nicardipin
Verapamil
Diltiazem

30-60
2,5-10
60-120
80-320
90-180

Frekuensi
Penggunaan
1 x sehari
1 x sehari
2 x sehari
2-3 x sehari
3 x sehari
(Nafrialdi dkk, 2009).

- Agen Antihipertensi Sekunder (second line drug), yaitu:


1) 1 blocker
- Prasozin, terazosin, dan doxazosin merupakan penghambat reseptor 1
yang menghambat katekolamin pada sel otot polos vaskular perifer yang
memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak mengubah aktivitas
reseptor 2 sehingga tidak menimbulkan efek takhikardia (Dipiro et al,
2006).
- Efek samping berat yang mungkin terjadi adalah hipotensi ortostatik pada
pemberian dosis awal atau pada peningkatan dosis (fenomena dosis
pertama). Gejalanya berupa pusing atau pingsan sesaat, palpitasi, dan juga
sinkop. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya pengobatan dimulai dengan
dosis kecil dan diberikan sebelum tidur. Efek samping lainnya adalah
gangguan tidur, depresi, mual, edema, dan lain-lain (Nafrialdi dkk, 2009).
- Kelompok ini lebih efektif jika diberikan bersamaan dengan diuretik untuk
mempertahankan efikasi hipotensif serta meminimalkan potensi edema
(Sukandar dkk, 2008).
- Kelompok obat ini, terutama doxazosin hanya digunakan untuk kasus yang
unik.
- Dosis
Obat
Prazosin
Terazosin
Doxazosi

Rentang dosis
(mg/hari)
0,5-4
1-4
1-4

Frekuensi
Pemberian
1-2 x sehari
1 x sehari
1 x sehari

n
(Dipiro et al, 2006).
18

- Sediaan yang beredar:


Prazosin: Hyperal, Minipress
Doksazosin: Cardura, Kaltensif (Sukandar dkk, 2008).
2) 2 agonis sentral
- Klonidin, guanabenz, guanfasin, dan metildopa menurunkan tekanan darah
pada umumnya dengan cara menstimulasi reseptor 2 adrenergik di otak,
yang

mengurangi

aliran

simpatetik

dari

pusat

vosomotor

dan

meningkatkan tonus vagal. Stimulasi reseptor 2 di sentral mengurangi


sinyal simpatis ke perifer sehingga dapat terjadi penurunan denyut jantung,
curah jantung, resistensi perifer total, aktivitas renin plasma, dan refleks
baroreseptor (Dipiro et al, 2006).
- Penggunaan kronik menyebabkan retensi air dan natrium. Efek samping
yang umum ialah sedasi, mulut kering, depresi, pusing, penglihatan kabur,
mual, dan lain-lain (Nafrialdi dkk, 2009).
- Penghentian mendadak dapat menimbulkan hipertensi balik atau
overshoot hypertension. Hal ini diperkirakan merupakan akibat sekunder
dari peningkatan pelepasan norepinefrin yang mengikuti penghentian
stimulasi reseptor presinaptik (Sukandar dkk, 2008)..
- Pemberian metildopa bersama preparat besi dapat mengurangi absorpsi
metildopa sampai 70%, tapi sekaligus mengurangi eliminasi dan
menyebabkan akumulasi metabolit sekunder. Efek hipotensif metildopa
ditingkatkan oleh diuretik dan dikurangi oleh antidepresan trisiklik dan
amin simpatomimetik (Nafrialdi dkk, 2009).
- Klonidin transdermal dapat menimbulkan efek samping yang lebih sedikit
dibandingkan pemberian oral. Patch ditempelkan ke kulit dan diganti
sekali seminggu. Kerugiannya harga yang mahal dan terjadinya penundaan
onset efek 2-3 hari (Sukandar dkk, 2008).
- Dosis
Obat
Klonidin
Klonidin patch
Metildopa
19

Rentang Dosis
(mg/hari)
0,1-0,8
0,1-0,3
250-1000

Frekuensi penggunaan
2 x sehari
1 x seminggu
2 x sehari

(Dipiro et al, 2006).


- Sediaan yang beredar
Klonidin: Klonidin (generik), Catapres, Dixarit
Metildopa: Dopamet, Medopa, Tensipas, Hyperpax
(Sukandar dkk, 2008).
3) Inhibitor adrenergik
- Guanetidin dan guanadrel mengosongkan norepinefrin dari terminal saraf
simpatetik posganglionik dan inhibisi pelepasan norepinefrin terhadap
respon stimulasi saraf simpatetik. Hal ini mengurangi curah jantung dan
-

resistensi vaskular perifer.


Hipotensi ortostatik umumnya terjadi karena blokade refleks mediasi
vasokontriksi. Efek samping lain adalah disfungsi ereksi, diare, dan
kegemukan. Kelompok obat ini memiliki peranan yang kecil dalam
pengobatan hipertensi (Dipiro et al, 2006).

4) Vasodilator (Sukandar dkk, 2008).


- Hidralazin dan Minoksidil menyebabkan relaksasi langsung otot polos
arteriol. Aktivitas refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran
simpatetik dari pusat vasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah
jantung, dan pelepasan renin. Efek hipotensif vasodilator berkurang pada
pemberian bersama dengan inhibitor simpatetik dan diuretik (Dipiro et al,
-

2006).
Hidralazin tidak digunakan sebagai obat tunggal karena takifilaksis
akibat retensi cairan dan refleks simpatis akan mengurangi efek
antihipertensinya. Maka sebaiknya diatasi dengan diuretik atau bloker

(Dipiro et al, 2006) .


Hidralazin dapat menyebabkan sindrom yang tergantung dosis seperti
lupus yang bersifat reversible yang umum terjadi pada pasien asetilator
lambat. Efek lupus dapat dihindari dengan menggunakan dosis kurang
dari 200 mg/hari. Efek samping lainnya ialah dermatitis, demam, sakit
kepala, hepatitis, dan lain-lain (Sukandar dkk, 2008).

20

Minoksidil lebih kuat dan kerjanya lebih lama dibandingkan dengan


hidralazin. Minoksidil berguna untuk terapi jangka panjang dan harus
dikombinasikan dengan diuretik dan penghambat adrenergik (biasanya
bloker) untuk mencegah retensi cairan. Efek samping utamanya ialah
retensi cairan dan garam, efek samping kardiovaskular karena refleks
simpatis, dan hipertrikosis (Nafrialdi dkk, 2009).
Dosis

Obat
Hidralazin
Minoksidil

Rentang dosis
(mg/hari)
10-40
20-100

Frekuensi Penggunaan
1 atau 2 x sehari
2-4 x sehari
(Dipiro et al, 2006).

Golongan Lain
Reserpin
-

Reserpin mengosongkan norepinefrin dari saraf akhir simpatik dan


memblok transpor norepinefrin ke dalam granul penyimpanan. Pada saat
saraf terstimulasi, sejumlah norepinefrin (kurang dari jumlah biasanya)
dilepaskan ke dalam sinaps. Pengurangan tonus simpatetik menurunkan

resistensi perifer dan tekanan darah (Sukandar dkk, 2008).


Reserpin menyebabkan retensi natrium dan cairan dengan signifikan
sehingga perlu diberikan bersama dengan diuretik thiazide (Sukandar dkk,

2008).
Efek sampingnya yang paling serius adalah berhubungan dengan dosis yaitu
depresi. Depresi disebabkan oleh kosongnya katekolamin dan serotonin di
SSP. Hal ini dapat diminimalkan dengan penggunaan dosis tidak lebih dari

0,25 mg/hari (Sukandar dkk, 2008).


Kombinasi reserpin dengan diuretik efektif dan tidak mahal (Sukandar dkk,

2008).
Rentang dosis yang dapat digunakan 0,05-0,25 mg/hari dengan penggunaan
sekali sehari (Dipiro et al, 2006).

Terapi Kombinasi
Ada 6 alasan mengapa pengobatan kombinasi pada hipertensi dianjurkan:
1. Mempunyai efek aditif
21

2.
3.
4.
5.

Mempunyai efek sinergisme


Mempunyai sifat saling mengisi
Penurunan efek samping masing-masing obat
Mempunyai cara kerja yang saling mengisi pada organ target

tertentu
6. Adanya fixed dose

combination

yang akan meningkatkan

kepatuhan pasien (Chrysant, 1998).


Fixed-dose combination yang paling efektif adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

antagonis kalsium
6. Agonis -2 dengan diuretik
7. Penyekat -1 dengan diuretik (Chrysant, 1998).
Evaluasi hasil terapi

2.8.
2.8.1

Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan diuretik


Penyekat reseptor angiotensin II (ARB) dengan diuretik
Penyekat beta dengan diuretik
Diuretik dengan agen penahan kalium
Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan

Contoh Kasus
Pasien R seorang anak laki-laki berumur 14 thn memiliki BB 70 kg
mendatangi Dokter. Pasien R mengeluh bahwa dia merasa pusing, badan
terasa lemas, kurang nafsu makan, merasa sakit di daerah perut bagian
kanan. Sebelumnya An.R mengaku bahwa ia memiliki pola hidup yang
kurang baik. Dia sering begadang, kurang tidur, dan terkadang telat
makan.
Hasil

pemeriksaan

menunjukan

bahwa

pasien

mengalami

Hipertensi memiliki tekanan darah 135/80 mmHg yang relatif tinggi untuk
usia rata-ratanya. Kemudian pasien menderita penyakit maag.
2.8.2

Pengobatan
a.
b.
c.
d.

Captopril 12,5 mg 1x1 tab


Antasida syr 3x1 10ml
Ranitidine tab 2x1 tab
Neurosanbe tab 1x1 tab
Data Lab
Nilai

Data Klinik

22

Nilai Normal

Pemeriksaan

Indikasi

Nadi

80x/menit

80x/menit

Normal

Suhu Badan

36-37oC

tidak ada

tidak ada

TD

<120/80mmHg

135/80 mmHg

Prehipertensi

Data Klinik
Data Lab
Hb
Blood Glucose
Serum Creatinine

Nilai Normal
11,4-15,1 g/dl
130 mg/dl
0,5-1,2 mg/dl

Nilai Pemeriksaan
12,5 g/dl
Normal
Normal

Indikasi
Normal
Tidak ada DM
Tidak
ada
kelainan

Urine Analisis

10-50 mg/dl

Normal

ginjal
Tidak
kelainan
ginjal

Analisi Kasus
Profil Pasien
Nama
Usia
BB
Tinggi Badan
Keluhan Utama

: An. R
: 14 Tahun
: 70kg
: 150 cm
: dia merasa pusing, badan terasa lemas,

kurang nafsu makan, merasa sakit di daerah perut bagian kanan


dan sesak nafas.
Diagnosa
2.8.2

:Prehipertensi

Analisis Drug Related Problem


1. Obat Tanpa Indikasi : Tidak ditemukan
2. Indikasi yang Tidak Terobati : Tidak ditemukan
3. Salah pemberian obat/ kemungkinan terapi tambahan untuk
meningkatkan efek :
Neurosanbe mempunyai kompisi vitamin B complex
penggunaannya kurang tepat untuk pasien R yang memiliki BB 70
kg dan cenderung obesitas, karena vitamin B complex

23

dapat

pada
ada
pada

menstimulasi saraf yang dapat merangsang nafsu makan.


Disarankan penggunaannya diganti dengan suplemen yang
mengandung Vitamin C karena dilihat dari riwayat pasien yang
mempunyai pola hidup yang kurang baik sehingga daya tahan
tubuh dapat ditingkatkan.
4. Dosis terlalu tinggi :Tidak ditemukan
5. Dosis terlalu rendah: Tidak ditemukan
6. Efek samping obat :
-Captopril dapat menyebabkan Batuk Kering
-Adanya efek samping pada masing-masing obat hipotensi,
konstipasi, diare dapat diatasi dengan meminum obat sesuai dosis
yang dianjurkan.
7. Interaksi Obat :
Interaksi antasida dapat menurunkan efektivitas dari
ranitidin dan

dapat diatasi dengan ranitidin diminum 1 jam

sebelum antasida dan diberi jarak penggunaan ranitidin.


Pemberian antasida tampaknya kurang signifikan karena
dapat terjadi interaksi dengan captopril, dimana absorpsi captopril
dapat terhambat yang mengakibatkan bioavailabilitasnya rendah,
dan konsentrasi efektif minimumnya dalam darah tak tercapai.
Sebaiknya tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan. Harus ada
jarak waktu yang cukup antara saat konsumsi antasida dan
captopril.

24

BAB III
KESIMPULAN

3.1.

Penutup
Hipertensi didefinisikan dengan meningkatnya tekanan darah arteri yang
persisten. Peningkatan tekanan darah sistolik pada umumnya >140
mmHg atau tekanan darah diastolik >90 mmHg kecuali bila tekanan
darah sistolik 210 mmHg atau tekanan darah diastolik 120 mmHg
Hipertensi dapat juga di sebut sebagai penyakit silent killer.

3.2.

25

Saran

Ada baiknya apabila pasien melakukan pola hidup yang sehat serta
menjaga pola makan. Serta apabila ada interaksi obat, ada baiknya untuk
penggunaan obat tersebut dapat diberikan jeda pada saat penggunaan.

DAFTAR PUSTAKA
Corwin, E.J., (2008). Buku Saku Patofisiologi. Edisi Ketiga. EGC: Jakarta.
DiPiro, J.T., R.L., B.G. Wells., Schwinghammer T.L., DiPiro C.V. (2012).
Pharmacotheraphy a Pathophysiologic Approach. Seventh Edition. United
States of America: McGraw Hill Companies, Inc.
Price, S & Wilson, L, 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. EGC: Jakarta.
Sagala, LMB.2010. Patofisiologi Hipertensi. Medan : USU. Tersedia di
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17124/4/Chapter%20II.pdf
Diakses tanggal 4 maret 2016.
Martin D, Windsor J. 2009. Understanding the Clinical Relevance of Human
Acclimatisation to High Altitude Hypoxia. Postgard Med Journal, Vol 84.

26

McEvoy, G. K. 2004. AHFS Drug Information. USA : American Society of


Health-System Pharmacists, Inc.
Price, S & Wilson, L, 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Jakarta: EGC.
Reboldi, G., G. Gentile, F. Angeli, and P. Verdecchia. 2009. Choice of ACE
Inhibitor Combinations in Hypertensive Patients with Type 2 Diabetes:
Update After Recent Clinical Trials. Vasc Health Risk Manag, 5: 411427.
Bandiara, Ria. 2008. An Update Management Concept in Hypertension. Available
online

at

http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/10/an_update_managem
ent_concept_in_hypertension.pdf
Chrysant

S.G.

1998. Fixed

Low-dose

drug

combination

for

the

treatment of hypertension. Arch Fam Med. 7:370-376.


Dipiro,

J.T.,

Dipiro,

C.V.,

Schwinghammer, T.L.,

Wells,

B.G.

2009.

Pharmacotherapy Handbook. Edisi ke-7. New York: McGraw-Hill.


Dipiro, J.T et al. 2006. Pharmacotherapy Handbook 7th. New York: Mc Graw Hill
Companies, Inc.
Gomer, Beth., 2007. Farmakologi Hipertensi, Terjemahan Diana Lyrawati, 2008.
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Lubis,

Harun

Rasyid.

2008.

Sejarah

Hipertensi.

Tersedia

di

http://usupress.usu.ac.id/files/Hipertensi%20dan%20Ginjal_Normal_bab
%20.pdf
Nafrialdi, dkk. 2009. Farmakologi dan Terapi, edisi 5. Jakarta: Departemen
Farmakologi dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sukandar EY, dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta: ISFI Penerbitan.
2003 World Health Organization (WHO) / International Society of Hypertension
Statement on Management of Hypertension. J Hypertens 2003;21:19831992
Hajjar I, Kotchen TA. Trends In Prevalence, Awareness, Treatment, And Control
Of Hypertension In The United States, 1998 2000. JAMA 2003;290:199206

27