Anda di halaman 1dari 11

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN
1.1 Tinjauan Teori
1.1.1 Definisi
Menurut WHO, stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan
gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskuler (Susilo, 2010).
Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologis fokal yang akut dan
disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara
spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena
pecahnya pembuluh arteri, vena, dan kapiler (Djoenaidi Widjaja et. al,
1994) yang dikutip oleh Muttaqin, 2009.
Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya
pembuluh darah otak. Stroke adalah suatu gangguan fungsi saraf akut yang
disebabkan oleh karena gangguan peredaran darah otak dimana secara
mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam)
timbul gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah fokal di otak yang
terganggu (Pertiwi, 2010).
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi akibat perdarahan
intrakranial atau intraserebri meliputi perdarahan di dalam ruang 7
subarachnoid atau di dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat
terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. Pecahnya pembuluh darah
otak menyebabkan perembesan darah ke dalam parenkim otak yang dapat
mengakibatkan penekanan, pergeseran, dan pemisahan jaringan otak yang
berdekatan, sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan
sehingga terjadi infark otak, edema, dan mungkin herniasi otak (Pertiwi,
2010).

1.1.2

Etiologi
Penyebab perdarahan otak yang paling umum terjadi adalah:
1. Aneurisma berry, biasanya defek kongenital.

Kolesterol tinggi. 3.4 Patofisiologis Ada dua bentuk Cerebrovasculer accident (CVA) bleeding 1. pons. Pendarahan Intra Serebri (PIS) Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak. rokok dan alkohol (Smeltzer & Bare.1. Ruptur arteriol serebri. 2009).1. obesitas Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral) Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi) Kontrasepsi oral (khususnya dengan disertai hipertensi. 4. 5. Hipertensi 2. Aneurisma fusiformis dari arteriosklerosis. 1. fibrilasi atrium. Penyalahgunaan obat (kokain). Aneurisma mikotik dari vaskulitis nekrose dan emboli sepsis. 4. akibat hipertensi yang menimbulkan 6. 6. 3. dan serebellum (Muttaqin. Perdarahan intraserebri yang disebabkan hipertensi sering dijumpai di daerah putamen. 2008).3 Faktor Resiko Faktor resiko pada stroke adalah: 1. 1. Malformasi arteriovena (AVM). sehingga darah arteri langsung masuk vena.2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria. 2008). merokok. penebalan dan degenerasi pembuluh darah (Muttaqin. talamus. dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. dan kadar estrogen tinggi) 7. membentuk massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak. gagal jantung kongestif. Peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK) yang terjadi cepat. 5. penyakit jantung kongestif. . terjadi hubungan persambungan pembuluh darah arteri.

Perdarahan subarakhnoid dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebri.2. Vasospasme mengakibatkan disfungsi otak global mupun fokal. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subarakhnoid menyebabkan TIK meningkat mendadak.9. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya. Perdarahan Subarakhnoid (PSA) Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry (AVM). 2007).5 atau hari ke. mencapai puncaknya pada hari ke. Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan subhiolid pada retina dan penurunan kesadaran. dan vasospasme pembuluh darah serebri yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala hebat. dan dapat menghilang setelah minggu ke-2 sampai dengan minggu ke-5. penurunan kesadaran) maupun fokal (hemipharese. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan ke dalam cairan serebrospinal dengan pembuluh arteri di ruang subarakhnoid. . meregangnya struktur peka nyeri. Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat di luar parenkim otak (Juwono. afasia dan yang lainnnya). gangguan hemisensorik. Vasospasme sering terjadi 3-5 hari setelah terjadinya perdarahan.

2008). sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala disfungsi serebri.Otak dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak terpenuhi. sering disertai hemianestesi 2) Hemianopsi homonim kontralateral 3) Afasia bila mengenai hemisfer dominan 4) Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan 3. Daerah arteri Posterior 1) Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa mengenai daerah makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh arteri Serebri media 2) Nyeri talamik spontan 3) Hemibalisme 4) Aleksi bila mengenai hemisfer dominan 5. sering disertai hemianestesi 2) Hemianopsi homonim kontralateral 3) Afasia bila mengenai hemisfer dominan 4) Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan 2.1. Daerah arteri Karotis interna 1) Hemiplegi kontralateral. Otak mengalami hipoksia. Daerah arteri Serebri anterior 1) Hemiplegi (dan hemianestesi) kontralateral terutama di tungkai 2) Incontinentia urine 3) Afasi atau apraksi tergantung hemisfer mana yang terkena 4. Otak tidak memiliki cadangan O 2 sehingga jika terjadi kerusakan atau kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan mengakbatkan gangguan fungsi. yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak (Muttaqin. tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses metabolik anaerob. 2000 adalah: 1. Energi yang dihasilkan di dalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Daerah vertebrobasiler 1) Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang otak 2) Hemiplegi alternans atau tetraplegi . tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh. 1. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak.5 Manifestasi Klinik Kemungkinan yang ditimbulkan stroke menurut Purwadianto & Sampurna. Daerah arteri Serebri media 1) Hemiplegi kontralateral.

Hindari penekanan vena jugulare . KGD. Stabilisasi hemodinamik: 1) Berikan cairan kristaloid atau koloid intravena (hindari cairan hipotonik) 2) Optimalisasi tekanan darah 3) Bila tekanan darah sistolik < 120mmHg dan cairan sudah mencukupi. aPTT. Derajat kesadaran b. Pemeriksaan awal fisik umum: 1) Tekanan darah 2) Pemeriksaan jantung 3) Pemeriksaan neurologi umum awal a. 3. penanda iskemik jantung. Pemeriksaaan pupil dan okulomotor c. darah rutin. dan saturasi oksigen. PT/INR. 2) Pada pasien hipoksia diberi suplai oksigen 2. 2.6 Penatalaksanaan Penatalaksanaan Umum Stroke Akut menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) 2007 meliputi: 1. Stabilisasi jalan nafas dan pernafasan 1) Perbaikan jalan nafas dengan pemasangan pipa orofaring. elektrolit darah. disfagi. Pemantauan ketat terhadap risiko edema serebri harus dilakukan dengan memperhatikan perburukan gejala dan tanda neurologik pada hari pertama stroke b. 5) Bila terdapat CHF. 4) Pemantauan jantung harus dilakukan selama 24 jam pertama.1. emosi labil) 1. Keparahan hemiparesis 4. Monitor TIK harus dipasang pada pasien dengan GCS < 9 dan pasien yang mengalami penurunan kesadaran c. evaluasi dan diagnosis klinik harus cepat. tes fungsi ginjal. dapat diberikan obat-obat vasopressor. Pengendalian peninggian TIK a. EKG. Penatalaksanaan di Ruang Gawat Darurat Evaluasi cepat dan diagnosis. oleh karena jendela terapi stroke akut sangat pendek.3) Kelumpuhan pseudobulbar (disartri. konsul ke kardiologi. Terapi Umum 1. d. Elevasi kepala 20-30º. Evaluasi gejala dan tanda klinik meliputi: 1) Anamnesis 2) Pemeriksaan fisik 3) Pemeriksaan neurologik dan skala stroke 4) Studi diagnostik stroke akut meliputi CT scan tanpa kontras.

dan tidak dapat berkomunikasi 3. Setiap penderita stroke yang disertai demam harus diobati dengan antipiretika dan diatasi penyebabnya. berikan diazepam bolus lambat IV 5-20 mg dan diikuti phenitoin loading dose 15-20 mg/kg bolus dengan kecepatan maksimum 50 mg/menit. h.50 gr/kgBB. data-data yang perlu dikaji antara lain 1. KGD.1. tanggal dan jam MRS. Bila kejang. Laboratorium: kimia darah. diagnose medis.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan 1.1 Anamnesa Menurut Doenges. Biasanya terjadi nyeri . hematologi dan faal hemostasis. fungsi ginjal. bicara pelo. kalau perlu diberikan furosemide dengan dosis inisial 1 mg/kgBB IV. Intubasi untuk menjaga normoventilasi i. nomor register. 6. alamat. diulangi setiap 4-6 jam. analisa urin. b. suku bangsa. Hindari pemberian cairan glukosa atau cairan hipotonik f. pada saat klien sedang melakukan aktivitas.1 Pengkajian 1. pekerjaan. Bila curiga PSA lakukan punksi lumbal d. Pengendalian suhu tubuh a. pendidikan.5ºC 7. Drainase ventrikuler dianjurkan pada hidrosefalus akut akibat stroke iskemik serebelar 5. umur (kebanyakan terjadi pada usia tua).2. Pemeriksaan radiologi seperti CT scan dan rontgen dada 1. selama >20 menit. Identitas klien Meliputi nama. Pemeriksaan penunjang a.e. Hindari hipertermia g. b. Pengendalian Kejang a. AGDA dan elektrolit. 2. 2000. Pada stroke perdarahan intraserebral dapat diberikan obat antiepilepsi profilaksis. Osmoterapi atas indikasi: manitol 0. Keluhan utama Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan. jenis kelamin.25-0. EKG b.2. Riwayat penyakit sekarang Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak. selama 1 bulan dan kemudian diturunkan dan dihentikan bila kejang tidak ada. Beri asetaminophen 650 mg bila suhu lebih dari 38. agama. c.

disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain (Rochani. penyakit jantung. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat: Biasanya ada riwayat perokok. denyut nadi bervariasi 3. 2009). 6. penggunaan obatobata anti koagulan. penggunaan alkohol. kadang tidak bisa bicara 4. Riwayat penyakit keluarga Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus (Susilo.2. Pola nutrisi dan metabolisme: Adanya keluhan kesulitan menelan. Pemeriksaan integumen a. kontrasepsi oral yang lama. vasodilator. b.2 Pemeriksaan Fisik 1.1. obat-obat adiktif. nafsu makan menurun. mudah lelah e. 2000). penggunaan obat kontrasepsi oral.kepala. 4. Pola tidur dan istirahat: Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot 1. Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit jelek. muntah bahkan kejang sampai tidak sadar. Riwayat psikososial Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. d. Suara bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti. Keadaan umum Kesadaran: umumnya mengalami penurunan kesadaran 2. Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat. mual muntah pada fase akut c. kegemukan. mual. Biaya untuk pemeriksaan. aspirin. Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat hipertensi. Pola-pola fungsi kesehatan a. riwayat trauma kepala. Pola aktivitas dan latihan: Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan. Di samping itu perlu . kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi. Pola eliminasi: Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. anemia. diabetes militus. pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga. 7. 5.

pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan 6. CT scan: didapatkan hiperdens fokal. Pemeriksaan dada Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi. yang dapat menyebabkan stroke. cyanosis 5. Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh. 7.juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3 minggu b. Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral. b. . Pemeriksaan EKG: dapat membantu menentukan apakah terdapat disritmia. atau menyebar ke permukaan otak. kadang-kadang masuk ventrikel. Pemeriksaan neurologi Pemeriksaan nervus cranialis. Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal 6.2.2. Perubahan EKG lainnya yang dapat ditemukan adalah inversi gelombang T. MRI: untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. 2. Pemeriksaan foto thorax: dapat memperlihatkan keadaan jantung. Ultrasonografi Dopler: Mengidentifikasi penyakit arteriovena Diagnosa Keperawatan 1. wheezing ataupun suara nafas tambahan. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia. 2. apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke 5. dan 1.2 Pemeriksaan Penunjang 1. Dapat terjadi hemihipestesi. Pemeriksaan motorik a. Elektro encephalografi / EEG: mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik. depresi ST. 3. 8.3 kenaikan serta perpanjangan QT. 1. 7. Angiografi serebral: untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler 4. Kuku: perlu dilihat adanya clubbing finger.

Kriteria hasil: a. Rencana Tindakan Keperawatan 1. RR: 16 20x/menit 4. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan menurunnya reflek batuk dan menelan. Kriteria hasil : a. 4. Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 dengan letak jantung (beri bantal tipis) R/ Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan drainage vena dan memperbaiki sirkulasi serebral c. Verbal: 5. mual. Tanda-tanda vital normal (N: 60-100x/mnt. Pupil isokor. S: 36-36. Tujuan : Jalan nafas tetap efektif 3. Intervensi : a. wheezing ataupun suara nafas tambahan c.7oC. Klien tidak sesak nafas b. GCS Eye: 4.3. c. Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelainan tekanan intrakranial tiap dua jam R/ Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat b. kejang. Motorik: 6 d. Tidak ada keluhan nyeri kepala.4 menurunnya reflek batuk dan menelan. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan. Tidak ada retraksi otot bantu pernafasan . Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuro protektor R/ Memperbaiki sel yang masih availabel 1. Tidak terdapat ronchi. Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intra cerebral 2. 2. Klien tidak gelisah b.2. reflek cahaya (+) e. Anjurkan kepada klien untuk bedrest total dan anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengejan berlebihan R/ Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang d. 5. Tujuan: Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal 3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan saluran pernapasan 6. Resiko bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan 1. Gangguan komunikasi verbal dan atau tertulis berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral.

wheezing. rales R/ Untuk mengetahui tanda adnya gangguan jalan nafas b. Observasi pola batuk dan karakter sekret R/ Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi. catat adanya wheezing. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Intervensi : a. Tujuan : Pola nafas kembali efektif 3. Lakukan suction sesuai dengan keadaan umum klien R/ Agar dapat melepaskan sekret dan mengembangkan paru-paru d.d. R/ Untuk melegakan jalan nafas 1. R/ Untuk melegakan jalan nafas . Observasi pola dan frekuensi nafas R/ Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan nafas c. Pernafasan teratur. RR 16-20 x per menit 4. batuk berkurang e. e. ronchi. Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian pengobatan bronkodilator. Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian pengobatan bronkodilator. ekspansi paru mengembang 4. TTV dalam batas normal d. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal R/ Kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. R/ Ronki dan wheezing menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan c. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada b. Pola nafas efektif b. bunyi nafas normal atau bersih c. Intervensi : a. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan saluran pernapasan 2. Kriteria Hasil : a. R/ Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan d. Auskultasi jalan nafas.