Anda di halaman 1dari 9

BAB I

KRITERIA DESAIN

1.1 Standar Aturan


Dalam perencanaan struktur gedung Rumah Sakit Umum Efarina
ini, penyusun menggunakan beberapa standar aturan yang berlaku di
Indonesia, yaitu :
1. SNI 03-2847-2013 tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung SNI
Peraturan SNI 03-2847-2013 ini digunakan dalam hal analisis kriteria
pembebanan

dan

juga

acuan

pada

preliminary

design

untuk

menentukan dimensi dari balok, kolom, pelat, dan lain sebagainya.


2. SNI 03-1726-2012 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa
untuk Struktur Bangunan Gedung
Peraturan SNI 03-1726-2012 ini digunakan untuk perencanaan beban
lateral akibat gempa dan mengetahui respon spektrum gempa rencana
untuk perencanaan struktur pada wilayah tertentu di Indonesia
3. SKBI-1.3.53.1987 tentang Pedoman Pembebanan Indonesia untuk
Bangunan Gedung SKBI
Peraturan SKBI-1.3.53.1987 ini untuk memberikan pedoman dalam
menentukan beban yang diijinkan untuk merencanakan struktur
bangunan gedung dan acuan reduksi beban hidup untuk perencanaan
balok, portal serta peninjauan gempa.

1.2 Data Teknis


Data yang digunakan untuk Perencanaan Gedung Rumah Sakit Umum
Efarina adalah sebagai berikut :
Struktur Utama
: Struktur beton bertulang,

fc = 30 Mpa.
Baja tulangan - BJTP 240 Mpa.
Jenis Bangunan
: Gedung bertingkat.
Jumlah Lantai
: 4 (empat) lantai.
Tinggi Bangunan
: 16,80 meter.
Luas Lantai
: Lantai 1 = 1339,2 m2.
Lantai 2 = 1339,2 m2.
Lantai 3 = 1339,2 m2.
Lantai 4 = 1339,2 m2
Luas Lantai Total
: 5356,8 m2.
Jenis Konstruksi
: Beton bertulang.
Jenis Konstruksi Atap
: Dak Beton
Jenis Pondasi
: Pondasi Bor Pile
Penghubung antar Lantai : Tangga beton.
Fungsi Bangunan
: Gedung Rumah Sakit
Sistem Struktur
: Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus ( SRPMK )
Lokasi
: Riau ( Wilayah gempa IV )
Jenis Tanah
: Tanah sedang
1.3 Spesifikasi Material
Pada perancangan struktur bangunan gedung perhotelan ini, penyusun
menggunakan material beton dan baja tulangan. Berikut adalah spesifikasi
material dari beton dan baja tulangan yang digunakan untuk keperluan
analisis dan desain:
1. Mutu Beton Kolom, Balok, Pelat Lantai, Pelat Dag
2. Mutu Baja Tulangan (fy)
: 400 MPa
3. Mutu Baja Tulangan Geser (fyv)
: 240 MPa
4. Berat Jenis Beton (
5. Berat Jenis Baja (

6. Modulus Elastisitas Beton (Ec)


7. Modulus Elastisitas Baja (Es)

: K-350

: 2400 kg/m3
: 7850 kg/m3
: 4700
: 200000 MPa

fc'

MPa

1.4 Pembebanan
1.4.1 Beban Mati
Beban mati dalam hal ini berat sendiri struktur, sudah diperhitungkan
secara otomatis dalam program yang digunakan, dengan dasar data
spesifikasi teknis material yang diinputkan ke program ETABS 9.2.

1.4.1.1 Beban Mati Tambahan


Benban mati yang bekerja pada pelat lantai meliputi:
Beban pasir setebal 2 cm

= 0,02 x 1600 = 32 kg/m2

Beban spesi setebal 2 cm

= 0,02 x 2100 = 42 kg/m2

Beban keramik setebal 1cm

= 0,01 x 2400 = 24 kg/m2

Beban flapon

= 18 kg/m2

Beban instalasi ME
Total beban

= 25 kg/m2
= 141 kg/m2

Benban mati yang bekerja pada balok meliputi:


Beban dinding pasangan 1/2 bata tinggi 4,2 m = 4,2 x 250 = 1050 kg/m
1.4.1.2 Beban Lip
Analisis pembebanan akibat beban lift pada struktur gedung ini akan
dibebankan pada atap dan beban ini termasuk ke dalam beban hidup.
Elevator yang digunakan untuk perancangan bangunan hotel ini adalah
Mitsubishi Nexies-MRL P8.

Gb. Layout Elevator Mitsubishi Nexies-MRL P8

Tabel Dimensi Horisontal Elevator Mitsubishi Nexies-MRL


Gb.

Hoistway Plan dan Hoisway Section

1.4.2

Beban Hidup

Beban

Hidup Rumah Sakit

Beban

Hidup lantai Atap (Dak)

= 300 kg/m2
=

150

kg/m2
1.4.3.
Pada
yang

Beban Gempa
beban gempa, analisis pembebanan
digunakan

adalah

analisis

dinamik

yaitu analisis dengan menggunakan analisis respons spektra. Berdasarkan


SNI-03-1726-2012 pasal 6.3, respons spektra desain harus ditentukan dan
dibuat terlebih dahulu berdasarkan data-data yang ada. Data-data yang
dibutuhkan dan prosedur untuk pembuatan respons spektra berdasarkan
SNI-03-1726-2012 pasal 6.3, Tahapan analisis untuk menentukan gaya
gempa adalah sebagai berikut :
Menentukan Kategori Resiko Bangunan
Berdasarkan SNI 03 1726 2012 Pasal 4.1.2 Tabel 1, untuk Struktur bangunan
termasuk kedalam kategori resiko II.

Menentukan Faktor keutamaan (Ie)


Berdasarkan SNI 03-1726-2012 tentang Standar Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, karena bangunan untuk Hotel
masuk dalam kategori resiko II, maka factor keutamaan gempa (Ie) adalah
1,0.
Menentukan Parameter Percepatan Tanah (SS, S1)
Untuk wilayah gempa berdasarkan SNI 03-1726-2012 pasal 14, ditetapkan
berdasarkan parameter Ss (percepatan batuan dasar pada periode pendek
0,2 detik) dan S1 (percepatan batuan dasar pada periode 1 detik). Didapat
dari internet

Gambar 2.1. Percepatan Batuan Dasar SS dan S1


Sumber www.puskim.pu.go.id
Didapat Parameter Percepatan Tanah Ss = 0,5 g dan S1 = 0,3 g
Menentukan Parameter Kelas Situs
Dari table diatas diasumsikan Klasifikasi Situs SD (Tanah Sedang), di dapat
dari hasil uji tanah dimana data CPT 175 sampai 350.

Menentukan Faktor Koefisieni Situs (Fa, Fv)


Berdasarkan tabel koefisien situs Fa dan Fv nilai koefisien situs Fa dan Fv
didapat:
Fa = 1,4
Fv = 1,8
Hitung Parameter Percepatan Spektra Desain (SDS, SD1)
SDS = 2/3 x SMS
SD1 = 2/3 x SM1
SMS = Fa x SS

= 1,4 x 0,5

= 0,7

SM1 = Fv x S1

= 1,8 x 0,3

= 0,54

Maka didapat :
SDS = 2/3 x SMS
= 2/3 x 0,7 = 0,47
SD1 = 2/3 x SM1
= 2/3 x 0,54 = 0,36
Ts = SD1/SDS
= 0,36/0,47 = 0,76
To = 0,2 x Ts
= 0,2 x 0,76 = 0,152
Kurva Respons Spectrum Daerah Bandung Tanah Keras

RESPONS SPEKTRUM
0.5
0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0

0.5

1.5

2.5

3.5

4.5

Gambar 2.2. Kurva Respons Spektrum


Menentukan Nilai Koefisien Modifikasi Respons
Kategori desain seismic berdasarkan parameter percepatan respons
spektra pada periode 1 detik (S1) dan percepatan respons spektra
pada periode pendek (SDS) berdasarkan pasal 6.3 SNI 03-1726-2012
dapat di lihat pada Tabel 3.1. dan Tabel 3.2.
Tabel 2.1 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode pendek
Kategori Resiko
I atau II atau
IV
SDS < 0,167
A
A
III
0,167 SDS < 0,33
B
C
0,33 SDS < 0,50
C
D
Dari table
diatas
didapat
0,50 SDS
D
D
Kategori desain seismic pada periode pendek dengan kategori resiko
Nilai SDS

II masuk pada golongan C.


Tabel 1.2. Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode 1 detik
Nilai SD1
SD1 < 0,167
0,067 SD1 < 0,133
0,133 SD1 < 0,20
0,20 SD1

Kategori Resiko
I atau II atau III
A
B
C
D

IV
A
C
D
D

Dari table diatas didapat Kategori desain seismic pada periode 1 detik
dengan kategori resiko II masuk pada golongan D.
Tabel 2.3 Pemilihan Sistem Kontruksi

Dengan melihat table diatas didapat Tingkat resiko Kegempaan Tinggi


dengan golongan kategori desain seismic D, sehingga sistem struktur yang
diterapkan adalah Sistem Rangka Pemikul Momen khusus (SRPMK).
Tabel 1.2 Penentuan Faktor R berdasarkan sistem struktur
Koefisien
Sistem penahan gaya
seismik

modifikasi
respons,
Ra

Faktor
kuat
lebih
sistem,

Faktor
pembesaran
defleksi

Cdb

Batasan sistem struktur


dan batasan tinggi struktur,
hn (m)

Kategori desain seismik

Dd

Ed

Fe

TB

TB

TB

TB

TB

C. Sistem rangka pemikul


momen
5. Rangka beton pemikul
momen khusus

5,5

Dari table diatas, dengan system struktur SRPMK didapat nilai Koefisien
modifikasi respons (Ra) = 8
Sehingga nilai dari scale factor adalah sebagai berikut :

Sc

Sc

g
R

i
9,81
1,84
8

1,5