Anda di halaman 1dari 24

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

TENAGA KERJA INDONESIA


TKI
DI LUAR NEGERI

Oleh

Muhammad Thaha Pattiiha


( Pemerhati Masalah Sosial )

Ilustrasi Gambar Latar : Demo TKI Wanita didepan konsulat RI di Hong Kong, minggu 24/08/2008
(Diposkan oleh ATKI NEWS, Hongkong)

Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Sekapur-sirih
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sekadar merespon kepedulian sosial penulis selama ini tentang permasalahan Tenaga Kerja
Indonesia (TKI) yang bekerja di Luar Negeri, maka hadirlah tulisan ini. Kepekaan telah merayu
kemampuan yang dimiliki untuk mengungkap seperti apa yang terbaik untuk menelaah dan
menemukan solusi guna menjernihkan kekeruhan permasalahan penanganan dan implementasi
beragam cara yang ternyata belum juga sempurna.
Sebelumnya, adalah suatu draft usulan program sebagai masukan atau sumbangan pemikiran
penulis di tahun 2012, dengan bertumpu pada permasalahan, peristiwa, kebijakan dan berbagai
regulasi pemerintah hingga tahun dimaksud. Tulisan ini sebelumnya terdiri dari 2(dua) draft kajian
tentang permasalahan dan pertimbangan usulan sebagai solusi penanganan TKI. Disusun khusus
untuk kebutuhan program nasional biro tenaga kerja sebuah Partai Politik di tingkat Nasional, dan
serta bahan kajian masalah-masalah sosial untuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
bergerak dibidang reformasi hukum, di ibukota negara - Jakarta. Antara keduanya masih saling
terkait, tetapi oleh adanya perbedaan pendapat hingga batal diserahkan, kemudian penulis
menyatukannya dalam satu tulisan dan mempublikasikannya sebagaimana adanya. Bisa saja ini
hanya buih buah pikir di luasnya samudera ilmu dan pengetahuan.
Tulisan ini merupakan kajian hasil studi kasus di lapangan dan kepustakaan pada
permasalahan yang terjadi serta mempelajari berbagai kebijakan berupa regulasi yang dibuat hingga
tahun 2012. Tentu saja jauh dari sempurna. Sejatinya, sebagaimana orang kebanyakan yang peduli
masalah sosial, cenderung menelaah permasalahan atas keprihatinan terhadap carut-marut
penanganan para pahlawan devisa yaitu TKI yang hingga sekarang belum juga tuntas. Bisa
dipastikan karena tentunya ada yang yang belum maksimal atau memang ada yang salah atau keliru.
Penulis berlatar-belakang pendidikan ekonomi, tetapi sebelumnya beraktifitas sebagai
Asisten Lawyer pada kantor hukum Haeri Parani, SH.MH & Partners Law Office ( 2003 2009 ),
dan Idrus Mony, SH & Partners Law Office ( 2011 2012 ) di Jakarta, serta menjalankan organisasi
kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Patriot Justisia di Kota Bekasi (2012 - 2014).
Belum berarti apa-apa namun ada, kurang dan kelirunya adalah tanggungjawab penulis dan
tentu perbaikan melalui koreksi secara kritis dan bijak oleh pembaca tidak pernah akan penulis
tolak, dan berbareng pula saya sampaikan banyak terima kasih sudah membaca tulisan ini.
Nun wal qolami wama yasthuruun
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Depok, Agustus 2014


Penulis
Muhammad Thaha Pattiiha.

Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Kerangka Pembahasan
- Sekapur Sirih
- Kerangka Pembahasan
A. DASAR PEMIKIRAN
1. Pengertian TKI
2. Penempatan TKI ke Luar Negeri
3. Dasar Hukum Pelayanan Penempatan TKI
B. TENAGA KERJA INDONESIA
1. TKI Di Luar Negeri
2. Kontribusi Devisa Negara Oleh TKI
3. PPTKIS
C. PERMASALAHAN TKI
1. TKI Bermasalah
2. Pekerja Migran Indonesia
3. Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PM-BS)
D. KASUS-KASUS
E. ANALISA PERMASALAHAN
F. PERLINDUNGAN HUKUM
G. REGULASI
-

Kepustakaan

Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

A. DASAR PEMIKIRAN
Tugas dan fungsi Negara adalah mengatur dan menjamin kesejahteraan serta keselataman warga
negaranya dari segala kejahatan, pelanggaran HAM, penjajahan, bahkan kebodohan dan kemiskinan.
Dalam hal ini negara ternyata belum mampu memenuhi kewajibannya memberikan dan
menyediakan peluang dan kesempatan kerja bagi warga negara untuk mendapatkan kehidupan yang
layak di dalam negeri.
Hal tersebut di atas menyebabkan berjuta anak bangsa harus berjuang ke negeri orang
meninggalkan negaranya untuk bekerja, sementara itu pemerintah seperti sengaja membiarkan warga
negarnya dan hanya bisa membantu secara administratif formal yang juga tidak gratis. Sesuatu yang
dianggap melawan tujuan membentuk sebuah negara, yaitu negara berkewajiban memenuhi
kebutuhan hidup warga negaranya dengan berdasarkan peran dan fungsi negara untuk menyediakan
pekerjaan, sebagaimana telah diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 27 Ayat
(2); Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.
Pemerintah negara Indonesia sampai saat ini hanya baru bisa memproduksi dan mengekspor
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dengan keahlian dan ketrampilan yang terbatas, cenderung dijadikan
komoditi guna menghasilkan devisa bagi negara tetapi dengan perlindungan hukum sangat minim.
Sebagaimana Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia di Luar Negeri, masih kurang komprehensif karena masih memposisikan TKI
sebagai komoditi ekspor, bukan sebagai manusia dengan segala harkat dan martabatnya selain
sebagai warga negara yang menjadi urusan wajib pemerintah dan negara.
Peran negara dalam memberikan perlindungan terhadap warga negara di dalam negeri maupun di
luar negeri khususnya TKI di luar negeri, secara global tercantum dalam Deklarasi Umum HAM
(Tahun 1948), Konvensi Pencegahan Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pelacur (Tahun 1949),
Konvensi Merendahkan Martabat Manusia (Tahun 1984), Kovensi Internasional tentang
Perlindungan Hak Semua Buruh Migran dan Anggota Keluarganya, maupun Konvensi Hak Anak
(Tahun 1989) dan Indonesia ikut dan telah menandatangani semua Konvensi tersebut.
Implementasi regulasi dan tindakan dalam pelaksanaan untuk melakukan perlindungan secara
maksimal oleh pemerintah terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, kenyataannya
masih jauh dari harapan. Permasalahan TKI seakan menjadi cerita bersambung drama tragedi yang
tidak pernah berakhir.
Untuk perlu adanya program partisipasi yang secara pro-aktif berperan secara strategis
melakukan langkah partisipatif pendampingan dan perlindungan hukum terhadap TKI berdasarkan
hasil bedah kasus-kasus TKI, analisa permasalahan serta kajian intensif terhadap regulasi TKI secara
akademis, sehingga menjadi sebuah langkah kebijakan strategis sebagaimana termuat di dalam
proposal ini dan berharap mendapat dukungan berbagai pihak yang perduli dengan permasalahan
Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

1. Pengertian Tenaga Kerja Indonesia (TKI)


TKI menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (PPTKILN) ; setiap warga negara yang memenuhi
syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu
dengan menerima upah.
Dan menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 204/MEN/2004 ; TKI yaitu warga
negara Indonesia baik laki-laki maupun perempuan yang bekerja di luar negeri dalam jangka
waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja.

Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Tentang Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian yang diadakan oleh buruh dan majikan
dimana buruh menyatakan kesanggupannya bekerja pada majikan dengan menerima upah dan
majikan menyatakan kesanggupannya untuk mempekerjakan terlebih dahulu (Supomo, 2002)
Menurut Wibowo Sujono ; Perjanjian kerja adalah hubungan hukum antara sesorang yang
bertindak sebagai pekerja / buruh dengan sesorang yang bertindak sebagai majikan atau
perjanjian orang per orang pada suatu pihak dengan lain pihak sebagai majikan, untuk
melaksanakan suatu pekerjaan dengan mendapat upah.

2. Penempatan TKI ke Luar Negeri


a. TKI Perorangan
TKI Perorangan ke luar negeri sejak Indonesia merdeka hingga akhir tahun 1960-an masih
belum melibatkan pemerintah, namun dilakukan secara orang perorangan, kekerabatan, dan
bersifat tradisonal. Negara tujuan utamanya adalah Malaysia dan Arab Saudi yang berdasarkan
hubungan agama (haji) serta lintas batas antar negara dan dilakukan tanpa dokumen
sebagaimana sekarang ini.
Saat ini TKI Perseorangan dibolehkan akan tetapi Calon TKI Perseorangan diharuskan
mencari peluang pasar kerja di luar negeri secara mandiri dan tidak dibenarkan melalui pihak
lain, seperti perusahaan outsourching di dalam dan luar negeri maupun melalui perorangan dan
Calon TKI berhubungan langsung dengan pengguna di luar negeri. Pengguna di luar negeri
haruslah pengguna yang berbadan hukum dan Calon TKI Perseorangan tidak dibenarkan
bekerja pada pengguna perseorangan.
Melalui TKI Perseorangan, calon TKI dapat memilih sendiri jenis pekerjaan sesuai dengan
kemampuan dan ketrampilan (kompetensi) yang dimilik, selain itu Biaya yang dikeluarkan
dapat diminimalisir karena tidak akan ada pemotongan gaji oleh pihak lain.

b. Penempatan dengan Kebijakan Pemerintah


Keterlibatan pemerintah dalam penempatan TKI ke luar negeri baru dimulai tahun 1970
dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 4 / 1970 melalui Program Antarkerja
Antardaerah (AKAD) dan Antarkerja Antarnegara (AKAN), dan sejak itu pula penempatan
TKI ke luar negeri melibatkan pihak swasta (perusahaan pengerah jasa TKI atau pelaksana
penempatan TKI swasta). Sementara itu pelayanan penempatan TKI ke luar negeri di daerah
dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Depnakertranskop untuk tingkat provinsi dan Kantor
Depnakertranskop Tingkat II untuk Kabupaten.
Pada 1986 ini Seksi AKAN berubah menjadi "Pusat AKAN" yang berada di bawah
Sekretariat Jenderal Depnakertrans. Pusat AKAN dipimpin oleh pejabat setingkat eselon II dan
bertugas melaksanakan penempatan TKI ke luar negeri.
Di daerah pada tingkat provinsi/Kanwil, kegiatan penempatan TKI dilaksanakan oleh "Balai
AKAN." Pada 1994 Pusat AKAN dibubarkan dan fungsinya diganti Direktorat Ekspor Jasa
TKI
dibawah Direktorat Jenderal Binapenta. Namun pada 1999 Direktorat
Ekspor Jasa TKI diubah menjadi Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN).
Melalui Keppres Nomor 29/1999 tanggal 16 April 1999 dibentuk Badan Koordinasi
Penempatan TKI (BKPTKI), yang keanggotannya terdiri 9 instansi terkait lintas sektoral
pelayanan TKI.

Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

BKPTKI dibentuk sebagai upaya meningkatan kualitas penempatan dan keamanan


perlindungan TKI di luar negeri.
Pada tahun 2001 Direktorat Jenderal Binapenta dibubarkan dan diganti Direktorat Jenderal
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) sekaligus membubarkan
Direktorat PTKLN. Direktorat Jenderal PPTKLN kemudian membentuk struktur Direktorat
Sosialisasi dan Penempatan untuk pelayanan penempatan TKI ke luar negeri.
Sejak kehadiran Direktorat Jenderal PPTKLN, pelayanan penempatan TKI di tingkat
provinsi/kanwil dijalankan oleh BP2TKI (Balai Pelayanan dan Penempatan TKI).
Undang-undang No 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia di Luar Negeri, yang pada pasal 94 ayat (1) dan (2) mengamanatkan pembentukan
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), yang
kemudian disusul Peraturan Presiden (Perpres) No 81/2006 tentang Pembentukan
BNP2TKI yang struktur operasional kerjanya melibatkan unsur-unsur instansi pemerintah
pusat terkait pelayanan TKI, antara lain Kemenlu, Kemenhub, Kemenakertrans, Kepolisian,
Kemensos, Kemendiknas, Kemenkes, Imigrasi (Kemenhukam), Sesneg, dan dalam
melaksanakan tugasnya, BNP2TKI dapat melibatkan tenaga-tenaga profesional. Dengan
demikian keberadaan Direktorat Jenderal PPTKLN otomatis bubar berikut Direktorat PPTKLN
karena fungsinya telah beralih ke BNP2TKI.
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya
disebut BNP2TKI adalah lembaga pemerintah non kementrian yang mempunyai fungsi sebagai
pelaksana kebijakan dibidang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.
Tugas pokok BNP2TKI adalah melakukan penempatan atas dasar perjanjian secara tertulis
antara Pemerintah dengan Pemerintah negara Pengguna TKI atau Pengguna berbadan hukum
di negara tujuan penempatan; memberikan pelayanan, mengkoordinasikan, dan melakukan
pengawasan mengenai: dokumen; pembekalan akhir pemberangkatan (PAP); penyelesaian
masalah; sumber-sumber pembiayaan; pemberangkatan sampai pemulangan; peningkatan
kualitas calon TKI; informasi; kualitas pelaksana penempatan TKI; dan peningkatan
kesejahteraan TKI dan keluarganya.
BNP2TKI adalah badan yang kewenangannya berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada presiden . Sehingga melalui Keppres No 02/2007, Moh Jumhur Hidayat ditunjuk selaku
Kepala BNP2TKI dan dengan dasar Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2006 tentang Kebijakan
Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia dikeluarkan
Peraturan Kepala BNP2TKI No 01/2007 tentang Struktur Organisasi BNP2TKI yang meliputi
unsur-unsur intansi pemerintah tingkat pusat terkait pelayanan TKI.
Otoritas BNP2TKI mengambil fungsi segala urusan kegiatan penempatan dan perlindungan
TKI, berkordinasi dengan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi namun tanggung jawab
tugasnya kepada Presiden.

3. Dasar Hukum Pelayanan Penempatan TKI


Dasar Hukum Pelayanan Penempatan TKI di Luar Negeri, antara lain :
1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4279).
Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia di Luar Negeri (Lembaran Negara Republik Indonsia Tahun 2004 Nomor 133,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4445).
3. Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1980 tentang Wajib Lapor Lowongan Pekerjaan di
Perusahaan.
4. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 2002 tentang Konvensi ILO Nomor 88 Mengenai
Lembaga Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja.
5. Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia
6. Peraturan Presiden (Perpres) No 81/2006 tentang Pembentukan BNP2TKI
7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.07/MEN/IV/2008 tentang
Penempatan Tenaga Kerja.
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.23/MEN/IX/2009 tentang
Pendidikan dan Pelatihan Kerja Bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 340).
9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.07/MEN/V/2010 tentang
Asuransi Tenaga Kerja Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 273).
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.14/MEN/X/2010 tentang
Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 515).
Pelayanan penempatan TKI di luar negeri memiliki dasar hukum sebagimana menurut UndangUndang Nomor 39 Tahun 2004, yang memberikan landasan hukum secara resmi dan pedoman
yang harus ditaati, sebagaimana di dalam Pasal 1 angka (3) UU tersebut di atas adalah kegiatan
pelayanan untuk mempertemukan buruh migran sesuai bakat, minat, dan kemampuannya
dengan pemberi kerja di luar negeri yang meliputi keseluruhan proses perekrutan, pengurusan
dokumen,
pendidikan dan pelatihan,
penampungan, persiapan
pemberangkatan,
pemberangkatan sampai ke negara tujuan, dan pemulangan dari negara tujuan. Undang-Undang
ini memberikan kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengatur penempatan
buruh migran.
Dalam penempatan tersebut Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama
untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di
dalam atau di luar negeri sesuai Pasal 31 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tenang
Ketenagakerjaan. Selanjutnya dalam Pasal 32 ayat (1) dan ayat (2) dijelaskan bahwa Penempatan
tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas, obyektif, serta adil, dan setara tanpa
diskriminasi. Penempatan tenaga kerja diarahkan untuk menempatkan tenaga kerja pada jabatan
yang tepat sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat, dan kemampuan dengan
memperhatikan harkat, martabat, hak asasi, dan perlindungan hukum.
Untuk menghindari ketidakamanan yang akan diderita oleh buruh migran (khususnya Pembantu
Rumah Tangga) maka Pasal 4 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 menegaskan bahwa
Orang perseorangan dilarang menempatkan warga negara Indonesia untuk bekerja di luar
negeri.
Sebelumnya dalam Pasal 3 dinyatakan bahwa tujuan penempatan dan perlindungan calon
buruh migran adalah:

memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi;


menjamin dan melindungi calon buruh migran sejak di dalam negeri, di negara tujuan,
sampai kembali ke tempat asal di Indonesia;
meningkatkan kesejahteraan buruh migran dan keluarganya.

Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Pada Pasal 5 ayat (1) dinyatakan bahwa Pemerintah bertugas mengatur, membina,
melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan buruh migran di
luar negeri. dan di Pasal 6 ; bahwa Pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan upaya
perlindungan buruh migran di luar negeri.
Perlindungan hukum terhadap para TKI juga sudah dimuat dalam Pasal 7 yang menyatakan
bahwa pemerintah berkewajiban:

menjamin terpenuhinya hak-hak calon TKI, baik yang berangkat melalui pelaksana
penempatan TKI, maupun yang berangkat secara mandiri;
mengawasi pelaksanaan penempatan calon TKI;
membentuk dan mengembangkan sistem informasi penempatan calon TKI di luar
negeri;
melakukan upaya diplomatik untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan TKI
secara optimal di negara tujuan; dan
memberikan perlindungan kepada TKI selama masa sebelum pemberangkatan, masa
penempatan, dan masa purna penempatan.

Demi menjamin perlindungan lebih lagi terhadap TKI juga diatur dalam Pasal 27, mengatur
tentang penempatan buruh migran di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang
pemerintahnya telah membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah Republik Indonesia atau ke
negara tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing.
Perlindungan bagi TKI yang bekerja di luar negeri diawali dan terintegrasi dalam setiap proses
penempatan TKI, sejak proses rekrutmen, selama bekerja dan hingga pulang ke tanah air.
Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 77 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 bahwa setiap
calon TKI mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Perlindungan tersebut seperti tertuang dalam ayat (1) dilaksanakan mulai
dari pra penempatan, masa penempatan, sampai dengan masa setelah penempatan.

Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

B. TENAGA KERJA INDONESIA


1. TKI DI LUAR NEGERI
Data BNP2TKI sampai dengan Februari 2011, dari 237 juta jiwa Penduduk Indonesia
Angkatan kerja Indonesia berjumlah 119,39 juta orang, terdiri dari Laki-laki 72,25 juta orang
(60,51%) dan Perempuan 47,13 juta (39,48%) dengan tingkat pendidikan <= SD 57,03 juta
(47,76%), SLTP : 23,02 juta (19,28%), SLTA : 29,42 juta (24,64%), D1-D3 : 3,74 juta (3,14%)
dan Universitas : 6,15 juta (5,15%), yang Bekerja 111,28 juta (93,20%) Penganggur 8,11 juta
(6,8%).
Tabel ; 1
Penempatan TKI (2006 2010 )

NO

TAHUN

TKI FORMAL

TKI INFORMAL

TOTAL

2006

177.495

26

502.505

74

680.000

2007

196.191

28

500.555

72

696.746

2008

212.413

33

432.318

67

644.731

2009

103.918

16

528.254

84

632.172

2010

158.363

28

417.441

72

575.804

Data resmi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (awal 2010) Malaysia menjadi
negara terbesar tujuan TKI yaitu mencapai 1,2 juta orang. Angka tersebut disusul Arab Saudi
yang menempati urutan kedua yaitu tercatat 927.500 orang.
Sedangkan TKI yang bekerja di negara Singapura berjumlah 80.150 orang, Yordania 38.000
orang. Ada juga yang bekerja di Bahrain sebanyak 6.500 orang, Kuwait 61.000 orang, UEA
51.350 orang dan Qatar 24.586 orang. Data jumlah TKI yang bekerja Taiwan berjumlah 130.000
orang, Hongkong mencapai 120.000 dan Brunei Darussalam 40.450 orang.
Total jumlah TKI yang bekerja di luar negeri, cenderung rancu dalam pencatatan total jumlah
secara resmi oleh Pemerintah, baik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi ataupun
BNP2TKI, juga Departemen Luar Negeri RI melalui KBRI dan KJRI. Tidak memiliki
keterpaduan apalagi kesatuan sistim data base yang akuntabel maupun akurat, sepertinya hanya
lebih kepada perkiraan semata, Hal ini dimungkinkan bila tidak ada koordinasi yang baik dalam
validitasi data pasti jumlah sebenarnya TKI di luar negeri.

2. KONTRIBUSI DEVISA NEGARA OLEH TKI


Remitansi yang dikirimkan oleh tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri pada Hari Raya
Idul Fitri 2010, diperkirakan jumlahnya mencapai Rp 20 triliun, sebelumnya tahun 2009 tercatat
mencapai 6,615 milyar dollar AS.
Data Kemenakertrans, di Kabupaten Kediri transfer dana TKI pada triwulan II/2010 mencapai Rp
447,60 miliar. Kantor pos Kudus juga melaporkan, jumlah pengiriman uang TKI selama bulan
Juli 2010 mencapai Rp 100 miliar, sementara Kabupaten Sumbawa mencatat remitansi lebih dari
Rp 200 miliar.
Aliran dana TKI yang masuk ke dalam negeri setiap bulannya terhitung tinggi. Sedangkan saat
Lebaran, biasanya TKI mengirim uang ke tempat asal dalam jumlah yang sangat besar, misalnya
Muhammad Thaha Pattiiha

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

pengiriman uang dari Arab Saudi bisa mencapai Rp 10 juta-Rp 15 juta per orang, dari Malaysia
umumnya berikisar Rp 7-Rp 8 juta per orang.
Meski dilakukan moratorium atau penghentian sementara penempatan Tenaga Kerja Indonesia
sektor Penata Laksana Rumah Tangga dengan Arab Saudi sejak 1 Agustus 2011 dan belum
dimulai penempatan TKI ke Malaysia paska pencabutan moratorium pada Mei 2011 lalu, namun
jumlah remitansi (pengiriman uang) TKI dari luar negeri yang masuk ke tanah air terhitung
semester satu 2011 ini, ternyata tak jauh beda dengan capaian remitansi 2010 lalu
Kedeputian Perlindungan BNP2TKI mencatat dari Januari hingga Juni 2011, angka remitansi TKI
sebesar US$ 3.340.908.140.22 atau Rp 28,5 Triliun lebih.
Sementara data selama 2010 berjumlah US$ 6.734.931.811.24 atau Rp 60,76 Triliun lebih yang
bersumber dari perhitungan Bank Indonesia melalui transaksi antar bank.
Di luar catatan Bank Indonesia tentu angkanya jauh lebih banyak, karena TKI juga mengirim
uangnya ke kampung halaman lewat perantara diluar jasa perbankan, termasuk yang dititipkan ke
sesama TKI serta jasa kurir peorangan.
Dari jumlah lebih 3,3 miliar dollar AS itu yang masuk sebagai kiriman TKI di luar negeri dari
kawasan Asia Pasifik sebanyak US$ 1.917.835.935.99. Dari jumlah itu, kiriman TKI dari
Malaysia masih yang tertinggi yaitu US$ 1.153.573.224.02, sedangkan sisanya berasal kiriman
TKI Taiwan
US$ 238.958.739.94, Hongkong US$ 228.184.297.94. Singapura US$
128.067.515.74, Jepang US $ 76.052.716.61, Korea Selatan US$ 42.518.375.51, Brunei US$
28.570.174.23, Macao US$ 20.889.872.12, dan lain-lain US $ 1.039.020.00.
Dari kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Afrika berjumlah US $ 1.359.426.455.93, yang berasal
kiriman dari TKI Arab Saudi US$ 1.133.384.382.17, Uni Emirat Arab US$ 102.314.876.97,
Yordania/Siria US$ 46.961.503.47, Qatar US$ 23.863.872.29, Kuwait US$ 20.132.187.43, Oman
US$ 15.404.759.62, Cyprus US$ 6.121.548.00, kawasan negara Afrika yang banyak menerima
TKI US$ 2.557.412.00 di luar negara Sudan US$ 237.316, Mesir US$ 45.958.00, dan beberapa
negara kecil dalam penempatan TKI di Afrika yakni US$ 1.475.890. Sehingga total remitansi
TKI per tahun ke Indonesia dapat mencapai Rp 100 Triliun lebih, baik melalui perbankan
ataupun tidak.

3. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS)


Lembaga Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Swasta (PPTKIS ) sebelumnya
adalah Perusahaan Jasa Pengerah Tenaga Kerja Indonesia (PJPTKI), tersebar di hampir seluruh
Indonesia , sampai tahun 2011 ber jumlah 565 Perusahaan.
Evaluasi kelembagaan terhadap total 565 Pelaksana Penempatan Tenaga kerja Indonesia Swasta
(PPTKIS d/h PJTKI) yang telah dilakukan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
(Kemenakertrans) sebagaimana disampaikan Menteri Nakertrans Muhaimin Iskandar saat
melakukan Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IX DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta,
Senin (29/11) adalah dari 565 perusahaan (PPTKIS) yang ada di Indonesia, sebanyak 114
perusahaan (19,67 persen) dalam kondisi buruk, 242 perusahaan (43 persen) kondisinya sedang
dan 209 perusahaan (37,33 persen) kondisinya dinilai baik.
Kinerja PPTKIS sudah mesti dibenahi dan diperbaiki selain pengawasan secara berkala dan rutin
sangat perlu dilakukan khususnya oleh Kemenakertrans dan BNP2TKI.

Muhammad Thaha Pattiiha

10

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Rencana Kemenakertrans untuk focus membenahi PPTKIS yang kondisinya buruk dengan
pembenahan sistem pelaporan, koordinasi secara berkala, verifikasi atau registrasi ulang serta
peninjauan lapangan, sangat diperlukan dan didukung guna tertibnya penyelenggaraan
pengiriman TKI ke luar negeri secara baik, prosedural, bertanggung jawab dan resmi sesuai
aturan perundang-undangan.
Penempatan TKI ke luar negeri dilaksanakan oleh PPTKIS dengan prosedur sebagai berikut ;

Bagan Prosedur Penempatan TKI

Muhammad Thaha Pattiiha

11

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

c. PERMASALAHAN TKI
Kajian permasalahan TKI menurut Pemerintah Indonesia yang diformulasikan Tim Koordinasi
Formulasi Kebijakan Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari
Malaysia (TK FKP-TKIB) - dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kordinator
Kesejahteraan Rakyat RI Nomor ; 09/KEP/MEMKO/KESRA/III/2008 tanggal 6 Maret 2008,
adalah sebagai berikut ;

1. TKI Bermasalah
Menurut Pasal 73 UU No. 39 Tahun 2004 tentang PPTKLN, Tenaga Kerja Indonesia
Bermasalah (TKIB) adalah TKI yang mengalami:
(a) Pemutusan hubungan kerja sebelum masa perjanjian kerja berakhir
(b) Terjadi perang, bencana alam, atau wabah penyakit di negara tujuan
(c) Mengalami kecelakaan-kerja mengakibatkan tidak bisa menjalankan pekerjaannya lagi,
(d) Meninggal dunia di negara tujuan,
(e) Dideportasi oleh pemerintah setempat.

2. Pekerja Migran (Indonesia)


Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia Kementerian Sosial sekarang, Buruh
Migran adalah orang yang berpindah ke daerah lain, baik di dalam maupun ke luar negeri
( legal maupun ilegal ), untuk bekerja dalam jangka waktu tertentu.

3. Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PM-BS)


Menurut Departemen Sosial RI adalah pekerja migrant internal dan lintas negara yang
mengalami masalah sosial tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran, pengusiran (deportasi),
ketidak-mampuan menyesuaikan diri di tempat kerja baru atau negara tempatnya bekerja,
sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi sosial.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, definisi TKIB menurut Keppres No. 106 Tahun 2004
tentang TK-PTKIB yaitu tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia yang tidak
memiliki izin kerja dan/atau dokumen-dokumen yang sah untuk bekerja di Malaysia dan/atau
yang bekerja tidak sesuai dengan izin kerja yang dimiliki, cenderung lebih tepat disebut
sebagai PMI-BS, karena kriteria TKI menurut UU No. 39 Tahun 2004, haruslah yang mempunyai
hubungan kerja (kontrak).
Di tahun 2004 sebanyak 3.170 kasus, TKI Bermasalah terus menjadi isu yang tidak pernah
terselesaikan, sebagaimana tabel- 3 di bawah ini ;
Tabel - 2

Jumlah Permasalahan TKI Yang Pulang Dari Luar Negeri Selama April 2004
Jenis Permasalahan
Tidak Mampu Bekerja
Gaji Tidak Dibayar
Penganiayaan
Pelecehan Seksual
Majikan Meninggal
Pekerjaan Tidak Sesuai
Majikan Bermasalah
Kecelakaan Kerja
Sakit
Dokumen Tidak Lengkap
JUMLAH

Asia Pasifik
146
32
29
6
6
417
0
8
149
21
814

Timur Tengah & Afrika


221
399
187
167
9
706
3
52
596
16
2.356

Jumlah Total
367
431
216
173
15
1.123
3
60
745
37
3.170

Sumber ; Ditjen PPTKLN Depnakertrans

Muhammad Thaha Pattiiha

12

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Pada tahun 2009 sebanyak 1.008 TKI telah meminta perlindungan ke KBRI, KBRI berhasil
menyelesaikan 960 kasus TKI dan mengklaim Rp. 4,2 milyar gaji TKI yang belum terbayar.
KBRI masih bersikap menunggu didatangi oleh TKI bermasalah, dengan begini dapat dipastikan
banyak TKI bermasalah yang tidak diketahui dan tidak mendapat perlindungan dari KBRI yang
adalah perwakilan resmi Negara di luar negeri yang tugasnya jelas mengurus segenap
kepentingan warga Negara Indonesia di luar negeri.
Tabel 3

KEPULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA (TKI)


KEPULANGAN

TAHUN 2008-2010 (31 Mei)

Perempuan

2008
Laki-laki

Habis Kontrak

269,516

10,348

Cuti
Bermasalah
TOTAL

14,224

1,908

16,132

14,127

1,350

43,887

1,516

45,403

43,440

1,341

327,627

13,772

341,399

340,871

11,804

352,675

Jumlah
279,864

Perempuan

2009
Laki-laki

Jumlah

283,304

9,113

292, 417

2010 (Mei 31)


Perempuan
Laki-laki

Jumlah

97,227

1,668

98,895

15,477

8,909

483

9,392

44,781

24,395

562

24,957

130,531

2,713

133,244

Sumber: BNP2TKI, 2010

Setiap tahun permasalahan TKI tidak pernah tidak terjadi dan pemerintah selalu bergerak
lamban dan bila berbuat setelah masalah terjadi, selalu terlambat yang sudah tentu tidak dapat
terselesaikan secara tuntas, itupun bila terekspos secara terus-menerus di media masa atau diprotes
masyarakat dan keluarga TKI yang menjadi korban.
Permasalahan mendasar bahwa Pemerintah tidak mampu menyediakan pekerjaan dan kesempatan
mendapatkan hidup yang layak di dalam negeri, seperti yang tercatat pada
Tahun 2010, Pencari Kerja Terdaftar di Indonesia berjumlah 4.125.84 sehingga TKI merupakan
alternatif untuk mengatasi problem pengangguran di dalam negeri. Kalau kemudian TKI yang sudah
ada di luar negeri ditarik ke tanah air, begitupun mereka yang dideportasi dan kembali ke tanah air
tanpa membawa hasil kerjanya selama di luar negeri, maka hanya akan menambah beban pemerintah
dan angka pengangguran dalam negeri makin bertambah.
Permasalahan TKI oleh pemerintah cenderung dipandang sebagai obyek hukum dan teori tugas
rutin birokrasi, kenyataan dan bukti kejadian berdasarkan kasus-kasus dapat diidentifikasi adalah
telah terjadi hal-hal permasalahan berupa Penipuan, Pemerasan, Penyiksaan / Penganiayaan,
Perkosaan, Pelecehan Seksual, Gaji tidak dibayar dan tidak sedikit menemui Kematian.
Penanganan yang berlarut-larut atas kasus-kasus yang terjadi antara lain sebagaimana disampaikan
di atas, akibat ketidak mampuan pemerintah mengurusi TKI yang bekerja di luar negeri mulai dari
sebelum pemberangkatan, penempatan dan purna penempatan yang selalu dan akan menjadi masalah
bagi TKI, kemudian tentang bagaimana perlindungan hukum terhadap mereka.

Muhammad Thaha Pattiiha

13

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

D. KASUS-KASUS
Berbagai kejadian yang merupakan kasus terus saja mendera TKI di luar negeri dan menjadi
wacana publik, sedangkan pemerintah masih berkutat dengan bagaimana cara terbaik dan efektif
mentuntaskan kasus-kasus bermasalah tersebut.
Pemerintah atau eksekutif sebagai penyelenggara urusan publik yang masih belum maksimal
tanggapannya, maka permasalahan disampaikan ke lembaga legeslatif. Tepatnya pada jumat 14
Oktober 2011, dalam Forum Jumatan di ruangan wartawan DPR, Wakil Ketua DPR Priyo Budi
Santoso, menjelaskan DPR menerima 218 laporan kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tersangkut masalah hukum di Arab Saudi, Malaysia, China dan Singapura, sebagian besar terkait kasus
pembunuhan dan Narkoba.
Dari laporan yang diterimanya, 151 kasus di Malaysia, 17 diantaranya dalam proses amnesti, 17
kasasi, 51 banding, 51 ditingkat I dan sisanya verifikasi. Di Arab Saudi 43 kasus, ada 5 TKI yang
terancam hukuman pancung, 8 kasus banding, 8 kasus ditingkat I, 11 orang ditahanan penyidik, 5
orang masih dalam proses dan 6 proses disetujui pemaafannya lewat jalur keluarga. Sedangkan di
China 22 kasus, ada 9 yang divonis hukum mati, 5 proses hukum dan 8 berubah hukumannya dari
mati menjadi seumur hidup dan 2 kasus di Singapura.
Data pada BNP2TKI per Agustus 2011, Malaysia menempati urutan pertama kasus yang TKI yang
terancam hukuman mati, yaitu 177 kasus.
Sebelumnya di tahun 2005, 1.091 kasus TKI di luar negeri yang terdiri dari berbagai jenis
sebagimana tabel-3, berikut ;
Tabel 4

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah Kasus Yang bekerja di Luar Negeri Tahun 2005


Jenis Kasus
Jumlah
Gaji tidak dibayar
371
Pelecehan Seksual
29
Penganiayaan
88
Kecelakaan Kerja
29
PHK
140
Sakit
124
Putus Komunikasi
253
Kriminal
12
Gagal Berangkat
45
Total
1.091
Sumber ; Ditjen PPTKLN Depnakertrans

Sebagai gambaran permasalahan TKI, ada sejumlah kasus yang menjadi perhatian masyarakat
Indonesia dan disorot media dan antara lain ;
Deportasi TKI Ilegal. Kamis, 26 Agustus 2010, 144 TKI dideportasi dari Sabah - Malaysia
melalui Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, 4 orang diantaranya masih anak-anak, 26 wanita
dewasa dan 114 laki-laki kemudian pada kamis 2 September 2010, kembaqli dideportasi
sebanyak 800 orang TKI melalui Pelabuhan Tanjung Pinang. Mereka dideportasi terkait
dokumen dan paspor mereka yang tidak sah atau sudah tidak berlaku lagi.
Ruyati adalah seorang TKW asal Bekasi, Jawa Barat di Arab Saudi yang membunuh
majikannya. Dia berusaha membunuh ibu majikannya yang bernama Khairiyah Hamid yang
berusia 64 tahun karena merasa tidak tahan dengan kekejamannya. Pembunuhan itu dilakukan
dengan cara membacok kepala korban beberapa kali dengan pisau jagal dan kemudian
dilanjutkan dengan menusuk leher korban dengan pisau dapur.
Muhammad Thaha Pattiiha

14

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Lalu, Ruyati melaporkannya ke KJRI di Jeddah. Pada 18 Juni 2011, Ruyati tewas dihukum
pancung di Arab Saudi akibat perbuatannya itu.
Rabu 21 September 2011, TKW bernama Istiqomah, asal Desa Karang Gandu, Kecamatan
Watulimo, bekerja pada majikan bernama Choi Nai Nai, tewas, terjatuh dari lantai 10 sebuah
apartemen di Hong Kong. Diduga Istiqomah terjatuh dan tewas pada saat sedang membersihkan
jendela kaca apartemen majikannya.
Keni, tenaga kerja Indonesia asal Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Brebes, Jawa Tengah,
disiksa oleh majikan perempuannya di Madinah, Arab Saudi, selama tiga bulan. Dirawat di RS
Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, setelah pulang ke tanah air. Luka bakar yang diderita
Keni hampir menutupi seluruh tubuhnya. Kedua kuping Keni tampak mengerut. Leher, kedua
tangan, dada, perut, punggung, dan kaki, semua tidak luput dari kebengisan Wafa.
Dari penuturan Keni, kekerasan yang dilakukan Wafa, majikan perempuannya, dimulai etelah
satu bulan dia bekerja pada keluarga itu. Selain menyetrika, Wafa juga memukul Keni,
mencongkel gigi depan Keni, kemudian memaksa Keni untuk menelannya, dan juga tidak
memberi makan yang cukup bagi Keni dan Keni mengaku tidak bisa melarikan diri karena
rumah majikannya selalu terkunci. Dia baru bebas ketika majikan laki-lakinya, Khalid Al
Khuraifi, mengetahui perbuatan istrinya. Keni lalu dipulangkan ke Indonesia. Saat Keni hendak
pulang, Majikan hanya memberikannya gaji Rp 6 juta. Padahal, Keni telah bekerja selama 4,5
bulan dan dengan gaji per bulannya Rp 2 juta, alasannya, gaji sang majikan dipotong untuk biaya
tiket pesawat.
Tuti Tursilawati, TKI Terancam Hukuman Mati karena dituduh telah membunuh majikannya,
pelaksanaan hukuman mati berupa pemancungan diperkirakan berlangsung setelah lebaran haji
2011. Tuti Tursilawati diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Arunda Bayu pada 5 September
2009 dengan nomor paspor AN 169210 dan dipekerjakan di keluarga pengguna (majikan) Suud
Malhaq Al Utaibi, Kota Thaif, Arab Saudi, sebagai TKI penata laksana rumah tangga
menggunakan jasa agensi di Arab Saudi yaitu "Adil for Recruitment". Tuti Tursilawati, yang
mengadu nasib di Arab Saudi dengan menjadi pembantu rumah tangga, kini sedang menghitung
hari menuju pintu kematian. Dia sudah masuk daftar tunggu eksekusi hukuman mati setelah
pengadilan Arab Saudi memvonisnya bersalah telah membunuh majikan pria. Menurut jadwal,
Tuti dieksekusi mati usai musim haji tahun ini, yaitu 6 November 2011. Dalam kaitan itu, pihak
keluarga korban berkeras tidak mau memberi pengampunan dengan menolak pembayaran diat
atau uang darah. Tuti, TKI asal Majalengka, Jabar, divonis bersalah membunuh majikannya,
Suud Malhaq Al Utibi, Mei 2010. Menggunakan sebatang kayu, dia memukul majikannya itu
hingga tewas. Tindakan itu dia lakukan karena sang majikan berupaya melakukan perbuatan
asusila terhadap dirinya. Namun, selain melakukan pembunuhan, Tuti juga divonis membawa
kabur uang senilai 31.500 real Saudi plus satu jam tangan dari rumah majikannya itu. Tuti
Tursilawati diberangkatkan ke Arab Saudi pada 5 September 2009. Dia dipekerjakan di keluarga
Suud Malhaq al-Utaibi di Kota Thaif, Arab Saudi.

Darsem, seorang TKW asal Subang, Jawa Barat di Arab Saudi yang membunuh majikannya. Dia
terancam hukuman mati karena membunuh. Hukuman ini dapat diperingan dengan membayar
diyat atau tebusan senilai Rp4,7 miliar dan kemudian dibebaskan setelah pemerintah Indonesia
melakukan npendekat diplomatic dengan Arab Saudi. Darsem kembali pulang ke Indonesia.
Ceriyati, adalah seorang TKW di Malaysia yang mencoba kabur dari apartemen majikannya.
Ceriyati berusaha turun dari lantai 15 apartemen majikannya karena tidak tahan terhadap siksaan
yang dilakukan kepadanya. Dalam usahanya untuk turun Ceriyati menggunakan tali yang
dibuatnya sendiri dari rangkaian kain. Usahanya untuk turun kurang berhasil karena dia berhenti
pada lantai 6 dan akhirnya harus ditolong petugas Pemadam Kebakaran setempat.

Muhammad Thaha Pattiiha

15

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

E. ANALISA PERMASALAHAN
TKI masih merupakan alternatif untuk mengatasi problem pengangguran dan kemiskinan di
dalam negeri, maka menjadi TKI untuk bekerja di negara orang jadi pilihan paling mudah bagi
yang berpendidikan rendah, cukup dengan modal kemauan, tenaga dan nekat. Oleh Pemerintah
kemudian di formal menjadi program kerja membangun negara dengan mengekspor TKI yang
sebagian besar TKI Informal, karena negara tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang
layak bagi warga negaranya guna mendapatkan penghidupan yang layak atau untuk sementara
terhindar dari pengangguran dan kemiskinan. Ada semacam keterpaksaan dan kepasrahan
menghadapi situasi terburuk ketika memilih menjadi TKI ke luar negeri. Bukan berani mengikuti
kemauan akan tetapi lebih bersifat ke-nekat-an kala ber-TKI ria.
Praktik ini memunculkan kesan bahwa TKI informal, adalah bentuk perbudakan yang paling
aktual di Indonesia, pemerintah tentu memahami kesimpulan analisa akan hal permasalahan ini,
sekalipun demikian resmi diurus oleh Negara.
Tingkat pendidikan dan kesempatan kerja TKI yang di geluti PJTKI dan didukung Pemerintah,
masih sangat besar dibidang informal ( peata laksana rumah tangga).
Tingkat pendidikan berdasarkan data BPS Februari 2010 dari 55 juta lebih angkatan kerja,
sebagian besar lulusan SD dan SMP, yang berpendidikan SD ke bawah 53%, SMP hanya sekitar
19%, SD dan SMP digabung 72%, mereka inilah yang berpotensi mengalami kondisi hidup
memprihatinkan dan hanya berpeluang bekerja di sector informal dan memilih menjadi TKI,
selebihnya tamatan Diploma dan Universitas yang juga tidak kala banyak yang masih
menganggur.
Sesuatu yang merugikan karena tingkat pendidikan para TKI khususnya bidang informal yang
sebagian besar SD (70 %), tingkat pengetahuan rendah dan terbatas, berarti juga memiliki multi
resiko - berbahaya, dan merugikan baik TKI sendiri maupun Pemerintah.
Masa tunggu yang tidak pasti. Seorang TKI harus menunggu di penampungan PJTI sebelum
diberangkatkan ke negara tujuan antara 1 6 bulan, itupun sudah dipotong waktu bila mengikuti
pelatihan dan pengurusan kelengkapan dokumen. Bahkan bias lebih lama lagi.
TKI cenderung dijadikan sapi perah dan menjadi obyek eksploitasi dan pemerasan.
Kecenderungan tersebut terjadi secara sengaja, mulai dari perekrutan di tempat asal TKI oleh para
calo jaringan PJTKI (PPTKIS-sekarang) dengan iming-iming janji manis. Para calo mendapat
uang jasa dari PJTKI untuk tiap TKI yang direkrut sebagai calon TKI-PLRT/TKI informal
ataupun TKI formal, TKI-PLRT tidak membayar sejak awal sebagimana TKI Formal, tapi
ditanggulangi oleh PJTKI yang kemudian akan dipotong gaji TKI 4-5 bulan pertama TKI setelah
bekerja atau ditempatkan. TKI tidak pernah diberitahu PJTKI berapa jumlah sesungguhnya biayabiaya tersebut.
Kembali ke tanah air, obyek eksploitasi dan pemerasan masih melilit sang TKI. Sesampai di
bandara tanah air, sebagaimana yang terjadi di Gedung Pendataan Kepulangan (GPK) TKI di
Selapajang Tangerang, Banten. TKI diperhadapkan dengan Petugas money changer atau Valas,
yang memaksa bahkan menggeledah bawaan uang TKI untuk ditukarkan dengan nilai tukar
rendah yang ditentukan sepihak oleh petugas tersebut. Selanjutnya sopir angkutan TKI
mengambil bagian saat mengantar ke tujuan alamat tempat tinggal, masih meminta setoran
sukarela dari TKI tapi ditentukan jumlahnya. Padahal TKI sudah membayar biaya angkutan resmi
yang didalamnya termasuk bagian petugas angkutan.
TKI yang tiba di GBK juga diharuskan menunggu berjam-jam, bahkan berhari-hari mengikuti
aturan petugas angkutan untuk menuju tempat tinggalnya dan dilarang menggunakan angkutan
sendiri.
Muhammad Thaha Pattiiha

16

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Sekembalinya TKI ke tempat asal dengan membawa pulang sejumlah uang yang dikumpul
bertahun-tahun tapi karena secara mental dan pengetahuan tidak di siapkan untuk mengelolah
hasil jerih payahnya, maka kemudian habis begitu saja dan kembali hidup seperti sediakala.
Dengan demikian permasalahan terjadi berasal dari mulai perektutan, penampungan dan
pengurusan dokumen keimigrasian, penempatan di negara tujuan dan pemulangan.
Pengguna di negara tujuan TKI sering dijadikan obyek kekerasan fisik, pelecehan seksual
TKW ada yang sampai hamil bahkan memiliki anak tanpa nikah. Bekerja tanpa pembatasan
waktu, tidak memperoleh hari libur untuk beristirahat, bahkan tidak mendapat gaji samasekali.
Asuransi TKI, melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmenakertrans)
No: 209/Men/IX/2010 tertanggal 6 September 2010 tentang Penetapan Konsorsium Asuransi TKI
dengan nama Proteksi TKI, diputuskan satu konsorsium di bawah perusahaan PT Asuransi
Central Asia Raya, dengan keanggotataan sembilan perusahaan asuransi yaitu ;
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

PT Asuransi Umum Mega,


PT Asuransi Harta Aman Pratama,
PT Asuransi Tugu Kresna Pratama,
PT Asuransi LIG, PT Asuransi Raya,
PT Asuransi Ramayana,
PT Asuransi Purna Artanugraha,
PT Asuransi Takaful Keluarga, dan
PT Asuransi Relife,

Hingga 8(delapan) perusahaan asuransi sebagai penyelenggara program asuransi TKI.Sejak


Oktober 2010 sebagaimana data BNP2TKI terkait uang premi TKI yang dihimpun konsorsium
Asuransi Proteksi adalah sebesar Rp 192 Miliar lebih dan baru Rp 13 Miliar atau 5,6 persen saja
yang dapat dicairkan sebagai klaim TKI oleh pihak asuransi. Sebelumnya konsorsium lama yang
dapat dicairkan sekitar 11 persen. Semua TKI diwajibkan mengikuti program asuransi,
membayar besarnya premi asuransi sesuai masa kontrak kerja.
Kewajiban mengasuransikan diri yang tetapkan pemerintah, ternyata lebih mudah menyetor premi
tapi tidak mudah mengurus klaim asuransi. Kesulitan karena prosedural birokratis yang biasa ada
di pemerintahan ternyata telah menginfeksi konsorsium asuransiyang katanya swasta. Pengajuan
klaim oleh TKI, ternyata masih banyak yang tidak paham, juga kesulitan atau dipersulit dengan
persyaratan kelengkapan dokumen adminstratif, selain waktu yang tidak terukur, indikasi
konsorsium asuransi hanya untuk mendulang premi guna diinvestasikan di lain tempat agar
memperoleh profit sangat dimungkinkan oleh total jumlah premi yang terus meningkat dan sudah
lebih dari Rp 200 Milyar, berbanding sangat jauh dengan jumlah pengajuan klaim yang dicairkan
oleh TKI. Entah kemana dan untuk apa atau diapakan dengan jumlah total premi sebesar itu ?
Pemerintah selalu tidak siap, tidak cepat tanggap dan sigap, padahal setiap saat akan selalu
terjadi masalah TKI, terkesan mengabaikan ataupun mendiamkan sampai disuarakan masyarakat
atau media. Hal demikian telah disadari akan menjadi masalah yang lebih besar lagi dikemudian
hari.
Perlindungan Hukum atau Law Enforcement oleh Pemerintah yang belum maksimal,
terkesan lamban dalam merespon isu perlindungan TKI dengan selalu baru bergerak/bertindak
bila ada atau telah terjadi kasus, bahkan sebagian kasus telah mencapai tingkat putusan dan
eksekusi putusan baru diketahui dan ditindak lanjuti. Itupun bila telah dikritisi, padahal TKI
sebagian besar bekerja pada wilayah beresiko tinggi atau atau 3D (difficult, dirty dan dangerous sulit, kotor dan berbahaya ).

Muhammad Thaha Pattiiha

17

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Tumpang tindih aturan, tidak ada koordinasi yang padu dan pembagian fungsi pengambil
kebijakan masing-masing egosentris, selain belum dapat memilah dan membagi secara detail,
jelas dan tegas tugas/tanggungjawab dan fungsi lembaga-lembaga penanganan urusan dan
permasalahan TKI.
Bila dicermati secara mendalam pelaksanaan pelayanan penempatan dan perlindungan TKI
bertumpu pada Instansi-instansi yang berkoordinasi. Sebagai contoh rekrut CTKI dilayani oleh
Disnaker Kab/Kota, KTP dilayani oleh Depdagri, Cek Up Kesehatan dilayani oleh Depkes,
Pasport dilayani oleh Dephum dan Ham, Pengesahan Job Order dan pembelaan dilayani oleh
Deplu melalui perwakilan R.I di Negara-negara tujuan penempatan. Angkutan dilayani oleh
Dephub. Keamanan dilayani oleh POLRI. Pelatihan melalui BLKN ijinnya dikeluarkan oleh
Disnaker Kab/Kota. BNP2TKI, mengkoordinasikan pelayanan-pelayanan tersebut melalui
penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN).
Data resmi TKI yang benar-benar tepat dan tepercaya berapa jumlah total warga negara yang
bekerja di luar negeri serta yang terperinci menurut jenis kelamin, jenis pekerjaan
formal/informal, negara tujuan penempatan TKI yang bekerja di luar negeri selalu berbeda antara
masing-masing pihak penyelenggara urusan TKI, termasuk yang bermasalah tidak ada
singkronisasi antara pihak.
Kemenakertrans berbeda dengan Kementerian Luar Negeri, berbeda dengan Imigrasi, berbeda
dengan BNP2TKI, apalagi PPTKIS.
Audit Data resmi mestinya dilakukan oleh Pemerintah dengan melibatkan semua instansi dan
lembaga termasuk perwakilan negara di luar negeri, termasuk juga Kepolisian.

Muhammad Thaha Pattiiha

18

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

F. PERLINDUNGAN HUKUM
Hukum yaitu peraturan yang dibuat dan disepakati baik tertulis maupun tidak tertulis;
peraturan, undang-undang yang mengikat perilaku setiap masyarakat tertentu(Amran
Y.S.Chaniago, 1997).
Perlindungan TKI ; segala upaya untuk melindungi calon TKI dalam mewujudkan terjaminnya
pemenuhan hak-haknya sesuai peraturan perundang-undangan, baik sebelum, selama maupun
sesudah bekerja dan kembali ke tanah air.
Perlindungan tersebut dilakukan dengan penyelengaraan keadilan dan ketertiban untuk
mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan pada rakyat sesuai dengan tujuan Negara
( menurut Prof. Subekti, S.H ).
Permasalahan perlindungan harus lebih kepada yang dialami oleh TKI Perempuan, karena TKI
Perempuan yang sering dan paling banyak menjadi korban trafiking dengan dalih penempatan.
Menurut Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007, trafiking adalah tindakan perekrutan,
pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang, dengan ancaman
kekerasan atau penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan,
penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi pembayaran atau
manfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain
tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antara negara untuk tujuan eksplotasi atau
mengakibatkan orang lain tereksploitasidan.
Trafiking menurut Protocol PBB, adalah Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan
atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan, atau bentuk-bentuk lain
dari kekerasan, penculikan, penipuan, kebohongan atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi
rentan, atau memberi atau menerima pembayaran, memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh
persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan eksplotasi. Eksplotasi untuk
melacurkan orang lain, atau bentuk-bentuk lain dari eksplotasi seksual, kerja atau pelayanan paksa,
perbudakan atau praktek-praktek serupa perbudakan, penghambatan atau pengambilan organ tubuh.
Kedua definisi tersebut di atas tidak hanya untuk kasus trafiking pekerja seks saja, tapi juga
termasuk kerja paksa dan bentuk-bentuk eksplotasi lainnya yaitu lebih mengedepankan pencegahan
trafiking, melindungi dan mendampingi korban, dan untuk menghukum pelakunya (trafiker).
Secara konstitusional UUD 1945 menjamin bahwa setiap warga negara berhak atas penghidupan
yang layak. Negara dan Pemerintah ternyata setelah 66 tahun Indonesia merdeka, belum mampu
memenuhi kewajibannya menyediakan lapangan kerja bagi semua warga negara, sehingga masih
banyak yang menjalani hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Sehingga memilih menjadi TKI ke
luar negeri saat ini dan meraka yang karena ketidaktahuan maupun keadaan tertentu kemudian
menjadi korban perdagangan orang.
Namun demikian masih terjadi pembiaran dengan sengaja sebagai akibat praktek hukum negara
yang tidak berjalan maksimal bahkan multi tafsir, khusus perlindungan hukum atas hak-hak warga
Negara yang memilih memenuhi kehidupan dan masa depannya sebagai TKI yang bekerja di luar
negeri.
Muhammad Thaha Pattiiha

19

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Diperlukan kejelasan dan kepastian program tentang Trafiking yang dijalankan, bahkan reformasi
program, tatanan hukum dan aturan serta reformasi kewajiban Pemerintah untuk penataan birokrasi
penanganan TKI, reformasi sistem perlindungan, pembelaan dan advokasi tehadap TKI dan
pencegahan dan perlindungan terhadap warga negara agar tidak menjadi korban perdagangan orang.
Hal ini dapat dilakukan sejak dari tahapan awal perekrutan atau pra pemberangkatan, ketika
penempatan dan setelah penempatan, hingga pascah menjadi TKI dan kembali ke tanah air.
Berharap Pemerintah semata, juga tidak bijak. Para Lembaga Swadaya Masyarakat peduli TKI
maupun para Pemerhati TKI lainnya, harus berpartisipasi mengambil peran untuk bersama-sama
mengatasi permasalah TKI.
Untuk hal dimaksud di atas, saran kami dapat dilakukan melalui program sebagai berikut ;
1. Aksi Peduli, dan
2. Partisipasi Reformasi Regulasi TKI.

1. Aksi Peduli
1.1.

Pra Pemberangkatan

Melakukan pengawasan dan pengawalan secara intensif terhadap lembaga pelaksana, pengerah
dan penepatan serta penanggung jawab TKI di luar negeri, untuk hal-hal sebagai berikut ;
a. Tersosialisasi pemahaman, kesadaran, kesiapan dan tujuan TKI bekerja ke luar negeri
b. Penyelenggara harus menjalankan fungsi guna Persiapan mental, pengetahuan budaya dan
bahasa negara tujuan serta kompetensi kemampuan dan ketrampilan pekerjaan calon TKI.
c. Mempersiapkan secara pasti da lengkap identitas calon TKI.
d. Calon TKI mendapatkan informasi kejelasan status, kemampuan dan pengalaman Perusahaan
Pengirim TKI.
e. Calon TKI mendapatkan pendidikan dan pelatihan secara baik dan lengkap sesuai bidang
ketrampilan yang akan dilakukan di negara tujuan, untuk PLRT parlu dilakukan
pelatihan/simulasi penggunaan alat-alat rumah tangga modern di luar negeri agar tidak terjadi
miskompetensi.
f. Kelengkapan Dokumen ;
Kesesuaian dokumen dan data pribadi calon TKI sesuai identitas asli.
Mendapatkan secara terbuka dan lengkap besar biaya pengurusan dokumen dan cara
pembayaran atau penggantiannya.
Dokumen berupa Paspor, Visa dan Kontrak Kerja dengan Pengguna, Polis Asuransi, harus
dimiliki
duplikatnya(fotocopy) oleh keluarga calon TKI di dalam negeri.
g. TKI harus mendapatkan pengetahuan tentang hak dan kewajibannya.

Muhammad Thaha Pattiiha

20

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

1.2.

Penempatan dan Purna Penempatan

Pemerintah masih terkesan membiarkan TKI mengurus diri sendiri, bila diperhatikan
secara seksama selama ini sebaliknya terbaca bahwa orientasi pola sikap birokrasi pemerintah
sepertinya menganggap TKI adalah obyek dan komoditi, bila demikian harus segara dihentikan.
Untuk hal tersebut di atas, para Lembaga Swadaya Masyarakat peduli TKI maupun para
Pemerhati TKI lainnya dapat melakukan langkah berupa program Perlindungan, Pembelaan
dan Advokasi secara intensif yang harus dan selalu dilakukan tanpa jeda waktu, kontinyu, serius
dan bersifat tetap, sebagai perhatian atas keprihatinan membaca dan menganalisa kondisi yang
terjadi, terutama pada saat TKI di tempatkan dan setelah penempatan.
Bahwa masa paling kritis dan bermula timbul masalah adalah ketika TKI ditempatkan di negara
tujuan dan menjalani masa kerja sesuai kontrak yang telah dibuat dengan pengguna TKI.
Program Perlindungan, Pembelaan dan Advokasi dengan melakukan aksi dan langka antara lain,
seperti ;
Mempelajari secara seksama sistem hukum perlindungan tenaga kerja, negara penempatan
TKI.
Menjalin kerjasama dengan pihak terkait untuk mencegah pengiriman TKI Ilegal/Non
Prosedural serta pencegahan terjadinya Perdagangan Orang ( Trafiking ) serta memberikan
perlindungan dan advocasi kepada korban perdagangan orang,
Menyampaikan somasi kepada Pemerintah Pusat, Perwakilan KBRI, KJRI, Perwakilan dan/atau
Pemerintah Negara TKP TKI,
Membentuk Tim Advocasi Mandiri dan kerjasama dengan para Advocat Internasional,
Membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerhati pekerja migran di dalam maupun di
luar negeri,
Menerbitkan Buku Saku tentang keselamatan dan perlindungan hukum TKI dan Buku Saku
penggunaan jasa perbankan untuk remitansi TKI dan tata cara transaksi dilengkapi lokasi bank
koresponden di luar negeri di dekat wilayah TKI biasanya berada.
Membantu meng-advokasi TKI atau Ahli Waris untuk memperoleh Hak Klaim Asuransi
Membuka Wisma Pemantauan dan Penampungan TKI bermasalah di negara-negara tujuan TKI,
Membantu memfasilitasi TKI bermasalah (dan keluarganya) untuk kepulangan sampai di alamat
tempat tinggal,
Secara kontinyu menyuarakan melalui media masa, baik komentar, wawancara maupun
penulisan,
Menyuarakan melalui perwakilan di legeslatif,
Menyelenggarakan Diskusi / Seminar / Simposium Nasional Perlindungan TKI dan Pencegahan
Perdagangan Orang.

1.3. Kembali ke Tanah Air


Proses kedatangan ke tanah air saat tiba di bandara, adalah bagian dari masalah TKI yang
sangat perlu dilindungi dari perlakuan aturan birokratis dan tindakan para petugas di area tempat
penampungan kepulangan antara lain ketiadaan pilihan untuk terminal kedatangan di bandara,
tidak ada batas waktu masa tunggu untuk melanjutkan perjalanan menuju alamat tempat tinggal,
tidak tersedia Bank tempat penukaran uang, selain selama ini ditangani perusahaan swasta
money changer yang tidak berstandar resmi, penetapan biaya tiket dari bandara ke alamat
tempat tinggal yang melebihi biaya resmi.
Muhammad Thaha Pattiiha

21

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

Selain aktif melakukan aksi nyata, pemantauan dan pengawasan terhadap hal-hal tersebut di
atas, juga memperjuangkan regulasi yang sifatnya memberikan kebebasan dan keleluasaan
kepada TKI untuk memilih terminal bandara saat kedatangan, mendapatkan fasilitas dan
pelayanan penukaran uang yang realistis, mendapatkan kemudahan, biaya ringan, keselamatan,
dan percepatan pengangkutan ke alamat tujuan tempat tinggal.
Program lain yang patut diselenggarakan juga adalah perlu menyediakan pelatihan
kewirausahaan bagi para TKI Purna sehingga mereka dapat memanfaatkan modal dan
pengalaman yang mereka peroleh di luar negeri untuk menjalani kehidupannya pasca bekerja di
luar negeri yang dapat berdampak positif menggerakan sektor riil di temapat asal TKI.

2. Partisipasi Reformasi Regulasi TKI


Program Partisipasi Reformasi Regulasi tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
dilakukan dengan tetap berpijak pada sistem tatanan hukum yang telah ada dan sifatnya sebagai
koreksi untuk perbaikan sesuai kebutuhan guna menata sistim penyelenggaraan TKI yang
teratur, tertib dan bermanfaat.
1. Melakukan kajian terhadap isi dan implementasi/pelaksanaan berbagai Regulasi TKI,
antara lain ;
- Undang Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
- Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004, tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia di Luar Negeri.
- Undang Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang.
- Implementasi oleh Indonesia atas berbagai Konvensi Internasional mengenai Perlindungan
Orang, HAM dan Tenaga Kerja.
- Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Instruksi Presiden, Peraturan Menteri, Keputusan
Menteri dan berbagai aturan di bawahnya.
- Ratifikasi Konvensi ILO No. 189 Tentang Pekerja Rumah Tangga, dan Konvensi ILO 177
Tentang Pekerja Rumahan.
2. Melakukan kajian terhadap Peran dan Fungsi Pemerintah ( di dalam negeri dan
perwakilan di luar negeri ), BNP2TKI, PPTKIS dan Instansi/Lembaga terkait, untuk
mengetahui peran dan fungsi secara proporsional dan profesional, tidak asal-asal dan
tumpang tindih fungsi dan kebijakan, koordinasi pelayanan sudah seharusnya satu atap atau
paling tidak melalui Teknologi Informasi yang menggunakan sistim online terhubung secara
bersama dan keseluruhan instansi dan lembaga dalam satu sistim terhubung agar TKI
tertangani secara baik, bukannya yang mengemuka adalah egosentris sektoral.
3. Mengsosialisasikan dan Menyampaikan Hasil Kajian kepada Pemerintah, DPR dan
Instansi/Lembaga Penyelenggara TKI serta Media Masa, guna perbaikan menyeluruh
Penyelenggaraan TKI.
Demikian sedikit buah pikir sebagai sumbangan bagi kemaslahatan anak bangsa di negeri orang oleh
adanya perhatian atas berbagai hal negatif yang sangat merugikan bagi TKI di Luar Negeri.

Muhammad Thaha Pattiiha

22

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

G. REGULASI
Regulasi tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) antara lain ;
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
4. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 2011 tertanggal 27 September 2011 tentang Percepatan
Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional 2011, antara lain berisi peningkatan peran Badan
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP2TKI).
Isi Inpres;
Pertama, penanganan masalah TKI melalui pembangunan sistem layanan pengaduan secara "online"
dengan target tersedianya sistem layanan pengaduan TKI di kantor pusat
BNP2TKI dan 10 kantorBadan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI).Kedua, pengamanan keberangkatan untuk mencegah TKI nonprosedural dengan target
tercapai 100 persen pemberangkatan TKI berdokumen resmi dan pembekalan bagi 750 TKI ilegal untuk
berangkat dengan dokumen resmi.
5. Peraturan Presiden (Perpres) No 81/2006 tentang Pembentukan BNP2TKI
6. Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 4 / 1970 tentang Program Antarkerja Antardaerah (AKAD) dan
Antarkerja Antarnegara (AKAN)
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.07/MEN/V/2010 tentang Asuransi
Tenaga Kerja Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 273).
9. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: 209/Men/IX/2010 tertanggal 6 September
2010 tentang Penetapan Konsorsium Asuransi TKI dengan nama Proteksi TKI
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.14/MEN/X/2010 tentang
Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 515).
11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.23/MEN/IX/2009 tentang
Pendidikan dan Pelatihan Kerja Bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 340).
12. Permenakertrans Nomor 16/2009 tentang Tatacara Penerbitan Surat Ijin Pengerahan (SIP) Calon
Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri bagi Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta
(PPTKIS).
13. Permenakertrans Nomor 17/2009 tentang Penyelenggaraan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP)
TKI ke Luar Negeri
14. Permenakertrans Nomor 18/2009 tentang Bentuk, Persyaratan dan Tata Cara Memperoleh Kartu
Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN).
15. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.07/MEN/IV/2008 tentang
Penempatan Tenaga Kerja.

Muhammad Thaha Pattiiha

23

Perlindungan Hukum TKI di Luar Negeri

- Kepustakaan
-

Peraturan Kepala Badan Nasional Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nomor Per.04/Ka/V/2011 Tentang Petunjuk Teknis
Tenaga Kerja Indonesia Yang Bekerja Secara Perseorangan
BNP2TKI dan www.bnp2tki.go.id
BNP2TKI, Petunjuk Penempatan TKI Perseorangan, Friday, 13 May 2011
Inpres No.14 Thn 2011 ttg Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional 2011, a.l peningkatan peran Badan Penempatan
dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP2TKI).
Ditjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Pusdatinaker, Depnakertrans RI.
Antara/FINROLL News (Jakarta, 18/8/11)
Drs - -Irgan Chairul Mahfidz Ketua Komisi IX DPR - bnp2tki.go.id ,Kamis (2/9/11)
Amir Tejo Okezone, Rabu, 5 /10/ 2011
Koran Tempo, Jumat (7/5/11)
http://www.tabloiddiplomasi.org
http://www.harianhaluan.com/Padang
http://www.menkokesra.go.id
http://www.madina-sk.com
http://id.wikipedia.org
Bolmer Suryadi Hutasoit , Perlindungan Hukum Dan Penyelesaian Kasus Penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia Di Semarang- Makalah Metode
Penelitian dan Penulisan Hukum, Maret 15, 2011
Drs. Arifin Purba, M.Si (Direktur Penyiapan dan Pemberangkatan - Deputi Bidang Penempatan BNP2TKI)Penyiapan penempatan tenaga kerja
indonesia di luar negeri,Bogor,19Juli2011
SK Menko Kesra No.09/KEP/MEMKO/KESRA/III/2008 tgl 6 Maret 2008 ttg Pembentukan Tim
Koordinasi - Formulasi Kebijakan
Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK FKP-TKIB).dan Surat Sekretaris Kementerian Koordinator Bid. Kesra No.
B.671/KMK/ ES/IV/2008 tgl 15 April 2008 ttg Pelaksanaan Tugas TK FKP-TKIB Thn 2008.
LSM - Peduli Buruh Migran
Remitansi TKI Jelang Lebaran,- REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, Senin, 30 /6/2010
tki-dideportasi-dari-malaysia http://www.antaranews.com, Minggu, 29 /8/ 2010
Hasil Survei Nasional Pola Remitansi TKI di Nusa Tenggara Barat 2010
UU RI No. 21 Thn 2007 Ttg PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG
UU RI No. 39 Thn 2004 Ttg PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TKI DI LUAR NEGERI.
UU RI No 13 Thn 2003 TTG KETENAGAKERJAAN
Kpts. Menakertrans No. KEP 14/MEN/I/2005 Ttg Tim Pencegahan Pemberangkatan TKI Non Prosudural Dan Pelayanan Pemulangan TKI
Permenakertrans Nomor 15/2009 tentang Pencabutan Permenaketrans No 22/2008
Permenakertrans No.16/2009 ttg Tatacara Penerbitan Surat Ijin Pengerahan (SIP) Calon TKI ke LN bagi PPTKIS.
Permenakertrans No.17/2009 ttg Penyelenggaraan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) TKI ke LN
I Wayan Pageh, Permasalahan Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri,06/08
Permenakertrans No.18/2009 ttg Bentuk, Persyaratan dan Tata Cara Memperoleh KTKLN.
Erwan Baharudin, Puspen Jurnal Ilmiah-UIEU, Lex Jurnalica Vol.4 No.3 Agustus 2007
Kansil, C.S.T., 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Muhammad Thaha Pattiiha

24