Anda di halaman 1dari 11

MITOS GUNUNG BROMO

SEBUAH KAJIAN FUNGSI WILLIAM R. BASCOM
(disusun guna memenuhi mata kuliah Sosiologi Sastra)

Oleh:
Dini Tian Puspita
157835065

PROGRAM STUDI MAGISTER
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA ASING JERMAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2016

seperti legenda. folklor juga mengandung fungsi yang menurut William R Bascom ada empat. (2) folklor setengah lisan dan (3) folklor bukan lisan. teka-teki dan syiir (Jawa). nyanyian rakyat. (5) milik suku bangsa tertentu dan (6) menjadi satu identitas suku bangsa tertentu. diantara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak maupun alat bantu pengingat” (Dananjaja. 1984:2. 1991:5). berbangsa dan bernegara. . sage. Dalam rangka untuk pengembangan tersebut. fable. Folklor dibagi menjadi tiga golongan. termasuk tradisi lisan sebagai media untuk pendidikan karakter masyarakat Indonesia. Latar Belakang Seperti yang diketahui folklor atau tradisi lisan adalah hasil budi. 2010:1) menjelaskan bahwa folklor merupakan salah satu kebudayaan daerah dan merupakan salah satu insur kebudayaan nasional yang perlu dibina. Sedangkan corak ragam budaya yang ada di seluruh Indonesia menggambarkan kekayaan budaya bangsa yang dapat menjadi modal dan landasan untuk pengembangan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi seluruh bangsa Indonesia. Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang folklor lisan yang memiliki pengertian sebagai folklor yang bentuknya murni lisan. Selain itu.A. PENDAHULUAN 1. pantun (Melayu) dan pelipur lara (Melayu). peribahasa. Folklor adalah “sebagai kebudayaan suatu kolektif yang disebar dan diwariskan turun temurun. diantaranya sebagai: (1) hiburan. perlu ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai budaya daerah. bermasyarakat. Hutomo. (2) diwarisi oleh generasi secara turun temurun. yaitu (1) folklor lisan. (3) kritik sosial dan (4) pemaksa masyarakat agar menjalankan norma-norma yang dianggap benar dan bernilai untuk dijadikan pedoman atau contoh dalam hidup bermasyarakat. Supratno dan Darni (Supratno. dikembangkan dan dilestarikan dalam rangka untuk memperkaya keanekaragaman dan kebudayaan nasional. rasa dan karsa manusia yang memiliki sifat khas dan berbeda dengan yang dimiliki suku bangsa lain. (2) pendidikan. Tradisi lisan tersebut memiliki cirri-ciri antara lain: (1) disebarkan secara lisan. mite. Kebudayaan nasional pada hakekatnya adalah satu. (3) bersifat anonim. (4) memiliki sifat khas yang berbeda. ungkapan. Selain itu. Nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi lisan dapat diaktualisasikan atau diimplesentasikan dalam kehidupan sehari-hari dan dijadikan pedoman atau model atau hidup dalam berkeluarga.

folklor dan teori fungsi.Cerita gunung Bromo sudah melegenda di masyarakat. KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dibahas menegenai pengertian sastra lisan. 1. Sastra Lisan . penulis mengangkat legenda tersebut sebagai judul dan dikaitkan degan teori fungsi dari William R Bascom. Seperti yang diketahui. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut: Bagaimana fungsi mitos Gunung Bromo? 3. B. Oleh karena itu. 2. Upacara tersebut tentu berhubungan dengan cerita atau legenda dari Gunung Bromo. setiap tahun masyarakat suku Tengger mengadakan upacara atau ritual tahunan yang disebut dengan upacara Kasada. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas fungsi mitos Gunung Bromo.

Oleh karena itulah. Tidak mementingkan fakta dan kebenaran. Menggunakan gaya bahasa lisan (sehari-hari). Maksudnya. fantasi yang tidak diterima oleh masyarakat modern. Sesuatu disebut dengan ‘sastra lisan’ apabila memuliki pengertian sebagai kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun-temurunkan secara lisan (dari mulut ke mulut) (Hutomo. kaba (Minangkabau). termasuk cerita rakyat (Hutomo. tetapi sastra lisan itu mempunyai peran penting di dalam masyarakatnya. Sastra lisan jenis ini misalnya drama panggung dan drama arena. Menggambarkan ciri-ciri budaya sesuatu masyarakat. baik lisan maupun tulis (cetak). Dari penjelasan di atas. Terdiri dari berbagai versi. 1997:39). carita pantun (Sunda). baik dari segi waktu dan ruang melalui mulut. ekspresi budaya yang disebarkan. c. dengan menggunakan bahasa yang indah menurut konteksnya (Hutomo. 1991:1). dan kentrung (Jawa) biasanya dipertunjukkan dengan alat musik tradisional (Hutomo. Seperti kita ketahui. Sedangkan sastra lisan yang setengah lisan merupakan sastra lisan yang disampaikan dengan bantuan tingkah laku serta bentuk-bentuk seni yang lain. atau masyarakat yang belum mengenal huruf. f. 1991: 3-4). Sastra lisan murni merupakan ragam sastra lisan yang penyampaiannya benar-benar secara lisan tanpa alat bantu lain. sastra lisan adalah sastra yang mencakup ekspresi sastra suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan secara lisan (Hutomo. Penyebarannya melalui mulut.Sastra atau kesusastraan ialah ekspresi pikiran dan perasaan manusia. e. yaitu sebagai berikut: a. Lahir dari masyarakat yang bercorak desa. Sastra lisan murni pada umumnya berbentuk prosa rakyat. yaitu sastra lisan murni dan sastra lisan yang setengah lisan. 1991: 62-64). sebab sastra lisan merupakan warisan budaya yang menggambarkan masa lampau. . Tidak diketahui siapa pengarangnya. tetapi menyebut pula hal-hal baru (sesuai dengan perubahan-perubahan sosial). dapat disimpulkan bahwa sastra lisan merupakan salah satu bagian dari tradisi lisan ataupun folklor lisan. serta sastra lisan murni yang disampaikan dengan alat musik. dan karena itu menjadi milik masyarakat. masyarakat di luar kota. Adapun sastra lisan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok. d. dan g. mengandung dialek. lebih menekankan pada aspek khayalan. 1991: 60). sastra lisan juga disebut fosil hidup. jadi. Beberapa ciri sastra lisan. kadang-kadang diucapkan tidak lengkap. prosa liris dan bentuk-bentuk puisi rakyat. b.

diantara kolektif macam apa saja. Alan Dundes Teori ini memiliki enam fungsi. 3. Teori Fungsi Terdapat lima teori fungsi yang akan dijelaskan dalam makalah ini. sarana kritik sosial. sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. mata pencaharian. Folk memiliki perngertian kolektiv (collectivity) sedangkan lore memiliki arti kebudayaan. yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama. Secara etimologis. secara tradisional dalam versi yang berbeda. alat pendidikan dan alat pemasak dan pengawas norma masyarakat agar dipatuhi oleh kelompoknya. yaitu sebagai alat pendidikan. James Danandjaya (1984:1-2) menyatakan. yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. yang dimaksudkan dengan lore adalah tradisi folk. pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. diantaranya sebagai alat hiburan. yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turum temurun. Menurut Alan Dundes (dalam Danandjaya. Suripan Sadi Hutomo . istilah folklore berasal dari kata folk dan lore. Berdasarkan pengertian tersebut. William R. sangsi sosial. sosial dan kebudayaan. bahasa. diantaranya: a. b. James Danandjaya (1984:2) mendefinisikan folklor sebagai sebagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun temurun. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi. folk adalah sinonim dengan kolektif. baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). 1984:1) folk adalah sekolompok orang-orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik. taraf pendidikan dan agama yang sama. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud warna kulit. serta memiliki kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat. Dipihak lain. bentuk rambut. yaitu sebagian kebudayaannya. yang diwariskan secara turun menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). memberikan suatu pelarian yang menyenangkan atau alat pembayangan dan mengubah pekerjaan yang menjadikan membosankan menjadikan permainan c. sedikitnya dua generasi.2. Folklor Istilah folklor merupakan pengindonesiaan dari kata folklore dalam bahasa Inggris. meningkatkan perasaan solidaritas. Bascom Teori ini memiliki empat fungsi.

Malinowski Kebudayaan sebagai alat yang besar untuk memenuhi biologis dan sosial tertentu. dan budaya. . tepatnya di daerah Gunung Bromo. Kaum Fungsionalis Kebudayaan bukan hanya sekedar alat untuk memenuhi kebutuhan manusia atau masyarakat. Pada saat itulah dewa mulai pergi menuju ke sebuah tempat. kerajaan Majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah. penyatuan pendidikan dengan kelakuan untuk menghasilkan manusia yang berkelakuan atau berbudi. pembentukan cita rasa. Ringkasan Cerita Cerita ini termasuk dalam cerita rakyat atau legenda yang berasal dari Jawa Timur. PEMBAHASAN 1. memberikan suatu jalan yang dibenarkan oleh masyarakat agar dia lebih dapat superior daripada orang lain dan melarikan diri dari himpitan hidup sehari-hari. e. C. di sekitar gunung Bromo. Dikisahkan pada jaman dahulu. seperti keluarga bukan hanya sebagai pengembangan keturunan dan seks. demikian juga dengan dewa-dewa. pengajaran kemahiran. asas perpaduan masyarakat. alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial dan sebagai alat pengendali sosial. pengajaran norma.Terdapat enam fungsi. seperti: sebagai sistem proyeksi. Masyarakat lebih mengenal cerita ini dengan Legenda Gunung Bromo. tetapi berfungsi juga sebagai alat pengubah kelakuan manusia melalui latihan. Gunung Bromo masih tenang. d. Penduduk bingung mencari tempat pengungsian. ekonomi. tegak diselimuti kabut putih. untuk pengesahan kebudayaan. saat dewa-dewa masih suka turun ke bumi. kewarganegaran. tetapi berfungsi untuk memenuhi pendidikan. sebagai alat pendidikan.

aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji.Dewa-dewa yang mendatangi tempat di sekitar Gunung Bromo. dan merupakan anak yang lahir dari titisan jiwa yang suci. cahanya terang. Garis-garis kecantikan nampak jelas diwajahnya. Wajahnya cantik dan elok. kawah Gunung Bromo menyeburkan api. karena keduanya saling mengasihi. Lalu . terjilat api dan masuk ke kawah Gunung Bromo. Di sekitar Gunung Pananjakan. tempat dewa-dewa bersemayam. Bayi tersebut dinamai Jaka Seger. karena setelah beberapa tahun pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. yang artinya Jaka yang sehat dan kuat. anak bungsunya lenyap dari pandangan. Genggaman tangannya sangat erat. namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo”. Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan mala petaka. Sejak dilahirkan anak tersebut menampakan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Di tempat sekitar gunung Pananjakan. Wajahnya tampan. anak bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Di tempat itulah dapat terlihat matahari terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak Gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan. sembahlah Hyang Widi. Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi besar. terdapat pula tempat pertapa. istri melahirkan seorang anak lakilaki. Kemudian Rara Anteng dan Jaka Seger menjadi pasangan suami istri yang berbahagia. bersemayam di Lereng Gunung Pananjakan. Pertapa tersebut kerjanya setiap hari hanyalah memuja dan mengheningkan cipta. Saat ia lahir. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib: “Saudara-saudaraku yang kucintai. pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang lahir dari titisan dewa. tendangan kakinya pun kuat tidak seperti anak-anak lain. Kesuma. Oleh orang tuanya. Suatu ketika hari yang berbahagia. anak pertapa tersebut sudah dapat berteriak. Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan. Hiduplah damai dan tenteram. kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita. pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri. bayi itu dinamai Rara Anteng.

Upacara atau tradisi tersebut telah menjadi suatu nilai budaya dalam masyarakat. Kemudian Dewa memenuhi permintaannya dengan syarat anak bungsunya harus dikembalikan pada Dewa. yaitu pesan Kesuma terhadap Jaka Seger dan Rara Anteng serta seluruh saudaranya: . Jaka Seger meminta pada dewa untuk diberikan keturunan. Di tempat yang tidak jauh lahirlah seorang perempuan yang tidak menangis saat keluar dari rahim ibunya. yakni: (a) alat hiburan. dia dinamai Rara Anteng. b. Jaka Seger dan Rara Anteng dikaruniai 25 putra putri dan mereka tidak rela untuk melepaskan anak bungsunya pada Dewa. Singkat cerita mereka tumbuh menjadi seorang yang tampan dan cantik. Sebagai Alat Hiburan Cerita ini berfungsi sebagai alat hiburan bagi masyarakat. Sudah menjadi jati diri dan diwariskan turun menurun sehingga sah sebagai pranata masyarakat Jawa Timur di bagian Gunung Bromo. a. hingga keduanya saling menyukai satu sama lain hingga akhirnya mereka menikah. sehingga pada suatu hari Dewa marah dengan menimpakan malapetaka di Gunung Bromo. (b) pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. Seperti secara singkat dapat diceritakan bahwa legenda Gunung Bromo ini awalnya ditinggali oleh dewa-dewa. Hal tersebut dapat dilihat pada akhir cerita. Dipimpin oleh ketua adat atau dukun di hari ke-14 bulan Kasada. Analisis Fungsi William R Bascom Seperti yang telah diketahui terdapat empat fungsi menurut William R Bascom. Hari menjadi gelap dan keluarlah lahar api dari dalam gunung melahap anak bungsu mereka yang bernama Kesuma. Oleh karena itu. Lalu terdengarlah suara yang mengatakan untuk menyerahkan sesaji pada Sang Hyang Widi pada setiap hari ke 14 bulan Kasada. Dalam sub bab ini dijelaskan fungsi yang terdapat dalam legenda Gunung Bromo. Disana hidup seorang pertapa yang memiliki anak yang sangat tampan bernama Jaka Seger. Setelah beberapa lama tidak dikaruniai anak. 2. Mereka melakukan ritual tahunan ini dengan menyajikan sesaji berupa hasil bumi terbaik. Sebagai Pengesahan Pranata-pranata dan Lembaga-lembaga Kebudayaan Cerita atau legenda Gunung Bromo ini berfungsi sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan dengan diadakannya upacara Kasada oleh masyarakat Tengger. mereka akan terhibur apabila mendengar dan membaca cerita tersebut. (c) alat pendidikan dan (d) alat pemaksa dan pengawas norma masyarakat agar dipatuhi oleh kelompoknya.kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

2015:76-77) Berdasarkan kutipan tersebut dapat dijadikan pelajaran untuk mendidik masyarakat agar menepati janji yang telah diucapkan. Dinas Pariwisata setempat menaungi upacara tersebut sebagai acara tahunan di Gunung Bromo. aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Lautan yang diminta harus dibuat dalam waktu satu malam. Dengan permintaan yang aneh. 2015:78) Berdasarkan kutipan di atas terlihat jelas bahwa tradisi upacara Kasada dilaksanakan karena diyakini adanya cerita tersebut. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu. (Supratno dan Darni. Sebagai Alat Pendidikan Cerita ini juga dapat berfungsi sebagai alat pendidikan untuk masyarakat agar memegang atau menepati janji yang telah diucapkan. anak bungsunya lenyap dari pandangan.…kawah Gunung Bromo menyeburkan api. Kesuma. sembahlah Hyang Widi. menipu pelamar tersebut seolah-olah hari sudah pagi. Hingga saat ini masyarakat suku Tengger masih melaksanakan upacara tersebut. Maka ia minta supaya dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung. Sebagai Alat Pemaksa dan Pengawas Norma Masyarakat Agar Dipatuhi oleh Kelompoknya Cerita atau legenda ini juga sebagai alat pemaksa dan pengawas norma masyarakat. aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib: “Saudara-saudaraku yang kucintai. Hiduplah damai dan tenteram. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya tidak berani menolak begitu saja kepasa pelamar yang sakti. sembahlah Hyang Widi. sehingga dia tidak jadi menikah dengannya. seperti dalam kutipan berikut: … Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal sakti dan kuat. Diceritakan bahwa Rara Anteng mengingkari ucapannya sendiri ketika memberikan syarat pada pelamar sakti. Sebagai alat pemaksa terlihat dari tradisi upacara Kasada yang secara rutin setiap tahun pada hari ke-14 bulan Kasada diselenggarakan dengan memberikan hasil bumi terbaik sebagai sesaji untuk Sang Hyang Widi. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu membangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. c. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo”. Hiduplah damai dan tenteram. Bajak tersebut terkenal sangat jahat. Aku ingatkan agar kalian setiap ulan Kasada pada hari ke-14 . Seperti dalam kutipan berikut: …”saudara-saudaraku yang kucintai. Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. dianggapnya pelamar sakti itu tidak akan memnuhi permintaannya. (Supratno dan Darni. Acara ini dilaksanakan juga untuk menarik wisatawan datang ke Bromo. terjilat api dan masuk ke kawah Gunung Bromo. d. bila tidak maka akan terjadi malapetaka. Disanggupinya permintaan Rara Anteng tersebut.

Bascom yang diterapkan pada cerita rakyat atau legenda Gunung Bromo untuk mengetahui adat. pranata. Sebagai alat pendidikan diceritakan secara implisit bahwa semua dari kita harus menepati janji yang sudah diucapkan agar tidak tertimpa malapetaka. . Juga sebagai fungsi yang kedua.mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Hal itu terlihat pada tradisi atau budaya masyarakat Tengger dalam mengadakan upacara Kasada di setiap hari ke-14 bulan Kasada. Terakhir. yaitu sebagai alat pemaksa dan pengawas norma masyarakat agar dipatuhi oleh kelompoknya. Fungsi terakhir ini terlihat dari upacara Kasada yang selalu dilaksanakan tepat pada hari ke-14 bulan Kasada setiap tahunnya dan menghantarkan hasil bumi terbaik mereka ke lereng Gunung Bromo. D. Cerita ini memiliki fungsi sebagai alat hiburan yaitu dengan mendengar atau membaca legenda Gunung Bromo. (Supratno dan Darni. yaitu sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa teori fungsi folklor milik William R. dan kehidupan rakyat suku Tengger berjalan di masyarakat. Hal tersebut dapat dipandang sebagai alat pemaksa masyarakat untuk memberikan hasil bumi terbaik mereka. 2015:78-79) Berdasarka kutipan di atas dapat diketahui bahwa masyarakat suku Tengger setiap upacara Kasada menghantarkan hasil bumi terbaik mereka sebagai sesaji upacara di lereng Gunung Bromo.” Kebiasaan ini diikuti secara turun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo. sebagai fungsi yang ke empat.

Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Folklor Lisan Sebagai Media Pendidikan Karakter Mahasiswa. Haris dan Darni. Surabaya: HISKI Jawa Timur Supratno. Pustaka Ilalang Group Windiarti. Setya Yuwana. 2014. Sudikan. DAFTAR PUSTAKA Hutomo. Jakarta: Unesa University Press. Metode Penelitian Sastra Lisan. 2015.E. 1991.ac. Novita.id/novita3011/2015/11/05/6/ diakses pada tanggal 5 November 2015 . Suripan Sadi. 2015. Lamongan: CV. Ragam Kebudayaan Nusantara – Suku Tengger (online) http://blog.unnes.