Anda di halaman 1dari 47

DAFTAR ISI

BAB I................................................................................................................................. 2
PENDAHULUAN.................................................................................................................. 2
A.Latar Belakang............................................................................................................ 2
B.Tujuan......................................................................................................................... 3
BAB II................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN.................................................................................................................... 4
A.Definisi........................................................................................................................ 4
B.Epidemiologi............................................................................................................... 4
C.Etiologi........................................................................................................................ 4
D.Daya tahan traktus respiratorius................................................................................6
E.Patogenesis................................................................................................................. 8
F.Gejala klinis................................................................................................................. 9
G.Diagnosis.................................................................................................................... 9
H.Pemeriksaan Penunjang............................................................................................ 10
H.i Gambaran Radiologis.......................................................................................... 10
H.3 Pemeriksaan Laboraturium.................................................................................12
I.Penatalaksanaan........................................................................................................ 13
K.Diagnosis Banding..................................................................................................... 19
J.Komplikasi.................................................................................................................. 20
L.Prognosis dan mortalitas........................................................................................... 20
M.Pencegahan.............................................................................................................. 21
BAB III.............................................................................................................................. 22
PENUTUP.......................................................................................................................... 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang

Pneumonia sebenarnya bukan peyakit baru. Tahun 1936 pneumonia
menjadi

penyebab

kematian

nomor

satu

di

Amerika.

Penggunaan

antibiotik,membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun kemudian.
Namun tahun2000, kombinasi pneumonia dan influenza kembali merajalela.
Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi
angka kematian. 1
Pneumonia

aspirasi

merupakan

peradangan

yang

mengenai

parenkim paru, distal dari bronkus terminalis yang mencakup bronkiolus
respiratorius,dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
gangguan pertukaran gas setempat yang disebabkan oleh aspirasi benda
asing baik yang berasal dari dalam tubuh maupun di luar tubuh penderita.
Di

Amerika

pneumonia

aspirasi

yang

terjadi

pada

komunitas

(PAK)adalah sebanyak 1200 per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan
pneumoniaaspirasi nosokomial (PAN) sebesar 800 pasien per 100.000 pasien
rawat inap per

tahun. PA lebih sering dijumpai pada pria daripada

perempuan, terutamausia anak atau lanjut. 1 , 2
Aspirasi

merupakan

proses

terbawanya

bahan

yang

ada

di

orofaring pada saat respirasi kesaluran napas bawah dan dapat menimbulkan
kerusakan parenkim paru. Kerusakan yang terjadi tergantung jumlah dan
jenis bahan yangteraspirasi serta daya tahan tubuh. Sindrom aspirasi dikenal
dalam berbagai bentuk berdasarkan etiologi dan patofisiologi yang berbeda
dan cara terapi yang juga berbeda. 2 , 3
Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk
transmisi primer: (1) aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen
2

yang telah berkolonisasi pada orofaring, (2) inhalasi aerosol yang infeksius,
dan(3) penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi dan
inhalasi1 agen-agen infeksius adalah dua cara tersering yang menyebabkan
pneumonia, sementara penyebaran secara hematogen lebih jarang terjadi 3

B.Tujuan

1.Tujuan umum : Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti
program studi Kepaniteraan klinik Anesthesiology di Rumah Sakit Imanuel,
Bandar Lampung.
2.Tujuan khusus :
1.

Untuk

mengetahui

dan

memahami

pneumonia

aspirasi

dari

segi patofisiologi, gambaran klinis, serta penatalaksanaan
2. mengetahui dan memahami cara bronkoskopi dan trakeostomi

3

BAB II
PEMBAHASAN

A.Definisi

Pneumonia

aspirasi

didefinisikan

sebagai

inhalasi

isi

orofaring

ataulambung ke dalam larynx dan saluran pernafasan bawah. Beberapa
sindrom pernafasan mungkin terjadi setelah aspirasi, tergantung pada jumlah
dan jenis material aspirasi, frekuensi aspirasi dan respon host

terhadap

material aspirasi. Pneumonitis aspirasi ( Mendelson’s s yndrome) adalah jejas
kimia yangdisebabkan oleh inhalasi isi lambung.2 Nama lain: Anaerobic
pneumonia , aspirasi vomitus, pneumonia necrotizing, pneumonitis aspirasi,
pneumonitis kimia.

B.Epidemiologi

Di

Amerika

pneumonia

aspirasi

yang

terjadi

pada

komunitas

(PAK)adalah sebanyak 1200 per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan
pneumonia aspirasi nosokomial (PAN) sebesar 800 pasien per 100.000 pasien
rawat inap per tahun. PA lebih sering dijumpai pada pria daripada perempuan,
terutama usia anak atau lanjut. Aspirasi pneumonia adalah penyebab kematian
palingumum pada pasien dengan disfagia karena gangguan neurologis, suatu
kondisi yang mempengaruhi sekitar 300.000 sampai 600.000 orang setiap
tahun diAmerika Serikat.

1,2,5

C.Etiologi

Terdapat 3 macam penyebab sindroma pneumonia aspirasi, yaitu
aspirasi asam lambung

yang

menyebabkan pneumonia kimiawi, aspirasi

bakteri dari oral dan oropharingeal menyebabkan pneumonia bakterial,
Aspirasi minyak, seperti mineral oil atau vegetable oil dapat menyebabkan
exogenous

lipoid

kegawatdaruratan paru

pneumonia.
dan pada

Apirasi

benda

asing

merupakan

beberapa

kasus

merupakan

faktor

predisposisi pneumonia bakterial . 1 , 3
3

Infeksi

terjadi

secara

endogen

oleh

kuman

orofaring

yang

biasanya polimikrobial namun jenisnya tergantung kepada lokasi, tempat
4

Pada PAN pasien di RS kumannya berasal dari kolonisasi kuman anaerob fakultatif. bronkoskopi. Gangguan pada system gastrointestinal. penyakit periodontal dan trakeotomi. Peningkatan resiko infeksi dapat menyebabkan aspirasi. merupakan hasil yang berbahaya dari reflex batuk dan penutupan glottis. batang Gram negatif. dan aliran lambung. proteus. pembedahan yang melibatkan saluran atas atau esophagus. dan S. pseudomonas. yang pengembangan pneumonitis aspirasi. endotracheal intubations (ET). Kesadaran yang berkurang.Kondisi kondisi ini kesemuanya berbagi dalam seringnya dan banyaknya volume aspirasi. Mekanisme gangguan penutupan glottis atau sfingter jantung karena trakeotomi. 1 . Lain-lain : fistula trakeo-esofageal. 5 . endoskopi atas dan nasogastric feeding (NGT) 5. 4. Bacteriodes melaninogenicus.terjadinya. yaitu di komunitas atau di RS. Pada PAK. Pasien dengan stroke atau penyaki perawatan biasanya mempunyai meningkatkan kemungkinan kritis membutuhkan beberapa yang factor resiko dan yang mempunyai proporsi yang besar. Disfagia dari gangguan syaraf 3. 4 Kondisi yang mempengaruhi pneumonia aspirasi antara lain: 1. Kurangnya kebersihan gigi khususnya pada orang tua atau pasien yang kondisinya lemah. 7. menyebabkan koloni dalam mulut dengan organism patogenik yang secara potensial bisa menyebabkan bertambahnya jumlah bakteri. pneumonia yang berhubungan dengan ventilator. 2. misalnya Peptococcus yang juga dapat disertai Klebsiella pnemoniae dan Stafilococcus. gastrostomi dan posisi terlentang. 6. seperti penyakit esophageal. atau fusobacterium nucleatum. Aureus di samping bisa juga disertai oleh kuman ananerobobligat di atas. kuman patogen terutama kumanan berupa aerob obligat (41-46%) yang terdapat di sekitar gigi dan dikeluarkan melalui ludah. serratia. volume saluran cerna yang lebar. dan Peptostreptococcus. Anestesi faringeal dan kondisi yang bermacam-macam seperti muntahan yang diperpanjang.

dan secret tersebut akan dibersihkan secara normal.keracunan obat atau overdosis dan cidera kepala. dapat pula disertai pembentukan membran hialin dan perdarahan intra alveolar.Daya tahan traktus respiratorius Mekanisme daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat efisien untuk mencegah infeksi dan terdiri dari: 1. Kebanyakan individu mengaspirasi sedikit secret orofaringeal selama tidur. Perubahan patologis kerusakan epitel. duktus alveolaris maupun dinding alveolus.stroke. atau konsekuensi isi lambung patologis yang akibat masuk ke sekret saluran napas bagian bawah.Kondisi-kondisi dan banyaknya ini kesemuanya volume aspirasi. CNS lesion mass . tumor otak) 2.Disfagia sekunder akibat penyakit esophagus atau saraf (kanker nasofaring. volume aspirasi. D. pembiusan. Pneumonia aspirasi.Penurunan kesadaran yang mengganggu proses penutupan glottis. serta faktor defensif host. yaitu sifat material yang teraspirasi. Gangguan paru dapat berupa restriksi difusi dan perfusi. Pneumonia aspirasi mengarah orofaringeal. scleroderma) 6 . reflex batuk (kejang. Perubahan patologis pada saluran napas pada umumnya tidak dapat dibedakan antara berbagai penyebab pneumonia. hampir semua kasus gangguan terjadi pada parenkim disertai bronkiolitis meliputi dan gangguan interstisial. 3 Faktor predisposisi terjadinya aspirasi berulangkali adalah: 1. Selanjutnya terjadi infiltrasi sel radang peribronkial(peribronkiolitis) dan terjadi infeksi baik pada jaringan interstisial. pembentukan mukus dan akhirnya terjadi penyumbatan bronkus. Penyakit ini terjadi pada orang dengan level kesadaran yang berubah karena serangan cerebrovascular accident (CVA). cedera kepala. kepada nanah. berbag i yang dalam meningkatkan seringnya kemungkinan pengembangan pneumonitis aspirasi.

distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius. 5. 7 . Nasogastric tube Intubasi endotrakeal Tracheostomy upper gastrointestinal endoscopy bronchoscopy Penyakit neuromuskuler 1.hygiene gigi yang tidak baik. Predisposisi terjadinya pneumonia 2 : Mekanisme 1. 3. dan alveoli. 6. 4. 2. 4. inkompetensi sfingter cardiac striktur oesophageal neoplasma obstruksi gaster protracted vomiting Lainnya posisi recumbent general debility Pneumonia aspirasi merupakan peradangan yang mengenai parenkim paru.3. serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. dan gangguan mekanisme klirens saluran napas.yang disebabkan oleh aspirasi benda asing baik yang bersal dalam tubuh maupun di luar tubuh penderita. 5. 3. Juga peran jumlah bahan aspirasi. 2. 4. 3. 7. Pemeriksaan histologis terdapat pneumonitis atau reaksi inflamasi berupa alveolitis dan pengumpulan eksudat yang dapat ditimbulkan oleh berbagai penyebab dan berlangsung dalam jangka waktu yang bervariasi.Kerusakan sfingter esophagus oleh selang nasogastrik. 2. multiple sclerosis parkinson’s disease myasthenia gravis bulbar atau pseudobulbar pals y Gangguan gastro-oesophageal 1.

Gejala klinis Biasanya didahului infeksi saluran nafas akut bagian atas selama beberapa hari.otot dan sendi. keadaan ini disebabkan mekanisme pertahanan paru. Aspirasi merupakan hal yang dapat terjadi pada setiap orang. dapat pula disertai pembentukan membran hialin dan perdarahan intra alveolar. nyeri pada otot.E. duktus alveolaris maupun dinding alveolus.3. menggigil. kemudian diikuti dengan demam. Inhalasi langsung dari udara Aspirasi bahan. Gangguan paru dapat berupa restriksi. dengan sputum mukoid atau purulen dan dapat disertai dahak. Perubahan patologis meliputi kerusakan epitel. sehingga menimbulkan penyakit. volume aspirasi. pembentukan mukus dan akhirnya terjadi penyumbatan bronkus. suhu tubuh kadang melebihi 40 o celcius. 3. Selanjutnya terjadi infiltrasi sel radang peribronkial (peribronkiolitis) dan terjadi infeksi baik pada jaringan interstisial. Terdapat 3 faktor determinan yang berperan dalam pneumonia aspirasi. 2. Di sini terdapat peranan aksi mukosilier dan makrofag alveoler dalam pembersihan material yang teraspirasi.Patogenesis2. Perubahan patologis pada saluran napas pada umumnya tidak dapat dibedakan antara berbagai gangguan terjadi pada penyebab parenkim pneumonia. sakit tenggorokan. Masuknya mikroorganisme ke saluran napas dan paru dapat melalui berbagai cara yaitu: 1. difusi dan perfusi. F. dapat mikroorganisme berkembang biak dan dan lingkungan. disertai hampir bronkiolitis semua dan kasus gangguan interstisial. Terdapatnya mikroorganisme (bakteri) didalam paru merupakan akibat ketidakseimbangan antara daya tahan mikroorganisme tubuh. serta faktor defensif host. 4. yaitu sifat material yang teraspirasi.bahan yang ada di nasofaring dan orofaring Perluasan langsung dari tempat lain Penyebaran secara hematogen. 8 .4 Dalam keadaan sehat tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme di paru. Kadang disertai batuk.

yang bingung. Pada pemeriksaan terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas. penurunan tekanan darah . Pada perkusi ditemukan redup. Foto thoraks (PA/lateral) merupakan 9 . H. egofoni.i Gambaran Radiologis Pemeriksaan yang penting untuk pneumonia pada keadaan yang tidak jelas adalah foto polos dada. Namun. yang perlu dibedakan dengan kolesistitis dan peritonitis akut akibat perforasi. Foto torak biasanya digunakan untuk mendiagnosis pasien di rumah sakit dan beberapa klinik yang ada fasilitas foto polosnya. pernapasan bronkial. Distensi abdomen terutama pada konsolidasi pada lobus bawah paru. denyut jantung yang cepat dan rendahnya saturasi oksigen. Pemeriksaan fisik tergantung pada luas lesi di paru.Diagnosis 5 Untuk mendiagnosis pneumonia aspirasi. pada mas yarakat (praktek umum). yang merupakan jumlah oksigen di dalam darah yang indikasikan oleh oksimetri atau analisis gas darah.Pemeriksaan Penunjang H. Adakalanya diperlukan untuk evaluasi medis. khususnya mereka dengan penyakit penyerta lainnya. Kadang. ronki basah halus. pemeriksaan darah dan kultur sputum mungkin juga bermanfaat.kadang terdengar bising gesek pleura (pleural friction rub). pneumonia biasanya didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik saja. atau memiliki sianosis memerlukan perhatian segera. Orang dengan kesulitan bernapas. Orang dengan gejala pneumonia memerlukan Pemeriksaan fisik oleh tenaga kesehatan mungkin menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh. Mendiagnosis pneumonia bisa menjadi sulit pada beberapa orang. peningkatan laju pernapasan. fremitus raba meningkat disisi yang sakit.G. “whispered pectoriloquy”. Keterangan dari foto polos dada. CT scan dada atau pemeriksaan lain membedakan pneumonia dari penyakit lain. bronkofoni. tenaga kesehatan harus melihat gejala pasien dan temuan dari pemeriksaan fisik.

sedangkan benda asing radiolusen (seperti kacang-kacangan) dibuatkan Ro foto setelah 24 jam kejadian. konsolidasi Gambaran dengan bronchogram”. Benda asing yang bersifat radioopak dapat dibuat Ro foto segera setelah kejadian. karena sebelum 24 jam kejadian belum menunjukkan gambaran radiolusen yang berarti. penyebaran bronkogenik dan interstitial dengan atau “air tanpa disertai gambaran kaviti pada segmen paru yang terinfeksi. Air fluid level mengindikasikan abses paru atau fistula bronkopleura. Sudut costofrenicus yang blunting dan meniscus yang positif menunjukkan para pneumonic pleural effusion. Gambaran lusen disertai dengan infiltrat menunjukkan nekrotik pneumonia. Pada kasus benda asing di saluran napas dapat dilakukan pemeriksaan radiologik dan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis.pemeriksaan radiologis penunjang dapat utama berupa untuk infiltrat menegakkan sampai diagnosis. 10 . Biasanya setelah 24 jam baru tampak tanda atelektasis atau emfisema.

Gambaran emfisema tampak sebagai pergeseran mediastinum ke sisi paru yang sehat pada saat ekspirasi (mediastinal shift) dan pelebaran interkostal. batu dan lain-lain. serta perlu untuk menilai bronkiektasis akibat benda asing yang lama berada di bronkus. peniti. cair atau gas. Pemeriksaan toraks lateral dilakukan dengan lengan di belakang punggung. Benda asing eksogen padat terdiri dari zat organik. Benda asing eksogen terdiri dari benda padat. Video Fluoroskopi merupakan cara terbaik untuk melihat saluran napas secara keseluruhan. dapat mengevaluasi pada saat ekspirasi dan inspirasi dan adanya obstruksi parsial. 11 . Sedangkan yang berasal dari dalam tubuh. seperti kacang-kacangan (yang berasal dari tumbuh-tumbuhan). tulang (yang berasal dari kerangka binatang) dan zat anorganik seperti paku. pemeriksaan paru sangat membantu diagnosis. leher dalam fleksi dan kepala ekstensi untuk melihat keseluruhan jalan napas dari mulut sampai karina. jarum.Gambar 1 langkah penanganan aspirasi benda asing Pemeriksaan radiologic leher dalam posisi tegak untuk penilaian jaringan lunak leher dan pemeriksaan toraks postero anterior dan lateral sangat penting pada aspirasi benda asing. Emfisema obstruktif merupakan bukti radiologic pada benda asing di saluran napas setelah 24 jam benda teraspirasi. Bronkogram berguna untuk benda asing radiolusen yang berada di perifer pada pandangan endoskopi. disebut benda asing endogen. Karena benda asing di bronkus sering tersumbat di orifisium bronkus utama atau lobus. Benda asing yang berasal dari luar tubuh disebut benda asing eksogen. biasanya masuk melalui hidung atau mulut.

LED selalu naik. yang dalam keadaan normal tidak ada. darah atau bekuan darah. I. Benda asing endogen dapat berupa sekret kental. Jika keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi untuk dirawat. yang mengindikasikan adanya infeksi atau inflamasi.000/mm 3 . pengkijuan. membran difteri. H.4.000/mm 3 ). dan benda caiir non-iritatif. bronkolit. cairan amnion. Billirubin direct atau indirect dapat meningkat. Benda asing didalam suatu organ ialah benda asing yang berasal dari luar tubuy atau dari dalam tubuh.Benda asing eksogen cair dibagi dalam benda cair yang bersifat iritatif. oleh karena pemecahan dari sel darah merah yang terkumpul dalam alveoli dan disfungsi dari hepar oleh karena hipoksia. mekonium dapat masuk ke dalam saluran nafas bayi pada saat proses persalinan.3 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium darah diperlukan untuk mengetahui adanya gangguan keseimbangan asam basa serta tanda infeksi traktus trakeobronkial. Tapi pada 20% penderita tidak terdapat leukositosis. pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik. seperti zat kimia. krusta. Untuk menentukan diagnosa etiologi diperlukan pemeriksaan dahak. Pemeriksaan darah lengkap mungkin menunjukkan jumlah leukosit yang meningkat (lebih dari 10. Analisis gas darah menunjukan hipoksemia dan hipokarbia. Hitung jenis leukosit “shift to the left”. Juga perlu diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi yaitu keadaan yang dapat meningkatkan risiko infeksi dengan mikroorganisme patogen yang 12 . yaitu cairan dengan pH 7.Penatalaksanaan Dalam hal penatalaksanaan penderita pneumonia perlu diperhatikan keadaan klinisnya. kadang- kadang mencapai 30. nanah. kultur darah dan serologi. maka dapat dilakukan rawat jalan.

frekuensi napas >30/menit b. mempunyai kelainan penyakit yang multipel d. riwayat pengobatan antibiotik Pseudomonas aeruginosa a. penghuni rumah jompo b. bronkiektasis b. a. Skor PORT >70 2. Yang termasuk dalam faktor modifikasi adalah: 1. c. penyakit gangguan kekebalan e. Bila Skor PORT kurang ≤70 maka penderita tetap perlu dirawat inap bila dijumpai salah satu dari kriteria di bawah ini. penyakit penyerta yang multipel Bakteri enterik Gram negatif 3. pengobatan kortikosteroid >10 mg/hari c. pecandu alkohol d. umur lebih dari 65 tahun b. Foto toraks paru menunjukan kelainan bilateral 13 . kriteria yang dipakai untuk indikasi rawat inap pneumonia komuniti adalah: 1. Pneumokokus resisten terhadap penisilin a. a. PaO 2 /FiO 2 kurang dari 250 mmHg c. pengobatan antibiotik spektrum luas >7 hari pada bulan terakhir d.spesifik misalnya Streptococcus pneumoniae yang resisten penisilin. mempunyai penyakit dasar kelainan jantung paru c. gizi kurang Berdasarkan kesepakatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). memakai obat-obat golongan β-laktam selama tiga bulan terakhir 2.

Dengan 14 .d. Foto toraks paru melibatkan >2 lobus e. baik dari segi alat maupun personal yang telah terlatih. Pada anak dengan sumbatan total pada laring. sehingga pengangkatan secara endoskopik harus dipersiapkan seoptimal mungkin. sehingga diharapkan benda asing dapat dibatukkan ke luar. Tekanan sistolik <90 mmHg f. Cara lain untuk menngeluarkan benda asing yang menyumbat laring secara total ialah dengan cara perasat dari Heimlich (Heimlich maneuver). benda asing masuk ke dalam laring ialah pada waktu inspirasi. Untuk dapat menanggulangi kasus aspirasi benda asing dengan cepat dan tepat perlu diketahui dengan sebaik-baiknya gejala di tiap lokasi tersangkutnya benda asing tersebut. Tekanan diastolik <60 mmHg 3. Kriteria mayor dan minor bukan merupakan indikasi untuk perawatan ruang intensif. Pneumonia pada penggunaan NAPZA Penderita yang memerlukan perawatan di ruang rawat intensif adalah penderita yang mempunyai paling sedikit 1 dari 2 gejala mayor tertentu (membutuhkan ventilator dan vasopresor >4 jam ) atau 2 dari 3 gejala minor (Tekanan sistolik < 90 mmHg. Secara prinsip benda asing di saluran napas diatasi dengan pengangkatan segera secara endoskopik dalam kondisi yang apling aman. Benda asing di laring. kepala ke bawah. dapat dilakukan pada anak maupun orang dewasa. karena asfiksia dapat terjadi dalam waktu hanya beberapa menit. Pasien dengan benda asing di laring harus diberi pertolongan dengan segera. Foto toraks paru menunjukan kelainan paru bilateral. PaO 2 < 250mmHg). Menurut teori Heimlich. dengan trauma yang minimum. dapat dicoba menolongnya dengan memegang anak dengan posisi terbalik. Kebanyakan pasien dengan aspirasi benda asing yang datang ke ahli THT telah melalui fase akut. kemudian daerah punggung/tengkuk dipukul.

Komplikasi perasat Heimlich ialah kemungkinan terjadi rupture lambung atau hati dan fraktur iga. bila pasien masih dapat berdiri. perasat Heimlich tidak dapat digunakan. Tinddakan ini dapat dilakukan dengan anastesi (umum) atau analgesia (local). sedangkan tangan kirinya diletakkan di atasnya. kepalan tangan kanan penolong diletakkan di atas prisesus xifoid. sehingga diharapkan benda asing akan terlempar ke luar dari mulut pasien. dilakukan trakeostomi sebelum merujuk. Caranya ialah. tetapi cukup dengan dua buah jari kiri dan kanan. Pada tindakan ini posisi muka harus lurus. dengan menekan botol itu. maka penolong bersetumpu pada lututnya di kedua sisi pasien. maka penolong berdiri di belakang pasien. kepasla lebih rendah dari badan. Kemudian pasien dapat dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas laringoskopi atau bronkoskopi untuk mengeluarkan benda asing itu dengan cunam. sehingga benda asing akan terlempar ke luar mulut. kemudian dilakukan penekanan ke bawah dan ke arah paru pasien beberapa kali. supaya jal an napas merupakan garis lurus. leher jangan ditekuk ke samping. Pada waktu tindakan trakeostomi. Pada sumbatan benda asing tidak total di laring. Oleh karena itu pada anak sebaiknya cara menolongnya tidak dengan menggunakan kepalan tangan. maka sumbatannya akan terlempar ke luar. pasien tidur dengan posisi Trendelenburg. kepalan tangan diletakkan di bawah prosesus xifoid. 4 Bila pasien sudah terbaring karena pingsan. Kemudian dilakukan penekanan ke belakan ke atas dan ke arah paaru beberapa kali. Dengan perasat Heimlich. supaya benda asing tidak turun ke trakea.demikian paru penuh oleh udara. 15 . diibaratkan sebagai botol plastic yang tertutup. atau kalau alat-alat itu tidak ada. Dalam hal ini pasien masih dapat di bawa ke rumah sakit terdekat untuk diberi pertolongan dengan menggunakan laringoskop atau bronkoskop. dilakukan penekanan pada paru.

dengan pasien tidur terlentang posisi Tendelenburg. dan ketika dikeluarkan melalui laring diusahakan sumbu panjang benda asing segaris dengan sumbu panjang trakea. untuk memudahkan pengeluaran benda asing itu melalui rima glottis. 16 . jadi pada sumbu vertical.Benda asing di trakea. Benda asing di trakea dikeluarkan dengan bronkoskopi. Tindakan ini merupakan tindakan yang harus segera dilakukan. gambar 2 paru-paru yang mengalami infeksi Pada waktu bronkoskopi. benda asing dipegang dengan cunam yang sesuai dengan benda asing itu. supaya benda asing tidak turun ke dalam bronkus.

menggunakan bronkoskop kaku atau serat optic dengan memakai cunam yang sesuai dengan benda asing itu. Benda asing di bronkus. Untuk mengeluarkan benda asing dari bronkus dilakukan dengan bronkoskopi. dan bila mungkin benda asing itu dikeluarkan dengan memakai cunam atau alat penghisap melalui trakeostomi. Bila tidak berhasil pasien dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas endoskopi.Gambar 3 mekanisme bronskoskopi Bila fasilitas untuk melakukan bronkoskopi tidak ada. apalagi bila benda asing bersifat organic 17 . Tindakan bronkoskopi harus segera dilakukan. ahli dan personal yang tersedia optimal. maka pada kasus benda asing di trakea dapat dilakukan trakeostomi.

Gambar 4 Hasil bronkoskopi pasien aspirasi pneumonia e. jika paru bersih dan tidak demam. bronchitis purulenta dan atelektasis. Gejala-gejala persisten seperti batuk. seperti benda asing tajam. kongesti paru. Antibiotik tindakan dan endoskopi kortikosteroid pada ekstraksi tidak benda rutin asing. tidak rata dan tersangkut pada jaringan. obstruksi jalan napas ataunodinofagia memerlukan penyelidikan lebih lanjut dan pengobatan yang tepat dan adekuat. Foto toraks pasca bronkoskopi dibuat hanya bila gejala pulmonum tidak menghilang. dapat dilakukan servikotomi atau torakotomi untuk diberikan setelah mengeluarkan benda asing tersebut. demam.c daun singkong Benda asing yang tidak dapat di keluarkan dengan cara bronkoskopi. Pasien dipulangkan 24 jam setelah tindakan. 18 . Fisioterapi dada dilakukan pada kasus pneumonia.

Pemberian antibiotika sistemik selama 5-7 hari hanya diberikan pada kasus benda asing hidung yang telah menimbulkan infeksi hidung maupun sinus. dapat dilihat dengan kaca tenggorok yang besar. Dengan cara ini benda asing itu akan ikut terbawa ke luar. istirahat di tempat tidur 19 . sehingga menimbulkan keadan yang gawat. seperti tulang ikan. Bila pasien sangat perasa sehingga menyukarkan tindakan.Benda asing di hidung. sebelumnya dapat bdisemprotkan obat pelali (anastetikum). Biasanya yang tersangkut di tonsil ialah benda tajam. Tidaklah bijaksana bila mendorong benda asing dari hidung kea rah nasofaring dengan maksud supaya masuk ke dalam mulut. Dengan cara itu benda asing dapat terus masuk ke laring dan saluran napas bagian bawah. Pasien diminta menarik lidahnya sendiri dan pemeriksa memegang kaca tenggorok dengan tangan kiri. mengeluarkannya dilakukan dengan cara Penatalaksanaan pneumonia komuniti dibagi menjadi 3. Dapat pula menggunakan cunam Nortman atau ³wire loop´. seperti xylocain atau pantocain. yang menyebabkan sesak napas. yaitu: 1. Benda asing di valekula dan sinus piriformis kadang-kadang untuk laringoskopi langsung. Penderita rawat jalan a. Cara mengeluarkan benda asing dari dalam hidung ialah dengan memakai pengait (haak) yang dimasukkan ke dalam hidung dib again atas. sedangkan tangan kasnan memegang cunam untuk mengambil bemnda tersebut. Benda asing di tonsil dapat diambil dengan memakai pinset atau cunam. jarum atau kail. Setelah itu pengait diturunkan sedikit dan ditarik ke depan. pengobatan suportif / simptomatik i. menyusuri atap kavum nasi sampai menyentuh nasofaring. Benda asing di dasar lidah.

bila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran b.ii. minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas iv. Penderita rawat inap di ruang rawat biasa a pengobatan suportif / simptomatik i ii pemberian terapi oksigen pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit iii pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik dan mukolitik b pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai dengan bagan) kurang dari 8 jam 2 Penderita rawat inap di ruang rawat intensif a pengobatan suportif / simptomatik i ii pemberian terapi oksigen pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit iii pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik dan mukolitik 20 . pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai dengan bagan) kurang dari 8 jam 2. iii.

Bronkitis e. Penggunaan metronidazol dapat merupakan alternatif pengobatan secara tunggal tidak dianjurkan karena tingkat kegagalan yang tinggi. Escherichia coli. K. sefalosporin dan fluorokuinolon merupakan alternatif lini kedua. bila terjadi respiratory distress maka penderita dirawat di ruang rawat intensif. Tumor 21 . Trakeitis d. Pneumoni f.b pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai dengan bagan) kurang dari 8 jam c bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik Penderita pneumonia berat yang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) diobservasi tingkat kegawatannya. Bakteri patogen yang umumya menyebabkan pneumonia aspirasi adalah stafilokokkus aureus.Diagnosis Banding a. Bila dapat distabilkan maka penderita dirawat inap di ruang rawat biasa. Antibiotik pneumonia masih aspirasi. Golongan makrolid. Asma bronchial b. klebsiella. Klindamisin merupakan antibiotik pilihan pertama. Croup g. tetap merupakan Pemilihan antibiotik pengobatan dan durasi utama pada pengobatan bergantung pada suspek organisme ataupun yang telah terbukti. dan juga enterobacter maupun pseudomonas. dan juga metronidazole. Laringitis akut c. alternatif lainnya adalah amoxicilin dan asam klavulanat.

Prognosis dan mortalitas 22 .Komplikasi Kompilasi akut akibat tersangkutnya benda asing antara lain: a. Pneumonia yang berlanjut dengan pembentukan abses paru dan kavitas b. Pergeseran mediatinum c. Pneumonia d. Sesak nafas b. Emfisema obstruktif b.J. Pembentukan jaringan granulasi atau polip akibat inflamasi pada mukosa e. Fistel bronkopleura d. Pneumomediastinum dan pneumotoraks Keterlambatan diagnose lebih dari tiga hari mengakibatkan: a. Hipoksia sampai henti jalan nafas Kompilkasi kronik akibat tersangkutnya benda asing antara lain: a. Atelektasis L. Bronkoektasis c.

Pneumonia bakteri mungkin lebih lama. Keluaran episode pneumonia tergantung seberapa sakit seseirang ketika ia pertama kali didiagnosis. kebanyakan jenis pneumonia bakteri bisa disembuhkan dalam satu atau dua minggu.Dengan pengobatan. 23 . diperlukan teknik kompensasi untuk mengurangi aspirasi dengan diet lunak dan takaran yang lebih sedikit. dan pneumonia mikoplasma mungkin memerlukan empat hingga enam minggu untuk sembuh sempurna.Pencegahan Pada pasien yang memiliki disfungsi menelan untuk menghindari aspirasi asam lambung. 5 M.

1 Bronkoskopi adalah tindakan medis yang trakea dan bronkus. melalui bertujuan bronkoskop. bronkoskopi di bagian atas Bronkoskop Rigid dan bronkosfleksibel 24 . Dalam perkemb angannya.BAB III BRONKOSKOPI DAN TRAKEOSTOMI III. y ang untuk melakukan visualisasi berfungsi dalam prosedur diagnostik dan terapi penyakit paru.

5. diferensial atau benda asing. sebagai terapeutik serta preoperatif/potoperatif : Indikasi bronkoskopi adalah : 1. batuk batuk darah mengi dan stidor gambaran foto thoraks yang abnormal Bronchoalveolar lavage (BAL) Bronchoalveolar lavage (BAL) adalah prosedur saat bronkoskopi di mana sejumlah kecil garam disuntikkan ke dalam bagian paru-paru distal (jauh). 4. 2. 3.Indikasi dari bronkoskopi adalah membantu menegakkan diagnosis. Bahan yang didapat kemudian dianalisis untuk jumlah sel. ada bukti sitologi atau masi tersangka 25 . kemudian disedot kembali melalui bronkoskop. mencuci alveoli. limpahadenopathy atau masa intrabronkial pada intratoraks 7. 6. karsinoma bronkus 8.

Evaluasi jantung 26 . dahak yang tertahan. trauma dada 12. therapeutik lavage Kontraindikasi tindakan bronkoskopi meliputi kontraindikasi absolut dan kontraindikasi relatif. keterampilan operator kurang 3. brackytherapi 9. kista bronkus 7. benda asing pada trakeoronkial 3. gumpalan mukus 2. laser terapi 10. dilatasi bronkus dengan menggunakan balon 5. 3. faal hemostatis . kontraindikasi bronkoskopi absolut meliputi : 1.Fasilitas kurang memadai 4. asma berat hiperkarbia berat koagulopati yang serius bulla emphysema berat obstruksi trakea high positive end and expiratory pressure III. juga dilakukan EKG . 6. 5.Hipoksia yang tidak respon dengan pemberian oksigen Yang termasuk kontra indikasi relatif adalah : 1. pemasangan stent pada trakeobronkial 4. penentuan derajat karsinoma bronkus 10.Angina yang tidak stabil 5. follow up karsinoma bronkus Yang termasuk indikasi terapeutik bronkoskopi adalah : 1. elektrolit dan spirometri. 4. mengeluarkan sesuatu dengan broskoskopi 8.9. abses paru 11.1 1 Persiapan bronkoskopi Dalam survei yang dilakukan American College of Chest Physician ( ACCP) pada umumnya dilakukan prosedur sebelum tindakan bronkoskopi berupa foti toraks. analisa gas darah.penderita kuarngkooperatif 2.Aritmia yang tidak terkontrol 6. 2. kista mediastunum 6.

ASA V : Penderita dengan kondisi yang gawat dengan prediksi tidak akan bertahan hidup dalam 24 jam dengan atau tanpa bronkoskopi. Selain persiapan pada penderita juga dilakukan persiapan fasilitas penunjang berupa: 1.ruangan desinfeksi alat 27 .dilakukan pada penderita dengan penyakit koroner yang akan dilakukan bronkoskopi. puasa setelah menjalani tindakan bronkoskopi. Disamping pemeriksaan tersebut yang juga penting untuk dipersiapkan adalah yang berkaitan dengan penderita. kondisi fisik dan mental penderita dan riwayat reaksi alergiterhadap obatyang akan digunakan untuk tindakan bronkoskopi 2. American Association of Anesthesiologyst ?(ASA) membuat klasifikasi sebagai berikut : ASA I: penderita dengan kondisi fisik normal ASA II : Penderita dengan penyakit sistemik ringan ASA III :Penderita dengan penyakit sistemik yang berat dengan keterbatasan aktifitas ASA IV : Penderita dengan penyakit yang tergantung dengan obat-obatan agar bertahan.2 Persiapan yang harus dilakukan terhadap penderita adalah : 1. Informasi yang berkaitan dengan riwayat penyakit sebelumnya. 3.1. ruangan persiapan. Menandatangani informed consect untuk tindakan yang dilakukan 4. Ruangan broncoscopy suite. ruangan pemulihan. Memberikan informasi kepada penderita tentang tahapan yang akan dilakukan mulai dari persiapan bronkoskopi sampai pasca bronkoskopi yang dilakukan sekitar 8 jam untuk mencegah terjadinya aspirasi isi lambung. pemnyakit sekarang. penjelasan tentang tindakan anestesi yang dilakukan dan efek anestesi yang dirasakan penderita . ruangna tindkan. karena penyakit ini dapat meningkatkan resiko pada saat bronkoskopi. Melakukan evaluasi sebelum bronkoskopi untuk mengklasifikasikan berhubungan berdasarkan dengan kondisi kondisi fisik fisik penderita penderita . III.

dan penurunan motilitas saluran cerna. penurunan refleks batuk dan analgesia pada saluran napas. aritmia. 28 . oksimeter denyut. Edek samping yng mungkin timbul pada pemberian antisialagogues berupa takikardi. Saran penunjang : oksigen. glikoma. retensi urin. antisialagogue dan antihistamin digunakan secara individual untuk menimbulkan efek amnesia.3 Medikasi sebelum melakukan tindakan bronkoskopi : medikasi diberikan sebelum dilakukan bronkoskopi untuk keamanan dan keberhasilan prosedur bronkoskopi umumnya antisedatif ringan diberikan 30 menit sebelum prosedur bronkoskopi dilakukan. foto. masa paruh pendek dan efek samping yang minimal seklalu digunakan. hipotensi. Flumazenil. kelengkapan diagnostik dan terapi 3.. mesin penghisap lendir (suction). Tidak ada data akurat menunjukkan efikasi pemberian antisialagogues dan tidak selalu diberikan karen efek sampingnya.1. benzodiasepine. Operator umumnya menggunakan kombinasi medikasi benzodiasepin. menurunkan respon vasovagal juga untuk merningkatkan efikasi anesthesi topikal. anxiolysis. inhibitot kompetitif GABA digunakan sebagai antidotu. Anti sialagogues digunakan untuk mengurangi sekresi.2. jet ventilation III. Selama prosedur anesthesi topikal diberikan pada saluran napas serta sedatif dan analgetik tambahan diberi untuk mengatasi dan mengurangi kecemasan nyeri saat batuk. Obat dengan onset cepat. video.5-2. Mempunyai masa paruh yang pendek.0mg diberi 2-5 menit sampai efek sedasi diperoleh. Bronkoskopi : kelengkapan televisi. nebilizer. Bolus 0.resusitator. alat pemantau EKG. Midasolam IV diberi karena onset cepat dan masa paruhmya pendek. Lorazepam juga digunakan sebelum melakukan tindakan dengan batas keamanan lebih baik disebabkan retrograde amnesia yang ditimbulakn oelh midazola. opiat narkotik. Benzodiasepin biasanya diberikan untuik menimbuilakan efek amnesia dan anxialosisi.

Safetymargin pada dosi < 7 mg/kg.karina dan semua segmen 29 . Naloxone digunakan sebagai antidotum unruk sedasi narkotik dan justru digunakan untuk mengatasi overdosis opiat narkotik.4Sebelum melakukan tindakan bronkoskopi dilakukan pemantauan : Tekanan darah. Elastisitas bronkoskopi memungkinkan bronkoskopi melalui hidung. benzocaine tetracaine dan kokain.1. Gambar Ada 3 cara melakukan tindakan Fiber Optik Brosncosopy (FOB) yaitu melalui hidung (trans nasal). trakea. atau melalui tabung endotrakeal( ETT). pita suara. detak jantung. karina. mulut (trans oral). membagi bronkus utama dan kiri. pasien harus diberikan oksigen sebelum dan sesudah tindakan bronkospi. Lidokain paling banyak dipakai karena onset cepat durasi pendek dan efek terapeutik lebar. Anesthesi topikal pada traktus aerogigestive atas. frekuensi pernapasan. tenggorokan posterior. area glottis dan bronkial dapat diperoleh dengan aplikasi lidokain. Dapat meimbulkan nausea dan dispharia. Kemudian FOB masuk ke bronkus dan segmen yang lebih kecil kanan dan kiri paru. Fentanyl IV dalam bolus 25-50 mg digunakan 2-5 menit sebelum dilakukan bronkoskopi. oksimetri (osigen saturasi). Meperidine digunakan sebelum prosedur bronkoskopi karena metaboliknya peningkatan resiko aktif kejang dengan dan msa tidak paruh panjang tetapi untuk selalu disarankan digi=unakan. III.Opiat menurunkan refleks laryng dan batuk serta sebagai anxiolysis. denyut nadi.

temperatur. dan sekresi. 2 . ketidaknyamanan karena alergi obat yang diberikan selama prosedur biasa dijumpai setelah tindakan bronkoskopi. III. Setelah tindakan bronkoskopi dilakukan. nadi. Karina dinilai ketajamannya. Gambar Batuk dengans edikit darah. serta penderita tidak boleh mengkonsumsi apapun sampai 2 jam setelah tindakan bronkoskopi selesai dilakukan. peradangan. hal ini akan hilang setelah 2 jam bronoskopi selesai dilakukan. 1 . Trakeostomi adalah pembuatan lubang dinding anterior trakea untuK mempertahankan jalan nafas atau tindakan membuat stoma agar udara dapat masuk kedalam paru-paru dengan memitas jalan nafas atas untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalu lintas udara pernafasan. warna ukuran. frekuaensi napas. tekstur. Sugsegmen paru paru dinilai posisi.dan patency.divisualisasikan pada layar bronkoskopi. penderita dipantau tanda-tanda vital seperti tekanan darah.2. Mukosa bronkial juga dipriksa apakah ada infiltrasi. 3 30 .

Ketika seseorang menghirup udara. 5 Udara inspirasi akan turun melalui orofaring ke laringofaring kemudian melewati faring di mana plica vocalis berada. 2 Trakeostomi dapat menyelamatkan jiwa penderita yang mengalami obstruksi saluran nafas diatas trakea dan tidak dapat diatasi dengan cara lain. menghangatkan. intubasi dilakukan pada kasus-kasus darurat. 5 Trakea berakhir pada percabangan bronkus utama kiri dan kanan yang masuk ke paru-paru. dan melembabkannya. memungkinkan udara untuk melewati trakea dengan bebas. Ketika udara masuk melalui hidung. Prosedur ini disebut dengan berbagai istilah. diberbagai pusat. misalnya intubasi. Tiap-tiap bronkus masuk melalui hilus (tempat di 31 . Laring terletak di atas trakea. Walaupun tehnik ini dikemukakan berulang kali setelah itu. partikel-partikel debu dan kotoran akan difiltrasi. jika tuba dianggap dapat dilepaskan dalam satu minggu. Pipa trakeostomi yang pertama dengan kanul diperkenalkan oleh Gorge Martinedi Inggris kira-kira tahun 1730 untuk menghindari sumbatan pipa pasca bedah. Trakeostomi juga dilakukan pada penderita yang memerlukan bantuan pernafasan buatan untuk waktu yang lama dan memerlukan pertolongan pembersihan jalan nafas yang memadai.Saat ini.Trakeostomi pertama kali dikemukakan oleh Aretacus dan Galen pada abad pertama dan kedua sesudah Masehi. plica vocalis terbuka. 4 ANATOMI TRAKTUS RESPIRATORIUS Saluran napas bagian atas Hidung memiliki peranan yang sangat penting pada saluran napas bagian atas. tetapi orang pertama yang diketahui secara pasti melakukan tindakan itu adalah Antonio Brasavola pada tahun 1546.Membran mukosa nasofaring selanjutnya akan menyaring udara tersebut. antara lain laringotomi dan bronkotomi sampai istilah trakeotomi diperkenalkan oleh Heister pada tahun 1718. Setelah 72 jam apabila tuba masih dibutuhkan barulah dilakukan trakeostomi. 1 .

Secara structural. nervus. dan lebih vertikaldaripada bronkus kiri. 5 32 . bronkus bercabangmenjadi bagian-bagian yang kecil atau bronkus sekunder yang memasuki masingmasing lobus ( tiga lobus di kanan dan dua lobus di kiri). Dindingnya memiliki cincin-cincin kartilago dan dilapisi membrane mukosa bersilia. Bronkus kanan lebih pendek. lebih lebar.mana pembukuh darah. Bronkus sekunder ini kemudian bercabang lagi menjadi bagian yang lebih kecil atau bronkiolus. 5 Gambar . bronkus sangat mirip dengan trakea. dan lain-lain keluar masuk organ). Saluran Nafas Bagian Atas Saluran napas bagian bawah Segera setelah memasuki paru-paru kiri dan kanan.

tapi lobulus mendapat suplai udara dari bronkiolus. Ketika memasuki lobulus. Paru-paru kanan memiliki tiga lobus dan paru-paru kiri memilki dua lobus. Di sinilah terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Setiap lobus kemudian terbagi lagi menjadi lobulus. Pertukaran O2 dan co2 di alveoli (dikutip dari kepustakaan no. 5 Gambar 3. Lobulus memiliki bentuk dan ukuran yang ireguler.5) 33 .Gambar 2. Saluran Nafas Bagian Bawah Paru-paru merupakan organ pernapasan sebenarnya di mana gas-gas dalam darah dan udara bertukar. bronkiolus bercabang-cabang menjadi bagian yang sangat kecil yang disebut bronkiolus terminal yang selanjutnya mencapai unit fungsional paru-paru yaitu alveolus.

Ruang berbentuk sigitiga diantara pita suara yaitu glotis bermuara kedalam trakea dan membentuk bagian atas dari saluran pernafasan atas dan bawah. Laring terdiri dari rangkaian cincin tulang rawanyang dihubungkan oleh otot otot dan mengandung pita suara. Ketika udara masuk ke rongga hidung. 7 34 . dihangatkan dan dilembabkan. udara disaring. Sistem Pernapasan Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. Jika benda asing masih mampu melampaui glotis. fungsi batuk yang dimiliki laring akan membantu menghalau benda dan secret dari saluran nafas bagian bawah. penutupan glotis dan fungsi seperti pintu dari epiglottis yang berbentuk daun pada pintu masuk laring. Meskipun laring terutama dianggap berhubungan dengan fonasi.FISIOLOGI PERNAFASAN Saluran pernafasan dari hidung sampai ke bronkeolus dilapisi oleh membrean mukosa bersilia. berperan untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk kedalam esophagus. tetapi fungsinya sebagai organ pelindung jauh lebih penting. Glotis merupakan pemisah antara saluran nafas atas dan bawah. 7 Gambar 4. 7 Pada waktu menelan gerakan laring ke atas. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi.

7 Gambar 5.8) Permukaan trakea dilapisi oleh epitel respirasi. biasanya setinggi cincin trakea kedua hingga kelima. Pembuluh darah besar pada leher berjalan sejajar dengan trakea di sebelah lateral dan terbungkus dalam selubung karotis. Trakea berawal dari kartilago krikoid yang berbentuk cincin stempel dan meluas ke anterior pada esofagus. 1 .5 cm.Trakea disokong oleh cincin tulang rawan berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 12. Di bawah jaringan subkutan dan menutupi trakea di bagian depan adalah otot-otot supra sternal yang melekat pada kartilago tiroid dan hyoid. Cairan mukosa yang dihasilkan oleh sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan silia untuk mendorong partikel asing. Sedangkan tulang rawan hialin berfungsi untuk menjaga lumen trakea tetap terbuka. Trakea merupakan tabung berongga yang disokong oleh cincin kartilago. Struktur trakea dan bronkus digolongkan denga sebuah pohon dan oleh karena itu dinamakan pohon trakeobronkial. Terdapat kelenjar serosa pada lamina propria dan tulang rawan hialin berbentuk C yang mana ujung bebasnya berada di bagian posterior trakea. turun ke dalam thoraks di mana ia membelah menjadi dua bronkus utama pada karina. Kelenjar tiroid terletak di atas trakea di sebelah depan dan lateral. Pada ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan hialin yang berbentuk tapal kuda tersebut terdapat ligamentum fibroelastis dan berkas otot polos yang memungkinkan 35 . Saraf laringeus rekuren terletak pada sulkus trakeoesofagus. Ismuth melintas trakea di sebelah anterior. Anantomi Laring (kanan) dan Potongan melintang trakea (kiri) (dikutip dari kepustakaan no.

7 TANDA-TANDA KLINIS OBSTRUKSI PERNAPASAN BAGIAN ATAS Gejala dan sumbatan laring ialah : 9 1. Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal. Karina memiliki banyak saraf dan dan dapat menebabkan bronkospasme dan batuk berat jika dirangsang.epigastrium. FUNGSI TRAKEOSTOMI 36 . Pasien lemah dan tertidur. Stadium 4 : Cekungan-cekungan di atas bertambah jelas. Pasien sudah mulai gelisah. epigastrium juga terdapat di infraklavikula dan sela-sela iga. Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4 stadium dengan tanda dan gejala : 9 Stadium 1: Cekungan tampak pada waktu inspirasi di suprasternal. akhirnya meninggal karena asfiksia. ditambah lagi dengan timbulnya retraksi di epigastrium. Stridor terdengar pada waktu inspirasi. supraklavikula dan interkostal. Stadium 3: Cekungan selain di daerah suprasternal. pusat pernapasan paralitik karena hiperkapnea. Suara serak (disfoni) sampai afoni 2. tampak sangat ketakutan dan sianosis. Jika keadaan ini berlangsung terus. pasien sangat gelisah. Stadium 2: Cekungan pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam. Sesak napas (dispneu) 3. Stridor terdengar pada waktu inspirasi dan ekspirasi. Stridor (napas berbunyi) yang terdengar waktu inspirasi 4. di mana pasien sangat gelisah dan dispneu. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-otot pernapasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat. Gelisah karena pasien haus udara (air hunger) 6. stridor pada waktu inspirasi dan pasien masih tenang.pengaturan lumen dan mencegah distensi berlebihanTempat trakea bercabang menjadi bronkus utama dan kanan yang dikenal sebagai karina. 5. maka pasien akan kehabisan tenaga.

Fungsi trakeostomi selain mengatasi obstruksi saluran nafas. Penurunan ruang hampa dapat berubah ubah dari 10 sampai 50% tergantung pada ruang hampa fisiologik tiap individu. Trakeostomi mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer oleh tekanan negative intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang normal. Trakeostomi memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea. yang sangat penting pada pasien dengan gangguan pernafasan. Tindakan trakeostomi untuk mengurangi jumlah ruang hampa dalam traktus trakheobronkial 70 sampai 100 ml. trakeostomi dibedakan letak yang tinggi dan letak yang rendah dan batas letak ini adalah cincin trakea ke tiga. b. trakeostomi dibagi menjadi penggunaan permanen dan penggunaan sementara. d. 9 JENIS TINDAKAN TRAKEOSTOMI Jenis Tindakan Trakeostomi 6 37 . Tindakan trakeostomi untuk mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif. Jika dibagi menurut waktu dilakukannya tindakan. sedangkan menurut letak insisinya. Trakeostomi memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus. g. trakeostomi juga 2 mempunyai beberapa fungsi fisiologi lain yaitu : a. PEMBAGIAN TRAKEOSTOMI Menurut lama penggunaannya. c. Trakeostomi memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan. Asal lubang trakheostomi cukup besar (paling sedikit pipa 7). f. maka trakeostomi dibagi kepada trakeostomi darurat dengan persiapan sarana sangat kurang dan trakeostomi elektif (persiapan sarana cukup) yang dapat dilakukan secara baik. Trakeostomi dilakukan untuk proteksi terhadap aspirasi. e.

yaitu tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat darurat. misalnya pada pasien dalam koma. Percutaneous trakeostomi. Dengan adanya stoma maka seluruh oksigen yang dihirupkan akan masuk ke dalam paru. Mengurangi ruang rugi ( dead air space ) di saluran nafas bagian atas seperti daerah rongga mulut. g. 38 . Untuk memasang respirator (alat bantu pernafasan). maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar. Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sekret secara fisiologik. Dilakukan pembuatan lubang di antara cincing trakea satu dan dua atau dua dan tiga. yaitu tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang operasi. Untuk mengambil benda asing dari subglotik.10 a.1. 3. Mengatasi obstruksi jalan nafas atas seperti laring. kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil. yang kapasitas vitalnya berkurang. Surgical trakeostomi. Indikasi trakeostomi termasuk untuk mengatasi sumbatan jalan nafas dan gangguan non-obstruktif. d. Mini trakeostomi. yaitu pada tipe ini dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI TRAKEOSTOMI Indikasi Trakeostomi Trakeostomi dapat dilakukan untuk tujuan terapi atau suatu prosedur berencana. c. Hal ini berguna pada pasien dengan kerusakan paru. tidak ada yang tertinggal di ruang rugi itu. sekitar lidah dan faring. Selain itu. 2. e. Insisi dibuat di antara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang 4-5 cm. Beberapa Indikasi trakeostomi adalah: 9. f. b. apabila tida k mempunyai fasilitas untuk bronkoskopi. Cedera parah pada wajah dan leher. Karena lubang yang dibuat lebih kecil. Pada pasien dengan pipa endotrakeal yang perlu pengantian.

9 39 . pisau. 2 ALAT-ALAT TRAKEOSTOMI Sebelum dilakukan pembedahan. gunting kecil yang tajam serta kanul trakea dengan ukuran yang sesuai untuk pasien. 2 . karena pada beberapa kasus. maka alat-alat yang perlu dipersiapkan adalah semprit yang berisi obat analgesia. klem arteri. menyebabkan insidens kekambuhan pada stoma bertambah. pada keadaan demikian pasien akan kelelahan untuk mempertahankan kadar gas darah yang adekuat sebelum terjadi desaturasi oksigen dalam arteri. Kontraindikasi trakeostomi. Pada umumnya pasien yang .pembersihan dan penggunaan lama. Satu-satunya kontraindikasi trakeostomi adalah pasien dengan obstruksi laring oleh tumor ganas. 2 Pasien yang tidak sadar dengan infisuensi pernafasan. gunting panjang yang tumpul. harus dilakukan trakeostomi. Pasien atau keluarganya yang akan dilakukan tindakan trakeostomi harus dijelaskan segala resiko tindakan trakeostomi termasuk kematian selama prosedur tindakan. koma dan hipotensi merupakan tanda infusiensi lanjut dan mungkin mendahului resusitasi. tanda klinik hipoksemia mungkin kurang jelas.menderita sumbatan jalan nafas dengan tanda hipoksemia meningkat . trakeostomi yang dilakukan lebih dari 48 jam sebelum pembedahan definitif. sepasang pengait tumpul. Oleh karena itu tanda-tanda desaturasi seperti sianosis. 1 0 Penentuan saat trakeostomi Pasien yang sadar menderita obstruksi saluran nafas bagian atas biasanya menunjukaan tanda hipoksemia akut. tapi k arena kehilangan mekanisme proteksi maka perlu dilakukan trakeostomi lebih dini. pinset anatomi.

5 Kanul Portex tersedia dalam berbagai ukuran baik untuk bayi. Bersayap sehingga pergerakan kanul minimal dan mengurangi trauma pada saluran pernapasan. Bentuk kanul pada orang dewasa yang bercuff sifatnya volume tinggi dengan tekanan intracuff yang rendah. Portex Blue line Kanul ini digunakan pada bayi. Semua kanul bersifat non toksik sehingga aman digunakan dan sesuai dengan suhu tubuh. Bentuknya tidak bercuff dan didesain sesuai bentuk anatomi trakea. Portex DIC 40 . 5 Kanul pada orang dewasa dibuat dari bahan yang lembut sesuai suhu tubuh dan sesuai anatomi saluran napas. Kanul ini mengurangi trauma dan meningkatkan kenyamanan pasien. fleksibel dan dapat berputar. Ada beberapa macam kanul. Kanul pada bayi dan anak-anak dibuat dari bahan implant. anak-anak dan orang dewasa.Jenis –jenis kanul Portex yaitu : 5 a. Alat-alat yang digunakan untuk trakeostomi Jenis Kanul Kanul yang digunakan adalah berbentuk kurva yang diinsersikan masuk ke dalam stoma . dengan bagian-bagian kanul yang hampir sama. anak-anak dan orang dewasa.Gambar 6. 5 b.

Bentuknya yang ekstra panjang dengan aksis horisontal akan memberikan kemampuan bernapas bagi pasien. Kanul dalam yang disposibel akan meningkatkan perawatan trakeostomi. 2. 4. mudah penggunaannya. Kanul ini dibuat untuk mengeliminasi masalah psikologik dan komunikasi semua pasien trakeostomi.Kanul seperti ini mempunyai kanul dalam yang disposibel. Kanul luarnya ada yang rigid dan ada yang fleksibel. Jenis kanul yang lain adalah : 5 . Kanul luar fleksibel untuk pasien yang tidak bisa bertoleransi dengan kanul luar rigid.0 mm). tetapi akan menurunkan waktu perawatan. Portex Mini-Trach II Kanul ini dimasukkan ke dalam trakea melalui membran krikitiroid dengan menggunakan kanul kecil (4. 5 c. 5. Kanul ini dperuntukkan bagi pasien yang mengalami retensi sputum. Portex Per-fit Percutaneous Tracheostomy Kit Digunakan untuk melakukan tindakan trakeostomi perkutaneus berseri. 6. 1 1 a. Extra Horizontal LengthTracheostomy Tubes Kanul ini didesain untuk pasien yang ada ” bull neck ” . Portex Specialty tubes . 3. aman dan menyenangkan bagi pasien. Flexible Shiley Tracheostomy Tube Kanul ini digunakan pada pembedahan dan insersi perkutaneus. Kanul ini dibuat sesuai kosmetik. Terdiri dari dua kanul di mana kanul dalam yang dapat dipakai untuk pembedahan atau 41 . skalpel dan penuntun. Portex Laryngectomy Tubes Kanul laringektomi Portex DIC digunakan untuk mempertahankan jalan napas pasien selama laringektomi. yang dibagi lagi yaitu : 5 1. Lo-Profile Tracheostomy Tubes Kanul ini untuk pasien yang memerlukan trakeostomi jangka panjang. Berguna bagi dokter untuk melakukan tindakan trakeostomi perkutaneus yang aman dan efisien. Portex Trach-Talk Tracheostomy Tubes Kanul ini didesain untuk menuntun pasien dapat berbicara dengan suara rendah.

insersi perkutaneus. Plain Tracheostomy Tube (Dikutip dari kepustakaaan nomor 12) 42 . Dapat dipakai untuk perawatan di rumah sehingga biaya perawatan tidak banyak dan waktu perawatan tidak lama. proteksi terhadap aspirasi. Gambar 8.Kanul Flexible Shiley (Dikutip dari kepustakaan nomor 11) b. memberikan ventilasi tekanan positif. Gambar7. Cuff bervolume tinggi lebih bagus karena mencegah terjadinya stenosis. Kanul Trakeostomi ber-Cuff Kanul ini mempunyai balon dengan tekstur yang lembut dan pada bagian bawahnya berfungsi untuk ventilasi bila terjadi kegagalan pernapasan. sedangkan cuff bervolume tinggi bentuk seperti silinder. Fungsi kanul ber-cuff secara umum adalah membersihkan udara. Cuff bervolume rendah bentuknya seperti balon.

a. Gambar 9. Bentuk kanul seperti ini cocok untuk anak kecil. Kanul Trakeostomi bentuk Fenestrated Kanul seperti ini mempunyai lubang yang berfungsi untuk berbicara melalui jalan napas atas. Plain Fenestrated Tube b. Gambar 10. Fungsi lain dari kanul ini adalah memberikan kemampuan kepada pasien untuk dapat bernapas secara normal ( persiapan dekanulasi ). Kanul Trakeostomi non-Cuff Kanul ini berfungsi untuk membersihkan jalan napas tetapi tidak mencegah terjadinya aspirasi. Cuffed Fenestrated Tube 43 . Plain Cuffed Tube. (Dikutip dari kepustakaan nomor 12) d.c.

Sayatan kulit pada daerah trakea 44 .Gambar 13.

klebsiella. kebanyakan jenis pneumonia bakteri bisa disembuhkan dalam satu atau dua minggu. Bakteri patogen yang umumya menyebabkan pneumonia aspirasi adalah stafilokokkus aureus. Dengan pengobatan. Pemilihan antibiotik dan durasi pengobatan bergantung pada suspek organisme ataupun yang telah terbukti.Golongan makrolid. Escherichia coli. Antibiotik masih tetap merupakan pengobatan utama pada pneumonia aspirasi. dan juga enterobacter maupun pseudomonas. Penyakit yang ini sering terjadi pada penderita epilepsi. 45 . biasanya akibat muntahan cairan lambung masuk ke dalam saluran nafas. dan bila mungkin benda asing itu dikeluarkan dengan memakai cunam atau alat penghisap melalui trakeostomi . Benda asing yang tidak dapat di keluarkan dengan cara bronkoskopi Bila fasilitas untuk melakukan bronkoskopi tidak ada. juga dapat meningkatkan jumlah cairan lambung yang terhirup. Penderita dalam kondisi ini bisa segera sembuh atau memburuk menjadi suatu sindroma gawat pernafasan akut atau suatu infeksi bakteri. maka pada kasus benda asing di trakea dapat dilakukan trakeostomi. Apabila cairan lambung yang masuk dalam jumlah banyak. sefalosporin dan fluorokuinolon merupakan alternatif lini kedua. trauma kepala. Penurunan kesadaran akan semakin meningkatkan resiko aspirasi. Zat yang terhirup biasanya asam lambung. tumor otak dan CVA.dan dalamwak tu singkat ( kurang dari 1 jam ) bisa timbul sindroma gawat pernafasanakut.BAB III PENUTUP “Aspiration pneumoniti s” adalah kerusakan mukosa trakeo-bronkial yang terjadi secara akut. Pneumonitis kimia yang terjadi bila zat yang terhirup bersifat racunterhadap paru-paru dan masalah yang timbul lebih berupa iritasi dibandingkan inf eksi. keracunan/overdose obat-obatan. terjadi sindroma Mendelson.

Zieve D. eMedicine 2009.P. NR. (http:// www. Vyas. Aspiration pneumonia. Kepala dan leher. 8 Maret 2012) O.australianprescriber. Jakarta : Penerbit buku kedokteran ECG. Vol 334. Naderi S. (http://medlineplus.com/article/ . 8 Maret 2009 46 . NEngl J Med. 9. 2002. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology 2009. Pneumonia Aspirasi. No.com/ .ht m .com/ . 2001. UpToDate For Patients 2009 ( http://www. Aspiration pneumonia and pneumonitis.com/ . Texas tech University Health Science Center:Massacussetts . E. (http://emedicine. Hal 421-2 Swaminathan. UPN Veteran.uptodate. 8Maret 2012) Shubha AM. Sexton. Jakarta: Penerbit buku kedokteran ECG. Tracheobronchial foreign bodies in infants. A. Clinical Syndromes of Pneumonia. 2011. Jilid 2. Hal 736-8 Sjamsuhidajad R.kcom. 8 Maret 2012) Swaminathan. Aspiration Pneumonia In Adult. 8 Maret 2012) Chamberlain. 8 Maret 2011) Dugdale. Thorner. Pneumonia aspiration. ( http://www.scribe. JG. Dalam : Buku Ajar Ilmu bedah. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan. Das K.medscape. Aspiration Pneumonia. (http://www. Aspiration Pneumonitis and Aspiration Pneumonia. AR. JM. Dalam : Patofisiologi.connor. 9 Maret 2011) Wilson Loiranne. S. 2006.73: 1385-89 Bartlett. DC.co.Marlisa. DJ. 2002.uk/ . eMedicine 2008.gov/ .patient. (http://www. A.edu/faculty/chamberlain/Website/lectures/syllabi3.DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Marik. Edisi 2. Australian Prescriber 2003. Medline Plus2 009.

Jakarta : EGC. Hal. 1997. Trakeostomi. Buku Ajar Penyakit THT. R. Edisi 6.12 Boies L. 47 . 473-485.