Anda di halaman 1dari 3

ASPIRASI PENGHAYAT KEPERCAYAAN TOBA SAMOSIR

Masalah Perikehidupan Penghayat Kepercayaan Terhadap TYME dalam Peraturan
Perundang-undangan
Oleh : M. Sitorus S.Pd
I. PENDAHULUAN :
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah sistem religius asli nusantara yang
berisi ajaran ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai-nilai luhur yang diamalkan dan dihayati oleh
penganutnya. Selanjutnya penganutnya dinamakan “PENGHAYAT KEPERCAYAAN
TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA” atau disingkat PENGHAYAT KEPERCAYAAN.
Nama dan istilah tersebut adalah julukan yang ditetapkan dalam hukum dan perundangundangan negara kita, untuk menamakan beraneka ragam sistim religius asli yang hidup dan
berakar dibumi nusantara sejak dahulu, jauh sebelum kemerdekaan NKRI tericnta ini. Tiap
kelompok penghayat kepercayaan memliki nama sendiri-sendiri sesuai doktrin / ajaran masingmasing.
Di Indonesia kepercayaan asli nusantara telah ada secara factual di bumi nusantara sebelum
Indonesia merdeka dan jauh sebelum pengaruh luar membawa agama-agama baru masuk ke
tanah air. Sementara itu sebagian penduduk tetap memegang teguh “ajaran religius” leluhurnya
sebagai “way of life”. Sekalipun jumlah penduduk yang menghayati / mengamalkan “Sistem
Religius Asli” (Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa) jauh lebih kecil dibanding
pemeluk agama-agama yang telah diakui negara.
Para pendiri bangsa “The Founding Father’s” yang mencita-citakan negara merdeka untuk
semua komponen bangsa secara holistic (utuh menyeluruh) tidak melupakan begitu saja
penghayat kepercayaan dan komponen minoritas lainnya tanpa kecuali, memang sungguh arif
dan bijaksana demi terbentuknya sebuah negara kesatuan dari komponen yang pluralistik,
dengan membangun semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa diakui eksitensinya oleh negara sebagaimana termaktup pada Dasar dan
Landasan NKRI, Pancasila dan UUD 1945 yang lebih nyata dalam rumusan Psl 29 Ayat 1
UUD 1945.
Pasal demi pasal lainnya secara implisit menyatakan “Kesamaan hak dan kedudukan seluruh
penduduk didalam Hukum” sebagai bukti kesungguhan cita-cita bangsa ini satu untuk semua
komponennya.
b. MASALAH
Dalam perjalanan bangsa ini mengisi kemerdekaan yang penuh cita-cita luhur, telah
dilahirkan produk hukum dan perundang-undnagan yang sejiwa dengan landasan Fundamental
Pancasila dan UUD 1945. Peraturan perundang-undangan tersebut berkaitan langsung atau tidak
langsung dengan perikehidupan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa / Penghayatnya
sebagai komponen bangsa. Diantaranya TAP MPR No. II / MPR / 1978 dan GBHN 1978
menegaskan eksistensi Penghayat Kepercayaan didalam bingkai NKRI diikuti peraturan
perundang-undangan lainnya.
Sementara peraturan perundangan lainnya yang lebih rendah dari yang disebut diatas,
mengandung “celah”, hukum yang mendiskriminasikan warga Penghayat dalam bingkai negara
hukum tercinta ini (Kepmen.Agama, dan Kepmendagri). Kenyataan yang kurang
menyenangkan itu sangat terasa bagi warga penghayat karena dengan sangat nyata
mempengaruhi kehidupan penghayat kepercayaan dalam berpartisipasi mengisi dan menikmati
kemerdekaan itu.

Penulis adalah seorang Parmalim, Guru SMU Negeri Narumonda, Sekretaris Himpunan Penghayat Kepercayaan
Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kabupaten Toba Samosir.

40 1978 . TAP MPR No. 39 Tahun 1999 4. dan masalah lainnya yang belum disebut disini. Toba Samosir yang tidak bersedia melayani permohonan warga penghayat. Mendagri. melayani warganya dari kelompok penghayat kepercayaan. menunjukkan sikap tidak akomodatif. yang entah sengaja atau tidak sengaja. Jadi masalahnya adalah peraturan Pencatatan Sipil. Keppres No. 2. II 1978 5. negara hukum yang tercinta ini. karena tidak adanya penjelasan yang lebih rinci. UU No. diantaranya yang paling pokok adalah : 1. Pengisian Biodata. 9 Tahun 1975 3. Tanda garis (-) sering diinterpretasikan sebagai ketidakabsahan. Dengan alasan pencatatan terhadap warga penghayat kepercayaan tidak ada dalam peraturan perundang-undangan. Tentu itu kurang adil. yang paling meresahkan warga penghayat adalah masalah ke-3 “pencatatan sipil”. itu pulalah yang meresahkan/mendiskriminasikan warga penghayat. 221 a Tahun 1975 Akan terlihat. Peraturan Pencatatan Sipil (Pencatatan Perkawinan dan Kelahiran) Dari ketiga masalah pokok diatas. kejam dan jelas bertentangan dengan 1. selain itu Pencacatan Sipil masih manggunakan Peraturan zaman kolonial Belanda yang memang bukan untuk NKRI. Karena bisa saja dalam praktek instansi catatan sipil. tidak dengan tegas menyatakan kedudukan “Penghayat Kepercayaan”. Kep. Jika kita telaah hukum / perundang-undangan yang berkaitan dengan hal terebut : 1. Hukum dan azas kebersamaan hak dan kewajiban seluruh warga negara. Memang interpretasi orang bisa lain. c. lebih terasa lagi akibat ketidaktahuan/ketidakpedulian “oknum” dalam instansi–instansi pelayanan pemerintah yang bersangkutpaut dengan peri kehidupan penghayat dalam menginterpretasikan hukum dan perundang-undangan yang ada. Mendagri No. Warga penghayat “TERPINGGIRKAN” Celah hukum/peraturan perundangan dimaksud tercermin nyata dalam masalah warga penghayat kepercayaan sebagai berikut. 2.Produk hukum yang bermasalah itu. 1 Tahun 1974 dan penjelasannya. Pancasila 2. PEMBAHASAN MASALAH Kantor Pencatatan Sipil Kabupaten Toba Samosir. Sudah barang tentu kenyataan ini bertolak belakang dengan ulasan dalam pendahuluan tentang Landasan Negara. PP No. No. dengan sangat tegasnya tidak melayani permohonan pencatatan sipil dari warga penghayat berkaiatan dengan pencatatan kelahiran dan pencatatan perkawinan. tentang pencatatannya. Peraturan persyaratan keutamaan AKTA CATATAN SIPIL. melalui jalur hukum manapun termasuk Pengadilan Negeri sekalipun. Mengapa hak atas pelayanan catatan sipil itu penting ? Pemerintah melalui berbagai instansi telah mejadikan AKTA CATATAN SIPIL sebagai dokumen utama dalam berbagai keperluan/persyaratan. UUD 1945 3. kolom agama dan kepercayaan dalam KTP sebagaimana diatur oleh Kep. UU Perkawinan 3. khususnya di kantor Pencatatan Sipil Kab. warga penghayat dianggap secara legal tidak berhak dilayani atau memperoleh akta dimaksud. seakan-akan Penghayat Kepercayaan diluar bingkai hukum negeri ini. sesungguhnya masih memberi ruang bagi pencatatan perkawinan bagi orang Indonesia asli lainnya (yang tidak memeluk salah satu agama) secara hukum adat. 27 Jo. Sungguh tidak adil. Warga Penghayat disini jelas kehilangan hak dan martabatnya sebagai manusia Indonesia yang merdeka sebagai komponen “kecil” bangsa yang besar ini. UU No.

d. Porsea. Tanjung Balai. 20 Agustus 2004 . maka warga penghayat di Kabupaten Tobasa dan Kabupaten lainnya sudah layak mendapatkannya. Tobasa secara terbuka melihat masalah ini dengan kearifan dan kebijaksanaan kami usulkan diadakan suatu PERDA khusus. Kalau bukan dari Batak sendiri yang memikirkannya lantas siapa lagi ? Masalah Produk hukum harus diatas dengan produk hukum pula. yang warga penghayatnya relatif banyak perlu dicarikan sesuatu alternatif pemecahannya secara arif dan bijaksana. ketidak jelasan peraturan/ perundangan. Untuk itu kalau semua pihak di Kab. terlebih karena kepercayaan “Batak” yang dianut warga penghayat berjalan sejajar dengan “Budaya Batak”. Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk Kabupaten Toba Samosir. Kalaupun itu kita realisasikan. melindungi hak-hak sipil warganya yang menganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bila warga Penghayat di Tanjung Balai sudah dapat merasakan nikmat kemerdekaan. dapat diatur pada peraturan perundangan-undangan yang lebih rendah. TOBASA bukan yang pertama melakukannya. Kami mencatat hal serupa dilakukan Pemko.