Anda di halaman 1dari 4

Tata Susila Hindu Dharma

Judul
Pengarang
Penerbit
Cetakan Ke
Tahun Terbit

: Tata Susila Hindu Dharma
: Prof. Ida Bagus Mantra
: Udayana University Press
: Pertama
: 2013

Buku dengan sampul berwarna hitam ini menghadirkan penjelasan mengenai tata susila.
Mulai dari pengertiannya, dasar-dasar tata susila, pedomannya, hingga hubungan antara
kesusilaan dan kedusilaan.
Tata susila berarti peraturan tingkah laku yang baik dan mulia, yang harus menjadi
pedoman hidup manusia. Tata susila bertujuan untuk membina perhubungan yang selaras serta
rukun. Baik itu antar sesama mahluk, keluarga, masyarakat, bangsa, hingga antar alam sekitar.
Tujuanya, agar tercipta kehidupan yang aman dan sentosa.
Tata susila membina watak manusia untuk menjadi anggota keluarga serta masyarakat
yang baik, putra bangsa dan manusia yang berpribadi mulia, dan juga membimbing mereka
untuk mencapai kebahagiaan. Selain itu, tata susila juga menuntun seseorang untuk menyatukan
diri dengan mahluk sesamanya dan akhirnya menyatukan jiwatman-nya dengan paramatman
(Hyang Widhi Wasa). Karena, kebahagiaan abadi hanya didapat apabila jiwatman bersatu dengan
paratman. Hal tersebut dijelaskan dalam kitab Bhagawadgita VI syair 20, 21, 22.
Agama merupakan dasar tata susila yang kokoh dan kekal. Tata susila yang berdasarkan
pada ajaran agama, sebagaimana terdapat pada kitab suci Upanisad serta tattwa-tattwa, akan
dimulai dengan dalil yang mengakui tunggalnya jiwatman dengan paramatman. Hal tersebut
tertuang melalui dalil dalam Upanisad, yakni “Brahma atma aikyam” yang artinya Brahman dan
atma adalah tunggal.
Sang Hyang Widhi ialah tunggal dan menjadi dasar hidup segala ciptaan-Nya. Dengan kata
lain, semua mahluk pada dasarnya ialah sama, sesuai dengan “Tat Twam Asi”. Hal tersebut juga
disebutkan dalam Bhagawadgita X syair 20 dan 39. Hampir sama dengan yang disebutkan
Bhagawadgita X syair 9, serta Bhagawadgita syair 27.
Berdasarkan semua itu, tata susila dibagun atas dasar kebenaran yang adil. Apabila
bertentangan dengan ini, maka akan timbul ketidakselarasan dalam mahluk. Karena itu,
kebenaran yang mutlak ialah berdasarkan peri kemanusiaan.
Segala sesuatu yang dapat menolong dunia ini melalui jalan yang telah ditentukan oleh
Sang Hyang Widhi Wasa, dapat dikatakan sebagai kebenaran. Sedangkan, segala sesuatu yang
menghalangi jalan ini adalah salah. Itulah konsep benar dan salah di dunia ini.
Tujuan hidup manusia ialah moka. Sehingga segala sesuatu yang menghalangi tujuan
tersebut , adalah tidak benar. Dan untuk mengetahui jalan yang benar, Sang Hyang Widhi telah
mengirimkan petunjuk melalui orang-orang besar dan suci (yang memimpin umatnya bila ada
yang merintangi).

pitra-pitra. Dewa Rnam. Diantara kelima tersebut. dan 3. yakni hutang budi pada Pitra 3. Sifat-sifat yang menggerakan untuk memenuhi hal tersebut ialah kebajikan atau susila.Pedoman tata susila ialah untuk menyatukan (tidak memecah belah). Awidya inilah yang menimbulkan perasaan hati pada manusia. Tujuan agama dan tata susila ialah Iswara dan kehidupan dari Iswara. Pitra Rnam. dapat dikembalikan dengan cara mempelajari kitab-kitab suci serta menjadi murid yang setia kepada guru. Menyatukan disini yakni antara jiwatman denga paramatman. 21. lalu hidup di dunia dan memberikan pertumbuhan. Di dunia ini. cukup melakukannya dengan susrusa (jiwatman yang berbakti dalam segala pekerjaan). Dalam pertumbuhan tersebut. manusia mempunya dua kewajiban. sifat yang menggerakan ke arah menyimpang disebut dengan dursila. manusia. ada lima macam mahluk yang terikat satu sama lain. rsi-rsi. 2. Perasaan hatinya akan berkembang dan dikuasai oleh rasa cinta mendalam. ketika menyatu dengan jasmani akan menimbulkan awidya dan menjadi pusat keakuan. Kelimanya ialah dewadewa. Rsi Rnam. Apabila kecerdasan benar dalam dalam mengemudikan perasaan. Daiwi sampat akan menuntun manusia ke arah keselarasan antar sesama manusia. pitra-pitra. Menyelaraskan hubungan badan dengan Paramatma di dalamnya 2. Bagi yang tidak berksempatan menuruti ajaaran-ajaran tersebut. Jiwa tersebut. Ri Rnam. yakni hutang budi pada Rsi 2. Sedangkan Asuri Sampat mempunyai kecenderungan untuk memecah belah jiwatman-jiwatman dan memperkuat sifat keakuan. dan mahluk bawahan. Terdapat dua kecenderungan sifat manusia. Penjelasan tentang Daiwi Sampat terdapat pada Bhagawad Gita XVI syair 1. yakni Daiwi Sampat (mutu kedewaan) dan Asuri Sampat(mutu keraksasaan). Semua mahluk bisa hidup berdasarkan adanya jiwa dari iswara. rsi-rsi. . tiga diantaranya yang menimbulkan hutang budi terpenting adalah: 1. yaitu dewa-dewa. Orang yang melakukan hal tersebut dipandang sebagai orang baik. Tata susila menuntun manusia pada agama yang tertinggi serta menyadari kebenaran tertinggi dan mencapai tujuan tertinggi. sifat ini akan berusaha mencari kebahagiaan. Dalam hidup. Wajib halnya melakukan pengorbanan terhadap kelima bagian ini. ykni hutang budi pda Dewa Ada beberapa cara untuk mengembalikan ketiga hutang budi terpenting. 17. Menyelaraskan hubungan mahluk yang berbeda-beda. maka hal itu adalah kebajikan. Hai ini tertuang dalam Bhagawad Gita syair 4. sehingga akhirnya dapat mencapai jiwa mukti(kebebasan rohani tertinggi). Dewa Rnam. Pitra Rnam. Kebajikan dan susila adalah perwujudan tingkah laku manusia dan semuanya pada dasarnya berdasarkan kebenaran yang membadani hukum sendiri. Sebaliknya. dapat dikembalikan dengan memelihara keluarga di jalan yang baik serta melakukan kewajiban selaku anggota keluarga (salah satunya dana punya). manusia dan mahluk lainnya. dapat dikembalikan dengan jalan melakukan yajna atau pengorbanan kepada para dewa. yakni: 1.

Cinta kepada kejujuran 3. berpengetahuan dan mempunyai tata susila yang tinggi (Nitisara. sikap hormat juga harus ditujukan pada orang yang umurnya lebih tua dan mempunyai budi pekerti yang tinggi. 5 dan 6.Keselarasan badan dengan paramatman. melindungi dan mengadakan usaha untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan berusaha mengutamakan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi. hal yang perlu juga diselaraskan ialah badan halus atau suksma sarira. kesetiaan terhadap guru Wisesa hendaknya menjadi syarat mutlak untuk susila yang tinggi. yakni: 1. Udyoga). sehingga keduanya dapat selaras. 4. sebaiknya pilih makanan yang disukai oleh orang-orang yang bersifat sattwa. Salah satu cara untuk membuatnya selaras yakni menjaga kebersihan dan kesehatan badan. berarti menjadikan badan sendiri sebagai tempat untuk mewujudkan sifat dari Sang Hyang Widhi Wasa. Latihan pikiran (manacika) ialah yang utama diantara pengendalian kata-kata (wacika) dan perbuatan (kayika). Juga dalam Katha Upanisad bagian III. 227-230. Hal tersebut tercantum dalam Manu Smrti II. pitra-pitra. yakni yang dapat memperbesar sifat tattwa. Tidak ada kebajikan yang lebih utama dari kebajikan seorang anak pada Guru Reka dan Guru Pengajian. suami dengan istri. dan antar manusia dibagi menjadi 3 bagian. Ada empat kewajiban bagi pikiran. Hal tersebut tertuang pada Manu Smrti II. Ada tiga macam golongan makanan. yakni: 1. Karena itu. 2. kewajiban suci yang harus dilakukan terhadap Guru Reka dan Guru Pengajian hampir sama dengan kewajiban pada Sang Hyang Widhi Wasa dan guru Wisesa. Sementara. saudara-saudara dengan dengan keluarga yang . Kasih adalah dasar dari semua kebajikan (dharma) dan dengki adalah dasar dari segala kedursilaan (adharma). 88. yang telah melimpahkan begitu banyak pengetahuan. rajah. Perhubungan antara yang lebih tinggi Ialah hubungan antara manusia dengan catur guru serta yang lebih tinggi umumnya. Hubungan manusia dengan dewa-dewa. Selain itu. Penghormatan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa mempunyai bentuk beraneka warna: Persembahyangan kepada Sang Hyang Widhi Mempelajari dengan sungguh-sungguh ajaran-ajaran mengenai Tuhan serta beriziarah ke tempat-tempat suci. Cinta kepada keadilan Kesusilaan dan kedursilaan didasarkan atas rasa kasih dan dengki. dengan jalan memelihara melalui asupan makanan yang baik. Hormat pada guru wisesa (pemerintahan) atas dasar bahwa pemerintah adalah badan yang memelihara keadilan. 3. Untuk menyelaraskan badan. Cinta kepada keikhlasan 4. Caranyam yakni dengan melatih pikiran dan indra. Cinta kepada kebenaran 2. dan tamah. Selain badan jasmani. Hal itu disebutkan dalam Manu Smrti syair 121. Perhubungan antara yang setara Yang dimaksud dengan hubungan antara yang setara (sederajat) ialah antara anggota keluarga dengan masyarakat.

3. Namun. Timbulnya susila dan dursila disebabkan oleh rasa kasih dan dengki. Perhubungan antara yang lebih rendah Hal yang dimaksud disini ialah hubungan dengan orang yang lebih rendah derajatnya atau kedudukannya. Salah satunya ialah antara orang tua dengan anaknya. Hal inilah yang mungkin dapat diperbaiki kedepannya.sebaya. . dengan kawan-kawan. Pemberian ini harus dilakukan dengan tulus ikhlas. kenalan-kenalan dan aggota masyarakat yang umur seta kedudukannya sederajat. Hubungan ini ditentukan oleh cinta kasih dan benci. Secara umum buku ini sudah menggambarkan tentang tata susila dan hubungannya dalam masyarakat serta diri sendiri dan lingkungan. ada beberapa bahasa yang kurang dimengerti serta masih terdapat beberapa salah penulisan kata.