Anda di halaman 1dari 17

TETANUS ANAK

I.

PENDAHULUAN
Tetanus adalah kelainan neurologis, yang ditandai oleh peningkatan tonus dan spasme

otot, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium
tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat. Tetanus terdapat dalam beberapa
bentuk klinis, termasuk penyakit yang generalisata, neonatal, dan terlokalisasi.
Pada anak, penyakit tetanus kebanyakan terdapat pada anak-anak yang belum pernah
mendapatkan imunisasi tetanus (DPT). Pada umumnya terdapat pada anak yang berasal dari
keluarga yang belum mengerti pentingnya imunisasi dan pemeliharaan kesehatan, seperti
kebersihan lingkungan dan perorangan. Sedangkan pada neonates, tetanus neonatorum sangat
berhubungan dengan aspek pelayanan kesehatan neonatal, terutama pelayanan persalinan
(persalinan yang bersih dan aman), khususnya perawatan tali pusat.

II.

DEFINISI
Tetanus adalah suatu toksemi akut yang disebabkan oleh absorsi endotoksin Clostridium

tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat dan menimbulkan paralitik spastik
yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospasmin merupakan endotoksin yang diproduksi oleh
Clostridium tetani. Spora Clostridium tetani biasanya masuk ke dalam tubuh melalui luka pada
kulit oleh karena terpotong, tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat.

III.

ETIOLOGI
Clostridium tetani adalah bakteri penyebab tetanus dengan sifat, basil gram-positif,

dengan spora diujungnya sehingga berbentuk seperti pemukul gendering (drumstick), obligat
anaerob (berbentuk vegetative apabila berada dalam lingkungan anaerob) dan dapat bergerak
menggunakan flagella. Clostridium tetani juga menghasilkan eksotoksin yang kuat,
tetanospasmin dan tetanolisin.

tingkat populasi masyarakat yang tidak kebal.Bakteri ini dapat ditemukan dalam dua bentuk yaitu Spora (dorman) atau Vegetatif sel (aktif) yang dapat bermultiplikasi. Spora dapat resisten pada suhu yang ekstrim. kuda dan sebagainya. tingkat pencemaran biologi lingkungan peternakan/ pertanian. Reservoir utama kuman ini adalah yang mengandung kotoran ternak. bubuk antiseptic (dermatol). laserasi atau garukan. Spora dapat hidup di tanah dan kotoran hewan dan dapat bertahan di lingkungan tertentu selama bertahun-tahun. melahirkan dan penggunaan jarum suntik. ataupun pada alat suntik dan operasi. . Kebanyakan kasus pada luka tusuk. sehingga risiko penyakit ini didaerah peternakan sangat besar. tetanolisin dan tetanospasmin menjadi penyebab dari penyakit ini. terutama pada daerah risiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah angka kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi. lampu operasi. Tetanus juga disebabkan oleh gigitan hewan. akibat perbedaaan aktivitas fisiknya. Kontaminasi luka dan dengan bakteri akan menjadikan spora menjadi aktif. operasi. Gambar 1. Penyakit ini secara khas terjadi jika terdapat luka pada kulit. Tetanus dapat berkembang pada seseorang yang tidak memiliki imunitas atau seseorang yang memiliki imunitas yang tidak adekuat. Clostridium tetani IV. misalnya dalam debu jalanan. dan adanya luka pada kulit atau mukosa. abses. Bakteri yang telah aktif akan mengeluarkan dua toksin. EPIDEMIOLOGI Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian tergantung pada jumlah populasi masyarakat yang tidak kebal. Tetanus pada anak tersebar di seluruh dunia. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan terhadap kekeringan dapat bertebaran di mana-mana.

Gambar 2. bubuk kopi.Pada dasarnya tetanus adalah penyakit akibat penyakit pencemaran lingkungan oleh bahan biologis (spora). luka kronik 4. sehingga upaya kausal menurunkan attack rate berupa cara mengubah lingkungan fisik atau biologic. Otitis media. luka bakar yang luas 2. dan paling sering timbul pada pasien dewasa dengan sistem imun yang menurun. Luka operasi. Pemotongan tali pusat yang tidak steril. dan mendekati angka 100% pada kasus yang tidak mendapatkan terapi medis. bubuk ramuan dan daun-daunan merupakan penyebab utama masuknya spora pada punting tali pusat yang menyebabkan terjadinya kasus tetanus neonatorum.2 kasus/juta penduduk). Insiden kasus tetanus secara global diestimasikan mendekati angka 1 juta kasus. karies gigi. luka yang tak dibersihkan (debridement) dengan baik. namun diduga melalui: 1. pembubuhan punting tali pusat dengan kotoran binatang. dimana bergantung pada tingkat kebersihan. Luka tusuk. Angka mortalitas dari tetanus berbeda-beda pada setiap negara. gigitan binatang. Port d’entre tak selalu dapat diketahui dengan pasti. Adapun tetanus generalisata jarang ditemukan pada negara berkembang (0. patah tulang komplikasi kecelakaan.Mortalitas dan insidens rate . 3.

tetanospasmin di transport secara retrograde ke dalam badan sel di batang otak dan saraf spinal.V. Jika toksin telah masuk ke dalam sel. Transport terjadi pertama kali pada saraf motorik lalu ke saraf sensorik dan saraf autonom. Dalam kondisi anaerobic yang dijumpai pada jaringan nekrotik dan teinfeksi. Selain itu luka laserasi yang kotor. pecahan kaca. Aliran eferen yang tidak terkendali dari . Spora ini memasuki tubuh setelah adanya abrasi atau luka. Apabila interneuron inhibitor (sel interneuron Renshaw) spinal terpengaruh. debu. Dalam jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oksigen jaringan akibat adanya benda asing. kaleng atau luka tembak. Tetanospasmin mempunyai efek dominan pada inhibitory pathway yang memblok pelepasan neurotransmitter inibitorik. gejala-gejala tetanus akan muncul. luka bakar dan patah tulang juga akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan Clostridium tetani ini. lesi pada mata. Efek toksin tetanospasmin dihasilkan melalui pencegahan lepasnya neurotransmitter. basil Clostridium tetani mensekresi dua macam toksin : tetanospasmin dan tetanolisin. PATOFISIOLOGI Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka yang dalam misalnya luka yang disebabkan tertusuk paku. Walaupun demekian luka-luka ringan seperti luka gores. ia akan berdifusi keluar dan akan masuk dan mempengaruhi neuron didekatnya. Spora tetanus dapat hidup pada kondisi ekstrim dalam jangka waktu yang lama. karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Spora Clostridium tetani tersebar di lingkungan seperti tanah. feses. Sekali terikat. Masa inkubasi penyakit antara 3 sampai 21 hari ( waktu rata – rata 7 hari. neuron motorik ini akan kehilangan fungsi motor inhibitornya. berubah menjadi vegetatife dan berbiak cepat sambil menghasilkan toksin. telinga atau tonsil dan traktus digestivus serta gigitan serangga dapat pula merupakan porte d’entrée (tempat masuk) dari Clostridium tetani. Tetanolisin mampu secara lokal merusak jaringan yang masih hidup yang mengelilingi sumber infeksi dan mengoptimalkan kondisi yang memungkinkan multiplikasi bakteri Tetanospasmin menyebar ke sistem saraf dengan berikatan di neuromuscular junction. Akibatnya . yaitu glisin dan asam aminobutirik (GABA). Sinaptobrevin merupakan protein membran yang diperlukan untuk keluarnya vesikel intraseluler yang mengandung neurotransmitter. Spora yang masuk ke dalam tubuh dan berada dalam lingkungan anerobik.

Spasme otot sangatlah nyeri dan dapat berakibat fraktur atau rupture tendon. Patofisologi terjadinya Tetanus. sedangkan otot – otot perifer tangan dan kaki relatif jarang terlibat. Tubuh dan anggota tubh mengikuti. Otot rahang. Aliran impuls otonomik yang tidak terkendali akan berakibat terganggunya kontrol otonomik dengan aktivitas lebih saraf simpatik dan kadar ketekolamin plasma yang berlebihan. wajah dan kepala sering terlibat pertama kali kearena jalur aksonalnya lebih pendek.saraf motorik pada korda dan batang otak akan menyebabkan kekakuan dan spasme muskuler yang dapat menyerupai konvulsi. Pemulihan membutuhkan tumbuhnya ujung saraf yang baru yang menjelaskan mengapa tetanus berdurasi lam Gambar 3. Terikatnya toksin pada neuron bersifat ireversibel. VI. GEJALA KLINIS . Refleks inhibisi dari kelompok otot antagonis berkontraksi secara simultan.

Karena toksin tetanus tidak mengenai saraf sensoris atau fungsi korteks. lock jaw). hipertensi labil. Pergantian ini lebih merupakan akibat perubahan resistensi vaskuler sistemik daripada perubahan pengisian jantung dan kekuatan jantung. diaphoresis dan vasokonstriksi kulit. auditoria tau emosional. Pengaruh autonom yang utama adalah takikardia.Tetanus Generalisata Tetanus generalisata merupakan bentuk yang paling umum dari tetanus. Kontraksi ini dapat bersifat spontan ataupun dipicu oleh stimulus berupa sentuhan. adalah lazim karena banyak energy metabolik dihabiskan oleh otot-otot spastic. Spasme otot masseter menyebabkan trismus (rahang terkunci. mengakibatkan penderita tetap sadar. ‘risus sardonicus’ dan meluas ke otot-otot untuk menelan yang menyebabkan disfagia. Terdapat trias klinis berupa rigiditas. Kaku kuduk. spasme secara progresif meluas ke otot-otot wajah yang menyebabkan ekspresi wajah yang khas. stimulus visual. Disamping peningkatan tonus otot. nyeri tenggorokan dan kesulitan untuk membuka mulut. Spasme ini dipicu oleh stimulus internal dan ekternal dapat berlangsung selama beberapa menit dan dirasakan nyeri. Kontraksi tonik ini tampak seperti konvulsi yang terjadi pada kelompok agonis dan antagonis secara bersamaan. Opistotonus adalah posisi seimbang akibat dari kontraksi yang tidak hentihentinya semua otot yang berlawanan. Gejala tetanus pada anak (TA):  Hipertoni dan spasme otot . Hipertensi berat dan takikardia dapat terjadi bergantian dengan hipotensi berat. spasme otot dan apabila berat disfungsi otonomik. aritmia. Disuria dan retensi urin dapat terjadi akibat dari spasme sfingter kandung kencing. Rigiditas tubuh menyebabkan opistotonus dan gangguan respirasi dengan menurunnya kelenturan dinding dada. tetapi dapat selama berbulan-bulan sesudah jejas. bradikardia dan henti jantung berulang. selain itu mengejan waktu bertinja dapat terjadi. terdapat spasme otot yang bersifat episodic. semuanya menampakkan kekakuan tetanus khas “seperti papan”. yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme generalisata. sering merupakan gejala awal tetanus. Spasme otot-otot laring dan pernapasan dapat menyebabkan obstruksi saluran pernapasan dan asfiksia yang dapat mengancam jiwa. Rigiditas otot leher menyebabkan retraksi kepala. Periode inkubasi khas 2-14 hari. Demam kadang-kadang setinggi 40oC.

kernig sign positif Risus sardonikus (patognomonis) Spasme otot lain : opistotonus. dinding perut tegang. khas tampak dalam 3-12 hari kelahiran. bicara tidak jelas Spasme otot leher : leher sakit dan kaku. sukar duduk/jalan. dinding perut tegang. Tetanus ini terjadi pada anank-anak yang lahir dari ibu yang tidak dimunisasi secara adekuat. opistotonus. Tetanus neonatorum biasanya terjadi dalam bentuk generalisata dan biasanya fatal apabila tidak diterapi. bentuk infantile tetanus generalisata. Gejala tetanus neonatorum (TN):  Hipertoni dan spasme otot . mulut -    mencucu seperti mulut ikat (fish mouth) Mata tertutup Spasme otot lain : kaku kuduk. anggota gerak spastic. tidak dapat menangis lagi. anggota gerak spastic. seringkali setelah perawatan sisa tali plasenta yang tidak steril. Kejang tonik dengan kesadaran tidak terganggu Gag reflex positif Mungkin ada luka/riwayat luka atau otitis media perforata Tetanus Neonatorum Tetanus neonates (tetanus neonatorum). Resiko infeksi tergantung pada panjang tali pusat.   Trismus : sukar makan/minum. kebersihan lingkungan. Kejang tonik dengan kesadaran tidak terganggu Gag reflex positif Puntung pusat mungkin ada sekret kotor .Trismus : bayi tiba-tiba tidak mau minum. dan kebersihan saat mengikat dan memotong umbilicus.

Kelemahan otot dapat terjadi akibat peran toksin pada tempat hubungan neuromukuler. Dapat mengakibatkan spasme otot dekat tempat luka. Manifestasi klinis tetanus Tetanus Lokal Tetanus lokal adalah bentuk langka yang memberi gejala terbatas pada otot dekat luka. lubang hidung atau muka.Gambar 4. Tetanus Sefalika Tetanus sefalika adalah bentuk jarang tetanus terlokalisasi melibatkan muskulatur bulbar yang terjadi akibat luka atau benda asing di kepala. Masa inkubasinya 1-2 hari.  Derajat Penyakit Beratnya penyakit dapat ditentukan berdasarkan : o Kriteria Patel dan Joaq : a) Trismus b) Kejang c) Masa tunas  7 hari d) Onset period  48 jam . penglihatan menyimpang. risus sardonikus dan paralisis spastic otot lidah dan faring. Ia juga terjadi bersama dengan otitis media kronis. Tetanus sefalika ditandai oleh kelopak mata yang retraksi. nyeri dan dapat mendahului tetanus generalisata. trismus. Gejalagejalanya bersifat ringan dan dapat betahan sampai berbulan-bulan. Mortalitasnya tinggi.

kapan imunisasi yang terakhir • Selang waktu antara timbulnya gejala klinis pertama (trismus atau spasme local) dengan kejang yang pertama (periode of onset). DIAGNOSIS Biasanya tidak sukar. Tujuan Tatalaksana Tujuan penatalaksanaan pada tetanus adalah sebagai berikut 1. PENATALAKSANAAN A. Penanganan spasme. Anamnesis yang teliti dan terarah selain membantu menjelaskan gejala klinis yang kita hadapi juga mempunyai arti diagnostic dan prognostic. Pencegahan komplikasi gangguan napas dan metabolik. luka kecelakaan/patah tulang terbuka. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang sangat membantu. 2. VII. VIII. luka dengan nanah atau gigitan binatang • Apakah pernah keluar nanah dari telinga • Apakah menderita gigi berlobang • Apakah sudah pernah mendapat imunisasi DT atau TT. .  Kriteria Trismus dan kejang Dapat dibedakan 3 stadium : 1) Trismus (> 3 cm) tanpa kejang tonik umum bila dirangsang 2) Trismus ( 3 cm) dengan kejang tonik umum bila dirangsang 3) Trismus ( 1 cm) dengan kejang tonik umum spontan.e) Suhu rectal ≥ 38oC dalam 24 jam pertama di rumah sakit Penyakit terhitung derajat 1 bila 1 kriteria ditemukan. Anamnesis yang dapat membantu diagnosis antara lain: • Apakah dijumpai luka tusuk. derajat 2 bila ada 2 kriteria dan seterusnya derajat 5 bila terdapat semua criteria.

Jika memungkinkan. Lakukan pemantauan cairan. disfagia atau hidrofobia. melakukan pembersihan luka di tempat masuknya kuman. terutama pada pasien yang mengalami demam dan spasme berulang. mengatasi spasme. 5. Pada tetanus neonatorum eksisi luas tunggul umbilikus tidak diindikasikan. 3. B. pada kasus yang berat perlu trakeostomi. Diazepam efektif mengatasi spasme dan hipertonisitas tanpa menekan pusat kortikal. Mengurangi spasme dan mengatasi spasme.3 mg/kgBB/kali dengan interval 2-4 . Bahkan pada kenyataannya. dan bila sampai hari ke-3 infus belum dapat dilepas sebaiknya dipertimbangkan pemberian nutrisi secara parenteral. Tatalaksana Umum 1. 4.3. Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi Pada hari pertama perlu pemberian cairan secara intravena sekaligus pemberian obatobatan. Setelah spasme mereda dapat dipasang sonde lambung untuk makanan dan obat-obatan dengan perhatian khusus pada kemungkinan terjadinya aspirasi. 6. menjaga kelancaran jalan napas. Menjaga saluran napas tetap bebas. efektivitas antitoksin dalam dosis yang sangat besar dalam menurunkan angka kematian masih dipertanyakan. perawatan luka atau port’d entree lain yang diduga seperti karies dentis dan OMSK. Asuhan keperawatan yang sangat ketat dan terus-menerus. Pemberian antitoksin dilakukan secepatnya setelah diagnosis tetanus dikonfirmasi. Netralisasi toksin yang masih terdapat di dalam darah yang belum berikatan dengan sistem saraf. tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa toksin tetanus dapat diinaktifkan dengan antitoksin setelah toksin berikatan di jaringan. Memberikan tambahan O2 dengan sungkup (masker). elektrolit dan keseimbangan kalori (karena biasanya terganggu).1-0. Dosis diazepam yang direkomendasikan adalah 0. 4. Penatalaksanaan pada tetanus terdiri dari tatalaksana umum yang terdiri dari kebutuhan cairan dan nutrisi. 2. Namun. untuk memusnahkan ―pabrik‖ penghasil tetanospasmin. oksigenasi. juga pada pasien yang tidak mampu makan atau minum akibat trismus yang berat. sedangkan tatalaksana khusus terdiri dari pemberian antibiotik dan serum anti tetanus.

sebaiknya dipertimbangkan untuk dirawat di ruang perawatan intensif sehingga otot dapat dilumpuhkan dan mendapat bantuan pernapasan mekanik. kesadaran membaik (tidak koma). Intraveneous . Tatalaksana Khusus 1.000 IU im dan 50. pemberian anti serum dapat disertai dengan imunisasi aktif DT setelah anak pulang dari rumah sakit. Setelah spasme berhenti. Jika karies dentis atau OMSK dicurigai sebagai port d’entree. Spasme harus segera dihentikan dengan pemberian diazepam 5 mg per rektal untuk BB<10 kg dan 10 mg per rektal untuk anak dengan BB ≥10 kg. diikuti infus tetesan tetap 15-40 mg/kgBB/hari.1-0. pemberian diazepam dilanjutkan dengan dosis rumatan sesuai dengan keadaan klinis pasien. Pemberian ATS harus berhati-hati akan reaksi anafilaksis. Bila dosis diazepam maksimal telah tercapai namun anak masih spasme atau mengalami spasme laring. C. Alternatif lain.2 mg/kgBB iv untuk menghilangkan spasme akut.000-6. Setelah 5-7 hari dosis diazepam diturunkan bertahap 5-10 mg/hari dan dapat diberikan melalui pipa orogastrik. untuk bayi (tetanus neonatorum) diberikan dosis awitan 0. Dosis maksimal adalah 40 mg/kgBB/hari.21 Dosis ATS yang dianjurkan adalah 100. Sebagian dari dosis tersebut diberikan secara infiltrasi di tempat sekitar luka. Bila fasilitas tersedia. Untuk bayi. dosis dipertahankan selama 3-5 hari. dapat diberikan HTIG (3. Pada tetanus anak. HTIG hanya dapat menghilangkan toksin tetanus yang belum berikatan dengan ujung saraf. badan masih kaku. Anti serum atau Human Tetanus Immunoglobuline (HTIG) 10. tidak dijumpai gangguan pernapasan.000 IU iv.11. atau dosis diazepam intravena untuk anak 0.000 IU) secara intramuskular (IM) dalam dosis tunggal. dosisnya adalah 500 IU IM dosis tunggal. fenobarbital iv dan morfin dapat digunakan sebagai terapi tambahan jika pasien dirawat di ICU karena terdapat risiko depresi pernapasan. Midazolam iv atau bolus. Tanda klinis membaik bila tidak dijumpai spasme spontan. Apabila dengan terapi antikonvulsan dengan dosis rumatan telah memberikan respons klinis yang diharapkan.3 mg/kgBB/kali. 5. Selanjutnya pengurangan dosis dilakukan secara bertahap (berkisar antara 20% dari dosis setiap dua hari).000 IU dengan 50. maka diperlukan konsultasi dengan dokter gigi/THT.jam sesuai gejala klinis atau dosis yang direkomendasikan untuk usia <2 tahun adalah 8mg/kgBB/hari diberikan oral dalam dosis 2-3 mg setiap 3 jam.

hiperpireksia/hipotermia) dan mungkin memerlukan labetolol. penyakit tetanus tidak menimbulkan kekebalan. Karena alasan ini. semua prosedur terapeutik. Selanjutnya pasien diberikan imunisasi tetanus. Sedangkan pada tetanus neonatorum. trombositopenia berat atau keadaan koagulasi lain yang dapat merupakan kontraindikasi pemberian secara IM. Pada kasus yang ekstrim mungkin diperlukan untuk menimbulkan paralisis pada pasien dengan obat kurare serta menggunakan ventilator mekanik.  Efek otonom tetanus dapat menyulitkan untuk diatasi (hiper dan hipotensi yang berganti-ganti. Rangsangan yang sangat ringan dapat memicu spasme yang berpotensi menyebabkan kematian pada pasien dengan penyakit yang sudah menyebar. Infeksi tetanus pada anak merupakan infeksi yang akut sehingga relatif tidak mengganggu tumbuh kembang anak. Tabel.  Magnesium diberikan secara infus (iv) untuk mencegah spasme otot. dapat terjadi gangguan tumbuh kembang akibat hipoksia yang berat. Obat-obatan seperti klorpromazin atau diazepam atau pelemas otot lain dapat diberikan untuk mengontrol spasme otot.Immunoglobuline (IVIG) mengandung antitoksin tetanus dan dapat digunakan jika HTIG tidak tersedia. magnesium. Karena toksin tetanus sangat kuat. Kontraindikasi HTIG adalah riwayat hipersensitivitas terhadap imunoglobulin atau komponen human immunoglobuline sebelumnya. berikan tambahan penatalaksanaan berikut :  HTIG disuntikkan secara intratekal (meningkatkan perbaikan klinis dari 4-30%).  Diazepam (dikenal sebagai valium) diberikan secara kontinu melalui infus iv. Selain penatalaksanaan diatas. harus dikoordinasi dengan baik sehingga risiko menghasilkan tetanospasmin dapat berkurang hingga minimal. klonidin atau nifedipin.2 Pada keadaan tetanus berat memerlukan perawatan di perawatan intensif.  Trakeostomi dan ventilasi mekanik selama 3-4 minggu. Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus harus segera dilakukan setelah kondisi pasien stabil. Semua prosedur paling baik dilakukan setelah pasien mendapatkan sedasi dan relaksasi yang optimal. Perbandingan ATS dan HTIG .

000 U/kgBB/hari selama 7-10 hari.tetani. Metronidazol efektif untuk mengurangi jumlah kuman C. Pemberian antibiotika bertujuan untuk memusnahkan klostridium di tempat luka yang dapat memproduksi toksin. Antibiotika a. Penisilin membunuh bentuk vegetatif C.000 U/kgBB/hari secara iv. Pada penelitian yang dilakukan di Indonesia. perlu dilakukan: . mengingat perawatan kasus tetanus sulit dan mahal. Pencegahan Pencegahan sangat penting. Jika terjadi penyulit sepsis atau bronkopneumonia. diberikan antibiotik yang sesuai.2. Metronidazol diberikan secara iv dengan dosis inisial 15 mg/kgBB dilanjutkan dosis 30 mg/kgBB/hari dengan interval setiap 6 jam selama 7-10 hari.5 b. setiap 6 jam selama 10 hari direkomendasikan pada semua kasus tetanus. tetani bentuk vegetatif.000100.5 D. pemberian penisilin G secara parenteral dengan dosis 100.2. Untuk pencegahan. metronidazol telah menjadi terapi pilihan yang digunakan di beberapa pelayanan kesehatan. Sebuah penelitian menyatakan bahwa penisilin mungkin berperan sebagai agonis terhadap tetanospasmin dengan menghambat pelepasan asam aminobutirat gama (GABA). Sampai saat ini. Sebagai lini kedua dapat diberikan penisilin prokain 50. jika terdapat hipersensitif terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin 50 mg/kgBB/hari (untuk anak berumur lebih dari 8 tahun).

Kesimpulan bahwa kadar antitoksin bersifat protektif setelah diberikan toksoid tetanus yang lengkap . Toksoid tetanus pertama kali diproduksi pada tahun 1924. setiap WUS yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan harus selalu ditanyakan status imunisasi TT mereka dan bila diketahui yang bersangkutan belum mendapatkan imunisasi TT harus diberi imunisasi TT minimal 2 kali dengan jadwal sebagai berikut : Dosis pertama diberikan segera pada saat WUS kontak dengan pelayanan kesehatan atau sendini mungkin saat yang bersangkutan hamil. Total 5 dosis TT yang diterima oleh WUS akan memberi perlindungan seumur hidup.Total Skor Derajat Keparahan Tingkat Mortalitas 0-1 Ringan <10% 2-3 Sedang 10-20% 4 Berat 20-40% 5-6 Sangat berat >50% Tetanus sefalik selalu merupakan derajat berat atau sangat berat Tetanus neonatorum selalu merupakan derajat sangat berat 1. Imunisasi aktif Imunisasi dengan toksoid tetanus merupakan salah satu pencegahan yang sangat efektif.12 bulan setelah dosis kedua atau setiap saat pada kehamilan berikutnya.4 dosis DPT/DaPT pada waktu anak-anak. WUS yang riwayat imunisasinya telah memperoleh 3 . Untuk mencegah tetanus neonatorum. Terdapat dua jenis toksoid tetanus yang tersedia –adsorbed (aluminium salt precipitated) toxoid dan fluid toxoid. Dosis tambahan sebanyak dua dosis dengan interval satu tahun dapat diberikan pada saat WUS tersebut kontak dengan fasilitas pelayanan kesehatan atau diberikan pada saat kehamilan berikutnya. Dosis ketiga dapat diberikan 6 . Oleh karena itu. Imunisasi toksoid tetanus digunakan secara luas pada militer selama Perang Dunia II. Angka kegagalannya relatif rendah. Kombinasi toksoid difteri dan tetanus (DT) yang mengandung 10-12 Lf dapat diberikan pada anak yang memiliki kontraindikasi terhadap vaksin pertusis. cukup diberikan 2 dosis TT pada saat kehamilan pertama. Jenis imunisasi tergantung dari golongan umur dan jenis kelamin. Toksoid tetanus tersedia dalam kemasan antigen tunggal. ini akan memberi perlindungan terhadap seluruh bayi yang akan dilahirkan. salah satu pencegahan adalah dengan pemberian imunisasi TT pada wanita usia subur (WUS). dosis kedua diberikan 4 minggu setelah dosis pertama. Efektivitas vaksin tetanus tidak pernah diuji dalam penelitian. atau dikombinasi dengan toksoid difteri sebagai DT atau dengan toksoid difteri dan vaksin pertusis aselular sebagai DPT.

terlihat manfaatnya secara klinis hingga 100%. jarang ditemukan kasus tetanus pada orang yang telah diimunisasi secara lengkap dalam waktu 10 tahun setelah dosis terakhir. aborsi serta perawatan tali pusat selain dari imunisasi ibu.11 Oleh karena itu. tetapi angka mortalitas dapat diturunkan hingga 10-30 persen dengan perawatan kesehatan yang . 10 Berikut ini adalah pedoman pemberian profilaksis terhadap tetanus. Pemberian ATS dan HTIG profilaksi. Akibatnya. sedangkan dosis untuk anak ≥ 7 tahun : 250 U IM dosis tunggal. Pada penelitian di Amerika Serikat. HTIG juga dapat diberikan sebagai profilaksis luka. diperlukan imunisasi ulangan (booster) yang rutin dilakukan setiap 10 tahun.Jangan membungkus punting tali pusat/mengoleskan cairan/bahan apapun ke dalam punting tali pusat . Prognosis Rata-rata angka kematian akibat tetanus berkisar antara 25-75%. Dosis untuk anak < 7 tahun : 4 U/kg IM dosis tunggal. imunitas dapat terjadi seumur hidup atau pada sebagian besar orang memiliki kadar antitoksin yang minimal setelah 10 tahun.10. Perawatan Luka Perawatan luka harus segera dilakukan terutama pada luka tusuk. Jaringan nekrotik dan benda asing harus dibuang.Mengoleskan alkohol/povidon iodine masih diperkenankan tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat lembab 3. Dosis ATS profilaksis 3000 IU. luka kotor atau luka yang diduga tercemar dengan spora tetanus. E. Untuk pencegahan kasus tetanus neonatorum sangat bergantung pada penghindaran persalinan yang tidak aman. peranan pencegahan dengan imunisasi sangatlah penting. 2. Pada beberapa orang. penting diperhatikan hal-hal berikut ini :27 . ditemukan bahwa kasus tetanus hanya terjadi pada anak-anak yang tidak diimunisasi karena orang tua menolak memberikan vaksinasi.01 AU/ml pada ibu cukup untuk memberi proteksi terhadap bayinya. Perawatan luka dilakukan guna mencegah timbulnya jaringan anaerob. Profilaksis dengan pemberian ATS hanya efektif pada luka baru (< 6 jam) dan harus segera dilanjutkan dengan imunisasi aktif.11. Kadar rata-rata antitoksin 0.26 Pada perawatan tali pusat.25 Ibu yang mendapat TT 2 atau 3 dosis ternyata memberikan proteksi yang baik terhadap bayi baru lahir dari tetanus neonatal.

semakin buruk prognosis. masa awitan. meskipun terjadi tetanus. jenis luka dan luas kerusakan jaringan turut memegang peran dalam menentukan prognosis. Semakin pendek masa awitan. prognosisnya menjadi semakin buruk. Jenis tetanus juga memengaruhi prognosis. Letak. Banyak faktor yang berperan penting dalam prognosis tetanus. karena mempunyai prognosis buruk. Tetanus neonatorum dan tetanus sefalik harus dianggap sebagai tetanus berat. Semakin pendek masa inkubasi. dan keadaan status imunitas pasien. Sebaliknya tetanus lokal yang memiliki prognosis baik.modern. Diantaranya adalah masa inkubasi. . jenis luka. Pemberian antitoksin profilaksis dini meningkatkan angka kelangsungan hidup.

S. Cook. Toxins 2013. Stephen. 2003. Health Technology Assessment Indonesia Departemen Kesehatan Republik Indonesia. B. Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. and the Possibillity of Using Botulinum Toxin againts Tetanus-Induced Rigdity and Spasms. 2000.mdpi. 7. British Journal of Anaesthesia. 6. Tetanus : a review of the literature. Makassar. 2013. Tetanus: Pathophysiology.M. Treatment. A. Merdjani. Standar Pelayanan Medis. T. 73- 83. Hassel.com/journal/toxin. Penatalaksanaan Tetanus Pada Anak. 3. P. 2. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis: Tetanus.DAFTAR PUSTAKA 1.Departemen Ilmu Kesehatan Anak 4.2013. 2008.Makassar. 2013. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Behrman. 2001.www. R. 5. 5. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15-Jakarta : EGC. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. .