Anda di halaman 1dari 41

6

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Fraktur
1. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer ,2000).
Sedangkan menurut Smeltzer & Bare (2002) fraktur adalah terputusnya
kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur terjadi
jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu
sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur
yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price, 2005).
Fraktur adalah diskontinuitas dari jaringan tulang (patah tulang) yang
biasanya disebabkan oleh adanya kekerasan yang timbul secara mendadak
(Fajri, 2009).
2. Klasifikasi Fraktur
a.

Menurut ada atau tidaknya hubungan dari dunia luar :
1) Fraktur tertutup (gambar 1A halaman 7), yaitu fraktur di mana kulit
tidak di tembus fragmen tulang sehingga tempat fraktur tidak
tercemar oleh lingkungan (Mansjoer, 2000).

7
2) Fraktur terbuka (gambar 1B), yaitu fraktur bila terdapat hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan
kulit (Mansjoer, 2000).
Gambar 1.
Fraktur tertutup (simpel) dan terbuka

A

B

Keterangan :
A. Fraktur tertutup (simpel); B. Fraktur terbuka
Sumber : Smeltzer & Bare, (2002)

Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan
oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang yaitu :
a)

Derajat I, ciri-cirinya:
(1) Luka < 1 cm.
(2) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk.
(3) Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan.
(4) Kontaminasi minimal.

b)

Derajat II, ciri-cirinya:
(1)

Laserasi > 1 cm.

8

c)

(2)

Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulsi.

(3)

Fraktur kominutif sedang.

(4)

Kontaminasi sedang.
Derajat III, ciri-cirinya: terjadi kerusakan jaringan lunak

yang meluas, meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler
serta kontaminasi derajat tinggi.
Fraktur derajat III terbagi atas :
(1) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat,
meskipun terdapat laserasi luas/avulsi : atau fraktur
sigmentil/sangat kominutif yang di sebabkan oleh trauma
berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
(2) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang
berpapar atau kontaminasi masif.
(3) Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus
diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.
(Mansjoer, 2000)
b.

Menurut jumlah garis fraktur
1) Fraktur kominutif

: garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.

2) Fraktur segmental

: garis patah lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan bila dua garis patah disebut
pula fraktur bifokal.

9
3) Fraktur multiple

: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang
yang berlainan tempatnya (gambar 2D hal.
10).

4) Fraktur hair line

: Garis tulang hampir tidak tampak sehingga
bentuk tulang tidak ada perubahan (gambar
3A hal 11).

c.

Menurut bentuk Fraktur
1) Transversal

: garis fragmen melintang. (gambar 2A hal 10)

2) Oblik

: garis fragmen miring. (gambar 2B hal 10)

3) Spiral

: garis fragmen melingkar. (gambar 2C hal 10)

4) Avulsi

: tarikan/traksi otot pada insersinya di tulang.
(gambar 3C hal 11).

d.

Menurut hubungan antara fragmen
1) Fraktur undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tetapi
kedua fragmen tidak bergeser.
2) Fraktur displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen – fragmen
fraktur (Mansjoer, 2000).
Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal – hal yang perlu
dideskripsikan adalah :
a) Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang
atau melalui kedua korteks tulang.
b) Fraktur tidak komplit, bila garis patah tidak melalui seluruh
penampang. gambar 2-3B hal 10 dan 11. (Mansjoer, 2000).

(2005) D . Menurut lokasi Fraktur a) Tulang panjang : 1/3 proksimal. Gambar 2 Jenis Fraktur A B C Keterangan : A. Sumber : Price. 2000). Multipel. C. 1/2 medial dan ¼ bilateral (Mansjoer. Transversal. B. Oblik.10 e. D. 1/3 medial dan 1/3 distal. Spiral. b) Tulang klavikula : 1/4 medial.

Kondisi lateral memperlihatkan posterior sebuah faset untuk persendian dengan . Jenis Fraktur C A B Keterangan: A. Hair line. Avulsi Sumber : Price. Inkomplit. Permukaan superiornya memperlihatkan dua dataran permukaan persendian untuk femur dalam formasi sendi lutut. (2005) 3. Kondil–kondil ini merupakan bagian yang paling atas dan paling pinggir dari tulang. B. Anatomi Fisiologi Tibia Tibia atau tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah dan terletak medial dari fibula atau tulang betis. Permukaan–permukaan tersebut halus dan di atas permukaannya yang datar terdapat tulang rawan semilunar (setengah bulan) yang membuat permukaan persendian lebih dalam untuk penerimaan kondil femur (lihat gambar 4 hal 12). C. Tibia adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung.11 Gambar 3. Ujung atas memperlihatkan adanya kondil medial dan kondil lateral.

2006 Batang tibia dalam irisan melintang bentuknya segitiga. Pandangan atas dari tibia kiri memperlihatkan beberapa struktur inerartikuler Sumber : Pearce. Bagian ini membentuk kristal tibia. sisi anteriornya paling menjulang dan sepertiga sebelah tengah terletak subkutan. Kondil–kondil ini disebelah belakang dipisahkan oleh lekukan popliteum. . Gambar 4. Permukaan medial adalah subkutaneus pada hampir seluruh panjangnya dan merupakan daerah berguna yang dapat diambil serpihan tulang untuk tranplantasi (bonegrafit). Bagian depan memberi kaitan kepada tendon patela.12 kepala fibula pada sendi tibio–fibuler superior. Turbekel dari tibia ada di sebelah depan tepat dibawah kondil–kondil ini. Bagian bawah dari turbekel itu adalah subkutaneus dan sewaktu berlutut menyangga berat badan. yaitu tendon dari insersi otot extensor kwadrisep.

Batangnya ramping dan terbenam dalam otot tungkai dan memberi banyak kaitan. Tulang itu adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung. Sebelah depan tibia halus dan tendon–tendon menjulur di atasnya ke arah kaki.13 Permukaan posterior ditandai oleh garis soleal atau lineal popliter yaitu garis meninggi di atas tulang yang kuat dan yang berjalan ke bawah dan medial (gambar 5A-B hal 14). Ujung bawah masuk dalam formasi persendian mata kaki. Ujung atas berbentuk kepala dan bersendi dengan bagian belakang luar dan tibia. Ujung bawah disebelah bawah lebih memanjang menjadi maleolus lateralis atau makolus fibulae. . Fibula dan tulang betis adalah tulang sebelah lateral tungkai bawah. tetapi tidak masuk dalam formasi sendi lutut. Tulangnya sedikit melebar dan ke bawah sebelah medial menjulang menjadi maleolus medial atau maleolus tibiae. fibula dan talus. Tibia membuat sendi dengan tiga tulang yaitu femur. Permukaan lateral dari ujung bersendi dengan fibula pada persendian tibio–fibuler inferior.

misalnya trauma akibat kecelakaan b. Trauma direk (langsung).14 Gambar 5. 2006 4. yang patah biasanya bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan. (2009) penyebab fraktur adalah: a. menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan/trauma itu. Etiologi Menurut Melly. . Pandangan anterior (A) dan Posterior (B) dari tibia dan fibula kiri A B Sumber : Pearce. Trauma indirek (tidak langsung). menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan.

Kemudian terjadi pembentukan hematoma diantara fragmen fraktur dan periosteum. kehilangan fungsi. . Patofisiologi Ketika fraktur terjadi. otot-otot yang melekat di tulang menjadi terganggu. disebabkan oleh adanya proses patologis misalnya tumor. sehingga menimbulkan respon inflamasi. Kerusakan jaringan lunak dapat juga terjadi. periosteum dan pembuluh darah di tulang yang mengalami fraktur juga terganggu. Proses ini mengawali tahap penyembuhan tulang (Agustin. keluarnya plasma dan leukosit.15 c. Kumpulan otot yang besar dapat menyebabkan spasme otot yang masiv seperti pada otot femur. Kelelahan/stress. Selain itu. Patologis. Otot tersebut dapat menjadi spasme dan menarik fragmen fraktur keluar dari posisi. 5. infeksi dan osteoporosis tulang karena disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang dan disebut patah tulang patologis. Kemudian terjadi vasodilatasi. misalnya pada olahragawan. nyeri. mereka yang baru saja meningkatkan kegiatan fisik misalnya pada calon tentara. Perdarahan terjadi jika terjadi gangguan pada pembuluh darah dan tulang yang mengalami fraktur. edema. Jaringan tulang di sekitar luka fraktur mati. 2009). d.

Respiratori distress Resiko kerusakan pertukaran gas Sumber : disarikan Smeltzer & Bare. . Doenges.16 Bagan 1. menyumbat pembuluh darah Resiko disfungsi Neurovaskuler perifer Masuk pembuluh darah kecil yang menyuplai banyak organ (paru) . melepaskan katekolamin Memobilisasi asam lemak bergabung dengan trombosit ORIF plat dilepas Menjadi emboli. (2000). Pathway Fraktur dan ORIF Plat Trauma langsung Trauma tidak langsung Kurang pengetahuan Resiko Infeksi Kerusakan integritas kulit/jaringan Atas indikasi tertentu dilakukan pemasangan ORIF plat Setelah penyatuan tulang terjadi Fraktur terbuka/tertutup Diskontinuitas jaringan/ tulang Kerusakan fragmen tulang Tekanan sesama tulang lebih tinggi dari kapiler Kondisi patologis Pergeseran fragmen tulang Nyeri akut Deformitas Gangguan Fungsi Kerusakan Mobilitas Fisik kehilangan integritas Tulang Resiko trauma Reaksi stres. (2002).

Menunjukkan lokasi/luasnya fraktur/trauma b. adalah kelainan bentuk d. c. b. tanda dan gejala fraktur adalah: a. c. Bengkak f. Tanda dan Gejala Menurut Smeltzer & Bare. Adanya keluhan riwayat cedera pada daerah tersebut. Pemeriksaan Diagnostik Menurut Doenges. Echymosis (perdarahan subkutan yang lebar-lebar) i. CT scan/MRI Memperlihatkan fraktur. (2002). Peningkatan temperatur lokal g. Krepitasi. Scan tulang. tonogram. Bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler . Arteriogram. (2000) pemeriksaan diagnostik pada fraktur adalah: a. Pergerakan abnormal h. juga dapat digunakan untuk mengidedntifikasikan kerusakan jaringan lunak. Rontgen. terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Deformitas. e. Nyeri.17 6. (Uji kripitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat). yaitu suara berderik akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Kehilangan fungsi 7.

Profil koagulasi. Kedalam hematom dan jaringan fibrosis ini kemudian juga tumbuh sel jaringan mesenkin yang bersifat osteogenik. 8. transfusi. fase ini disebut fase jaringan fibrosis dan jaringan yang menempelkan fragmen patah tulang tersebut dinamakan kalus fibrosa (gambar 6B halaman 19). Peningkatan jumlah sel darah putih adalah respon stress normal terhadap trauma. Hematokrit mungkin meningkat atau menurun. e. (1998) proses penyembuhan patah tulang adalah secara biologis alami yang akan terjadi pada setiap tulang. Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal f. Penyembuhan Fraktur Pada prinsipnya proses penyembuhan dari tindakan off ORIF plat sama dengan proses penyembuhan fraktur. Hematoma ini kemudian akan menjadi medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dengan kapiler di dalamnya. Sel ini akan berubah menjadi sel kondroblast yang . Kreatinin. Perubahan dapat terjadi pad kehilangan darah. dimana terdiri dari penyembuhan pada tulang yang patah dan pada lukanya. a. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patah tulang. multipel/cedera hati. yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost. Jaringan ini yang menyebabkan fragmen tulang-tulang saling menempel. Hitung darah lengkap. fase ini disebut fase hematoma (gambar 6A halaman 19). Proses Penyembuhan pada Tulang Menurut Sjamsuhidajat.18 d.

Suplai . (2009). Sumber (Sjamsuhidayat. Akhirnya sel tulang ini mengatur diri secara lamelar seperti sel tulang biasa. Dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area fraktur. Kosulitasi dan Proses Swapugar. Pada tahap selanjutnya terjadi penulangan atau osifikasi. Proses Penyembuhan Tulang Keterangan : Hematom segera setelah cedera. Kondroid dan osteoid ini mula–mula tidak mengandung kalsium hingga tidak terlihat pada foto rontgen. fase ini disebut fase konsolidasi (gambar 6D). 1998) Menurut Agustin. Pembentukan kalus. Periost. proses penyembuhan tulang. fase ini disebut fase penyatuan klinis (gambar 6C).19 membentuk kondroid yang merupakan bahan dasar tulang rawan. Gambar 6. Selanjutnya terjadi pergantian sel tulang secara berangsur–angsur oleh sel tulang yang mengatur sesuai dengan garis tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang. Hematom. Menyatukan tulang. yaitu: 1) Tahap pembentukan hematoma. Pada foto roentgen proses ini terlihat sebagai bayangan radioopak tetapi bayangan garis patah tulang masih terlihat. Kesemuanya ini menyebabkan kalus fibrosa berubah menjadi kalus tulang.

Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalaui proses penulangan endokondrial.20 darah meningkat. Proses ini memerlukan waktu 3-4 bulan. kalus mengalami pembentukan tulang sesuai aslinya b. Tahap akhir dari perbaikan patah tulang. Proses yang kemudian terjadi pada jaringan . hematoma akan mengalami organisasi. 2) Tahap proliferasi. membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan. terbentuklah hematoma yang berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari kelima. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus. Dalam waktu sekitar 5 hari. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu. 4) Osifikasi. tulang rawan dan tulang serat imatur. Dengan aktifitas osteoblas dan osteoklas. 5) Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodeling (6-12 bulan). Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan. Perlu waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah. 3) Tahap pembentukan kalus. Proses Penyembuhan pada Luka Menurut Sjamsuhidajat (1998) luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh.

Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket.21 yang rusak ini adalah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase. pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi). penyembuhan sel radang. dan bersama dengan jala fibrin yang terbentuk. Fase ini disebut fase lembam karena reaksi . yaitu: 1) Fase inflamasi. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. Aktivitas seluler yang terjadi adalah pergerakkan leukosit menembus dinding pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya kemotaksis. dan pembengkakan (tumor). suhu hangat (kalor). disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan pembengkakan. rasa nyeri (dolor). dan reaksi hemostasis. Tanda dan gejala klinik reaksi radang menjadi jelas berupa warna kemerahan karena kapiler melebar (rubor). Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kirakira hari kelima. Limfosit dan monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka dan bakteri ini (fagositosis). Sementara itu terjadi inflamasi sel mast dalam jaringan ikat terjadi inflamasi serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan. Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi.

Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka mencapai 25 % jaringan normal. membentuk benjolan halus yang disebut jaringan granulasi. Fibroblast berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi. luka dipenuhi sel radang. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira akhir minggu ketiga. dalam proses penyudahan kekuatan serat kolagen bertambah karena ikatan intra molekul dan antara molekul. Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk penyesuaian diri dengan tegangan pada luka yang cenderung mengerut. bersama dengan sifat kontaktil miofibroblast. Nantinya. Sifat ini. menghasilkan mukopolisakarida. Dengan tertutupnya permukaan luka. menyebabkan tarikan pada tepi luka. proses fibroblasia dengan pembentukan jaringan granulasi juga akan berhenti dan mulailah proses pematangan dalam fase penyudahan. 2) Fase proliferasi Fase proliferasi disebut juga fase fibroblasia karena yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast. asam aminoglisin dan prolin yang merupakan bahan dasar kolagen serat yang akan mempertautkan tepi luka. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal terlepas dari dasarnya dan berpindah mengisi permukaan luka. .22 pembentukan kolagen baru sedikit dan luka dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah. fibroblast dan kolagen. Pada fase fibroblasia ini.

kapiler baru menutup dan diserap kembali. Pada akhir fase ini. pengerutan maksimal pada luka. Hal ini tercapai kira-kira 3 – 6 bulan setelah penyembuhan (Sjamsuhidajat. sel muda menjadi matang. tipis. perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira-kira 80 % kemampuan kulit normal. penyembuhan sekunder dan penyembuhan primer tertunda (Lihat gambar 7 halaman 24). dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. Bentuk penyembuhan luka terbagi menjadi 3 yaitu penyembuhan primer. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan udem dan sel radang diserap. 1998). Selama proses ini dihasilkan jaringan yang pucat. . dan lemas serta mudah digerakkan dari dasar. kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada.23 3) Fase penyudahan Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap.

3. Penyembuhan primer didapat bila luka bersih. 1. Penyembuhan sekunder . Penyembuhan Luka Sumber : Sjamsuhidajat (1998) Keterangan: A. Setelah beberapa hari ternyata ada granulasi baik tanpa gejala dan tanda infeksi. Komplikasi awal 1) Shock Hipovolemik/traumatik Fraktur (ekstremitas. Penyembuhan primer B. 2. epitel menutup granulasi mulai dari pingir. vertebra. tidak terinfeksi dan dijahit dengan baik. Proses perupaan kembali disertai pengerutan C. Luka dibiarkan terbuka. Luka. dipasang jahitan. . 3. komplikasi fraktur dapat dibagi menjadi: a. sehingga terjadi shock hipovolemi. Luka dijahit. femur) dapat menyebabkan perdarahan & kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak. (2009). 1. Terisi penuh dengan jaringan granulasi. Granulasi ditutup oleh epitel. 3.24 Gambar 7. 4. 4. Penyembuhan primer tertunda atau penyembuhan dengan jahitan tertunda. Komplikasi Fraktur Menurut Agustin. 2. Luka dibiarkan terbuka. Luka terisi jaringan granulasi mulai dari dasar. Penyembuhan 9. 2. 1. pelvis. 2.

Pengobatan yang terkait dengan fraktur. 4) Infeksi. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. adalah: a. Komplikasi lambat 1) Delayed union. immobilisasi fraktur dan mencegah komplikasi. b. Penatalaksanaan Menurut Suriadi & Yuliani. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang. mengurangi nyeri mencegah pendarahan dan edema. . 4) Nekrosis avaskuler di tulang. meluruskan tulang yang patah. mengurangi spasme.25 2) Emboli lemak 3) Tromboemboli vena. Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk). 5) Sindrom kompartemen. Pada fraktur terbuka terjadi kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik. Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan. 3) Mal union. meningkatkan kesembuhan tulang. Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan. 2) Non union. Hal ini disebabkan oleh fibrous union atau pseudoarthrosis. 10. Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang. berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest. (2006) penatalaksanaan fraktur.

4) Traksi servikal digunakan untuk fraktur servikal dan mengobati iritasi saraf dan otot pada bahu dan lengan atas. e. 7) Traksi Cruthfield tongs digunakan untuk stabilisasi fraktur servikal. Retensi. traksi. kulit dan skletal. Fasciotomy adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengurangi tekanan yang terakait dengan kompertemen sindrom. Traksi kulit yang digunakan antara lain: 1) Buck Extension Traction. memperbaiki dislokasi. 3) Traksi Russel digunakan untuk stabilisasi fraktur femur. mencegah dan memperbaiki adanya kontraktur dan deformitas. c. ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur.26 b. 6) Dunlop traksi yang digunakan untuk fraktur supracondylar pada humerus. Menurut Agustin. d. mengurangi spasme dan mengurangi nyeri. Reduksi : reposisi pada tulang. 5) Traksi Balanced suspension yang digunakan untuk fraktus pelvis dan femur. tulang belakang torak dan dislokasi. yaitu : . spasme otot. Tujuan traksi adalah mengembalikan posisi semula tulang yang patah. Reduksi tertutup dilakukan dengan menipulasi eksternal untuk meluruskan tulang yang patah ke posisi sedia kala. (2009). yang digunakan untuk fraktur pinggul. 2) Traksi Bryant digunakan untuk fraktur femur. gips.

Latihan isometric dan setting otot. adalah usaha/tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak asalnya. dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. c. bidai. tindakan pembedahan terdiri dari: a. plat yang langsung kedalam medula tulang. pin. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Reduksi. ORIF (Open Reduction and Internal Fixation). Setelah fraktur direduksi. Rekognisi. derajat keparahannya. jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri. Rehabilitasi. Metode fiksasi eksterna meliputi gips. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah Menurut Agustin. d. Prinsipnya adalah mengetahui riwayat kecelakaan. merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. fragmen tulang harus diimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.27 a. traksi dan teknik fiksator eksterna. merupakan suatu tindakan pembedahan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang . Retensi. (2009). biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu: 1) Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips 2) Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan. b.

d) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang labih baik dengan operasi. 2) Adapun keuntungan dari tindakan ORIF. adalah: a) Reduksi akurat b) Stabilitas reduksi tinggi c) Pemeriksaan struktur neurovaskuler d) Berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal e) Penyatuan sendi yang berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat f) Rawat inap lebih singkat g) Dapat lebih cepat kembali ke pola kehidupan normal . dan fraktur pergelangan kaki. misalnya : fraktur femur. fraktur galeazzi. paku maupun suatu intramedulary (IM) untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. sekrup.28 yang patah / fraktur sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya. misalnya : fraktur avulsi dan fraktur dislokasi. misalnya : fraktur talus dan fraktur collum femur b) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. fraktur antebrachi. misalnya . fraktur monteggia. 1) Indikasi Tindakan ORIF a) Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avanculair tinggi .Internal fiksasi biasanya melibatkan penggunaan plat. c) Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.

E. D Sumber: Smeltzer & Bare. b) Pada politrauma. D. (2002) b. Sekrup untuk fraktur oblik dan spiral panjang. B. Plat dan enam skrup untuk fragmen butterfly pendek. Sekrup untuk fragmen butterfly pendek. Plat dan sekrup untuk fraktur transversal atau oblik pendek. Nail meduler untuk fragtur segmental. c) Fraktur pada anak untuk menghindari fiksasi pin pada daerah lempeng pertumbuhan d) Fraktur dengan infeksi atau pseudoarthrosis.29 3) Adapun kerugian dari tindakan ORIF. atau debridemen ulang. C. . flap jaringan lunak. OREF (Open Reduction an External Fixation) 1) Indikasi OREF: a) Dilakukan pada fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang membutuhkan perbaikan vaskuler. fasiotomi. Berbagai bentuk Fiksasi Interna A Keterangan: A. adalah: a) Kemungkinan terjadi infeksi b) Osteomielitis Gambar 8.

dianjurkan penggunaan gips. dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen ke tulang. yang mana tibia terpapar terhadap banyak jenis trauma kendaraan. 2002). Begitu pula dengan kondisi fraktur korpus tibia. antara lain: observasi letak pen dan area. basah dan rembes. 11.30 e) Fraktur kominutif yang hebat f) Fraktur yang disertai defisit tulang g) Prosedur pemanjangan ekstremitas h) Keadaan malunion dan nonunion setelah fiksasi internal. 3) Post eksternal fiksasi. observasi status neurovaskuler distal fraktur. 6) Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus. biasanya pada ekstrimitas dan tidak untuk fraktur lama. Pembedahan Banyak pasien yang mengalami disfungsi muskuloskeletal harus menjalani pembedahan untuk mengoreksi masalahnya. Fiksasi bedah pada fraktura tibia diindikasikan bila reduksi adekuat tidak . industri. dan atletik. Open Reduction and Internal Fixation) untuk fraktur. 5) Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan pennya. 4) Setelah reduksi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan meliputi reduksi terbuka dengan fiksasi interna (ORIF. Sasaran kebanyakan pembedahan ortopedi adalah memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas dan mengurangi nyeri dan disabilitas (Smeltzer dan Bare. 2) Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal. observasi kemerahan.

Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan. cincin. dan relaksasi otot. Umumnya anestesi akan diberikan oleh ahli anestesi saat operasi akan berlangsung di dalam ruang operasi. Sedangkan berdasarkan umur. reduksi dicapai secara manual di bawah anestesi umum atau spinal. lainnya dengan anestesi regional atau lokal. Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai dengan hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversibel). 2000). Menurut Roswan (1989) persiapan pra anestesi pada hari operasi meliputi : a. Pada pembedahan elektif. jam. Sedangkan anestesi lokal adalah tindakan menghilangkan nyeri/sakit secara lokal tanpa disertai hilangnya kesadaran (Mansjoer. misalnya sianosis. Plat dan batang intramedulla telah digunakan untuk fiksasi interna (Sabiston. gelang harus ditanggalkan dan bahan kosmetik seperti lipstik.31 dapat dicapai atau dipertahankan dengan metode tertutup dan bila perawatan pasien keseluruhan akan dipermudah dengan ambulasi dini. cat kuku harus dibersihkan agar tidak menggangu pemeriksaan selama anestesi. bayi/anak 3-5 jam. pada bayi dan anak paling baik dengan anestesi umum dan pada orang dewasa untuk tindakan singkat dan hanya dipermukaan dengan anestesi lokal atau regional. Untuk fraktur korpus tibia yang tertutup. Komponen trias anestesi ideal terdiri dari hipnotik. pengosongan lambung dilakukan dengan puasa . analgesi. 1994). . bulu mata palsu. Pilihan cara anestesi ini menurut Muhardi (1989) bahwa sebagian besar operasi (70-75%) dilakukan dengan anestesi umum. Pengosongan lambung sebelum anestesi penting untuk mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi dan muntah. Gigi palsu. pasien dewasa 6-8 b.

f) Luka insisi ditutup kembali dengan dijahit. (2009) langkah-langkah pemasangan ORIF sebagai berikut a) Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cidera dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur b) Fraktur diperiksa dan diteliti c) Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka d) Fraktur direposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali e) Sesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa. Menurut Agustin. Pemeriksaan fisik yang penting dapat diulang sekali lagi di kamar operasi karena mungkin terjadi perubahan bermakna yang dapat menyulitkan perjalanan anestesi. Sekrup kompresi antar fragmen . Penderita dimasukkan ke dalam kamar bedah dengan memakai e.32 c. dehidrasi. plat. pin. misalnya hipertensi mendadak. Menurut Prie. pasien diminta batuk kuat-kuat dan d. sekrup. antara lain: a. f. Pemberian obat premedikasi secara intra muskular atau oral dapat diberikan ½ .1 jam sebelum dilakukan induksi anestesi atau beberapa menit bila diberikan secara intra vena. atau serangan akut asma. pakaian khusus. Untuk membersihkan jalan nafas. dan paku. Kandung kemih harus kosong. mengeluarkan lendir jalan napas. (2010) terdapat 5 metode fiksasi internal yang digunakan. bila perlu dilakukan kateterisasi.

Pramedikasi Pada anak sudah ada rasa takut dan rasa takut ini bermacam-macam. dan tidak ada faktor gangguan pembekuan darah. yakni : a. Prinsip Umum Bedah anak berbeda dari bedah dewasa. b. Orang tua sedapat mungkin harus mendampingi anaknya sampai ke kamar persiapan. Paku intermedula. Paku pengikat sambungan dan sekrup. paling sesuai untuk lengan bawah c. Sekrup kompresi dinamis dan plat. untuk tulang panjang yang lebih besar d. Yang pertama adalah suatu usaha agar anak dapat terbentuk serta tumbuh dan berkembang normal. Plat dan sekrup. Persiapan prabedah Persiapan prabedah yang penting harus diperhatikan pada anak adalah jalan napas yang baik dan tidak ada gangguan sirkulasi. c. d. Pengawasan saat pembedahan . ideal untuk femur dan tibia e.33 b. keseimbangan cairan dan elektrolit. Adapun persiapan pembedahan yang perlu diperhatikan pada anak menurut Sjamsuhidajat (1998). ideal untuk ujung proksimal dan distal femur. sedangkan yang kedua adalah usaha mengembalikan anatomi dan/atau fungsi organ agar kembali normal.

12.34 Hipotermia (kurang dari 360C) atau demam (lebih dari 380C) akan mengakibatkan pengeluaran energi yang berlebih. sirkulasi. Oleh karena itu sangat penting dilakukan pemantauan suhu badan. dan juga secara ekonomi menguntungkan bagi orang tua dan rumah sakit. Pada jenis operasi tertentu seperti reposisi tulang. Komplikasi Pemasangan ORIF Plat Menurut Ryime. (2009) disebutkan bahwa kerugian yang potensial dapat terjadi akibat pemasangan pen antara lain : a. serta suhu badan. . Operasi dikerjakan pagi hari. dan setelah sadar dan bebas dari pengaruh obat bius. penderita cukup dirawat sehari karena persiapan pra bedah dapat dilakukan di rumah dan anak datang sudah dalam keadaan puasa dan bersih. infeksi nosokomial. e. anak dapat dipulangkan. yang berbeda yakni langkahlangkah dalam operasi pelepasan ORIF itu sendiri. Sedangkan dalam tindakan pembedahan pelepasan ORIF. keseimbangan cairan dan elektrolit. prosedur dan tahapan pembedahan hampir sama dengan prosedur dan tahapan pembedahan pada operasi pemasangan ORIF. sedangkan energi cadangan tubuh tidak banyak. Setiap anastesi dan operasi mempunyai resiko komplikasi bahkan kematian akibat dari tindakan tersebut. Cara ini menghindarkan anak dari trauma psikis. Perhatian terutama pada jalan napas. Pengawasan pasca bedah Pengawasan pasien anak pasca bedah harus dikerjakan teliti karena cadangan fungsi berbagai sistem tubuh terbatas.

Data dasar pengkajian pasien (gejala–gejala tergantung pada sisi. Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan gips atau traksi. B.35 b. Pengkajian Pengkajian pasien adalah dasar pengidentifikasian kebutuhan respon masalah individu untuk mencapai fokus keperawatan. beratnya dan jumlah kerusakan struktur lain) (Doengoes. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak. Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Pasca Opearsi Off ORIF Plat Fraktur Tibia Sinistra. a. Penggunaan stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri d. Sirkulasi . 2000). nyeri) b. dan struktur yang sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi Menurut Smeltzer & Bare. (2002) komplikasi dari pemasangan ORIF Plat adalah nyeri dan penurunan fungsi. Aktivitas dan Istirahat Tanda : Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (adanya pembengkakan jaringan. 1. c.

: laserasi kulit. Diagnosa Keperawatan . Tanda : Deformitas lokal : angulasi abnormal. Nyeri/kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba–tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan dapat berkurang pada imobilisasi): tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. e. Rencana Pemulangan : memerlukan bantuan dengan transportasi. Neurosensori Gejala : Hilang gerakan/sensasi. c. aktivitas perawatan diri. 2000). Takikardia (respon stress. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera. perubahan warna. dan tugas pemeliharaan/ perawatan rumah (Doenges. pucat pada bagian yang terkena. spasme otot kebas/kesemutan (parestesis). pemendekan. Spasme otot terlihat kelemahan/hilang fungsi. 2.36 Tanda : Hipertensi (kadang–kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah). perdarahan. Penyuluhan/pembelajaran Gejala : Lingkungan cidera. d. hipovolemia) penurunan/tak ada nadi pada bagian distal yang cedera : pengisian kapiler lambat. Keamanan Tanda f.

. ansietas. nyeri atau ketidaknyamanan. stress. Kemungkinan dibuktikan oleh: keluhan nyeri. terapi restriktif (imobilisasi tungkai). Dapat dihubungkan dengan : spasme otot. melindungi. b. Dapat dihubungkan dengan : kerusakan rangka neuromuskuler. penurunan kekuatan/ kontrol otot. adalah: a. perilaku berhati-hati. fokus pada diri sendiri/fokus menyempit. perubahan tonus otot. tetapi bukan imobil (Carpenito. Kemungkinan dibuktikan oleh: ketidakmampuan untuk bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik.37 Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan pasca pembedahan ortopedi menurut Doenges (2000). (Carpenito. wajah menunjukkan nyeri. edema dan cedera pada jaringan lunak. responotonomik. alat traksi/imobilisasi. gerakan fragmen tulang. 2007). Kerusakan mobilitas fisik Definisi : keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik. Nyeri akut Defenisi: keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyaman yang hebat atau sensasi yang menyenangkan selama 6 bulan atau kurang. keterbatasan rentang gerak. 2007). menolak untuk bergerak. distraksi. dilakukan pembatasan.

Rencana tindakan perawatan a. d. 3. bakteri. salah interpretasi informasi/tidak mengenal sumber informasi. Nyeri akut . jamur. dan kebutuhan pengobatan Definisi: suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kongitif atau keterampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi pengobatan (Carpenito. Kemungkinan dibuktikan oleh: (Tidak dapat diterapkan. Risiko infeksi Definisi: keadaan dimana seorang individu beresiko terserang oleh agens patogenik atau aportunistis (virus. Kurang pengetahuan tentang kondisi. prosedur invasif. tidak akurat mengikuti instruksi/terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. Kemungkinan dibuktikan oleh: pertanyaan/permintaan informasi. sumber-sumber endogen atau eksogen (Carpenito. terpajan pada lingkungan. prognosis. pernyataan salah konsepsi. 2007) Dapat dihubungkan dengan : kurang terpajan/mengingat. adanya tandatanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual). kerusakan kulit. traksi tulang. protozoa atau parasit lainya) dari sumber-sumber eksternal.38 c. trauma jaringan. 2007) Faktor risiko : tak adekuatnya pertahanan primer.

menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual. Rasional : memfokuskan kembali perhatian. Rasional : menghilangkan nyeri dan tegangan jaringan yang cedera. . dan menurunkan persepsi klien terhadap rasa nyeri. latihan nafas dalam. perhatikan terhadap peningkatan denyut nadi. Rasional : meningkatkan aliran balik vena. 5) Dorong menggunakan tehnik manajemen stres. 3) Kaji karakteristik nyeri yang klien rasakan. perhatikan lokasi dan karakteristik.39 Hasil yang diharapkan : menyatakan nyeri hilang. menurunkan edema. contoh relaksasi progresif. meningkatkan rasa kontrol. dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri. mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat. Intervensi 1) Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring. termasuk intensitas nyeri (skala 0-10) Rasional : membantu dalam mengidentifikasi derajat ketidaknyamanan dan kebutuhan/keefektifan analgesik. menunjukkan tindakan santai. pembebat. Rasional : adanya peningkatan denyut nadi merupakan respon tubuh terhadap nyeri hebat yang dialami. 2) Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena. imajinasi visual. 4) Kaji tanda-tanda vital.

Rasional : memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi. memfokuskan kembali perhatian. Kerusakan mobilitas fisik Hasil yang diharapkan : meningkatkan/mempertahankan mobilitas paling tinggi yang mudah. meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit.40 6) Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa/tiba-tiba atau dalam. meningkatkan rasa kontrol diri/harga diri. contoh infeksi. lokasi progresif/buruk tidak hilang dengan analgesik. Intervensi 1) Kaji derajat immobilisasi yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatiakan persepsi pasien terhadap imobilisasi Rasional : Klien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual. Rasional : dapat menandakan terjadinya komplikasi. Rasional : diberikan untuk menurunkan nyeri dan/atau spasme otot. memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan. b. membantu menurunkan isolasi sosial. Kolaborasi 7) Berikan obat sesuai indikasi: narkotik dan analgesik non-narkotik. sindrom kompartemen. 2) Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik/rekreasi. . iskemia jaringan. mempertahankan posisi fungsional.

8) Berikan diet tinggi protein. vitamin. 6) Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda. . Rasional : kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan dan masa otot. 5) Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan Rasional : meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi. 7) Awasi TD dengan melakukan aktivitas. Perhatikan keluhan pusing. Rasional : hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus. 4) Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang tak sakit. karbohidrat. dan mineral. meningkatkan kontrol pasien dalam situasi. sesegera mungkin. Rasional : mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ. tongkat. dan meningkatkan kesehatan diri langsung. mempertahankan gerak sendi.41 3) Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ektremitas yang sakit dan yang tak sakit Rasional : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot. kruk.

Risiko infeksi Hasil yang diharapkan : mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. 3) Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. Rasional : melibatkan peran serta klien dan keluarga dalam upaya pencegahan terjadinya infeksi dan mempercepat proses penyembuhan luka. bebas drainase purulen atau eritema dan demam. . Kolaborasi 9) Konsul dengan ahli terapi/okupasi dan atau rehabilitasi. tonus dan kekuatan. Intervensi 1) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan luka.42 Rasional : pada adanya cedera muskuloskeletal. c. sering mengakibatkan penurunan berat badan sebanyak 20-30 pon selama traksi tulang. Rasional : menghindarkan terjadinya kontaminasi silang yang dapat menimbulkan infeksi. 2) Jelaskan pada klien dan keluarga klien tentang hal-hal yang dapat menghambat penyembuhan luka dan yang dapat mempercepat penyembuhan luka. nutrisi yang diperlukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat. Ini mempengaruhi massa otot. Rasional : berguna dalam membuat aktivitas individual/program latihan.

Rasional : sebagai antisipasi dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi dan berguna dalam pemilihan tindakan selanjutnya. 4) Observasi daerah luka terhadap tanda-tanda infeksi. Rasional : gesekan yang mungkin terjadi pada luka dan kontak langsung dengan udara dapat meningkatkan resiko terkontaminasi bakteri dan munculnya infeksi.43 Rasional : memberikan kesempatan untuk mengobservasi kondii luka saat ini dan mengoptimalkan proses penyembuhan luka. Rasional : pada kondisi kulit yang lembab dan kotor merupakan tempat yang sesuai untuk perkembang biakan bakteri dan dapat menimbulkan infeksi. 6) Pertahankan alat fiksasi dan balutan tetap kering dan bersih. leukositosis biasanya ada dengan proses infeksi. Kolaborasi 7) Awasi pemeriksaan laboratorium. contoh: a) hitung darah lengkap Rasional : anemia dapat terjai pada osteomielitis. 5) Jaga kulit tetap bersih dan kering. b) LED Rasional : peningkatan pada osteomielitis .

Intervensi 1) Kaji ulang patologi. contoh tim rehabilitasi. dan kebutuhan pengobatan Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman kondisi. Kurang pengetahuan tentang kondisi. 2) Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan. d. Rasional : memberikan bantuan untuk memudahkan perawatan diri dan mendukung kemandirian.44 c) Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang Rasional : mengidentifikasi organisme infeksi. . prognosis. prognosis. 4) Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi evaluasi klinis. dan pengobatan. Rasional : pada keadaan tertentu pasca operasi diperlukan bebat atau penjepit selama proses penyembuhan. pelayanan perawatan di rumah. 3) Identifikasi tersedianya sumber pelayanan dimasyarakat. prognosis dan harapan yang akan datang Rasional : memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi. 8) Berikan obat sesuai indikasi. contoh: a) Antibiotik IV/topikal Rasional : antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaksis atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus.

Rasional : kekuatan otot akan menurun dan rasa sakit yang baru dan nyeri sementara sekunder terhadap kehilangan dukungan c) Tinggikan ekremitas sesuai kebutuhan. dan kerjasama pasien dalam program pengobatan membantu untuk penyatuan yang tepat dari tulang. 4. 6) Diskusikan instruksi pasca pengangkatan plat : a) Instruksikan pasien untuk melanjutkan latihan sesuai izin. Rasional : menurunkan kekakuan dan memperbaiki kekuatan dan fungsi ekstremitas yang sakit b) Informasikan pasien bahwa otot dapat tampak lembek dan atrofi. demam/menggigil. 5) Identifikasi tanda-tanda dan gejala-gejala yang memerlukan evaluasi medik.45 Rasional : penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk sembuh lengkap. Nyeri terkontrol c. bau tak enak. Komplikasi dicegah/minimal . Tujuan Pemulangan a. Rasional : pembengkakan dan edema cenderung terjadi setelah pengangkatan plat. Rasional : intervensi cepat dapat menurunkan beratnya komplikasi seperti infeksi/gangguan sirkulasi. Kondisi luka stabil b. contoh nyeri berat.

prognosis. Kondisi. dan program terapi dipahami .46 d.