Anda di halaman 1dari 11

Gangguan pada otot

Dalam memperkirakan disklokasi atau perubahan posisi yang dapat terjadi
pada fraktur tulang, perlu dipertimbangkan oto-otot yang melekat di sekitarnya.
Struktur lain (arteri, vena, saraf) yang letaknya (sangat) berdekatan dengan tulang
pada bagian- bagian tertentu, juga harus selalu mendapat perhatian, seperti lokasi
n.radialis dan a.profunda brachii untuk fraktur di sepertiga tengah tulang humerus.
Kerusakan saraf, di samping pada fraktur, dapat juga terjadi pada keadaankeadaan lain. Yang harus diperhatikan terlebih dahulu sebelum menilai lokasi
kelumpuhan serabut saraf adalah jenis kelumpuhan yang terjadi. Jika kelumpuhan
bersifat hypertonus (kaku), kelainan terjadi pada sumsum belakang otak. Bila
kerusakan bersifat hypotonus, dapat diperkirakan bahwa kerusakan bersifat perifer
dan mengenai serabut saraf. Karena setiap saraf mempunyai fungsi mengurus
kelompok otot tertentu, kerusakan akan ditunjukkan oleh gangguan fungsi otot yang
diurusnya atau oleh rasa nyeri di daerah tubuh yang diurusnya.
Jadi pada kasus fraktur tulang humerus ini, dapat diperkirakan otot yang
mengalami gangguan adalah otot dalam kompartemen anterior dari brachium. Otototot tersebut antara lain adalah M. Brachialis, M. Biceps brachii, dan M.
Coracobrachialis.
Oleh sebab itu, pasien harus dimonitor secara teliti untuk mencegah terjadinya
komplikasi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah Sindrom Kompartemen.
Sindrom kompartemen merupakan kondisi yang serius dimana terjadi
peningkatan tekanan pada satu atau lebih kompartemen otot ekstremitas yang
menyebabkan sirkulasi yang masif ke arah fraktur. Bagian distal dari ekstremitas atas
dan bawah mempunyai kompartemen yang lebih banyak daripada bagian proksimal,
oleh karena itulah resiko yang lebih besar dapat terjadi saat fraktur terjadi pada bagian
tersebut. Sumber tekanan dapat berasal dari eksternal maupun dari internal, sumber
tekanan eksternal adalah pembebatan, gips, penyangga, sedangkan sumber tekanan
internal berupa perdarahan dan akumulasi cairan dalam kompartemen tulang.
Komplikasi ini tidak dibatasi hanya pada klien gangguan muskuloskeletal saja.
Perubahan fisiologis sebagai akibat dari peningkatan tekanan kompartemen
yang seringkali tejadi adalah iskemik, edema. Kapiler-kapiler di dalam otot
mengalami dilatasi, kapiler-kapiler ini menjadi lebih permeable karena pelepasan
histamin dari jaringan otot yang iskemik. Sebagai akibatnya protein plasma bocor
menuju ruang intersitial, kemudian terjadilah udema yang dapat menekan saraf dan
memperparah keadaan iskemik. Warna dari jaringan yang mengalami iskemik
menjadi pucat, denyutan menjadi lemah dan daerah yang terkena menjadi mudah
diraba. Jika kondisi ini tidak ditangani maka dapat menimbulkan sianosis, kebal/mati
rasa, paresis dan nyeri yang hebat.
Sindrom kompartemen biasanya jarang terjadi tetapi dapat menyebabkan
kondisi kegawatan. Dapat pula terjadi kerusakan struktur otot yang irreversible dalam
waktu 4-6 jam setelah onset dan otot tidak dapat digunakan lagi dalam 24-48 jam

Volkmann’s Contractur terjadi dari memendeknya otot yang iskemik dan ada keterlibatan saraf. namun myoglobin dicurigai menyebabkan vasokonstriksi/mempunyai efek langsung terhadap ginjal untuk mengakibatkan terjadinya gangguan struktur dan fungsi. Problem spesifik yang muncul akibat sindrom kompartemen adalah infeksi. Walaupun patofisiologinya belum jelas. Jaringan otot yang mengalami perlukaan melepaskan myoglobin (protein otot) ke dalam sirkulasi dan kemudian protein ini disaring oleh ginjal. . Infeksi yang berasal dari jaringan yang nekrosis bisa cukup berbahaya hingga mengharuskan dilakukannya amputasi.setelahnya. kelemahan motorik pada ektremitas yang terkena. Komplikasi paling fatal dari sindrom kompartemen adalah myoglobinuric renal failure. Operasi rekontruksi untuk memperbaiki fungsi dapat dilakukan pada otot yang terganggu. kontraktur dan gagal ginjal myoglobinuric. Kelemahan motorik akibat perlukaan saraf bersifat irreversible dan klien mungkin membutuhkan bantuan alat tertentu untuk bergerak.

Neutrofil tersebut. Selain itu neutrofil . Degenerasi sel otot yang rusak Sebelum terjadinya inflamasi dan regenerasi sel otot yang rusak. salah satunya adalah fosfolipase. Oleh karena itu hematoma yang terbentuk akan menyebabkan influks sel-sel radang seperti neutrofil. kemungkinan besar juga terjadi cedera vaskular (pembuluh darah). dan regenerasi. Selain terjadi cedera pada otot. dan TNF yang akan meningkatkan permeabilitas vaskular dan menginisiasi terjadinya inflamasi (peradangan). Makrofag akan memfagositosis debris sel lebih lanjut dan mengeluarkan sitokin seperti IL-6.PROSES REGENERASI OTOT YANG CIDERA Cedera pada sel otot akan memicu terjadinya proses yang bertujuan untuk memulihkan kembali sel otot yang rusak dan semaksimal mungkin mengembalikan fungsi yang hilang akibat cedera. dan selanjutnya digantikan (didominasi) oleh limfosit T (padainflamasi kronik). Normalnya proses ini akan memakan waktu sekitar empat minggu dan meliputi empat tahapan. inflamasi. juga akan melepas sinyal untuk merekrut sel monosit. di mana makrofag. meliputi: 1. sel mononuklear dan limfosit T menginfiltrasi jaringan otot yang cedera. Proses degenerasi tersebut diinisiasi oleh pembengkakan secara lokal (local swelling) dan pembentukan hematoma. Akumulasi neutrofil terjadi sekitar satu jam setelah cedera terjadi. IL-8. yaitu makrofag. dan limfosit T. yang selanjutnya akan diubah menjadi prostaglandin melalui jalur siklooksigenase (COX). 2. Inflamasi (peradangan) Setelah serat otot mengalami cedera. diperlukan degenerasi (penghancuran) sel otot yang mengalami cedera. Fosfolipase akan merombak fosfolipid (membran sel) menjadi asam arakidonat. makrofag. Kadar neutrofil sendiri akan menetap selama 5 hari setelah trauma. Prostaglandin tersebut berperan dalam menghasilkan nyeri. akan terjadi influx ion Calcium ke dalam sel sehingga mengaktifkan berbagai protease. selain menjalankan fungsi fagositosis (selama proses inflamasi akut).

Penyembuhan melalui pembentukan jaringan parut juga dapat terjadi bersamaan dengan regenerasi sel otot (proliferasi sel satelit). diawali oleh proses degenerasi dan inflamasi. NGF. diketahui bahwa berbagai faktor pertumbuhan. Pembentukan fibrosis Fibrosis. Aktivasi sel satelit ini terjadi sekitar 10 hari setelah cedera. Pada penyembuhan melalui pembentukan fibrosis. . otot rangka merupakan jaringan yang sudah berdiferensiasi secara akhir (nukleusnya bersifat post-mitotik). seperti bFGF. Makrofag juga akan mengeluarkan kemoatraktan untuk memperkuat respons inflamasi dan melepaskan faktor pertumbuhan yang akan memicu diferensiasi myotube. otot dapat kehilangan unit kontraktilnya sehingga fungsinya secara keseluruhan menjadi berkurang atau hilang sama sekali. Sel-sel satelit ini diaktivasi oleh makrofag dan sebagai respons terhadap cedera jaringan. Diketahui bahwa TGF-β1 merupakan faktor yang menginduksi terbentuknya fibrosis. 3. dan IGF-1 juga turut berperan dalam menstimulasi proliferasi sel-sel satelit. atau jaringan parut akan terbentuk apabila cedera otot terlalu parah dan proses inflamasi kronik berlanjut. Jaringan parut akan terbentuk di antara minggu ketiga dan keempat setelah cedera. 4. terdapat sel-sel satelit di membran basal dan sarkolema yang dapat berproliferasi untuk menggantikan sel-sel otot yang rusak. Pada proses ini terjadi aktivasi matriks ekstraselular dan peningkatan produksi jaringan kolagen (terutama tipe I dan III). Regenerasi Secara fisiologis. Namun demikian. Selain itu.juga akan merekrut makrofag yang turut berperan dalam proses fagositosis.

SKEMA REGENERASI OTOT YANG CEDERA .

Metode dengan manipulasi tertutup atau terbuka. Imobilisasi Imobilisasi adalah upaya untuk mencegah mobilisasi dari bagian yang mengalami injuri. Imobilisasi dapat dilakukan dengan pemasangan alat interna atau eksterna. Mengurangi atau mencegah fraktur lebih parah ( Reduction ) Reduction adalah mengembalikan posisi tulang ke posisi anatomi. dan menurunkan ansietas. dan relaxan otot adalah obat-obat yang umum diberikan. 3. setelah itu dilakukan rekontruksi. anti inflammatory.Penatalaksanaan medis Terapi tergantung dari kondisi klien. perawat bisa menggunakan teknik distraksi atau terapi musik. . meminimalkan spasme otot. kompres es mungkin digunakan. Selain itu digunakan juga sentuhan terapeutik. Jika pembengkakan menyebabkan tekanan pada area luka. Perawat harus mengobservasi efektivitas pengobatan dan efek sampingnya. Transquilizer seperti diazepam (valium) digunakan untuk ketenangan. Penyembuhan bagian yang mengalami injuri ( Restorasi )  Terapi obat Nyeri muskuloskeletal berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak. dan jenis fraktur. 1. disrupsi tulang. dan spasme otot merupakan tipe nyeri yang paling parah yang biasanya diperlihatkan oleh individu. jika terapi tersebut tidak efektif untuk mengurangi nyeri.  Terapi non-farmakologi Untuk nyeri parah yang kronik. Biasanya perawat menggunakan kompres hangat atau dingin tergantung penyebab nyeri. Perawat mengajarkan pada klien teknik relaksasi seperti nafas dalam selama periode nyeri yang parah. hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi fragmen tulang untuk menyatu kembali. narkotik dan non-narkotik diberikan bersama untuk mencegah ketergantungan obat. lokasi fraktur. Manipulasi terbuka atau operasi dilakukan dengan pemasangan peralatan didalam kaki pasien misalnya pen. Berikut adalah penatalaksanaan fraktur. Analgesik narkotik dosis besar. klien tidak bisa tergantung terus pada obat. keadaan luka. Spasme otot bisa dikendorkan dengan kompres hangat dan massage. Klien sering merasa nyeri dalam waktu lama dan memakai manajemen nyeri yang buruk. 2. Untuk klien nyeri kronik. Manipulasi tertutup dengan memberikan tekanan secara manual pada daerah fraktur dari permukaan kulit dan dilakukan traksi.

maka nyeri dapat dihilangkan dengan morfin atau petidin.  Anti tetanus . Setelah fraktur. perdarahan dihentikan dan anggota gerak yang cedera dibidai untuk mencegah pergerakan yang nyeri lebih lanjut. Saraf tepi harus diperiksa sebagai patokan dasar bagi pemulihan nantinya. Kesadaran diamati. pembengkakan. deformitas dan kehilangan fungsi.  Antibiotika Untuk infeksi pada compound fractur dianjurkan pemberian antibiotika. tulang belakang. Jaringan perifer memerlukan perfusi yang adekuat oleh darah teroksigenasi dengan baik. Umumnya fraktur besar dapat terlihat. Tetapi jika pembuatan diagnosa telah adekuat dan sirkulasi tepi tidak kolaps.  Nyeri Nyeri karena cedera bisa dihilangkan dengan memblok saraf regional. Dengan ini diperlukan adanya transfusi dan jika kemudian diperlukan transfusi berulang bisa dipakai plasma beku segar. Perlu diperhatikan apakah kulit di atas fraktur robek sehingga dinamai “compound fractur” yang mudah mengalami infeksi. Luka ditutupi.pelvis atau abdomen yang cedera. mungkin pasien memerlukan intubasi segera.Penanganan Preoperatif  Prinsip-prinsip pertolongan pertama Tujuan utama pertolongan pertama adalah menyelamatkan nyawa seseorang dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Orang yang pertama tiba di tempat kejadian harus mempertahankan jalan nafas. bila terganggu harus diperbaiki secepat mungkin untuk mencegah kerusakan anggota gerak yang permanen karena iskemia. jika perlu dengan pernafasan mulut ke mulutdan kemudian ia harus mengusahakan pengangkutan pasien ke rumah sakit terdekat. terjadi kehilangan darah dari tulang dan jaringan yang rusak. Setiba di rumah sakit. Perlu dinilai supply darah arterial diluar daerah cedera. Sinar X : segera setelah pasien diresusitasi. Terdapat nyeri. Untuk itu bisa digunakan Entonox tanpa mengganggu pemeriksaan cedera kepala atau intra abdominal. Hendaknya diperhatikan keadaan kerusakan otot terutama pada compound fractur. Antibiotika yang terpilih seperti benzyl penisilin yang mungkin dapat dikombinasi dengan fluklosasilin atau sefalosporin seperti sefaloridin atau sefaleksin.  Pengobatan  Volume Darah Jika ada perdarahan maka perlu memperbaiki volume darah yang beredar. pasien mulai diperiksa dan diobati. dibuatkan radiograf anggota gerak atau dada.  Pemeriksaan Pertama-tama jalan nafas dibersihkan. tekanan darah di ukur serta cedera sebenarnya dicatat.

dan/atau pihak lain selama dan setelah pembedaha. Luka dibersihkan dan jaringan yang jelas mati dipastikan. Juga perlu diberikan banyak perhatian pada perawatan untuk hemostasis dan penutupan jaringan yang telah mati. di tempat mana tepi kulit hanya bisa didekatkan dengan tegangan. Perawatan preoperative untuk klien dengan bedah muskuloskeletal sama de ngan perawatan pada klien bedah umum atau anestesi spinal. Semua jaringan yang telah mati. 4 sampai 7 hari kemudian jika sekarang luka telah bersih. maka diberikan 6 minggu dan 6 bulan kemudian. lebih besar teapi bersih. lalu luka ditutup lapis-demi lapis. maka setelah dibersihkan luka dikemasi terbuka. Prosedur ini merupakan manajemen untuk fraktur pinggang (Buck’s traction). suatu dosis percobaan untuk melihat apakah timbul reaksi. Jika imunitas aktif memerlukan dosis boster. Emboli paru-paru Emboli lemak Syok paru-paru Koagulasi intravaskular diseminata  Prinsip-prinsip Perawatan luka  Luka-luka insisional Luka-luka insisional yang terjadi kurang dari 8 jam yang lalu diobati secara penjahitan primer.  Komplikasi yang dapat timbul setelah trauma : 1. Hal ini dikenal sebagai penjahitan primer tertunda. Jika penjahitan primer tak mungkin baik karena keadaan umum tak memungkinkan pembedahan dalam 8 jam setelah cedera atau ia tak mencapai rumah sakit dalam waktu itu. keluarga. Tetapi pada luka-luka yang besar dan terkontaminasi hebat dengan banyak jaringan yang mati. Pada luka-luka yang lebih dalam. tanpa banyak jaringan mati dan pembersihan dini secara bedah bisa dilakukan maka toxoid tetanus dan antibiotika cukup efektif. Jaringan mati dibuang dan tepi luka dieksisi. Perawat mengajari klien. Penanganan Intra Operatif Ø Traksi . Harus dihindarkan tegangan pada luka baik dengan membuat insisi sejajar garis luka yang melemaskan atau dengan menggunakan “split skin graft” di daerah yang tertutup. maka lebih baik diberikan serum antitetanus manusia. tepi kulit disegarkan dan luka ditutup. bila perlu dipotong lebih bawah. Luka dijahit sedapat mungkin tanpa tegangan. Diberikan toxoid tetanus sebanyak 0. klien ditraksi beberapa hari untuk menstabilkan fraktur. Suatu defek kulit yang menetap harus ditutupi dengan “split skin graft” atau “four thickness flap” atau pedikel. dieksisi dan hemostasis dipastikan. Sebelum serum antitetanus diberikan harus disuntikkan subkutan. 4. 3. Jika terjadi sepsis maka penutupan luka harus ditunda sampai ini diatasi. Sebelum bedah terbuka dengan fiksasi internal. Ini adalah penjahitan sekunder.Tindakan mengobati tetanus harus dilakukan pada klien dengan luka terbuka. terutama otot. antibiotik dan toxoid tetanus. Akhirnya dipasang suatu pembalut bertekanan dan pada luka besar di anggota gerak akan menguntungkan pemakaian sementara lempengan bidai yang terbuat dari gips. Zat ini menimbulkan imunitas aktif.5 ml pada luka superficial yang terkonaminasi tanah. 2. Bila luka besar dan dalam bisa dipasang drain yang kecil.

Dapat digunakan untuk mengimobilisasi fraktur yang telah direduksi.Traksi adalah pengaplikasian kekuatan tarikan pada bagian tubuh untuk memberikan reduksi. Traksi jepitan digunakan untuk memperbaiki kesalahan bentuk tulang. Traksi mekanikal dapat dilanjutkan sebagai perawatan fraktur. Traksi dikelompokkan menjadi 4 tipe yaitu: kulit. posisi yang lurus dan istirahat. dan/atau DM. Inspeksi kulit dilakukan tiap 8 jam untuk tanda iritasi dan inflamasi jika memungkinkan. Circumferential traksi menggunakan sabuk yang mengelilingi tubuh. gips memungkinkan mobilisasi pasien sementara membatasi gerakan pada bagian tubuh tertentu. perawat bertanggung jawab atas keseimbangan antara tarikan traksi dan tekanan countertraksi. Beban tidak boleh diganti tanpa izin dokter. Perawat harus memberikan perhatian khusus untuk pins. Pada “balanced suspention” bagian yang countertraction diberi juga tarikan. Pada klien lansia yang sering menderita penyakit vaskuler. Beban yang diberikan terbatas yaitu antara 5-10 lb. mengurangi nyeri. plester/gips. penjepit atu sekrup dimasukkan langsung ke tulang dan traksi ini membutuhkan waktu yang lamadan beban biasanya antara 15-30 lb. bebab harus bebas tergantung. Tujuan dari tipe traksi ini untuk mengurangi nyeri otot yang menyertai fraktur. Klien yang ditraksi biasanya dirawat di RS lebih lama daripada klien dengan gips. Traksi plester merupakan kombinasi dari traksi skeletal dan gip plester. Traksi skeletal bertujuan untuk meluruskan tulang. tapi biasanya mobilisasi lebih cepat. penyakit jaringan konektif. Traksi skeletal. mengkoreksi deformitas. Untuk mencegah injury kulit. Secara umum. mereka mempunyai resiko tinggi bila ditraksi karena ketidakadekuatan sirkulasi. sabuk atu boot diberikan pada skin traksi dilepas untuk inspeksi daerah di bawah alat. dan penguat. Ada tipe traksi yang tidak cocok untuk klien lansia karena memerlukan immobilisasi pada waktu yang lama. misalnya pneumoni dan emboli pulmoner. Velcro (hook and loop). boot (buck’s traction). Ø Gips Gips adalah alat imobilisasi eksternal yang kaku yang dicetak sesuai kontur tubuh dimana gips ini dipasang. dan mencegah atau memperbaiki bentuk tulang. Traksi diklasifikasikan menjadi “running traction” atau “balanced suspention”.  Tipe gips untuk trauma muskuloskeletal . missal fraktur pelvis untuk masalah punggung bawah. pin. juga dapat menurunkan spasme otot. kawat atu skrup pada kulit untuk tanda inflamasi/infeksi ketika traksi skeletal digunakan. memberikan tekanan merata pada jaringan lunak di bawahnya. Ketika traksi digunakan pasien. Pada running traction kekuatan tarikan langsung pada daerah yang fraktur dan daerah yang tidak ditraksi boleh aktifitas. Tujuan dari pemasangan gips ini adalah untuk mengimobilisasi bagian tubuh dalam posisi tertentu dan memberikan tekanan yang merata pada jaringan lunak yang terletak di dalamnya. kawat. skeletal. atau memberikan dukungan dan stabilitas bagi sendi yang mengalami kelemahan. sabuk traksi ini digunakan untuk kulit dan jaringan lunak. sehingga menyebabkan komplikasi yang serius. Skin traction berhubungan dengan penggunaan pita traksi (jarang digunakan karena merusak kulit).

fibula.1. dari bawah lutu1. Gips untuk ekstremitas bawah: Short leg cast (SLC). biasanya dilakukan selama 24 jam pertama setelah aplikasi. Fraktur pada spina cervical. dari bawah siku sampai ke bagian tangan). Petugas kesehatan harus selalu ingat bahwa gips yang basah perlu penanganan yang khusus. 3. radius dan/atau ulna. 2. penting digunakan untuk memperingatkan klien tentang panas yang akan dirasakn segera setelah gips dipasang. Untuk gips plester. Fraktur femur distal yang stabil. Fraktur yang tidak stabil pada pergelangan tangan. 3. Halo cast(jaket yang berisi beban). Gips panjang untuk lengan (meliputi lengan atas sampai ke bagian tangan). Fraktur humerus yang tidak dapat diluruskan dengan gips panjang. retak. Kegunaan Fraktur stabil pada pergelangan tangan (metacarpal. Gips untuk lengan dan digantung (sama dengan no. Leg cylinder (mirip dengan SLC. Perawat seharusnya dapat memasukkan jarinya diantara kulit dan gips. carpal. Riser’s cast (jaket dari bahu ke iliaca 3. Long leg cast (LLC). proksimal tibia dan fraktur pada lutut. perawat harus menginspeksi gips minimal 1 kali sehari untuk melihat ada/tidaknya drainase. Fraktur tibia yang stabil. 5. Perawat mengecek untuk memastikan bahwa gips tidak terlalu ketat dan memonitor secara teratur status neurovaskuler klien. Scoliosis. gips seluruh tungkai seharusnya digunakan untuk melindunginya dan menutupi daerah perineum. tapi5. 2. dan tulang radius bagian distal). Hip spica (dari bawah mammae ke kaki.Tipe dan karakteristik gips Gips untuk ekstremitas atas: 1. 1. biasa disebut ‘a green cast’ yang tidak ditutup agar uudara bisa menguap. Bedpan khusus untuk fraktur lebih baik daripada bedpan tradisional karena lebih kecil dan lebih nyaman untuk klien. dan panggul dan terbuka di depan dada). Ketika gips klien basah harus dipindah dan diganti. Fraktur tibia yang tidak stabil dan paha ke dasar kaki. SLC atau leg cylinder) Gips badan: 1. traksi yang ringan bisa dipasang sementara klien tetap di tempat tidur. Jika gips kering. 2. tapi lebih berat dengan ditambahlengkung pada lengan bawah). Untuk mencegah terjadinya kontaminasi oleh urin/feses. dan kaki bawah dan setengah dari kaki yang injury pada pinggul. 2. Sama dengan SLC/LLC. lutut. dari pertengahan2. metatarsal. Gips yang bisa untuk dibuat jalan (alat3. pergelangan kaki tidak digips). fraktur spina thoracis. untuk berjalan pada pantat pada4. Dislokasi pada pinggul.2 . tak terpengaruh atau kedua kaki). Plester ini diganti setiap 1 atau 2 jam agar sirkulasi udara lancar dan semua bagian gips tetap kering. Long-leg cylinder (mirip dengan LLC tetapi pergelangan kaki tidak digips) Gips penahan: Patella weight-bearing cast (mirip dengan Fraktur femur bagian tengah atau distal. fibula dan SLC/LCC). Fraktur pergelangan kaki dan sampai ke dasar kaki. 4. 3. Gips yang baru. 2. 3. pelvis. . Gips pendek untuk lengan (panjangnya1. humerus bagian distal.

penjajaran. dan ketepatan penyembuhan. gangguan sirkulasi dan kerusakan saraf perifer. Sumber : anatomi tubuh manusia Daniel S. Komplikasi lain dari gips perlu perawatan. dalam hal ini perawat harus mengkaji status neurovaskuler klien. Jika ada darah pada gips de ngan fraktur tebuka harus segera dilaporakan pada dokter jumlah drainase atau perubahan integritan kulit dari gips. biasanya pada ekstermitas. Perawat mengkaji adanya komplikasi adanya immobilisasi kerusakan kulit. Gangguan sirkulasi. Atropi dapat terjadi karena kurang latihan selama immobilisasi ang lama pada daerah yang terpengaruh fraktur. Sebelum gips dilepas perawat perlu memberitahu klien bahwa tidak akan melukai kulit hanya merasa panas selama prosedur. dan nekrosis dapat terjadi karena gips yang terlalu ketat. Area drainase pada gips dibuat melingkar dan dimonitor terus setiap ada perubahan.remuk. Wibowo penerbit grasindo jakarta 2012 . kerusakan nervus perifer. tromboemboli dan konstipasi. misalnya infeksi.