Anda di halaman 1dari 12

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No.

1, Januari 2013

EKSPLORASI MINERAL LOGAM DENGAN METODE INDUKSI POLARISASI


DAERAH MEKAR JAYA - CIDOLOG, KABUPATEN SUKABUMI
JAWA BARAT
Sapto Heru Yuwanto
Mahasiswa Magister Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta

INTISARI
Penelitian menggunakan metode geofisika resistivitas dan induksi polarisasi
(IP) kawasan waktu (time domain) dengan masing masing parameter pengukuran
adalah tahanan jenis batuan dan chargeability batuan. Pengambilan data lapangan
menggunakan konfigurasi elektroda dipole dipole dengan panjang lintasan
pengukuran 250 m yang berjumlah 14 lintasan. Hasil penelitian dan interpretasi
terpadu dari beberapa lintasan, berdasar data anomali resistivitas daerah telitian
tersusun oleh batuan yang telah mengalami alterasi (ubahan), alterasi argilik dan
alterasi propilitik dicirikan dengan nilai resistivitas < 100 Ohm.m dan alterasi
silisifikasi dicirikan dengan nilai resistivitas > 200 Ohm.m. Berdasarkan data anomali
chargeability secara horizontal penyebaran alterasi mineralisasi mengikuti arah
dugaan vein sesuai dengan arah sebaran singkapan geologi permukaan yang
secara umum berarah Barat Laut (NW) Tenggara (SE), daerah potensi
mineralisasi ditandai dengan nilai chargeability > 100 M.sec.

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi sumber daya alam
yang melimpah, salah satunya adalah sumber daya mineral logam yang
dimanfaatkan untuk bahan material industri seperti bijih besi, tembaga, alumunium,
timbal, nikel dan seng dan untuk perhiasan seperti emas dan perak. Pada saat ini
kebutuhan pasar akan mineral logam mengalami peningkatan, sehingga diperlukan
keseimbangan antara kebutuhan pasar dengan produksi mineral logam. Produksi
mineral logam juga harus didukung dengan ketersediaan bahan galian mineral
logam yang tersedia di alam, sehingga diperlukan kegiatan eksplorasi untuk
melokalisir daerah daerah yang memiliki potensi bahan galian mineral logam.
Kegiatan eksplorasi awal yang dilakukan di daerah telitian adalah kegiatan
eksplorasi geologi. Eksplorasi geologi dilakukan untuk mengetahui informasi awal
tentang potensi keberadaan cebakan mineral logam yang ada di permukaan pada
daerah telitian berdasar pada jenis litologi batuan dan singkapan urat kuarsa yang
membawa mineral logam. Eksplorasi lanjutan yang dilakukan adalah eksplorasi
geofisika untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan berdasarkan data
anomali geofisika yang terukur. Pada penelitian ini eksplorasi geofisika
menggunakan metode resistivitas dan induksi polarisasi (IP) karena metode
tersebut efektif dan efisien untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan
yang berkaitan dengan mineralisasi hidrothermal dan batuan intrusi.
Penelitian dengan menggunakan metode resistivitas dan induksi polarisasi
(IP) dengan masing masing parameter tahanan jenis dan chargeabilitas batuan
digunakan untuk pendekatan model geologi bawah permukaan dengan korelasi data
pendukung data geologi permukaan daerah telitian.
Penelitian ini berada di daerah Mekar Jaya, dengan batas koordinat UTM X
= 7040000 7060000 dan Y = 9191000 9192500. Secara administratif Daerah

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

Mekar Jaya masuk ke dalam wilayah Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi,


Provinsi Jawa Barat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi mineralisasi bawah
permukaan dan membuat pendekatan model geologi berdasarkan data anomali
resistivitas dan induksi polarisasi (IP) daerah telitian.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

TINJAUAN GEOLOGI

A.

Endapan Hidrothermal
Sistem hidrotermal didefinisikan sebagai sirkulasi fluida panas (50 0
>500 C), secara lateral dan vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervariasi di
bawah permukaan bumi. Sistem ini mengandung dua komponen utama, yaitu
sumber panas dan fase fluida (larutan). Sirkulasi fluida hidrotermal menyebabkan
himpunan mineral pada batuan dinding (wall rock) menjadi tidak stabil dan
cenderung menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan
mineral yang sesuai dengan kondisi yang baru, yang dikenal sebagai ubahan
(alteration) hidrotermal. Endapan mineral hidrotermal dapat terbentuk karena
sirkulasi fluida hidrotermal yang melindi (leaching), mentransport, dan
mengendapkan mineral mineral baru sebagai respon terhadap perubahan fisik
maupun kimiawi (Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004).
Alterasi merupakan perubahan komposisi mineralogi batuan (dalam
keadaan padat) karena adanya pengaruh Suhu (T) dan Tekanan (P) yang tinggi dan
tidak dalam kondisi isokimia yang menghasilkan mineral lempung (clay), kuarsa
(silica), oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder,
berbeda dengan metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi
pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu
yang memungkinkan masuknya air meteorik (meteoric water) untuk dapat
mengubah komposisi mineralogi batuan. Semua mineral bijih yang terbentuk
sebagai mineral ubahan pada fase ini disebut sebagai endapan hidrotermal.
Menurut Linggren (1933) fase endapan hidrotermal dibagi menjadi 3 jenis
berdasarkan temperatur, tekanan dan kondisi geologi pada saat pembentukannya
yaitu : endapan hipotermal, endapan mesotermal dan endapan epitermal.
White dan Hedenguist (1995) membagi sistem epitermal menjadi dua tipe
yang dibedakan berdasarkan sifat kimia fluidanya yaitu sulfida rendah (low

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

sulphidation) dan sulfida tinggi (high sulphidation). Pembagian tersebut juga dapat
berdasarkan alterasi dan mineraloginya sehingga kadang kadang dua tipe ini
disebut sebagai tipe acid sulphate (sulfida tinggi) dan adularia sericite (sulfida
rendah).
B.

Geologi Regional Jawa Barat

Fisiografi Jawa Barat menurut Van Bemmelen, 1949 dibagi ke dalam empat
zona fisiografi yaitu : Dataran Pantai Jakarta menempati bagian Utara Jawa Barat,
Zona Bogor menempati sebelah selatan Dataran Pantai Jakarta memanjang dari
arah barat ke timur melalui Kota Bogor, Purwakarta dan Bumiayu (Jawa Tengah),
Zona Bandung merupakan zona depresi antar gunung (Intermountain Depression)
memanjang dari arah Barat Timur dan Pegunungan Selatan Jawa Barat berada
pada bagian selatan Jawa Barat yang merupakan deretan Pegunungan memanjang
dari arah Barat ke Timur.
Stratigrafi Jawa Barat oleh Soejono M, 1984 dikelompokan berdasarkan
sedimen pembentuknya dibagi menjadi 3 (tiga) mandala sedimentasi yaitu :

Mandala Paparan Kontinen


Mandala Paparan Kontinen dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok batuan yaitu:
Pertama kelompok batuan metamorf berumur Jura kapur yang diterobos oleh
intrusi granit yang berumur Kapur Eosen Awal, Kedua batuan vulkanik
Formasi Jatibarang berumur Kapur Akhir Eosen dan Ketiga batuan sedimen
yang berumur Miosen Awal., Mandala Cekungan Banten dan Mandala
Cekungan Bogor.

Mandala Cekungan Banten


Mandala ini mempunyai dua kelompok batuan yakni batuan beku dan batuan
sedimen. Kelompok tertua adalah breksi dan lava Cikotok yang dianggap
sebagai Formasi Jatibarang. Satuan kedua adalah Formasi Bayah yang
berumur Oligosen terdiri dari batupasir kuarsa konglomeratan dengan sisipan
lempung dan batubara di bagian atas. Formasi berikutnya adalah Formasi
Cimapag yang terdiri dari breksi andesit dengan fragmen gamping mekanisme
pengendapannya adalah aliran gravitasi. Satuan ini seumur dan sebanding
dengan Formasi Jampang di Mandala Cekungan Bogor.

Mandala Cekungan Bogor


Satuan batuan ini ditutupi oleh Formasi Cileutuh yang terdiri dari lempung pasir
dengan sisipan breksi yang diendapkan dalam kondisi laut dalam. Formasi
Cileutuh ini ditutupi oleh Formasi Bayah secara tidak selaras ditutupi oleh
Formasi Batuasih dan bersilang jari dengan Formasi Rajamandala. Formasi
Rajamandala ditutupi oleh Formasi Citarum dan secara selaras ditutupi oleh
Formasi Saguling yang umumnya berupa breksi yang berumur Miosen Tengah.

Struktur geologi Jawa Barat Berdasarkan hasil penafsiran foto udara dan
citra indera (citra landsat) daerah Jawa Barat diketahui adanya banyak kelurusan
bentang alam yang diduga merupakan hasil proses pensesaran. Jalur sesar
tersebut umumnya berarah Barat Timur, Utara Selatan, Timur Laut Barat Daya

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

dan Barat Laut Tenggara. Secara regional struktur sesar berarah Timur Laut
Barat Daya dikelompokan sebagai Pola Meratus, sesar berarah Utara Selatan
dikelompokan sebagai Pola Sunda dan sesar berarah Barat Timur dikelompokan
sebagai Pola Jawa.
Struktur sesar dengan arah Barat Timur umumnya berjenis sesar naik,
sedangkan struktur sesar dengan arah lainnya berupa sesar mendatar. Sesar
normal umum terjadi dengan arah bervariasi. Dari sekian banyak struktur sesar
yang berkembang di Jawa Barat ada tiga struktur regional yang memegang peranan
penting yaitu Sesar Cimandiri, Sesar Baribis dan Sesar Lembang. Ketiga sesar
tersebut untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Van Bemmelen (1949) dan
diduga ketiganya masih aktif hingga sekarang.
C.

Geologi Daerah Telitian

Geomorfologi daerah telitian dibagi menjadi 2 satuan yaitu: Satuan


Perbukitan bergelombang Sedang (D1) menempati 70% area telitian dengan
penyebarannya hampir merata di bagian timur Daerah Telitian mempunyai beda
0
0
elevasi 110 160 meter dpl dengan kemiringan sebesar 20 40 . Litologi pada
daerah ini didominasi oleh satuan batupasir dan batulempung yang pada umumnya
ditempati oleh penduduk (perkampungan), area persawahan dan perkebunan dan
satuan batuan beku dan piroklastik yang telah mengalami alterasi dan oksidasi dan
lapisan alluvial. Satuan Perbukitan Sesar (S1) menempati 30% area telitian
0
0
mempunyai beda elevasi 160 210 meter dpl dengan kemiringan sebesar 45 75
dan banyak di jumpai struktur sesar diantaranya sesar naik dan sesar mendatar
geser kiri. Litologi pada daerah ini didominasi oleh batuan beku dan batuan
piroklastik yang telah mengalami alterasi dan oksidasi.
Stratigrafi daerah telitian terdiri dari Formasi Jampang (Tmjp), Porfiri Cilegok
(Tmcs) dan Formasi Bentang (Tmbp). Struktur geologi dan kedudukan batuan
berdasarkan penampang terukur sehingga pembagian stratigrafi daerah telitian
disusun oleh Formasi Bentang (Tmbp) terdiri atas Satuan Batupasir sisipan
karbonatan yang diperkirakan berumur Miosen Akhir, Formasi Jampang (Tmjp)
terdiri atas Satuan Batuan Piroklastik, Lava Andesit yang diperkirakan berumur
Miosen Awal dan Formasi Porfiry Ciegok (Tmcs) terdiri atas Batuan Intrusi Andesit
yang diperkirakan berumur Miosen Awal.
Struktur geologi daerah telitian secara umum dikontrol oleh adanya kekar
o
o
o
o
kekar yang secara umum berkedudukan N 44 E / 80 dan N 140 E / 80 . Kekar
kekar ini sebagian besar tersisi oleh urat urat (vein) kuarsa dengan ukuran 30
100cm. Pada daerah telitian dijumpai sesar mendatar geser kiri dengan arah sesar
o
o
N 182 E dan dijumpai sesar naik dengan arah kedudukan N 130 E. Pola struktur
pada daerah telitian mengontrol terjadinya proses mineralisasi hal ini ditandai
dengan adanya urat urat kuarsa yang mengisi kekar kekar pada zona tersebut.
Alterasi (ubahan) yang dijumpai pada daerah telitian (konsesi IUP)
diantaranya adalah alterasi silisik (silisifikasi), alterasi argilik (argilisasi) dan alterasi
propilitik (kloritisasi). Mineralisasi pada daerah telitian, mineral logam yang hadir
pada umumnya adalah mineral kalkopirit, galena, pirit, sphalerit yang dijumpai pada
batuan yang teralterasi yang terdapat pada urat urat kuarsa yang mengisi rekahan
dan pada batuan alterasi tersebut (wall rock). Alterasi propilitik dan alterasi argilik
penyebarannya hampir mendominasi area telitian. Secara umum sulit untuk dibuat
batas antara alterasi propilitik dan alterasi argilik akan tetapi pembagiannya
didasarkan pada kelimpahan dari masing masing mineral utamanya. Alterasi silisik
penyebarannya hanya sebagian kecil menempati area telitian. Alterasi propilitik dan

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

argilik pada batuan lava andesit mempunyai ciri ciri abu abu keputihan, massif
lunak, mineral yang dijumpai mineral klorit, kaolin dan mineral lempung lainnya dan
mineral logam yang hadir pirit dan kalkopirit. Alterasi argilik pada batuan diorit
dicirikan oleh warna putih abu abu terang oleh penyebaran mineral lempung,
dijumpai juga beberapa mineral klorit, mineral logam yang hadir adalah mineral
kalkopirit, pirit dan sedikit galena. Alterasi argilik pada batuan andesit dicirikan oleh
warna abu abu keputihan, dijumpai mineral kaolin dan klorit, mineral logam yang
hadir adalah mineral pirit dan kalkopirit. Alterasi propilitik pada batuan diorit dicirikan
oleh warna abu abu merah kehijauan, mineral logam yang hadir adalah mineral
pirit, kalkopirit dan galena. Alterasi propilitik pada batuan andesit dicirikan oleh
warna abu abu kehijauan, dijumpai mineral klorit dan mineral kaolin, mineral
logam yang hadir adalah mineral kalkopirit, pirit, bornite dan malakit.

Gambar 2. Peta Geologi daerah telitian

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

TINJAUAN GEOFISIKA
Penelitian geofisika yang pernah dilakukan berkaitan dengan endapan
emas sistem epitermal adalah penelitian yang dilakukan oleh Amazon (1940).
Penelitian ini dilakukan dibeberapa tempat dengan target berupa zona mineralisasi
logam. Hasilnya selalu menunjukkan respon yang khas yaitu zona mineralisasi
sering berkaitan dengan respon IP tinggi dan resistivitas rendah. Penelitian tersebut
memberikan beberapa kesimpulan antara lain :

Zona Alterasi argilik secara umu memiliki ciri ciri resistivitas rendah sedang
yang disebabkan oleh adanya mineral lempung berasosiasi dengan IP sedang
tinggi.

Zona Alterasi propilitik secara umu memiliki ciri ciri resistivitas tinggi karena
adanya mineral klorit berasoisasi dengan IP sedang tinggi.

Zona Alterasi silisifikasi secara umum memiliki ciri ciri resistivitas sedang
tinggi karena kekompakkan batuan dan mineral silika berasosiasi dengan IP
yang sedang.
Selain itu, penelitian geofisika yang berkaitan dengan endapan emas sistem
epitermal juga pernah dilakukan oleh R.G. Allis (1990) dan Irvine dkk, yang
dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Exploration For Ephitermal Gold Deposits
(1990). Hasil penelitian tersebut memberikan beberapa kunci untuk interpretasi data
resistivitas dan IP pada sistem epitermal. Secara singkat diuraikan sebagai berikut :

Alterasi argilik menghasilkan mineral lempung dan zeolit dengan kapasitas


tukar kation (KTK) yang besar. Karena KTK besar maka zeolit akan melakukan
penggantian (replacement) feldspar dan piroksen dengan mineral lempung. Hal
tersebut mengakibatkan adanya penurunan nilai resistivitas. Penurunan nilai
resistivitas ini sangat tergantung pada kandungan mineral lempung pada zona
argilik tersebut.

Pada sistem geotermal aktif, salinitas dan temperatur juga merupakan faktor
yang sangat penting yang dapat mengakibatkan penurunan resistivitas. Studi
pada batuan hasil alterasi hidrotermal menunjukkan bahwa kenaikan
temperatur menyebabkan penurunan resistivitas secara eksponensial.

Berdasarkan penelitiannya, R.G. Allis (1990) menyimpulkan bahwa pada


daerah argilik propilitik, resistivitas cenderung rendah kemudian pada zona
argilik lanjut (advanced argillic) lebih rendah lagi.

Kehadiran mineral mineral sulfida pada zona argilik menyebabkan IP pada


daerah argilik sangat tinggi. Dengan demikian pada eksplorasi menggunakan
metode IP, zona argilik ditandai dengan adanya kenaikan nilai IP.

Pada zona silisifikasi, terjadi kenaikan resistivitas secara signifikan, oleh


karena itu urat kuarsa dan zona alterasi silisik (silisifikasi) diidentifikasi dengan
tingginya resistivitas pada daerah terukur.

METODE PENELITIAN

A.

Metode Pengukuran
Dalam penelitian ini digunakan pengukuran resistivitas dan induksi
polarisasi kawasan waktu (time domain). Parameter yang terukur (tercatat) pada
metode ini adalah nilai resistivitas (tahanan jenis) pada batuan dan nilai

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

chargeabilitas pada batuan. Parameter parameter yang terukur tersebut


digunakan untuk mengetahui variasi nilai resistivitas batuan dan variasi nilai
chargeabilitas batuan pada daerah telitian untuk dicocokan dengan data geologi
permukaan.
Konfigurasi elektroda yang digunakan pada pengukuran ini adalah
konfigurasi dipole dipole. Konfigurasi ini dapat memberikan gambaran baik secara
lateral maupun vertikal sampai kedalaman tertentu yang terbagi dalam beberapa
lapisan semu (lapisan pengamatan yang besarnya tergantung jarak elektroda).

B.

Metode Pengolahan Data

Pada penelitian ini data resistivitas dan chargeabilitas yang terukur di


lapangan dilakukan pemodelan geofisika dengan menggunakan komputer, dengan
bantuan perangkat lunak (software) Res2DInv. Hasil pemodelan geofisika dengan
perangkat lunak Res2DInv adalah model penampang inversi 2D untuk resistivitas
dan chargeabilitas. Penampang inversi ini menggambarkan keadaan bawah
permukaan dalam bentuk penampang 2D, penampang inversi resistivitas dan
penampang inversi chargeabilitas. Metode inversi yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode kuadrat terkecil (least square). Untuk proses penyempurnaan
(editting) penampang inversi 2D resistivitas dan chargeabilitas menggunakan
perangkat lunak Surfer.

Gambar 3. Peta lintasan Pengukuran

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

C.

Metode Interpretasi Data

Pada penelitian ini Interpretasi penampang resistivitas dan chargeabilitas


dilakukan tiap lintasan geofisika dengan korelasi (pencocokan) data geologi
permukaan daerah telitian. Interpretasi pada penelitian menggunakan interpretasi
terpadu secara kuantitatif dan kualitatif.

Interpretasi Kuantitatif
Interpretasi ini berdasarkan data resistivitas dan chargeabilitas yang terukur di
lapangan dan kemudian di lakukan pemodelan inversi menggunakan
perangkat lunak Res2DInv. Hasil keluarannya adalah penampang inversi 2D
variasi nilai resistivitas dan chargeabilitas pada tiap lintasan geofisika.
Interpretasi Kualitatif
Interpretasi ini berdasarkan model penampang inversi 2D variasi nilai
resistivitas dan chargeabilitas yang dikorelasikan dengan data geologi
permukaan daerah telitian, digunakan untuk mengetahui kondisi geologi bawah
permukaan.

INTERPRETASI TERPADU PENAMPANG 2D

Data data hasil pengukuran diperlukan untuk membantu interpretasi hasil


perhitungan data geologi permukaan yang telah diselidiki. Dalam eksplorasi bahan
tambang tidak semua hasil penyelidikan lapangan memberikan hasil yang
memuaskan, oleh karena itu seluruh kegiatan penyelidikan mulai dari geologi,
geokimia, geofisika dan pemboran sangat diperlukan sebagai perbandingan dan
penunjang antara penyelidikan yang satu dengan penyelidikan yang lainnya.
Analisis dan pengolahan data IP dengan parameter ukur nilai chargeabilitas
batuan, nilai chargeabilitas merupakan indikator adanya kehadiran mineral logam
pada suatu batuan, makin besar nilai chargeabilitas yang terukur mengindikasikan
zona tersebut makin besar deposit mineral logam atau disebut juga zona potensi
mineralisasi. Pada daerah telitian nilai chargeabilitas terukur memiliki rentang 0
850 M.sec, dapat diklasifikasikan dalam 3 zona mineralisasi yaitu :
1. Zona mineralisasi lemah
Memiliki rentang nilai chargeabilitas < 100 M.sec.
2.

Zona mineralisasi sedang


Memiliki rentang nilai chargeabilitas 100 300 M.sec

3.

Zona mineralisasi kuat


Memiliki rentang nilai chargeabilitas > 300 M.sec

Analisis dan pengolahan data resistivitas dengan parameter ukur nilai


resistivitas batuan, nilai resistivitas merupakan suatu parameter ukur untuk

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

mengetahui besarnya tahanan jenis (daya hambat) suatu medium dalam


mengalirkan arus listrik, makin besar nilai resistivitas mengindikasikan zona tersebut
terdapat litologi batuan yang sangat kompak (massif) yang sukar untuk mengalirkan
arus listrik. Pada daerah telitian litologi permukaan banyak dijumpai batuan yang
telah mengalami alterasi, alterasi yang dominan dijumpai adalah alterasi proplitik
dan alterasi argilik dan beberapa alterasi silisifikasi. Pada alterasi propilitik dan
alterasi argilik didominasi oleh mineral mineral lempung dan mineral klorit
sehingga struktur batuannya menjadi lunak dan banyak terisi oleh air, menyebabkan
nilai resistivitas menjadi rendah, apabila banyak dikelilingi oleh deposit mineral
logam maka nilai resistivitas akan semakin rendah. Nilai resistivitas yang terukur
pada daerah telitian memiliki rentang 0 3.000 Ohm.m, dapat dibuat klasifikasi
litologi batuan daerah telitian yaitu :
1. Lapisan penutup (Soil) dan batuan teralterasi kuat
Memiliki rentang nilai resistivitas < 100 Ohm.m yang terdiri dari soil, pasir
lepas, lempung, kerikil dan batuan teralterasi kuat.
2.

Satuan batuan batupasir


Memiliki rentang nilai resistivitas 50 hingga 150 Ohm.m yang terdiri dari pasir
lempungan, batupasir karbonatan dan batupasir halus hingga kasar.

3.

Satuan batuan piroklastik dan batuan breksi


Memiliki rentang nilai resistivitas 150 hingga 500 Ohm.m, batuan piroklastik
terdiri atas tuff, lapili tuff dan lava andesit dan batuan breksi.

4.

Satuan batuan intrusi


Memiliki rentang nilai resistivitas > 500 Ohm.m, terdiri atas batuan intrusi yang
masih kompak (massif) dan masih segar.

Penampang 2D variasi nilai resistivitas dan chargeabilitas yang dihasilkan,


disatukan dalam sebuah peta penampang 2D variasi nilai resistivitas dan peta
penampang 2D variasi nilai chargeabilitas. Pada peta penampang 2D variasi nilai
resistivitas menunjukan bahwa daerah telitian didominasi oleh nilai resistivitas yang
cenderung rendah < 150 Ohm.m, ini menunjukan bahwa daerah telitian sebagian
besar susunan batuannya telah banyak mengalami alterasi (ubahan) dan alterasi
yang dominan dijumpai dipermukaan adalah alterasi propilitik dan alterasi argilik
yang didominasi oleh mineral lempung sehingga nilai resistivitas akan cenderung
menurun (rendah), pada beberapa zona terdapat nilai resistivitas yang sedang
hingga tinggi < 200 Ohm.m diinterpretasikan sebagai batuan yang kompak yang
diduga dekat dengan batuan intrusi dan juga batuannya teralterasi silsisifikasi
sehingga meningkatkan nilai resistivitas.
Pada peta penampang 2D variasi nilai chargeabilitas menunjukan terdapat
zona zona potensi mineralisasi > 100 M.sec yang relatif mengikuti arah sesar atau
kekar umum yang diduga fluida hidrothermal yang keluar mengikuti jalur kekar pada
batuan mengendapkan mineral mineral logam pada batuan dinding dan juga pada
urat urat (vein) kuarsa, arah sesar atau kekar umum relatif berarah Barat Laut
(NW) Tenggara (SE).

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

Gambar 4. Penampang 2D Resistivitas

Gambar 5. Penampang 2D Chargeability

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

Gambar 6. Peta zona potensi mineralisasi

KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan dari penelitian yang dilakukan di Daerah Mekar Jaya
Cidolog, Kabupaten Sukabumi ini adalah sebagai berikut :
1.

Berdasarkan data anomali resistivitas dan chargeabilitas penyebaran alterasi


yang diikuti dengan pengendapan mineral logam pada arah vertikal mencapai
kedalaman 40 meter (n=4), sedangkan pada arah horisontal penyebaran
alterasi mineralisasi mengikuti arah dugaan vein yang mengisi jalur jalur
kekar (rekahan) batuan yang sesuai dengan arah sebaran singkapan geologi
permukaan yang secara umum berarah Barat Laut (NW) Tenggara (SE).

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 1, Januari 2013

2.

3.

4.

Berdasarkan data anomali resistivitas, daerah telitian terususn atas batuan


yang telah teralterasi kuat sebagian besar teralterasi propilitik dan argilik yang
dicirikan dengan nilai resistivitas < 100 Ohm.m, zona batuan intrusi andesit dan
diorit serta zona alterasi silisifikasi dicirikan dengan nilai resistivitas > 200
Ohm.m.
Penentuan zona potensi mineralisasi menggunakan data anomali
chargeabilitas (IP) efektif dalam memberikan respon yang positif terhadap
anomali yang disebabkan oleh mineralisasi, daerah telitian zona potensi
mineralisasi dicirikan dengan nilai chargeabilitas > 100 M.sec.
Pendekatan model geologi bawah permukaan dilakukan dengan menggunakan
data anomali resistivitas dan chargeabilitas (IP) dikorelasikan dengan data
geologi permukaan, didapatkan model geologi yang sesuasi dengan kondisi
geologi daerah telitian.

DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen., R.W. van. 1949. The Geology of Indonesia. General Geology of
Indonesian and Adjacent Archipelago. The Huge : Government Printing
Office.
Djoko Santoso, (2002), Pengantar Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung.
Dobrin, Milton B., Savit, Carl H. 1988. Induced Polarization In Introduction to
Geophysical Prospecting, 4thEdition, pp 837-842. United States of America
: McGraw-Hill Company
Edward, L.S., 1977. Induced Polarization, In Introduction of Minning Geophysics,
Vol.I. Lecture Notes, Develop Rangon Ars and Sciences University.
Koesoemadinata., R.P. 2000. Geologi Eksplorasi. Institut Teknologi Bandung,
Bandung
Lindgren, W.W., 1933. Mineral deposits. John Wiley & Sons, New York.
Loke, M.H., 2004. Tutorial : 2-D and 3-D Electrical Imaging Surveys.
www.geoelectrical.com
Lowrie, William. 2007. Fundamentals of Geophysics Second Edition. Cambridge
University Press.
Martodjojo., S. 1984. Evolusi Cekungan Bogor, Jawa Barat. Desertasi Doktor.
Jurusan Geologi ITB (Tidak diterbitkan).
Paranis, D. S. 1997. Principles of Applied Geophysics Fifth Edition. Chapman &
Hall.
Pulunggono., A., dan Martodjojo., S. 1994. Perubahan Tektonik Paleogen-Neogen
Merupakan Peristiwa Tektonik Terpenting di Jawa. Proceeding Geologi dan
Geotektonik Palau Jawa Sejak Akhir Mezoik Hingga Kuater. Teknik Geologi
UGM. Yogyakarta.
Sukamto, RAB, 1975. Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa.
Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan Republik Indonesia.
Cetakan Kedua Edisi 1990.
Tim Eksplorasi Geologi UPN. 2011. Laporan Eksplorasi Geologi Daerah Mekar
Jaya, Cidolog, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (Tidak diterbitkan).
Telford, W. M. & Geldart, L. P. & Sherift, R. E. 1990. Applied Geophysics Second
Edition. Cambridge University Press.
White, N.C., & Hedenquist, J.W., 1995. Epithermal gold deposits : Styles,
characteristic and exploration : SEG Newsletter, v. 23