Anda di halaman 1dari 4

Setiap masyarakat mengenal nilai-nilai dan norma-norma etis.

Dalam masyarakat yang homogen
dan agak tertutup – masyarakat tradisional, katakanlah – nilai-nilai dan norma-norma itu praktis
tidak pernah dipersoalkan. Dalam keadaan seperti itu secara otomatis orang menerima nilai dan
norma yang berlaku. Individu -individu dalam masyarakat itu tidak berpikir lebih jauh. Tapi
nilai-nilai dan norma-norma etis yang dalam masyarakat tradisional umumnya tinggal implisit
saja, setiap saat bisa menjadi eksplisit. Terutama bila nilai-nilai itu ditantang atau norma-norma
itu dilanggar karena perkembangan baru, kita melihat bahwa nilai atau norma yang tadinya
terpendam dalam hidup rutin, dengan agak mendadak tampil ke permukaan. Banyak nilai dan
norma etis berasal dari agama. Tidak bisa diragukan, agama merupakan salah satu sumber nilai
dan norma yang paling penting. Kebudayaan merupakan suatu sumber yang lain, walaupun perlu
dicatat bahwa dalam hal ini kebudayaan sering kali tidak bisa dilepaskan dari agama. Juga
nasionalisme atau kerangka hidup bersama dalam satu negara mudah menjadi sumber nilai serta
norma. BiIa negara dalam bahaya atau merasa dihina oleh negara lain, nilai-nilai itu bisa sampai
bergejolak. Demikian halnya, kalau dilihat dalam konteks sosial. Kalau kita melihat hal yang
sama dari segi individual, bisa saja terjadi bahwa nilai-nilai dan norma-norma itu disadari oleh
seorang tertentu, karena Ia pindah ke daerah lain. Di Indonesia pun sudah sejak dulu terdapat
variasi kecil-kecilan di pelbagai daerah, sejauh menyangkut nilai dan norma. Misalnya, dalam
bidang pergaulan antara muda-mudi dan hubungan antara anak dan orang tua. Bila seorang muda
menjadi mahasiswa dan karena itu untuk pentama kali dalam hidupnya keluar dari naungan
keluarga serta ketertutupan daerahnya, Ia dapat merasakan perbedaan itu. Perbedaan bisa
dirasakan lebih tajam lagi, bila perpindahan itu bukan saja dari satu daerah ke daerah lain tapi
sekaligus juga dan daerah pedesaan ke kota besar. Apalagi, bila seorang muda disekolahkan ke
luar negeri. Bisa sampai terkena cultural shock.
Pengalaman-pengalaman serupa itu selalu sudah terjadi dan tidak merupakan sesuatu yang baru.
Dalam masyarakat tradisional pun berlangsung hal-hal sedemikian. Tapi sekarang ini keadaan
masyarakat tradisional itu hampir tidak ada lagi. Praktis tidak terdapat lagi masyarakat yang
homogen dan tertutup. Suatu contoh bagus tentang perubahan seperti ini adalah kebiasaan di
banyak masyarakat tradisional bahwa orang Tua memilih jodoh bagi anaknya. Di Indonesia pun
kebiasaan ini pernah tersebar luas. Dalam sastra Indonesia gejala itu tampak dengan jelas. Antara
tahun 1920 dan 1940 banyak novel bertemakan kawin paksa dan campur tangan orang Tua dalam
pernikahan anaknya? Sekarang diakui secara umum hak seorang muda untuk memilih teman
hidupnya sendiri. Perjuangan hak yang tercermin dalam sastra Indonesia ini menandai peralihan
dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
Jika kita memandang situasi etis dalam dunia modern terutama tiga ciri yang menonjol. Pertama,
kita menyaksikan adanya pluralisme moral. Dalam masyanakat-masyarakat yang berbeda sering
terlihat nilai dan norma yang berbeda pula. Bahkan masyarakat yang sama bisa ditandai oleh
pluralisme moral. Kedua, sekarang timbul banyak masalah etis baru yang dulu tidak terduga.
Ketiga, dalam dunia modern tampak semakin jelas juga suatu kepedulian etis yang universal.
Mari kita memandang tiga ciri ini secara lebih rinci.

akan dibicarakan lagi secara khusus dalam Bab yang lain. Dalam hal ini perkembangan mutakhir adalah Internet. Pariwisata sudah menjadi sebuah industri yang dengan sengaja digalakkan untuk menarik sebanyak mungkin devisa. bersama dengan menerima informasi sebanyak itu kita berkenalan pula dengan norma dan nilai dari masyarakat lain. khususnya ilmu-ilmu biomedis. beberapa negara komunis yang sejak Perang Dunia II telah berusaha menutup diri terhadap segala pengaruh dan luar. Kita lihat. Lagi pula. Seperti diketahui. tapi juga di . entah dengan ibu yang “menyewakan” rahimnya atau tidak. Konon. sehingga banyak sekali rnanajer. apakah kita bisa menenima eksperirnen dengan jaringan embrio untuk menyembuhkan penyakit Alzheimerumpamanya. yang terutama disebabkan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. konsultan dan teknisi berkeliling dari satu negara ke negara lain. Ratusan juta manusia setiap tahun melewati perbatasan negara mereka. Abraham Lincoln. Di antara masalah-masalah paling berat dapat disebut: apa yang harus kita pikirkan tentang manipulasi genetis. hubungan homoseksual. sebagai karyawan salah satu multinational corporation. Dunia usaha juga sudah hampir tidak mengenal perbatasan negara. Atau kita lihat saja betapa banyak orang Indonesia pernah menuntut ilmu di luar negeri atau sekarang sedang rnenjalani studi di luar negeri. Dan kita lihat. kereta api dan kendaraan bermotor telah mengakibatkan suatu mobilitas yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah umat manusia. yang tidak selalu sejalan dengan norma dan nilai yang dianut dalam masyarakat kita sendiri. Ketika Presiden Amerika Serikat. karena sarana pengangkutan semakin cepat dan pelayanan kewisataan semakin ditingkatkan. Globalisasi tidak saja merupakan gejala di bidang ekonomi. pornognafi. masyarakat kita yang sudah sejak dulu diwarnai “kebhinekaan” sekarang berjumpa dengan kemajemukan norma dan nilai seperti hampir semua masyarakat di dunia. dan sebagainya. Ciri lain yang menandai situasi etis di zaman kita adalah timbulnya masalah-masalah etis baru. Tidak dapat disangkal. sebagaimana juga kejadian-kejadian di dalam masyarakat kita segera tersiar ke segala pelosok dunia. entah dengan donor atau tanpa donor. entah jaringan itu diperoleh melalui abortus yang disengaja atau abortus spontan? Masalah-masalah etis yang timbul berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. apa yang bisa dikatakan tentang reproduksi artifisial seperti fertilisasi in vitro. ada beberapa masyarakat yang lebih liberal dan permisif daripada masyarakat lain tentang hubungan seksual sebelum perkawinan. Kemajemukan itu menyangkut nilai dan norma dalam praktek-praktek bisnis.Pluralisme moral terutama dirasakan karena sekarang kita hidup dalam era komunikasi. tapi juga dalam bidang yang sama sekali lain seperti seksualitas serta perkawinan. umpamanya. Kini melalui media komunikasi modern informasi dan seluruh dunia langsung memasuki rumahrumah kita. khususnya manipulasi dengan gen-gen manusia. Ciri ketiga adalah suatu kepedulian etis yang tampak di seluruh dunia dengan melewati perbatasan negara. Suka tidak suka. kabar itu baru sampai di Eropa sesudah 12 hari. sarana pengangkutan modern seperti pesawat terbang. mereka pergi semakin jauh. dibunuh (1865). dalam hal ini hanya sebagian berhasil. bosnya di Eropa – raja Spanyol – baru mendengar tentang kejadian itu sesudah 5 bulan. ketika Christopher Columbus menemukan benua Amerika (1492).

Deklarasi tersebut tidak merupakan pernyataan hak-hak yang pertama dalam sejarah. Para Sofis tidak berhasil memberikan jawaban tepat untuk mengatasi krisis itu. tapi merupakan pernyataan pertama yang diterima secara global karena diakui oleh semua anggota PBB.bidang moral. Kepedulian etis yang sama tampak juga dalam bentuk universal. Pola-pola moral yang tradisional tidak lagi memiliki dasar untuk berpijak. Proklamasi ini pernah disebut kejadian etis yang paling penting dalam abad ke-20. Yang baru adalah bahwa mereka mengusahakan suatu pendasaran rasional bagi norma-norma itu. karena banyak masalah etis yang baru ditandai universalitas juga. Di sini selalu ada korban yang dilanggar haknya. Adalah Sokrates dan Plato yang menunjukkan jalan keluar dan kemelut moral itu. Dan tanpa memandang isinya. akibat banyak. Di sini dimaksudkan terutama masalah-masalah etis yang berkaitan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Ungkapan-ungkapan kepedulian etis yang terorganisir malah tidak mungkin tanpa dilatarbelakangi oleh kesadaran moral yang universal itu. penyiksaan terdakwa yang diduga terlibat dalam tindakan kriminal tidak pernah bisa diterima sebagai metode interogasi polisi. masalah seperti lingkungan hidup dan sebagainya. Rupanya studi etika itu menupakan salah satu cara yang memberi prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang. Situasi moral dalam dunia modern itu mengajak kita untuk mendalami studi etika. Kita menyaksikan adanya gerakan-gerakan perjuangan moral yang aktif pada taraf internasional. mau menghayati homoseksualitas mereka bisa diserahkan kepada keputusan pribadi orang-orang itu sendiri karena tidak mengganggu kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan. Sudah pernah diketengahkan bahwa alasan-alasan yang kita punya untuk mendalami studi etika sangat mirip dengan situasi di Yunani kuno sekitar pertengahan abad ke-5 s. bisa juga dalam bentuk kerja sama antara DPR dari beberapa negara atau serikat-serikat buruh. Untuk sebagian pertentangan itu memang ada dan menjadi semacam kontradiksi implisit yang sering ditemukan pada taraf sosial. Mereka tetap berpegang pada norma-norma yang berlaku dalam polis (kota negara) yang tradisional di Yunani. artinya.8 Waktu itu kesadaran etis di sana mengalami krisis besar. artinya. Lebih penting lagi adalah suatu kesadaran moral universal yang tidak terorganisir tapi tampak di mana-mana. dan sebagainya. hal ini sudah merupakan suatu fenomena yang luar biasa. Bagaimana dua orang yang menyetujui. Tapi kepedulian etis yang universal terutama menyangkut lingkup umum. hal-hal yang tidak bisa diserahkan kepada keputusan pribadi. Untuk . Tapi untuk sebagian lain pluralisme moral dan kepedulian etis itu tidak bertentangan karena menyangkut dua lingkup yang berbeda.M. Pluralisme moral itu terutama menyangkut lingkup pribadi. Misalnya. tapi sebaliknya meruncingkan keadaan dengan subyektivisme dan relativisme mereka. Gejala kepedulian etis yang universal itu sepintas laIu rupanya agak bertentangan dengan pluralisme moral tadi. karena menyangkut lingkup moral umum yang tidak bisa diserahkan kepada selera pribadi polisi. Di sini tidak dilanggar hak orang lain. berlaku untuk seluruh dunia. Gejala paling mencolok tentang kepedulian etis adalah Deklarasi Universal tentanig Hak-hak Asasi Manusia yang diproklamasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 10 Desember 1948.. Bisa dalam bentuk kerja sama antara Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat.nya perubahan sosial dan religius.

artinya.pertama kali dalam sejarah. berdasarkan rasio. Melalui jalan rasional perlu kita bersama-sama – mungkin sesudah diskusi panjang lebar – mencari kesepakatan di bidang moral. mereka mempergunakan rasio untuk meletakkan fundamen bagi norma-norma etis dan dengan demikian mereka memulai etika filosofis. Salah satu usaha ke arah itu adalah etika terapan yang sekarang dijalankan dalam kalangan luas dan akan dibicarakan Iagi secara khusus dalam Bab yang lain. . Menempuh cara hidup yang etis berarti mempertanggungjawabkan perilaku kita berdasarkan alasan-alasan. Bagi kita pun tidak ada jalan lain daripada rasio untuk memecahkan masalah-masalah moral yang kita hadapi sekarang ini.