Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR

ACARA VI
URIN KUALITATIF

Disusun oleh :
Kelompok XVIII
Ananda Restu Prasetya

PT/06874

Siti Nuzulurrohma Afthriyana

PT/06932

Serli Anggraini

PT/06958

Finaldy Iqbal Firmansyah

PT/06834

Asisten : Ahmad Mubarak Hasan Asrori

LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI
BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ACARA VI
URIN KUALITATIF
Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui adanya zat-zat
yang terkandung di dalam urine yaitu senyawa organik dan anorganik
serta keadaan abnormalitas urine.
Tinjauan Pustaka
Urin sering dianggap hasil buangan yang sudah tidak
berguna. Padahal urin sangat membantu dalam pemeriksaan medis. Urin
merupakan salah satu cairan fisiologis yang sering dijadikan bahan untuk
pemeriksaan

(pemeriksaan

visual,

pemeriksaan

mikroskopis,

dan

menggunakan kertas kimia) dan menjadi salah satu parameter kesehatan
dari pasien yang diperiksa. Selain darah, urin juga menjadi komponen
yang penting dalam diagnosis keadaan kesehatan seseorang. Ada 3
macam

pemeriksaan,

antara

lain

(1)

pemeriksaan

visual.

Urin

mengindikasikan kesehatan yang baik bila terlihat bersih. Bila tidak, maka
ada masalah dalam tubuh. Kesehatan bermasalah biasanya ditunjukkan
oleh kekeruhan, aroma tidak biasa, dan warna abnormal. (2) Tes yang
menggunakan kertas kimia yang akan berganti warna bila substansi
tertentu terdeteksi atau ada di atas normal. (3) Hasil yang datang dari
pemeriksaan mikroskopis yang dilakukan untuk mengetahui apakah
kandungan berikut ini berada di atas normal atau tidak (Ganong, 2002).
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang
diekskresikan oleh

ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam

tubuh melalui prosesurinasi. Ekskreksi urin diperlukan untuk membuang
molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk
menjaga homeostasis cairan tubuh. Peranan urin sangat penting untuk
mempertahankan homeostasis tubuh, karena sebagian pembuangan
cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin (Murray dan Robert 2003).

Proses pembentukan urin meliputi tiga tahap. yaitu filtrasi glomerulus. peristiwa ini sebagian besar terjadi di tubulus proksimal. warna. Adanya mikrovili di tubulus proksimal akan meningkatkan luas permukaan yang bersentuhan dengan filtrat glomerulus sehingga meningkatkan proses reabsorbsi.amonia. urin memang tampak sedikit berbusa karena urin mengandung unsur-unsur tersebut. melalui epitelium tubulus ginjal ke dalam darah di kapiler peritubulus. Walaupun reabsorbsi tubulat terjadi di seluruh tubulus ginjal. protein. Penyaringan bahan-bahan ini melalui dinding kapiler kurang lebih sama seperti pada penyaringan yang terjadi pada ujung arteriol pada kapiler lain di seluruh tubuh. Hanya saja. Unsur-unsur tersebut sangat bervariasi perbandingannya pada orang yang berbeda dan juga pada waktu yang berbeda dan dipengaruhi oleh makanan yang kita konsumsi. bakteri. akan terjadi reaksi yang menyebabkan . sedimen. Kandungan urininilah yang menentukan tampilan fisik air urin seperti kekentalannya. jumlah zat tertentu diekskresikan melalui urin dapat lebih banyak daripada jumlahzat yang diperoleh melalui filtrasi plasma di glomerulus (Sloane 2004). kejernihan. Pembentukan urin dimulai ketika air dan berbagai bahan terlarut lainnya disaring melalui kapiler glomerulus dan masuk kekapsul glomerulus (kapsul Bowman). Sebagai hasilnya. Apalagi bila urin dicurahkan ke dalam tempat berwadah dari posisi tinggi. Sekresi tubular adalah proses dimana bahan-bahan diangkut dari plasma kapiler peritubulus menuju ke cairan tubulus ginjal. reabsorbsi glukosa terjadi terutama melalui dinding tubulus proksimal dengan cara transpor aktif.reabsorbsi tubular. bau. dan epitel. glukosa. Sebagai contoh. dan busa. dan sekresi tubular. Berbagai bagian dari tubulus ginjal berfungsi untuk mereabsorbsi zat yang spesifik. Pada keadaan normal. Air juga direabsorbsi dengan cepat melalui epitelium tubulus proksimal dengan osmosis. Urin yang kita keluarkan terdiri dari berbagai unsur seperti air. Reabsorbsi tubular adalah proses dimana bahan-bahan diangkut keluar dari filtrate glomerulus. kapiler glomerulus bersifat lebih permeabel karena adanya fenestrae pada dindingnya.

bau. Darah itu melalui pembuluh nadi ginjal masuk jaringan ginjal bercabang-cabang sampai menjadi kapiler dan mencapai suatu bangunan yang dinamakan glomerulus.urin tampak berbusa. yang bermuara pada bagian yang dinamakan colyx major dan dialirkan ke saluran ureter kemudian ke kandung kemih atau vesica urinaria (Wibowo.2005) Urea merupakan produk akhir normal dari metabolisme protein yang berbentuk padat. Akan tetapi.Hal ini terjadi pada keadaan infeksi. dari tubulus cairan disatukan menjadi satu saluran yang lebih besar. Memastikan adanya kelainan pada urin perlu diperhatikan beberapa hal seperti warna.2003). Urin sebagai limbah nitrogen yang mengandung urea tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. larut dalam air dan tak berwarna (Hart. Jika warna sangat merah menandakan adanya perdarahan yang hebat di saluran kemih (Ophart 2003). . Di saluran bagian dekat ujung terjadi penyerapan ulang lebih dari 90% cairan dari saluran itu ke dalam darah. dan kekentalan. atau meminum obat tertentu. Tubulus ini terdiri dari saluran panjang yang terbagi atas bagian pangkal (proksimal) dan ujung (distal).Warna yang memerah menandakan adanya darah yang bercampur dalam urin. Glomerulus beserta salurannya merupakan suatu system saluran tertutup. Dalam waktu 1 menit sekitar 20% darah manusia mengalir melewati ginjal untuk dibersihkan. Pembuluh kapiler yang berhubungan langsung menempel pada bagian glomerulus bagian dalam gelas glomerulus akan diserap cairannya sehingga mengisi saluran tubulus (renal-tubule). batu saluran kemih. tumor. pada kondisi tertentu dalam air urea mempunyai ion ammonium yang dapat berubah menjadi nitrit yang bersifat racun atau berubah menjadi ammoniak yang dapat mencemari udara (Pearce. Proses penyerapan (reabsorbsi) ini dibantu oleh hormone yang dinamakan anti diuretic hormone. luka.2003) dan merupakan produk akhir dari metabolisme protein . Selanjutnya. kejernihan.

1 ml larutan Na2CO3 2 %. Alat-alat yang digunakan pada praktikum urine kualitatif ini adalah tabung reaksi. pipet tetes. amonium molibdat. asam urat padat. Bahan. Tabung reaksi ditambah 1 ml larutan NaOH encer dan 1 ml CuSO4. cawan porselin. Benzidin. masing-masing tabung ditambahkan beberapa tetes fenol merah. larutan Na2CO3 2 %. Sebanyak 1 sendok kecil ureum padat dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dipanaskan dengan api kecil sampai menjadi cair. pereaksi obermeyer. Metode Senyawa Organik Dalam Urine Uji Biuret Terhadap Ureum. amoniak. fenolftalein. Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum urine kualitatif ini adalah sampel urine sapi Peranakan Ongole (PO). HNO3 pekat. CuSO 4. air suling. kaca. HCl encer. penjepit. . penangas air. tepung kedelai. Na2SO3 20 %. Na2CO3 padat. Sebanyak 2 tabung disiapkan. pereaksi Benedict.Materi dan Metode Materi Alat. api spirtus. NaOH 10 %. dan gelas ukur. ureum padat. Uji Enzimatik Terhadap Ureum. kalium okasalat. HNO3 pekat. asam pikrat. sampel urine PO abnormal. pada tabung 1 dimasukkan 2 ml urin dan pada tabung 2 dimasukkan 2 ml air. Pada kedua tabung. larutan AgNO3. mangkuk. dan khloroform. asam asetat. serbuk belerang. dan 1 ml asam asetat. kertas saring. warna yang terjadi dicatat. fenol merah. Setelah itu. larutan H 2O2. Perbedaan warna yang terjadi antara kedua tabung diamati. BaCl2. larutan NaOH encer. Larutan dipanaskan pada penangas air dengan suhu 60ºC selama 10 menit dan ditambahkan tepung kedelai dan digojog.

Asam urat dilarutkan dalam 1 ml larutan Na2CO3. Setelah itu. lalu warnanya dicatat. Ke dalam cawan porselin dimasukkan 3 tetes HNO 3 pekat dan 1 sendok asam urat padat. Sebanyak 1 ml asam pikrat jenuh ditambahkan 0. Kemudian larutan tersebut ditambahkan amoniak berlebihan dan perubahan yang terjadi dicatat. Uji Murexida. Setelah kering. . lalu dipanaskan dengan menggunakan api spirtus sampai timbul uap. Sebanyak 2 ml urine ditambahkan indikator fenolptalin dan sedikit larutan Na 2CO3 2 % sampai warna merah. Zat-Zat Anorganik Dalam Urine Uji Khlorida. Sebanyak 1 ml urine ditambahkan beberapa tetes HNO3 dan 1 ml AgNO3. Uji Terhadap Garam Amonium. sedangkan pada tabung 2 ditambahkan 3 ml urine. Pada tabung 1. ditambahkan 3 ml air. Kemudian uap tersebut ditampung dengan kaca yang telah dibasahi dengan fenolftalin. Kemudian perbandingan warnanya diamati dan dicatat. setelah itu. Kemudian larutan diteteskan ke atas kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan AgNO 3. Warna yang terdapat pada kaca diamati dan dicatat. Sebanyak 2 ml urine ditambahkan 2 ml larutan Benedict dan sedikit Na 2CO3 padat dan dipanaskan dengan api spirtus selama 5 menit. ditambahkan amoniak dan diamati perubahan warnanya Uji Daya Mereduksi Asam Urat. Larutan dibagi ke dalam 2 tabung.5 ml larutan NaOH 10 %.Uji Benedict Terhadap Garam Urat. warna yang terjadi dicatat. warna yang timbul dicatat. Uji Pikrat. Cawan Porselin dipanaskan pada penangas air sampai larutan menjadi kering.

larutan ditambahkan 1 tetes HNO3 pekat dan 3 tetes amonium molibdat. Uji Hay Untuk Garam Kholat. . Uji Sulfat. ditambahkan 1 ml urine abnormal. Haisl peercobaan diamati dan dicatat. Warna yang terjadi dibandingkan antara keduanya. lalu dipanaskan. lalu dipanaskan dengan menggunakan api spirtus sampai endapannya menjadi banyak. Endapan yang didapat dicuci dengan air dan ditambah 5 ml asam asetat 2 %. Sebanyak 1 ml HNO3 ditambahkan 1 ml urine abnormal.5 ml urine abnormal ditambahkan 3 ml larutan Benedict. Kemudian larutan dibagi ke dalam 2 tabung. Sebanyak 0.Uji Fosfat dan Kalsium. Sebanyak 10 ml urine ditambahkan 3 ml amoniak dan dididihkan dengan menggunakan water bath pada suhu 100ºC selama 10 menit. Hasil percobaan diamati. Keabnormalan Urine Uji Benedict Terhadap Urine Abnormal. Sebanyak 1 ml HNO3 pekat ditambahkan urine yang dialirkan melalui dinding tabung. Kemudian dididihkan menggunakan api spirtus. pada tabung 1 dimasukkan 1 ml urine abnormal. Kemudian serbuk belerang ditambahkan ke dalam masing-masing tabung. Uji Heller. sedangkan pada tabung 2 dimasukkan 1 ml air. Sebanyak 2 tabung disiapkan. lalu disaring. sedangkan pada tabung 2. Kemudian larutan dibagi dua. Sebanyak 1 ml urine ditambahkan beberapa tetes HCl encer dan 1 ml BaCl2. Pada tabung 1. Sebanyak 1 ml Benzidin ditambahkan 1 ml H2O2. Uji Benzidin Terhadap Pigmen Darah. lalu didinginkan. larutan ditambahkan 3 tetes kalium oksalat dan diamati. kemudian dicatat apa yang terjadi. Pada tabung 1. larutan ditambahkan 1 ml urine normal. Lapisan yang terbentuk diamati dan dicatat apa yang terjadi. Uji Gmelin Terhadap Pigmen Empedu. Warna yang terjadi dan serbuk belerangnya diamati. Pada tabung 2.

NaOH. maka dihasilkan perubahan warna larutan dari kuning bening menjadi hijau keunguan. yaitu urine pada tabung 1 dan air pada tabung 2. Hal ini menandakan bahwa pada senyawa ureum dalam urine terdapat ikatan peptida. Hal ini disebabkan tepung kedelai yang . Sedangkan pada tabung 2 yang berisi air. Pada tabung 1 saat penambahan tepung kedelai terjadi perubahan warna dari merah menjadi kuning. Hasil percobaan pada tabung 1 yang berisi urine menunjukkan terjadinya warna merah muda saat penambahan fenol merah dan Na2CO3 2 %. dan CuSO4 ke dalam tabung reaksi. Dari hasil pencampuran antara ureum.Prinsip uji biuret adalah ikatan peptida dapat membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus –CO dan –NH berwarna ungu dengan penambahan garam kupri dalam suasana basa (Carpette. warna larutan berubah menjadi merah dan terdapat endapan tepung kedelai. kemudian saat larutan dipanaskan menggunakan penangas air pada suhu 60ºC warnanya berubah menjadi merah kecoklatan. Uji enzimatik pada ureum dilakukan pada dua sampel yang berbeda. 2005) Uji Enzimatik Terhadap Ureum. lalu digojog. Setelah ditambah dengan tepung kedelai. warna larutan berubah menjadi warna merah muda ketika ditambahkan fenol merah dan Na2CO3 2 %. kemudian saat larutan dipanaskan menggunakan penangas air pada suhu 60ºC warnanya tidak berubah (tetap berwarna kuning) begitu juga pada saat penambahan tepung kedelai warnanya juga tetap kuning. namun setelah ditambahkan asam asetat 2 % warna larutan tersebut berubah menjadi oranye. Dari percobaan ini. terlihat adanya perbedaan antara tabung 1 dan tabung 2. namun setelah ditambahkan asam asetat 2 % warna larutan tersebut berubah menjadi ungu. Hal ini terjadi karena adanya ikatan antara Cu 2+ dengan N yang berasal dari ureum menjadi CuN yang menyebabkan warna larutan berwarna ungu.Hasil dan Pembahasan Senyawa Organik Dalam Urine Uji Biuret Terhadap Ureum.

lalu dipanaskan. Endapan Cu2O berwarna merah bata (Poedjiadi. yaitu hidrolisis urea dalam urine oleh urease yang terdapat pada tepung kedelai (Poedjiadi. namun hal ini telah menandakan bahwa uji Benedict positif karena hasil akhir warna larutan telah berubah.1994) Sedangkan pada tabung 2 setelah penambahan tepung kedelai tidak mengalami perubahan warna karena di dalam air tidak terkandung urea sehingga tidak ada reaksi enzimatik antara urease pada tepung kedelai dengan air. bukan warna biru (warna benedict). Sehingga terjadi reaksi enzimatik. Setelah urine ditambah dengan larutan Benedict dan Na 2CO3 padat. Uji Benedict Terhadap Garam Urat. Reaksi yang terjadi tabung 1. Asam dialurat dan alloxan akan berkondensasi . Hal ini menandakan bahwa terdapat murexida di dalam asam urat. Pada uji ini dilakukan penambahan HNO 3 pekat ke dalam asam urat padat dan dianaskan akan berwarna hitam keunguan. kemudian membentuk Cu2O dan mengendap.1994).1994). Pada percobaan ini digunakan suhu 60ºC karena suhu ini merupakan suhu optimum dari enzim urease (Poedjiadi.mengandung enzim urease bereaksi dengan urea yang terdapat pada urine. urin NH2 C =O urease 2NH2 + CO2 (NH4)2CO3 NH2(H2O) (urea) (Poedjiadi. Setelah ditambahkan amoniak warnanya berubah menjadi warna violet kemerah-merahan. warna larutan berubah menjadi warna hijau dan di dalam tabung terdapat endapan putih. Benedict dapat digunakan untuk menguji kemampuan mereduksi garam urat karena Benedict mengandung CuSO 4. Asam urat dioksidasi oleh HNO3 pekat mengahsilkan asam dialurat dan alloxan. Cu2+ dari CuSO4 direduksi menjadi Cu+. Uji Murexida. bukan endapan merah bata.1994). Urine mengandung garam urat.

Kadar normal asam urat dalam darah adalah 2-3 mg tiap 100 cc. Warna merah jingga pada urine menunjukkan adanya kreatinin pikrat yang terjadi karena kreatinin berikatan dengan pikrat jenuh. . kertas saring akan terdapat noda hitam. Uji daya mereduksi asam urat dilakukan dengan melarutkan asam urat menggunakan larutan Na 2CO3 sehingga terjadi endapan putih. 2003). Pungujian ini dilakukan dengan membandingkan air dengan urine. Uji Daya Mereduksi Asam Urat. Produk metabolisme lain mencakup benda-benda purine. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui adanya kreatinin dalam urine.5-2 mg (Ganong. Uji Pikrat. 2003). Setelah larutan tersebut diteteskan di atas kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan AgNO 3.1994). Hal ini menunjukkan bahwa di dlama air tidak mengandung kreatinin. Hal ini menunjukkan bahwa asam urat mampu mereduksi Ag+ dari AgNO3 menjadi Ag. sedangkan pada urine mengandung kreatinin. 2003). dan sulfat (Ganong. kemudian pada masing-masing tabung ditambah asam pikrat jenuh dab NaOH 10 %. Berdasarkan percobaan diperoleh hasil timbul uap warna merah yang terdapat pada kaca yang telah dibasahi dengan fenolftalin. Uji Terhadap Garam Amonium. Pada tabung 1 diisi dengan air dan tabung 2 diisi dengan urine. Kreatin adalah hasil buangan kreatinin dalam otot. Pengujian terhadap garam amonium ini dilakukan untuk mengetahui adanya garam amonium dalam urine. Dari percobaan ini diperoleh pada tabung 1 terbenuk larutam berwarna kuning dan pada tabung 2 menunjukkan warna larutan jingga.membentuk alloxantin. Warna merah ini menunjukkan adanya garam amonium atau gas NH 3 yang mudah menguap (Ganong. oxalat. Alloxantin akan berubah menjadi amonium purparat (murexida) setelah ditambah dengan amoniak (Poedjiadi. fosfat. sedangkan yang diekskresikan ke dalam urine adalah 1.

2003) Uji Fosfat dan Kalsium. dan BaCl2. pada tabung 1 ditambah amonium molibdat dan HNO 3 pekat lalu dipanaskan maka warnanya menjadi kuning pekat dan terdapat endapan. Uji Sulfat. HNO3 pada percobaan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya perak fofat Terbentuknya endapan AgCl (endapan putih) menunjukkan adanya ion Cl yang berasal dari urine diikat oleh Ag+ dari AgNO 3. Warna larutan akan menjadi putih keruh. Terbentuknya endapan pada tabung 2 karena urine pecah bertemu dengan kalium oksalat. endapan putih tadi larut kembali. Berdasarkan dari percobaan. HCl encer. oksalat mengikat kalsium yang ada pada urine sehingga menjadi kalsium oksalat (Ganong. Setelah larutan dibagi dua. Jika urine direaksikan dengan HCl dan BaCl2 maka sulfat yang terdapat di dalam urine akan dilepas oleh HCl dan . Warna yang keruh pada tabung menandakan adanya endapan kalsium oksalat.Zat-Zat Anorganik Dalam Urine Uji Khlorida. Setelah urine dicampur dengan HNO 3 dan AgNO3. Uji sulfat dilakukan dengan mencampurkan antara urine. 2003). Sedangkan pada tabung 2 ditambah kalium oksalat. Dari hasil percobaan terbentuk endapan putih. Warna yang keruh pada tabung menandakan adanya endapan. AgCl + NH4OH AgOH + NH4Cl (Ganong. Endapan putih ini adalah endapan BaSO 4. pada tabung terbentuk endapan putih (AgCl) dan setelah larutan tersebut ditambah dengan amoniak berlebihan. 2003). Penambahan amoniak akan mengurangi endapan AgCl (Ganong. endapan yang telah ditambah dengan asam asetat haslnya menunjukkan warna kuning dengan tidak ada endapan.di dalam urine. Endapan ini merupakan amonium fosfo molibdat. Hal ini menunjukkan adanya kandungan SO4. Terbentuk endapan pada tabung 1 disebabkan warna kuning dari urine dengan HNO3 pecah dan ada unsur fosfor yang terikat oleh amonium molibdat menjadi amonium fosfo molibdat.

1994). Uji Heller. tetapi jika berlangsung lama.sulfat tersebut akan diikat oleh Ba sehingga membentuk endapan BaSO 4 (Ganong. Hal ini menandakan bahwa uji Benedict terhadap urine abnormal adalah negatif. warna larutan menjadi putih bening. Uji ini dilakukan degan mencampurkan urine PO abnormal dengan HNO3 pekat sehingga hasilnya terbentuk cincin yang berwarna putih pada permukaan larutan. Hal ini dikarenakan kurangnya pemanasan. sedangkan jika ditambahkan urine abnormal. Setelah urine sapi PO abnormal dicampurkan dengan larutan Benedict. Saat ditambahkan urine normal. Warna biru pada penambahan urine abnormal menandakan bahwa adanya pigmen darah. Uji Benzidin terhadap pigmen darah dilakukan dengan mencampurkan Benzidin dengan H 2O2. 2003). denaturasi akan berlangsung terus-menerus sampai cincin putih menghilang (Ganong. Gugus reduksi mampu mengubah ion Cu2+ menjadi ion Cu+ berupa endapan Cu2O yang berwarna merah bata (Poedjiadi. . 2003). larutan menjadi biru kekuningan kemudian dididihkan namun tidak terbentuk endapan merah bata. Urine akan terpecah oleh H2O2. Namun secara teori. Uji Benzidin Terhadap Pigmen Darah. warna larutan tidak berwarna biru karena pada urine normal tidak mengandung pigmen darah. Adanya gugus reduksi dari urine yang terikat dengan Cu 2+ dari Benedict akan membentuk endapan merah bata (Cu 2O). warna larutan berubah menjadi kuning pekat. Keabnormalan Urine Uji Benedict Terhadap Urine Abnormal. Jika terdapat Hb maka O2 akan diikat membentuk HbO2 dan bereaksi dengan Benzidin sehingga akan membentuk warna biru (Poedjiadi. Urine pecah kemudian mengalami denaturasi oleh HNO3. Hal ini menandakan bahwa di dalam urine terkandung albumin (protein). Protein albumin jika terkena asam pekat (HNO3) akan terjadi denaturasi protein di permukaan. Ketika larutan tesebut ditambahkan dengan urine normal.1994).

sedangkan pada tabung 2 yang berisi air tidak terdapat endapan belerang. Pada tabung 2 dimana urin abnormal. Uji hay pada tabung 1 yang berisi urine PO abnormal dihasilkan endapan belerang (belerang mengendap). Pigmen-pigmen empeduseperti bilirubin.Uji Gmelin Terhadap Pigmen Empedu. Garam kholat berfungsi untuk (Poedjiadi. akan berwarna kuning bening. Pada tabung 3. urobilin. ungu. serbuk tidak mengendap artinya tidak terdapat garam kholat. Pada tabung 1 dimana urin normal ditambahkan HNO3 pekat. biru. menurunkan tegangan permukaan pada larutan . kuning kemerahan. Mengendapnya belerang di sini menandakan bahwa di dalam urine abnormal terdapat garam kholat. akan berwarna putih keruh. biliverdin. merah. 1994). sebab HNO3mengkondensasi pigmen empedu yang terdapat dalam urine. Hal ini membuktikan Urine + HNO3membentuk warna hijau. Uji Hay Untuk Garam Kholat. urine normal dan serbuk belerang. atau urobilinogen. Belerang pada tabung 2 tetap berada di atas permukaan air.

Uji Benzidin terdapat pigmen darah. Pada uji sulfat dihasilkan endapan BaSO4. Pengujian keabnormalan urin. Pengujian garam amonium terdapat ammonium dalam urin. Uji enzimatik terjadi hidrolisis urea.Pada uji hay terbentuk endapan belerang Percobaan mengenai kualitas dalam urine ini dilakukan pada dua sampel urine sapi yang berbeda. pada uji khlorida terdapat endapan putih (AgCl).Uji Gmelin terdapat pigmen empedu. Pada uji Benedict terhadap garam urat menunjukkan hasil positif.Pada uji fosfat dan kalsium pada tabung 1 dihasilkan endapan kuning (amonium fosfo molibdat) dan pada tabung 2 dihasilkan endapan putih (kalsium oksalat). Uji Heller ditandai dengan terbentuknya cincin putih . Pengujian zat anorganik dihasilkan. . Uji pikrat terdapat kreatinin di dalam urine.Pengujian Murexida terdapat murexida (amonium purparat) pada asam urat. dihasilkan pada uji Benedict hasilnya positif. yakni sapi Peranakan Friesian Holdstein (PFH) dan sapi Peranakan Ongole (PO). pada uji biuret terhadap ureum dihasilkan warna ungu.Kesimpulan Pengujian mengenai senyawa organik dihasilkan.

2004. H. Press:Yogyakarta. 2003. K. Carpette. 2003. 2005. Sloane . Ophart. Jakarta . Great Britany : Mc Graw Hill Book Company. Hart. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Penerbit Universitas Indonesia. Poedjiadi.Daftar Pustaka Ganong. An Introduction to Practical Biochemistry.E. E. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta. Vitrual Chembook. Elmhurst College : Jakarta. A. Erlangga :Jakarta. Wibowo. Biokimia Harper. dkk. 1994. 2002. Murray dan Robert. EGC : Jakarta.2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. E. S.Buku Kedokteran.C. Pearce. Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Gadjah Mada University. D. Anatomi Tubuh Manusia. 2003. Kimia Organik. Fisiologi Kedokteran. 2005. Dasar-Dasar Biokimia.