Anda di halaman 1dari 22

PERHITUNGAN VOLUME PONDASI

Bentuk trapesium dengan panjang total pondasi adalah 35 m lebar atas pondasi 30 cm sedangkan lebar bawah
pondasi 60 cm dan tinggi 70 cm dan panjang pondasi 35m.
pertama kali kita lihat item pekerjaan yang ada pada pekerjaan pondasi tersebut yaitu:
1.

Pekerjaan Bowplank

2.

Pekerjaan galian tanah

3.

pekerjaan urugan pasir

4.

Pekerjaan pasangan pondasi batu kali 1:5

Pekerjaan Bowplank
volumenya 35 m
kayu = 0.01 m3 x 35 = 0.35 m3
paku 0.02kg x35 = 0.7 kg dibulatkan 1 kg
Bowplank ini digunakan untuk pengukuran dan kesikuan letak pondasi agar sesuai dengan
perencanaan.

Pekerjaan galian tanah

volume galian tanah = ((0.6+0.9)/2)x0.75= 0.5625


volume total galian tanh=0.5625 x35=19.6875 m3
tidak membutuhkan material pada situasi tertentu yang mengalami kesulitan dalam melakukan
pembuangan hasil galian tanah maka diperlukan upaya khusus dalam mengatasinya seperti
merencanakan suatu area konstruksi yang memerlukan urugan tanah hal ini biasa disebut sebagai
cutting fill.

Pekerjaan urugan pasir


Volume urugan pasir = 0.60.05 = 0.09
volume total pasir= 0.09 x35 = 3.15
pasir urug = 1.05 m3 x 3.15 = 3.3075 m3
Jumlah pasir 1 truck rata-rata adalah 4m3 jadi kita bisa membeli satu truck pasir untuk pekerjaan
pondasi tersebut, namun masing-masing truck mempunyai volume yang berbeda-beda.

Pekerjaan Pasangan batu kali 1:5


Luas penampang trapesium pasangan batu kali =((0.6+0.3)/2)x0.7= 0.315 m2
volume total pasangan batu kali =0.315 x35 = 11.025 m3
batu kali = 1.2 m3 x 11.025 = 13.23 m3
Pasir = 0.54 m3 x 11.025 = 5.9535 m3
Semen = 2.68 zak x 11.025 = 29.547 zak dibulatkan 30 zak

Pekerjaan urugan tanah kembali


volume urugan tanah kembali = 19.6875 11.025 3.3075
tanah diambil dari bekas galian jadi menurut perhitungan di atas maka volume material yang
dibutuhkan adalah

pasir = 3.3075 + 5.9563 = 9.2638 m3

batu kali = 13.23 m3

semen = 30 zak

paku = 1 kg

papan bowplank = 0.35 m3

MENGHITUNG KEBUTUHAN BEGESTING.


Cari luas begesting , untuk sloof begestingnya hanya kiri dan kanan, tinggi sloof 20 cm, maka begesting sisi kiri
dan kanan membutuhkan masing-masing tinggi 20 cm, tinggi total yang dibutuhkan 20 cm x 2 = 40 cm, atau 0,4
m. maka luas begesting 0,4 m x panjang sloof 64 m= 25,6 m2.
Luas begesting sloof yang kita hitung adalah 25,6 m2
Kebutuhan Material Kayu Begesting = 0,045 x 25,6 = 1,152 m3
analisa ini diambil rata2 sloof bila akan akurat kebutuhan begesting sloof dihitung berdasarkan tinggi sloof.
Tinggi sloof 20 cm bila menggunakan papan 2/20 x 3 m = maka
jumlah papan yg di butuhkan = panjang total sloof / panjang papan x 2 = (64 m/ 3 m) x 2 = 42,7 lembar atau 43
lembar. Penggunaan begesting sloof biasanya tdk di butuhkan semua, karena dikerjakan secara bertahap.
Sehingga tidak harus menyediahkan papan begesting secara keseluruhan, karena untuk pekerjaan berikutnya
bisa menggunakan begesting yg lalu.
Paku = 0,3 x 25,6 = 7,7 kg Minyak begesting bisa digunakan bisa juga tidak, fungsinya agar beton tidak
menempel pada papan begesting
Kebutuhan Tenaga Pekerja = 0,52 x 25,6 = 13,3 orang Tukang Kayu = 0,26 x 25,6 = 6,7 0rang Kepala tukang =
0,026 x 25,6 = 0,67 0rang Mandor = 0,026 x 25,6 =0,67 0rang

Rumus jumlah kebutuhan triplek = luas bekisting : luas triplek


Contoh 1= Kebutuhan bekisting triplek untuk plat lantai
Misalnya kita akan membuat plat beton bertulang ukuran 4m x 6 m, jadi luas lantai yang akan kita cor
adalah 24m2, kita pakai triplek ukuran 1,22 m x 2,44 m berarti luas satu triplek adalah 2,9768 m2. jadi
jumlah triplek yang diperlukan 24m2 : 2,9768 m2 = 8,06 lembar. untuk plat lantai bisa menggunakan
triplek dengan ketebalan 8mm.
Contoh 2 = Keperluan triplek untuk bekisting balok
Misalnya kita akan membuat balok ukuran 0,25 m x 0,6 m sepanjang 6 m. langkah pertaman kita cari
luasan sisi balok yang akan dipasang bekisting yaitu bagian bawah dan dua sisi samping, luasnya yaitu
(0,25m x 6m) + (0,6m x 6m) + (o,6m x 6m) = 8,7m2. kitagunakan triplek 1,22mx2,44m dengan luas
2,9768m2 per lembar. jadi triplek yang dibutuhkan yaitu 8,7m2 : 2,9768m2 = 2,9 lembar, untuk membuat
balok memakai triplek 8mm.
Contoh 3 = Keperluan triplek pada bekisting kolom
Contohnya kita buat kolom ukuran 0,4mx0,4m setinggi 4m, ada empat sisi kolom yang akan dipasang
bekisting triplek, jadi luasnya adalah 4bh x 0,4m x 4m = 6,4 m2. maka kebutuhan tripleknya sebanyak
6,4m2 : 2,9768m2 = 2,1 lembar triplek ukuran 1,22mx 2,44m dengan tebal 12 mm.

Untuk penggunakan bekisting struktur lainya atau dengan variasi bentuk yang lain bisa disesuaikan cara
menghitung luasanya, dalam membeli triplek sebaiknya dilebihkan dari perhitungan sebagai cadangan

kalau kurang karena adanya faktor salah potong, kehilangan atau yang lainya, harga triplek 8mm, dan 12
mm bervariasi sekitar sekian ratus ribuan, jika ingin mendapatkan harga yang lebih murah bisa mmakai
yang bekas atau triplek BS, demikian informasi sederhana ini semoga bermanfaa

MENGHITUNG KEBUTUHAN BESI


Lihat gambar sloof ukuran 15/20 dengan besi beton diameter 10 mm sebanyak 6 bh, begel diameter 8mm
berjarak 10 cm dengan oanjang total sloof 64 meter. Hitung besi beton utama yaitu diameter 10 mm sebanyak 6
bh, makan total panjang besi beton diameter 10 mm = 6 bh x 64 meter = 364 meter dijadikan batang di bagi 12
meter = 32 batang. Menghitung kebutuhan begel , begel d 8 mm berjarak 10 cm, bagel yang dibutuhkan adalah
64 m/ jarak begel 10 cm = 64/0,1 = 640 bh begel, setiap begel panjangnya = tinggi sloof 20 cm 5 = 15 cm x
2(kiri kanan) = 30 cm,(5 cm selimut beton kiri kanan), lebar sloof 15 cm-5 cm =10 cm x 2 (atas bawah)= 20 cm,
maka panjang begel 30 cm + 20 cm + 5 cm (tekukan besi) = 55 cm ( 0, 55 m), sehingga setiap 1 begel
membutuhkan 0,55 meter, jumlah begel yg dibutuhkan sebanyak 640 bh, maka panjang besi diameter 8 mm
diperlukan sebanyak 640 bh x 0,55 = 352 meter di bagi panjang besi setiap batang 12 meter = 29, 3 batang.
Sebelum ke analisa pekerjaan kita hitung berat besi terlebih dahulu . Diameter 10 mm panjang total 364 m x
berat permeter 0,62 kg = 225,68 kg Diameter 8 mm panjang total 352 m x berat permeter 0,393 kg = 138,3 kg
Total berat besi = 364 kg.

langkah perhitungan kebutuhan besi beton pada konstruksi tersebut


menghitung kebutuhan besi tulangan pokok

volume besi D10 adalah 4 bh x 6 m = 24 m

jika panjang besi perbuah dipasaran adalah 11 m maka kebutuhan besi adalah 24 m : 11 m = 2.18
buah (*panjang besi dipasaran ada yang 11m dan ada juga yang 12m).

berat per m besi D10 adalah 0.617 kg maka total kebutuhan besi D10 adalah 0.617 kg/m x 24 =
14.808 kg

Menghitung kebutuhan besi tulangan sengkang atau cincin

panjang tulang sengkang perbuah adalah 25+15+25+15+5+5 = 90 cm = 0.9 m

jumlah tulangan sengkang pada kolom setinggi 6 m dengan jarak pemasangan 15 cm adalah 6 :
0.15 = 40 buah besi tulangan sengkang.

total panjang besi tulangan sengkang adalah 40 bh x 0.9 m = 36 m

jka panjang besi perbuah dipasaran 11 m maka kebutuhan besi tulangan sengkang 36 : 11 = 3.27
buah

berat besi per kg besi D8 pada tabel adalah 0.395 kg maka jumlah kebutuhan besi adalah 0.395
kg/m x 36 m = 14.22 kg

Dari perhitungan diatas maka kebutuhan besi tulangan nya adalah

Besi D10 = 2.18 batang = 14.808 kg

Besi D8 = 3.27 batang = 14.22 kg

beton sebesar 0.20.36 = 0.36 m3

Penjelasan mengenai cara menghitung kebutuhan Beton


jumlah material beton yang kita perlukan dapat dilihat panduanya pada artikel cara menghitung kebutuhan
cor beton . pada pekerjaan kolom praktis diatas dapat kita hitung volumenya yaitu : lebar 0,2m x panjang
0,3m x tinggi 6m = 0,36 m3.

Demikian salah satu cara perhitungan volume besi, untuk lebih mudahnya sekarang ini sudah banyak
software untuk menghitung besi baik memakai excel atau yang lainya, semoga berguna ya

Pada gambar diatas bisa kita lihat suatu pondasi dengan Luas P= 1.35m L= 1.35m t= 0.3m
dengan selimut beton 5cm. disini yang akan kita hitung hanya kebutuhan besinya saja.
- Diketahui :
- Tulangan atas
- Diameter 16mm
- Panjang 1.45 meter (panjang beton - selimut beton + kaitan)
- Jumlah 6 batang
Panjang keseluruhan tulangan atas adalah 1.45 m x 6 btg = 8.7 m
Berat keseluruhan tulangan atas adalah 8.7 m x 1.58 Kg = 13.746 Kg
- Tulangan bawah
- Diameter 13mm
- Panjang 1.45 meter (panjang beton - selimut beton + kaitan)
- Jumlah 6 batang
Panjang keseluruhan tulangan atas adalah 1.45 m x 6 btg = 8.7 m
Berat keseluruhan tulangan atas adalah 8.7 m x 1.04 Kg = 9.048 Kg
nb: untuk berat besi permeter dapat dilihat di tabel berat besi
Karena dalam penjualan besi di pasaran 1 btg = 12 m maka besi yang harus kita beli adalah
V= 8.7m / 12m = 1 btg besi diamater 16 dan 1 btg besi diameter 13.
Jika membeli besi dalam satuan Kg maka 1btg x 12m x 1.58 = 18.96 kg untuk besi diameter
16 sedangkan untuk diameter 13 adalah 1btg x 12m x 1.04 = 12.48 Kg

Pertama-tama hitung total panjang sloof, misal didapat 85 meter, kemudian cari volume yaitu 0,2 m x 0,15 m x
85 m = 2,55 m3.

Sedangkan Untuk menghitung kebutuhan material sloof ada 3 item pekerjaan yaitu : material beton, material
besi, material begesting.
a. Contoh Beton campuran digunakan mutu beton K-150

Untuk mutu beton ada beberapa macam mulai dari B0,K100,K 125,K 150,K175,K 225,K
300.Semakin tinggi angka kualias beton,semakin tinggi pula mutu dan kualitas beton itu sendiri.

Disini penulis menggunakan mutu beton K 150, karena untuk pembuatan beton dengan cara manual
lebih mudah mencapai K 150, sedangkan untuk mutu diatasnya harus dengan pengawasan yg teliti.

Kebutuhan Material :
1. semen = 2,55 m3 x 299 kg = 762,45 kg ( pc 40 kg = 19,06 zak).
2. Pasir = 2,55 m3 x 799 kg = 2.037,45 kg (Bj =1,6) = 1,3 m3
3. Krikil = 2,55 m3 x 1.017 kg = 2.593,35 kg (Bj = 1,9)= 1,4 m3
Kebutuhan Tenaga :
1. Pekerja = 2,55 m3 x 1,65 = 4,21 OH
2. Tukang = 2,55 m3 x 0,275= 0,7 OH
3. Kep.Tukang = 2,55 m3 x 0,03 = 0,08 OH
4. Mandor = 2,55 m3 x 0,083 = 0,212 OH

Ket : Angka 1.65, 0.275, 0.03, 0.212 adalah koefisiensi analisa harga berdasarkan Standart Nasional
Indonesia (SNI).

b. Pembesian (perhitungan dg besi polos)

KebutuhanMaterial : 1. Tulangan pokok 4 d 10 (4 bh tulangan diameter 10 mm)

Pajang total sloof 85 meter


Besi beton yang diperlukan 4 bh x 85 meter = 340 meter /12 meter (panjang 1 batang besi beton standar
12 meter) = 28,33batang atau 28,33 batang x 7,4 kg = 209,7 kg.

Tulangan begel/pembagi d 8 15 (diameter 8 mm berjarak 15 cm atau 150 mm)


Panjang Total sloof 85 meter
Jumlah begel yg diperlukan 85/0,15 (diubah dalam kedalam satuan m = 15 cm = 0.15 m) = 566,7 =567 bh.
Panjang 1 bh besi begel = {(215)+(220)}-{(22)+(22)}+5cm = 67 cm.

Angka 15 cm adalah lebar sloof atas bawah, 20 cm tinggi sloof kiri kanan , 2 cm selimut beton atas bawah
kiri kanan, 5 cm pembengkokan ujung.
Total kebutuhan panjang besi untuk begel = 567 bh x 0,67 m = 379,9=380 meter/12 = 32 batang x 4,74 kg
= 151,7 = 152 kg.
Total kebutuhan besi beton untuk membuat sloof sepanjang 85 meter = 209,7 kg + 152 kg = 361,7 kg
Kebutuhan kawat bindrat 10% dari berat besi beton = 3,61 kg = 4 kg.
Kebutuhan Tenaga :
1. Pekerja = 361,7 kg x 0,007 = 2,5 OH.
2. Tukang = 361,7 kg x 0,0007 = 0,25 OH
3. Kep.Tukang = 361,7 kg x 0,00007 = 0,025OH
4. Mandor = 361,7 kg x 0,0004 = 0,145 OH
c. Begesting/Mall (Kayu cetakan beton)
Kebutuhan Material :
Luas begesting = (85 m x 0,2 m)x 2 = 34 m2
1. Papan 2/20x3m = 34 x 1,7 lbr = 57,8 lbr
2. Paku 2-5 = 34 x 0,3 kg = 10,2 kg
Untuk material papan dari kebutuhan 57,8 lbr, tidak harus dipenuhi semua cukup 50% dari kebutuhan total,
karna pengerjaan sloof biasanya tidak dikerjakan serentak, sehingga papan yg sudah dipakai dapat
digunakan kembali.
Kebutuhan Tenaga :
1. Pekerja = 34 m2 x 0,52 OH = 17,68 OH
2. Tukang = 34 m2 x 0,26 OH = 8,84 OH
3. Kep.Tukang = 34 m2 x 0,026 OH = 0,884OH
4. Mandor = 34 m2 x 0,026 OH = 0,884OH
Jadi,,Total kebutuhan untuk membuat sloof sepanjang 85 meter :
Material :
1. PC (semen 40 kg/zak) = 19 zak .
2. Pasir = 2.037,45 kg (1,3 m3)
3. Split (koral/krikil) = 2.593,25 kg (1,4 m3)
4. Besi beton d 10 mm = 28,33 btg/ 29 batang
5. Besi Beton d 8mm = 32 batang
6. Bindrat = 4,3 kg
7. Papan 2/30x3m = 57,8 lbr
8. Paku = 10,2 kg

Upah :
1. Pekerja = 24,39 OH
2. Tukang = 9,79 OH
3. Kep.Tukang = 0,989 OH
4. Mandor = 1,2 OH
Maka untuk setiap 1 m sloof dengan dimensi dan penulangan seperti gambar diatas kebutuhan Material
dan upah adalah :
Material :
1. PC (semen 40 kg/zak) = 0,224 zak .
2. Pasir = 0,02 m3
3. Split (koral/krikil) = 0,02 m3
4. Besi beton d 10 mm = 0,333 batang
5. Besi Beton d 8mm = 0,377 batang
6. Bindrat = 0,051 kg
7. Papan 2/30x3m = 0,68 lbr
8. Paku = 0,12 kg
Upah :
1. Pekerja = 0,29 OH
2. Tukang = 0,94 OH
3. Kep.Tukang = 0,0116 OH
4. Mandor = 0,0141 OH

Kebutuhan Semen pada beton bertulang


Semen merupakan zat utama pembentuk beton sehingga campuran air, kerikil, dan pasir bisa mengeras dan
digunakan untuk struktur bangunan. Semen dipasaran atau toko bangunan biasanya 1 zak sama dengan 50
kg. Cara menghitung kebutuhan semen kita lakukan terhadap satuan kilogram kemudian dikonversi
menjadi jumlah zak.

Sebagai contoh panjang sloof adalah 6 meter. Ukuran penampangnya adalah lebar 15 cm dan tinggi 20 cm.
Campuran beton dengan perbandingan 1 PC : 2 PS : 3 Kr. Pertama yang perlu dihitung adalah volume
beton.
volume = 6 x 0.15 x 0.2 = 0.18 m3
kebutuhan semen dengan campuran K125 dalam 1 m3 = 276 kg sesuai dengan SNI 2008.
Kebutuhan semen pada sloof = 276 x 0.18 = 49.68 kg.

Kebutuhan Pasir pada beton bertulang


Pasir merupakan agregat halus yang digunakan sebagai komposisi filler pada beton yang dapat
menyumbang kuat tekan beton yang cukup besar. Biasanya pasir di pasaran dalam bentuk satuan kubik.
volume = 6 x 0.15 x 0.2 = 0.18 m3
kebutuhan pasir dengan campuran K125 dalam 1 m3 = 828 kg sesuai dengan SNI 2008.
Kebutuhan pasir pada sloof = 828 x 0.18 = 149,4 kg
berat jenis pasir = 1400 kg/m3 maka apabila dikonversi ke m3 menjadi 149,4/1400 = 0.1 m3

Kebutuhan Kerikil pada beton bertulang


kerikil merupakan agregat kasar yang digunakan sebagai campuran pokok beton yang dapat menyumbang
kuat tekan beton yang cukup besar. Biasanya kerikil di pasaran dalam bentuk satuan kubik. Ukuran kerikil
antara 20 mm sampai 30 mm.
volume = 6 x 0.15 x 0.2 = 0.18 m3
kebutuhan kerikil dengan campuran K125 dalam 1 m3 = 1012 kg sesuai dengan SNI 2008.
Kebutuhan kerikil pada sloof = 1012 x 0.18 = 182 kg
berat jenis kerikil = 1350 kg/m3 maka apabila dikonversi ke m3 menjadi 182/1350 = 0.13 m3

Setelah anda dapat menghitung volume kebutuhan pasir, semen, dan kerikil pada sloof. Pada artikel
selanjutnya yang berjudul menghitung tulangan pada beton bertulang dengan excel akan dijelaskan
perhitungan kebutuhan besi betonnya. semoga bermanfaat.

Gambar balok sloof

Contoh sebuah balok sloof ukuran 15 cm x 20 cm, menggunakan besi tulangan pokok 4 buah diamater 10
mm, besi senkang diamater 8 mm dipasang setiap jarak 20 cm. Panjang pekerjaan balok sloof adalah
33,33m. berapa jumlah kebutuhan beton dan besi untuk struktur tersebut?

Kebutuhan besi pada balok sloof


Berat besi per m dapat dilihat pada tabel berat besi atau dihitung secara manual dengan cara mengalikan
berat jenis besi dengan luas penampang.

Berat besi dimater 8 polos per meter = 0,4 kg.

Berat besi polos diamater 10 mm per meter = 0,62 kg.

Volume besi tulangan pokok 4 buah, diameter 10 mm, panjang 33,33 m maka kebutuhan totalnya adalah

V = 4 bh x 33,33 m =133,32 m.

Untuk mengetahui volume dalam satuan berat maka kita kalikan dengan berat besi diamater
10mm per meter yaitu 0,62 kg. jadi kebutuhanya adalah 0,62 kg/m x 133,32 m = 82,6584 kg.

Jika panjang besi perbatang 11 m, maka kebutuhan dalam satuan panjang adalah 133,32 m : 11 m
=12,12 btg, dibulatkan menjadi 13 batang.

Volume besi tulangan sengkang diameter 8 mm, dipasang setiap jarak 20 cm, panjang pekerjaan sloof
33,33 m. selimut beton 2,5 cm.

Panjang 1 buah sengkang adalah 0,1+0,15+0,1+0,15+0,05+0.05 = 0,6 m.

Jumlah sengkang yang dibutuhkan yaitu 33,33 m : 0,2 m = 166,65 jadi 167 buah.

Jumlah total panjang sengkak = 0,6 m x 167 bh = 100,2 m.

Volume besi dalam kilo gram = 0,4 kg/m x 100,2 m = 40,08 kg.

Jumlah kebutuhan besi dalam satuan batang = 100,2 m : 11 m = 9,109 dibulatkan menjadi 10
batang.

Mari kita mulai menghitung volume pekerjaan dinding, dan perhatikan gambar di atas. Untuk menghitung
volume pekerjaan dinding sebenarnya kitatinggal mengambil data yang sudah kita hitung sebelumnya.
Panjang pasangan dinding =(123 M) panjang sloof - 12 M (pagar depan atas-bawah) = 111 M (sudah kita
hitung : lihat di sini..).
1. Menghitung volume pek. pasangan bata merah
Volume pekerjaan pasangan dinding = Luas pasangan dinding - luas kusen pintu dan jendela.
Luas pasangan dinding = 111 M x 3 M (tinggi dinding) = 333 M2
Luas kusen pintu = 6 m x 2 m = 12 M2. Silahkan Anda cek; Luas kusen jendela = 7.3 x 1.8 = 13.14 M2
Luas kusen pintu + kusen jendela = 25.14 M2
Jadi, Volume Pek. Pasangan Dinding Bata Merah = 333 - 25.14 =

307.86 M2

2. Menghitung volume pek. plesteran tebal 2 cm


Volume pekerjaan plesteran = 2 x luas pasangan dinding =

615.72 M2

3. Menghitung volume pek. acian semen


Volume pekerjaan acian = pekerjaan plesteran =

615.72 M2

4. Menghitung volume pek. pasangan keramik dinding k. mandi


Volume pekerjaan pasangan dinding keramik k mandi = keliling k. mandi x tinggi pasangan
= 6 M x 2 M = 12 M2 lalu kurangi luas pintu dan bak mandi (0.6 x 2)+ (1.4 x 0.7) = 2.18
= 12 M - 2.18 M = 9.82 M2
Jadi, volume pekerjaan pasangan keramik k. mandi = 9.82 M2 x 2 (ada 2 k. mandi) =

19.64 M2

5. Menghitung volume pek. pasangan keramik dinding dapur


Volume pasangan dinding dapur = luas pasangan = panjang x tinggi
panjang pasangan = 6 M' ( 2 sisi) ; tinggi pasangan = 2 M
Jadi, Volume pekerjaan pasangan dinding keramik dapur =

12 M2

Pembuatan kamar tidur ukuran 3 m x 3 m dan tinggi 3 m menggunakan pasangan batu bata ukuran 5
cm x 11 cm x 21 cm, ada satu pintu masuk ukuran 90 cm x 210 cm, dan jendela satu buah ukuran 70 cm x 150
cm, berapa volume pekerjaan pasangan dinding batu bata?
Kita hitung luas dinding batu bata kamar tidur yaitu:"
Luas pasangan dinding batu bata = panjang x lebar x tinggi
L

=3x3x3
= 36 m2

Selanjutnya kita hitung luas lubang pada dinding yaitu pintu dan jendela

Luas pintu = 0,9m x 2,1 m = 1,89 m.

Luas jendela = 0,7m x 1,5 m = 1,05 m.

Jadi total volume pasangan dinding batu bata adalah 36 m2 1,89 m2 1,05 m = 33,06 m2.
Untuk menghitung total kebutuhan batu bata maka bisa dilakukan dengan cara mencari jumlah bata yang
diperlukan dalam 1 m2.
Untuk mencari jumlah batu bata dalam 1 m2 dapat dihitung dengan cara :
-

Sebelumnya telah diketahui deminsi batu bata yaitu 5 cm x 11 cm x 21 cm

Menambahkan ketebalan Spesi Mortar terhadap "Sisi Atas dari Panjang Batu bata" dan "Sisi Samping dari Batu
bata", misalnya penambahan Spesi Mortar adalah 2 cm.

Didapat nilai Efisiensi 1 buah Batu bata yang telah dilapisi Spesi Mortar (pada kedua sisi tersebut), Panjang
menjadi = 21 cm + 2 = 23 cm, Tinggi menjadi = 5 cm +2 cm = 7 cm.

selanjutnya bisa kita lakukan Perhitungan, yaitu:

menghitung Luas Efisiensi 1 buah Batu bata + Mortar = 0,23 m x 0,07 m (satuan diubah dalam Meter) =
0,0161 m2
- Berarti, Jumlah Batu bata Per-meter Persegi = 1 m2 : 0,0161 m2
= 62,11 bh/m2 63 bh/m2
Selanjutnya menghitung total bata yang dibutuhkan adalah 33,06 2 x 63bh = 2082,78 dibulatkan menjadi 2083
bh.

Semoga bermanfaat,..

Langkah Kerja Pemasangan Bata :

Mempersiapkan Bahan-bahan yang digunakan danperalatan yang dibutuhkan beserta


kelengkapannya.

Membuat acuan vertikal dan horizontal menggunakan benang yang dikaitkan dengan kayu
yang cukup kuat dan tegak lurus

Batu bata yang akan dipasang direndam atau dibasahi hingga jenuh air

Diberikan angkur untuk pemasangan dinding bata yang menempel pada kolom

Dipasang bertahap dengan menggunakan adukan sebagai spesinya sesuai persyaratannya.


Untuk dinding yang kedap air menggunakan adukan 1 : 2 dan untuk pasangan bata merah
yang lainnya menggunakan adukan 1 : 5.

LANGKAH - LANGKAH PEKERJAAN BORED PILE


Langsung saja , Ada banyak jenis Pondasi yang diaplikasikan dalam pekerjaan sipil namun kali ini kita
akan belajar bagaimana skema pekerjaan bored pile jenis konvensional dan apa saja persiapannya,
1. Menginvestigasi tanah dan lingkungan sekitar site works Hal ini dilakukan untuk memilih metode
kerja apa saja yang bisa dilakukan, agar pekerjaan efektif dari segi waktu, mutu dan ekonomis ,
misalnya apabila tanah yang di investigasi berupa tanah lunak maka kita bisa memilih peralatan bor
apa yang bisa digunakan , dan apabila daerah sekitar site works di kelilingi oleh rumah penduduk kita
harus menggunakan metode kerja yang tidak menganggu kenyamanan penduduk dan tidak
menganggu penjadwalan kerja.
2. Menentukan titik BM (titik patokan awal) pekerjaan atau atau melakukan pekerjaan ukur tanah
3. Dari point 2 kita mulai melakukan alur perencanaan metode kerja bored pile mulai dari pemilihan
Alat bored pile dan bobot pekerjaan bored pile yang harus di capai
4. Perkejaan bored pile kurang lebih akan saya jelaskan sebagai berikut;
1. Menentukan titik koordinat dan titik patok As bored pile beserta pilecapnya, dengan
menggunakan theodolite dan waterpass;
2. Usahakan dalam menentukan titik awal pemboran berada di lokasi yang tidak mengganggu
pekerjaan sirkulasi angkutan material;
3. Persiapkan peralatan pemboran dan tempat perawatannya dekat dengan lokasi pemboran;

4. Rencanakan alur pergerakan alat bor agar nantinya perpindahan alat menjadi efisiensi
dalam segi waktu;
5. Melakukan pemboran
6. Ada 2 metode yang biasanya dilakukan untuk pemboran yaitu wash boring dan dry drilling
Pengeboran dengan sistem dry drilling : Tanah dibor dengan menggunakan mata bor spiral
dan tanah yang di bor diangkat setiap interval kedalaman 0,5 meter. Hal ini dilakukan berulang-ulang
sampai kedalaman yang ditentukan. Pengeboran ini dilakukan apabila karakterstik tanah yang dibor
cenderung tanah pasir dan tanah yang lunak.
Pengeboran dengan sistem wash boring : Tanah dikikis dengan menggunakan mata bor
cross bit. Pengikisan tanah dibantu dengan tiupan air lewat lubang stang bor yang dihasilkan pompa
sentrifugal 3. Hal ini menyebabkan tanah yang terkikis terdorong keluar dari lubang bor. Setelah
mencapai kedalaman rencana, pengeboran dihentikan, sementara mata bor dibiarkan berputar tetapi
beban penekanan dihentikan dan air sirkulasi tetap berlangsung terus sampai cutting atau serpihan
tanah betul-betul terangkat seluruhnya. Selama pembersihan ini berlangsung, baja tulangan dan pipa
tremi sudah disiapkan di dekat lubang bor. Setelah cukup bersih, stang bor diangkat dari lubang bor.
Dengan bersihnya lubang bor diharapkan hasil pengecoran akan baik hasilnya. Pengeborana ini
dilakukan apabila tanah yang dibor cenderung keras . Apabila masih terdapat endapan mata bor
diganti dengan mata bor spiral untuk mengangkut endapan sehingga kedalaman bore pile rencana
dicapai .
7. Nah setelah dibor masukkan Tulangan bor pile dengan menggunakan katrol atau metode
lainnya
8. Setelah dicek pekerjaan tulangannya, Bor pile siap di cor.

Pelaksanaan Pekerjaan Kolom, Balok, Plat Lantai, dan Tangga.

1. Pekerjaan Konstruksi Kolom


Pada proyek Apartement kolom yang digunakan ada 2 bentuk, yaitu persegi dan silender. Prosedur
pelaksanaan pekerjaan kolom dalam proyek ini secara keseluruhan sama, meskipun dimensi dan jumlah
tulangan pada masing-masing tipe kolom berbeda-beda.Langkah teknis pada pekerjaan kolom adalah sebagai
berikut:
1)

Penentuan As kolom

Titik-titik dari as kolom diperoleh dari hasil pengukuran dan pematokan. Hal ini
disesuaikan dengan gambar yang telah direncanakan. Cara menentukan as kolom membutuhkan alat-alat seperti:
theodolit, meteran, tinta, sipatan dll.
Proses pelaksanaan:
(a)

Penentuan as kolom dengan Theodolit dan waterpass berdasarkan shop drawing dengan menggunakan acuan
yang telah ditentukan bersama dari titik BM (Bench Mark) Jakarta.

(b) Buat as kolom dari garis pinjaman


(c) Pemasangan patok as bangunan/kolom (tanda berupa garis dari sipatan).
2)

Pembesian kolom
Proses pekerjaan pembesian dalam proyek ini adalah sebagai berikut:

(a) Pembesian atau perakitan tulangan kolom adalah precast atau dikerjakan di tempat lain yang lebih aman
(b) Perakitan tulangan kolom harus sesuai dengan gambar kerja.
(c)

Selanjutnya adalah pemasangan tulangan utama. Sebelum pemasangan sengkang, terlebih dahulu dibuat tanda
pada tulangan utama dengan kapur.

(d) Selanjutnya adalah pemasangan sengkang, setiap pertemuan antara tulangan utama dan sengkang diikat oleh
kawat dengan sistem silang.
(e)

Setelah tulangan selesai dirakit, untuk besi tulangan precast diangkut dengan menggunakan Tower Crane ke
lokasi yang akan dipasang.

(f)

Setelah besi terpasang pada posisinya dan cukup kaku, lalu dipasang beton deking sesuai ketentuan. Beton
deking ini berfungsi sebagai selimut beton.

3)

Pemasangan Bekisting Kolom


Pemasangan bekisting kolom dilaksanakan apabila pelaksanaan pembesian

tulangan telah selesai

dilaksanakan.
Berikut ini adalah uraian singkat mengenai proses pembuatan bekisting kolom.
(a) Bersihkan area kolom dan marking posisi bekisting kolom.
(b) Membuat garis pinjaman dengan menggunakan sipatan dari as kolom sebelumnya sampai dengan kolom
berikutnya dengan berjarak 100cm dari masing-masing as kolom.
(c)

Setelah mendapat garis pinjaman, lalu buat tanda kolom pada lantai sesuai dengan dimensi kolom yang akan
dibuat, tanda ini berfungsi sebagai acuan dalam penempatan bekisting kolom.

(d) Marking sepatu kolom sebagai tempat bekisting


(e) Pasang sepatu kolom pada tulangan utama atau tulangan sengkang.
(f) Pasang sepatu kolom dengan marking yang ada.
(g) Atur kelurusan bekisting kolom dengan memutar push pull.
(h) Setelah tahapan diatas telah dikerjakan, maka kolom tersebut siap dicor.
4)

Pengecoran kolom
Langkah kerja pekerjaan pengecoran kolom adalah sebagai berikut:

a)

Persiapan pengecoran
Sebelum dilaksanakan pengecoran, kolom yang akan dicor harus benar-benar bersih dari kotoran agar tidak
membahayakan konstruksi dan menghindari kerusakan beton.

b)

Pelaksanaan pengecoran
Pengecoran dilakukan dengan menggunakan bucket cor yang dihubungkan dengan pipa tremi dengan
kapasitas bucket sampai 0,9m3. Bucket tersebut diangkut dengan menggunakan Tower crane untuk memudahkan
pengerjaan.
Penuangan beton dilakukan secara bertahap, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya segregasi yaitu
pemisahan agregat yang dapat mengurangi mutu beton. Selama proses pengecoran berlangsung, pemadatan
beotn menggunakan vibrator. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan rongga-rongga udara serta untuk
mencapai pemadatan yang maksimal.

5)

Pembongkaran bekisting kolom


Setelah pengecoran selesai, maka dapat dilakukan pembongkaran bekisting. Proses pembongkarannya
adalah sebagai berikut:

(a) Setelah beton berumur 8 jam, maka bekisting kolom sudah dapat dibongkar.
(b) Pertama-tama, plywood dipukul-pukul dengan menggunakan palu agar lekatan beton pada plywood dapat
terlepas.
(c) Kendorkan push pull (penyangga bekisting), lalu lepas push pull.
(d) Kendorkan baut-baut yang ada pada bekisting kolom, sehingga rangkaian/panel bekisting terlepas.
(e)

Panel bekisting yang telah terlepas, atau setelah dibongkar segera diangkat dengan tower crane ke lokasi
pabrikasi awal.

6)

Perawatan Beton Kolom


Perawatan beton kolom setelah pengecoran adalah dengan sistem kompon, yaitu dengan disiram 3 kali
sehari selama 3 hari.
1)

Pemeliharaan Balok dan Pelat (Curing)


Setelah dilaksanakan pengecoran, maka untuk menjaga agar mutu beton tetap terjaga dilakukan perawatan

beton. Perawatan beton yang dilakukan adalah dengan menyiram/membasahi beton 2 kali sehari selama 1
minggu.

2.

Pekerjaan konstruksi Pelat Lantai Dan Balok


Pekerjaan balok dilaksanakan setelah pekerjaan kolom telah selesai dikerjakan. Pada proyek

Apartement sistem balok yang dipakai adalah konvensional. Balok yang digunakan memiliki tipe yang berbedabeda. Balok terdiri dari 2 macam, yaitu balok utama (balok induk) dan balok anak.
Semua perkerjaan balok dan pelat dilakukan langsung di lokasi yang direncanakan, mulai dari
pembesian, pemasangan bekisting, pengecoran sampai perawatan.
1) Tahap Persiapan
a.
Pekerjaan Pengukuran

Pengukuran ini bertujuan untuk mengatur/ memastikan kerataan ketinggian balok dan pelat. Pada
pekerjaan ini digunakan pesawat ukur theodolithe.
b.
Pembuatan Bekisting
Pekerjaan bekisting balok dan pelat merupakan satu kesatuan pekerjaan, kerena dilaksanakan secara
bersamaan. Pembuatan panel bekisting balok harus sesuai dengan gambar kerja. Dalam pemotongan plywood
harus cermat dan teliti sehingga hasil akhirnya sesuai dengan luasan pelat atau balok yang akan dibuat.
Pekerjaan balok dilakukan langsung di lokasi dengan mempersiapkan material utama antara lain: kaso 5/7, balok
kayu 6/12, papan plywood.
c.

Pabrikasi besi
Untuk balok, pemotongan dan pembengkokan besi dilakukan sesuai kebutuhan dengan bar cutter dan bar

bending. Pembesian balok ada dilakukan dengan sistem pabrikasi di los besi dan ada yang dirakit diatas
bekisting yang sudah jadi. Sedangkan pembesian plat dilakukan dilakukan di atas bekisting yang sudah jadi.
2) Tahap Pekerjaan Balok dan Pelat
Pengerjaan balok dan pelat dilakukan secara bersamaan pada dasar.
a. Pembekistingan balok
Tahap pembekistingan balok adalah sebagai berikut :
(1)
Scaffolding dengan masing masing jarak 100 cm disusun berjajar sesuai dengan kebutuhan di lapangan, baik
(2)
(3)

untuk bekisting balok maupun pelat.


Memperhitungkan ketinggian scaffolding balok dengan mengatur base jack atau U-head jack nya.
Pada U-head dipasang balok kayu ( girder ) 6/12 sejajar dengan arah cross brace dan diatas girder dipasang
balok suri tiap jarak 50 cm (kayu 5/7) dengan arah melintangnya, kemudian dipasang pasangan plywood

sebagai alas balok.


Setelah itu, dipasang dinding bekisting balok dan dikunci dengan siku yang dipasang di atas suri-suri.
Pembekistingan pelat
Tahap pembekistingan pelat adalah sebagai berikut :
(1)
Scaffolding disusun berjajar bersamaan dengan scaffolding untuk balok. Karena posisi pelat lebih tinggi

(4)
b.

daripada balok maka Scaffolding untuk pelat lebih tinggi daripada balok dan diperlukan main frame tambahan
dengan menggunakan Joint pin. Perhitungkan ketinggian scaffolding pelat dengan mengatur base jack dan U(2)

head jack nya


Pada U-head dipasang balok kayu ( girder ) 6/12 sejajar dengan arah cross brace dan diatas girder dipasang

(3)

suri-suri dengan arah melintangnya.


Kemudian dipasang plywood sebagai alas pelat. Pasang juga dinding untuk tepi pada pelat dan dijepit
menggunakan siku.. Plywood dipasang serapat mungkin, sehingga tidak terdapat rongga yang dapat

(4)

menyebabkan kebocoran pada saat pengecoran


Semua bekisting rapat terpasang, sebaiknya diolesi dengan solar sebagai pelumas agar beton tidak menempel
pada bekisting, sehingga dapat mempermudah dalam pekerjaan pembongkaran dan bekisting masih dalam

c.

kondisi layak pakai untuk pekerjaan berikutnya.


Pengecekan
Setelah pemasangan bekisting balok dan pelat dianggap selesai selanjutnya pengecekan tinggi level pada

(1)

bekisting balok dan pelat dengan waterpass, jika sudah selesai maka bekisting untuk balok dan pelat sudah siap.
Pembesian balok
Tahap pembesian balok adalah sebagai berikut :
Untuk Pembesian balok pada awalnya dilakukan pabrikasi di los besi kemudian diangkat menggunakan tower

(2)

crane ke lokasi yang akan dipasang.


Besi tulangan balok yang sudah diangkat lalu diletakkan diatas bekisting balok dan ujung besi balok

(3)

dimasukkan ke kolom.
Pasang beton decking umtuk jarak selimut beton pada alas dan samping balok lalu diikat.

d.

Untuk pembesian balok dilakukan 3 kali perubahan dalam metode pemasangannya. Perubahan yang
pertama yaitu semua besi tulangan dipabrikasi seluruh bagian sampai balok jadi utuh, namun ada kendala pada
saat pertemuan pembesian kolom sehingga dilakukan perubahan yang kedua yaitu dengan pembesian pabrikasi
sebagian, tulangan memanjang dan sengkang dipisah namun ada kendala pada saat pembersihannya dan
perubahan yang terakhir semua bagian pembesian dilakukan ditempat yang akan dicor tidak dipabrikasikan lagi
dan sampai kini metode ini yang paling baik untuk digunakan.
Pembesian pelat
Setelah tulangan balok terpasang. Selanjutnya adalah tahap pembesian pelat, antara lain :
(1) Pembesian pelat dilakukan langsung di atas bekisting pelat yang sudah siap. Besi tulangan diangkat
e.

menggunakan tower crane dan dipasang diatas bekisting pelat.


(2) Rakit pembesian dengan tulangan bawah terlebih dahulu. Kemudian pasang tulangan ukuran tulangan D10-200.
(3) selanjutnya secara menyilang dan diikat menggunakan kawat ikat.
(4) Letakkan beton deking antara tulangan bawah pelat dan bekisting alas pelat. Pasang juga tulangan kaki ayam
f.

antara untuk tulangan atas dan bawah pelat.


Pengecekan
Setelah pembesian balok dan pelat dianggap selesai, lalu diadakan checklist/ pemeriksaan untuk
tulangan. Adapun yang diperiksa untuk pembesian balok adalah diameter dan jumlah tulangan utama, diameter,
jarak, dan jumlah sengkang, ikatan kawat, dan beton decking. Untuk pembesian pelat lantai yang diperiksa
adalah, penyaluran pembesian pelat terhadap balok, jumlah dan jarak tulangan ekstra, perkuatan (sparing) pada

g.

lubang-lubang di pelat lantai, beton decking, kaki ayam, dan kebersihannya.


Pembongkaran Bekisting
Pembongkaran bekisting pelat dilakukan setelah 4 hari pengecoran

sedangkan untuk balok

pembongkaran bekisting dilakukan 7 hari setelah pengecoran. Setelah bekisting di bongkar kemudian dipasang
sapot sebagai penunjang pelat dan beban diatasnya.
3). Tahap Pengecoran Pelat dan Balok
a)
Administrasi pengecoran
(1) Setelah bekisting dan pembesian siap engineer mengecek ke lokasi atau zona yang akan dicor
(2) Setelah semua OK, engineer membuat izin cor dan mengajukan surat izin ke konsultan pengawas
(3) Kemudian tim pengawas melakukan survey ke lokasi yang diajukan dalam surat cor.
(4)
Setelah OK konsultan pengawas menandatangani surat izn cor tersebut
(5)
Surat izin cor dikembalikan kepada engineer dan pengecoran boleh dilaksanakan.
b)
Proses Pengecoran Pelat lantai dan Balok
Pengecoran pelat dilaksanakan bersamaan dengan pengecoran balok.. Peralatan pendukung untuk
pekerjaan pengecoran balok diantaranya yaitu : bucket, truck mixer, vibrator, lampu kerja, papan perata. Adapun
proses pengecoran pelat sebagai contoh pengamatan yaitu adalah sebagai berikut :
1. Setelah mendapatkan Ijin pengecoran disetujui, engineer menghubungi pihak beaching plan untuk mengecor
sesuai dengan mutu dan volume yang dibutuhkan di lapangan.
2. Pembersihan ulang area yang akan dicor dengan menggunakan air compressor sampai benar benar bersih
3. Truck Mixer tiba di proyek dan laporan ke satpam kemudian petugas dari PT. ADHIMIX PRECAST
menyerahkan bon penyerahan barang yang berisi waktu keberangkatan, kedatangan, waktu selesai, volume.
4. Bucket dipersiapkan sebelumnya kemudian di siram air untuk membersihkan bucket dari debu-debu atau sisa
pengecoran sebelumnya. Selanjutnya mempersiapkan satu keranjang dorong untuk mengambil sampel dan test
slump yang diawasi olah engineer dan pihak pengawas.
5. Setelah dinyatakn OK, pengecoran siap dilaksanakan
6. Sampel benda uji diambil bersamaan selama pengecoran berlangsung, diambil Beton yang keluar dari truk
kemudian dituang ke bucket lalu bucket diangkut dengan TC

7.

Setelah bucket sampai pada tempat yang akan dicor, petugas bucket membuka katup bucket untuk

mengeluarkan beton segar ke area pengecoran.


8. Kemudian pekerja cor meratakan beton segar tersebut ke bagian balok terlebih dahulu selanjutnya untuk plat
diratakn oleh scrub secara manual lalu check level dengan waterpass.1 pekerja vibrator memasukan alat
kedalam adukan kurang lebih 5-10 menit di setiap bagian yang dicor. Pemadatan tersebut bertujuan untuk
mencegah terjadinya rongga udara pada beton yang akan mengurangi kualitas beton.
9. Setelah dipastikan balok dan pelat telah terisi beton semua, permukaan beton segar tersebut diratakan dengan
menggunakan balok kayu yang panjang dengan memperhatikan batas ketebalan pelat yang telah ditentukan
10.

sebelumnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar


Pekerjaan ini dilakukan berulang sampai beton memenuhi area cor yang telah ditentukan, idealnya waktu
pengecoran dilakukan 6 sampai 8 jam
Pengecoran Balok

c)

Setelah pekerjaan pembesian balok dan pelat selesai, maka dapat dilakukan
pengecoran. Pengecoran balok dan pelat dilakukan bersamaan. Nilai slump pada pelat 12
14 cm) sedangkan pada balok 12

2cm (10 cm s/d

2cm (10 cm s/d 14 cm). Pengecoran balok dan pelat dengan

menggunakn concrete pump dengan menggunakan beton readymix.


Sebelum proses pengecoran dilaksanakan, maka perlu dilakukan pemeriksaan
bekisting meliputi: Posisi bekisting harus dicek lagi apakah sudah sesuai dengan yang direncanakan. Bekisting
harus lurus, tegak, tidak bocor, dan kuat. Selain mengenai hal tersebut, sebelum dilaksanakan pengecoran,
bekisting dibersihkan dulu dengan menggunakan compressor.
Pelaksanaan pengecoran balok dan pelat adalah sebagai berikut:
(a)

Untuk pelaksanaan pengecoran balok dan pelat lantai, digunakan concrete pump yang menyalurkan beton
readymix dari truck mixer ke lokasi pengecoran, dengan menggunakan pipa pengecoran yang di sambungsambung.

(b) Alirkan beton readymix sampai ke lokasi pengecoran, lalu padatkan dengan menggunakan vibrator.
(c) Setelah beton dipadatkan, maka dilakukan petrataan permukaan coran dengan menggunakan alat-alat manual.
(d) Setelah proses pengecoran selesai ampai batas pengecoran, maka dilakukan finishing.
4). Pembongkaran Bekisting
Untuk pelat pembongkaran besting dilakukan setelah 4 hari pengecoran sedangkan
untuk balok pembongkaran bekisting dilakukan 7 hari setelah pengecoran. Sebagai penunjang sampai pelat
benar benar mengeras.
5). Perawatan (curing)
Setelah dilaksanakan pengecoran, maka untuk menjaga agar mutu beton tetap terjaga dilakukan perawatan
beton. Perawatan beton yang dilakukan adalah dengan menyiram/membasahi beton 2 kali sehari selama 1
minggu

CARA MEMBUAT DAN LANGKAH KERJA PEMASANGAN PONDASI BATU KALI


PEMASANGAN PONDASI BATU KALI
A.

PENDAHULUAN

Tujuan Umum:
1. Memberi petunjuk kepada mahasiswa supaya mengetahui carapemasangan pondasi batu kali
pada pekerjaan suatu proyek dan mampu mengarahkan kepada mahasiswa untuk pemasangan
pondasi batu kali yang benar.
2. Memberi petunjuk kepada mahasiswa bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam proses
pemasangan pondasi batu kali dan mampu menganalisa alat dan bahan tersebut sesuai dengan
fungsinya.
3. Memberi petunjuk kepada mahasiswa tentang perbandingan bahan campuran pasir dan semen
yang benar.
Tujuan Khusus :
1. Mahasiswa dapat membuat pasangan batu kali dengan benar.
2. Mahasiswa dapat menggunakan bahan dan alat yang tersedia sesuai dengan fungsinya.
3. Mahasiswa dapat membuat perbandingan campuran bahan dengan benar.
B. BAHAN
1. Pasir

: sebagai bahan utama dalam pembuatan campuran.

2. Semen

: sebagai bahan perekat pada pembuatan campuran.

3. Air

: sebagai bahan pengikat hindrolis semen dan pasir.

4. Batu kali

: sebagai bahan dasar untuk pemasangan batu kali.

C. ALAT
1.

Gerobak

: digunakan sebagai alat pengangkut bahan-bahan.

2.

Sekrop

: digunakan sebagai alat pengambil semen dan pasir.

3.

Ayakan

: digunakan sebagai alat untuk mengayak pasir.

4.

Cetok

: digunakan sebagai alat untuk membantu mengaya pasir.

5.

Pengaduk molen

: digunakan sebagai alat untuk mengaduk campur semen dan pasir.

6.

Bowplank

: digunakan sebagai alat untuk menentukan muka tanah.

7.

Benang

: sebagai alat untuk pelurus kadataran sederhana.

8.

Timba

: sebagai tempat adonan.

D.

KESELAMATAN KERJA

1.

Pakai pakaian dan atribut agar aman dalam melakukan pekerjaan.

2.

Gunakan helm proyek (safety helm).

3.

Hindari Bergurau dalam bekerja.

4.

Hindari pemakaian alat yang tidak sesuai dengan kegunaannya.

E.

LANGKAH KERJA PEMASANGAN PONDASI BATU KALI

1.

Ukur tanah yang akan di pasang pondasi, kemudian pasanglah bowplang untuk menggetahui

ketinggian muka tanah setelah itu pasang benang agar pondasi bisa tegak dan lurus.
2.

Gali tanah yang akan di buat pondasi dengan kedalaman sekitar setengah meter karena pondasi

tersebut dibuat untuk pagar tembok yang mempunyai ketinggian 3 meter saja.
3.

Landasan tanah tersebut diberi anstamping dengan ketinggian sekitar 20cm, dengan posisi batu

tegak.
4.

Pasir dan semen di campur dengan menggunakan perbandingan 1:5 kemudian campur dengan

air secukupnya sebagai pengikat dengan menggunakan alat pengaduk molen.


5.

Susun batu kali tersebut diatas anstamping setinggi 80cm.

6.

Setelah semuanya tercampur dengan baik tuangkan campuran tersebut ke dalam batu kali yang

tersusun tadi sambil di padatkan dengan menggunakan tongkat besi agar campuran tersebut
memadati lobang-lobang yang berada di podasi batu kali tersebut.
7.

Setelah itu tunggu pasangan batu kali tersebut hingga mengeras dan siap untuk di beri beban di

atasnya.
F.

KELEMAHAN DARI BAHAN BANGUNAN DAN PENGECEKAN PEMASANGAN PONDASI

BATU KALI.
Kelemahan dari bahan bangunan yang di gunakan untuk pemasangan pondasi batu kali menurut teori
dan pendapat saya tidak ada kelemahan di dalam penggunaan bahan bangunan di karenakan semua
bahan bangunan yang di gunakan di proyek semuanya sama dengan teori yang ada di dalam
perkuliahan.
Pengecekan yang saya lakukan secara fisik yaitu dengan cara sedikit menggoyang-ngoyangkan
pondasi untuk mengetahui kokoh atau tidaknya pasangan pondasi batu kali tersebut
G.

KESIMPULAN DARI HASIL PENGAMATAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengamatan yaitu semua bahan banguanan yang di
gunakan untuk memasang pondasi batu kali semuanya sama dengan teori, tetapi yang membedakan
yaitu perbandingan campuran yang digunakan tidak sama dengan teori.
Dengan perbedaan campuran yang di gunakan untuk pasangan tersebut secara kekuatan fisik tidak
jauh beda dengan pasangan pondasi batu kali yang menggunakan campuran secara teori.

Anda mungkin juga menyukai