Anda di halaman 1dari 62

Pelatihan Laboratorium Akuntansi

STIE GICI BUSINESS SCHOOL


2015

Cintia Ayu Kartika,SE.,M.Ak

Aset tetap adalah Aset berwujud yang


diperoleh dalam keadaan siap dipakai
atau dibangun terlebih dahulu, yang
digunakan dalam operasi perusahaan,
tidak jual dalam rangka kegiatan
normal perusahaan dan mempunyai
masa manfaat lebih dari satu tahun.

a.

b.

c.
d.

Dipergunakan untuk
operasional perusahaan dan
tidak untuk dijual.
Memiliki masa manfaat lebih
dari satu periode akuntansi
atau satu siklus operasi normal,
tergantung mana yang lebih
panjang.
Memiliki bentuk fisik.
Nilainya material.

a. Frekuensi terjadinya transaksi yang

mengubah Aset tetap relatif sedikit


dibandingkan dengan transaksi yang
mengubah Aset lancar, namun umumnya
menyangkut jumlah rupiah yang besar.
b. Pengendalian Aset tetap dilaksanakan pada
saat perencanaan perolehan Aset tetap,
sehingga sistem otorisasi perolehan Aset
tetap diterapkan pada saat perencanaan
perolehan dan pada saat pelaksanaan
rencana perolehan Aset tetap.
c. Pengeluaran yang bersangkutan dengan
Aset tetap perlu dibedakan menjadi dua
macam yaitu, pengeluaran pendapatan
(revenue expenditure) dan pengeluaran
modal (capital expenditure).

a.
b.

c.
d.
e.
f.
g.
h.

Anggaran (budget) baik untuk pembelian maupun


untuk pemeliharaan Aset tetap.
Ketentuan secara tertulis yang mengatur
kapitalisasi pengeluaran yang berhubungan dengan
Aset tetap.
Pencatatan dan pengarsipan dokumen Aset tetap
dalam kartu induk dan kartu eksploitasi.
Penetapan nilai residu (nilai sisa) yang relatif cepat.
Prosedur pemeliharaan Aset tetap dan
pengawasannya.
Ada kebijakan untuk menjual Aset tetap dan
pengawasannya.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan secara periodik.
Jaminan asuransi atas kerugian akibat kebakaran
dan hal lainnya.

Mengidentifikasi
Data Mutasi Aset
Tetap

Kartu Induk Aset Tetap

Kartu Eksploitasi Aset Tetap

Kartu (Daftar) Inventaris

Kartu Penyusutan Aset Tetap

a. Aset tetap yang diperoleh dalam bentuk siap pakai, harga

b.

c.

d.
e.

perolehannya ditetapkan berdasarkan harga beli, ditambah


dengan biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan usaha
penempatan Aset tetap yang bersangkutan pada tempat dan
kondisi yang siap untuk dipergunakan.
Aset tetap yang dibangun sendiri, harga perolehannya
ditetapkan berdasarkan biaya-biaya yang terjadi sehubungan
dengan pembangunan Aset tetap yang bersangkutan,
sampai siap dipergunakan.
Aset tetap yang diperoleh melalui pertukaran dengan Aset
non kas, harga perolehannya ditetapkan berdasarkan harga
pasar Aset yang diserahkan atau harga pasar Aset yang
diterima, bergantung kepada harga mana yang dipandang
lebih wajar.
Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan, harga
perolehannya ditetapkan berdasarkan harga pasar Aset yang
diterima atau harga taksiran yang wajar.
Aset tetap yang diperoleh secara gabungan, harga perolehan
masing-masing Aset ditetapkan berdasarkan alokasi harga
perolehan gabungan dengan perbandingan yang wajar.

Mengidentifikasi
Penyusutan dan
Akumulasi Penyusutan
Aset Tetap

Faktur dari pabrikan atau pihak lainnya


sebagai bukti transaksi pembelian;
Bukti setoran Pajak Pertambahan Nilai
(PPN);
Bukti pengeluaran kas, sebagai bukti
pembayaran biaya pengangkutan, biaya
pemasangan, dan biaya lainnya
sehubungan dengan perolehan Aset
tetap yang bersangkutan;
Bukti memorial, sebagai bukti
penghentian dan pengeluaran Aset tetap
yang ditukar dengan Aset tetap lain.

Sebagai ilustrasi, PT VILAR dalam bulan Juli 2008


memperoleh mesin pola BX-01 dengan biaya-biaya
sebagai berikut.
Juli 10,
Pembelian tunai mesin BX-01, Faktur No. 2242.
Harga faktur
Rp100.000.000
Ditambah PPN 10%
Rp 10.000.000
Bukti pengeluaran kas No. 511,
Rp110.000.000
Biaya-biaya yang dikeluarkan terdiri atas:
Juli 15,
Bukti pengeluaran kas No. 518, untuk biaya
pengangkutan, Rp10.000.000
Juli 18,
Bukti pengeluaran kas No. 524, untuk biaya
instalasi dan
pemasangan, Rp12.000.000.
Juli 20,
Bukti pengeluaran kas No. 528, untuk biaya
percobaan,
Rp3.000.000
Jumlah biaya sebesar Rp25.000.000.

Sebagai contoh, misalnya pada tangal 5 Januari


2008, suatu perusahaan membeli sebuah
kendaraan dengan harga kredit Rp 115.000.000,
faktur No. 867.
Pembayaran pertama sebesar Rp 25.000.000,
dibayar dengan cek, bukti kas No.286.
Sisanya dibayar dalam 5 kali angsuran bulanan.
Harga tunai kendaraan yang bersangkutan
Rp100.000.000.
Data transaksi di atas, dapat dicatat dengan cara
sebagai berikut:
Harga perolehan kendaraan (harga tunai) dan
timbulnya hutang dicatat dalam jurnal umum.
Pembayaran pertama sebesar Rp 25.000.000,
dicatat dalam jurnal pengeluaran kas sebagai
pembayaran hutang.

Catatan dalam buku jurnal pengeluaran


kas

Sebagai ilustrasi, pada tanggal 5 Maret 2008, sebuah


mesin yang diperoleh dengan harga Rp 150.000.000 dan
telah disusutkan sebesar Rp 60.000.000 ditukar dengan
sebuah kendaraan angkutan. Harga pasar kendaraan
yang bersangkutan Rp85.000.000.
Laba rugi pertukaran dihitung sebagai berikut:
Harga pasar kendaraan yang diterima,
Rp
85.000.000
Harga buku mesin yang diserahkan:
Harga perolehan,
Rp 150.000.000
Akumulasi penyusutan,
(Rp 60.000.000)
Rp 90.000.000
Rugi pertukaran,
Rp 5.000.000

Sebagai contoh, pada tanggal 5 Juli 2008,


suatu koperasi menerima seperangkat
peralatan kantor sebagai sumbangan
dari perusahaan rekanannya.
Harga pasar wajar peralatan kantor yang
bersangkutan Rp3.500.000.
Transaksi tersebut dicatat dalam jurnal
umum dengan mendebet akun Peralatan
Kantor dan kredit akun Modal
Sumbangan, masing-masing sebesar
Rp3.500.000.

Pengeluaran modal (capital


expenditure) adalah pengeluaran yang
dapat menimbulkan manfaat ekonomi
dalam jangka waktu lebih dari satu
periode akuntansi.
Pengeluaran pendapatan (revenue
expenditure) adalah pengeluaran yang
hanya memberikan manfaat ekonomi
pada periode saat terjadinya
pengeluaran, atau tidak memberikan
manfaat ekonomi di masa depan.

Mengakibatkan penambahan terhadap


manfaat dari Aset tetap yang
bersangkutan, seperti penambahan usia
penggunaan, peningkatan kapasitas
atau peningkatan mutu produksi.
Menurut pertimbangan perusahaan,
jumlahnya cukup berarti (material)
dipandang dari jumlah harga perolehan
Aset tetap yang bersangkutan.

Pengeluaran untuk pemeliharaan (Maintenance)


Pengeluaran yang bertujuan untuk mempertahankan Aset tetap
pada kondisi tetap baik.
Pengeluaran untuk reparasi (Repair)
Pengeluaran yang bertujuan untuk mengembalikan Aset tetap
pada kondisi semula.
Pengeluaran untuk mengganti komponen yang rusak
(Replacement)
Pengeluaran untuk mengganti sebagian atau seluruh dari
komponen Aset tetap yang rusak berat.
Pengeluaran untuk perbaikan (Betterment)
Pengeluaran bertujuan untuk meningkatkan Aset tetap dari
kondisi semula kepada kondisi yang lebih baik.
Pengeluaran untuk penambahan (Addition)
Pengeluaran bertujuan untuk perluasan atau peningkatan
fasilitas yang ada, misalnya untuk menambah bangunan
sayap dari sebuah pabrik, perluasan tempat parkir
kendaraan dan sebagainya.

Penyusutan aset tetap (depresiasi) adalah


alokasi harga perolehan aset tetap kepada
periode-periode akuntansi dalam masa
penggunaannya.
Akumulasi penyusutan adalah bukan sebuah
dana pengganti aset, melainkan jumlah harga
perolehan aset yang telah dibebankan (melalui
pemakaian) dalam periode-periode
sebelumnya.
Beban penyusutan adalah pengakuan atas
penggunaan manfaat potensial dari suatu aset.

Harga perolehan Aset tetap


Harga perolehan Aset tetap meliputi semua
pengeluaran yang berhubungan dengan perolehan
dan penyiapannya, sampai Aset tetap yang
bersangkutan siap dioperasikan.
Nilai residu atau nilai sisa
Nilai residu (residual value) adalah taksiran nilai Aset
tetap setelah habis masa penggunaannya.
Usia ekonomis atau usia manfaat
Usia ekonomis adalah taksiran masa penggunaan Aset
tetap, dihitung sejak mulai dioperasikan sampai saat
Aset tetap biasanya ditetapkan berdasarkan taksiran.
Metode penyusutan yang diterapkan
Terdapat beberapa metode penyusutan Aset tetap yang
dapat digunakan untuk menentukan besarnya
penyusutan yang menjadi beban tiap periode
akuntansi.

Metode Garis Lurus


Menurut metode Garis Lurus (Straight Line
Method), beban penyusutan tiap tahun
penggunaan Aset tetap jumlahnya sama.
Sehingga jumlah penyusutan tiap tahun
dihitung sebagai berikut :
1.

Penyusuta
n=
Keterangan:
Aset tetap

HP - NH
n
HP = Harga Perolehan
NR = Nilai Residu atau nilai

sisa

Pada tanggal 5 April 2008, suatu perusahaan


membeli sebuah mesin dengan harga perolehan
Rp 130.000.000. Usia penggunaan mesin tersebut
ditaksir selama 8 tahun dengan nilai residu
sebesar Rp 10.000.000.
Berdasarkan data di atas, penyusutan tiap tahun
penggunaan mesin dihitung sebagai berikut:

Penyusuta
n=

Rp130.000.000
Rp10.000.000
8

=
Rp15.000.00
0

LANJUTAN .....
Beban penyusutan mesin untuk tahun 2008, dihitung
untuk masa penggunaan sejak bulan April sampai 31
Desember 2008, yaitu selama 9 bulan, atau sebesar :

9 x
=
1 Rp15.000.000Rp11.250.00
2
0
Jumlah ini pada tanggal
31 Desember 2008
dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Tgl

Account

Des, 31 Beban Penyusutan. Mesin


2008

Akum. Peny. Mesin

Ref

Debit

Kredit

11.250.000
11.250.00
0

2. Metode Jumlah Angka Tahun

Menurut metode jumlah angka tahun (Sum of the


Years Digits Method), penyusutan untuk tiap tahun
penggunaan aset tetap jumlahnya menurun.
Besarnya penyusutan tiap tahun penggunaan aset
tetap, dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Penyusutan

Sisa usia aktiva tetap pada tahun


=
penggunaannya
Jumlah angka tahun usia aktiva tetap

x Jumlah yang harus


disusutkan

Sebuah kendaraan angkutan dengan


harga perolehan Rp120.000.000
mulai dioperasikan bulan Juli 2008.
Taksiran usia penggunaan selama 6
tahun dengan nilai residu
Rp15.000.000. Kendaraan tersebut
disusutkan dengan metode Jumlah
Angka Tahun.

Penyusutan tiap tahun penggunaan kendaraan


dihitung sebagai berikut:

Pada tahun 2008 kendaraan dioperasikan selama


6 bulan yaitu sejak bulan Juli sampai denga
Desember 2008. Dengan demikian beban
penyusutan untuk tahun 2008 dihitung sebagai
berikut : 6/12 X Rp 30.000.000,00 = Rp
15.000.000,00
Beban penyusutan tahun 2009 terdiri atas 6 bulan
dari penyusutan tahun penggunaan pertama dan
6 bulan dari penyusutan tahun penggunaaan
kedua.
Penyusutan tahun ke -1 sebesar Rp 30.000.000,00
pada perhitungan dimuka adalah untuk masa
sejak 1 Juli 2009. Beban penyusutan untuk tiap
periode akuntansi dicatat tiap tanggal 31
Desember.oleh karena itu seperti tampak diates
penyusutan tahun ke -1 untuk 6 bulan menjadi
beban tahun 2008 dan untuk 6 bulan menjadi
beban tahun 2009.Demikian pula penyusutan
tahun ke -2 6 bulan menjadi beban tahun 2009
dan untuk 6 bulan

Lanjitan ..........
Menjadi beban tahun 2010. Dengan demikian beban
penyusutan tahu
Dengan demikian penyusutan tahun 2009 dihitung
sebagai berikut:
Penyusutan tahun ke -1 : 6/12 x Rp 30.000.000,00 = Rp
15.000.000,00
Penyusutan tahun ke -2 : 6/12 x Rp 25.000.000,00 = Rp
12.500.000,00
Jumlah

Rp

27.500.000,00
Beban penyusutan 2010 dihitung seperti diatas .yaitu 6
bulan dari penyusutan tahun ke 2 dan 6 bulan dari
penyusutan tahun ke 2.Beban penyusutan kendaraan
untuk tiap periode setelah dihitung seperti diatas
.

3. Metode Menurun Ganda


Dalam penerapan metode menurun ganda
(Double Declining Balance Method),
penyusutan tiap tahun penggunaan Aset
tetap ditentukan berdasarkan persentase
tertentu yang dihitung dari harga buku pada
tahun yang bersangkutan.
Persentase penyusutan ditetapkan sebesar dua
kali persentase penyusutan menurut metode
garis lurus.

Sebuah mesin mulai dioperasikan pada


tanggal 1 Oktober 2008. Mesin tersebut
diperoleh dengan harga Rp 100.000.000
ditaksir dapat dioperasikan selama 10 tahun,
dan disusutkan menurut metode menurun
ganda.
Dari data tersebut, besarnya penyusutan
mesin tiap tahun penggunaannya dihitung
sebagai berikut:
Persentase penyusutan tiap tahun menurut
metode garis lurus, 100% : 10 = 10%.
Persentase penyusutan tiap tahun menurut
metode menurun ganda, 2 x 10% = 20%.

Berdasarkan besarnya persentase penyusutan tersebut,


beban penyusutan mesin tiap periode akuntansi
dihitung seperti tampak dalam tabel berikut ini:

4. Metode Satuan Jam Kerja


Dalam penerapan metode satuan jam kerja
(Service Hours Method), beban penyusutan
diterapkan berdasarkan jam kerja yang dapat
dicapai dalam periode yang bersangkutan.
Beban penyusutan untuk suatu periode dihitung
dengan cara sebagai berikut:
Beban
Beban Penyusutan
Penyusutan =
= Jam
Jam kerja
kerja yang
yang dicapai
dicapai x
x Tarif
Tarif penyusutan
penyusutan tiap
tiap
jam
jam kerja
kerja

Tarif penyusutan tiap jam


kerja =

Harga Perolehan Nilai Residu


Taksiran jumlah jam kerja yang dapat
dicapai selama masa penggunaan
aset tetap

Sebuah mesin diperoleh degan harga Rp200.000.000. Mesin


tersebut disusutkan menurut metode Satuan Jam Kerja. Selama
masa penggunaannya ditaksir dapat dioperasikan sebanyak
80.000 jam, dengan nilai residu sebesar Rp20.000.000.
Berdasarkan data contoh diatas, tarif penyusutan tiap jam kerja
mesin dihitung sebagai berikut:

Rp200.000.000
Rp20.000.000
80.000

=
Rp2.250

Hasil perhitungan di atas menunjukkan tiap 1 jam mesin


dioperasikan, penyusutan yang harus dibebankan
sebesar Rp 2.250.
Apabila selama tahun 2007 mesin dioperasikan sebanyak
7.200 jam dan tahun 2008 sebanyak 7.600 jam.
Maka beban penyusutan dihitung sebagai berikut:
Tahun 2007 = 7.200 x Rp 2.250 = Rp16.200.000.

5. Metode Satuan Hasil Produksi


Penerapan metode hasil produksi (Productive Output
Method), sama dengan penerapan metode satuan jam
kerja (jasa) yaitu didasarkan kepada faktor penggunaan.
Dalam penerapan metode satuan hasil produksi, beban
penyusutan ditetapkan berdasarkan jumlah satuan
produk yang dihasilkan dalam periode yang
bersangkutan.
Beban penyusutan suatu periode adalah hasil kali jumlah
satuan produk yang dihasilkan dengan tarip penyusutan
per satuan produk.
Tarip penyusutan atau beban penyusutan per satuan
produk, dihitung sebagai berikut:
Tarif penyusutan per satuan
produk =

Harga Perolehan Nilai Residu


Taksiran jumlah satuan produk yang
dapat dihasilkan selama masa
penggunaan aset tetap

Sebuah mesin diperoleh dengan harga Rp 130.000.000. Selama


masa penggunaannya ditaksir dapat menghasilkan 400.000 unit
produk. Taksiran nilai residu sebesar Rp 10.000.000.
Dari data di atas, tarip penyusutan tiap unit produk yang
dihasilkan dihitung sebagai berikut:

Rp130.000.000
Rp10.000.000
400.000

= Rp300

Berdasarkan hasil penghitungan di atas, tiap unit produk


yang dihasilkan harus dibebani dengan penyusutan
mesin sebesar Rp300.
Apabila selama tahun 2007 produk yang sesungguhnya
dihasilkan sebanyak 38.000 unit dan dalam tahun 2008
sebanyak 42.000 unit.
Maka beban penyusutan dihitung sebagai berikut:

Membukukan
Mutasi Aset Tetap
ke Kartu Aset Tetap

Penghentian aset tetap adalah memberhentikan


aset tetap dari pemakaiannya sehingga tidak
digunakan lagi dalam aktivitas usaha
perusahaan.
Dokumen Transaksi Penghentian Aset Tetap :
Bukti penerimaan kas, sebagai bukti transaksi
penjualan aset tetap.
Surat order (perintah) pengeluaran aset tetap,
sebagai bukti pendukung untuk mengeluarkan
aset tetap yang dijual atau disingkirkan.
Bukti memorial, sebagai bukti penghentian aset
tetap yang tidak dikeluarkan dari perusahaan.
Bukti pengeluaran kas, sebagai bukti
pengeluaran kas yang berhubungan dengan
penyingkiran aset tetap.

Sebagai contoh:
Kendaraan angkutan AB-215 dengan harga perolehan
Rp120.000.000 telah disusut sebesar Rp72.000.000.
Pada tanggal 5 Januari 2008 dijual tunai dengan harga
Rp60.000.000.
Perhitungan laba rugi penjualan kendaraan berdasarkan
data di atas, sebagai berikut:
Hasil penjualan
Rp60.000.000
Harga buku kendaraan:
Harga perolehan
Rp 120.000.000
Akumulasi penyusutan kendaraan
(Rp
72.000.000)
Harga buku kendaraan
Rp48.000.000
Laba penjualan Aset tetap
Rp12.000.000

Anggap untuk dokumen transaksi tersebut adalah


tembusan bukti penerimaan kas No. 421, catatan transaksi
penjualan kendaraan tampak pada jurnal berikut ini:

Dengan pos jurnal tersebut, harga perolehan kendaraan yang


bersangkutan akan hilang dari catatan, demikian pula akumulasi
penyusutannya seperti tampak dalam buku besar berikut ini.

Contoh:
Mesin CB-021 yang diperoleh dengan harga Rp120.000.000
rusak berat sehingga harus dihentikan dari pemakaiannya.
Akumulasi penyusutan mesin tersebut berjumlah
Rp96.000.000. Biaya untuk pemindahan sebesar Rp2.000.000
dibayar tunai, bukti kas No. 611.
Kerugian akibat pemberhentian mesin pada contoh di atas,
dihitung sebagai berikut:
Harga buku mesin, Rp120.000.000 Rp96.000.000 =
Rp24.000.000
Biaya pemindahan
Rp 2.000.000
Jumlah kerugian
Rp26.000.000

Transaksi penghentian mesin tersebut, dicatat


sebagai berikut:
1.Dalam jurnal pengeluaran kas dengan mendebet
akun Rugi penghentian Aset tetap, kredit akun Kas
sebesar Rp2.000.000.
2.Dalam jurnal umum, untuk menghilangkan
catatan harga perolehan Mesin dan Akumulasi
penyusutan dengan jurnal sebagai berikut:
Akumulasi penyusutan mesin
Rp96.000.000
Rugi penghentian Aset tetap
Rp24.000.000
Mesin
Rp120.000.000

Contoh:
Pada tanggal 5 Januari 2008, PT CITRA JAYA menukar sebuah kendaraan
lama dengan kendaraan baru yang harga pasarnya Rp110.000.000.
Kendaraan lama yang diserahkan diperoleh dengan harga
Rp80.000.000 dan telah disusutkan sebesar Rp30.000.000. Dalam
pertukaran tersebut PT.CITRA JAYA menyerahkan tambahan uang
tunai sebesar Rp57.000.000.
Berdasarkan data contoh diatas, laba rugi pertukaran Aset tetap
dihitung sebagai berikut:
Harga perolehan kendaraan lama
Rp80.000.000
Akumulasi penyusutan pada saat pertukaran
(Rp30.000.000)
Harga buku kendaraan yang diserahkan
Rp50.000.000
Harga pertukaran kendaraan lama:
Harga pasar kendaraan baru yang diterima
Rp110.000.000
Tambahan uang tunai yang diserahkan
(Rp 57.000.000)
Harga pertukaran kendaraan lama
Rp53.000.000
Laba pertukaran Aset tetap
Rp 3.000.000

Transaksi pertukaran kendaraan tersebut, dicatat


sebagai berikut:
1.Dalam jurnal pengeluaran kas dengan mendebet akun
Kendaraan dan kredit akun Kas, masing-masing sebesar
Rp57.000.000 (tambahan uang tunai).
2.Dalam jurnal umum, untuk menghilangkan catatan
harga perolehan Kendaraan yang ditukar dan Akumulasi
penyusutannya dengan jurnal sebagai berikut:
Kendaraan
Rp53.000.000
Akumulasi penyusutan kendaraan Rp30.000.000
Laba pertukaran Aset tetap
Rp
3.000.000
Kendaraan
Rp80.000.000

Aset tetap yang telah habis masa penggunaannya, dapat


diperlakukan sebagai berikut:
1.Dijual
Apabila aset tetap yang telah habis masa penggunaannya
dijual, selisih antara hasil penjualan dengan harga bukunya
dicatat sebagai laba atau rugi penjualan aset tetap, seperti
yang telah dibahas dimuka.
2.Disingkirkan (dibesi tuakan)
Dalam hal ini harga perolehan dan akumulasi penyusutan
aset yang bersangkutan harus dihilangkan dari catatan
pembukuan. Harga buku aset tetap yang bersangkutan
dicatat sebagai kerugian penghentian aset tetap.
3.Diberhentikan dari penggunaannya tetapi tidak dilepas
Dalam hal demikian, akumulasi penyusutan aset tetap
yang bersangkutan harus dikeluarkan dari catatan
pembukuan, dengan mendebet akun akumulasi
penyusutan dan kredit akun aset tetap yang bersangkutan.
Jika aset tetap yang bersangkutan masih mempunyai harga
buku, diinformasikan dalam neraca sebagai aset lain-lain.

Contohnya :
1. Peralatan kantor yang harga perolehannya Rp
6.000.000 telah disusutkan Rp 5.000.000 dibesituakan
karena telah habis masa penggunaannya.
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut sebagai
berikut:
Akumulasi penyusutan peralatan kantor Rp 5.000.000
Rugi pemberhentian Aset tetap
Rp 1.000.000
Peralatan kantor
Rp 6.000.000
2. Mesin yang harga perolehannya Rp 100.000.000 dan
telah disusutkan sebesar Rp 90.000.000 diberhentikan
dari penggunaannya.
Jika mesin yang bersangkutan tidak dilepas, jurnal yang
diperlukan sebagai berikut:
Akumulasi penyusutan mesin
Rp 90.000.000
Mesin
Rp 90.000.000

Membukukan Mutasi
Penyusutan dan
Akumulasi Penyusutan
Aset Tetap

Contoh salah satu bentuk acara pemeriksaan, tampak


pada gambar berikut:

Laporan Aset tetap dalam kondisi rusak


Laporan Aset yang rusak diperlukan untuk pembuatan
pertimbangan dan keputusan manajemen dalam
menentukan apakah Aset tetap diperbaiki atau diganti
dengan yang baru.
Laporan Aset tetap yang sedang diperbaiki/diservis
Laporan Aset tetap yang sedang diperbaiki disamping
memberikan informasi mengenai kondisi Aset tetap,
diperlukan untuk perencanaan aktivitas perusahaan
baik dalam masa perbaikan maupun setelah selesai
perbaikan Aset tetap yang bersangkutan.
Laporan Aset tetap yang digunakan
Laporan Aset tetap yang digunakan memuat informasi
mengenai Aset tetap dalam kondisi baik atau siap
digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan.
Laporan penyusutan Aset tetap
Laporan penyusutan Aset tetap memuat antara lain
besarnya penyusutan tiap tahun untuk tiap jenis Aset
tetap.

Hak Patent
Hak paten merupakan hak khusus yang diberikan oleh pemerintah kepada
pencipta barang atau suatu proses pembuatan barang, yang disertai
perlindungan secara hukum dan peniruan atau pemalsuan oleh pihak
lain.

Hak Cipta
Hak Cipta (Copy Rights) adalah hak yang diberikan oleh pemerintah kepada
pengarang, pencipta lagu/musik atau seniman lainnya untuk
menerbitkan/mempublikasikan, menjual atau mengawasi ciptaannya.

Waralaba (Franchise)
Waralaba merupakan hak yang diperoleh oleh satu pihak (franchisee) dari
pihak lain (franschisor) untuk menggunakan proses produksi,
menggunakan logo franchisor, dan kemudian menjual hasil produkisi
tersebut.

Merek Dagang
Penggunaan Merek dagang (Trademark) dan nama dagang merupakan hal
yang sangat penting bagi perusahaan yang menggantungkan produknya
kepada permintaan konsumen.

Goodwill
Goodwill merupakan nilai lebih yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang
timbul karena adanya kelebihan dalam beberapa faktor, seperti nama
yang terkenal, staf dan personalia yang berkemampuan tinggi atau
lokasi perusahaan yang menguntungkan.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam


penyajian Aset tetap dan Aset tidak berwujud dalam
neraca adalah sebagai berikut:
Tiap jenis Aset tetap seperti tanah/hak atas tanah,
bangunan dan lain sebagainya, harus dinyatakan
dalam neraca secara terpisah atau dirinci pada
catatan atas laporan keuangan.
Aset tetap dinyatakan sebesar harga perolehannya,
dan akumulasi penyusutan dinyatakan sebagai
pengurang harga perolehan Aset tetap yang
bersangkutan (sebagai offseting account).
Masing-masing jenis Aset tidak berwujud harus
dinyatakan dalam neraca secara terpisah.
Aset tidak berwujud dalam neraca dinyatakan
sebesar nilai manfaat yang tersisa.