Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PEMERIKSAAN BAHAN BAKU ZnO

SECARA TITRASI KOMPLEKSOMETRI

NAMA

: AYU APRILIANI

NPM

: 260110140078

HARI/TANGGAL PRAKTIKUM

: SENIN, 22 SEPTEMBER 2015

ASISTEN

:1. HASYA AQDAN


2. HESTI JUWITA SARI

LABORATORIUM ANALISIS FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR

2015
Abstrak

Kompleks adalah dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation,


dengan sebuah anion atau molekul netral yang larut namun sedikit terdisosiasi.
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat
pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri
adalah garam dinatrium etil diamina tetra asetat (dinatrium EDTA). Tujuan dari
praktikum ini yaitu untuk menetapkan kadar sampel secara kuantitatif
mengunakan prinsip reaksi pembentukan kompleks (kompleksometri) dan
menghitung kemurnian bahan baku ZnO dan membandingkan dengan
persyaratan. Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah titrasi secara
kompleksometri dalam menentukan kadar ZnO. Kadar ZnO yang didapat dalam
praktikum ini sebesar

70,1093 , tidak memenuhi persyaratan kadar yang

terdapat dalam Farmakope Indonesia edisi III yaitu tidak kurang dari 99,0 %.

Kata Kunci

: Titrasi, Kompleksometri, kompleks, ion logam, kation , anion

Abstract

The complex is formed by reacting a metal ion, a cation with an anion or a


neutral molecule soluble but slightly dissociated. Complexometric titration is a
titration based on the formation of complexes between cationic compounds with
complex forming agent. One of the complex forming substances are widely used
in complexometric titration is the disodium salt diamine tetra ethyl acetate
(disodium EDTA). The purpose of this practicum is to establish the levels of
quantitative samples using complex formation reaction principle (complexometry)
and calculate the purity of raw materials ZnO and compares with the
requirements. The method used in this practicum is in complexometry titration to
determine the amount of ZnO. ZnO levels obtained in this practicum is 70,1093%,
does not meet the level requirements contained in the third edition of the
Pharmacopoeia Indonesia that is not less than 99.0%.

Keywords: Titration, Complexometry, complex, metal ions, cations, anions

I.

Pendahuluan

II.

Latar Belakang
III.

berdasarkan

pembentukan

persenyawaan

kompleks

(ion

kompleks atau garam yang sukar

Analisa kimia farmasi

mengion).

Kompleksometri

kuantitatif untuk zat-zat anorganik

merupakan jenis titrasi dimana titran

yang mengandung ion logam seperti

dan

aluminium,

membentuk hasil berupa kompleks.

bismuth,

kalsium,

titrat

saling

mengkompleks,

magnesium dan zink dengan cara

Reaksireaksi

gravimetrik memakan waktu yang

kompleks atau yang menyangkut

lama, karena prosedurnya meliputi

kompleks

pengendapan,

penerapannya juga banyak, tidak

penyaringan,

pencucian dan pengeringan atau


pemijaran sampai bobot tetap.
IV.

Sekarang

prosedur titrasi titrimetri yang baru


yaitu titrasi kompleksometri untuk
penentuan ion-ion logam ini dengan

banyak

sekali

dan

hanya dalam titrasi.


VI.

ditemukan

pembentukan

Tujuan

1. Menetapkan kadar sampel secra


kuantitatif menggunakan prinsip
reaksi pembentukan kompleks
2. Menghitung kemurnian bahan

pereaksi etilen diamin tetra-asetat

baku

ZnO

dan

dinatrium, yang umumnya disebut

membandingkannya

dengan

EDTA

persyaratan

dengan

menggunakan

indikator terhadap pH pada titrasi


asam

basa,

dengan

dasar

pembentukan kompleks khelat yang


digolongkan

dalam

golongan

komplekson.
V.

VII. Prinsip
1. Titrasi Kompleksometri
VIII.

Titrasi

kompleksometri adalah titrasi yang


Titrasi

kompleksometri

digunakan
yaitu

titrasi

untuk

menentukan

kandungan

garam-garam

logam

(Gandjar, 2007).

saat indikator berubah warna (Levie,


2010).

2. Titrasi Langsung
IX.

menggunakan indikator yaitu pada

Titrasi

ini

dapat

XIII. Teori Dasar

dilakukan terhadap sedikitnya 25


kation

dengan

menggunakan

XIV.

Titrasi

kompleksometri yaitu titrasi

indikator logam. Buffer NH3- .

berdasarkan

NH4Cl

9-10

persenyawaan kompleks (ion

seringdigunakan untuk logam yang

kompleks atau garam yang

memebentuk

sukar

dengan

Ph

kompleks

amoniak(Day&Underwood, 2002).

Cara

mengion),

Kompleksometri merupakan
jenis titrasi dimana titran dan

3. Titrasi Tidak Langsung


X.

pembentukan

titrat saling mengkompleks,

titrasi

tidak

membentuk

hasil

berupa

langsung dapat digunakan untuk

kompleks.

menentukan kadar ion-ion seperti

pembentukan kompleks atau

anion yang tidak bereaksi dengan

yang menyangkut kompleks

pengelat (Pudjaatmaka, 2002).

banyak

sekali

dan

penerapannya juga banyak,

4. Indikator EBT
XI.

Reaksireaksi

tidak hanya dalam titrasi.

Eriiochrom

black T

Karena itu perlu pengertian

umumnya berwarna merah seperti

yang

h2In. Titrasi harus diatur pada ph 7

kompleks, sekalipun disini

atau lebiih sehingga indikator bebas

pertama-tama

dalam bentuk HIn2 yang berwarna

diterapkan

biru (Krisna dwi, 2014).

(Khopkar, 2002).

5. Titik akhir titrasi


XII.
menghentikan

Keadaan
titrasi.

cukup

XV.
ketika
Jika

luas

tentang
akan

pada

titrasi

Salah satu tipe

reaksi kimia yang berlaku


sebagai

dasar

penentuan

titrimetrik

melibatkan

menggambarkan metode ini.

(formasi)

Semua istilah ini mengacu

kompleks atau ion kompleks

pada metode analisis yang

yang larut namun sedikit

sama

terdisosiasi. Kompleks yang

dihasilkan dari penggunaan

dimaksud

di

EDTA

kompleks

yang

pembentukan

sini

adalah

dan

mereka

(Ethylene

telah

diamine

dibentuk

tetra acetic acid) dan chilons

melalui reaksi ion logam,

lainnya. Chilons ini bereaksi

sebuah kation, dengan sebuah

dengan

anion atau molekul netral

membentuk jenis khusus lex

(Basset, 1994).

comp dikenal sebagai kelat

XVI. Teknik

ini

ion

logam

untuk

(Husain, 2007).

melibatkan titrasi ion logam

XVII. Asam

etilen

dengan zat pengompleks atau

diamin tetra asetat atau yang

pengkelat (Ligan) dan sering

lebih dikenal dengan EDTA,

disebut

titrasi

merupakan salah satu jenis

sebagai.

asam amina polikarboksilat.

kompleksometri
Metode

ini

merupakan

aplikasi

analitis

EDTA

sebenarnya

adalah

reaksi

ligan seksidentat yang dapat

kompleksasi. Dalam metode

berkoordinasi dengan suatu

ini, ion sederhana berubah

ion

menjadi ion kompleks dan

nitrogen dan keempat gugus

titik

karboksil-nya

ekivalen

dengan

ditentukan
menggunakan

indikator

logam

electrometrically.
nama

lain

chilometric,

logam

ligan

lewat

kedua

atau

disebut

multidentat

yang

atau

mengandung lebih dari dua

Berbagai

atom koordinasi per molekul,

seperti

titrasi

chilometry,

misalnya

asam

1,2-

diaminoetanatetraasetat

titrasi chilatometric dan titrasi

(asametilenadiamina

EDTA telah digunakan untuk

tetraasetat,

EDTA)

yang

mempunyai

dua

atom

(EDTA)

nitrogen penyumbang dan

yang

empat

EDTA

atom

oksigen

merupakan

titran

sering

digunakan.

akan

membentuk

penyumbang dalam molekul

kompleks 1:1 yang stabil

(Rival, 1995).

dengan semua logam kecuali

XVIII. Suatu

EDTA

dapat membentuk senyawa


kompleks

yang

mantap

dengan sejumlah besar ion


logam

sehingga

EDTA

merupakan ligan yang tidak


selektif. Dalam larutan yang
agak

asam,

dapat

terjadi

protonasi parsial EDTA tanpa


pematahan

sempurna

kompleks

logam,

yang

menghasilkan spesies seperti


CuHY.

Ternyata

bila

beberapa ion logam yang ada


dalam larutan tersebut maka
titrasi dengan EDTA akan
menunjukkan jumlah semua
ion logam yang ada dalam
larutan

tersebut

(Harjadi,

1993).

logam alkali seperti natrium


dan kalium. Untuk deteksi
titik akhir titrasi digunakan
indikator zat warna yang
ditambahkan
logam

pada

pada

larutan

saat

awal

sebelum dilakukan titrasi dan


akan membentuk kompleks
berwarna dengan sejumlah
kecil logam. Pada titik akhir
titrasi (ada sedikit kelebihan
EDTA)

maka

komples

indikator logam akan pecah


dan

menghasilkan

warna

yang berbeda. Indikator yang


dapat digunakan untuk titrasi
kompleksometri
lain

hitam

ini

antara

eriokrom,

mureksid, jingga pirokatenol,


jingga xilenol, asam kalkon
karbonat, kalmagit, dan biru

XIX. Titrasi
kompleksometri

hidroksi

digunakan

untuk menentukan kandungan


garam-garam

logam.

Etilendiamin

tetraasetat

naftol

(Gandjar,

2007).
XX.

Salah satu tipe

reaksi kimia yang berlaku

sebagai

dasar

penentuan

titrimetrik

melibatkan

pembentukan

(formasi)

kompleks atau ion kompleks


yang larut namun sedikit

dapat

persamaan :
XXII.

di

sini

kompleks

yang

adalah
dibentuk

melalui reaksi ion logam,


sebuah kation, dengan sebuah
anion atau molekul netral
(Basset, 1994).
XXI.
Titrasi
sebagai reaksi yang meliputi
reaksi pembentukan ion-ion
ataupun

pembentukan molekul netral


yang

terdisosiasi

dalam

larutan. Persyaratan mendasar


terbentuknya
demikian

kompleks

adalah

tingkat

kelarutan tinggi. Selain titrasi


komplek biasa seperti di atas,
dikenal pula kompleksometri
yang dikenal sebagai titrasi
kelatometri,
menyangkut

seperti

yang

penggunaan

EDTA. Gugus-yang

H2O

(Day&Underwood, 2002).
XXIII.
XXIV.

Indikator

metallochromic adalah yang


hanya dalam kisaran pH
terbatas di mana bentuk yang
berlaku indikator bebeas
memiliki warna yang berbeda
dari warna kompleks dengan

kompleksometri juga dikenal

kompleks

oleh

M(H2O)n + L =

M(H2O)(n-1) L

terdisosiasi. Kompleks yang


dimaksud

dinyatakan

terikat

kation logam sasaran.


Misalnya, salah satu
metallochromic paling
populer Indikator adalah
Eriochrome Black T (EBT)
yang
XXV. sesuai dengan struktur:
XXVI.
XXVII.
XXVIII.
XXIX. Indikator

yang

banyak

digunakan dalam titrasi


kompleksometri

adalah

salah

Hitam

satunya

pada ion pusat, disebut ligan,

eriokrom atau Eriochrome

dan dalam larutan air, reaksi

Black T (EBT). Indikator

ini

peka

terhadap

dengan

perubahan kadar logam

buffering

dan pH larutan. Pada pH

2015).

-10

senyawa

ini

biru

dan

berwarna
kompleksnya

berwarna

merah anggur. Pada pH 5


senyawa

itu

sendiri

berwarna merah, sehingga

larutan

pH

(Michela,

XXX.
XXXI. Metode
XXXII.

Alat percobaan

XXXIII.

Batang

pengaduk,

titik akhir sukar diamati,

buret, corong, erlenmeyer,

demikian juga pada pH

gelas kimia, gelas ukur,

12.

klem, labu ukur, pipet

Umumnya

dengan

titrasi

indikator

ini

dilakukan pada pH 10.


Dari

atas,

juga

disimpulkan

dapat
bahwa

tetes, spatel dan statif.


XXXIV.

Bahan percobaan

XXXV.

Aquadest

asam

Indikator metallochromic

asetat glasial, eriochrome

dalam

sebuah

Black T, HCl, Na-EDTA,

indikator

NH4Cl, NH4OH, ZnO,

primis

Asam-Basa

begitu banyak sehingga


perubahan
mungkin
larutan

warna
diamati dalam

yang

dititrasi,

karena ada suatu yang

ZnSO4
XXXVI. Pembuatan Larutan
Na-EDTA
XXXVII. Na-EDTA ditimbang

tidak diinginkan seperti

sebanyak

perubahan

kemudian

penambahan

pH

setelah
titran,

bahkan dititik yang jauh


dari titik ekivalen dari
titrasi

kompleksometri.

hal ini juga dapat dicegah

2,79

gram

dilarutkan

dalam aquadest sebanyak


150 ml.
XXXVIII. Pembuatan Larutan
Buffer Salmiak

XXXIX.

Ditimbang

33,75

gram

NH4Cl
dilarutkan

larutan

Kemudian ditirasi larutan

Ditambahkan asam asetat

Na-EDTA dengan ZnSO4

glasial sampai dicapai pH

sebanyak tiga kali/triplo.

ad hingga 500 ml.


Pembuatan

indikator

XLIV. Penentuan Kadar ZnO


XLV. ZnO ditimbang sebanyak
500

EBT
XLI.

Na-EDTA.

dalama NH4OH 325 ml.

9. Ditambahkan aquades

XL.

Eriochrome Black T pada

mg

kemudian

dilarutkan dengan 10 ml

Pembuatan indikator EBT

HCl 4 N. Ditambahkan

yaitu

aquadest

dengan

cara

ad

100

ml.

mencampur serbuk EBT

Dinetralkan dengan 5 ml

dan

larutan

NaCl

perbandingan
Indikator

dengan
1:

EBT

dibuat
menambahkan

NH4OH.

10.

Kemudian ditambahkan 5

yang

ml buffer salmiak pH 10,

dengan

dititrasi dengan Na-EDTA

gram

yang telah ditambahkan

serbuk EBT dengan 10

indikator

gram NaCl.

Black T sampai dicapai


titik akhir menjadi warna

XLII. Standardisasi Na-EDTA


XLIII. Dibuat

larutan

Eriochrome

biru tua. Titrasi dilakukan

standar

tiga kali/triplo. Dihitung

primer untuk standarisasi

kemurnian bahan baku

Na-EDTA yaitu ZnSO4.

ZnO.

Ditambahkan

dengan persyaratan.

indikator

Dibandingkan

XLVI. Hasil
XLVI.1 Tabel Hasil Pembakuan Larutan Na2EDTA
XLVII.
No
1 L.

XLVIII.

Perlakuan

ZnSO4 ditimbang

XLIX. Hasil
LI.

Massa 1 : 251 mg

dengan menggunakan neraca


analisis
2 LIV. ZnSO4 + aquadest +
larutan buffer salmiak +
indicator EBT
3 LVI. Dilakukan titrasi
denganmenggunakan larutan
Na2EDTA sebagai titran

LII.
LIII.

Massa 2 : 250,2 mg
Massa 3 : 251,4 mg

LV.

Larutan berwarna

ungu muda
LVII. Larutan berwarna biru
LVIII. Volume Na2EDTA 1 :
24 ml
LIX. Volume Na2EDTA 2 :
24 ml
LX. Volume Na2EDTA 3 :
24 ml

LXI.
Tabel Hasil Penentuan Kadar ZnO

LXII.

LXIII. Perlakuan

No
1 LXV. ZnO ditimbang dengan
menggunakan neraca analitik
2 LXIX. ZnO + 2 ml HCl encer
4 N + NH4OH + Aquadest ad

LXIV. Hasil
LXVI. Massa 1 : 100,6 mg
LXVII.Massa 2 : 101,5 mg
LXVIII.
Massa 3 : 100,5
mg
LXX. Larutan berwarna ungu
muda

20 ml + larutan buffer salmiak


+ indicator EBT
3 LXXI. Dilakukan titrasi
dengan menggunakan larutan
Na2EDTA yang telah
distandarisasi sebagai titran

LXXII.Larutan berwana biru


LXXIII.
Volume
Na2EDTA 1 : 24,7 ml
LXXIV.
Volume
Na2EDTA 2 : 22,9 ml
LXXV.Volume Na2EDTA 3 :

24,2 ml
LXXVI.
LXXVII.
LXXVIII.
Perhitungan Pembakuan larutan EDTA

LXXIX.

[EDTA] =

Titrasi 1 :
Massa ZnSO 4 (mg)
Mr ZnSO 4.7 H 2 O

LXXX.

LXXXI.
LXXXII.
LXXXIII.
LXXXIV.

Titrasi 2 :

LXXXV.

[EDTA] =

1
volume pentiter(ml)

251 mg
287,54

1
24 ml

= 0,0363 M
Massa ZnSO 4 (mg)
Mr ZnSO 4.7 H 2 O

1
volume pentiter( ml)
LXXXVI.

250,2 mg
287,54

LXXXVII.
LXXXVIII.
LXXXIX.
XC. Titrasi 3 :
XCI.

[EDTA] =

1
24 ml

= 0,0363 M
Massa ZnSO 4 (mg)
Mr ZnSO 4.7 H 2 O

1
volume pentiter( ml)
XCII.
XCIII.
XCIV.
XCV.
XCVI.

251,4 mg
287,54

1
24 ml

= 0,0364 M
Rata-rata [EDTA] =

0,0363 M
XCVII.
Perhitungan Kadar ZnO
XCVIII.
Titrasi 1 :

0,0363 M +0,0363 M + 0,0364 M


3

XCIX. % ZnO =

Vol . EDTA X [ EDTA ] X BM ZnO X 100


Massa ZnO (mg)

C.

24,7 x 0,0363 x 81,38 x 100


100,6

CI.
CII.
CIII.

= 72,555%
Titrasi 2 :

CIV.

% ZnO =

CV.

Vol . EDTA X [ EDTA ] X BM ZnO X 100


Massa ZnO (mg)

22,9 x 0,0363 x 81,38 x 100


101,5

CVI.
= 66,64 %
CVII. Titrasi 3 :
Vol . EDTA X [ EDTA ] X BM ZnO X 100
CVIII. % ZnO =
Massa ZnO (mg)
24,2 x 0,0363 x 81,38 x 100
100,5

CIX.

CX.

= 71,133%

CXI.

Rata-rata %ZnO =

72,555 +66,64 +71,133


3

= 70,1093%

CXII.
CXIII. Pembahasan
CXIV. Dalam

Titrasi kompleksometri adalah titrasi


praktikum

pemeriksaan bahan baku ZnO denga


cara

titrasi

kompleksometri

ini

bertujuan untuk menetapkan kadar


sampel
mengunakan
pembentukan

secara
prinsip

kuantitatif
reaksi
kompleks

(kompleksometri) dan menghitung


kemurnian bahan baku ZnO dan
membandingkan dengan persyaratan.

berdasarkan pembentukan senyawa


kompleks antara kation dengan zat
pembentuk kompleks. Salah satu zat
pembentuk kompleks yang banyak
digunakan
kompleksometri

dalam
adalah

titrasi
garam

dinatrium etil diamina tetra asetat


(dinatrium
kompleksometri

EDTA)
digunakan

Titrasi
untuk

menentukan kandungan garam-garam

logam.

Etilendiamin

(EDTA)

merupakan

tetraasetat

disebut

ligan

multidentat

yang

titran

yang

mengandung lebih dari dua atom

EDTA

akan

koordinasi per molekul. Suatu EDTA

membentuk kompleks 1:1 yang stabil

dapat membentuk senyawa kompleks

dengan semua logam kecuali logam

yang

alkali seperti natrium dan kalium.

besarion

Untuk deteksi titik akhir titrasi

merupakan ligan yang tidak selektif.

digunakan indikator zat warna yang

Dalam larutan yang agak asam, dapat

ditambahkan pada larutan logam

terjadi protonasi parsial EDTA tanpa

pada saat awal sebelum dilakukan

pematahan

titrasi

logam, yang menghasilkan produk

sering

digunakan.

dan

akan

membentuk

kompleks berwarna dengan sejumlah

komples indikator logam akan pecah


dan

menghasilkan

berbeda.

warna

yang

yang

dapat

Indikator

dengan

logam

sejumlah

sehingga

sempurna

EDTA

kompleks

baru seperti CuHY.

kecil logam. Pada titik akhir titrasi


(ada sedikit kelebihan EDTA) maka

mantap

CXVI. Faktor-faktor

yang

membuat EDTA sebagai titrimetri


yaitu:
1. Selalu

membentuk

kompleks

titrasi

ketika direaksikan dengan ion

kompleksometri ini antara lain hitam

logam.
2. Kestabilannya dalam membentuk

digunakan
eriokrom,

untuk
mureksid,

jingga

pirokatenol, jingga xilenol, asam


kalkon karbonat, kalmagit, dan biru
hidroksi naftol.
CXV. EDTA
salah

satu

jenis

merupakan
asam

amina

polikarboksilat. EDTA sebenarnya


adalah ligan seksidentat yang dapat

kelat sangat konstan sehingga


reaksi

berjalan

sempurna

(kecuali dengan logam alkali)


3. Dapat bereaksi cepat dengan
banyak jenis ion logam.
4. Telah
dikembangkan
indikatornya secara khusus.
5. Mudah diperoleh bahan baku

ion

primernya.
6. Dapat digunakan baik sebagai

logam lewat kedua nitrogen dan

bahan yang dianalisis maupun

keempat gugus karboksilnya atau

sebagai

berkoordinasi

dengan

suatu

standardisasi.

bahan

untuk

CXVII. Pada

indikator eriochrome black T

percobaan uji pemeriksaan

(EBT).

bahan baku ZnO dibutuhkan


larutan

Na-EDTA

CXIX. Ada

lima

yang

syarat suatu indikator ion

baku

logam dapat digunakan pada

dimana

pendeteksian visual dari titik-

konsentrasinya tidak dapat

titik akhir yaitu reaksi warna

diketahui

dengan

harus sedemikian sehingga

menimbang

zat

merupakan

larutan

sekunder

cara

kemudian

melarutkannya

untuk

sebelum

titik

akhir,

bila

hampir semua ion logam

memperoleh volum tertentu.

telah

Namun

dibakukan

EDTA, larutan akan berwarna

dengan

kuat. Kedua, reaksi warna itu

yang

haruslah spesifik (khusus),

baku

atau

harus

terlebih

dahulu

larutan

ZnSO4

merupakan
primer.

larutan

Na-EDTA dititrasi

dengan

ZnSO4

Ketiga,

berkompleks

sedikitnya

dengan

selektif.

kompleks-indikator

dengan

logam itu harus memiliki

bantuan

kestabilan yang cukup, kalau

indikator eriochrome black T

tidak, karena disosiasi, tak

(EBT) untuk penentuan titik

akan

akhir titrasi.

warna yang tajam. Namun,

menggunakan

CXVIII. Jenis

diperoleh

perubahan

titrasi

kompleks-indikator logam itu

pada pemeriksaan bahan baku

harus kurang stabil dibanding

ZnO yang dilakukan adalah

kompleks logam-EDTA untuk

titrasi komplesometri secara

menjamin agar pada titik

langsung langsung, dimana

akhir, EDTA memindahkan

ion logam yang ada dalam

ion-ion logam dari kompleks-

larutan

dititrasi

langsung

indikator logam ke kompleks

dengan

larutan

dinatrium-

logam-EDTA harus tajam dan

EDTA dengan menggunakan

cepat. Kelima, kontras warna


antara indikator bebas dan

kompleks-indikator

logam

Perubahan warna indikator

harus sedemikian sehingga

logam

mudah

Indikator

eriochrome black T (EBT)

harus sangat peka terhadap

adalah tergantung pada proses

ion logam (yaitu, terhadap

serah terima proton pada

pM)

gugus asam sulfonat yang

diamati.

sehingga

perubahan

yang

warna terjadi sedikit mungkin

akan

dengan titik ekuivalen.

perubahan

CXX.
penentuan
(ZnO),

Dalam

digunakan

menghasilkan
warna

yang

berbeda pada pH tertentu.

Seng

Oksida

Oleh

karenanya

terlebih

dahulu

pemberian

dilakukan

larutan

dapar

dilarutkan ke dalam larutan

amonia pH 10 agar perubahan

asam klorida lalu diencerkan

warna menjadi biru tua (yang

dengan penambahan aquadest

dijadikan sebagai titik akhir

ad 100 ml. Karena ZnO

titrasi) dapat tercapai. Selain

mempunyai sifat kelarutan

itu pH larutan dijaga agar

praktis tidak larut dalam air

tetap

dan dalam etanol (95%) P;

kompleks

larut dalam asam mineral

mencapai kestabilan dengan

encer dan dalam larutan alkali

ion

hidroksida.

adalah logam divalen) pada

ditambah

Kemudian

dikarenakan
EDTA

logam

divalen

akan
(Zn2+

untuk

suasana basa atau sedikit

menetralkan dimana NH4OH

asam. Selain itu fungsi dapar

akan bereaksi dengan asam

adalah

yang

mempertahankan pH dengan

ada

NH4OH

basa,

pada

larutan

untuk

akibatnya pH larutan akan

penambahan

menurun

atau sedikit basa

CXXI.

Saat titrasi pH

CXXII.

asam
Setelah

larutan harus terus dijaga oleh

larutan

karenanya diberikan larutan

larutan dapar amonia pH 10

dapar

dan kemudian ditambahkan

salmiak

pH

10.

ZnO

sedikit

ditambahkan

dengan

indikator

logam

titrasi berdasarkan pembentukan

eriochrome black T, maka

persenyawaan

indikator eriochrome black T

kompleks atau garam yang sukar

akan terdisosiasi melepaskan

mengion).

dua atom hidrogennya dan

merupakan jenis titrasi dimana

mengikat ion Zn2+ yang ada

titran

dalam

segera

mengkompleks, membentuk hasil

membentuk kompleks Zn2+-

berupa kompleks.
2. Kadar ZnO dari hasil praktikum

air

dan

indikator eriochrome black T.


Kestabilan

kompleks

ini

cukup tinggi akan tetapi lebih


stabil

jika

dibandingkan

dengan kompleks antara Zn

2+

dengan dinatrium EDTA.

kompleks

(ion

Kompleksometri

dan

titrat

saling

adalah

70,1093 ,

tidak

memenuhi

persyaratan

kadar

yang terdapat dalam Farmakope


Indonesia edisi III yaitu tidak
kurang dari 99,0 %.

CXXIII.
CXXIX. Daftar Pustaka
CXXIV. Pada
Farmakope

Indonesia

III

kadar dari ZnO adalah tidak


kurang dari 99% maka dapat
ditarik

kesimpulan

bahwa

dalam

pecobaan

ini

70,1093 , kadar dari ZnO


tidak

sesuai

dengan

1994. Buku Ajar


Analisis

J.

dkk.

Vogel:Kimia
Kuantitatif

Anorganik.Terjemahan

A.

Hadyana Pudjaatmaka dan L.


Setiono. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
CXXXI.

Day, R. A. and A.

Kimia Kuantitatif edisi


Keenam. Jakarta: Penerbit

CXXVIII.
Kesimpulan
1. Sampel ZnO ditetapkan secara
titrasi kompleksometri dimana
kompleksometri

Basset,

L. Underwood. 2002. Analisis

Farmakope Indonesia.
CXXV.
CXXVI.
CXXVII.

titrasi

CXXX.

yaitu

Erlangga.

CXXXII.

Ganjar, Ibnu Gholib.

2/titrasi-komplesometri/

2007. Kimia Farmasi Analisis.

[diakses tanggal 26 sepetember

Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

2015].

CXXXIII.

Harjadi, W.

1993. Ilmu Kimia Analitik


Dasar. Jakarta: PT Gramedia.
CXXXIV.

Husain, Asif. 2007.

PHARMACEUTICAL
ANALYSIS : Theoretical Basis
of Analysis: Complexo metric
Titrations. Available online at
http://www.researchgate.net/pu
blication/242713763_Theoretic
al_Basis_of_Analysis_Comple
xometric_Titrations [diakses
tanggal 26 September 2015].
CXXXV.

Khopkar.

2002. Konsep Dasar Kimia


Analitik. Jakarta: UI Press.
CXXXVI.

Krisnadwi. 2014.

Titrasi Kompleksometri.
Available online at
http://bisakimia.com/2014/09/0

CXXXVII.
CXXXVIII.

Michela Maria. 2015.

Understanding
Complexometric Titrations of
Metal Cations with
Aminopolycarboxylic Acids
(EDTA and Analogs) within the
frame of the Notion of
Reactions between Groups of
Chemical Species. Vol. 3. No.
1. hal:3. available online at
http://pubs.sciepub.com/wjce/3
/1/2/wjce-3-1-2.pdf [diakses
tanggal 26 sepetember 2015].
CXXXIX. Pudjaatmaka, A.
Hadyana. 2002. Kamus
Kimia. Jakarta : Balai
Pustaka.
CXL. Rival, Harrizul.
1995. Asas Pemeriksaan
Kimia. Jakarta: UI Press.

CXLI.
CXLII.
CXLIII.
CXLIV.
CXLV.
CXLVI.
CXLVII.
CXLVIII.
CXLIX.
CL.
CLI.
CLII.
CLIII.
CLIV. Lampiran

CLV.

CLVI.

CLVII.

CLVIII.

CLIX.