Anda di halaman 1dari 14

Pendidikan Konseling Gizi Lanjut

(Pelaksanaan dan Evaluasi Konseling Gizi)

Disusun Oleh:
1. Reisye Chaerunnisa P2.31.31.0.14.037
2. Retria Octa Wedista P2.31.31.0.14.039
3. Siti Haniifah P2.31.31.0.14.045
Dosen Pembimbing:
Dra. Rosmida Magdalena Marbun, M.Kes
DIII/IVB
Jurusan Gizi
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II
Tahun 2016

I.

Pengertian Konseling Gizi


Konseling gizi adalah serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi 2 (dua) arah
untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan perilaku sehingga membantu
klien / pasien mengenali dan mengatasi masalah gizi melalui pengaturan makanan dan
minuman yang dilaksanakan oleh nutrisionis/dietisien.
Konseling gizi adalah suatu bentuk pendekatan yang digunakan dalam asuhan gizi
untuk menolong individu dan keluarga memperoleh pengertian yang lebih baik tentang
dirinya dan permasalahan yang dihadapi. Setelah konseling diharapkan individu dan keluarga
mampu mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah gizi termasuk perubahan pola
makan serta memecahkan masalah terkait gizi kearah kebiasaan hidup sehat.
Konseling yang efektif adalah komunikasi dua arah antara klien dan konselor tentang
segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku makan klien. Hal ini dapat
dicapai kalau konselor dapat menumbuhkan kepercayaan diri klien sehingga mampu dan mau
melakukan perilaku baru untuk mencapai status gizi yang optimal. Untuk itu konselor perlu
menguasai dan menerapkan keterampilan mendengar dan mempelajari dalam proses
konseling.

II. Perencanaan Konseling Gizi


A. Pengumpulan data
1. Data sosial budaya : suku, agama, pendidikan, keadaan ekonomi dan pekerjaan.
2. Data riwayat : data keluarga dan data riwayat kesehatan, data riwayat gizi
(anamnesa gizi) menyangkut pola dan kebiasaan makan yaitu perkiraan jumlah
asupan zat gizi dalam periode waktu tertentu, jenis dan jumlah bahan makanan yang
sering dikonsumsi, makanan pantangan / mitos budaya, alergi, kebiasaan mengolah
atau membeli makanan. Pengambilan data riwayat gizi (anamnesa gizi) dengan cara
recall makanan 24 jam dilengkapi dgn data food frekwensi dan food record.
3. Pengetahuan tentang gizi, sikap terhadap makanan, aktivitas fisik, penggunaan obatobatan, penggunaan suplemen zat gizi
4. Data riwayat medik : kemungkinan pengaruh penyakit yang lalu, terapi,
pembedahan, radiasi, kemoterapi, atau tindakan lain terhadap kebutuhan, asupan,
pencernaan, absorpsi dan metabolisme zat gizi.

5. Data antropometri : Tinggi badan,Berat badan, IMT, Lila, untuk anak-anak : tb dan
bb dibandingkan dengan umur berdasarkan standar bakuWHO-NCHS. Untuk orang
dewasa : IMT, Lila.
6. Data klinis : Tanda-tanda adanya retensi cairan : oedema, ascites, peningkatan
tekanan darah, penambahan bb, meningkatnya jumlah urine,Tanda-tanda adanya
dehidrasi : mata dan pipi cekung, kulit keriput, kurus, menurunnya jumlah urine,
tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang. kondisi lemah, cengeng,
mudah rewel (bagi anak-anak), tangan dan kaki terasa dingin, haus (mulut kering).
7. Data biokimia : Hb, gula darah, albumin, sgot, sgpt, urine, kolesterol darah, hati,
jantung, ginjal, dsb.

B. Pengkajian dan identifikasi data


Gambaran status gizi, sikap terhadap makanan dan lingkungannya, riwayat
sosial, medis, kebutuhan gizi, kebutuhan akan pendidikan gizi, kebutuhan akan motivasi
C. Kesimpulan hasil identifikasi masalah klien
Contoh : asupan makanan melebihi dari kebutuhan --> energi 1 akg, tinggi
lemak jenuh, dsb. lingkungan klien kurang memadai yaitu pengetahuan gizi dan motivasi
untuk melakukan kebiasaan pola makan hidup sehat masih rendah.
D. Membuat perencanaan konseling
Perencanaan konseling dibuat berdasarkan :
1.

Hasil dari pengkajian dan identifikasi data

2.

Kesimpulan hasil identifikasi masalah klien


Hitung kebutuhan zat gizi klien : Hitung kebutuhan gizi dengan mempertimbangkan bb,
tb, imt, aktivitas, kemampuan organ tubuh akibat penyakit yang diderita. Dsb.
Terjemahkan hasil penghitungan kedalam bentuk susunan jumlah bahan makanan dan
ditulis di dalam daftar diet. Daftar diet merupakan daftar bahan makanan yang dapat
dipedomani klien dalam melaksanakan dietnya sendiri yang di dalamnya juga tercantum
bahan makanan yang boleh, yang dibatasi, dan tidak dibolehkan dikonsumsi klien
selama menjalani diet.

Materi : Materi disesuaikan dengan permasalahan klien, diawali dengan


penjelasan tentang hal-hal yang mudah sampai ke yang rumit, materi dimuat

dalam daftar diet (leaflet) yang sudah jadi.


Metode : Metode yang digunakan dengan menggabungkan berbagai metode

belajar seperti: wawancara, diskusi dan tanya jawab, demonstrasi dsb


Media : Sebaiknya menggunakan lebih dari satu media spt : daftar diet, daftar
bahan makanan penukar, food model, lembar balik, phantom, nutriclean, contoh-

III.

contoh menu dsb.


Evaluasi : Lisan dan tulisan tentang pengetahuan, sikap dan tindakan

Evaluasi Konseling Gizi


Dalam buku Penuntun Konseling Gizi, karya Cornelia et al., ada 4 langkah kegiatan
evaluasi penyuluhan dan konseling gizi, yaitu :
1. Monitoring Perkembangan Monitoring ini dilakukan oleh pesuluh atau konselor dalam
memantau perkembangan kliennya, hal ini dapat dilakukan dengan ,
a. Mengecek pemahaman dan ketaatan diet klien
b. Menentukan apakah intervensi dilakukan sesuai dengan rencana
c. Menentukan apakah status gizi klien tetap atau berubah
d. Mengumpulkan informasi yang menunjukan alasan tidak adanya perkembangan dari
kondisi klien.
2. Mengukur hasil
Untuk mengukur hasil ini kita sebagai pesuluh ataupun konselor harus menetapkan
terlebih dahulu apa yang harus kita ukur. Dalam proses Asuhan Gizi Standarhal yang
diukur tergambar pada komponen tanda atau gejala dari diagnosis gizi. Sehingga, kita
dapat memilih indikator sesuai dengan gejala, tujuan intervensi, dan diagnosis medis.
3. Evaluasi Hasil
Kegiatan evaluasi hasil ini merupakan kegiatan dengan membandingkan antara
data terbaru dengan data sebelumnya. Dalam evaluasi hasil ini bertujuan untuk menilai
keberhasilan penyuluhan dan konseling gizi, sehingga kita dapat mngetahui tingkat
keberhasilan atau bahkan kegagalan. Pada evaluasi hasil ini terbagi mejadi 2 tahap, yaitu:
a. Evaluasi proses (Jangka Pendek) : Dalam melakukan evaluasi proses hal yang
diperhatikan adalah partisipasi klien, kesesuaian materi dan metode yang digunakan
dalam menyampaikan materi, dan waktu yang digunakan. Evaluasi sebagai proses
dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut. Melakukan pengumpulan data
awal tentang suatu program
1) Pelajari tujuan program tersebut
2) Menentukan tolak ukurnya, yaitu patokan-patokan untuk pengukurannya

3) Pelajari kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mecapai tujuan


4) Sesudah pelaksanaan dimulai, mengadakan penilaian pada waktu-waktu yang
sudah ditentukan. Penilaian akhir diadakan waktu pelaksanaan program berakhir
dan juga beberapa saat sesudah program berakhir
5) Tentukan apakah tujuan tercapai atau apakah prosesnya sudah seperti yang
direncanakan.
b. Evaluasi Dampak (Jangka Panjang) : Evaluasi dampak lebih ditujukan untuk melihat
keberhasilan konselor atau pesuluh, hal ini dapat diketahui dari apakah klien
melakukan kunjungan ulang, ketepatan asupan gizi yang disarankan,dan apakah
terjadi perubahan perilaku positif klien terhadap makanan dan kesehatan..
4. Dokumentasi Evaluasi
Pendokumentasian harus dilaukan secara relevan, tepat, terjadwal, dan akurat,
termasuk mendokumentasikan kondisi klien saat ini dan hasil yang diharapkan, dan dapat
mengukur kualitas perkembangan klien.

35 Poin Penting dalam Pelaksanaan Konseling Gizi


1. Pembukaan
a. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri
b. Mengidentifikasi masalah pasien yang dirujuk/pengalaman konseling pasien
sebelumnya
c. Menjelaskan tujuan dan proses konseling gizi
2. Assessment
a. Mengukur antropometri (BB, TB, PB, Tinggi Lutut, LPi, Lpa, dll)

b. Mengidentifikasi pola dan mengukur asupan makanan (food frekuensi, dietary history
food recall, food record)
c. Mengkaji data laboratorium yang berkaitan dengan penyakit pasien
d. Mencatat data klinis yang berkaitan dengan penyakit pasien
e. Mencatat data sosekbud dan kepercayaan
f. Mengkaji pola aktivitas dan gaya hidup yang berkaitan dengan masalah gizi pasien
g. Mengkaji riwayat perubahan berat badan
h. Mengkaji riwayat penyakit pasien
i. Mengkaji riwayat penyakit keluarga yang berkaitan dengan penyakit pasien
j. Mengkaji masalah psikologis yang berkaitan dengan masalah gizi pasien
k. Menghitung kebutuhan gizi pasien sesuai masalah pasien
3. Menetapkan Diagnosa Gizi
a. Menetapkan diagnosa gizi dengan format PES (Problem, Etiologi, Sign and
4.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
5.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Symptom)
Implementasi Konseling Gizi
Menetapkan preskripsi diet (jenis, bentuk, kandungan zat gizi makanan)
Mengisi leaflet anjuran makanan diet sehari
Menjelaskan anjuran diet yang ditetapkan menggunakan leaflet yang sesuai
Mendiskusikan perubahan pola makan mengikuti anjuran diet (makanan yang boleh
dan tidak boleh) dengan alat bantu food model
Mendiskusikan hambatan yang mungkin muncul dalam menerapkan anjuran diet
Mengukur pengetahuan gizi pasien berkaitan dengan penyakit dan diet yang diberikan
Menganjurkan kunjungan ulang untuk konseling gizi lanjutan
Mencatat data konseling gizi di catatan medik
Komunikasi
Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti pasien
Menunjukkan sikap kesetaraan dengan pasien
Menunjukkan sikap tidak menghakimi/menggurui
Menjaga kontak mata selama proses konseling gizi
Mengarahkan komunikasi kearah tujuan konseling gizi
Memperhatikan/menggunakan bahasa non-verbal dengan tepat
Dapat mengatasi gangguan komunikasi selama proses konseling
Memberikan kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dengan tepat
Mengajukan pertanyaan dengan tepat
Mengklarifikasi penjelasan yang sudah diberikan
Menutup komunikasi dengan sopan

Contoh Pelaksanaan Konseling Gizi


Nama Konselor

: Tn. Ilham

Tanggal Kegiatan Konseling


Sesi I (Persiapan)

: Rabu, 12 Desember 2012

Sesi II (Pengambilan Keputusan)

: Sabtu, 15 Desember 2012

Sesi III (Monitoring dan Evaluasi)

: Minggu, 22 Desember 2012

Tempat Kegiatan Konseling


Sesi I (Persiapan)

: Rumah konselor

Sesi II (Pengambilan Keputusan)

: Rumah klien

Sesi III (Monitoring dan Evaluasi)

: Rumah klien

Konseling Berlangsung

: 60 menit untuk setiap sesi

Identitas Klien

Nama

: Tn. Ilham

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 24 tahun

Pekerjaan/Pendidikan

: Buruh/SMA Sederajat

Diagnosa Penyakit/Masalah Gizi

: KNF (Karsinoma Nasofaring) dengan Gizi Buruk

A. Pengkajian Gizi
1.

Data Antropometri

Berat Badan

: 41 kg

Tinggi Badan

: 165 cm

IMT

: 15,1

Status Gizi

: Buruk

2.

Data Biokimia/Laboratorium

Jenis pemeriksaan
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT
GDS
Natrium
Kalium
Klor

Hasil
17 mg/Dl
0,8 mg/Dl
20 mg/Dl
9 mg/Dl
102 mg/Dl
132 mg/Dl
4 mg/Dl
100 mg/Dl

Nilai normal
10-50 mg/dL
<1,1 mg/dL
<38 mg/dL
<41 mg/dL
140 mg/dL
136-145 mg/dL
3,5-5,1 mg/dL
97-111 mg/dL

Ket.
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Sumber: Data Sekunder Terolah, 2012

3.

Data Klinis/Fisik

Klien mengeluh benjolan yang terdapat pada leher sebelah kanan membuatnya susah
menelan. Merasakan nyeri ulu hati dan batuk-batuk.
Jenis Pemeriksaan
Keadaan Umum
BAB
BAK
Tekanan Darah
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Fisik-Klinis

Hasil
Sedang
Lancar
Lancar
120/80 mmHg

Sumber: Data Sekunder Teroleh, 2012

4.

Riwayat Makan
Riwayat Dahulu

Pola makan klien baik dan teratur 3 kali sehari. Klien tidak memiliki alergi terhadap makanan
tertentu. Makanan klien sehari-hari berupa nasi 200 gr setiap kali makan, sumber protein
berupa ikan setiap hari 60 gr sekali sehari, telur 2-3 kali seminggu, ayam 4x kali sebulan,
tahu tempe 3-6x perminggu, sayuran hijau setiap hari (buncis dan kacang panjang), tauge,
dan wortel juga dikonsumsi setiap hari, semua jenis buah-buahan sering dikonsumsi. Dalam
kesehariannya klien sering mengkonsumsi makanan yang dibakar karena menurutnya enak.
Klien sering mengkonsumi ikan bakar dan setiap 3 hari sekali mengkonsumsi jagung bakar.
Klien juga sering mengkonsumsi mie instan sebanyak 4 kali dalam seminggu.

Riwayat Sekarang

Nafsu makan klien baik namun kesulitan menelan akibat tumor pada leher sebelah kanan
yang dirasakan sejak 3 bulan yang lalu membuat klien kekurangan asupan makanan perhari.
Keluarga klien berinisiatif sendiri untuk member makan makanan lunak seperti bubur agar
klien mudah menelan makanan.
Adapun data recall 24 jam asupan makanan klien sebelum konseling, yaitu:
- Pagi (07.30) : bubur gls, telur rebus 1 biji dan sayur wortel rebus gls.
- Selingan (10.00) : jus papaya 1 gls dan susu 1 gls
- Siang (12.30) : bubur gls, telur 1 biji dan sayur labu siam gls
- Selingan (15.30) : susu 1 gls
- Malam (20.00) : bubur gls, telur 1 biji dan sayur bayam labu siam gls.
- Selingan (22.00) : susu 1 gls
5.

Riwayat Personal

Klien bekerja sebagai buruh yang bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga 21.00 malam. Klien
jarang istirahat karena senang menonton bola. Belum ada keluarga klien yang menderita
penyakit yang sama.

B. Diagnosis Gizi
1.

Domain Asupan

Kekurangan intake makanan yang disebabkan oleh kesulitan menelan yang ditandai oleh
asupan Energi = 33,3%, Protein = 22,4 %, Lemak = 47,5 dan Karbohidrat = 31,7 %.

Asupan
Kebutuhan
% Asupan

Energi
789,8
2367
33,3

protein
22,4
100
22,4

lemak
28,7
60,4
47,5

KH
113
355
31,7

Sumber: Data Primer Terolah, 2012

2.

Domain Klinis

Berat badan kurang yang disebabkan oleh kurangnya asupan oral yang ditandai oleh IMT =
15,1 (Gizi Buruk)
3.

Domain Perilaku

Kebiasaan makan yang salah yang disebabkan oleh daya beli rendah yang ditandai oleh
konsumsi mie instan 4 kali seminggu dan keseringan konsumsi makanan yang dibakar.

C. Pengambilan Keputusan
1.

Kondisi Masalah Yang Dihadapi

Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan disertai dengan analisis gizi dapat digambarkan
masalah gizi yang dihadapi oleh klien, yaitu:

Intake asupan zat gizi klien sangat kurang dan tidak sesuai dengan kebutuhan dengan
perhitungan asupan Energi = 33,3%, Protein = 22,4 %, Lemak = 47,5 dan Karbohidrat
= 31,7 %.

Berat badan kurang yang dialami oleh klien disebabkan karena intake asupan oralnya
yang sangat kurang sehingga Indeks Massa Tubuh klien berada pada angka 15,1 yang

merupakan indikator gizi buruk.


Pola makan klien yang masih salah akibat keseringan konsumsi mie instan dimana
diketahui bahwa dalam mie instan banyak mengandung bahan-bahan pengawet yang
apabila dikonsumsi sering dalam jangka waktu yang lama akan menyababkan
timbulnya penyakit kanker. Klien juga sering makan makanan yang dibakar, dimana
diketahui bahwa makanan seperti itu banyak mengandung unsur karbon (bagian hitam

pada makanan yang dibakar) yang dapat pula memicu terjadinya kanker.
Faktor lain sebagai penyebab penyakit ini semakin hari semakin parah karena klien
masih dalam tahap menyesuaikan diri dengan makan bubur setiap hari sehingga

intakenya semakin berkurang.


Dampak yang ditimbulkan adalah kesehatan menjadi kurang prima, mudah terinfeksi
penyakit, sistem imun/daya tubuh rendah, dan semakin parahnya penyakit yang
diderita yang dapat berakibat pada kematian.

2.

Daftar Kehendak atau Pilihan Keputusan

Keputusan yang sebaiknya dapat dipilih oleh klien untuk mengatasi masalah tersebut antara
lain:

3.

Meningkatkan intake makanan sehingga asupan energi, protein, lemak, dan

karbohidrat dapat meningkat pula.


Mengkonsumsi susu khusus (Peptamen) untuk meningkatkan berat badan dan asupan

energi.
Mengurangi konsumsi bahan makanan berpengawet (mie instan)
Menjaga stamina dengan berolahraga secara teratur setiap harinya.

Konsekuensi tiap pilihan

Meningkatkan intake makanan sehingga asupan energi, protein, lemak, dan


karbohidrat dapat meningkat pula.
Positif :
- Memberikan energi yang cukup untuk mencapai status gizi normal.
- Membantu mencapai berat badan menjadi ideal.

- Menghindari komplikasi akut dari penyakit yang diderita.


- Sistem tubuh dapat melakukan kerja lebih baik karena kebutuhan zat gizi tercukupi.
- Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal.
Negatif :
-

Melibatkan keluarga (istri dan sanak keluarga) untuk selalu ikut serta memantau

dan menyediakan makanan bagi klien menginat klien adalah seorang laki-laki.
Membutuhkan upaya yang keras dan disiplin serta kemauan yang lebih karena

keputusan ini menyangkut tentang pola makan.


Membutuhkan biaya yang lebih dalam pemenuhan kebutuhan yang masih kurang
selama program dijalankan.

Mengkonsumsi susu khusus (Peptamen) untuk meningkatkan berat badan dan


asupan energi.
Positif :
-

Memenuhi kebutuhan zat gizi untuk membantu dalam membantu kerja sistem

tubuh.
Berat badan dapat ditingkatkan untuk mencapai status gizi normal
Sistem imun dan daya tahan tubuh meningkat.
Tidak mudah terserang penyakit.
Tubuh terasa segar dan kesehatan menjadi prima.
Negatif :
-

Susu yang lengkap dan berkualitas baik memiliki harga yang tinggi dan sulit

untuk diperoleh setiap hari.


Banyaknya suplemen vitamin saat ini sehingga sulit menentukan suplemen mana

yang baik dan yang dibutuhkan dan sesuai oleh tubuh.


Butuh pengawasan yang lebih selama mengkonsumsi karena tidak boleh asal
dalam mengkonsumsinya.

Mengurangi konsumsi bahan makanan berpengawet (mie instan)


Positif :
-

Menghindari dari resiko penyakit bertambah parah


Membantu memberikan asupan zat gizi yang lebih bervariasi dan tidak melulu
mengandung karbohidrat saja

Membantu menjaga agar kadar natrium dalam tubuh tetap dalam keadaan
normal

Negatif :
-

Membutuhkan upaya yang keras karena merubah kebiasaan makan terlebih

lagi bagi seseorang yang sudah terbiasa mengkonsumsi mie instan.


Membutuhkan biaya yang lebih karena mengganti bahan makanan yang lebih

bervariasi
Membutuhkan pengetahuan dan kemampuan yang lebih dalam mengolah
makanan sehingga tidak makan yang itu-itu saja setiap harinya.

Menjaga stamina dengan berolahraga secara teratur setiap harinya.


Positif :
-

Membantu mencapai berat badan menjadi ideal.


Tubuh terasa segar dan kesehatan menjadi prima.
Membantu meningkatkan kerja sistem imun dan daya tahan tubuh sehingga

tidak mudah terserang penyakit.


Penampilan jadi lebih menarik.

Negatif :
-

Membutuhkan kedisiplinan yang besar.


Membutuhkan waktu dan tempat yang sesuai dan nyaman.
Membutuhkan pemilihan jenis olahraga yang tepat sesuai aktivitas dan waktu
luang yang dimiliki.

D.

Keputusan Klien
Adapun beberapa keputusan yang klien ambil untuk dijalankan dari beberapa pilihan
yang ditawarkan oleh konselor antara lain:

Meningkatkan intake makanan sehingga asupan energi, protein, lemak, dan

karbohidrat dapat meningkat pula.


Mengkonsumsi susu khusus (Peptamen) untuk meningkatkan berat badan dan asupan

energi.
Mengurangi konsumsi bahan makanan berpengawet (mie instan)

E. Monitoring Dan Evaluasi

1.

Evaluasi pelaksanaan program yang telah disepakati :


-

Saat ini klien sudah mulai meningkatkan asupan energi dan zat gizi seperti energi,
karbohidrat, protein, dan lemak sehingga dapat mendekati kebutuhan melalui makan

teratur.
Klien mengonsumsi susu khusus (Peptamen) dengan pengawasan keluarga sehingga

berat badannya sudah mulai bertambah.


Sebelum konseling dilakukan, klien sudah mulai menghindari mengkonsumsi
makanan dan minuman yang manis-manis yang mengandung gula murni setelah
didiagnosa menderita diabetes mellitus tipe II.

2.

Kesulitan yang dialami klien dalam menjalankan progam :


-

Merubah kebiasaan baru terasa sangat sulit untuk dijalani sampai dengan saat ini

seperti kebiasaan makan (pola makan) dan kebiasaan berolahraga.


Faktor penyakit yang diderita (benjolan pada nasofaring) membuat klien kesulitan
dalam mengunyah makanan sehingga saat ini klien masi dalam tahap membiasakan

diri dengan makanan saring lunak.


Kendala dalam menjalankan program ini dalam jangka waktu yang lama karena akan
membutuhkan biaya yang lebih dimana dihadapkan pada kebutuhan yang lebih
penting untuk dipenuhi di atas kebutuhan pribadinya.

3.

Kesepakan kembali yang dibangun bersama klien :


-

Klien akan tetap berupaya untuk melaksanakan kesepakatan sebelumnya.


Klien dan keluarga klien meminta kembali kepada konselor untuk melakukan evaluasi
perkembangan pelaksanaan program di waktu yang telah ditetapkan.

F. Permasalahan Yang Dihadapi Konselor Saat Melakukan Konseling Dengan Klien


Tidak terdapat masalah yang besar yang dialami oleh konselor saat melakukan
konseling terhadap klien, karena klien cukup kooperatif dengan memberikan keterangan yang
jelas dan benar. Hanya saja, keluarga klien yang lebih banyak berbicara karena klien adalah
pribadi yang agak sedikit pemalu mungkin karena klien merasa derajat pendidikannya lebih
rendah sesuai dengan statement keluarga yang menemani.