Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam dunia kerja, waktu adalah segala-galanya karena Time is money
Selain itu juga sangat berpengaruh pada system produksi dan perusahaanSemakin
dikit waktu yang di gunakan maka semakin banyak output yang di hasilkan.Pada
kesempatan ini kita akan belajar tentang Menentukan waktu baku dan output
standard perelemen kerja, Menentukan waktu baku dan output standard seluruh
elemen kerja, Menggunakan waktu baku dan output standard yang tersedia untuk
meakukan perbaikan system kerja.
Untuk

mempelajari

tentang

mngukur

waktu

kerja

sementara

ini

menggunakan produk The Electric Traindimana kereta ini sangat cocok untuk
meakukan pengukuran waktu.
Tetapi suatu pengukuran tidak lah gampang perlu tahapan-tahapan per
elemen atau di perlukan 32 kali percobaan untuk menenentukan waktu siklus,
standart deviasi, uji kecukupan data, perhitungan waktu normal, perhitungan
waktu baku dan perhitungan output standart.
Dan waktu yang digunakan untuk

menghitung

perhitungan

ini

menggunakan factor Westinghouse dan factor kelonggaran (Allowance)dengan


demikian suatu pengukuran bisa ditetapkan aktu pastinya dan dari semua itu kita
dapat menentukan berapa waktu yang harus digunakan untuk sebuah produk.
Dengan demikian pengukuran waktu kerja dengan jam henti sangat
bermanfaat dalam hal pengendalian produksi, pemberian kompensasi, dan
mengukur kinerja seseorang dalam satuan waktu.Pengukuran kerja secara
langsung lebih banyak digunakan daripada pengukuran kerja secara tidak
langsung.

1.2 Perumusan Masalah


Adapun perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

Berapa waktu baku dan output standart yang dihasilkan pada suatu
rangkaian proses kerja dan bagaimana penerapannya dalam melakukan
perbaikan sistem kerja?.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum pengukuran waktu kerja ini adalah :
1.
Menentukan waktu baku dan output standard perelemen kerja.
2.
Menentukan waktu baku dan output standard seluruh elemen kerja.
3.
Menggunakan waktu baku dan output standard yang tersedia untuk
melakukan perbaikan sistem kerja.
1.4 Batasan Masalah
Btasan masalah dalam praktikum pengukuran waktu kerja yaitu :
1. Pengukuran waktu baku untuk produk yang telah dirakit.
2. Faktor penyesuaian yang digunakan adalah dengan cara westinghouse.
3. Faktor kelonggaran yang digunakan adalah dengan table factor kelonggaran.
1.5 AsumsiAsumsi
Adapun asumsi dalam praktikum pengukuran waktu kerja yaitu :
1.
2.
3.
4.

Operator dalam kondisi normal


Pencatatan perhitungan waktu tidak terdapat kesalahan.
Komponen yang dipergunakan oleh praktikan dalam kondisi baik.
Kondisi lingkunngan dalam kondisi baik.

1.6

Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan Laporan Resmi ini adalah sebagai berikut :

BAB I

PENDAHULUAN
Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, Perumusan
masalah, tujuan praktikum, batasan masalah , asumsi-asumsi , dan
sistematika penulisan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini dibahas mengenai berbagai macam teori tentang
sistem kerja, meneliti seluruh kegiatan atau operasi serta
menyajikan fakta dan spesifikasi kerja yang ada pada sistem kerja
tersebut.

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM
Pada bab ini dibahas mengenai identifikasi variabel seperti peta
proses operasi, waktu pengamatan, factor penyesuaian, factor
kelonggaran dan langkah-langkah pengukuran waktu baku.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada bab ini berisi tentang gambar produk dan komponenkomponennya, peta proses operasi dan peta tangan kiri dan tangan
kanan, waktu pengamatan (waktu siklus), factor penyesuaian
(perfomance rating), factor kelonggaran (Allowance), serta hasil
dan pembahasan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


Bab ini berisi kesimpulan dan saran mengenai analisa pengumpulan
data dan pengolahan data yang terdapat pada bab III dan IV beserta
saran untuk perbaikan praktikum pererancangan sistim kerja.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Perancangan Sistim Kerja


Sistem kerja merupakan suatu kesatuan yang unsur-unsurnya terdiri dari

manusia, peralatan dan lingkungan, dimana unsure-unsur tersebut terintegrasi


untuk mencapai suatu tujuan dari sistem kerja tersebut. Sistem kerja dapat berupa
suatu sistem yang sederhana sampai dengan suatu bentuk sistem yang kompleks.
Proses produksi disuatu pabrik merupakan suatu contoh sistem kerja, dimana pada

sistem tersebut terjadi interaksi antara para pekerja, mesin, bahan baku serta
lingkungan kerjanya dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan.
Apabila kita berada dalam dunia pekerjaan, maka terdapat berbagai faktor
yang mempengaruhi jalannya pekerjaan. Faktor-faktor ini perlu diperhatikan
karena bila menimbulkan kerugian apabila tidak diperhatikan dan mendatangkan
keuntungan bila sebaliknya (Sritomo Wignjosoebroto hal 34). Dilihat dari segi
bahwa manusia adalah salah satu komponen dari sistem kerja, maka factor-faktor
tersebut jelas harus diperhatikan jika dikehendaki suatu rancangan sistem kerja
yang optimal. begitu juga dengan pekerjaan lain yang memberikan dampak
terhadap manusia sebagai pengguna dari sistemkerja tersebut maka hendaknya
disesuaikan dengan kemampuan manusia.
Sistem kerja yang ditata dengan baik sangatlah diperlukan dalam berbagai
aktivitas seperti perancangan tata letak fasilitas, penjadwalan produksi,
pengukuran kinerja pekerja untuk penetapan timbal jasa dan tata hitung ongkos.
Untuk dapat mencapai suatu tatanan yang baik dari sistem kerja diperlukan
adanya penataan sistem kerja yang terintegrasi dari unsur-unsur yang membentuk
sistem kerja tersebut, sehingga dapat mencapai sasarannya dengan cara yang
sebaik-baiknya.
Penataan suatu sistem kerja biasanya berdasarkan babarapa alternatif yang
ada, sehingga diperlukan suatu pemilihan untuk dapat menentukan sistem kerja
terbaik. Pemilihan ini ditentukan berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan
terhadap alternatif-alternatif tersebut. Penataan dan pengukuran sistem kerja akan
dapat menghasilkan suatu rancangan dan hasil yang baik, dimana selanjutnya
penataan dan pengukuran sistem kerja ini biasa disebut dengan perancangan
sistem kerja.
Sutalaksana menuliskan bahwa ada 4 kriteria yang dipandang sebagai
pengukur yang baik tentang kebaikan suatu sistem kerja yaitu waktu penyelesaian
sangat singkat, tenaga yang diperlukan sangat sedikit , akibat-akibat yang
ditimbulkan dari faktor psikologis dan sosiologis sangat minim.

Teknik Perancangan Untuk Perbaikan Sistem Kerja


Untuk dapat merancang sistem kerja yang baik, seorang perancang harus

dapat menguasai dan mengendalikan faktor-faktor yang membentuk suatu sistem

kerja. Faktor-faktor tersebut bila dilihat dalam kelompok besarnya terdiri atas
pekerja, mesin dan peralatan serta lingkungannya.
Prinsip-prinsip ekonomi gerakan merupakan bekal penting untuk mendapat
rancangan suatu sistem kerja yang baik, karena disinilah diperhatikan beberapa
pengaruh hasil kerjanya, disamping pengaruh dari manusia yang melakukan
pekerjaan tersebut. Dibawah ini akan diuraikan prinsip-prinsip ekonomi gerakan
yang dihubungkan dengan tubuh manusia dan gerakannya, pengaturan tata letak
tempat kerja dan perancangan peralatan.
Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Tubuh Manusia
dan Gerakan-gerakannya
Pada prinsip-prinsip ekonomi gerakan, faktor manusia dalam pekerjaannya
sangat penting untuk dipelajari, karena yang diinginkan oleh prinsip-prinsip
tersebut antara lain adalah kenyamanan dalam bekerja, tetapi dalam produktivitas
yang tinggi, hal ini dapat dicapai dengan mempelajari kemampuan dan
keterbatasan-keterbatasan manusia dalam bekerja (Sutalaksana, 1979 : hal 89).
Prinsip-prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan tubuh manusia dan
gerakan-gerakannya adalah sebagai berikut : (Sutalaksana, 1979 : hal 108)
1.

Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri pada saat yang sama.

2.

Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada saat yang sama kecuali
pada waktu istirahat.

3.

Gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya
simetris dan berlawanan arah.

4.

Gerakan tangan atau badan sebaiknya dihemat. Yaitu hanya menggerakkan


tangan atau bagian badan yang diperlukan saja untuk melakukan pekerjaan
dengan sebaik-baiknya.

5.

Sebaiknya para pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu


pekerjaannya, pemanfaatan ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam
pekerja.

6.

Gerakan yang patah-patah, banyak perubahan arah akan memperlambat


pekerjaan tersebut.

7.

Gerakan balistik akan lebih cepat, menyenangkan dan lebih teliti daripada
gerakan yang dikendalikan.

8.

Pekerjaan

sebaiknya

dirancang

semudah-mudahnya

dan

jika

memungkinkan irama kerja kerja harus mengikuti irama yang alamiah bagi
pekerja.
9.

Usahakan sedikit mungkin gerakan mata. Gerakan mata kadang-kadang


tidak dapat dihindarkan dari pekerjaan terutama bila pekerjaannya harus
menghadapi jenis pekerjaan tersebut.

Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Pengaturan Tata


Letak Tempat Kerja
Dalam pengaturan tata letak tempat kerja juga perlu diterapkan prinsipprinsip ekonomi gerakan agar pekerjaan yang dilakukan dapat selesai mudah dan
cepat. Prinsip-prinsip ekonomi gerakan yang digunakan adalah : (Sutalaksana,
1979 : hal 110)
1. Sebaiknya diusahakan agar badan dan peralatan mempunyai tempat yang
tetap. Karena dengan demikian akan memudahkan pekerja untuk mengambil
bahan dan peralatan tersebut. Jika tempat bahan dan peralatan sudah tetap,
tangan pekerja akan secara otomatis dapat mengambilnya sehingga mencari
yang merupakan pekerjaan mental dapat dihilangkan.
2. Tempatkan bahan-bahan dan peralatan ditempat yang mudah, cepat dan
enak untuk dicapai. Dari analisa Therblig sudah diketahui bahwa untuk
menjangkau jarak yang pendek diperlukan waktu yang lebih singkat
dibandingkan bila jaraknya lebih jauh. Oleh karena itu semua bahan dan
peralatan sedapat mungkin harus diatur tata letaknya menurut prinsip diatas.
Selain hal diatas, manusia juga mempunyai keterbatasan dalam jarak
jangkaunya sehingga untuk pengaturan tata letak bahan dan peralatannya,
hal ini pun harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya.
3. Tempat penyimpanan bahan yang akan dikerjakan sebaiknya memanfaatkan
prinsip gaya berat sehingga badan yang akan dipakai selalu tersedia
ditempat yang dekat untuk diambil.
4. Sebaiknya untuk menyalurkan obyek yang sudah selesai dirancang
,mekanismenya yang baik.
5. Bahan-bahan dan peralatan sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa
sehingga gerakan-gerakan dapat dilakukan dengan urutan-urutan terbaik.

6. Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya sedemikian rupa sehingga alternatif
berdiri atau duduk dalam menghadapi pekerjaan merupakan suatu hal yang
menyenangkan.
7. Tipe tinggi kursi harus sedemikian rupa sehingga yang mendudukinya
bersikap (mempunyai postur yang baik).
8. Tata letak peralatan dan pencahayaan sebaiknya diatur sedemikian rupa
sehingga dapat membentuk kondisi yang baik untuk penglihatan.
Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Perancangan
Peralatan
Pada perancangan peralatan sebaiknya diterapkan prinsip-prinsip ekonomi
gerakan agar peralatan yang digunakan pekerja tetap nyaman saat digunakan.
Dalam perancangan peralatan diterapkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan
berikut : (Sutalaksana, 1979 : hal 114)
1.

Sebaiknya tangan dapat dibebaskan dari semua pekerjaan bila


penggunaan dari perkakas pembantu atau alat yang dapat digerakkan dengan
kaki dapat ditingkatkan.

2.

Sebaiknya peralatan dirancang sedemikian agar mempunyai lebih


dari satu kegunaan.

3.

Peralatan

sebaiknya

dirancang

sedemikian

rupa

sehingga

memudahkan dalam memegang dan menyimpan.


4.

Bila setiap jari tangan melakukan gerakan sendiri-sendiri, misalnya


seperti pekerjaan mengetik, beban yang didistribusikan pada jari harus
disesuaikan dengan kekuatan masing-masing jari.

5.

Roda tangan, palang, dan peralatan yang sejenis dengan itu


sebaiknya diatur sedemikian hingga beban dapat melayaninya denag posisi
yang baik dan dengan tenaga yang minimum.

2.2

Pengukuran Waktu Kerja


Pengukuran kerja adalah suatu aktivitas untuk menentukan lamanya sebuah

pekerjaan bisa diselesaikan. Pengukuran kerja berkaitan dengan penentuan waktu


standar.

Waktu standar adalah waktu yang diperlukan oleh seorang pekerja terlatih
untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu, bekerja pada tingkat kecepatan yang
berlanjut, serta menggunakan metode, mesin dan peralatan, material, dan
pengaturan tempat kerja tertentu. Penentuan waktu standar merupakan masukan
penting bagi perencanaan proses produksi. Salah satu cara yang sering
digunakan untuk menentukan waktu standar adalah dengan cara studi waktu.
Perhitungan dari pengukuran waktu kerja berupa perhitungan :
1. Uji keseragaman data
Uji keseragaman data di maksudkan untuk menentukan bahwa populasi data
sampel yag digunakan memiliki penyimbangan yang normal dari nilai rata-ratanya
pada tingkat kepercayaan/ signifikan tertentu.
Batas atas : Nilai rata-rata + K.SD
Garis tegah : Nilai rata-rata
Batas bawah : Nilai rata-rata K>SD
2. Uji kecukupan data
Uji kecukupan data digunakan untuk menentukan bahwa jumlah sampel
data yang diambil telah cukup untuk proses inverensi ataupun pengolahan sata
pada proses selanjutnya.
Dalam uji ini akan digunakan persamaan

N1

= Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan

= Tingkat kepercayaan dalam pengamatan.(k = 2, 1-=95%)

= Derajat ketelitian dalam pengamatan (5%)

= Jumlah pengamatan yang sudah dilakukan

= Data pengamatan.
3. Waktu siklus
Waktu penyelesaian satu satuan produksi mulai dari bhn baku mulai diproses

ditempat kerja tersebut merupakan jumlah waktu tiap-tiap elemen Job


WS = Xi/N
4. Waktu normal
Waktu penyelesaian pekerjaan ygdiselesaikan oleh pekerja dlm kondisi
wajar dan kemampuan rata-rata

WN = WS x p
P = faktor penyesuaian jika:
P=1 bekerja wajar
p<1 bekerja terlalu lambat
P>1 bekerja terlalu cepat
Xi= jumlah waktu penyelesaian yg teramati
N= jumlah pengamatan yg dilakukan
5. Waktu baku.
Waktu yang dihasilkan waktu kita mengukur secara angsung disebut dengan
siklus (Ws). Bila waktu siklus ini dikalikandengan performance (Westinghouse)
akan menghasikan waktu normal (Wn).
Waktu baku (Wb) sendiri dihasikan dengan menambah waktu normal
denganhasi perkalian antara waktu normal itu sendiri dengan allowance yang
telahditentukan. Dari hasil perhitungan waktu baku in maka akan diperoleh
outputbaku (Ob) yang didapatkan dari satu per waktu baku. Secara umu
keterangan diatas dapat ditulis dalam bentuk rumus (R.M.Barnes, 1980) seperti
berikut :

6. Output standard.
Studi waktu dilaksanakan dengan menggunakan alat jam henti (stop watch)
untuk mengamati waktu tugas. Waktu standar dihitung berdasarkan pengamatan
terhadap seorang pekerja yang melaksanakan siklus tugasnya berulang-ulang.
Setelah ditetapkan, waktu standar itu diberlakukan bagi seluruh pekerja lain yang
melaksanakan pekerjaan serupa. Pekerja yang dipilih adalah pekerja yang
mengerti benar ( terlatih ) tentang tugas yang sedang diamati dan bekerja dengan
menggunakan metode yang sesuai.
Tahap dalam Studi Waktu Tahap-tahap dalam menentukan waktu standar, sebagai
berikut:
a.

Tentukan pekerjaan yang akan diamati dan beri tahu pekerja yang dipilih
tentang tujuan studi. Langkah ini diperlukan agar pekerja yang diamati atau
pun penyelianya tidak curiga, melainkan malah membantu kelancaran
pengamatan.

b.

Tentukan jumlah siklus kerja ( ukuran sampel, n ) yang akan diamati.


Jumlah siklus kerja tergantung padastandar deviasi dari waktu yang diamati,

c.
d.

ketelitian, dan tingkat kepercayaan yang diinginkan.


Catat seluruh hasil pengamatan dan hitung rata-rata waktu yang diamati.
Tetapkan peringkat kinerja (PR, performance rating) pekerja yang
bersangkutan, lalu hitung waktu normal (NT, normal time) dengan
menggunakanrumus, sebagai berikut:
dimana:
PR = peringkat kinerja ( dalam persen ).
Peringkat kinerja diperlukan untuk penyesuaian waktu yang diperoleh dari
pengamatan terhadap satu orang pekerja menjadi waktu normal yang
berlaku bagi seluruh pekerja. Peringkat kinerja untuk rata-rata pekerja
sebesar 100%. Pekerja yang memiliki keterampilan/ kecakapan lebih dari
rata-rata pekerja lainnya memiliki peringkat kinerja di atas 100%. Pekerja
yang keterampilannya di bawah rata-rata memiliki peringkat kinerja di
bawah 100%. Peringkat kinerja ini hanya berlaku untuk satu jenis kegiatan,
tidak diberlakukan secara umum. Dengan demikian, bisa saja untuk satu
jenis kegiatan, seorang pekerja mempunyai peringkat kinerja di bawah ratarata.Peringkatnya di atas rata-rata. Waktu normal diartikan sebagai waktu
yang

diperlukan oleh seorang pekerja yang berpengalaman untuk

menyelesaikan elemen-elemen tugas yang penting dan bekerja pada


kecepatan normal.
e.

Tetapkan faktor kelonggaran ( AF, allowance factor ). Faktor kelonggaran


diperlukan untuk mencakup interupsi/ penundaan yang terjadi karena
keperluan pribadi pekerja ( untuk minum, ke kamar kecil atau istirahat
karena letih) atau penundaan yang tidak bisa dihindari (seperti mesin/
peralatan rusak, material terhambat, atau gangguan listrik).
Untuk factor kelonggaran yang dinyatakan sebagai persentase dari waktu
tugas:
dimana:

A = toleransi kelonggaran ( dalam persen ).


Untuk faktor kelonggaran yang dinyatakan sebagai persentase dari waktu
kerja

2.3

Peta Proses Operasi


Peta proses operasi ini merupakan suatu diagram yang menggambarkan

langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku mengenai urutan-urutan


operasi dan pemeriksaan. Sejak dari awal sampai menjadi produk jadi utuh
maupun sebagai komponen dan juga memuat informasi-informasi yang diperlukan
untuk analisa lebih lanjut seperti waktu yang dihabiskan dan material yang
dihabiskan (Sutalaksana).
Manfaat penggunaan peta proses operasi diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Dapat diketahui kebutuhan akan mesin dan perlengkapannya.

2.

Dapat diperkirakan kebutuhan akan bahan baku.

3.

Dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik.

4.

Dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja


yang sedang dipakai.

5.

Dapat digunakan sebagai alat latihan kerja.


Prinsip-prinsip Pembuatan Peta Proses Operasi :

a.

Pertama-tama pada baris paling atas dinyatakan kepalanya Peta Proses


Operasi yang diikuti oleh identifikasi lain seperti : nama objek, nama
pembuat peta, tanggal dipetakan cara lama atau cara sekarang, nomor peta
dan nomor gambar.
b.

Material yang akan diproses diletakkan diatas garis


horizontal, yang menunjukkan bahwa material tersebut masuk kedalam
proses.

c.

Lambang-lambang ditempatkan dalam arah vertical, yang


menunjukkan terjadinya perubahan proses.

d.

Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan


secara berurutan sesuai dengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk
pembuatan produk tersebut atau sesuai dengan proses yang terjadi.

e.

Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan


secara tersendiri dan prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan
operasi.

2.4

Penyesuaian (Rating Performance) Dan Kelonggaran (Allowance)


Penyesuaian ini dimaksudkan untuk meniai seberapa jauh ketidak wajaran

yang terjadi. Untuk perhitungan waktu baku sendri harus ada kewajaran kerja
(Wn). Adanya ketidak wajaran akan berpengaruh pada kecepatan kerja, yaitu
terlalu singkat atau waktu panjangnya waktu penyelesaian.
Penyesuaian yang dipakai dalam laporan ini adalah metode penyesuaian
westinghouse. Metode ini mempertimbangkan empat faktor dlam mengevaluasi
performance (kinerja) operator. Empat faktor itu antra lain : ketrampilan (skill),
usaha (effort), kondisi (condition) dan konsistensi (consistency).
Ketrampilan merupakan kecakapan dalam mengerjakan sesuai dengan
metode

yang

diberikan

dan

lebih

lanjut

berhubungan

dengan

pengalaman,ditunjukkan dengan koordinasi yang baik antara pikiran dan tangan


Usaha merupakan hal yang menunjukkan kemampuan untuk bekerjasecara
efektif usaha merupakan hal yang menunjukkan kemampuan untuk bekerja secara
efektif. Usaha ini ditunjukkan oleh kecepatan pada tingkat kemampuan yang
dimiliki, dan dapat dikontrol pada tingkat yang tinggi oleh operator.
Kondisi didefinisikan sebagai prosedur performance rating yang berakibat
pada operator dan bukan pada operasi. Kondisi ini meliputi kondisi fisik
lingkungan kerja, seperti keadaan pencahayaan temperatur dan kebisingan
ruangan.
Faktor konsisten perlu diperhatikan karena padakenyataannya setiap
pengukuran tidak pernah mencatat semua angka yang sama, waktu penyelesaian
yang ditunjukan pekerja selalu berubah dari satu siklus ke siklus yang lainnya.
Konsistensi ini dikatanan perfect bila waktu penyelesaian tetap setiap saat.

Tabel : 2.1 Performance system Westinghouse

Dari table diatas maka dapat disesuaikan dengan kondisi operator pada
lapangan yang sebenarnya. Kemudian dari keempat factor diatas dijumlahkan dan
diperoleh jumlah factor penyesuaian. Performance rating didapatkan dengan
mengurangkan 1 dengan jumlah factor penyesuaian tadi.
Metode lain yang dapat digunakan untuk perhitungan performance rating
anatara lain : Syntethetic Rating, Speed Rating, Metode Shumard, Metode
Obyektif,dan Meetode Bedaux dan Sintesa. Namun yang paling banyak digunakan
adalah metode Westinghouse.
Kelonggaran (allowance) pada umumnya meliputi 3 hal yaitu :

Istirahat untuk kebutuhan perorangan. Kelonggaran ini ditujukan untuk


kebutuhan yang bersifat pribadi, misalnya makan, minum, dll. Kelonggaran

ini biasanya berkisar antara 0 2,5% untuk pria dan 2 5% untuk wanita.
Kelelahan (fatique). Kelonggaran ini diberikan karena kelelahan fisik
maupun mental

setelah

bekerja beberapa waktu factor-faktoryang

menyebabkan kelelahan antara lain : kondisi kerja, sifat dari pekerjaan , dan

kesehatan pekerja, fisik maupun mental.


Keterlambatan yang tak terhindarkan ( unavoidable delay). Kelonggaran ini
diberikan untuk elemen elemen usaha yang berhenti karena hal yang tak
dapat

dihindarkan

seperti

interupsi

oleh

supervisor,

analisis,

ketidaktersediaan material, gangguan mesin,mengasah peralatan potong,dll.