Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.1.1 Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Cilincing
1.1.1.1 Keadaan Geografis
Berdasarkan
lembaran daerah no. 4/1966 ditetapkanlah lima wilayah kota
administrasi di DKI Jakarta, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta
Selatan, Jakarta Utara, dilengkapi dengan 22 kecamatan dan 220 kelurahan. Pembentukan
kecamatan dan kelurahan berdasarkan atas teritorial dengan mengacu pada jumlah penduduk
yaitu 371.335 jiwa untuk kecamatan, 30.000 jiwa untuk kelurahan perkotaan, dan 10.000 jiwa
untuk kelurahan pinggiran.
Wilayah kotamadya Jakarta Utara seluas 7.133,51 Ha, terdiri dari luas lautan 6.979,4
Ha dan luas daratan 154,11 Ha. Daratan Jakarta Utara membentang dari barat ke timur
sepanjang kurang lebih 35 Km, menjorok ke darat antara 4-10 Km, dengan kurang lebih 110
pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Ketinggian dari permukaan laut antara 0-20 meter dari
tempat tertentu ada yang dibawah permukaan laut yang sebagian besar terdiri dari rawa-rawa
atau empang air payau. Wilayah Kotamadya Jakarta Utara merupakan pantai beriklim panas,
dengan

suhu

rata-rata 300 C, curah hujan setiap tahun rata-rata 142,54 mm

dengan

maksimal curah hujan pada bulan September. Daerah ini merupakan wilayah pantai dan
tempat bermuaranya sembilan sungai dan dua banjir kanal sehingga menyebabkan wilayah
ini rawan banjir, baik kiriman maupun banjir karena pasang air laut.
Kecamatan Cilincing termasuk wilayah kota administrasi Jakarta Utara, dengan
luas wilayah 39,6996 Km2 dan dibagi menjadi tujuh kelurahan yaitu Semper Timur,
Semper Barat, Kalibaru, Sukapura, Rorotan, Marunda dan Cilincing. Dengan jumlah Rukun
Warga (RW) sebanyak 84 RW dan

Rukun Tetangga (RT)

976 RT. (Profil Puskesmas

Kecamatan Cilincing , 2015)


Batas-batas wilayah Kecamatan Cilincing adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara
: Laut Jawa
b. Sebelah Timur
: Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi Jawa Barat
c. Sebelah Selatan : Kelurahan Cakung Jakarta Timur
d. Sebelah Barat
: Kelurahan Lagoa Kecamatan Koja JakartaUtara
Gambar 1.1 Peta Wilayah Cilincing

Sumber: Profil Puskesmas Kecamatan Cilincing 2015


: Puskesmas Kecamatan Cilincing
: Puskesmas Kelurahan
Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cilincing adalah membawahi sebelas
Puskesmas kelurahan di tujuh kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Cilincing, yaitu :
1.
Puskesmas Kecamatan Cilincing
2.
Puskesmas Kelurahan Semper Barat I
3.
Puskesmas Kelurahan Semper Barat II
4.
Puskesmas Kelurahan Semper Barat III
5.
Puskesmas Kelurahan Kalibaru
6.
Puskesmas Kelurahan Sukapura
7.
Puskesmas Kelurahan Rorotan
8.
Puskesmas Kelurahan Marunda
9.
Puskesmas Kelurahan Cilincing I
10.
Puskesmas Kelurahan Cilincing II
11.
Puskesmas Kelurahan Semper Timur
1.1.1.2 Keadaan Demografi
2

Jumlah penduduk wilayah Kecamatan Cilincing berdasarkan Profil Kecamatan


Cilincing tahun 2015 sebanyak 371.335 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak
62.788 kepala keluarga, terdiri dari penduduk laki-laki 184.988 jiwa (52.25%) dan penduduk
perempuan 186.347 jiwa (55%), serta distribusi paling besar pada kelompok usia produktif
laki-laki 106.168 jiwa dan perempuan 111.123 jiwa. Dari data tersebut di atas rincian jumlah
penduduk per kelurahan di Kecamatan Cilincing dapat dilihat pada tabel berikut: (Profil
Kecamatan Cilincing, 2015)

Jumlah penduduk pada masing-masing RT dan RW di Kelurahan Kecamatan Cilincing, dapat


dilihat pada tabel berikut:

A. Data penduduk menurut umur

B. Data Dasar di Wilayah Puskesmas Kecamatan Cilincing Tahun 2015


5

1.1.1.3
A.

Keadaan Lingkungan

Sosio Ekonomi
Wilayah Kecamatan Cilincing yang terletak di sebelah Utara Kota Jakarta terdapat

wilayah Kawasan Berikat Nusantara (KBN), di wilayah tersebut banyak terdapat industri
besar, sedang, dan kecil sebagai penompang dalam menambah Pendapatan Asli Daerah
khususnya Kota Jakarta dan sebagai penambah

pendapatan

devisa Indonesia,

karena

kawasan tersebut adalah salah satu sentral produksi andalan dalam memacu perekonomian
Indonesia.
B. Sarana dan Prasarana
Wilayah Kecamatan Cilincing memiliki sarana ibadah, sarana pendidikan, sarana
kebudayaan dan kesenian, sarana olahraga, sarana kesehatan masyarakat dan keluarga
berencana. Sarana dan prasaran kesehatan yang

ada saat ini banyak

diminati oleh

masyarakat luas yang ada di wilayah Cilincing dan sekitarnya, hal ini terkait dengan lokasi
dan banyaknya penduduk yang bekerja di wilayah Cilincing tetapi tidak berdomisili di daerah
tersebut. Agar semua dapat memperoleh kesempatan mendapat pelayanan kesehatan yang
merata dengan biaya terjangkau, maka pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan
diharapkan dapat

meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, meningkatkan

kesejahteraan keluarga dan masyarakat, dan dapat mempertinggi kesadaran masyarakat


akan pentingnya hidup sehat.
Pelayanan kesehatan diberikan kepada semua golongan, dan tidak membedakan umur,
pekerjaan, status sosial ekonomi, agama, ras dan lain-lain, akan tetapi lebih diprioritaskan
bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah.
C.

Fasilitas Kesehatan
Kecamatan Cilincing mempunyai fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di tujuh

kelurahan, dari jumlah kelurahan tersebut terdapat 11 buah fasilitas kesehatan pemerintah
yang terdiri dari Puskesmas tingkat kelurahan sebanyak sepuluh buah dan satu Puskesmas
tingkat kecamatan.
Juga terdapat

fasilitas

kesehatan

yang

didanai

oleh perseorangan maupun

Puskesmas yang perduli terhadap pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Kecamatan


Cilincing, antara lain terdapat Rumah Sakit Islam Sukapura di Kelurahan Sukapura.

Puskesmas kecamatan Cilincing pada bulan Mei tahun 2015 telah menjadi sebuah
Rumah Sakit Umum Tingkat Kecamatan, oleh karenanya puskesmas kecamatan ini berpindah
tempat ke wilayah Kelurahan Sukapura. Puskesmas Kecamatan Cilincing ini menjalankan
pelayanan serta mengelola data di wilayah Kelurahan Sukapura.
1.1.2 Gambaran Umum Puskesmas
1.1.2.1 Definisi
Puskesmas ialah suatu unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Puskesmas merupakan suatu unit organisasi yang

bergerak dalam bidang pelayanan

kesehatan yang berada di garda terdepan dan mempunyai misi sebagai penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya yakni satu atau sebagian wilayah
kecamatan, mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di
wilayah kerjanya, memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakannya, memelihara dan meningkatkan kesehatan
perorangan, keluarga, dan masyarakat beserta lingkungannya.
Seiring dengan semangat otonomi daerah maka puskesmas dituntut untuk mandiri
dalam menentukan kegiatan pelayanannya yang akan dilaksanakan tetapi pembiayaannya
8

tetap didukung oleh pemerintah. Sebagai organisasi pelayanan mandiri, kewenangan yang
dimiliki puskesmas juga meliputi kewenangan merencanakan kegiatan sesuai masalah
kesehatan di wilayahnya, kewenangan menentukan kegiatan yang termasuk public goods
atau private goods serta kewenangan menentukan target kegiatan sesuai kondisi geografi
puskesmas. Jumlah kegiatan pokok puskesmas diserahkan pada setiap puskesmas sesuai
kebutuhan masyarakat dan kemampuan sumber daya yang dimiliki namun puskesmas
tetap melaksanakan kegiatan pelayanan dasar yang menjadi kesepakatan nasional.
Peran puskesmas adalah sebagai ujung tombak dalam mewujudkan kesehatan
nasional secara komprehensif yang meliputi promotif (peningkatan kesehatan), preventif
(pencegahan), kuratif (pengobatan), rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Tidak sebatas pada
aspek kuratif dan rehabilatatif saja seperti rumah sakit. Puskesmas merupakan salah satu
jenis organisasi yang sangat dirasakan oleh masyarakat umum. Seiring dengan semangat
reformasi dan otonomi daerah maka banyak terjadi perubahan yang mendasar dalam sektor
kesehatan

yaitu

terjadinya perubahan

paradigma

pembangunan kesehatan menjadi

paradigma sehat.
Dengan paradigma baru ini, mendorong terjadi perubahan konsep yang sangat
mendasar dalam pembangunan kesehatan, antara lain :
1.
Pembangunan kesehatan yang semula lebih menekankan pada upaya kuratif dan
rehabilitatif menjadi lebih fokus pada upaya preventif dan kuratif tanpa mengabaikan
2.

kuratif - rehabilitatif
Pelaksanaan upaya kesehatan yang semula lebih bersifat terpilah-pilah (fragmented)

3.

berubah menjadi kegiatan yang terpadu (integrated).


Sumber pembiayaan kesehatan yang semula lebih banyak dari pemerintah

4.

berubah menjadi pembiayaan kesehatan lebih banyak dari masyarakat


Pergeseran pola pembayaran dalam pelayanan kesehatan yang semula fee for

5.

service menjadi pembayaran secara pra-upaya.


Pergeseran pemahaman tentang kesehatan

6.

investasi
Upaya kesehatan yang semula lebih banyak dilakukan oleh pemerintah akan

dari pandangan komsutif menjadi

bergeser lebih banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai mitra pemerintah


7.

(partnership).
Pembangunan kesehatan yang semula bersifat terpusat (centralization) menjadi

8.

otonomi daerah (decentralization).


Pergeseran proses perencanaan dari top down menjadi bottom up seiring dengan era
desentralisasi.

1.1.2.2 Wilayah Kerja


9

Wilayah kerja puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan.
Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografik dan keadaan infrakstruktur
lainnya merupakan pertimbangan dalam penentuan wilayah kerja puskesmas. Puskesmas
merupakan perangkat pemerintah daerah tingkat II sehingga pembagian wilayah kerja
puskesmas ditetapkan oleh walikota / bupati dengan saran teknis dari kepala dinas kesehatan
kabupaten / kota. Sasaran penduduk yang dilayani oleh satu puskesmas adalah sekitar
30.000 50.000 penduduk. Untuk jangkuan yang lebih luas dibantu oleh puskesmas
pembantu dan puskesmas keliling. Puskesmas di kecamatan dengan jumlah penduduk
371.335 jiwa atau lebih merupakan puskesmas Pembina yang berfungsi sebagai pusat
rujukan bagi puskesmas kelurahan dan juga mempunyai fungsi koordinasi.
1.1.2.3 Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pelayanan kesehatan menyeluruh yang diberikan puskesmas meliputi:
1. Promotif (peningkatan kesehatan)
2. Preventif (upaya pencegahan )
3. Kuratif ( pengobatan )
4. Rehabilitatif ( pemulihan kesehatan )
Pelayanan tersebut ditunjukkan kepada semua penduduk tidak membedakan jenis
kelamin, umur, sejak pembuahan dalam kandungan sampai meninggal.
I.1.2.4 Fungsi Puskesmas
Untuk mencapai Indonesia sehat 2015, Puskesmas harus menjalankan fungsinya
secara optimal. Adapun fungsi Puskesmas sebagai berikut :
1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan
pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah
kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di samping
itu puskesmas aktif memantau

dan

melaporkan

dampak kesehatan dari

penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk


pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan
penyakit dan pemulihan kesehatan.

2.

Pusat pemberdayaan masyarakat


Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat,
keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan
kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif
10

dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta


ikut menerapkan, menyelenggarakan dan memantau progran kesehatan. Pemberadayaan
perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan
3.

kondisi dan situasi, khususnya sosisal budaya masyarakat setempat.


Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat
pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat
pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi :
a. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan yang bersifat pribadi

(private goods) dengan tujuan utama

menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa


mengabaikan pemeliharan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan
perorangan tersebut adalah rawat

jalan dan

untuk puskesmas tertentu

ditambah dengan rawat inap.


b. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa
mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan
kesehatan masyarakat tersebut antara lain adalah promosi kesehatan,
pemberantasan

penyakit,

penyehatan

lingkungan,

perbaikan

gizi,

peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa


masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.

Gambar 1.2 fungsi puskesmas


Sumber : Arrimes, Manajemen Puskesmas

Fungsi Puskesmas

11

Fungsi

puskesmas

terdiri

dari

3 fungsi, yaitu sebagai pusat pembangunan

berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat dan sebagai pusat
pelayanan kesehatan (Yankes) yang terdiri dari yankes perorangan dan masyarakat.
Untuk melaksanakan fungsinya, Puskesmas menjalankan beberapa proses. Proses
ini dilaksanakan dengan cara :
1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka
menolong dirinya sendiri.
2. Memberikan petunjuk pada

masyarakat

tentang

bagaimana

menggali

dan

menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.


3. Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis
maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan tersebut tidak
menimbulkan ketergantungan.
4. Memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.
5. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program
Puskesmas.
Setiap kegiatan yang dilakukan di puskesmas memerlukan evaluasi untuk menilai
apakah

program

yang

dilaksanakan

berhasil atau tidak. Untuk itu dibuat indikator

keberhasilan sesuai dengan fungsi puskesmas.


1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan yang menilai tatanan sekolah,
tatanan tempat kerja dan tatanan tempat tempat umum mempunyai indikator :
a. Tersedianya air bersih
b. Tersedianya jamban yang saniter
c. Tersedianya larangan merokok
d. Adanya dokter kecil untuk SD atau PMR untuk SLTP
2. Pusat pemberdayaan masyarakat, indikatornya :
a. Tumbuh kembang, Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
b. Tumbuh dan kembangnya LSM
c. Tumbuh dan berfungsinya kesehatan masyarakat
3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Kegiatan pada pusat pelayanan kesehatan strata pertama adalah:
a. Promosi kesehatan masyarakat
b. Kesehatan lingkungan
c. KIA ( Kesehatan Ibu dan Anak )
d. KB ( Keluarga Berencana )
e. Perbaikan gizi masyarakat
f. P2M ( Pengendalian Penyakit Menular )
g. Pengobatan dasar
I.1.2.5 Peran Puskesmas
Dalam konteks otonomi daerah saat ini, puskesmas mempunyai peran yang
vital sebagai institusi pelaksana teknis dituntut memiliki kemampuan managerial dan
wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Peran tersebut
12

ditunjukkan dalam bentuk ikut serta menentukan kebijakan daerah melalui sistem
perencanaan yang matang, tatalaksana kegiatan yang tersusun rapi serta sistem evaluasi dan
pemantauan yang akurat.
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggung-jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
1.
Unit Pelaksana Teknis
Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPTD) dinas kesehatan kabupaten/kota,
puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas
kesehatan kabupaten/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung
2.

tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.


Pembangunan kesehatan
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh
bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup

3.

sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Pertanggungjawaban penyelenggaraan
Penanggungjawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan
kesehatan

di wilayah kabupaten/kota adalah dinas kesehatan

kabupaten/kota,

sedangkan puskesmas bertanggungjawab hanya untuk sebagian upaya pembangunan


kesehatan yang dibebankan oleh dinas
4.

kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan

kemampuannya.
Wilayah kerja
Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan.
Tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung
jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas, dengan memperhatikan kebutuhan
konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW).

Masing masing puskesmas tersebut

secara operasional bertanggungjawab langsung kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.


I.1.2.6 Visi Puskesmas
Visi puskesmas adalah tercapainya kecamatan yang sehat menuju terwujudnya
Indonesia sehat 2015. Kecamatan sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan yang ingin
dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan
dan perilaku yang sehat memiliki kemampuan untuk mengjangkau pelayanan kesehatan
yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggitingginya. Indikator kecamatan sehat adalah:
1. Lingkungan sehat
2. Perilaku penduduk yang sehat
3. Cakupan kesehatan yang bermutu
4. Derajat kesehatan penduduk yang tinggi di kecamatan
I.1.2.7 Misi Puskesmas
13

1.
2.

Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya


Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah

3.

kerjanya.
Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan

4.

kesehatan yang diselenggarakannya


Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat
beserta lingkungannya.

I.1.2.8 Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas


Upaya kesahatan wajib Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan
komitmen nasional,

regional dan global serta mempunyai daya ungkit

tinggi untuk

peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini diselenggarakan


oleh setiap puskesmas yang ada di seluruh wilayah Indonesia.
Upaya kesehatan wajib tersebut antara lain:
1.
Promosi Kesehatan
2.
Kesehatan Lingkungan
3.
KIA ( Kesehatan ibu dan anak )
4.
KB ( Keluarga Berencana )
5.
Perbaikan gizi masyarakat
6.
P2M ( Pengendalian Penyakit Menular )
7.
Pengobatan Dasar
Pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas diarahkan kepada keluarga sebagai satuan
masyarakat terkecil. Karenanya, kegiatan pokok Puskesmas ditujukan untuk kepentingan
kesehatan keluarga sebagai bagian dari masyarakat di wilayah kerjanya.

14

1.1.2.9 Upaya Kesehatan Pengembangan Puskesmas


15

Upaya Kesehatan Pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan


berdasarkan

permasalahan

kesehatan yang ditemukan

di masyarakat serta yang

disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari


daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada, yaitu :
1. Upaya Kesehatan Sekolah
2. Upaya Kesehatan Olahraga
3. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
4. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
5. Upaya Kesehatan Jiwa
6. Upaya Kesehatan Mata
7. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
8. Upaya Pengobatan Akupuntur
Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dapat pula bersifat upaya inovasi
yaitu upaya lain di luar upaya puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan kebutuhan.
Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka mempercepat
tercapainya visi puskesmas.
Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh puskesmas bersama
dinas

kesehatan

kabupaten/kota

dengan

mempertimbangkan masukan dari

Konkes/BPKM/BPP. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan


wajib puskesmas telah terlaksana secara optimal dalam arti target cakupan serta peningkatan
mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan upaya kesehatan pengembangan pilihan puskesmas
ini dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Dalam keadaan tertentu upaya kesehatan
pengembangan
kabupaten/kota.
Apabila

puskesmas

dapat

puskesmas

pula

belum

ditetapkan
mampu

sebagai

penugasan

menyelenggarakan

pengembangan,

padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat,

kabupaten/kota

bertanggung jawab

oleh

dinas

upaya kesehatan

maka dinas kesehatan

dan wajib menyelenggarakannya. Untuk itu dinas

kesehatan kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit fungsional lainnya.


Kegiatan upaya kesehatan dasar dan upaya kesehatan pengembangan di puskesmas
kecamatan Cilincing periode Januari - Desember 2015 adalah :
a. Upaya Kesehatan Dasar
1. Upaya Promosi Kesehatan
2. Upaya Kesejahteraan Ibu dan Anak
3. Upaya Keluarga Berencana
4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
5. Upaya Kesehatan Lingkungan
6. Upaya Pengendalian Penyakit Menular
7. Upaya Pengobatan
b. Upaya Kesehatan Pengembangan
16

1. Upaya Kesehatan Sekolah


2. Upaya Kesehatan Olah Raga
3. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
4. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
5. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
6. Upaya Kesehatan Jiwa
7. Upaya Kesehatan Mata
Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya pengembangan harus menerapkan
azas

penyelenggaraan

puskesmas

secara

terpadu. Azas

dikembangkan dari ketiga fungsi puskesmas.

penyelenggaraan

Dasar pemikirannya

adalah

tersebut

pentingnya

menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi puskesmas dalam menyelenggarakan setiap
upaya puskesmas, baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan.
Azas penyelenggaran puskesmas yang dimaksud adalah :
1.
Azas pertanggungjawaban wilayah
Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah kerjanya. Untuk ini Puskesmas

harus melaksanakan

berbagai kegiatan, antara lain sebagai berikut :


a. Menggerakkan
pembangunan berbagai sektor tingkat kecamatan sehingga
berwawasan kesehatan.
b. Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat
di wilayah kerjanya.
c. Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang

diselenggarakan oleh

masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya.


d. Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama (primer) secara merata dan
2.

terjangkau di wilayah kerjanya.


Azas pemberdayaan masyarakat
Puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar
berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap program puskesmas. Untuk ini, berbagai
potensi masyarakat perlu dihimpun melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas
(BPP). Beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan oleh puskesmas dalam rangka
pemberdayaan masyarakat antara lain :
a. KIA
: Posyandu, Polindes, Bina
Keluarga Balita (BKB)
b. Pengobatan
: Posyandu, Pos Obat Desa (POD)
c. Perbaikan Gizi
: Panti Pemulihan Gizi, Keluarga
d. Kesehatan Lingkungan

Sadar Gizi (Kadarzi)


: Kelompok Pemakai Air (Pokmair),
Desa Percontohan Kesehatan
Lingkungan (DPKL)

17

e. UKS

: Dokter Kecil, Saka Bakti Husada


(SBH), Pos Kesehatan Pesantren

f. Kesehatan Usia Lanjut


g. Kesehatan Jiwa

(Poskestren)
: Posyandu Usila, Panti Wreda
: Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa
Masyarakat (TPKJM)

3.

Azas Keterpaduan
Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya serta diperolehnya hasil yang optimal,
penyelenggaraan setiap program puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu.
Ada dua macam keterpaduan yang perlu diperhatikan yaitu :
a. Keterpaduan Lintas Program
Upaya memadukan penyelengaraan berbagai upaya kesehatan yang
menjadi tanggung jawab Puskesmas. Contoh keterpaduan lintas program
antara lain :
1) Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) : keterpaduan KIA dengan P2M,
gizi, promosi kesehatan & pengobatan.
2) UKS : keterpaduan kesehatan lingkungan dengan promosi kesehatan,
pengobatan, kesehatan gigi, kesehatan reproduksi remaja dan kesehatan
jiwa.
3) Puskesmas keliling : keterpaduan pengobatan dengan KIA/KB, Gizi,
promosi kesehatan, & kesehatan gigi.
4) Posyandu : keterpaduan KIA dengan KB, gizi, P2M, kesehatan jiwa &
promosi kesehatan.
b. Keterpaduan Lintas Sektor
Upaya memadukan penyelenggaraan program puskesmas dengan
program dari sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi
kemasyarakatan dan dunia usaha. Contoh keterpaduan lintas Sektoral antara
lain :
1) UKS : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa,
pendidikan & agama.
2) Promosi Kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama dan pertanian.
3) KIA : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa,
organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, PKK dan PLKB.
4) Perbaikan Gizi : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala
desa, pendidikan, agama, pertanian, koperasi, dunia usaha dan organisasi
kemasyarakatan.
5) Kesehatan Kerja : keterpaduan sektor kesehatan dengan dengan camat,
lurah, kepala desa, tenaga kerja dan dunia usaha.
18

4.

Azas Rujukan
Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki
oleh puskesmas terbatas. Pada hal puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat
dengan berbagai permasalahan kesehatan. Untuk membantu puskesmas menyelesaikan
berbagai masalah kesehatan tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka
penyelenggaraan setiap program puskesmas harus ditopang oleh azas rujukan.
Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas penyakit atau
masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam
arti dari satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan
lainnya, maupun secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan
yang sama.
Ada dua macam rujukan yang dikenal yakni :
a.
Rujukan Medis
Apabila suatu puskesmas tidak mampu menangani suatu penyakit tertentu,
maka puskesmas tersebut dapat merujuk ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih
mampu (baik vertikal maupun horizontal). Rujukan upaya kesehatan perorangan
dibedakan atas :
1) Rujukan Kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan tindakan medis
(contoh : operasi) dan lain-lain.
2) Rujukan Bahan Pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium
yang lebih lengkap.
3) Rujukan Ilmu Pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih
kompeten untuk melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan atau
b.

menyelenggarakan pelayanan medis spesialis di puskesmas.


Rujukan Kesehatan
Rujukan kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam :
1) Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging,
peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual,
bantuan obat, vaksin, bahan habis pakai dan bahan pakaian.
2) Rujukan tenaga, antara lain tenaga ahli untuk penyidikan kejadian luar
biasa, bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, gangguan
kesehatan karena bencana alam.
3) Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan
tanggung jawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau
penyelenggaraan kesehatan masyarakat ke periode dinas kesehatan
kabupaten/kota. Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas
tidak mampu.

19

4)

Sumber : Trihono. 2005. Manajemen Kesehatan, Arrimes, ed.


Setiap upaya atau program yang dilakukan oleh puskesmas memerlukan evaluasi
untuk menilai apakah program yang dilaksanakan berhasil atau tidak. Untuk itu dibuat
indikator keberhasilan sesuai dengan fungsi puskesmas :
1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
Fungsi pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan dapat dinilai
dari seberapa jauh institusi jajaran non-kesehatan memperhatikan kesehatan bagi
institusi dan warganya. Keberhasilan fungsi ini bisa diukur melalui Indeks
Potensi Tatanan Sehat (IPTS).Ada tiga tatanan yang bisa diukur yaitu :
a. Tatanan sekolah
b. Tatanan tempat kerja
c. Tatanan tempat-tempat umum
2. Pusat pemberdayaan masyarakat
Segala upaya fasilitasi yag bersifat non-instruktif guna meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah,
merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan

potensi

setempat dan fasilitas yang ada, baik instansi lintas sektoral maupun LSM dan
tokoh mayarakat.
Fungsi ini dapat diukur dengan beberapa indikator :
a. Tumbuh kembang, Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).
b. Tumbuh dan kembangnya LSM di bidang kesehatan.
c. Tumbuh dan berfungsinya konsil kesehatan kecamatan atau BPKM
(Badan Peduli Kesehatan Masyarakat) atau BPP (Badan Penyantun
Puskesmas).
20

3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama


Indikator keberhasilan fungsi ini dapat dikelompokkan ke dalam
IPMS (Indikator Potensi Masyarakat Sehat), yang terdiri dari cakupan dan
kualitas program puskesmas. IPMS minimal mencakup seluruh indikator
cakupan upaya kesehatan wajib dan kualitas atau mutu pelayanan kesehatan.
1.1.3 Gambaran Umum Puskesmas Kecamatan Cilincing
1.1.3.1 Latar belakang
Puskesmas Kecamatan Cilincing didirikan tahun 1970 di Jl. Sungai Landak Kelurahan
Cilincing.

Pada tahun

1976 Puskesmas

Kecamatan Cilincing pindah ke Jl. Madya

Kebantenan IV Kelurahan Semper Timur Kecamatan Cilincing Jakarta Utara pada tahun
1993 hingga saat ini. Puskesmas Kecamatan Cilincing berada + 50 meter dari jalan Kantor
Kelurahan Semper Timur. Luas total lahan Puskesmas Kecamatan Cilincing adalah 36,6996
m2 dengan luas lahan terbangun 4.122 m2.
Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cilincing adalah membawahi sembilan
Puskesmas kelurahan di tujuh kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Cilincing, yaitu :
1.
Puskesmas Kecamatan Cilincing
2.
Puskesmas Kelurahan Semper Barat I
3.
Puskesmas Kelurahan Semper Barat II
4.
Puskesmas Kelurahan Semper Barat III
5.
Puskesmas Kelurahan Kalibaru
6.
Puskesmas Kelurahan Sukapura
7.
Puskesmas Kelurahan Rorotan
8.
Puskesmas Kelurahan Marunda
9.
Puskesmas Kelurahan Cilincing I
10.
Puskesmas Kelurahan Cilincing II
Untuk Kelurahan Semper Timur tidak ada puskesmas kelurahan akan tetapi sudah ada
gedung Puskesmas Kecamatan Cilincing yang berlokasi di wilayah kelurahan tersebut.
Sehingga dapat dikatakan secara fisik jumlah puskesmas yang ada adalah 10 puskesmas
yaitu

sembilan

puskesmas

kelurahan dan satu puskesmas kecamatan. puskesmas

Kecamatan Cilincing telah mengajukan diri menjadi salah satu unit BLUD di wilayah
Provinsi DKI Jakarta dimulai pada tahun 2006. Mulai Januari 2006 Puskesmas Kecamatan
Cilincing telah ditetapkan menjadi puskesmas BLUD bertahap sesuai dengan SK Gubernur
No. 2086 tahun 2006 sampai sekarang.
Jenis pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan Cilincing
adalah poli umum, gigi, imunisasi, poli ibu dan anak, poli KB, poli lansia, jiwa, paru
spesialis mata, ECG, USG, RB dengan kapasitas delapan tempat tidur dan laboratorium
dasar. Jumlah tenaga dokter umum 15 orang, dokter gigi 11 orang, spesialis mata 1 orang,
bidan 27 orang, paramedik 40 orang dan tenaga non paramedik 10 orang.

21

Berdasarkan jenis pelayanan yang tersedia, Puskesmas Kecamatan Cilincing


diharapkan mampu memberikan pelayanan dasar yang dibutuhkan oleh masyarakat di
Kecamatan Cilincing dan sekitarnya.

1.1.3.2 Visi, Misi Dan Sasaran Puskesmas Kecamatan Cilincing


A. Visi Puskesmas Kecamatan Cilincing :
Menjadi penyelenggara pelayanan kesehatan yang berorientasi keadaan kepuasan
pelanggan internal maupun eksternal dengan menjunjung tinggi komitmen vertikal
maupun horisontal.
B. Misi Puskesmas Kecamatan Cilincing
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif
b. Melakukan pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada kebutuhan masyarakat yang
dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat.
c. Melakukan pelayanan kesehatan secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan
baik secara teknis medis maupun administratif
d. Melakukan kegiatan secara bersama dengan mendayagunakan sumberdaya yang ada
secara optimal.
e. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan feedback terhadap
pelayanan puskesmas.
1.1.3.3 Kebijakan Mutu Puskesmas Kecamatan Cilincing
Memberikan Pelayanan Kesehatan Profesional dan Ramah yang berorientasi pada
peningkatan kepuasan Pelanggan dan secara terus menerus melakukan perbaikan mutu
melalui Penerapan Sasaran Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000,2008
1.1.3.4 Fungsi Puskesmas Kecamatan Cilincing
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Penyusunan rencana kerja dan anggaran puskesmas kecamatan.


Pelaksanaan rencana kerja dan anggaran yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan pelayanan kesehatan perorangan.
Penyelenggaraan pelayanan medis umum.
Penyelenggaraan asuhan keperawatan.
Penyelenggaraan pelayanan persalinan.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan spesialis terbatas kebidanan, kesehatan anak,

9.
10.

penyakit dalam, dan mata.


Penyelenggaraan rawat inap terbatas.
Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis laboratorium, gizi, farmasi dan optik.
22

11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

Penyelenggaraan pelayanan ambulans rujukan.


Penyelenggaraan pelayanan Keluarga Berencana.
Penyelenggaraan pelayanan imunisasi.
Penyelenggaraan pelayanan 24 jam.
Penyelenggaraan pelayanan rujukan.
Penyelenggaraan konsultasi kesehatan perorangan.
Penyelenggaraan pemberdayaan puskesmas kelurahan.
Penyelenggaraan pencatatan medis.
Penyelenggaraan pemeliharaan perawatan peralatan kedokteran, peralatan
keperawatan, peralatan perkantoran dan perawatan medis lainnya.
Penyelenggaraan peningkatan dan penjaminan mutu pelayanan.
Penyusunan Standar Operasional Prosedur.
Pengolahan data seluruh hasil pelaksanaan fungsi puskesmas
kecamatan.
Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi 456
puskesmas
kecamatan secara berkala setiap bulan dan setiap

triwulan kepada Kepala Dinas

Kesehatan Propinsi DKI Jakarta melalui Suku Kepala Dinas Kesehatan.


KEPALA PUSKESMAS
KECAMATAN
Dr.Lenny Aryeni

KA. TATA USAHA

Rima
KA. SEKSI PELAYANAN

Dr. Ajeng

KA. SEKSI PENUNJANG &


KESMAS

Dr. Victor
UNIT PENUNJANG
Unit Farmasi

1.1.3.5UNIT
Struktur
Organisasi Puskesmas Kecamatan Cilincing
PELAYANAN
Unit Gizi

Unit Laboratorium
Unit Kesehatan Umum
Unit
Radiologi
Gambar 1.4. Struktur Organisasi Puskesmas
Kecamatan
Cilincing 2015
Unit Kesehatan Gigi &
UnitPemeliharaanPera
Mulut
latanKesehatan
Unit Kesehatan Ibu & Anak
Kesehatan Masyarakat
Unit Kesehatan Spesialis
Penyakit Menular
Unit Rumah Bersalin
P2B2
Unit Pelayanan 24 Jam &
Ambulan
Penyakit Tidak Menular
Unit Pelayanan Keluarga
Berencana
Penyehatan Lingkungan
Unit Kamar Operasi
& Kesehatan Kerja
Gizi & PPSM

PUSKESMAS
KELURAHAN

Kesehatan Jiwa &


NAPZA

KELOMPOK JABATAN
FUNGISIONAL

23

Sumber: Laporan Daftar Pegawai Puskesmas Kecamatan Cilincing Tahun 2015


1.1.3.6 Sumber Daya Manusia
Potensi tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas wilayah Kecamatan Cilincing tahun
2015 berjumlah 144 orang dengan perincian pada tabel 1.8.

24

Sumber: Laporan Daftar Pegawai Puskesmas Kecamatan Cilincing Tahun 2015


1.1.3.7 Sarana dan Prasarana
Puskesmas Kecamatan Cilincing memiliki fasilitas gedung terdiri dari :
1.
Luas bangunan
: 1500 m2
2.
Luas tanah
: 2915 m2
3.
Daya listrik
: 27.000 W
4.
Air
: PAM
5.
Telepon
: 2 unit
25

KEPALA PUSKESMAS
KECAMATAN
Dr.Mirsad
6.

Fax
: 1 unit
Komputer
: 20 unit
KA. TATA USAHA
8.
Laptop
: 4 unit
9.
Printer
: 13 unit
Nining
10.
AC
: 26 unit
11.
Mobil Puskesmas keliling
:1
12.
Mobil
dinas
KA. SEKSI PENUNJANG &
KA. SEKSI PELAYANAN : 1
13.
Motor
: 10
KESMAS
14.
Swing
fog
:
4
Dr. Aprilia
15.
Dental unit
:3
Dr. Carla
16.
Rontgen unit
:1
UNIT PENUNJANG
Puskesmas Kecamatan Cilincing terdiri dari 2 lantai.
Lantai 1 terdiri dari :
Unit Farmasi
1.
Loket
UNIT PELAYANAN
Unit Gizi
2.
Poli Balai pengobatan umum(BPU)
Unit Laboratorium
Unit
Umum
Unit Radiologi
3. Kesehatan
Poli Kesehatan
Ibu dan Anak (KIA).
Unit
Kesehatan
Gigi
&
UnitPemeliharaanPera
4.
Poli Keluarga Berencana (KB).
Mulut
latanKesehatan
5.
Ruang Bersalin (RB) dengan kapasitas :
Unit a.
Kesehatan
Ibu
&
Anak
Kesehatan
Masyarakat
Tempat pendaftaran.
Unit Kesehatan Spesialis
Penyakit Menular
b. 5 unit tempat tidur.
Unit Rumah Bersalin
c. Kamar bersalin kapasitas 3 unit tempat tidur. P2B2
Unit Pelayanan 24 Jam &
d. Kamar periksa.
Ambulan
Ruang tunggu.
Penyakit Tidak Menular
Unit e.
Pelayanan
Keluarga
f. Ruang administrasi.
Berencana
Penyehatan Lingkungan
Dapur.
Unit g.
Kamar
Operasi
& Kesehatan Kerja
h. Kamar mandi/toilet.
6.
Ruang UGD
Gizi & PPSM
7.
Apotek
Lantai II Puskesmas Kecamatan Cilincing terdiri dari : Kesehatan Jiwa &
1.
Ruang tunggu.
NAPZA
2.
Poli Gigi.PUSKESMAS
KELURAHAN
3.
Poli Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS). KELOMPOK JABATAN
FUNGISIONAL
4.
Laboratorium.
5.
Toilet.
6.
Pojok ASI.
7.
Pojok Gizi
7.

1.1.3.8 Program Imunisasi di Puskesmas Kecamatan Cilincing


Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi
penyakit (Ranuh. et. all, 2008:40).
Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya dari
beberapa penyakit tertentu (Wahab, A. Samik, 2002: 22).
Imunisasi adalah prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas, memberikan
imunitas protektif dengan menginduksi respon memori terhadap pathogen tertentu/toksin
dengan menggunakan preparat antigen non virulen/non toksik (Wong. DL, 2008: 28).

26

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap
penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG,
DPT, campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio. Di negara Indonesia terdapat jenis
imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi
wajib di Indonesia sebagaimana telah diwajibkan oleh WHO ditambah dengan Hepatitis B.
Imunisasi yang dianjurkan oleh pemerintah dapat digunakan untuk mencegah suatu kejadian
yang luar biasa atau penyakit endemik, atau untuk kepentingan tertentu (bepergian) seperti
jemaah haji yaitu imunisasi meningitis (Hidayat. AA, 2008: 37) .
Imunisasi adalah suatu prosedur rutin yang akan memberi kekebalan pada bayi.
Fungsi imunisasi adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakitpenyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada tahun tahun awal kehidupan seorang anak.
Tujuan program imunisasi adalah menurunkan angka kematian bayi akibat penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi. Keberhasilan program imunisasi diukur dengan pencapaian
target cakupan imunisasi. Sasaran kegiatan ini adalah bayi dan ibu hamil.
Imunisasi merupakan hal yang terpenting dalam usaha melindungi kesehatan anak
untuk memberikan kekebalan khusus terhadap seseorang yang sehat, dengan tujuan utama
menurunkan angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Tanpa imunisasi, kira-kira tiga dari 100 kelahiran anak akan meninggal
karena penyakit campak, dua dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena batuk rejan.
satu dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit tetanus. Setiap 200.000 anak,
satu akan menderita penyakit polio. Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin
tertentu akan melindungi anak terhadap penyakit-penyakit tertentu.
Sesuai dengan program pemerintah (Departemen kesehatan) tentang program
pengembangan imunisasi, maka anak harus mendapat perlindungan terhadap tujuh jenis
penyakit utama yaitu penyakit TBC dengan pemberian vaksin BCG, penyakit difteri tetanus
pertusis dengan pemberian vaksin DPT, penyakit poliomyelitis dengan vaksin polio, penyakit
hepatitis B dengan vaksin hepatitis B, dan penyakit campak dengan vaksin campak.
Ada dua imunisasi yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Perbedaan antara
imunisasi aktif dan imunisasi pasif berhubungan dengan kekebalan yang didapat. Kekebalan
Aktif yaitu tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama bertahuntahun,
Sedangkan Imunisasi pasif ialah tubuh anak tidak membuat sendiri zat anti, si anak
mendapatnya dari luar tubuh dengan cara penyuntikan bahan atau serum yang telah

27

mengandung zat anti atau anak tersebut mendapat zat anti dari ibunya semasa dalam
kandungan. Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama.
1.1.3.9 Jenis Vaksin
Pada dasarnya vaksin dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Live attenuated (kuman atau virus hidup yang dilemahkan)
b. Inactivated (kuman, virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif).
Sifat vaksin attenuated dan inactivated berbeda sehingga hal ini menentukan
bagaimana vaksin ini digunakan.
a. Vaksin hidup attenuated
Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar (wild) penyebab penyakit. Virus
atau bakteri liar ini dilemahkan di laboratorium, biasanya dengan pembiakan
berulang-ulang. Vaksin hidup yang tersedia: berasal dari virus hidup yaitu vaksin
campak, gondongan (parotitis), rubella, polio, rotavirus, demam kuning (yellow
fever). Berasal dari bakteri yaitu vaksin BCG dan demam tifoid.
b. Vaksin inactivated
Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus
dalam media pembiakan (persemaian), kemudian dibuat tidak aktif (inactivated)
dengan penanaman bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin komponen,
organisme tersebut dibuat murni dan hanya komponen-komponennya yang
dimasukkan dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari kuman pneumokokus).
Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen
dimasukkan dalam suntikan. Vaksin ini selalu membutuhkan dosis multipel, pada
dasarnya dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu
atau menyiapkan sistem imun.
c. Vaksin polisakarida
Vaksin polisakarida adalah vaksin sub-unit yang inactivated dengan bentuknya
yang unik terdiri atas rantai panjang molekul-molekul gula yang membentuk
permukaan kapsul bakteri tertentu. Vaksin ini tersedia untuk tiga macam penyakit
yaitu pneumokokus, meningokokus, dan haemophillus influenzae type b.
d. Vaksin rekombinan
Terdapat tiga jenis vaksin rekombinan yang saat ini telah tersedia:
1. Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen virus
hepatitis B ke dalam gen sel ragi.
2. Vaksin tifoid (Ty21a) adalah bakteri salmonella typhi yang secara genetik diubah
sehingga tidak menyebabkan sakit.
Tiga dari empat virus yang berada di dalam vaksin rotavirus hidup adalah
rotavirus kera rhesus yang diubah secara genetik menghasilkan antigen rotavirus
manusia apabila mereka mengalami replikasi.
28

Program imunisasi dasar (bayi) yang dilaksanakan di puskesmas kecamatan Cilincing


terdiri dari:
1) BCG
2) Hepatitis B
3) Polio
4) Campak
5) DPT
1.1.3.10 Penyimpanan dan Transportasi Vaksin
Secara umum vaksin terdiri dari vaksin hidup dan vaksin mati yang mempunyai
ketahanan dan stabilitas yang berbeda terhadap perbedaan suhu. Syarat-syarat penyimpanan
dan transportasi vaksin harus diperhatikan untuk menjamin potensinya ketika diberikan
kepada seorang anak.
1.1.3.10.1 Tempat Penyimpanan Vaksin
Adalah rangkaian proses penyimpanan dan transportasi vaksin dengan menggunakan
berbagai peralatan sesuai prosedur untuk menjamin kualitas vaksin sejak dari pabrik sampai
diberikan kepada pasien. Rantai vaksin terdiri dari proses penyimpanan vaksin di kamar
dingin atau kamar beku, di lemari pendingin, di dalam alat pembawa vaksin, pentingnya alatalat untuk mengukur dan mempertahankan suhu. Dampak perubahan suhu pada vaksin hidup
dan mati berbeda. Untuk itu harus diketahui suhu optimum untuk setiap vaksin sesuai
petunjuk penyimpanan dari pabrik masing-masing.

1.1.3.10.2 Suhu Optimum Untuk Vaksin Hidup


Secara umum semua vaksin sebaiknya disimpan pada suhu +2C sampai dengan
+8C, diatas suhu +8C vaksin hidup akan cepat mati, vaksin polio hanya bertahan dua hari,
vaksin BCG dan campak yang belum dilarutkan mati dalam tujuh hari. Vaksin hidup
potensinya masih tetap baik pada suhu kurang dari 2C sampai dengan beku. Vaksin oral
polio yang belum dibuka lebih bertahan lama (2 tahun) bila disimpan pada suhu -25C sampai
29

dengan -15C, namun hanya bertahan enam bulan pada suhu +2C sampai dengan +8C.
Vaksin BCG dan campak berbeda, walaupun disimpan pada suhu -25C sampai dengan
-15C, umur vaksin tidak lebih lama dari suhu +2C sampai dengan +8C, yaitu BCG tetap
satu tahun dan campak tetap dua tahun. Oleh karena itu vaksin BCG dan campak yang belum
dilarutkan tidak perlu disimpan di suhu -25C sampai dengan -15C atau didalam freezer.
1.1.3.10.3 Suhu Optimum Untuk Vaksin Mati
Vaksin mati (inaktif) sebaiknya disimpan dalam suhu +2C sampai dengan +8C juga,
pada suhu dibawah +2C (beku) vaksin mati (inaktif) akan cepat rusak. Bila beku dalam suhu
-0.5C vaksin hepatitis B dan DPT-Hepatitis B (kombo) akan rusak dalam jam, tetapi
dalam suhu diatas 8C vaksin hepatitis B bisa bertahan sampai tiga puluh hari, DPT-hepatitis
B kombinasi sampai empat belas hari. Dibekukan dalam suhu -5C sampai dengan -10C
vaksin DPT, DT dan TT akan rusak dalam 1,5 sampai dengan dua jam, tetapi bisa bertahan
sampai empat belas hari dalam suhu di atas 8C.
1.1.3.10.4 Kamar Dingin dan Kamar Beku
Kamar dingin (cold room) dan kamar beku (freeze room) umumya berada dipabrik,
distributor pusat, Dinas Kesehatan Provinsi, berupa ruang yang besar dengan kapasitas 5-100
m, untuk menyimpan vaksin dalam jumlah yang besar. Suhu kamar dingin berkisar +2C
sampai dengan +8C, terutama untuk menyimpan vaksin-vaksin yang tidak boleh beku. Suhu
kamar beku berkisar antara -25C sampai dengan -15C, untuk menyimpan vaksin yang boleh
beku, terutama vaksin polio. Kamar dingin dan kamar beku harus beroperasi terus menerus,
menggunakan dua alat pendingin yang bekerja bergantian. Aliran listrik tidak boleh terputus
sehingga harus dihubungkan dengan pembangkit listrik yang secara otomatis akan berfungsi
bila listrik mati. Suhu ruangan harus dikontrol setiap hari dari data suhu yang tercatat secara
otomatis. Pintu tidak boleh sering dibuka tutup.
1.1.3.10.5 Lemari Es dan Freezer
Setiap lemari es sebaiknya mempunyai satu stop kontak tersendiri. Jarak lemari es
dengan dinding belakang 10-15 cm, kanan kiri 15 cm, sirkulasi udara disekitarnya harus baik.
Lemari es tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Suhu didalam lemari es harus berkisar
+2C sampai dengan +8C, digunakan untuk menyimpan vaksin-vaksin hidup maupun mati,
dan untuk membuat cool pack (kotak dingin cair). Sedangkan suhu di dalam freezer berkisar
antara -25C sampai dengan -15C, khusus untuk menyimpan vaksin polio dan pembuatan
cold pack (kotak es beku). Termostat di dalam lemari es harus diatur sedemikian rupa
sehingga suhunya berkisar antara +2 sampai dengan +8C dan suhu freezer berkisar -15C
sampai dengan -25C. Di dalam lemari es lebih baik bila dilengkapi freeze watch atau freeze
30

tag pada rak ke-3, untuk memantau apakah suhunya pernah mencapai di bawah 0 derajat.
Sebaiknya pintu lemari es hanya dibuka dua kali sehari, yaitu ketika mengambil vaksin dan
mengmbalikan sisa vaksin, sambil mencatat suhu lemari es.
Lemari es dengan pintu membuka ke atas lebih dianjurkan untuk penyimpanan
vaksin. Karet-karet pintu harus diperiksa kerapatannya, untuk menghindari keluarnya udara
dingin. Bila pada dinding lemari es telah terdapat bunga es, atau di freezer telah mencapai
tebal 2-3 cm harus segera dilakukan pencairan (defrost). Sebelum melakukan pencairan,
pindahkan vaksin ke cool box atau lemari es yang lain. Cabut kontak listrik lemari es, biarkan
pintu lemari es dan freezer terbuka selama 24 jam, kemudian dibersihkan. Setelah bersih,
pasang kembali kontak listerik, tunggu sampai suhu stabil. Setelah suhu lemari sedikitnya
mencapai +8C dan suhu freezer-15C, masukkan vaksin sesuai tempatnya.
Gambar 1.6 Lemari Es Penyimpanan Vaksin

1.1.3.10.6 Susunan vaksin di dalam lemari es


Karena vaksin hidup dan vaksin inaktif mempunyai daya tahan berbeda terhadap suhu
dingin, maka kita harus mengenali bagian yang paling dingin dari lemari es. Letakkan vaksin
hidup dekat dengan bagian yang paling dingin, sedangkan vaksin mati jauh dari bagian yang
paling dingin. Di antara kotak-kotak vaksin beri jarak selebar jari tangan (sekitar 2 cm) agar
udara dingin bias menyebar merata ke semua kotak vaksin.
Bagian paling bawah tidak untuk menyimpan vaksin tetapi khusus untuk meletakkan
cool pack, untuk mempertahankan suhu bila listerik mati. Pelarut vaksin jangan disimpan di
dalam lemari es atau freezer, karena akan mengurangi ruang untuk vaksin, dan akan pecah
bila beku. Penetes (dropper) vaksin polio juga tidak boleh di letakkan di lemari es atau
freezer karena akan menjadi rapuh, mudah pecah.
Tidak boleh menyimpan makanan, minuman, obat-obatan atau benda-benda lain di
dalam lemari es vaksin, karena mengganggu stabilitas suhu karena sering di buka.
1.1.3.10.7 Lemari Es Dengan Pintu Membuka Ke Depan

31

Bagian yang paling dingin lemari es ini adalah di bagian paling atas (freezer). Di
dalam freezer disimpan cold pack, sedangkan rak tepat di bawah freezer untuk meletakkan
vaksin-vaksin hidup, karena tidak mati pada suhu rendah. Rak yang lebih jauh dari freezer
(rak ke 2 dan 3) untuk meletakkan vaksin-vaksin mati (inaktif), agar tidak terlalu dekat
freezer, untuk menghindari rusak karena beku. Thermometer Dial atau Muller diletakkan pada
rak ke-2, freeze watch atau freeze tag pada rak ke 3.
Gambar 1.7 Lemari Es Penyimpanan Vaksin

1.1.3.10.8 Lemari es dengan pintu membuka ke atas


Bagian yang paling dingin dalam lemari es ini adalah bagian tengah (evaporaor) yang
membujur dari depan ke belakang. Oleh karena itu vaksin hidup diletakkan di kanan-kiri
bagian yang paling dingin (evaporator). Vaksin mati diletakkan dipinggir, jauh dari
evaporator. Beri jarak antara kotak-kotak vaksin selebar jari tangan (sekitar 2 cm). Letakkan
termometer Dial atau Muller atau freeze watch/freeze tag dekat vaksin mati.
Gambar 1.8 Lemari Es dengan Pintu Membuka Ke Atas

1.1.3.10.9 Wadah Pembawa Vaksin


Untuk membawa vaksin dalam jumlah sedikit dan jarak tidak terlalu jauh dapat
menggunakan cold box (kotak dingin) atau vaccine carrier (termos). Cold box berukuran
lebih besar, dengan ukuran 40-70 liter, dengan penyekat suhu dari poliuretan, selain untuk
transportasi dapat pula untuk menyimpan vaksin sementara. Untuk mempertahankan suhu
vaksin di dalam kotak dingin atau termos dimasukkan cold pack atau cool pack.
Gambar 1.9 Wadah Pembawa Vaksin
32

1.1.3.10.10 Cold Pack dan Cool Pack


Cold pack berisi air yang dibekukan dalam suhu -15C sampai dengan -25C selama
24 jam, biasanya di dalam wadah plastik berwarna putih. Cool pack berisi air dingin (tidak
beku)yang didinginkan dalam suhu +2C sampai dengan +8C selama 24 jam, biasanya di
dalam wadah plastik berwarna merah atau biru. Cold pack (beku) dimasukkan ke dalam
termos untuk mempertahankan suhu vaksin ketika membawa vaksin hidup sedangkan cool
pack (cair) untuk membawa vaksin hidup dan vaksin mati (inaktif).
Gambar 1.10 Ice Pack

1.1.3.11 Menilai Kualitas Vaksin


Vaksin hidup akan mati pada suhu di atas batas tertentu, dan vaksin mati akan rusak di
bawah suhu tertentu.
1.) Kualitas rantai vaksin dan tanggal kadaluwarsa
Untuk mempertahankan kualitas vaksin maka penyimpanan dan transportasi vaksin harus
memenuhi syarat rantai vaksin yang baik, antara lain : disimpan di dalam lemari es atau
freezer dalam suhu tertentu, transportasi vaksin di dalam kotak dingin atau termos yang
tertutup rapat, tidak terendam air, terlindung dari sinar matahari langsung, belum
melewati tanggal kadaluarsa, indikator suhu berupa VVM (vaccine vial monitor) atau
freeze watch/tag belum melampaui batas suhu tertentu.
2.) VVM (vaccine vial monitor)
Untuk menilai apakah vaksin sudah pernah terpapar suhu di atas batas yang dibolehkan,
dengan membandingkan warna kotak segi empat dengan warna lingkaran di sekitarnya.
Bila waran kotak segi empat lebih muda daripada lingkaran dan sekitarnya (disebut
kondisi VVM A atau B) maka vaksin belum terpapar suhu di atas batas yang
diperkenankan. Vaksin dengan kondisi VVM B harus segera dipergunakan. Bila warna
33

kotak segi empat sama atau lebih gelap daripada lingkaran dan sekitarnya (disebut
kondisi VVM C atau D) maka vaksin sudah terpapar suhu di atas batas yang
diperkenankan, tidak boleh diberikan pada pasien.
Gambar 1.11 Vaccine Vial Monitor (VVM)

3.) Freeze watch dan freeze tag


Alat ini untuk mengetahui apakah vaksin pernah terpapar suhu dibawah 0C. Bila dalam
freeze watch terdapat warna biru yang melebar ke sekitarnya atau dalam freeze tag ada
tanda silang (X), bearti vaksin pernah terpapar suhu di bawah 0C yang dapat merusak
vaksin mati. Vaksin-vaksin tersebut tidak boleh diberikan kepada pasien.
4.) Warna dan kejernihan vaksin
Warna dan kejernihan beberapa vaksin dapat menjadi indikator praktis untuk menilai
stabilitas vaksin. Vaksin polio harus berwarna kuning oranye. Bila warnanya berubah
menjadi pucat atau kemerahan berarti pHnya telah berubah, sehingga tidak stabil dan
tidak boleh diberikan kepada pasien.
Vaksin toksoid, rekombinan dan polisakarida umumnya berwarna putih jernih sedikit
berkabut. Bila menggumpal atau banyak endapan berarti sudah pernah beku, tidak boleh
digunakan karena sudah rusak. Untuk meyakinkan dapat dilakukan uji kocok seperti
dibawah ini. Bila vaksin setelah dikocok tetap menggumpal atau mengendap maka
vaksin tidak boleh digunakan karena sudah rusak.
5.) Pemilihan vaksin
Vaksin yang harus segera dipergunakan adalah : vaksin yang belum dibuka tetapi telah
dibawa ke lapangan, sisa vaksin telah dibuka (dipergunakan), vaksin dengan VVM B,
vaksin dengan tanggal kadaluarsa sudah dekat (EEFO = Early Expire First Out), vaksin
yang sudah lama tersimpan dikeluarkan segera (FIFO = First In First Out).
1.1.3.12 Macam-Macam Vaksin Dan Fungsinya
1.1.3.12.1 Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).
BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin disuntikkan secara intrakutan di
insertio m.deltoideus lengan kanan dengan dosis 0,05 ml untuk bayi dibawah usia 1 tahun dan
34

0,1 ml untuk anak usia 1 tahun atau lebih. Jika diberikan pada usia lebih dari 2 bulan maka uji
mantoux terlebih dahulu, jika uji mantoux (+) maka tidak perlu diimunisasi.
Vaksin BCG ulangan tidak dianjurkan oleh karena manfaatnya diragukan mengingat:
1. Efektivitas perlindungan hanya 40%
2. Sekitar 70% kasus TBC berat ternyata mempunyai parut BCG
3. Kasus dewasa dengan BTA positif di Indonesia cukup tinggi (25-36%) walaupun
mereka telah mendapat BCG pada masa kanak-kanak
Vaksin BCG merupakan vaksin hidup, maka tidak diberikan pada pasien
imunokompromais (leukemia, dalam pengobatan steroid jangka panjang, atau pada pasien
HIV).
Reaksi yang mungkin terjadi:

Reaksi lokal: 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul
kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah
menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka
(ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu

dengan meninggalkan jaringan parut.


Reaksi regional: pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa disertai
nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.
Komplikasi yang mungkin timbul adalah:

Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena


penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk
mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi

(pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.


Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau
dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.

1.1.3.12.2 Imunisasi DPT


Imunisasi DPT adalah suatu vaksin three-in-one yang melindungi terhadap difteri,
pertusis dan tetanus. Di Indonesia vaksin terhadap ketiga penyakit tersebut dipasarkan dalam
tiga jenis kemasan, yaitu dalam bentuk kemasan tunggal khusus bagi tetanus, dalam bentuk
kombinasi DT (difteri dan tetanus) dan kombinasi DPT.
Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah dilemahkan. Biasanya
diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT atau
dalam bentuk tetanus dan pertusis dalam bentuk DPT.
Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat
menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Penyakit difteri disebabkan oleh
corynebacterium diphtheriae, sifatnya sangat ganas dan mudah menular.

35

Seorang anak akan terjangkit difteri bila ia berhubungan langsung dengan anak lain
sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (karier). Dalam hal inilah perlunya
dilakukan imunisasi. Dengan imunisasi anak akan terhindar, sedangkan anak yang belum
mendapat imunisasi akan tertular penyakit difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang
menjadi karier. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri Bordetella pertussis ditandai
dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.
Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan
batuk sehingga anak sulit bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan
komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Sementara tetanus adalah
infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Gejala yang khas
yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus-menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah
atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah.
Vaksin DPT diberikan dengan cara disuntikkan pada otot lengan atau paha. Imunisasi
DPT diberikan sebanyak tiga kali, yaitu pada saat anak berumur dua bulan (DPT I), tiga bulan
(DPT II) dan empat bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari empat minggu. Imunisasi
DPT ulang diberikan satu tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika
anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka diberikan DT, bukan DPT.
Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-95% dan
daya proteksi vaksin tetanus sangat baik yaitu sebesar 90-95% sedangkan daya proteksi
vaksin pertusis masih rendah yaitu 50-60%. Oleh karena itu tidak jarang anak yang telah
mendapat imunisasi pertusis masih terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang
lebih ringan.
DPT sering menyebabkan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri
di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya
komponen pertusis di dalam vaksin. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa
diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga
bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai
yang bersangkutan.
Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT menyebabkan komplikasi berikut:

Demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius)

Kejang

Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah

mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)


Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon)

Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi
DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau
36

perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik


atau kejangnya bisa dikendalikan.
Kontraindikasi: riwayat anafilaksis, ensefalopati, hiperpireksia.
1.1.3.12.3 Imunisasi Polio
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Terdapat
dua jenis vaksin yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II & III yang sudah
dimatikan (Vaksin Salk/ IPV), cara pemberiannya dengan penyuntikan. Dan yang masih
hidup tapi dilemahkan (Vaksin Sabin/ OPV) cara pemberiannya melalui mulut berupa cairan.
Di Indonesia vaksin yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin.Vaksin polio dapat
mencegah penyakit poliomielitis yang disebabkan oleh virus polio, yaitu tipe I, II dan III.
Virus polio akan merusak bagian anterior susunan saraf pusat tulang belakang. Penyakit ini
terutama banyak terdapat di negara yang sedang berkembang. Di Indonesia tercatat beberapa
kali wabah polio misalnya di Belitung tahun 1948, di Semarang tahun 1954, di Medan tahun
1957. Gejala penyakit ini sangat bervariasi, dari gejala ringan sampai timbul kelumpuhan
bahkan sampai timbul kematian. Gejala yang umum dan mudah dikenal ialah anak mendadak
lumpuh pada salah satu anggota gerak setelah menderita demam selama 2-5 hari. Polio juga
bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan.
Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes
(0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula.
Vaksin Salk mengandung 3 tipe, disuntikkan subkutan, yang pertama umur 3 bulan, yang
kedua 4 minggu kemudian dan yang ketiga 6-7 bulan sesudah yang kedua. Efek samping
tidak ada.
Manfaat vaksin Salk dan Sabin sebenarnya sama, namun untuk negara yang sedang
berkembang vaksin Sabin lebih menguntungkan karena lebih murah (tanpa suntikan), mudah
didistribusikan dan mudah diberikan kepada anak.
Kontra indikasi pemberian vaksin polio:
Diare berat
Penyakit akut atau demam
Hipersensitif yang berlebihan terutama pada neomisin, polimiksin,
streptomisin)
Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid)
Kehamilan

1.1.3.12.4 Imunisasi Campak


Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek)
yang disebabkan oleh sejenis virus termasuk golongan paramiksovirus. Gejala yang khas
yaitu timbulnya bercakbercak merah dikulit setelah anak demam 3-5 hari, bercak merah ini
37

semula timbul pada pipi di bawah telinga kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota
gerak.
Imunisasi campak diberikan sebanyak dua kali. Pertama, pada saat anak berumur
sembilan bulan atau lebih, Campak kedua diberikan pada umur 5-7 tahun. Pada kejadian luar
biasa dapat diberikan pada umur enam bulan dan diulangi enam bulan kemudian. Vaksin
disuntikkan secara langsung di bawah kulit (subkutan). Campak I diperlukan untuk
menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan Campak II diperlukan untuk
meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertingi.
Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL, pada umur 9 bulan. Pada
bayi yang baru lahir mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dari ibunya yang
pernah terinfeksi morbili dan kekebalan pasif tersebut bertahan selama 6 bulan. Apabila
telah mendapat vaksinasi MMR pada usia 15-18 bulan ulangan campak pada umur 5 tahun
tidak diperlukan. Tetapi bila anak baru datang pada usia diatas 12 bulan dan ia belum pernah
menderita penyakit campak maka sebaiknya vaksinasi segera dilakukan.
Kontra indikasi pemberian vaksin campak:

Infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38 celsius

Gangguan sistem kekebalan

Pemakaian obat imunosupresan

Alergi terhadap protein telur

Kehamilan
Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare, konjungtivitis
dan kejang yang ringan, serta ensefalitis dalam waktu 30 hari setelah imunisasi (kejadian 1
diantara satu juta suntikan). Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi yaitu 96-99%,
Menurut penelitian, kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup.
1.1.3.12.5 Imunisasi Hepatitis B (HBV)
Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan
kematian. Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Imunisasi ini
diberikan sebanyak empat kali. Antara suntikan HBV1 dengan HBV2 diberikan dengan
selang waktu satu bulan pada saat anak berumur di bawah empat bulan. Kepada bayi yang
lahir dari ibu dengan hepatitis, vaksin HBV disuntikan dalam waktu 12 jam setelah lahir.
Sedangkan pada bayi yang lahir dari ibu yang status hepatitisnya tidak diketahui, Apabila
semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui
bahwa HbsAg ibu positif maka masih dapat diberikan HBIg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7
hari. Vaksinasi hepatitis B dapat diberikan kepada ibu hamil dengan aman dan tidak
membahayakan janin.

38

Apabila sampai umur 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi hepatitis B,
maka secepatnya diberikan. HBV I diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir. HBV3
diberikan pada usia antara 6-18 bulan. Imunisasi HBV empat diberikan saat anak berusia 10
tahun. Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki Hepatitis
B. Imunisasi juga bisa diberikan pada saat bayi berumur dua bulan. Pemberian imunisasi
kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih.
Reaksi imunisasi: segera setelah imunisasi dapat timbul demam yang tidak tinggi,
pada tempat penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan, nyeri rasa mual dan nyeri sendi.
Imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Efek samping yang
berarti tidak pernah dilaporkan.
Program imunisasi di Puskesmas Kecamatan Cilincing adalah imunisasi dasar dan
imunisasi pada ibu hamil. Imunisasi dasar yang diberikan pada anak adalah:
a. BCG untuk mencegah penyakit TB,
b. DPT untuk mencegah penyakit Difteria, Pertusis dan Tetanus,
c. Polio untuk mencegah penyakit Poliomyelitis,
d. Campak untuk mencegah penyakit Measles,
Hepatitis B untuk mencegah penyakit Hepatitis B.

39

Hasil Kegiatan Program Imunisasi di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cilincing Periode


Januari Desember 2015

Tabel 1.9 Indikator dan Pencapaian Program Imunisasi Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember 2015
Program

Indikator

Target 1

Target

Pencapaian Januari-

tahun

Desember

Desember

(%)
IMUNISASI

(%)

( 1 tahun) (%)

HB 0

91%

33,5%

95,4%

BCG

91%

14,8%

95,3%

POLIO 1

91%

8,6%

99,7%

DPT/HB (1)

91%

13,3%

96,5%

POLIO 2

91%

11,9%

96,5%

DPT/HB (2)

91%

18,8%

95,6%

POLIO 3

91%

15,4%

95,9%

DPT/HB (3)

91%

17,4%

95,4%

POLIO 4

91%

17,8%

95,8%

CAMPAK

91%

17,2%

96,2%

40

Tabel 1.10 Cakupan Peserta Imunisasi HB 0 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015

Puskesmas
Kelurahan

Jan s/d Des

Jumlah
Bayi

% target 1

Jumlah bayi

Baru

tahun

yang

Lahir

% bayi yang diimunisasi

diimunisasi

Kel. Sukapura

824

91%

1403

170

Kel. Rorotan

845

91%

810

95,8

Kel. Marunda

437

91%

417

95,4

Kel. Cilincing

1474

91%

785

53,2

764

91%

733

95,9

Kel. Semper Barat

1419

91%

1350

95,1

Kel. Kalibaru

1314

91%

1252

95,3

Kec. Cilincing

7080

91%

6750

95,4

Kel. Semper
Timur

Berdasarkan tabel 1.10 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi HB 0 Kecamatan Cilincing


Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 95,4 %, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

41

Tabel 1.11 Cakupan Peserta Imunisasi BCG di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Jan s/d Des
Nama Puskesmas
Kelurahan

Jumlah
Surviving
Infant

% target

Jumlah bayi

1 tahun

yang

% bayi yang diimunisasi

diimunisasi
Kel. Sukapura

1468

91%

1409

95,9

Kel. Rorotan

842

91%

810

96,1

Kel. Marunda

435

91%

418

96,0

Kel. Cilincing

820

91%

788

96,0

Kel. Semper Timur

760

91%

737

96,9

Kel. Semper Barat

1413

91%

1325

93,7

Kel. Kalibaru

1309

91%

1260

96,2

Kec. Cilincing

7047

91%

6747

95,7

Berdasarkan tabel 1.11 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi BCG Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 95,7 %, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

Tabel 1.12 Cakupan Peserta Imunisasi DPT-HB1 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Nama Puskesmas

Jumlah

Jan s/d Des.


42

Surviving

Kelurahan

Infant

target

Jumlah bayi

yang

tahun

diimunisasi

% bayi yang diimunisasi

Kel. Sukapura

1468

91%

1405

95,7

Kel. Rorotan

842

91%

814

96,7

Kel. Marunda

435

91%

417

95,9

Kel. Cilincing

820

91%

800

97,6

Kel. Semper Timur

760

91%

733

96,4

Kel. Semper Barat

1413

91%

1391

98,4

Kalibaru

1309

91%

1259

96,2

Kec. Cilincing

7047

91%

6819

96,4

Berdasarkan tabel 1.12 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi DPT-HB1 Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 96,4 %, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

Tabel 1.13 Cakupan Peserta Imunisasi POLIO 1 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Jan s/d Des
Nama Puskesmas
Kelurahan

Jumlah
Surviving
Infant

% target 1

Jumlah bayi

tahun

yang

% bayi yang diimunisasi

diimunisasi
Kel. Sukapura

1468

91%

1470

100

Kel. Rorotan

842

91%

843

100
43

Kel. Marunda

435

91%

436

100

Kel. Cilincing

820

91%

822

100

760

91%

918

Kel. Semper Barat

1413

91%

1418

100,3

Kel. Kalibaru

1309

91%

1312

100, 2

Kec. Cilincing

7047

91%

7219

102,4

Kel. Semper
Timur

120

Berdasarkan tabel 1.13 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 1 Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 102,4 %, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

44

Tabel 1.14 Cakupan Peserta Imunisasi POLIO 2 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Jan s/d Des
Nama Puskesmas
Kelurahan

Jumlah
Surviving
Infant

% target

Jumlah bayi

1 tahun

yang

% bayi yang diimunisasi

diimunisasi
Kel. Sukapura

1468

91%

1395

95,0

Kel. Rorotan

842

91%

807

95,8

Kel. Marunda

435

91%

430

98,9

Kel. Cilincing

820

91%

804

98,0

Kel. Semper Timur

760

91%

717

94,3

Kel. Semper Barat

1413

91%

1354

95,8

Kel. Kalibaru

1309

91%

1290

98,5

Kec. Cilincing

7047

91%

6797

96,4

Berdasarkan tabel 1.14 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 2 Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 96,4 %, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

Tabel 1.15 Cakupan Peserta Imunisasi DPT/HB2 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Nama Puskesmas

Jumlah

Jan s/d Des


45

Kelurahan

Surviving
Infant

target
1
tahun

Jumlah bayi
yang

% bayi yang diimunisasi

diimunisasi

Kel. Sukapura

1468

91%

1400

95,4

Kel. Rorotan

842

91%

803

95,4

Kel. Marunda

435

91%

416

95,6

Kel. Cilincing

820

91%

782

95,4

Kel. Semper Timur

760

91%

725

95,4

Kel. Semper Barat

1413

91%

1354

95,8

Kel. Kalibaru

1309

91%

1254

95,8

Kec. Cilincing

7047

91%

6734

95,6

Berdasarkan tabel 1.15 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi DPT/HB 2 Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 95,6 %, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

46

Tabel 1.17 Cakupan Peserta Imunisasi POLIO 3 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Berdasarkan tabel 1.16 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 3 Kecamatan Cilincing
Jan s/d Des
Nama Puskesmas
Kelurahan

Jumlah
Surviving
Infant

% target 1

Jumlah bayi

tahun

yang
diimunisasi

% bayi yang
diimunisasi

Kel. Sukapura

1468

91%

1406

95,8

Kel. Rorotan

842

91%

801

95,1

Kel. Marunda

435

91%

415

95,4

Kel. Cilincing

820

91%

786

95,9

Kel. Semper Timur

760

91%

730

96,1

Kel. Semper Barat

1413

91%

1349

95,5

Kel. Kalibaru

1309

91%

1271

97,1

Kec. Cilincing

7047

91%

6758

95,9

Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 95,9%, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

Tabel 1.17 Cakupan Peserta Imunisasi DPT/HB3 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Nama Puskesmas

Jumlah

% target 1

Jan s/d Des


47

Kelurahan

Surviving
Infant

Jumlah bayi
tahun

yang
diimunisasi

% bayi yang
diimunisasi

Kel. Sukapura

1468

95%

1396

95,1

Kel. Rorotan

842

95%

805

95,6

Kel. Marunda

435

95%

417

95,9

Kel. Cilincing

820

95%

785

95,7

Kel. Semper Timur

760

95%

728

95,8

Kel. Semper Barat

1413

95%

1344

95,1

Kel. Kalibaru

1309

95%

1246

95,2

Kec. Cilincing

7047

95%

6721

95,4

Berdasarkan tabel 1.17 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi DPT/HB 3 Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 95,4%, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

48

Tabel 1.18 Cakupan Peserta Imunisasi POLIO 4 di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Jan s/d Des
Nama Puskesmas
Kelurahan

Jumlah
Surviving
Infant

% target

Jumlah bayi

1 tahun

yang

% bayi yang diimunisasi

diimunisasi
Kel. Sukapura

1468

95%

1397

95,2

Kel. Rorotan

842

95%

803

95,4

Kel. Marunda

435

95%

417

95,9

Kel. Cilincing

820

95%

790

96,3

Kel. Semper Timur

760

95%

744

97,9

Kel. Semper Barat

1413

95%

1347

95,3

Kel. Kalibaru

1309

95%

1253

95,7

Kec. Cilincing

7047

95%

6751

95,8

Berdasarkan tabel 1.18 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 4 Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 95,8%, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

Tabel 1.19 Cakupan Peserta Imunisasi Campak di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing Periode Januari Desember Tahun 2015
Nama Puskesmas

Jumlah

% target 1

Jan s/d Des


49

Surviving
Infant

tahun

Jumlah bayi
yang
diimunisasi

% bayi yang
diimunisasi

Kel. Sukapura

1468

95%

1397

95,2

Kel. Rorotan

842

95%

804

95,5

Kel. Marunda

435

95%

434

99,8

Kel. Cilincing

820

95%

817

99,6

Kel. Semper Timur

760

95%

727

95,7

Kel. Semper Barat

1413

95%

1353

95,8

Kel. Kalibaru

1309

95%

1248

95,3

Kec. Cilincing

7047

95%

6780

96,2

Berdasarkan tabel 1.19 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Campak Kecamatan Cilincing
Periode Januari Desember Tahun 2015 adalah 96,2%, dimana target selama 1 tahun 91 %
dengan jumlah sasaran sebanyak 7077 bayi.

50

Tabel 1.20 Hasil Imunisasi Dasar Bayi Puskesmas (Pencapaian)

51

1.1

Identifikasi Masalah
Sasaran program imunisasi dasar adalah bayi baru lahir dan bayi lahir hidup. Sasaran

lainnya adalah kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi tertular penyakit. Setelah
didapatkan identifikasi masalah dari program Imunisasi dasar di Puskesmas Kecamatan
Cilincing maka dengan cara menghitung dan membandingkan nilai kesenjangan antara apa
yang diharapkan (expected) dengan apa yang telah terjadi (observed) akan dipilih dua
masalah yang menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Selanjutnya dilakukan perumusan
masalah untuk membuat perencanaan yang baik sehingga masalah yang ada dapat
diselesaikan.
Dari berbagai hasil pencapaian program kegiatan imunisasi dasar bayi yang dievaluasi
di Puskesmas Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 maka didapatkan
identifikasi masalah sebagai berikut:
1.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 170 %

2.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8 %

3.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4 %

4.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 53,2 %

5.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9 %

6.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1 %

7.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,3 %

8.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4 %

9.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7 %
52

10.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 96,7 %

11.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9 %

12.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant

di Wilayah Puskesmas

Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 97,6 %


13.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 96,4%

14.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 98,4%

15.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 96,2%

16.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,4%

17.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%

18.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%

19.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6%

20.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%

21.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%

22.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%

53

23.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8 %

24.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6 %

25.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%

26.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6%

27.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%

28.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan CIlincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%

29.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%

30.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%

31.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,2%

32.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%

33.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 100%

34.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 100%

35.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 100%

54

36.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 100%

37.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 120%

38.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 100,3%

39.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 100,2%

40.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 102,4%

41.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,0 %

42.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8 %

43.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 98,9 %

44.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 98,0 %

45.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 94,3 %

46.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8 %

47.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 98,5 %

48.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,4 %

55

49.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8 %

50.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%

51.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%

52.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%

53.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 96,1%

54.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,5 %

55.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 97,1%

56.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%

57.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%

58.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6%

59.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%

60.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%

61.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%

56

62.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%

63.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,2%

64.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%

65.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%

66.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 96,1%

67.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 96,0%

68.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,0%

69.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 96,9%

70.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 93,7%

71.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 96,2%

72.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%

73.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,2%

74.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,5%

57

75.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 99,8%

76.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 99,6%

77.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%

78.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%

79.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,3%

80.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,2%.

1.2

Rumusan masalah

Setelah didapatkan identifikasi masalah dari program Imunisasi dasar di Puskesmas


Kecamatan Cilincing maka dengan cara menghitung dan membandingkan nilai kesenjangan
antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang telah terjadi (observed) akan dipilih
dua masalah yang menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Selanjutnya dilakukan
perumusan masalah untuk membuat perencanaan yang baik sehingga masalah yang ada dapat
diselesaikan. Rumusan masalah meliputi 4 W 1 H (What, Where, When, Whose, How much)
Rumusan masalah dari program imunisasi dasar Puskesmas adalah sebagai berikut:
1.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 170%, lebih tinggi dari target
91%

2.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih tinggi dari target
91%

58

3.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih tinggi dari target
91%

4.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 53,2%, lebih rendah dari
target 91%

5.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%, lebih tinggi dari
target 91%

6.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%, lebih tinggi dari
target 91%

7.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,3%, lebih tinggi dari target
91%

8.

Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih tinggi dari target
91%

9.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%, lebih
tinggi dari target 91%

10.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 96,7%, lebih tinggi
dari target 91%

11.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%, lebih tinggi
dari target 91%

59

12.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 97,6%, lebih
tinggi dari target 91%

13.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 96,4%, lebih
tinggi dari target 91%

14.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 98,4%, lebih
tinggi dari target 91%

15.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 96,2%, lebih tinggi
dari target 91%

16.

Cakupan imunisasi DPT-HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,4%, lebih
tinggi dari target 91%

17.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih
tinggi dari target 91%

18.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih tinggi
dari target 91%

19.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6%, lebih tinggi
dari target 91%

20.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih
tinggi dari target 91%

60

21.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih
tinggi dari target 91%

22.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih
tinggi dari target 91%

23.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih tinggi
dari target 91%

24.

Cakupan imunisasi DPT-HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6%, lebih
tinggi dari target 91%

25.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%, lebih
tinggi dari target 91%

26.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6%, lebih tinggi
dari target 91%

27.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%, lebih tinggi
dari target 91%

28.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan CIlincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%, lebih
tinggi dari target 91%

29.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih
tinggi dari target 91%

61

30.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%, lebih
tinggi dari target 91%

31.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,2%, lebih tinggi
dari target 91%

32.

Cakupan imunisasi DPT-HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih
tinggi dari target 91%

33.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 100%, lebih tinggi
dari target 91%

34.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 100%, lebih tinggi
dari target 91%

35.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 100%, lebih tinggi
dari target 91%

36.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 99,8%, lebih
tinggi dari target 91%

37.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 120%, lebih
tinggi dari target 91%

38.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 100,3%, lebih
tinggi dari target 91%

62

39.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 100,2%, lebih
tinggi dari target 91%

40.

Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 102,4%, lebih
tinggi dari target 91%

41.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,0%, lebih
tinggi dari target 91%

42.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih tinggi
dari target 91%

43.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 98,9%, lebih tinggi
dari target 91%

44.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 98,0%, lebih
tinggi dari target 91%

45.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 94,3%, lebih
tinggi dari target 91%

46.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih
tinggi dari target 91%

47.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 98,5%, lebih tinggi
dari target 91%

63

48.

Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,5%, lebih
tinggi dari target 91%

49.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih
tinggi dari target 91%

50.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%, lebih tinggi
dari target 91%

51.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih tinggi
dari target 91%

52.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%, lebih
tinggi dari target 91%

53.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 96,1%, lebih
tinggi dari target 91%

54.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,5%, lebih
tinggi dari target 91%

55.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 97,1%, lebih tinggi
dari target 91%

56.

Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%, lebih
tinggi dari target 91%

64

57.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,2%, lebih
tinggi dari target 91%

58.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,6%, lebih tinggi
dari target 91%

59.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%, lebih tinggi
dari target 91%

60.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%, lebih
tinggi dari target 91%

61.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 97,9%, lebih
tinggi dari target 91%

62.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,1%, lebih
tinggi dari target 91%

63.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,2%, lebih tinggi
dari target 91%

64.

Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,4%, lebih
tinggi dari target 91%

65.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,9%, lebih tinggi dari
target 91%

65

66.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 96,1%, lebih tinggi dari target
91%

67.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 96,0%, lebih tinggi dari target
91%

68.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,0%, lebih tinggi dari target
91%

69.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Ssemper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 96,9%, lebih tinggi dari
target 91%

70.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 93,7%, lebih tinggi dari
target 91%

71.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan


Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 96,2%, lebih tinggi dari target
91%

72.

Cakupan imunisasi BCG pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%, lebih tinggi dari target
91%

73.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Sukapura periode Januari Desember 2015 sebesar 95,2%, lebih
tinggi dari target 91%

74.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Rorotan periode Januari Desember 2015 sebesar 95,5%, lebih tinggi
dari target 91%

66

75.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Marunda periode Januari Desember 2015 sebesar 99,8%, lebih tinggi
dari target 91%

76.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 99,6%, lebih
tinggi dari target 91%

77.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Timur periode Januari Desember 2015 sebesar 95,7%, lebih
tinggi dari target 91%

78.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Semper Barat periode Januari Desember 2015 sebesar 95,8%, lebih
tinggi dari target 91%

79.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kelurahan Kalibaru periode Januari Desember 2015 sebesar 95,3%, lebih tinggi
dari target 91%

80.

Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas


Kecamatan Cilincing periode Januari Desember 2015 sebesar 96,2%, lebih
tinggi dari target 91%

67