Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

Kolesistitis
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Dalam
RS Panembahan Senopati Bantul

disusun oleh :
AT. TITIS AYU WULANDARI
20100310003
Diajukan Kepada :
dr. Warih Sp.PD
ILMU PENYAKIT DALAM
RS PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
FKIK UMY
2015

HALAMAN PENGESAHAN

KOLESISTITIS
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Penyakit Dalam
RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun Oleh:
AT.TITIS AYU WULANDARI
20100310003

Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal


Oleh :
Dosen Pembimbing

dr. Warih, Sp.PD

Mei 2015

I. IDENTITAS
Nama

: Pariyem

Umur

: 46 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Salakan Rt 05 Bangun Harjo Sewon Bantul

Tanggal masuk RS : 22 April 2015


II. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
:
Nyeri perut kanan atas dan nyeri ulu hati hilang timbul
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak 4 bulan yang lalu. Nyeri
dirasakan pertama kali di sekekitar ulu hati. Sifat nyeri seperti di remas. Frekuensi nyeri
hilang timbul dan menjalar ke punggung kanan. Nyeri bertambah ketika menghirup nafas
dan perubahan gerak. Pasien merasa badan demam namun tidak tinggi. Keluhan disertai
dengan mual ketika makan tetapi tidak muntah. Nafsu makan menurun. BAB BAK tidak
ada keluhan.
c. Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien pernah .
Riwayat DM
Riwayat penyakit jantung
Riwayat trauma
Riwayat penyakit Ginjal

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal.
: Disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada keluarga yang mengeluhkan keluhan seperti pasien.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran

: sedang
: Composmentis

Tanda Vital

Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu

: 120/80 mmHg
: 80 kali/menit
: 24 kali/menit
: 36o celcius

Pemeriksaan Kepala

Mata
Hidung
Mulut dan faring

: CA (-/-), SI (-/-), pupil isokor, edema palpebra (-/-), ptosis (-/-)


: nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-/-)
: bibir kering (-), lidah kotor (-), tremor (-)

Pemeriksaan leher
Kelenjar tiroid
Kelenjar lnn
JVP

: tidak membesar
: tidak membesar, nyeri (-)
: tidak meningkat

Pemeriksaan Dada

Thorax

Inspeksi : simetris

Palpasi

: pengembangan simetris (+)

Perkusi

: sonor di kedua lapang bagian paru

Auskultasi

: vesikuler (+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)

Cor (DBN)

Palpasi

: kuat angkat (-)

Auskultasi

: suara jantung reguler, suara tambahan S3 (-), S4 (-), Gallop (-),


Bising (-)

Pemeriksaan abdomen
Inspeks

: dinding perut sama tinggi dengan dinding dada,

Auskultasi

: peristaltik usus (+) normal

Palpasi

: distensi (-)
Nyeri tekan epigastrium dan
regio kanan atas, Murphy sign
(+)
mmm

Perkusi

: tympani

Pemeriksaan ekstremitas
Superior

: pucat (-/-), hiperpigmentasi (-/-), palmar eritem (-/-), edem (-/-), hangat
(+/+), CR < 2 detik, RL test (+)

Inferior

: edem (-/-), akral hangat (+/+), kelemahan ekstremitas inferior dextra

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Lab

Hasil

HEMATOLOGI
Hemoglobin
Lekosit
Eritrosit
Trombosit
Hematokrit

11,2
7,40
4,44
241
34,4

Hitung Jenis Lekosit


Eosinofil
Basofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit

0
0
2
70
20
8

FUNGSI HATI
SGOT
SGPT

117
31

FUNGSI GINJAL
Ureum
Creatinin
Asam urat

8
0.72
4,82

DIABETES
Glukosa Darah Sewaktu

117

Sero Imunologi
AFP
CEA

1,38
2,34

Urinalisa
Warna
Kekeruhan
Reduksi
Bilirubin
Keton urin
BJ
Darah samar
PH
Protein
Uronilinogen
Nitrit
Lekosit esstrase
Eritrosit
Lekosit
Sel epitel
Ca ksalat
Asam urat
Amorf
Eritrosit
Leukosit
Granular
Bakteri

Kuning
Agak keruh
1.015
+3
5.50
0.20
20-30
1-2
+
-

Hasil USG Upper dengan 4 Dimensi:


- Hepar : Echostruktur dan densitas normal, permukaan licin.
V. KESIMPULAN
- Vesica fellea dinding meneba,l tal tampak batu.
A.- Gaster
Anamnesis
: Echostruktur normsl, dinding tak menebal
Ren dex dan sin : Calices, tak melebar, tamoamouk baku
A. - Anamnesis

B. Pasien
nyeri perut kanan atas dan nyeri hingga pinggang kanan
Kesimpulan
: Cholesistitis

VI. Hasil Ro. Thorax


Elevasi diafragma dextra
cardiomegali
pulmo dalam batas normal
VII. DIAGNOSIS
- Kolesistitis akut
Dyspepsia
VIII. TERAPI
infus nacl 10tpm
inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
inj. Metronidazole 500mg/8jam
inj. Ranitidin 1 ampul/12 jam
inj. Metochlorpamid 1 ampul/8 jam

Perjalanan Penyakit
Tanggal

Terapi

22/04/15

S: Pasien datang dengan nyeri perut 4 bulan yll hilang


timbul, mual+ jika makan
O: Ku : cm, sedang
TD : 120/80 mmHg
T : 36 C
R : 24 x/menit
N : 80 x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Thorax
Inspeksi

: simetris

Palpasi

: pengembangan simetris (+)

Perkusi

: sonor di kedua lapang bagian paru

Auskultasi

: vesikuler, normal

Abdomen
Inspeksi

: datar

Auskultasi : peristaltik usus (+)


Perkusi

: timpani, pekak beralih (-), undulasi (-)

Palpasi

: nyeri tekan (+) di regio kanan atas dan ulu hati,


Murphy sign (+)

Ekstremitas : akral hangat, nadi kuat, edema (-/-)

A: Kolesistitis akut
P: infus nacl 10tpm
inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
inj. Metronidazole 500mg/8jam
inj. Ranitidin 1 ampul/12 jam

inj. Metochlorpamid 1 ampul/8 jam


23/04/15

S: Perut nyeri dibagian ulu hati, seprti di remas-remas hilang


timbul, BAB +, BAK +, nafsu makan menurun
O: Ku : cm, sedang
TD : 120/70 mmHg
T : 37 C
R : 22 x/menit
N : 96 x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Thorax
Inspeksi

: simetris

Palpasi

: pengembangan simetris (+)

Perkusi

: sonor di kedua lapang bagian paru

Auskultasi

: vesikuler, normal

Abdomen
Inspeksi

: datar

Auskultasi : peristaltik usus (+)


Perkusi

: timpani, pekak beralih (-), undulasi (-)

Palpasi

: nyeri tekan (+) di regio kanan atas dan ulu hati


Murphy sign (+)

Ekstremitas : akral hangat, nadi kuat, edema (-/-)


A: Kolesistitis akut
Dyspepsia
P: infus nacl 10tpm
inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
inj. Metronidazole 500mg/8jam
inj. Ranitidin 1 ampul/12 jam
inj. Metochlorpamid 1 ampul/8 jam
24/05/2015 S: Nyeri Perut sudah agak berkurang, nafsu makan membai,

mual - ,BAB +, BAK +


O: Ku : cm, sedang
TD : 100/70 mmHg
T : 36,2 C
R : 20 x/menit
N : 80 x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Thorax
Inspeksi

: simetris

Palpasi

: pengembangan simetris (+)

Perkusi

: sonor di kedua lapang bagian paru

Auskultasi

: vesikuler, normal

Abdomen
Inspeksi

: datar

Auskultasi : peristaltik usus (+)


Perkusi

: timpani, pekak beralih (-), undulasi (-)

Palpasi

: nyeri tekan (+) murphy sign (+)

Ekstremitas : akral hangat, nadi kuat, edema (-/-)


A: Kolesistitis akut
Dyspepsia
P: infus nacl 10tpm
inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
inj. Metronidazole 500mg/8jam
inj. Ranitidin 1 ampul/12 jam
inj. Metochlorpamid 1 ampul/8 jam

25/05/2015

S: Nyeri perut -, mual -, muntah - , nyeri pinggang +, BAK +,


BAB +, nafsu makan membaik

O: Ku : cm, sedang
TD : 110/70 mmHg
T : 36,2 C
27/05/2015

R : 24 x/menit
S: Perut
masih terasa kram, jika jalan terasa berat , nafsu
makan sudah baik
N : 98 x/menit
O: Ku : cm, sedang
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
TD : 110/70 mmHg
Thorax
T : 36,2 C
Inspeksi
: simetris
R : 24 x/menit
Palpasi
: pengembangan simetris (+)
N : 98 x/menit
Perkusi
: sonor di kedua lapang bagian paru
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Auskultasi : vesikuler, normal
Thorax
Abdomen
Inspeksi
: simetris
Inspeksi
: datar
Palpasi
: pengembangan simetris (+)
Auskultasi : peristaltik usus (+)
Perkusi
: sonor di kedua lapang bagian paru
Perkusi
: timpani, pekak beralih (-), undulasi (-)
Auskultasi : vesikuler, normal
Palpasi
: nyeri tekan (+) murphy sign (+)
Abdomen
Ekstremitas : akral hangat, nadi kuat, edema (-/-)
Inspeksi
: datar
A: Kolesistitis akut
Auskultasi : peristaltik usus (+)
Dyspepsia
Perkusi
: timpani, pekak beralih (-), undulasi (-)
P: infus nacl 10tpm stop
Palpasi
: nyeri tekan (+) murphy sign (+)
inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
Ekstremitas : akral hangat, nadi kuat, edema (-/-)
inj. Metronidazole 500mg/8jam
A: Kolesistitis akut
inj. Ranitidin 1 ampul/12 jam
Dyspepsia
P: inj. Metochlorpamid 1 ampul/8 jam
inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
inj. Metronidazole 500mg/8jam
inj. Ranitidin 1 ampul/12 jam
inj. Metochlorpamid 1 ampul/8 jam
BLPL

KOLESISTITIS
A. Definisi
Kolesistitis adalah radang dinding kandung empedu yang disertai keluhan nyeri perut
kanan atas, nyeri tekan dan demam. Berdasarkan etiologinya, kolesistitis dapat dibagi
menjadi:
1.

2.

Kolesistitis kalkulus, yaitu kolesistitis yang disebabkan batu kandung empedu yang
berada di duktus sistikus.
Kolesistitis akalkulus, yaitu kolesistits tanpa adanya batu empedu.3
Berdasarkan onsetnya, kolesistitis dibagi menjadi kolesistitis akut dan kolesistitis

kronik. Pembagian ini juga berhubungan dengan gejala yang timbul pada kolesistitis akut
dan kronik. Pada kolesistitis akut, terjadi inflamasi akut pada kandung empedu dengan
gejala yang lebih nyata seperti nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan demam.
Sedangkan, kolesistitis kronik merupakan inflamasi pada kandung empedu yang timbul

secara perlahan-lahan dan sangat erat hubugannya dengan litiasis dan gejala yang
ditimbulkan sangat minimal dan tidak menonjol.1,3

B. Faktor Risiko/Etiologi dan Patogenesis


Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah stasis
cairan empedu, infeksi kuman dan iskemia dinding kandung empedu. Penyebab utama
kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) sedangkan sebagian kecil kasus
(10%) timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus) (Huffman JL, et al,
2009).
Batu biasanya menyumbat duktus sistikus yang menyebabkan stasis cairan
empedu dan terjadi distensi kandung empedu. Distensi kandung empedu menyebabkan
aliran darah dan limfe menjadi terganggu sehingga terjadi iskemia dan nekrosis dinding
kandung empedu. Meskipun begitu, mekanisme pasti bagaimana stasis di duktus sistikus
dapat menyebabkan kolesistitis akut, sampai saat ini masih belum jelas. Diperkirakan
banyak faktor yang dapat mencetuskan respon peradangan pada kolesistitis, seperti
kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin dan prostaglandin yang merusak lapisan
mukosa dinding kandung empedu yang diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi.
Peradangan yang disebabkan oleh bakteri mungkin berperan pada 50 sampai 85
persen pasien kolesistitis akut. Organisme yang paling sering dibiak dari kandung
empedu para pasien ini adalah E. Coli, spesies Klebsiella, Streptococcus grup D, spesies
Staphylococcus dan spesies Clostridium. Endotoxin yang dihasilkan oleh organisme
organisme tersebut dapat

menyebabkan hilangnya lapisan mukosa, perdarahan,

perlekatan fibrin, yang akhirnya menyebabkan iskemia dan selanjutnya nekrosis dinding
kandung empedu.

C. Tanda dan Gejala Klinis


Keluhan yang agak khas untuk serangan kolesistitis akut adalah kolik perut di
sebelah kanan atas epigastrium dan nyeri tekan, takikardia serta kenaikan suhu tubuh.
Keluhan tersebut

dapat memburuk secara progresif. Kadang kadang rasa sakit

menjalar ke pundak atau skapula kanan dan dapat berlangsung sampai 60 menit tanpa
reda. Berat ringannya keluhan sangat bervariasi tergantung dari adanya kelainan
inflamasi yang ringan sampai dengan gangren atau perforasi kandung empedu. Sekitar
60 70% pasien melaporkan adanya riwayat serangan yang sembuh spontan.
Tanda peradangan peritoneum seperti peningkatan nyeri dengan penggetaran atau
pada pernapasan dalam dapat ditemukan. Pasien mengalami anoreksia dan sering mual.
Muntah relatif sering terjadi dan dapat menimbulkan gejala dan tanda deplesi volume
vaskuler dan ekstraseluler. Pada pemeriksaan fisis, kuadran kanan atas abdomen hampir
selalu nyeri bila dipalpasi. Pada seperempat sampai separuh pasien dapat diraba kandung
empedu yang tegang dan membesar. Inspirasi dalam atau batuk sewaktu palpasi
subkosta kudaran kanan atas biasanya menambah nyeri dan menyebabkan inspirasi
terhenti (tanda Murphy) (Sudoyo W. Aru, et al, 2009).
Ketokan ringan pada daerah subkosta kanan dapat menyebabkan peningkatan
nyeri secara mencolok. Nyeri lepas lokal di kuadran kanan atas sering ditemukan, juga
distensi abdomen dan penurunan bising usus akibat ileus paralitik, tetapi tanda
rangsangan peritoneum generalisata dan rigiditas abdomen biasanya tidak ditemukan,
asalkan tidak ada perforasi. Ikterus dijumpai pada 20% kasus, umumnya derajat ringan

(bilirubin < 4,0 mg/dl). Apabila konsentrasi bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya
batu di saluran empedu ekstra hepatic
D. Diagnosis
Diagnosis kolesistitis akut biasanya dibuat beradasarkan riwayat yang khas dan
pemeriksaan fisis terdiri dari nyeri akut kuadran kanan atas dan adanya demam .
Bilirubin serum sedikit meningkat [kurang dari 85,5 mol/L (5mg/dl)] pada 45 %
pasien, sementara 25 % pasien mengalami peningkatan aminotransferase serum.
Pemeriksaan alkali phospatase biasanya meningkat pada 25 % pasien dengan kolesistitis.
Pemeriksaan enzim amilase dan lipase diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan
pankreatitis, namun amilase dapat meningkat pada kolesistitis. Urinalisis diperlukan
untuk menyingkirkan kemungkinan pielonefritis. Apabila keluhan bertambah berat
disertai suhu tinggi dan menggigil serta leukositosis berat, kemungkinan terjadi
empiema dan perforasi kandung empedu dipertimbangkan.
Pemindaian saluran empedu dengan radionuklida (mis. HDA) dapat memberikan
konfirmasi bila pada pemeriksaan pencitraan hanya tampak duktus kandung empedu
tanpa visualisasi kandung empedu. Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan
gambaran kolesistitis akut. Hanya pada 15 % pasien kemungkinan dapat terlihat batu
tidak tembus pandang (radiopak) oleh karena mengandung kalsium cukup.
Kolesistografi oral tidak dapat memperlihatkan gambaran kandung empedu bila ada
obstruksi sehingga pemeriksaan ini tidak bermanfaat untuk kolesistitis akut. Gambaran
adanya kalsifikasi diffus dari kandung empedu (empedu porselain) menunjukkan adanya
keganasan pada kandung empedu.
Pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebaiknya dikerjakan secara rutin dan
sangat bermanfaat untuk memprlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding kandung
empedu, batu dan saluran empedu ekstra hepatik. Nilai kepekaan dan ketepatan USG
mencapai 90 95%. Adapun gambaran di USG yang pada kolesistitis akut diantaranya
adalah cairan perikolestik, penebalan dinding kandung empedu lebih dari 4 mm dan
tanda sonographic Murphy. Adanya batu empedu membantu penegakkan diagnosis
Berdasarkan Tokyo Guidelines (2007), kriteria diagnosis untuk kolesistitis
adalah:6
Gejala dan tanda lokal
Tanda Murphy
Nyeri atau nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen

Massa di kuadran kanan atas abdomen

Gejala dan tanda sistemik


Demam
Leukositosis
Peningkatan kadar CRP
Pemeriksaan pencitraan
Temuan yang sesuai pada pemeriksaan USG atau skintigrafi

Diagnosis kolesistitis jika 1 tanda lokal, disertai 1 tanda sistemik dan hasil USG atau
skintigrafi yang mendukung.6
E. Tatalaksana
1. Terapi konservatif
Walaupun intervensi bedah tetap merupakan terapi utama untuk kolestasis akut
dan komplikasinya, mungkin diperlukan periode stabilisasi di rumah sakit sebelum
kolesistektomi. Pengobatan umum termasuk istirahat total, perbaiki status hidrasi pasien,
pemberian nutrisi parenteral, diet ringan, koreksi elektrolit, obat penghilang rasa nyeri
seperti petidin dan antispasmodik. Pemberian antibiotik pada fase awal sangat penting
untuk mencegah komplikasi seperti peritonitis, kolangitis dan septisemia. Golongan
ampisilin, sefalosporin dan metronidazol cukup memadai untuk mematikan kuman
kuman yang umum terdapat pada kolesistitis akut seperti E. Coli, Strep. faecalis dan
Klebsiela, namun pada pasien diabetes dan pada pasien yang memperlihatkan tanda
sepsis gram negatif, lebih dianjurkan pemberian antibiotik kombinasi.
Berdasarkan rekomendasi Sanford, dapat diberikan ampisilin/sulbactam dengan
dosis 3 gram / 6 jam, IV, cefalosporin generasi ketiga atau metronidazole dengan dosis
awal 1 gram, lalu diberikan 500 mg / 6 jam, IV. Pada kasus kasus yang sudah lanjut
dapat diberikan imipenem 500 mg / 6 jam, IV. Bila terdapat mual dan muntah dapat
diberikan anti emetik atau dipasang nasogastrik tube. Pemberian CCK secara intravena
dapat membantu merangsang pengosongan kandung empedu dan mencegah statis aliran
empedu lebih lanjut. Pasien pasien dengan kolesistitis akut tanpa komplikasi yang
hendak dipulangkan harus dipastikan tidak demam dengan tanda tanda vital yang
stabil, tidak terdapat tanda tanda obstruksi pada hasil laboratorium dan USG, penyakit

penyakit lain yang menyertai (seperti diabetes mellitus) telah terkontrol. Pada saat
pulang, pasien diberikan antibiotik yang sesuai seperti Levofloxasin 1 x 500 mg PO dan
Metronidazol 2 x 500 mg PO, anti-emetik dan analgesik yang sesuai .

2.

Terapi bedah
Saat kapan dilaksanakan tindakan kolesistektomi masih diperdebatkan, apakah
sebaiknya dilakukan secepatnya (3 hari) atau ditunggu 6 8 minggu setelah terapi
konservatif dan keadaaan umum pasien lebih baik. Sebanyak 50 % kasus akan membaik
tanpa tindakan bedah. Ahli bedah yang pro operasi dini menyatakan, timbul gangren dan
komplikasi kegagalan terapi konservatif dapat dihindarkan dan lama perawatan di rumah
sakit menjadi lebih singkat dan biaya daat ditekan. Sementara yang tidak setuju
menyatakan, operasi dini akan menyebabkan penyebaran infeksi ke rongga peritoneum
dan teknik operasi lebih sulit karena proses infalamasi akut di sekitar duktus akan
mengaburkan anatomi (Wilson E, et al, 2010).
Namun, kolesistostomi atau kolesistektomi darurat mungkin perlu dilakukan
pada pasien yang dicurigai atau terbukti mengalami komplikasi kolesistitis akut,
misalnya empiema, kolesistitis emfisematosa atau perforasi. Pada kasus kolesistitis akut
nonkomplikata, hampir 30 % pasien tidak berespons terhadap terapi medis dan
perkembangan penyakit atau ancaman komplikasi menyebabkan operasi perlu lebih dini
dilakukan (dalam 24 sampai 72 jam). Komplikasi teknis pembedahan tidak meningkat
pada pasien yang menjalani kolesistektomi dini dibanding kolesistektomi yang tertunda.
Penundaan intervensi bedah mungkin sebaiknya dicadangkan untuk (1) pasien yang
kondisi medis keseluruhannya memiliki resiko besar bila dilakukan operasi segera dan
(2) pasien yang diagnosis kolesistitis akutnya masih meragukan
Kolesistektomi dini/segera merupakan terapi pilihan bagi sebagian besar pasien
kolesistitis akut. Di sebagian besar sentra kesehatan, angka mortalitas untuk
kolesistektomi darurat mendekati 3 %, sementara resiko mortalitas untuk kolesistektomi
elektif atau dini mendekati 0,5 % pada pasien berusia kurang dari 60 tahun. Tentu saja,
resiko operasi meningkat seiring dengan adanya penyakit pada organ lain akibat usia dan
dengan adanya komplikasi jangka pendek atau jangka panjang penyakit kandung
empedu. Pada pasien kolesistitis yang sakit berat atau keadaan umumnya lemah dapat

dilakukan kolesistektomi dan drainase selang terhadap kandung empedu. Kolesistektomi


elektif kemudian dapat dilakukan pada lain waktu.

F. Komplikasi
Komplikasi yag dapat terjadi pada pasien kolesistitis:

Empiema, terjadi akibat proliferasi bakteri pada kandung empedu yang tersumbat.
Pasien dengan empiema mungkin menunjukkan reaksi toksin dan ditandai dengan
lebih tingginya demam dan leukositosis. Adanya empiema kadang harus mengubah

metode pembedahan dari secara laparoskopik menjadi kolesistektomi terbuka.


Ileus batu kandung empedu, jarang terjadi, namun dapat terjadi pada batu berukuran
besar yang keluar dari kandung empedu dan menyumbat di ileum terminal atau di

duodenum dan atau di pilorus.


Kolesistitis emfisematous, terjadi pada 1% kasus dan ditandai dengan adanya udara
di dinding kandung empedu akibat invasi organisme penghasil gas seperti
Escherichia coli, Clostridia perfringens, dan Klebsiella sp. Komplikasi ini lebih
sering terjadi pada pasien dengan diabetes, lebih sering pada laki-laki, dan pada
kolesistitis akalkulus (28%). Karena tingginya insidensi terbentuknya gangren dan
perforasi, diperlukan kolesitektomi darurat. Perforasi dapat terjadi pada lebih dari

15% pasien.
Komplikasi lain diantaranya sepsis dan pankreatitis. 5

G. Prognosis
Penyembuhan spontan didapatkan pada 85% kasus, sekalipun kandung empedu menjadi
tebal, fibrotik, penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi. Tidak jarang menjadi kolesistitis
rekuren. Kadang-kadang kolesistitis akut berkembang menjadi gangren, empiema dan perforasi
kandung empedu, fistel, abses hati atau peritonitis umum secara cepat. Hal ini dapat dicegah
dengan pemberian antibiotik yang adekuat pada awal serangan. Tindakan bedah akut pada pasien
usia tua (>75 tahun) mempunyai prognosis yang jelek di samping kemungkinan banyak timbul
komplikasi pasca bedah.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Pridady. 2007. Kolesistitis. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Jakarta :
Interna Publishing.
2. Hadi, Sujono. 2002. Kolesistitis Akut . Gastroenterologi. Bandung. PT. Alumni Bandung.
3. Pridady. Kolesistitis. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S.
Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. Edisi keempat. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. Hal 477-478.
4. Steel PAD, Sharma R, Brenner BE, Meim SM. Cholecystitis and Biliary Colic in
Emergency

Medicine.

[Diakses

pada:

Juni

2011].

Diunduh

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/1950020-overview.
5. Bloom AA, Amin Z, Anand BS. Cholecystitis. [Diakses pada: 1 Juni 2011]. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/171886-overview.
6. Strasberg SM. Acute Calculous Cholecystitis. N Engl J Med 358 (26); 2008.