Anda di halaman 1dari 135

Perilaku Hewan

2(2-0)

Pokok bahasan
A. Mengapa kita mempelajari perilaku hewan?
B. Unsur Unsur dalam Mempelajari Perilaku Hewan
1. Perilaku Genetik Dan Evolusi
2. Mekanisme Perilaku
3. Mendapatkan Makanan dan Perlindungan
4. Organisasi Sosial dan Sistem Kawin
C. Penyebab kira-kira VS Penyebab Pokok
D. Studi Perbandingan

Hewan memiliki hubungan yang sangat penting dengan:


- anggota spesiesnya sendiri,
- anggota spesies lain, dan
- lingkungan fisiknya.
Kelangsungan hidup hewan tergantung pada:
Kemampuan dalam mendapatkan makanan dan
perlindungan,
Kemampuan menemukan pasangan dan
menghasilkan keturunan,
Kemampuan melindungi diri dari predator,
khususnya pada tahap awal kehidupannya.

Manusia cenderung mencari pengetahuan melebihi


batas yang ia butuhkan,
Ketertarikan manusia terhadap perilaku hewan terjadi
karena ia memiliki struktur otak yang lebih kompleks,
Manusia bersaing dengan hewan lain dalam
mendapatkan makanan,
Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki
keingintahuan yang besar terhadap perilaku mereka
sendiri,
Kita dapat mempelajari hubungan antara hewan dan
lingkungannya, serta tentang proses internal yang
mengendalikan perilaku tersebut.

Apa yang dilakukan para peneliti?


Menetapkan prinsip-prinsip umum yang biasa terdapat
pada semua perilaku,
Melakukan studi perbandingan terhadap spesies yang
berbeda dan merumuskan suatu model untuk fenomena
yang diamati,
Memahami mekanisme otak manusia dan tperilaku
biologis serta evolusi,
Mengamati perilaku hewan domestik, seperti ternak,
hewan peliharaan, dan hewan di kebun binatang.

Manfaat penelitian tersebut bagi manusia

Melindungi

dan memelihara spesies yang


terancam punah,

Mengendalikan

hewan peliharaan yang


memiliki nilai ekonomis tinggi.

Kemunculan

katak besar Amerika atau Bullfrog


(Rana catesbeiana) dari tempat peristirahatannya
di musim dingin pada dasar kolam dan danau
merupakan pertanda datangnya musim semi di
berbagai wilayah di Amerika

Munculnya katak ini merupakan bagian dari


peristiwa siklus tahunan yang mempunyai
aspek fisiologis, genetis, ekologis, dan
evolusioner (Howard, 1978).

Bullfrog menghuni sebagian besar wilayah


Amerika Utara
Nyanyian mereka (their calling) merupakan irama
yang biasa terdengar setiap malam sepanjang
bulan April Juli

Mereka

terdadaptasi untuk tinggal di kolam dan


danau, serta tetap aktif bahkan pada malam
yang lebih dingin sepanjang musim semi

Perilaku kawin katak besar Amerika atau Bullfrog


(Rana catesbeiana)

1. Katak jantan
menentukan
daerah
panggilannya
pada akhir musim
semi hingga awal
musim panas

2. Katak betina
memilih pejantan,
pejantan
merenggut betina
dan membuahi
telur yang
dilepaskan betina
secara eksternal

3. Egg mass
menempel pada
tumbuhan atau
objek lain pada
daerah teritorial
induk jantan.
Selama musim
panas, telur
menetas dan
berudu mulai
berkembang

4. Akhir musim panas,


kolam berisi berudu
(beberapa diantaranya
bermetamorfosis), katak
betina & jantan dewasa
(beberapa diantaranya
berpindah ke kolam lain)
5. Saat musim dingin, katak
& berudu kembali ke dasar
kolam untuk beristirahat
hingga musim dingin
berakhir

Bullfrog

berpindah dari satu kolam/danau ke


kolam/danau lainnya pada musim semi saat
mereka sedang memanggil (memperdengarkan
suara) dan mencari pasangannya.

Untuk memperoleh energi yang digunakan


untuk aktivitas harian mereka dan
bereproduksi, bullfrog memakan sejumlah besar
serangga dan invertebrata lainnya. Beberapa
katak menyebar ke kolam lain sebelum masa
perkembangbiakan.
perkembangbiakan

Umumnya,

jantan membentuk chorus (kelompok


bernyanyi) dan menetapkan daerah sendiri.

Bersamaan dengan itu, betina berenang di


antara jantan dan memilih jantan yang memiliki
wilayah panggilan (nyanyian) dengan sumber
daya pendukung yang lebih banyak atau lebih
baik, misalnya lokasi untuk meletakkan telur.
telur

Kemudian

keduanya melakukan amplexus (posisi


kopulasi). Betina mengeluarkan telur dan jantan
mengeluarkan sperma, dan terjadi fertilisas i.
Telur yang ditinggalkan (egg mass), biasanya
menempel pada cabang-cabang dalam air ata
tumbuhan air.
Setelah itu, tidak ada keterlibatan lebih jauh
dengan induknya.

Proximate Behavior vs Ultimate Behavior


(Penyebab Kira-Kira Vs Penyebab Utama)

Menganalisa

pendekatan dan metode yang


digunakan untuk merumuskan dan menguji
pertanyaan tentang perilaku hewan,
Melihat beberapa permasalahan dalam
merancang suatu percobaan untuk menguji
hipotesis percobaan
tentang perilaku,
Menyelidiki berbagai macam faktor internal dan
eksternal yang mengatur dan pengaruhi
perilaku hewan.

Studi
Perbandingan

Studi

perbandingan sering digunakan untuk


menjelajahi ekologi dan evolusi perilaku, dan
untuk mengeksplorasi mekanismenya.

Contoh studi perbandingan antara lain:


1. Dewsbury (1972) menguji pola perilaku
kopulasi pada berbagai jenis mamalia,
2. (Barash: 1973) mengamati ekologi dan
perilaku sosial pada tiga spesies marmot.

Lanjutan
Ahli perilaku hewan menggunakan studi
perbandingan untuk menggambarkan analogi
diantara pola perilaku bermacam-macam tipe
hewan, termasuk manusia.
Kita menggunakan pengetahuan tentang
spesies lain untuk menghasilkan pertanyaan
tentang pola manusia, tetapi untuk menjawab
pertanyaan tentang perilaku manusia hanya
dapat dengan mempelajari manusia secara
langsung.

Ketertarikan pada Perilaku


Hewan
Manusia Awal
Pada beberapa ribu tahun, manusia dan moyangnya adalah pemburu dan
pemakan daging.
Manusia pertama dan Homo erectus pertama mempraktikan secara
sederhana suatu perburuan.
L.S.B Leakey (1903-1972) mengusulkan dan menguji strategi berburu
yang didasarkan pada pengetahuan perilaku hewan. Leakey mengusulkan
bahwa penglihatan mangsa sekitar 15 m jaraknya, pemburu harus
melakukan sprint ke arah hewan (hewan kecil sering membeku pada
situasi seperti itu). Tidak lebih dari 2 atau 3 m dari mangsa, pemburu
harus membelok tajam ke salah satu sisi kiri atau kanan, karena tipe
perilaku pelarian diri dari mangsa adalah dengan membuat pelarian yang
cepat pada satu arah atau ke arah lainnya.

Dunia Klasik
Ketertarikan pada perilaku hewan di dunia klasik dirangsang dari keingintahuan tentang
fenomena alam dan hasrat merekam dan mengkatagorikan observasi.
Aristoteles (384-322 SM.) mengungkapkan bahwa burung tekukur di Hellis, ketika
meletakkan telur, tidak membuat sarang, tetapi mereka meletakkan telur di sarang
merpati atau dara, dan tidak mengerami, tidak menetaskan, dan tidak mem elihara anak
mereka.
Naturalis Romawi Pliny (tahun 23-79) membuat penelitian luas pada alam. Kutipan dari
Natural History menyediakan beberapa wawasan tentang antropomorpis
(menganggap karakteristik manusia atau atribut/sifat ke nonmanusia).

Dasar dari Perilaku Hewan


Teori evolusi oleh seleksi alam
Perkembangan sistematik metode komparatif
Teori genetika dan pewarisan sifat.

> Teori evolusi(seleksi alam)

pemikiran Darwin tentang kompetisi (1809-1882)


meneliti iguana marin di pulau Galapagos. Dalam The
Origin of Species Darwin menyatakan bahwa, spesies
baru tidak akan terbentuk tanpa seleksi alam.
Pada tahun 1798, Thomas Malthus (1766-1834), pada
tulisannya Easy On The Principle of Population :
populasi meningkat secara geometric (ukur : 1,2,4,8,
dst), sedangkan persediaan makanan meningkat secara
aritmatik (hitung : 1,2,3,4, dst).

Sir

Charles Lyell (1797-1875) Beranggapan


spesies itu sendiri bukan merupakan sesuatu yang
sunggguh-sungguh ada.

A.R.

Wallace (1823-1913)
Dengan adanya evolusi, terjadi perubahan
pada diri spesies yang kemudian muncul
sebagai spesies baru, dan hal ini terjadi lebih
cepat selama beberapa periode yang
sebelumnya.

> Perkembangan

sistematik metode
komparatif
George John Romanes (1848-1849) mendapat penghargaan
melalui pemikirannya mengenai pengelompokan pada metode
komperatif dalam mempelajari perilaku hewan. Dia
mengatakan bahwa binatang memiliki emosi dasar seperti
halnya manusia.
C. Lloyd Morgan (1852-1936) sebuah tindakan tidak ada
yang dapat kita perkirakan sebagai pembawaan secara fisik
yang lebih mantap, dan jika hal ini digunakan dalam
memperkirakan salah satu standar minimal dalam skala
psikologi (Morgan 1896,53).

> Teori Genetika dan Pewarisan


Sifat

Tahun 1860-an, Mendell (1822-1884) mengemukakan


penemuannya melalui eksperimen persilangan pada kacang
polong di kebunnya.
Morfologi dan sifat psikologi dalam perilaku hewan
merupakan materi genetik.
Materi genetik memberikan pengaruh terhadap variasi
bentuk ataupun pola perilaku.
RA Fisher menganalisa tehadap perilaku-gen mengawali
penemuan dalam pewarisan dan kemudian dikenalkan pada
tahun 1930.

Pendekatan Eksperimen
Mekanisme

dalam pembelajaran
Belajar Fungsi dan Evolusi
(Etologi)
Ekologi Perilaku
Sosial biologi

Mekanisme dalam
pembelajaran

Persepsi Psikologi ; sistem sensori dan perilaku patuh pada hewan


berasal dari sensasi.
Fisiologi dan Psikologi, Marie Jeans-Pierre Flourren (1794-1867) dan
Hermann Found Helmholtz (1821-1894) mempelajari kecepatan
konduksi dalam mekanisme penghantaran saraf dan fisi dalam
fisiologi. Dia ahli dalam mengatur kecepatan induksi sel saraf melalui
eksperimen pada sistem motorik kodok yang melibatkan kontraksi
otot. Pertama pemberian rangsang pada salah satu titik saraf yang
dekat dengan otot. Lalu yang kedua pada titik yang agak jauh dari
otot. Dari informasi ini, kita dapat menghitung kecepatan konduksi
Pemanfaatan ; John Dwey mempelajari fungsi berfikir dan bagaimana
otak beroperasi, dan ini berkebalikan dengan mempelajari bagaimana
struktur dari otak.

Perilaku atau Behaviourisme ; John B Watson (18781958) adalah orang yang menemukan prinsip pewarisan
untuk mengkaji perilaku hewan. Konsep dasar dalam
perilaku adalah bahwa perilaku hewan terdiri dari
respon, tanggapan/reaksi, ataupun dalam pengaturan
rangsangan.
Psikologi Hewan ; Bersamaan dengan berkembangnya
pandangan yang mendapat pengaruh dari Edward
(1874-1949) yaitu dibutuhkannya sistem dalam
pengulangan percobaan psikologi komparatif pada
hewan. Thorndike menggunakan kotak jebakan sebagai
bentuk model pembelajaran, dan menggunakan kucing
sebagai pelaku dalam percobaan.

Belajar Fungsi dan Evolusi


(Etologi)
Ilmu yang mempelajari tentang fungsi dan evolusi

dalam perilaku kita menyebutnya sebagai etologi.


Salah satu prinsip yang sangat penting adalah sifat
perilaku, seperti sifat anatomi dan psikologi dapat
dijadikan sebagai ilmu bagi para ahli evolusi. Salah
satunya, Whitmann yang membuat sebuah
pengamatan mengenai pola, seperti berbagai macam
insting yang dimiliki oleh berbagai spesies.

Konrad Lorenz ; penemu pertama dalam meneliti


bahwa gen yang mengendalikan perilaku

Niko

Timbergen ; empat area dalam tahap


pemeriksaan, yaitu :akibat, perkembangan,
evolusi, dan fungsi dari perilaku
perkembangan

Sebagai

ahli psikologis, Thomas McGill telah


mencatat, 6 huruf pertama dari alphabet
dapat digunakan untuk mengingat pertanyaan
ini : Animal Behaviour (Perilaku Hewan) ;
Causation (Akibat), Development
(Perkembangan), Evolusion (Evolusi),
Function (Fungsi).

Lanjutan

Etologi modern dicirikan oleh berbagai variasi tipe jarak


investigasi dari pembelajaran observasional yang lebih
tradisional pada lingkungan alami (Geist 1971; Joerman et
al. 1988) ke percobaan/eksperimen psikologis berdasarkan
pada perilaku (Bentley dan Hoy 1974).

Beberapa ahli etologi bekerja mengenai genetika perilaku


(Manning 1971; Gerhardt 1979; Ukegbu dan Huntingford
1988) atau menyelidiki hubungan antara hormon dan
perilaku (Hide 1965; Truman, Fallon, dan Wyatt 1976) atau
susunan saraf dan perilaku (Nottebohm 1981; Rose et.al
1988).

Kummer

(1971) menyelidiki pengaruh dari


transplantasi individu yang terjadi pada
perilaku sosial dari baboon; Wicker (1972)
mempelajari arti pola warna pada ikan, dan
Gowaty dan Wagner (1988) menguji perilaku
agresif dari burung biru dari timur (bluebird).

Ekologi Perilaku

Ekologi perilaku terpusat pada pokok dan


pertanyaan terdekat tentang perilaku. Faktor
pokok menentukan batasan, dan faktor
terdekat mempengaruhi perilaku seekor
hewan terhadap batasan tersebut.
Ekologi perilaku, yang menjadi jalur utama
dalam zoologi, ekologi, dan bidang terkait
lainnya, juga memberikan pengaruh besar
melalui metode komparatif psikologi hewan.

Contoh dari penyelidikan yang digunakan dalam pendekatan


ekologi perilaku, mempertimbangkan pada perilaku
penangkapan mangsa dari kepiting pantai (Carnisus
maenas). Ketika hewan tersebut diberi pilihan mengenai
ukuran mangsa dalam bentuk remis, mereka memilih ukuran
yang memiliki rating tertinggi dalam pengembalian energi
(Elner dan Hughes 1978). Hal itu mengungkapkan bahwa,
meskipun kepiting dapat memakan remis dalam berbagai
variasi ukuran, mereka malah menghindari remis dengan
ukuran terbesar karena membutuhkan banyak waktu dan
energi untuk membuka cangkang/kulit remis tersebut .

Sosialbiologi

Pendekatan paling baru pada perilaku hewan, matang


pada tahun 1975 dengan terbitnya Sosiobiology : The New
Synthesis oleh E.O. Wilson.
Sosialbiologi menerapkan prinsip biologi evolusioner
menjadi pelajaran perilaku sosial pada hewan.
Sosialbiologi adalah sebuah perilaku biologi campuran
(dari perspektif ekologi, dengan sebuah penekanan pada
pertanyaan pokok) dan pelajaran dalam organisasi sosial
(dengan sebuah perspektif ekologi) (Wittenberger 1981 :
Trivers 1985).

PERILAKU HEWAN
Definisi:
merupakan tindakan yang tegas dari suatu
organisme untuk menyesuaikan diri (adap-tasi)
terhadap keadaan lingkungan guna menjamin
hidupnya (Odum, 1994: 307).
berupa bertindak, bereaksi, atau berfungsi dalam
satu cara tertentu sebagai respons terhadap beberapa
stimulus (Campbell, et.al, 2004: 299).

PERILAKU Lanjutan
semua proses yang terdapat pada hewan
yang digunakan untuk mema-hami
lingkungan luar dan kondisi alam dalam
tubuhnya serta respons-nya terhadap
perubahan lingkungan yang dirasakannya
(Prihantoro, dkk., 2002: 2).

Komponen Perilaku
Tropisme
Taksis
Refleks
Insting
Pengetahuan

(Learning)
Penalaran (Rasioning)

Subjek Perilaku

Merupakan interaksi prinsip, pengertian dan fungsi


dari:
a) syaraf
b) fisiologi
c) anatomi
d) endokrinologi
e) evolusi, dan
f) ekologi

Pendekatan Pembelajaran Perilaku

Pendekatan Fisiologis, yang menekankan kepada


mekanisme dan fungsi syaraf. Kelompok Ethologis:
Konkrad Lorenz, Nico Timbergen, Karl von Frisch, William
Thorpe, Robert Hinde, Patrick Bateson.

Pedekatan Psikologis, yang menekankan kepada perilaku


itu sendiri, serta mempelajari faktor-faktor lingkungan
hewan dan bagaimana pengaruhnya terhadap
perkembangan dan munculnya perilaku. Kelompok
Behaviorism: Sigmond Freud, Y.B. Watson, Richard
Dawkins.

Pendekatan Lanjutan
Kelompok

Behaviorisme fokus pada aspek


learning behavior (perilaku eksperimental)

Kelompok

Ethologis fokus pada perilaku


survival, motivasi, insting (perilaku
alamiah).

Fisiologi Perilaku

Kesulitan Mempelajari Perilaku:


1. Metode mempelajari perilaku (eksperimen vs
alamiah)
2. Dari observasi, sulit untuk menafsirkan tujuan
dan maksud dari perilaku
3. Pengaruh Antropomorfisme, menganggap
hewan memiliki kemampuan seperti manusia.
4. Penentuan reseptor yang dimiliki hewan dan
bagaimana kepekaan reseptor tersebut.
5. Pengetahuan Fisiologi perilaku masih rendah
untuk menjelaskan tentang suatu perilaku.

Sifat Dasar Perilaku


Stimulus yang menimbulkan perilaku ber-asal dari
sumber internal dan eksternal tubuh.
Perilaku terjadi karena serangkaian proses yang
berulang secara siklik.
Laju evolusi organ tubuh hewan tidak sama
cepatnya.
Perilaku yang mendasar dari tiap spesies disimpan
di dalam materi genetis

Observasi Perilaku
Operan

Conditioning dari Skinner


(Neobehaviourisme); dengan objek tikus
putih dan merpati.
Percobaan Ivan Pavlov dengan objek anjing
menggunakan conditioned stimulus
(Conditioned Learning Behaviour) berupa
bunyi belajar.
Perilaku kawin yang bersifat instingtif
dengan objek kelinci.
Perilaku kawin pada ngengat.

Interpretasi Hasil (Skinner)

Pada waktu tikus selama 24 jam tidak diberi makan, maka


rangkaian perilaku makan terputus
Rasa lapar merupakan dorongan dari dalam (Si) yang
mengaktifkan kembali rangkaian perilaku yang terputus
Stimulus dari lingkungan (S, Si, dan SR) mengaktifkan
rangkaian perilaku berikutnya.
Rangkaian perilaku ini berulang secara siklik

Interpretasi eksperimen Skinner


1. Pada waktu tikus selama 24 jam tidak
diberi makan, maka rangkaian perilaku makan
terputus.
2. Rasa lapar merupakan dorongan dalam
(Si) yang mengaktifkan kembali rangkaian perilaku yang terputus.
3. Stimulus dari lingkungan (S, S, dan SR)
mengaktifkan rangkaian perilaku berikutnya.
4. Rangkaian perilaku ini berulang secara
siklus.

Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Faktor Internal, berupa:


a) Reseptor (Eksteroseptor, Proprioseptor,
dan Enteroseptor).
b) Efektor (otot atau kelenjar).
c) Koordinasi syaraf dan hormon:
Syaraf, bekerja dengan cepat untuk
kontraksi otot dan sekresi kelenjar.
Hormon, mengatur proses yang lebih luas
(mengontrol cairan tubuh, reproduksi, pertumbuhan, perkembangan, dan metabolisme)

Faktor Lanjutan

Faktor Eksternal, berupa stimulus yang berasal


dari lingkungan, yang diterima oleh indera:
1. Fotoreseptor
2. Statoreseptor
3. Kemoreseptor
4. Fonoreseptor
5. Mekanoreseptor
6. Termoreseptor

Perkembangan Perilaku

Perilaku sederhana yang berupa perilaku bawaan


(innate behavior/inborn beha-vior/inherent
behavior), seperti taksis, refleks, dan insting.

Perilaku kompleks, diperoleh dengan cara


dipelajari, seperti learning dan reasioning.

Perkembangan Lanjutan
Berdasarkan pertumbuhan hewan:
1. Dari masa zigot ke dewasa (tersimpan informasi dalam gen),
perilaku berkembang dilandasi oleh perkembangan syaraf,
hormon, dan perubahan fenologis lainnya.
2. Dari masa pertumbuhan ke dewasa, pada periode tertentu
muncul perilaku khusus, selanjutnya menghilang.
3. Perkembangan perilaku sejalan dengan pertumbuhan syaraf dan
bagian tubuh lainnya yang dipengaruhi oleh gonad.
4. Perkembangan perilaku dipengaruhi interaksi antara
pertumbuhan fisik dengan pengalaman hidup.

Perkembangan Lanjutan
5.Perkembangan perilaku sosial (kooperatif)
dipengaruhi durasi hewan muda tinggal dengan induk
dan hewan dewasa lainnya.
6.Perilaku bermain pada hewan muda menun-jukkan
awal perkembangan untuk bersosiali-sasi, dan
berkelahi pada masa dewasa nanti.
7.Imprinting merupakan awal perkembangan perilaku
hewan tentang hubungan anak dengan induk yang
terjadi beberapa saat setelah kelahirannya.

Evolusi Perilaku
1. Seleksi alam yang menyebabkan timbulnya adaptasi
terhadap lingkungan menjadi pengarah munculnya
perubahan perilaku
2. Isolasi geografis yang berakibat pada isolasi
reproduksi mengakibatkan perubahan pola perilaku
pada hewan
3. Filogeni perilaku berakibat deferensiasi pola perilaku
(perilaku instingtif pada serangga, refleks dan taksis
pada cacing, learning dan reasoning pada primata)

Macam-Macam Perilaku
A. Perilaku Bawaan (innate behaviour, inherent
behaviour, inborn behaviour)
1. Taksis
2. Refleks
3. Insting
B. Perilaku Terajar (Learning)
1. Habituasi
2. Imprinting
3. Conditioning
4. Trial and Error
5. Insight learning (reasoning)

Pembagian Perilaku

Taksis

Gerakan terarah yang kurang lebih secara otomatis


mendekati atau menjauhi beberapa stimulus.
Contoh:
1. larva lalat rumah bersifat fototaksis
negatif setelah makan (secara otomatis
bergerak menjauhi cahaya)
2. ikan trout menunjukkan rheotaksis
positif (arus), bergerak menetang arus.

Klasifikasi Taksis
1. Klinotaksis
Hewan membedakan intensitas stimulus dari kedua
sisi tubuhnya dengan cara bergoyang kiri-kanan, jika
kedua sisi tubuh mendapat intensitas stimulus yang
sama, hewan akan bergerak lurus.
Contoh:
a. gerak planaria menuju sumber makanan
b. gerak larva di permukaan daun pada jarak
tertentu berhenti dan menggerakkan
tubuhnya kiri-kanan
c. gerak pupa lalat terhadap cahaya

Klasifikasi lanjutan
2. Tropotaksis
Pergerakan tubuh hewan dilakukan dengan cara
perbandingan lurus secara simultan terhadap stimulus,
sehingga pergerakan hewan akan membentuk putaran
sampai menerima stimulus yang seimbang.
Contoh:
Orientasi ke laut pada penyu menggunakan cahaya di
horizon laut, jika satu matanya ditutup penyu akan
bergerak melingkar, ke arah mata yang tidak ditutup.

Klasifikasi lanjutan
3. Telotaksis
Hewan akan memperoleh orientasi pergerakan-nya
sekalipun stimulus yang diterima di kedua sisi tubuh
dengan intensitas berbeda. Apabila hewan memperoleh
dua stimulus secara bersa-maan dengan intensitas yang
sama, maka hewan tersebut akan mengorientasi salah
satu sumber stimulus.

Klasifikasi lanjutan

Contoh:
1.kupu-kupu kelanu (Eumnies semek)
terbang kearah matahari untuk menghindari predatornya berupa gerakan berputar yang tergantung pada stimulus
optik bilateral
2. capung terbang menuju mangsanya
3. orientasi kepiting pada salah satu sumber stimulus dengan intensitas yang sama

Klasifikasi lanjutan
4. Menotaksis
Suatu respons yang melibatkan orientasi pada sudut yang
konstan pada arah dari stimulus atau hewan-hewan
tertentu mengorientasikan perge-rakannya pada sudut
tertentu dari sumber sti-mulus.
Contoh: arah pulang dari semut dengan dipan-du oleh
arah matahari (Scheirla, 1933)

Klasifikasi lanjutan

5. Mnemotaksis
Tabuhan pemburu (Philantus triangulum) meng-gunakan
tanda-tanda alam secara simultan sewaktu mereka
pulang ke sarangnya (van Beusokom , 1949)

Refleks

Repons otomatis dari sebagian tubuh terhadap suatu


stimulus. Respons itu ditentukan oleh pola reseptor, saraf,
dan efektor yang diwariskan.
Contoh refleks rentang, dengan mekanisme:
1. mengarahkan reflek otot
2. menghambat kontraksi otot-otot antagonis
3. terus-menerus memonitor keberhasilan yang
dengan perintah dari otak diteruskan dengan
cepat dan otomatis untuk suatu penyesuaian.

Refleks
Pada hewan tingkat rendah, aktivitas makan dan berbiak
terjadi dari rangkaian refleks.
Gerakan looping (melengkung) pada lintah, ter-jadi
sebagai akibat dari suatu refleks.
Secara umum ada dua macam refleks:
1. reflkeks tonik (tonic reflexes)
2. refleks fasik (phasik reflexes), sifatnya cepat
dan berlangsung sebentar.

Insting
Insting adalah perilaku yang rumit, khas spesies,
steriotipe, herediter, dan terjadi secara otomatis oleh
induksi suatu stimulus yang tepat.
Insting mempunyai tiga perilaku:
1. tidak dipelajari
2. khas spesies
3. adaptasi alami

Skema terjadinya perilaku insting


Perilaku insting
Dorongan
Mekanisme saraf
Pelatuk

Suasana hati

Stimulus saraf

Motivasi

Contoh
1. Sarang tawon penggali ditandai dengan buah pinus.

2. Tanda buah pinus dipindah


ke sisi sarang yang tidak ada
sarang tawon
3. Buah pinus disusun segi tiga
pada sarang, dan batu disusun melingkar,
tawon kembali ke
sarang

Contoh
1. Stickleback jantan melakukan gerakan
zig-zag untuk mencum-bu betinanya.
2. Ikan jantan menuntun betinanya
menuju sarang
3. Ikan jantan mendorong betina-nya
untuk masuk ke sarang
4. Ikan jantan mendorong betina-nya ke
luar sarang setelah ber-telur.
5. Ikan jantan membuahi telur yang
dikeluarkan ikan betina.

Perilaku yang dipelajari

Jenisnya:
1. habituasi (kebiasaan)
2. imprinting (=laterpatrian= tanggap tiru)
3. condisioning
4. trial and error
5. reasoning

Habituasi

Perilaku hilangnya responsivitas terhadap stimulus yang


dikirimkan sedikit atau secara berulang-ulang.
Contoh:
1. anjing akan mendengarkan suara tiruan yang ada
disekitarnya, akan tetapi jika suara tersebut diperdengarkan secara berulang, anjing tidak lagi
meresponsnya.
2. hydra akan berkontraksi jika diberikan sentuhan
ringan, tetapi jika diberikan stimulus yang sama
secara berulang hydra tersebut tidak lagi
menanggapi
3. efek crywolf yang tidak ditanggapi oleh mangsa.

Imprinting

Perilaku pembelajaran terbatas pada suatu waktu tertentu


dan biasanya irriversibel.

Contoh: anak angsa yang tidak dierami induk-nya akan


menghabiskan beberapa jam pertama dengan mengikuti
apa saja yang bergerak sebagai induknya. Jika yang
dijumpai pertama kali adalah manusia, maka ia akan
mengikuti orang tersebut kemana ia bergerak, angsa lain
tidak dianggapnya sebagai induk.

Conditioning
Thorpe: conditioning adalah suatu proses akuisisi:
kemampuan untuk merepons suatu stimulus de-ngan suatu
reaksi refleks yang tepat ke stimulus yang lain apabila
kedua stimulus diberikan secara bersamaan.
Contoh: hewan dapat mendorong suatu tombol sebagai
usaha untuk memperoleh makanan, membebaskan diri dari
suatu jebakan, atau kejutan listrik.

Trial and Error

Perilaku yang paling umum, bila suatu usaha itu membawa


hasil baik atau mendatangkan imbalan, maka usaha tersebut
akan diulangi lagi, bila tidak, usaha tersebut akan dihentikan.

Contoh: hewan dihadapkan kepada dua pintu (hitam dan


putih), dibalik pintu putih ada makanan. Ia mungkin pertama
kali akan membuka pintu hitam, tetapi tidak menemukan
makanan (error), kemudian dia membuka pintu putih (trial) lalu
menemukan makanan, setelah beberapa kali mencoba, ia
ingat bahwa makan berada dibalik pintu putih.

Reasoning
Pada manusia dikenal sebagai kemampuan untuk
mengembangkan konsep, sesuai dengan prinsipprinsip dan menyimpannya bersama-sama dengan
komponen-komponen dari pengalaman terdahulu
ke dalam situasi yang baru.
Istilah lain insight learning: kemampuan untuk
memberikan respons yang tepat pertama kali
terhadap keadaan yang berbeda dari yang pernah
dijumpainya.

Reasoning lanjutan
Atau kognisi: sinonim dengan kesadaran
(consciousness atau awareness), atau kemampuan
syaraf hewan untuk merasa (perceive),
menyimpan (store), mengolah (process) dan
menggunakan informasi yang dikumpulkan oleh
reseptor sensoris.
Perilaku ini berkembang pada manusia dan
primata lain, lumba-lumba, burung gagak.

Reasoning lanjutan
Contoh:

Simpanse yang sedang lapar dilepas di dalam


ruang beserta beberapa kotak kosong. Di langitlangit ruang digantung setandan pisang masak.
Sementara waktu Simpanse mengamati pisang
dan kotak. Kemudian ia akan menumpuk kotakkotak tersebut untuk tumpuan agar dapat
menjangkau pisang.

Perilaku Adaptif
1. Perilaku Ingestif
Yaitu perilaku makan yang meliputi perilaku
makan makanan padat, makanan cair, dan
minum.
Anak mamalia menyusu dari induknya, anak
burung memperoleh makanan dari tembolok
induknya (crop milk).
Pola perilaku makan pada hewan disesuaikan
dengan kondisi struktur mulut.

2. Perilaku mencari tempat berlindung (shelter


seeking behaviour)
Muncul sebagai usaha menghindari bahaya atau
untuk memperoleh rasa aman dari perubahan
lingkungan.
Paramaecium membentuk agregasi (perilaku
kontak = contactual behaviour) jika lingkungan
berubah buruk.
3. Perilaku Agnostic (= to struggle)
Yaitu perilaku berkelahi dan melarikan diri
setelah kalah.

Berhubungan dengan perilaku seksual, mempertahankan

teritorialitas, atau menentukan pemimpin kelompok.


Realisasinya berupa berkelahi, menyerang, melarikan
diri, atau mematung dalam perkelahian.

4. Perilaku seksual
Yaitu perilaku mencari pasangan (courtship),
bercumbu, kawin, atau yang sejenisnya.
domba dan kambing tropis mengalami polyestrus, di
subtropis 3 kali kawin/tahun, babi dan sapi, polyestrus di
tropis dan subtropis.

5. Perilaku epimelitik (memelihara/care giving


behaviour/atentif behaviour).
Yaitu perilaku memberi perhatian dan perawatan pada anak.
epimelitik maternal jika yang memberikan
perawatan tersebut adalah hanya induk betina.
epimelitik paternal jika yang memberikan perawatan
tersebut adalah hanya induk jantan.
epimelitik parental jika yang memberikan perawatan
tersebut adalah induk betina dan jantan.

Adakalanya yang merawat anak adalah individu


yang mandul.
nurturant behaviour: perilaku merawat anak yang
bukan anaknya oleh induk yang mandul.
succurant behaviour: perilaku memberi
pertolongan, perawatan, dan pemelihara-an
(bukan anak) yang lemah atau menderita.

6. Perilaku et-epimelitik (care soliciting


behaviour/infantil behaviour)
Yaitu perilaku minta perhatian yang dilakukan
oleh anak hewan, seperti mencicit pada anak
Ayam sembari mencari paruh induknya, dll.
7. Perilaku eliminatif
Yaitu perilaku membuang kotoran atau mem
bersihkan sarang.

Kotoran didorong ke luar sarang oleh induk dengan


menggunakan paruh.
Kucing menimbun kotorannya di dalam pasir.
Anjing membuang kotorannya di luar daerah
rumahnya.
Sapi membuang kotoran sembari berjalan
merumput.
Anjing menjilati rambutnya, ayam menisik bulunya
sebagai upaya membersihkan diri.

8. Perilaku allelomimetik/imitative behaviour


Yaitu perilaku meniru oleh anak-anak hewan
atau hewan muda terhadap apa yang dilakukan oleh induk atau hewan dewasa. Atau
perilaku dimana dua atau lebih individu
hewan melakukan pekerjaan yang sama dan
saling mempengaruhi.

Anak bangau terbang mengikuti induknya dengan


membentuk formasi V

9. Perilaku investigatif
Yaitu perilaku menyelidiki lingkungan dengan
menggunakan alat sensori.
Tikus akan menyelidiki setiap bagian kandang yang
baru ditempatinya dengan cara mencium dan
menyentuhkan kumisnya.
Monyet akan memegang setiap benda asing,
membolak-balik, meraba, mencium, dan
menggigitnya.

Perilaku Kelompok
Macam-macam kelompok
1. Kelompok homogen, bila hewan-hewan tersebut
membentuk kelompok yang terdiri dari hewan yang
serupa, seperti kelompok anak, hewan muda, jantan
dewasa, atau betina dewasa.

Pada saat migrasi tampak posisi dan urutan dari


tiap kelompok. Kelompok jantan dewasa di depan,
diikuti kelompok betina dewasa, kelompok anak,
kelompok hewan muda.

Kelompok lanjutan
2.Kelompok heterogen, adalah kelompok he-wan yang
berbeda dari spesies yang sama.
Pada waktu musim kawin sering ditemukan hewan
jantan dan betina dewasa dalam satu kelompok.
Pada saat memelihara anak terdiri dari kelompok
anak dan dewasa.

Hubungan Sosial
1.Hubungan ketergantungan dengan pemelihara
Hubungan ini antara induk dengan anaknya, atau
antara individu yang memelihara dengan yang
dipelihara.
Anak domba dan kambing punya hubungan yang
kuat dengan induk, karena masa asuh oleh induk
sangat lama.

Hubungan lanjutan
2.Hubungan dominan-subdominan
Akibat perilaku agnostik, salah satu individu menang
dan yang lainnya kalah. Individu yang menang
bersikap dominan terhadap individu yang kalah.
Hirarki ini memposisi-kan individu dominan untuk
memperoleh makanan dan kesempatan kawin.
Ayam jantan tua dan paling besar meski-pun
kepemiminannya tidak jelas adalah individu
dominan.

Hubungan lanjutan
3.Hubungan pemimpin-pengikut
Hal ini bila satu individu atau kelompok menjadi
pemimpin atau panutan bagi individu yang lain.
Pada sekawanan hewan, hewan muda selalu
mengikuti induknya, sehingga hewan dewasa
cenderung jadi pemimpin, terutama jantan dewasa,
dalam hal menentukan arah perja-lanan dan mencari
makan.

Hubungan lanjutan
4.Hubungan berdasarkan sucling order
Anak babi yang baru lahir akan mempere-butkan
mamae paling dorsal dari pada inguinal. Anak babi
paling berat waktu dilahirkan akan memperoleh
mamae itu, dan walaupun beratnya kemudian
menu-run, dia tetap menjadi penguasa mamae
tersebut selama masa menyusu tersebut.

Hubungan lanjutan
5.Hubungan berdasarkan pick order
Pada ayam dalam kelompok heterogen kasta
tertinggi ditempati oleh jantan yang paling besar
dan tua. Bila dalam kelompok homogen kasta
tertinggi adalah betina yang badannya paling
besar.
Ayam-ayam pada kasta tertinggi berhak mematuk
(pick order) ayam kasta teren-dah dengan tanpa
perlawan.

Perilaku Sosial
Perilaku sosial merupakan aktivitas kolek-tif dari
sekelompok hewan dalam rangka memperoleh
kelulushidupan dari individu dan kelompok yang
bersangkutan.
Seekor anjing yang hidup di padang rum-put selalu
diingatkan oleh anggota kelom-poknya jika ada
predator.
Macam-macam perilaku sosial:
1. Navigasi
2. Migrasi
3. Komunikasi

Sosial lanjutan

Perilaku Navigasi
Navigasi merupakan suatu kemampuan untuk menemukan route
baru menuju tempat yang sesuai dengan tujuan.
Perilaku ini memerlukan kompas dan peta internal yang
melibatkan daya penciuman, penglihatan, dan persepsi gravitasi.
Burung yang kesasar diterjang angin waktu mig-rasi, harus
mampu menyimpulkan bahwa: dia me-nuju tempat yang salah,
sekarang dia di sebelah barat tempat yang dituju, tujuannya
dapat dicapai jika dia terbang ke arah barat laut.

Sosial lanjutan

Navigasi juga mencakup homing, yaitu


kembalinya individu ke tempat asalnya.
Hal ini diperlihatkan oleh beruang grizlly, kucing,
atau burung merpati.
Mereka mengandalkan indera kompas alamiah,
medan magnet bumi, dan mata-hari sebagai
navigator menuju pulang rumah.

Sosial lanjutan
Perilaku migrasi
Pola perpindahan dalam kelompok besar secara
periodik dalam rangka menghindari musim yang
tidak cocok.
Banteng melakukan perjalanan ribuan mil dan
melintasi sungai Mara yang ganas untuk
menghindari musim kemarau.
Burung laut kutub utara (Greenland) dan Alaska
terbang 9000 mil ke Antartika untuk
menghabiskan musim panas disana.

Sosial lanjutan

Perilaku komunikasi
Komunikasi adalah pengiriman informasi dari satu hewan ke
hewan yang lain.
Caranya:
1. Nyanyian, dilakukan oleh paus, jangkrik, dan
burung pada perilaku kawin.
2. desis, dilakukan ular sebagai peringatan.
3. visual, gerak-gerik rumit bebek jantan sebelum
aktivitas reproduksi, memperlihatkan taring dan
menurunkan ekor pada karnivora ketika
terancam.

Sosial lanjutan
4. Sekresi kimiawi, feromon dalam urin beruang
hitam, anjing hutan, dan kelinci untuk menandai
teritorialitasnya, sedang-kan serangga betina
menggunakan fero-mon untuk daya tarik seksual
bagi jantan-nya, lebah madu meninggalkan jejak
atraktan bagi yang lain untuk menyerang
musuhnya.
5. Tarian waggle run dilakukan oleh lebah pekerja
untuk menunjukkan arah nektar dari sarang
dengan orientasi matahari bagi lebah perkerja
yang lain.

Objek Perilaku
Mekanisme kerja perilaku terkait dengan:
1. Fisiologi indera (neurofisiologi)
2. Endokrinologi
3. Fisiologi otot
4. Sistem koordinasi
5. Evolusi (Taksonomi, Ekologi, dan Genetika)

Objek kajian perilaku selain perilaku


terajar (Learning behavior) juga perilaku bawaan
(Innate behavior).

Perilaku bawaan yaitu:


1. Directiveness
2. Fenomena Subjektif

Directiveness
Merupakan suatu proses yang secara
langsung berhubungan dengan tujuan atau
maksud tertentu, yang mengontrol semua
aktivitas.
Fenomena Subjektivitas
Merupakan perilaku emosional yang tidak mudah
diobservasi secara objektif (co: singa berburu ketika
lapar). Dalam hal ini ada fenomena mencari makan.

Studi objektif Perilaku

Karakteristik penting:
1. Pengetahuan tentang aktivitas otot
secara menyeluruh.
2. Pengamatan suatu faktor penyebab
yang menimbulkan reaksi tertentu.
3. Aktivitas suatu spesies hewan yang
mengakibatkan respons pada spesies
hewan lain.

Etnograms
Spesies hewan tertentu memiliki pola perilaku yang
khas, misalnya dengan penampakan warna.

Contoh:
1. Diskriminasi warna pada lebah madu
Lebah madu merespons intensitas cahaya
yang lebih terang daripada perbedaan
warna. Kesimpulan: lebah madu buta
warna (von Hess).

2. Delayed respons (reaksi diperlambat)


Digunakan sebagai satu metode untuk
menguji memori. Hasil penelitian Carr dan
Hunter pada parasitoid Ammophila
campestris:
a) Betina Ammophila menggali lubang lalu
membunuh ulat untuk makanan larvanya
yang disimpan dalam tubuh ulat tersebut.
b) Betina menggali lubang baru untuk
menyimpan ulat yang berisi telur-telur.

c) induk betina memasukkan ulat berisi


telur (6-7 ulat) tiap lubang.
d) betina tidak pernah salah terhadap
jumlah telur pada tiap lubang.
Baerend melakukan perlakuan merubah jumlah
ulat pada tiap lubang, kesimpulannya:
1. dengan mengurangi (dicuri) jumlah ulat, mendorong
betina menyimpan ulat lebih banyak.
2. dengan menambah ulat, betina akan mengurangi jumlah ulat
yang dibawanya (perubahan ini terjadi jika dilakukan sebelum
kunjungan pertama si betina)

Perilaku Spontan dan Reaktif

Sensitivitas
Batas sensitivitas organ sensori adalah intensitas dan
kualitas. Reseptor visual memiliki ambang batas
sampai batas cahaya yang tidak efektif sebagai suatu
stimulus. Strix varia dapat menerkam mangsa berjarak 1,8 m ketika intensitas cahaya turun sampai
0,000.000.73 kandela.
Kelelawar dapat mendeteksi suara dengan frekuensi
50.000 gel/det.

Diskriminasi
Kemampuan membedakan stimulus berguna untuk
mendeteksi cahaya, suara, bahan ki-mia, atau
gabungan beberapa bahan kimia.
Anjing memiliki penciuman yang tajam sehingga
dapat membedakan bau dari campuaran bau-bauan
yang berbeda.
Badak jantan mampu mencium bau betina yang
sedang birahi pada jarak 7 km.

Lokalisasi
Kemampuan menentukan lokasi sumber stimulus
penting untuk menentukan arah dan jarak sumber.
Organ telinga (arah sumber), mata (jarak
sumber), dan hidung (jenis sumber).

Stimulus tanda
1. warna, ikan betina berduri punggung tiga
akan mengikuti ikan jantannya yang
berperut merah atau benda yang berwarna merah ke sarang. Di sarang tidak
diperlukan jantan atau benda warna
merah, tetapi setiap benda yang menyentuh ekornya maka dia akan bertelur.
Isyarat pemicu aksi naluriah tersebut disebut pelepas
(release)

2. feromon, berfungsi sebagai pelepas penting


(perilaku kawin) untuk serangga sosial:
semut, rayap, dan lebah.
3. atraktan, berfungsi sebagai pelepas penting
(perilaku serangan berkelompok) untuk
serangga sosial: semut dan lebah.
4. bunyi tanda bahaya, induk bebek domestik
memberikan panggilan peringatan ketika ada
pemangsa mendekat.

Perilaku Unik Hewan


Singa

Singa jantan baru yang mengambil


kekuasaan membunuh anak singa
jantan pesaingnya (induk betinanya
membiarkan hal itu terjadi). Hal ini
dilakukan oleh jantan pendatang
untuk mengurangi kompetisi dalam
kelompoknya nanti dan mendorong
induk betinanya agar cepat kawin.

Burung Gereja

Burung gereja (Passer domesticus)


sering mencari sarang betina lain
yang juga dikawini oleh pejantannya
dan membunuh anak-anak betina
pesaingnya dan memastikan sang
pejantan lebih banyak waktu untuk
membesarkan anak-anaknya sendiri.

Katak Darwin
Katak jantan hampir melakukan
semua hal dalam membesarkan
anak-anaknya, sedangkan induk
betinanya tidak peduli sama
sekali setalah ia meletakkan
telur-telurnya di punggung si
jantan.

Panda Raksasa
me

Panda raksasa berbobot 70-100kg


mempunyai anak sampai 3 ekor
dalam sekali kelahiran dengan bobot
0.1kg. Anak yang selamat sampai
dewasa tidak lebih dari 1 ekor karena
umumnya mati saat orok tertindih
oleh induknya yang senang bergulingguling.

Burung Cukcoo
Burung ini terkenal dengan kemalasannya dalam
membesarkan anaknya. Induk burung ini menempatkan telurnya di sarang burung lain. Ia memberi
-kan tanggung jawab membesarkan anaknya pada
burung lain. Telur burung cukcoo biasanya menetas
lebih cepat daripada telur burung lain. Kemudian
tumbuh dengan pesat, burung lain pergi dari
sarangnya sehingga mati terjatuh dari pohon.
Akhirnya, anak burung cukcoo itu berhasil mendapatkan perhatian penuh dari induk angkatnya dan
bertahan hidup

Semut Drakula

Adetomyrma bersifat semikanibalis-me.


Ratu dan semut pekerja dari semut ini
membuat lubang pada larvanya untuk
mengisap haemo-lymph. Meskipun tidak
sampai mematikan larvanya, namun sang
ratu membiarkan calon anak-anaknya
sebagai makanan bagi koloninya.

Hiu Galapagos
lam

Hiu ini bersifat kanibalisme absolut.


Betinanya melahirkan di perairan
dangkal untuk menghindari predator.
Anak-anaknya tumbuh besar di
perairan dangkal tersebut lalu
berenang ke laut dalam. Dalam
perjalanan tersebut kemungkinan besar
ia akan dimangsa oleh induknya
sendiri.

Beruang Hitam

Beruang hitam bisa memiliki 2-3


anak, namun hanya satu yang ia
rawat dengan sungguh-sungguh,
sedangkan yang lainnya
diabaikan.

Elang Hitam Afrika


Induk elang biasanya bertelur 2
buah, namun ia hanya akan
memberi makan satu anaknya dan
anak yang tumbuh besar dan kuat
ini akan mematuk saudaranya
sampai mati, sedangkan induknya
hanya mendiamkan hal itu terjadi.

Hamster
Hamster bisa melahirkan sampai 12
anak sehingga ada sebagian anak
yang mengalami malnutrisi. Anak
yang tumbuh tidak sempurna ini
kemudian akan dikanibalisme oleh
induknya. Perilaku demikian karena
induknya lapar, panas, stres,atau
sakit.

Komunikasi Kimiawi Semut

Isyarat kimiawi
Semiokemikal zat kimia (feromon dan alomon) yang
digunakan semut untuk berkomunikasi.
Feromon digunakan oleh genus yang sama dan saat
disekresikan tercium oleh semut yang lain.
Alomon digunakan untuk komunikasi antargenus.

Kelenjar Endokrin
Setiap kelenjar endokrin mempunyai fungsi yang berbeda
dari semut spesies yang berbeda.

1. Kelenjar Dufour. Hormon yang diproduksi oleh kelenjar ini


digunakan untuk perintah tanda bahaya dan berkumpul
untuk menyerang.
2. Kelenjar Toksin. Penghasil asam format dalam kantung
racun yang digunakan untuk menyerang dan bertahan.

3. Kelenjar Pigidial. Kelenjar ini memproduksi sekrit sebagai


sistem tanda bahaya panik dalam bentuk bau dan digunakan
sebagai tanda penyerangan dan pertahanan kimiawi (Pheidole
biconstrica).
4. Kelenjar Sternal. Sekrit dari kelenjar ini digunakan oleh semut
pada saat migrasi koloni, melacak mangsa, dan
mengumpulkan prajurit. Fungsi paling utama dari sekrit ini
adalah untuk melumasi daerah perut segemen ketujuh, yang
sering diputar pada waktu menyemprotkan racun.
5. Kelenjar Metapleural. Sekrit dari kelejar ini berupa antiseptik
yang melindungi permukaan tubuh dan serangan dari
mikroorganisme

Perilaku Sebagai Ekspresi Evolusi

Perilaku merupakan adaptasi evolusi yang menyebabkan :


1. survivorship
2. ketegaran reproduksi
3. kebugaran fisik

Peran ekologi dalam perilaku:


1. Irama biologi (biological ritmik)
Banyak hewan aktif siang hari dan tidur malam
hari. Pola hidup berulang setiap hari ini disebut
Irama Sirkadian.

2. Mekanisme bergerak
Terjadinya pergerakan khusus karena adanya
stimulus sehingga organisme bergerak yaitu:
a. Kinetis
Suatu perubahan acak dalam kecepatan dan
atau arah karena respons terhadap stimulus
(Pergerakan karena kondisi lingkungan yang
tidak sesuai. Kumbang aktif di daerah kering
dan kurang aktif di daerah yang lembab)

b. Taksis
Pergerakan keseluruhan bagian tubuh organisme
ke arah stimulus atau menjauhi stimulus. Larva
lalat rumah bersifat fototaksis negatif.
c. Migrasi
Pergerakan hewan secara berkelompok (group) yang
dipengaruhi adanya perubahan cuaca/musim, sumber
makanan, atau daerah/tempat kawin dll. Hewan melakukan
migrasi karena: piloting, orientasi, atau navigasi (telah
mengenali daerah perjalanannya). Banyak serangga
menggunakan organisme lain sebagai alat transportasi dalam
migrasi (perilaku phoresy).

d. Komunikasi
Pada umumnya terjadi sesama anggota spesies, dengan
tujuan untuk:
1. mengenali pasangan kawin
2. mengetahui koloninya
3. menghindari bahaya
4. tempat berkumpul (agregasi)
5. menemukan makanan
6. mempertahankan teritori.
Sarana komunikasi berupa feromon, atraktan,
suara, visual, bulu/rambut, urin, tinja dll.

e. Agonistik
Merupakan perilaku agresif yang dilakukan hewan untuk dapat
lulus hidup. Pola perilaku ini dapat berupa:
1. tarian ritual
2. memperlihatkan kekuatan
3. memperlihatkan keindahan (suara, tubuh, warna)
4. perkelahian yang tidak mematikan
f. Altruistik
Perilaku non-egoistik yang dilakukan oleh hewan yang hidup
komunal. Perilaku ini tidak menguntung secara individual
tetapi menguntungkan koloninya.

g. Sistem perkawinan
Banyak spesies hewan bersifat promiscuous (tidak ada
ikatan yang kuat atau hubungan yang bertahan lama).
Hewan betina lebih selektif untuk mementukan pasangan
kawin (investasi parental), sedangkan hewan jantang
kurang memilih pasangan kawin (kawin dengan sembarang
betina dan banyak betina).
h. Perilaku belajar
Belajar merupakan perubahan dalam perilaku sebagai hasil
pengalaman:

Habituasi: hilang atau munculnya respons ter-hadap


stimulus setelah pengulangan suatu perlakuan.
Imprinting: pada hewan, belajar tidak dapat diulang dan
terbatas pada suatu periode kritis tertentu, seringkali
karena hubungan kuat antara induk dengan anaknya.
Asosiasi/pengkondisian: perubahan perilaku yang
diakibatkan dari suatu hubungan antara satu perilaku
dengan sistem hukuman dan hadiah atau trial and error.
Imitasi: perilaku yang diakibatkan karena proses
pengamatan dan meniru individu lain.
Inivasi/problem solving: perilaku yang timbul karena
respons terhadap suatu situasi baru, tanpa coba-coba
(imitasi).

Adaptasi Perilaku

Untuk mempertahankan diri dari musuh alaminya, hewan


mempunyai kemampuan fisik (berlari, ter-bang, meloncat,
berenang, menyelam, penyamar-an, aposematik, atau
mimikri)

Penyamaran (Crypsis)
Penyamaran merupakan kombinasi morfologi yang dimilikinya,
seperti warna, dan struktur (menyeru-pai daun, ranting atau
bentuk lain).

Aposematik
Sekresi bahan kimia yang tidak enak dimakan
(distastesful) dan sangat beracun (jika menye-ngat sangat
menyakitkan, gatal, atau panas).

Mimikri
Penyerupaan bentuk dengan spesies lain yang disertai
warna yang menyembunyikan:

1. Mimikri Mullerian: dengan menyerupai bentuk spesies lain


menjadi tidak layak/enak dimakan (unpalatable)

2. Mimikri Batesian: dengan menyerupai bentuk spesies lain


meskipun layak/enak dimakan, tetapi sangat berbahaya
untuk dimakan.
3. Mimikri Aide-Memoire: dengan menyerupai bentuk spesies
lain calon predator menjadi ingat dengan pengalaman
masa lalu yang tidak enak (kupu-kupu memiliki sayap
seperti mata burung hantu).