Anda di halaman 1dari 61

Kode Etik Dan Profesionalisme Guru

KODE ETIK DAN PROFESIONALISME GURU


1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pendidik mempunyai dua arti, secara luas artinya ialah semua orang yang berkewajiban
membina anak-anak. Secara alamiah anak, sebelum mereka dewasa menerima pembinaan dari
orang-orang dewasa agar mereka dapat berkembang dan bertumbuh secara wajar. Orang-orang
yang berkewajiban membina anak-anak secara alamiah adalah orang tua masing-masing, warga
masyarakat, dan tokoh-tokohnya.
Sedangkan pendidik dalam arti sempit adalah seseorang yang disiapkan dengan sengaja untuk
menjadi guru dan dosen. Kedua pendidik ini diberi pelajaran tentang pendidikan dalam waktu
relative lama agar mereka menguasai ilmu itu dan terampil dalam melaksanakannya dalam
mengajar.
Seorang pendidik yang akan dibahas penulis disini adalah seorang guru. Dalam penyusunan
makalah ini akan dibahas lebih jelas tentang pengertian kode etik dan profesionalisme guru,
macam-macam kode etik guru, dan aspek profesionalisme guru.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Setelah mengetahui latar belakang penulisan makalah ini diatas, terdapat beberapa masalah yang
harus dibahas lebih jelas, antara lain sebagai berikut:
1.2.1 Apa pengertian dari kode etik dan profesionalisme guru?
1.2.2 Apa saja kode etik guru ?
1.2.3 Apa saja aspek profesionalisme guru?
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulisan makalah ini bertujuan sebagai berikut:
1.3.1 Mengetahui pengertian kode etik dan profesionalisme guru
1.3.2 Mengetahui macam-macam kode etik guru
1.3.3 Mengetahui aspek profesionalesme guru
KODE ETIK DAN PROFESIONALISME GURU
2.1 Pengertian Kode Etik dan Profesionalisme Guru
Istilah kode etik itu terdiri dari dua kata, yakni kode dan etik. Kata etik berasal dari bahasa
Yunani, ethos yang berarti watak, adab, atau cara hidup. Sehingga etik dapat diartikan
menunjukkan cara berbuat yang menjadi adat, karena persetujuan dari kelompok manusia.
Istilah kode ialah sistem nilai-nilai yang biasanya dikaji oleh etik itu sendiri, maka terwujud apa
yang disebut kode etik itu. Secara harfiah, kode etik berarti sumber etik. Sedangkan etika artinya
tata susila atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
Dapat disimpulkan bahwa istilah kode etik guru ialah sebagai aturan tata susila keguruan.
Menurut Westby Gibson, kode etik guru dikatakan sebagai suatu statemen formal yang
merupakan norma (aturan tata susila) dalam mengatur tingkah laku guru.
Sedangkan istilah profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan
yang ingin atau akan ditekuni noleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau
pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan ketrampilan khusus yang diperoleh dari
pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989). Profesi adalah suatu pekerjaan jabatan yang

menuntut keahlian tertentu, artinya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat
dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui npendidikan dan pelatihan
secara khusus. Sedangkan profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Jadi,
profesionalisme guru adalah merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian
dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan
seseorang yang menjadi mata pencaharian.
Profesionalisme guru mempunyai makna penting, yaitu:
a. profesionalisme guru memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat
umum
b. profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang
selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat
c. profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang
memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan
kompetensinya.
2.2 Kode Etik Guru
Guru sebagai tenaga professional perlu memilki kode etik guru dan menjadikannya sebagai
pedoman yang mengatur pekerjaan guru selama dalam pengabdian. Kode etik guru ini
merupakan ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru. Bila guru telah melakukan
perbuatan asusila amoral berarti guru telah melanggar kode etik guru, sebab kode etik guru ini
sebagai salah satu cirri yang harus ada pada profesi guru itu sendiri.
Mengenai kode etik guru, penulis membahas guru di Negara Indonesia. Berikut ini akan
dikemukakan kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal
21-25 November 1973 di Jakarta. Antara lain sebagai berikut:
a. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan
yang ber-Pancasila.
b. Guru memiliki kejuruan professional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak
didik masing-masing.
c. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik,
tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
d. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua
anak didik sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
e. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat
yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
f. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu
profesinya.
g. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru, baik berdasarkan
lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
h. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi
guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
i. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan.
Kode etik guru ini merupakan suatu yang harus dilaksanakan sebagai barometer dari semua sikap
dan perbuatan guru dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam keluarga, sekolah maupun
masyarakat. Hampir semua guru telah menaati peraturan perundang-undangan dan kedinasan,

akan tetapi masih banyak yang mengembangkan profesinya secara kontinu dan ikut memelihara
serta memajukan mutu organisasi profesi.
2.3 Aspek Profesionalisme Guru
Guru profesional adalah guru yang mengenal dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang
dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk atau dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu
terus menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan
peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama
peserta didik bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya. Sikap yang harus
senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan
meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tidak mungkin
tahan dan bangga menjadi guru, padahal hal itu adalah langkah menjadi guru yang professional.
Guru yang professional pada intinya adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan
untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, membedah aspek
profesionalisme guru berarti mengkaji kompetensi yang harus dimiliki seorang guru.
Menurut Soedijarto kemampuan professional guru meliputi:
a. Merancang dan merencanakan program pembelajaran
b. Mengembangkan program pembelajaran
c. Mengelola pelaksanaan program pembelajaran
d. Menilai proses dan hasil pembelajaran
e. Mendiagnosis factor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran.
Untuk dapat dikuasainya lima kemampuan professional tersebut diperlukan pengetahuan dasar
dan pengetahuan professional, seperti pengetahuan tentang; perkembangan dan karakteristik
peserta didik; disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran; konteks social, budaya,
politik, dan ekonomi tempat sekolah beroperasi; tujuan pendidikan; teori belajar, baik umum
maupun khusus; teknologi pendidikan yang meliputi model belajar dan mengajar; dan sistem
evaluasi proses dan hasil belajar (Soedijarto, 2005).
Dari sumber lain, kemampuan dasar profesionalisme guru antara lain sebagai berikut:
a. Menguasai bahan
Menguasai bahan mata pelajaran dan kurikulum sekolah
Menguasai bahan pendalaman atau aplikasi pelajaran
b. Mengelola program belajar mengajar
Merumuskan tujuan instruksional
Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar
Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat
Melaksanakan program belajar mengajar
Mengenal kemampuan anak didik
Merenanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
c. Mengelola kelas
Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi
d. Menggunakan media sumber
Mengenal, memilih, dan menggunakan media
Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana
Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar
Mengembangkan laboratorium

Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar


e. Menguasai landasan kependidikan
f. Mengelola interaksi belajar mengajar
g. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
h. Mengenal fungsi dan program pelayanan BK
Menyelenggarakan program layanan BK di sekolah
i. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah
Menyelenggarakan administrasi sekolah
j. Memahami prinsip-prinsip dan mentafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan
pengajaran
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Pengertian Kode Etik Dan Profesionalisme Guru
kode etik guru ialah sebagai aturan tata susila keguruan. Menurut Westby Gibson, kode etik guru
dikatakan sebagai suatu statemen formal yang merupakan norma (aturan tata susila) dalam
mengatur tingkah laku guru.
, profesionalisme guru adalah merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian
dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan
seseorang yang menjadi mata pencaharian.
3.1.2 Kode Etik Guru
Kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal 21-25
November 1973 di Jakarta. Antara lain sebagai berikut:
j. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan
yang ber-Pancasila.
k. Guru memiliki kejuruan professional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak
didik masing-masing.
l. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik,
tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
m. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua
anak didik sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
n. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat
yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
o. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu
profesinya.
p. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru, baik berdasarkan
lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
q. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi
guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
r. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan.
3.1.3 Aspek Profesionalisme Guru
Dari sumber lain, kemampuan dasar profesionalisme guru antara lain sebagai berikut:

a. Menguasai bahan
b. Mengelola program belajar mengajar
c. Mengelola kelas
d. Menggunakan media sumber
e. Memahami prinsip-prinsip dan mentafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan
pengajaran
f. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
g. Menguasai landasan kependidikan
h. Mengelola interaksi belajar mengajar
i. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
j. Mengenal fungsi dan program pelayanan BK

DAFTAR PUSTAKA
Kunandar. 2008. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses Dalam sertifikasi Guru .
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT RENIKA CIPTA
Diposkan oleh alexs jadi cosma
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

ETIKA PROFESIONAL DALAM PENDIDIKAN

ETIKA PROFESIONAL DALAM PENDIDIKAN


*Anton Sujarwo*
1. Pendahuluan
Menurut UUD 1945 pasal 1 berbunyi tiap-tiap warga Negara berhak
mendapatkan pengajaran. Berdasarkan pasal ini jelas bahwa semua warga negara
tanpa terkecuali berhak mendapatkan pendidikan. Tujuan utamanya agar generasi
muda penerus bangsa dapat memajukan negara Indonesia ini.
Berkaitan dengan itu, visi Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo
memandang bahwa pendidikan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia
seutuhnya. Untuk mewujudkan visi ini dibutuhkan dana memadai(aspek kuantitatif)
dan tenaga pendidik yang profesional (aspek kualitatif).
Ditinjau dari aspek kuantitatif, Mendiknas lebih lanjut mewacanakan guru
akan makin dimanusiawikan dengan menaikkan gaji untuk memperbaiki mutu

pendidikan nasional. Dengan kesejahteraan yang terjamin, para guru akan bangga
dengan profesinya, mampu membeli buku, dan mempunyai waktu luang untuk
belajar. Pada prinsipnya, menaikkan anggaran pendidikan selalu disebut sebagai
conditio sine qua non (syarat mutlak).
Namun, pembangunan dalam pendidikan seharusnya tidak dipahami dari
aspek kuantitatif saja, akan tetapi aspek kualitatif juga perlu diperhatikan. Dalam
konteks ini guru adalah jantungnya. Tanpa guru yang profesional meskipun
kebijakan pembaharuan secanggih apapun akan berakhir sia-sia.
Berdasarkan uraian di atas, makalah ini akan membahas bagaimana etika
guru profesional dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan sesuai denga visi
yang telah ditetapkan. Uraian dalam makalah ini di mulai bagaimana etika guru
profesional

terhadap

peraturan

perundang-undangan,

etika

guru

profesional

terhadap peserta didik, etika guru profesional terhadap pekerjaan, dan diakhiri
dengan menguraikan etika guru profesional terhadap tempat kerjanya.
2. Pembahasan
2.1 Pengertian Etika dan Profesional
Etika berasal dari bahasa yunani yaitu kata ethos yang berarti suatu
kehendak atau kebiasaan baik yang tetap. Yang pertama kali menggunakan katakata itu adalah seorang filosof Yunani yang bernama Aris Toteles ( 384 322 SM ).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Etika / moral adalah ajaran
tentang baik dan buruk mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya.
Menurut K. Bertenes, Etika adalah nilai-nilai atau norma-norma yang
menjadi pegangan bagi seseorang dalam mengatur tingkah lakunya.
Dari pengertian di atas, disimpulkan bahwa Etika merupakan ajaran baik
dan buruk tentang perbuatan dan tingkah laku ( akhlak ). Jadi, Etika membicarakan
tingkah laku manusia yang dilakukan dengan sadar di pandang dari sudut baik dan
buruk sebagai suatu hasil penilaian.

Adapun yang dibicarakan dalam makalah ini, yaitu etika profesi, yang
menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya dalam satu lingkup profesi
serta bagaimana mereka harus menjalankannya profesinya secara profesional agar
diterima oleh masyarakat yang menggunakan jasa profesi tersebut. Dengan etika
profesi diharapkan kaum profesional dapat bekerja sebaik mungkin, serta dapat
mempertanggung

jawabkan

tugas

yang

dilakukannya

dari

segi

tuntutan

pekerjaannya.
Profesional

adalah

merupakan

yang

ahli

dibidangnya,

yang

telah

memperoleh pendidikan atau pelatihan khusus untuk pekerjaannya tersebut.


Profesional merupakan suatu profesi yang mengandalkan keterampilan
atau keahlian khusus yang menuntut pengemban profesi tersebut untuk terus
memperbaharui keterampilannya sesuai dengan perkembangan teknologi.
Untuk menjadi seseorang yang profesional, seseorang yang melakukan
pekerjaan dituntut untuk memiliki beberapa sikap sebagai berikut :
1. Komitmen Tinggi
Seorang profesional harus mempunyai komitmen yang kuat pada pekerjaan yang
sedang dilakukannya.
2. Tanggung Jawab
Seorang profesional harus bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan yang
dilakukannya sendiri.
3. Berpikir Sistematis
Seorang yang profesional harus mampu berpikir sitematis tentang apa yang
dilakukannya dan belajar dari pengalamannya.
4. Penguasaan Materi

Seorang profesional harus menguasai secara mendalam bahan / materi pekerjaan


yang sedang dilakukannya.
5. Menjadi bagian masyarakat profesional
Seyogyanya seorang profesional harus menjadi bagian dari masyarakat dalam
lingkungan profesinya.
2.2 Kode Etik Guru Profesional
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang
secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan
tidak baik bagi profesional.
Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan
apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.
Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada
pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak
profesional.
Dalam proses pendidikan, banyak unsur-unsur yang terlibat agar proses
pendidikan dapat berjalan dengan baik. Salah satunya adalah guru sebagai tenaga
pendidik. Guru sebagai suatu profesi kependidikan mempunyai tugas utama
melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Dalam hal itu, guru sebagai jantung
pendidikan dituntut semakin profesional seiring perkembangan ilmu dan teknologi.
Etika profesional guru dituntut dalam hal ini. Etika yang harus dimiliki oleh seorang
pendidik sesuai kode etik profesi keguruan. Berikut adalah kode etik profesi
keguruan (dikutip Soetjipto dan kosasi, 1994:34-35).
Kode Etik Guru Indonesia
Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah bidang
pengabdian terhadap tuhan yang maha esa, bangsa, dan negara,
serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa
Pancasila dan setia kepada Undang-Undang dasar 1945, turut
bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi

Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. oleh sebab


itu, guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya
dengan memedomani dasar-dasar sbagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk
manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik
sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang
menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.
5. Guru memelihara hubungan dengan orang tua murid dan
masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa
tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan
meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7.

Guru memelihara hubungan seprofesinya,


kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.

semangat

8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan


mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan
pengabdian.
9. Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam
bidang pendidikan.
Dari sembilan kode etik tersebut diatas, makalah ini hanya membahas
lima kode etik saja. Berikut secara rinci akan diuraikan satu-persatu.
2.2.1 Etika Guru Profesional Terhadap Peraturan Perundang-Undangan
Pada butir kesembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan bahwa Guru
melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Dengan
jelas bahwa dalam kode etik tersebut diatur bahwa guru di Indonesia harus taat
akan peraturan perundang-undangan yang di buat oleh pemerintah dalam hal ini
Departemen Pendidikan Nasonal.

Guru merupakan aparatur negara dan abdi negara dalam bidang


pendidikan. Oleh karena itu, guru mutlak harus mengetahui kebijaksanaankebijaksanaan

pemerintah

dalam

bidang

pendidikan

dan

melaksanakannya

sebagaimana aturan yang berlaku. Sebagai contoh pemerintah mengeluarkan


kebijakan yaitu mengubah kurikulum dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004
atau kurikulum berbasis kompetensi dan kemudian diubah lagi menjadi KTSP dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam kurikulum tersebut, secara eksplisit bahwa hendaknya guru
menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajarannya. Seorang guru yang
profesional taat akan peraturan yang berlaku dengan cara menerapkan kebijakan
pendidikan yang baru tersebut dan akan menerima tantangan baru tersebut, yang
nantinya diharapkan akan dapat memacu produktivitas guru dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan nasional.
2.2.2 Etika Guru Profesional Terhadap Anak Didik
Dalam Kode Etik Guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa guru
berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia seutuhnya yang
berjiwa

pancasila.

Dalam

membimbing

anak

didiknya

Ki

Hajar

Dewantara

mengemukakan tiga kalimat padat yang terkenal yaitu ing ngarso sung tulodo, ing
madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Dari ketiga kalimat tersebut, etika
guru terhadap peserta didik tercermin. Kalimat-kalimat tersebut mempunyai makna
yang sesuai dalam konteks ini.
Pertama, guru hendaknya memberi contoh yang baik bagi anak didiknya.
Ada pepatah Sunda yang akrab ditelinga kita yaitu Guru digugu dan Ditiru (diikuti
dan diteladani). Pepatah ini harus diperhatikan oleh guru sebagai tenaga pendidik.
Guru adalah contoh nyata bagi anak didiknya. Semua tingkah laku guru hendaknya
jadi teladan. Menurut Nurzaman (2005:3), keteladanan seorang guru merupakan
perwujudan

realisasi

kegiatan

belajr

mengajar,

serta

menanamkan

sikap

kepercayaan terhadap siswa. Seorang guru berpenampilan baik dan sopan akan
sangat mempengaruhi sikap siswa. Sebaliknya, seorang guru yang bersikap
premanisme akan berpengaruh buruk terhadap sikap dan moral siswa. Disamping
itu,

dalam

memberikan

contoh

kepada

peserta

didik

guru

harus

dapat

mencontohkan bagaimana bersifat objektif, terbuka akan kritikan, dan menghargai


pendapat orang lain.
Kedua, guru harus dapat mempengaruhi dan mengendalikan anak
didiknya. Dalam hal ini, prilaku dan pribadi guru akan menjadi instrumen ampuh
untuk mengubah prilaku peserta didik. Sekarang, guru bukanlah sebagai orang
yang harus ditakuti, tetapi hendaknya menjadi teman bagi peserta didik tanpa
menghilangkan kewibawaan sebagai seorang guru. Dengan hal itu guru dapat
mempengaruhi dan mampu mengendalikan peserta didik.
Ketiga,

hendaknya

guru

menghargai

potensi

yang

ada

dalam

keberagaman siswa. Bagi seorang guru, keberagaman siswa yang dihadapinya


adalah sebuah wahana layanan profesional yang diembannya. Layanan profesional
guru

akan

tampil

dalam

kemahiran

memahami

keberagaman

potensi

dan

perkembangan peserta didik, kemahiran mengintervensi perkembangan peserta


didik dan kemahiran mengakses perkembangan peserta didik (Kartadinata, 2004:4).
Semua kemahiran tersebut perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh dan
sistematis, secara akademik, tidak bisa secara alamiah, dan semua harus
terinternalisasi dan teraktualisasi dalam perilaku mendidik.
Sementara

itu,

prinsip

manusia

seutuhnya

dalam

kode

etik

ini

memandang manusia sebagai kesatuan yang bulat, utuh, baik jasmani maupun
rohani. Peserta didik tidak hanya dituntut berlimu pengetahuan tinggi, tetapi harus
bermoral tinggi juga. Guru dalam mendidik seharusnya tidak hanya mengutamakan
pengetahuan atau perkembangan intelektual saja, tetapi juga harus memperhatikan
perkembangan pribadi peserta didik, baik jasmani, rohani, sosial maupun yang
lainnya yang sesuai dengan hakikat pendidikan. Ini dimaksudkan agar peserta didik
pada akhirnya akan dapat menjadi manusia yang mampu menghadapi tantangantantangan di masa depan. Peserta didik tidak dapat dipandang sebagai objek
semata yang harus patuh pada kehendak dan kemauan guru.
2.2.3 Etika Guru Profesional terhadap pekerjaan

Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang mulia. Sebagai seorang yang


profesional , guru harus melayani masyarakat dalam bidang pendidikan dengan
profesional juga. Agar dapat memberikan layanan yang memuaskan masyarakat,
guru harus dapat menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya dengan
keinginan dan permintaan masyarakat. Keinginan dan permintaan ini selalu
berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat yang biasanya dipengaruhi
oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Oleh sebab itu, guru selalu dituntut untuk
secara

terus

keterampilan,

menerus
dan

meningkatkan

mutu

dan

layanannya.

mengembangkan
Keharusan

pengetahuan,

meningkatkan

dan

mengembangkan mutu ini merupakan butir keenam dalam Kode Etik Guru
Indonesia yang berbunyi Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan
dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
Secara profesional, guru tidak boleh dilanda wabah completism, merasa
diri sudah sempurna dengan ilmu yang dimilikinya, melainkan harus belajar terus
menerus (Kartadinata, 2004:1). Bagi seorang guru, belajar terus menerus adalah
hal yang mutlak. Hal ini karena yang dihadapi adalah peserta didik yang sedang
berkembang dengan segala dinamikanya yang memerlukan pemahaman dan
kearifan dalam bertindak dan menanganinya.
Untuk meningkatkan mutu profesinya, menurut Soejipto dan kosasi ada ua
cara yaitu cara formal dan cara informal. Secara formal artinya guru mengikuti
pendidikan lanjutan dan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan
ilmiah lainnya. Secara informal dapat dilakukan melalui televisi, radio, koran, dan
sebagainya.
2.2.4 Etika Guru Profesional Terhadap Tempat kerja
Sudah diketahui bersama bahwa suasana yang baik ditempat kerja akan
meningkatkan produktivitas. Ketidakoptimalan kinerja guru antara lain disebabkan
oleh lingkungan kerja yang tidak menjamin pemenuhan tugas dan kewajiban guru
secara optimal.
Dalam

UU

No.

20/2003 pasal

1 bahwa pemerintah

berkewajiban

menyiapkan lingkungan dan fasilitas sekolah yang memadai secara merata dan

bermutu diseluruh jenjang pendidikan. Jika ini terpenuhi, guru yang profesional
harus mampu memanfaatkan fasilitas yang ada dalam rangka terwujudnya manusia
seutuhnya sesuai dengan Visi Pendidikan Nasional.
Disisi lain, jika kita dihadapkan dengan tempat kerja yang tidak
mempunyai fasilitas yang memadai bahkan buku pelajaran saja sangat minim.
Bagaimana sikap kita sebagai seorang guru? Ternyata, keprofesionalan guru sangat
diuji disini. Tanpa fasilitas yang memadai guru dituntut untuk tetap profesional
dalam membimbing anak didik. Kreatifitas guru harus dikembangkan dalam situasi
seperti ini.
Berkaitan

dengan

ini,

pendekatan

pembelajaran

kontekstual

dapat

menjadi pemikiran para guru untuk lebih kreatif. Dalam pendekatan ini, diartikan
strategi belajar yang membantu guru mengaitkan materi pelajaran dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa mengaitkan pengetahuan yang telah
dimilikinya drngan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, sikap profesional guru terhadap tempat kerja juga dengan
cara menciptakan hubungan harmonis di lingkungan tempat kerja, baik di
lingkungan sekolah, masyarakat maupun dengan orang tua peserta didik.
3. Penutup
Etika profesional seorang guru sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan
mutu pendidikan nasional. Seorang guru baru dapat disebut profesional jika telah
menaati Kode Etik Keguruan yang telah ditetapkan.
etika-profesional.ppt

DAFTAR PUSTAKA
Hamalik Oemar. 2004. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.
Jakarta: Bumi Aksara.

Harris. 2006. Etika Profesi. Diakses Tanggal 9 Desember 2007 tersedia pada
http://www.DuniaGuru.com/index.php?
option=com.konten&task=view&id=303&itemid49
Ikbal Hasan. 2002. Pokok-pokok Materi Pendidikan Pancasila. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Kahar Mansyur. 1994. Membina Moral dan Akhlak. Jakarta: rineka Cipta.
Kartadinata. 2004. Senja Kala Profesi Guru. Diakses Tanggal 3 Desember 2007
tersedia pada http://www.Pikiran.com/cetak/1104/24/0802.htm
Nurhadi dkk., 2004. Pembelajaran Kontekstual. Malang: Universitas Negeri Malang.
Nurzaman. 2005. Tingkatkan Mutu Siswa Lewat Profesional Guru. Diakses Tanggal
3 Desember 2007 tersedia pada http://www.Pikiran-rakyat.com/index.php?
option=com.conten&task=view&id=162&itemid36.
Soejipto dan Raflis kosasi. 1999. Profesi Keguruan. Jakarta:PT Rineka Cipta.
Syafruddin Nurdin. 2005. Guru Profesional dan implementasi Kurikulum. Jakarta:
Quantum Teaching.

KODE ETIK, SIKAP PROFESIONAL DAN


ORGANISASI PROFESI
November 28, 2014 / cecep1121

untuk menghimpun diri dalam suatu wadah organisasi. Melalui organisasi tersebut, profesi
dilindungi dari penyalahgunaan yang dapat membahayakan keutuhan dan kewibawaan profesi
itu. Kode etikpun disusun dan disepakati oleh para anggotanya. Maka suatu organisasi profesi
menyerupai suatu sistem yang senantiasa mempertahankan keadaan harmonis. Jadi dalam
organisasi profesi, ada aturan yang jelas dan sanksi bagi pelanggar aturan.
Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan mampu memahami kode etik dan
organisasi profesi kependidikan. Adapun indikator yang diharapkan setelah mempelajari modul
ini diharapkam mahasiswa:
1. Memahami kode etik kependidikan
2. Menjelaskan bentuk organisasi kependidikan
3. Membedakan antara pengajaran dan pembelajaran

4. Memahami sikap profesional kependidikan


5. Mengaplikasikan sikap profesional dalam bentuk contoh-contoh perilaku
pendidikan

PEMBAHASAN
1. KODE ETIK

Pengertian
Kode etik adalah hal yang mutlak dimiliki oleh setiap profesi. Profesi seperti dokter, wartawan,
notaris, termasuk juga guru memiliki kode etik khusus. Sama halnya dengan kata profesi, maka
penafsiran kode etikpun belum memiliki satu tafsir. Menurut UU no.20 pasal 43, kode etik berisi
norma dan etika yang mengikat perilaku dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan. Sedangkan
menurut Prof. Dr. R Soebekti, S.H. mengatakan kode etik suatu profesi berupa norma-norma
yang harus diindahkan oleh orang-orang yang menjalankan tugas profesi tersebut.
Kode etik suatu profesi berupa norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi
didalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma norma
tersebut berisi petunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka harus
menjalankan profesinya dan larangan-larangan yaitu hal-hal yang tidak boleh diperbuat oleh
mereka, tidak saja menyangkut dalam menjalankan tugas profesi mereka, melainkan juga
menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya dalam pergaulannya sehari-hari di
masyarakat.
TUJUAN KODE ETIK
Tujuan mengadakan kode etik :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi. Dalam hal ini yang dijaga adalah
image dari pihak luar atau masyarakat agar jangan sampai orang luar
memandang rendah atau remeh profesi tersebut.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota baik berupa
materiil maupun spiritual/mental. Misalnya dengan menetapkan tarif
minimum bagi guru honorer.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi. Dalam hal ini kode
etik juga berisi tujuan pengabdian generasi tertentu, sehingga bagi para
anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab
pengabdiannya dalam melaksanakan tugas profesinya.

4. Untuk meningkatkan mutu profesi. Kode etik juga memuat norma-norma


tentang anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha meningkatkan
mutu para anggotanya sesuai dengan bidang pengabdiannya.

PENETAPAN KODE ETIK


Kode etik ditetapkan oleh organisasi suatu perkumpulan atau perserikatan suatu profesi untuk
para anggotanya. Penetapan kode etik lazim dilakukan pada suatu kongres organisasi suatu
profesi. Penetapan kode etik profesi tidak bisa sembarangan dan tidak bisa dilakukan oleh
perseorangan, melainkan harus dilakukan oleh orang-orang yang diutus untuk dan atas nama
anggota-anggota profesi dari organisasi tersebut, sehingga orang-orang yang bukan atau tidak
menjadi anggota profesi tersebut tidak dapat ditundukkan padanya. Maka kode etik dari suatu
organisasi hanya akan mempunyai pengaruh yang kuat dalam menegakkan disiplin dikalangan
profesi tersebut, jika orang yang menjalankan profesi tersebut tergabung dalam organisasi
tersebut.
SANKSI MELANGGAR KODE ETIK
Dapat kita jumpai bahwa ada kalanya negara mencampuri urusan profesi, sehingga hal-hal yang
semula hanya merupakan kode etik saja dapat meningkat menjadi peraturan hukum atau undangundang. Pencampuran tersebut bersifat memberikan sanksi-sanksi hukum yang memaksa, baik
pidana ataupun perdata. Sanksi pada dasarnya merupakan upaya pembinaan kepada suatu profesi
yang melakukan pelanggaran dan juga untuk menjaga harkat dan martabat profesi tersebut.
KODE ETIK GURU DI INDONESIA
Kode Etik Guru Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru-guru
Indonesia. Sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai
pendidik, anggota masyarakat dan warga negara. Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai
seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional
guru dalam hubungannya dengan peserta didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan rekan seprofesi,
organisasi profesi, dan pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika dan
kemanusiaan.
Dalam melaksanakan tugas profesinya guru Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa perlu
ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan berperilaku yang
mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik
putera-puteri bangsa.
Kode Etik Guru Indonesia ditetapkan dalam suatu kongres yang dihadiri oleh seluruh utusan
cabang dan pengurus daerah PGRI dari seluruh penjuru tanah air. Pertama kali ditetapkan dalam

Kongres XIII di Jakarta tahun 1973 dan kemudian disempurnakan dalam kongres PGRI XX
tahun 2008 di Palembang.
1. SIKAP PROFESIONAL DAN PENGEMBANGANNYA

Sikap atau attitude adalah cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Thurstone (dalam Azwar)
menjelaskan sikap adalah sederet efek positif atau efek negatif yang dikaitkan dengan suatu
objek psikologis. Dijelaskan pula sikap adalah kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek
dengan cara-cara tertentu. Dalam beberapa hal, sikap merupakan penentu yang penting dalam
tingkah laku manusia sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dua alternatid, yaitu senang
dan tidak senang.
Dalam hal ini , bagaimanakah sikap guru terhadap berbagai faktor yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugasnya. Sikap profesional yang harus dimiliki guru termuat di Kode Etik Guru
Indonesia Bagian 2 Pasal 6 yang menjelaskan sikap guru dalam berhubungan dengan berbagai
pihak.
(1) Hubungan Guru dengan Peserta Didik:
1. Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tuga didik,
mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih,menilai, dan mengevaluasi
proses dan hasil pembelajaran.
2. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati dan
mengamalkan hak-hak dan kewajiban sebagai individu, warga sekolah, dan
anggota masyarakat
3. Guru mengetahui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara
individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.
4. Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya
untuk kepentingan proses kependidikan.
5. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus
berusaha menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah
yang menyenangkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi
peserta didik.
6. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih
sayang dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas
kaidah pendidikan.
7. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang
dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.

8. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk


membantu peserta didik dalam mengembangkan keseluruhan
kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.
9. Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali
merendahkan martabat peserta didiknya.
10.Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara
adil.
11.Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan
dan hak-hak peserta didiknya.
12.Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh
perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.
13.Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya
dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan
gangguan kesehatan, dan keamanan.
14.Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi serta didiknya untuk alasanalasan yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum,
kesehatan, dan kemanusiaan.
15.Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionallnya
kepada peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial,
kebudayaan, moral, dan agama.
16.Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan
peserta didiknya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

(2) Hubungan Guru dengan Orangtua/wali Siswa :


1. Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien
dengan Orangtua/Wali siswa dalam melaksannakan proses pedidikan.
2. Guru mrmberikan informasi kepada Orangtua/wali secara jujur dan objektif
mengenai perkembangan peserta didik.
3. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang
bukan orangtua/walinya.
4. Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpatisipasi
dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
5. Guru berkomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai
kondisi dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.

6. Guru menjunjunng tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasin


dengannya berkaitan dengan kesejahteraan kemajuan, dan cita-cita anak
atau anak-anak akan pendidikan.
7. Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan
orangtua/wali siswa untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

(3) Hubungan Guru dengan Masyarakat :


1. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif dan efisien
dengan masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan.
2. Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembnagkan dan
meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.
3. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat
4. Guru berkerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan
prestise dan martabat profesinya.
5. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan
masyarakat berperan aktif dalam pendidikan dan meningkatkan
kesejahteraan peserta didiknya
6. Guru memberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai
agama, hukum, moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan
masyarakat.
7. Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada
masyarakat.
8. Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupan
masyarakat.

(4) Hubungan Guru dengan seklolah


1. Guru memelihara dan meningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.
2. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam
melaksanakan proses pendidikan.
3. Guru menciptakan melaksanakan proses yang kondusif.
4. Guru menciptakan suasana kekeluargaan di dalam dan luar sekolah.
5. Guru menghormati rekan sejawat.
6. Guru saling membimbing antarsesama rekan sejawat

7. Guru menjunung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan kesejawatan


dengan standar dan kearifan profesional.
8. Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan juniornya untuk
tumbuh secara profesional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan
tuntutan profesionalitasnya.
9. Guru menerima otoritas kolega seniornya untuk mengekspresikan pendapatpendapat profesionalberkaitan dengan tugas-tugas pendidikan dan
pembelajaran
10.Guru membasiskan diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan
dalam setiap tindakan profesional dengan sejawat.
11.Guru memliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat
meningkatkan keefektifan pribadi sebagai guru dalam menjalankan tugastugas profesional pendidikan dan pembelajaran.
12.Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dari kaidahkaidah agama, moral, kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.
13.Guru tidak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyaan keliru berkaitan dengan
kualifikasi dan kompetensi sejawat atau calon sejawat.
14.Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan
merendahkan martabat pribadi dan profesional sejawatnya
15.Guru tidak boleh mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas
dasar pendapat siswa atau masyarakat yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarnya.
16.Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk
pertimbangan-pertimbangan yang dapat dilegalkan secara hukum.
17.Guru tidak boleh menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau
tidak langsung akan memunculkan konflik dengan sejawat.

(5) Hubungan Guru dengan Profesi :


1. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi
2. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan
dan bidang studi yang diajarkan
3. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya

4. Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam


menjalankan tugas-tugas profesionalnya dan bertanggungjawab atas
konsekuensiinya.
5. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif
individual, dan integritas dalam tindkan-tindakan profesional lainnya.
6. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan
merendahkan martabat profesionalnya.
7. Guru tidak boleh menerima janji, pemberian dan pujian yang dapat
mempengaruhi keputusan atau tindakan-tindakan proesionalnya
8. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari
tugas-tugas dan tanggungjawab yang muncul akibat kebijakan baru di bidang
pendidikan dan pembelajaran.

(6) Hubungan guru dengan Organisasi Profesinya :


1. Guru menjadi anggota aorganisasi profesi guru dan berperan serta secara
aktif dalam melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan
kependidikan.
2. Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang
memberikan manfaat bagi kepentingan kependidikan
3. Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat
informasi dan komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan
masyarakat.
4. Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam
menjalankan tugas-tugas organisasi profesi dan bertanggungjawab atas
konsekuensinya.
5. Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk
tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan
profesional lainnya.
6. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang
dapat merendahkan martabat dan eksistensis organisasi profesinya.
7. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk
memperoleh keuntungan pribadi dari organisasi profesinya.
8. Guru tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi
profesi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

(7) Hubungan Guru dengan Pemerintah :

1. Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan


bidang pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU Tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen, dan
ketentuan Perundang-Undang lainnya.
2. Guru membantu Program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan
berbudaya.
3. Guru berusaha menciptakan, memeliharadan meningkatkan rasa persatuan
dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan
pancasila dan UUD1945.
4. Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah
atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.
5. Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat
pada kerugian negara.

Pengembangan sikap profesional diperlukan untuk meningkatkan mutu, baik mutu profesional,
maupun mutu layanan. Sikap guru dalam berhubungan dengan berbagai pihak yang sudah
dijelaskan sebelumnya harus selalu dipupuk dan dikembangkan. Pengembangan sikap
profesiaonal ini dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun saat
bertugas/dalam jabatan.
1. Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan

Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang unik, guru selalu
menjadi panutan bagi siswanya dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Oleh sebab itu,
bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatannya selalu menjadi perhatian siswa dan
masyarakat.
Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja tetapi harus dibina sejak calon
guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan guru. Berbagai usaha dan latihan , contohcontoh aplikasi penerapan ilmu keterampilan dan bahkan sikap profesional dirancang dan
dilaksanakan selama calon guru berada dalam pendidikan prajabatan. Sering juga pembentukan
sikap dapat terjadi akibat hasil sampingan (by product) dari pengetahuan yang diperoleh calon
guru. Sikapbteliti dan disiplin, misalnya dapat terbentuk sebagai hasil sampingan dari hasil
belajar ilmu matematika yang benar selalu menuntut ketelitian dan kedisiplinan penggunaan
rumus dan aturan yang telah ditentukan.
Sementara itu tentu saja pembentukan sikap dapat diberikan dengan memberikan pengetahuan,
pemahaman, dan penghayatan khusus yang direncanakan, sebagai mana halnya mempelajari

Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang diberikan kepada seluruh siswa
sejak dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Pengembangan Sikap Selama Masa Jabatan
Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan
pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap
profesional keguruan dalam masa pengabdian. Pengembangan sikap bisa dilakukan dengan
kegiatan formal seperti: penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya. Sedangkan
kegiatan non formal bisa melalui sharing antar guru secara langsung atau melalui jejaring sosial,
menonton/mendengarkan/membaca acara di televisi, radio, majalah yang berkaitan dengan
profesi guru.

ORGANISASI PROFESI

Organisasi profesi adalah suatu organisasi yang baisanya bersifat nirlaba yang ditujukan untuk
suatu profesi tertentu dan bertujuan melindungi kepentingan publik dan atau anggotanya maupun
orang yang sudah profesional pada bidang tersebut. Beberapa contoh organisasi profesi :
1. PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)

PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal
bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB)
tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Fungsi dan Kewenangan PGRI
Pada tahun 2004, Presiden RI menyatakan guru sebagai sebuah profesi. Pada tahun 2005,
terbitlah Undang-Undang No. 14 tentang Guru dan Dosen. Sesuai amanat dalam UU tersebut,
PGRI sebagai organisasi profesi guru memiliki kewenangan (Pasal 42) , yaitu:
1. menetapkan dan menegakkan kode etik guru;
2. memberikan bantuan hukum kepada guru;
3. memberikan perlindungan profesi guru;
4. melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru,
5. memajukan pendidikan nasional.
2. ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia)

ISPI merupakan organisasi profesi di bidang pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya.
Bertujuan menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada pembangunan pendidikan Nasional secara
profesional agar lebih terarah, berhasil guna dan berdaya guna, melalui pengembangan dan
penerapan Ilmu Pendidikan untuk kemajuan dan kepentingan Bangsa dan Negara.
Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) merupakan organisasi profesi yang bersifat
pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. ISPI didirikan pada tanggal 17 Mei 1960 yang
berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia. ISPI memiliki tujuan untuk
menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada pembangunan pendidikan nasional secara
profesional agar lebih terarah, berhasil guna, dan berdaya guna melalui pembangunan dan
penerapan ilmu pendidikan untuk kemajuan dan kepentingan Bangsa dan Negara.

3. IPTPI (Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia)

Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan (IPTP) didirikan pada tanggal 27 September 1987.
Selanjutnya ikatan profesi ini disempurnakan pada Kongres I yang diadakan pada tanggal 15
Pebruari 1989, bertepatan dengan diselenggarakannya Temu Karya Nasional Teknologi
Pendidikan oleh Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan Aktivitas Instruksional. (PAU-PAI)
Universitas Terbuka bekerja sama dengan IPTP.
IPTPI menjalin kerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta, khususnya Jurusan Teknologi
Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pusat Sumber Belajar.
KESIMPULAN
Kode etik suatu profesi berupa norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi
didalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Sikap atau attitude
adalah cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Sikap profesional yang harus dimiliki guru
termuat di Kode Etik Guru Indonesia Bagian 2 Pasal 6 yang menjelaskan sikap guru dalam
berhubungan dengan berbagai pihak.
Sedangkan Organisasi profesi adalah suatu organisasi yang baisanya bersifat nirlaba yang
ditujukan untuk suatu profesi tertentu dan bertujuan melindungi kepentingan publik dan atau
anggotanya maupun orang yang sudah profesional pada bidang tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Rugaiyah, Atiek Sismiati. 2011. Profesi Kependidikan. Bogor: Ghalia Indonesia

http://www.pgri.or.id/tujuan/profil/tujuan/anggaran-dasar-tujuan-pgri diakses pada 20 Februari


2013
http://www.pgri.or.id/fungsi-dan-kewenangan-pgri/profil/fungsi-dan-kewenangan-pgri/fungsidan-kewenangan-pgri diakses pada 21 Februari 2013
http://tunas63.wordpress.com/2008/11/28/sejarah-singkat-lahir-pgri-persatuan-guru-republikindonesia/ diakses pada 21 Februari
http://ikadeksuartama.blogspot.com/2011/07/ikatan-profesi-teknlogi-pendidikan.html (diakses
pada : February 24, 2013)
http://www.ispi.or.id/2010/06/02/sejarah-ispi/

Kode Etik dan Profesional Guru


Kode Etik Dan Profesionalisme Guru
KODE
ETIK
DAN
PROFESIONALISME
GURU
1.
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Pendidik mempunyai dua arti, secara luas artinya ialah semua orang yang berkewajiban
membina anak-anak. Secara alamiah anak, sebelum mereka dewasa menerima pembinaan dari
orang-orang dewasa agar mereka dapat berkembang dan bertumbuh secara wajar. Orang-orang
yang berkewajiban membina anak-anak secara alamiah adalah orang tua masing-masing, warga
masyarakat,
dan
tokoh-tokohnya.
Sedangkan pendidik dalam arti sempit adalah seseorang yang disiapkan dengan sengaja untuk
menjadi guru dan dosen. Kedua pendidik ini diberi pelajaran tentang pendidikan dalam waktu
relative lama agar mereka menguasai ilmu itu dan terampil dalam melaksanakannya dalam
mengajar.
Seorang pendidik yang akan dibahas penulis disini adalah seorang guru. Dalam penyusunan
makalah ini akan dibahas lebih jelas tentang pengertian kode etik dan profesionalisme guru,
macam-macam
kode
etik
guru,
dan
aspek
profesionalisme
guru.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
Setelah mengetahui latar belakang penulisan makalah ini diatas, terdapat beberapa masalah yang
harus
dibahas
lebih
jelas,
antara
lain
sebagai
berikut:
1.2.1
Apa
pengertian
dari
kode
etik
dan
profesionalisme
guru?
1.2.2
Apa
saja
kode
etik
guru
?
1.2.3
Apa
saja
aspek
profesionalisme
guru?
1.3
TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulisan makalah ini bertujuan sebagai berikut:
1.3.1
Mengetahui
pengertian
kode
etik
dan
profesionalisme
guru
1.3.2
Mengetahui
macam-macam
kode
etik
guru
1.3.3
Mengetahui
aspek
profesionalesme
guru

KODE
ETIK
DAN
PROFESIONALISME
GURU
2.1
Pengertian
Kode
Etik
dan
Profesionalisme
Guru
Istilah kode etik itu terdiri dari dua kata, yakni kode dan etik. Kata etik berasal dari bahasa
Yunani, ethos yang berarti watak, adab, atau cara hidup. Sehingga etik dapat diartikan
menunjukkan cara berbuat yang menjadi adat, karena persetujuan dari kelompok manusia.
Istilah kode ialah sistem nilai-nilai yang biasanya dikaji oleh etik itu sendiri, maka terwujud apa
yang disebut kode etik itu. Secara harfiah, kode etik berarti sumber etik. Sedangkan etika artinya
tata susila atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
Dapat disimpulkan bahwa istilah kode etik guru ialah sebagai aturan tata susila keguruan.
Menurut Westby Gibson, kode etik guru dikatakan sebagai suatu statemen formal yang
merupakan norma (aturan tata susila) dalam mengatur tingkah laku guru.
Sedangkan istilah profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan
yang ingin atau akan ditekuni noleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau
pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan ketrampilan khusus yang diperoleh dari
pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989). Profesi adalah suatu pekerjaan jabatan yang
menuntut keahlian tertentu, artinya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat
dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui npendidikan dan pelatihan
secara khusus. Sedangkan profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Jadi,
profesionalisme guru adalah merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian
dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan
seseorang
yang
menjadi
mata
pencaharian.
Profesionalisme
guru
mempunyai
makna
penting,
yaitu:
a. profesionalisme guru memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat
umum
b. profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang
selama
ini
dianggap
oleh
sebagian
masyarakat
c. profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang
memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan
kompetensinya.
2.2
Kode
Etik
Guru
Guru sebagai tenaga professional perlu memilki kode etik guru dan menjadikannya sebagai
pedoman yang mengatur pekerjaan guru selama dalam pengabdian. Kode etik guru ini
merupakan ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru. Bila guru telah melakukan
perbuatan asusila amoral berarti guru telah melanggar kode etik guru, sebab kode etik guru ini
sebagai salah satu cirri yang harus ada pada profesi guru itu sendiri.
Mengenai kode etik guru, penulis membahas guru di Negara Indonesia. Berikut ini akan
dikemukakan kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal
21-25
November
1973
di
Jakarta.
Antara
lain
sebagai
berikut:
a. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan
yang
ber-Pancasila.
b. Guru memiliki kejuruan professional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak
didik
masing-masing.
c. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik,
tetapi
menghindarkan
diri
dari
segala
bentuk
penyalahgunaan.
d. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua

anak
didik
sebaik-baiknya
bagi
kepentingan
anak
didik.
e. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat
yang
lebih
luas
untuk
kepentingan
pendidikan.
f. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu
profesinya.
g. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru, baik berdasarkan
lingkungan
kerja
maupun
dalam
hubungan
keseluruhan.
h. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi
guru
professional
sebagai
sarana
pengabdiannya.
i. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan.
Kode etik guru ini merupakan suatu yang harus dilaksanakan sebagai barometer dari semua sikap
dan perbuatan guru dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam keluarga, sekolah maupun
masyarakat. Hampir semua guru telah menaati peraturan perundang-undangan dan kedinasan,
akan tetapi masih banyak yang mengembangkan profesinya secara kontinu dan ikut memelihara
serta
memajukan
mutu
organisasi
profesi.
2.3
Aspek
Profesionalisme
Guru
Guru profesional adalah guru yang mengenal dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang
dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk atau dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu
terus menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan
peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama
peserta didik bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya. Sikap yang harus
senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan
meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tidak mungkin
tahan dan bangga menjadi guru, padahal hal itu adalah langkah menjadi guru yang professional.
Guru yang professional pada intinya adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan
untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, membedah aspek
profesionalisme guru berarti mengkaji kompetensi yang harus dimiliki seorang guru.
Menurut
Soedijarto
kemampuan
professional
guru
meliputi:
a.
Merancang
dan
merencanakan
program
pembelajaran
b.
Mengembangkan
program
pembelajaran
c.
Mengelola
pelaksanaan
program
pembelajaran
d.
Menilai
proses
dan
hasil
pembelajaran
e. Mendiagnosis factor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran.
Untuk dapat dikuasainya lima kemampuan professional tersebut diperlukan pengetahuan dasar
dan pengetahuan professional, seperti pengetahuan tentang; perkembangan dan karakteristik
peserta didik; disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran; konteks social, budaya,
politik, dan ekonomi tempat sekolah beroperasi; tujuan pendidikan; teori belajar, baik umum
maupun khusus; teknologi pendidikan yang meliputi model belajar dan mengajar; dan sistem
evaluasi
proses
dan
hasil
belajar
(Soedijarto,
2005).
Dari sumber lain, kemampuan dasar profesionalisme guru antara lain sebagai berikut:
a.
Menguasai
bahan
Menguasai
bahan
mata
pelajaran
dan
kurikulum
sekolah
Menguasai
bahan
pendalaman
atau
aplikasi
pelajaran
b.
Mengelola
program
belajar
mengajar

Merumuskan
tujuan
instruksional
Mengenal
dan
dapat
menggunakan
metode
mengajar
Memilih
dan
menyusun
prosedur
instruksional
yang
tepat
Melaksanakan
program
belajar
mengajar
Mengenal
kemampuan
anak
didik
Merenanakan
dan
melaksanakan
pengajaran
remedial
c.
Mengelola
kelas
Mengatur
tata
ruang
kelas
untuk
pengajaran
Menciptakan
iklim
belajar
mengajar
yang
serasi
d.
Menggunakan
media
sumber
Mengenal,
memilih,
dan
menggunakan
media
Membuat
alat-alat
bantu
pelajaran
sederhana
Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar
Mengembangkan
laboratorium
Menggunakan
perpustakaan
dalam
proses
belajar
mengajar
e.
Menguasai
landasan
kependidikan
f.
Mengelola
interaksi
belajar
mengajar
g.
Menilai
prestasi
siswa
untuk
kepentingan
pengajaran
h.
Mengenal
fungsi
dan
program
pelayanan
BK
Menyelenggarakan
program
layanan
BK
di
sekolah
i.
Mengenal
dan
menyelenggarakan
administrasi
sekolah
Mengenal
penyelenggaraan
administrasi
sekolah
Menyelenggarakan
administrasi
sekolah
j. Memahami prinsip-prinsip dan mentafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan
pengajaran
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
3.1.1
Pengertian
Kode
Etik
Dan
Profesionalisme
Guru
kode etik guru ialah sebagai aturan tata susila keguruan. Menurut Westby Gibson, kode etik guru
dikatakan sebagai suatu statemen formal yang merupakan norma (aturan tata susila) dalam
mengatur
tingkah
laku
guru.
, profesionalisme guru adalah merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian
dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan
seseorang
yang
menjadi
mata
pencaharian.
3.1.2
Kode
Etik
Guru
Kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal 21-25
November
1973
di
Jakarta.
Antara
lain
sebagai
berikut:
j. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan
yang
ber-Pancasila.
k. Guru memiliki kejuruan professional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak
didik
masing-masing.
l. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik,

tetapi
menghindarkan
diri
dari
segala
bentuk
penyalahgunaan.
m. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua
anak
didik
sebaik-baiknya
bagi
kepentingan
anak
didik.
n. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat
yang
lebih
luas
untuk
kepentingan
pendidikan.
o. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu
profesinya.
p. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru, baik berdasarkan
lingkungan
kerja
maupun
dalam
hubungan
keseluruhan.
q. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi
guru
professional
sebagai
sarana
pengabdiannya.
r. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan.
3.1.3
Aspek
Profesionalisme
Guru
Dari sumber lain, kemampuan dasar profesionalisme guru antara lain sebagai berikut:
a.
Menguasai
bahan
b.
Mengelola
program
belajar
mengajar
c.
Mengelola
kelas
d.
Menggunakan
media
sumber
e. Memahami prinsip-prinsip dan mentafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan
pengajaran
f.
Mengenal
dan
menyelenggarakan
administrasi
sekolah
g.
Menguasai
landasan
kependidikan
h.
Mengelola
interaksi
belajar
mengajar
i.
Menilai
prestasi
siswa
untuk
kepentingan
pengajaran
j.
Mengenal
fungsi
dan
program
pelayanan
BK

DAFTAR
PUSTAKA
Kunandar. 2008. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses Dalam sertifikasi Guru .
Jakarta:
PT
RajaGrafindo
Persada
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT RENIKA CIPTA

BAB 1
PENDAHULUAN

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menetapkan kode etik guru pada 2013. Kode
etik tersebut akan mengikat dan mempertegas guru sebagai profesi. Ketua Umum Pengurus
Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo mengatakan,kode etik ini akan
berlaku seperti dokter yang mempunyai satu naungan organisasi profesi yakni Ikatan Dokter
Indonesia (IDI). Sedangkan guru sesuai UU Guru dan Dosen No 14/2005 mempunyai PGRI
untuk membuat kode etik tersebut. Sulistiyo menjelaskan, kode etik tersebut akan mengatur
hubungan guru dan siswa,guru dan orang tua/wali murid,guru dan masyarakat, guru dan sekolah
dan rekan sejawat,profesi dan guru dengan organisasi profesi,serta aturan antara guru dan
pemerintah.
Untuk kode etik guru dengan peserta didik, guru tidak membuka rahasia siswanya.
Sedangkan kode etik guru dengan orang tua seperti tidak boleh mencari keuntungan pribadi
dengan orang tua/wali.Selanjutnya kode etik dengan masyarakat yaitu guru harus peka terhadap
perubahan yang terjadi di masyarakat. Sementara hubungannya dengan sekolah dan rekan
sejawat yakni guru memiliki beban moral untuk bekerja profesional dan tidak mengeluarkan
penyataan keliru terkait kualifikasi dan kompetensi sejawat.
Sedangkan antara guru dan profesinya yakni guru tidak menerima janji, pemberian dan
pujian yang dapat memengaruhi profesinya. Sedangkan kode etik guru dengan pemerintah
seperti guru tidak akan menghindar dari kewajiban yang dibebankan pemerintah untuk kemajuan
pendidikan. Pada Januari 2013 kode etik guru Indonesia segera diterapkan. Bersamaan dengan
itu dibentuk dewan kehormatan guru untuk mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan
memberikan rekomendasi pemberian sanksi atas pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh
guru.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengapresiasi dan
mendukung kode etik guru. Dengan begitu, para guru akan memiliki norma yang jelas dalam
menjalankan semua tugas-tugasnya sebagai tenaga pendidik.Kode etik guru itu sangat positif

dan memang diperlukan,imbuhnya. Selain itu, Nuh juga mendorong upaya PGRI untuk menjadi
sebuah organisasi profesi. Kami mendukung dan kami akan bekerja sama dengan PGRI,kata
dia. Anggota Komisi X DPR Raihan Iskandar berpendapat, kode etik ini merupakan langkah
yang bagus untuk merealisasikan guru sebagai profesi sesuai UU Guru dan Dosen.Selain itu,
kode etik ini juga akan mempertegas batasan guru sebagai profesi dan aparatur negara yang
mudah sekali rancu apabila ada tugas yang tidak sesuai profesi yang dibebankan pemerintah.
A. Latar Belakang.
Kode Etik Guru Indonesia (KEGI) mulai diberlakukan Januari 2013. KEGI sangat
berkaitan dengan mutu guru dan mutu pendidikan di Indonesia. Guru perlu ada kode etik yang
menjadi rambu-rambu profesi sama halnya dengan profesi lainnya seperti jurnalis atau dokter
yang memiliki kode etik.
Guru mempunyai kedudukan sebagai Guru Sebagai Profesiatau tenaga profesional.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mendefinisikan bahwa
profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi
standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Sebagai tenaga
profesional, guru dituntut untuk selalu mengembangkan diri sejalan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni. Sebagai suatu profesi, guru memerlukan kode etik.
Kode Etik Guru Indonesia yang telah disepakati Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, memiliki relevansi, sesuai kompentensi pedagogik dan profesional seorang guru
karena di dalamnya juga mengatur hubungan antara guru, peserta didik, orangtua, masyarakat,
teman sejawat, serta organisasi profesi lain maupun profesinya sendiri.
Saat ini sudah dibentuk Dewan Kehormatan Guru di seluruh kabupaten dan kota di
Indonesia yang akan menerima laporan atas pelanggaran KEGI yang dilakukan guru. Untuk itu,
semua guru tanpa kecuali harus mentaati kode etik ini dan jika dalam melaksanakan profesinya
terbukti menyalahi kode etik, maka akan dijatuhi sanksi tegas sebagaimana diatur dalam Kode
Etik Guru Indonesia.
Beberapa suplemen Kode Etik Guru Indonesia (KEGI), diantaranya :

semua pelanggaran guru yang berhubungan dengan profesi guru (di/dalam kelas, lingkungan
sekolah, yang masih ada hubungan dengan/berkaitan dengan hubungan guru-murid murid-

guru, proses berlajar-mengajar, serta hal-hal yang bisa dikategorikan sebagaihubungan gurunurid murid-guru), maka harus dilaporkan ke ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia
(DKGI)

perselisihan antara masyarakat dengan guru terkait profesi guru, maka harus dilaporkan ke
ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI).

jika kesalahan/pelanggaran yang dilakukan guru tak berhubungan dengan profesi guru,
misalnya narkoba, pembunuhan, hingga teroris, atau pelanggaran hukum lainnya, maka polisi
langsung memproses tanpa melewati DKGI; DKGI kabupaten kota.

Selanjutnya, DKGI menjalankan proses penegakan kode etik hingga tahap persidangan; hasil
dari persidangan, bisa berujung pemberian sanksi, sanksi administrasi, kepegawaian, hukum
pidana; masing-masing sanksi (kategori ringan, sedang, berat), ditetapkan berdasar keputusan
DKGI.

Jika putusan sidang di Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI ) menjatuhkan vonis atau pun
sanksi, yang nyata-nyata melanggar hukum (yang berlaku di NKRI), maka diserahkan ke pihak
kepolisian; guru juga memiliki hak banding atas putusan tersebut.
Dengan adanya Kode Etik Guru Indonesia, masyarakat tidak perlu merasa khawatir lagi
menjadi bola permainan beberapa guru seperti sering terjadi selama ini. Meski pemerintah sudah
mengeluarkan larangan bagi guru-guru untuk berjualan buku kepada murid-muridnya, namun
dengan berbagai dalih dan cara, mereka tetap saja memaksa murid-murid membeli buku yang
mereka tunjuk, yang merupakan hasil kerjasamanya dengan penerbit tertentu. Murid tidak diberi
kesempatan untuk menggunakan buku lain, sehingga seolah ilmu dari buku tersebut saja yang
paling bermutu. Dan untuk mempertahankan pangsa pasarnya pada tahun berikutnya, maka
buku-buku tersebut sudah tidak bisa dipakai oleh kelas berikutnya.
Model pemerasan lainnya guru membuka les privat bagi murid-muridnya, meski hal ini
juga sudah ada larangannya. Namun, karena para orang tua takut kalau terjadi apa-apa pada
anaknya jika tidak mengikuti les tersebut, maka dengan terpaksa mengikutkan anaknya les
tersebut.
Disisi lain, Kode Etik Guru Indonesia ini memberi payung hukum bagi guru dalam
pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, sehingga masyarakat dan pihak-pihak lain

tidak dapat semena-mena menghakimi guru jika ada permasalahan yang menyangkut profesi
guru.
B. Tujuan
Peenyusunan makalah ini bertujuan :

Dapat mengetahui Penerapan Kode Etik pada Profesi Guru

Mengetahui bagaimana profesionalisme seorang guru mentaati kode etik guru

C. Rumusan Masalah

Apa arti kode etik guru yang sebenarnya

Bagai mana menerapkan kode etik guru

D. Batasan masalah
Pembahasan makalah ini hanya terbatas pada Penerapan Kode Etik pada Profesi Guru

BAB II
PENERAPAN KODE ETIK PADA PROFESI
A. Pengertian Profesi
Profesi berasal dari bahasa latin "Proffesio" yang mempunyai dua pengertian yaitu
janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan
"apa saja" dan "siapa saja" untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keah-lian
tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan
keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan
baik.
Menurut Dedi Supriadi 1999 profesi guru adalah orang suatu pelayanan atau jabatan yang
menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan.
Abin syamsudin 2000. Mengatakan profesi guru yaitu kemampuan yang tidak dimiliki
rang pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan tingkat tinggi
Galbreath, J. 1999 profesi guru adalah orang yang Bekerja atas panggilan hati nurani.
Dalam melaksanakan tugas pengabdian pada masyarakat hendaknya didasari atas dorongan atau
panggilan hati nurani. Sehingga guru akan merasa senang dalam melaksanakan tugas berat
mencerdakan anak didik.
B. Pengertian Profesional
Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan
atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) mengemukakan
bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih
merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya
memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
Arifin (2000) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan
mempunyai; (1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi
dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21; (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset
dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan
konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat

ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat
Indonesia; (3) pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi guru
merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan
praktek pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya
program pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen
pendidikan yang lemah.
Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk
melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21 yaitu;
1. Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang;
2. Penguasaan ilmu yang kuat;
3. Keterampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi; dan
4. Pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan
satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut
mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.
C. Kode Etik Guru Indonesia
Kode etik
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional.
Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan
dan apa yang harus dihindari.Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya
kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak
profesional. Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang
telah bersatu dengan pikiran, jiwa dan perilaku tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk
dari masing-masing orang bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga profesional merasa
bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi adalah dia
sendiri.
Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat perkembangan zaman maka
kode etik mungkin menjadi usang atau sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya kode
etik tentang euthanasia (mati atas kehendak sendiri), dahulu belum tercantum dalam kode etik
kedokteran kini sudah dicantumkan.
Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode
etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kde etik
tidak diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum.

Sebagai contoh untuk Ikatan Dokter Indonesia terdapat Kode Etik Kedokteran. Bila seorang
dokter dianggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik
Kedokteran Indonesia, bukannya oleh pengadilan.
Kode etik adalah pernyataan cita-cita dan peraturan pelaksanaan pekerjaan (yang
membedakannya dari murni pribadi) yang merupakan panduan yang dilaksanakan oleh anggota
kelompok. Kode etik yang hidup dapat dikatakan sebagai ciri utama keberadaan sebuah profesi.
Sifat dan orientasi kode etik hendaknya singkat; sederhana, jelas dan konsisten; masuk akal,
dapat diterima, praktis dan dapat dilaksanakan; komprehensif dan lengkap; dan positif dalam
formulasinya. Orientasi kode etik hendaknya ditujukan kepada rekan, profesi, badan,
nasabah/pemakai, negara dan masyarakat. Kode etik diciptakan untuk manfaat masyarakat dan
bersifat di atas sifat ketamakan penghasilan, kekuasaan dan status. Etika yang berhubungan dengan
nasabah hendaknya jelas menyatakan kesetiaan pada badan yang mempekerjakan profesional.
Kode etik sebagai bimbingan praktisi. Dan hendaknya diungkapkan sedemikian rupa
sehingga publik dapat memahami isi kode etik tersebut. Dengan demikian masyarakat memahami
fungsi kemasyarakatan dari profesi tersebut. Juga sifat utama profesi perlu disusun terlebih dahulu
sebelum membuat kode etik. Kode etik hendaknya cocok untuk kerja keras
Sebuah kode etik menunjukkan penerimaan profesi atas tanggung jawab dan kepercayaan
masyarakat yang telah memberikannya
Rumusan Kode Etik Guru Indonesia
Kode Etik Guru Indonesia ini merupakan hasil rumusan Konferensi Pusat Persatuan
Guru Republik Indonesia (PGRI). Meskipun banyak organisasi profesi guru tetapi berdasarkan
pengalaman pada banyak jenis profesi dan negara, Kode Etik profesi sejenis bersifat tunggal.
Ada 7 kode etik yang harus dipatuhi, yaitu yang mengatur hubungan guru dengan peserta
didik, orangtua/walimurid, masyarakat, sekolah dan rekan sejawat, profesi, organisasi profesi dan
pemerintah. Tiap-tiap pokok hubungan itu tertuang dalam beberapa butir sebagai berikut:
1. Hubungan Guru dengan Peserta Didik:
a.
Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
b. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak dan
c.

kewajibannya sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.


Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masingmasingnya berhak atas layanan pembelajaran.

d.

Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan meng-gunakannya untuk kepentingan

proses kependidikan.
e. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus harus berusaha menciptakan,
memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai lingkungan
belajaryang efektif dan efisien bagi peserta didik.
f. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan
menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.
g. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gang-guan yang dapat mempengaruhi
perkembangan negatif bagi peserta didik.
h. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik
dalam mengembangkan keselu-ruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.
i.
Guru
menjunjung
tinggi
harga
diri,
integritas,
dan
tidak
sekali-kali
merendahkan martabat peserta didiknya.
j. Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
k. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta
l.

didiknya.
Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi

pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.


m. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisikondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.
n. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada
o.

kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.


Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profe-sionalnya kepada peserta didik

dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.
p. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta didiknya
untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
2.
a.

Hubungan Guru dengan Orangtua/Wali Siswa:


Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien dengan orangtua/wali

b.

siswa dalam melaksanakan proses pendidikan.


Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif mengenai

c.

perkembangan peserta didik.


Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan

d.

orangtua/walinya.
Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpartisipasi dalam memajukan

e.

dan meningkatkan kualitas pendidikan


Guru bekomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai kondisi dan kemajuan

f.

peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.


Guru menjunjung tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasi denganya berkaitan

g.

dengan kesejahteraan, kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak akan pendidikan.
Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan orangtua/wali siswa
untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

3. Hubungan Guru dengan Masyarakat:


a. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif, dan efisien dengan
b.

masyarakat untuk memajukan dan mengem-bangkan pendidikan.


Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan

kualitas pendidikan dan pembelajaran.


c. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
d. Guru bekerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan prestise dan martabat
profesinya.
e. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan masyarakat berperan aktif
f.

dalam pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan peserta didiknya.


Guru mememberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum,

moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan masyarakat.


g. Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada masyarakat.
h. Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Hubungan Guru dengan Sekolah dan Rekan Sejawat:
a. Guru memelihara dan meningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.
b. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses
c.
d.
e.
f.
g.

pendidikan.
Guru menciptakan suasana sekolah yang kondusif.
Guru menciptakan suasana kekeluargaan di dalam dan luar sekolah.
Guru menghormati rekan sejawat.
Guru saling membimbing antar sesama rekan sejawat.
Guru menjunjung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan kesejawatan dengan standardan

h.

kearifan profesional.
Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan junior-nya untuk tumbuh secara

profesional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan tuntutan profesionalitasnya.
i.
Guru
menerima
otoritas
kolega
seniornya
untuk
mengekspresikan
pendapat-pendapat

profesional

berkaitan

dengan

tugas-tugas

pendidikan dan pembelajaran.


j. Guru membasiskan-diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan dalam setiaptindakan
k.

profesional dengan sejawat.


Guru memiliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat meningkatkan keefektifan

pribadi sebagai guru dalam menjalan-kan tugas-tugas profesional pendidikan dan pembelajaran.
l. Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dari kaidah-kaidah agama,
moral, kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.
m. Guru tidak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyataan keliru berkaitan dengan kualifikasi dan
n.

kompetensi sejawat atau calon sejawat.


Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan penda-pat yang akan merendahkan

marabat pribadi dan profesional sejawatnya.


o. Guru tidak boleh mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas dasar pendapat
p.

siswa atau masyarakat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.


Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk pertimbangan-pertimbangan

yang dapat dilegalkan secara hukum.


q. Guru tidak boleh menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau tidak langsung akan
memunculkan konflik dengan sejawat.
5. Hubungan Guru dengan Profesi:
a. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi.
b. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan bidang studi yang
diajarkan.
c. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya.
d. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas
e.

profesional dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.


Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggung jawab, inisiatif individual, dan

integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.


f. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan
martabat profesionalnya.
g. Guru tidak boleh menerima janji, pemberian, dan pujian yang dapat mempengaruhi keputusan
atau tindakan-tindakan profesionalnya.
h. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari tugas-tugas dan
tanggungjawab yang muncul akibat kebijakan baru di bidang pendidikan dan pembelajaran.
6. Hubungan Guru dengan Organisasi Profesinya:
a. Guru menjadi anggota organisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif dalam
b.

melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.


Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang memberikan manfaat bagi

c.

kepentingan kependidikan.
Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat informasi dan
komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan masyarakat.

d.

Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas

organisasi profesi dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.


e. Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif
individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.
f. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan
g.

martabat dan eksistensi organisasi profesinya.


Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan

pribadi dari organisasi profesinya.


h. Guru tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa alasan
yang dapat dipertanggung jawabkan.
7. Hubungan Guru dengan Pemerintah:
a. Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang pendidikan
sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU Tentang Sistem Pendidikan Nasional, UndangUndang Tentang Guru dan Dosen, dan ketentuan perundang-undangan lainnya.
b. Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang berbudaya.
c. Guru berusaha menciptakan, memelihara dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam
kehidupan berbangsa dan berne-gara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
d. Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah atau satuan
e.

pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.


Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat pada kerugian
negara.
D. Penerapan Kode Etik pada Profesi Guru
Guru dalam menjalani profesinya sebagai guru perlu mematuhi dan mempelajari Kode
Etik Guru Indonesia.
Etika Profesi Pendidikan, menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia
pendidikan yang memerlukan adanya etika. Kata etika berasal dari bahasa Yunani ethos
bermakna adat kebiasaan, etika terkait dengan tingkah laku manusia mana yang baik dan buruk
sesuai dengan akal pikiran. Etika juga lazim disebut akhlaq yang menentukan batas antara
baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela. Sedangkan profesi merupakan kelompok
lapangan kerja khusus dan dalam melaksanakan kegiatan memerlukan ketrampilan dan keahlian
tinggi guna memenuhi kebutuhan manusia.. Profesi hanya dapat dicapai dengan dimilikinya
penguasaan pengetahuan dan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan

sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan
oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.
Profesi mensyaratkan adanya pengetahuan formal, maka hal ini menunjukkan adanya
hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan. Lembaga pendidikan ini merupakan lembaga
yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional.
Mencermati kode etik guru yang mengatur hubungan antara guru dan murid, dapat kita
lihat sebagai berikut :
Hubungan Guru dengan Peserta Didik:
a.

Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar,

b.

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak dan

c.

kewajibannya sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.


Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masing-

d.

masingnya berhak atas layanan pembelajaran.


Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan meng-gunakannya untuk kepentingan

e.

proses kependidikan.
Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus harus berusaha
menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai

f.

lingkungan belajaryang efektif dan efisien bagi peserta didik.


Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan

g.

menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.
Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gang-guan yang dapat mempengaruhi

h.

perkembangan negatif bagi peserta didik.


Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik

i.

dalam mengembangkan keselu-ruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.


Guru
menjunjung
tinggi
harga
diri,
integritas,
dan
tidak
sekali-kali

j.
k.

merendahkan martabat peserta didiknya.


Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta

l.

didiknya.
Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi

m.

pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.


Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-

n.

kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.
Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada

o.

kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.


Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya kepada peserta didik

p.

dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.
Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta didiknya
untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
Pengaturan mengenai hubungan guru- peserta didik (murid) dalam kode etik guru adalah
hal yang seharusnya dominan dan utama, karena sebenarnya kode etik itu dibuat untuk
memperjelas relasi guru-murid, sehingga tidak sampai terjadi pelanggaran etika profesi guru.
Tetapi bila kita mencermati bunyi kode etik di atas, terasa belum jelas aturan mengenai relasi
guru dengan murid. Banyak poin-poin dalam kode etik itu yang tidak dapat terukur dengan jelas.
Instrumen yang digunakan untuk menilai pelaksanaan tiap butir kode etik guru itu juga masih
tidak jelas. Ketidakjelasan relasi guru dengan murid dan stakeholder lain itu akan menyulitkan
pelaksanaan UU Guru. Sebab, beberapa pasal RUU Guru, termasuk dasar pemberian sanksi
administratif, mengacu kode etik guru
Bila rumusan kode etiknya tidak begitu jelas, bagaimana Dewan Kehormatan Guru (Pasal
3032 RUU Guru) dapat bekerja dengan baik, padahal salah satu tugas Dewan Kehormatan Guru
memberi saran dan pertimbangan dalam rangka pelaksanaan tugas profesional dan Kode Etik
Guru Indonesia.
Berbeda misalnya kode etik yang menyangkut hubungan guru dengan murid itu berbunyi:

Guru tidak boleh memberi les privat kepada muridnya;

Guru tidak boleh menjual buku pelajaran atau benda-benda lain kepada murid;

Guru tidak boleh berpacaran dengan murid;

Guru tidak boleh merokok di depan kelas/murid;

Guru tidak boleh melakukan intimidasi, teror, dan tindak kekerasan kepada murid,

Guru tidak boleh melakukan penistaan terhadap murid;

Guru tidak boleh ber-HP ria di dalam kelas, dan sebagainya

Yang menjadi masalah bagi kalangan pendidikan bukanlah belum adanya kode etik guru,
melainkan sudah sejauh mana guru-guru di negeri ini mempelajari, memahami, dan
mengaplikasikan kode etik guru tersebut, baik dalam mendidik anak bangsa ataupun dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga, guru betul-betul menjadi suri teladan bagi seluruh komponen
bangsa di mana pun berada.
Peranan tim asesor dalam menilai kinerja guru sangat menentukan keberhasilan
implementasi kode etik guru ini bagi pelaksanaan pembelajaran. Menurut PP No. 19 Tahun
2005 akan jelas bahwa untuk menjadi seorang tenaga pendidik yang profesional tidaklah mudah,
mereka harus benar-benar teruji dan memenuhi persyaratan. Sebagai tenaga profesional,
seharusnya setiap guru benar-benar menghayati dan mengamalkan Kode Etik Guru Indonesia.

E. Kesimpulan
Dengan adanya kode etik guru, maka akan ada majelis kehormatan yang akan mengawal
pelaksanaan kode etik tersebut. Jika ada guru yang melanggar kode etiknya, maka dewan
kehormatan ini yang akan memberi sangsi kepada guru yang melanggar.
Dari pihak guru sendiri, pengakuan bahwa pekerjaan guru merupakan sebuah profesi
akan memiliki beberapa arti. Pertama, dengan diakui sebagai sebuah profesi tentu akan
meningkatkan pendapatan mereka, sehingga mereka tidak perlu mencari sumber penghasilan lain
untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya. Dengan demikian mereka lebih memiliki waktu
dan biaya untuk pengembangan keahliannya. Kedua, pengakuan tadi juga akan meningkatkan
prestise pekerjaan guru.
F. Saran
Yang perlu diatur dalam kode etik guru adalah apa yang boleh dan tidak boleh atau pantas
dan tidak pantas dilakukan seorang guru. Indikator "boleh-tidak boleh dan pantas-tidak pantas"
suatu tindakan harus jelas agar memberi arah jelas untuk bertindak atau menilai apakah seorang
guru melanggar kode etik atau tidak. Bila indikator "boleh-tidak boleh atau pantas-tidak pantas"
itu tidak jelas, baik bagi guru maupun orang lain, sulit untuk menilai apakah guru itu melanggar
kode etik atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA
Keneth AS , Jonas ES. 2007. Etika Profesi Kependidikan. Yogyakarta: Universitas Sandha.
Supriadi, D. 1998. Manajemen dan Kepemimpinan. Jakarta: Depdikbud.
Surya, H.M. 1998. Organisasi dan Profesi. No. 7/1998. Hlm. 15-17.
http://makalahfrofesikependidikan.blogspot.com/2010/07/penerapan-kode-etik-pada-profesiguru.html
http://lenterakecil.com/kode-etik-guru-indonesia-kegi-2013/
Tilaar, H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad
21. Magelang: Indonesia Tera.

BAB 1
PENDAHULUAN

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menetapkan kode etik guru pada 2013. Kode
etik tersebut akan mengikat dan mempertegas guru sebagai profesi. Ketua Umum Pengurus
Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo mengatakan,kode etik ini akan
berlaku seperti dokter yang mempunyai satu naungan organisasi profesi yakni Ikatan Dokter
Indonesia (IDI). Sedangkan guru sesuai UU Guru dan Dosen No 14/2005 mempunyai PGRI
untuk membuat kode etik tersebut. Sulistiyo menjelaskan, kode etik tersebut akan mengatur
hubungan guru dan siswa,guru dan orang tua/wali murid,guru dan masyarakat, guru dan sekolah
dan rekan sejawat,profesi dan guru dengan organisasi profesi,serta aturan antara guru dan
pemerintah.
Untuk kode etik guru dengan peserta didik, guru tidak membuka rahasia siswanya.
Sedangkan kode etik guru dengan orang tua seperti tidak boleh mencari keuntungan pribadi
dengan orang tua/wali.Selanjutnya kode etik dengan masyarakat yaitu guru harus peka terhadap
perubahan yang terjadi di masyarakat. Sementara hubungannya dengan sekolah dan rekan
sejawat yakni guru memiliki beban moral untuk bekerja profesional dan tidak mengeluarkan
penyataan keliru terkait kualifikasi dan kompetensi sejawat.
Sedangkan antara guru dan profesinya yakni guru tidak menerima janji, pemberian dan
pujian yang dapat memengaruhi profesinya. Sedangkan kode etik guru dengan pemerintah
seperti guru tidak akan menghindar dari kewajiban yang dibebankan pemerintah untuk kemajuan
pendidikan. Pada Januari 2013 kode etik guru Indonesia segera diterapkan. Bersamaan dengan
itu dibentuk dewan kehormatan guru untuk mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan

memberikan rekomendasi pemberian sanksi atas pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh
guru.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengapresiasi dan
mendukung kode etik guru. Dengan begitu, para guru akan memiliki norma yang jelas dalam
menjalankan semua tugas-tugasnya sebagai tenaga pendidik.Kode etik guru itu sangat positif
dan memang diperlukan,imbuhnya. Selain itu, Nuh juga mendorong upaya PGRI untuk menjadi
sebuah organisasi profesi. Kami mendukung dan kami akan bekerja sama dengan PGRI,kata
dia. Anggota Komisi X DPR Raihan Iskandar berpendapat, kode etik ini merupakan langkah
yang bagus untuk merealisasikan guru sebagai profesi sesuai UU Guru dan Dosen.Selain itu,
kode etik ini juga akan mempertegas batasan guru sebagai profesi dan aparatur negara yang
mudah sekali rancu apabila ada tugas yang tidak sesuai profesi yang dibebankan pemerintah.
B. Latar Belakang.
Kode Etik Guru Indonesia (KEGI) mulai diberlakukan Januari 2013. KEGI sangat
berkaitan dengan mutu guru dan mutu pendidikan di Indonesia. Guru perlu ada kode etik yang
menjadi rambu-rambu profesi sama halnya dengan profesi lainnya seperti jurnalis atau dokter
yang memiliki kode etik.
Guru mempunyai kedudukan sebagai Guru Sebagai Profesiatau tenaga profesional.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mendefinisikan bahwa
profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi
standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Sebagai tenaga
profesional, guru dituntut untuk selalu mengembangkan diri sejalan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni. Sebagai suatu profesi, guru memerlukan kode etik.
Kode Etik Guru Indonesia yang telah disepakati Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, memiliki relevansi, sesuai kompentensi pedagogik dan profesional seorang guru
karena di dalamnya juga mengatur hubungan antara guru, peserta didik, orangtua, masyarakat,
teman sejawat, serta organisasi profesi lain maupun profesinya sendiri.
Saat ini sudah dibentuk Dewan Kehormatan Guru di seluruh kabupaten dan kota di
Indonesia yang akan menerima laporan atas pelanggaran KEGI yang dilakukan guru. Untuk itu,
semua guru tanpa kecuali harus mentaati kode etik ini dan jika dalam melaksanakan profesinya

terbukti menyalahi kode etik, maka akan dijatuhi sanksi tegas sebagaimana diatur dalam Kode
Etik Guru Indonesia.
Beberapa suplemen Kode Etik Guru Indonesia (KEGI), diantaranya :

semua pelanggaran guru yang berhubungan dengan profesi guru (di/dalam kelas, lingkungan
sekolah, yang masih ada hubungan dengan/berkaitan dengan hubungan guru-murid muridguru, proses berlajar-mengajar, serta hal-hal yang bisa dikategorikan sebagaihubungan gurunurid murid-guru), maka harus dilaporkan ke ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia
(DKGI)

perselisihan antara masyarakat dengan guru terkait profesi guru, maka harus dilaporkan ke
ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI).

jika kesalahan/pelanggaran yang dilakukan guru tak berhubungan dengan profesi guru,
misalnya narkoba, pembunuhan, hingga teroris, atau pelanggaran hukum lainnya, maka polisi
langsung memproses tanpa melewati DKGI; DKGI kabupaten kota.

Selanjutnya, DKGI menjalankan proses penegakan kode etik hingga tahap persidangan; hasil
dari persidangan, bisa berujung pemberian sanksi, sanksi administrasi, kepegawaian, hukum
pidana; masing-masing sanksi (kategori ringan, sedang, berat), ditetapkan berdasar keputusan
DKGI.

Jika putusan sidang di Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI ) menjatuhkan vonis atau pun
sanksi, yang nyata-nyata melanggar hukum (yang berlaku di NKRI), maka diserahkan ke pihak
kepolisian; guru juga memiliki hak banding atas putusan tersebut.
Dengan adanya Kode Etik Guru Indonesia, masyarakat tidak perlu merasa khawatir lagi
menjadi bola permainan beberapa guru seperti sering terjadi selama ini. Meski pemerintah sudah
mengeluarkan larangan bagi guru-guru untuk berjualan buku kepada murid-muridnya, namun
dengan berbagai dalih dan cara, mereka tetap saja memaksa murid-murid membeli buku yang
mereka tunjuk, yang merupakan hasil kerjasamanya dengan penerbit tertentu. Murid tidak diberi
kesempatan untuk menggunakan buku lain, sehingga seolah ilmu dari buku tersebut saja yang
paling bermutu. Dan untuk mempertahankan pangsa pasarnya pada tahun berikutnya, maka
buku-buku tersebut sudah tidak bisa dipakai oleh kelas berikutnya.
Model pemerasan lainnya guru membuka les privat bagi murid-muridnya, meski hal ini
juga sudah ada larangannya. Namun, karena para orang tua takut kalau terjadi apa-apa pada

anaknya jika tidak mengikuti les tersebut, maka dengan terpaksa mengikutkan anaknya les
tersebut.
Disisi lain, Kode Etik Guru Indonesia ini memberi payung hukum bagi guru dalam
pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, sehingga masyarakat dan pihak-pihak lain
tidak dapat semena-mena menghakimi guru jika ada permasalahan yang menyangkut profesi
guru.
B. Tujuan
Peenyusunan makalah ini bertujuan :

Dapat mengetahui Penerapan Kode Etik pada Profesi Guru

Mengetahui bagaimana profesionalisme seorang guru mentaati kode etik guru

C. Rumusan Masalah

Apa arti kode etik guru yang sebenarnya

Bagai mana menerapkan kode etik guru

D. Batasan masalah
Pembahasan makalah ini hanya terbatas pada Penerapan Kode Etik pada Profesi Guru

BAB II
PENERAPAN KODE ETIK PADA PROFESI
A. Pengertian Profesi
Profesi berasal dari bahasa latin "Proffesio" yang mempunyai dua pengertian yaitu
janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan
"apa saja" dan "siapa saja" untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keah-lian
tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan
keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan
baik.
Menurut Dedi Supriadi 1999 profesi guru adalah orang suatu pelayanan atau jabatan yang
menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan.
Abin syamsudin 2000. Mengatakan profesi guru yaitu kemampuan yang tidak dimiliki
rang pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan tingkat tinggi
Galbreath, J. 1999 profesi guru adalah orang yang Bekerja atas panggilan hati nurani.
Dalam melaksanakan tugas pengabdian pada masyarakat hendaknya didasari atas dorongan atau
panggilan hati nurani. Sehingga guru akan merasa senang dalam melaksanakan tugas berat
mencerdakan anak didik.
B. Pengertian Profesional
Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan
atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) mengemukakan
bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih
merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya
memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
Arifin (2000) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan
mempunyai; (1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi
dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21; (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset
dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan
konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat

ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat
Indonesia; (3) pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi guru
merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan
praktek pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya
program pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen
pendidikan yang lemah.
Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk
melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21 yaitu;
5. Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang;
6. Penguasaan ilmu yang kuat;
7. Keterampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi; dan
8. Pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan
satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut
mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.
C. Kode Etik Guru Indonesia
Kode etik
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional.
Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan
dan apa yang harus dihindari.Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya
kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak
profesional. Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang
telah bersatu dengan pikiran, jiwa dan perilaku tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk
dari masing-masing orang bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga profesional merasa
bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi adalah dia
sendiri.
Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat perkembangan zaman maka
kode etik mungkin menjadi usang atau sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya kode
etik tentang euthanasia (mati atas kehendak sendiri), dahulu belum tercantum dalam kode etik
kedokteran kini sudah dicantumkan.
Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode
etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kde etik
tidak diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum.

Sebagai contoh untuk Ikatan Dokter Indonesia terdapat Kode Etik Kedokteran. Bila seorang
dokter dianggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik
Kedokteran Indonesia, bukannya oleh pengadilan.
Kode etik adalah pernyataan cita-cita dan peraturan pelaksanaan pekerjaan (yang
membedakannya dari murni pribadi) yang merupakan panduan yang dilaksanakan oleh anggota
kelompok. Kode etik yang hidup dapat dikatakan sebagai ciri utama keberadaan sebuah profesi.
Sifat dan orientasi kode etik hendaknya singkat; sederhana, jelas dan konsisten; masuk akal,
dapat diterima, praktis dan dapat dilaksanakan; komprehensif dan lengkap; dan positif dalam
formulasinya. Orientasi kode etik hendaknya ditujukan kepada rekan, profesi, badan,
nasabah/pemakai, negara dan masyarakat. Kode etik diciptakan untuk manfaat masyarakat dan
bersifat di atas sifat ketamakan penghasilan, kekuasaan dan status. Etika yang berhubungan dengan
nasabah hendaknya jelas menyatakan kesetiaan pada badan yang mempekerjakan profesional.
Kode etik sebagai bimbingan praktisi. Dan hendaknya diungkapkan sedemikian rupa
sehingga publik dapat memahami isi kode etik tersebut. Dengan demikian masyarakat memahami
fungsi kemasyarakatan dari profesi tersebut. Juga sifat utama profesi perlu disusun terlebih dahulu
sebelum membuat kode etik. Kode etik hendaknya cocok untuk kerja keras
Sebuah kode etik menunjukkan penerimaan profesi atas tanggung jawab dan kepercayaan
masyarakat yang telah memberikannya
Rumusan Kode Etik Guru Indonesia
Kode Etik Guru Indonesia ini merupakan hasil rumusan Konferensi Pusat Persatuan
Guru Republik Indonesia (PGRI). Meskipun banyak organisasi profesi guru tetapi berdasarkan
pengalaman pada banyak jenis profesi dan negara, Kode Etik profesi sejenis bersifat tunggal.
Ada 7 kode etik yang harus dipatuhi, yaitu yang mengatur hubungan guru dengan peserta
didik, orangtua/walimurid, masyarakat, sekolah dan rekan sejawat, profesi, organisasi profesi dan
pemerintah. Tiap-tiap pokok hubungan itu tertuang dalam beberapa butir sebagai berikut:
8. Hubungan Guru dengan Peserta Didik:
q. Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
r. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak dan
s.

kewajibannya sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.


Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masingmasingnya berhak atas layanan pembelajaran.

t.

Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan meng-gunakannya untuk kepentingan

proses kependidikan.
u. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus harus berusaha menciptakan,
memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai lingkungan
belajaryang efektif dan efisien bagi peserta didik.
v. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan
menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.
w. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gang-guan yang dapat mempengaruhi
perkembangan negatif bagi peserta didik.
x. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik
dalam mengembangkan keselu-ruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.
y.
Guru
menjunjung
tinggi
harga
diri,
integritas,
dan
tidak
sekali-kali
merendahkan martabat peserta didiknya.
z. Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
aa. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta
didiknya.
bb. Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi
pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.
cc. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisikondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.
dd. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada
kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.
ee. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profe-sionalnya kepada peserta didik
dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.
ff. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta didiknya
untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
9.
h.

Hubungan Guru dengan Orangtua/Wali Siswa:


Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien dengan orangtua/wali

i.

siswa dalam melaksanakan proses pendidikan.


Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif mengenai

j.

perkembangan peserta didik.


Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan

k.

orangtua/walinya.
Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpartisipasi dalam memajukan

l.

dan meningkatkan kualitas pendidikan


Guru bekomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai kondisi dan kemajuan

peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.


m. Guru menjunjung tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasi denganya berkaitan
n.

dengan kesejahteraan, kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak akan pendidikan.
Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan orangtua/wali siswa
untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

10. Hubungan Guru dengan Masyarakat:


i. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif, dan efisien dengan masyarakat
j.

untuk memajukan dan mengem-bangkan pendidikan.


Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan

kualitas pendidikan dan pembelajaran.


k. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
l. Guru bekerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan prestise dan martabat
profesinya.
m. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan masyarakat berperan aktif
n.

dalam pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan peserta didiknya.


Guru mememberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum,

moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan masyarakat.


o. Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada masyarakat.
p. Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupan bermasyarakat.
11. Hubungan Guru dengan Sekolah dan Rekan Sejawat:
r. Guru memelihara dan meningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.
s. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses
t.
u.
v.
w.
x.

pendidikan.
Guru menciptakan suasana sekolah yang kondusif.
Guru menciptakan suasana kekeluargaan di dalam dan luar sekolah.
Guru menghormati rekan sejawat.
Guru saling membimbing antar sesama rekan sejawat.
Guru menjunjung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan kesejawatan dengan standardan

y.

kearifan profesional.
Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan junior-nya untuk tumbuh secara

profesional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan tuntutan profesionalitasnya.
z.
Guru
menerima
otoritas
kolega
seniornya
untuk
mengekspresikan
pendapat-pendapat

profesional

berkaitan

dengan

tugas-tugas

pendidikan dan pembelajaran.


aa. Guru membasiskan-diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan dalam setiaptindakan
profesional dengan sejawat.
bb. Guru memiliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat meningkatkan keefektifan

pribadi sebagai guru dalam menjalan-kan tugas-tugas profesional pendidikan dan pembelajaran.
cc. Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dari kaidah-kaidah agama,
moral, kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.
dd. Guru tidak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyataan keliru berkaitan dengan kualifikasi dan
kompetensi sejawat atau calon sejawat.
ee. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan penda-pat yang akan merendahkan
marabat pribadi dan profesional sejawatnya.
ff. Guru tidak boleh mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas dasar pendapat
siswa atau masyarakat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
gg. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk pertimbangan-pertimbangan
yang dapat dilegalkan secara hukum.
hh. Guru tidak boleh menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau tidak langsung akan
memunculkan konflik dengan sejawat.
12. Hubungan Guru dengan Profesi:
i. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi.
j. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan bidang studi yang
diajarkan.
k. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya.
l. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas
profesional dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.
m. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggung jawab, inisiatif individual, dan
integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.
n. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan
martabat profesionalnya.
o. Guru tidak boleh menerima janji, pemberian, dan pujian yang dapat mempengaruhi keputusan
atau tindakan-tindakan profesionalnya.
p. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari tugas-tugas dan
tanggungjawab yang muncul akibat kebijakan baru di bidang pendidikan dan pembelajaran.
13. Hubungan Guru dengan Organisasi Profesinya:
i.
Guru menjadi anggota organisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif dalam
j.

melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.


Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang memberikan manfaat bagi

k.

kepentingan kependidikan.
Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat informasi dan
komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan masyarakat.

l.

Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas

organisasi profesi dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.


m. Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif
individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.
n. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan
o.

martabat dan eksistensi organisasi profesinya.


Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan

pribadi dari organisasi profesinya.


p. Guru tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa alasan
yang dapat dipertanggung jawabkan.
14. Hubungan Guru dengan Pemerintah:
f. Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang pendidikan
sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU Tentang Sistem Pendidikan Nasional, UndangUndang Tentang Guru dan Dosen, dan ketentuan perundang-undangan lainnya.
g. Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang berbudaya.
h. Guru berusaha menciptakan, memelihara dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam
kehidupan berbangsa dan berne-gara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
i.
Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah atau satuan
j.

pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.


Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat pada kerugian
negara.
D. Penerapan Kode Etik pada Profesi Guru
Guru dalam menjalani profesinya sebagai guru perlu mematuhi dan mempelajari Kode
Etik Guru Indonesia.
Etika Profesi Pendidikan, menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia
pendidikan yang memerlukan adanya etika. Kata etika berasal dari bahasa Yunani ethos
bermakna adat kebiasaan, etika terkait dengan tingkah laku manusia mana yang baik dan buruk
sesuai dengan akal pikiran. Etika juga lazim disebut akhlaq yang menentukan batas antara
baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela. Sedangkan profesi merupakan kelompok
lapangan kerja khusus dan dalam melaksanakan kegiatan memerlukan ketrampilan dan keahlian
tinggi guna memenuhi kebutuhan manusia.. Profesi hanya dapat dicapai dengan dimilikinya
penguasaan pengetahuan dan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan

sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan
oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.
Profesi mensyaratkan adanya pengetahuan formal, maka hal ini menunjukkan adanya
hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan. Lembaga pendidikan ini merupakan lembaga
yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional.
Mencermati kode etik guru yang mengatur hubungan antara guru dan murid, dapat kita
lihat sebagai berikut :
Hubungan Guru dengan Peserta Didik:
a.

Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar,

b.

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak dan

c.

kewajibannya sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.


Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masing-

d.

masingnya berhak atas layanan pembelajaran.


Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan meng-gunakannya untuk kepentingan

e.

proses kependidikan.
Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus harus berusaha
menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai

f.

lingkungan belajaryang efektif dan efisien bagi peserta didik.


Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan

g.

menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.
Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gang-guan yang dapat mempengaruhi

h.

perkembangan negatif bagi peserta didik.


Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik

i.

dalam mengembangkan keselu-ruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.


Guru
menjunjung
tinggi
harga
diri,
integritas,
dan
tidak
sekali-kali

j.
k.

merendahkan martabat peserta didiknya.


Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta

l.

didiknya.
Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi

m.

pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.


Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-

n.

kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.
Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada

o.

kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.


Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya kepada peserta didik

p.

dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.
Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta didiknya
untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
Pengaturan mengenai hubungan guru- peserta didik (murid) dalam kode etik guru adalah
hal yang seharusnya dominan dan utama, karena sebenarnya kode etik itu dibuat untuk
memperjelas relasi guru-murid, sehingga tidak sampai terjadi pelanggaran etika profesi guru.
Tetapi bila kita mencermati bunyi kode etik di atas, terasa belum jelas aturan mengenai relasi
guru dengan murid. Banyak poin-poin dalam kode etik itu yang tidak dapat terukur dengan jelas.
Instrumen yang digunakan untuk menilai pelaksanaan tiap butir kode etik guru itu juga masih
tidak jelas. Ketidakjelasan relasi guru dengan murid dan stakeholder lain itu akan menyulitkan
pelaksanaan UU Guru. Sebab, beberapa pasal RUU Guru, termasuk dasar pemberian sanksi
administratif, mengacu kode etik guru
Bila rumusan kode etiknya tidak begitu jelas, bagaimana Dewan Kehormatan Guru (Pasal
3032 RUU Guru) dapat bekerja dengan baik, padahal salah satu tugas Dewan Kehormatan Guru
memberi saran dan pertimbangan dalam rangka pelaksanaan tugas profesional dan Kode Etik
Guru Indonesia.
Berbeda misalnya kode etik yang menyangkut hubungan guru dengan murid itu berbunyi:

Guru tidak boleh memberi les privat kepada muridnya;

Guru tidak boleh menjual buku pelajaran atau benda-benda lain kepada murid;

Guru tidak boleh berpacaran dengan murid;

Guru tidak boleh merokok di depan kelas/murid;

Guru tidak boleh melakukan intimidasi, teror, dan tindak kekerasan kepada murid,

Guru tidak boleh melakukan penistaan terhadap murid;

Guru tidak boleh ber-HP ria di dalam kelas, dan sebagainya

Yang menjadi masalah bagi kalangan pendidikan bukanlah belum adanya kode etik guru,
melainkan sudah sejauh mana guru-guru di negeri ini mempelajari, memahami, dan
mengaplikasikan kode etik guru tersebut, baik dalam mendidik anak bangsa ataupun dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga, guru betul-betul menjadi suri teladan bagi seluruh komponen
bangsa di mana pun berada.
Peranan tim asesor dalam menilai kinerja guru sangat menentukan keberhasilan
implementasi kode etik guru ini bagi pelaksanaan pembelajaran. Menurut PP No. 19 Tahun
2005 akan jelas bahwa untuk menjadi seorang tenaga pendidik yang profesional tidaklah mudah,
mereka harus benar-benar teruji dan memenuhi persyaratan. Sebagai tenaga profesional,
seharusnya setiap guru benar-benar menghayati dan mengamalkan Kode Etik Guru Indonesia.

E. Kesimpulan
Dengan adanya kode etik guru, maka akan ada majelis kehormatan yang akan mengawal
pelaksanaan kode etik tersebut. Jika ada guru yang melanggar kode etiknya, maka dewan
kehormatan ini yang akan memberi sangsi kepada guru yang melanggar.
Dari pihak guru sendiri, pengakuan bahwa pekerjaan guru merupakan sebuah profesi
akan memiliki beberapa arti. Pertama, dengan diakui sebagai sebuah profesi tentu akan
meningkatkan pendapatan mereka, sehingga mereka tidak perlu mencari sumber penghasilan lain
untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya. Dengan demikian mereka lebih memiliki waktu
dan biaya untuk pengembangan keahliannya. Kedua, pengakuan tadi juga akan meningkatkan
prestise pekerjaan guru.
F. Saran
Yang perlu diatur dalam kode etik guru adalah apa yang boleh dan tidak boleh atau pantas
dan tidak pantas dilakukan seorang guru. Indikator "boleh-tidak boleh dan pantas-tidak pantas"
suatu tindakan harus jelas agar memberi arah jelas untuk bertindak atau menilai apakah seorang
guru melanggar kode etik atau tidak. Bila indikator "boleh-tidak boleh atau pantas-tidak pantas"
itu tidak jelas, baik bagi guru maupun orang lain, sulit untuk menilai apakah guru itu melanggar
kode etik atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA
Keneth AS , Jonas ES. 2007. Etika Profesi Kependidikan. Yogyakarta: Universitas Sandha.
Supriadi, D. 1998. Manajemen dan Kepemimpinan. Jakarta: Depdikbud.
Surya, H.M. 1998. Organisasi dan Profesi. No. 7/1998. Hlm. 15-17.
http://makalahfrofesikependidikan.blogspot.com/2010/07/penerapan-kode-etik-pada-profesiguru.html
http://lenterakecil.com/kode-etik-guru-indonesia-kegi-2013/
Tilaar, H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad
21. Magelang: Indonesia Tera.