Anda di halaman 1dari 36

BAB I

STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. N

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Tanggal Lahir

: 22-05-1986

Usia

: 29 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Minang

Pendidikan Terakhir

: SMP

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Alamat Rumah

: Jln. Kramat Pulo, Jakarta Pusat

Tanggal masuk RS

: 28 Desember 2015

RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis dilakukan pada hari Senin, 11 Januari 2016.
Alloanamnesis dengan kakak pasien (Tn.R) pada hari Senin, 11 Januari 2016.
A. Keluhan Utama
Pasien marah-marah memukuli orang tua dan kakaknya.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien merupakan rujukan dari Rumah Sakit Jiwa Grogol yang diantar
oleh keluarganya ke Paviliun Amino RSPAD Gatot Soebroto dikarenakan
ruang rawat penuh dan ini kali pertama pasien dirawat di RSPAD. Pasien
datang dengan keluhan marah-marah dan memukuli orang tua dan kakaknya
sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, menurut keterangan keluarga, pasien
marah-marah dikarenakan tidak mau meminum obat. Pasien sudah tidak
minum obat rutin selama 2 bulan terakhir. Pasien lebih sering menyendiri di
kamar, jarang bersosialisasi dan berbicara sendiri dengan kata-kata yang tidak
1

jelas, pasien juga sering tertawa sendiri. Pasien menjadi sering marah-marah
dan melawan terhadap kakak-kakaknya. Pasien sudah tidak bekerja semenjak
dirinya didiagnosis gangguan jiwa dan di rawat di RSJ Grogol tahun 2006.
Sebelumnya pasien pernah bekerja sebagai cleaning service dan membuat
susu kedelai.
Menurut keterangan kakak pasien, dua bulan yang lalu pasien sempat
ingin bunuh diri dengan minum air karbol, pasien sampai mengeluarkan busa
dari mulutnya. Menurut pasien dia melakukan hal tersebut karena ada yang
menyuruhnya melakukan hal tersebut, pasien melihat orang itu seperti
kuntilanak laki-laki orang Belanda yang bernama Jager yang tingginya sekitar
5 meter, Jager tinggal di kamar pasien dan suka tidur di goa, menurut pasien
Jager merupakan teman si Pitung dan dia selalu berusaha menyuruh pasien
mati karena dianggap tukang bikin ulah dikamar dan pasien ketakutan dengan
hal tersebut lalu mengikuti perintah Jager. Sebelumnya pasien juga pernah
mencoba bunuh diri dengan menusukkan pisau ke bagian lehernya, pasien
mengamuk di pasar dan dicegah oleh orang-orang banyak. Menurut
keterangan pasien dirinya melakukan hal tersebut karena merasa ada yang
mengejar-mengejar dirinya seperti pocong yang membuat dirinya ketakutan
dan tidak tahan lagi sehingga dia marah-marah dan mencoba bunuh diri.
Dari autoanamnesa, didapatkan alasan mengapa pasien sering marahmarah di rumah karena dia mengikuti saran dari suara yang didengar oleh
pasien, menurut pasien suara yang didengar tersebut adalah suara Ilham,
Ilham yang dianggap seperti teman dan mirip dengan adiknya yang telah
meninggal. Pasien sering mendengar suara Ilham, Ilham sering memberi
petunjuk-petunjuk kepada pasien untuk melakukan sesuatu, dan juga
mengatakan mana orang yang baik mana orang yang jahat, pasien mengatakan
tidak senang dengan orang jahat. Menurut pasien hanya dia sendiri dan
bapaknya yang dapat melihat Ilham, menurut pengakuan pasien sosok Ilham
seperti burung rajawali yang memiliki sayap dan memiliki paruh sampai ke
tanah. Pasien juga mengatakan dirinya adalah seekor kerbau yang memiliki
tanduk kecil yang bisa diliat orang lain jika memejamkan mata sekedip.
2

Menurut keterangan pasien dia memukul kakaknya karena mendengar


saran dari Ilham yang mengatakan keluarganya sudah tidak peduli dengannya
karena sering bikin masalah dan pasien yakin kakaknya ingin membunuh
pasien karena dianggap tidak berguna, Ilham juga mengatakan bahwa kakak
pasien sudah menyiapkan golok untuk menggorok pasien, pasien mengatakan
mencoba membela diri dan memukul kakaknya duluan.
Ketika ditanya alasan kenapa berada di rumah sakit, pasien tahu dirinya
sakit, pasien mengatakan dirinya sakit karena dikerjai orang-orang yang tidak
menyukainya, pasien mengatakan bahwa ia dibawa ke rumah sakit oleh kakak
laki-lakinya yang bernama Tn.R dan juga Tn.T serta ibu pasien karena marahmarah dan tidak mau minum obat. Menurut pasien jika seorang kakak
kandung tidak akan memperlakukannya seperti binatang, karena menurut
pasien sebelum dia masuk rumah sakit kepala dan badannya di pegangi dan di
pukul oleh kakak-kakaknya seperti orang hendak memotong sapi, menurut
pasien seharusnya kakak kandung akan menyayangi dan memeluk adiknya,
bukan memperlakukan secara kasar.
Pasien mengaku menjadi seperti sekarang karena frustasi, setiap kerja
yang dia lakukan tidak pernah dihargai dan selalu dianggap salah, dia selalu
diremehkan oleh kakaknya dan lingkungan sekitarnya dan tidak pernah
dihargai seperti manusia. Pasien mengatakan dia hanya mau sedikit dihormati
dan dihargai sebagai manusia. Pasien memukuli kakaknya dan marahmarah
karena tidak tahan dengan perlakuan orang-orang disekitarnya di tambah lagi
karena pasien mendapat saran dari suara yang didengarnya untuk menusuk
kakaknya karena dia mendengar dirinya akan di bunuh oleh keluarganya
karena keluarganya dianggap dipengaruhi oleh orang jahat. Pasien juga
mengatakan sering main dan tidur di pasar juga lapangan didekat rumahnya.
Pasien sering makan buah sisa orang berjualan di pasar, dan ketika mengajak
ibu-ibu di pasar mengobrol dia juga sering dipukuli oleh orang-orang di pasar.
Menurut kakak pasien, pasien mulai mengalami perubahan perilaku sejak
tahun 2004, ketika berumur sekitar 17 tahun, pasien ingin menjadi seperti
ayahnya yang mempunyai keahlian khusus bisa menyembuhkan orang, namun
3

pasien tidak tahu bagaimana caranya dan tidak ada bimbingan dari keluarga
karena ayah pasien memiliki kemampuan tersebut secara autodidak. Pasien
tiga hari tiga malam tidak tidur dan gelisah, pasien juga menempel berbagai
macam jimat di dinding kamar tidurnya. Kakak pasien juga mengatakan
sewaktu lulus SD pasien ingin melanjutkan sekolahnya ke pesantren, namun
dikarenakan masalah biaya pasien hanya dapat lanjut ke SMP, hal ini
membuat pasien sangat kecewa dan membuat pasien sering tidak masuk
sekolah, sehingga pasien hanya sekolah sampai kelas dua SMP. Pasien ingin
melanjutkan sekolah di Pesantren karena ingin belajar ilmu yang dapat
mengobati orang seperti Ayah pasien.
Dalam keluarga pasien, orang yang memiliki keahlian khusus untuk bisa
mengobati orang adalah hal yang lumrah, maka ketikapasien memiliki
perubahan perilaku dan juga dapat menebak nomor togel selalu tepat keluarga
menganggap hal itu adalah hal yang biasa, perubahan perilaku menjadi makin
memburuk sejak adik laki-laki pasien meninggal karena sakit HIV pada tahun
2006, pasien lebih sering mengurung diri di kamarnya dan sering terlihat
berbicara sendiri. Menurut keluarga, pasien memiliki hubungan yang sangat
dekat dengan adiknya, keduanya sering berkunjung ke tempat habib di Masjid
dekat rumahnya untuk menuntut ilmu dan selalu pergi berdua kemana-mana.
Puncak terjadinya perubahan perilaku pasien adalah ketika pasien secara
tiba-tiba menusuk kakaknya dengan gunting sebanyak tiga kali pada tahun
2006, sehingga kakaknya harus dioperasi karena luka yang tembus ke rongga
dada. Pasien akhirnya diamankan dan juga dipukuli oleh kakaknya yang
paling tua karena emosi melihat tindakan pasien. Pasien kemudian dibawa ke
Rumah Sakit Jiwa Grogol dan di rawat selama 2 minggu. Pasien sudah keluar
masuk perawatan di Rumah sakit jiwa Grogol sejak tahun 2006 sebanyak 4
kali, namun pasien tidak mau kontrol rutin dan tidak minum obat sejak dua
bulan SMRS.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Gangguan Psikiatri

Pasien telah memiliki riwayat gangguan jiwa sejak usia 19 tahun dengan
diagnosa skizofrenia, pasien sering keluar masuk perawatan di Rumah Sakit
Jiwa Grogol. Menurut keterangan keluarga pasien sudah pernah 4 kali di
rawat sejak tahun 2006. Gejala muncul pertama kali saat pasien berusia 17
tahun (tahun 2004). Pasien suka berbicara sendiri di kamarnya dan suka
menempel jimat di dinding kamarnya, pasien memiliki kenginan bisa
menyembuhkan orang seperti ayahnya tapi tidak kesampaian tapi tidak
disadari dan dianggap biasa oleh keluarga.
Pada tahun 2006, adik laki-laki pasien meninggal karena HIV, pasien
sangat

dekat

dengan

adiknya

dan

merasa

sangat

kehilangan

dan

mengakibatkan perilaku pasien menjadi semakin berubah, pasien lebih suka


menyendiri di dalam kamar, berbicara sendiri dengan suara yang tidak jelas,
dan mulai bertingkah aneh, sampai puncaknya pasien menusuk kakaknya
dengan gunting sebanyak 3 kali (tahun 2006) hingga kakaknya di operasi,
menurut keterangan pasien dia mendengar suara yang menyuruhnya untuk
menusuk kakaknya karena dari suara yang didengarnya tersebut mengatakan
bahwa kakak-kakaknya akan membunuh dirinya karena dianggap tidak
berguna dan selalu membuat masalah. Pasien dibawa keluarga ke rumah sakit
dan sempat mendapat perawatan di RS Grogol selama kurang lebih 2 minggu.
1 tahun yang lalu pasien sempat mencoba untuk bunuh diri dengan
menusukkan pisau ke bagian lehernya, pasien mengamuk di pasar dan dicegah
oleh orang-orang banyak. Menurut keterangan pasien dirinya melakukan hal
tersebut karena merasa ada yang mengejar-mengejar dirinya seperti setan
pocong yang membuat dirinya ketakutan dan tidak tahan lagi sehingga dia
marah-marah dan mencoba bunuh diri. Pasien lalu di rawat kembali di RSJ
Grogol untuk dilakukan perawatan.

2 bulan yang lalu pasien juga sempat ingin bunuh diri lagi dengan
meminum karbol, menurut pasien dirinya disuruh oleh orang Belanda seperti
kuntilanak laki-laki orang yang bernama Jager yang tingginya sekitar 5 meter,
5

Jager tinggal di kamar pasien dan suka tidur di goa, menurut pasien Jager
merupakan teman si Pitung dan dia selalu berusaha menyuruh pasien mati
karena dianggap tukang bikin ulah dikamar dan dia ketakutan dengan hal
tersebut.
Semenjak 2 bulan yang lalu pasien tidak mau meminum obat lagi dan
selalu harus di paksa oleh keluarga, sehingga pasien sering marah-marah dan
memukuli kakaknya dan orang disekitarnya. Menurut pasien, dirinya tidak
mau minum obat karena mengirit minum obat karena untuk mengambil obat
kontrol ke RS Grogol dia membutuhkan uang yang banyak untuk transportasi.
Karena pasien marah-marah keluarga memutuskan membawa pasien ke rumah
sakit untuk dilakukan perawatan kembali.
2. Gangguan Medik
Pasien tidak pernah memiliki riwayat trauma kepala, tidak pernah
kejang, tidak pernah demam tinggi, tidak pernah mengalami penyakitpenyakit berat yang membutuhkan perawatan sebelumnya.
3. Penggunaan Zat Psikoaktif
Dari hasil autoanamnesa, pasien mengaku sewaktu kecil sering
dicekoki oleh teman main dan preman disekitar lingkungan rumahnya untuk
minum alkohol dan juga di paksa untuk mencoba pil lexotan. Namun pasien
tidak menyukai hal tersebut dan tidak mau mengkonsumsi alkohol dan obatobatan terlarang. Pasien menyangkal menggunakan narkoba, pasien
mengatakan tidak suka konsumsi obat-obatan terlarang karena adik pasien
meninggal karena HIV. Pasien merupakan perokok aktif sejak SMP, pasien
mengaku mulai merokok sejak berhenti sekolah.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Perkembangan Fisik dan Kepribadian
Periode Prenatal dan Perinatal

Dari hasil alloanamnesa didapatkan bahwa selama kehamilan, ibu


pasien tidak pernah mengalami masalah kesehatan yang serius, tidak
mengalami muntah yang berlebihan, tidak mengonsumi alkohol maupun
obat-obatan secara bebas. Ibu pasien rutin memeriksakan kandungannya
ke bidan. Pasien lahir cukup bulan, spontan dan langsung menangis, tidak
ada cacat bawaan. Pasien lahir dengan bantuan bidan dengan berat badan
normal (3,2 kilogram), panjang 50 cm.
Periode Anak Awal (Lahir sampai usia 3 tahun)
Menurut kakak pasien, tumbuh kembang pasien normal seperti
anak-anak seusianya. Pasien diberikan ASI oleh ibunya sampai usia 4
bulan. Pasien dapat berjalan dan berbicara saat usia 1 tahun. Pasien
mendapatkan imunisasi secara lengkap, pasien tidak pernah mengalami
demam tinggi disertai kejang. Pasien termasuk anak yang aktif. Pasien
dirawat oleh keluarganya sendiri, pasien adalah anak yang ceria, cukup
dekat dengan keluarga. Dari hasil autoanamnesa, pasien mengatakan sejak
usia 3 tahun pasien pindah dari padang dan merantau ke Jakarta. Menurut
kakak pasien, orang tua pasien menyayangi semua anaknya dengan sama
rata. Hubungan pasien dengan bapak ibunya baik. Hubungan pasien
dengan saudarasaudaranya baik, pasien paling dekat dengan adik lakilakinya.
Periode Kanak-kanak Menengah (Usia 3 sampai 11 tahun)
Dari hasil alloanamnesis, pasien memulai jenjang pendidikan
langsung dari Sekolah Dasar (SD) pada usia 6 tahun. Di sekolah, pasien
adalah siswa yang rajin dan pintar selalu masuk 10 besar dan sering
diikutkan lomba matematika. Sejak sekolah, pasien hanya memiliki 4
teman dekat yang bernama, Firman, Enoy, Dado, dan Iman, mereka sering
berkunjung ke rumah pasien. Menurut kakak pasien, pasien tidak terlalu
punya banyak teman dan tidak terlalu pandai bergaul. Pasien bercita-cita
menjadi seorang penulis dan ilmuan penemu. Pasien dulu juga suka
menulis dan melukis kaligrafi.
Periode Remaja Awal (Pubertas hingga dewasa)
7

Setelah SD pasien melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah


Pertama (SMP) menurut keluarga pasien pasien menginginkan untuk
masuk pesantren setelah lulus SD namun karena keterbatasan biaya pasien
akhirnya masuk ke SMP, hal ini membuat pasien kecewa dan pasien jadi
malas-malasan sekolah dan sering keluar dari sekolah sehingga pasien
hanya sekolah sampai kelas 2 SMP dan tidak melanjutkan pendidikan
sampai SMA. Karena tidak bersekolah lagi pasien berkeliaran kemanamana dan sering main ke pasar. Pasien juga mengatakan sering
diremehkan oleh orang-orang disekitarnya. Pasien juga mengatakan mulai
merokok sejak SMP, merokok filter. Sejak sekolah pasien tidak memiliki
banyak teman. Sejak SMP, pasien bercita-cita ingin menjadi penulis dan
ilmuan, namun dari segi finansial tidak mendukung. Pasien tidak pernah
melakukan tindakan pelanggaran hukum maupun berurusan dengan pihak
berwajib. Pasien mulai mengalami perubahan sikap ketika adik pasien
yang sangat dekat dengan pasien meninggal saat usia pasien 19 tahun,
ditambah lagi frustasi dengan perlakuan dari kakak dan orang-orang
disekitar pasien yang tidak pernah menghargai dan selalu meremehkan dan
memukuli pasien. Setelah mengalami gangguan jiwa, pasien kadang
marah-marah, suka berbicara sendiri, dan juga pemalas.
2. Riwayat Pendidikan
Pasien mengenyam pendidikan di SD kebon melati Tanah Abang sampai
kelas 4 SD, lalu pindah ke SD Bendungan 5 sampai kelas 6, karena keluarganya
pindah rumah karena diusir. Pasien masuk SMP di Mtsn 9 di Johar. Pasien hanya
sekolah sampai kelas 2 SMP karena pasien tidak mau masuk SMP, pasien ingin
masuk pesantren namun tidak bisa karena keterbatasan biaya yang menyebabkan
pasien sangat kecewa dan malas-malasan masuk sekolah.
3. Riwayat Pekerjaan
Dari hasil alloanamnesa, pasien pernah bekerja sebagai cleaning service di
rental A Car selama 3 bulan, pasien keluar dari pekerjaannya karena sepupunya
yang bekerja disana juga keluar dari pekerjaannya dan pasien merasa tidak
8

memiliki teman dan kesepian saat sepupunya keluar. Pasien juga pernah bekerja
membuat susu kedelai selama 6 bulan, pasien belajar membuat susu kedelai dari
menonton televisi namun tidak dilanjutkan karena kondisinya tidak stabil.
Menurut pasien setiap pekerjaan yang dia kerjakan selalu dianggap salah, dan
pasien mengatakan hanya ingin sedikit dihargai selayaknya manusia saat bekerja.
4. Riwayat Beragama
Dari hasil alloanamnesa, didapatkan bahwa pasien beragama Islam dan
merupakan penganut yang taat sebelum sakit. Sering berguru dan mengaji
bersama habib didekat rumah pasien. Pasien rajin sholat, mengaji, dan mengikuti
kajian keagamaan di Masjid. Namun setelah sakit pasien jarang beribadah. Karena
mendengar saran dari suara yang didengarnya jika solat itu percuma dilakukan.
5. Riwayat Kehidupan Seksual dan Perkawinan
Dari hasil alloanamnesa, didapatkan bahwa pasien belum menikah. Pasien
pernah memiliki hubungan dengan 2 orang wanita namun tidak sampai
melanjutkan ke jenjang pernikahan karena ditinggal selingkuh oleh pihak wanita.
Menurut pasien sekarang dirinya selalu ditolak oleh setiap wanita yang didekati
oleh pasien. Pasien memiliki orientasi seksual yang normal, yaitu heteroseksual.
Pasien juga ingin menikah namun diakui susah dikarenakan kondisinya sekarang.
6. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara, tidak ada anggota
keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya. Pasien mengaku
keluarganya yang paling baik adalah ibu pasien, pasien mengatakan keluarga yang
dibencinya adalah kakaknya yang paling tua, pasien sangat dekat dengan adiknya
yang sudah meninggal. Menurut keterangan pasien, bapak pasien bernama bapak
Suar dan ibunya bernama Aminah. Orang tua pasien berasal dari Padang. Ibu
pasien merupakan istri ke-18, Ibu pasien dan kakaknya berdagang baju bekas di
pasar gaplok. Ayah pasien sekarang tidak bekerja dan berada di rumah. Pasien

memiliki 5 orang kakak dan 1 orang adik, kakak pasien bernama Tn. RF, Tn. RT,
Tn.RH, Ny.S, dan Ny. F, adik pasien bernama Tn.Re.

Genogram
7. Situasi Kehidupan Sosial Sekarang
Saat ini pasien tinggal bersama ayah dan ibunya, ayah dan ibu pasien
sudah berusia tua. Pasien jarang mendapat perhatian dari keluarga, pasien lebih
sering dibiarkan melakukan hal yang ingin dilakukannya tanpa ada bimbingan
dari keluarga. Orang tua pasien mengatakan tidak mampu mengurus pasien jika
pasien masih berperilaku seperti sebelumnya. Pasien juga jarang bergaul dengan
tetangga sekitar rumah dan lebih sering menyendiri di kamar atau main ke pasar.
8. Persepsi Pasien tentang dirinya dan kehidupan
Pasien menyadari bahwa dirinya sakit namun tidak mengetahui
penyakitnya, pasien berpikir bahwa penyakitnya dikarenakan santet karena
banyak yang tidak suka dengan pasien. Pasien ingin keluarganya di rumah
menerima kalau dia sakit dan tidak berpikiran buruk dan tidak menganggap remeh
dirinya. Pasien mengakui jarang meminum obat dan kontrol ke rumah sakit

10

dikarenakan pasien tidak memiliki uang untuk ongkos pergi ke rumah sakit.
Untuk mengambil obat. Persepsi pasien terhadap lingkungan normal.
9. Persepsi Keluarga terhadap Pasien
Keluarga berharap kondisi pasien membaik dan dapat sembuh dan pulang
ke rumah untuk membantu kedua orang tua yang sudah sepuh. Menurut keluarga
pasien sebelum sakit pasien adalah orang yang pintar dan bercita-cita menjadi
tabib yang dapat menyembuhkan orang sakit dan penulis, dan keluarga berharap
pasien dapat mandiri dalam menjalankan hidupnya.
10. Fantasi, Mimpi dan Nilai-nilai
Pasien bermimpi namun lupa mimpinya apa, tetapi tidak ingat
memimpikan hal yang menakutkan atau menegangkan. Pasien mengharapkan
anak-anak di daerah pasar dekat tempat tempat tinggal pasien tidak memiliki
kebiasaan mengelem aibon. Pasien menganggap dirinya manusia biasa dan tidak
memiliki kemampuan atau hal khusus. Pasien mengatakan ingin menjadi penulis
dan suka membuat kaligrafi.
III. STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan pada hari Senin tanggal 11 Januari 2016.
A. Deskripsi Umum
1) Penampilan
Seorang laki-laki, berusia 29 tahun, tampak sehat, tampak sesuai usia,
pembawaan tenang, bertubuh kurus dan tinggi, berpenampilan seperti laki-laki
dengan rambut pendek berwarna hitam, tampak sesuai usia. Kulit pasien berwarna
hitam. Tinggi badan pasien 175 cm dan berat badan 58 kg. Pasien menggunakan baju
kaos, celana jans panjang. Pasien dengan perawatan diri sendiri, tubuh kurang
bersih, bau, tampak kuku tangan dan kaki panjang dan kehitaman, gigi tampak kotor
dan kuning. Pasien dapat berjalan dengan baik dan cara berjalan normal.

11

a.

Perilaku dan Aktivitas Psikomotor yang Nyata


Pada saat wawancara, pasien tenang. Pasien tampak bersemangat ketika
diajak berbicara. Pasien mudah terdistraksi ketika ada stimulus eksternal. Saat
ditanya terkadang pasien sering berbicara sendiri. Pasien sering bergerak-gerak,
berubah posisi, dan suka bertopang tangan serta melipat lutut. Pasien melakukan
kontak mata dengan pemeriksa, tetapi sering kali melihat ke arah lain.

b.

Sikap Pasien terhadap Pemeriksa


Pasien kooperatif, mau menjawab pertanyaan yang diajukan. Pasien akan
menceritakan hal-hal yang ditanyakan dan harus digali terus. Pasien cenderung cepat
berganti topik pembicaraan walaupun masih dapat difokuskan kembali topik yang
sedang dibicarakan. Pasien cenderung mendominasi pembicaraan namun masih
dapat diinterupsi. Pasien cenderung banyak berbicara, namun sering mengeluarkan
kalimat-kalimat yang tidak jelas.
B. Alam Perasaan
1. Mood : Labil
2. Afek : terbatas serasi
3. Keserasian : serasi antara mood dan afek
C. Gaya Bicara
Cara berbicara : spontan
Volume bicara : cukup
Kecepatan bicara : sedang, artikulasi jelas dan dapat dimengerti, intonasi sesuai
emosi
Pasien cenderung banyak berbicara
Tidak ada gangguan bicara
D. Gangguan Persepsi (Persepsi Panca Indera)
Halusinasi

Auditorik : Ada. Pasien memiliki riwayat mendengar suara bisikan sosok Ilham
yang mengomentari perilakunya dan beberapa kali memberi perintah dan
12

petunjuk pada pasien. Pasien juga mendengar suara yang menyuruhnya untuk
minum karbol untuk bunuh diri. Ada perilaku halusinatorik, pasien terkadang
terlihat berbicara sendiri dan tertawa sendiri.

Visual : ada. Pasien melihat sosok yang menurut pasien bernama Ilham yang
selalu dekat dengannya yang menyerupai burung rajawali dengan paruh sampai
ke tanah. Pasien juga melihat sosok Jager yang menyerupai orang Belanda
dengan tinggi 5 meter dan suka tidur di goa.

Taktil : tidak ada

Olfaktorik : tidak ada

Gustatorik : tidak ada

Ilusi : tidak ada


Depersonalisasi : tidak ada
Derealisasi : tidak ada
E. Pikiran
1. Proses Pikir
Produktivitas : ide banyak
Kontinuitas :

Blocking

: tidak ada

Asosiasi longgar

: ada

Inkoherensi

: tidak ada

Flight of ideas

: ada

Word salad

: ada

Neologisme

: ada

Sirkumstansialitas : tidak ada

Tangensialitas

: tidak ada

2. Isi Pikir

Waham bizar: saat ini pasien menganggap dirinya adalah kerbau yang
memilki tanduk dikepalanya.
13

Waham kejar : pasien merasa seperti setan pocong mengejar dirinya sehingga
pasien ketakutan dan sempat ingin bunuh diri, pasien meyakini bahwa ada
orang jahat yang tidak suka dengannya sehingga dia selalu dijahati. Pasien
merasa tidak dihargai oleh orang-orang dirumahnya. Pasien menganggap
orang-orang disekitarnya selalu menjahatinya dan tidak menyukainya, dan
berusaha untuk membunuhnya.
F. Fungsi Kognitif dan Sensorium
1. Kesiagaan dan Taraf Kesadaran
Compos mentis dan kesiagaan baik.
2. Orientasi
- Waktu : pasien dapat membedakan waktu pagi, siang dan malam hari, tetapi
pasien tidak mengetahui hari, tanggal dan jam.
- Tempat : pasien mengetahui bahwa dirinya sedang dirawat di Rumah Sakit
Gatot Soebroto.
- Orang : pasien dapat mengingat identitas lengkapnya, keluarga dan temannya di
bangsal.
3. Ingatan
- Jangka panjang : pasien dapat mengingat tanggal lahir, nama sekolah dan nama
anggota keluarganya.
- Jangka sedang : pasien dapat mengingat siapa yang mengantarnya ke RS.
- Jangka pendek : pasien dapat mengingat menu sarapan pagi ini.
- Segera : pasien dapat mengingat 3 kata yang diberikan oleh pemeriksa untuk
diingat-ingat.
4. Konsentrasi dan Perhatian
Pasien terkadang sulit berkonsentrasi, terutama jika ada stimulus eksternal.
Pasien tidak dapat menjawab perhitungan 100 dikurangi 7. Pasien dapat mengeja
kata WAHYU secara berurutan dan terbalik dengan benar. Pasien sulit
berkonsentrasi jika ada orang lain berbicara saat ia akan bicara dan terkadang
tampak berbicara sendiri. Perhatian mudah teralihkan (distraktibilitas tinggi) saat
ada faktor eksternal.
14

5. Kemampuan Membaca dan Menulis


Kemampuan membaca dan menulis pasien baik. Pasien dapat membaca
sebuah kalimat yang ditulis oleh pemeriksa dan melakukan instruksi yang ada
dalam kalimat tersebut. Pasien dapat menulis kalimat lengkap yang sederhana.

6. Kemampuan visuospasial
Pasien dapat meniru gambar 2 segilima yang bertumpukan. Pasien dapat
menggambarkan jam sesuai dengan instruksi, memperlihatkan arah jarum panjang
dan pendek dengan benar. Pasien juga bisa menulis kaligrafi.

15

7. Pikiran Abstrak
Pasien mengerti arti peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke
tepian namun tidak mengerti arti peribahasa sekali mendayung 2-3 pulau
terlampaui.
8. Inteligensi dan Daya Informasi
Pasien dapat menjawab siapa presiden RI saat ini dan ibukota Indonesia.
9. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien cukup baik. Pasien berbicara cukup. Pasien
masih belum dapat sepenuhnya mengontrol keinginannya untuk merokok, pasien
Pasien tidak merokok saat pembicaraan, hanya merokok saat sedang sendiri.
G. Daya Nilai dan Tilikan
- Daya nilai sosial : baik, pasien bersikap ramah dan sopan terhadap seluruh
tenaga medis, seperti dokter spesialis dan perawat, serta pasien lain di
bangsal.
- Uji daya nilai : baik
- Reality Test Ability (RTA) : terganggu
- Tilikan derajat 3. Karena pasien tau dirinya sakit tapi menyalahkan orang lain
dan merasa dirinya di kerjai(disantet) atau dijahati oleh orang lain.
H. Reliabilitas
16

Pasien dapat dipercaya dan mampu melaporkan keadaannya secara akurat.


Karena beberapa informasi yang didapat dari pasien dan kakak pasien sesuai.
Contoh lain : pasien menyadari penggunaan narkoba dapat berpengaruh buruk dan
pasien tidak mau konsumsi hal tersebut.
IV. PEMERIKSAAN FISIK GENERALIS
A. Status Generalis

Keadaan Umum : Baik


Berat badan : 55 kg; Tinggi badan : 175cm ; Kesan gizi: Kurang
Tanda Tanda Vital :
Tekanan Darah
: 120 / 80 mmHg
Nadi
: 82 x / menit
Pernafasan
: 20 x / menit
Suhu
: 36,7oC (per aksila)
Limfonodi : Tidak teraba pembesaran
Jantung :
Inspeksi
: Tidak tampak iktus cordis
Palpasi
: Iktus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicula sinistra , tidak kuat

angkat, tidak ada thrill


: Batas kanan : ICS IV linea parasternal dextra
Batas kiri : ICS V 2 cm ke arah medial midclavikula sinistra

Perkusi

Auskultasi

Paru

Inspeksi

Pinggang jantung : ICS III linea parasternal sinistra


: BJ I > BJ II reguler,murni, Gallop -/-, Murmur -/-

: Bentuk normochest, ukuran dinding dada normal, pergerakan

Palpasi

dinding dada simetris, tidak ada retraksi intracosta


: Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri, vokal fremitus

Perkusi

simetris kanan sama dengan kiri


: Sonor pada kedua lapang paru: Suara nafas vesikuler melemah

kanan dan kiri


Auskultasi
: Suara tambahan wheezing (-/-), Suara gesek pleura (-/-)
Abdomen :
Inspeksi
: Datar, tidak ada striae, tidak ada spider naevi, terdapat tato
Auskultasi
: Bising usus normal
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, hepar lien tidak teraba
Perkusi
: timpanik, tidak ada pekak alih

17

Ekstremitas

: Akral hangat, edema (-), sianosis (-), perfusi < 2 detik,

B. Status Neurologis

GCS : 15 (E4M6V5)
Tanda rangsang meningeal : tidak ada
Cara berjalan : normal
Keseimbangan : baik
Motorik : baik 5555|5555

5555|5555
Sensorik : baik
Tanda Ekstrapiramidal :
Tremor
: tidak ditemukan
Akatasia
: tidak ditemukan
Bradikinesia : tidak ditemukan
Rigiditas
: tidak ditemukan
Motorik
: tidak ditemukan
Tonus
: tidak ditemukan
Turgor
: tidak ditemukan
Kekuatan
: tidak ditemukan

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi Lengkap
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hitung Jenis :
- Basofil
- Eosinofil
- Batang
- Segmen
- Limfosit
- Monosit
MCV

13.7
42
5.1
9470
322000

13 18 g/dL
40 52 %
4.3 6.0 juta/L
4.800-10.800/ L
150.000 400.000/ L

0
4
3
51
25
7
83
27

0-1%
1-3%
2-6%
50-70%
20-40%
2-8%
80-96% fL
27 -32 pg

18

MCH
MCHC
RDW
Kimia darah
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin

33
13.10

32-36 g/dL
11.5 14.5 %

12
11
15
0.9
4.5
147
3.9
102
64

<1.1 mg/dL<35 U/L


<40 U/L
20-50 mg/dL
0.5 1.5 mg/dL
3.5 7 mg/dL
135-147 mmol/L
3.5-5.0 mmol/ L
95-105 mmol/L
< 140 mg/dL

Asam Urat
Natrium
Kalium
Klorida
Glukosa darah sewaktu

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Tn N, laki-laki, 29 tahun, beragama islam, belum menikah, suku minang,
pendidikan terakhir SMP, saat ini tidak bekerja, warga negara Indonesia, masuk
perawatan pada tanggal 28 Desember 2015. Pasien merupakan rujukan dari RSJ
Grogol yang diantar oleh keluarganya ke Paviliun Amino RSPAD Gatot Soebroto
dengan keluhan marah-marah dan memukuli orang tua dan kakaknya sejak 1 hari
SMRS, menurut keterangan keluarga, pasien marah-marah dikarenakan tidak mau
meminum obat. Menurut keterangan kakak pasien, pasien juga sering berbicara
sendiri dengan kata-kata yang tidak jelas, pasien juga seringkali marah-marah
akibat mengikuti saran dari suara-suara yang didengarnya. Pasien juga sering
tertawa sendiri.
Dari autoanamnesa, didapatkan alasan mengapa pasien sering marah-marah di
rumah karena dia mengikuti saran dari suara yang didengar oleh pasien, menurut
pasien suara yang didengar tersebut adalah suara Ilham, Ilham yang dianggap
seperti teman dan mirip dengan adiknya yang telah meninggal. Pasien sering
mendengar suara Ilham, Ilham sering memberi petunjuk-petunjuk kepada pasien
19

untuk melakukan sesuatu, dan juga mengatakan mana orang yang baik mana
orang yang jahat, pasien mengatakan tidak senang dengan orang jahat. Menurut
pasien hanya dia sendiri dan bapaknya yang dapat melihat Ilham, menurut
pengakuan pasien sosok Ilham seperti burung rajawali yang memiliki sayap dan
memiliki paruh sampai ke tanah. Pasien juga mengatakan dirinya adalah seekor
kerbau yang memiliki tanduk kecil yang bisa diliat orang lain jika memejamkan
mata sekedip.
Pasien mengaku menjadi seperti sekarang karena frustasi, setiap kerja yang
dia lakukan tidak pernah dihargai dan selalu dianggap salah, dia selalu
diremehkan oleh kakaknya dan lingkungan sekitarnya dan tidak pernah dihargai
seperti manusia. Pasien mengatakan dia hanya mau sedikit dihormati dan dihargai
sebagai manusia. Pasien memukuli kakaknya dan marahmarah karena tidak
tahan dengan perlakuan orang-orang disekitarnya di tambah lagi karena pasien
mendapat saran dari suara yang didengarnya untuk menusuk kakaknya karena dia
mendengar dirinya akan di bunuh oleh keluarganya karena keluarganya dianggap
dipengaruhi oleh orang jahat.
Pada pemeriksaan status mental tanggal 11 Januari 2016 didapatkan
seorang pria, penampilan sesuai usianya, berambut pendek, berkulit hitam,
perawatan dan kerapihan diri kurang, dan memakai kaos berwana putih dan
celana jeans panjang. Pasien tampak tenang dan bersemangat saat diajak
berbicara. Pasien kooperatif dan mau menjawab pertanyaan. Kesadaran pasien
kompos mentis. Pasien bersikap sopan terhadap pemeriksa. Pembicaraan spontan,
artikulasi jelas, dan intonasi biasa. Mood labil dan afek terbatas, serasi. Isi pikir
berupa waham bizar, waham kejar. Proses pikir assosiasi longgar. Orientasi dan
daya ingat baik. Pasien terkadang sulit berkonsentrasi, terutama jika ada stimulus
eksternal. Kemampuan mengendalikan impuls dan daya nilai pasien baik. RTA
pasien terganggu dengan tilikan derajat III. Dapat dipercaya, pernyataan pasien
sama dengan pernyataan keluarga pasien. Pemeriksaan fisik lainnya dan hasil
laboratorium dalam batas normal.
VII. FORMULASI DIAGNOSTIK
20

Formulasi diagnostik menggunakan pendekatan diagnosis multiaksial yang


didasarkan pada PPDGJ III dan DSM-IV:

Aksis I
Berdasarkan wawancara didapatkan adanya gangguan pada pikiran,

perasaan, serta perilaku pasien yang menimbulkan hendaya dan disfungsi


dalam keseharian. Maka, pasien dapat dikatakan mengalami gangguan jiwa.
Pasien tidak memiliki penyakit primer maupun sekunder (trauma kepala,
riwayat kejang, epilepsi, atau infeksi otak) yang dapat menyebabkan adanya
disfungsi otak sehingga adanya gangguan mental akibat kerusakan dan
disfungsi otak (F0) dapat disingkirkan. Pasien juga tidak memiliki riwayat
penyalahgunaan zat psikoaktif dan alkohol sehingga penyebab akibat
penggunaan zat (F1) dapat disingkirkan.
Pada pasien terdapat halusinasi auditorik dan visual serta waham bizar dan
waham kejar (Kriteria A DSM IV). Kondisi ini menyebabkan gangguan pada
fungsi keseharian pasien (Kriteria B DSM IV) yang berlangsung lebih dari 6
bulan (Kriteria C DSM IV). Pasien tidak pernah mengalami kondisi episode
mood depresif maupun episode manik selama periode aktif penyakit (Kriteria
D DSM IV) dan tidak pernah mengkonsumsi zat psikoatif (Kriteria E DSM
IV). Berdasarkan kriteria DSM IV pasien telah memenuhi kriteria Skizofrenia
sehingga dapat disimpulkan diagnosis pasien adalah Skizofrenia (F20).
Pada pasien kriteria umum skizofrenia telah terpenuhi dan ditemukan
adanya gejala tambahan berupa halusinasi auditorik dan visual yang amat
menonjol dan waham paranoid berupa waham kejar, waham bizar, dan
terdapat Thought echo, delusion of control, delusion of passivity, sehingga
berdasarkan hal tersebut pasien memenuhi kriteria diagnosis Skizofrenia
Paranoid (F20.0) menurut PPDGJ-III.

Aksis II
Ciri kepribadian pasien adalah kepribadian skizoid, dengan ciri-ciri pasien

yang termasuk dalam kriteria diagnostik adalah sbb :

Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri.


21

Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab


(kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin
hubungan seperti itu.

Aksis III
Pada pasien tidak ditemukan adanya kelainan klinis (fisik dan neurologis)

lain yang bermakna sehingga aksis III pasien tidak ada diagnosis.

Aksis IV
Ditemukan masalah psikoedukatif yaitu pasien sebelumnya tidak

meminum obat secara teratur. Terdapat masalah primary support group


(keluarga), yaitu tidak ada anggota keluarga yang dapat memastikan pasien
meminum obat karena anggota keluarga tidak selalu berada di rumah sehingga
pemberian obat tidak dilakukan dengan baik. Kondisi orangtua yang sudah
usia lanjut menjadi keterbatasan dalam perawatan pasien secara keseluruhan.

Aksis V
Penilaian kemampuan peyesuaian aktivitas sehari-hari menggunakan skala

Global Assessment of Functioning (GAF) :

Highest Level Past Year (HLPY) : 20-11, pasien memiliki bahaya


mencederai diri sendiri atau orang lain, disabilitas sangat berat dalam
komunikasi dan mengurus diri

GAF current : 60-51, gejala sedang (moderate), disabilitas sedang, karena


sampai saat ini waham kejar dan bizar pasien belum hilang, namun pasien
sudah mampu berkomunikasi dengan baik, kooperatif dan mampu
mengendalikan emosinya.

VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I

: Skizofrenia paranoid.

Aksis II

: Ciri kepribadian schizoid.

Aksis III

: Tidak ada.
22

Aksis IV

: Ketidakpatuhan minum obat, dan kurang dukungan dari


keluarga

Aksis V

: GAF Current 60-51 dan GAF HLPY 20-11

Diagnosis kerja

: Skizofrenia Paranoid (F20.0)

IX. PROGNOSIS
Quo Ad Vitam

: ad bonam

Quo Ad Fungsionam : dubia ad malam


Quo Ad Sanationam

: dubia ad malam

Faktor yang mendukung prognosis baik:


1. Tidak ada penyakit penyerta lain yang mempengaruhi vital sign
pasien.
2. Pasien memiliki semangat untuk sembuh.
3. Pasien menyadari dirinya sakit.
Faktor yang mendukung prognosis buruk:
1. Perjalanan penyakit yang sudah Berlangsung 10 tahun. Sering relaps.
2. Pasien pertama kali terdiagnosis sakit pada usia muda (19 tahun)
3. Pasien beberapa kali putus obat dan tidak patuh minum obat.
4. Kondisi keluarga tidak mendukung untuk merawat pasien (faktor
keluarga). Riwayat melakukan tindakan penyerangan.
5. Kondisi keuangan yang tidak baik (faktor ekonomi).
6. Pasien tidak menikah dan riwayat sosial dan pekerjaan buruk
X. DAFTAR MASALAH
1. Organobiologis

Tidak ada

2. Psikologis
Skizofrenia paranoid
Mood
: Labil
Afek
: Terbatas, serasi
Persepsi
: Halusinasi auditorik dan visual
Proses pikir
: Asosiasi longgar
Isi Pikir
: Waham paranoid, waham bizar, waham kejar
RTA
: Terganggu
23

Tilikan

: Derajat 3, pasien mengetahui dirinya sakit tetapi

melemparkan kesalahan pada orang lain, pada faktor eksternal, atau pada
faktor organik. Pasien menyadari bahwa dirinya sakit namun pasien
mengatakan dirinya sakit karena di kerjai (santet) oleh orang-orang yang

tidak menyukai dirinya.


Ketidakpatuhan pasien minum obat
Kebiasaan merokok

3. Lingkungan dan Sosio-Kultural


Masalah dengan primary group support
Masalah ekonomi
XI. RENCANA TERAPI
a. Farmakologi :

Clozapine 1x12,5 mg(PO)


Risperidone 2x2 mg PO
Trihexylphenidyl 2x2 mg
Haloperidol 2x2,5 mg

b. Nonfarmakologis
1. Terhadap pasien
Psikoterapi suportif: melihat pasien secara holistik dengan membina
hubungan, menunjukan empati dan memberikan perhatian kepada pasien,
tidak menghakimi pasien, memberi dukungan segala usaha adaptif pasien,
menghormati pasien sebagai manusia seutuhnya dan peduli pada aktivitas
keseharian pasien, memotivasi pasien untuk lebih produktif dan minum
obat secara teratur agar penyakitnya tidak muncul kembali.
2. Terhadap keluarga dan teman
o Psikoedukasi mengenai :
a. Penyakit pasien
Memberikan penjelasan mengenai penyakit pasien, penyebab,
gejala-gejalanya, faktor-faktor yang dapat memperberat keadaan
penyakit pasien dan bagaimana cara pencegahan. Sehingga keluarga

24

dan teman atau lingkungan sekitar dapat mengerti keadaan pasien dan
mendukung proses kesembuhannya.

b. Terapi yang diberikan


Memberikan penjelasan tentang terapi yang dijalani, menjelaskan
fungsi obat kepada keluarga pasien dan efek samping yang mungkin
terjadi. Menyarankan keluarga untuk selalu memberi memotivasi
terhadap pasien untuk minum obat secara teratur dan juga memberikan
ketenangan serta kenyamanan pasien selama pasien masih dalam masa
perawatan sehingga pengobatan pasien dapat berjalan baik. Menunjuk
salah satu keluarga sebagai key person untuk mengontrol konsumsi
obat pasien.

25

BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan PPDGJ III yang merujuk ke DSM IV, seseorang dikatakan gangguan
jiwa atau gangguan mental jika ditemukan adanya perubahan terhadap pola perilaku atau
psikologik seseorang, yang secara klinik menimbulkan distress (penderitaan) dan
disabilitas dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari serta perawatan diri. Pada
pasien didapatkan adanya gangguan pada pikiran, perasaan, serta perilaku pasien yang
menimbulkan hendaya dan disfungsi dalam keseharian. Maka, pasien dapat dikatakan
mengalami gangguan jiwa.
Pada pasien ini terdapat waham tentang dirinya dikendalikan dan dipengaruhi
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar, waham tentang diirnya tidak berdaya dan pasrah
terhadap kekuatan dari luar yang menyebabkan pasien marah-marah dan menusuk
kakaknya karena dia berpikir dirinya akan dibunuh, pada pasien juga terdapat halusinasi
yang menonjol. Pasien mendengar suara yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, dan pasien juga melihat sosok seperti burung rajawali berparuh besar
yang sering memberi nasehat pada pasien, serta sosok orang belanda yang menyuruh
pasien untuk minum karbol. Gejala-gejala tersebut berlangsung lebih dari satu bulan, dan
juga mengakibatkan pasien mengalami perubahan mutu kehidupan, tidak bisa mengurus
diri, hilangnya minat, dan hidup tidak bertujuan. Semua hal ini sesuai dengan gejala
skizofenia.
Untuk menegakkan sebuah diagnosis, hierarki diagnosis psikiatri harus
digunakan. Pada pasien ini, tidak ada riwayat trauma pada kepala, nyeri kepala, pusing,
mual, demam tinggi ataupun kejang. Pada pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan
kelainan. Sehingga kecurigaan ke arah diagnosis gangguan mental organik dapat
disingkirkan. Selain itu, perlu diperhatikan diagnosis ke arah gangguan mental akibat zat
psikoaktif. Pasien merokok sejak SMP sampai sekarang, tetapi selain itu pasien tidak
menggunakan zat psikoaktif lainnya dan tidak juga mengkonsumsi alkohol. Dengan data
tersebut diagnosis gangguan psikotik akibat penggunaan zat psikoaktif dapat disingkirkan

26

juga. Maka dapat disimpulkan bahwa gangguan pasien adalah murni akibat gangguan
psikotik primer bukan sekunder karena kondisi medis lainnya.
Pasien ini didiagnosis dengan skizofrenia paranoid (F20.0). Skizofrenia
ditunjukkan dengan adanya gejala berupa waham dan halusinasi pada pasien. Untuk
menegakkan diagnosis skizofrenia paranoid, pasien harus memenuhi kriteria skizofrenia
terlebih dahulu.
Diagnosis umum skizofrenia (F20.-) berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ-III :
A. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) : (memenuhi 2 dari 4
kriteria dengan jelas)
Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,

namun kualitasnya berbeda .


Thought insertion = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesatu dari luar

dirinya (withdrawal) .
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar ke luar sehingga orang lain

atau umum mengetahuinya. Tidak ada


Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar.
Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar .


Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar (tentang dirinya = secara jelas
merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan

atau penginderaan khusus) .


Delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau

mukjizat.
Halusinasi auditorik :
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku
pasien dan terkadang memerintah pasien untuk melakukan suatu tindakan,

27

contohnya memerintah pasien untuk meminum air karbol dan menusuk

kakaknya.
Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai

suara yang berbicara) .


Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. Pada

pasien tidak didapatkan gejala ini.


Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di
atas manusia biasa (misalya mampu mengendalikan cuaca, atau
berkomunikasi dengan mahluk asing dari dunia lain) . pada pasien ini
didapatkan adanya waham bizar dan waham kejar yang menetap.

B. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
(memenuhi 2 dari 4 kriteria)
Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (overvalued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus , halusinasi auditorik
(mendengar bisikan yang mengomentari tindakan pasien dan memerintah
pasien melakukan tindakan) dan visual (melihat ilham yang menyerupai

burung rajawali).
Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),
yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau

neologisme, seperti yang didapatkan pada pasien.


Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mustisme, dan

stupor, pada pasien tidak dipapatkan gejala seprti ini.


Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja

28

sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika , tidak didapatkan pada pasien ini.
C. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal). gejala
yang dialami pasien berlangsung selama lebih dari 6 tahun, episode terakhir berawal
dari bulan Desember sampai sekarang.
D. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara
sosial saat rutin dalam pengobatan pasien dapat berfungsi dengan lebih baik dalam
hal sosial maupun pekerjaan, namun saat kambuh pasien tidak dapat melakukan
fungsi sosial maupun pekerjaannya dimana pasien cenderung menarik diri dan
mengurung diri sepanjang hari.
Berdasarkan hal tersebut pasien menurut kriteria DSM IV pasien memenuhi
kriteria skizofrenia. Kriteria diagnostik DSM-IV-TR subtipe skizofrenia:
A Gejala Karakteristik: dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk
bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati
dengan berhasil):
1 Waham
2 Halusinasi
3 Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoherensi)
4 Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
5 Gejala negatif yaitu pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan
(avolition)
Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau
atau halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengomentari perilaku atau
pikiran pasien atau dua lebih suara yang saling bercakap-cakap satu sama lainnya.
B Disfungsi sosial/pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset
gangguan, satu atau lebih fungsi utama seperti pekerjaan, hubungan interpersonal,
atau perawatan diri, adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset

29

(atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai
tingkat pencapaian interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
C Durasi: tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan.
Pada 6 bulan tersebut, harus termasuk 1 bulan fase aktif (yang memperlihatkan
gejala kriteria A) dan mungkin termasuk gejala prodormal atau residual.
D Penyingkiran gangguan skizoafektif atau gangguan mood: gangguan skizoafektif
atau gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena: (1) tidak ada
episode depresif berat, manik atau campuran yang telah terjadi bersama-sama
gejala fase aktif atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif,
durasi totalnya relatif singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
E Penyingkiran zat/kondisi medis umum
F Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif
Pada pasien terdapat halusinasi auditorik berupa suara-suara yang didengar pasien
dan waham paranoid berupa pikiran pasien yang merasa dirinya dikuasai,
diperhatikan, dibicarakan, dan ditertawakan oleh orang lain (Kriteria A DSM IV).
Kondisi ini menyebabkan gangguan pada fungsi keseharian pasien dimana karena
pasien selalu ketakutan sehingga pasien tidak mau keluar rumah untuk berinteraksi
dengan orang lain (Kriteria B DSM IV) yang berlangsung lebih dari 6 bulan (Kriteria
C DSM IV). Pasien tidak pernah mengalami kondisi episode mood depresif maupun
episode manik selama periode aktif penyakit (Kriteria D DSM IV) dan tidak pernah
mengkonsumsi zat psikoatif (Kriteria E DSM IV). Berdasarkan kriteria DSM IV
pasien telah memenuhi kriteria Skizofrenia sehingga dapat disimpulkan diagnosis
pasien adalah Skizofrenia (F20).
Pasien sesuai dengan kriteria diagnostik skizofrenia (F20).
Diagnosis skizofrenia dilanjutkan dengan menegaskan sub-tipe gangguan yang
dialami pasien, dengan kecurigaan ke arah tipe paranoid, pasien lebih menunjukkan
gejala waham dan halusinasi. Diagnosis skizofrenia paranoid (F20.0) berdasarkan
kriteria diagnostik PPDGJ-III :
a. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
b. Sebagai tambahan :
Halusinasi dan/atau waham harus menonjol.
30

a. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,


atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit
(whistling), mendengung (humming) atau bunyi tawa (laughing) pasien
mendengar suara yang memberi perintah pada pasien, beberapa kali pasien
mencoba buuh diri dan menusuk kakaknya, dan mengaku bahwa ada suara
yang memerintahkannya.
b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau
lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol pasien mengalami halusinasi visual (melihat ilham, sanger
yang hanya dapat dilihat oleh dirinya).
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), atau passivity (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas
pada pasien didapatkan waham bizar dimana pasien merasa dirinya adalah
kerbau yang memiliki tanduk dan waham kejar dimana pasien merasa
dirinya tidak disukai oleh orang lain dan mencoba untuk membunuhnya.
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik
secara relatif tidak nyata / tidak menonjol memenuhi kriteria ini.
Kriteria diagnostik DSM-IV subtype skizofrenia Tipe paranoid :
- Preokupasi terhadap satu atau lebih waham atau halusinasi auditorik yang
sering
- Tidak ada hal berikut yang prominen bicara kacau, perilaku kacau, afek datar
atau tidaksesuai.
Pasien sesuai dengan kriteria diagnostik skizofrenia paranoid (F20.0)
Pasien memenuhi seluruh kriteria diagnostik yang dipaparkan sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwa diagnosis pasien adalah skizofrenia paranoid
(F20.0).
Penatalaksanaan yang disarankan pada pasien ini adalah psikoedukatif dan
psikofarmaka.

Psikoedukasi

ditujukan

kepada

pasien

dan

keluarganya.

Psikoedukasi yang diberikan kepada pasien adalah melihat pasien secara holistik
dengan membina hubungan, menunjukan empati, memotivasi pasien untuk lebih
produktif dan minum obat secara teratur agar penyakitnya tidak muncul kembali.
Psikoedukasi yang diberikan kepada keluarga pasien adalah memberikan
31

penjelasan mengenai penyakit pasien, faktor-faktor yang dapat memperberat


keadaan penyakit pasien dan bagaimana cara pencegahannya sehingga keluarga
dan teman atau lingkungan sekitar dapat mengerti keadaan pasien dan mendukung
proses kesembuhannya. Terapis juga disarankan memberikan penjelasan tentang
terapi yang dijalani, menjelaskan efek samping yang mungkin terjadi, serta
menyarankan keluarga untuk selalu memberi memotivasi terhadap pasien untuk
minum obat secara teratur dan juga memberikan ketenangan serta kenyamanan
pasien selama pasien masih dalam masa perawatan sehingga pengobatan pasien
dapat berjalan baik.
Dalam

penatalaksanaan

skizofrenia

pada

umumnya

diperlukan

antipsikotik atipikal untuk mengontrol gejala. Adapun antipsikotik atipikal yang


dapat menjadi pilihan, antara lain aripiprazole, asenapine, clozapine, iloperidone,
olanzapine, paliperidone, quetiapine, risperidone, dan ziprasidone. Pemilihan
antipsikotik atipikal lebih disarankan daripada antipsikotik tipikal untuk
menghindari gejala ekstrapiramidal atau sindrom parkinson. Selain itu
antipsikotik atipikal lebih bermanfaat untuk gejala positif dan negatif skizofrenia,
pada pasien ini terdapat kedua gejala sehingga disarankan untuk pemberian
antipsikotik atipikal.
Clozapine termasuk dalam golongan obat antipsikotik atipikal, yang
digunakan untuk mengontrol gejala, Sejenis dengan obat dibenzodiazepine
lainnya, seperti olanzapine dan zotepine. Antipsikotik atipikal lebih bermanfaat
untuk gejala positif dan negatif skizofrenia, pada pasien ini terdapat kedua gejala
sehingga disarankan untuk pemberian antipsikotik atipikal. Pada dasarnya semua
obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis
ekuivalen, perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping: sedasi, otonomik,
ekstrapiramidal). Pemilihan jenis anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis
yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis
ekuivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis
dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti
dengan obat anti psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan
dosis ekuivalennya.
32

Mekanisme kerja obat antipsikotik atipikal adalah memblokade dopamine


pada reseptor pasca-sinaptik di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal (dopamine D2 receptor antagonists) efektif untuk gejala positif,
serta berafinitas terhadap serotonin 5 HT2 receptors (serotonin-dopamine
antagonists) sehingga efektif juga untuk gejala negatif. Clozapin harus diawali
dengan dosis rendah dan dinaikkan secara bertahap untuk meminimalkan risiko
agranulositosis. Rendahnya affinitas terhadap reseptor D2 berhubungan dengan
rendahnya efek samping terhadap gejala ekstrapiramidal. Itu sebabnya
dibandingkan dengan antipsikotik atipikal lainnya, klozapin memiliki efek gejala
ekstrapiramidal yang lebih aman.
Berdasarkan penelitian yang membandingkan klozapin dengan obat
antipsikotik lainnya, 79% menunjukkan bahwa klozapin lebih superior
dibandingkan antipsikotik lainnya.. Efek samping lain yang dapat timbul pada
pemberian klozapin adalah konstipasi akibat efek antikolinergiknya, takikardia
dan efek metabolik seperti kenaikan berat badan yang signifikan, resistensi
insulin, dan dislipidemia. Dengan demikian, ada beberapa pemeriksaan yang perlu
dilakukan untuk mengurangi dampak terjadinya efek samping, antara lain dengan
pemeriksaan leukosit setiap minggu selama 6 bulan pertama terapi. Dosis anjuran
yang disarankan adalah 150- 600 mg per hari. Indikasi pemberian clozapine
secara umum adalah pasien skizofrenia yang tidak responsif atau intoleransi
terhadap obat neuroleptik klasik dimana pemilihan obat clozapine tepat terhadap
pasien ini.
Pada pasien juga diberikan obat risperidone, merupakan obat antipsikotik
generasi 2. Pemeilihan obat antipsikotik generasi 2 (APG II) adalah karena APG
II resiko efek samping ektrapiramidal yang rendah jika dibandingkan dengan APG
I. Selain itu, risperidone dapat memperbaiki fungsi kognitif pasien dan juga fungsi
terapeutiknya terjadi pada dosis rendah. Absorpsi dari risperidone tidak
dipengaruhi oleh makanan. Risperidone termasuk ke dalam golongan antipsikosis
atipikal. Aktivitas antipsikosis diperkirakan melalui hambatan terhadap reseptor
serotonin dan dopamine. Risperidon diberikan untuk mengatasi gejala negatif
ataupun positif skizofrenia.
33

Selain itu pada pasien ini juga diberikan obat haloperidol, yaitu obat APG
I.Kerja terapeutik obat obat antipsikotik konvensional adalah menghambat
reseptor D2, khususnya pada jalur mesolimbic. Hal ini dapat menimbulkan efek
berkurangnya hiperaktivitas dopamine pada jalur ini, yang merupakan sebagai
penyebab simtom positif pada psikosis. Haloperidol adalah salah satu obat yang
umumnya digunakan pada pasien agresif dan berbahaya, yang dimana pada pasien
ini terdapat tindakan agresif pada saat pertama masuk RSPAD karena pasien
menyerang kakaknya. Haloperidol memiliki efek samping yang cukup berta yang
termasuk

simtom ektrapiramidal dan akitisia. Waktu paruh obat ini adalah

berkisar 24 jam. Orang dewasa dalam keadaan akut cukup sesuai dengan
menggunakan dosis ekivalen haloperidol 5 hingga 20mg, pada pasien ini
diberikan 2x2,5 mg.
Selain itu pada pasien ini diberikan obat trihexyphenidyl yaitu sebagai
obat untuk mengurangi gejala ektrapiramidal yang diakibatakan oleh efek
samping dari pemberian haloperidol. Triheksipenidil memiliki daya antikolinergik
yang berkerja menghambat pelepasan asetil kolin endogen dan eksogen,
menghambat reuptake dopamine pada ujung saraf presinaptik di otak.
Faktor resiko terjadinya gangguan jiwa terdiri dari faktor biologis yang
meliputi genetik, fisik dan lingkungan; dan faktor psikososial yang terdiri dari
faktor kepribadian, peristiwa kehidupan, dan stres lingkungan. Seorang yang
memiliki sanak saudara derajat pertama (orang tua atau saudara kandung) yang
menderita

gangguan

memungkinkan

skizoafektif,

seseorang

untuk

bipolar

ataupun

mengembangkan

skizofrenia
gangguan

lebih
tersebut

dibandingkan dengan orang tanpa sanak saudara derajat pertama yang menderita
gangguan tersebut. Berdasarkan anamnesa keluarga pihak ayah dan ibu, tidak ada
keluarga yang memiliki gejala yang sama dengan pasien. Selain itu tidak ada
saudara kandung pasien yang memiliki keluhan yang sama. Kelainan genetik ada
pada pasien ini dapat dikesampingkan.
Faktor psikososial yang paling mendukung terjadinya gangguan
skizofrenia adalah stress, dimana suatu teori diajukan bahwa stress berkelanjutan
dapat menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama yang dapat
34

menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan


sistem pemberi signal intraneuronal. Perubahan ini menyebabkan seseorang
berada pada risiko lebih tinggi untuk menderita episode gangguan skizofrenia
selanjutnya tanpa adanya stressor eksternal. Pasien awalnya mengalami kesedihan
dan kecewa saat dirinya tidak bisa masuk ke pesantren untuk lanjutkan sekolah,
ditambah lagi adik pasien meinggal karena HIV, pasien juga mengaku frustasi
karena selalu di remehkan, merasa tidak dihargai, dan merasa selalu dijahati di
rumah. Faktor-faktor ini berpengaruh terhadap terjadinya gangguan skizofrenia.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. Maramis, W.S. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Presss :
Surabaya. 1994.
2. Stuart, G. W. dan Sundeen, S. J. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 1998.
3. Olfson, Mark. Treatment Patterns for Schizoaffective Disorder and Schizophrenia
AmongMedicaid Patients. Diakses melalui: www.psychiatryonline.org/data/Journals/
4. American Psychiatric Association. Diagnosis dan Statistical Manual of Mental
disorders (DSM V TM). American Psychological Association (APA): Washington
DC.
5. Agus, Dharmady. 2003. Psikopatologi: Dasar di Dalam Memahami Tanda dan
Gejala dari Suatu Gangguan Jiwa. Ed.1. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya: Jakarta.
6. Maslim, Rusdi, 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III dan DSM 5. Cetakan 2. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya: Jakarta.
7. Sadock, Benjamin James., Sadock, Virginia Alcott. Kaplan & Sadock Buku Ajar
Psikiatri Klinis. Ed.7. Jakarta : EGC
8. Maslim, Rusdi, 2007. Panduan Klinis Obat Psikotropik. Ed 3.Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya: Jakarta.

36