Anda di halaman 1dari 10

1.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. SA

Usia

: 38 tahun

Jenis Kelamin

: Pria

Tempat & Tanggal lahir : 2 Agustus 1976


Agama
Alamat

: Islam
: Jl. Raya Daan Mogot RT. 08/2 Jakarta

Barat
Suku Bangsa

Pendidikan Terakhir

Pekerjaan

: Swasta

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Tanggal Masuk RS

: 5 September 2014

2. RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis
Alloanamnesis

: Tanggal September 2014


: Tanggal 5 September 2014 (Ayah

pasien)
a. Keluhan Utama
Pasien emosi tidak terkendali sejak 3 hari sebelum masuk
rumah sakit.
b. Keluhan Tambahan
Pasien sulit tidur, gelisah, sering mengamuk, dan berbicara
kacau.
c. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang ke IGD RSPAD Gatot Soebroto pada
tanggal 5 September 2014 dengan rujukan dari Rumah
Sakit Jiwa DR Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta dengan
gejala putus obat dan mengamuk hingga mengganggu
masyarakat. Pasien dikirim ke RSPAD Gatot Soebroto
dikarenakan tempat perawatan di RSJ Dr Soeharto penuh.
Kemudian pasien dipindahkan ke ruang perawatan di
bangsal Amino.

Pasien emosi sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.


Emosi tidak dapat dikendalikan sehingga pasien seringkali
mengamuk.
Berdasarkan

alloanamnesa

dengan

Ayah

pasien,

dikatakan bahwa pasien menolak minum obat, seringkali


marah-marah, membuat gaduh di lingkungan sekitar,
memukul-mukul

tiang

listrik,

berbicara

kacau,

dan

berperilaku kacau.
Saat autoanamnesis di bangsal, pasien galak, melotot,
dan menolak ditanya oleh pemeriksa. Pasien menjawab
dengan kembali bertanya siapa pemeriksa dan menuding
pemeriksa dengan jari pada pemeriksa. Pasien mengatakan
bahwa pemeriksa adalah hantu dan bertanya, siapa
kamu? berkali-kali dan setelah dijelaskan, pasien menolak
percaya dan mengatakan dia tidak peduli dengan apa kata
dokter atau dokter lain. Pasien berkata dokter berbohong
dan mengancam akan memukul pemeriksa.
Pada saat pasien sudah cukup kooperatif dan dilakukan
autoanamnesis, pasien mengatakan dibawa ke RSPAD
Gatot Soebroto oleh Paman Ibrahim (ayahnya). Pasien
merasa memiliki kemampuan menampung perasaan orang
lain, salah satunya perasaan Paman Ibrahim. Sebelum
dibawa ke rumah sakit, pasien merasa menyimpang emosi
milik pamannya di dalam tubuhnya, kemudian merasakan
pamannya memukul spion mobil serta menendang pintu
mobil. Saat merasakan kejadian itu melalui batinnya,
pasien langsung menghubungi pamannya dan menanyakan
apa yang terjadi. Malam harinya, pasien merasa pusing dan
memiliki firasat terjadi sesuatu dengan Paman Ibrahim. Ia
segera menelpon pamannya untuk mengetahui apa yang
terjadi

dan

mendapati

bahwa

Paman

Ibrahim

telah

menimpuk rumah orang. Selanjutnya pasien mengaku


Paman Ibrahim menyuruhnya untuk beristirahat di rumah

sakit. Kemudian

pasien bercerita mengenai keadaan

rumahnya. Pasien mengaku memiliki beberapa altar milik


ibunya di rumah. Pasien meyakini bahwa pada altar
tersebut, banyak doa-doa yang dapat terkirim sehingga
pasien dapat mendengar berbagai doa yang datang,
termasuk doa Paman Ibrahim.
Pasien masih mendengarkan suara-suara keluarganya
yang menanyakan kabar dan kegiatannya selama ini.
Suara-suara itu berasal dari ibu dan bapaknya. Selain itu
pasien juga merasa mendengar suara wanita lain yang
mengatakan bahwa pasien sekarang berada di rumah sakit
dan bersama istri pasien. Pasien merasa sedang tinggal di
sebuah kerajaan dan menjadi raja, menggunakan pakaian
raja berwarna coklat muda. Pemeriksa diminta untuk
menilai baju kerajaan yang pasien gunakan. Pasien saat ini
masih merasa diikuti oleh wanita berhijab yang sering
menyuruhnya sembahyang dan berpakaian seperti ingin
berjihad. Pasien berkali-kali menanyakan alasan wanita itu
mengikuti
jawaban.

pasien
Pasien

namun
merasa

pasien
dirinya

tidak
adalah

memberikan
Tuhan

yang

membawa agama Buddha, sementara ibu pasien adalah


pembawa agama Kristen. Pasien cukup kooperatif dalam
proses wawancara oleh pemeriksa.
d. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien memang sudah memiliki gangguan jiwa, dirawat
pertama kali 15 tahun yang lalu dan terakhir 4 bulan
yang lalu di RSJ Grogol dan telah diberikan pengobatan
untuk

gangguannya

tersebut.

Berdasarkan

autoanamnesis pasien pernah masuk panti rehabilitasi


di daerah Slipi, Bogor, dan yang terakhir RSJ Grogol
sebanyak 2 kali karena seringkali berperilaku kacau.

2. Riwayat Medik Umum


Riwayat kejang/epilepsi, kehilangan kesadaran, trauma
kepala, penyakit saraf, tumor otak, disangkal. Riwayat
hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes mellitus juga
disangkal. Pasien mengaku pernah dirawat di Rumah
Sakit Islam pada saat SD karena demam tifoid.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Pasien mengaku memiliki kebiasaan merokok
mengkonsumsi alkohol.

dan

Pasien menyangkal pernah

mengkonsumsi narkotika.
e. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Masa Prenatal dan Perinatal
2. Masa Kanak Awal (0-3 tahun)
3. Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien masuk ke Taman Kanak-kanak Al-Humaid dan
melanjutkan ke SD 04 Jakarta Kota pada usia 6 tahun.
Pasien memiliki banyak teman dan suka bermain
Tammia serta jalan-jalan ke Pasar Baru setelah pulang
sekolah.
4. Masa kanak akhir dan Remaja (12-18 tahun)
Pasien meneruskan pendidikannya ke SMP 14 Jakarta
Kota. Prestasi pasien di SMP cukup baik dan masuk ke
dalam peringkat 10 besar di kelasnya. Pasien tidak
memiliki masalah dalam pertemanan.
5. Masa Dewasa
i. Riwayat Pendidikan
Selama masa sekolah, tidak ada masalah dengan
pendidikan dan sosial yang dialami pasien. Pasien
juga

tidak

pernah

berkelahi

dengan

rekan-

rekannya.
ii. Riwayat Pekerjaan
Pasien mengaku bekerja sebagai bankir
iii. Riwayat Pernikahan
Pasien belum menikah, namun pasien mengaku
sudah menikah dan memiliki 6 anak.
iv. Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien beragama Islam. Berdasarkan anamnesis,
pasien mengaku beragama Kristen sesuai dengan

agama ibunya, yaitu Bunda Maria. Pasien juga


mengaku telah menurunkan agama Buddha di
dunia.
v. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah terlibat dengan pelanggaran
hukum ataupun dengan pihak berwajib.
vi. Riwayat Psikoseksual
Pasien memiliki orientasi seksial yang normal,
yaitu

menyukai

lawan

jenis

(heteroseksual).

Pasien pernah berpacaran 1 kali saat duduk di


bangku SMA. Pasien tidak yakin dengan lama
pacaran saat itu.
vii. Aktivitas Sosial
Menurut pasien,

hubungan

pasien

dengan

tetangga di sekitar rumah cukup baik. Mayoritas


tetangga

pasien

adalah

seorang

pedagang

sehingga pasien akan menyapa para tetangga


pada saat bertemu di luar rumah. Menurut pasien,
sebelum pasien masuk ke rumah sakit, hubungan
pasien dengan tetangga sudah tidak sedekat
sebelumnya.
f. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayah
pasien bernama Ibrahim sementara Ibu pasien bernama
Samsulidar.

Pasien

memiliki

seorang

kakak

laki-laki

bernama Almar Saferi yang berusia 42 tahun, dan kakak


perempuan bernama Arlina yang berusia 39 tahun. Pasien
merasa sangat dekat dan dimanja oleh ibunya.
GENOGRAM

Tn.

Tn.

= Laki-laki
= Perempuan
= Pasien

Ny.

Ny. A

Tn.

g. Situasi Kehidpan Sekarang


Saat ini pasien tinggal bersama dengan paman Ibrahim
(ayahnya) di Daan Mogot, Cengkareng.
h. Persepsi
2. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Lingkungan
Pasien sadar dirinya sedang di RSPAD Gatot Soebroto
dalam perawatan di bangsal Kesehatan Jiwa paviliun
Amino. Pasien sadar bahwa dirinya sakit dan ingin
sembuh. Usaha untuk sembuh yang dilakukan pasien
adalah meminum obat 2 kali sehari. Namun terkadang
pasien merasa sudah sembuh dan hanya mengkonsumsi
vitamin saja.
3. Persepsi Keluarga Tentang Diri Pasien
4. Mimpi, Fantasi, dan Nilai-nilai
Saat ini pasien memiliki harapan menjadi artis film, artis
musik, sutradara film dan musik, dan membuat album
musik. Menurut pasien, keinginannya tersebut memang
sudah tercapai dengan bukti penjualan keping CD
musiknya yang cukup laku di masyarakat. Pasien
mengaku dirinya adalah Nirvana.
3. STATUS MENTAL (dilakukan pada tanggal 21 September 2014)
a. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien berjenis kelamin kaki-laki berusia 38
tahun dengan penapilan sesuai dengan usia,
tinddi badan 168 cm, berat 53 kg, rambut
pendek 1 cm, bibir agak kering, kuku mulai
panjang dan terdapat kotoran kerapihan dan
perawatan diri kurang. Pasien memakai baju
lengan pendek warna hitam dengan bawahan
celana pendek biru. Pasien mengenakan karet

gelan dan ikat rambut di tanga sebelah


kirinya.
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Selama wawancara pasien duduk di bangku,
pasien tenang, aktif menjawab pertanyaa,
dan

selalu

menatap

mata

Aktivitas psikomotor baik.


3. Sikap Terhadap Pemeriksa
Pasien cukup kooperatif,

pemeriksa.

tidak

tampak

bingung, selama wawancara selalu menjawab


pertanyaan dari pemeriksa dan terkadang
menanyakan pertanyaan kepada pemerika.
b. Alam Perasaan (Emosi)
1. Mood : Eutim
2. Afek
:
3. Keserasian : Serasi antara mood dan afek
c. Pembicaraan
Bicara spontan, volume suara normal, intonasi
sedang, artikulasi jelas, pasien menjawab pertanyaan
dengan lancar dan baik. Isi pembicaraan dapat
dimengerti dan pasien menjawab sesuai dengan
pertanyaanya, kontak mata bagus.
d. Gangguan Persepsi
Terdapat gangguan persepsi panca indera berupa
halusinasi auditorik dan halusinasi visual. Halusinasi
auditorik yaitu pasien mendengar ada suara yang
menyuruhnya untuk sembahyang, mendengar bunyi
kembang api, dan suara orangtuanya yang seringkali
menanyakan

kabarnya.

Haslusinasi

visual

yaitu

pasien melihat kembang api di tempat perawatan.


e. Pikiran
1. Bentuk Pikir : Flight of idea
2. Isi Pikir
: Waham kejar
Waham kebesaran
Waham
3. Proses Pikir :
f. Kesadaran dan Kognisi
1. Taraf Kesadaran dan Kesigapan
Kuantitas
: Compos mentis

Kualitas
: Baik
Respon membuka mata : Spontan membuka
mata
Respon motorik
Respon verbal

: Mengikuti perintah
: Berorientasi

dengan baik
2. Orientasi
Waktu
: Baik, pasien tahu sudah berapa
lama

berada

di

mengetahui

jam

mengetahui

hari,

ruang
saat

perawatan,
pemeriksaan,

namun

pasien

lupa

tanggal pada saat pemeriksaan.


Tempat
: Baik, pasien mengetahui jika
sekarang berada di Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat Gatot Soebroto paviliun

Amino
Orang

: Baik, pasien dapat mengenali

pemeriksa, dokter, perawat, dan teman


teman

yang

perawatan
mengenali

berada
lainnya.

bahwa

dalam

ruang

Pasien

dapat

pemeriksa

adalah

seorang dokter muda yang sedang kerja


praktek untuk menjadi seorang dokter.
3. Daya Ingat
Jangka panjang : Kurang baik, pasien
bingung dalam mengingat tanggal lahir,
namun pasien tahu dimana ia bersekolah

sebelumnya.
Jangka sedang :
mengingat

Baik,

kegiatanny

pasien
dengan

dapat
teman-

teman dalam ruang rawat yang sama.


Jangka pendek : Kurang baik, pasien
hanya

dapat

megulang

kata

yang

diberikan pemeriksa dalam hitungan detik.


Setelah 1 menit, pasien kemudian tidak

dapat mengulang dan menyebutkan kata


tersebut secara kacau.
4. Konsentrasi dan Perhatian
Baik,
karena
pasien
dapat

menjawab

pertanyaan berhitung (100-7-7) dengan cepat


namun terdapat jawaban yang salah.
5. Kemampuan Membaca dan Menulis
Baik, pasien dapat engan mudah membaca
kata yang ditulis oleh pemeriksa dan pasien
dapat menulis kata yang disebutkan oleh
pemeriksa.
6. Kemampuan visuospasial
Baik, pasien dapat menunjukkan jarum jam
dengan benar dan dapat menggambarkannya
di atas kertas.
7. Pikiran Abstrak
Kurang
baik,

pasien

bingung

dalam

melanjutkan peribahasa berakit-rakit kehulu


berenang-renang ke tepian. Namun pasien
dapat melanjutkan peribahasa tiada gading
yang tak retak dan mengartikannya.
g. Pengendalian impuls
Pasien memiliki riwayat impuls agresif pada saat
sebelum

masuk

rumah

saki,

namun

saat

pemeriksaan impuls pasien baik, pasien tenang dan


dapat mengendalikan diri, dan pasien berperilaku
sopan terhadap pemeriksa.
h. Daya Nilai
1. Daya Nilai Sosial
Baik, pasien bersikap

sopan

terhadap

pemeriksa, perawat, dan teman-teman dalam


satu ruang perawatan.
2. Uji Daya Nilai
Baik, pasien berniat untuk menyumbangkan
hartanya saat ulang tahun nanti.
3. Penilaian Realita
RTA terganggu (gangguan tes realitas dengan
menciptakan suatu realitas baru, terdapat

wahan kebesaran, wahan kejar, halusinasi


auditori, halusinasi visual)
4. Tilikan
Derajat
i. Taraf Dapat Dipercaya
Secara umum dari wawancara dapat disimpulkan
bahwa keterang pasien sejauh ini kurang dapat
dipercaya

karena

mengkonfirmasi

pemeriksa

tidak

dapat

jawaban-jawaban

pasien

kepada

keluarga pasien akibat sulitnya keluarga pasien untuk


dihubungi.