Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS

Skizoafektif Tipe Manik

Oleh :

RIFA ROAZAH
Pembimbing :
dr. Bagus Sulistyo, SpKJ
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
PERIODE 30 JUNI 9 AGUSTUS 2014

STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. Jenny Runtu

Jenis kelamin

: Perempuan

Tanggal Lahir

: 17 Juni 1959

Usia

: 55 tahun

Agama

: Kristen Protestan

Suku

: Manado

Pendidikan Terakhir

: SMA

Status Pernikahan

: Menikah

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Alamat Rumah

: City Park, F 3/16 Cengkareng, Jakarta


Barat

Alamat Sekarang

: Panti Katolik Santa Ana, Pantai Indah


Kapuk, Jakarta Utara

Tanggal masuk RS

: 17 Juni 2014 Pukul 23:20 WIB, dirujuk


dari RS Soeharto Heerdjan dengan alasan
tempat penuh

II.

RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis

: Hari Kamis dan Jumat, tanggal 10 dan 11


Juli 2014

Alloanamnesis

: dengan suami pasien pada Hari Jumat,


tanggal 11 Juli 2014

A. Keluhan Utama
Pasien datang pertama kali ke RSPAD dalam keadaan mengamuk
(sejak 4 hari SMRS), tidak mau mandi dan makan, dan cenderung
melukai diri sendiri dan orang lain.

B. Keluhan Tambahan
Pasien memiliki halusinasi auditorik dengan mengatakan bahwa ia
mendengar bisikan setan.
C. Riwayat Gangguan Sekarang
Menurut suami pasien, ini merupakan pertama kalinya pasien masuk
ke Paviliun Amino RSPAD. Pasien ke RSPAD diantar oleh suaminya
tetapi beliau mengatakan bahwa ia diantar oleh seorang koko gila.
Sudah sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit pasien marah marah,
tidak mau mandi dan makan, dan cenderung melukai diri sendiri dan
orang lain. Pasien sebelumnya telah dibawa ke RS Soeharto Heerdjan
tetapi dirujuk ke RSPAD dengan alasan tempat penuh. Sudah 3 bulan
(hingga saat dirawat di RSPAD) pasien tinggal di Panti Katolik Santa
Ana di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Di panti tersebut, pasien
dirawat oleh suster panti. Pasien dititipkan di panti oleh suaminya
karena suami pasien tidak punya banyak waktu untuk mengurus pasien
dan suami pasien sendiri sedang menjalani pengobatan penyakit
jantungnya. Saat autoanamnesa, pasien mengungkapkan bahwa ia
mendengar bisikan setan dan manusia harus percaya kepada Tuhan dan
berlindung kepada Nya.
D. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien telah memiliki riwayat gangguan jiwa sejak 35 tahun yang
lalu dengan diagnosa skizofrenia. Gejala muncul pertama kali pada
tahun 1979 lebih tepatnya sebulan setelah pernikahannya. Gejala
pertama yang muncul pada waktu itu yaitu pasien menyiram kepala
suaminya dengan air tanpa alasan yang jelas dan selanjutnya mulai
muncul perilaku perilaku aneh. Menurut suaminya, pasien juga
sering mengalami halusinasi visual. Tiga tahun terakhir ini pasien
masuk keluar rumah sakit untuk perawatan gangguan jiwanya

dan telah lama ditangani oleh dr. Gunawan, SpKJ. Rumah sakit
yang didatangi pasien sebelum RSPAD yaitu RS Atma dan RS
Soeharto Heerdjan.
2. Riwayat Medis
Pasien menderita osteoartritis sejak tahun 1997 dan mengalami
kesulitan dalam berjalan. Pasien juga memiliki luka di siku kedua
tangannya.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
Riwayat penggunaan alkohol dan obat-obatan disangkal oleh
pasien dan keluarganya.

III.

RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


A. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Tidak didapatkan informasi mengenai masa prenatal dan perinatal
pasien dari pasien sendiri maupun dari keluarganya.
B. Masa Kanak-Kanak (0-3 tahun)
Pasien dirawat oleh keluarganya sendiri dari kecil hingga dewasa dan
tidak ada kelainan.
C. Masa Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien memulai jenjang pendidikan dari taman kanak kanak lalu
melanjutkan pendidikannya ke jenjang SD. Prestasi pasien saat sekolah
cukup bagus.
D. Masa Kanak Akhir dan Remaja
Setelah SD pasien melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) lalu Sekolah Menengah Atas (SMA). Pasien dikenal

memiliki tulisan yang bagus di sekolah. Pasien pernah mendapatkan


nilai 9 di pelajaran PKK dan handal di olahraga loncat tinggi. Pasien
memiliki beberapa teman dekat di sekolah.
E. Masa Dewasa
1. Riwayat Pendidikan
Pasien bersekolah hingga SMA lalu setelah itu menikah dan tidak
melanjutkan pendidikannya.
2. Riwayat Pekerjaan
Setelah menyelesaikan pendidikannya, pasien tidak bekerja diluar
dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Pasien sering mengikuti
suaminya di kantor dan membantu urusan suaminya di sana.
3. Riwayat Pernikahan
Pasien menikah dengan seorang pria keturunan Tionghoa yang
bernama Hendri atas keinginan sendiri pada tahun 1979 hingga
sekarang dan dikaruniai seorang anak perempuan yang dinamai
Lady. Sebelum menikah, pasien telah berpacaran dengan suaminya
selama 3 tahun. Pasien dikenalkan dengan suaminya oleh
kakaknya. Pasien mengaku bahwa ia pernah diperkosa oleh
suaminya sebelum menikah, di rumahnya saat keadaan rumah
sedang kosong. Pasien sendiri tidak mengakui bahwa pernah
berpacaran dengan suaminya sebelum menikah dan berkata bahwa
ia dijodohkan. Setelah menikah, pasien tinggal bersama suaminya.
Setelah menikah keduanya tinggal di Manado, lalu pernah tinggal
di Malang selama 5 tahun kemudian pindah ke Surabaya dan 15
tahun terakhir tinggal di Jakarta. Pasien sangat menyayangi
anaknya (Lady) dan saat anamnesis pasien sangat mengharapkan
untuk dijenguk oleh anaknya tersebut. Setelah anaknya menikah,
pasien tinggal hanya berdua dengan suaminya.

4. Riwayat Beragama
Pasien beragama Kristen Protestan dan merupakan penganut yang
taat. Pasien menyandarkan hidupnya kepada Tuhan dan meyakini
bahwa apapun yang terjadi pada dirinya merupakan takdir Tuhan.
Pasien juga rajin beribadah ke Gereja.
5. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum
maupun berurusan dengan pihak berwajib.
6. Riwayat Psikoseksual
Pasien memiliki orientasi seksual yang normal yaitu heteroseksual.
Sebelum berpacaran dengan suaminya, pasien juga pernah
berpacaran dengan seseorang yang bernama Ance yang merupakan
calon insinyur. Pasien mengatakan bahwa ia tidak mencintai
suaminya dan berharap Ance lah yang menjadi suaminya.
7. Aktivitas Sosial
Menurut suaminya, pasien mudah bergaul dengan lingkungannya
dan memiliki beberapa teman dekat.
8. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara. Orang tua pasien
mencintai semua anak anaknya dengan sama rata. Pasien sangat
menyayangi ayahnya dan sangat sedih ketika ayahnya meninggal di
Tahun 1976. Pasien bercerita tentang kenangan bersama ayahnya,
yaitu saat pasien tertidur di dalam mobil dan ayahnya
membopongnya ke dalam rumah. Pasien mengaku bahwa ia
mengurung dirinya seharian di kamar saat ayahnya meninggal.
Hubungan pasien dengan ibunya baik tetapi pasien sering
bertengkar dengan ibunya karena ibu pasien sangat keras kepala.

Saat bertengkar dengan ibunya, pasien kerap memukuli ibunya.


Sejak ayahnya meninggal, pasien jadi lebih sering melakukan
pekerjaan rumah (memasak, mencuci). Hubungan pasien dengan
saudara saudaranya baik dan pasien paling dekat dengan adik
bungsunya yang bernama Sony. Pasien juga sangat menyayangi
cucu cucunya. Tante pasien (dari garis keturunan ayah) juga
pernah mengalami gejala yang serupa dengan pasien dan sekarang
menderita alzheimer.
9. Persepsi Pasien tentang Diri dan Lingkungannya
Pasien tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa
dan berkata bahwa keadaannya sekarang merupakan takdir Tuhan.
10. Persepsi Keluarga tentang Diri Pasien
Menurut suaminya, pasien butuh orang lain untuk merawat pasien
dan ia sendiri tidak bisa merawat pasien secara penuh karena
sedang sakit sehingga menitipkan pasien ke Panti Katolik. Pasien
manja terhadap keluarganya dan sering ngambek karena suatu
alasan yang sepele.
11.

Situasi Kehidupan Sekarang


Saat ini tinggal di Panti Katolik Santa Ana dan dirawat oleh
suster di sana.
Pasien mendapat perhatian dari keluarganya, walaupun anaknya
tidak bisa sering menjenguknya karena sedang hamil 7 bulan.
Pasien butuh orang lain untuk membantunya merawat diri.
Pasien bermasalah dengan penyakit osteoartritisnya yang
menyebabkan pasien jadi sulit dan malas untuk berjalan.

Genogram

Tn. J, 58 th
Ny. J, 55 th

Tn. A, 35 th

Ny.L, 34 th

An. E, 12 th

An.E, 6 th
An.E, 8 th

Keterangan :
-

Hitam = pasien

Putih = normal

Pria

Meninggal

Wanita

IV.

STATUS MENTAL (dilakukan pada tanggal 10 dan 11 Juli 2014)


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Wanita, 55 tahun, gemuk, berkulit putih, perawatan diri kurang,
dan tampak sesuai dengan usianya. Rambut pasien kurang terawat
dan ada bau badan karena pasien beberapa hari belum mandi.
Pasien mengenakan baju daster tanpa lengan.

2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor


Selama wawancara, pasien dalam posisi tiduran dan tampak
tenang. Sesekali pasien duduk tetapi tetap tenang. Ada kontak mata
antara pasien dan pewawancara.
3. Sikap terhadap Pemeriksa
Pasien kooperatif terhadap pewawancara dan menjawab semua
pertanyaan yang diajukan pewawancara.
B. Mood dan Afek
1. Mood

: meninggi/elevated mood

2. Afek

: Terbatas

C. Bicara
Pasien berbicara spontan dan seringkali berbicara tanpa ditanya.
Intonasi suara pasien kuat dengan logat manado. Pasien berbicara
cepat tetapi artikulasinya tidak jelas.
D. Gangguan Persepsi
Saat di wawancara didapatkan gangguan persepsi berupa halusinasi
auditorik.
E. Pikiran
1. Proses Pikir
Pasien kaya akan ide dan kontinuitasnya flight of ideas.
2. Isi Pikir
Preokupasi tentang anaknya. Pasien rindu dan ingin segera
dijemput anaknya. Tidak ditemukan kelainan isi pikir berupa
waham pada pasien. Tidak ditemukan juga obsesi dan fobia.

F. Sensorium dan Kognitif


1. Taraf Kesadaran dan Kesiagaan
Kompos mentis dan kesiagaan baik
2. Orientasi
Waktu

: baik, pasien tahu kalau waktu sudah malam

Tempat

: baik, pasien tahu kalau sedang dirawat di rumah


sakit

Orang

: baik, pasien mengenali teman teman sebangsalnya,


suster, dan dokter di rumah sakit

3. Daya Ingat
Jangka Panjang

Baik, pasien masih ingat nama saudara saudaranya dan daerah


asalnya.
Jangka Sedang

Baik, pasien ingat bahwa anaknya sekarang sedang hamil anak ke


empat.
Jangka Pendek

Baik, pasien dapat mengingat menu makan siangnya.


Jangka Segera

Baik, pasien dapat mengingat bahwa teman sebangsalnya (Ervina)


makan malam sebanyak 8 suapan.
4. Konsentrasi dan Perhatian
Kurang. Pasien terkadang tidak memperhatikan pewawancara dan
terdistraksi oleh hal hal lain di sekitarnya.
5.

Kemampuan Visuospasial
Cukup. Pasien dapat menyebutkan waktu dengan tepat saat
pewawancara meminta pasien untuk membaca jam.

6. Pikiran abstrak
Cukup, pasien dapat mengerti peribahasa air susu dibalas dengan
air tuba
7. Intelegensia dan Kemampuan Informasi
Cukup, pasien mengetahui nama salah satu calon presiden di
pemilu 2014.
G. Kemampuan Mengendalikan Impuls
Pasien kooperatif dan tampak dapat mengendalikan diri selama
wawancara.
H. Daya Nilai dan Tilikan
1. Daya Nilai Sosial
Baik, pasien bersikap kooperatif terhadap pewawancara, dokter,
perawat, karyawan, dan pasien pasien lainnya di Paviliun Amino.
2. Penilaian Realita
Terganggu.
3. Tilikan
Derajat I, pasien mengatakan alasan dia berada di rumah sakit
adalah karena takdir Tuhan.
I. Taraf Dapat Dipercaya
Kurang dapat dipercaya, karena ada beberapa keterangan yang pasien
utarakan yang tidak sesuai dengan pernyataan suami pasien.
V.

PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 30 Juni 2014
A. Status Interna
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Kompos Mentis

Status Gizi

: Baik

Tekanan Darah

: 130/ 90

Frekuensi Nadi

: 80 x/ menit

Frekuensi Nafas

: 20 x/ menit

Suhu

: Afebris

Mata

: Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak


ikterik

THT

: Tidak ada gangguan

Mulut dan Gigi

: Gigi tidak ada kelainan

Thorax

: Jantung paru dalam batas normal

Abdomen

: Datar, bunyi usus normal

Ekstremitas

: Akral hangat, perfusi perifer baik, tidak ada


edema, ada luka di siku kedua tangan

B. Status Neurologis
Tanda Rangsang Meningeal

: Negatif

Tanda-tanda Efek Ekstrapiramidal

:Negatif

Motorik

: Baik

Sensorik

: Baik

C. Pemeriksaan Lab darah lengkap

Hb

11,6 (di bawah normal)

Ht

34 (di bawah normal)

Eritrosit

4,1 (di bawah normal)

Leukosit

7780

Trombosit

201000

MCV

84

MCH

28

MCHC

34

D. Pemeriksaan Lab Kimia klinik

VI.

Bilirubin total

0,52

SGOT

45 (di atas normal)

SGPT

24

Kolesterol total

210 (di atas normal)

Trigliserida

140

Kolesterol HDL

29 (di bawah normal)

Kolesterol LDL

137 (di atas normal)

Ureum

12 (di bawah normal)

Kreatinin

0,6

Asam Urat

6,5

Natrium

138

Kalium

Klorida

2,7
96

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pemeriksaan dilakukan pada Ny. Jenny usia 55 tahun, agama
Protestan, dibawa ke Paviliun Amino pada tanggal 17 Juni 2014 pukul
23.20 WIB dalam keadaan mengamuk (sudah sejak 4 hari SMRS), tidak
mau makan dan mandi, dan cenderung melukai diri sendiri dan orang lain.
Ditemukan juga halusinasi auditorik pada pasien.
Dari autoanamnesa
Ketika ditemui untuk wawancara, pasien nampak tenang dan
sedang berbaring di tempat tidurnya di Paviliun Amino. Pasien memakai
baju daster tanpa lengan dan bersikap kooperatif terhadap pewawancara.
Pasien menjawab pertanyaan dengan sesuai dan diselingi dengan ide ide

pasien yang banyak dan kontinuitasnya flight of ideas. Pasien berulang


kali menyatakan di sela sela wawancara bahwa ia ingin sekali bertemu
dengan anaknya dan dijemput pulang. Pasien menyatakan bahwa ia
mendengar bisikan dari setan tetapi berusaha menepisnya dan mengatakan
bahwa ia berlindung kepada Tuhan. Pasien tampak sangat percaya kepada
Tuhan.
Dari alloanamnesa
Pasien diketahui telah mengalami gangguan jiwa sejak 35 tahun
yang lalu dengan diagnosis skizofrenia. Gejala gangguan jiwa mulai
muncul sebulan setelah hari pernikahannya. Pada saat itu pasien menyiram
kepala suaminya dengan air tanpa sebab yang jelas. Tiga tahun terakhir ini
pasien sering masuk keluar rumah sakit jiwa dan tiga bulan terakhir
tinggal di Panti Katolik Santa Ana. Pasien terbilang manja kepada
keluarganya dan sering ngambek karena hal hal yang sepele. Pasien
sering mengalami halusinasi visual. Pasien merupakan orang yang taat
beribadah.
Status Mental
Pada pemeriksaan status mental didapatkan seorang wanita,
penampilan sesuai dengan usia, berkulit putih, perawatan dan kerapihan
diri kurang, dan memakai baju daster tanpa lengan.
Kesadaran pasien dalam keadaan kompos mentis. Sikap dan
psikomotor pasien saat diwawancara oleh pemeriksa berlangsung
kooperatif dan tenang. Pasien bersikap sopan terhadap pemeriksa dan
menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan pemeriksa. Pembicaraan
spontan, artikulasi tidak jelas, dan intonasi kuat. Mood saat itu meninggi
dan afek terbatas. Terdapat gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik.
Proses pikir flight of ideas dengan preokupasi tentang anaknya. Orientasi
dan daya ingat baik dan konsentrasi pasien kurang. Kemampuan

mengendalikan impuls dan daya nilai pasien baik. RTA pasien terganggu
dengan tilikan derajat I.
VII.

FORMULASI DIAGNOSTIK
Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan persepsi dan pikiran
yang bermakna yang menimbulkan suatu distress (penderitaan) dan
disability dalam kehidupan sosial pasien. Sehingga dapat disimpulkan
pasien mengalami gangguan jiwa.
Aksis I
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah
menderita penyakit yang mengganggu fungsi otak dan juga tidak
ditemukan adanya riwayat penggunaan zat psikoaktif. Pasien tidak pernah
mengalami trauma kepala, demam tinggi atau kejang sebelumnya. Hal ini
dapat menjadi dasar untuk menyingkirkan diagnosis gangguan mental
organik dan penggunaan zat psikoaktif.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami gejala
afektif (manik) dan skizofrenik yang sama menonjol dan secara bersamaan
ada dalam episode yang sama. Dari hal tersebut, kriteria diagnostik
menurut PPDGJ III pada ikhtisar penemuan bermakna pasien digolongkan
dalam F25.0 Skizoafektif Tipe Manik.
Aksis II
Ciri kepribadian dependen
Aksis III
Osteoartritis
Aksis IV
Pasien tidak tinggal lagi bersama keluarganya dan hingga saat ini
pasien dirawat oleh suster di panti.
Aksis V
Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global
Assement Of Functioning (GAF) menurut PPDGJ III didapatkan GAF saat

masuk ke Paviliun Amino 20 (bahaya mencederai diri/orang lain,


disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri). GAF pasien
saat pulang 60 yaitu gejala sedang (moderate), disabilitas sedang.
VIII.

EVALUASI MULTI AKSIAL


Aksis I

: Skizoafektif Tipe Manik (F25.0)

Aksis II

: Tidak ada diagnosis (Z03.2)


Ciri kepribadian dependen

Aksis III

: Osteoartritis (M15)

Aksis IV

: Pasien tidak tinggal lagi bersama keluarganya dan hingga

saat ini pasien dirawat oleh suster di panti.


Aksis V

GAF saat masuk ke Paviliun Amino 20 (bahaya mencederai diri/orang


lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri).
GAF pasien saat pulang 60 yaitu gejala sedang (moderate), disabilitas
sedang.
IX.

DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik
Adanya faktor genetik gangguan jiwa dalam keluarga pasien (tante
pasien).
B. Psikologis
Mood

: meninggi

Afek

: terbatas

Gangguan persepsi

: halusinasi auditorik

Proses pikir

: flight of ideas

Isi pikir

: preokupasi tentang anaknya

RTA

: terganggu

Tilikan

: derajat I

C. Lingkungan dan Sosioekonomi


Pasien tidak tinggal lagi bersama keluarganya dan hingga saat ini
pasien dirawat oleh suster di panti.

X.

DIAGNOSIS
Diagnosis kerja

: Skizoafektif Tipe Manik (F.25.0)

Diagnosis banding : Skizofrenia Paranoid (F20)


XI.

PROGNOSIS
Ad Vitam

: ad bonam
Fungsi fungsi vital pasien masih baik.

Ad Sanationam

: dubia ad malam
Dikarenakan pasien tidak mendapatkan dukungan
yang cukup dari keluarganya. Suaminya menitipkan
pasien kepada suster di panti dan anak pasien sudah
lama tidak menjenguknya.

Ad Fungsionam

: dubia ad bonam
Pasien masih dapat berfungsi dengan baik dalam
keseharian walaupun dalam beberapa hal (mencuci
pakaian, mandi) membutuhkan bantuan dari orang
lain.

XII.

RENCANA TERAPI
A. Psikofarmaka
Risperidon

2x2 mg

Natrium divalproat

2x250 mg

Trihexilphenidil

2x2 mg

B. Psikoterapi
1. Kepada pasien :
Psikoterapi suportif : berempati dan memberikan perhatian pada
pasien, tidak menghakimi pasien, mensuport segala usaha adaptif

pasien, menghormati pasien sebagai manusia seutuhnya dan peduli


pada aktivitas keseharian pasien.
2. Kepada keluarga :
Diperlukan peran serta keluarga dalam penanganan pasien.
Psikoedukasi dapat dilakukan dengan menjelaskan segala hal
tentang penyakit pasien dari penyebab, gejala-gejalanya, faktorfaktor yang memberatkan, dan cara pencegahannya. Dengan begitu
keluarga bisa menerima

dan mengerti keadaan pasien serta

mendukung proses terapi dan mencegah kekambuhan.


Perlu juga diberikan penjelasan mengenai terapi yang
diberikan pada pasien dengan menerangkan mengenai kegunaan
obat terhadap gejala pasien serta efek samping yang dapat muncul.
Selain itu juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum
obat secara teratur sehingga diharapkan keluarga turut serta untuk
bekerja sama dalam berjalannya program terapi.
XIII.

DISKUSI
Berdasarkan PPDGJ-III kriteria diagnosis untuk Skizoafektif Tipe
Manik adalah :
1. Kriteria ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik
yang tunggal maupun untuk gangguan yang berulang dengan
sebagian besar episode skizoafektif tipe manik.
2. Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek
yang tak begitu menonjol dikombinasi dengan irritabilitas atau
kegelisahan yang memuncak.
3. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih
baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana
ditetapkan untuk skizofrenia, F20.-pedoman diagnostik (a) sampai
dengan (d)).

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau
kurang jelas):
a) thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan,
walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau thought
insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu

dari

luar

dirinya

(withdrawal);

dan

thought

broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain


atau umum mengetahuinya;
b) delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar; atau delusion of passivitiy =
waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu
kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk
kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau
penginderaan khusus). delusional perception = pengalaman
indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya,
biasanya bersifat mistik atau mukjizat. delusion of influence =
waham dimana dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu
dari luar.
c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara
terus menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal
pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah
satu bagian tubuh.
d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya
setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya
perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan
kemampuan

di

atas

manusia

biasa

(misalnya

mampu

mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing


dan dunia lain).
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama
kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase
nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten
dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa
aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut
dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara
sosial.
Untuk gejala episode manik antara lain : afek yang meningkat
harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga terjadi aktivitas
yang berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, optimistik, harga
diri yang membumbung. Terdapat perburukan fungsi sampai titik
dimana ia tidak mampu merawat dirinya dan gagasan kebesaran dapat
berkembang menjadi waham kebesaran, iritabilitas dan kecurigaan
menjadi waham kejar.
Pada pasien ini didapatkan gejala skizofrenia dan gejala afektif
(manik) berupa halusinasi auditorik dimana pasien mendengar ada
bisikan bisikan setan. Untuk gejala episode manik didapatkan
peningkatan afek, peningkatan energi percepatan dan kebanyakan
bicara, optimistik, harga diri yang membumbung, konsentrasi
terganggu, serta tidak mampu merawat dirinya. Oleh karena itu,
menurut PPDGJ-III gejala diatas telah memenuhi kriteria untuk
diagnosis skizoafektif tipe manik (F.25.0)
Diagnosis banding pada pasien ini adalah skizofrenia paranoid
(F20.0) karena pada pasien didapatkan gejala umum skizofrenia yaitu
halusinasi auditorik (suara halusinasi yang berkomentar secara terus
menerus terhadap perilaku pasien). Diagnosis ini dapat disingkirkan
karena pada skizofrenia paranoid gejala halusinasi dan/atau waham
harus terlihat lebih menonjol dari gejala lain, namun pada pasien ini

selain gejala skizofrenia terdapat gejala afektif yang sama-sama


menonjol pada saat yang bersamaan.
Untuk terapi psikofarmaka, pengobatan yang dipilih pada pasien ini
adalah pemberian:
1. Risperidon

2x2 mg

Risperidon termasuk ke dalam golongan antipsikosis atipikal. Obat


ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor serotonin
(5HT2) dan aktivitas menengah terhadap reseptor dopamine (D2),
alfa 1 dan alfa 2 adrenergik dan reseptor histamin. Aktivitas
antipsikosis diperkirakan melalui hambatan terhadap reseptor
serotonin dan dopamine. Risperidon diberikan untuk mengatasi
gejala negatif ataupun positif skizofrenia.
2. Natrium Divalproat 2x250 mg
Natrium Divalproat (Depakote) merupakan golongan obat anti
mania akut atau campuran dengan atau tanpa disertai psikosis. Obat
ini bekerja meningkatkan konsentrasi GABA dalam plasma dan
SSP dengan cara meningkatkan sintesis dan pelepasan GABA.
Depakote diberikan untuk mengatasi gejala mania.

4. Trihexilphenidil

2x2 mg
Trihexilphenidil termasuk ke dalam golongan obat antikolinergik
yang mempunyai efek sentral yaitu mengurangi aktivitas kolinergik
yang berlebihan di ganglia basalis dengan cara menghambat
pelepasan asetil kolin endogen dan eksogen. Kadar puncak
trihexilphenidil tercapai setelah 1-2 jam. Obat antikolinergik
bermanfaat terhadap efek parkinsonisme dari obat.

LAMPIRAN
Discharge Planning
Tanggal masuk RS

: 18 Juni 2014, Jam 00.10 WIB

Alasan masuk RS

: gelisah

Tanggal perencanaan pemulangan pasien

: 19 Juni 2014, Jam 10.00 WIB

Estimasi tanggal pemulangan pasien

: 8 Juli 2014

Nama perawat

: Romaida

Keterangan Rencana Pemulangan


Pengaruh rawat inap terhadap :
1

Pasien dan keluarga pasien

Ya

Pekerjaan

Tidak

Keuangan

Ya
Ya, mengenai pentingnya

Antisipasi terhadap masalah saat pulang

Bantuan diperlukan dalam hal :


Adakah yang membantu keperluan tersebut

4
5

di atas?
Apakah pasien hidup/tinggal sendiri setelah
keluar dari rumah sakit?
Apakah pasien menggunakan peralatan medis
di rumah setelah keluar rumah sakit (kateter,

minum obat
Minum obat
Ya, keluarga
Tidak

Tidak

NGT, double lumen, oksigen)?


Apakah pasien memerlukan alat bantu
7

setelah keluar dari RS (tongkat, kursi roda,

Tidak

walker, dll)?
Apakah memerlukan bantuan/perawatan
8

khusus di rumah setelah keluar RS

Tidak

(homecare, home visit)?


Apakah pasien bermasalah dalam memenuhi

Tidak

kebutuhan pribadinya setelah keluar dari

10

11

rumah sakit?
Apakah pasien memiliki nyeri kronis dan
kelelahan setelah keluar dari RS?
Apakah pasien dan keluarga memerlukan
edukasi kesehatan setelah keluar dari rumah
sakit (obat obatan, nyeri, diet, mencari
pertolongan, follow up)?
Apakah pasien dan keluarga memerlukan

12

keterampilan khusus setelah keluar dari


rumah sakit (perawatan luka, injeksi,

Tidak
Ya, jadwal minum obat
dan jadwal kontrol ke
poliklinik

Tidak

perawatan bayi, dll)?

Discharge planning:
1. Impulsivitas terkendali
Saat pulang impulsivitas pasien terkendali saat pulang dan bersikap
kooperatif
2. Insight meningkat (minimal derajat 4) : pasien memahami pentingnya
minum obat untuk mengatasi gejala gejala yang dialami
Saat pulang pasien memahami pentingnya minum obat tetapi insight pasien
derajat I karena pasien masih tidak menyadari bahwa dirinya sakit. Pasien
memahami pentingnya minum obat tetapi perlu tetap diingatkan untuk minum
obat.

Kelengkapan Status
No.

Berkas

Keterangan

1
2
3
4
5

Surat masuk rawat inap


Surat rujukan
Ringkasan masuk dan keluar dan GENERAL
CONSENT
Keterangan penjamin
Formulir DPJP
Pengkajian

Ada
Ada
Ada
Ada
Ada

a. Pengkajian awal keperawatan rawat jalan general

Ada

b. Catatan medis gawat darurat

Ada

c. Catatan medis awal rawat inap

Ada

d. Pengkajian awal keperawatan rawat inap

Ada

e. Pengkajian khusus (jiwa)

Ada

f. Pengkajian nyeri

Ada

g. Skoring pasien resiko jatuh

Ada

h. Pengkajian dekubitus

Ada

i. Skrining gizi lanjut


Asuhan keperawatan

Ada

a. Keperawatan dan rencana pemulangan

Ada

pasien/discharge planning
b. Asuhan ICU

Tidak ada

8
9

c. Asuhan gizi
Catatan perkembangan terintegrasi
Edukasi terintegrasi
Pemeriksaan diagnostik

Ada
Ada
Ada

10

a. Pemeriksaan laboratorium

Ada

11
12
13
14
15
16
17
18
19

b. Pemeriksaan radiologi
Lembar konsultasi
Rencana tindakan keperawatan
Lembar observasi pasien harian
Pemantauan pemberian cairan
Daftar pemberian terapi
Formulir surveilans (infeksi rumah sakit)
Penolakan dan persetujuan tindakan
Anestesi
Pembedahan

20

Alih rawat/pindah/meninggal

Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada (pemindahan
dari/antar ruangan)

21

22

Laporan kematian (meninggal)


Resume pulang

Tidak ada

a. Resume pasien pulang rawat inap (dokter)

Ada

b. Resume pasien pulang rawat inap (perawat)

Ada

c. Surat keterangan istirahat sakit


Lain lain:

Tidak ada

a. Permohonan cuti
b. KDRT
c. Kekerasan seksual
d. Second opinion
23

e. Kekerasan fisik

Tidak ada

f. DNR
g. Persetujuan, pembatalan dan hak peneliti
penelitian
h. Permintaan pelayanan kerohanian
24
25

i. Penundaan pelayanan
Formulir rencana kunjungan
Formulir rujukan pasien

Tidak ada
Tidak ada