Anda di halaman 1dari 27

Diagnosis pada Gagal

Jantung Kronik dan


Hipertensi serta
Penatalaksanaanya
YONO SUHENDRO
102013002

Skenario 3
Seorang laki-laki berusia 60 tahun datang diantar anaknya berobat ke
poliklinik RS dengan keluhan sering sesak bila beraktivitas, hal ini dirasakan
sejak 6 bulan yang lalu. Selain itu pasien juga mengeluh batuk kering, tidak
disertai demam dan nyeri dada. Pasien ini mersakan nafasnya sering
tersengal-sengal, terutama bila berjalan agak jauh sehingga sangat
mengganggu kesehariannya. Keluhan dirasakan berkurang bila pasien
beristirahat. Saat malam hari pasien merasa lebih nyaman bila tidur dengan
bantal agak tinggi, selain itu 2 bulan terakhir ini ia merasa kakinya sering
bengkak. Pasien didiagnosis menderita darah tinggi sejak berusia 50 tahun.
Dua tahun yang lalu ia didiagnosis dokter menderita penyakit jantung
koroner dan menjalani operasi Coronary Aterry Bypass Graft (CABG)

Istilah yang tidak diketahui


Coronary Aterry Bypass Graft (CABG) adalah prosedur bedah untuk membuat
pembuluh darah baru yang melintasi pembuluh darah jantung yang
menyempit dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain.

Rumusan Masalah
Seorang laki-laki 60 tahun sesak napas bila beraktifitas sejak 6 bulan yang
lalu disertai batuk kering, tidak disertai demam dan nyeri dada.

Mind Mapping
Manifestasi
Klinis

Patofisiologi

Etiologi

Penatalaksanaan :
- Medika Mentosa
- Non-medika
Mentosa

Seorang laki-laki 60 tahun


sesak napas bila beraktifitas
sejak 6 bulan yang lalu
disertai batuk kering, tidak
disertai demam dan nyeri
dada.

Diagnosa :
- DD
- WD

Komplikasi
&
Prognosis

Anamnesis

Pemeriksaan
Fisik
&
Pemeriksaan
Penunjang

Anamesis
Autoanamnesis / Alloanamnesis
Keluhan utama
sesak napas bila beraktifitas sejak 6 bulan yang lalu
Riwayat penyakit sekarang
Batuk kering tidak disertai demam, dan nyeri dada
Riwayat penyakit dahulu
Darah tinggi sejak berusia 50 tahun. Dua tahun yang lalu menderita
penyakit jantung koroner dan menjalani operasi CABG
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat sosio-ekonomi

Pemeriksaan Fisik
Keadaan tampak sakit berat, kesadaran kompos mentis, TB 167cm, BB 85kg (IMT = 30.47
Obesitas Grade 2)
Tanda-tanda vital

Suhu : normal
Nadi : 100x/menit
Tekanan darah : 160/90mmHg
Frekuensi pernapasan : 22x/menit, mengi (-), teratur, isi cukup

Inspeksi
Ekstremitas bengkak
Obesitas Grade 2

Palpasi
Daerah akral hangat, pitting odem (+) kiri-kanan

Perkusi
-

Auskultasi
Vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-), BJ 1/2 murni reguler, gallop (+), murmur (-)

Pemeriksaan Penunjang
Rontgen Thorax (PA) Cardiomegaly & Pulmonary Edema
Echocardiography Cardiomegaly ejection & kondisi katup
Creatinine Kinase (CK) MB dan Cardiac specific Troponin (cTn) T atau
cTn I meningkat
EKG Q patologis pada V1-V3
Pasien gagal jantung jarang dengan EKG normal dan bila terdapat EKG
normal dianjurkan untuk meneliti diagnosis gagal jantung tersebut. EKG
sangat penting dalam menentukan irama jantung

Diagnosis Banding
Diagnosis Banding 1 :
1. Gagal Jantung Akut
2. Gagal ginjal Kronis
3. PPOK
Diagonisis Banding 2 :
1. Hipertensi Sekunder

Gagal jantung
kronik dan
hipertensi
Sesak
nafas/dispnea
Nyeri
dada/angina

Gagal
jantung akut

Edema
pulmonal
dan
sistemik
Gagal ginjal

PPOK

Sesak
nafas
Nafas
pendek,ce
pat

Edema perifer
Hipotensi
Kelelahan
Bunyi jantung
S3 meningkat

Sindrom
syok

Sesak
dalam
dada

Penyakit ginjal
kronik

Sesak nafas
Nyeri dada
akibat
perikarditis
Penurunan
kesadaran
(letargi)
Hipertensi

Takikardia
Mual muntah
Batuk
produktif

Edem kaki dan


sekitar mata

BB turun
Sering BAK
malam hari

Diagnosis band

Gagal Jantung Kronik (Diagnosis


Kerja)
Gagal jantung merupakan suatu sindrom klinis kompleks yang ditandai
dengan sesak nafas dan fatik saat istirahat maupun beraktivitas, yang
disebabkan oleh ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh
jaringan tubuh secara adekuat akibat adanya gangguan structural dan
fungsional jantung.
WD 1 Gagal jantung kronik didefinisikan sebagai sindrom kompleks
klinis yang disertai keluhan gagal jantung berupa sesak, fatik saat istirahat
maupun beraktivitas, edema, dan tanda objektif adanya disfungsi jantung
dalam keadaan istirahat.
WD
2

(Hiper
artinya
berlebihan,tensiartinya
tekanan/tegangan;jadi,hipertensi adalah gangguan sistem peredaran
darah yang menyebabkankenaikan tekanan darah diatasnilai normal.

Kriteria Mayor dan Minor Gagal Jantung


Kronik
Kriteria Major

Kriteria Minor

Paroksismal nokturnal dispnea

Edema ekstremitas

Distensi vena leher

Batuk malam hari

Ronki paru

Dispnea deffort

Kardiomegali

Hepatomegali

Edema paru akut

Efusi pleura

Gallop S3

Penurunan kapasitas vital 1/3 dari

Peninggian tekanan vena jugularis

Refluks hepatojugula

Diagnosis gagal jantung


ditegakkan minimal ada
1 kriteria major dan 2
kriteria minor.5

normal

Takikardia (>120 menit)

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta: InternaPublishing; 2009. h. 31-2, 66-8

Etiologi
> Semua kondisi yang mengakibatkan perubahan dari struktur maupun fungsi
ventrikel kiri (pada umumnya) menjadi
jantung.

Penyakit

jantung

koroner

dan

faktor predisposisi tercetusnya gagal


hipertensi

merupakan

dua

faktor

predominan yang bertanggung jawab dalam terjadinya gagal jantung.


> Hipertensi esensial muncul kurang lebih 95% dari semua kasus hipertensi yang
ada. Etiologi belum dapat dipastikan namun hipertensi esensial dikaitkan dengan
penyebab yang multifaktoral. Lingkungan dan polimorfisme geneik dikatakan
sebagai dua faktor dominan

penyebab hipertensi primer yang akhirnya sampai

kepada resorpsi natrium, jalur aldosteron dan RAA sistem.

Epidemiologi
> Di Eropa kejadian gagal jantung berkisar 0,4% sampai 2% dan meningkat
pada usia yang lebih lanjut, dengan rata-rata umur 74 tahun. Setengah dari
populasi pasien gagal jantung akan meninggal dalam empat tahun sejak
diagnosis ditegakkan. Bila keadaan gagal jantung berat, lebih dari 50% akan
meninggal pada tahun pertama.
> Di Amerika Serikat, 30% dewasa atau kurang lebih 65 juta orang
mengalami hipertensi. Prevalensi hipertensi naik sesuai dengan umur.
Kenaikan prevalensi hipertensi juga dikaitkan dengan naikknya prevalensi
obesitas.

Manifestasi Klinis
> Simptom kardinal dari gagal jantung adalah cepat lelah dan pemendekan
napas akibat penurunan kerja jantung. Derajat gagal jantung yang umum
dipakai adalah The New York Heart Association (NYHA) Classification
> Kebanyakan pasien hipertensi bersifat asimptomatik. Beberapa pasien juga
mengalami sakit kepala, rasa seperti berputar atau pengelihatan kabur (sakit
kepala pada umumnya di bagian oksipital)

Gejala Klinis pada Gagal Jantung


Kanan dan Kiri
Gagal Jantung Kiri

Gagal Jantung Kanan

Penurunan kapasitas akitivitas

Pembengkakan pergelangan kaki

Dispnu (mengi, ortopnu, PND)

Dispnu (namun bukan ortopnu atau PND)

Batuk (hemoptysis)

Penurunan kapasitas aktivitas

Letargi dan kelelahan

Nyeri dada

Penurunan

Denyut nadi aritmia takikardia

badan

Peningkatan JVP

Kulit lembap

Edema

Tekanan darah (tinggi, rendah, atau

Hepatomegaly dan asites

normal)

Gerakan bergelombang parasternal

S3 atau S4 RV

rendah) (alternans/takikardia/aritmia)

Efusi pleura

Pergeseran apeks

Regugirtasi mitral fungsional

Krepitasi paru

Efusi pleura

Denyut

nafsu makan

nadi

(volume

dan berat

normal

atau

Gagal
mempengaruhi

jantung
jantung

dapat
kiri,

jantung kanan, atau keduanya


(biventrikel),
praktik,

namun

jantung

sering terkena.

Sumber: Gray HH,dkk. Lecture notes: kardiologi. Jakarta: Erlangga; 2009.h.80-97.

kiri

dalam
lebih

Patofisiologi

Patofisiologi
Kerusakan jantung mengakibatkan penurunan curah jantung, yang pada
gilirannya menurunkan tekanan darah arteria ke organ-organ vital. Aliran
darah ke arteri koroner berkurang, sehingga asupan oksigen ke jantung
menurun, yang pada gilirannya meningkatkan iskemia dan penurunan lebih
lanjut kemampuan jantung untuk memompa, akhirnya terjadilah lingkaran
setan. Tanda klasik syok kardiogenik adalah tekanan darah rendah, nadi
cepat dan lemah, hipoksia otak yang termanifestasi dengan adanya konfusi
dan agitasi, penurunan haluaran urin, serta kulit yang dingin dan lembab.
Disritmia sering terjadi akibat penurunan oksigen ke jantung. Seperti pada
gagal jantung, penggunaan kateter arteri pulmonal untuk mengukur tekanan
ventrikel kiri dan curah jantung sangat penting untuk mengkaji beratnya
masalah dan mengevaluasi penatalaksanaan yang telah dilakukan.
Peningkatan tekananakhir diastolik ventrikel kiri yang berkelanjutan (LVEDP =
Left Ventrikel End Diastolik Pressure) menunjukkan bahwa jantung gagal
untuk berfungsi sebagai pompa yang efektif

Komplikasi
Komplikasi yang paling sering terjadi pada penderita jantung adalah syok
kardiogenik. Syok kardiogenik ini merupakan suatu sindrom klinis kompleks
yang

mencakup

sekelompok

keadaan

dengan

berbagai

manifestasi

hemodinamik, tetapi petunjuk umum adalah tidak memadainya perfusi


jaringan.

Penatalaksanaan Non medika


mentosa
Istirahat, olahraga, aktivitas sehari-hari
Edukasi pola diet, control asupan garam, air, dan kebiasaan
alcohol.
Hentikan kebiasaan merokok.
Monitor berat badan, hati-hati dengan kenaikan berat badan
yang tiba-tiba.
Mengurangi berat badan pada pasien yang obesitas.
Hindari tempat tinggi dan suhu ekstreme

Medika mentosa
Ace inhibitor

captopril (12,5 mg 3x/hari bertahap sampai dengan 25mg 3x/hari)


ARB-angiotensin reseptor blocker

losartan K 50mg 1x/hari.


Diuretic

furosemid (20-80mg)
dosis tunggal tiap 6-8 jam
-blocker

bisoprolol 5mg 1x/hari


Glikosida jantung (waspadai intoksikasi digoksin)

digoxin 2-6tab /hari

Terapi Kombinasi
Hipertensi pasca infark jantung beta blocker dan ACE inhibitor.
Pasien dengan risiko PJK yang tinggi diuretic, beta blocker dan Ca++
antagonist.
Gagal jantung hipertensi diuretic, ACE inhibitor beta blocker

Transplantasi jantung
Indikasi:

Kontraindikasi:

1. Gagal jantung sistolik

1. Usia terlalu tua (>70 tahun)

2. Aritmia ventrikel tidak teratasi


obat

2. Infeksi sistemik,

3. Syok kardiogenik

3. Diabetes mellitus +
komplikasi
4. Keganasan.

Prognosis
Kematian di rumah sakit yang tinggi dengan syok kardiogenik 40%-60%.
Tanpa pengobatan maka hipertensi akan berakibat lanjut sesuai dengan
target organ yang diserangnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis
seorang penderita hipertensi adalah :
1. Etiologi hipertensi; hipertensi sekunder yang ditemukan pada tahap dini
akan lebih baik prognosisnya
2.Komplikasi; adanya komplikasi memperberat prognosis

Pencegahan
Pencegahan Primer
Pencegahan primer ditujukan pada masyarakat yang sudah menunjukkan adanya faktor risiko gagal
jantung. Upaya ini dapat dilakukan dengan membatasi komsumsi makanan yang mengandung kadar
garam tinggi, mengurangi makanan yang mengandung kolesterol tinggi, mengontrol berat badan
dengan membatasi kalori dalam makanan sehari-hari serta menghindari rokok dan alkohol.
Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan pada orang yang sudah terkena gagal jantung bertujuan untuk
mencegah gagal jantung berlanjut ke stadium yang lebih berat. Pada tahap ini dapat dilakukan
dengan diagnosa gagal jantung, tindakan pengobatan dengan tetap mempertahankan gaya hidup
dan mengindari faktor resiko gagal jantung.
Pencegahan tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat atau kematian akibat
gagal jantung. Upaya yang dilakukan dapat berupa latihan fisik yang teratur untuk memperbaiki
fungsional pasien gagal jantung.

Kesimpulan
Laki-laki berusia 60 tahun ini menderita gagal jantung kronik. Hal ini dapat
didiagnosis dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat. Namun untuk
memastikan diagnosis kita, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang serta
untuk menyingkirkan DD yang ada. Pria ini perlu mendapat penanganan
serius karena gagal jantung kronik memiliki prognosis yang buruk.
Penanganan yang cepat dan tepat dapat menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas. Kemudian hipertensi biasanya didiagnosis selama pemeriksaan
fisik umum check up, atau kunjungan ke dokter untuk beberapa keluhan lain.
Penatalaksana hipertensi dapat dilakukan dengan terapi non farmakologi dan
terapi farmakologi. Tanpa pengobatan maka hipertensi akan berakibat lanjut
sesuai dengan target organ yang diserangnya dan mempengaruhi prognosis
seorang penderita hipertensi. Pencegahan hipertensi dapa dilakukan dengan
Pencegahan primodial, Promosi Kesehatan berkaitan dengan penyakit
Hipertensi, Proteksi spesifik, Diagnosis dini, Pengobatan dan Rehabilitasi.