Anda di halaman 1dari 4

A. Kasus SFAS No.

2
Dalam kasus research and development SFAS No 2 diterapkan rigit uniformity. Akan lebih
representational faithfulness bila biaya research and development (succesful effort) sebagai finite
uniformity, misal dalam akuntansi minyak dan gas, yaitu jika research and development dalam
metode successful efforts maka dikapitalisasi dan jika gagal maka dibebankan sebagian biaya
pada tahun terjadinya. Pendekatan finite uniformity akan lebih relevant tetapi kurang verifiable.
Sterling (1985), ia melihat bahwa representational faitfulness dalam kontek binary, bahwa dalam
pengukuran karakteristik aset bisa representational faitfulness atau tidak. Dalam hal manfaat
pengambilan keputusan Sterling percaya representational faitfulness merupakan karakteristik
utama dari usfulnees yang tidak dapat di-trade off dengan veriability, walaupun dalam
beberapa kualitas pengukuran kurang tepat.
B. Kasus SFAS No. 33
Pada tahun 1979, FSAB mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(statement of financial accounting standards-SFAS) No. 33. Berjudul pelaporan keuangan dan
perubahan harga, pernyataan ini mengharuskan perusahaan-perusahaan AS yang memiliki
persediaan dan aktiva tetap. Banyak pengguna dan penyusun informasi keuangan yang telah
sesuai dengan SFAS No.33 mengemukakan bahwa:
1) Pengungkapan ganda yang diwajibkan oleh FASB membingungkan.
2) Biaya untuk penyusunan pengungkapan ganda ini terlalu besar.
3) Pengungkapan daya beli konstan biaya historis tidak terlalu bermanfaat bila dibandingkan
data biaya kini.
FASB memutuskan untuk tetap memakai biaya historis nominal sebagai dasar laporan
keuangan. SFAS No. 33 secara spesifik menjelaskan pengaruh perubahan harga seharusnya
disajikan sebagai informasi tambahan dalam laporan tahunan. Didukung dengan pendekatan
dolar yang stabil akan sama baiknya dengan pendekatan nilai sekarang. FASB menyimpulkan
perusahaan seharusnya melaporkan informasi tambahan selain informasi utama dengan
pendekatan pengukuran yang berbeda. Menurut SFAS No. 33 perusahaan publik diartikan
sebagai berikut:

1) Pemilik kewajiban atau sekuritas ekuitas yang diperdagangkan dalam sebuah pasar umum
di bursa saham domestik atau dalam pasar di luar domestik.
2) Diwajibkan untuk mengajukan laporan keuangan kepada sekuritas dan SEC. Selama
pelaporan dolar konstan, SFAS mensyaratkan pengungkapan atas:
3) informasi pendapatan dan operasi selanjutnya selama pajak tahunan beredar berbasis kos
historis atau dolar konstan.
4) keuntungan atau kerugian daya beli atas nilai moneter bersih untuk pajak tahunan.
Mengenai nilai sekarang, hal yang perlu diungkapkan selanjutnya adalah:
1) informasi pendapatan dari operasi berkelanjutan untuk peredaran pajak tahunan
berdasarkan basis biaya sekarang.
2) jumlah dari biaya sekarang dari persediaan properti, tanah dan perlengkapan di akhir
peredaran pajak tahunan.
3) peningkatan atau penurunan untuk peredaran pajak tahunan dalam harga sekarang sejumlah
nilai persediaan properti, tanah dan kepemilikan pada saat inflasi.
Akhirnya SFAS No. 33 gagal karena beberapa alasan, yaitu adanya kemunduran dramatis dari
inflasi selama awal tahun 1980an. Ditambah lagi masalah pengukuran yang digunakan,
pertanyaan tentang pengertian dan penggunaan untuk tujuan prediktif.

C. Kasus Standar Pengukuran Instrumen Keuangan


Pembahasan cukup hangat dalam diskusi rapat EEG kali ini adalah terkait dengan standar
akuntansi untuk aktivita sekstraksi (extractive activities). Saat ini IFRS hanya memiliki IFRS
6 Exploration for and evaluation of Mineral Resources yang sebenarnya hanya merupakan
standar akuntansi sementara. Dalam hal akuntansi untuk minyak dan gas bumi, US GAAP
(termasuk peraturan SEC ) memang memiliki lebih banyak standar yang mendetail misalnya
dalam SFAS 19 Financial Accounting and Reporting by Oil and Gas Producing Companies yang
sudah terbit sejak December 1977. Delegasi dari Afrika Selatan memaparkan makalah mengenai
hal ini dan memimpin diskusi di rapat EEG lalu. Anggota EEG ditanya mengenai ruang lingkup
kegiatan riset IASB yang akan dilakukan di masa depan. Karena industri perminyakan adalah
bisnis global, maka banyak perusahaan multinasional yang membutuhkan standar internasional.

Para anggota EEG meyuarakan dukungannya bahwa IASB perlu untuk melakukan riset
mengenai akuntansi untuk ekstraksi industry.
Pada tahun 2010, IASB sudah mengeluarkan sebuah Discussion Paper yang menanyakan
apakah project spesifik untuk industri ekstraksi memang dibutuhkan. Atau diskusi mengenai
akuntansi ini digabung saja dengan project aset tak berwujud. Salah satu permasalahan yang
cukup pelik untuk industri ekstraksi adalah mengukur besarnya cadangan mineral (cadangan
minyak misalnya). Dan mengingat industri ekstraksi ini berisiko tinggi, maka pengukuran
cadangan ini menjadi penting bagi relavansi laporan keuangan perusahaan minyak, tambang dan
gas. Namun pengukuran cadangan minyak ini bisa disetarakan dengan aktivitas research and
development industri lain yang juga tidak kalah besar risikonya, seperti misalnya aktivitas riset
obat di perusahaan farmasi. Oleh sebab itu menjadi pertanyaan apakah tidak sebaiknya
pembahasan mengenai cadangan mineral juga digabung dengan pembahasan kegiatan riset
industri lainnya dalam kerangka standar akuntansi aset takberwujud.
Anggota EEG terbelah dalam diskusi mengenai industri ini. China misalnya malah
mengusulkan standar akuntansi yang lebih spesifik untuk minyak dan gas, bukan hanya standar
akuntansi ekstraksi yang lebih umum. Malaysia mendukung standar akuntansi khusus untuk
ekstraksi yg terpisah dari industri lain dengan argumen industri ekstraksi memiliki kekhususan
tersendiri. Sedangkan Saudi Arabia cenderung menginginkan pembahasan akuntansi ekstraksi
bisa sejalan dengan industri lain yang juga berisiko tinggi. Indonesia memilih jalan tengah,
bahwa kalaupun IASB memutuskan memiliki standar akuntansi khusus ekstraksi, itu hanya
mengatur hal yang sangat unik yang tidak diatur dalam standar-standar lainnya. Delegasi
Indonesia berpikiran bahwa sifat IASB yang principle-based harus tetap dipertahankan.

DAFTAR PUSTAKA :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=134313&val=5637
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/2014/11/07/akuntansi-instrumen-keuangan-psak-50-55-60/
http://fidiyaku.blogspot.co.id/2015/05/resume-materi-akuntansi-internasional.html
http://etw-accountant.com/tag/iasb/