Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan
memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Menurut
WHO, yang dimaksud makanan adalah: Food include all substances, whether in a
natural state or in a manufactured or prepared form, wich are part of human diet.
Batasan makanan tersebut tidak termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi
yang diperlukan untuk tujuan pengobatan.1
Menurut WHO (World Health Organization) kegiatan pengendalian untuk
melindungi konsumen dan menjamin bahwa semua makanan aman mulai produksi,
handling, penyimpanan, pemrosesan dan distribusi sehat dan layak dikonsumsi oleh
manusia, memenuhi persyaratan keamanan dan mutu, dan dengan jujur dan akurat
diberi label yang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.1
Sistem pangan Indonesia, tidak hanya dituntut untuk memberikan pasokan
produk pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup (nutritionally adequate), tetapi juga
aman (safe). Dengan semakin meningkatnya status sosial dan pendidikan masyarakat,
maka hal ini mengakibatkan meningkatnya pula kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya mutu, gizi dan keamanan pangan dalam upaya menjaga kebugaran dan
kesehatan masyarakat. Pangan selalu melibatkan manusia pada setiap tahap
kehidupan. Setiap pangan dianggap baik, bila kita dapat memilih dan menimbang halhal yang kita harapkan dan sukai serta yakin terhadap keamanan, kemurnian dan
higienitasnya.
1

Keamanan pangan bagi penjamin kesehatan masyarakat pada hakikatnya


merupakan tanggung jawab bersama, yaitu antara produsen pangan, pemerintah dan
konsumen. Untuk dapat memproduksi pangan yang aman, produsen senantiasa harus
mematuhi semua peraturan perundangan-undangan tentang pangan dan menerapkan
sistem manajemen pangan yang komprehensif di industri. Bagi konsumen hendaknya
segera menyadari bahwa banyak pengaruh-pengaruh negatif apabila mengonsumsi
pangan atau makanan yang tidak aman.
Pengawasan produk makanan di era modern ini menjadi kebutuhan yang
sangat penting. Adanya kemajuan di bidang teknologi produksi pangan dan entry
barrier yang makin tipis dalam perdagangan, mendorong produk-produk seperti
makanan dalam waktu yang amat singkat, menyebar ke berbagai daerah dengan
jaringan distribusi yang sangat luas dan mampu menjangkau seluruh strata
masyarakat. Konsumsi masyarakat terhadap produk-produk tersebut cenderung terus
meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat termasuk pola
konsumsinya. Sementara itu pengetahuan masyarakat masih belum memadai untuk
dapat memilih dan menggunakan produk secara tepat, benar, dan aman.1
Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan
tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya :
1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki.
2. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.
3. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari
pengaruh enzim, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan
kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.
4. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang
dihantarkan oleh makanan (food borne illness).1
Menurut Undang-Undang RI No.23 Tahun 1992 kesehatan pasal 21 tentang
pengamanan makanan dan minuman:1
2

1. Pengamanan makanan dan minuman diselenggarakan untuk melindungi


masyarakat dan makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan
mengenai standar dan atau persyaratan kesehatan.
2. Setiap makanan dan minuman yang dikemas wajib diberi tanda atau label yang
berisi :
a. Bahan yang dipakai,
b. Komposisi setiap bahan,
c. Tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa,
d. Ketentuan lainnya.
3. Makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar dan atau
persyaratan kesehatan dan atau membahayakan kesehatan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dilarang untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dan disita untuk
dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
4. Ketentuan mengenai pengamanan makanan dan minuman sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan Properda Jawa Tengah 2001-2005, pembangunan sektor pertanian


antara lain ditempuh melalui program pengembangan agribisnis. (Bappeda Provinsi
Jawa Tengah, 2001). Program pengembangan agribisnis ini sudah selayaknya diikuti
dengan kesadaran mengenai higiene dan sanitasi dari para pelaku industri, sehingga
dapat diciptakan pangan yang baik dan memenuhi syarat higiene.2
Di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo sendiri, ubi kayu (Manihot esculenta
Crantz sin. M. utilissima Poh) yang dikenal juga dengan nama singkong, telo puhung,
telo jendral, bodin dan sebagainya, dimanfaatkan untuk banyak kepentingan, antara
lain sebagai bahan baku industri rumah tangga yaitu pati, tapioka, slondok/lanting
atau dibuat panganan lain untuk stok pangan keluarga. Hal tersebut menjadi tanggung
jawab bersama antara produsen pangan dan pemerintah untuk menjamin keamanan,
kemurnian dan higienitas pangan hingga sampai ke tangan konsumen.
3

Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Salaman I sendiri telah


melakukan kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi pada tempat-tempat
pengolahan dan penjualan makanan, namun di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo
sendiri, belum pernah dilakukan pendataan dan pengawasan Industri Makanan
Rakyat (IMR) yang terdapat di sana.
Dari laporan kegiatan program Kesling bulan Januari-Juli 2010, terdapat 41
TP2M yang ada di wilayah kerja Puskesmas Salaman I, dengan rincian IMR
sebanyak 13 buah dan warung makan sebanyak 28 buah. Dari 13 IMR, baru 6 buah
yang memenui syarat sanitasi. Jika dipersentasikan, cakupan pelayanannya baru
mencapai 46,15%, sedangkan menurut Standar Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan
Kabupaten Magelang yaitu 75%. Sedangkan di Dusun Karangkulon sendiri, belum
pernah dilakukan pendataan untuk IMR.
Hasil wawancara dengan penanggung jawab program Kesehatan Lingkungan,
permasalahan terletak pada kurangnya jumlah tenaga sanitarian dengan wilayah kerja
yang luas, serta banyaknya beban kerja lainnya.
Kondisi di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo Kecamatan Salaman sendiri
menunjukkan masih rendahnya Industri Makanan Rakyat (IMR) yang memenuhi
syarat sanitasi, untuk itu penulis mengambil Dusun Karangkulon Desa Kalirejo
untuk melakukan evaluasi tentang TP2M, terutama IMR yang memenuhi syarat
sanitasi.
1.2 Batasan Judul
% Cakupan IMR yang memenuhi syarat sanitasi =
Jumlah IMR yang memenuhi syarat
Sanitasi Jumlah IMR yang diperiksa

X 100%

Di wilayah kerja Puskesmas Salaman I pada periode Januari-Juli 2010


didapatkan jumlah IMR yang diperiksa sebanyak 13 tempat dan 6 tempat yang
memenuhi syarat sanitasi. Sehingga di wilayah kerja Puskesmas Salaman I
didapatkan cakupan IMR yang memenuhi syarat sanitasi sebesar 46,15%. Namun
demikian, di Dusun Karangkulon sendiri, belum pernah dilakukan pendataan untuk
IMR.

Oleh karena itu penulis memilih judul tentang EVALUASI PROGRAM

KESEHATAN LINGKUNGAN TEMPAT PENGOLAHAN DAN PEMBUATAN


MAKANAN (TP2M) YANG MEMENUHI SYARAT SANITASI DI DUSUN
KARANGKULON DESA KALIREJO KECAMATAN SALAMAN KABUPATEN
MAGELANG PERIODE JANUARI-JULI 2010.
1.3

Batasan Operasional
1. Evaluasi kegiatan selama 7 bulan sejak Januari Juli 2010.
2. Sasaran adalah IMR di daerah cakupan Dusun Karangkulon Desa Kalirejo
Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.
3. Cakupan adalah presentasi hasil perbandingan antara IMR yang memenuhi syarat
higiene dan sanitasi dengan jumlah seluruh tempat pengelolaan makanan di
wilayah kerja yang diperiksa.

1.4

Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengkajian yang di lakukan meliputi
1. Lingkup Lokasi
Dusun Karangkulon Desa Kalirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.
2. Lingkup Waktu
Januari Juli 2010.
3. Lingkup Sasaran
Jumlah IMR.
4. Lingkup Metode
Wawancara, pencatatan, dan pengamatan.
5. Lingkup Materi
Evaluasi IMR di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo Periode Januari Juli 2010.

1.3

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan data SPM pada bulan Juli 2010 yaitu cakupan untuk Kecamatan
Salaman sebanyak 52,50% sedangkan target yang berasal dari Dinas kesehatan
kabupaten magelang adalah 75%, dari data SPM ini sudah dapat diketahui bahwa
TP2M di daerah Kecamatan Salaman belum memenuhi target dari Departemen
Kesehatan. Untuk cakupan IMR di wilayah kerja Puskesmas Salaman I sendiri
sebesar 46,15%.
1.4

TUJUAN
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah masih terdapat Industri Makanan Rakyat (IMR)
yang belum memenuhi syarat sanitasi di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo.
1.3.2

Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab masih kurangnya pengetahuan
tentang IMR yang memenuhi syarat sanitasi di Dusun Karangkulon Desa
Kalirejo.
2. Untuk mengetahui pemecahan masalah penyebab rendahnya pengetahuan
penduduk yang memiliki home industri mengenai IMR yang memenuhi
syarat sanitasi di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo.
3. Untuk mengetahui evaluasi pemecahan masalah penyebab rendahnya
pengetahuan penduduk yang memiliki home industri mengenai IMR yang
memenuhi syarat sanitasi di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo.

1.5

MANFAAT KEGIATAN
1.5.1 Bagi Penulis
Untuk meningkatkan pengetahuan penulis tentang penyebab rendahnya
sanitasi home industri di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo.
1.5.2

Bagi Profesi
6

Laporan ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai


penyebab masih kurangnya pengetahuan tentang IMR yang memenuhi syarat
sanitasi di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo.
1.5.3

Bagi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan pengetahuan masyarakat dapat
bertambah mengenai bagaimana menjaga kebersihan makanan dan lingkungan
pada saat mengolah makanan yang baik dan sesuai dengan syarat kesehatan.

1.6

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survei, dengan
lokasi penelitian di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo Kecamatan Salaman
Kabupaten Magelang pada tanggal 30 Juli 2010. Survei dilakukan pada responden
yang diambil berdasarkan jumlah IMR yang terdapat di wilayah Dusun Karangkulon
Desa Kalirejo dan terkumpul 7 orang sebagai responden. Lokasi penelitian ditentukan
secara purposive dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan sentra
produksi kerupuk pati dan ubi kayu. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini
meliputi data primer. Data primer diperoleh diperoleh dengan cara wawancara
terpimpin pada pemilik IMR serta observasi di lapangan.
Data Primer, diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) dan indikator
yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan.
Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan dan diobservasi kepada pemilik usaha
industri-industri makanan rakyat di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo yang sekaligus
menjadi wilayah kerja Puskesmas Salaman I.
Data yang terkumpul diolah untuk mengidentifikasi permasalahan, selanjutnya
dilakukan analisis masalah dengan mencari kemungkinan penyebabnya melalui
7

pendekatan sistem dan menggunakan metode fishbone. Selanjutnya dapat ditentukan


alternatif pemecahan masalah secara sistematis yang paling mungkin dilaksanakan
dengan metode Hanlon Kualitatif.3

Tabel 1. Hasil Cakupan Program IMR Dusun Karangkulon Desa Kalirejo periode
Januari-Juli 2010
INDIKATOR TARGET CAKUPAN
KERJA
(%)
(%)
IMR yg
memenuhi
syarat
sanitasi

75%

46,15%

PENCAPAIAN
(%)

61,53%

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Kesehatan Lingkungan
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan lingkungan adalah
suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar
dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan
Indonesia (HAKLI) mendefinisikan kesehatan lingkungan sebagai suatu kondisi
lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara
manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia
yang sehat dan bahagia.4
Terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan menurut World Health
Organization (WHO), yaitu:4
1. Penyediaan air minum.
2. Pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran.
3. Pembuangan sampah padat.
4. Pengendalian vektor.
5. Pencegahan / pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia.
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu.
7. Pengendalian pencemaran udara.
8. Pengendalian radiasi.
9. Kesehatan kerja.
10. Pengendalian kebisingan.
11. Perumahan dan pemukiman.
12. Aspek kesling dan transportasi udara.
13. Perencanaan daerah dan perkotaan.
9

14. Pencegahan kecelakaan.


15. Rekreasi umum dan pariwisata.
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemik atau
wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk.
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
Di Indonesia, berdasarkan undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang PokokPokok Kesehatan pasal 22 ayat 3 menyebutkan bahwa kesehatan lingkungan meliputi
kegiatan/program penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat, limbah cair,
limbah gas, radiasi, kebisingan, pengendalian vektor penyakit dan penyakit berbasis
lingkungan, dan penyehatan atau pengamanan lainnya. 5

II.2

Higiene
Pengertian higiene menurut Departemen Kesehatan adalah upaya kesehatan
dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu subyeknya. Dengan
kata lain, higienitas pangan adalah kondisi dan perlakukan yang diperlukan untuk
menjamin keamanan pangan di semua tahap rantai pangan. Misalnya mencuci tangan
untuk melindungi kebersihan tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring,
membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara
keseluruhan.6
II.2.1 Higiene Pangan
Definisi higiene pangan menurut Codex Alimentarius Commission
(CAC) adalah semua kondisi dan tindakan yang diperlukan untuk menjamin
keamanan dan kelayakan makanan pada semua tahap dalam rantai makanan

10

(all conditions and measures necessary to ensure the safety and the
suitability of food at all stages in the food chain).
Pengertian keamanan pangan (food safety) dalam definisi di atas
adalah jaminan agar makanan tidak membahayakan konsumen pada saat
disiapkan dan atau dimakan menurut penggunaannya (assurance that food
will not cause harms to the consumer when it is prepared and/or eaten
according to its intended use). Sedangkan kelayakan pangan (food
suitability) adalah jaminan agar makanan dapat diterima untuk konsumsi
manusia menurut penggunaannya (assurance that food is acceptable for
human consumption according to its intended use).
II.3 Sanitasi
Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pemeliharaan
kesehatan. Menurut WHO, sanitasi adalah upaya pengendalian semua faktor
lingkungan fisik manusia, yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan
hal-hal yang merugikan, bagi perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup
manusia. 7
Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan
kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari
segala bahaya yang dapat menganggu atau merusak kesehatan, mulai dari sebelum
makanan

diproduksi,

selama

dalam

proses

pengolahan,

penyimpanan,

pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk
dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan
untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari
penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli.

11

mengurangi kerusakan / pemborosan makanan. Dalam pengelolaan makanan ada 6


prinsip yang harus di perhatikan yaitu:1
1. Keadaan bahan makanan
Semua jenis bahan makanan perlu mendapat perhatian secara fisik serta
kesegarannya terjamin, terutama bahan-bahan makanan yang mudah
membusuk atau rusak seperti daging, ikan, susu, telur, makanan dalam kaleng,
buah, dsb. Salah satu upaya mendapatkan bahan makanan yang baik adalah
menghindari penggunaan bahan makanan yang berasal dari sumber yang tidak
jelas karena kurang dapat dipertanggung jawabkan secara kualitas.
2. Cara penyimpanan bahan makanan8
Tidak semua bahan makanan yang tersedia langsung dikonsumsi oleh
masyarakat. Bahan makanan yang tidak segera diolah terutama untuk jasa
katering dan penyelenggaraan makanan RS perlu penyimpanan yang baik,
mengingat sifat bahan makanan yang berbeda-beda dan dapat membusuk,
sehingga kualitasnya harus tetap terjaga. Penyimpanan bahan makanan
merupakan satu dari 6 prinsip higiene dan sanitasi makanan. Penyimpanan
bahan makanan yang tidak baik, terutama dalam jumlah yang banyak (untuk
katering dan jasa boga) dapat menyebabkan kerusakan bahan makanan
tersebut. Adapun tata cara penyimpanan bahan makanan yang baik menurut
higiene dan sanitasi makanan adalah sebagai berikut:
A. Suhu penyimpanan yang baik
Setiap bahan makanan mempunyai spesifikasi dalam penyimpanan
tergantung

kepada

besar

dan

banyaknya

makanan

dan

tempat

penyimpanannya. Sebagian besar dapat dikelompokkan menjadi:


Makanan jenis daging, ikan, udang dan olahannya.
12

1.

Menyimpan sampai 3 hari : -50 sampai 00C.

2.

Penyimpanan untuk 1 minggu : -190 sampai -50 0C.

3.

Penyimpanan lebih dari 1 minggu : dibawah -100 0C.

Makanan jenis telur, susu dan olahannya.


4.

Penyimpanan sampai 3 hari : -50 sampai -70 0C.

5.

Penyimpanan untuk 1 minggu : dibawah -50 0C.

6.

Penyimpanan paling lama untuk 1 minggu : dibawah -50 0C.

Tepung, biji-bijian dan umbi kering pada suhu kamar (25-27 0C).
B. Tata cara Penyimpanan
Peralatan Penyimpanan
a. Penyimpanan suhu rendah dapat berupa:
1.

Lemari pendingin yang mampu mencapai suhu -100 - -150 0C


untuk penyimpanan sayuran, minuman dan buah serta untuk
display penjualan makanan dan minuman dingin.

2.

Lemari es (kulkas) yang mampu mencapai suhu -10 - -40 0C


dalam keadaan isi bisa digunakan untuk minuman, makanan
siap santap dan telur.

3.

Lemari es (Freezer) yang dapat mencapai suhu -50 0C, dapat


digunakan untuk penyimpanan daging, unggas, ikan, dengan
waktu tidak lebih dari 3 hari.
13

4.

Kamar

beku

yang

merupakan

ruangan

khusus

untuk

menyimpan makanan beku (frozen food) dengan suhu mencapai


-200 0C untuk menyimpan daging dan makanan beku dalam
jangka waktu lama.
b. Penyimpanan suhu kamar
Untuk makanan kering dan makanan olahan yang disimpan dalam suhu
kamar, maka ruang penyimpanan harus diatur sebagai berikut:
i.

Makanan diletakkan dalam rak-rak yang tidak menempel pada


dinding, lantai dan langit-langit, dengan maksud:
1.

Untuk sirkulasi udara agar udara segar dapat segera masuk


keseluruh ruangan.

2.

Mencegah

kemungkinan

jamahan

dan

tempat

persembunyian tikus.

ii.

3.

Untuk memudahkan pembersihan lantai.

4.

Untuk mempermudah dilakukan stok opname.

Setiap makanan ditempatkan dalam kelompoknya dan tidak


bercampur baur.

iii.

Untuk bahan yang mudah tercecer seperti gula pasir, tepung,


ditempatkan

dalam

wadah

penampungan

sehigga

tidak

mengotori lantai.
C. Cara Penyimpanan

14

1.

Setiap bahan makanan yang disimpan diatur ketebalannya, dan


dimaksudkan agar suhu dapat merata keseluruh bagian.

2.

Setiap bahan makanan ditempatkan secara terpisah menurut jenisnya,


dalam wadah (container) masing-masing. Wadah dapat berupa toples,
kantong plastik atau lemari yang berbeda.

3.

Makanan disimpan didalam ruangan penyimpanan sedemikian rupa


hingga sirkulasi udara terjadi dengan baik. Dengan demikian
diharapkan agar suhu merata keseluruh bagian. Pengisian lemari yang
terlalu padat akan mengurangi manfaat penyimpanan karena suhu
yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

4.

Penyimpanan didalam lemari es:


a. Bahan mentah harus terpisah dari makanan siap santap.
b. Makanan yang berbau tajam harus diletakkan dalam kantong
plastik yang rapat dan dipisahkan dari makanan lain, kalau
mungkin dalam lemari yang berbeda, kalau tidak letaknya harus
berjauhan.
c. Makanan yang disimpan tidak lebih dari 2 atau 3 hari harus sudah
dipergunakan.

5.

Lemari tidak boleh terlalu sering dibuka, maka dianjurkan lemari


untuk keperluan sehari-hari dipisahkan dengan lemari untuk
keperluan penyimpanan makanan.

D. Administrasi Penyimpanan
15

Setiap barang yang dibeli harus dicatat dan diterima oleh bagian gudang
untuk ketertiban administrasinya. Setiap jenis makanan mempunyai kartu
stok, sehingga bila terjadi kekurangan barang dapat segera diketahui.
3. Proses pengolahan
Pada proses / cara pengolahan makanan ada tiga hal yang perlu mendapat
perhatian yaitu:
a. Tempat pengolahan makanan.
Tempat pengolahan makanan adalah suatu tempat dimana makanan diolah,
tempat pengolahan ini sering disebut dapur. Dapur mempunyai peranan
yang penting dalam proses pengolahan makanan, karena itu kebersihan
dapur dan lingkungan sekitarnya harus selalu terjaga dan diperhatikan.
Dapur yang baik harus memenuhi persyaratan sanitasi.
b. Tenaga pengolah makanan / Penjamah Makanan.
Penjamah makanan menurut Depkes RI tahun 2006 adalah orang yang
secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari
tahap persiapan, pembersihan, pengolahan pengangkutan sampai penyajian.
Dalam proses pengolahan makanan, peran dari penjamah makanan
sangatlah besar peranannya. Penjamah makanan ini mempunyai peluang
untuk menularkan penyakit. Banyak infeksi yang ditularkan melalui
penjamah makanan, antara lain Staphylococcus aureus ditularkan melalui
hidung dan tenggorokan, kuman Clostridium perfringens, Streptococcus,
Salmonella dapat ditularkan melalui kulit. Oleh sebab itu penjamah
makanan harus selalu dalam keadan sehat dan terampil.
c. Cara pengolahan makanan.
Cara pengolahan yang baik adalah tidak terjadinya kerusakan-kerusakan
makanan sebagai akibat cara pengolahan yang salah dan mengikui kaidah
atau prinsip-prinsip higiene dan sanitasi yang baik atau disebut GMP (Good
Manufacturing Practice).
4. Cara pengangkutan makanan yang telah masak.
16

Pengangkutan makan dari tempat pengolahan ke tempat penyajian atau


penyimpanan perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi kontaminasi baik
dari serangga, debu maupun bakteri. Wadah yang dipergunakan harus utuh,
kuat dan tidak berkarat atau bocor. Pengangkutan untuk waktu yang lama
harus diatur suhunya dalam keadaan panas 60 0C atau tetap dingin 4 0C.
5. Cara penyimpanan makanan masak.
Penyimpanan makanan masak dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tempat
penyimpanan makanan pada suhu biasa dan tempat penyimpanan pada suhu
dingin. Makanan yang mudah membusuk sebaiknya disimpan pada suhu
dingin yaitu < -40 0C. Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam,
disimpan dalam suhu -5 s/d -10 0C.
6. Cara penyajian makanan masak.
Saat penyajian makanan yang perlu diperhatikan adalah agar makanan tersebut
terhindar dari pencemaran, peralatan yang digunakan dalam kondisi baik dan
bersih, serta higiene karyawan yang harus sangat diperhatikan.9
BAB III
DATA UMUM DESA KALIREJO

II.1. Keadaan Geografis


II.1.1 Letak Wilayah
Desa Kalirejo terletak di wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa
Tengah, yang terdiri dari 14 dusun administratif :
1. Dusun Karangkulon.

4. Dusun Kalikendo.

2. Dusun Sabrang.

5. Dusun Karangwetan.

3. Dusun Krajan.

6. Dusun Nggarsadang.
17

7. Dusun Tahunan.

11. Dusun Kobar.

8. Dusun Berodan.

12. Dusun Kalipucung I.

9. Dusun Gumuk.

13. Dusun Kalipucung II.

10. Dusun Glagah.

14. Dusun Kalipucung III.

II.1.2 Batas Wilayah


Wilayah Desa Kalirejo dibatasi oleh:
1. Sebelah Utara

: Desa Menoreh.

2. Sebelah Selatan

: Kabupaten Purworejo.

3. Sebelah Timur

: Desa Paripurno dan Desa Ngargoretno.

4. Sebelah Barat

: Kabupaten Purworejo.

II.1.3 Luas Wilayah


Luas wilayah Desa Kalirejo berdasarkan data statistik tahun 2010 adalah
679,049 Ha.

II.1.4 Jumlah Industri Makanan Rakyat (IMR)


Jumlah Industri Makanan Rakyat di Dusun Karangkulon, Desa Kalirejo
yang menjadi wilayah penelitian penulis sebanyak 7 tempat.

18

II.2. Keadaan Demografi


II.2.1 Jumlah Penduduk
Jumlah Penduduk pada tahun 2010 adalah 4708 jiwa. Berdasarkan data
statistik Desa Kalirejo tahun 2010, kelompok umur terbanyak adalah
kelompok umur > 60 tahun, yaitu sebanyak 735 orang. Sedangkan mata
pencaharian terbanyak adalah petani yaitu sebanyak 706 orang.

19

Gambar 1. Peta Wilayah Dusun Karangkulon Desa Kalirejo


Sumber: data statistik 2010

20

BAB IV
HASIL SURVEI DAN PENGAMATAN

Pada hari Jumat, tanggal 30 Juli 2010, telah dilaksanakan survei dan pengamatan
terhadap penduduk yang memiliki industri makanan rakyat di Dusun Karangkulon Desa
Kalirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Jumlah sasaran survei ini adalah
industri-industri makanan rakyat dari masyarakat. Sasaran berjumlah 7 responden. Kuesioner
di isi dengan wawancara terpimpin. Kuesioner dibuat dengan pertanyaan meliputi
pengetahuan tentang pengolahan makanan yang memenuhi syarat kesehatan.
Tabel 2. Rekapitulasi Jawaban Kuesioner
No
Pertanyaan
Frekuensi Presentase
1
Dari manakah anda mendapat Sumber bahan makanan
-------------------------------- Bahan Baku
3
42,86%
-------------------------------- Bahan Jadi
4
57,14%
2
Setelah jadi, makanan produksi anda dikemas dalam bentuk apa
-------------------------------- Wadah kemasan dan berlabel
4
57,14%
-------------------------------- Wadah kemasaan
3
42,86%
3
Apakah anda menyediakan ruangan khusus yang bebas dari debu dengan suhu
tertentu untuk menyimpan makanan
-------------------------------- Ada
0
0,00%
-------------------------------- Tidak ada
7
100,00%
4
Apakah ada perlakuan khusus ( menggunakan sarung tangan) saat melakukan
penyimpan, persiapan, penyajian dan pengangkutan
-------------------------------- Ya
0
0,00%
5
6

7
8

-------------------------------- Tidak
7
100,00%
Apakah anda melakukan pencucian tangan sebelum mengolah makanan
-------------------------------- Ya
0
0,00%
-------------------------------- Tidak
7
100,00%
Apakah saat melakukan proses pengolahan makanan anda mengganti pakaian
-------------------------------- Selalu
0
0,00%
-------------------------------- Kadang-kadang
0
0,00%
-------------------------------- Tidak pernah
7
100,0%
Apakah anda mencuci peralatan memasak anda sebelum dan sesudah memasak
-------------------------------- Ya
5
71,43%
-------------------------------- Tidak
2
28,57%
Apakah anda memiliki tempat penyimpanan khusus untuk menyimpan peralatan
memasak anda
21

10

11
12
13
14

15
16

-------------------------------- Punya
-------------------------------- Tidak punya
Apakah anda mencuci bahan makanan sebelum memasak
-------------------------------- Ya
-------------------------------- Tidak

0
7

0,00%
100,00%

7
0

100,00%
0,00%

Darimanakah anda mendapatkan sumber air untuk mencuci bahan makanan


-------------------------------- PAM
0
0,00%
-------------------------------- Air Sumur
0
0,00%
-------------------------------- Air Gunung
7
100,00%
Apakah anda memiliki pembuangan air kotor atau limbah setelah anda memasak
-------------------------------- Ada
5
71,43%
-------------------------------- Tidak ada
2
28,57%
Apakah tempat pembuangan limbah dan air bersih terpisah jarak nya
-------------------------------- Ya
5
71,43%
-------------------------------- Tidak
2
28,57%
Apakah di tempat anda terdapat tempat untuk mencuci tangan
-------------------------------- Ada
0
0,00%
-------------------------------- Tidak ada
7
100,00%
Bagaimana anda membuang sisa sampah produksi makanan anda
-------------------------------- Tempat Pembuangan sampah
6
85,71%
-------------------------------- Dibakar
1
14,29%
-------------------------------- Dikubur
0
0,00%
Apakah makanan anda terhindar dari serangga, tikus dan hewan lainnya
-------------------------------- Ya
0
0,00%
-------------------------------- Tidak
7
100,00%
Apakah didalam produksi makanan anda menggunakan bahan pewarna dan
pengawet
-------------------------------- Ya
3
42,86%
-------------------------------- Tidak
4
57,14%

Dari hasil survei didapatkan sebanyak 42,86% menggunakan bahan baku sebagai
sumber bahan makanan sedangkan 57,14% menggunakan bahan jadi. Sebanyak 57,14%
menggunakan wadah kemasaan dan berlabel, dan hanya 42,86% yang menggunakan wadah
kemasan biasa. Sebanyak 100% responden tidak menyediakan ruangan khusus untuk
makanan agar bebas dari debu. 100% responden juga tidak melakukan perlakuan khusus
dalam proses penyajian makanan seperti mencuci tangan mereka dan menggunakan sarung
tangan pada saat penyimpanan, persiapan, penyajian dan pengangkutan hasil produksi
makanan. Sebanyak 100% responden tidak mencuci tangan mereka sebelum mengolah
makanan ini membuktikan bahwa mereka belum menyadari kebersihan tangan agar terhindar
22

dari bakteri atau mikroorganisme lain pada saat mengolah makanan. 100% responden juga
tidak mengganti pakaian mereka sebelum mengolah makanan, ini sangat di sayangkan sekali
karena akan banyak sekali bakteri atau mikroorganisme yang berasal dari luar akan masuk
pada saat proses pengolahan makanan. Sebanyak 71,43% responden mencuci peralatan
memasak sebelum dan sesudah memasak. Sedangkan 100% responden tidak memiliki tempat
penyimpanan khusus untuk alat memasak. Namun sebanyak 100% responden mencuci bahan
makanannya sebelum di olah. Sebanyak 100% responden juga menggunakan air gunung
untuk mencuci bahan makanan dan peralatan memasak. Sebanyak 71,43% responden
memiliki tempat pembuangan limbah dan 71,43% responden juga memiliki tempat
pembuangan limbah dan air bersih yang terpisah jaraknya. Namun sebanyak 100% responden
tidak memiliki tempat untuk mencuci tangan. 85,71% responden membuang sisa sampah
produksi pada tempat pembuangan sampah sedangkan sebanyak 14,29% responden
membakar sampah mereka. Dari sebanyak 100% responden yang diamati, terlihat bahwa
makanan hasil olahan tidak terhindar dari serangga, tikus dan hewan lainnya. Sedangkan
sebanyak 42,86% responden menggunakan bahan pewarna dan pengawet untuk menambah
rasa dan rupa makanan agar lebih menarik untuk dilihat.

IV.1 Hasil Survei dan Pengamatan di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo


Hasil survei memberikan gambaran permasalahan mengenai sanitasi pengolahan
makanan yang ada di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo diantaranya yaitu:
1. Tidak memiliki ruangan khusus yang bebas dari debu dengan suhu tertentu untuk
menyimpan makanan.
2. Tidak melakukan perlakuan khusus saat melakukan penyimpan, persiapan, penyajian dan
pengangkutan makanan.
23

3. Tidak melakukan pencucian tangan sebelum mengolah makanan.


4. Tidak mengganti pakaian saat melakukan proses pengolahan makanan.
5. Tidak memiliki tempat penyimpanan peralatan masak khusus.
6. Tidak memiliki tempat untuk mencuci tangan.
7. Tidak terhindar dari serangga, tikus dan hewan lainnya.
Permasalahan yang ada di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo sejumlah 7
permasalahan yang saling berkaitan sehingga merupakan faktor yang paling berpengaruh
terhadap rendahnya cakupan higienitas pengolahan makanan di Dusun Karangkulon Desa
Kalirejo.
Hal tersebut juga dapat dilihat dari hasil indikator pemeriksaan sanitasi IMR. Dimana
sistem penilaiannya berdasarkan skoring.
Masing-masing indikator diberi nilai 1-3. cara memberi nilai:
1 : tidak memadai.
2 : cukup memadai.
3 : memadai.
Nilai seluruh indikator dijumlah dan dibagi dengan bobot yang telah ditentukan pada
masing-masing poin. Hasil > 75% dianggap memenuhi syarat sanitasi. Sedangkan hasil <75%
dianggap tidak memenuhi syarat sanitasi.
Dari 7 responden yang diperiksa, didapatkan total skoring < 75% dari tiap-tiap
responden. Jadi dapat disimpulkan bahwa IMR yang memenuhi syarat sanitasi sebanyak 0
IMR.

24

BAB V
ANALISIS MASALAH

25

V.1 Hasil survei Tempat Pengolahan dan Pembuatan Makanan ( TP2M ) di Dusun
Karangkulon Desa Kalirejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang Bulan Juli
2010
Hasil pengamatan langsung dilapangan yang telah dilakukan di Dusun
Karangkulon Desa Kalirejo pada tanggal 30 Juli 2010, dengan mewawancarai 7 orang
yang pemilik Industri Makanan Rakyat (IMR). Dengan metode wawancara
menggunakan acuan kuesioner yang telah dibuat berdasarkan 5M (Man, Material,
Method, Money, Machine) untuk mengevaluasi kegiatan cakupan Higienitas Industri
Makanan Rakyat di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo.

Hasil survei

Rekapitulasi

Analisis

Masalah

Gambar 2. Tahapan analisis masalah

Gambar di atas menunjukkan tahapan kegiatan yang dilakukan di Dusun


Karangkulon Desa Kalirejo. Hasil survei yang terkumpul, kemudian direkapitulasi untuk
mengetahui masalah apa saja yang mengakibatkan rendahnya cakupan higienitas
pengolahan makanan di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo.

26

Hasil survei memberikan gambaran permasalahan mengenai sanitasi pengolahan


makanan yang ada di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo diantaranya yaitu :
1.

Tidak memiliki ruangan khusus yang bebas dari debu dengan suhu tertentu untuk
menyimpan makanan.

2.

Tidak melakukan perlakuan khusus saat melakukan penyimpan, persiapan,


penyajian dan pengangkutan makanan.

3.

Tidak melakukan pencucian tangan sebelum mengolah makanan.

4.

Tidak mengganti pakaian saat melakukan proses pengolahan makanan.

5.

Tidak memiliki tempat penyimpanan peralatan masak khusus.

6.

Tidak memiliki tempat untuk mencuci tangan.

7.

Tidak terhindar dari serangga, tikus dan hewan lainnya.


Ketujuh masalah diatas saling berkaitan sehingga merupakan faktor yang paling

berpengaruh terhadap rendahnya cakupan higienitas pengolahan makanan di Dusun


Karangkulon Desa Kalirejo.

V.2 Jumlah Pencapaian Cakupan IMR Yang Memenuhi Syarat Sanitasi

Jumlah Cakupan IMR yang memenuhi syarat sanitasi di Dusun Karangkulon Desa
Kalirejo adalah:
Besar cakupan =

IMR yang memenuhi syarat

100%

Jumlah IMR yang diperiksa


=

100%

7
=

0%
27

Jumlah Pencapaian IMR Dusun Karangkulon Desa Kalirejo adalah:


Pencapaian

Besar cakupan

x 100%

Target Dinkes
=

x 100 %

75
=

0%

Dari hasil didapatkan skor pencapaian IMR yang memenuhi syarat sanitasi di
Dusun Karangkulon Desa Kalirejo 2010 jauh lebih rendah dari target Dinkes yakni
sebesar 0 %.

V.3 Analisis Hasil Survei IMR Dusun Karangkulon Desa Kalirejo


Tabel 3. Rekapitulasi hasil pengamatan
No

Persentase

KETERANGAN

53,33%

TMS

66,67%

TMS

67,78%

TMS

66,67%

TMS

73,33%

TMS

40,00%

TMS

42,22%

TMS

TOTAL
7 IMR

MS

0 IMR

TMS

7 IMR

Keterangan:
Keterangan Nilai:
28

MS

: Memenuhi Syarat (nilai 75% - 100%).

TMS : Tidak Memenuhi Syarat (nilai < 75%).

Hasil inspeksi langsung pada Industri Makanan Rakyat (IMR) yang telah dilakukan di
Dusun Karangkulon Desa Kalirejo pada tanggal 30 Juli 2010 untuk mengevaluasi kegiatan
cakupan sanitasi Industri Makanan Rakyat (IMR) di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo
Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang didapatkan IMR yang ada masih belum mencapai
target.

29

BAB VI
ANALISIS PENYEBAB MASALAH

VI.1

Analisis penyebab masalah


Berdasarkan hasil survei dan analisis masalah yang telah di lakukan di Dusun
Karangkulon Desa Kalirejo dapat ditemukan penyebab penyebab dari kurangnya
higienitas pengolahan makanan di Dusun Karangkulon Desa Kalirejo Kecamatan
Salaman Kabupaten Magelang. Masalah tersebut dapat disebabkan oleh input,
lingkungan, dan proses. Input terdiri dari lima komponen, yaitu Man, Money,
Method, Material, dan Machine. Sedangkan pada proses terdiri dari P1
(Perencanaan), P2 (Pergerakan dan Pelaksanaan) dan P3 (Pengawasan, Pengendalian,
Penilaian).10

INPUT

PROSES

Man,

P1

OUT PUT

Money,

P2

Cakupan program

Method,

P3

Material
Machine

LINGKUNGAN

Gambar 3. Analisis intervensi penyebab masalah


30

VI.2 Daftar penyebab masalah

Tabel 4. Analisis penyebab kurangnya higienitas dan sanitasi tempat pengolahan


makanan
Komponen
Input

Man

Kemungkinan hambatan
Masih
kurangnya
kader kesehatan untuk
melakukan

Money

Ada Bidan desa.

proses

pendataan.
Kurangnya
untuk

Kelebihan
Ada Petugas Kesling.

biaya

mengadakan

pemeriksaan

Ada

anggaran

dari

puskesmas.

tentang

IMR.

Kurangnya

biaya

untuk transportasi.

Method

Kurangnya

untuk media promosi.


Pedoman
belum

Ada

disosialisasikan

pemeriksaan

biaya

semua

Material

ke

petugas

kesehatan,

terutama

kader.
Kurangnya

alat

pedoman
sanitasi

kesehatan lingkungan.

penyuluhan.
Machine

Kurangnya
leaflet

brosur,
tentang

higienitas, sanitasi dan


sasaran
Proses

P1

yang

ingin

dicapai.
Kurangnya

jadwal

penyuluhan

tentang

IMR.
31

P2

Kunjungan

tidak

terjadwal

secara

kontinyu.
Pelaksanaan
penyuluhan yang belum
terlaksana

P3

dan

penyuluhan

belum

mencakup

seluruh

pemilik home industri.


Kurangnya pemantauan
terhadap

Lingkungan

kinerja

Sudah ada
Pengawasan.

petugas Kesling.
Kurangnya
pengetahuan

dari

pemilik usaha home


industri

dan

pegawainya mengenai
higienitas dan sanitasi
IMR.
Kurangnya kesadaran
dari

para

pegawai

tentang

higienitas

untuk

pengolahan

makanan.
Sebagian besar IMR
tidak memiliki tempat
untuk mencuci tangan.
Kurangnya

biaya

untuk perbaikan IMR


oleh

para

pemilik

home industri.

32

Fish bone

33

VI.3

Penyebab Masalah Paling Mungkin


Setelah dilakukan pengamatan dan wawancara di lapangan, serta konfirmasi
kepada petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling) di Puskesmas Salaman I, dari
kemungkinan penyebab masalah di atas maka didapatkan penyebab masalah yang
paling mungkin, yaitu:
1. Masih kurangnya tenaga petugas Kesling dalam melakukan pendataan.
2. Penyuluhan yang belum efektif dan belum bisa terlaksana dengan baik bagi para
pemilik usaha home industri.
3. Masih rendahnya pengetahuan para pemilik home industri tentang IMR yang
memenuhi syarat sanitasi yang baik.
4. Masih rendahnya perilaku dan kesadaran para karyawan mengenai higienitas dan
sanitasi IMR.
5. Kurangnya biaya untuk perbaikan IMR oleh para pemilik home industri.

34

BAB VII
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

VII.1 Siklus pemecahan masalah


Hasil inspeksi

Penentuan
penyebab
masalah

Monitoring dan
evaluasi

Memilih penyebab
yang paling
mungkin

Penyusunan
Rencana
penerapan

Penetapan
pemecahan masalah
terpilih

Menentukan
alternative
pemecahan masalah

Gambar 5. Siklus pemecahan masalah

VII.2 Kerangka Pikir Pemecahan Masalah


Untuk dapat memecahkan suatu masalah dapat dilakukan dengan menganalisis
kemungkinan penyebab masalah tersebut terlebih dahulu. Kemungkinan penyebab
masalah dapat berasal dari internal maupun eksternal. Kemungkinan penyebab
masalah internal dianalisis dengan menggunakan pendekatan sistem.

35

yang ditemukan ke koordinator program tersebut. Setelah menemukan penyebab yang


paling mungkin dilakukan penanggulangan penyebab masalah dengan menyusun
alternatif pemecahan masalah tersebut dan dilakukan penentuan prioritas alternatif
pemecahan masalah dengan metode Hanlon kualitatif. Setelah menemukan urutan
prioritasnya maka langkah selanjutnya menyusun Plan Of Action (POA).
VII. 3 Alternatif pemecahan masalah dan kemungkinan penerapannya

Tabel 5. Alternatif pemecahan masalah dan kemungkinan penerapannya


Penyebab masalah

Masih
kesehatan

kurangnya
untuk

Pemecahan dan Penerapannya

tenaga

petugas

melakukan

proses

petugas

kesehatan

lingkungan untuk melakukan pendataan secara

pendataan.

baik dan benar.

Mengoptimalisasi

Melatih para kader kesehatan lingkungan.

Penyuluhan yang belum efektif dan belum


bisa terlaksana dengan baik bagi para pemilik
Memberikan pelatihan kepada pemilik home

usaha home industri.

industri mengenai IMR yang memenuhi


syarat sanitasi yang baik.

Rendahnya pengetahuan dari pemilik usaha


home industri tentang IMR yang memenuhi

syarat sanitasi yang baik.


Rendahnya perilaku dan kesadaran para
karyawan mengenai higienitas dan sanitasi

IMR.
Kurangnya biaya untuk perbaikan IMR oleh
para pemilik home industri.

Mengajukan usulan kredit untuk pengadaan alat


produksi IMR.

VII.4 Penggabungan Pemecahan Masalah


36

1.

Mengoptimalisasi petugas kesehatan lingkungan untuk melakukan pendataan


secara baik dan benar.

2.

Melatih para kader kesehatan lingkungan.

3. Memberikan pelatihan kepada pemilik home industri mengenai IMR yang

memenuhi syarat sanitasi yang baik.


4.

Mengajukan usulan kredit untuk pengadaan alat produksi IMR.

VII.5 Penentuan Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah.


Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya
dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah.11 Berikut ini proses
penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan metode
kriteria matriks dengan rumus M x I x V / C:
1.

Efektivitas program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program:
a. Magnitude (M) = besarnya penyebab masalah dari pemecahan masalah yang
dapat diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab masalah yang dapat
diselesaikan dengan pemecahan masalah makin efektif.
b. Importancy (I) = pentingnya cara pemecahan masalah. Maka pentingnya cara
penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah makin efektif.
c. Vulnerability (V) = sensitifitas cara penyelesaian masalah. Makin sensitive
bantuk penyelesaian masalah makin efektif.
Kriteria M, I, dan V diberi nilai 1-5.
Masing-masing cara pemecahan masalah diberi nilai 1-5. cara memberi nilai:
37

1
2

: tidak tinggi.
: kurang tinggi.

3 : cukup tinggi.

2.

: tinggi.

: sangat tinggi.

Efisiensi pogram
a.

Cost (C) = perkiraan besarnya biaya yang diperlukan untuk melakukan


pemecahan masalah.

Kriteria cost (C) diberi nilai 1-5. Bila cost makin kecil, maka nilainya mendekati
1.
Berikut ini proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan
menggunakan kriteria matriks:

Tabel 6. Hasil akhir penentuan prioritas pemecahan masalah


Penyelesaian

Nilai

Kriteria

Hasil

Urutan

akhir

Masalah
M

(MIV) /
C
38

Mengoptimalisasi
kesehatan

petugas

lingkungan

untuk

melakukan pendataan secara baik


dan benar.
Melatih

para

kader

15

II

12,5

III

31,25

1,2

IV

kesehatan

lingkungan.

Memberikan

pelatihan

kepada

pemilik home industri mengenai


IMR

yang

memenuhi

syarat

sanitasi yang baik.


Mengajukan usulan kredit untuk
pengadaan alat produksi IMR.

39

Dari hasil Magnitude, Importancy, Vulnerability dan Cost diatas dengan


menggunakan kriteria matriks, maka dapat diurutkan prioritas pemecahan masalah
sebagai berikut :
I. Memberikan pelatihan kepada pemilik home industri mengenai IMR yang
memenuhi syarat sanitasi yang baik.
II. Mengoptimalisasi petugas kesehatan lingkungan untuk melakukan pendataan
secara baik dan benar.
III. Melatih para kader kesehatan lingkungan.
IV. Mengajukan usulan kredit untuk pengadaan alat produksi IMR.

VII. 6 Rencana Kegiatan Dari Pemecahan Masalah Terpilih

Tabel 8. Rencana Kegiatan Dari Pemecahan Masalah Terpilih


Pemecahan

Rencana Kegiatan

Masalah Terpilih
Memberikan pelatihan kepada pemilik home
industri mengenai IMR yang memenuhi syarat
sanitasi yang baik.

Mengoptimalisasi

Pelatihan berkala pada pemilik home industri.

Pemberian sertifikat pada pemilik home industri


pasca penyuluhan.

petugas

kesehatan

Meningkatkan kunjungan ke tempat-tempat

lingkungan untuk melakukan pendataan secara

pengolahan dan pembuatan makanan untuk

baik dan benar.

Melatih para kader kesehatan lingkungan.

melakukan pendataan oleh petugas Kesling.

Mengadakan pertemuan dengan kader 1 kali


setiap bulan, dan membahas kendala yang
dihadapi.

Mengajukan usulan kredit untuk pengadaan Bekerja sama dengan koperasi simpan pinjam
alat produksi IMR.

setempat.