Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan tekhnologi, perkembangan di
dunia farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari semakin banyak jenis dan ragam
penyakit yang muncul. Perkembangan pengobatan pun terus dikembangkan. Berbagai
macam bentuk sediaan obat, baik itu liquid, solid dan semisolid telah dikembangkan
oleh ahli farmasi dan industri.
Salep merupakan salah satu bentuk sediaan semisolid yang digunakan pada
kulit yang luka atau sakit dan dimaksudkan untuk pemakaian topikal. Salep dapat
diartikan sebagai sediaan setengah padat yang ditujukan untuk pemakaian topikal pada
kulit atau selaput lendir. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam
dasar salep yang cocok. Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar
bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10%.
Sediaan salep harus memiliki kualitas yang baik, yaitu stabil, mudah
dioleskan, tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembapan kamar, dan semua zat yang ada
dalam salep harus halus dan homogen. Oleh karena itu pada saat pembuatan salep harus
mempertimbangkan basis yang cocok agar tidak menghambat pelepasan obat dari basis
sehingga obat dapat berpenetrasi ke dalam kulit dan menghasilkan efek yang
diinginkan.
Pelepasan obat dari basisnya merupakan faktor penting dalam keberhasilan
terapi menggunakan sediaan salep. Pelepasan obat dari sediaan salep sangat
dipengaruhi oleh sifat fisika kimia obat seperti kelarutan, ukuran partikel dan kekuatan
ikatan antara zat aktif dengan pembawanya. Pemilihan formulasi dengan benar dan
memperhatikan konsentrasi serta karakteristik bahan yang digunakan dan
dikombinasikan dengan baik dan benar sangat menentukan tercapainya tujuan
pengobatan. Oleh karena itu, dalam membuat suatu sediaan salep yang sangat perlu
diperhatikan adalah pemilihan formulasi.

B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian salep.
2. Mengetahui proses preformulasi sediaan salep.
1

3. Mengetahui proses produksi sediaan salep.


4. Mengetahui uji untuk evaluasi sediaan salep.
5. Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi basis salep yang digunakan.
C. Manfaat
Manfaat bagi mahasiswa khususnya yaitu mampu melakukan kajian
preformulasi, membuat formulasi, produk jadi, dan kajian evaluasi sediaan salep.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Salep


2

Menurut FI IV, salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian
topikal pada kulit atau selaput lendir. Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali
dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau
narkotika adalah 10 %.
Fungsi salep adalah :
a. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit.
b. Sebagai bahan pelumas pada kulit.
c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan
larutan berair dan rangsang kulit (Anief, 2005).
Persyaratan salep menurut FI III yaitu :
a. Pemerian tidak boleh berbau tengik.
b. Kadar, kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras atau
narkotik, kadar bahan obat adalah 10 %.
c. Dasar salep.
d. Homogenitas, jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain
yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
e. Penandaan, pada etiket harus tertera obat luar (Syamsuni, 2005).
Salep yang baik memiliki sifat sifat sebagai berikut :
a. Stabil : baik selama distribusi, penyimpanan, maupun pemakaian. Stabilitas terkait
dengan kadaluarsa, baik secara fisik (bentuk, warna, bau) maupun secara kimia
(kadar atau kandungan zat aktif yang tersisa). Stabilitas dipengaruhi oleh banyak
faktor, seperti suhu, kelembapan, cahaya, udara, dan lain sebagainya.
b. Lunak : walaupun salep pada umumnya digunakan pada daerah atau wilayah kulit
yang terbatas, namun salep harus cukup lunak sehingga mudah untuk dioleskan.
c. Mudah digunakan : supaya mudah dipakai, salep harus memiliki konsistensi yang
tidak terlalu kental atau terlalu encer. Bila terlalu kental, salep akan sulit
dioleskan, bila terlalu encer maka salep akan mudah mengalir atau meleleh ke
bagian lain dari kulit.
d. Protektif : salep-salep tertentu yang diperuntukkan untuk protektif, maka harus
memiliki kemampuan melindungi kulit dari pengaruh luar misal dari pengaruh
debu, basa, asam, dan sinar matahari.
e. Memiliki basis yang sesuai : basis yang digunakan harus tidak menghambat
pelepasan obat dari basis, basis harus tidak mengiritasi, atau menyebabkan efek
samping lain yang tidak dikehendaki.
f. Homogen : kadar zat aktif dalam sediaan salep cukup kecil, sehingga diperlukan
upaya/usaha agar zat aktif tersebut dapat terdispersi/tercampur merata dalam basis.

Hal ini akan terkait dengan efek terapi yang akan terjadi setelah salep
diaplikasikan (Saifullah, 2008).
Menurut sifat farmakologi atau terapeutik dan penetrasinya, salep dapat dibagi
menjadi:
1. Salep epidermis (epidermic ointment; salep penutup) guna melindungi kulit dan
menghasilkan efek lokal, tidak diabsorpsi, kadang-kadang ditambahkan
antiseptik, astringensia untuk meredakan rangsangan atau anestesi lokal.
2. Salep endodermis : salep yang bahan obatnya menembus ke dalam kulit, tetapi
tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian, digunakan untuk melunakkan kulit atau
selaput lendir.
3. Salep diadermis: salep yang bahan obatnya menembus ke dalam tubuh melalui
kulit dan mencapai efek yang diinginkan. (Ansel, H., 1989)
Macam-macam dasar salep antara lain :
1. Dasar salep hidrokarbon
Dasar salep ini yaitu terdiri antara lain vaselin putih, vaselin kuning,
paraffin encer, paraffin padat, jelene, minyak tumbuh-tumbuhan, campuran
vaselin dengan malam putih, malam kuning.
Dasar salep hidrokarbon (dasar bersifat lemak) bebas air, preparat yang
berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja, bila lebih
minyak sukar bercampur. Dasar hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien.
Dasar salep tersebut bertahan pada kulit untuk waktu yang lama dan tidak
memungkinkan larinya lembab ke udara dan sukar dicuci. Kerjanya sebagai bahan
penutup saja. Tidak mengering atau tidak ada perubahan dengan berjalannya
waktu (Ansel, 1989).

2. Dasar salep serap


Dasar salep ini dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama
terdiri atas dasar yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam
minyak (Paraffin hidrofilik dan Lanolin anhidrat) dan kelompok kedua terdiri
atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air
tambahan (Lanolin) (Ansel, 1989).
3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air

Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep
hidrofilik dan lebih tepatnya disebut krim. dasar salep ini mudah dicuci dari kulit
atau dilap basah, sehingga lebih dapat diterima untuk bahan dasar kosmetik.
Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif dengan menggunakan dasar
salep ini. Keuntungan lain adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah
menyerap air pada kelainan dermatologik (Ansel, 1989).
4. Dasar salep larut dalam air
Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari
konstituen larut air. Sama halnya dengan dasar salep yang dapat dicuci dengan
air dasar salep ini banyak memiliki keuntungan (Ansel, 1989).
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat yang
diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, serta
stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan
dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan.
Misalnya obat-obat yang dapat terhidrolisis, lebih stabil dalam dasar salep
hidrokarbondaripada dasar salep yang mengandung air meskipun obat tersebut
bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mengandung air (Anief, 2003).

Peraturan Pembuatan Salep menurut Van Duin (1947), yaitu :


1. Zatzat yang larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan pemanasan
rendah.
2. Zat-zat yang larut mudah dalam air, jika tak diberikan petunjuk lain, lebih dulu
dilarutkan dalam air, asal air yang dibutuhkan untuk melarutkannya dapat diserap
oleh jumlah campuran lemak yang ditentukan, banyaknya air yang dipakai
dikurangkan dari jumlah campuran lemak yang telah ditentukan.
3. Zat-zat yang sukar larut tak cukup larut dalam lemak-lemak dan air, mula-mula
diserbuk dan diayak dengan ayakan B-40. Pada pembuatan salep-salep ini, zat
padat dicampur dengan setengah atau bobot sama lemak, yang jika perlu telah cair
atau tidak dicairkan, ditambahkan sedikit demi sedikit.
4. Jika salep-salep dibuat dengan jalan mencairkan, maka campuran harus diaduk
sampai dingin. Salepsalep lebur, selalu dibuat dalam mortir yang dapat ditimbang
dan bukan dalam mortir porselin. Untuk mengaduknya sampai dingin harus
dipakai sebuah antan kayu dan bukan antan porselin.
5. Bahan yang ditambahkan terakhir pada suatu massa salep.
5

Balsam-balsem dan minyak atsiri, balsam merupakan campuran dari dammar dan
minyak atsiri, jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak
atsirinya akan menguap.

B. Tinjauan Bahan
1. Acidum Salicylicum (FI III hal. 56)
Sinonim

: Asam salisilat, salicylic acid

Pemerian

: Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih;


hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam.

Kelarutan

: Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian ethanol


(95%) P; mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P; larut
dalam larutsan ammonium acetat P, dinatrium hydrogen
fosfat P; kalium sitrat P dan natrium sitrat P.

Khasiat

: Keratolitikum dan antifungi.

Inkompatibilitas

: Bereaksi dengan alkali dan karbonat hydroxids membentuk


garam yang larut dalam air. Inkompatibel dengan larutan besi
klorida, memberikan warna ungu. Dan dengan nitro ether kuat.

Suhu Lebur

: 158,5C dan 161C

Titik Didih

: 211 C (2666 Pa)

Densitas

: 1,44 g/cm3a

Keasaman (pKa)

: 2,97

Konsentrasi

: antara 2% - 6% (Martindale ed 36 hal. 1612)

2. Acidum Benzoicum (FI III hal. 49)


Sinonim

: Asam benzoat, Benzoic acid

Pemerian

: Hablur halus dan ringan ; tidak berwarna; tidak berbau.

Kelarutan

: Larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih kurang 3
bagian etanol (95%) P, dalam 8 bagian kloroform P dan dalam 3

Titik lebur
Khasiat
Konsentrasi

bagian eter.
: 121 sampai 124
: Antiseptikum ekstern dan antijamur
: 6% - 12%

Inkompatibilitas

: Asam benzoat dan garamnya inkompatibel dengan senyawa


kuartener, garam kalsium, garam besi, dan garam logam berat.
Aktivitas mereka juga berkurang oleh surfaktan nonionik atau
6

karena absorpsi oleh kaolin. Mereka relatif tidak aktif di atas pH


sekitar 5 (Martindale ed 36 hal. 1630).

3. Adeps Lanae (FI III hal. 61)


Sinonim
: Lanolin anhydrous, lemak bulu domba
Pemerian

: Zat serupa lemak, liat, kuning muda atau kuning pucat,agak


tembus cahaya bau lemah dank has.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air, agak sukar air dalam etanol (95%)

Titik lebur
Khasiat

P mudah larut dalam kloroform P; dan dalam eter P.


: 36 sampai 42
: Emulsifying agent, ointment base.

Inkompatibilitas

:Lanolin mungkin berisi prooxidants, yang dapat mempengaruhi


stabilitas obat aktif tertentu (HPE ed 6 hal. 378).

4. Vaselinum Album ((FI III hal. 633)


Sinonim
: Vaselin putih, withe petrolatum
Pemerian

: Massa lunak, lengket, bening,putih. Sifat ini tetap setelah zat


dileburkan dan dibiaarkan hingga dingin tanpa diaduk.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P. Larutan
kadang-kadang beroplasensi lemah.

Titik lebur

: antara 38 dan 56

Khasiat

: Emollient, ointment base.

Konsentrasi

: sampai dengan 100%

Inkompatibilitas

: Petrolatum merupakan bahan inert dengan beberapa yang tidak


kompatibel (HPE ed 6 hal. 481)

5. Methylis Parabenum (FI III hal. 378)


Sinonim
: Nipagin
Pemerian
: Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak berasa,
Kelarutan

kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.


: Larut dalam 550 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih,
dalam 3,5 bagian etanol (95 %) P,eter P, dan dalam larutan alkali

Titik lebur
Khasiat
Konsentrasi

hidroksida.
: 125 sampai 128
: Antimicrobial preservative
: 0,02 0,3 %
7

Inkompatibilitas

: Aktivitas antimikroba dari metilparaben atau golongan paraben


yang lain sangat dapat mengurangi efektivitas dari surfaktan
nonionik, seperti polysorbate 80. Tetapi adanya propilenglikol
(10%) menunjukkan peningkatan potensi aktivitas antibakteri
dari paraben, sehingga dapat mencegah interaksi antara
metilparaben dan polysorbate. Inkompatibel dengan beberapa
senyawa, seperti bentonit, magnesium trisilicate, talc, tragacanth,
sodium alginate, essential oils, sorbitol dan atropine (HPE ed 6
hal. 441).

6. Aqua Destillata (FI III hal 96)


Sinonim
: Air suling
Pemerian
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai
Titik didih
Penggunaan
Penyimpanan

rasa
: 100C
: sebagai pelarut
: dalam wadah tertutup baik.

BAB III
METODOLOGI
A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu neraca analitik, sendok tanduk,
mortir dan stamper, gelas ukur, beker gelas, sudip, batang pengaduk, cawan, kertas
perkamen, dan anak timbangan.
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu Acidum Salicylucum,
Acidum Benzoicum, Methylis Parabenum, Adeps Lanae, Vaselinum Album, dan
Aquadest.
C. Formulasi
No
1
2
3
4
5
6

Nama Bahan

Fungsi

Acidum Salicylucum
Acidum Benzoicum
Methylis Parabenum
Adeps Lanae
Vaselinum Album
Aquadest

Zat aktif
Zat aktif
Pengawet
Basis salep
Basis salep
Pelarut

Konsentrasi

Konsentrasi

(HPE)
2% - 6%
6% - 12%
0,02% - 0,3%
Ad 100%
Ad 100%

terpilih
3%
6%
0,1%

Formula terpilih
Salep dengan bobot total 100 g
No
1
2
3
4
5
6

Nama Bahan
Acidum Salicylucum
Acidum Benzoicum
Methylis Parabenum
Adeps Lanae
Vaselinum Album
Aquadest

F1 (%)
3
6
0,1
42,95
42,95
5

D. Pengambilan Bahan
a. Formula 1
1. Acidum Salicylucum

2. Acidum Benzoicum

3
100 x 100 g = 3 g
6
100 x 100 g = 6 g

F2 (%)
3
6
0,1
26,97
53,93
10

F3 (%)
3
6
0,1
53,93
26,97
10

3. Methylis Parabenum
4. Aquadest
5. Basis salep
Basis salep (1:1)

0,1
100 x 100 g = 0,1 g
= 5 ml
= 100 (3+6+0,1+5) = 85,9 g
=

Adeps Lanae

Vaselinum Album=

b. Formula 2
1. Acidum Salicylucum
2. Acidum Benzoicum
3. Methylis Parabenum
4. Aquadest
5. Basis salep
Basis salep (1:2)

Vaselinum Album=

2. Acidum Benzoicum
3. Methylis Parabenum
4. Aquadest
6. Basis salep
5. Basis salep (2:1)

x 85,9 g = 42,95 g

3
100 x 100 g = 3 g
6
= 100 x 100 g = 6 g
0,1
= 100 x 100 g = 0,1 g
= 10 ml
= 100 (3+6+0,1+10) = 80,9 g

Adeps Lanae

1. Acidum Salicylucum

x 85,9 g = 42,95 g

c. Formula 3

1
2
1
2

1
3
2
3

x 80,9 g = 26,97 g
x 80,9 g = 53,93 g

3
100 x 100 g = 3 g
6
= 100 x 100 g = 6 g
0,1
= 100 x 100 g = 0,1 g
= 10 ml
= 100 (3+6+0,1+10) = 80,9 g
=

Adeps Lanae

Vaselinum Album=

2
3
1
3

x 80,9 g = 53,93 g
x 80,9 g = 26,97 g

E. Prosedur Kerja
a) Prosedur pembuatan sediaan
1. Disiapkan bahan, alat dan neraca analitik.
2. Ditimbang Acidum Salicylucum (sesuai formulasi), dimasukkan ke dalam
mortir.
3. Ditimbang Acidum Benzoicum (sesuai formulasi), dimasukkan ke dalam
mortir.
10

4. Ditambahnkan spiritus fortior secukupnya, digerus sampai halus, homogen


dan semua spiritus menguap.
5. Ditimbang Vaselinum Album dimasukkan sebagian ke mortir, digerus sampai
homogen (disisihkan).
6. Ditimbang Adeps Lanae dimasukkan ke dalam mortir, ditambahkan aquadest
dan digerus sampai terserap.
7. Ditimbang Methylis parabenum, dilarutkan dengan air panas 20 kalinya,
kemudian dimasukkan mortir, digerus sampai homogen.
8. Dimasukkan campuran Acidum Salicylucum dan Acidum Benzoicum ke
dalam mortir, digerus sampai homogen.
9. Dimasukkan sisa Vaselinum Album ke mortir, digerus sampai homogen.
10. Dimasukkan wadah dan diberi label.
b) Prosedur evaluasi sediaan
1. Uji organoleptis
Evalusai organoleptis dilakukan menggunakan panca indra, dengan
cara melakukan pengamatan terhadap bentuk, warna dan bau salep.
2. Uji pH
Uji pH menggunakan pH indikator strip, dengan cara melarutkan 0,5 g
sediaan dengan 5 ml air, kemudian aduk hingga homogen, dan diamkan agar
mengendap, kemudian airnya diukur dengan menggunakan pH stik universal
kemudian dicocokkan warna yang diperoleh dengan tabel warna yang ada.
3. Uji homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui keseragaman distribusi
obat dalam dasar salep. Pengujian ini dilakukan dengan cara :
1. Diambil sampel secukupnya
2. Diletakkan di atas kertas perkamen
3. Diratakan dengan bantuan batang pengaduk
4. Diamati keseragaman dari partikel
4. Uji daya sebar
Uji daya sebar dilakukan untuk melihat kemampuan sediaan
menyebar pada kulit. Pengujian ini dilakukan dengan cara :
1. Ditimbang sebanyak 500 mg untuk masing-masing formulasi
2. Diletakkan ditengah alat penguji, diamkan selama 1 menit
3. Ditambah beban 50 g, diamkan selama 1 menit, dicatat diameter
sebarnya
4. Ditambah beban 100 g, diamkan selama 1 menit, dicatat diameter
sebarnya
5. Ditambah beban 150 g, diamkan selama 1 menit, dicatat diameter
sebarnya
6. Uji daya tercuci
11

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan dan lamanya


daya lekat salep untuk melepaskan aktifitas obat pada permukaan kulit.
Caranya dengan mengoleskan masing-masing formulasi pada permukaan kulit
kemudian diberi aliran air.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Hasil Percobaan
1. Uji organoleptis
Formulasi
Formula 1
Formula 2

Bentuk
Setengah padat
Setengah padat

Warna
Kuning muda
Kuning pucat

Bau
Khas
Khas

Formula 3

(agak encer)
Setengah padat

Kuning muda (lebih

Khas

pekat dari formula 1)


2. Uji pH
Formulasi
Formula 1
Formula 2
Formula 3

pH
3
3
3

Keterangan
Asam
Asam
Asam

3. Uji homogenitas
Formulasi
Formula 1
Formula 2
Formula 3

Hasil
Tidak homogen
Tidak homogen
Cukup homogen

4. Uji daya sebar


Formulasi

Diameter daya sebar (cm)


12

Formula 1
Formula 2
Formula 3

Tanpa beban
2
2,1
2

50 gram
2,1
2,3
2,2

100 gram
2,4
2,5
2,3

150 gram
2,4
2,5
2,4

5. Uji daya tercuci


Formulasi
Formula 1
Formula 2
Formula 3

Hasil
Tidak tercucikan
Tidak tercucikan
Tidak tercucikan

B. Pembahasan
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada
kulit atau selaput lendir. Pada praktikum kali ini dilakukan kajian preformulasi,
formulasi, produksi dan evaluasi sediaan salep. Salep yang dibuat merupakan salep
antijamur dengan kandungan bahan aktif yaitu asam salisilat dan asam benzoate.
Asam salisilat dikombinasikan dengan asam benzoate karena asam salisilat berkhasiat
sebagai keratolitikum dan antifungi sedangkan asam benzoate juga memiliki aktivitas
fungistatis. Basis salep yang digunakan yaitu kombinasi adeps lanae dan vaselinum
album. Adeps lanae merupakan basis salep absorpsi sehingga dapat membantu
absorpsi bahan aktif. Sedangkan vaselinum album merupakan basis salep yang paling
umum digunakan karena konsistensinya, mudah bercampur dan berkarakteristik netral
serta kemampuannya untuk melekat dengan mudah di kulit. Selain itu digunakan juga
bahan pengawet yaitu nipagin. Nipagin dipilih karena dibandingkan dengan zat
pengawet lainnya, misalnya nipasol, nipagin memiliki kelarutan yang lebih mudah
dalam air.
Pada praktikum ini dibuat 3 formulasi salep dengan konsentrasi bahan aktif
yang sama yaitu asam salisilat 3% dan asam benzoate 6%. Sedangkan perbandingan
konsentrasi basis salep (adeps lanae dan vaselin album) yang digunakan berbedabeda. Pada formula I digunakan basis salep dengan perbandingan 1:1 dan aquadest
sebanyak 5 ml. Pada formula II digunakan basis salep dengan perbandingan 1:2 dan
aquadest sebanyak 10 ml. Pada formula III digunakan basis salep dengan
perbandingan 2:1 dan aquadest sebanyak 10 ml. konsentrasi nipagin pada ketiga
formulasi sama yaitu sebesar 0,1%. Total bobot salep yang dibuat yaitu 100 g.
13

Evaluasi sediaan salep yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji pH, uji
homogenitas, uji daya sebar, dan uji daya tercuci.
Uji organoleptis dilakukan untuk mengetahui tekstur, konsistensi, warna dan
bau sediaan salep. Uji organoleptis dilakukan dengan menggunakan panca indra.
Berdasarkan hasil uji organoleptis pada formula 1 didapatkan bentuk sediaan setengah
padat, warna kuning muda, dan bau khas. Pada formula 2 didapatkan bentuk setengah
padat, warna kuning pucat, dan bau khas. Pada formula 3 didapatkan bentuk setengah
padat, warna kuning muda, dan bau khas. Pada formula 2 konsintensi sediaan lebih
encer dan sedikit terdapat gelembung-gelembung air. Hal ini disebabkan karena
jumlah adeps lanae terlalu sedikit sehingga tidak dapat menyerap air yang tersedia.
Selain itu pada formula 2 warna sediaan lebih pucat dikarenakan jumlah vaselin
album yang digunakan lebih banyak daripada adeps lanae.
Uji pH dilakukan untuk mengetahui derajat keasaman sediaan salep.
Pengukuran pH dilakukan dengan cara mengencerkan 0,5 g salep dengan 5 ml
aquadest. pH diukur menggunakan pH stik universal yang dilakukan dengan
mencocokkan warna yang diperoleh dengan tabel warna yang ada. pH sediaan salep
yang ideal harus sesuai dengan pH kulit. Berdasarkan hasil pengukuran pH pada
formula 1, 2 dan 3 didapatkan pH 3. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga formulasi
tersebut bersifat asam. Jadi dari ketiga formulasi tersebut tidak ada yang memenuhi
syarat untuk aplikasi di kulit dikarenakan terlalu asam. Menurut Olivia H, dkk (2013)
kriterian pH kulit yaitu 4,5 6,5. pH salep yang terlalu asam dapat mengiritasi kulit
sedangkan pH yang terlalu basa dapat membuat kulit bersisik. Sediaan salep yang
terlalu asam mungkin disebabkan karena
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui keseragaman distribusi obat
dalam dasar salep. Menurut Syamsuni (2005) adalah satu syarat salep adalah
homogen, jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang
cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen. Berdasarkan uji homogenitas
didapatkan hasil pada formula 1 dan formula 2 salep tidak homogen. Pada formula 3
didapatkan sediaan yang homogen. Sediaan salep yang tidak homogen mungkin
disebabkan oleh proses produksi yang kurang teliti, diantaranya kurangnya spiritus
fortior yang digunakan untuk melarutkan asam salisilat dan asam benzoate sehingga
ukuran partikel asam salisilat dan asam benzoate kurang halus. Hal ini menyebabkan
terdapat binti-bintik dalam salep. Menurut Olivia H, dkk (2013) sediaan salep yang
homogen mengindikasikan bahwa ketercampuran dari bahan-bahan dalam salep
14

merata sehingga tidak didapati gumpalan ataupun butiran kasar pada sediaan.
Suatu sediaan salep harus homogen dan rata agar tidak menimbulkan iritasi dan
terdistribusi merata ketika digunakan.
Uji daya sebar dilakukan untuk melihat kemampuan sediaan menyebar pada
kulit, dimana suatu basis salep sebaiknya memiliki daya sebar yang baik untuk
menjamin pemberian bahan obat yang memuaskan. Perbedaan daya sebar sangat
berpengaruh pada kecepatan difusi zat aktif dalam melewati membran. Semakin
luas membran tempat sediaan menyebar maka koefisien difusi makin besar yang
mengakibatkan difusi obat pun semakin meningkat, sehingga semakin besar daya
sebar suatu sediaan maka makin baik (Hasyim et al., 2012). Berdasarkan uji daya
sebar didapatkan hasil pada formula 1 setelah ditambah beban 150 g diameternya
menjadi 2,4 cm; pada formula 2 setelah ditambah beban 150 g diameternya menjadi
2,5 cm; pada formula 3 setelah ditambah beban 150 g diameternya menjadi 2,4 cm.
Uji daya tercuci dilakukan untuk mengetahui kemampuan dan lamanya daya
lekat salep untuk melepaskan aktifitas obat pada permukaan kulit. Pada formula 1,2,
dan 3 didapatkan hasil tidak tercucikan. Hal ini dikarenakan pada ketiga formula
terdapat basis hirokarbon yaitu vaselin album. Selain itu juga terdapat adeps lanae
yang merupakan dasar salep yang dapat membentuk emulsi air dalam minyak.
Menurut ansel dasar salep hidrokarbon (dasar bersifat lemak) bebas air,
preparat yang berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja,
bila lebih minyak sukar bercampur. Dasar hidrokarbon dipakai terutama untuk efek
emolien. Dasar salep tersebut bertahan pada kulit untuk waktu yang lama dan tidak
memungkinkan larinya lembab ke udara dan sukar dicuci. Basis hidrokarbon dan
absorpsi memiliki waktu kontak yang lebih lama dibandingkan dengan lainnya
karena sifat dari basis hidrokarbon dan absorpsi sebagai penutup yang baik pada
kulit, sedangkan basis tercuci air dan larut air merupakan basis yang mudah
dicuci maupun larut dalam air sehingga waktu kontak dengan permukaan kuli
relatif lebih cepat.

BAB V
PENUTUP
15

A. Kesimpulan
Berdasarkan uji evaluasi salep didapatkan hasil bahwa pada formula 1 dan 2
tidak memenuhi persyaratan uji pH dan uji homogenitas. Pada formula 3 tidak
memenuhi persyaratan uji pH. Perbedaan konsentrasi basis adeps lanae dan vaselin
album dapat mempengaruhi konsistensi dan warna salep.
B. Saran
Sebaiknya mahasiswa lebih cermat dalam melakukan preformulasi, produksi,
dan evaluasi sediaan agar sediaan yang dihasilkan dapat memuaskan dan memenuhi
persyaratan yang ada. Selain itu harus pula diperhatikan kebersihan alat yang
digunakan dalam praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI Press
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Lachman, Leon, et al. 1987. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy. Lea and
Fabriger. Philadelphia USA.
Olivia H. Naibaho, et al. Pengaruh Basis Salep Terhadap Formulasi Sediaan Salep Ekstrak
Daun Kemangi (Ocimum Sanctum L.) pada Kulit Punggung Kelinci yang Dibuat
16

Infeksi Staphylococcus Aureus. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi Unsrat Vol. 2


No. 02 Mei 2013. ISSN 2302 2493
Rowe, Raymond C, et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Exipients Sixth Edition.
London : Pharmaceutical Press
Saifullah, T.N, dan Rina K. 2008. Teknologi dan Formulasi Sediaan Semipadat. Yogyakarta :
Pustaka Laboratotium Teknologi Farmasi UGM.
Syamsuni, H. A, 2006. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sweetman, Sean C. 2009. Martindale the Complete Drug Reference Thirty-sixth Edition.
London : Pharmaceutical Press.
Vinny Hosiana, Et Al. Pengaruh Kadar Air di Dalam Dasar Salep Vaselin Lemak Bulu
Doma Terhadapa Profil Liberasi Asam Salisilat dan Asam Benzoate. Jurnal Sains Dan
Teknologi Farmasi Vol 8 No 2,2013,65-70. ISSN No. 1410-0177

17

LAMPIRAN

SADERMA
SALEP

KOMPOSISI :
Salicylic Acid
Benzoic Acid

3%
6%

FARMAKOLOGI :
Asam salisilat adalah obat topikal yang digunakan untuk mengobati
masalah kulit seperti jamur, kutil, keratolitikum, dan masalah kulit
lainnya. Asam salisilat bekerja sebagai anti jamur dengan cara
melunakkan jamur atau kulit sehingga mudah untuk diangkat. Asam
benzoat bersifat fungistatik yang dapat bekerja setelah lapisan kulit
terkelupas seluruhnya.
INDIKASI :
Untuk pengobatan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur
ringan, terutama kutu air, kurap, dan kudis.
CARA PEMAKAIAN :
Dioleskan sehari 3 sampai 4 kali pada kulit yang sakit.
PERHATIAN DAN PERINGATAN :

Hindari kontak dengan mata dan selaput lendir lain, wajah,


kelamin.

Hindari penggunaan dalam jangka waktu panjang untuk daerah


yang luas.
EFEK SAMPING :
Biasanya reaksi lokal dengan peradangan ringan, sangat jarang
RANCANGAN BROSUR

terjadi luka di kulit, lecet atau terjadi keracunan salisilat karena


diserap oleh kulit. Perlu diperhatikan penggunaan salisilat pada
bayi.
Gejala keracunan salisilat meliputi pusing, gelisah, sakit kepala,
nafas cepat, telinga berdengung, bahkan kematian. Asam
salisilat dan benzoat adalah iritan lemah, dapat menimbulkan
iritasi dan dermatitis.

INTERAKSI OBAT :
Hindari penggunaan bersama warfarin.
PENYIMPANAN :
Simpan pada suhu kamar dan dalam wadah tertutup rapat.
KEMASAN

: Pot salep
Netto 100 gram

No.Reg.
No.Batch
Exp.

: DTL 12345
: 10113033
: Okt 2020

18

Produksi
PT. IIK Pharmaceutical
Kediri-Indonesia

HASIL EVALUASI
1. Organoleptis

19

2. Uji pH

3. Uji homogenitas

20

4. Uji daya sebar

5. Uji daya tercuci

21

22