Anda di halaman 1dari 27

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Osteoartritis (OA) merupakan suatu sindroma klinis akibat perubahan
struktur rawan sendi dan jaringan sekitarnya yang ditandai dengan menipisnya
kartilago secara progresif yang disertai pembentukan tulang baru pada trabekula
subkondral dan terbentuknya tulang baru pada tepi sendi (Osteofit).1
OA merupakan penyakit pada rawan sendi yang paling banyak dijumpai
terutama pada orang-orang di atas 40 tahun di seluruh penjuru dunia. Banyak
orang tua tidak dapat berjalan sendiri dari tempat tidur ke kamar mandi karena
OA. Di Amerika, OA menyerang 40 juta warga Amerika dan 30-60% berusia 65
tahun. Pada suatu survey radiografi pada wanita di bawah usia 40 tahun hanya 2%
mempunyai OA, akan tetapi pada usia 45-60 tahun angka kejadiannya 30%
sementara pada orang-orang di atas 61 tahun angka kejadiannya lebih dari 65%.
Pada laki-laki nilai ini sedikit lebih rendah 1,2,3
Pasien OA biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau
jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih berat nyeri
dapat dirasakan nyeri terus-menerus sehingga sangat mengganggu mobilitas
pasien. Untuk mengurangi nyeri dan mencegah kecacatan sehinga memerlukan
terapi yang adekut. Terapi OA ada 3 yaitu terapi nonfarmakologis, farmakologis
dan operasi.2,3

1.2 Tujuan
1.2.1Tujuan umum

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pembinaan serta


memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di
wilayah puskesmas Balowerti dengan menurunkan angka kejadian osteoporosis
dan menuju Indonesia sehat.
1.2.2 Tujuan khusus
1) Meningkatkan pengetahuan masyarakat, terutama masyarakat Balowerti
mengenai osteoporosis, cara mendeteksi serta cara pencegahannya.
2) Meningkatkan pengetahuan masyarakat balowerti dengan tercapainya minimal
50 % pertanyaan posttest yang terjawab dengan benar.
3) Meningkatkan prakarsa dan peran serta masyarakat dalam mengatasi masalah
kesehatan tentang osteoporosis.
4) Meningkatkan PHBS dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat.
5) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.

BAB 2
PERSIAPAN PENYULUHAN

2.1 Panitia penyuluhan

Penanggung Jawab

: dr.Djaka Handaya, MPH

Panitia Pelaksana
Ketua

: Maulida Angraini

Pemateri

: Intan Ayu Islami

Sie Perlengkapan dan dokumentasi

: Faiza Rizandy, Maulana Saputra

Sie Pencatatan

: Gusti Ramadani
Wirasasmita Paripih

2.2 Koordinasi dengan panitia dan petugas kesehatan


Koordinasi dilakukan pada:
Hari

: Selasa, 22 Februari 2016

Tempat

: Ruang tunggu Puskesmas Balowerti Kediri

Jam

: 07.00 08.30

Telah dilakukan koordinasi mengenai penyuluhan tentang pentingnya


pengetahuan tentang Osteoartritis, Hal hal yang dibahas antara lain:
Menjelaskan singkat mengenai latar belakang dan tujuan dari penyuluhan yang
akan dilaksanakan. Menentukan tempat dan waktu penyuluhan yang disesuaikan
dengan kegiatan puskesmas Balowerti. Menyiapkan sarana dan prasarana yang
akan digunakan untuk mendukung kelancaran proses penyuluhan.

2.3 Persiapan tempat penyuluhan


Atas persetujuan kepala Puskesmas, maka penyuluhan akan diselenggarakan
di puskesmas Balowerti.
2.4 Persiapan Materi Penyuluhan

Materi telah disiapkan 3 hari sebelum hari pelaksanaan, materi diambil dari
berbagai sumber termasuk internet. Materi penyuluhan dalam bentuk power point
dikerjakan langsung oleh penyaji.
Alat bantu penyuluhan berupa tempat yang disiapkan oleh pihak puskesmas.
Kemudian media yang digunakan adalah dengan LCD proyektor dengan
menampilkan bahan penyuluhan.

BAB 3
SASARAN, METODE, DAN MATERI PENYULUHAN

3.1 Sasaran

Masyarakat desa Balowerti dan sekitarnya, kelompok usia non-produktif


hingga lansia khususnya, yang sedang berobat di puskesmas Balowerti.
3.2 Metode
Metode yang digunakan adalah metode ceramah. Ceramah dilakukan dalam
waktu 15 menit, untuk menjelaskan topik penyuluhan dengan instrumen melihat
LCD. Tanya jawab dilakukan sekitar 5 menit tentang materi yang sampaikan.
3.3 Alat bantu penyuluhan / alat peraga
Digunakan laptop dan LCD proyektor sebagai media penyampaian
penyuluhan.
3.4 Materi Penyuluhan
3.5 Definisi Osteoartritis
Osteoartritis (OA) adalah suatu sindroma klinis akibat perubahan
struktur rawan sendi dan jaringan sekitarnya yang ditandai dengan
menipisnya kartilago secara progresif yang disertai pembentukan tulang baru
pada trabekula subkondral dan terbentuknya tulang baru pada tepi sendi
(Osteofit). 1
Osteoartritis secara histopatologis ditandai dengan menipisnya kartilago
yang disertai pertumbuhan dan pembentukan tulang yang diikuti dengan
atrofi dan destruksi tulang sekitarnya. 1
Osteoartritis berhubungan dengan usia lanjut, terutama pada sendisendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban dan secara klinis
ditandai oleh nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak. 1,2

Gambar 2.1 Sendi Normal dan Sendi OA

3.6 Etiologi dan Faktor Resiko Osteoartritis


Beberapa faktor resiko akan dibahas lebih di bawah ini, antara lain :
a. Umur
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya OA, faktor penuaan
adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya OA semakin meningkat
dengan bertambahnya umur. OA hampir tidak pernah ada pada anak-anak,
jarang pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60
tahun. Akan tetapi harus diingat bahwa OA bukan akibat penuaan saja.
Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda dengan perubahan
pada OA. 2,5,7,8

b. Jenis kelamin
Wanita lebih sering terkena OA lutut dan OA banyak sendi, dan
lelaki lebih sering terkena OA paha, pergelangan tangan, dan leher. Secara

keseluruhan, di bawah 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama pada laki


dan wanita, tetapi di atas 50 tahun (setelah menopause) frekuensi OA lebih
banyak pada wanita daripada laki. Hal ini menunjukkan adanya peran
hormonal pada patogenesis OA.
Selain itu, predominasi wanita pada OA dipengaruhi oleh kebiasaan
wanita dalam menggunakan sepatu ber-hak tinggi. Berdasarkan penelitian,
pemakaian sepatu ber-hak tinggi menunjukkan peningkatan tekanan
terhadap sendi pallatofemoral dan kompartemen medial lutut. Hal ini
merupakan predisposisi perubahan degeneratif pada sendi, dalam hal ini
OA. 2,5,7,8
c. Suku bangsa
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada OA nampaknya terdapat
perbedaan di antara masing-masing suku bangsa. Misalnya, OA paha lebih
jarang di antara orang-orang kulit hitam dan Asia daripada Kaukasia. OA
lebih sering dijumpai pada orang-orang Amerika asli (Indian) daripada
orang-orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara
hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan
pertumbuhan. 2,5,7,8
d. Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya OA misalnya, pada
ibu dari seorang wanita dengan OA pada sendi-sendi interfalang distal
(nodus Heberden) terdapat dua kali lebih sering OA pada sendi-sendi
tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai 3 kali lebih
sering, daripada ibu dan anak perempuan-perempuan dari wanita tanpa OA

tersebut. Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen struktural


lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII,
protein pengikat atau proteoglikan dikatakan berperan dalam timbulnya
kecenderungan familial pada OA tertentu (terutama OA banyak sendi). 2,5,7,8
e. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih nyata berkaitan dengan meningkatnya
resiko untuk timbulnya OA baik pada wanita maupun pada pria.
Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan OA pada sendi yang
menanggung beban, tetapi juga dengan OA sendi lailn (tangan atau
sternoklavikula). Oleh karena itu di samping faktor mekanis yang berperan
(karena meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor lain
(metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut. Peran faktor
metabolik dan hormonal pada kaitan antara OA dan kegemukan juga
disokong oleh adanya kaitan antara OA dengan penyakit jantung koroner,
diabetes melitus, dan hipertensi. Pasien-pasien OA ternyata mempunyai
resiko penyakit jantung koroner dan hipertensi yang lebih tinggi daripada
orang-orang tanpa OA. 2,5,7,8
f. Cedera sendi, pekerjaan, dan olah raga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus
menerus (misalnya tukang pahat, pemetik kapas) berkaitan dengan
peningkatan resiko OA tertentu. Demikian juga cedera sendi dan olah raga
yang sering menimbulkan cedera sendi berkaitan dengan OA yang lebih
tinggi.

Peran beban benturan yang berulang pada timbulnya OA masih


menjadi

pertentangan.

predisposisi

OA

Aktivitas-aktivitas

cedera

traumatik

tertentu

(misalnya,

dapat
robek

menjadi
meniskus,

ketidakstabilan ligamen) yang dapat mengenai sendi. Akan tetapi selain


cedera sendi yang nyata, hasil-hasil penelitian tidak menyokong
pemakaian yang berlebihan sebagai suatu faktor untuk timbulnya OA.
Meskipun demikian, beban benturan yang berulang dapat menjadi suatu
faktor penentu lokasi pada orang-orang yang mempunyai predisposisi OA
dan dapat berkaitan dengan perkembangan dan beratnya OA. 2,5,7,8
g. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha (misalnya penyakit Perthes
dan dislokasi kongenital paha) telah dikaitkan dengan timbulnya OA paha
pada usia muda. Mekanisme ini juga diduga berperan pada lebih
banyaknya OA paha pada laki-laki dan ras tertentu. 2,5,7,8
h. Faktor-faktor lain
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko
timbulnya OA. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat
(keras) tidak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh
tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah
robek. Faktor ini diduga berperan pada lebih tingginya OA pada orang
gemuk dan pelari (yang umumnya mempunyai tulang yang lebih padat)
dan kaitan negatif antara osteoporosis dan OA. Merokok dilaporkan
menjadi faktor yang melindungi untuk timbulnya OA, meskipun
mekanismenya belum jelas.

10

3.7 Klasifikasi Osteoartritis


Tabel 2.1 Klasifikasi Osteoartritis 1,4
Primary

Secondary (Common causes)

Lokasi
Trauma
Tangan:
Nodul
Heberden
dan Akut
Bouchard,
Non
nodul
osive Kronik (pekerjaan, OR)
interphalang aritritis, Metacarpal 1
Kongenital atau perkembangan
Kaki: Halluks valgus, Halluks rigidus, Penyakit lokal : Legg-Calve-Perthes,
dislokasi panggul congenital, epifisis
Contracted toes (hammer/cock-up
selip
toes), Talo navicular
Faktor mekanis: panjang ekstremitas
Lutut:
bawah tidak sama, deformitas
valgus/valrus, hipermobilitas
Kompartemen medial

Displasia tulang : dysplasia epifisis,


Kompartemen lateral
dysplasia
spondiloapofisis,
Kompartemen patelofemoralis
osteonikondistrofi
Panggul:
Metabolik
Eksentrik (superior)
Okronosis (alkaptonuria)
Konsentrik (aksial, medial)
Hemokromatosis
Difus (koksa senilis)
Penyakit Wilson
Penyakit Gaucher
Tulang belakang:
Sendi apofiseal
Endokrin:
Antarvertebra (discus)
Akromegali,
Hiperparatiroidisme,
Spondilosis (osteofit)
Diabetes
Melitus,
Kegemukan,
Ligamentosa
(hyperkeratosis,
penyakit Forestier, Hiperkeratosis Hipotiroidisme
rangka idiopatik difus)
Penyakit endapan kalsium
Endapan kalsium pirofosfat dihidrat
Tempat tunggal lainnya, misalnya:
Atropati apatit
Glenohumeralis
Penyakit tulang dan sendi lain:
Akromioklavikularis
Lokal: fraktur, nekrosis avaskular,
Tibiotalar
infeksi
Sakroiliaka
Difus:
arthtritis
rheumatoid
Temporomandibularis
(peradangan)
Penyakit
paget,
osteoporosis,
Generalisata
osteokondritis
Mencakup tiga atau lebih daerah
yang tercantum di atas (KellgrenNeuropatik (sendi Charcot)
Moore)
Lain-lain:
Frostibite

11

Penyakit casson
Hemoglobinopati

3.8 Gejala Klinis Osteorartritis


a.

Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama yang sering kali membawa
pasien ke dokter (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah
bentuknya. Nyeri baisanya beratambah dengan gerakan dan sedikt
berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang
menibulka rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan lain. Nyeri pada
OA juga dapat berupa penjalaran atau akibat radikulopati, misalnya pada
OA servikal dan lumbal. OA lumbal yang emnimbulkan stenosis spinal
mungkin menimbulkan keluhan nyeri di betis, yang biasanya disebut
dengan claudication intermitten.1,2

b.

Hambatan gerak sendi


Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan
sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.1

c.

Kaku pagi.
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah
imobilitas, seperti duduk di kursi atau obil dalam waktu yang cukup lama

atau bahkan setelah bangun tidur 1,2


d.
Krepitasi
Rasa gemertak (kadang-kadang dapat terdengar pada sendi yang sakit.1,2
e.

Pembesaran sendi (deformitas)

12

Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya seringkali


terlihat dilutut secara pelan-pelan membesar. 1,2
f.

Perubahan gaya berjalan


Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien. Hampir semua
pasien OA pergelangan kaki, tumit, lutu atau panggul berkembang
menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang
lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien A yang
umumnya tua. 1,2

3.8 Pemeriksaan Fisik


a. Hambatan gerak
Perubahan ini seringkali dudah ada meskipun OA yang masih dini.
Biasanya bertambah berat dengan semakin beratya penyakit, sampai
sendi hanya bisa digoyangkan dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak
dapat konsentris (seluruh arah gerakan) maupun eksentris (salah satu arah
gerakan saja). 1,2,7,9
b. Krepitasi
Gejala ini lebih berarti untuk pemeriksaan klinis OA lutut. Pada
awalnya hanya berupa perasaan akan adanya sesuatu yang patah atau
remuk oleh apsien atau dokter yang memeriksa. Dengan bertambah
beratnya penyakit, krepitasi dapat terdengar sampai jarak tertentu. Gejala
ini mungkin timbul karena gesekan kedua permukaan tulang sendi pada
saat sendi digerakkan atau secara pasif di manipulasi. 1,2,7,9

13

a. Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris


Pembengkakan sendi pada OA dapat timbul karena efusi pada sendi
yang biasanya tidak banyak (<100cc). Sebab lain ialah karena adanya
osteofit, yang dapat mengubah permukaan sendi. 1,2,7,9
b. Tanda-tanda peradangan
Tanda-tanda peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan gerak,
rasa hangat yang merata dan warna kemerahan) mungkin dijumpai pada
OA karena adanya sinovitis. Biasnaya tanda-tanda ini tak menonjol dan
timbul belakangan, seringkali diumpai di lutut, pergelangan kaki dan
sendi-sendi kecil tangan dan kaki. 1,2,7,9
c. Perubahan bentuk (deformitas) sendi yang permanen
Perubahan ini dapat timbul karena kontraktur sendi yang lama,
perubahan permukaan sendi berbagai kecacatan dan gaya berdiri dan
perubahan pada tulang dan permukaan sendi. 1,2,7
d. Perubahan gaya berjalan
Keadaan ini hampir selalu berhubungan dengan nyeri karena
menjadi tumpuan berat badan. Terutama djumpai karena menjadi
tumpuan berat badan. Terutama dijumpai pada Oa di lutut, sendi paha
dan OA tulang belakangan dengan stenosis spinal. Pada sendi-sendi lain,
seperti tnagan bahu, siku dan pergelangan tangan, osteoartriitis juga
menimbulkan gangguan fungsi.1,2
3.9 Pemeriksaan radiografis.
a.

Radiografis sendi yang terkena

14

Pada sebagian besar kasus, radiografi pada sendi yang terkena osteografi
sudah cukup memberikan gambaran diagnostik yang lebih canggih. 1,2,10
Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnostik OA ialah:

Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat ada

bagian yang menanggung beban).


Peningkatan densitas tulang subcondral
Kista tulang
Osteofit pada pinggir sendi.
Perubahan struktur anatomi sendi (Soeroso, 2009).

Berdasarkan perubahan-perubahan radiografi di atas, secara radiografi


OA dapat digradasi menjadi ringan sampai berat (kriteria Kellgren dan
Lawrence). Harus diingat bahwa pada awal penyakit, radiografi sendi
seringkali masih normal. 1,2,10
b.

Pemeriksaan radiografi sendi lain atau pengindraan magnetik


Pemeriksaan radografi sendi lain atau pengindraan magnetik mungkin
diperlukan pada beberapa keadaan tertentu. Bila osteoarthritis pada
pasien dicurigai berkaitan dengan penyakit metabolik atau genetik seperti
alkaptonuria,

oochoronosis,

displasia

epifisis,

hiperparatiroidime,

penyakit paget atau hemokromatosis (terutama pemeriksaan radiografi


pada tengkorak dan tulang belakang).2,10
c.

Radiografi sendi lain perlu dipertimbangkan juga pada pasien yang

d.

mempunyai keluhan banyak sendi (Osteoartritis generaliasata). 2


Sidikan tulang, pengindraa dengan MRI, artroskopi dan artrografi.
Pasien-pasien yang dicurigai mempunyai penyakit-penyakit yang
meskipun jarang tetapi berat (osteonekrois, neuropati Charcot, pigmentes

15

sinovitis) perlu pemeriksaan yang lebih mendalam. Untuk diagnosis pasti


penyakit-penyakit tersebut seringkali diperlukan pemeriksaan lain yang
e.

lebih canggih. 2
Pemeriksaan lebih lanjut (khususnya MRI) dan mielografi
Pemeriksaan lebih lanjut mungkin juga diperlukan pada pasien
dengan OA tulang belakang untuk menetapkan sebab-sebab gejala dan
keluhan-keluhan kompresi radikular atau medulla spinalis. 2

3.10 Pemeriksaan Laboratorium


Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tak banyak
berguna. Darah tepi (hemoglobin, leukosit, laju endap darah) dalam
batas-batas normal, kecuali OA generalisata yag harus dibedakan
dengan arthritis peradangan. Pemeriksaan imunologi (ANA<, faktor
reumatoid dan komplemen) juga normal. Pada orang OA yang disertai
peradangan, mungkin didapatkan penurunan viskositas, pleositosis
ringan sampai sedang, peningkatan ringan sel peradangan (<8000/m)
dan peningkatan protein. 2
Pemantauan Progresifitas dan Outcome OA
Terdapat 3 cara utama untuk memantau progresifitas dan outcome OA :
a.

Pengukuran nyeri sendi dan disabilitas pada pasien, misalnya nilai


algofungsional dari WOMAC, indeks beratnya nyeri lutut dan
panggul.

16

b.

Pengukuran perubahan struktural (anatomi) pada sendi yang


terserang misalnya radiografi polos, MRI, arthroskopi dan
Ultrasonound frekuensi tinggi.
c.
Pengukuran proses penyakit yang dinyatakan degan

perubahn metabolisme atau perubahan kemampuan fungsional dari


rawans sendi artikuler, tulang subkondral atau jaringan sendi lainnya.
Misalnya marker rawan sendi dalam cairan tubuh, skintigrafi tulang,
pengukuran resistensi terhadap kompresi pada rawan sendi dengan
pengukuran kemampuan instrumen outcome. 2
Nilai algofungsional, radiologik polos dan arthroskopi telah banyak
dipergunakan pada berbagai uji kliik OA, tetapi hanya nilai
algofungsional saja yang telah divalidasi sebagai instrumen outcome.
Foto polos sendi selami ini digunakan sebagai gold standar untuk
menilai perubahan struktur sendi pada berbagai uji klinik penggunaan
obat DMOA (Disease Modifying Osteoartritis Drugs). Kelemahan
tekhnik ini terletak pada kenyataan bahwa tekhnik ini hanya dapat
menilai secara tidak langsung, suatu surrogate marker, perubahan yang
terajadi akibat destruksi rawan sendi dan bukan penilaian secara
langsung prroses terjadi pada rawan sendi. Hal yang sama ditemukan
pada MRI, hingga saat ini MRI tidak dapat memantau kualitias dan
komposisi rawan sendi, informasi yang diperoleh hanyalah pengukuran
tidak langsung dari proses penyakit. Melihat hal tersebut maka
diperlukan suatu metode yang secar ceat memberikan informasi dari
fungsi, komposisi dan proses metabolik pada rawan sendi yang dapat
digunakan untuk memantau hasil pengobatan. 2

17

3.11 Penatalaksanaan Osteoathrititis


Pengelolaan pasien OA berdasarkan atas distribusinya (sendi mana
yang terkena) dan berat ringannya sendi yang terkena.
Pengelolaan terdiri dari 3 hal (Soeroso, 2009).
a. Terapi non-farmakologis :
Perlindungan sendi
OA mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang
kurang
baik. Koreksi terhadap postur yang buruk dan penyangga (korset) untuk
lordosis lumbal yang berlebihan mungkin membantu. Perlu dihindari
aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit (misalnya modifikasi
tempat duduk dan mengurangi kebutuhan jongkok dan berlutut untuk
OA sendi lutut). Istirahat yang periodik akan membantu mengurangi
nyeri.4 Pemakaian tongkat, sepatu khusus, alat-alat listrik yang dapat
memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan.

4,6,7

Beban pada lutut

berlebihan karena kaki yang tertekuk (pronatio).


Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien OA yang gemuk harus
menjadi program utama pengobatan OA. Penurunan berat badan
seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan.

4,5

Beberapa hal yang berkaitan dengan diet pada OA, antara lain :
-

Obesitas meningkatkan faktor resiko perkembangan osteoartritis.


Vitamin C penting dalam perkembangan normal kartilago. Defisiensi
vitamin C akan memicu perkembangan kartilago menjadi lemah.
Vitamin C dapat diperoleh dari buah-buahan, atau suplemen.

18

Seseorang dengan densitas tulang yang rendah, misal pada


osteoporosis, kemungkinan memiliki resiko yang tinggi terkena OA.
Olah raga dan asupan calcium yang adekuat dapat mengontrol densitas

tulang.
Defisiensi Vitamin D meningkatkan resiko terjadinya penyempitan
celah sendi dan perkembangan OA. Suplementasi vitamin D yang

direkomendasikan adalah 400 IU per hari.


Dukungan psiko-sosial
Dukungan (pengertian) psiko-sosial diperlukan oleh pasien OA
oleh karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuan yang
ditimbulkannya. Di satu pihak, pasien ingin menyembunyikan
ketidakmampuannya, di pihak lain ia ingin orang lain turut
memikirkan penyakitnya. Pasien OA seringkali keberatan untuk

memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis. 4,5


Konseling masalah seksual
Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien OA terutama
pada tulang belakang, paha, dan lutut. Seringkali diskusi mengenai hal
ini harus dimulai dari dokter, karena biasanya pasien enggan
mengutarakannya. 4,5

Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan OA, yang
meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan yang tepat.
Pemakaian panas yangmsedang diberikan sebelum latihan untuk
mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif
sebaiknya diberi dingin, dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum
pemanasan.

Berbagai

sumber

panas

dapat

dipakai,

seperti

19

hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonik, inframerah, diatermi, mandi


parafin, dan mandi dari pancuran panas. 4
Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan
memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi OA.
Latihan isometrik lebih baik daripada isotonik karena mengurangi
tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada
tungkai yang lumpuh, timbul karena berkurangnya beban ke sendi
oleh karena otot-otot periartikular memegang peranan penting
terhadap perlindungan rawan sendi dari beban, maka penguatan otototot tersebut adalah penting. 4

Gambar 2.6 Jenis-jenis Latihan untuk OA 4


Akupunktur

20

Akupunktur merupakan pengobatan tradisional dari Cina


berupa penusukan jarum pada tempat-tempat tertentu yang merupakan
jalur saraf, bertujuan untuk memperbaiki kesehatan. Menurut The
National Center for Complementary and Alternative Medicine di the
National Institutes of Health, akupunktur berguna sebagai terapi
tambahan atau terapi alternatif untuk nyeri arthritis. 4,5 Hasil penelitian
menunjukkan bahwa akupunktur bila digunakan bersama terapi
konvensional dapat memperbaiki fungsi dan mengurangi nyeri pada
OA. 4,5

Prolotherapy
Prolotherapy adalah terapi medikal alami untuk memperbaiki
tendon, ligamen, dan kerusakan kartilago. Prolotherapy merangsang
tubuh untuk mengubah daerah dengan menginduksi reaksi inflamasi
ringan pada ligament dan kartilago yang lemah. Terjadinya inflamasi
menyebabkan sirkulasi ke ligamen meningkat. 4

b. Terapi farmakologis :
Analgesik oral non-opiat
Pada umumnya pasien telah mencoba untuk mengobati sendiri
penyakitnya, terutama dalam hal mengurangi atau menghilangkan rasa
sakit. Banyak sekali obat-obatan yang dijual bebas yang mampu
mengurangi rasa sakit. Pada umumnya pasien mengetahui hal ini dari
iklan pada media masa, baik cetak (koran), radio maupun televisi. 2

21

Analgesik topikal
Analgesik topikal dengan mudah dapat kita dapatkan dipasaran dan
banyak sekali yang dijual bebeas pada umumny pasien telah mencoba
terapi dengan cara ini, sebelum memkai obat-obatan peroral lainnya. 2

OAINS
Apabila dengan cara-cara tersebut di atas tidak berhasil, pada umumny
apasien mulai datang kedokter. Dalam hal seperti inikita pikirkan
untuk pemberian OAINS, oleh karena obat golongan ini disamping
mempunyai efek analgetik juga mempunyai efek anti inflamasi. Oleh
karena pasien OA kebanyakan usia lanjut, maka pemberian obatobatan jenis ini harus sangat hati-hati. Jadi pilihan obat yang efek
sampingnya minimal dan dengan cara pemeakaian yangs ederhana, di
samping itu pengawasan terhadap kemungkinan tibul efek samping
selalu harus dilakukan 2

Chondroprotective
Chondroprotective agent adalah obat-obatan yang dapat menjaga
atau merangsang perbaikan tulang rawan sendi pada pasien OA.
Sebagian penelitian menggolongkan obat-obatan tersebut dengan
Slow Acting Anti Osteoartrithis Drugs (DMAODs). Sampai saat ini
yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah : tetrasiklini, asam
hialironat,

kondrotin

sulfat,

glukosaminoglikan,

superoxide desmutase dan sebagainya2

vitamin

22

Tetrasiklin

dan

derivatnya

mempunyai

kemampuan

untuk

menghambat kerja enzim MMP dengan cara menghambatnya. Salah


satu contoh adalah doxycycline, sayangnya obat ini baru dipakai
-

pada hewan dan belum dipakai pada manusia.2


Asam hialuronat disebut juga sebagai viscosupplement oleh karena
salah satu manfaat obat ini adalah dapat memperbaiki viskositas
cairan sinovial, obat ini diberikan secara intraartikuer. Asam
hialoronatt ternyata memegang peranan penting dalam pembentukan
matriks

tulang

rawan

melal

agregasi

dengan

proteoglikan.

Disamping itu pada binatang percobaan, asam hialoronat dapat


mengurangi inflamasi pada sinovium, menghambat angiogenesis dan
-

khemotaksis sel-sel inflamasi 2


Glukosaminoglikan, dapat menghambat sejumlah enzim yang
berperan dalam proses degradasi tulang rawan, antara lain :
hialuronidase, protease, elastase dan capthesin B1 in vitro dan juga
mernagsang sintesis proteoglikan dan asam hialoronat pada kultur
tulang rawan sendi manusia. Dari penelitian Rejgolec tahun 1987
pemekaian glikosaminoglikan selama 5 tahun dapat memberikan
perbaikan dalam rasa sakit pada lutut, naik tangga, kehilangan jam
kerja (mangkir), yang secara statistik bermakna juga dilaporkan pada
pemeriksaan radiologis menunjukkan progresivitas kerusakan tulang

rawan yang menurun dibandingkan dnegan kontrol. 2,


Kondroitn sulfat, merupakan komponen penting pada jaringan
kelompok vertebrata, dan terutama terdapat pada matriks ektraselular
sekeliling sel. Salah satu jaringan yang mengandung kondroitin

23

sulfat adalah tulang rawan sendi dan zat ini merupakan bagian dari
-

proteoglikan (Soeroso, 2009).


Vitami C, dalam penelitian ternyata dapat mengahmbat aktivitas
enzim lisozim. Pada pengamatan ternayata vitamin C mempunyi

manfaat dalam terapi OA.


Superoxide Dismutase, dapat dijumpai pada setiap sel mamlia dan
mempunyai kemampuan untuk menghilangkan superoxide dan
hydroxil radicals. Secara in vitro, radikal superoxide mampu
merusak asam hialuronat, kolagen, dan proteoglikan sedang

hydrogen proxyde dapat merusak kondrosit secara langsung. 2


Steroid intra-artrikuler
Steroid inta-artikular, pada penyakit arthritis reumatoid menungukkan
hasil yang baik. Kejadian inflamasi kadang-kadang dijumpai pada
pasien OA, oleh karena itu kortikosteroid intra-arhtrikuler telah
dipakai dan mampu mengurangi rasa sakit, walaupun hanya dalam
waktu yang singkat. Penelitian selanjutnya tidak menunjukkan
keuntungan yang nyata pada pasien OA, sehingga pemakaiannya
dalam hal ini masih controversial.2

c. Terapi Bedah
Terapi ini diberikan apabila terai farmakologis tidak berhasil untuk
mengurangi rasa sakit dan juga utuk melakukan korksi apabila terjadi
deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari. 2
Malaligment, deformitas lutut Valgus-Varus
Arthroscopic debridement dan joint lavage
Osteotomi
Artroplasti sendi total

24

3.11 Komplikasi
Komplikasi yang utama pada OA adalah nyeri. Tingkat nyeri berbedabeda, dari ringan menjadi berat.
3.12 Pencegahan
Pencegahan primer dan sekunder berguna dalam pengobatan OA.
Mengatur berat badan ideal merupakan faktor utama untuk mencegah OA
pada sendi-sendi yang menahan tubuh.11
Asupan vitamin D juga mempengaruhi osteoarthritis. Asupan yang
kurang berhubungan dengan peningkatan progresifitas OA.11
2.10

Prognosis

Prognosis OA umumnya baik. Dengan obat-obat konservatif, sebagian besar


nyeri pasien dapat teratasi. Hanya kasus-kasus yang berat memerlukan
operasi. Akan tetapi harus diingat pasien-pasien OA dilaporkan mempunyai
resiko hipertensi dan penykit jantung yang lebih tinggi. 4,5

BAB 4
PELAKSANAAN PENYULUHAN

25

4.1 Waktu pelaksanaan penyuluhan


Kegiatan ini dilaksanakan pada:
Hari

: Selasa

Tanggal

: 22 Februari 2016

Waktu

: 07.30

4.2 Tempat penyuluhan


Puskesmas Balowerti, Kecamatan Kota Kediri Jawa timur
4.3 Sasaran dan Jumlah peserta
Masyarakat Balowerti dan sekitarnya, kelompok usia non-produktif hingga
lansia khususnya, yang berobat saat penyuluhan sebanyak 10 warga
4.4 Susunan Acara
06.45
07.00

Menata tempat penyuluhan, melakukan pemasangan LCD


Koordinasi ulang dengan anggota panitia tentang proses saat

07.20
07.25

penyuluhan
Menempati tempat dan tugas masing masing
Mulai mengarahkan warga untuk duduk pada ruangan tunggu

07.30
07.45
07.50

puskesmas
Materi dan diskusi
Post test
Acara selesai

BAB 5
HASIL KEGIATAN

Dari 15 lembaran evaluasi yang disebarkan pada warga yang mendengarkan


penyuluhan didapatkan hasil 10 menjawab sedangkan 5 tidak menjawab. Dari 10

26

responden yang menjawab banyak benar sebesar 9 responden, yang masih


menjawab banyak salah sebesar 1 responden.

BAB 6
PENUTUP

6.1 Kesimpulan

27

Dari hasil post test yang dilakukan bahwa masyarakat Balowerti mulai
mengerti tentang Osteoartritis, dilihat dari antusias responden berpartisipasi dalam
post test. Sehingga hal ini dapat membantu mengubah pola hidup penduduk untuk
mencegah terjadinya Osteeorporosis di daerah Balowerti dan sekitarnya.
6.2 Saran
Perlu adanya kegiatan penyuluhan dan yang berkelanjutan dan terprogram
untuk penyakit-penyakit lansia yang perlu dicegah di puskesmas Balowerti.
Penyuluhan tidak hanya dilakukan di puskesmas induk melainkan juga di
puskesmas pembantu dibawah pengawasan puskesmas induk.