Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air adalah zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang
diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir
71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil) tersedia
di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es
(di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan,
hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyekobyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan,
hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai,
muara) menuju laut.1
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air
tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom
oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi
standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 C). Zat
kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan
untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam,
beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.1
Berdasarkan ringkasan kajian dari UNICEF Oktober 2012 lalu, Kalteng
merupakan wilayah di Indonesia dengan akses air bersih untuk rumah tangga yang
terendah setelah Papua, yaitu sekitar 60%. Sehingga perlu adanya upaya untuk
pengadaan atau pengolahan air bersih.2
Pengolahan air bersih adalah suatu usaha teknis yang dilakukan untuk
memberikan perlindungan pada sumber air dengan perbaikan mutu asal air sampai
menjadi mutu yang diinginkan dengan tujuan agar aman dipergunakan oleh
masyarakat pengkonsumsi air bersih.1
Pengolahan air bersih mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 492
tahun 2010 (PERMENKES 492/2010), yang didalamnya terdapat syarat-syarat air
hasil pengolahan penjernihan agar dapat dikonsumsi layaknya air minum.8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Air Bersih
Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu
baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam
melakukan aktivitas mereka sehari-hari dan memenuhi persyaratan untuk
pengairan sawah, untuk treatment air minum dan untuk treatmen air sanitasi.1
2.2 Sumber, Syarat dan Karakteristik Air Bersih3
Banyak sumber air yang bisa dimanfaatkan sebagai air baku untuk air
minum, yaitu air hujan, air permukaan dan air tanah. Sumber air dan kualitas
dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu: air permukaan, air tanah, dan air hujan.
2.2.1 Air Permukaan
Air permukaan paling banyak dimanfaatkan sebagai air baku karena
ketersediaannya lebih banyak, namun secara kualitas lebih buruk karena pengaruh
pencemaran dan erosi.
2.2.2 Air Tanah
Secara alamiah kualitas air tanah dipengaruhi oleh susunan kimia batuan
yang dilalui Air bersihselama proses peresapan. Kualitas air tanah berbeda-beda
menurut wilayah batuan dan daerah tangkapannya. Selain proses pelarutan
mineral air, tanah juga mengalami proses penyaringan dan pembersihan diri
sehingga kualitasnya cukup baik sebagai air minum.
2.2.3 Air Hujan
Pada beberapa daerah yang tidak cukup mempunyai sumber air tanah dan
permukaan. Air hujan bisa dimanfaatkan untuk keperluan sumber air minum dan
rumah tangga. Tekniknya dengan pengumpulan dari atap bangunan. Air hujan
bersifat asam dan bersifat lunak.
2.2.4 Mata air
Mata aiar adalah sangat baik bila dipakai sebagai air baku, karena berasal
dari dalam tanah yang muncul ke permukaan tanah akibat tekanan , sehigga
belum terkontaminasi oleh zat-zat pencemar.biasanya lokasi mata air erupakan
darah terbuka sehingga mudah terkontaminasi oleh lingkungan sekitar.

2.3. Fungsi dan Manfaat Air Bersih3,4


Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara.
Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun
dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa minum air. Selain itu, air juga
dipergunakan untuk memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran yang
ada di sekitar rumah. Air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian,
pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain. Penyakitpenyakit yang menyerang manusia dapat juga ditularkan dan disebarkan melalui
air. Kondisi tersebut tentunya dapat menimbulkan wabah penyakit dimana-mana.
Volume air dalam tubuh manusia rata-rata 65% dari total berat badannya,
dan volume tersebut sangat bervariasi pada masing-masing orang, bahkan juga
bervariasi antara bagian-bagian tubuh seseorang. Beberapa organ tubuh manusia
yang mengandung banyak air, antara lain, otak 74,5%, tulang 22%, ginjal 82,7%,
otot 75,6%, dan darah 83%.
Setiap hari kurang lebih 2.272 liter darah dibersihkan oleh ginjal dan sekitar
2,3 liter diproduksi menjadi urine. Selebihnya diserap kembali masuk ke aliran
darah. Dalam kehidupan sehari-hari, air dipergunakan antara lain untuk keperluan
minum, mandi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, pelarut obat, dan
pembawa bahan buangan industri.
Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berupaya
mengadakan air yang cukup bagi dirinya sendiri.
Berikut ini air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dengan segala macam
kegiatannya, antara lain digunakan untuk:

keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi, cuci dan
pekerjaan lainnya,

keperluan umum, misalnya untuk kebersihan jalan dan pasar,


pengangkutan air limbah, hiasan kota, tempat rekreasi dan lain-lainnya.

keperluan industri, misalnya untuk pabrik dan bangunan pembangkit


tenaga listrik.

keperluan perdagangan, misalnya untuk hotel, restoran, dll.

keperluan pertanian dan peternakan

keperluan pelayaran dan lain sebagainya

Oleh karena itulah air sangat berfungsi dan berperan bagi kehidupan
makhluk hidup di bumi ini. Penting bagi kita sebagai manusia untuk tetap selalu
melestarikan dan menjaga agar air yang kita gunakan tetap terjaga kelestariannya
dengan melakukan pengelolaan air yang baik seperti penghematan, tidak
membuang sampah dan limbah yang dapat membuat pencemaran air sehingga
dapat menggangu ekosistem yang ada.3
2.4 Karakteristik Air3,4,5
2.4.1 Karakteristik fisik Air :
2.4.1.1 Kekeruhan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan
organik yang terkandung dalam air seperti lumpur dan bahan yang dihasilkan oleh
buangan industri.
2.4.1.2 Temperatur
Kenaikan temperatur air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut.
Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak
sedap akibat degradasi anaerobic ynag mungkin saja terjadi.
2.4.1.3 Warna
Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan-bahan
tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa organik serta
tumbuh-tumbuhan.
2.4.1.4 Solid (Zat padat)
Kandungan zat padat menimbulkan bau busuk, juga dapat meyebabkan
turunnya kadar oksigen terlarut. Zat padat dapat menghalangi penetrasi sinar
matahari kedalam air.
2.4.1.5 Bau dan rasa
Bau dan rasa dapat dihasilkan oleh adanya organisme dalam air seperti alga
serta oleh adanya gas seperti H2S yang terbentuk dalam kondisi anaerobik, dan
oleh adanya senyawa-senyawa organik tertentu.

2.4.2 Karakteristik kimia air :


2.4.2.1. pH

Pembatasan pH dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air


dan efisiensi klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksid dalam
bentuk molekuler, dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh
pH.
2.4.2.2 DO (dissolved oxygent)
DO adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa
dan absorbsi atmosfer/udara. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air
semakin baik. Satuan DO biasanya dinyatakan dalam persentase saturasi.
2.4.2.3 BOD (biological oxygent demand)
BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorgasnisme
untuk menguraikan bahan-bahan organik (zat pencerna) yang terdapat di dalam air
buangan secara biologi. BOD dan COD digunakan untuk memonitoring kapasitas
self purification badan air penerima.
2.4.2.4 COD (chemical oxygent demand)
COD adalah banyaknya oksigen yang di butuhkan untuk mengoksidasi
bahan-bahan organik secara kimia.
Reaksi: + 95%terurai
Zat Organik + O2 CO2 + H2O
2.4.2.5 Kesadahan
Kesadahan air yang tinggi akan mempengaruhi efektifitas pemakaian sabun,
namun sebaliknya dapat memberikan rasa yang segar. Di dalam pemakaian untuk
industri (air ketel, air pendingin, atau pemanas) adanya kesadahan dalam air
tidaklah dikehendaki. Kesadahan yang tinggi bisa disebabkan oleh adanya kadar
residu terlarut yang tinggi dalam air.
2.4.2.6 Senyawa-senyawa kimia yang beracun
Kehadiran unsur arsen (As) pada dosis yang rendah sudah merupakan racun
terhadap manusia sehingga perlu pembatasan yang agak ketat ( 0,05 mg/l).
Kehadiran besi (Fe) dalam air bersih akan menyebabkan timbulnya rasa dan bau
ligam, menimbulkan warna koloid merah (karat) akibat oksidasi oleh oksigen
terlarut yang dapat menjadi racun bagi manusia.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, syaratsyarat wajib air bersih yang bisa diminum adalah sebagai berikut:8
N

JENIS PARAMETER

SATUAN
KADAR MAKSIMUM YANG
DIPERBOLEHKAN

1.

Parameter yang berhubungan langsung


dengan kesehatan

a. parameter mikriobiologi
1
E. Coli
2

Total

bakteri

Koliform
b. Kimia anorganik
1
Arsen
2
Fluorida
3
Total Kromium
4
Kadmium
5
Nitrit (sebagai NO2-)
6
Nitrat (sebagai NO3-)
7
8
2.

Parameter

Sianida
selenium
yang

tidak

N
O
1.
A.

ml sampel
Jumlah per 100

ml sampel
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

0,01
1,5
0,05
0,003
3
50

mg/l
mg/l

0,07
0,01

TCU
mg/l

Tidak berbau
15
500

langsung

berhubungan dengan kesehatan


a parameter fisik
1
bau
2
warna
3
total
zat

Jumlah per 100

terlarut (TDS)
4
kekeruhan
5
rasa
6
suhu
parameter kimiawi
1
aluminium
2
besi
3
kesadahan
4
khlorida
5
mangan
6
PH
7
seng
8
sulfat
9
tembaga
10
amonia
JENIS PARAMETER

padat

NTU
0

mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
SATUAN

5
Tidak berasa
Suhu udara 3
0,2
0,3
500
250
0,4
6,5-8,5
3
250
2
1,5
KADAR MAKSIMUM YANG
DIPERBOLEHKAN

KIMIAWI
BAHAN ANORGANIK
1
air raksa
2
antimon
3
barium
4
boron
5
molybdenum

mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

0,001
0,02
0,7
0,5
0,07

B.

6
nikel
7
sodium
8
timbal
9
uranium
BAHAN ORGANIK
Zat organik (KMnO4)
Deterjen
Chlorinated alkanes
Carbon Tetrachloride
Dichloromethane
1,2 - Dichloroethane
Chlorinated ethenes
1,2- Dichloriethene
trichloroethene
tetrachloroethene
Aromatic Hidrocarbon
benzene
toluene
xylenes
ethilbenzene
styrene
Chlorineted benzenes
1,2- Dichlorobenzene
1,4- Dichlorobenzene
Lain-lain
Di (2-ethylhexyl)phtalate
Acrylamyde
Epychlorohydrin
Hexachlorobutadiene
EDTA
NTA

mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

0,07
200
0,01
0,015

mg/l
mg/l

10
0,05

mg/l
mg/l
mg/l

0,004
0,02
0,05

mg/l
mg/l
mg/l

0,05
0,02
0,04

mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

0,01
0,7
0,5
0,3
0,02

mg/l
mg/l

1
0,3

mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

0,0085
0,0005
0,0004
0,0006
0,6
0,2

2.5 Kendala dan Hambatan dalam Pengolahan Air Bersih6


Masalah pengolahan air bersih di Indonesia berada di ambang kritis air
lantaran minimnya daerah resapan air. Hal tersebut terjadi karena banyaknya
pembangunan gedung-gedung dan perumahan. Sebenarnya, kondisi tersebut bisa
diperbaiki. Caranya, dengan membangun hutan-hutan kota dan sumur resapan air.
Selain itu kurangnya kualitas sumberdaya manusia dalam segi pemahaman iptek,
dalam menerima transfer teknologi pengolahan air menjadi masalah yang harus
segera diperbaiki dengan cara melukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat.
Diperlukan investasi yang lebih banyak di sektor air bersih dan sanitasi.
Investasi pemerintah di sektor tersebut kurang dari satu persen dari PDB.
Pemerintah sedang melakukan upaya untuk mengatasi masalah ini. Setelah
dimulainya PPSP (Program Percepatan Sanitasi Nasional) tahun 2010, alokasi
7

anggaran sanitasi oleh pemerintah daerah meningkat sebesar 4 sampai 7 persen


pada tahun 2011.
2.6 Solusi dari Permasalahan Air Bersih6,7,8
2.6.1 Pengolahan Air Bersih Secara Alami
Pengolahan air limbah secara alamiah dapat dilakukan dengan pembuatan
kolam stabilisasi. Dalam kolam stabilisasi, air limbah diolah secara alamiah untuk
menetralisasi zat-zat pencemar sebelum air limbah dialirkan ke sungai. Kolam
stabilisasi yang umum digunakan adalah kolam Kolam Oksidasi (Oxidation
Ponds). Karena biaya yang dibutuhkan murah, cara ini direkomendasikan untuk
daerah tropis dan sedang berkembang.
Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari,
ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air
limbah dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman
antara 1-2 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun.
Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman dan di daerah yang terbuka
sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.
Cara kerjanya antara lain sebagai berikut:

Empat unsur yang berperan dalam proses pembersihan alamiah ini adalah sinar
matahari,

ganggang,

bakteri,

dan

oksigen.

Ganggang

dengan

butir

khlorophylnya dalam air limbah melakukan proses fotosintesis dengan bantuan

sinar matahari sehingga tumbuh dengan subur.


Pada proses sintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh
chlorophyl dibawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2 (oksigen).
Kemudian oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan
dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam air buangan. Disamping itu
terjadi pengendapan. Sebagai hasilnya nilai BOD dari air limbah tersebut akan
berkurang sehingga relatif aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air

(kali, danau, dan sebagainya).


2.6.2 Solusi Pengolahan Air Bersih dengan Metode Pengolahan Gambut
Sederhana10
Untuk pembuatan satu unit alat pengolah air minum sederhana ini,
diperlukan bahan-bahan antara lain seperti pada tabel di bawah ini (lihat tabel
berikut. Jika bahan tersebut tidak tersedia dipasaran setempat, dapatdisesuaikan
8

dengan bahan yang tersedia. Jadi tidak harus seperti yang tertera pada Tabel
berikut

Bahan-bahan tersebut tidak termasuk bahan untuk dudukkan alat. Di


samping itu bahan - bahan tersebut dapat juga disesuaikan dengan keadaan
setempat misalnya, jika tidak ada tong plastik dapat juga dipakai drum bekas
minyak yang dicat terlebih dahulu.
2.7 Tahapan Proses Pengolahan Air Metode Gambut Sederhana
1

Netralisasi dengan pemberian kapur/gamping

Yang dimaksud dengan netralisasi adalah mengatur keasaman air agar menjadi
netral (pH 7 - 8). Untuk air yang bersifat asam misalnya air gambut, yang paling
murah dan mudah adalah dengan pemberian kapur/gamping. Fungsi dari
pemberian kapur, disamping untuk menetralkan air baku yang bersifat asam juga
untuk membantu efektifitas proses selanjutnya.
2

Aerasi dengan pemompaan udara

Yang dimaksud dengan aerasi yaitu mengontakkan udara dengan air baku agar

kandungan zat besi dan mangan yang ada dalam air baku bereaksi dengan oksigen
yang ada dalam udara memben tuk senyawa besi dan senyawa mangan yang dapat
diendapkan. Disamping itu proses aerasi juga berfungsi untuk menghilangkan gasgas beracun yang tak diinginkan misalnya gas H2S, Methan, Carbon Dioksida dan
gas-gas racun lainnya. Reaksi oksidasi Besi dan Mangan oleh udara dapat ditulis
sebagai berikut:
4 Fe2+ + O2 + 10 H2O ====> 4 Fe(OH)3 + 8 H+
tak larut
Mn2+ + O2 + H2O ====> MnO2 + 2 H+
tak larut
Dari persamaan reaksi antara besi dengan oksigen tersebut, maka secara
teoritis dapat dihitung bahwa untuk 1 ppm oksigen dapat mengoksidasi 6.98 ppm
ion Besi. Reaksi oksidasi ini dapat dipengaruhi antara lain : jumlah Oksigen yang
bereaksi , dalam hal ini dipengaruhi oleh jumlah udara yang dikontakkan dengan
air serta luas kontak antara gelembung udara dengan permukaan air. Jadi makin
merata dan makin kecil gelembung udara yang dihembuskan kedalam air bakunya
, maka oksigen yang bereaksi makin besar.
Faktor lain yang sangat mempengaruhi reaksi oksidasi besi dengan
oksigen dari udara adalah pH air. Reaksi oksidasi ini sangat efektif pada pH air
lebih besar 7(tujuh). Oleh karena itu sebelum aerasi dilakukan, maka pH air baku
harus dinaikkan sampai mencapai pH 8. Hal ini dimaksudkan agar pH air tidak
menyimpang dari pH standart untuk air minum yaitu pH 6,5 - pH 8,5. Oksidasi
Mangan dengan oksigen dari udara tidak seefektif untuk besi, tetapi jika kadar
Mangannya tidak terlalu tinggi maka sebagaian mangan dapat juga teroksidasi dan
terendapkan.
3

Koagulasi dengan pemberian tawas


Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia kedalam air agar
kotoran alam air yang berupa padatan tersuspensimisalnya zat warna organik,
lumpur halus bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap. Cara
yang paling mudah dan murah adalah dengan pembubuhan tawas/alum atau rumus
kimianya Al2(SO4)3.18 H2O. (berupa kristal berwarna putih). Reaksi koagulasi
dengan Tawas secara sederhana dapat ditulis sebagai berikut:

10

Al2(SO4)3.18 H2O + 3 Ca(HCO3)2 ==> 2 Al(OH)3 +3 Ca(SO4) + 6 CO2 + 18


H2O
alkailnity
Al2(SO4)3.18 H2O + 3 Ca(OH)2 ==> 2 Al(OH)3 + 3 Ca(SO4) + 3 CO2 + 18
H2O
mengendap
Pengendapan kotoran dapat terjadi karena pembentukan alumunium
hidroksida, Al(OH)3 yang berupa partikel padat yang akan menarik partikelpartikel kotoran sehingga menggumpal bersama-sama, menjadi besar dan berat
dan segera dapat mengendap. Cara pembubuhan tawas dapat dilakukan sebagai
berikut yaitu : sejumlah tawas/ alum dilarutkan dalam air kemudian dimasukkan
kedalam air baku lalu diaduk dengan cepat hingga merata selama kurang lebih 2
menit. Setelah itu kecepatan pengadukkan dikurangi sedemikian rupa sehingga
terbentuk gumpalan - gumpalan kotoran akibat bergabungnya kotoran tersuspensi
yang ada dalam air baku. Setelah itu dibiarkan beberapa saat sehingga gumpalan
kotoran atau disebut flok tumbuh menjadi besar dan berat dan cepat mengendap.
4

Pengendapan
Setelah proses koagulasi air tersebut didiamkan sampai gumpalan kotoran

yang terjadi mengendap semua (+ 45 - 60 menit). Setelah kotoran mengendap air


akan tampak lebih jernih. Endapan yang terkumpul didasar tangki dapat
dibersihkan dengan membuka kran penguras yang terdapat di bawah tangki.
5

Penyaringan
Pada proses pengendapan, tidak semua gumpalan kotoran dapat

diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran dengan ukuran yang besar dan berat
akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayanglayang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan
proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah
diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir.
2.7.1 Peralatan Yang Digunakan
1

TONG/TANGKI PENAMPUNG
Terdiri dari Drum Plastik dengan volume 220 liter. Drum tersebut

dilengkapi dengan dua buah kran yaitu untuk mengalirkan air ke bak penyaring

11

dan untuk saluran penguras. Pada dasar Drum sebelah dalam diplester dengan
semen sehingga berbentuk seperti kerucut untuk memudahkan pengurasan. Selain
itu dapat juga menggunakan tangki fiber glass volume 550 liter yang dilengkapi
dengan kran pengeluaran lumpur. Tong atau tangki penampung dapat juga dibuat
dari bahan yang lain misalnya dari tong bekas minyak volume 200 liter atau dari
bahan gerabah. Fungsi dari drum adalah untuk menampung air baku, untuk proses
aerasi atau penghembusan dengan udara, untuk proses koagulasi dan flokulasi
serta untuk pengendapan.
2

POMPA AERASI
Pompa aerasiterdiri dari pompa tekan (pompa sepeda) dengan penampang

5 cm, tinggi tabung 50 cm. Fungsi pompa adalah untuk menghembuskan udara
kedalam air baku agar zat besi atau mangan yang terlarut dalam air baku bereaksi
dengan oksigen yang ada dalam udara membentuk oksida besi atau oksida
mangan yang dapat diendapkan. Pompa tersebut dihubungkan dengan pipa aerator
untuk menyebarkan udara yang dihembuskan oleh pompa ke dalam air baku. Pipa
aerator terbuat dari selang plastik dengan penampang 0.8 cm, yang dibentuk
seperti spiral, permukaannya dibuat berlubang, jarak tiap lubang + 2 cm.
3

BAK PENYARING
Bak Penyaring terdiri dari bak plastik berbentuk kotak dengan tinggi 40

cm dan luas penampang 25 X 25 cm serta dilengkapi dengan sebuah keran


disebelah bawah. Untuk media penyaring digunakan pasir. kerikil, arang dan ijuk.
Susunan media penyaring media penyaring dari yang paling dasar keatas adalah
sebgai berikut :
Lapisan 1: kerikilatau koral dengan diameter 1-3 cm, tebal 5 cm.
Lapisan 2: ijuk dengan ketebalan 5 cm.
Lapisan 3: arang kayu, ketebalan 5-10 cm.
Lapisan 4: kerikil kecil diameter + 5 mm, ketebalan + 5 cm.
Lapisan 5: pasirsilika, diameter + 0,5 mm, ketebalan 10-15 cm.
Lapisan 6: kerikil, diameter 3 cm, tebal 3-6 cm
4

BAHAN KIMIA

Bahan kimia yang dibutuhkan antara lain :

Tawas,

12

kapur tohor dan,


kaporit bubuk.
2.7.2 Cara Pembuatan10

Masukkan air baku kedalam tangki penampung sampai hampir penuh (550

liter).
Larutkan 60 - 80 gram bubuk kapur / gamping (4 - 6 sendok makan) ke
dalam ember kecil yang berisi air baku, kemudian masukkan ke dalam

tangki dan aduk sampai merata.


Masukkan slang aerasi ke dalam tangki sampai ke dasarnya dan lakukan
pemompaan sebanyak 50 - 100 kali. setelah itu angkat kembali slang

aerasi.
Larutkan 60 - 80 gram bubuk tawas (4 - 6 sendok makan) ke dalam ember
kecil, lalu masukkan ke dalam air baku yang telah diaerasi. Aduk secara
cepat dengan arah yang putaran yang sama selama 1 - 2 menit. Setelah itu
pengaduk diangkat dan biarkan air dalam tangki berputar sampai berhenti

dengan sendirinya dan biarkan selama 45 - 60 menit.


Buka kran penguras untuk mengelurakan endapan kotoran yang terjadi,

kemudian tutup kembali.


Buka kran pengeluaran dan alirkan ke bak penyaring. Buka kran saringan

dan usahakan air dalam saringan tidak meluap.


Tampung air olahan (air bersih) dan simpan ditempat yang bersih. Jika

digunakan untuk minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu.


Catatan :
Jika volume bak penampung lebih kecil maka jumlah kapur dan tawas
yang dipakai harus disesuaikan.
13

Jika menggunakan kaporit untuk membunuh kuman-kuman penyakit,


bubuhkan kaporit sekitar 1-2 gram untuk 500 liter air baku. Cara
pemakaiannya yaitu dimasukkan bersama-sama pada saat memasukkan
larutan kapur.

PIPA AERATOR

PENAMPANGAN SARINGAN PASIR

2.8 Cara pengolahan air limbah secara sederhana:7,8,9


Pengolahan

air

limbah

untuk

melindungi

lingkungan

hidup

dari

pencemaran. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang


cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah
tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas
dalam daya dukungnya sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang.
Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain:
a.

Pengenceran (Dilution)

Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah kemudian
baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi dengan makin bertambahnya penduduk,
yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang
harus dibuang terlalu banyak dan diperlukan air pengenceran terlalu banyak pula
maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi.
Disamping itu, cara ini menimbulkan kerugian lain, diantaranya bahaya
kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang
akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan,
sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.
b. Kolam Oksidasi (Oxidation Ponds)

14

Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang
(algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah
dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 12 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam
harus jauh dari daerah pemukiman dan di daerah yang terbuka sehingga
memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.
Cara kerjanya antara lain sebagai berikut:
Empat unsur yang berperan dalam proses pembersihan alamiah ini adalah sinar
matahari, ganggang, bakteri, dan oksigen. Ganggang dengan butir khlorophylnya
dalam air limbah melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari
sehingga tumbuh dengan subur.
pada proses sintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh
chlorophyl dibawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2 (oksigen). Kemudian
oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat
organik yang terdapat dalam air buangan. Disamping itu terjadi pengendapan.
Sebagai hasilnya nilai BOD dari air limbah tersebut akan berkurang sehingga
relatif aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air (kali, danau, dan
sebagainya).
c. Irigasi
Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali dan air akan
merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut.
Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang
pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini
terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga, perusahaan susu
sapi, rumah potong hewan, dan lain-lainnya di mana kandungan zat-zat organik
dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanam-tanaman.

2.9 Penyaringan Air7,8


a. Saringan Kain Katun.
Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik
penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan
menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari

15

kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan
tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.
b. Saringan Kapas
Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik
sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan
kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada
dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan
kapas yang digunakan.
c. Aerasi
Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam
air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida
serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat
dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air
seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk
lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau
filtrasi.
d. Saringan Pasir Lambat (SPL)
Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan
lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih
didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih
dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil.
e. Saringan Pasir Cepat (SPC)
Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir
pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air
terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke
atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati
lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir.
f. Gravity-Fed Filtering System
Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir
Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua
tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat(SPC). Air
hasil penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan
Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan tersebut diharapkan kualitas
air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit
air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan
beberapa / multi Saringan Pasir Lambat.
16

g. Saringan Arang
Saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan
satu buah lapisan arang. Lapisan arang ini sangat efektif dalam menghilangkan
bau dan rasa yang ada pada air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang
kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang
aktif.
h. Saringan air sederhana / tradisional
Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang
dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain menggunakan pasir,
kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang berasal
dari sabut kelap
i. Saringan Keramik
Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat
dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih didapatkan dengan
jalan penyaringan melalui elemen filter keramik. Beberapa filter kramik
menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh
bakteri. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan
tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter.
Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering maka air baku yang
dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringn keramik ini
dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang
mengalir.
j. Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu
Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring
dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan
oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan untuk
menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah.
Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng relatif
rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.
k. Saringan Tanah Liat.
Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih dahulu dibentuk khusus
pada bagian bawahnya agar air bersih dapat keluar dari pori-pori pada bagian
dasarnya.

17

BAB III
PENUTUP
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air
tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom
oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi
standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 C).
Kalteng merupakan wilayah di Indonesia dengan akses air bersih untuk rumah
tangga yang terendah setelah Papua, yaitu sekitar 40%. Sehingga perlu adanya
upaya untuk pengadaan atau pengolahan air bersih. Kualitas air bersih yang sehat
dan layak minum, dapat di nilai berdasarkan ketetapan permenkes.
Pengolahan air bersih adalah suatu usaha teknis yang dilakukan untuk
memberikan perlindungan pada sumber air dengan perbaikan mutu asal air sampai
menjadi mutu yang diinginkan dengan tujuan agar aman dipergunakan oleh
masyarakat pengkonsumsi air bersih. Terdapat beberapa metode pengolahan air
bersih seperti metode alamiah, metode pengolahan gambut, dan pengolahan air
limbah secara sederhana dengan pengenceran, kolam oksidasi, irigasi. Kemudian,
metode penyaringan air dapat dilakukan dengan saringan kain katun, kapas,
aerasi, saringan pasir lambat, Graviti Fed Filtering System, saringan arang,
saringan air sederhana, saringan keramik, saringan cadas, dan saringan tanah liat.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Awaluddin, N. 2007. Teknologi Pengolahan Air Tanah Sebagai Sumber Air
Minum Pada Skala Rumah Tangga, Seminar "Peran Mahasiswa Dalam
Aplikasi Keteknikan Menuju Globalisasi Teknologi"
2. UNICEF, Indonesia. 2012. Air bersih, Sanitasi dan Kebersihan. UNICEF :
[Article: available on www. Unicef.or.id, diakses tanggal 2 Maret 2016]
3. Chandra, B. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC
4. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Departemen Kesehatan,
Departemen Dalam Negeri, & BAPPENAS. 2003. Kebijakan Nasional
Pembangunan Prasarana Dan Sarana Air Minum Dan Penyehatan
Lingkungan Berbasis Lembaga. http://waspola.org/file/pdf/policy/Draft
%201%20Kebijakan_AMPL.pdf. Diakses pada tanggal 02 maret 2016.
5. Kementerian Pekerjaan Umum. 2010. Kajian Keterpaduan Pengembangan
Air Baku, Air Bersih Dan Sanitasi.
6. Peneliti bidang Studi Masyarakat dan Sosiologi Perkotaan pada Pusat
Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI). 2009 . masalah air
bersih di perkotaan. Vol. V, No. 07/I/P3DI/April/2013.
7. Pengantar Pengolahan Air Tl 4001 Rekayasa Lingkungan 2009 Program
Studi Teknik Lingkungan ITB
8. Peraturan
Menteri
Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum


9. Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan
Pengendalian

Pencemaran

Air.

http://ciptakarya.pu.go.id/plp/?

page_id=186. Diakses pada tanggal 02 maret 2016.


10. Said, Nusa Idaman dan Heru Dwi Wahjono. 1999. Pengolahan Air Sungai
atau Gambut Sederhana. Jakarta: Badan Pengkajian Penerapan Teknologi.

19