Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Kehamilan, melahirkan dan menjadi seorang ibu merupakan fisiologis
wanita. Peristiwa tersebut merupakan masa transisi kehidupan wanita. Banyak
yang menganggap bahwa hal tersebut merupakan proses masa transisi yang
menyenangkan dari kehidupannya. Namun, pada sebagian wanita, masa transisi
tersebut menimbulkan stres sehingga menimbulkan hal negatif dan merasa takut
dan cemas dengan kehidupan barunya. Pada masa ini wanita akan mempunyai
risiko terhadap kesehatan fisik maupun psikis. Gangguan psikis pada ibu pasca
melahirkan dikenal dengan depresi postpartum. Depresi postpartum merupakan
suatu depresi yang relatif berat dan timbul setelah melahirkan (Seminum, 2006).
Depresi merupakan salah satu penyakit gangguan mood. Sebanyak dua
pertiga orang dengan depresi tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit
yang dapat disembuhkan sehingga tidak mencari pengobatan. Selain itu,
kebodohan dan mispersepsi penyakit oleh masyarakat, termasuk penyedia
kesehatan, sebagai suatu kelemahan pribadi atau kegagalan yang dapat
menyebabkan stigmatisasi yang menyakitkan dan menghindari diagnosa sehingga
banyak dari mereka yang terkena dampak (Halverson, 2011).
Depresi postpartum ditandai dengan perasaan depresi dan adanya ide
bunuh diri. Pada kasus yang berat depresi dapat menjadi psikotik, dengan
halusinasi, waham dan pikiran untuk membunuh bayi atau infanticide. Sekitar
20% sampai 40% wanita melaporkan adanya suatu gangguan emosional atau
disfungsi kognitif pada masa pasca persalinan. Banyak yang melaporkan banyak
mengalami kesedihan pasca persalinan atau yang disebut postpartum blue. Pada
satu sampai dua dalam 1.000 kelahiran ditemukan adanya suatu depresi
postpartum (Kaplan, 2010).
Sekitar 10%-15% ibu postpartum pada tahun pertama mengalami depresi
postpartum. Ibu dengan usia muda lebih rentan mengalami hal ini. Berdasarkan
hasil dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) prevalensi depresi
postpartum berkisar antara 11.7% sampai 20.4% pada tahun 2004-2005 (Barclay,

2008). Jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik, maka dapat berkembang
menjadi psikosis postpartum dengan prevalensi 0.1-0.2% (Joy, 2010).
Pada suatu penelitian yang dilakukan di Osaka, Jepang, pada tahun 2010
dengan jumlah responden sebanyak 771 orang yang menghubungkan pekerjaan,
penghasilan, dan pendidikan dengan kejadian depresi postpartum mendapat hasil
prevalensi postpartum sebanyak 13.8% (Miyake, dkk, 2010). Suatu penelitian
tentang perbedaan risiko depresi postpartum antara ibu primipara dengan
multipara yang dilakukan di RSIA Aisyiyah Klaten tahun 2010, dengan jumlah
responden sebanyak 44 orang didapati hasil angka kejadian risiko depresi
postpartum ibu primipara dan multipara berbeda berdasarkan usia. Ibu primipara
rentan dengan risiko depresi postpartum pada usia yang lebih muda dibandingkan
ibu multipara (Sari, 2010).
Penelitian yang dilakukan di Boyolali pada tahun 2008 dengan mengambil
sampel sebanyak 30 responden tentang dukungan sosial dengan kejadian depresi
postpartum didapatkan hasil bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima
ibu maka semakin menurun tingkat depresi (Dewi, 2008). Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan tahun 2009 pada 50 orang ibu postpartum spontan di
bangsal rawat inap RSUP. Haji Adam Malik Medan didapatkan hasil wanita
postpartum yang mendapatkan sindrom depresi postpartum sebanyak 16% dan
yang tidak mengalami depresi postpartum sebanyak 84% (Sari, 2009).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DEPRESI
2.1.1. Definisi dan Epidemiologi
Depresi merupakan suatu perasaan sedih tertekan (Baihaqi, dkk, 2007).
Depresi termasuk dalam gangguan mood yang utama. Pada pasien depresi akan
merasakan hilangnya energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan konsentrasi,
hilangnya nafsu makan dan berpikir tentang kematian atau bunuh diri (Kaplan,
2010).
Gangguan depresi berat adalah suatu gangguan yang sering ditemukan,
dengan prevalensi seumur hidup kira-kira 15%, kemungkinan setinggi 25% pada
wanita. Prevalensi berdasarkan jenis kelamin, ditemukan bahwa depresi pada
wanita dua kali lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Berdasarkan usia ratarata onset untuk gangguan depresi berat sekitar 40 tahun, 50% dari pasien
memiliki onset antara usia 20-50 tahun. Prevalensi gangguan mood tidak berbeda
dari satu ras dengan ras yang lain. Pada umumnya, depresi paling sering terjadi
pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau yang
bercerai (Kaplan, 2010).
2.1.2. Etiologi
Dasar umum pada gangguan depresi berat tidak diketahui. Faktor
penyebab dapat dibagi sebagai berikut (Kaplan, 2010):
1. Faktor Biologis
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan adanya berbagai kelainan di
dalam metabolit amin biogenik. Dari amin biogenik, norepinefrin dan serotonin
merupakan dua neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi
gangguan mood.
2. Faktor Genetika

Data genetik dengan kuat menyatakan genetika merupakan suatu faktor


penting di dalam perkembangan gangguan mood. Pola penurunan genetika
melalui suatu mekanisme penurunan yang kompleks, bukan tidak mungkin untuk
menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor nongenetik kemungkinan memiliki
peranan kausatif yang berperan dalam gangguan mood pada beberapa orang.
3. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan merupakan peranan primer
dalam terjadinya depresi. Data yang paling mendukung menyatakan bahwa
peristiwa kehidupan paling berhubungan dengan perkembangan depresi adalah
kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun. Stresor lingkungan yang paling
berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan.
2.1.3. Gejala Psikis dan Somatis
Yang termasuk dalam gejala psikis adalah merasa sedih, susah, tidak
berguna, gagal, putus asa, tidak mempunyai harapan. Yang termasuk gejala
somatis adalah anoreksia, kulit lembab, tekanan darah dan nadi naik turun, tidak
semangat dan sulit tidur. Ada depresi yang disertai dengan penarikan diri dan ada
pula dengan kegelisahan dan agitasi (Baihaqi, dkk, 2007).
2.2. POSTPARTUM
2.2.1 Definisi
Dalam bahasa Latin, waktu tertentu setelah melahirkan anak disebut
puerperium, yaitu dari kata puer yang berarti bayi dan parous yang artinya
melahirkan. Puerperium berarti masa setelah melahirkan bayi (Bahiyatun, 2009).
Masa nifas (puerperium) menurut Sarwono Prawirohardjo dimulai setelah
plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti ketika
sebelum hamil, berlangsung kira-kira enam minggu (Syafrudin dan Hamidah,
2009).

2.2.2. Periode
Nifas (pueperium) dibagi dalam tiga periode, yaitu (Bahiyatun, 2009):
1. Pueperium dini, adalah kepulihan ketika ibu diperbolehkan berdiri dan
berjalan.
2. Pueperium intermedial, adalah kepulihan menyeluruh alat-alat genital.
3. Remote pueperium, adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna, terutama bila masa hamil dan melahirkan terdapat komplikasi.
2.2.3 Perubahan Fisiologis
Perubahan fisiologis pada masa post partum adalah sebagai berikut
(Leveno et al 2009):
A. Uterus
Setelah persalinan, kaliber pembuluh ekstrauterus berkurang hingga
hampir mencapai keadaan sebelum hamil. Lubang serviks berkontraksi secara
perlahan, dan selama beberapa hari setelah persalinan lubang ini massih mudah
dimasuki dengan dua jari. Pada akhir minggu pertama, serviks menebal dan
kanalis terbentuk kembali. Os eksternus tidak pulih secara total ke bentuk
pragravidanya. Os eksternus tetap melebar dan cekungan bilateral di tempat
laserasi menetap hingga menjadi tanda serviks para. Setelah dua hari pertama,
uterus mulai menciut, dalam dua minggu uterus telah turun ke dalam rongga
panggul sejati. Ukuran uterus kembali seperti pada keadaan prahamil dalam waktu
sekitar empat minggu.
Tabel 2.1. Tinggi Fundus Uterus dan Berat Uterus Menurut Masa Involusi
Involusi
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu

Tinggi fundus uterus


Setinggi pusat
2 jari di bawah pusat
Pertengahan pusat

Berat uterus
1000 gram
750 gram
500 gram

2 minggu

simfisis
Tidak teraba di atas

350 gram

6 minggu
8 minggu

simfisis
Bertambah kecil
Sebesar normal

50 gram
30 gram

Afterpains
Pada multipara, uterus sering berkontraksi dengan kuat
pada interval-interval tertentu dan menimbulkan afterpains.
Afterpains terutama dirasakan jika bayi menyusui karena adanya
pelepasan oksitosin, kadang, nyeri ini terasa sangat hebat hingga
pasien memerlukan analgesik, tetapi pada umumnya nyeri akan
berkurang pada hari ketiga postpartum.
Lokia
Pada

awal

menyebabkan

masa

nifas,

pengeluaran

peluruhan

rabas

jaringan

vagina

dengan

desidua
jumlah

bervariasi, rabas ini disebut dengan lokia. Selama beberapa hari


setelah persalinan, lokia mengandung cukup banyak darah
sehingga berwarna merah (lokia rubra). Setelah tiga atau empat
hari, lokia menjadi pucat (lokia serosa). Setelah sekitar hari ke-10
karena adanya leukosit dan penurunan kandungan air, lokia
berwarna putih atau putih kekuningan (lokia alba). Lokia dapat
menetap hingga empat minggu.
Subinvolusi
Kata ini menerangkan penghentian atau retardasi involusi,
proses saat uterus secara normal pulih ke ukuran semula pada
masa nifas. Hal ini disertai oleh perdarahan uterus yang ireguler
atau berlebihan. Kausa subinvolusi diantaranya adalah retensi
potongan plasenta dan endometritis.
B. Saluran kemih
Kehamilan
bermakna
merupakan

air

normal
ekstrasel

proses

berkaitan
dan

fisiologis

dengan

diuresis
untuk

peningkatan

setelah

membalikkan

kehamilan
keadaan

tersebut. Diuresis biasa terjadi antara hari kedua dan kelima


postpartum.

C. Vagina
Sama seperti seviks, vagina dan pintu keuar vagina jarang
pulih ke dimensi nulipara. Selain itu, perubahan pada penyangga
panggul selama persalinan mungkin mempermudah timbulnya
prolaps uterus dan inkontinensia urin.
D. Peritoneum dan Dinding Abdomen
Ligamentum latum dan teres memerlukan waktu yang
cukup lama untuk pulih dari peregangan dan pelonggaran yang
terjadi selama masa kehamilan. Dinding abdomen lunak dan
lembek karena ruptur serat elastik di kulit. Pemulihan struktur ini
ke keadaan normal membutuhkan waktu beberapa minggu.
E. Darah
Selama beberapa hari pertama postpartum, konsentrasi
hemoglobin dan hematokrit berfluktuasi dalam tingkat sedang.
Pada waktu satu minggu setelah melahirkan, volume darah
hampir

kembali

trombositosis

ke

yang

tingkat
mencolok

nonhamil.
terjadi

Leukositosis

selama

dan

dan

setelah

melahirkan. Kadang-kadang hitung leukosit mencapai 30.000/l.


F. Penurunan Berat Badan
Terjadi penurunan berat badan sekitar 5-6 kg karena
evakuasi uterus dan pengeluaran darah normal. Selain itu, terjadi
penurunan berat badan sekitar 2-3 kg melalui diuresis. Sebagian
besar wanita mencapai berat badan pada saat sebelum hamil
dalam waktu enam bulan.
G. Payudara

Pada waktu 24 jam pertama setelah melahirkan terjadi


sekresi lakteal, payudara mengalami distensi, menjadi padat,
dan nodular.

2.3. DEPRESI POSTPARTUM


2.3.1. Definisi dan Epidemiologi
Depresi postpartum adalah depresi berat yang biasa timbul
mulai 1-2 dan 4 minggu setelah melahirkan. Depresi postpartum
sangat umum terjadi pada ibu yang baru melahirkan, khususnya
melahirkan anak pertama (Minirth dan Meier, 2001). Namun
dapat terjadi pada anak kedua dan ketiga. Wanita yang
mengalami

depresi

postpartum

memiliki

risiko

untuk

mendapatkan episode berulang pada persalinan selanjutnya


(Tomb, 2004).
Depresi postpartum serupa dengan depresi mayor atau
minor lainnya yang dapat timbul kapan saja. Dianggap depresi
postpartum jika mulai dalam tiga sampai enam bulan setelah
melahirkan (Lenovo et al, 2009).
Insiden

depresi

postpartum

sedang

atau

berat

atau

gangguan bipolar postpartum berkisar dari 30-200 per 1000


kelahiran hidup (Strigtht, 2005). Depresi postpartum mengenai
sekitar 10% dari semua ibu baru (Curtis, 2000).
Beberapa kelompok wanita memiliki kemungkinan yang
jauh lebih besar mengalami depresi selama masa nifas. Remaja
dan wanita yang memiliki riwayat penyakit depresif memiliki
risiko depresi postpartum sekitar 30%. Hampir 70% wanita yang
memiliki riwayat depresi postpartum akan kembali mengalami
gangguan ini. Jika seorang wanita memiliki riwayat depresi
postpartum dan saat ini mengalami blues, kemungkinan wanita

tersebut menderita depresi mayor akan meningkat menjadi 85%


(Leveno et al, 2009).
2.3.2. Etiologi
Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya depresi
postpartum adalah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor
puerperium,
sebagai

predisposisi
gangguan

meliputi
bipolar

manik-depresif),

riwayat

psikosis

(sebelumnya

delirium

dan

disebut

halusinasi,

perubahan suasana hati yang cepat agitasi atau bingung


dan potensial bunuh diri atau membunuh anaknya.
2. Depresi postpartum dengan atau tanpa psikosis dilihat dari
tiga perspektif, yaitu:

Teori biologis, meliputi perubahan fungsi hipotalamus,


kemungkinan

berhubungan

dengan

pengaruh

hormonal yang berubah.

Teori psikologis, meliputi sistem pendukung yang


buruk, stres psikologis atau memiliki hubungan yang
kurang baik dengan pasangannya.

Teori sosiokultural, meliputi tingkat kepuasan sosial


yang rendah, dukungan, dan kontrol baik di rumah
maupun peran sebagai sebagai orang tua (Strigtht,
2005).

3. Sensitivitas individual ibu terhadap perubahan hormon juga


dapat menjadi faktor penyebab. Penyebab lain yang
mungkin adalah adanya riwayat keluarga tentang depresi,
kurang dukungan keluarga setelah melahirkan, isolasi dan
keletihan kronis (Curtis, 2000).
4. Faktor demografi yaitu umur ibu saat kehamilan dan
melahirkan yang sering dikaitkan dengan kesiapan mental
untuk menjadi seorang ibu.

5. Faktor

pengalaman,

depresi

postpartum

lebih

sering

ditemukan pada perempuan yang baru pertama kali


melahirkan (primipara)
6. Faktor pendidikan, perempuan yang berpendidikan tinggi
menghadapi tekanan sosial dan konflik peran antara
dorongan untuk bekerja dengan peran sebagai ibu rumah
tangga yang harus mengurus anak-anak (Kruckman, 2001
dalam Soep, 2009)
2.3.3. Gambaran Klinis
Gejala pada depresi postpartum adalah sebagai berikut
(Leveno et al, 2009; Syafrudin dan Hamidah, 2009; Stevens,
2002):

Merasa sedih

Suasana hati yang tertekan atau kehilangan minat hampir


sepanjang hari

Penurunan atau peningkatan berat badan

Kehilangan nafsu makan

Sulit tidur atau terlalu banyak tidur

Rasa lelah dan tidak bersemangat

Iritabilitas dan kemurungan

Tidak memperhatikan bayi

Merasa tidak berharga atau merasa bersalah

Berkurang kemampuan untuk berpikir dan mengambil


keputusan

Pikiran bunuh diri atau membunuh bayi

2.3.4 Perjalanan penyakit


Perjalanan

alami

penyakit

adalah

dengan

adanya

perbaikan bertahap dalam waktu enam bulan setelah persalinan.


10

Kemungkinan untuk pulih sempurna umumnya baik. Hampir 15%


wanita

mengalami

perjalanan

penyakit

monofasik

disertai

pemulihan total, dan separuhnya memperlihatkan perjalanan


multifasik dengan rata-rata 2,5 episode depresi per pasien dan
akhirnya pulih sempurna.
Pada sebagian kasus depresi postpartum dapat bersifat
asimtomatik sampai berbulan-bulan, bahkan sampai bertahuntahun, keadaan ini dapat mempengaruhi kualitas hubungan
antara ibu dan anaknya. Ibu yang mengalami depresi terbukti
kurang berinteraksi sosial dan bermain dengan anaknya (Leveno
et al, 2009)
2.3.5. Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS)
Antara 8-12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran
sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan. Depresi yang
terdeteksi secara klinis biasa muncul pada 6-12 minggu pertama
postpartum. Dengan alasan itu, ibu diminta untuk mengisi
kuesioner setelah melahirkan (Syafrudin dan Hamidah, 2009).
Ibu yang rentan mengalami depresi postpartum adalah
sebagai berikut (Syafrudin dan Hamidah, 2009):

Mempunyai riwayat keluarga atau riwayat pribadi yang


mengalami depresi.

Tidak

mempunyai

pengalaman

merawat

orang

lain;

misalnya saudara kandung, di masa anak-anak atau


remaja.

Memiliki keluarga yang tidak stabil atau kasar di masa


anak-anak atau remaja.

Tidak memiliki dukungan positif dari suami selama dan


setelah melahirkan.

Pernah didiagnosis menderita depresi selama kehamilan.

11

Terputus dari saudara dekat atau teman yang dapat


merawat bayi dari waktu ke waktu.
Skrining

menggunakan

rutin
alat

untuk

depresi

pemeriksaan

postpartum

psikiatrik

yang

dapat
disebut

Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang didisain oleh


Cox, Holden dan Sagovsky. Edinburgh Postnatal Depression Scale
dapat digunakan pada ibu yang sedang rawat inap, home visit,
atau pada 6-8 minggu setelah melahirkan. Edinburgh Postnatal
Depression

Scale

terdiri

dari

10

pertanyaan

dan

dapat

diselesaikan dalam waktu 5 menit (Cox, Holden dan Sagovsky,


1987).
Sepuluh pertanyaan pada EPDS adalah cara yang bernilai
dan efisien untuk mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko
untuk depresi postpartum, mudah dijalankan dan telah terbukti
menjadi alat skrining yang efektif (Cox, Holden dan Sagovsky,
1987). Setiap pertanyaan memiliki empat respon yang mungkin,
yang dinilai dari 0 sampai 3. Nilai skor maksimum EPDS adalah
30, jika skor rendah maka lebih baik. Di United Kingdom, jika skor
EPDS 9-10 maka direkomendasikan untuk menjalani skrining
selanjutnya. Pada wanita yang mendapatkan total skor EPDS
lebih dari 10, berisiko tinggi untuk terjadinya depresi postpartum
(Wisner, Parry, dan Piontek, 2002).
Edinburgh Postnatal Depression Scale sudah di-translate
dalam berbagai bahasa dan di validasi di berbagai negara
diantaranya Arab, Cina, Belanda, Perancis, Jerman, Jepang,
Norwegia, Vietnam, Malaysia. Edinburgh Postnatal Depression
Scale dalam bahasa Indonesia sudah diterjemahkan (Department
of Health Government of Western Australia, 2006).
Penerjemahan EPDS ke dalam bahasa Indonesia sudah
dilakukan dan telah divalidasi di Jakarta. Hasil studi tersebut
membuktikan bahwa instrumen dalam bahasa Indonesia lebih

12

sahih dan reliable untuk digunakan pada wanita Indonesia


(Kusumadewi, Sari, 2009).

2.3.6 Penatalaksanaan
Secara umum ada dua jenis pengobatan untuk depresi (Joy, Saju. 2010):
Talk Therapy
Melibatkan pembicaraan dengan seorang psikolog, terapis, atau pekerja
sosial untuk belajar mengubah cara pasien depresi dalam berpikir, merasa, dan
bertindak.
Terapi Medis
Dokter akan memberikan resep obat antidepresan. Obat-obatan ini dapat
membantu meredakan gejala depresi. Pemberian obat antidepresan juga terbukti
bekerja untuk pengobatan depresi postpartum, tetapi penting untuk dicatat bahwa
obat ini akan mempengaruhi ASI yang dikonsumsumsi oleh si bayi. Ada beberapa
antidepresan yang tersedia saat ini dengan efek samping minimal pada bayi.
Metode-metode pengobatan dapat digunakan sendiri atau secara
bersamaan. Jika ibu mengalami depresi, maka akan sangat memengaruhi bayinya.
Pengobatan yang ditangani dengan segera sangat penting bagi ibu maupun bayi.
Menyembuhkan ibu hamil dari depresi pasca melahirkan, bukan saja
memerlukan terapi kelompok dengan panduan psikiater yang benar. Tapi juga
membutuhkan asupan nutrisi yang dapat membuat pemulihan tubuh ibu
berlangsung lebih cepat dan tepat. Menurut Jill Mallory, ibu hamil di Amerika
kekurangan lemak omega-3. Asam lemak omega-3 adalah DHA atau
docosahexaenoic acid yang dapat ditemukan umumnya pada ikan tuna dan
salmon, maupun ganggang laut.
Dalam penelitian lain yang jauh sebelumnya dilakukan, plasenta terbukti
mendorong perpindahan DHA dari ibu pada bayi. Menurut Mallory, hal ini terjadi
karena lemak tersebut diserap bayi untuk pertumbuhan otak dan mata, sehingga
pada wanita pasca melahirkan perlu mengembalikan kadar tersebut dalam tubuh.

13

Hal ini mejeleaskan bagaimana penurunan depresi dapat dilakukan dengan


menaikkan asupan DHA pada ibu, dan jumlah DHA dalam ASI berhubungan
dengan depresi postpartum dan terutama mengkonsumsi ikan yang bermanfaat
(Joy, Saju. 2010).
Tanda-tanda yang perlu diawasi selama dan setelah melahirkan
Ketika hamil, atau setelah melahirkan, mungkin saja ibu merasa depresi
tapi tidak menyadarinya. Beberapa perubahan normal selama dan setelah
melahirkan dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Namun jika ibu
mengalami gejala berikut lebih dari 2 minggu, maka harus dihubungi dokter untuk
penanganan segera.
Beberapa wanita tidak memberitahu siapa pun tentang gejala-gejala
mereka. Mereka merasa malu atau bersalah karena merasa tertekan ketika mereka
seharusnya bahagia. Mereka khawatir akan dipandang sebagai orang tua tidak
layak (Joy, Saju. 2010).

14

BAB III
KESIMPULAN
Depresi merupakan suatu perasaan sedih tertekan. Depresi termasuk dalam
gangguan mood yang utama. Pada pasien depresi akan merasakan hilangnya
energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan konsentrasi, hilangnya nafsu makan
dan berpikir tentang kematian atau bunuh diri.
Depresi postpartum adalah depresi berat yang biasa timbul
mulai 1-2 dan 4 minggu setelah melahirkan. Depresi postpartum
sangat umum terjadi pada ibu yang baru melahirkan, khususnya
melahirkan anak pertama.
Insiden

depresi

postpartum

sedang

atau

berat

atau

gangguan bipolar postpartum berkisar dari 30-200 per 1000


kelahiran hidup. Depresi postpartum mengenai sekitar 10% dari
semua ibu baru.
Antara 8-12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran
sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan. Depresi yang
terdeteksi secara klinis biasa muncul pada 6-12 minggu pertama
postpartum. Dengan alasan itu, ibu diminta untuk mengisi
kuesioner setelah melahirkan

15

DAFTAR PUSTAKA
Bahiyatun., 2009. Buku Ajar Kebidanan Asuhan Nifas Normal. Jakarta: EGC.
Baihaqi, MIF.dkk, 2007. Psikiatri (Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan).
Bandung: PT. Refika Aditama.
Barclay, Laurie., 2008. Medscape Medical News: Prevalence of Self-Reported
Postpartum Depresisive Symptoms Ranges From 11,7to 20,4%, 57 (14);
361-366.
Cox, J.L., Holden, J.M., & Sagovsky, R., 1987. British Journal of Psychiatry:
Detection of Postnatal Depression. Development of the 10-item
Edinburgh Postnatal Depression Scale. Volume 150: 782-786.
Curtis, Glade B., 2000. Kehamilan di Atas Usia 30. Jakarta: Arcan.
Department of Health, Government of Western Australia, 2006. Using the
Edinburgh Postnatal Depression Scale EPDS Translated into languages
Other Than English.
Dewi EP. 2008. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kejadian Depresi
Pada Ibu Postpartum Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak Boyolali.
Available from: http://etd.eprints.ums.ac.id/438/ [Accesed April 2013].
Halverson, Jerry L., 2011. Depression. Available from: http://emedicine.
medscape.com/article/286759-overview. [Accesed 22 April 2013].
Joy, Saju. 2010. Postpartum Depression. Available from: www.medscape.com
[Accesed April 2013].
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., & Grebb, J.A., 2010. Sinopsis Psikiatri. Tangerang:
Binarupa Aksara Publisher.

16

Kruckman., 2001. Maternity Nursing: Family, Newborn and Womens Health


Care, Education (18th ed). Philadelpia: Lippincott.
Miyake, Yoshihiro., Tanaka, Keiko., Sasaki, Satosi & Hirota, Yoshio. 2010.
Employment, income, and education and risk of postpartum depression:
The Osaka Maternal and Child Health Study. Journal of Affective
Disorder. Volume: 130 h-133-137.
Nielsen, D., Videbech, P., Hedegaard, M., Dalby, J. & Secher, N.J., 2000.
Postpartum depression: identification of women at risk. BJOG: An
International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 107: 12101217.
Sadock, B.J., Sadock, V.A., 2003. Synopsis Psychiatry. Behavioral Sciences/
Clinical Psychiatry. Ninth Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Sari, Laila Sylvia., 2009. Sindroma Depresi Pasca Melahirkan Di Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Available from:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6370 [Accesed April 2013].
Sari, Maya Eka., 2010. Perbedaan Risiko Depresi Postpartum Antara Ibu
Primipara Dengan Multipara Di RSIA Aisyiyah Klaten. Available from:
http://etd.eprints.ums.ac.id/9449/ [Accesed Maret 2013].
Seminum, Yustinus., 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Stevens,

Lise M., 2002. The Journal


Assosiation.Volume: 287. No. 6.

of

the

American

Medical

Syafrudin., Hamidah., 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.


Tomb, David A., 2004. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: EGC
Wisner, K.L., Parry, B.L., & Piontek, C.M., 2002. New England Journal of
Medicine: Postpartum Depression.Volume 347:194-199.

17