Anda di halaman 1dari 131

PROSEDUR KEAMANAN

KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
Kelas X Semester 2

Penyusun :

Nurkasanah, SE

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Hak Cipta 2013 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Dilindungi Undang-Undang
MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN

Disklaimer: Buku ini merupakan buku siswa yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangka
implementasi Kurikulum 2013. Buku siswa ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di
bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dipergunakan dalam tahap
awal penerapan Kurikulum 2013. Buku ini merupakan dokumen hidup yang senantiasa
diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan
perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan
kualitas buku ini.

Kontributor Naskah

: Nurkasanah, SE

Tim Desktop Publisher

: Tim

Cetakan Ke-1, 2013


Disusun dengan huruf Myriad Pro, 11 pt

ii

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

KATA PENGANTAR
Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi siswa dari sisi sikap,
pengetahuan dan keterampilan secara utuh. Keutuhan tersebut menjadi dasar
dalam perumusan kompetensi dasar tiap mata pelajaran mencakup kompetensi
dasar kelompok sikap, kompetensi dasar kelompok pengetahuan, dan kompetensi
dasar kelompok keterampilan. Semua mata pelajaran dirancang mengikuti rumusan
tersebut.
Pembelajaran kelas X Pendidikan Menengah Kejuruan yang disajikan dalam
buku ini juga tunduk pada ketentuan tersebut. Buku siswa ini diberisi materi
pembelajaran yang membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterapilan
dalam menyajikan pengetahuan yang dikuasai secara kongkrit dan abstrak, dan
sikap sebagai makhluk yang mensyukuri anugerah alam semesta yang dikaruniakan
kepadanya melalui pemanfaatan yang bertanggung jawab.
Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk
mencapai kompetensi yang diharuskan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan
dalam kurikulum 2013, siswa diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain
yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk
meningkatkan dan menyesuaikan daya serp siswa dengan ketersediaan kegiatan
buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatankegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan
alam.
Buku ini sangat terbuka dan terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.
Untuk itu, kami mengundang para pembaca memberikan kritik, saran, dan masukan
untuk perbaikan dan penyempurnaan. Atas kontribusi tersebut, kami ucapkan
terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan
dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia
Merdeka (2045).

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

iii

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

DAFTAR ISI
Daftar Isi
KATA PENGANTARiii
DAFTAR ISI iv
PETA KEDUDUKAN BAHAN AJAR vi
GLOSARIUM viii
PENDAHULUAN 1
A. Deskripsi Modul  1
B.

Prasyarat Mempelajari Modul 2

C.

Petunjuk Penggunaan Modul 3


1. Penjelasan Bagi Siswa....................................................................................................... 3
2. Peran fasilitator................................................................................................................... 4

D. Tujuan Pencapaian Akhir 4


1. Kinerja yang diharapkan ................................................................................................ 4
2. Kriteria keberhasilan keberhasilan.............................................................................. 4
3. Variable dan keriteria keberhasilan ........................................................................... 5
E.

Cek Kemampuan 5

Kegiatan Pembelajaran 1
MENGIKUTI PROSEDUR KEAMANAN, KESEHATAN, DAN KESELAMATAN KERJA 7
A. Tujuan Pembelajaran 7
B.

Uraian Materi 7
1. Pengertian keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja................................ 8
2. Tujuan keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja.......................................10
3. Undang-Undang dan Ketenagakerjaan .................................................................11
4. Prosedur Bekerja dengan Aman dan Tertib............................................................16
5. Prosedur Pencegahan Agar Tujuan K3 Tercapai ...................................................19
6. Hal-hal yang berkaitan dengan keamanan kerja ................................................22
7. Membuat Laporan Mengenai Kejadian Pencurian .............................................27

C. Rangkuman29
D. Tugas 30
E.

Tes Formatif 132

iv

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kegiatan Pembelajaran 2
MENGHADAPI SITUASI-SITUASI DARURAT/EMERGENCY34
A. Tujuan Pembelajaran 34
B.

Uraian Materi34
1. Langkah-Langkah Penanganan Situasi Darurat...................................................35
2. Tanda Peringatan Bahaya dan Tanda bahaya di
Tempat Kerja......................................................................................................................36
3. Situasi yang Dapat Menimbulkan Bahaya..............................................................38
4. Karakteristik Tamu atau Pelanggan yang Mencurigakan..................................40
5. Prosedur Penanganan Keadaan Darurat di
Perusahaan dan Tempat Umum.................................................................................42
6. Sikap dan Tindakan Saat Menghadapi Situasi Darurat .....................................43
7. Langkah-Langkah Penanganan Situasi Darurat...................................................44

Kegiatan Pembelajaran 3
MENDESKRIPSIKAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
(SMK3)50
A. Uraian Materi50
1. Deskripsi SMK3.................................................................................................................50
2. Memenuhi Hak dan kewajiban tenaga kerja dalam K3......................................53
3. Persyaratan Produksi Untuk Keselamatan Kerja
Di Tempat Kerja.................................................................................................................54
4. Pengendalian Resiko.......................................................................................................55
5. MenerapkanSistem manajemen kerja.....................................................................69
6. Melaksanakan pertolongan pertama pada kecelakaan...................................72
7. Pencegahan merupakan cara yang paling efektif...............................................80
B. Rangkuman81
Kegiatan Belajar 4
ISTILAH DAN BATASAN KESEHATAN LINGKUNGAN83
A. Uraian Materi83
1. Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan...................................................................84
2. Faktor-Faktor Lingkungan yang Dapat Mempengaruhi
Kesehatan...........................................................................................................................86
3. Tujuan mempelajari pengetahuan lingkungan ...................................................87
4. Cara menjaga kualitas lingkungan............................................................................89
5. Tujuan pemeliharaan kesehatan lingkungan .......................................................90
6. Masalah-masalah Kesehatan Lingkungan di Indonesia.....................................90
7. Prinsip Pengendalian Lingkungan ............................................................................94
8. CONTOH PENERAPAN&KASUS K3LH.........................................................................96
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

9. Contoh Kasus...................................................................................................................103
B. Rangkuman113
DAFTAR PUSTAKA119

vi

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PETA KEDUDUKAN BAHAN AJAR


Modul Mengikuti Prosedur Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatran Kerja
merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai dan sebagai bagian dari
rangkaian pembelajaran dari kompetensi-kompetensi yang lainnya. Dimana antara
satu kompetensi dengan kompetensi yang lainnya ada keterkaitan, sehingga cara
mempelajarinya harus berurutan dan tuntas dari setiap kompetensi yang disajikan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari bagan berikut.

Pada bagan peta kedudukan modul tersebut dapat terlihat bahwa


kedudukan kompetensi Mengikuti Prosedur Keamanan, Kesehatan dan
Keselamatan kerja (IBSADMCMN03A) ada setelah bekerjasama dengan Kolega
dan Pelanggan (IBSADMCMN01A) dan bekerja di Lingkungan Sosial yang berbeda
(IBSADMCMN02A). oleh karena itu, maka mempelajari kompetensi IBSADMCMN01A
dan IBSADMCMN02A menjadi prasyarat untuk mempelajari kompetensi K3 tersebut.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

vii

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kompetensi Mengikuti Prosedur Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan


Kerja ini (IBSADMCMN03A) mempunyai empat subkopetensi, yang bantara satu
subkopetensi dengan subkopetensi yang lainnya berkaitan, sehingga dalam
mempelajarinya harus berurutan. Urutan subkopetensi K3 yang harus dipelajari
adalah sebagai berikut.
1.

IBSADMCMN03A-01 adalah Mengikuti Prosedur Keamanan Kesehatan dan


Keselamatan Kerja.

2.

IBSADMCMN03A-02 adalah Menghadapi situasi-situasi Darurat/Emergency.

3.

IBSADMCMN03A-03 adalah Menjaga standar keamanan penampilan pribadi

4.

IBSADMCMN03A-04 adalah memberikan umpan balik mengenai Keamanan,


Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

viii

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

GLOSARIUM
1. Code Of Conduct

Aturan keprilakuan atau tata tertib di perusahaan

2. Standard Operating Procedure (SOP)


Prosedur standar pengoperasian perusahaan yang aman dan sehat

3. Syarat-Syarat Lingkungan Kerja (SLKK)


Syarat-syarat lingkungan kerja yang aman dan sehat

4. Landasan Teoritis

Ilmu yang dipakai sebagai landasan untuk mengkaji keamanan, kesehatan dan
keselamatan kerja

5. Lumpsum

Uang jaminan Kesehatan dan Keselamatan kerja dibayarkan sekaligus pada


karyawan yang terkena musibah kecelakaan kerja.

6. Schorsing

Pemutusan hubungan kerja untuk sementara beberapa waktu pada karyawan


yang melanggar tata tertib perusahaan.

7. International Standarization Organization (ISO)


Penghargaan yang diberikan oleh badan organisasi standar international


terhadap perusahaan yang diantaranya perusahaan tersebut telah memenuhi
standar dalam keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja.

8. Standar Industri Indonesia (SII)


Penghargaan yang diberikan Departemen Perindustrian untuk perusahaan


yang telah memenuhi standar industry di Indonesia, diantaranya perusahaan
tersebut telah memenuhi standar dalam keamanan, kesehatan dan keselamatan
kerja.

9. Human Enginering

Rekayasa pembuatan mesin kerja disesuaikan dengan kondisi badan karyawan

10. Fleksibel

Pembuatan mesin kerja tidak dipatenkan dan dapat diatur sesuai kebutuhan
karyawan
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

ix

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

11. Hygiene Personal


Kebersihan pribadi

12. Kontaminasi

Terkotori atau terjangkit oleh suatu penyakit

13. Faal

Normalnya fungsi alat-alat tubuh secara keseluruhan

14. Impression Management


Usaha untuk menampilkan diri kita seperti yang kita kehendaki dalam
penampilan diri

15. Preventif

Usaha-usaha pencegahan

16. Labelling

Label himbauan atau informasi kesehatan dan kebersihan pada kemasan


sebuah produk

17. Metabolisme

Proses pencernaan makanan oleh alat pencernaan dalam tubuh manusia

18. Unsafe Condition


Keadaan lingkungan kerja yang tidak aman

19. Unsafe Worker


Pekerja yang dalam kerjanya tidak mengindahkan keselamatan kerja

20. Oper Worker


Bekerja yang berlebihan tanpa istirahat sehingga membahayakan bagi diri


karyawan dan perusahaan

21. Dekompresi

Penurunan tekanan udara

22. Sinar X atau Rontgen


Sinar elektromagnetik yang tidak tampak dengan panjang gelombang yang


pendek yang ditemukan pertama kali oleh Wilhelm Konrad Rontgen (18451923). Sinar tersebut dapat menembus daging yang terhambat oleh tulang

23. Katarak

Katarak berasal dari bahasa yunani katarraktai yang berarti percepatan arus.
Katarak sebagai suatu penyakit kekeruhan lensa mata yang menyebabkan
lensa mata tidak jernih, berwarna keputihan sehingga penglihatan menjadi
terganggu.
x

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

24. Ergosterol
Ergosterol sangat mirip dengan vitamin D3 yang terbentuk apabila
7-dehidrokolesterol dalam kulit dikenai sinar ultra violet
25. Pheumecomocois

Salah satu penyakit sekitar paru-paru yang disebabkan oleh terhirupnya debu,
silica, asbest ataupun serbuk logam berat.

26. Caisson Diseasses


Suatu penyakit yang timbul akibat menurunnya tekanan udara secara cepat

27. Rehabiliti

Upaya pemulihan kembali

28. Human Engenering


Rekayasa peralatan kerja yang disesuaikan dengan postur tubuh manusia untuk
kesehatan, keamanan, dan keselamatan kerja.

29. Fire Protection


Perlindungan yang digunakan untuk mencegah terjadinya bahaya kebakaran.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

xi

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

xii

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PENDAHULUAN

A. Deskripsi Modul
Dalam Pendididkan dan Pelatihan (Diklat) Kompetensi Mengikuti Prosedur
Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja akan menuntun siswa untuk menjadi
karyawan yang selalu hati-hati, teliti, dan waspada dalam tuntutan situasi dan
kondisi kerja. Hal tersebut akan dimanifestasikan dalam kinerjanya untuk selalu
mengikuti prosedur keamanan, prosedur keselamatan, dan prosedur kesehatan
kerja, baik terhadap lingkungan kerjanya, tempat kerjanya, hasil pekerjaannya, dan
pribadi pekerjanya.
Sebagaimana tujuan kerja adalah Bukan hanya untuk menghasilkan upah
kerja saja melainkan hakikatnya untuk menjaga kelangsungan hidup. Apa artinya
upah kita dapatkan sedangkan kondisi badan kita tidak pernah kita hiraukan. Hal
tersebut justru akan membawa dampak negative terhadap efektifitas kerja.
Oleh karna itu, dalam kompetensi berikut akan di pelajari perosedur
perosedur mengenai kesehatan perosedur keamanan dalam berkerja; diantaranya
mengidentifisikan dan mengawasi satu barang yang dapat membahayakan,
pemakaian busana dan peralatan untuk melindungi diri, tanda tanda darurat dalam
kebakaran dan kecelakaan, keamanan dan melaksanakan pekerjaan, begitu juga
bagai mana mengamankan dokumen-dokumen uang tunai, alat bantu kerja, para
pekerja dan sistem pengawasan kunci.
Hal yang membahayakan keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja
tidak hanya terbatas pada hal di atas saja. Adanya ancaman bom, perampokan,
penodongan adanya pelanggan yang terganggu mentalnya, kecelakaan atau banjir
dan gempa bumi juga merupakan hal yang perlu di waspadai.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Singkatnya, bahwa dengan mempelajari kompetensi berikut di harapkan


tumbuhnya sikap proseduralitas siswa atau mengikuti prosedur dalam mengerjakan
segala hal, dilaksanakan dengan hati-hati, teliti, dan waspada dengan sikap cepat,
tepat, dan tepat.
Selain perilaku, riwayat keturunan dan pelayanan kesehatan, Kesehatan
Lingkungan adalah salah satu factor penting dari status kesehatan. Keempat
elemen ini disamping berpengaruh langsung terhadap kesehatan juga saling
mempengaruhi satu sama lain. Kesehatan lingkungan merupakan faktor mutlak
dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan merupakan salah satu unsure
penentu atau determinan dalam kesejahteraan penduduk. Di mana lingkungan yang
sehat sangat dibutuhkan bukan hanya untuk meningkatkan derajat kesejahteraan
masyarakat, tetapi juga untuk kenyamanan hidup dan meningkatkan efesiensi kerja
dan belajar.
Pada masa yang datang pemerintah lebih fokus pada pelaksanaan
pembangunan yang berkelanjutan dan pengembangan wilayah yang berkesadaran
lingkungan, sementara pihak pengguna infrastruktur dalam hal ini masyarakat
secara keseluruhan harus disiapkan dengan kesadaran lingkungan yang lebih baik
(tahu sesuatu atau tahu bersikap yang semestinya) Masa datang kita dihadapkan
dengan penggunaan IPTEK yang lebih maju dan lebih kompleks yang memerlukan
profesionalisme yang lebih baik dengan jenjang pendidikan yang memadai.
Di samping itu dalam proses pembangunan masa dating, diperlukan adanya
teknologi kesehatan lingkungan yang menitik beratkan upayanya pada metodologi
mengukur dampak kesehatan dari pencemaran yang ditimbulkan oleh adanya
pembangunan, Indikator ini harus mudah, murah untuk diukur juga sensitive
menunjukan adanya perubahan kualitas lingkungan.
Dalam perumusan pokok-pokok pengertian Kesehatan Lingkungan selain
didasarkan atau berorientasi pada kesehatan masyarakat juga berorientasi pada
berbagai konsep diluar kesehatan masyarakat seperti pelestarian alam, sistem
lingkungan, kelengkapan body of knewledge dalam kesatuan pendekatan
multidisipliner dan hal-hal lain tentang Kesehatan Lingkungan. Kesehatan
lingkungan adalah kondisi lingkungan yang mampu menompang kseimbangan
yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya
kualitas hidup manusia yang sehat, aman, nyaman dan bersih.

B. Prasyarat Mempelajari Modul


Sebagaimana dalam pembelajaran menggunakan sistem moduler, adanya
hubungan keterkaitan antara satu kompetensi dengan kompetensi yang lainnya
merupakan suatu ciri pembelajaran yang berkesinambungan. Seperti yang telah
disampaikan pada Peta kedudukan Modul diatas. Bahwa kompetensi mengikuti
prosedur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerjqa tersebut tidak berdiri
sendiri melainkan ditunjang oleh kompetensi-kompetensi sebelumnya. Kompetensi
2

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

sebelumnya yang harus dikuasai adalah sebagai berikut:


5.

IBSADMCMN01A adalah kompetensi Bekerja dengan Kolega dan Pelanggan

6.

IBSADMCMN02A adalah kompetensi Menjaga dan Melindungi Budaya Kerja

C. Petunjuk Penggunaan Modul


Sebelum mempelajari modul berikut perhatikanlah dan ikutilah petunjukpetunjuk serta cara-cara mempelajarinya baik oleh siswa maupun oleh guru atau
fasilitator agar pembelajaran dapat berjalan sesuai prosedur yang ada pada petunjuk
penggunaan modul tersebut.

1. Penjelasan Bagi Siswa


a. Pelajari secara berurutan dari; kegiatan belajar 1, kegiatan belajar 2,
kegiatan belajar 3, dan terakhir kegiatan beljar 4.
b. Persiapan alat tulis dan praktek yang di perlukan sesuai subkompetensi
yang dipelajari.
c. Kerjakan test formatifnya.
d. Cocokan kunci jawaban dengan jawaban (jangan melihat kunci
jawaban sebelum selesai mengerjakan test formatifnya) karena tujuan
test formatif untuk menguji yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, sejauh
mana tingkat penguasaannya terhadap kompetensi tersebut.
e. Apabila telah kompeten dengan memperoleh nilai minimal 7,00
lanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya. Apabila belum memenuhi
standar minimal 7,00 maka harus mengulangi dari kegiatan belajar
yang masih belum berhasil sampai memperoleh standar minimal yang
di tentukan .
f.

Setelah berahir mempelajari subkompetensi ke 4 dan dinyatakan lulus


dari sama subkompetensi, maka kerjakanlah evaluasinya. Tes evaluasi
adalah test untuk menguji keamanan , kesehatan, dan keselamatan
kerja.

g. Hasil jawaban evaluasi cocokan dengan evaluasi.


h. Apabila ada hal yang kurang dimengerti tanyakan ke fasilitator atau
guru.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2. Peran fasilitator
a. Membantu siswa merencanakan proses pembelajaran.
b. Membingbing siswa dalam tugas-tugas pelatihan yang di jelaskan
dalam tahapan belajar.
c. Membantu siswa memahami konsep konsep dan praktek baru serta
menjawab pertanyaan siswa mengenai proses pembelajaran.
d. Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan
lain yang di perlukan untuk belajar .
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika di perlukan.
f.

Merencanakan seorang ahli/pendamping guru dari tempat kerja untuk


membantu.

g. Merencanakan proses penilaian dan menyimpan perangkatnya.


h. Melaksanakan penilaian.
i.

Menjelaskan pada siswa tentang sikap, pengetahuan, dan keterampilan


dari suatu kompetensi yang perlu untuk di benahi dan merundingkan
rencana pembelajaran selanjutnya.

j.

Mencatat pencapaian kemajuan siswa.

k. Mengadakan remedial bagi siswa yang belum kompeten.

D. Tujuan Pencapaian Akhir


Tujuan akhir dari memperajari modul berikut adalah mencapai kompetensi
siswa dalam mengikuti prosedur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja
sesuai dengan tuntutan dunia usaha atau dunia industri dalam mengerjakan
pekerjaan di dunia usaha.

1. Kinerja yang diharapkan


Kinerja yang diharapkan setelah mempelajari kompetensi tersebut adalah
Terbentuknya kekompetenan siswa dari segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan
dalam mengikuti perosedur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja dalam
mengerjakan tugas pekerjaannya di dunia kerja.

2. Kriteria keberhasilan keberhasilan


Kriteria keberhasilan dalam penguasaan kompetensi dalam pencapaian
dapat terlihat dari segi kuantitas dan kualitas. Dari segi kuantitas perolehan nilai
4

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

kekompetenan siswa melalui angka yang di perolehnya. Dari segi kualitas yaitu
terbentuknya kekompetenan siswa dari segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

3. Variable dan keriteria keberhasilan


Kriteria penilaian keberhasilan kekompetenan siswa pada kompetensi
mengikuti prosedur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja. Siswa dinyatakan
kompeten bila telah memperoleh batas minimal nilai 7 ,00 apa bila belum mencapai
batas minimal maka harus maka harus mengulang kembali. Kriteria dan variable
keberhasilan sebagai berikut.
9 ,00 10,00

= Kompeten istimewa

8 ,00 8,99

= Kompeten amat baik

7 ,00 7,99

= Kompeten baik

6,99

= Belum kompeten

E. Cek Kemampuan
Untuk mengukur kemampuan terhadap penguasaan kompetensi, maka
jawablah pertanyaan berikut semampunya. Apabila peserta diklat telah merasa
menguasai kompetensi tersebut karena telah dapat menjawab semu test cek
kemampuan maka di perbolehkan untuk mengajukan uji kompetensi kepada
assessor internal dan eksternal, dan apabila belum mampu menjawabnya secara
keseluruhan maka teruskanlah mempelajari modul berikut.
1.

Apakah yang anda ketahui tentang prosedur keamanan, kesehatan, dan


keselamatan kerja.

2.

Apakah tujuan di adakannya prosedur keamanan, kesehatan,dan keselamatan


kerja.

3.

Apa yang anda ketahui tentang standar operating procedure ( SOP ).

4.

Bagaimana dalam menghadapi situasi-situasi darurat/emergency?

5.

Bagaimana sikap anda bila menghadapi situasi darurat yang membahayakan?

6.

Apa yang di maksud dengan menjaga standar keamanan penampilan pribadi?

7.

Dapatkah anda menanggulangi penyakit infeksi?

8.

Bagaimana cara mengefakuasi korban kecelakaan?

9.

Sebutkan ciri-ciri pelanggan yang mencurigakan

10. Sebutkan macam-macam tanda bahaya dan tanda tanda darurat emergency?

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PEMBELAJARAN

A. Rencana Belajar Siswa


Kompetensi :
Mengikuti Prosedur Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja
Subkopetensi :
A.1. Kegiatan belajar 1 : Mengikuti Prosedur Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja
A.2. Kegiatan belajar 2 : Menghadapi Situasi-situasi Darurat (emergency)
A.3. Kegiatan belajar 3 : Menjaga Standar Keamanan Penampilan Pribadi
A.4. Kegiatan belajar 4 : Memberikan Umpan Balik Mengenai
Kesehatan, dan Keselamatan Kerja
No.

Jenis
Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat
Belajar

Alasan
Perubahan

Keamanan,
Tanda
Tangan
Guru

Mengetahui, Peserta Diklat


Fasilitator,

( .) ( . )

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kegiatan Pembelajaran 1

MENGIKUTI PROSEDUR
KEAMANAN, KESEHATAN, DAN
KESELAMATAN KERJA

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari uraian kegiatan belajar siswa diharapkan mampu;
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Menjelaskan pengertian dan menerapkan keamanan, keselamatan, dan


kesehatan kerja;
Mengidentifikasi tujuan keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja;
Memahami Undang-Undang ketenagakerjaan;
Memahami prosedur bekerja dengan aman dan tertib;
Memahami prosedur pencegahan agar tujuan K3 dapat tercapai;
Memahami hal-hal yang berkaitan dengan keamanan; dan
Membuat serta melaporkan mengenai kejadian pencurian

B. Uraian Materi
Dalam rangka meningkatkan produktifitas yang sebenar-benarnya, perlu
adannya jaminan tentang keamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja. Ketiga
unsur tersebut merupakan urat nadi yang tidak dapt dipisah-pisahkan antara yang
satu dengan yang lainnya. Tujuan perusahaan dan karyawan akan dapat tercapai
bila ditunjang dengan keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1. Pengertian keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja


a. Keamanan kerja
Keamanan kerja adalah unsur unsure penunjang yang mendukung terciptanya
suasana kerja yang aman, baik berupa materil maupun nonmaterial.
1.

Unsur unsur penunjang keaman yng bersifat material diantaranya sebagai


berikut.
a.) Baju kerja
b.) Helm
c.) Kaca mata
d.) Sarung tangan
e.) Sepatu

2.

Unsur unsur penunjang keamanan yang bersifat nonmaterial diantaranya


sebagai berikut.
a.) Buku petunjuk penggunaan alat.
b.) Rambu-rambu dan isyarat bahaya.
c.) Himbauan-himbauan.
d.) Petugas keamanan.

Selain unsur-unsur penunjang, lingkaran kerja harus aman. Syarat-syarat


lingkungan kerja yang aman adalah sebagai berikut.
a. Adanya pembagian tugas dan tanggung jawab serta wewenang yang
jelas.
b. Adanya peraturan kerja yang fleksibel ( tidak kaku ).
c. Adanya penghargaan atas hak dan kewajiban pekerja selalu di berikan.
d. Adanya hubungan sosial yang baik antara perusahaan dengan
masyarakat setempat
e. Adanya ruang kerja yang memenuhi standar,SSLK (Syarat-Syarat
Lingkungan Kerja). Syarat-syarat lingkungan kerja adalah sebagai
berikut.
1). Tempat kerja steril dari debu, kotoran, asap rokok, uap gas, rediasi,
getaran mesin, dan peralatan, bising dan lainnya.
2). Tempat kerja aman dari sengatan arus listrikanya aturan .
3). Llampu peneranagan cukup memadai.
4). Vasilitas dan sirkulasi udara yang seimbang.
8

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5). Adanya aturan kerja atau aturan keprilakuan (code of conduts).


f.

Adanya prosedur kerja dengan aturan SOP (Standar Opreting


Procedure).

b. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan sebagai unsur-unsur yang
menunjang terhadap adanya jiwa-raga dan lingkungan kerja yang sehat. Kesehatan
kerja meliputi kesehataan jasmani dan kesehatan rohani. Kesehatan rohani dan
jasmani saling berkaitan, terutama kesehatan rohani akan sangat berpengaruh
terhadap kesehatan jasmani dan kesehatan jasmani sangat di pengaruhi oleh
kesehatan lingkungan (environmental).
1.

Unsur-unsur penunjangan kesehatan jasmani di tempat kerja adalah sebagai


berikut.
a.)
b.)
c.)
d.)
e.)

2.

3.

Adanya makanan dan minuman yang bergizi.


Adanya sarana dan peralatan olahraga
Adanya waktu istirahat.
Adanya asuransi kesehatan bagi kariawan.
Adanya sarana kesehatan atau kotak Punya P3K (pertolongan
pertama pada kecelakaan)
f.) Adanya buku panduan mengenai K3.
g.) Adanya transportasi untuk kesehatan (mobil ambulan).
Unsur-unsur penunjang kesehatan rohani di tempat kerja adalah sebagai
berikut.
a.) Adanya sarana dan prasarana.
b.) Penyuluhan kerohanian.
c.) Adanya tabloid dan majalah tentang kerohanian.
d.) Adanya tata laku di tempat kerja.
e.) Adanya kantin dan tempat istirahat yang terkonsentrasi.
Unsur-unsur penunjang kesehatan lingkungan kerja di tempat kerja adalah
sebagai berikut.
a.) Adanya sarana prasarana dan peralatan kebersihan, kesehatan
dan ketertiban.
b.) Adanya tempat sampah yang memadai.
c.) Adanya WC ( Water closet ) yang memadeai
d.) Adanya air yang memenuhi kebutuhan.
e.) Vasilitas udara yang cukup.
f.) Masuknya sinar matahari keruang kerja.
g.) Adanya lingkungan alami.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

h.) Adanya kipas angin atau air conditioner (AC)


i.) Adanya jadwal piket kebersihan
j.) Adanya pekerja kebersihan.

c. Keselamatan Kerja
Pengertian keselamatan kerja tidak dapat didefinisikan secara etimologis
sebagaimana secara ilmu-ilmu yang lain. Keselamatan kerja hanya dideskripkan
sebagai keadaan dimana seseorang merasa aman dan sehat melaksanakan
tugasnya. Masing-masing aman dan sehat disini mencangkup keamanan dari
terjadinya kecelakaan dan sehat dari berbagai faktor penyakit yang muncul dalam
proses kerja.
Dengan demikian, keselamatan kerja adalah sebagai ilmu pengetahuan yang
penerapannya sebagai unsur-unsur penunjang seorang karyawan agar selamat saat
sedang bekerja dan setelah mengerjakan pekerjaannya. Unsure-unsur penunjangan
keselamatan kerja adalah sebagai berikut
1.

Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja yang telah dijelaskan di


atas.
2. Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.
3. Teliti dalam berkerja.
4. Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan
kesehatan kerja.
Hubungan antara keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja.pada bagian
berikut.

Bagian 1 Hubungan antara keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja

2. Tujuan keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja


10

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tujuan adanya keamanan dan keselamatan kerja adalah untuk tercapainya


keselamatan karyawan saat sedang bekerja dan setelah bekerja, imbas dari karyawan
yang selamat adalah suatu tujuan keuntungan bagi perusahaan dan karyawan itu
sendiri.
1.

Tujuan K3 untuk perusahaan adalah sebagai berikut.


a. Meningkatkan kinerja dan omzet perusahan.
b. Mencegah terjadinya kerugian ( total loss control minimum).
c. Memelihara sarana dan dan prasarana perusahaan.

2.

Tujuan k3 untuk karyawan adalah sebagai berikut.


a. Meningkatkan kesejahteraan rohani dan jasmani karyawan.
b. Meningkatkan penghasilan karyawan dan penduduk sekitarnya.
c. Untuk kinerja yang berkesinambungan.

Keterangan :
= Tujuan

Bagian 2 Keamanan, kesehatan, dan Keselamatan Kerja

3. Undang-Undang dan Ketenagakerjaan


a. Hukum Keselamatan dan Keselamatan Kerja
Bunyi pasal 9 Undang-undang No. 14 tahun 1969 Tentang Pokok-pokok
ketenagakerjaan setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas
keselamatan,kesehatan dan pemiliharaan moril kerja perlakuan yang sesuai dengan
harkat, martabat manusia, dan moral agama. Untuk merealisasikan hal tersebut
pemerintah melakukan upaya pembinaan di bidang ketenagakerjaan, yang secara
tegas dinyatakan pada pasal 10 Undang-undang no.14 tahun 1969. Dimana
pembinaan norma tersebut meliputi pembentukan norma, penerapan norma, dan
pengawasan norma itu sendiri. Atas dasar itulah maka dikeluarkanlah Undangundang no.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

11

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja sebagai ilmu pengetahuan yang diterapkan


untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit baik fisik,
mental maupun sosial akibat kerja di tempat kerja. Adapun tempat kerja adalah
setiap didalamnya terdapat unsur sebagai berikut.
a. Adanya suatu usaha baik bersifat ekonomis maupun sosial.
b. Adanmya sumber penyebab bahaya.
c. Adanya tenaga kerja, baik terus-menerus maupun musiman
Table 1.1. Sistematika Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Landasan hukum

UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Landasan teoritis

Ilmu Teknik dan Ilmu Medik

Pengkajian

Hukum, ekonomi dan sosial

Pelaksana

Pengawas
Pelaksanaan

Pegawai teknis berkeahlian khusus departemen


tenaga kerja yang ditunjuk oleh meneteri tenaga
kerja.
Tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar
departemen tenaga kerja yang ditunjuk menteri
tenaga kerja.

Penanggung jawab
terlaksananya di
tempat kerja

Pimpinanan Perusahaan

Pimpinan perusahaan
Pengurus perusahaan
Tenaga kerja
Petugaselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja
yang ditunjuk oleh pimpinan perusahaan.

b. Hukum Kesehatan dan Keselamatan Kerja secara Internasional


Kesehatan dan Keselamatan kerja secara internasional telah dirumuskan
badan International Labour Organization (ILO) dan badan World Health Organization
(WHO) pada tahun 1950. Badan-badan tersebut menyepakati bahwa keselamatan
dan kesehatan kerja merupakan promosi dan pemeliharaan fisik, mental, dan sosial
pekerja pada jabatan apa pun dengan sebaik-baiknya.
Adapun langkah-langkah yang perlu diambil menurut ILO untuk menghindari
dan menanggulangi kecelakaan ditempat kerja, yaitu antara lain melalui; peraturan

12

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

perundang-undangan, standarisasi, inspeksi, riset teknis, riset medis, riset psikologis,


riset statistik, pendidikan, latihan, persuasi, dan asuransi.

c. Hak dan Kewajiban


1.

Hak dan Kewajiban Pimpinan Perusahaan


a. Terhadap tenaga kerja yang baru berkerja, ia berkewajiban menunjukan
dan menjelaskan tentang hal hal berikut
1). Kondisi dan bahaya yang timbul ditempat kerja
2). Semua alat pengamanan dan pelindung yang diharuskan.
3). Cara dan sikap dalam melakuka pekerjaan
4). Memeriksakan kesehatan baik fisik maupun mental tenaga kerja
yang bersangkutan.
b. Terhadap tenaga kerja yang telah/sedang dipekerjakan, ia berkewajiban
melakukan hal-hal berikut.
1). Pembinaan dalam hal pencegahan kecelakaan, penanggulangan
kebakaran, pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan
(P3K) dan peningkatan usaha keselamatan dan kesehatan kerja
pada umumnya.
2). Pemeriksaan kesehatan baik fisik maupun mental secara berkala.
3). Penyediaan secara Cuma-Cuma semua alat perlindungan diri
yang diwajibkankan untuk tempat kerja yang bersangkutan bagi
seluruh tenaga kerja.
4). Memasang gambar dan Undang-Undang Keselamatan Kerja serta
bahan pembinaan lainnya ditempat kerja sesuai dengan petunjuk
pegawai pengawas atau ahli keselamatan dan kesehatan kerja.
5).

Melaporkan setiap peristiwa kecelakaan termasuk peledakan,


kebakaran, dan penyakit akibat kerja yang terjadi ditempat kerja
kepada kantor departemen tenaga kerja setempat.

6). Membayar biaya pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja


ke Kantor Perbendaharaan Negara setempat setelah mendapat
penetapan besarnya biaya oleh Kantor Wilayah Departemen
Tenaga Kerja setempat.
7). Mentaati semua persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja
baik yang diatur dalam peraturan perundang-undangan maupun
yang ditetapkan oleh pegawai pengawas.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

13

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

Kewajiban dan tenaga Kerja


a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai
pengawas atau ahli kesehatan dan keselamatan kerja.
b. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan
c. Memenuhi dan mentaati persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja
yang berlaku di tempat/perusahaan yang bersangkutan.

3.

Hak-hak tenaga kerja


a. Meminta Kepada pengurus atau pimpinan perusahaan tersebut agar
dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan di tempat kerja/perusahaan yang bersangkutan.
b. Menyatakan keberatan melakukan pekerjaan bila syarat keselamatan
dan kesehatan kerja serta alat perlindungan diri yang diwajibkan
tidak memenuhi persyaratan, kecuali dalam hal khusus ditetapkan
lain oleh pegawai pengawas dalam batas yang masih dapat
dipertanggungjawabkan.

d. Jaminan Kecelakaan Kerja


Jaminan kecelakaan kerja sepenuhnya ditanggung oleh pengusaha yang
besarnya antara 0,24%-1,74% dari upah kerja sebulan. Penyetoran iuran jaminan
tersebut dilakukan setiap bulan kepada penyelenggara yang disetor secara lunas
paling lambat tanggal 15 setiap bulannya. Apabila pembayarannya terlambat akan
dikenakan denda. Tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak atas jaminan
kecelakaan kerja. Jaminan kecelakaan kerja meliputi beberapa penggantian biaya
seperti berikut.
1.

Biaya angkut kerja tenaga kerja yang celaka ke rumah sakit dan atau ke rumah
termasuk biaya pertolongan pertama.
2. Biaya perawatan dan pemeriksaan kesehatan atau rawat jalan.
3. Biaya rehabilitas yang celaka dengan cacat.
4. Santunan sementara karena tidak mampu bekerja.
5. Santunan cacat sebagian untuk selama-lamanya.
6. Santunan cacat total Baik fisik maupun mental
7. Santunan kematian.
Jaminan kecelakaan kerja diberikan kepada karyawan yang mengalami
musibah atau kecelakaan saat melakukan pekerjaan, jaminan tersebut diberikan
dalam beberapa tahapan antara lain sebagai berikut
1.

14

Santunan sementara tidak mampu bekerja (STMB) 4 bulan pertama 100% x


upah sebulan, 4 bulan kedua 75% x upah sebulan, dan seterusnya 50% x upah
sebulan.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

Santunan cacat
a.) Cacat total untuk selamanya dibayarkan sekaligus (lumpsum) dan
secara berkala sebesar santunan sekaligus 70% x 60 bulan upah,
santunan berkala Rp.25.000,00 selama 24 bulan.
b.) Cacat sebagian untuk selamanya dibayarkan sekaligus dengan
sesuai tabel x 60 bulan upah.
c.) Cacat kekurangan fungsi dibayarkan sekaligus sebesar x %
berkurangnya fungsi x % sesuai table x 60 bulan upah.
d.) Santunan kematian dibayarkan sekaligus dan berkala. Sekaligus
60% x 60 upah perbulan, sekurang-kurangnya sebesar jaminan
kematian. Berkala Rp.25.000,00 selama 24 bulan. Biaya pemakaman
Rp.200.000,00
e.) Biaya yang dikeluarkan untuk suatu peristiwa kecelakaan
maksimum Rp.3.000.000,00.
f.) Biaya rehabilitas berupa biaya pembelian alat bantu (orthese) atau
alat pengganti (prothese) diberikan satu kali untuk setiap kasus
dengan patokan harga yang ditetapkan pusat rehabilitas Prof. Dr.
Suharso Surakarta dan ditambah 40% dari harga tersebut.
g.) Ongkos pengangkutan ke rumah sakit dengan penggantian
biaya, bila hanya menggunakan jasa angkutan darat atau sungai
maksimal Rp. 100.000,00. Hanya menggunakan jasa angkutan
laut maksimum Rp. 200.000,00. Bila hanya menggunakan jasa
angkutan udara maksimum Rp. 250.000,00.

e.

Jaminan Kematian

Pada Pasal 22 Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 1993 disebutkan bahwa


jaminan kematian dibayar sekaligus (lumpsum) kepada janda, duda, atau anak.
Santunan kematian Rp. 1.000.000,00 dan biaya pemakaman Rp. 200.000,00.

f.

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Jaminan pemeliharaan kesehatan meliputi upaya peningkatan kesehatan


(promotif ) dan pemulihan (rehabilitatif ). Bertujuan untuk meningkatkan
produktifitas tenaga kerja . dan iuran jaminan pemeliharaan kesehatan tersebut
ditanggung sepenuhnya oleh prusahaan yang besarnya 6% dari upah tenaga kerja
yang telah berkeluarga dan 3% dari upah perbulan bagi yang belum berkeluarga.
Jaminan tersebut diberikan kepada tenaga kerja atau suami/istri dan anak sebanyakbanyaknya 3 orang yang meliputi jaminan berikut.
a. Rawat jalan tingkat pertama.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

15

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b. Rawat jalan tingkat lanjut.


c. Rawat inap.
d. Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan.
e. Penunjang diagnostic.
f.

Pelayanan khusus.

g. Pelayanan gawat darurat.

4. Prosedur Bekerja dengan Aman dan Tertib


Prosedur bekerja dengan aman dan tertib yang berlaku di setiap dunia usaha
atau dunia industry biasanya telah dibuat dalam bentuk tata tertib dan aturan
keprilakuan (code of conduct)

a. Tata Tertib Bekerja


Secara umum tata tertib bekerja adalah sebagai berikut:
1.
2.

3.

4.
5.

6.

7.

8.

16

Setiap karyawan wajib hadir dan pulang tepat pada waktu yang telah
ditetapkan.
Setiap karyawan wajib mengisi absen/menyerahkan kartu pada tempat
yang telah ditetapkan baik pada waktu masuk atau pulang bekerja dan
harus diisi/diserahkan oleh karyawan sendiri, apabila tidak melakukannya
yang bersangkutan dianggap mangkir dan upahnya tidak dibayar.
Setiap karyawan wajib mengikuti dan memenuhi seluruh petunjuk atau
instruksi yang diberikan oleh atasan atau pimpinan perusahaan yang
berwenang memberikan instruksi atau petunjuk tersebut.
Setiap karyawan wajib melaksanakan semua tugas dan kewajiban yang
diberikan kepadanya oleh perusahaan.
Setiap karyawan wajib menjaga dan memelihara dengan baik semua milik
perusahaan, dan agar segera melaporkan kepada pimpinan perusahaan/
atasannya apabila mengetahui hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya
atau kerugian perusahaan.
Setiap karyawan wajib memelihara dan memegang teguh rahasia
perusahaan terhadap siapa pun apa yang diketahuinya mengenai
perusahaan.
Setiap karyawan wajib melaporkan kepada pimpinan perusahaan apabila
ada perubahan-perubahan atau status dirinya, susunan keluarganya,
perubahan alamat dan sebagainya.
Setiap karyawan wajib memeriksa semua alat-alat kerja, mesin-mesin dan
sebagainya sebelum memulai bekerja atau akan meninggalkan pekerjaan
sehingga benar-benar tidak akan menimbulkan kerusakan/bahaya yang
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

9.

10.

11.

12.

13.
14.

akan mengganggu.
Setiap karyawan dilarang membawa/menggunakan barang/alat milik
perusahaan keluar dari lingkungan perusahaan tanpa izin pimpinan
perusahaan yang berwenang.
Setiap karyawan dilarang melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya
dan tidak diperkenankan memasuki ruangan lain yang bukan bagiannya
kecuali atas perintah/izin atasannya.
Setiap karyawan dilarang menjual/memperdagangkan barang-barang
apapun atau mengedarkan daftar sokongan, menempelkan atau
mengedarkan poster yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan
tanpa izin pimpinan perusahaan.
Setiap karyawan dilarang meminum-minuman keras, mabuk,
menyimpan dan menyalahgunakan obat terlarang, melakukan perjudian,
pertengkaran dan berkelahi dengan sesama karyawan atau pimpinan di
dalam lingkungan perusahaan.
Setiap karyawan dilarang membawa senjata api, senjata tajam kedalam
lingkungan perusahaan.
Setiap karyawan dilarang melakukan tindak asusila.

b. Pelanggaran Terhadap Tata Tertib Bekerja


Setiap karyawan yang melakukan perlanggaran terhadap tata tertib perusahaan
diatur dengan UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Alasan yang diperbolehkan untuk menjadi dasar pemutusan hubungan kerja
adalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Pekerja melakukan kesalahan berat.


Pekerja ditahan pihak berwajib.
Pekerja telah diberikan surat peringatan ketiga.
Adanya perubahan status perusahaan.
Perusahaan tutup
Perusahaan pailit
Pekerja meninggal dunia
Pekerja mangkir
Pekerja pension
Pengusaha melakukan perbuatan tidak patut
Pekerja mengundurkan diri
Sakit berkepanjangan atau cacat akibat kecelakaan

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

17

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pelanggaran terhadap tata tertib di atas dapat dikenakan hal-hal berikut:


1.

Surat Peringatan
Peringatan lisan maupun tertulis bila karyawan melanggar tata tertib sebagai
berikut:
a. Sering pulang terlambat atau pulang mendahului waktu ketentuan
b. Tidak mematuhi ketentuan-ketentuan keselamatan kerja, petunjukpetunjuk atasan dan sebagainya.
c. Menolak perintah yang layak
d. Melalaikan kewajiban secara serampangan
e. Tidak cakap melakukan pekerjaan walaupun telah dicoba dimanamana.
f.

2.

Surat Peringatan terdiri atas, surat Peringatan I, Surat Peringatan II,


dan Surat Peringatan III. Masa berlakunya Surat Peringatan 6 bulan
dan apabila masih tetap melakukan pelanggaran maka perusahaan
dapat memutuskan kerjanya yang dilaksanakan berdasarkan UndangUndang No. 13 tahun 2003

Mangkir
a. Karyawan yang tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan atau alasan
yang dapat diterima perusahaan, maka karyawan tersebut dianggap
mangkir dan kepadanya pada hari tidak masuk kerja upahnya tidak
dibayarkan.
b. Pekerja yang mangkir selama 5 hari atau lebih, berturut-turut tanpa
keterangan secara tertulis dilengkapi dengan bukti dan telah dipanggil
oleh pengusaha 2 kali secara patut dan tertulis, dapat diputus hubungan
kerjanya karena dikualifikasikan mengundurkan diri. Hal tersebut sesuai
dengan ketentuan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 pasal 168.

3.

Skorsing
a. Skorsing dikenakan kepada karyawan yang melakukan pelanggaran
terhadap tata tertib kerja atau tidak menjalankan kewajiban
sebagaimana mestinya atau tindakan yang merugikan perubahan.
b. Jangka waktu skorsing paling lama 1 bulan, kecuali menunggu
keputusan P4 daerah/pusat. Selama masa skorsing upah dibayarkan
sebesar 50%

18

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

4.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)


a. Diberikan kepada karyawan yang melakukan pelanggaran besar
atau telah diberikan tiga kali peringatan, maka perusahaan dapat
memutuskan hubungan kerjanya dengan ketentuan Undang-undang
No.13 tahun 2003
b. Bagi karyawan yang akan mengundurkan diri dapat mengajukan
permohonan secara resmi sekurang-kurangnya 1 bulan sebelumnya
kepada pimpinan perusahaan. Dalam hal demikian, perusahaan tidak
berkewajiban memberikan uang pesangon atau jasa berupa apa pun.

5.

Penyelesaian Keluh-Kesah
a. Bila terjadi keluh-kesah / kekurang puasan dari karyawan atas keadaan
tertentu maka akan diselesaikan secara musyawarah dengan prosedur
yang tertib kepada atasannya.
b. Bila telah ada serikat buruh maka agar diselesaikan melalui organisasi
tersebut, apabila tidak dapat diselesaikan secara intern maka baru
dibenarkan dapat meminta bantuan kepada Departemen Tenaga Kerja
untuk diselesaikan lebih lanjut.

5. Prosedur Pencegahan Agar Tujuan K3 Tercapai


Hal-hal yang perlu dilaksanakan menurut ILO (International Labour Organization)
untuk menghindari dan menanggulangi kecelakaan ditempat kerja adalah sebagai
berikut.

a. Perbaikan Peraturan Perundang-Undangan


Memperbaiki peraturan perundang-undangan yang bermuatan hukum dan
mengatur para pekerja, pengusaha, organisasi pekerja, organisasi pengusaha, dan
pemerintah. Perbaikan secara menyeluruh dan kontinuitas dalam pembentukan
/ pembuatan undang-undang dan pengawasan oleh badan tertentu dalam
pelaksanaan undang-undang tersebut.

b. Standarisasi
Perusahaan tersebut dalam berbagai aspek harus baik menurut penilaian
baik menurut standar nasional maupun internasional. Misalnya seperti yang telah
ditentukan oleh SII (Standar Industri Indonesia), SNI (Standar nasional Indonesia)
dan ISO (International Standarization Organization).

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

19

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

c. Pengawasan
Ada kesinambungan dalam pengawasan menyeluruh yang dilakukan oleh
badan tertentu baik swasta maupun pemerintah terhadap pelaksanakan perundangundangan oleh pengusaha. Pegawai pengawas tersebut adalah pegawai teknis
yang berkeahlian khusus dari departemen tenaga kerja yang ditunjuk oleh mentri
tenaga kerja. Dalam pengawasan tersebut hendaknya bersih dari sikap dan prilaku
KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

d. Riset Teknis
Penelitian dan penilaian teknis yang dilakukan oleh tenaga ahli khusus dari luar
departemen tenaga kerja yang ditunjuk oleh menteri tenaga kerja.

e. Riset Medis
Penelitian kesehatan, kemanan, dan keselamatan kerja yang dilakukan oleh
petugas medik misalnya oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia)

f.

Pendidikan

Program pendidikan dan latihan dalam rangka alih teknologi dan


pengembangan tenaga kerja bagi perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja
asing.

g. Pelatihan
Program pendidikan keterampilan baik dengan penyelesaian sendiri maupun
melalui badan-badan lain.

h. Pengarahan
Memberikan penyegaran terhadap tenaga kerja melalui penataan ruang kerja,
pembaruan peralatan kerja maupun dengan cara penyuluhan. Dapat juga dilakukan
dengan pemberian jenjang karir dan pendidikan atau pelatihan.

i.

Asuransi

Suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang
sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dalam
pelayanan sebagai akibat dari peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga
kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia.

20

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

j.

Persuasi

Upaya realisasi pelaksanaan keselamatan, kesehatan, dan keamanan kerja


dimasing-masing perusahaan yang dikomandoi sekaligus penanggungjawabnya
adalah pimpinan perusahaan.

k. Riset Psikologis
Penelitian terhadap aspek psikologis tenaga kerja dilingkungan perusahaan,
dilakukan oleh tenaga ahli pemeintah maupun swasta. Misalnya suasana kerja, kerja
yang dipaksakan, pekerjaan yang rentan terhadap kecelakaan.

l.

Riset Statistik

Penelitian terhadap keselamatan, kesehatan, dan keamanan kerja yang diukur


secara kuantitatif dan kualitatif yang hasilnya dapat dijadikan pedoman oleh semua
karyawan dalam melaksanakan pekerjaan.
Untuk merealisasikan kesepakatan ILO dan WHO tersebut maka untuk di
Indonesia ditetapkan dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja.
Persyaratan keselamatan kerja tersebut adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.
10.
11.
12.
13.

Mencegah dan mengurangi kecelakaan


Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran
Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
Member kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu
kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.
Memberi pertolongan pada kecelakaan.
Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.
Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluaskan suhu,
kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar
radiasi, suara, dan getaran.
Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik
maupun psikis, keracunan, infeksi dan penularan.
Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik.
Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban.
Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara
dan proses kerjanya.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

21

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

14. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang,


tanaman atau barang.
15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
16. Mengamankan dan memperlan cara pekerjaan bongkar muat, perlakuan,
dan penyimpanan barang.
17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
18. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerja yang
bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

6. Hal-hal yang berkaitan dengan keamanan kerja


Hal yang perlu diperhatikan saat bekerja yang aman adalah melalui peneran
ergonomi, ergometri, automasi dan mekanisasi, peralatan perlindungan diri, waktu
kerja, lingkungan kerja, faktor manusia yang berupaya untuk melindungi tenaga
kerja.

a. Ergonomi
Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon (kerja) dan nomos
(peraturan/hukum). Pada berbagai Negara diganakan istilah yang berbeda, seperti
arbeitswissenschaft di Jerman, Bio teknologi di Negara-negara skandinavia, human
engineering, dan human factors engineering atau personal research di Amerika Utara.
Pengertianya secara umum peraturan/hukum kerja yang mengatur tenaga kerja,
sarana kerja, dan pekerjaannya.
Prinsip-prinsip ergonomi adalah sebagai berikut;
1.

2.
3.
4.

Sikap tubuh dalam kerja dipengaruhi oleh bentuk , susunan, ukuran,


penempatan mesin, alat petunjuk, cara mengoperasikan mesin, gerak,
arah dan kekuatan.
Normalisasi alat industri harus berukuran besar dan fleksibel.
Contoh: kursi dapat dinaik-turunkan/maju-mundur
Ilmu tentang ukuran tubuh/antropemetri digunakan sebagai ukuran alat
industri
a.) Berdiri

22

Tinggi badan
Tinggi bahu
Tinggi siku
Tinggi pinggul
Tinggi lengan

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b.) Duduk

5.

Tinggu duduk
Panjang lengan atas
Jarak lekuk lutut-garis punggung
Jarak lekuk lutut-telapak

Ukuran-ukuran kerja
a.) Posisi tinggi kerja yang dilakukan berdiri sebaik 5cm-10cm di
bawah tinggi siku
b.) Pekerjaan diatas meja sambil berdiri mempunyai aturan tinggi
siku sebagai berikut.

Pekerjaan memerlukan ketelitian 0+(5-10)cm


Pekerjaan ringan 0-(5-10)cm
Pekerjaan ringan 0-(10-20)cm
Dari sudut otot duduk yang baik adalah membungkuk. Dari
sudut tulang seharusnya tegak.

b. Ergometri
Ergometri adalah ilmu untuk mengukur kemampuan kerja atau pemakaian
tenaga sendiri oleh pekerja untuk pekerjaannya dan daya kerja fisik maksimum dari
tenaga kerja.
Ketika bekerja, tenaga kimia dalam tubuh diubah menjadi tenaga mekanik dan
panas dengan bantuan oksigen (O2) sebagai bahan bakar
Cara dan alat yang digunakan untuk mengukur O2 adalah sebagai berikut,
1.

Kantong Dauglas
Pipa dan katup pada alat tersebut akan mengumpulkan udara. Volume
udara diukur oleh gas meter kemudian dianalisis. Dengan demikian kadar
masing-masing gas seperti O2, CO2, N2 terukur dan dapat diketahui. Waktu
pengukurannya selama 2-5 menit.

2.

Gas-Meter Konfranyi-Michaelis
Alat tersebut mengumpulkan dan mengukur udara espirasi secara terus
menerus. Waktu pengukuran 20-30 menit.

3.

Pneumotakograf Wolf
Alat tersebut mengukur udara espirasi secara elektronik dan mengambil
contoh udara dengan pompa elektrik.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

23

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

4.

Cara Analisis Kontinu


Analisis dengan menggambungkan pengukuran kontinu dari udara espirasi
dan analisis gas secara polegrapis.

5.

Volume Udara Pernapasan Permenit


Untuk menhindari analisis gas, digunakan volume udara pernapasan permenit
sebagai pemakaian O2 dan pengerahan tenaga.

6.

Denyut Jantung
Pengukuran jantung dapat dilakukan dengan menggunakan telemetri atau
taperecorder kecil

c. Automasi
Automasi adalah seni penggunaan alat-alat mekanik untuk melakukan
pekerjaan. Diebold mendefinisikan adalah penggunaan mesin untuk menjalankan
mesin. Istilah automasi ini diperkenalkan oleh Harder dari ford motor company).
Tingkat perkembangan automasi adalah sebagai berikut.
1.

Fungsi penunjang automasi, yaitu membantu menyempurnakan atau


meningkatkan kemampuan manusia.

2.

Fungsi pelipatgandaan, yaitu membantu mengatasi keterbatasan kemampuan


manusia.

3.

Fungsi meringankan, yaitu membantu pengendalian proses yang rumit


seperti, pengukuran automasi.

4.

Fungsi menggantikan manusia, yaitu tenaga manusia digantikan oleh mesin.

d. Peralatan perlindungan diri


1.

Perlindungan mata dan muka


Hal-hal yang menggangu pada kesehatan mata antara lain sebagai berikut;
a.) Dampak partikel kecil yang terlempar.
b.) Dampak partikel berat.
c.) Percikan cairan panas atau korosif.
d.) Kontak mata dengan gas atau uap iritan.
e.) Berkas radiasi elektromagnetik.

2.

Jenis-jenis perlindungan mata


Macam-macam model kacamata yang dipergunakan untuk perlindungan
mata adalah sebagai berikut.

24

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

a.) Kacamata keselamatan biasa, jenis kacamata tersebut cocok untuk


bahaya berenergi rendah.
b.) Kacamata pelindung (goggles), jenis kacamata tersebut cocok
untuk macam-macam bahaya.
c.) Tameng muka, jenis alat perlindugan tersebut cocok untuk
melindung mata dan seluruh muka.
3.

Perlindungan kulit dan tubuh


Penyebab terganggunya kesehatan kulit dan tubuh adalah sebagai berikut
a.) Kerusakan akibat bahan korosip dan menimbulkan dermatitis.
b.) Penyerapan kedalam tubuh melalui kerut.
c.) Panas radian.
d.) Dingin.
e.) Radiasilkan pengiondan bukan pengion
f.) Kurangnya istirahat dan menimbulkan kelelahan.
Ciri-ciri kelelahan dapat dilihat pada table berikut,
Table 1.2. Gejala-gejala Kelelahan

No

Fisik

Mental

Ngantuk

Pikiran kacau

Menguap

Kurang control

Kaki terasa berat

Sering lupa

Kepala pening

Berdiri tidak seimbang

Punggung terasa berat

Ingin berbaring

Suara serak

Susah konsentrasi

Terasa haus

Bicara tidak lancar

Pemilihan dan pemakaian pakaian kerja dilakukan berdasarkan ketentuan


berikut.
a.) Pemakaian pakaian mempertimbqangkan bahaya yang mungkin
dialami.
b.) Pakaian longgar, sobek, dasi dan alroji tidak boleh dipakai didekat
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

25

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

bagian mesin.
c.) Jika kegiatan produksi berhubungan dengan bahaya peledakan/
kebakaran maka harus memakai pakaian yang terbuat dari
seluloid.
d.) Baju lengan pendek lebih baik dari pada baju lengan panjang.
e.) Benda tajam atau runcing tidak boleh dibawa dalam kantong.
f.) Tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan debu, tidak
boleh memakai pakaian yang berkantong atau mempunyai
lipatan.
4.

Pelindung pernafasan
Efisiensi perlindungan pernafasan dalam membuang kontaminan dinyatakan
dalam faktor perlindungan nominal (npf = nominalprotection factor)
Jenis-jenis pelindung pernafasan diantaranya sebagai berikut
a. Respirator
1). Respirator sekali pakai, tersebut dari filter (npf = 5)
2). Respirator separuh masker, terbuat dari karet atau plastic. Memiliki
cartridge filter yang dapat diganti. Dengan cartridge dapat
mengatur debu, gas dan uap (npf = 10).
3). Respirator seluruh muka, dirancang untuk menutupi mulut,
hidung dan mata (npF = 50).
4). Respirator berdaya, terdapat dua bentuk yaitu separuh maske atau
seluruh muka (npf = 500).
5). Respirator topeng muka berdaya, mempunyai kipas dan filter yang
dipasanng pada helm (npf = 1-20).
b. Alat bantu pernafasan
1). Alat saluran udara segar, pasokan udara segar dimasukan ke muka,
topeng atau baju melalui pipa lentur berdiameter lebar.
2). Alat pipa udara bertekanan, udara diberikan melalui katup (npf =
1.000).
3). Alat pernafasan yang dapat mengisi sendiri, alat tersebut
menggunakan tabung yang dapat mengalirkn udara ke mulut
melalui katup penurun tekanan (npf = 2.000).

26

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5.

Pelindung pendengaran
Pelindung pendengaran ada yang dapat dipakai berulang-ulang ada juga
yang hanya sekali dipakai
Tabel 1.3. Pelindung Pendengaran

Sumbat Telinga

Sumbat Telinga Yang

Sekali Pakai

Dapat Dipakai Ulang

Kapas

Plastic cetak permanen

Kapas berlapis plastic

Karet berisi pasta

Kapas wol bercampur malam

Plastik berisi pasta

Busa poliuretan

7. Membuat Laporan Mengenai Kejadian Pencurian


Segala bentuk perilaku dan kejadian-kejadian yang mencurigakan harus segera
dilaporkan pada yang berwenang. Tahap laporannya sebagai berikut
a. Melaporkan pada staf yang berwenang menangani masalah tersebut di
perusahaan baik secara lisan maupun tertullis.
b. Staff yang berwenang dari perusahaan segera melaporkan pada
kepolisian secara tertulis dan lisan bila masalah tersebut sudah tidak
bisa ditanggulangi lagi.
Diantara tindak kriminal adalah pencurian. Pelaku pencurian bisa dari karyawan
perusahaan maupun orang luar perusahaan. Barang yang dicuri bisa milik pribadi
karyawan maupun milik perusahaan. Tindak pencurian dapat terdeteksi dari alarm
anti pencurian yang berbunyi atau melihat kejadian secara langsung. Apabila terjadi
pencurian, maka prosedur yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Melaporkan kejadian kepada petugas keamanan (satpam) terdekat
dengan segera.
b. Memberitahukan kepada bagian informasi/penerangan.
c. Memblokir kawasan yang dapat digunakan oleh pencuri untuk
melarikan diri.
d. Memutar kembali CCVTV (circuit televisi) untuk memperjelas ciri-ciri
pencuri. Ciri-ciri pencuri dapat diketahui melalui wajah maupun barang
yang dicuri.
e. Menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terjadinya sesuatu
yang tidak diinginkan.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

27

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

f.

Membaa tersangka ke ruang interogasi bersama dengan petugas


keamanan

g. Membuat laporan kejadian pencurian

LAPORAN PENCURIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
:
No. KTP
:
Alamat
:
Jabatan
:
Melaporkan kepada PIMPINAN/POLRES bahwa
pada,
Hari/Tanggal :
Waktu
:
Telah terjadi tindak Kriminal berupa:
Kasus
Kehilangan
Banyaknya
Sekitar jam
Tempat kejadian

: Pencurian
:
:
:
:

Demikianlah laporan ini kami sampaikan untuk ditindaklanjuti sebagaimana


mestinya menurut proses hukum
Sekian terima kasih

Sukabumi, 24 Desember 2013
Pelapor
Hasibuan, S.H
Satpam
28

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

C. Rangkuman
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Unsur-unsur penunjang keberhasilan keamanan, kesehatan, dan keselamatan


kerja meliputi hal-hal berikut.
a. Adanya penunjang keamanan dalam bekerja, baik yang bersifat materil
ataupun nonmaterial
b. Adanya unsur penunjang kesehatan dalam bekerja meliputi,; kesehatan
rohani, kesehatan jasmani, dan kesehatan lingkungan kerja.
c. Adanya mental keselamatan pada jiwa karyawan yang tercermin
diantaranya selalu bersikap hati-hati, teliti, dan menyadari pentingnya
K3 serta selalu mengikuti prosedur K3 dalam melaksanakan pekerjaan.
Tujuan dilaksanakannya K3 adalah untuk tercapainya keselamatan karyawan
saat bekerja dan setelah bekerja dan untuk meningkatkan kinerjanyaserta
omzet perusahaan.
Prosedur bekerja dengan aman dan tertib pada umumnya telah dibuat dalam
bentuk tata tertib dan aturan keperilakuan (code of conduct) pada setiap
perusahaan.
Prosedur-prosedur pencegahan agar tujuan K3 dapat tercapai telah
ditetapkan oleh ILO (International Labour Organization) melalui prosedurprosedur berikut.
a. Peraturan perundang-undangan
b. Standarisasi
c. Inpeksi.
d. Riset teknis
e. Riset medis
f. Riset psikologis
g. Riset statistic
h. Pendidikan
i. Latihan
j. Persuasi
k. Asuransi
Hal-hal yang berkaitan dengan keamanan kerja yang harus memperhatikan
dan melaksanakan hal-hal berikut.
a. Mengikuti prinsip-prinsip ergonomi
b. Mengikuti prinsip-prinsip ergometri
c. Mengikuti prinsip-prinsip automasi
d. Menggunakan peralatan keamanan dan kesehatan kerja
Semua bentuk prilaku ddan kejadian yang mencurigakan harus dilaporkan
baik secara tertulis maupun lisan pada pihak berwenang di perusahaan untuk
ditindaklanjuti pada pihak berwajib.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

29

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

D. Tugas
1.

Buatlah kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang anggota

2.

Pilihlah salah satu untuk menjadi ketua kelompok.

3.

Berangkatlah masing-masing kelompok pada sebuah perusahaan terdekat


dengan perusahaan yang berbeda antara satu kelompok dengan yang
lainnya.

4.

Mintalah surat penelitian pada sekolah.

5.

Temuilah pimpinan perusahaannya atau karyawan yang menangani masalah


K3.

6.

Kemudian pertanyakanlah dari pertanyaan bentuk angket berikut dan cek list
(V) hasil jawabannya.

7.

Setiap siswa harus memegang angket tersebut.

8.

Diakhiri dengan pembuatan laporan penelitian dan diskusikan di kelas secara


bergiliran.

Angket Peneltian (Research)


Upaya Pelaksanaan Prosedur Pencegahan Keamanan Kesehatan
Dan Keselamatan Kerja di Perusahaan
Nama Perusahaan

Nama Pimpinan

Jumlah Karyawan

Bidang Produksi

Alamat

No

Pertanyaan

Jawaban
Ya

1.

30

Keterangan

Tidak

Untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan di tempat kerja apakah ada


hal-hal berikut

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

a. Peraturan
undangan

perundang-

b. Standarisai
c. Inspeksi
d. Riset teknis
e. Riset medis
f.

Riset psikologis

g. Riset statistic
h. Pendidikan
i.

Latihan

j.

Persuasi

k. Asuransi
2.

Pernahkah terjadi kecelakaan terganggunya kesehatan kerja yang


diakibatkan oleh hal-hal berikut
a. Suara yang selalu bising
b. Suhu yang terlalu tinggi/
rendah
c. Penerangan
memadai
d. Ventilasi
memadai

yang
yang

kurang
kurang

e. Radiasi
f.

Getaran mekanis

g. Tekanan udara terlalu tinggi/


rendah
h. Bau-bauan

3.

i.

Kelembaban udara

j.

Kecelakaan lalu lintas

Pernahkah terjadi kecelakaan kerja diakibatkan oleh faktor psikologis


karyawan, diantaranya faktor-faktor berikut

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

31

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

a. Kerja yang
kemampuan

tidak

sesuai

b. Suasana kerja yang tidak


menyenangkan
c. Pikiran yang tertekan oleh
kolega atau pimpinan
d. Pekerjaan yang cenderung
membahayakan
e. Perkelahian ditempat kerja
Peneliti

Sawangan, ..................................
Narasumber

........................

........................

E. Tes Formatif 1
1.

Jelaskan pengertian tentang;


a. Keamanan
b. Kesehatan dan
c. Keselamatan kerja

2.

Apa kewajiban pimpinan perusahaan terhadap tenaga kerja yang baru


bekerja?

3.

Apa hak dan kewajiban tenaga kerja?

4.

Sebutkan hal-hal yang perlu dilaksanakan menurut ILO() untuk menanggulagi


kecelakaan ditempat kerja?

5.

Apa yang anda ketahui tentang ergonomi?

32

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Lembar kerja 1

1.

Studi kasus
Tuan anggoro seorang karyawan PT. Daihan Sukabumi , mengalami kecelakaan
akibat terbakar, sehingga tidak mampu bekerja selama 10 bulan, upah
perbulan Rp.1.600.000,00. Berapa besar santunan yang diberikan perusahaan
selama Tuan Anggoro tidak masuk kerja?

2.

Alat dan bahan yang diperlukaan alat tulis dan kalkulator

3.

Langkah Kerja
a. Pahami persentase jaminan kecelakaan kerja terhadap santunan
sementara!
b. Hitunglah santunan sementara 4 bulan pertama, 4 bulan kedua dan
berikutnya!
c. Jumlah seluruh santunan yang diterima oleh Tuan Anggoro!

Petunjuk
Cocokan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 1, hitunglah hasil
jawaban Anda yang benar dan pergunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui
tingkat penguasaan Anda tentang subkopetensi Mengikuti Prosedur keamanan,
Kesehatan, dan Keselamatan Kerja.
Jumlah jawaban benar
Tingkat ketercapaian =
X 100%

Jumlah soal
Kriteria Ketercapaian
90% 100%

= Kompeten istimewa

80% 89% = Kompeten amat baik


70% 79% = Kompeten baik
0

69% = Belum kompeten

Jika tingkat ketercapaian mencapai minimal 70% maka berhak mengikuti kompetensi
selanjutnya Menghadapi Situasi-situasi Darurat/Emergency, tetapi bila ketercapaian
masih di bawah minimal maka harus mengulang kembali subkompetensi Mengikuti
Prosedur Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

33

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kegiatan Pembelajaran 2

MENGHADAPI SITUASI-SITUASI
DARURAT/EMERGENCY

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari uraian kegiatan belajar siswa diharapkan dapat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengetahui jenis-jenis bahaya di tempat kerja


Memahami dan mengikuti tanda-tanda peringatan bahaya ditempat
kerja dan tempat umum
Mengidentifikasi situasi yang dapat menimbulkan bahaya
Mengenali karakteristik tamu/pelanggan yang mencurigakan
Mengetahui prosedur keadaan darurat diperusahaan/tempat umum
disesuaikan dengan kondisi perusahaan/tempat umum tersebut
Sikap dan tindakansaat menghadapi situasi darurat

B. Uraian Materi
Emergency atau situasi darurat adalah kondisi yang harus ditangani segera,
dengan pengawasan akan dapat memperkecil bahaya yang akan terjadi. Bahaya
yang akan terjadi apabila tidak ditangani dengan segera akan membuat fatal.
Kondisi bahaya di tempat kerja ada yang bersifat umum ada juga yang bersifat
khusus, misalnya bahaya tentang keselamatan kerja dan bahaya lingkungan yang
tidak aman daan sebagainya.

34

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1. Langkah-Langkah Penanganan Situasi Darurat


a. Jenis-Jenis Bahaya Di Tempat Kerja
Dalam setiap hal kiranya mengandung dua potensi yaitu bahaya dan
manfaat. Bila kita dapat menekan sekecil mungkin bahayanaya maka kita akan
lebih besar memperoleh manfaat. Sebaliknya bila kita tidak terlalu memperhatikan
manfaatnya maka bahayanya akan semakin besar pula.
Agar kita memperoleh manfaat sebesar-besarnya ditempat kerja, baik untuk
karyawan maupun perusahaannya, maka kita harus dapat meminilalisir bahaya di
tempat kerja tersebut. Adapun kondisi bahaya di tempat kerja di antaranya bahaya
yang bersifat khusus dan bahayanya yang bersifat umum.
1.

Bahaya yang bersifat khusus: adalah bahaya yang bersifat meteria, bahan6ya
tersebut di timbulkan dari sarana dan prasarana tempat kerja misalnya
keadaan lingkungan kerja yang didak aman (Unsafe Condition) gedung yang
tinggi dengan pondasi yang tidak seimbang, struktur yang tidak sesuai
dengan setandar IMB (Izin Mendirikan Bangunan) intstalasi listrik yang tidak
teratur, tidak adanya peralatan keamanan dan perlindungan saat berkerja,
dan yang lainnya.

2.

Bahaya bersifat umum adalah bahaya yang bersifat immaterial yang di


timbulkan dari proses kerja, misalnya bekerja dengan tidak memenuhi
keselamatan kerja (Unsafe Worker), tidak beristirahat, memaksakan kerja
selagi kondisi badan unfit, terjadinya konfik dan miskomunikasi yang tidak
membuat kondusif ditempat kerja, lalai, tidak mengikuti prosedur kerja dan
yang lainnya.

Sikap dan tindakan yang perlu dilakukan oleh seorang karyawan professional
terhadap keadaan bahaya diantaranya sebagai berikut:
a. Bersikap cepat dan tanggap terhadap hal-hal yang diperkirakan dapat
membahayakan.
b. Mengamati (observasi) terhadap hal-hal yang dapat membahayakan
c. Mengidentifikasi satu persatu hal-hal yang akan membahayakan
tersebut
d. Menganalisis secara teoritis baik dan buruknya untuk jangka panjang
e. Menyimpulkan dan membuat solusi secara tertulis hasil pengamatan
tersebut
f.

Diajukan kepada bagian yang menangani permasalahan tersebut


diperusahan itu untuk ditindaklanjuti kepada atasannya.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

35

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2. Tanda Peringatan Bahaya dan Tanda bahaya di


Tempat Kerja
Disini dibedakan antara tanda peringatan bahaya dan tanda bahaya di
tempat kerja, karena diantara keduanya mempunyai pengertian yang berbeda,
untuk lebih jelasnya kita uraikan satu persatu.

a. Tanda Tanda Peringatan Bahaya


Peringatan dan tanda bahaya merupakan tanda-tanda atau kode yang
digunakan sebelum bahaya terjadi, yaitu sebagai usaha pencegahan agar jangan
sampai terjadi bahaya.
Peringatan dan tanda-tanda bahaya dapat membawa suatu pesan atau
instruksi, pesan peringatan, dan pemberian keterangan secara umum. Pada
dasarnya, tanda-tanda larangan atau bahaya sama dengan tanda lalu lintas jalan
raya. Tanda peringatan bahaya antara lain sebagai berikut.
1.

Tanda Gambar
Tanda gambar adalah gambar-gambar peringatan dan larangan, misalnya
gambar berikut:
a. Gambar leter P dicoret adalah larangan untuk parker
b. Gambar punting rokok, dilarang merokok di tempat kerja
c. Gambar tengkorak adalah barang yang beracun
d. Gambar membuang sampah pada tong sampah adalah anjuran untuk
membuang sampah pada tempatnya

2.

Tanda Lampu Warna


Tanda lampu warna adalah lampu yang digunakan sebagai tanda peringatan
keamanan, misalnya gambar berikut:
a. Lampu hijau adalah menunjukan keadaan aman atau boleh jalan pada
lalu lintas
b. Lampu Kuning adalah tanda hati-hati atau harus waspada.
c. Lampu Merah adalah tanda harus behenti di lalu lintas dan tanda
kawasan yang mengandung aliran listrik berbahaya.
d. Lampu Berkedip dengan serine adalah tanda telah terjadinya bahaya
atau hal-hal yang mencurigakan.

36

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3.

Tanda Kata-Kata

Tanda dengan himbauan adalah kata-kata yang digunakan untuk peringatan


biasanya singkat, padat, dan jelas seperti kata-kata berikut.
a. YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK
b. MATIKAN PONSEL
c. DILARANG MEROKOK
d. SIMPAN TAS PADA TEMPAT PENITIPAN
e. PINTU DARURAT
4.

Tanda Isyarat Tubuh

Tanda isyarat tubuh adalah symbol-simbol yang digunakan sesama karyawan


untuk berkomunikasi bila ada hal-hal yang membahayakan atau peringatan, seperti
tanda-tanda berikut:
a. Menggelengkan kepala kekiri dan kekanan adalah menjawab tidak
b. Berkedip dengan cepat adalah isyarat melarang.
c. Menempelkan telunjuk di mulut adalah menyuruh diam.
d. Mengedepankan telapak tangan di depan muka adalah melarang

b. Tanda Tanda Bahaya


Peralatan yang digunakan untuk menunjukan bahwa telah terjadinya bahaya
itu bermacam-macam sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi. Pada masa
tradisional sering digunakan kentongan sedangkan masa sekarang lebih canggih.
Macam-macam tanda bahaya antara lain sebagai berikut:
1.

Alarm Kebakaran
Alat tersebut ditempatkan pada tempat yang dianggap perlu. Alarm
kebakaran akan berbunyi secara otomatis apabila terdeteksi adanya asap
yang diterimanya. Tanda bahaya yang dikeluarkan oleh alat tersebut biasanya
berupa bunyi keras dan terus-menerus.

2.

Bunyi Sirine Ambulance


Sirine atau bunyi yang melengking di pasang pada mobil ambulance
berbentuk speaker aktif bersamaan dengan lampu berwarna merah
menyala. Hal tersebut oertanda mobil ambulance sedang membawa orang
yang membutuhkan perawatan secepatnya dan bila terlambat dapat
mengakibatkan orang tersebut meninggal dunia.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

37

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3.

Alarm Kebocoran Gas


Alarm kebocoran gas gunanya untuk mendeteksi adanya kebocoran gas yang
dapat menimbulkan bahaya kebakaran maupun sesak pernapasan.

4.

Alarm Pencurian
Alarm tersebut dipasang pada tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orangorang yang tidak berkepentingan. Alarm pencurian dihubungkan dengan
kantor petugas keamanan/security. Alarm tersebut akan bekerja dengan
sendirinya bila ada orang memegang barang tertentu yang dilarang, dan bila
ada orang yang memasuki tempat yang dijaga tanpa prosedur yang berlaku.

5.

Suara Tembakan Peringataan


Tanda bahaya yang menggunakan tembakan peringatan dilakukan petugas
kepolisian dengan cara menembak keatas sebanyak tiga kali. Hal tersebut
dilakukan untukmemberi peringatan kepada pelaku tindak kejahatan agar
menyerahkan diri.

3. Situasi yang Dapat Menimbulkan Bahaya


Situasi dan kondisi yang dapat menjadi pemicu atau sumber-sumber bahaya
bagi keamanan dan kesehatan tenaga kerja antara lain sebagai berikut.
a. Faktor Fisik
Faktor-faktor Fisik meliputi hal-hal berikut:
1). Suara yang terlalu bising.
2). Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
3). Penerangan yang kurang memadai.
4). Kelembaban udara
5). Getaran mekanis
6). Radiasi
7). Ventilasi yang kurang memadai
8). Tekanan udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
9). Bau-bauan di tempat kerja.
b. Faktor Kimia
Faktor-faktor Kimia dapat berupa zat-zat berikut:
38

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1). Gas/uap
2). Cairan
3). Debu-debuan
4). Butiran Kristal dan bentuk lain
5). Bahan-bahan kimia yang mempunyai sifat racun
c. Faktor Biologi
Faktor-faktor Biologis dapat berupa benda-benda berikut:
1). Bakteri/virus
2). Jamur, cacing, dan serangga
3). Tumbuh-tumbuhan dan lain-lain yang dapat hidup ditempat kerja.
d. Faktor Faal
Faktor-faktor Faal dapat meliputi hal-hal berikut,
1). Sikap badan yang tidak baik pada waktu kerja.
2). Peralatan yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan tenaga kerja.
3). Gerak yang senantiasa berdiri atau duduk
4). Proses, sikap dan cara kerja dan cara kerja yang monoton
5). Beban kerja yang melampaui batas kemampuan
e. Faktor Psikologis
Faktor-faktor Psikologis dapat meliputi hal-hal berikut,
1). Kerja yang terpaksa/dipaksakan yang tidak sesuai dengan
kemampuan
2). Suasana kerja yang tidak menyenangkan
3). Pikiran yang senantiasa tertekan terutama karena sikap atasan
atau teman kerja yang tidak sesuai
4). Pekerjaan yang cenderung lebih mudah menimbulkan kecelakaan.
Ditinjau dari segi lingkungan kerja, kondisi berbahaya di lingkungan kerja dapat
timbul dari lingkungan khusus (teknis) dan dari lingkungan umum (nonteknis).
1.

Bahaya dari lingkungan teknis tekno-struktural, yaitu potensi bahaya yang


terkandung dari lingkungan kerja diantaranya lingkungan kerja yang kotor,
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

39

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

tempat/ruang kerja yang tidak representatif, sarana dan prasaran kerja yang
tidak layak pakai.
2.

Bahaya dari lingkungan nonteknis, yaitu potensi bahaya yang ditimbulkan


dari sikap dan tindakan bekerja, antara lain ebagai berikut:
a. Tidak mengikuti prosedur dan tata tertib kerja.
b. Tidak mentaati peraturan kerja.
c. Menentang kebijakan pimpinan perusahaan.
d. Menyampaikan aspirasi dengan emosional.

Unsur teknis dan nonteknis akan saling mendukung dalam pelaksanaan


pekerjaan hingga antara satu dan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Pada saat
berinteraksi antara unsure teknostruktural dengan unsure teknis biasanya ada
saja terjadi kecelakaan, hal tersebut dinamakan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja
misalnya kecelakaan pada saat pekerja menggunakan peralatan kerja, mesin yang
meledak kebakaran.
Ditinjau dari segi sifatnya, keadaan bahaya ditempat kerja dapat meliputi
bahaya-bahaya berikut.
1.

Bahaya yang diakibatkan karena ada kerusakan mesin dari segi hardware
(perangkat keras)

2.

Bahaya yang diakibatkan oleh kesalahan program mesin dari segi software
(perangkat lunak)

3.

Bahaya yang diakibatkan oleh pendukung misalnya, sering padamnya listrik.

4.

Bahaya yang diakibatkan oleh sumber daya karyawan atau pengguna


(brainware) yang belum kompeten menangani pekerjaan dibidang tertentu.

5.

Bahaya yang diakibatkan oleh over worker, yaitu bekerja berlebihan tanpa
istirahat hingga membahayakan bagi diri karyawan dan perusahaan itu
sendiri. Misalnya meningkatkan jumlah produk dengan lembur yang tidak
terartur.

4. Karakteristik Tamu atau Pelanggan yang Mencurigakan


Karakteristik atau perilaku konsumen atau tamu bermacam-macam untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

40

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tabel 2.1. Karakteristik Pelanggan

No.
1

Kriteria konsumen
Awan

Ciri-ciri
Keterbelakangan
Ketidaktahuan
Kemiskinan
Pola hidup konsumtif

Mandiri

Cerdik dan Pintar


Berpengetahuan
Berkecukupan
Pola hidup terencana

Motif Konsumen

Ekonomis
Sosialogis
Psikologis

Watak Konsumen

Teliti
Tidak teliti
Selektif
Pemboros

Perilaku Konsumen

Tergesa-gesa
Ingin dilayani dengan cepat
Tidak sabar
Lamban
Pendengar yang baik

Sikap Konsumen

Sok tahu
Sombong
Suka menggurui
Sukar mengambil keputusan
Tidak percaya diri
Selalu khawatir
Penuh curiga

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

41

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

No.

Kriteria konsumen

Ciri-ciri
Sukar diajak kerjasama
Sukar bergaul
Mudah bergaul
Pengertian
Fokus pada tujuan

Mencurigakan

Berbelit-belit dalam bicara


Tatapan mata tidak focus
Lirikan mata cepat
Tidak ada kesimpulan pembicaraan
Mengulur waktu
Posisi tubuh
pembicaraan

berpaling

dari

hadapan

Pembicaraan tidak nyambung


Tidak ada kesesuaian antara bahasa lisan dan
bahasa tubuh

5. Prosedur Penanganan Keadaan Darurat di


Perusahaan dan Tempat Umum
Prosedur penanganan keadaan darurat (emergency) secara khusus disetiap
perusahaan atau ditempat umum telah divisualisasikan baik dalam bentuk gambar
maupun tata tertib yang disesuikan dengan kondisi perusahaan atau tempat umum
tersebut. Secara umum prosedur tersebut meliputi hal-hal berikut:
a. Setiap karyawan harus menjaga keselamatan dirinya dan karyawan
yang lainnya.
b. Wajib memakai alat-alat keselamatan kerja yang telah disediakan oleh
perusahaan.
c. Mematuhi ketentuan-ketentuan mengenai keselamatan kerja dan
perlindungan kerja yang berlaku.
d. Apabila karyawan memenuhi hal-hal yang dapat membahayakan
terhadap keselamatan karyawan di perusahaan, harus segera
melaporkan kepada pimpinan perusahaan atau atasannya.

42

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

e. Di luar waktu kerja yang ditetapkan oleh perusahaan, setiap buruh tidak
diperbolehkan memakai/menggunakan alat-alat atau perlengkapan
kerja milik perusahaan untuk kepentingan pribadi.
f.

Setiap pekerja wajib memelihara alat-alat/perlengkapan kerja dengan


baik dan teliti.

6. Sikap dan Tindakan Saat Menghadapi Situasi Darurat


a. Sikap dalam Menghadapi Situasi Darurat

Sikap yang diperlukan saat terjadinya situasi darurat adalah sebagai berikut.
1). Cepat dan tanggap dalam situasi darurat.
2). Tidak panik
3). Tidak berteriak yang membuat panik orang lain
4). Adanya keinginan untuk menyelesaikan masalah
5). Tenang dalam menghadapi situasi darurat

b. Tindakan dalam menghadapi situasi darurat


1). Tangani situasi darurat sesuai prosedur di perusahaan
2). Ikuti pesan tanda-tanda bahaya di tempat kerja
3). Tentukan langkah dalam situasi darurat sesuai permasalahannya
4). Operasional perlengkapan situasi darurat yang tersedia di tempat
kerja.
5). Segera mengetahui dan meniliti keadaan darurat dan potensi
keadaan darurat.
6). Segera tentukan tindakan yang dibutuhkan untuk melakukannya
dalam ruang lingkup tanggung jawabnya.
7). Pelaksanaan tindakan darurat mengikuti prosedur keadaan
darurat yang sesuai dengan prosedur di perusahaan.
8). Segera cari bantuan dari rekan sejawat atau orang yang mempunyai
wewenang bila perlu.
9). Melaporkan rincian kejadian baik secara lisan dan tulisan yang
benar sesuai aturan perusahaan.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

43

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

7. Langkah-Langkah Penanganan Situasi Darurat


c. Menangani Ancaman Bom
Apabila menemukan suatu barang yang mencurigakan atau menerima laporan
dari pihak tertentu melalui tulisan/telepon tentang adanya bom dilingkungan
perusahaan, maka tindakan yang harus dilakukan adlah sebagai berikut.
1). Pastikan bahwa barang yang dicurigai masih ada ditempatnya
2). Beritahu pekerja yang lain agar menjauh dan keluar
3). Segera hubungi atasan/pimpinan untuk menginformasikannya
4). Hubungi pihak kepolisian terdekat dan berikan keterangan yang
lengkap
5). Amankan dokumen-dokumen terpenting

d. Pelanggan Yang terganggu Mentalnya


Setiap yang datang ke perusahaan bermacam-macam tidak menutup
kemungkinan perusahaan didatangi oleh pelanggan yang terganggu mentalnya,
misalnya abnormal, mabuk minuman, temperamen pemarah atau pun yang lainnya.
Untuk menangani hal tersebut tindakan yang perlu dilaksanakan adalah sebagai
berikut:
1). Jangan terlalu banyak diajak bicara
2). Bawa keruangan yang aman (tidak ada barang-barang berharga)
3). Jauhkan dari pelanggan yang lain ketempat yang aman tersebut,
agar tidak mengganggu pelanggan lain.
4). Laporkan ke satpam (petugas keamanan)
5). Segera bekerja kembali
6). Urusan selanjutnya ditangani petugas keamanan.

e. Kecelakaan
Bila terjadi kecelakaan kerja yang dialami karyawan lain di tempat kerjanya
maka, sebagai sesama karyawan harus menolongnya. Diantara hal-hal yang perlu
dikerjakan adalah sebagai berikut:
1). Membawanya ke ruangan kesehatan dan keselamatan kerja.
2). Memberikan pertolongan pertama.
3). Melaporkannya pada atasan/pimpinan

44

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

4). Menghubungi atau membawanya pada petugas kesehatan


terdekat
5). Mendeteksi penyebab kecelakaan
6). Membuat solusi agar tidak terjadi lagi

f.

Perampokan dan Penodongan

Perampokan dan penodongan bisa saja terjadi pada saat siang dan malam hari,
untuk itu setiap karyawan harus waspada dengan melengkapi personil keamanan
di tempat kerja. Hal-hal yang perlu kita lakukan dalam situasi darurat adanya
penodongan dan perampokan adalah sebagai berikut:
1). Jangan panik bila perampok mengancam baik dengan senjata
tajam atau senjata api.
2). Kenali dengan jelas raut mukanya, postur tubuhnya dan
pakaiannya.
3). Kenali kekhasan nada suara bicaranya.
4). Bila perampok lebih dari satu, kenali salah satu saja dengan jelas
bila tak memungkinkan semuanya.
5). Bila perampok membawa kendaraan, kenali kendaraan dengan
jelas, merek dan warna kendaraan, serta kenali plat nomer
kendaraannya.
6). Jangan melakukan perlawanan bila tidak memungkinkan, karena
akan mencelakakan jiwa.
7). Jangan menunjukan terhadap perampok dokumen-dokumen dan
barang yang sangat penting.
8). Bila perampok mulai kabur, cepat hubungi polisi lewat telepon
dengan menunjukan arah jalan yang dilaluinya agar polisi cepat
memblokir semua jalur lalu lintas.
9). Laporkan pada satpam/atasan/pimpinan
10). Membuat laporan tertulis kepada pihak berwajib (kepolisian)
untuk ditindaklanjuti.

g. Kebakaran
Pada saat terjadi kebakaran langkah-langkah emergency (darurat) yang perlu
kita kerjakan adalah sebagai berikut:
1). Segera hubungi lewat telepon tim pemadam kebakaran terdekat
dengan menyampaikan alamat kejadian kebakaran yang jelas.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

45

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2). Pakailah pakaian pengaman anti api


3). Pijit bel peringatan berbahaya gar semua pekerja yang belum tahu
mengetahuinya.
4). Selamatan dokumen-dokumen yang paling penting.
5). Matikan listrik dari kilometernya. Kebakaran.
6). Jangan berteriak-teriak karena akan membuat panik
7). Ikuti jalan paling mudah untuk keluar dari tempat
8). Segera evaluasi teman sekerja kalau ada yang terperangkap
kebakaran.
9). Berikan petolongan pertama
10). Hubungi petugas kesehatan setempat
11). Membuat laporan tertulis pada pihak kepolisian untuk dihadapkan
penelitian penyebab terjadinya kebakaran

h. Kebocoran gas
Adanya kebocoran gas dapat diketahui dari bau yang menyengat penciuman.
Apabila perusahaan memiliki alarm otomatis maka alarm akan berbunyi sediri bila
terjadi kebocoraan. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat terjadi kebocoran gas.
1). Segera pakai pakaian pelindung pernafasan yang tersedia
2). Segera laporkan pada teknisi di perusahaan
3). Bila kebocoran sudah parah dan menyebar, pijit serina/alarm agar
semua pekerja keluar mengamankan diri.
4). Segera bawa keluar/jauhkan barang - barang
terbakar dan yang mengandung api.

yang mudah

5). Selamatkan dokumen-dokumen yang sangat penting


6). Matikan listrik dari kilometernya
7). Segera keluar dari jalan yang mudah
8). Teknisi segera melacak tempat terjadinya kebocoran gas
9). Selamatkan yang terperangkap di dalam ruangan.
10). Berikan pertolongan pertama dengan bantuan pernapasan
11). Hubungi petugas kesehatan terdekat
12).

46

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

i.

Banjir

Banjir akan terjadi bila saat musim hujan, lokasi perusahaan di tempat yang
dataran rendah atau dekat dengan aliran sungai. Hingga bila tanda-tanda tersebut
telah ada maka pihak pimpinan perusahaan harus menyediakan perlengkapan
keamanan banjir, misalnya baju pelampung, ban, perahu karet dan membuat
gedung berlantai dua atau tiga. Bila terjadi banjir maka dalam situasi darurat
tersebut yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.
1). Membunyikan tanda sirine bahaya agar semua karyawan waspada.
2). Mematikan aliran listrik
3). Mematikan mesin-mesin yang sedang digunakan.
4). Menyimpan dokumen-dokumen penting pada tempat yang
tertutup dan tidak terkena air.
5). Bawa dokumen-dokumen pada gedung lantai atas, bila gedungnya
beberapa lantai.
6). Memakai pakaian pelampung
7). Tutup semua pintu
8). Bila keluar gedung gunakanlah ban atau perahu karet
9). Mintalah bantuan pada masyarakat atau dinas terdekat untuk
mengevakuasi korban .
10). Bila banjir sudah reda lakukan pendataan dan inventarisir semua
barang baik yang rusak, hilang dan yang masih layak pakai serta
kerugian yang dialami perusahaan

j.

Gempa Bumi

Gempa bumi bisa saja terjadi kapan saja sekalipun sebelumnya tidak ada
informasi dari dinas meteorology dan geofisika. Untuk itu maka pendirian perusahaan
harus memenuhi persyaratan IMB (Izin Membangun Bangunan), kelayakan tanah
dan kesesuaian bangunan. Bila terjadi gempa bumi sebagai situasi darurat, dalam
penanganannya adalah sebagai berikut.
1). Ambil pengaman tutup kepala
2). Pindah keruangan yang tidak banyak barang berat
3). Ingat-ingat pintu darurat yang paling cepat dan aman kemudian
keluarlah cepat.
4). Jangan keluar dengan lari yang tak tentu arah
5). Jangan lari pada pintu yang sama karena akan menghambat
kelancaran bahkan dapat menimbulkan kecelakaan jiwa.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

47

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

6). Menjauhlah dari gedung dan bangunan yang tinggi, cari tempat
yang aman.
7). Bila gempa berhenti maka adakan evakuasi korban.
8). Berikan pertolongan pertama.
9). Adakan pendataan dan inventarisir seluruh kerugian harta dan
jiwa.
10). Buat laporkan tertulis pada pimpinan dan pemerintah setempat.

k. Tersengat Listrik
Untuk menghindari sengatan listrik hendaklah teknisi perusahaan selalu
meneliti dan memelihara keamanan jalur kabel listrik, gunakanlah kabel standar
PLN (Perusahaan Listrik Negara). Hal-hal yang perlu dilakukan dalam menangani
orang yang terkena sengatan listrik adalah sebagai berikut:
1). Segera matikan aliran listrik.
2). Pakailah sandal karet agar tidak tersengat listrik.
3). Pisahkan orang yang terkena arus listrik dengan benda yang
menenpel dari arus listrik tersebut.
4). Bila korban masih hidup berilah air minum putih secukupnya
sebagai pertolongan pertama.
5). Bawalah korban ke dinas kesehatan terdekat.
Penyebab utama kebakaran rumah penduduk kebanyakan adalah dari
adanya gangguan pada instalasi listrik yang sudah tidak layak pakai, hingga
mengakibatkan terjadinya konsleting pada hubungan pendek arus listrik. Sebaiknya
setiap 10 tahun sekali instalasi listrik harus diganti dan pemasangan instalasi
listrik haruslah memenuhi standar perlindungan terhadap bahaya kebakaran (fire
protection)
Tindakan yang harus segera dilakukan ketika menghadapi kebakaran akibat
konsleting arus pendek listrik adalah sebagai berikut.
1). Matikan arus listrik dari sumbernya.
2). Padamkan api dengan air atau pasir atau kain basah.
3). Temukan dan buka segera pompa hidran air yang terdapat pada
sekitar lokasi kebakaran.
4). Batasi gerak api dengan air agar tidak meluas ketempat lainnya.
5). Telepon dinas pemadam kebakaran dengan menginformasikan
alamat tempat kejadian yang jelas bila api terus menyebar. Minta
48

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

bantuan kepada masyarakat sekitar untuk memadamkan api dan


menyelamatkan korban.
6). Evakuasi korban dan berikan pertolongan pertama.
7). Bawa korban ke dinas kesehatan terdekat.
8).

Inventarisir kerugian harta dan jiwa.

9). Membuat laporan kepada atasan/pimpinan/pemerintah


10). Adakan upaya antisipasi untuk menjaga terjadinya lagi.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

49

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kegiatan Pembelajaran 3

Mendeskripsikan Sistem
Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja
(SMK3)

A. Uraian Materi
1. Deskripsi SMK3
Dalam rangka memasuki era pasar/ perdagangan bebas tingkat negara
negara Asean yang dikenal dengan istilah Asean Free Trade Agreement (AFTA) dan
perdagangan bebas ting kat asia pasifik (APEC) serta per dagangan bebas tingkat
dunia World Trade Organization (WTO) yang akan diberlakukan pada tahun 2020,
dan dalam perdagangan bebas ter sebut K3 merupakan salah satu persyaratan yang
harus dipenuhi bagi industri di Indonesia.
Yang dimaksud dengan pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
adalah langkah atau tahapan yang dilakukan untuk mengurangi atau mencegah
terjadinya berbagai kecelakaan ditempat kerja. Jenis kecelakaan yang terjadi antara
lain karena faktor pekerja itu sendiri (kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan),
faktor salah prosedur penggunaan alat dan faktor lingkungan sekitar proses kerja
berlangsung serta faktor manajemen kerja.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat dideskripsikan sebagai persyaratan
untuk meningkatkan produktivitas kerja para pekerja atau karyawan perusahaan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
dijelaskan bahwa ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja yaitu untuk :
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan;
b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;

50

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;


d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu
kebakaran atau kejadian-kejadi an lain yang berbahaya;
e. Memberi pertolongan pada kece lakaan;
f.

Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;

g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu,


kelembaban, debu, kotor an, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar
radiasi, suara dan getaran;
h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik
maupun psychis, pe racunan, infeksi dan penularan.
i.

Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;

j.

Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik;

k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;


l.

Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;

m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerja nya;
n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, bina tang,
tanaman atau barang;
o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan
dan penyimpanan barang;
q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
r.

Menyesuaikan dan menyempur nakan pengamanan pada peker jaan


yang bahaya kecelakaan nya menjadi bertambah tinggi.

Selanjutnya dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970


dijelaskan bahwa kewajiban dan atau hak tenaga kerja adalah untuk :
a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai
pengawas dan atau keselamatan kerja;
b. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan;
c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan
kerja yang diwajibkan;
d. Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat ke selamatan
dan kesehatan kerja yang diwajibkan ; Menyatakan keberatan kerja
pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan keselamatan ker ja
serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan oleh nya
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

51

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai peng awas
dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan
Menindaklanjuti upaya untuk menyongsong dan sekaligus memenang kan
era perdagangan bebas, maka pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen
Tenaga Kerja dan Trans migrasi (Depnakertrans) telah mener bitkan suatu peraturan
yang berkait an dengan manajemen K3. Peratur an tersebut adalah Peraturan
Menteri Tenaga Kerja Per.05/MEN /1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja. Didalam Permenaker di atas, pada pasal 2 ayat (1) dinyatakan
bahwa setiap perusahaan yang memper kerjakan tenaga kerja sebanyak se ratus
orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh
karakteristik proses bahan produksi yang dapat meng akibatkan kecelakaan kerja
seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja, wajib me
nerapkan sistem manajemen K3. Ayat (2) sistem manajemen kese lamatan dan
kesehatan kerja wajib dilaksanakan oleh pengurus, pengusaha dan seluruh tenaga
kerja sebagai satu kesatuan.
Okasatria Novyanto (2008) menjelas kan bahwa Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen
keseluruhan yang me liputi struktur organisasi, perencana an, tanggung jawab,
pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembang
an, penerapan, pencapaian, pengkaji an dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam
rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya
tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Tujuan dari SMK3 adalah terciptanya sistem K3 di tempat kerja yang melibatkan
segala pihak sehingga dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit
akibat kerja dan terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Sedang
kan manfaat yang diperoleh dari penerapan SMK3 bagi industri atau perusahaan
yakni :
a. Mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja.
b.

Menghindari kerugian material dan jiwa akibat kecelakaan kerja.

c. Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena tenaga


kerja merasa aman dalam bekerja.
d. Meningkatkan image pasar ter hadap perusahaan.
e. Menciptakan hubungan yang harmonis antara karyawan dan
perusahaan.
f.

52

Perawatan terhadap mesin dan peralatan semakin baik, sehingga


membuat umur alat semakin lama.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tugas Aplikasi Konsep


Berdasarkan pembahasan tentang deskripsi K3 di atas, lakukan wawan cara
dengan tenaga kerja dan atau pengusaha dari suatu perusahaan yaitu berkisar
tentang :
1.

Apakah pekerja dan atau pe ngusaha mengetahui tentang K3 ?

2.

Apakah pekerja mengetahui ke untungan bagi pekerja bila K3 diterapkan


pada suatu perusaha an?

3.

Apakah pekerja memperhatikan atau menerapkan K3 pada saat bekerja di


tempat kerja?

4.

Apakah pengusaha mengetahui peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang K3?

5.

Apakah pengusaha mengetahui keuntungan bagi perusahaan bila K3


diterapkan pada suatu perusa haan?

6.

Apakah perusahaan memiliki struk tur organisasi K3?

7.

Buatlah catatan dan hitung jumlah orang/ pekerja yang memahami K3 dan
tidak memahami K3.

8.

Buatlah catatan dan hitung jumlah orang/ pekerja yang memperhati kan atau
menerapkan K3 pada saat bekerja.

9.

Apa yang dapat Anda lakukan bila para pekerja belum mengetahui K3?

10. Apa yang dapat Anda lakukan bila para pekerja tidak menerap kan K3?

2. Memenuhi Hak dan kewajiban tenaga kerja dalam K3


Hak Dan Kewajiban Buruh/Pekerja Dalam Pelaksanaan K3 (Pasal 12 Uu
1/1970)
B.1. Kewajiban pekerja :
1.

Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas


dan atau ahli K3.

2.

Memakai alat pelindung diri.

3.

Mentaati syarat-syarat K3 yang diwajibkan.

B.2. Hak pekerja :


1.

Meminta kepada pengusaha agar melaksanakan semua syarat K3 yang


diwajibkan.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

53

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

Menyatakan keberatan untuk bekerja apabila syarat-syarat K3 dan alat


pelindung diri tidak memenuhi syarat.

B.3. Hak Perusahaan :


1.

Meminta pekerja untuk mentaati syarat-syarat dan petunjuk-petunjuk


K3 Tindakan Pidana Pelanggaran UU No. 1 Tahun 1970 dengan ancaman
hukuman maksimum 3 (tiga) bulan penjara atau denda setinggi-tingginya Rp
100.000,- (Pasal 15 ayat 2 UU No. 1/1970).

3. Persyaratan Produksi Untuk Keselamatan Kerja


Di Tempat Kerja
Kesadaran tentang penerapan K3LH dewasa ini semakin meningkat, ter
utama pada organisasi perusahaan yang bergerak di bidang usaha perta nian
atau perkebunan. Kesadaran tentang penerapan K3LH tersebut sejalan dengan
penerapan peraturan sistem manajemen mutu ISO 14000 yaitu bagi organisasi
perusahaan yang memerlukan pe ngakuan standar Internasional. Untuk
mempermudah pelaksanaan penerapan K3 LH tersebut, perlu di ketahui beberapa
pengertian atau istilah-istilah umum yang biasa dipergunakan sebagai berikut:
1.

Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan erat dengan
mesin, peralatan kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerja dan
lingkungan serta caracara me lakukan pekerjaan.

2.

Sasaran Program K3
Sasaran program K3 adalah segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah,
di permukaan air, di dalam air maupun di udara. Tempat tempat kerja tersebar
pada segenap kegiatan ekonomi, seperti pertanian/ perkebunan, peternakan,
perikanan, industri pengolahan, pertambangan, perhubungan, jasa dan
sebagainya.

3.

Tempat Kerja
Tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan tertutup maupun terbuka,
bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering digunakan
oleh tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha.Tempat kerja tersebut terdapat
sumber-sumber bahaya, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di
dalam air, maupun di udara yang menjadi ke wenangan suatu badan usaha
atau perusahaan. Dalam bidang perkebunan, yang disebut dengan tempat
kerja adalah tempat dimana kegiatan perkebunan biasa dilaksanakan, yaitu
areal pembibitan, areal penanaman, termasuk laboratorium, dan bengkel
pertanian.

54

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

4.

Perusahaan
Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang mempekerjakan pekerja dengan
tujuan untuk mencari laba atau tidak, baik milik perorangan, kelompok,
swasta maupun milik negara.

5.

Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan, baik
di dalam atau di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa
untuk memenuhi standar kebutuhan masyarakat.

6.

Tujuan dan Sasaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Tujuan keselamatan kerja adalah untuk menciptakan suatu sistem
keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan semua
unsurunsur yang terdapat da lam suatu instansi atau perusahaan dimana
dilakukan kegiatan kerja. Sedangkan sasaran keselamatan dan kesehatan
kerja adalah semua personil dan suatu instansi atau perusahaan termasuk
didalamnya adalah pihak manajer, tenaga kerja dan orangorang yang terkait
dengan kegiatan perusahaan tersebut.

7.

Penerapan Prosedur K3
Setiap organisasi perusahaan wajib melaksanakan ketentuanketentuan :
a. Menerapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap
penerapan sistem manajemennya
b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan
K3
c. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan
kemampuan dan mekanisme pen dukung yang diperlukan mencapai
kebijakan, tujuan dan sasaran K3.
d. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melaku kan
tindakan perbaikan dan pen cegahan.
e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan sistem K3
secara berkesinambungan de ngan tujuan meningkatkan kinerja.

4. Pengendalian Resiko
a. Instruksi Kerja Pengendalian Resiko
Dalam melaksanakan pekerjaan, kecelakaan dapat terjadi secara tak terduga.
Untuk menghindari dan meminimalkan terjadinya kecelakaan maka perlu disusun
instruksi kerja. Pembuatan instruksi kerja disesuaikan dengan keadaan peralatan

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

55

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

yang dipakai. Ada beberapa hal yang harus dilakukan atau disiapkan oleh perusahaan
untuk menghindari ter jadinya kecelakaan kerja, antara lain :

Pada setiap laboratorium atau bengkel atau ruangan dibuatkan tata tertib
yang harus dipatuhi oleh semua orang yang akan masuk ke dalam lab
atau ruangan. Didalam tata tertib tersebut perlu dijelaskan halhal yang
harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta ancaman sanksi yang
akan dikenakan jika melanggar tata tertib.

Setiap alat yang dioperasikan dengan menggunakan mesin harus


dibuatkan instruksi kerjanya. Instruksi kerja tersebut langsung
ditempelkan pada alat atau di tempattempat tertentu sedemiki an
rupa, sehingga setiap operator alat yang akan menggunakan alat dapat
membaca petunjulk pengoperasian alat. Hal ini untuk meng hindari
terjadinya kesalahan prosedur dalam pengoperasian alat. Selain itu,
dengan adanya pe tunjuk pengoperasian maka siapa pun yang akan
mengoperasikan alat tersebut dapat terhindar dari kecelakaan yang
dapat menyebabkan kecelakaan operator atau kerusakan alat.

Pada setiap ruangan agar dibuat kan posterposter keselamatan kerja dan
labellabel yang me nunjukkan bahaya kecelakaan yang mungkin saja
terjadi. Pem buatan label dan poster tersebut harus dibuat sedemikian
rupa se hingga mudah dibaca bagi setiap orang.

Bahanbahan berbahaya seperti bahan kimia, fungisida, bakterisida,


rodentisida, herbisida, insektisida, pupuk anorganik dan sebagainya,
diberikan label dan tanda dengan menggunakan lambang atau tulisan
peringatan pada wadah adalah suatu tindakan pencegahan yang sangat
penting.

Aneka label dan pemberian tanda, diberikan sesuai dengan sifat ba han
yang ada. Beberapa label dan pemberian tanda dapat dipakai dengan
menggunakan lambang yang sudah diketahui secara umum. Dengan
demikian masya rakat mudah mengenal dan me respon maksud dan
tujuan label atau tanda atau lambang yang telah dipasang.

b. Dasardasar Keselamatan Kerja dan Resiko


Beberapa ketentuan yang mem bahas dasar-dasar keselamatan ker ja dan
resiko adalah sebagai berikut : -`Persyaratan Keselamatan untuk Perkakas, Mesin
dan Bahan Kimia Berbahaya.
Mengingat sangat bervariasinya perkakas, mesin, bahan kimia berbahaya
dan cara kerja yang diguna kan dalam bidang pertanian (perkebunan), maka tidak
semuanya akan dibicarakan, baik dalam kaitan dengan pemilihan perkakas, mesin
dan bahan kimia berbahaya tetapi prinsipprinsip umum akan diuraikan.

56

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1.

Syarat-syarat umum

Semua perkakas, mesin dan bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam
pertanian (perkebunan) harus :

Memenuhi syarat keselamatan dan kesehatan kerja sesuai ke tentuan


dalam standar internasional atau nasional dan rekomen dari pihak
berwenang, apabila tersedia;

Digunakan hanya untuk pekerja an yang telah dirancang atau


dikembangkan, kecuali jika suatu penggunaan tambahan yang diusulkan
telah dinilai oleh seorang yang kompeten dan telah dinyata kan aman
penggunaannya.

Digunakan atau dioperasikan oleh para pekerja yang telah dinilai ber
kompeten dan atau memiliki serti fikat keterampilan yang sesuai.

Perkakas, mesin dan peralatan harus mempunyai disain dan konstruksi


yang baik, dengan mem pertimbangkan prinsip kesehatan, keselamatan
dan ergonomik, dan mereka harus dipelihara dengan kondisi yang baik.

Setiap perkakas, mesin dan peralatan harus secara rutin diperiksa


berdasarkan suatu penilaian yang lengkap dari semua kriteria terkait
harus digunakan saat pemilihan suatu mesin. Hal ini membantu untuk
menciptakan suatu Iingkung an kerja yang sehat dan produktif serta
memastikan bahwa mesin tersebut tepat untuk tujuan yang dimaksudkan.

Pengusaha atau produsen alat dan mesin harus menyediakan instruksi


dan informasi K3 yang jelas dan menyeluruh tentang penggunaan dan
pemeliharaan perkakas dan bahan kimia ber bahaya bagi operator/
pengguna.

Peralatan harus dirancang agar gampang dan aman dalam peme liharaan
dan sedikit perbaikan di tempat kerja. Para pekerja harus dilatih untuk
melakukan pemeli haraan dan perbaikan kecil pada mesin dan peralatan
mereka. Jika tidak bisa dilakukan, seorang yang kompeten harus mudah
dihubungi dari tempat kerja. Fasilitas untuk perbaikan dan pemeliharaan
pe ralatan dan perkakas harus di sediakan. Disarankan penyedia an
fasilitas perbaikan dan pemeli haraan peralatan dan perkakas dekat
dengan tempat berteduh atau fasilitas perumahan.

Pada tempat perbaikan harus disediakan fasilitas bengkel de ngan


perkakas dan peralatan pemeliharaan yang sesuai, agar pekerjaan
pemeliharaan dan re parasi dilaksanakan dalam kondisi aman, tanpa
terganggu oleh kon disi cuaca yang buruk, serta tidak mengganggu
lingkungan di sekitar bengkel.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

57

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

3.

4.

Peralatan tangan

Penggunaan peralatan tangan banyak digunakan untuk jenisjenis


pekerjaan yang ringan dan memerlu kan spesifikasi kerja tertentu. Ada
beberapa hal yang harus diperhati kan dalam penggunaan peralatan
tangan, yaitu :

Peralatan tangan untuk memotong dan memisahkan benda harus dibuat


dari baja berkualitas baik sehingga menjaga sisi pe motongan dan
efektivitasnya de ngan pemeliharaan minimum.

Bagian alas dari suatu alat untuk memotong dan memisahkan harus
dipasang dengan aman pada tangkai dengan suatu alat efektif, sebagai
contoh baji, paku keling atau baut.

Tangkai harus memberikan suatu genggaman yang kuat dan harus


terbuat dari kayu berkualitas baik atau bahan lain yang sesuai

Spesifikasi perkakas, seperti ukur an, panjang tangkai dan berat harus
sesuai untuk memenuhi ke butuhan dari pekerjaan dan keada an fisilk
dari pemakai.

Jika tidak digunakan, perkakas bersisi tajam harus diberi sarung dengan
alat yang sesuai.

Mesin portable

Kendali mesin seperti gergaji rantai, gergaji sikat dan pemotong rumput
harus ditempatkan dengan nyaman dan fungsinya ditandai dengan jelas.

Posisi dan dimensi tangkai harus nyaman bagi operator dalam semua
sikap kerja normal.

Tingkat kebisingan, getaran dan emisi buangan yang berbahaya harus


serendah mungkin sesuai dengan kemajuan teknologi.

Bahan bakar dan minyak pelumas yang digunakan harus da pat


dihancurkan secara biologis (ramah lingkungan) sehingga me ngurangi
bahaya polusi gas buang dan tumpahan.

Semua alat pelindung harus pada tempatnya dan secara teratur diperiksa
kerusakan yang timbul.

Permesinan otomatis atau mesin konvensional

58

Mesin harus dilengkapi dengan alat penahan goncangan, tempat duduk


dapat disetel sepenuhnya untuk pengemudi dan dipasang sabuk
pangaman yang sesuai.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5.

Ruang operator harus dirancang dan ditempatkan sehingga sesuai


dengan ukuran badan operator yang kemungkinan besar meng gunakan
mesin tersebut.

Cara masuk dan keluar dari me sin, seperti anak tangga, tangga dan pintu,
harus di rancang untuk menyediakan tumpuan tangan dan kaki dengan
suatu ketinggian dan jarak yang nyaman.

Mesin harus dilengkapi dengan struktur perlindungan berguling, .

Kabin tempat operator bekerja harus memenuhi persyaratan dan


dilindungi dari obyek yang jatuh,

Mesin harus dilengkapi suatu alat penyetop yang tidak dapat kem bali
sendiri, mudah dicapai, dan ditandai dengan jelas dari posisi kerja normal
operator.

Untuk mesinmesin yang meng gunakan sistem transmisi atau kopling,


maka jika tidak dipakai, persneling harus dalam keadaan tersambung.

Rem parkir harus mampu untuk menjaga mesin dan beban lajunya pada
saat dioperasikan pada la han yang miring,

Pipa pembuangan harus dileng kapi dengan penangkap percikan. Mesin


yang dilengkapi dengan turbo chargers tidak memerlukan penangkap
percikan.

Pakaian dan Peralatan Pelindung Kerja

Penggunaan pakaian dan peralatan pelindung kerja, sangat dibutuhkan bagi


pekerja. Kesadaran tersebut per lu dipelihara dan ditingkatkan untuk mencapai
mutu keselamatan dan ke sehatan kerja serta lingkungan hidup.
a. Pakaian kerja
Pakaian kerja yang dipakai di lapangan, bagi pekerja bidang pertanian,
harus memenuhi beberapa kriteria, secara umum adalah :

Pakaian kerja harus dibuat dari bahan yang menjaga badan


pekerja tetap kering dan berada pada temperatur yang
nyaman. Untuk bekerja di daerah yang ber iklim panas
dan kering, pakaian yang sesuai harus digunakan untuk
menghindari radiasi panas yang berlebihan dan memudah
kan pengeluaran keringat.
Pakaian pelindung yang sesuai harus disediakan jilka ada
suatu resiko radiasi UV atau potensi bahaya biologik, seperti
tumbuhan beracun, infeksi dan binatang.
Pakaian harus mempunyai warna yang kontras dengan
lingkungan pertanian untuk memastikan bah wa para
pekerja kelihatan dengan jelas.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

59

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b.

Penggunaan alat pelindung diri harus dianggap sebagal suatu


upaya terakhir, bila pengurangan resiko dengan caracara
teknis atau organisatoris tidak mungkin dilakukan. Hanya
dalam keadaan ini alat pelindung diri yang berhubungan
dengan resiko spesifik tersebut digunakan.
Alat pelindung diri untuk pekerjaan bidang pertanian
dilapangan harus memiliki fungsi yang spesifik.
Bila pekerjaan dilakukan dengan menggunakan bahan
kimia berbahaya, alat pelindung diri harus disediakan sesuai
keselamatan dalam penggunaan bahan kimia ditempat
kerja.
Alat pelindung diri harus meme nuhi standar internasional
atau nasional.

Alat pelindung diri


Ada beberapa jenis alat pelindung dirl untuk bidang pekerjaan pertanian
di lapangan sesuai dengan jenis pekerjaanya antara lain: sarung tangan,
sepatu lapangan, topi pengaman, penutup muka, penutup mata,
penutup telinga, dan penutup mulut .

60

Sarung tangan dipergunakan untuk berbagai kegiatan bila


menggunakan bahan kimia beracun, seperti mencampur
pestisida, mencapur pupuk dan sebagainya. Untuk jenis
sarung tangan yang dipakai adalah sarung tangan yang
terbuat dari karet tidak tem bus bahan cairan. Sedangkan
untuk pekerjaan di laboratorium biasanya menggunakan
sarung tangan yang terbuat dari serat asbes tahan panas.
Sepatu lapangan dipergunakan jika jenis pekerjaan yang
diguna kan adalah jenis pekerjaan lapang an. Alat ini
digunakan untuk me lindungi kaki pada saat bekerja di
lapangan dari gigitan serangga atau pekerjaan lain yang
berba haya di lapangan. Jenis sepatu yang digunakan adalah
jenis se patu bot, yang terbuat dari karet atau plastik.
Topi pengaman (Helmet); Jenis alat ini digunakan untuk
melin dungi kepala dari kemungkinan bendabenda jatuh di
lapangan. Misalnya pada saat memanen buah.
Penutup bagian muka diperguna kan untuk jenis pekerjaan
lapang an, jika kondisi lapangan berdebu. Hal ini untuk
melindungi muka dari
debu yang berterbangan pada saat bekerja. Contoh penutup
bagian muka

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pelindung atau penutup mata. Janis alat ini dipakai untuk


me lindungi mata pada saat bekerja di lapangan, baik dari
terik matahari maupun dari bendabenda yang berbahaya
di lapangan seperti debu, ataupun pada saat bekerja di
laboratorium.
Alat pelindung mata sesuai kondisi lapangan Alat pelindung
mulut (masker). Alat ini berfungsi melindungi mulut dan
hidung dari bahan berbahaya saat bekerja di lapangan yakni
menggunakan pestisida, gas be racun atau debu.

c. Pelaksanaan Kerja Berdasarkan Rekomendasi Aman; Pengujian


dan Sertifikasi Peralatan
Untuk menjamin agar tidak terjadi kecelakaan atau hambatan pada saat
kegiatan dilaksanakan, maka alat alat yang akan dipergunakan harus terlebih
dahulu dilakukan pengujian/pengecekan yaitu memastikan bahwa alatalat tersebut
berfungsi sesuai rancangan dan dibuat memenuhi syarat kese lamatan kerja
Pengujian peralatan tersebut harus dilakukan oleh lembaga atau institusi yang
berwenang menguji dan me miliki sertifikat untuk peralatan yang menggunakan
mesin dan sensitifitas tinggi. Sedangkan untuk peralatan manual, jika memungkinkan
operator dapat melakukannya sendiri. Pengu jian dilakukan secara reguler, dan hasil
pengujian dilaporkan kepada perusahaan, untuk dilakukan tindak an semestinya.
Peralatan yang me menuhi standar keselamatan kerja diterbitkan sertifikat.
Sedangkan peralatan yang rusak, disarankan untuk diperbaiki agar dapat berfungsi
se bagaimana mestinya.

d. Resiko Pekerjaan Diidentifikasi dan Tindakan Diambil


untuk Mengurangi Resiko
Lingkup kerja bidang pertanian, khususnya perkebunan terbagi dalam dua
kategori, yaitu di laboratorium dan di lapangan. Kedua jenis resiko kedua pekerajan
ini berbeda, karena karakteristiknya. Karena itu resiko pekerjaan dibedakan menjadi;
tanpa oksigen kebakaran tidak akan terjadi, dan tanpa bahan yang mudah ter bakar
tak mungkin kebakaran terjadi dan tanpa panas kebakaran juga tak akan terjadi.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya ke bakaran yaitu :
1.

Nyala api dan bahan pijar

Jika suatu benda padat ditempatkan dalam nyala api, suhunya akan naik,
kemudian terbakar dan menyala terus menerus sampai habis. Kemung kinan
terbakar atau tidak suatu bahan tergantung pada :

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

61

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

Sifat bahan padat; yaitu sangat mudah atau agak mudah atau bersifat
sukar terbakar

Ukuran zat; jika suatu zat atau bahan berjumlah sedikit maka tidak cukup
menimbulkan panas sehingga kebakaran tidak akan te jadi.

Keadaan zat padat

Cara menyalakan

Penyinaran

Terbakarnya bahanbahan yang ber sifat mudah terbakar oleh benda pijar
atau nyala api, tidak harus terjadi karena persentuhan. Semua sumber panas akan
memancarkan gelom bang elektromagnetis yaitu sinar infra merah. Jika gelombang
elektromagnetis me ngenai benda, maka pada benda tersebut akan dilepaskan
energi yang berubah menjadi panas. Akibatnya benda yang disinari akan bertambah
panas dan bila panas tersebut sampai pada titik nyala maka benda tersebut akan
terbakar.
3.

Peledakan uap atau gas

Setiap campuran gas atau uap yang mudah terbakar dengan udara akan
menyala, jika terkena benda pijar atau nyala api maka kebakaran akan terjadi. Besar
kecilnya kebakaran sangat tergantung pada jumlah (volume) gas atau uap.
4.

Percikan api

Pencikan api yang bertemperatur cukup tinggi menjadi sebab terbakar nya
campuran gas, uap atau debu dan udara dapat menyala. Biasanya percikan api tidak
dapat menyebab kan benda terbakar. Karena tidak cukup energi dan panas yang
ditim bulkan. Percikan api dapat ditimbul kan oleh hubungan arus pendek, ataupun
oleh terjadinya kelistrikan statis, yaitu akibat pergesekan dua buah benda yang
bergerak.
5.

Terbakar sendiri

Kebakaran yang terjadi secara sendiri disebabkan karena seonggok an bahan


bakar mineral padat atau zatzat organik. Kebanyakan, minyak mudah terbakar,
terutama minyak tumbuhtumbuhah. Banyaknya panas yang tejadi ditentukan oleh
luas permukaan yang bersinggungan de ngan udara. Karena itu perlu diiden tifikasi
bahan-bahan yang mudah terbakar untuk ditempatkan pada tempat yang aman.

62

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

6.

Reaksi kimia

Reaksireaksi kimia dapat menghasil kan panas yang dapat menyebabkan


terjadinya kebakaran. Fospor kuning teroksidasi sangat cepat bila bersing gungan
dengan udara. Natrium dan kalium akan cepat bereaksi bila tercampur dengan
air, dan akan me lepaskan gas hidrogen yang mudah terbakar jika suhu udara di
atas 400 oC. Asam nitrat yang mengenai bahanbahan organik akan menye babkan
terjadinya nyala api.
7.

Kebakaran karena listrik

Kebanyakan peralatan laboratorium yang digunakan dalam bidang pertanian


khususnya perkebunan ba nyak menggunakan listrik sebagai sumber tenaganya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan keselamatan kerja
listrik yaitu pedoman keselamatan kerja listrik; menyangkut tenaga kerja, organisasi
dan cara kerja, bahan dan peralatan listrik, dan pedoman pertolongan terhadap
kecelakaan. Perlengkapan pakaian kerja bagi tenaga kerja yang berkecimpung
dengan kelistrikan, harus memiliki sifatsifat sebagai berikut :

Cukup kuat dan tahan gesekan.

Baju kemeja berlengan panjang dan berkancing pada bagian ujung


lengan.

Celana panjang.

Ujung kaki celana dapat dilipat dan dikancing.

Sepatu bersol karet, tidak berpaku dan memiliki sifat isolator.

Topi helm terbuat dari plastik, kuat, dan memiliki sifat isolator sesuai
dengan tegangan yang dihadapi di lapangan.

Sarung tangan panjang, lemas, kuat, dan memiliki daya isolator yang
sesuai.

Sarung tangan untuk bekerja adalah lemas, kuat, dan tahan gesekan
terhadap kawat penghantar.

Pedoman instalasi dan syaratsyarat perlengkapan listrik yaitu sebagai berikut:


a. Pemasangan peralatan listrik

Pemasangan transformator, pa nel, sakelar, motor, dan alatalat


listrik lainnya, di tempat kerja harus dilaksanakan sedemikian se
hingga tidak terdapat bahaya kon tak dengan bagianbagian yang
bertegangan.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

63

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Manakala ruangan dan persyarat an pelayanan memungkinkan, alat


alat dan pesawat listrik harus di tempatkan dalam ruangan ter pisah
yang ukurannya memadai, dan hanya orangorang berkom peten
boleh masuk ke dalam ruang tersebut.
Jika alatalat atau pesawat listrik terpaksa ditempatkan di tempat
kerja dalam ruang produksi, ha rus dibuat pagar pengaman untuk
melindungi bagian atau penghan tar yang bertegangan.
Pagar pengaman berfungsi men cegah kecelakaan. Rangka pagar
dapat terbuat dari kayu, besi pipa, besi siku, kawat baja, besi pelat
berlubang atau plastik. Dalam hal ini, kayu kering atau plastik me
miliki sifat yang lebih bailk, karena zatzat tersebut tidak menghantar
kan listrik. Namun, kayu memiliki kerugian karena mudah terbakar.
Rangka besi harus disertai hu bungan ke tanah secara tepat.
Perlu dipasang papan tanda la rangan masuk bagi mereka yang
tidak berkepentingan dan disertai peringatan Awas bahaya listrik.
Tanda peringatan di pasang pada tempat masuk ke ruangan, de
ngan huruf yang jelas dan mudah dibaca.
Terdapat kesesuaian dalam ba nyak hal mengenai normanorma bagi
pagar pengaman untuk me sin dan pesawat listrik.
Petugas perawatan peralatan lis trik harus tahu benar bahaya-bahaya
yang berkaitan dengan instalasi listrik dan peralatan lainnya,
Bahaya akibat listrik harus dipertimbangkan pada perencanaan
pembuatan tutup pengaman bagi panel listrik.
Pemasangan instalasi listrik harus memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dalam Peraturan Instalasi Listrik (PULL) dan per
aturanperaturan lain tentang ke selamatan kerja listrik.
Pemasangan instalasi listrik di perusahaan dan tempat kerja,
tergantung dari konstruksi bangunan, ukuran dan pembagian
beban, penempatan mesinmesin, pesa wat dan alat listrik, keadaan
ruang kerja seperti berdebu, panas, lembab, dan lainlain

b. Sakelar

64

Apapun tipe sakelar, yaitu tombol tekan, tuas, putar atau otomatis,
harus memenuhi syarat keselamatan. Sakelar untuk keperluan
motor, pesawat listrik, instalasi cahaya dan tenaga, harus ditutup.
Tidak boleh dipakai sakelar tuas yang terbuka, karena bagian
terbuka yang bertegangan akan menimbulkan bahaya tekanan
arus listrik sehingga dapat meng akibatkan loncatan api, bila sakelar
diputuskan arusnya.
Sakelar tuas harus tertutup, tutup dan poros pegangan (handel)
harus dihubungkan ke tanah

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sakelar tuas harus di pasang sedemikian rupa sehingga bagian


yang dapat digerakkan dalam ke adaan tidak ada hubungan (tidak
bertegangan)
Bila dipakai sakelar pemisah untuk tegangan tinggi, sakelar harus
dipasang di luar batas jangkauan tangan dan pelayanannya
dilakukan dengan menggunakan tongkat pengaman.
Bila pemasangan seperti butir 3 dan 4 tidak dimungkinkan, sakelar
tersebut harus tertutup atau di pagar secara tepat agar tidak
membahayakan, sedangkan pela yanannya tetap dilakukan dengan
memakai tongkat pengaman.
Untuk keperluan pemakaian se cara umum, dianjurkan agar di pakai
sakelar putar dan tombol tekan, karena bagian yang bertegangan
berada di tempat tertutup. Sakelar yang dapat me nimbulkan
loncatan api harus di pasang dalam peta penghubung.
Setiap sakelar harus disertai suatu petunjuk untuk posisi tertutup
atau terbuka.

c. Sekring dan pengaman otomatis

Instalasi atau pesawat listrik di amankan dengan penggunaan se


kring atau pengaman otomatis
Sekring dan pengaman otomatis memutuskan arus, manakala ter
jadi arus lebih sebagai akibat ke salahan hubungan tanah, hubung
an pendek dan beban lebih.
Pengaman arus lebih yang di tempatkan pada setiap bagian ins
talasi yang diamankan, harus me miliki jenis dan ukuran yang se
suai, yaitu memutus arus apabila arus yang lebih dari batas yang
ditentukan melaluinya.
Pemasangan sekring pada me sinmesin dan peralatan listrik ti dak
hanya ditentukan oleh kekuatan arus, tetapi juga oleh tenaga listrik
yang tersedia dari transformator atau generator, kemung kinan
terjadinya hubungan tanah, beban lebih dan hubungan pen dek
yang membahayakan.
Pengaman dengan sekring, melindungi mesin, peralatan, dan
tenaga kerja.
Penggunaan sekring harus dise suaikan dengan kuat arus yang
tertera pada sekring.
Sebelum pemasangan, kabel kabel yang bersangkutan harus bebas
arus dan tegangan.
Setiap kerusakan pada sekring harus diikuti dengan pemeriksaan
segera terhadap faktor penyebab nya seperti adanya hubungan
pendek atau beban lebih.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

65

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sekring yang putus harus diganti dengan macam dan ukuran yang
sama.
Dilarang menggunakan sekring yang telah rusak dan diperbaiki.
Pengaman otomatis dipakai untuk jaringan instalasi tegangan
tinggi, untuk arus yang besar, dan juga untuk instalasi tegangan
rendah.

Bekerjanya pengaman otomatis ada yang bersifat sesaat dan ada pula yang
disertai perlengkapan perlam batan waktu. Menurut bekerjanya pengaman
otomatis tergantung pada jenis termis dan jenis magnetis. Pengaman otomatis jenis
termis be kerja atas dasar peningkatan suhu, maka tergantung pada suhu ruang an.
Sedangkan pengaman otomatis jenis magnetis, bekerja atas dasar kuat arus yang
melalui jaringan instalasi.
AIat listrik memiliki ukuran pengaman otomatis untuk dipasang. Perawatan
terhadap pengaman otomatis dilaku kan oleh tenaga ahli yang berpengalaman.
8.

Pencegahan Kebakaran

Untuk menghindari terjadinya ke bakaran, beberapa hal yang perlu dilakukan


pencegahan dan per lindungan yaitu :
a. Penyimpanan
Dalam pengorganisasian usaha ke selamatan kerja terhadap bahaya
kebakaran, perhatian yang cermat harus diberikan tehadap lokasi dan
disain gudang. Aneka bahan, khusus nya zatzat yang dapat terbakar
merupakan sumber utama terjadinya. Dalam perencanaan gudang
atau tempat penyimpanan bahan, baik sifat maupun bentuk bahan
harus diperhatikan. Zat cair yang memiliki titik nyala lebih kecil dari 320C
harus ditempatkan dalam wadah atau tangki tertutup dan disimpan
dalam tangki dan ditempatkan di tempat yang terpisah atau di luar
gudang dan jauh dari bahanbahan lain yang mudah terbakar.
b. Pengolahan
Jika proses produksi memungkinkan penggantian bahan yang kurang
berbahaya ditinjau dari segi kebakaran, maka resiko dapat dikurangi
atau ditiadakan. Jumlah bahan yang mu dah terbakar sedapat mungkin
di kurangi dalam penggunaannya pada proses produksi. Zat padat yang
mudah terbakar harus diletakkan tersusun rapi dan aman, sehingga
memudahkan pekerjaan. Bahan cair yang mudah terbakar harus disalur
kan ke tempat kerja melalui pipapipa penyalur atau drumdrum yang di
lengkapi dengan pompa tangan. Perlu dilakukan pengaturan agar ba
66

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

han cair tidak tumpah ke sekitar, misalnya dengan penempatan drum


drum pada landasan yang me nampung bahan tertumpah.
c. Meniadakan sumber kebakaran

9.

Pada semua proses pemanasan harus terdapat pemisah yang tepat


antara bahanbahan yang mu dah terbakar dan alat pemanas.
Pemanasan lebih dari semestinya tanpa disengaja harus dicegah
dengan pengendalian proses secara tepat.
Segala kegiatan pengeringan harus dilengkapi dengan ventilasi
mekanis yang memadai dan sebaiknya disertai dengan sistem
kontrol di antara pemanas dan ventilasi.
Bahanbahan yang dapat ter ba kar sendiri harus selalu diamati agar
tidak ada kenaikan suhu.
Semua pemasangan jaringan listrik dan peralatan listrik harus
memenuhi standar atau ketentuan yang berlaku
Perawatan mesin harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak
terjadi panas akibat gesekan.
Pendidikan dan pelatihan harus dilakukan kepada pekerja

Resiko Bahanbahan Kimia

Bekerja di bidang pertanian atau per kebunan, penggunaan bahan kimia tidak
bisa dihindarkan, terutama da lam pengendalian organisme peng ganggu tanaman.
Untuk menghindari bahaya dari bahanbahan kimia tersebut, ada beberapa hal yang
harus diperhati kan, antara lain bacalah etiket kemasan bahan kimia yang ada.
Kenali sifatsifat bahan kimia ter sebut, apakah bahan tersebut dapat menyebabkan
gangguan atau iritasi terhadap tubuh atau tidak, dan guna kan alat pelindung,
baik untuk ta ngan, muka ataupun hidung agar terhindar dari bahaya bahan
kimia. Penggunaan bahan kimia berbahaya, jika mungkin harus dikurangi. Jika
penggunaannya tidak dapat dihindar kan, maka harus digunakan dalam batasbatas
aman, baik terhadap ma nusia, hasil produksi dan lingkungan.
10. Keracunan Pestisida
Pestisida adalah bahan kimia yang biasa dipergunakan untuk mengen dalikan
hama dan penyakit tanaman. Sifat pestisida tersebut sangat berbahaya terhadap
kesehatan karena dapat menyebabkan sakit atau ke matian. Berdasarkan cara
pengguna annya dikenal insektisida yang di semprotkan dalam bentuk aerosol
maupun pengasapan (fumigan). Keracunan insektisida cepat terjadi melalui
beberapa cara, seperti kulit, mulut atau hisapan udara melalui hidung. Keracunan
melalui kulit mudah terjadi jika kulit terbuka. Ka rena itu, proses pembuatan larutan
dan penyemprotan pestisida harus dilakukan secara hatihati dan meng gunakan
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

67

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

peralatan pelindung agar pestisida tidak terkena tubuh, seperti penggunaan


masker, sarung tangan, pakaian yang tertutup dan lainya.
lain:

Beberapa hal penting agar terhindar dari bahaya keracunan pestisida antara

Semua pestisida adalah racun berbahaya dan harus dihindari. Oleh sebab
itu harus dijauhkan dari makanan, minuman dan he wan ternak.

Jangan mencampur pestisida me lebihi takaran yang ditentukan pabrik


pembuatnya.

Perhatikan tandatanda peringatan pada kaleng kemasan, cara pe


nyimpanan dan cara pencampur annya, dan penggunaan.

Alatt pencampur dan penyimpan pestisida harus diletakkan terpisah dari


gudang dan dijauhkan dari jangkauan anak anak.

Hindari kontak langsung antara tubuh dengan pestisida. Kontak dengan


pestisida tidak boleh lebih dari 8 jam setiap harinya, karena dapat terjadi
penyerapan melalui kulit.

Hindari makan, minum dan me rokok sewaktu menyemprot insektisida.

Setelah menyemprot dengan pes tisida, cucilah pakaian dan badan


dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun.

Jangan menyemprotkan pestisida berlawanan arah angin

Jika alat penyemprot pestisida tersumbat, jangan sekalikali ditiup atau


dihisap dengan mulut.

Gunakan pelindung badan, ketika melakukan penyemprotan.

Tugas Aplikasi Konsep


1.

Lakukan pengamatan dan catat hal-hal berkaitan dengan penerapan


prosedur K3 di perusahaan pertanian atau perkebunan.

2.

Berdasarkan data yang Anda kumpulkan berapa jumlah pekerja yang


menerapkan prosedur K3 dan yang tidak menerapkannya.

3.

Kumpulkan keterangan/ alasan tentang pekerja yang tidak menerapkan


prosedur keselamatan kerja

68

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5. MenerapkanSistem manajemen kerja


e. Menjalankan pekerjaan sesuai dengan SOP
1.

Penerapan SOP K3

Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja para pekerja serta dalam
upaya peningkatan kualitas terhadap tingkat kepuasan pelang gan dari suatu
organisasi perusaha an yang menghasilkan produk ba rang atau jasa maka
diperlukan ada nya Standard Operating Procedure (SOP) atau dikenal dengan istilah
Prosedur Operasi Standar (POS). Produk pertanian atau perkebunan memiliki
sifat relatif mudah rusak, baik pengaruh faktor internal maupun eksternal. Akibat
pengaruh faktor internal yaitu bahwa secara alamiah produk pertanian atau
perkebunan bersifat biologis, sehingga pada proses penanganan sejak di kebun/
lahan sampai dengan dipanen terjadi proses metabolisme secara terus menerus.
Sehingga produk tersebut perlu prosedur penanganan atau operasi kerja terstandar
agar produk tidak rusak atau penurunan kualitas. Demikian pula pengaruh faktor
eksternal dapat memicu laju penurunan kualitas produk. Misal pengaruh kekeringan
dapat menimbulkan gangguan fisiologi tanaman yang diusaha kan sehingga dapat
terjadi kematian atau gagal panen. Demikian pula hasil panen yang tidak ditangani
secara baik hingga suhu dan ke lembaban tinggi dalam suatu ruang pasca panen
maka dapat terjadi kerusakan karena infeksi fungi. Memperhatikan fenomena resiko
yang dapat ditimbulkan akibat cara kerja yang tidak baik maka proses kegiatan
pertanian atau perkebunan memerlukan cara-cara kerja yang ber pedoman
pada standar. Penanganan proses produksi di kebun harus memperhatikan dan
menerapkan prinsip-prinsip budidaya yang baik dan benar yaitu dikenal dengan
istilah Good Agricultural Practices disingkat GAP. Perusahaan perkebunan besar biasa
nya telah memiliki suatu pedoman kerja dan standar prestasi kerja. Pedoman kerja
atau prosedur ope rasi standar disusun untuk pekerjaan di kebun atau di lahan
dan untuk pekerjaan pengolahan hasil dipabrik. SOP atau POS merupakan uraian
tahapan suatu pekerjaan yang harus diikuti oleh pekerja dalam melakukan suatu
pekerjaan. Sifatnya memberi penjelasan bagaimana suatu proses pekerjaan yang
seharusnya dijalan kan secara konsisten, efektif dan efisien agar dapat dicapai hasil
yang berkualitas. Produk berkualitas ada lah sesuai harapan pelanggan, har ganya
terjangkau dan mudah/cepat diperoleh.
2.

SOP budidaya pertanian dan SOP pasca panen

SOP budidaya tanaman perkebunan secara prinsip mencakup uraian tahapan


pekerjaan dimulai dari pe kerjaan:
a. Proses budidaya tanaman

Penyiapan lahan
Pembibitan tanaman
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

69

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penanaman tanaman
Pemeliharaan tanaman
Pemanenan
b. Standarisasi
c. Sarana budidaya tanaman
d. Pelestarian lingkungan
e. Pengawasan
Sedangkan SOP pada pekerjaan pasca panen meliputi:
a. Proses penanganan pasca panen
b. Standarisasi
c. Sarana pasca panen
d. Pelestarian Lingkungan
e. Pengawasan
SOP budidaya tanaman perkebunan pada setiap komoditas berbeda sub
stansinya. Demikian pula SOP pasca panen pada setiap komoditas ber beda
substansinya. Berikut ini disaji kan contoh kerangka SOP pasca panen kakao.
Anonim ( ) menjelaskan kerangka SOP pasca panen kakao yaitu :

I. Pendahuluan
A. Latar belakang
B. Maksud
C. Tujuan
D. Ruang lingkup
II. Pengertian
III. Proses Penanganan pasca panen kakao
A. Diagram alir/alur proses
B. Panen
C. Sortasi buah
D. Pemeraman atau penyimpanan buah
E. Pemecahan buah
F. Fermentasi biji
G. Perendaman dan pencucian
H. Pengeringan biji
70

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

I.Sortasi dan pengkelasan biji kering


J. Pengemasan dan penyimpanan biji
IV. Standarisasi
V. Prasarana dan Sarana Penanganan pasca panen kakao
VI. Pelestarian Lingkungan
VII. Pengawasan
Tujuan yang ingin dicapai dari pe nerapan SOP Penanganan Pasca Panen Kakao
adalah:
a. Mempertahankan dan meningkat kan mutu biji kakao
b. Menurunkan kehilangan hasil atau susut hasil kakao
c. Memudahkan dalam pengangkut an hasil kakao
d. Meningkatkan efisiensi proses penanganan pasca panen kakao
e. Meningkatkan daya saing hasil kakao
f.

Meningkatkan nilai tambah hasil kakao

Tugas Aplikasi Konsep


Setelah menyimak uraian tentang pelaksanaan kerja sesuai dengan SOP maka
jawablah pertanyaan se bagai berikut :
1.

Bila suatu perusahaan perkebun an tidak memiliki SOP kegiatan budidaya


tanaman, kesalahan apa saja yang dapat ditimbulkan oleh pekerja?

2.

Bila suatu perusahaan perkebun an memiliki SOP kegiatan budi daya tanaman,
apa manfaat bagi pekerja?

3.

Bila suatu perusahaan perkebun an memiliki SOP kegiatan budi daya tanaman,
apa manfaat bagi pengusaha?

4.

Bila Anda mengamati dua ke lompok pekerja yang satu me ngikuti SOP dan
lainya bekerja tanpa SOP. Kelompok manakah yang akan melakukan proses
dan hasil kerja yang berkualitas. Jelaskan!

5.

Bila bekerja sesuai SOP maka akan diperoleh hasil yang ber kualitas dan waktu
yang efisien. Mengapa demikian?Jelaskan !

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

71

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

6. Melaksanakan pertolongan pertama pada kecelakaan


Kondisi darurat merupakan keadaan berbahaya, biasanya bersifat semen
tara (relatif singkat). Misalnya ke celakaan, kebakaran, dan sebagai nya. Dalam
kondisi berbahaya dan berlangsung dalam tempo tidak ter lalu lama, maka sangat
diperlukan prosedur untuk mengatasinya

a. Penanganan Kondisi Darurat di Lapangan (Pertolongan Pertama


pada Kecelakaan)
Banyak resiko pekerjaan yang akan terjadi di lapangan, yang dihadapi
oleh pekerja dalam bidang pertanian, khususnya di bidang perkebunan. Resiko
tersebut mulai dari halhal yang kecil seperti anggota tubuh terluka, digigit hewan
berbisa, keracunan bahan kimia/ pestisida dan lainlain yang mungkin terjadi. Bila
bekerja di lapangan, biasanya lokasi tempat bekerja jauh dari pemukiman. Jika
terjadi kecelakaan maka kepada setiap pekerja harus dibekali kemampuan untuk
memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan. Pertolongan Pertama (PP)
adalah perawatan pertama yang diberikan kepada orang yang mendapat kecelakaan
atau sakit yang tiba-tiba datang sebelum mendapatkan per olongan dari tenaga
medis. Hal Ini berarti :
1.

Pertolongan Pertama harus diberi kan secara cepat walaupun pe rawatan


selanjutnya tertunda.

2.

Pertolongan Pertama harus tepat sehingga akan meringankan sakit bukan


menambah sakit korban.

Umumnya para pekerja bidang pertanian berada di lapangan, bekerja dalam


kelompok kecil di lokasi ter pisah, sehingga setiap pekerja harus dilatih tentang PP.
Beberapa ke trampilan dasar yang perlu dikuasai adalah bagaimana melakukan
resusitasi jantung paru (RJP), bagaimana mengatasi korban tersedak, bagaimana
mengatasi korban per darahan, bagaimana mengatasi kor ban patah tulang,
bagaimana me ngatasi korban luka bakar dan lain sebagainya. Pelatihan pertolongan
pertama harus dilakukan secara berulang pada interval yang teratur, untuk memasti
kan bahwa ketrampilan dan penge tahuan tidak ketinggalan jaman atau dilupakan.
Ketetapan tentang fasilitas PP dan personil yang terlatih harus ditetapkan melalui
peraturan Alat atau kotak PPPK yang dirawat dengan baik harus siap tersedia di
tempat kerja dan dilindungi terhadap pencemaran, kelembaban dan ko toran.
Wadah ditandai dengan jelas dan tidak berisi apapun selain peralat an PPPK. Semua
operator harus diberitahu tentang lokasi peralatan PPPK dan prosedur untuk mem
peroleh persediaan. Kotak PPPK

72

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b. Prosedur Penanganan Darurat di ikuti Berdasarkan Standar


Perusahaan dan Persyaratan Kerja
Bagi organisasi perusahaan perke bunan besar, biasanya dalam pe nanganan
kondisi darurat mengguna kan prosedur sesuai standar yang te lah ditetapkan.
Untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan di tempat ker ja, ada beberapa hal yang
harus dipahami oleh semua pihak, antara lain :
1.

Pengusaha harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk


mengidentifikasi resiko keselamat an dan kesehatan kerja secara sistematis
yang mungkin timbul dari pekerjaan di bidang pertanian /perkebunan.

2.

Identifikasi meliputi potensi baha ya dan resiko yang nyata dan potensi
timbulnya kecelakaan ker ja dan situasi darurat.

3.

Untuk masingmasing kegiatan dan tugas harus dilakukan eva luasi resiko.
Setiap resiko harus diidentifikasi dan dicatat.

4.

Prosedur harus dipelihara untuk mengevaluasi resiko dan penga ruh dari
potensi bahaya yang ter identifikasi, dengan memperhati kan frekuensi
kecelakaan yang sering terjadi.

5.

Berdasarkan hasil evaluasi resiko, perusahaan harus menetapkan tujuan untuk


menurunkan resiko sampai tingkat serendah mungkin, dan melaksanakan
tindakan pen cegahan yang sesuai.

6.

Para manajer, penyelia dan peker ja harus terlibat dalam identifikasi resiko
dan pengaruhnya terhadap keselamatan, kesehatan atau ling kungan kerja.

Pasmajaya (2008) menjelaskan bah wa prinsip dasar penanganan keada an


darurat di antaranya :
1.

Pastikan Anda bukan menjadi kor ban berikutnya. Seringkali lengah atau
kurang berpikir panjang bila menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum
menolong korban, pe riksa dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau
masih dalam bahaya.

2.

Pakailah metode atau cara per tolongan yang cepat, mudah dan efesien.

3.

Pergunakanlah sumber daya yang ada; baik alat, manusia maupun sarana
pendukung lainnya. Bila bekerja dalam tim, buatlah pe rencanaan yang
matang dan dipahami oleh seluruh anggota.

4.

Buatlah catatan usaha-usaha pertolongan yang telah dilakukan yakni memuat


identitas korban, tempat dan waktu kejadian. Catatan tersebut berguna bagi
penderita untuk mendapat rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak
lain.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

73

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sedangkan tahapan secara umum pertolongan pertama yaitu :


1.

Jangan Panik

2.

Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya

3.

Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.

4.

Perhatikan tanda-tanda shock

5.

Jangan memindahkan korban secara terburu-buru.

6.

Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan.

Beberapa contoh kasus dan tindakan pertolongan pertama (pasmajaya, 2008)


yaitu sebagai berikut:
1.

Pingsan (Syncope/collapse) yaitu hilangnya kesadaran sementara karena


otak kekurangan O2, lapar, terlalu banyak mengeluarkan te naga, dehidrasi
(kekurangan cair an tubuh), hiploglikemia, animea.

Gejala

Perasaan limbung
Pandangan berkunang-kunang
Telinga berdenging
Nafas tidak teratur
Muka pucat
Biji mata melebar
Lemas
Keringat dingin
Menguap berlebihan
Tak respon (beberapa menit)
Denyut nadi lambat

2.

74

Penanganan
Baringkan korban dalam posisi
terlentang
Tinggikan tungkai melebihi ting gi
jantung
Longgarkan pakaian yang me
ngikat dan hilangkan barang yang
menghambat pernafasan
Beri udara segar
Periksa kemungkinan cedera lain
Selimuti korban
Korban diistirahatkan beberapa saat
Bila tak segera sadar, periksa
nafas dan nadi, posisi stabil
kemudian rujuk ke instansi ke
sehatan

Dehidrasi yaitu suatu keadaan dimana tubuh mengalami ke kurangan cairan.


Hal ini terjadi apabila cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi cairan yang
ma suk. Keluarnya cairan ini biasanya disertai dengan elektrolit (K, Na, Cl,
Ca). Dehidrasi disebabkan ka rena kurang minum dan disertai kehilangan
cairan/banyak keringat karena udara terlalu panas atau aktivitas yang terlalu
berlebihan.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3.

Gejala

Penanganan

Gejala dehidrasi ringan


Kekurangan cairan 5% dari berat badan
Penderita merasa haus
Denyut nadi lebih dari 90 kali per menit
Gejala dehidrasi sedang
Kekurangan cairan antara 5%-10% dari berat
badan
Denyut nadi lebih dari 90 kali per menit
Nadi lemah
Sangat haus
Gejala dehidrasi berat
Defisit cairan lebih dari 10% dari berat badan
Hipotensi
Mata cekung
Nadi sangat lemah, sampai tak terasa
Kejang-kejang

Mengganti cairan yang


hilang dan mengatasi
shock
Mengganti elektrolit
yang le mah
Mengenal dan mengatasi
kom plikasi yang ada
Memberantas
penyebabnya
Rutinlah minum jangan
tunggu haus

Asma yaitu penyempitan/ gangguan saluran pernafasan


Gejala

Sukar bicara tanpa berhenti, untuk


menarik nafas
Terdengar suara nafas tambah an
Otot Bantu nafas terlihat me nonjol
(dileher)
Irama nafas tidak teratur
Terjadinya perubahan warna kulit
merah/pucat/ kebiruan/ sianosis)
Kesadaran menurun (gelisah/
meracau)
4.

Penanganan

Tenangkan korban
Bawa ketempat yang luas dan
sejuk
Posisikan duduk
Atur nafas
Beri (bantu) oksigen bila
diperlukan

Memar yaitu pendarahan yang terjadi di lapisan bawah kulit akibat dari
benturan keras
Gejala

Warna kebiruan/merah pada kulit


Nyeri jika di tekan
Kadang disertai bengkak

Penanganan
Kompres dingin
Balut tekan
Tinggikan bagian luka

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

75

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5.

Luka yaitu suatu keadaan terputus nya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba
karena kekerasan/injury.
Gejala

Terbukanya kulit
Pendarahan
Rasa nyeri

6.

Penanganan
Bersihkan luka dengan anti septic
(alcohol/boorwater)
Tutup luka dengan kasa steril/
plester
Balut tekan (jika pendarahan nya
besar)
Jika hanya lecet, biarkan ter buka
untuk proses pengeringan luka

Luka bakar yaitu luka yang terjadi akibat sentuhan tubuh dengan bendabenda yang menghasilkan panas (api, air panas, listrik, atau zat-zat yang
bersifat membakar).
Gejala

Penanganan

Matikan api dengan memutuskan


suplai oksigen
Perhatikan keadaan umum
penderita
Pendinginan yaitu dilakukan de
ngan membuka pakaian penderita/
korban. Kemudian, merendam
dalam air atau air mengalir selama
20 atau 30 menit. Untuk daerah
wajah, cukup di kompres air.

Luka ditutup dengan perban atau


kain bersih kering yang tak dapat
melekat pada luka
Penderita dikerudungi kain pu tih
Luka jangan diberi zat yang tak larut
dalam air seperti mentega, kecap
Khusus untuk luka bakar di daerah
wajah, posisi kepala harus lebih
tinggi dari tubuh

7.

Gigitan binatang; gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupa kan alat
dari binatang tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau
sesuatu yang me ngancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi
menjadi dua jenis; yang berbisa (beracun) dan yang tidak memiliki bisa. Pada
umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar dari pada luka
biasa.
Gejala

76

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Penanganan
Cucilah bagian yang tergigit dengan
air hangat dengan sedikit antiseptik.
Bila pendarahan, segera dirawat
kemudian dibalut.

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

8.

Gigitan ular; tidak semua ular ber bisa, akan tetapi hidup penderita/ korban
tergantung dari ketepatan diagnosa, maka pada keadaan yang meragukan
ambillah sikap menganggap bahwa ular tersebut berbisa. Sifat bisa atau
racun ular terbagi menjadi 3, yaitu :
Gejala

Hematotoksin (keracunan
dalam)
Neurotoksin (bisa/racun
menye rang sistem saraf )
Histaminik (bisa
menyebabkan alergi pada
korban)

Penanganan
Terlentangkan/ baringkan pen derita
dengan bagian yang ter gigit lebih rendah
dari jantung.
Tenangkan penderita, agar pen jalaran bisa/
racun ular tidak se makin cepat
Cegah penyebaran bisa pende rita dari
daerah gigitan yaitu:
Torniquet di bagian proximal daerah gigitan
pembengkak an untuk membendung se
bagian aliran limfa dan vena, tetapi tidak
menghalangi alir an arteri. Torniquet /
toniket dikendorkan setiap 15 menit selama
+ 30 detik
Letakkan daerah gigitan dari tubuh
Lakukan kompres es,
Usahakan agar penderita setenang
mungkin, bila perlu berikan petidine 50 mg/
im untuk menghilangkan rasa nyeri.
Perawatan luka
Hindari kontak luka dengan larutan asam
KMn04, yo dium atau benda panas
Zat anestetik disuntikkan sekitar luka jangan
ke dalam lukanya, bila perlu pengeluar an
ini dibantu dengan pe ngisapan melalui
breast pump sprit atau dengan isapan mu lut
sebab bisa ular tidak ber bahaya bila ditelan
(selama tidak ada luka di mulut).
Bila memungkinkan, berikan suntikan anti
bisa (antifenin)
Perbaikan sirkulasi darah
Kopi pahit pekat
Kafein nabenzoat 0,5 gr im/iv
Bila perlu diberikan pula vasakonstriktor

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

77

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

9.

Gigitan lipan
Gejala

Ada sepasang luka bekas gigitan


Sekitar luka bengkak, rasa ter
bakar, pegal dan sakit biasanya
hilang dengan sendirinya se telah
4-5 jam

Penanganan
Kompres dengan air dingin dan cuci
dengan obat antiseptik
Beri obat pelawan rasa sakit, bila
gelisah bawa ke paramedik

10. Gigitan Lintah dan Pacet


Gejala
Pembengkakan, gatal dan ke
merah-merahan (lintah)

Penanganan
Lepaskan lintah/pacet dengan
bantuan air tembakau/ air garam
Bila ada tanda-tanda reaksi
kepekaan, gosok dengan obat atau
salep anti gatal

Kemudian hal yang perlu diketahui seorang pekerja dalam memberikan


pertolongan kepada pihak lain dapat berupa evakuasi korban. Bentuk bantuan
evakuasi korban yaitu merupakan salah satu tahapan dalam pertolongan pertama
untuk memin dahkan korban ke lingkungan yang aman dan nyaman, agar men
dapatkan pertolongan medis lebih lanjut.
Prinsip evakuasi adalah :
a. Dilakukan jika mutlak perlu
b. Menggunakan teknik yang baik dan benar
c. Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta
memiliki semangat untuk me nyelamatkan korban dari bahaya yang
lebih besar atau bahkan kematian.

c. Alat Pengangkutan
Untuk melaksanakan proses evakusi korban ada beberapa cara atau alat bantu,
namun hal tersebut sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi (medan, kondisi
korban ketersediaan alat). Ada dua macam alat pengangkutan, yaitu:
1.

Manusia
Manusia sebagai pengangkutnya langsung. Peranan dan jumlah pe ngangkut
mempengaruhi cara angkut yang dilaksanakan. Bila petugas penolong satu
orang maka korban dapat dievakuasi dengan cara :

78

Dipondong; untuk korban ringan dan anak-anak


Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Digendong; untuk korban sadar dan tidak terlalu berat serta tidak patah
tulang

Dipapah; untuk korban tanpa luka di bahu atas

Dipanggul/digendong

Merayap posisi miring

Bila petugas penolong dua orang maka korban dapat dievakuasi dengan
memperhatikan yaitu pengangkutannya tergantung cidera penderita
tersebut dan diterapkan bila korban tak perlu diangkut berbaring dan tidak
boleh untuk mengangkut korban patah tulang leher atau tulang punggung.
Karena itu cara evakuasi dapat dilakukan dengan cara:
a. Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan

2.

Model membawa balok


Model membawa kereta

Alat bantu evakuasi


Selain manusia, alat bantu evakuasi dapat digunakan :

Tandu permanen

Tandu darurat

Kain keras/ponco/jaket lengan panjang

Tali/webbing

d. Pelaporan, Pencatatan, Penyelidikan dan Pemberitahuan Penyakit


dan Kecelakaan Kerja.
Pelaporan, pencatatan, pemberitahu an dan penyelidikan tentang kece lakaan
dan penyakit akibat kerja ha rus dilaksanakan untuk :
1.

Menyediakan informasi yang da pat dipercaya tentang kecelakaan dan


penyakit akibat kerja pada tingkat perusahaan.

2.

Mengidentifikasi permasalahan ke selamatan dan kesehatan kerja utama


yang timbul dari kegiatan perkebunan.

3.

Menentukan prioritas tindakan.

4.

Meningkatkan cara efektif yang berkaitan dengan kecelakaan dan penyakit


akibat kerja.

5.

Memantau keefektifan tingkat ke puasan keselamatan dan kesehat an kerja.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

79

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Para pekerja dan wakil mereka harus diberi informasi yang tepat oleh
pengusaha, mengenai pengaturan, pelaporan, pencatatan dan pemberi tahuan
informasi tentang kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Keadaan berikut merupakan
hal yang harus dilaporkan dan diberitahukan :
a. Semua kecelakaan fatal
b. Kecelakaan kerja yang menye babkan hilangnya waktu kerja, dan
kerugian tidak bermakna.
c. Semua penyakit akibat kerja, yang terjadi pada setiap orang, apakah
orang yang dipekerjakan atau usaha mandiri.
Untuk manajemen keselamatan dan kesehatan kerja internal, pencatatan
pada tingkat perusahaan diperluas dari syaratsyarat yang ditetapkan di atas, yaitu
kecelakaan selama per jalanan pulang pergi, kecelakaan dan kejadian berbahaya
yang tidak me nyebabkan hilangnya waktu kerja.
Pelaporan, pencatatan, pemberitahuan dan penyelidikan tentang ke celakaan
dan penyakit akibat kerja harus mengikuti prosedur standar. Semua kecelakaan dan
penyakit akibat kerja harus dilaporkan secara tertulis dengan menggunakan suatu
format standar. Informasi mengenai kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang harus
diberitakan dan format standar pemberitahuan yang disaran kan harus ditetapkan
melalui peratur an secara nasional.
Kecelakaan dan penyakit akibat kerja harus diberitahukan kepada yang
disyaratkan oleh peraturan, antara lain kepada :
a. Keluarga korban kecelakaan, yang harus diberitahukan secepat
mungkin:
b. Otoritas yang kompeten;
c. Otoritas gantirugi yang sesuai (sebagai contoh jaminan sosial atau
penjamin asuransi)
d. Badan/ instansi yang menyusun statistik keselamatan dan kesehatan
kerja nasional.
e. Badan/instansi lain yang terkait.

7. Pencegahan merupakan cara yang paling efektif


Dua hal terbesar yang menjadi penyebab kecelakaan kerja yaitu : perilaku
yang tidak aman dan kondisi lingkungan yang tidak aman, berdasarkan data dari
Biro Pelatihan Tenaga Kerja, penyebab kecelakaan yang pernah terjadi sampai saat
ini adalah diakibatkan oleh perilaku yang tidak aman sebagai berikut:
a. sembrono dan tidak hati hati
80

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b. tidak mematuhi peraturan


c. tidak mengikuti standar prosedur kerja
d. tidak memakai alat pelindung diri
e. kondisi badan yang lemah
Persentase penyebab kecelakaan kerja yaitu 3% dikarenakan sebab yang tidak
bisa dihindarkan (seperti bencana alam), selain itu 24% dikarenakan lingkungan
atau peralatan yang tidak memenuhi syarat dan 73% dikarenakan perilaku yang
tidak aman. Cara efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja adalah dengan
menghindari terjadinya lima perilaku tidak aman yang telah disebutkan di atas.

B. Rangkuman
1.

Jenis-jenis bahaya di tempat kerja meliputi bahaya khusus dan bahaya umum.
Bahaya khusus adalah bahaya yang ditimbulkan dari sarana dan prasarana
kerja, sedangkan bahaya umum adalah bahaya yang disebabkan oleh
karyawan itu sendiri.

2.

Tanda peringatan bahaya ditempat kerja ada yang berupa gambar, kata-kata
himbauan, lampu warna, dan isyarat tubuh. Sedangkan tanda telah terjadinya
bahaya ditempat kerja dapat berupa alarm kebakaran, alarm pencurian, alarm
kebocoran gas, sirine ambulan dan suara tembakan.

3.

Diantara situasi yang dapat menimbulkan bahaya ditempat kerja dapat


bersumber dari fisik, biologis, kimia, faal, dan psikologis.

4.

Diantara ciri-ciri karakteristik tamu atau pelanggan yang mencurigakan


adalah sebagai berikut.
a. Berbelit-belit dalam bicara
b. Tatapan mata tidak focus
c. Lirikan mata cepat
d. Tidak ada kesimpulan pembicaraan
e. Mengulur waktu
f.

Posisi tubuh berpaling dari hadapan pembicaraan

g. Pembicaraan tidak nyambung


h. Tidak ada kesesuaian antara bahasa lisan dan bahasa tubuh
5.

Prosedur penanganan keadaan darurat diperusahaan/ditempat umum telah


dimuat dalam bentuk tata tertib dan aturan keperilakuan, diantaranya sebagai
berikut.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

81

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

a. Setiap karyawan harus menjaga keselamatan dirinya dan karyawan


yang lainnya.
b. Wajib memakai alat-alat keselamatan kerja yang telah disediakan oleh
perusahaan.
c. Mematuhi ketentuan-ketentuan mengenai keselamatan kerja dan
perlindungan kerja yang berlaku.
d. Apabila karyawan menemui hal-hal yang dapat membahayakan
terhadap keselamatan terhadap karyawan di perusahaan, harus segera
melaporkannya kepada pimpinan perusahaan atau atasannya.
e. Diluar waktu kerja yang ditetapkan oleh perusahaan, setiap buruh tidak
diperbolehkan memakai/menggunakan alat-alat atau perlengkapan
kerja milik perusahaan untuk kepentingan pribadi.
f.

Setiap pekerja wajib memelihara alat-alat/perlengkapan kerja dengan


baik dan teliti

Tugas Aplikasi Konsep


Jelaskan makna dari P3K !
1.

Bila Anda seorang pekerja me mahami tentang K3, persiapan apa saja
berkaitan dengan P3K ?

2.

Jenis kecelakaan apa saja yang sering terjadi pada kegiatan bu didaya
tanaman ?

3.

Ketrampilan apa saja yang harus Anda miliki agar dapat mengobati diri sendiri
atau menolong orang lain yang mendapat suatu ke celakaan kerja ?

Tugas Penyelesaian Masalah


1.

Para pekerja di perkebunan, biasa nya bekerja secara terpencar sesuai


ancak atau blok-blok tanaman. Da lam melakukan tugasnya, pekerja sering
berhadapan dengan resiko kecelakaan binatang buas dan berbisa. Berkaitan
dengan kondisi di atas, perlengkapan apa saja yang perlu dipersiapkan agar
Anda selamat dalam bekerja di lapangan ?

2.

Tindakan apa sebagai pertolongan pertama yang akan Anda berikan kepada
teman saudara bila terluka atau terkena gigitan ular ?

82

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kegiatan Belajar 4

Istilah dan Batasan


Kesehatan Lingkungan

A. Uraian Materi
Ada 7 pengertian yang dikemukakan para ahli tentang kesehatan lingkungan
addalah sebagaai berikut:
1.

Menurut WHO (World Health Organization, 2005) : Environment health refers


to ecological balance that must exist between man and his environment in order
to ensure his weel being. Kesehatan Lingkungan merupakan terwujudnya
keseimbangan ekologis antara manusia dan lingkungan harus ada, agar
masyarakat menjadi sehat dan sejahtera.
Sehingga Kesehatan Lingkungan menurut WHO adalah: Those a spects of
human health and disease that are determined by factors in the environment
that can potentially affect health. Atau bila disimpulkan suatu keseimbangan
ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin
keadaan sehat dari manusia.

2.

Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) : Kesehatan


lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang
keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya
untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan
bahagia.
Dalam pengertian ini titik pusat pandang dari kesehatan Lingkungan adalah
bahwa tercapainya tujuan kesehatan yaitu masyarakat sehat dan sejahtera
apabila kondisi lingkungan sehat.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

83

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3.

Menurut P. Halton Purdon (1971) :


Pengertian Kesehatan Lingkungan adalah sebagai suatu upaya Kesehatan
Lingkungan merupakan bagian dari dasar-dasar kesehatan bagi masyarakat
modern, kesehatan lingkungan adalah aspek kesehatan masyarakat yang
meliputi semua aspek kesehatan manusia dalam hubungannya dengan
lingkungan. Tujuannya untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat padaq tingkat yang setinggi-tingginya dengan jalan
memodifikasi faktor sosial, faktor fisik lingkungan, sifat-sifat dan kelakuan
lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan.

4.

Menurut Umar Fahmi Acmadi (1991) :


Kesehatan lingkungan adalah ilmu yang mempelajari keterkaitan antara
kualitas lingkungan dengan kondisi kesehatan suatu masyarakat. Ilmu
Kesehatan Lingkungan mempelajari dinamika hubungan interaktif antara
kelompok penduduk dengan segala macam perubahan komponen
lingkungan hidup yang menimbulkan ancaman atau berpotensi mengganggu
kesehatan masyarakat.

5.

Menurut kalimat yang merupakan gabungan (Sintesa dari Azrul Azwar,


Slamet Riyadi, WHO dan Sumengen) Kesehatan lingkungan merupakan
upaya perlindungan, pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang diarahkan
menuju keseimbangan ekologi pada tingkat kesejahteraan manusia yang
semakin meningkat.

6.

Menurut Notoatmojo, 1996 :


Pengertian kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau
keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap
terwujudnya status kesehatan yang optimum pula.

7.

Moeller, 1992 : menyatakan bahwa keesehatan lingkungan merupakan


bagian dari kesehatan masyarakat yang memberi pengertian pada penilaian,
pemahaman, dan pengendalian dampak manusia pada lingkungan dan
dampak lingkungan pada manusia.

1. Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan


Menurut WHO ada 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan:
1.

Penyediaan Air Minum

2.

Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran

3.

Pembuangan Sampah padat

4.

Pengendalian Vektor

5.

Pencegahan/Pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia

84

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

6.

Hygiene makanan, termasuk hygiene susu

7.

Pengendalian pencemaran udara

8.

Pengendalian radiasi

9.

Kesehatan kerja

10. Pengendalian kebisingan


11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitrasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/
wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan
Pasal 163 ayat (3) Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
menyatakan bahwa lingkungan sehat adalah lingkungan yang terbebas dari unsureunsur yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, antara lain:
1.

Limbah cair

2.

Limbah padat

3.

Limbah gas

4.

Sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan


pemerintah

5.

Binatang pembawa penyakit

6.

Zat kimia yang berbahaya

7.

Kebisingan yang melebihi ambang batas

8.

Radiasi sinar pengion dan no-pengion

9.

Air yang tercemar

10. Udara yang tercemar


11. Makanan yang terkontaminasi
Kemudian pada pasal 163 ayat (2) Undang-Undang No. 36 tahun 2009
tentang Kesehatan menyatakan cakupan lingkungan sehat, antara lain:
1.

Lingkungan pemukiman
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

85

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

Tempat kerja

3.

Tempat rekreasi

4.

Tempat dan fasilitas umum

2. Faktor-Faktor Lingkungan yang Dapat Mempengaruhi


Kesehatan
a. Lingkungan Rumah
Adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah
atau tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perkembangan.
Pada zaman purba manusia bertempat tinggal di gua-gua, kemudian berkembang,
dengan mendirikan rumah tempat tinggal di hutan-hutan dan di bawah pohon.
Sampai pada abad modern ini manusia sudah membangun rumah (tempat
tinggalnya) bertingkat dan diperlengkapi dengan perlengkapan yang serba modern.
Sejak zaman dahulu pula manusia telah mendesain rumahnya, dengan ide mereka
masing-masing yang dengan sendirinya berdasarkan kebudayaan masyarakat
setempat dan membangun rumah mereka dengan bahan yang ada setempat
(local material) pula. Setelah manusia memasuki abad modern ini meskipun rumah
mereka dibangun dengan bukan bahan-bahan setempat, tetapi kadang-kadang
desainnya masih mewarisi kebudayaan generasi sebelumnya.

b.

Lingkungan Udara (atmosfir)

Karena Pencemaran udara dapat menimbul dampak terhadap kesehatan


harta benda, ekosistem maupun iklim. Umumnya gangguan kesehatan sebagai
akibat pencemaran udara terjadi pada saluran pernafasan dan organ penglihatan.
Salah satu dampak kronis dari pencemaran udara adalah bronchitis dan emphysema
dalam Ricki M. Mulia,
2005 : 13, menurut Harssema (1998) dalam Ricki M. Mulia,
2005 : 17 pencemaran udara diawali oleh adanya emisi. Emisi merupakan jumlah
pollutant (pencemar) yang dikeluarkan ke udara dalam satuan waktu. Emisi dapat
disebabkan oleh proses alam maupun kegiatan manusia.

c. Lingkungan Air (Hidrosfir)


Adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat
meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Di dalam tubuh
manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 5560% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65%, dan untuk bayi sekitar
80% (Notoatmodjo,2003). Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain
untuk minum , masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya.
86

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Menurut perhitungan WHO di Negara-negara maju tiap orang memerlukan air 60120 liter perhari. Sedangkan di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia
tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter perhari. Diantara kegunaan-kegunaan
air tersebut, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu,
untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan,
khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.

d. Tanah
Merupakan bagian tertipis dari seluruh lapisan bumu, tetapi pengaruhnya
terhadap lingkungan sangat besar. Hubungan tanah dengan mahluk hidup
sangat sangat erat, tanah menyediakan berbagai sumber daya yang bergunabagi
kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya. Selainya itu, tanah juga
merupakan habitat alamiah bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu
sudah selayaknya manusia memelihara kualitas tanah agar hidup sejahtera. Kegiatan
hutan seperti kerusakan hutan, perladangan berpindah-pindah dan penggalian
lahan secara besar-besaran sangat mempengaruhi kondisi tanah. Disamping itu,
tanah yang terkontraminasi dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran air tanah.

e. Makanan
Hubungan makanan dengan kesehatan secara garis besar dapat disebabkan
karena menurunnya kandungan gizi, makanan berperan sebagai media penularan
penyakit (vehicle), makanan mengandung loksin bakteri, makanan mengandung
racun alami, makanan mengandung kontaminasi kimia, dan makanan mengandung
zat adiktif berbahaya.

3. Tujuan mempelajari pengetahuan lingkungan


Tiga tujuan utama dari mempelajari pengetahuan lingkungan adalah :
1.

Untuk memberikan pemahaman mengenai konsep-konsep dasar tentang


manusia dan lingkungannya;

2.

Untuk mengetahui dasar-dasar kemampuan untuk melakukan analisis


mengenai permasalahan lingkungan aktual baik yang terjadi di tingkat local,
regional ataupun global;

3.

Untuk memahami contoh-contoh solusi alternatif tentang bagaimana


mengatasi permasalahan lingkungan melalui pendekatan ekologis dan
penerapan teknologis

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

87

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Adapun manfaat dari mempelajari pengetahuan lingkungan, yaitu :


1.

Untuk memgetahui seberapa besar kekayaan alam

2.

Agar dapat mengetahui dan memahami tentang cara mengelola dan


memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara berkelanjutan

3.

Agar dapat mengetahui cara melestarikan lingkungan dengan baik

Tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan dapat dibagi menjadi dua,
secara umum dan secara khusus. Tujuan dan ruang lingkup secara umum antara
lain
1.

Melakukan koreksi atau perbaikan terhadap segala bahaya dan ancaman


pada kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.

2.

Melakukan usaha pencegahan dengan cara mengatur sumber-sumber


lingkungan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan
hidup manusia.

3.

Melakukan kerja sama dan menerapkan program terpadu di antara masyarakat


dan institusi pemerintah serta lembaga nonpemerintah dalam menghadapi
bencana alam atau wabah Penyakit menular.

Adapun tujuan dan ruang lingkup secara khusus meliputi usaha-usaha


perbaikan atau pengendalian terhadap lingkungan hidup manusia, yang di
antaranya berupa:
1.

Menyediakan air bersih yang cukup memenuhi persyaratan kesehatan.

2.

Makanan dan minuman yang diproduksi dalam skala besar dan dikonsumsi
secara luas oleh masyarakat.

3.

Pencemara udara akibat sisa pembakaran BBM, batubara, kebakaran hutan,


dan gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan mahluk hidup lain dan
menjadi penyebab terjadinya perubahan ekosistem.

4.

Limbah cair dan padat yang berasal dari rumah tangga, pertanian, peternakan,
industry, rumah sakit dan lain-lain.

5.

Control terhadap arthropoda dan rodent yang menjadi vector penyakit dan
cara memutuskan rantai penularan penyakitnya.

6.

Perumahan dan bangunan yang layak huni dan memenuhi syarat kesehatan.

7.

Kebisinga, radiasi, dan kesehatn kerja.

8.

Survei sanitasi untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program


kesehataan lingkungan.

88

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

4. Cara menjaga kualitas lingkungan


Agar kualitas lingkungan tidak menurun atau tercemar, maka perlu
diadakan pengawasan. Seperti pengelolaan kuualitas udara, pengelolahan kualitas
air, pemulihan tanah terkontaminasi, sanitasi makanan. Cara untuk menjaga kualitas
lingkungan tesebut diantaranya yakni :

a. Pembuangan kotoran manusia


Untuk mencegah sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap
lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik,
maksudnya pembuangan kotoran harus disuatu tempat tertentu atau jamban yang
sehat. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan.

b. Sampah dan pengelolahannya


Sampah adalah suatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi
oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan
manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat amerika membuat batasan,
sampah adalah (waste) adalah suatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi, atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia, dan
tidak terjadi dengan sendirinya.
Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah merupakan hasil suatu kegiatan
manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga bukan semua benda
padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya : benda-benda
alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat dari gunung meletus, banjir, pohon
di hutan yang tumbang akibat angin ribut, dan sebagainya.
Kalau kita berbicara sampah, sebenarnya meliputi 3 jenis sampah yakni :
sampah padat, sampah cair , dan sampah dalam bentuk gas (fumu, noke).
Sampah erat kaitanya dengen kesehatan masyarakat, karena dari sampahsampah tersebut akan hidup berbagai macam mikro organism penyebab penyakit
(bacteri pathogen), dan juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar
penyakit (vector). Oleh sebab itu sampah harus dikelola dengan baik sampai sekecil
mungkin tidak menggangu atau mengancam kesehatan masyarakat. Pengelolaan
sampah yang baik, bukan saja untuk kepentingan kesehatan saja, tetapi juga
untuk keindahan lingkungan. Yang dimaksud dengan pengelolaan sampah disini
adalah meliputi pengumpulan, pengangkutan, sampai dengan pemusnahan atau
pengelolaan sampah sedemikian rupa sehingga sampah tidak menjadi gangguan
kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

89

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5. Tujuan pemeliharaan kesehatan lingkungan


a. Mengurangi pemanasan global
Dengan menanam tumbuhan sebanyak-banyaknya pada lahan kosong,
maka kita juga ikut serta mengurangi pemanasan global, karbon, zat O2 (oksigen)
yang dihasilkan tumbuh-tumbuh dan zat tidak langsung zat CO2 (karbon) yang
menyebabkan atmosfer bumi berlubang ini terhisap oleh tumbuhan dan secara
langsung zat O2 yang dihasilkan tersebut dapat dinikmati oleh manusia tersebut
untuk bernafas.

b. Menjaga kebersihan lingkungan


Dengan lingkungan yang sehat maka kita harus menjaga kebersihannya,
karena lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih dari segala penyakit
dan sampah. Sampah dapat dibersihkan dengan cara-cara sebagai berikut :
1.

2.

Membersihkan sampah organik


Sampah organic adalah sampah yang dapat dimakan oleh zat-zat
organic di dalam tanah, maka sampah organic dapat dibersihkan dengan
mengubur dalam-dalam sampah organic tersebut, contoh sampah
organik :
Daun-daun tumbuhan
Ranting-ranting tumbuhan
Akar-akar tumbuhan
Membersihkan sampah non organic
Sampah non organic adalah sampah yang tidak dapat hancur (dimakan
oleh zat organic) dengan sendirinya, maka sampah non organic dapat
dibersihkan dengan membakar sampah tersebut dan lalu menguburnya.

6. Masalah-masalah Kesehatan Lingkungan di Indonesia


Masalah kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk
mengatasinya dibutuhkan integrasi dari berbagai sector terkait. Di Indonesia
permasalahan-permasalahn dalam lingkup kesehatan lingkungan antara lain :

a. Air Bersih
Berdasarkan survey yang pernah dilakukan sebelumnya, hanya sekitar 60%
penduduk air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
Air minum Indonesia mendapatkan air bersih dari PDAM, terutama penduduk
90

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

perkotaan, selebihnya menggunakan sumur atau sumber lain. Bila musim kemarau,
krisis air dapat terjadi dan penyakit gastroenteristis mulai muncul dimana-mana.
Syarat-syarat kualitas air bersih diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.

Syarat fisik: tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna


Syarat kimia: kadar besi: maksimum yang dipeerbolehkan 0,3mg/1,
kesadahan (maks 500 mg/1)
Syarat mikrobiologis: koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)

b. Kesehatan Pemukiman
Daya dukung dan daya tampung lahan kota tidak mampu mengatasi urbanisasi
karena pada hakekatnya luas lahan tidak bertambah, namun para urban memaksa
untuk bertahan hidup meskipun terpaksa menempati pemukiman yang tidak
sesuain peruntukanya seperti bantaran sungai, kolong jembatan, bawah aliran listrik
tegangan tinggi (sutet) dan tempat-tempat lainya yang tidak bertuan. Kondisi ini
membawa konsekuansi yang tidak sehat bagi lingkungan perkotaa. Secara umum
rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut
1.

Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang


gerak yang cukup, terhindar dari keebisingan yang mengganggu

2.

Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang


sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah

3.

Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni


rumah dengan penyedian air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah
tangga, bebas vector penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak
berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman
dari pencemarn, disamping penghawaan dan pencahayaan yang cukup

4.

Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakan baik yang timbul


karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis
sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudahterbakar, dan tidak cenderung
membuat penghuninya jatuh tergelincir.

c. Tempat pembuangan sampah


Di hampir setiap tempat di Indonesia, system pembuangan sampah dilakukan
secara dumping tanpa ada pengolahan lebih lanjut system pembuangan semacam
itu selain memerlukan lahan yang cukup luas juga menyebabkan pencemaran pada
udara, tanah, dan air selain lahannya juga dapat menjadi tempat berkembangbiaknya
agens dan vector penyakit menular. Teknik pengelolaan sampah yang baik dan
benar harus memperhatikan faktor-faktor atau unsur, berikut :

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

91

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1.

Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah


adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan
atau tingkat sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan
teknologi

2.

Penyimpanan sampah

3.

Pengumpulan, pengelolaan dan pemanfaatan kembali

4.

Pengangkutan

5.

Pembuangan

d. Serangga dan binatang pengganggu


Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang
kemudian disebut sebagai vector misalnya: pinjal tikus untuk penyakit pes/
sampar, nyamuk anopheles sp untuk penyakit malaria, nyamuk aedes sp untuk
Demam Berdarah Dengue (DBD), nyamuk Culex sp untuk penyakit kaki gajah/
filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut diantaranya
dengan mernacang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff (rapat
tikus), kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan
nyamuk anopheles sp, gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat
penampungan air untuk mencegah penyakit DBD penggunaan kasa pada lubang
angin di rumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan
usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing
dapat menularkan penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi
perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulkan diare.
Tikus dapat menyebabkan leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang
terinfeksi bakteri penyebab.

e. Makanan dan minuman


Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah
makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan ditempat
penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum
selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan
makanan meliputi :
1.

Persyaratan lokasi pembangunan

2.

Persyaratan fasilitas sanitasi

3.

Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan

4.

Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi

92

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5.

Persyaratan pengelolaan makanan

6.

Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi

7.

Persyaratan peralatan yang digunakan

8.

Pencemaran lingkungan

f.

Pencemaran udara

Tingkat pencemaran udara di Indonesia sudah melebihi nilai ambang batas


normal terutama di kota-kota besar akibat gas-gas besar akibat gas buangan
kendaraan bermotor. Selain itu, hamper setiap tahun asap tetangga akibat
pembakaran hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan.

g. Pembuangan limbah
Limbah cair yang dihasilkan oleh rumah tangga atau industry atau sejenisnya
bercampur menjadi satu dan biasanya dibuang atau dialirkan kebadan sungai
dan mengalir kehilir sampai keteluk laut. Limbah cair yang tidak di proses melalui
instalasi pengelolaan air limbah (IPAL), tidak ramah lingkungan. Dampaknya kualitas
air sungai menurun, sehingga tidak dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
sumber air bersih.

h. Bencana alam
Kondisi geografis Indonesia cukup rentan terhadap bencana alam seperti
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan tanah longsor. Dampaknya penduduk
eksodus dan mengungsi. Oleh karena itu dengan kondisi tersebut dapat
menimbulkan permasalahan terhadap kesehatan lingkungan yang tidak pernah
tuntas dan tidak sehat

i.

Perencanaan tata kota dan kebijakan pemerintah

Perencanaan tata kota dan kebijakan pemerintah seringkali menimbulkan


permasalahan baru bagi kesehatan lingkungan. Misalnya pemberian izin tempat
pemukiman, gedung atau tempat industry baru tanpa didahului dengan study
kelayakan yang berwawasan lingkungan dapat menyebabkan terjadinya banjir,
pencemaraan udara, air, tanah serta masalah sosial lainnya.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

93

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

7. Prinsip Pengendalian Lingkungan


Ada 5 prinsip pengendalian lingkungan yaitu :

a. Isolasi
Adalah pemisahan menurut jarak atau tempat, perlindungan seseorang
terhadap wabah sebelum mencapai suatu tempat tertentu, dan perlindungan pada
mobilitas penduduk. Untuk melindungi terhadap radias, panas dan kebisingan
dapat dilakukan dengan prosedur isolasi dengan memperbesar jarak antara manusia
dengan sumber. Daerah berbahaya misalnya daerah wabah (contohnya mosquito
infected area) diisolasi sehingga orang tidak boleh secara leluasa masuk wilayah itu.
Mobilitas penduduk dibatasi, dan tidak boleh memasuki wilayah yang diisolasi.

b. Mengganti (subtitution)
Subtitusi sering kali digunakan sebagai metode pengendalian yang murah,
mudah dilaksanakan dan efektif. Misalnya mengganti bahan makanan yang tidak
mendukung terjadinya pertumbuhan yang cepat dari staphylococcen adalah
efektif untuk menghindari terjadinya keracunan makanan. Mengganti diterjen yang
persistent dengan bahan yang degradable dapat memperkecil dampak terjadinya
perubahan ekosistem akuatik badan air yang terpapar oleh air limbah yang
mengandung diterjen. Mengganti bahan bakar fosil dengan gas yang lebih sedikit
menimbulkan pencemaran udara dari suatu industry.

c. Perlindungan (shielding)
Perlindungan (shielding) berbeda dengan istilah isolasi. Perlindungan
ini berprinsip menggunakan barrier untuk melindungi seseorang dari gangguan
lingkungan seperti penggunaan safety glasses untuk tukang las untuk melindungi
mata, pakaian pelindung radiasi, pemakaian kelambu untuk menghindari gigitan
nyamuk, pemakaian helmet dan sebagainya.

d. Perlakuan (treatment)
Apabila berbagai cara tidak dapat dilaksanakan, perlakuan tertentu atau
penatalaksanaan terhadap gangguan dapat dilakukan, yaitu dengan :
1.

94

Menghancurkan (distruction)
Beberapa contoh distruksi misalnya merebus air untuk membunuh
kuman, autoclaving, pasteurisasi, aerasi air, klorinasi, eradikasi terhadap
nyamuk dan tikus, termasuk pula tindakan yang menggunakan
disinfektan, algasida, fungisida, bakterisida, larvasida, dan rodentisida.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

Mengubah, konversi (conversion)


Yang dimaksud dengan konversi ialah menjadikan bahan berbahaya
menjadi kurang atau tidak berbahaya. Biasanya melibatkan bahan kimia
atau biokimia. Asam kuat dan basa kuat pada air limbah mungkin dapat
memanfaatkan mikroorganisme sehingga memperoleh hasil konversi
yang tidak berbahaya lagi.

3.

Pembersihan (remorval)
Sedimentasi dan filtrasi adalah contoh untuk memisahkan bahan
pendataan dari bahan cair pada air limbah. Koagulasi yang jug dikenal
dengan flokulasi (pembentukan flok-flok koloid dengan memberikan
koagulasi) juga termasuk usaha removal terutama untuk memisahkan
koloid dalam air sehingga mempercepat/membantu proses sedimentasi.
Removal juga termasuk instrument pembersih udara (seperti electrostatic
precipitation, bag filter and cyclones) yang digunakan untuk pemisah
secara mekanik partikel-partikel yang terkandung dalam aliran udara
yang akan diemisikan melalui cerobong (stack)

4.

Penghambatan (inhibition)
Penghambat (inhibition) digunakan apabila ada ancaman dari
lingkungan tetapi efeknya tidak Nampak secara nyata atau tidak dapat
dikendalikan dengan intervensi lingkungan. Pengendalian PH atau
penambahan garam atau gula digunakan untuk pengawetan makanan.
Bila bakteri mengkontaminasi makanan mereka tidak tahan dalam
suasana lingkungan yang tidak menguntungkan baginya, sehingga
makanan tidak rusak karena kontaminasi.

5.

Pencegahan (prevention)
Pencegahan adalah istilah umum agar seseorang dalam kondisi tertentu
(sehat) tidak terganggu kesehatannya akibat terkena gangguan
lingkungan. Upaya ini termasuk memperkecil pemaparan dengan
membatasi kegiatan, imunisasi terhadap penyakit, penggunaan bahan/
alat pelindung untuk memnghindari infeksi atau menghindari pengaruh
dari faktor lingkungan. Imunisasi adalah termasuk usaha mencegah
penyakit yang ditularkan melalui lingkungan, atau petugas kesehatan
akan menuju kedaerah endemik malaria menggunakan atau diberi obat
anti malaria sebelum berangkat.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

95

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Latihan
1.

Apakah yang dimaksud dengan kesehatan lingkungan ?

2.

Jelaskan ruang lingkup kesehatan lingkungan ?

3.

Jelaskan factor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan ?

4.

Jelaskan tujuan mempelajari pengetahuan lingkungan ?

5.

Jelaskan prinsip pengendalian lingkungan ?

8. CONTOH PENERAPAN&KASUS K3LH


Penjelasan mengenai sistem manajemen keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja pada perusahaan petrokimia di Taiwan, konsep dasar mengenai keselamatan
dan kesehatan kerja serta uraian jenis-jenis kecelakaan pada bidang industri tertentu

a. Sistem keselamatan dan kesehatan tenaga kerja

96

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b. Pencegahan merupakan cara yang paling efektif


Konsep dasar mengenai keselamatan dan kesehatan kerja : Dua hal terbesar
yang menjadi penyebab kecelakaan kerja yaitu : perilaku yang tidak aman dan
kondisi lingkungan yang tidak aman. Berdasarkan data dari Biro Pelatihan Tenaga
Kerja, penyebab kecelakaan yang pernah terjadi sampai saat ini adalah diakibatkan
oleh perilaku yang tidak aman sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

sembrono dan tidak hati hati


tidak mematuhi peraturan
tidak mengikuti standar prosedur kerja
tidak memakai alat pelindung diri
kondisi badan yang lemah

Persentase penyebab kecelakaan kerja yaitu 3% dikarenakan sebab yang tidak


bisa dihindarkan (seperti bencana alam), selain itu 24% dikarenakan lingkungan
atau peralatan yang tidak memenuhi syarat dan 73% dikarenakan perilaku yang
tidak aman. Cara efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja adalah dengan
menghindari terjadinya lima perilaku tidak aman yang telah disebutkan di atas.

c. Kondisi tenaga kerja asing di Taiwan

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

97

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

d. Jenis kecelakaan pada beberapa bidang industri


Manufaktur

1. terjepit, terlindas

(termasuk elektronik,

2. teriris, terpotong

produksi metal dan lain-lain) 3. jatuh terpeleset


4. tindakan yg tidak benar
5. tertabrak
6.berkontak dengan bahan yang

berbahaya

7. terjatuh, terguling
8. kejatuhan barang dari atas
9. terkena benturan keras
10. terkena barang yang runtuh, roboh
Elektronik (manufaktur)

1. teriris, terpotong
2. terlindas, tertabrak
3. berkontak dengan bahan kimia
4. kebocoran gas
5. Menurunnya daya pendengaran, daya
penglihatan

Produksi metal (manufaktur) 1. terjepit, terlindas


2. tertusuk, terpotong, tergores
3. jatuh terpeleset
Petrokimia minyak dan

1. terjepit, terlindas

produksi batu bara, produksi 2. teriris, terpotong, tergores


karet,
produksi
produksi
plastik

karet, 3. jatuh terpelest


4. tindakan yang tidak benar
5. tertabrak
6. terkena benturan keras

98

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Konstruksi

1. jatuh terpeleset
2. kejatuhan barang dari atas
3. terinjak
4. terkena barang yang runtuh, roboh
5. berkontak dengan suhu panas, suhu dingin
6. terjatuh, terguling
7. terjepit, terlindas
8. tertabrak
9. tindakan yang tidak benar
10. terkena benturan keras

Produksi alat transportasi

1. terjepit, terlindas

bidang reparasi

2. tertusuk, terpotong, tergores


3. terkena ledakan

e. Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Tujuan pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja adalah mencegah
terjadinya kecelakaan. Cara efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan, harus
diambil tindakan yang tepat terhadap tenaga kerja dan perlengkapan, agar tenaga
kerja memiliki konsep keselamatan dan kesehatan kerja demi mencegah terjadinya
kecelakaan.

Tujuan keselamatan dan


kesehatan kerja
Berbagai arah keselamatan dan
kesehatan kerja

Melindungi
kesehatan
tenaga
kerja,
meningkatkan efisiensi kerja, mencegah
terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit.
1.

Mengantisipasi
keberadaan
faktor
penyebab bahaya dan melakukan
pencegahan sebelumnya.

2.

Memahami jenis-jenis bahaya yang ada


di tempat kerja

3.

Mengevaluasi tingkat bahaya di tempat


kerja

4.

Mengendalikan terjadinya bahaya atau


komplikasi.
Direktorat Pembinaan SMK (2013)

99

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Mengenai peraturan
keselamatan dan kesehatan
tenaga kerja
Faktor penyebab berbahaya

Yang terutama adalah UU Keselamatan dan


Kesehatan Tenaga Kerja dan Detail Pelaksanaan
UU Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja.
1.

Bahaya jenis kimia: terhirup atau


terjadinya kontak antara kulit dengan
cairan
metal,
cairan
non-metal,
hidrokarbon dan abu, gas, uap steam,
asap dan embun yang beracun.

2.

Bahaya jenis fisika: lingkungan yang


bertemperatur panas dan dingin,
lingkungan yang beradiasi pengion dan
non pengion, bising, vibrasi dan tekanan
udara yang tidak normal.

3.

Bahaya yang mengancam manusia


dikarenakan jenis proyek: pencahayaan
dan penerangan yang kurang, bahaya
dari pengangkutan, dan bahaya yg
ditimbulkan oleh peralatan.

1.

Pengendalian
teknik:
mengganti
prosedur kerja, menutup mengisolasi
bahan berbahaya,
menggunakan
otomatisasi pekerjaan, menggunakan
cara kerja basah dan ventilasi pergantian
udara.

2.

Pengendalian administrasi : mengurangi


waktu perjalanan, menyusun peraturan
keselamatan dan kesehatan, memakai
alat pelindung, memasang tanda
tanda peringatan, membuat daftar data
bahan-bahan yang aman, melakukan
pelatihan sistem penangganan darurat.

3.

Pemantauan kesehatan : melakukan


pemeriksaan kesehatan.

yang sering ditemui

Cara pengendalian ancaman


bahaya kesehatan kerja

100

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Mengapa diperlukan adanya


pendidikan keselamatan dan
kesehatan kerja?

Menurut H. W. Heinrich, penyebab kecelakaan


kerja yang sering ditemui adalah perilaku yang
tidak aman sebesar 88%, kondisi lingkungan
yang tidak aman sebesar 10%, atau kedua hal
tersebut di atas terjadi secara bersamaan. Oleh
karena itu, pelaksanaan diklat keselamatan
dan kesehatan tenaga kerja dapat mencegah
perilaku yang tidak aman dan memperbaiki
kondisi lingkungan yang tidak aman.

Tujuan pelatihan

Agar tenaga kerja memiliki pengetahuan dan


kemampuan mencegah kecelakaan kerja,
mengembangkan konsep dan kebiasaan
pentingnya keselamatan dan kesehatan
kerja, memahami ancaman bahaya yang ada
di tempat kerja dan menggunakan langkah
pencegahan kecelakaan kerja.

Peraturan yang perlu ditaati

UU Keselamatan dan Kesehatan Kerja mengatur


agar tenaga kerja, petugas keselamatan dan
kesehatan kerja dan manajer wajib mengikuti
pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja.

Obyek pendidikan dan


pelatihan keselamatan dan
kesehatan kerja

1.

Petugas keselamatan dan kesehatan


kerja

2.

Manajer bagian operasional keselamatan


dan kesehatan kerja

3.

Petugas
operator
mesin
perlengkapan yang berbahaya

4.

Petugas operator khusus

5.

Petugas operator umum

6.

Petugas penguji kondisi lingkungan


kerja

7.

Petugas
estimasi
pembangunan

8.

Petugas estimasi keselamatan proses


produksi

9.

Petugas penyelamat

dan

keselamatan

10. Tenaga kerja baru atau sebelum tenaga


kerja mendapat rotasi pekerjaan.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

101

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Jadwal dan isi program

1.

Berbagai obyek pelatihan disesuaikan


dengan peraturan mengenai jadwal dan
isi program pelatihan.

2.

Prinsip analisa
kesehatan kerja

3.

Mencari penyebab dari seluruh tingkat


lapisan, dari lapisan dalam sampai
dengan akar penyebabnya, dicari
secara tuntas, hingga dapat diketahui
penyebab utamanya dan melakukan
perbaikan.

pelatihan

keselamatan

dan

Pencegahan kecelakaan

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan


kerja, kerja sebelumnya harus dimulai dari
pengenalan bahaya di tempat kerja, estimasi,
tiga langkah pengendalian, dalam pengenalan
bahaya perlu adanya konfirmasi keberadaan
bahaya di tempat kerja, memutuskan
pengaruh bahaya; dalam mengestimasi
bahaya perlu diketahui adanya tenaga kerja
di bawah ancaman bahaya pajanan atau
kemungkinan pajanan, konfirmasi apakah
kadar pajanan sesuai dengan peraturan,
memahami pengendalian perlengkapan
atau apakah langkah manajemen sesuai
persyaratan; dalam pengendalian bahaya perlu
dilakukan pengendalian sumber bahaya, dari
pengendalian jalur bahaya, dari pengendalian
tambahan terhadap tenaga kerja pajanan,
menetapkan prosedur pengamanan.

Tindakan penanganan

Berdasarkan UU Perlindungan Tenaga Kerja


dan Kecelakaan Kerja, pemilik usaha pada
saat mulai memakai tenaga kerja, harus
membantu tenaga kerjanya untuk mendaftar
keikutsertaan asuransi tenaga kerja, demi
menjamin keselamatan tenga kerja. Selain itu,
setelah terjadi kecelakaan kerja, pemilik usaha
wajib memberikan subsidi kecelakaan kerja,
apabila pemilik usaha tidak mendaftarkan
tenaga kerjanya ikut serta asuransi tenaga kerja
sesuai dengan UU Standar Ketenagakerjaan,
maka pemilik usaha akan dikenakan denda.

setelah terjadi kecelakaaan


kerja

102

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

9. Contoh Kasus
a.
1.

Keselamatan dan kesehatan kerja di industri petrokimia


Karakteristik industri petrokimia

Pekerja di industri petrokimia bekerja dengan tingkat resiko kanker yang lebih
tinggi daripada pekerja industri lainnya, karena bahan material di industri petrokimia
adalah bahan kimia yang bersifat bahan organik yang mudah menguap (polietilen,
cloroetilen, benzen, dan lain lain) dan mudah menghasilkan gas pencemaran. Hal di
atas dapat dianalisa berdasarkan bahaya kimia, bahaya fisik dan bahaya ergonomik:
1.

Bahaya kimia: terhirup atau kontak kulit dengan debu, uap steam, asap dan
embun yang beracun

2.

Bahaya fisik: suhu lingkungan yang ekstrim panas dingin, radiasi non pengion
dan pengion, bising, vibrasi dan tekanan udara yang tidak normal.

3.

Bahaya ergonomik: pencahayaan yang kurang, luka kerja di bagian tulang


otot dan pengoperasian mesin, bahaya dari peralatan, sistem, metode kerja
dan desain lingkungan.

Melalui Tabel 2-1 dari data statistik ketenagakerjaan Dewan Tenaga Kerja,
menjelaskan hubungan antara jenis kecelakaan dan benda penyebab.
Jenis Kecelakaan

Benda

Persentase jumlah pekerja


yang meninggal di semua
jenis industri
Jumlah

Prosentase(%)

Terjepit, terlindas

Mesin bermotor jenis


umum, alat penghantar
bermotor, mesin
pengangkut bermotor

114

20,80

Terpotong,

Mesin bermotor jenis


umum, bahan baku,
peralatan mesin manual,

51

9,30

30

5,47

teriris, tergores

perlengkapan
Bahan berbahaya
dan benda perusak,
temperatur tinggi
alat pemanas penaik
dan rendah
temperatur dan bahan
kimia lainnya.
Kontak dengan

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

103

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kebakaran

Debu dan bahan


berbahaya lainnya yang
mudah terbakar dan
tersimpan di dalam pipa,
tangki, drum minyak
dan benda penampung
lainnya.

Kontak dengan Gas, uap steam, debu


bahan beracun
beracun dan bahan
berbahaya lainnya.
2.

19

3,47

1,46

Analisa kasus

Industri petrokimia adalah industri dengan resiko, konsumsi energi, dan polusi
yang tinggi. Pekerjaan yang beresiko terjadinya kecelakaan yaitu pada saat perbaikan
tahunan pada peralatan elektronik dan gas, pengoperasian alat penggantung
penopang, pemeliharaan pipa, pembersihan tangki, pekerjaan di tempat yang
sempit dan bahaya lainnya. Oleh karena itu menyebabkan terjadinya terjatuh
dari ketinggian, terjepit, kejatuhan benda, tersengat listrik, kekurangan oksigen,
ledakan gas, keruntuhan dinding parit, dan lain-lain atau terjadinya kecelakaan
pabrik, bahkan dapat menyebabkan kerusakan yang parah dan polusi, hingga
menimbulkan terjadinya konflik dengan masyarakat sekitar. Di industri petrokimia,
terutama pabrik produksi bahan dasar petrokimia, karena berukuran besar maka
proses produksinya melalui reaksi kimia yang kuat, sehingga segala sesuatu di
dalam pabrik seperti peralatan, proses produksi atau tangki penyimpanan yang
ada di setiap sudut, gudang dan fasilitas umum dan lain-lain, apabila tidak hati-hati
dapat terjadi kebocoran bahan kimia yang mengakibatkan ledakan atau kebakaran
dan kecelakaan lainnya. Melalui contoh kasus di bawah ini dikenalkan pentingnya
keselamatan dan kesehatan kerja.
Kasus 1 : Terjepit atau terlindas
Judul kasus :
Kematian karena terlindas mesin penggulung di saat melakukan pembersihan serat.

Petugas operator
Wanita, seorang operator pembersihan serat pada
mesin penggulung
Tugas kerja

Melakukan pembersihan mesin penggulung

Waktu

Bulan Desember tahun X sekitar jam 2:30 sore

104

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tempat kejadian

Area pembersihan mesin penggulung

Peralatan/atau benda yang


menyebabkan terjadinya
Tiang transmisi
kecelakaan
Urutan kejadian

Pada hari itu saksi peristiwa sedang membantu


kepala regu nya si korban yang bermarga Ceng,
dia menyatakan : pada sekitar jam 2:30 sore saya
membantu korban melakukan pembersihan mesin
penggulung. Saya menggunakan alat pengangkut
untuk pindah ke tiang yang menyangga mesin
kemudian memasangnya di tempat yang tetap.
Korban berdiri di sebelah kanan, saya membantu di
sebelah kirinya. Dia menyalakan mesin penggulung
untuk pengoperasian serat yang akan dibersihkan.
Tangan kami berdua masing-masing memegang
2 ikat serat PE dan mengikuti arah putaran mesin
untuk menarik keluar bahan tersebut (gambar 2.1).
Tiba-tiba kaki korban tertarik keluar dan terletak
di atas tumpukan serat PE, dia segera menekan
tombol penghenti darurat untuk menghentikan
mesin yang berputar. Tetapi dia tetap tergulung
ke dalam (bagian kaki tergulung lebih dulu, tubuh
dan bagian lainnya juga tergulung ke dalam). Saya
segera memegang mesin dan berusaha mematikan
putaran, akhirnya dengan salah satu kaki saya
tergulung ke atas oleh serat PE, mesin baru benarbenar berhenti berputar. Saya membuka ikatan
serat PE di sekitar kaki dan segera turun ke bawah
untuk menolongnya. Manajer pabrik segera datang,
kita bersama sama membuka ikatan serat PE di
seputar badan korban, kemudian mengirimnya ke
rumah sakit untuk mendapat pertolongan, tetapi
pada hari itu jam 3 sore karena luka yang parah dia
tak tertolong hingga meninggal dunia.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

105

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Analisa
Tahapan penyebab
Penyebab umum

Penyebab terperinci
Penyebab pokok

Strategi pengendalian

106

Keterangan
1.

Tidak memasang tutup pengaman, peralatan


pengaman pada posisi yang tepat di mesin
penggulung. (lingkungan yang tidak aman).

2.

Tidak memasang tombol penghenti darurat


yang diberi tanda dengan jelas pada mesin
tersebut ( lingkungan yang tidak aman).

Tidak menetapkan rencana pemeriksaan otomatis


untuk melakukan pemeriksaan otomatis.
1.

Tidak memberikan pendidikan dan pelatihan


keselamatan dan kesehatan kerja untuk
pekerja dalam melakukan pekerjaan dan
pencegahan kecelakaan.

2.

Kurangnya
kesadaran
keselamatan.

1.

Memberikan pendidikan dan pelatihan


keselamatan dan kesehatan kerja yang
diperlukan pekerja guna meningkatkan
pengetahuan keselamatan dan kesehatan
kerja, demi mencegah terjadinya kecelakaan
yang sama.

2.

Selama melakukan proses pekerjaan yang


mungkin berbahaya, seperti pembersihan
mesin, penambahan minyak, pemeriksaan,
perbaikian atau pengaturan, mesin harus
berhenti beroperasi. Untuk mencegah orang
lain menghidupkan mesin, maka mesin harus
di kunci atau diberi tanda peringatan, pemilik
usaha harus memasang tutup pengaman atau
peralatan pembatas. Membuat perencanaan
ulang pembagian tenaga kerja

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

pekerja

akan

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3.

Seluruh petugas keselamatan dan kesehatan


tenaga kerja harus bertanggungjawab
menjalankan rencana penanggulangan
kecelakaan, rencana penanganan darurat,
serta melakukan bimbingan pelaksanaan
setiap departemen.

Gambar 4.1 Mesin penggulung

Gambar 4.2 Tutup pengaman dan tombol darurat

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

107

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kasus 2 : Kontak dengan temperatur tinggi dan rendah


Judul kasus : Tiga orang terbakar EG ketika melakukan pembersihan tabung EG

Petugas operator

Laki laki, operator yang membersihkan tabung EG

Tugas kerja

Pembersihan tabung EG

Waktu

Bulan April tahun X sekitar jam13:30

Tempat kejadian

Area pembersihan sumbatan pada tabung EG

Peralatan/atau benda
yang menyebabkan

EG

terjadinya kecelakaan
Urutan kejadian

Menurut seseorang bermarga Cao memberi keterangan


sebagai berikut : pada sekitar jam 11:50 siang alat
penghisap tersumbat oleh benda- benda yang
bergumpal. Tuan Tung memanggil saya dan 5 orang
lainnya untuk pergi menyelesaikan masalah itu, dan
pada jam 13:00-13:30 telah dibersihkan, pada saat itu
EG mengalami kebocoran (gambar 2.3). Pada saat itu
karena tuan Tung, tuan Lin dan pekerja Cin sedang
melakukan pembersihan, sehingga tidak sempat
menghindar terkena semburan panas EG di bagian
kaki, kemudian mereka dikirim ke rumah sakit. Saya
dan tuan Shu yang berada di bagian samping luar
tidak terkena semburan, tuan Yu hanya terkena sedikit
semburan, setelah tuan Yu diberi obat, dia sudah bisa
kembali bekerja di pabrik. Pada saat itu sistem tekanan
sekitar milibar, temperatur EG sekitar 82oC, pada saat
bekerja, ketiga korban menggunakan baju pelindung,
tetapi baju tersebut tidak bisa melindungi bagian
kaki, hingga mengakibatkan terbakarnya pergelangan
kaki. EG menyimpan kondensor dingin, dengan tinggi
pipa sekitar 15 meter, di antaranya berkapasitas
EG maksimum sekitar 100-150 kilogram, sehingga
semburan kali ini meskipun tidak dapat diperinci
dengan tepat, tetapi pasti tidak lebih dari 150 kg. Karena
pekerjaan ini hanya sementara, maka tidak ada standar
prosedur pengoperasiannya.

Analisa
108

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Tahapan penyebab

Keterangan

Penyebab umum

Pada saat pekerja sedang melakukan pembersihan


sumbatan tabung EG, perusahaan tidak menyediakan
alat pelindung yang efektif dan benar-benar dipakai
oleh pekerja. Selain itu pada saat pekerjaa dilakukan,
tidak terlebih dahulu mengeluarkan sisa EG yang
berada di dalam tabung. (lingkungan yang tidak
aman).

Penyebab terperinci

Ketika terdapat kemungkinan adanya material panas


yang jatuh, tidak melakukan evakuasi pekerja, selain
itu pekerja tidak memakai alat pelindung diri yang
sesuai.

Penyebab pokok

Strategi pengendalian

1.

Tidak benar-benar melakukan evaluasi pekerjaan


yang berbahaya.

2.

Tidak ada menerapkan dan melaksanakan


standar keselamatan kerja.

1.

Ketika terdapat kemungkinan adanya material


panas yang jatuh, harus segera melakukan
evakuasi pekerja, selain itu pekerja harus
memakai alat pelindung diri yang sesuai.

2.

Harus menetapkan dan melaksanakan standar


keselamatan kerja.

Gambar 4.3 Tabung EG

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

109

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Gambar 4.4 Baju pelindung

Kasus 3 : Kebakaran
Judul kasus : Kematian karena terbakar api pada saat mengoperasikan mesin
pengering
Petugas operator

Laki-laki, pekerja pembongkaran produksi yang


mengoperasikan mesin pengering

Tugas kerja

Mengoperasikan mesin pengering

Waktu

Bulan Agustus tahun X sekitar jam 11:50

Tempat kejadian

Area pengoperasian mesin pengering di mulut


pembongkaran bahan

Peralatan/atau benda
yang menyebabkan

Bahan kimia

terjadinya kecelakaan
Urutan kejadian

Pada suatu hari sekitar jam 11:50, 2 orang pekerja


sedang membongkar produk di lantai 1 di bawah
tabung refleksi lantai 3.
Mereka membongkar 25 kilogram kantong
plastik transparan yang ditempatkan pada
mesin pengering di mulut pembongkaran bahan
(gambar 4.5).

110

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pada saat itu telah sampai pada pembongkaran


kantong yang terakhir, terlihat ada selapis asap di
atas permukaan kantong plastik dan ada percikan
bunga api yang dengan cepat keluar dari kantong
plastik, menyebabkan kantong plastik itu meleleh
dengan cepat, kemudian api membakar lantai 1.
Api merambat dan membakar mesin pengering
di lantai 1 dan 2. Selain itu tabung refleksi lantai
3, 4 dan 5 serta peralatan lainnya berasap. Pekerja
yang bekerja di lantai 2 tidak sempat melarikan diri,
karena kepanasan dan tidak sadarkan diri akhirnya
meninggal dunia.

Analisa
Tahapan penyebab
Penyebab umum

Penyebab terperinci

Keterangan
Tabung refleksi dan mesin pengering tidak dilengkapi
dengan peralatan penghilang arus listrik. (gambar
2.6). (lingkungan yang tidak aman).
1. Tidak menyediakan manajer yang menangani
keselamatan dan kesehatan kerja.
2.

Penyebab pokok

1.

2.

Tidak menetapkan perencanaan inspeksi


otomatis dan menerapkan inspeksi otomatis.
Tidak mengadakan pendidikan keselamatan
dan kesehatan kerja serta pelatihan
pencegahan kecelakaan.
Tidak menetapkan peraturan keselamatan dan
kesehatan kerja.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

111

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Strategi pengendalian

1.

Jika ada peralatan yang dapat meledak


atau terbakar karena sengatan listrik, harus
menggunakan bahan penghilang sengatan
listrik yang dihubungkan ke lantai dan
dilembabkan,
menggunakan
peralatan
penghilang listrik atau pelenyap sengatan
listrik yang tidak menyebabkan timbulnya
sumber api

2.

Harus menetapkan perencanaan inspeksi


otomatis dan menerapkan inspeksi otomatis.

3.

Pekerja
harus
diberikan
pendidikan
keselamatan dan kesehatan kerja serta
pelatihan pencegahan kecelakaan yang
diperlukan dalam bekerja.

4.

Harus bekerja sama dengan wakil pekerja


untuk menetapkan peraturan keselamatan dan
kesehatan kerja , dilaporkan dan lolos sensor
kelayakan oleh instansi terkait, kemudian
diumumkan serta dilaksanakan.

Gambar 3.5 Mesin pengering

112

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Gambar 3.6 Peralatan penghilang sengatan listrik

B. Rangkuman
Untuk mencegah kecelakaan kerja, sebelumnya harus diketahui sebab dari
kecelakaan tersebut, baru dapat dicari jalan pemecahannya. Penyebab utama yang
sering terjadi adalah situasi dan perilaku pekerja yang tidak aman yang terjadi
di dalam perusahaan, dan akar penyebabnya adalah kurangnya penanganan
keselamatan dan kesehatan kerja di dalam perusahaan.
Oleh sebab itu, untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, adalah dengan
cara memperkuat penanganan keselamatan dan kesehatan kerja, dorongan agar
perusahaan benar-benar melaksanakan penanganan keselamatan dan kesehatan
kerja. Data ini adalah data penting statistik kecelakaan kerja dan analisa kejadian
demi mencegah terjadinya kecelakaan yang sama, tujuan utamanya adalah untuk
menentukan bagaimana kesalahan itu terjadi. Apabila kita dapat menggunakan
data dengan baik, maka kecelakaan yang sama atau bahkan kecelakaan yang lebih
serius dapat dihindari.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

113

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penjelasan mengenai perlindungan


hak tenaga kerja asing dan cara meminta bantuan

114

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

a. Keamanan dan kesehatan tenaga kerja


Berdasarkan Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pemilik usaha
harus memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang diperlukan di
tempat kerja. Selain peralatan keselamatan dan kesehatan di area kerja, juga ada
peralatan perorangan. Pada saat perusahaan merekrut pekerja, harus memberikan
pendidikan dan pelatihan keselamatan, kesehatan dan pencegahan kecelakaan,
termasuk langkah-langkah keselamatan kerja, bahaya yang mungkin dihadapi, halhal yang perlu diperhatikan, jalan keselamatan, pertolongan darurat, pemadam
kebakaran, dan lain-lain serta menjaga keselamatan kerja dan kesehatan fisik dan
psikis.

b. Penanganan Perselisihan
Selama masa bekerja di Taiwan, apabila ada perselisihan kontrak kerja atau
mengenai hak dan kepentingan antara kedua belah pihak, dapat meminta bantuan
penyelesaian masalah kepada Pusat Konseling Tenaga Kerja Asing Biro Tenaga Kerja
pemerintah daerah setempat atau lembaga sosial

c. Jalur Bantuan
Selama bekerja di Taiwan, bila terjadi perselisihan mengenai kontrak kerja atau
mengenai hak dan kepentingan antara kedua belah pihak, dapat meminta bantuan
kepada pusat konseling tenaga kerja asing biro tenaga kerja pemerintah daerah
setempat atau melalui saluran bebas pulsa yang disediakan oleh Dewan Tenaga
Kerja ( Bhs.Inggris : 0800-885885; Bhs.Thailand : 0800-885995; Bhs.Indonesia : 0800885958; Bhs.Vietnam : 0800-017858)

Nama Pusat

Alamat

Telepon / Fax

Konseling
Pusat konseling TKA
Kota Taipei
Pusat konseling TKA
Kab.Taipei

8 Flr, No.21 Sec.1 Dihua


Street,
Tatung District, Taipei City
7 Flr, No.161 Sec.1
Chungshan
Road, Panchiao City,
Taipei Hsien

TEL02-25502151
FAX02-25507024
TEL02-89659091
02-89651044
FAX02-89651058

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

115

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pusat konseling TKA


Kota Keelung
Pusat konseling TKA
Kab.Taoyuan

No.1 Yi 1st Road, Keelung


City

TEL02-24258624

8 Flr, No.1 Hsienfu Road,


Taoyuan

TEL03-3344087

City

FAX02-24226215

03-3341728
03-3322101
FAX03-3341689

Pusat konseling TKA


Kota Hsinchu
Pusat konseling TKA
Kab.Hsinchu

Pusat konseling TKA


Kab.Miaoli

5 Flr, No.69 Kuohua


Street, Hsinchu
City
4 Flr, No.10 Kuangming
6th Road,
Chupei City, Hsinchu
Hsien
No.1121 Kuohwa Road,
Miaoli City

TEL03-5319978
FAX03-5319975
TEL03-5520648
FAX03-5520771

TEL037-357040
Ext. 502
037-364548
FAX037-363261

Pusat konseling TKA


Kota Taichung

2 Flr, No.53 Sec.2 Tzeyou


Road,
Taichung City

TEL04-22296049
FAX04-22296048
Saluran on-line
konseling
TKA : 0800-600088

Pusat konseling TKA


Kab.Taichung

Pusat konseling TKA


Kab.Changhua

Pusat konseling TKA


Kab.Nantou

116

6 Flr, No.36 Yangming


Street,
Fengyuan City, Taichung
Hsien
8 Flr, No.100 Chungshing
Road,
Changhua City
1 Flr, No.660 Chungshing
Road,
Nantou City, Nantou Hsien

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

TEL04-25240131
FAX04-25156180

TEL04-7297228
04-7297229
FAX04-7297230
TEL049-2238670
FAX049-2238853

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pusat konseling TKA


Kab.Yunlin
Pusat konseling TKA
Kota Chiayi
Pusat konseling TKA
Kab.Chiayi

No.515 Sec.2 Yunlin Road, TEL05-5338087


Touliu
05-5338086
City, Yunlin Hsien
FAX05-5331080
No.199 Chungshan Road,
Chiayi
City
No.1 Sec.East Hsianghe
2nd Road,

TEL05-2231920
FAX05-2228507
TEL05-3621289
FAX05-3621097

Thaipao City, Chiayi Hsien


Pusat konseling TKA
Kota Tainan

8 Flr, No.6 Sec.2 Yunghua


Road,
Tainan City

TEL06-2951052
06-2991111
FAX06-2951053

Pusat konseling TKA

7 Flr, No.36 Minchih Road, TEL06-6326546

Kab.Tainan

Hsinying City, Tainan


Hsien

FAX06-6373465

Pusat konseling TKA

6 Flr, No.6 Chenchung


Road,

TEL07-8117543

Kota Kaohsiung

Pusat konseling TKA


Kab.Kaohsiung
Pusat konseling TKA
Kab.Ilan

Pusat konseling TKA


Kab.Hualien
Pusat konseling TKA
Kab.Taitung

FAX07-8117548

Chienchen District,
Kaoshiung City
No.117 Dabi Road,
Niaosung

TEL07-7338842

Shiang, Kaoshiung Hsien


No.95 Thungching
Street,Ilan City,

FAX07-7337924
TEL03-9324400
FAX03-9356545

Ilan Hsien

03-9314341

No.17 Fuchien Road,


Hualien City

TEL03-8239007

No.276 Chungshan Road,


Taitung

TEL089-359740

City

FAX03-8237712

FAX089-341296

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

117

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pusat konseling TKA


Kab.Pingtung
Pusat konseling TKA
Kab.Penghu
Pusat konseling TKA
Kab.Cinmen
Pusat konseling TKA
Kab.Lienjiang

118

No.17 Tzuyou Road,


Pingtung City

TEL08-7519938

No.160 Tasien Street,


Makung City,

TEL06-9212680

Penghu Hsien
No.60 Minsheng Road,
Cincheng
Chen, Cinmen Hsien

FAX08-7515390

FAX06-9217390
TEL082-373291
FAX082 -371514

No.76 Jieshou Chun,


Nangan

TEL0836-25022
Ext. 13

Shiang, Lienjiang Hsien

FAX0836-22209

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

Prosedur Keamanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Daftar Pustaka
Ali A. & Tanzili, 2006, Pedoman Lengkap Menulis Surat, PT Kawan Pustaka,
Depok.
Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Billy, Betty K.,
2007,Akuntansi,Arya Duta, Depok.
Depdiknas, 2004, Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Edisi 2004
Depdiknas, Jakarta.
________, 2004, Standar Kompetensi Nasional Indonesia
Bidang Sekretaris/Administrasi Bisnis , Depdiknas, Jakarta.
Hamdani D. & Sutisna A., 2002, Surat Niaga & Kearsipan, CV.Yrama
Widya,Bandung.
Hendarto H. & Tulusharyono, 2002, Menjadi Sekretaris Profesional, Penerbit
P P M , Jakarta.
Madiana, Gina, 2004, Pengarsipan Surat Dan Dokumen Kantor,
Cv.Armico,Bandung.
Mulyana, Deddy, 2004, Komunikasi Efektif, P T Remaja Rosdakarya, Bandung.
Nugroho, Adi, 1996, Penuntun Teknis Surat Menyurat., Penerbit Indah,
Puspitasari, Devi, 2007, Menangani penerimaan dan pengiriman
Surat/ Dokumen, Arya Duta, Depok.
________, 2007, Mengelola dan Menjaga Sistem Kearsipan, Arya Duta,Depok.
________, 2007, Bekerja Sama Dengan Kolega dan Pelanggan, Arya Duta
Depok.
Puspitasari D.& Aulia R., 2007, Berkomunikasi Melalui Telepon, Arya
Duta,Depok.
________, 2007, Mengaplikasikan Keterampilan Dasar Komunikasi, Arya
Duta, Depok.
Sedarmayanti, 2001,Manajemen Perkantoran, Penerbit Mandar Maju, Bandung.
Sukoco, Badri M., 2002, Manajemen Administrasi Perkantoran
Modern,Erlangga, Jakarta.
Sumamur, 1987, Kesehatan Kerja dan Pencegahan Kesehatan, CV. Haji Mas
Agung, Jakarta 1980, Sumpriana, Euis, 2004,Melakukan Pekerjaan Surat
Menyurat, CV. Armico, Bandung.
UU no.1 Th 1970, Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
UU no.13 Th 2003,Ketenagakerjaan.
Wuryantari S. & Puspitasari D., 2007, Keamanan, Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Arya Duta, Depok.

Direktorat Pembinaan SMK (2013)

119