Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS

EFUSI PLEURA ET CAUSA TUBERCULOSIS

Oleh:
Adisti Zakyatunnisa
030.10.006

Pembimbing:
dr. Ade Amelia, Sp.A

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak
1 Februari 2016 9 April 2016
Rumah Sakit Umum Daerah Karawang
0

BAB I
PENDAHULUAN

Efusi pleura tuberkulosis sering ditemukan di negara berkembang termasuk di Indonesia


meskipun diagnosis pasti sulit ditegakkan. Efusi pleura timbul sebagai akibat dari suatu penyakit,
sebab itu hendaknya dicari penyebabnya. Dengan sarana yang ada, sangat sulit untuk
menegakkan diagnosis efusi pleura tuberkulosis sehingga sering timbul anggapan bahwa
penderita tuberkulosis paru yang disertai dengan efusi pleura, efusi pleuranya dianggap efusi
pleura tuberkulosis, sebaliknya penderita bukan tuberkulosis paru yang menderita efusi pleura,
efusi pleuranya dianggap bukan disebabkan tuberkulosis.1
Gambaran klinik dan radiologik antara transudat dan eksudat bahkan antara efusi pleura
tuberkulosis dan non tuberkulosis hampir tidak dapat dibedakan, sebab itu pemeriksaan
laboratorium menjadi sangat penting. Setelah adanya efusi pleura dapat dibuktikan melalui
pungsi percobaan, kemudian diteruskan dengan membedakan eksudat dan transudat dan akhirnya
dicari etiologinya. Apabila diagnosis efusi pleura tuberkulosis sudah ditegakkan maka
pengelolaannya tidak menjadi masalah, efusinya ditangani seperti efusi pada umumnya,
sedangkan tuberkulosisnya diterapi seperti tuberkulosis pada umumnya. 1
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia.
Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada
tahun 2002. 3,9 juta adalah kasus BTA positif. Hampir sekitar sepertiga penduduk dunia telah
terinfeksi kuman tuberkulosis. TB ekstra paru berkisar antara 9,7 sampai 46% dari semua kasus
TB. Organ yang sering terlibat yaitu limfonodi, pleura, hepar dan organ gastro intestinal lainnya,
organ genitourinarius, peritoneum, dan perikardium. Pleuritis TB merupakan TB ekstraparu
kedua terbanyak setelah limfadenitis TB. Angka kejadian pleuritis TB dilaporkan bervariasi
antara 4% di USA sampai 23% di Spanyol.2
TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara
1-4 tahun. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (ekstrapulmonari) dibanding TB
1

paru-paru dengan perbandingan 3:1. Selain oleh M. tuberkulosis dari orang dewasa atau anak
lain, anak dapat terinfeksi Mikobakterium bovis dari susu sapi yang tidak dipasteurisasi. 3
Sebagian besar anak yang terinfeksi M. tuberkulosis tidak menjadi sakit selama masa
anak-anak. Satu-satunya bukti infeksi mungkin hanyalah tes tuberkulin kulit yang positif.
Kemungkinan paling besar anak menjadi sakit dari infeksi M. tuberculosis adalah segera setelah
infeksi dan menurun seiring waktu. Jika anak yang terinfeksi menjadi sakit, sebagian besar akan
menunjukkan gejala dalam jangka waktu satu tahun setelah infeksi. Namun untuk bayi, jangka
waktu tersebut mungkin hanya 6-8 minggu.3

BAB II
LAPORAN KASUS
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RSUD KARAWANG
Nama Mahasiswa
NIM

STATUS PASIEN KASUS


: Adisti Zakyatunnisa
Pembimbing : dr. Ade Amelia, Sp.A
: 030.10.006
Tanda tangan :

IDENTITAS PASIEN
Nama
: An. P
Jenis Kelamin : Laki - laki
Umur
: 12 tahun
Suku Bangsa : Jawa/Indonesia
No. RM:
: 00621369
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMP kelas 1
Anak ke: 1 dari 2 bersaudara
Alamat
: Jalan Dongkal IV RT 004 / RW 004, Kel. Dongkal, Kec. Pedes
Karawang
Orang Tua / Wali
Profil

Ayah

Ibu

Nama

Tn. K

Ny. M

Umur

38 tahun

33 tahun

Alamat

Dongkal IV

Dongkal IV

Pekerjaan

Buruh

Ibu Rumah Tangga

Pendidikan

SD

SD

Suku

Jawa

Sunda

Agama

Islam

Islam

Hubungan dengan orang tua: Pasien merupakan anak kandung


I. ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan Ny. M (ibu kandung pasien)
Lokasi
: Bangsal Rawamerta, Kamar 154
Tanggal/Waktu
: 3 Februari 2016, pukul 13.00 WIB
Tanggal masuk
: 1 Februari 2016, pukul 13.15 WIB (poli)
Keluhan utama
: Batuk sejak seminggu sebelum masuk Rumah Sakit

Keluhan tambahan

: Demam hilang timbul, sesak nafas, dan penurunan berat badan sejak 1
minggu sebelum masuk Rumah Sakit.

A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :


Pasien datang ke poli anak RSUD Karawang dibawa oleh orangtuanya dengan keluhan
batuk sejak seminggu sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien mengaku batuknya kering dan timbul
kapan saja tanpa pencetus disertai sesak nafas hingga dirasakan nyeri pada dadanya. Pasien
mengeluh sampai tidak bisa tidur terlentang dengan satu bantal, karena ia sesak nafas. Sehingga
saat tidur, posisi kepala pasien harus ditinggikan dengan diganjal bantal. Tidak ada mual dan
muntah, namun pasien merasa perutnya begah. Seminggu sebelum masuk Rumah Sakit, pasien
mengeluh menderita demam yang tidak terlalu tinggi dan keringat dingin pada malam hari
kadang disertai menggigil. Ibu pasien mengaku demam sudah pernah terjadi sebelumnya
beberapa kali dalam dua bulan terakhir hilang timbul dan tidak terlalu tinggi. Berat badan pasien
menurun tanpa sebab, apalagi sejak seminggu sebelum masuk rumah sakit. Buang air besar dan
buang air kecil pasien tidak ada keluhan. Saat pasien di poli anak, dilakukan tes Mantoux dan
dinyatakan positif. Saat ini, pasien mengaku masih ada batuk namun jarang dan tidak berdahak.
Demam, menggigil, keringat malam, sesak nafas, nyeri dada, mual dan muntah sudah tidak ada.
Gangguan buang air besar dan buang air kecil disangkal oleh pasien.

B. RIWAYAT KEHAMILAN / KELAHIRAN


Morbiditas kehamilan

Anemia (-), hipertensi (-), diabetes mellitus (-),


penyakit jantung (-), penyakit paru (-), merokok

KEHAMILAN

Perawatan antenatal

(-), infeksi (-), minum alkohol (-)


Rutin kontrol ke bidan 1x setiap bulan pada usia
kehamilan muda dan tiap minggu menjelang
masa

Tempat persalinan
Penolong persalinan
Cara persalinan

persalinan.

Riwayat

imunisasi

(+),

konsumsi suplementasi selama kehamilan (-)


Rumah Sakit
Dokter
Pervaginam

Masa gestasi

Cukup Bulan (38 minggu)


Berat lahir: 3400 gram
KELAHIRAN
Keadaan bayi
Panjang lahir: 45 cm
Lingkar kepala: (ibu tidak ingat)
Langsung menangis: (+)
Kemerahan: (+)
Nilai APGAR: (ibu tidak tahu)
Kelainan bawaan: (-)
Kesimpulan riwayat kehamilan dan kelahiran: Pasien lahir pervaginam, cukup bulan, berat
badan lahir cukup.
C. RIWAYAT PERKEMBANGAN
Pertumbuhan gigi pertama
: Umur 8 bulan
Gangguan perkembangan mental
: Tidak ada
Psikomotor:

Tengkurap
Duduk
Berdiri
Berjalan
Mengucapkan kata
Berbicara 2 kata

(Normal: 5-9 bulan)

: Umur 4 bulan
: Umur 8 bulan
: Umur 10 bulan
: Umur 12 bulan
: Mama/papa umur 11 bulan
: Umur 24 bulan

(Normal: 3-5 bulan)


(Normal: 6-9 bulan)
(Normal: 9-12 bulan)
(Normal: 12-18 bulan)
(Normal: 9-12 bulan)
(Normal 15-24 bulan)

Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan: tidak terdapat kertelambatan dalam


pertumbuhan dan perkembangan pasien, baik sesuai usia.
D. RIWAYAT MAKANAN
Umur
(bulan)

ASI/PASI

Buah / Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim
5

02

ASI

24

ASI

46

Susu formula + ASI

78

Susu formula + ASI

8 10

Susu formula + ASI

10 12

Susu formula

12 16

Susu formula

Jenis Makanan

Frekuensi dan Jumlah

Nasi / Pengganti

3 x/hari (2-3 sendok nasi)

Sayur

1x/minggu (1 mangkuk)

Daging

1x/minggu (1 potong)

Telur

3x/minggu (3 butir)

Ikan

1x/hari (1 ekor)

Tahu

3x/ minggu (1-2 potong)

Tempe

3x/ minggu (1-2 potong)

Susu (merk / takaran)

Susu kotak, 3 x/minggu

Kesimpulan riwayat makanan: Pasien mendapatkan ASI eksklusif. Asupan makanan pasien
sehari hai baik.
E. RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin
Hepatitis B
Polio

0 bulan
0 bulan

Dasar ( umur )
-

BCG

DPT / PT
Campak

Ulangan ( umur )
-

Kesimpulan riwayat imunisasi :Imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak dilakukan imunisasi
tambahan.
F. RIWAYAT KELUARGA
a. Corak Reproduksi
6

Tanggal lahir

Jenis

(umur)

kelamin

1.

12 tahun

Laki-laki

Ya

2.

18 bulan

Laki-laki

Ya

No.

Hidup

Lahir
mati

Mati

Keterangan

(sebab)

kesehatan

Pasien

Sehat

Abortus

b. Riwayat Pernikahan
Nama
Perkawinan keUmur saat menikah
Pendidikan terakhir
Agama
Suku bangsa
Keadaan kesehatan
Kosanguinitas
Penyakit, bila ada
Riwayat Penyakit Keluarga

Ayah / Wali
Ibu / Wali
K
M
1
1
26 tahun
21 tahun
Tamat SD
Tamat SD
Islam
Islam
Jawa
Sunda
Sehat
Sehat
: Pada anggota keluarga pasien tidak ada yang menderita

gejala atau penyakit yang sama seperti yang dialami oleh pasien.
Riwayat Kebiasaan Keluarga

: Merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat-obatan

terlarang disangkal oleh keluarga pasien.


Kesimpulan Riwayat Keluarga

: Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala dan

penyakit yang serupa dengan pasien.


G. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA
Penyakit

Umur

Penyakit

Umur

Penyakit
Penyakit

Alergi

(-)

Difteria

(-)

Cacingan

(-)

Diare

(+)

Penyakit ginjal

(-)

DBD

(-)

Kejang

(-)

Radang paru

(-)

Otitis

(-)

Morbili

(-)

TBC

(-)

Parotitis

(-)

Operasi

(-)

Lain-lain:

(-)

jantung

Umur
(-)

Kesimpulan Riwayat Penyakit yang pernah diderita: Pasien tidak pernah mengalami
penyakit serupa sebelumnya dan pasien pernah menderita diare saat bayi dan berobat ke klinik di
dekat rumah.
H. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN
Pasien tinggal bersama ayah, ibu, adik, dan neneknya. Menurut pengakuan ibu pasien,
keadaan lingkungan rumah padat penduduk, lantai rumah dari keramik, ventilasi udara, sirkulasi
udara dan pencahayaan kurang baik di rumah terutama kamar pasien. Rumah sering dibersihkan
oleh ibu. Sumber air minum dari galon dan sumber air untuk mandi dari air PAM.
Kesimpulan Keadaan Lingkungan: Lingkungan rumah padat, kebersihan terjaga namun untuk
pencahayaan dan sirkulasi udara kurang baik.

I. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Ayah pasien adalah seorang buruh dan ibu pasien seorang ibu rumah tangga dengan
penghasilan total kurang lebih Rp 1.500.000/bulan. Menurut ibu pasien penghasilan tersebut
kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Sehari-hari pasien diasuh oleh
ibunya.
Kesimpulan sosial ekonomi: Penghasilan ayah pasien tersebut kurang cukup untuk memenuhi
kebutuhan pokok sehari-hari.
II. PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 3 Februari 2016 Pukul 13.00 WIB)
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
Kesan Sakit
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
GCS
: 15 (E4M6V5)
Kesan Gizi
: Gizi cukup
Keadaan lain
: Pucat (-), ikterik (-), sesak (+), sianosis (-)
Data Antropometri
Berat Badan sekarang
: 34 kg
Tinggi Badan
: 142 cm
Status Gizi
BB / U = Z score: 0 s/d -2 SD = normal
TB / U = Z score: - 2 SD s/d 0 = normal
BB / TB = Z score: -2 SD s/d 2 SD= gizi normal
Status gizi diatas berdasarkan kurva WHO, pasien termasuk dalam kategori gizi normal.
Tanda Vital
Tekanan Darah: 110/70 mmHg
Nadi
: 90x/ menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regular
Nafas
: 26x/menit, tipe torakoabdominal
Suhu
: 36,7C (diukur dengan thermometer)
KEPALA
: Normosephalic
RAMBUT
: Rambut hitam,pendek, lurus, lebat, distribusi merata dan tidak mudah dicabut
WAJAH
: Wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka atau jaringan parut
MATA:
Visus
: tidak dilakukan
Ptosis
: -/Sklera ikterik
: -/Lagofthalmus : -/Konjungtiva anemis : -/Cekung
: -/Exophthalmus
: -/Kornea jernih : +/+
Enophtalmus
: -/Strabismus
: -/Lensa jernih
: +/+
Nistagmus
: -/Refleks konvergensi :tidak dilakukan
Pupil
: 2mm, bulat, isokor
RCL/RCTL

: +/+

Air mata

: sedikit
9

TELINGA :
Bentuk
Nyeri tarik aurikula
Liang telinga
Serumen
Cairan

: normotia
: -/: lapang
: -/: -/-

Tuli
Nyeri tekan tragus
Membran timpani
Refleks cahaya
Ruam merah

HIDUNG :
Bentuk
Sekret
Mukosa hiperemis

: simetris
: -/: -/-

Napas cuping hidung


Deviasi septum

BIBIR
MULUT

: -/: -/: sulit dinilai


: sulit dinilai
: -/: -/:-

:Mukosa berwarna merah muda, kering (-), sianosis (-), pucat (-)
:Trismus (-), oral hygiene cukup baik, halitosis (-),mukosa gusi berwarna merah

muda, mukosa pipi berwarna merah muda, arcus palatum simetris dengan mukosa palatum
berwarna merah muda
LIDAH
: Normoglosia, mukosa berwarna merah muda, hiperemis (-), atrofi papil (-),
tremor (-), lidah kotor (-), kering (-)
TENGGOROKAN : Dinding posterior faring tidak hiperemis, uvula terletak di tengah, ukuran
tonsil T1/T1 tidak hiperemis, kripta tidak melebar, tidak ada detritus
LEHER
:Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak tampak dan tidak
teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea teraba di tengah
THORAKS :
Jantung
Inspeksi
: ictus cordis terlihat pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Palpasi
: ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Perkusi
: batas kiri jantung : ICS V linea midklavikularis sinistra
Batas kanan jantung : ICS III-V linea sternalis dextra
Batas atas jantung : ICS III linea parasternalis sinistra
Auskultasi
:BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Paru
Inspeksi
: bentuk toraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada pernafasan
yang tertinggal, pernafasan torakoabdominal, pada sela iga tidak terlihat
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

adanya retraksi, pembesaran KGB aksila -/-, ruam (-)


: nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris kanan dan kiri, vocal
fremitus kiri melemah.
: Dextra: ics II-VI redup
Sinistra : ics II-VI hipersonor
: Dextra: suara nafas vesikuler reguler, ronkhi -/-, wheezing -/Sinistra: suara nafas vesikuler, melemah, ronkhi -/+, wheezing -/-

10

ABDOMEN :
Inspeksi :warna kulit sawo matang,ruam (-), kulit keriput (-), umbilikus normal, gerak
dinding perut saat pernapasan simetris, gerakan peristaltik (-)
Auskultasi :bising usus (+), frekuensi 3x/menit
Perkusi : timpani pada seluruh lapang perut, shifting dullness (-)
Palpasi : supel,nyeri tekan (-) pada epigastrium, turgor kulit kembali cepat, hepar dan lien

tidak teraba membesar


GENITALIA :

Jenis kelamin laki-laki

KELENJAR GETAH BENING:


Preaurikuler
: tidak teraba membesar
Postaurikuler
: tidak teraba membesar
Submandibula
: tidak teraba membesar
Supraclavicula
: tidak teraba membesar
Axilla
: tidak teraba membesar
Inguinal
: tidak teraba membesar
EKSTREMITAS :
Simetris, tidak terdapat kelainan pada bentuk tulang, posisi tangan dan kaki, serta sikap
badan, tidak terdapat keterbatasan gerak sendi, akral hangat pada keempat ekstremitas,sianosis
(-), edema (-), capillary refill time<2 detik
KULIT :Warna sawo matang merata, tidak ikterik, tidak sianosis,lembab,tidak ada efloresensi
yang bermakna

STATUS NEUROLOGIS
Refleks Fisiologis

Kanan

Kiri

Biseps

Triceps

Patella

Achiles

Kanan
-

Kiri
-

Refleks Patologis
Babinski
Chaddock
Oppenheim
Gordon

11

Schaeffer
Rangsang meningeal
Kaku kuduk

Kanan
-

Kerniq
Laseq
Brudzinski I
Brudzinski II

Kiri
-

III. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Di Poli Anak (1 Februari 2016)
Hematologi

Hasil

Nilai Normal

Leukosit

20,79 ribu/L

5 - 14.50

Eritrosit

4,39 jt/L

3.9 - 5.3

Hemoglobin

11,5 g/dL

11,5-13,5

Hematokrit

31,6 %

34 -40

Trombosit

310 ribu/L

150 - 440

Dif. Count

0/0/86/7/6

0-1 / 1-3 / 40-70 / 20-40 / 2-8

MCV

72 fL

75 95

MCH

26 pg

25 33

36 g/dL

31 - 37

MCHC
RDW

15 %

Imunologi

Hasil

Nilai Normal

S. Thyposa H

Negatif

Negatif

S. H Paratyphi A

Negatif

Negatif

S. H Paratyphi B

Negatif

Negatif

S. H Paratyphi C

Negatif

Negatif

S. Thyposa O

Negatif

Negatif

S. O Paratyphi A

Negatif

Negatif

S. O Paratyphi B

Negatif

Negatif

S. O Paratyphi C

Negatif

Negatif

12

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI BANGSAL (1 Februari 2016) :


Hematologi

Hasil

Nilai Normal

81 mm/jam

0-10

Leukosit

22,24 ribu/L

5 - 14.50

Eritrosit

4,26 jt/L

3.9 - 5.3

Hemoglobin

11 g/dL

11,5-13,5

Hematokrit

30,7 %

34 -40

Trombosit

288 ribu/L

150 - 440

MCV

72 fL

75 95

MCH

26 pg

25 33

MCHC

36 g/dL

31 - 37

RDW

15,1 %

LED

Hematologi

Hasil

Nilai Normal

Basofil

0%

0-1

Eosinofil

0%

1-3

Neutrofil

89 %

40-70

Limfosit
Monosit

6%
5%

20-40
2-8

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI BANGSAL (3 Februari 2016) :

13

Hematologi

Hasil

Nilai Normal

15,59 ribu/L

5 - 14.50

Hemoglobin

10,7 g/dL

11,5-13,5

Hematokrit

30,4 %

34 -40

Trombosit

630 ribu/L

150 - 440

MCV

74 fL

75 95

MCH

26 pg

25 33

MCHC

35 g/dL

31 - 37

RDW

15,7 %

Leukosit

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI BANGSAL (6 Februari 2016)


Hematologi

Hasil

Nilai Normal

Leukosit

16,43 ribu/L

5 - 14.50

Eritrosit

4,4 jt/L

3.9 - 5.3

Hemoglobin

11,4 g/dL

11,5-13,5

Hematokrit

35,2 %

34 -40

Trombosit

1.299 ribu/L

150 - 440

MCV

80 fL

75 95

MCH

26 pg

25 33

MCHC

32 g/dL

31 - 37

RDW

17,6 %

14

Foto Rontgen Thorax:

Interprestasi (29 januari 2016)


Tampak corakan broncovaskular di kedua paru dalam batas normal.
Tampak perselubungan homogen dengan air bronchogram di lapangan paru kanan tengah
bawah, serta di perihiler dan parakardial kiri.
Pleura kiri menebal (posisi supine)
Jantung dalam batas normal
Kesan : pneumonia bilateral dengan efusi pleura sinistra
DD/ et causa TB

RESUME
Anak Perempuan, berinisial T usia 12 tahun, berat badan 40 kg, datang ke IGD RSUD
Karawang diantar keluarganya dengan keluhan batuk sejak 2 bulan sebelum masuk Rumah Sakit.
Pasien mengaku batuk berdahak namun sulit untuk dikeluarkan dan timbul kapan saja tanpa
pencetus. Dua hari sebelum masuk Rumah Sakit pasien mual dan muntah setiap kali makan dan
minum obat OAT disertai batuk yang semakin memberat dan sesak nafas hingga dirasakan nyeri

15

pada dada kanan. Seminggu sebelum masuk Rumah Sakit, pasien mengeluh menderita demam
yang tidak terlalu tinggi dan keringat dingin pada malam hari kadang disertai menggigil. Ibu
pasien mengaku demam sudah pernah terjadi sebelumnya, hilang timbul dan tidak terlalu tinggi.
Berat badan pasien menurun tanpa sebab sejak 2 bulan terakhir kurang lebih sebanyak 4 kg.
Pasien di diagnosa menderita TB dua bulan yang lalu dan sudah mengkonsumsi OAT jalan bulan
ke-2, namun muntah setiap kali minum obat tersebut. Tidak buang air besar dua hari, buang air
kecil tidak ada keluhan. Empat hari setelah masuk Rumah Sakit pasien dipasang selang pada
dada kanan dan keluar cairan berwarna kemerahan sebanyak 2 kolf. Setelah pemasangan selang,
sesak berukurang, keringat dingin malam (+). Tes Mantoux Positif. Saat ini, pasien mengaku
masih ada batuk namun jarang dan tidak berdahak. Demam, menggigil, keringat malam, sesak
nafas, nyeri dada, mual dan muntah sudah tidak ada. Gangguan buang air besar dan buang air
kecil disangkal oleh pasien
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis dengan keadaan umum
tampak sakit sedang. Tanda vital dalam batas normal. Tidak didapatkan kelaiann pada regio
kepala dan leher. Toraks, palpasi ditemukan vokal fremitus yang melemah pada paru kanan,
perkusi hipersonor ics II-VI dextra dan auskultasi suara nafas vesikuler menghilang pada paru
kanan, ronkhi dan weezhing tidak ditemukan dikedua lapang paru. Bunyi jantung I-II reguler,
murmur (-) gallop (-). Abdoment bising usus (+) 3x/menit, turgor kulit kembali cepat. Akral
hangat pada keempat ekstremitas dan capillary refill time <2 detik.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb menurun (10,2 g/dL) leukositosis (26,27
g/dL), trombositosis (593 ribu), hematrokit menurun (32,7%), eosinofil menurun (0%), limfosit
menurun (9%), monosit meningkat (23%), MCV menurun (59 fL), MCH menurun (19 DO).
Pada pemeriksaan foto rontgen thorax tampak gambaran bercak infiltrat pada apex lobus paru
sinistra, tampak gambaran hiperlucent tanpa corakan bronkovaskuler pada hemitoraks dextra
disertai kolaps pada paru dextra dan jantung terdesak ke kiri disertai perselubungan homogen
pada bagian basal hemitoraks kanan dengan garis ellis, sudut costo frenikus tumpul.
IV. DIAGNOSIS KERJA
Efusi Pleura et causa TB paru
V. DIAGNOSIS BANDING
16

Pneumonia
VI. PENATALAKSANAAN

Usulan pemeriksaan tambahan:


- Pemeriksaan Rontgen thorax
- Pemeriksaan BTA sputum
- Pemeriksaan DL, TIBC, SI

Non-medika Mentosa:
-

Medika Mentosa:
-

Dirawat inap
Observasi keadaan umum dan tanda vital
Pasien dirawat diruang isolasi dengan udara dan pencahayaan yang baik
Diberikan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien

O2 3L/m
IVFD Ringer Laktat 20 tetes/menit
Inj. Cefotaxim 1 gram/8 jam
Inj. Ranitidin 25 mg/12 jam
Norages 3x400 mg
Rifampisin 1x340 mg
INH 1x300 mg
Pirazinamid 2x500 mg
Ambroxol 3 x1 cth
Dexametason 3 x5 mg

Edukasi:
-

Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakit


Menjelaskan mengenai pengobatan yang diberikan dan jadwal minum obat supaya tidak
terulang kembali putusnya OAT. Dan memantau terus kondisi pasien, segera melapor ke
meja perawat atau dokter apabila terlihat kondisi pasien memburuk

Memberitahu keluarga untuk memotivasi pasien agar tetap semangat menjalankan hidup

seperti biasa dan meminum obat secara teratur


Mengkonsumsi makanan yang bergizi

VII. PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Functionam
Ad Sanationam

:Ad Bonam
:Dubia Ad Bonam
:Dubia Ad Bonam

17

FOLLOW-UP
Tanggal
01/02/16
Perawatan
hari - 1
BB = 34kg

S
-

02/02/16
Perawatan
hari - 2

Pasien
mengeluh
batuk disertai sesak
nafas sejak 1 minggu
yang lalu
Demam
terkadang
muncul
sejak
1
minggu yang lalu
Berkeringat dingin
Tdak nafsu makan
Lemas

Tampak sakit sedang, compos mentis


Efusi pleura et causa
TTV :
TB
TD 120/70 mmHg
N 88x/m
RR 26x/m
S 37,20C
Kepala : normocephale,
Mata: Konjuntiva anemis -/- , sklera ikterik
-/Hidung : nafas cuping hidung -/Mulut : bibir sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening
(-), pembesaran tiroid (-)
Tho : SN vesikuler, Rh -/+, Wh -/-, BJ I-II
reguler, M (-), G (-)
Abd : datar, BU (+), supel, turgor kulit baik
Ekst : edema pada keempat ekstremitas (-) ,
CRT < 2

O2 3L/m
IVFD Ringer Laktat 20

tetes/menit
Inj. Cefotaxim 1 gram/8

jam
Inj. Ranitidin 25 mg/12

jam
Norages 3x400 mg
Ambroxol 3 x1 cth
Dexametason 3 x5 mg

Tampak sakit sedang, compos mentis


TTV :
N 100x/m
R 36x/m

O2 3L/m
IVFD Ringer Laktat 20

tetes/menit
Inj. Cefotaxim 1 gram/8

batuk sudah agak


berkurang
sesak masih terasa
berat

Efusi pleura et causa


TB

18

S 360C
Kepala : normocephale,
Mata: Konjuntiva anemis -/- , sklera ikterik
-/Hidung : nafas cuping hidung -/Mulut : bibir sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening
(-), pembesaran tiroid (-)
Tho :
Pulmo :
I : gerakan dada asimtris, dada kiri tertinggal
dan lebih cembung
P : hipersonor / redup
A: vesikuler (melemah) +/+, rh -/+, wh -/-

BB = 34 kg

jam
Inj. Ranitidin 25 mg/12

jam
Norages 3x400 mg
Ambroxol 3 x1 cth

Dexametason 3 x5 mg

O2 3L/m
IVFD Ringer Laktat 20

tetes/menit
Inj. Cefotaxim 1 gram/8

Cor : BJ I, II Reguler, m (-), g (-)


Abd : datar, BU (+), supel, turgor kulit baik,
NT (-)
Ekst : akral hangat, edema pada keempat
ekstremitas (-) , CRT < 2
03/02/16
Perawatan
hari - 3

BB = 34 kg

batuk
masih
namun berkurang
badan
masih
lemas
sesak masih terasa

Tampak sakit sedang, compos mentis


TTV :
TD 120/70 mmHg
N 90x/m
RR 26x/m

Efusi pleura et causa


TB

jam

19

S 36,70C
Kepala : normocephale,
Mata: Konjuntiva anemis +/+ , sklera ikterik
-/Hidung : nafas cuping hidung -/Mulut : bibir sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening
(-), pembesaran tiroid (-)
Tho :
Pulmo :
I : gerakan dada asimtris, dada kiri tertinggal
dan lebih cembung.
P : hipersonor / redup
A: vesikuler (melemah) +/+, rh -/+, wh -/-

Inj. Ranitidin 25 mg/12

jam
Norages 3x400 mg
Rifampisin 1x340 mg
INH 1x300 mg
Pirazinamid 2x500 mg
Ambroxol 3 x1 cth
Dexametason 3 x5 mg

O2 3L/m
IVFD Ringer Laktat 20

Cor : BJ I, II Reguler, m (-), g (-)


iktus cordis 2 jari lateral midclavicula
sinistra
Abd : datar, BU (+), supel, turgor kulit baik,
NT (-)
Ekst : akral hangat, edema pada keempat
ekstremitas (-) , CRT < 2

04/02/16
Perawatan

sudah tidak sesak Tampak sakit sedang, composmentis


masih
batuk

Efusi pleura et causa

20

hari ke - 4
BB: 34 kg

namun jarang

TTV :
TB
N 88x/m
R 18x/m
S 36,80C
Kepala : normocephale,
Mata: Konjuntiva anemis +/+ , sklera ikterik
-/Hidung : nafas cuping hidung -/Mulut : bibir sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening
(-), pembesaran tiroid (-)
Tho :
Pulmo :
P : hipersonor / redup
A: vesikuler +/+, rh -/-, wh -/Cor : BJ I, II Reguler, m (-), g (-)
Abd : datar, BU (+), supel, turgor kulit baik,
NT (-)
Ekst : akral hangat, edema pada keempat
ekstremitas (-) , CRT < 2

tetes/menit
Inj. Cefotaxim 1 gram/8

jam
Inj. Ranitidin 25 mg/12

jam
Norages 3x400 mg
Rifampisin 1x340 mg
INH 1x300 mg
Pirazinamid 2x500 mg
Ambroxol 3 x1 cth
Dexametason 3 x5 mg

21

06/02/16
Perawatan
hari ke - 4
BB: 34 kg

Sesak berkurang
Tampak sakit sedang, composmentis
Efusi pleura et causa
masih
batuk TTV :
TB
N 90x/m
kering
R 22 x/m
S 36,80C
Kepala : normocephale,
Mata: Konjuntiva anemis +/+ , sklera ikterik
-/Hidung : nafas cuping hidung -/Mulut : bibir sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening
(-), pembesaran tiroid (-)
Tho :
Pulmo :
P : hipersonor / redup
A: vesikuler +/+, rh -/-, wh -/Cor : BJ I, II Reguler, m (-), g (-)
Abd : datar, BU (+), supel, turgor kulit baik,
NT (-)
Ekst : akral hangat, edema pada keempat

O2 3L/m
IVFD Ringer Laktat 20

tetes/menit
Inj. Cefotaxim 1 gram/8

jam
Inj. Ranitidin 25 mg/12

jam
Norages 3x400 mg
Rifampisin 1x340 mg
INH 1x300 mg
Pirazinamid 2x500 mg
Ambroxol 3 x1 cth
Dexametason 3 x5 mg

22

ekstremitas (-) , CRT < 2

23

BAB III
ANALISIS KASUS
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada
parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus
disekitarnya berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy distribution), yang sering
menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri,
virus, jamur dan benda asing.2 Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah
kesehatan utama pada anak di Negara berkembang. Pneumonia merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas anak berusia dibawah lima tahun (balita).4
Usia pasien merupakan peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak,
terutama dalam spectrum etiologi, gambaran klinis dan strategi pengobatan.6 Penyebab tersering
pneumonia bakterial adalah Streptococcus pneumoniae. Virus lebih sering ditemukan pada anak
usia <5 tahun dan respiratory syncytial virus (RSV) merupakan penyebab tersering pada anak
usia <3 tahun. Virus lain penyebab pneumonia meliputi adenovirus, parainfluenza virus, dan
influenza virus. Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia pneumonia lebih sering ditemukan
pada anak usia >10 tahun. Sementara itu, bakteri yang paling banyak ditemukan pada apusan
tenggorokan pasien usia 2-59 bulan adalah Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus,
dan Hemophilus influenzae.1
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kejadian dan derajat pneumonia
adalah defek anatomi sistem respirasi bawaan, imunodefisiensi, polusi, GERD, gangguan sistem
neurologi (aspirasi), gizi buruk, BBLR, tidak mendapatkan ASI, imunisasi tidak lengkap,
terdapat anggota keluarga serumah yang menderita batuk, kamar tidur yang terlalu padat, dan
sedang dalam perawatan di rumah sakit terutama di bagian perawatan intensif atau sedang
menjalani prosedur tindakan invasif.1,5
Pada kasus ini didapatkan bayi laki-laki berusia 11 bulan, datang diantar oleh ibu
kandungnya ke IGD RSUD Karawang dengan keluhan batuk sejak 2 minggu sebelum masuk
rumah sakit. Menurut teori, dari segi usia kemungkinan penyebab dari infeksi saluran napas pada
pasien ini adalah respiratory syncytial virus (RSV) merupakan penyebab tersering pada anak
usia <3 tahun dan bakteri seperti Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan
Hemophilus influenzae. Pada pasien tidak terdapat defek anatomi sistem respirasi bawaan, tidak

mengalami imunodefisiensi,tidak GERD, tidak ada gangguan sistem neurologi (aspirasi), gizi
baik, berat badan lahir cukup (3200 gram), mendapatkan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan,
imunisasi lengkap, tidak terdapat anggota keluarga serumah yang menderita batuk, kamar tidur
luas, dan tidak sedang dalam perawatan di rumah sakit terutama di bagian perawatan intensif
atau sedang menjalani prosedur tindakan invasif sehingga banyak faktor resiko yang tidak
terdapat pada pasien ini. Satu-satunya faktor resiko adalah terdapatnya polusi di rumah karena
ayah pasien merupakan seorang perokok.
Usia merupakan faktor penentu dalam manifestasi klinis pneumonia. Neonates dapat
menunjukan hanya gejala demam tanpa ditemukanya gejala-gejala fisis pneumonia. Pola klinis
yang khas pada pasien pneumonia viral dan bakterial umumnya berbeda antara bayi yang lebih
tua dan anak, walaupun perbedaan tersebut tidak selalu jelas pada pasien tertentu. Demam,
menggigil, takipneu, batuk, malaise, nyeri dada akibat pleuritis, retraksi, iritabilitas akibat sesak
respiratorik, dan keluhan gastrointestinal lebih sering terjadi pada bayi yang lebih tua dan anak. 1,7
Infeksi viral pada traktus respiratorius juga dapat meningkatkan risiko terhadap infeksi bakteri
sekunder dengan mengganggu mekanisme pertahanan normal pejamu, mengubah sekresi normal,
dan memodifikasi flora bakterial.4
Pneumonia virus lebih sering berasosiasi dengan batuk, mengi, atau stridor, dan gejala
demam lebih tidak menonjol dibandingkan pada pneumonia bakterial. Pneumonia bakterial
secara tipikal berasosiasi dengan demam tinggi, menggigil, batuk, dispneu, dan pada auskultasi
ditemukan adanya tanda konsolidasi paru. Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan
konjungtivitis, otitis media, faringitis, dan laringitis. Gejala klinis lainya yang dapat ditemukan
adalah distress pernapasan termasuk napas cuping hidung, retraksi interkosta dan subkosta,
merintih (grunting), serta sianosis.1,5
Pada pasien ditemukan manifestasi klinis berupa batuk sejak 2 minggu yang lalu, demam
sejak 4 hari yang lalu, dan keluhan gastrointestinal sejak 1 hari yang lalu. Terdapat stridor namun
keluhan sesak tidak ada. Menurut teori, kemungkinan pada pasien ini pada awalnya infeksi
saluran pernapasan disebabkan oleh virus karena hanya ada keluhan batuk dan keluhan demam
tidak menonjol, namun telah terjadi infeksi sekunder oleh bakteri sehingga timbul keluhan
demam. Tidak ada keluhan mengi, distress pernapasan, merintih, maupun sianosis. Tidak
ditemukan penyakit penyerta seperti konjungtivitis, otitis media, faringitis, dan laringitis pada
pasien ini.
1

Anamnesis yang perlu ditanyakan terhadap pasien yang diduga bronkopneumoni adalah
sebagai berikut:6

Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi produktif dengan dahak purulent bahkan bisa

berdarah
Sesak nafas
Demam
Kesulitan makan/minum
Tampak lemah
Serangan pertama atau berulang (untuk membedakan dengan kondisi imunodefisiensi,
kelainan anatomi bronkus, atau asma)
Dari hasil anamnesis, ibu pasien mengaku bahwa batuk yang terjadi awalnya kering,

namun baru beberapa hari belakangan ini menjadi produktif dengan dahak yang kental dan sulit
keluar. Selain itu terdapat juga keluhan demam dan nafsu makan yang menurun sehingga pasien
tampak lemah. Keluhan sesak disangkal dan penyakit seperti ini baru pertama kali dialami oleh
pasien.
Dalam pemeriksaan fisik akan ditemukan hal-hal sebagai berikut:6

Penilaian keadan umum anak, frekuensi napas, dan nadi harus dilakukan pada saat awal

pemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang dapat menyebabkan anak gelisah atau rewel.
Penilaian keadaan umum antara lain meliputi kesadaran dan kemampuan makan/minum.
Demam (suhu tubuh 38,5oC) dan sianosis

Gejala distres pernapasan seperti takipneu, retraksi otot subkosta, epigastrik, interkostal,
suprasternal, batuk, krepitasi, pernapasan cuping hidung, dan penurunan suara paru.

Takipneu berdasarkan WHO:


Usia < 2 bulan

60 x/menit

Usia 2-12 bulan

50 x/menit

Usia 1-5 tahun

40 x/menit

Usia 6-12 tahun

28 x/menit

Anak di bawah 5 tahun mungkin tidak menunjukan gejala pneumonia yang klasik. Pada anak
yang demam dan sakit akut, terdapat gejala nyeri yang diproyeksikan ke abdomen. Pada bayi
muda, terdapat gejala pernapasan tak teratur dan hipopneu

Pada palpasi ditemukan fremitus vokal menurun.

Pada perkusi lapangan paru redup pada daerah paru yang terkena.
2

Pada auskultasi dapat terdengar suara pernafasan menurun. Fine crackles (ronki basah
halus) yang khas pada anak besar bisa tidak ditemukan pada bayi. Dan kadang terdengar
juga suara bronkial.5,7
Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien didapatkan demam (38,9oC)

namun saat ini sedang tidak demam (37,1oC), dan terdapat ronki basah halus yang memperkuat
dugaan terhadap diagnosis bronkopneumonia. Namun pada pasien ini tidak ditemukan adanya
distress pernapasan kecuali batuk, dan tidak terdapat nyeri abdomen, penurunan vokal fremitus
pada palpasi, dan suara paru yang redup pada perkusi.
Pemeriksaan penunjang lainya mungkin dibutuhkan dalam menegakan diagnosis
bronkopneumonia atau untuk membedakan etiologi yang mendasari penyakit tersebut. Berikut
pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan:
1. Pemeriksaan laboratorium
Pada pneumonia virus dan mikoplasma umumnya leukosit dalam batas normal atau
sedikit meningkat. Pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar antara
15.000 40.000/mm3 dengan predominan PMN. Pada infeksi Chlamydia kadang ditemukan
eosinofilia. Kadang-kadang terdapat anemia ringan dan laju endap darah (LED) yang
meningkat. Secara umum, hasil pemeriksaan darah perifer lengkap dan LED tidak dapat
membedakan antara infeksi virus dan bakteri secara pasti.1,5,6
Terdapat leukositosis (45,89 ribu/L) pada pasien ini yang menandakan adanya
infeksi bakteri. Belum dilakukan pemeriksaan laju endap darah (LED) pada pasien ini.
2. C-Reactive Protein (CRP)
Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk membedakan antara faktor
infeksi dan noninfeksi, infeksi virus dan bakteri, atau infeksi bakteri superfisialis dan
profunda. Kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan infeksi bakteri
superfisialis daripada infeksi bakteri profunda. CRP kadang digunakan untuk evaluasi
respons terhadap terapi antibiotik.1,5,6
Pemeriksaan CRP dan prokalsitonin juga dapat menunjang pemeriksaan radiologi
untuk mengetahui spesifikasi pneumonia karena pneumokokus dengan nilai CRP 120 mg/l
dan prokalsitonin 5 ng/ml.7
Tidak dilakukan pemeriksaan CRP pada pasien ini dikarenakan fasilitas yang kurang
memadai dan kurang begitu diperlukan.
3

3. Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologik seperti kultur dan pewarnaan gram untuk diagnosis
pneumonia anak tidak rutin dilakukan kecuali pada pneumonia berat,dan jarang didapatkan
hasil yang positif. Untuk pemeriksaan mikrobiologik, spesimen dapat berasal dari usap
tenggorok, sekret nasofaring tidak memiliki nilai yang berarti. Diagnosis dikatakan definitif
bila kuman ditemukan dari darah, cairan pleura, atau aspirasi paru.5
Tidak dilakukan pemeriksaan mikrobiologis pada pasien ini dikarenakan pasien
bukan merupakan pasien pneumonia berat.
4. Pemeriksaan serologis
Uji serologik untuk medeteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri tipik
mempunyai sensitivitas dan spesifitas yang rendah. Akan tetapi, diagnosis infeksi
Streptokokus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibodi seperti
antistreptolisin O, streptozim, atau antiDNAse B. Uji serologik IgM dan IgG antara fase akut
dan konvalesen pada anak dengan infeksi pneumonia oleh Chlamydia pneumonia dan
Mycoplasma pneumonia memiliki hasil yang memuaskan tetapi tidak bermakna pada
keadaan pneumonia berat yang memerlukan penanganan yang cepat.5,6
Tidak dilakukan uji serologis pada pasien ini dikarenakan pemeriksaan tersebut
belum begitu diperlukan.
5. Pemeriksaan antigen virus
Pada anak kurang dari 18 bulan, dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi antigen
visrus dengan atau tanpa kultur virus jika fasilitas tersedia.6
Tidak dilakukan pemeriksaan antigen virus dikarenakan kemungkinan besar infeksi
pada pasien ini disebabkan oleh bakteri dan fasilitas yang kurang memadai untuk
pemeriksaan tersebut.
6. Pemeriksaan Foto Rontgen Toraks
Foto rontgen toraks proyeksi posterior-anterior merupakan dasar diagnosis utama
pneumonia. Tetapi tidak rutin dilakukan pada pneumonia ringan, hanya direkomendasikan
pada pneumonia berat yang dirawat dan timbul gejala klinis berupa takipneu, batuk, ronki,
dan peningkatan suara pernafasan. Kelainan foto rontgen toraks pada pneumonia tidak selalu
berhubungan dengan gambaran klinis. Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk
menunjang diagnosis pneumonia hanyalah pemeriksaan posisi AP. Lynch dkk mendapatkan
4

bahwa tambahan posisi lateral pada foto rontgen toraks tidak meningkatkan sensitivitas dan
spesifisitas penegakkan diagnosis.1,5,6
Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari:

Infiltrat

interstisial,

ditandai

dengan

peningkatan

corakan

bronkovaskular,

peribronchial cuffing dan overaeriation. Bila berat terjadi pachy consolidation karena
atelektasis.

Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Konsolidasi


dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau terlihat sebagai lesi
tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas
dan menyerupai lesi tumor paru disebut sebagai round pneumonia

Bronkopneumoni ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru berupa
bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru disertai dengan
peningkatan corakan peribronkial.
Foto rontgen tidak dapat menentukan jenis infeksi bakteri, atipik, atau virus. Tetapi

gambaran foto rontgen toraks dapat membantu mengarahkan kecenderungan etiologi.


Penebalan peribronkial, infiltrat interstitial merata dan hiperinflasi cenderung terlihat pada
pneumonia virus. Infiltrat alveolar berupa konsolidasi segmen atau lobar, bronkopneumoni
dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh bakteri.5
Tidak dilakukan pemeriksaan foto toraks pada pasien ini dikarenakan pasien ini
bukanlah pasien dengan pneumonia berat.
J. TATALAKSANA
WHO merekomendasikan penggunaan peningkatan frekuensi napas dan retraksi subkosta
untuk mengklasifikasikan pneumonia di Negara berkembang. Namun demikian, kriteria tersebut
mempunyai sensitivitas yang buruk untuk anak malnutrisi dan sering overlapping dengan gejala
malaria.6
Klasifikasi pneumonia (Berdasarkan WHO)6

Bayi kurang dari 2 bulan:


o Pneumonia berat: napas cepat atau retraksi yang berat

o Pneumonia sangat berat: tidak mau menetek/minum, kejang, letargis, demam atau

hipotermia, bradipneu atau pernapasan ireguler


Anak umur 2 bulan-5 tahun:
o Pneumonia ringan: napas cepat
o Pneumonia berat: retraksi
o Pneumonia sangat berat: tidak dapat makan/minum, kejang, letargis, malnutrisi
Dari kriteria diatas, pasien tidak termasuk dalam kriteria pneumonia berat ataupun
sangat berat.

Kriteria rawat inap6

Bayi:
o Saturasi oksigen 92%, sianosis
o Frekuensi napas >60x/menit
o Distress pernapasan, apneu intermiten, atau grunting
o Tidak mau minum/menetek
o Keluarga tidak bisa merawat di rumah
Anak:
o Saturasi oksigen 92%, sianosis
o Frekuensi napas >50x/menit
o Distress pernapasan
o Grunting
o Terdapat tanda dehidrasi
o Keluarga tidak bisa merawat di rumah
Indikasi rawat inap pada pasien ini adalah karena pasien tidak mau minum/menetek.

Tatalaksana Umum:
Pasien dengan saturasi oksigen 92% pada saat bernapas dengan udara kamar harus
diterapi oksigen dengan kanul nasal, head box, atau sungkup untuk mempertahankan saturasi
oksigen >92%.6

Pada pneumonia berat atau asupan peroral kurang, diberikan cairan intravena dan lakukan

balans cairan ketat


Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak dengan pneumonia
Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan dan mengkontrol batuk
Nebulisasi dengan 2 agonis dan atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary

clearance
Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya 4 jam sekali, termasuk
pemeriksaan saturasi oksigen

Pasien tidak diberikan oksigen karena tidak ada tanda-tanda distress pernapasan dan
saturasi dirasa baik walaupun tidak dilakukan pemeriksaan saturasi oksigen. IV line dipasang
karena asupan peroral yang kurang dan adanya muntah apabila menerima asupan melalui mulut.
Tidak dilakukan fisioterapi dan nabulisasi pada pasien ini karena tidak terdapat sesak.
Pemberian antibiotik:6

Amoksisilin merupakan pilihan utama untuk antibiotik oral pada anak <5 tahun karena
efektif melawan sebagian besar pathogen yang menyebabkan pneumonia pada anak,
ditoleransi dengan baik, dan murah. Alternatifnya adalah co-amoxiclav, ceflacor, eritromisin,

claritromisin, dan azitromisin


Mycoplasma pneumoniae lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua maka antibiotik

golongan makrolid diberikan sebagai pilihan utama secara empiris pada anak 5 tahun
Makrolid diberikan jika Mycoplasma pneumoniae atau Clamydia pneumoniae dicurigai

sebagai penyebab
Amoksisilin diberikan sebagai pilihan utama jika Streptococcus pneumoniae sangat mungkin

sebagai penyebab
Jika Staphylococcus aureus dicurigai sebagai penyebab, diberikan makrolid atau kombinasi

flucloxacillin dengan amoksisilin


Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima obet per

oral (misal karena muntah) atau termasuk dalam derajat pneumonia berat
Antibiotik intravena yang dianjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav,

ceftriaxone, cefuroxime, dan cefotaxime


Pemberian antibiotik oral harus dipertimbangkan jika terdapat perbaikan setelah mendapat
antibiotik intravena

Antibiotik untuk Community Acquired Pneumonia (CAP) Rekomendasi UUK (Unit Kerja
Koordinasi) Respirologi:6

Neonatus-2 bulan:
o Ampisilin + gentamisin
>2 bulan:
o Lini pertama adalah ampisilin, bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan dapat ditambahkan
kloramfenikol
o Lini kedua adalah ceftriaxone
Bila klinis terdapat perbaikan, antibiotik intravena dapat diganti ke preparat oral dengan

antibiotik golongan yang sama dengan antibiotik intravena sebelumnya.6

Antibiotik yang direkomendasikan untuk pemberian secara intravena pada pasien rawat
inap adalah ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime, dan cefotaxime.
Pada pasien ini diberikan terapi antibiotik yang sudah sesuai dengan rekomndasi tersebut yaitu
ampisilin dan kloramfenikol.
Nutrisi:6

Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan per oral harus dihindari.
Makanan dapat diberikan lewat nasogastric tube (NGT) atau intravena. Tetapi harus diingat
bahwa NGT dapat menekan pernapasan, khususnya pada bayi/anak dengan ukuran lubang

hidung kecil. Bila memang dibutuhkan, sebaiknya menggunakan ukuran yang terkecil
Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak mengalami overhidrasi
karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormone antidiuretik
Pasien tidak dipasang NGT ataupun OGT karena masih dapat menerima asupan peroral

sedikit demi sedikit dan tidak ada distress pernapasan yang berat. Tidak dilakukan pemantauan
balans cairan karena pasien tidak termasuk dalam pneumonia berat.
Kriteria rawat pulang:6

Gejala dan tanda pneumonia hilang


Asupan per oral adekuat
Pemberian antibiotik dapat diteruskan di rumah (per oral)
Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol
Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah
Pasien telah dipulangkan dan dilakukan rawat jalan karena sudah tidak ada gejala

pneumonia yaitu telah bebas demam >24 jam dan batuk sudah tidak ada, asupan per oral sudah
adekuat sehingga mampu menerima antibiotik secara per oral, keluarga mengerti dan setuju
untuk pemberian terapi dan rencana kontrol, dan kondisi rumah memungkinkan untuk rawat
jalan.
Tabel 2. Pilihan Antibiotik Intravena untuk Pneumonia6
Antibiotik

Dosis

Frekuensi

Penisilin G

50.000 unit/kg/kali Tiap 4 jam


Dosis
tunggal
maks.
4.000.000
unit

Relative Cost

Keterangan

Rendah

S. pneumonia

Ampisilin

100 mg/kg/hari

Tiap 6 jam

Rendah

Kloramfenikol

100 mg/kg/hari

Tiap 6 jam

Rendah

Ceftriaxone

50 mg/kg/kali
1x/hari
Dosis
tunggal
maks. 2 gram

Tinggi

S.
pneumonia,
influenza

H.

Cefuroxime

50 mg/kg/kali
Tiap 8 jam
Dosis
tunggal
maks. 2 gram

Tinggi

S.
pneumonia,
influenza

H.

Clindamycin

10 mg/kg/kali
Tiap 6 jam
dosis tunggal maks.
1,2 gram

Rendah

Group A Streptococcus, S.
aureus, S. pneumoniae
(alternatif untuk anak yang
alergi terhadap betalactam,
lebih jarang menimbulkan
flebitis pada pemberian IV
daripada eritromisin

Eritromisin

10 mg/kg/kali
Tiap 6 jam
Dosis
tunggal
maks. 1 gram

Rendah

S. pneumoniae, Chalydia
pneumonia, Mycoplasma
pneumonia

Pasien diberikan antibiotik intravena yaitu ampisilin 4x250mg dan kloramfenikol


4x250mg, hal tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi dosis yang tertera pada tabel diatas.
K. DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding didasari dari persamaan manifestasi klinis dari penyakit lain yang
serupa dengan penyakit broncopneumonia, antara lain seperti pada tabel berikut
Tabel 3. Diagnosis Banding Bronkopneumonia pada Anak8
Diagnosis

Gejala klinis yang ditemukan

Bronkiolitis

Tuberkulosis (TB)

Episode pertama wheezing pada anak


umur <2 tahun
Hiperinflasi dinding dada
Ekspirasi memanjang
Gejala pada pneumonia juga dapat
dijumpai
Kurang atau tidak ada respon dengan
bronkodilator
Riwayat kontak positif dengan pasien TB
dewasa
Uji tuberculin positif (10 mm, pada
9

Asma Bronkial

keadaan imunosupresi 5 mm)


Pertumbuhan buruk/kurus atau berat
badan menurun
Demam (2 minggu) tanpa sebab yang
jelas
Batuk kronis (3 minggu)
Pembengkakan kelenjar limfe leher,
aksila, inguinal yang spesifik
Pembengkakan tulang/sendi punggung,
panggul, lutut, falang
Riwayat wheezing berulang, kadang tidak
berhubungan dengan batuk dan pilek
Hiperinflasi dinding dada
Ekspirasi memanjang
Berespon baik terhadap bronkodilator

Tidak terdapat wheezing, hiperinflasi dinding dada, serta ekspirasi memanjang pada
pasien ini sehingga melemahkan dugaan terhadap penyakit bronkiolitis namun tetap menjadi
diagnosis banding karena pada bronkiolitis juga terdapat gejala pneumonia. Tidak ada anggota
keluarga pasien di rumah yang mengalami batuk lama atau di diagnosis TB paru, pasien tidak
pernah dilakukan uji tuberkulin karena tidak ada indikasi, pasien termasuk ke dalam kategori gizi
baik/normal, tidak ada demam berkepanjangan, tidak ada batuk kronis, tidak ada pembengkakan
KGB, serta tidak ada pembengkakan tulang/sendi punggung, panggul, lutut, maupun falang
sehingga melemahkan dugaan terhadap penyakit TB paru namun tetap menjadi diagnosis
banding karena kontak dengan pasien TB dewasa tidak harus selalu dengan orang yang serumah,
pasien belum dilakukan uji tuberkulin, dan terdapat gejala batuk berkepanjangan walaupun
belum 3 minggu. Tidak terdapat wheezing, hiperinflasi dinding dada, ekspirasi memanjang,
serta riwayat atopik pada pasien ini maupun keluarganya sehingga melemahkan dugaan terhadap
penyakit asma bronkial namun masih tetap menjadi diagnosis banding dikarenakan masih
terdapat hubungan dengan gejala batuk.
L. PROGNOSIS
Pada umumnya anak akan sembuh dari pneumonia dengan cepat dan sempurna,
walaupun kelainan radiologi dapat bertahan selama 6-8 minggu sebelum kambali ke kondisi
normal. Pada beberapa anak, pneumonia dapat berlangsung lebih lama dari 1 bulan atau dapat
berulang. Pada kasus seperti ini, kemungkinan adanya penyakit lain yang mendasari harus
10

diselidiki lebih lanjut seperti dengan uji tuberculin, pemeriksaan hidroklorida keringat untuk
penyakit kistik fibrosis, pemeriksaan immunoglobulin serum dan determinasi sub kelas IgG,
bronkoskopi untuk identifikasi kelainan anatomis atau mencari benda asing, dan pemeriksaan
barium meal untuk kasus GERD.5
Disisi lain, data SurveI Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2011 menunjukan bahwa 27,6%
kematian bayi dan 22,8% kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit respirasi
terutama pneumonia.1
Berkat terapi yang tepat serta adekuat, pasien dapat sembuh sempurna dan telah
dipulangkan untuk melanjutkan pengobatan di rumah.
M. KOMPLIKASI
Pneumonia bakterial seringkali menyebabkan cairan inflamasi terkumpul di rongga
pleura, kondisi ini mengakibatkan efusi parapneumonik atau apabila cairan tersebut purulent
disebut empiema. Efusi dalam jumlah kecil tidak memerlukan terapi. Efusi dalam jumlah besar
akan membatasi pernapasan dan harus dilakukan tindakan drainase. Diseksi udara diantara
jaringan paru mengakibatkan timbulnya pneumatokel, atau timbulnya kantung udara. Jaringan
parut pada saluran pernapasan dan parenkim paru akan menyebabkan terjadinya dilatasi bronkus
dan mengakibatkan bronkiektasis dan peningkatan risiko terjadinya infeksi berulang.5
Pneumonia yang menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan paru dapat menyebabkan
terjadinya abses paru. Abses paru merupakan kasus yang jarang terjadi pada anak dan umumnya
disebabkan oleh pneumonia aspirasi atau infeksi di belakang bronkus yang mengalami obstruksi.
Lokasi yang seringkali terkena adalah segmen posterior lobus superior dan segmen superior
lobus inferior, dimana materi yang teraspirasi terlokalisir saat anak meminum sesuatu yang
mengakibatkan aspirasi. Bakteri yang biasanya mendominasi adalah bakteri anaerob, bersama
dengan bakteri streptokokus, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa,
dan Staphylococcus aureus. Pemeriksaan CT-Scan akan menunjukan adanya lesi kavitas,
seringkali adanya air-fluid level yang diliputi oleh inflamasi parenkim. Apabila kavitas tersebut
terhubung dengan bronkus, maka kuman dapat diisolasi dari sputum. Bronkoskopi diagnostic
sebaiknya dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya benda asing dan untuk
mengambil specimen mikrobiologi. Abses paru umumnya memberi respon terhadap terapi
antimikroba dengan menggunakan klindamisisn, penisilin G, atau ampisilin sulbaktam.5
11

Pneumonia adenovirus berat dapat menyebabkan bronkiolitis obliteran, yaitu proses


inflamasi sub akut dimana saluran pernapasan berkaliber kecil digantikan oleh jaringan parut
sehingga terjadi penurunan volume dan komplians paru. Paru hiperlusen unilateral atau Sweyer
James Syndrome adalah sekuele fokal dari pneumonia nekrotik berat, yaitu sebagian dari paru
mengalami peningkatan translusensi radiologi dan berkaitan dengan infeksi adenovirus tipe 21.5
Pasien sembuh sempurna tanpa komplikasi apapun dan telah dipulangkan untuk
melanjutkan pengobatan di rumah.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Callistania C, Indrawati W. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. 3 rd ed. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran UI; 2014. 174-6p.
2. Bradley JS et al. The Management of Community-Acquired Pneumonia in Infants and
Children Older than 3 Months of Age: Clinical Practice Guidelines by the Pediatric
Infectious Diseases Society and the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis.
2011:53(7):617-30p.
3. Soeparman, Waspadji S. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1999.
695-705p.
4. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. 6th ed. Jakarta:
EGC; 2005. 804p.
5. Behrman RE, Vaughan VC. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 2. 19th ed. Jakarta: EGC;
2011. 883-889p.
6. Pedoman Pelayanan Medis. Jilid 1. Jakarta: IDAI; 2010. 250-4p.
7. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Bandung: PAPDI; 2005.
8. Latief A et al. Pelayanan Kesehetan Anak di Rumah Sakit Standar WHO. Jakarta: Depkes;
2009.

13